"Some people long for a life that is simple and planned
Tied with a ribbon
Some people won't sail the sea 'cause they're safer on land
To follow what's written"

Do Not EDIT and REPOST.


Erith, January 2, 1850

Seorang lelaki mungil nampak sedang duduk sembari menatap ke gundukan tanah di hadapannya. Rambut cokelat terangnya berkibar seolah berdansa Bersama angin yang sedang berhembus. Dia adalah Byun Baekhyun, lelaki mungil yang terkenal dengan wajah menawan dan suara indahnya. Hampir seluruh desa mengenal siapa dia. Baekhyun tinggal di sebuah desa di kaki gunung Zarf, bernama Erith. Erith terletak di paling ujung perbatasan akhir kerajaan Alderth. Erith merupakan desa kecil yang indah dengan total 304 penduduk yang ramah dan saling menyapa setiap pagi. Terletak tepat di samping hutan Anubis, membuat desa ini nampak menyeramkan bagi sebagian besar rakyat Alderth. Tetapi, selamanya rumor hanyalah rumor. Orang-orang yang pernah mengunjungi desa itulah yang tau seperti apa Erith.

Nenek Baekhyun merupakan pemilik satu-satunya toko bunga yang ada di Erith. Belle Bittersweet merupakan kebanggaan bagi Baekhyun dan neneknya. Menjadi satu-satunya toko bunga di desa, membuat Belle Bittersweet menjadi tempat pertama yang dikunjungi jika seseorang membutuhkan buket dan karangan bunga. Setiap pagi, Baekhyun melihat jari-jari keriput neneknya dengan lihai merangkai bermacam-macam bunga menjadi buket yang cantik. Bagi Baekhyun, itu adalah kebahagiannya. Melihat wajah cantik satu-satunya keluarga yang ia miliki dikelilingi dengan hal yang paling ia sukai di dunia ini, Bunga. Sejak kecil, Baekhyun sudah dirawat oleh neneknya. Ayah dan Ibu Baekhyun memutuskan untuk mengadu nasib keluar Alderth di usia Baekhyun yang ke 1, kabar mereka tidak terdengar lagi sejak itu. Baekhyun kecil yang awalnya hanya membantu nenek menyiram bunga dan melihat tangan ahli itu merangkai bunga, tumbuh menjadi lelaki cantik dengan jari lentik yang mampu merangkai buket bunga terindah yang ada di Erith. Bakat itu menurun, kata orang. Dan hal ini benar adanya. Baekhyun resmi menggantikan neneknya ketika ia berusia 18 tahun. Neneknya yang sudah semakin renta tidak mampu lagi untuk berangkat pagi dan menghabiskan harinya di toko.

Setiap pagi, Baekhyun akan membersihkan rumah, menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum ia berangkat ke toko dan memulai harinya. Di malam hari, ia akan menutup toko lalu pulang untuk membuatkan makan malam dan menemani neneknya, sekedar bebincang. Tidak lupa se buket bunga Krisan berwarna merah ia berikan pada neneknya setiap malam. Bunga krisan memiliki arti hidup panjang yang bahagia. Serta warna merah berarti cinta. Baekhyun ingin menunjukkan betapa ia menginginkan neneknya memiliki umur panjang dan betapa Baekhyun mencintainya. Menjadi satu-satunya yang ia miliki, nenek adalah segalanya. Semua nya berjalan seperti itu selama beberapa tahun, hingga di usia yang ke 21 tahun, Baekhyun harus menghadapi kenyataan hidup yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi secepat itu. Neneknya meninggalkan Baekhyun sendiri untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi tempat ia berbagi cerita, dan berbagi kasih sayang. Ia benar-benar sendiri.

Setiap harinya, kala senja menyambut, Baekhyun akan menutup toko lebih awal dan mengunjungi makam neneknya yang ada di bukit kecil di ujung desa. Dengan hamparan rumput hijau dan pemadangan indah pegunungan di sekeliling, lokasi ini tidak seperti pemakaman pada umumnya. Seperti hari ini, Baekhyun sedang terduduk sendiri setelah meletakkan buket bunga Krisan kesukaan neneknya diatas gundukan tanah yang tertutup rumput hijau. Hembusan angin menjadi satu-satunya teman Baekhyun. Sudah berlalu sebulan sejak neneknya meninggal, tetapi rasa kehilangan itu masih menekan Baekhyun. Seperti memojokkannya di ruangan gelap sempit dengan oksigen terbatas. Membuatnya sesak. Sama dengan hari-hari lain, air mata kembali menetes menuruni pipi putih mulus kemerahannya. Bibir mungil berwarna pink itu sedikit bergetar karena tangisannya yang semakin lama semakin keras. Ia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik poni nya yang sebatas alis.

Satu kata yang dapat digunakan untuk menyimpulkannya, Baekhyun hancur.

Tetapi, sama seperti takdir-takdir lain yang terjadi di hidupnya. Baekhyun tidak memiliki pilihan lain selain menjalaninya. Ingin rasanya menyusul sang nenek, hanya saja ia kembali teringat janjinya pada nenek. Bahwa ia akan hidup dengan baik dan bahagia. Ia akan merawat Belle Bittersweet dan menjadikan kebanggaan mereka berdua menjadi sesuatu yang lebih besar, seperti mimpinya. Keinginannya untuk membuka cabang Belle Bittersweet di Ibukota Rissingshire adalah satu-satunya yang membuat Baekhyun bertahan saat ini. Demi membanggakan sang nenek yang melihatnya dari atas sana.

"aku akan kembali besok nek", ujarnya pelan sambari mengelus nisan yang bertuliskan nama sang nenek.

Baekhyun menyeka air matanya dan memutuskan beranjak dari area pemakaman itu. Ia melihat matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, sudah waktunya ia kembali kerumah.


Etuviel Palace, January 2, 1850

"LONG LIVE THE KING! LONG LIVE THE KING! LONG LIVE THE KING!", Sorak sorai ribuan orang yang ada di bawah Balkon Menara tertinggi istana Etuviel seolah menjadi satu-satunya suara yang terdengar di penjuru kerajaan Alderth.

Seorang lelaki muda tampan dengan mahkota besar berkilauan tengah tersenyum sembari melambaikan tangannya. Ia adalah Park Chanyeol Atau King Edmund Danvers the 6th. Tampan, Jenius, dan berwibawa adalah definisi dari Park Chanyeol jika hanya dilihat secara mata telanjang. Dengan tubuh tinggi berotot yang pas, wajah tampan dengan proporsi sempurna, rambut hitam legam yang disisir rapi menampakkan keningnya, serta senyuman yang bisa membuat semua orang terpana, membuat Chanyeol menjadi raja baru yang akan menjadi pusat perhatian. Ayahnya merupakan keturunan murni Alderth seorang bangsawan, sedangkan ibunya merupakan seorang wanita cantik perangkai bunga terkenal dari kerajaan Celnaer. Nama Park Chanyeol merupakan hadiah dari sang Kakek, ayah dari ibunya. Sedangkan Edmund Danvers adalah nama yang harus di bawanya sebagai seorang putera mahkota, dan sekarang seorang Raja. Hanya beberapa orang saja sebenarnya yang mengetahui Nama Park Chanyeol. Orang itu tentunya adalah orang penting atau dia merupakan orang yang sangat dekat dengan sang raja muda.

Hari ini adalah hari pertama ia resmi menjadi seorang raja. Ayahnya, King Charlie Danvers the 5th, meninggal 3 minggu lalu karena penyakit kronis yang dideritanya. Menjadikan Chanyeol yang masih berusia 21 tahun untuk naik tahta dan menjadi Raja. Setelah banyak melalui prosesi pengangkatan dari posisinya sebagai putera mahkota, akhirnya hari ini secara resmi ia diangkat menjadi raja dan untuk pertama kali diperkenalkan kepada rakyatnya. Acara ini menjadi acara ketiga dari total 5 acara yang harus dilalui oleh Chanyeol. Sejauh ini, semua prosesi dapat dijalani dengan mudah olehnya. Hanya saja, dua hari lagi adalah prosesi yang agaknya membahayakan, mereka menyebutnya First Chasse yang artinya perburuan pertama. Sebagai seorang raja Baru, Chanyeol harus bisa membuktikan bahwa dirinya mampu, dan tangguh untuk memimpin kerajaan seluas dan sebesar Alderth. Ia diharuskan untuk berburu di hutan Anubis, hutan luas, gelap, dan menyeramkan yang terletak di ujung perbatasan kerajaan Alderth. Hutan itu dipenuhi dengan makhluk-makhluk buas dan berbahaya yang tidak dapat di bayangkan oleh otak manusia. Bahkan muncul mitos bahwa siapapun yang melewati hutan Anubis sendirian dan berjalan kaki, ia tidak akan bisa selamat. Karenanya hutan tersebut dinamai Anubis, sama dengan nama Dewa Kematian dalam mitologi Yunani.

Selain berbahaya, Hutan Anubis juga menjadi satu-satunya jalur illegal untuk keluar dan masuk kerajaan Alderth. Budak illegal, penjualan organ tubuh illegal, barang-barang illegal, penjualan anak-anak, semuanya melalui hutan Anubis. Hanya saja pemerintah tidak dapat berbuat banyak, hutan itu terlalu bahaya. Ratusan pasukan kerajaan sudah gugur dalam hutan itu. Menjadikan pelajaran bagi raja-raja selanjutnya untuk berhenti mengorek dan memperketat keamanan disana. Satu-satunya fungsi hutan Anubis bagi kerajaan adalah untuk mengadakan acara First Chasse. Pada prosesi itu, raja baru diharuskan berburu hewan seorang diri yang nantinya hasil buruan akan disajikan dan disantap Bersama pada acara terakhir dari rangkaian prosesi pengangkatannya, yakni Dîner de gala. Dengan berhasilnya seorang raja baru membawa pulang hasil buruan, berarti kredibilitasnya sebagai seorang raja tidak dapat dibantah lagi oleh semua orang. Keberhasilan ini akan dirayakan secara besar-besaran pada malam terakhir prosesi. Kerajaan Alderth akan membuat pesta yang sangat megah dan meriah, mereka mengundang seluruh bangsawan dari berbagai kerajaan untuk menghadiri Dîner de gala, menyambut seorang raja baru.

"Yang mulia, Jenderal Oh ingin bertemu setelah ini. Mendiskusikan beberapa pembaharuan system keamanan", Ujar seorang lelaki berkulit tan tampan yang mengenakan setelan jas resmi berwarna hitam.

Sang raja yang sedang sibuk melambaikan tangannya perlahan mengangguk, sebelum memberikan senyum tampan terakhir kali kepada rakyatnya dan berbalik masuk kedalam istana.

"Jongin, siapkan kamarku. Aku ingin beristirahat setelah bertemu dengan Jenderal Oh", Ujar sang raja muda dengan tegas sembari berjalan tegap menuju ke bagian utama istana. Jujur saja, meskipun ia masih muda, semua prosesi ini cukup melelahkan bagi Chanyeol. Apalagi dua hari dari sekarang ia harus mempertaruhkan nyawanya demi menuntaskan semua prosesi ini. Tidak ada salahnya bukan sedikit beristirahat?


Anubis Forest, January 4, 1850

Pasukan berkuda hitam telah berjajar rapi di depan hutan Anubis. Jillian, satu-satunya kuda putih yang berada disitu, berdiri dengan gagah di barisan paling depan. Jika Jillian sang kuda putih nampak menawan ketika surainya tertiup angin, penunggangnya dua kali lipat lebih menawan. Raja Chanyeol sedang menatap lurus kedalam hutan Anubis yang terhampar sejauh mata bulatnya memandang. Rambutnya disisir rapi keatas, menunjukkan kening menawan. Pakaian perang perpaduan warna emas dan merah melekat sempurna di tubuh tinggi berotot itu. Tangan kanan sang raja menggenggam erat pedang Justifier yang tergantung di pinggangnya. Ia nampak gugup.

Beberapa kali dahinya berkerut biarpun mata itu nampak tak goyah melihat kegelapan hutan dihadapannya. Bagaimanapun juga, ia akan mempertaruhkan nyawa demi tahta dalam beberapa menit kedepan. Sungguh manusiawi jika raja tampan itu gugup.

"yang mulia, jika anda bertemu dengan Aolez, segeralah memberi tanda dengan anak panah merah. Kami akan segera menyusul", Seorang lelaki tampan dengan wajah tampan namun dingin itu perlahan menunggangi kuda hitamnya dan berhenti di samping sang raja. Matanya menatap khawatir pada lelaki yang ada di sampingnya.

"Katakan Jenderal Oh, seperti apa Aolez itu", alih-alih mengiyakan, sang raja malah menanyakan pertanyaan yang konyol menurut sang Jenderal. Raja Chanyeol merupakan orang yang cerdas dengan ribuan buku yang mengisi perpustakaan pribadinya. Mana mungkin ia tidak tahu seperti apa rupa Aolez.

"Aolez, persis seperti yang anda lihat dalam buku selama ini yang mulia. Hanya saja, lebih ganas jika ia melihat manusia", Jawab Jenderal tampan itu. Meskipun dalam hati ia masih merasa aneh dengan pertanyaan sang junjungan.

"kau hebat Jenderal Oh, doakan aku bisa selamat dari Aolez, sepertimu", Ujar sang Raja sambil tersenyum dan menatap sang Jenderal. Sebelum ia memberi sentakan pada Jillian untuk mulai berlari masuk kedalam hutan.

Jillian berlari dengan cepat masuk kedalam hutan. Perlahan tangan besar Chanyeol mengelus leher kuda putih kesayangannya. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua masuk kedalam hutan Anubis secara langsung. Ia hanya ingin Jillian tidak menyentak atau bergerak secara tiba-tiba dan membuatnya terluka.

Hutan Anubis nampaknya jauh lebih gelap dan menyeramkan dibanding yang di deskripsikan dalam buku yang pernah ia baca. Membuat sedikit demi sedikit kepercayaan dirinya terkikis. Dari jauh, terdengar sayup-sayup berbagai suara. Ada suara raungan, air bergemericik, suara-suara yang dihasilkan oleh angin, bahkan langkah kaki. Benar-benar tidak seperti yang dibayangkan. Kini sang raja muda mengerti kenapa hutan ini dinamai hutan Anubis.

Semakin dalam mereka masuk kedalam hutan, semakin pelan juga kecepatan Jillian. Seperti Chanyeol, nampaknya kuda putih itu mulai merasa terancam. Terbukti dengan beberapa kali ia mendengus keras dan melompat-lompatkan bagian tubuhnya dengan tempo tidak tentu. Lagi, tangan besar sang raja mengelus leher kuda kesayangannya dengan harapan dapat sedikit menenangkan Jillian.

"tenanglah kawan, ayo kita segera temukan hewan buruan kita dan keluar dari sini", ujar Sang Raja pelan. Kedua tangannya memeluk leher kuda putih itu dan menepuk kepalanya dengan lembut. Ikatan yang sudah terbentuk antara Sang Raja dan Jillian sejak Chanyeol remaja agaknya membuat Jillian mengerti apa yang diucapkan oleh majikannya, dan mulai berjalan dengan tenang melewati pepohonan menuju bagian hutan yang semakin lama semakin gelap.

Pohon-pohon yang awalnya memiliki jarak berjauhan dengan daun yang tidak terlalu rimbun, kini menjadi semakin berdempetan jaraknya ketika sudah masuk ke bagian tengah hutan. Batang pohon yang ukurannya lima kali lebih lebar dari tubuh berotot sang raja dengan gerombolan daun yang menghalangi sinar matahari untuk masuk membuat suasana semakin mencekam. Jika di awal terdengar suara-suara di kejauhan, di titik ini, Chanyeol tidak dapat mendengar apapun. Suasana di sekitarnya sangat sunyi. Membuat ia semakin meningkatkan kewaspadaannya. Berkali-kali raja muda itu menatap ke sekeliling, menajamkan pengelihatan. Ia harus segera menemukan hewan buruannya, dan jika beruntung ia dapat keluar dari sini tanpa bertemu dengan Aolez.

"krek", dengan cepat mata lebar sang raja berbalik. Suara ranting kering yang terinjak membuatnya sadar bahwa ada 'sesuatu' di dekatnya. Perlahan ia melompat dari punggung Jillian dan berjalan mendekat ke asal suara. Itu tidak mungkin Aolez, makhluk itu tidak pernah mengendap-endap. Ia langsung menyerang. Begitu yang disebutkan dalam buku.

Chanyeol mengeratkan genggaman pada pedang yang ia bawa dan perlahan mengintip dari balik pohon jati besar yang ada di hadapannya. Seekor sapi hutan besar berwarna hitam sedang asik mengunyah rumput liar, membuat Chanyeol menghembuskan nafas lega dan berselebrasi dalam hatinya.

Perlahan ia berbalik dan memberi isyarat pada kuda putihnya untuk berjalan mendekat. Tangan cekatan Chanyeol langsung mengambil perlengkapan memanahnya yang terikat di sisian tubuh Jillian. Ia meninggalkan panah berwarna merah yang dilengkapi dengan alat peledak kecil yang menempel di sekitarnya. Sang raja muda mulai memposisikan dirinya di balik pohon, berusaha se tenang mungkin agar sapi hutan itu tidak menyadari keberadaannya. Perlahan ia membidikkan anak panahnya. Raja Muda itu menahan nafas dan mengitung dalam hati untuk melesatkan benda tajam itu ke target dihadapannya. Ia harus berhasil.

1

2

3

Baru saja ia menarik panahnya, sapi hutan hitam itu mendongak kaget dan langsung berlari kencang kearah berlawanan. Chanyeol melebarkan matanya kaget dan reflek keluar dari pohon persembunyiannya lalu mengumpat keras. Nyaris saja ia mendapatkan hewan buruannya. Raja muda itu bergeming sambil menatap sapi hutan yang berlari cepat hingga menghilang dibalik pepohonan.

"grrrr".

"oh bagus sekarang aku lapar", Ujar sang raja sambil memegang perutnya. Ia menghela nafas. Ternyata berburu tidak semudah yang ia bayangkan.

"grrrr", lagi suara itu terdengar. Kali ini semakin keras. Hingga membuat sang raja sadar itu bukanlah suara perutnya atau suara perut Jillian yang lapar.

Dengan ragu-ragu, ia menolehkan kepala ke asal suara. Disana, ia melihat makhluk itu.

Makhluk tinggi besar, dengan tubuh berwarna merah darah, mata besarnya yang berwarna merah tidak kalah seram. Makhluk itu menggeram dan Chanyeol dapat melihat empat taring tajam di mulut besar makhluk itu. Salah satu taring itu masih menyisakan bekas darah entah makhluk apa yang baru saja dihabisinya. Surai berwarna kuning tebal membingkai wajah makhluk menyeramkan itu. Menyerupai singa.

Disana, dihadapan Chanyeol adalah makhluk yang ditakuti tidak hanya oleh warga Alderth, melainkan seluruh rakyat dari kerajaan lain. Makhluk yang awalnya hanya dianggap tahayul tapi memang nyata keberadaannya. Ia adalah Aolez. Makhluk dengan tubuh besar seperti beruang dan kepala singa. Pemakan daging paling ganas yang pernah ditemui oleh siapapun pemburu yang pernah melihatnya. Dan kini, nyawa Chanyeol terancam. Makhluk itu berdiri kurang dari 5 meter di hadapannya.

Chanyeol perlahan menolehkan kepalanya melihat kearah Jillian yang melompat-lompat panik. Inilah saatnya berlari, ia tidak bisa mati mengenaskan di hutan ini di hari ketiganya menjadi raja. Dengan cepat Chanyeol berlari dan melompat naik ke punggung Jillian. Tanpa menunggu, ia langsung memacu cepat kudanya menjauh dari sana. Dari belakang ia dapat mendengar langkah berat makhluk menyeramkan itu yang mengejarnya diiringi dengan geraman yang seolah menusuk kedalam tubuh sang raja.

Tubuh besar makhluk itu seolah tidak mempengaruhi kecepatan berlarinya. Membuat sang raja semakin panik dan terus memacu Jillian agar berlari semakin cepat. Di tengah kebingungannya, sang raja melihat jalan setapak yang nampak bisa menjadi jalur penyelamat baginya. Ia mengarahkan Jillian berbelok dan semakin jauh ia berlari, suara geraman dan derap kaki Aolez tidak terdengar. Sang raja menoleh kebelakang, lalu menghembuskan nafasnya lega begitu matanya tidak menangkap sosok merah menyeramkan itu. Sepertinya ia berhasil kabur.

Tanpa menatap ke sekeliling, sang raja terus saja menoleh ke belakang. Memastikan apakah makhluk itu benar-benar sudah tidak mengikutinya. Tetapi, sepertinya hari itu adalah hari sial Chanyeol. Karena kepalanya yang terus menoleh kebelakang, ia tidak sadar dihadapannya terdapat dahan pohon besar yang rendah. Jillian yang meringkik memperingatkan bahkan tidak digubris oleh Chanyeol.

"BRUKK".

Ya, kini sepertinya raja muda itu menyadari bahwa ada dahan besar yang mengenai kepalanya dengan keras. Sang raja terpental jatuh dari kudanya. Ia merasakan punggungnya menghantam tanah. Membuatnya mengerang dan menidurkan tubuhnya di tanah untuk beberapa saat. Merasakan rasa sakit yang luar biasa itu.

Sayangnya waktu menikmati rasa sakit itu hanya bisa berlalu sebentar karena ia baru menyadari bahwa Jillian sudah berlari semakin jauh darinya. Dan kesialan lainnya datang, ia mulai bisa mendengar langkah kaki Aolez dan auman yang memekakkan telinga semakin mendekat.

Dengan panik sang raja berusaha bangun, tetapi sayang pandangannya masih mengabur diakibatkan benturan tidak manusiawi yang dialaminya. Lagi-lagi ia hanya mengerang dan menimbang-nimbang apakah sekarang saatnya ia menyerah. Karena nampaknya ia tidak memiliki bala bantuan sama sekali. Anak panah merah itu masih tersimpan rapi di samping tubuh Jillian dan untuk bangunpun ia tak sanggup.

"ayah, kita akan bertemu sebentar lagi", ujar Chanyeol pelan sembari menutup matanya. Bertubi-tubi kesialan yang terjadi padanya hari ini ternyata mengantarkan ia menuju kematian.

Waktu berlalu dan sang raja hanya terdiam pasrah di tanah tanpa mempedulikan nasibnya lagi. Semakin lama, ia semakin bisa mendengar geraman makhluk menyeramkan itu semakin mendekat. Sang raja muda masih saja memejamkan matanya dan merasakan sekujur tubuhnya yang berdenyut sakit ditambah dahi nya yang mengeluarkan darah. Ia akan mati dalam beberapa menit lagi. Dengan tragis tentu saja, berakhir didalam perut Aolez.

"Yatuhan! Apa yang kau lakukan?!", Hingga suara lembut namun sarat dengan kepanikan yang nyata, masuk ke indera pendengarnya.

Chanyeol merasakan kedua kakinya ditarik paksa dan beberapa kali ia merasakan tubuhnya terantuk batu-batu kecil yang ia lalui. Namun, raja muda itu masih saja setia membiarkan matanya terpejam. Luka di kepalanya berdenyut-denyut hebat, membuat kedua mata itu sulit terbuka. Setelah sepertinya berpuluh-puluh kali ia merasakan tubuhnya terkena batu-batu kecil itu, akhirnya tarikan pada kakinya berhenti. Tetapi kali ini sebuah tangan membekap mulutnya. Chanyeol terdiam dan mendengar suara derap kaki dan geraman Aolez melewati mereka dan semakin menjauh hingga tidak terdengar lagi.

Apakah makhluk itu sudah pergi? Siapa yang menyelamatkanku? Merupakan pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya sejak tadi. Karena rasa penasaran yang lebih besar dibanding rasa sakit di kepalanya, Chanyeol perlahan berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Seperti dalam beberapa saat lagi kesadarannya akan menghilang.

"hey? Kau tidak papa?", ujar suara itu.

Ketika mata bulat sang raja terbuka, ia melihat cahaya yang mengaburkan pandangannya. Beberapa kali ia mengerjap untuk menyesuaikan matanya hingga perlahan sosok dari pemilik suara lembut itu mulai jelas. Seorang lelaki cantik dengan rambut berwarna cokelat muda tengah menunduk dan menatapnya khawatir. Kulitnya yang putih mulus, mata kecilnya yang menawan, hidung kecilnya, dan bibir merah mudanya. Seolah menjadi pelengkap, semburat merah muda nampak di pipi mulusnya. Keningnya yang berkerut khawatir tidak sedikitpun mengurangi keindahan parasnya. Ia sangat cantik, dan jika Chanyeol mengetahui kata yang mendeskripsikan sesuatu diatas cantik, tentu ia akan menggunakan kata-kata itu.

"apakah aku sudah mati? Dan bertemu bidadari", gumam Chanyeol pelan. Perlahan sang raja muda itu tersenyum dan memejamkan matanya lagi, hingga yang ia lihat hanyalah kegelapan untuk waktu yang lama.


Jari-jari lentik itu dengan telaten menumbuk daun pegagan yang tumbuh di ladangnya. Baekhyun sedang sibuk memanen bunga aster merah ketika ia mendengar geraman menyeramkan Aolez yang mendekat kearah ladangnya. Sebenarnya ia tidak perlu khawatir, Baekhyun sudah sering melihat makhluk itu. Sejak kecil Baekhyun sudah bolak-balik masuk ke hutan Anubis untuk memanen bunga nya. Dulu kakek Baekhyun membuat ladangnya di daerah tersubur di dalam hutan. Tentu saja sang kakek sudah membentengi area lahan itu dan jalan setapak akses mereka keluar masuk hutan, dengan tumbuhan berbentuk dedaunan lebar berwarna merah ke oranye-oranyean. Mereka menyebutnya Scarlet Wall. Kakek Baekhyun seperti membuat dinding yang terbuat dari tumbuhan ini, untuk melindungi siapapun yang melewati jalan setapak tersebut. Scarlet Wall adalah satu-satunya perlindungan dari Aolez. Konon, jika kita bersembunyi dibalik tumbuhan tersebut, warna merah dari Scarlet Wall akan mengecoh mata Aolez hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas, dan bau menyengat tanaman itu akan mengaburkan bau tubuh manusia.

Baekhyun sudah melihat makhluk itu di usianya yang ke 5 tahun, dan semakin lama dimata Baekhyun, Aolez tidak se menyeramkan ketika pertama ia melihatnya. Tetapi hari ini berbeda. Kali ini Baekhyun tidak hanya mendengar geraman makhluk berkepala singa itu, tetapi ia juga mendengar suara erangan kesakitan seorang lelaki. Ia memberanikan diri keluar dari perlindungan Scarlet Wall untuk melihat suara siapa itu. Dan benar saja, Baekhyun melihat seorang lelaki tampan tengah tergeletak mengenaskan dengan luka menganga di keningnya. Sebenarnya ia menimbang-nimbang harus menyelamatkan lelaki itu atau tidak. Tetapi hati kecil Baekhyun berteriak 'bagaimana bisa kau membiarkan lelaki setampan itu terbunuh mengenaskan ditangan makhluk jahanam itu?!'.

Hingga entah mendapat keberanian dari mana, Baekhyun berlari mendekat dan menarik kaki lelaki itu dengan susah payah. Yah jika dilihat dari tubuh tinggi dan besarnya tentu lelaki ini sangat berat. Sekuat tenaga Baekhyun menarik lelaki itu sembari berlari secepat kaki nya bisa melangkah. Keringat bercucuran dari keningnya, ia harus cepat sebelum makhluk itu menangkapnya. Sebenarnya Baekhyun tidak tega jika harus menyeret lelaki itu seperti ini, tetapi menjadi satu-satunya pilihan karena mustahil tubuh kecilnya dapat mengangkat tubuh besar itu. Bisa-bisa mereka berdua malah menjadi makan malam Aolez.

Baekhyun mulai bernafas lega ketika ia melihat ladangnya sudah didepan mata. Tangan kecilnya langsung membekap bibir lelaki itu bersamaan dengan membekap bibirnya sendiri saat mereka sudah berlindung dibalik tumbuhan Scarlet Wall, biarpun makhluk itu tidak bisa melihat dan mencium mereka, tetapi pendengaran makhluk itu sangat tajam hingga hembusan nafas saja dapat didengarnya dari kejauhan.

Tidak lama setelah keadaan aman, Baekhyun berusaha bertanya lagi kepada lelaki tampan yang nampaknya masih tidak sadar itu. Tetapi tanpa disangka, lelaki itu perlahan membuka mata bulatnya. Mata yang sempat membuat Baekhyun terpana selama beberapa detik. Jika dari kejauhan saja lelaki ini sudah tampan, jika dilihat dari jarak dekat, ketampanannya menjadi bertambah berkali-kali lipat. Sayangnya hanya sebentar saja mata mereka bertemu dan lelaki itu kembali tidak sadarkan diri.

"tuan! Bangun! Hey apakah kau mendengarku?!", ujar Baekhyun panik sembari mengguncang tubuh lelaki itu. Nihil, ia tidak mendapatkan reaksi apa-apa. Perlahan ia mendekatkan telinganya ke dada bidang milik sang pria. Baekhyun sedikit tenang ketika ia masih bisa mendengar detak jantung dan merasakan hembusan nafas teratur pria dihadapannya. Lalu dengan cekatan Baekhyun mulai mengecek luka menganga yang ada di kening. Sepertinya, ia kehabisan banyak darah.

Dan begitulah akhirnya Baekhyun memutuskan menumbuk daun pegagan yang dapat menyembuhkan luka dengan cepat. Neneknya menanam tumbuhan itu disini untuk mengobati tangan mereka yang biasanya terkena duri bunga-bunga ketika panen. Tumbuhan itu memang benar-benar membantu bahkan disaat genting seperti ini.

Setelah daun itu cukup lembut, Baekhyun berjalan mendekat dan membasuh luka menganga itu dengan air. Ketika darah mengering dan kotoran yang menempel disana dirasa bersih, ia membubuhkan tumbukan daun di kening lelaki itu. Berharap bisa membuatnya segera membaik.

Mata kecil Baekhyun menelusuri lekukan wajah lelaki itu dengan detail lalu turun ke pakaian yang ia kenakan. Dari penampilannya, sepertinya ia adalah seorang bangsawan. Ia terlihat, mewah. Tetapi, Baekhyun bertanya-tanya kenapa orang seperti ini berkeliaran sendiri di hutan Anubis. Sangat mustahil jika tamu kerajaan berkunjung melalui hutan ini. Dan lagi, pada bagian dada pakaian perang yang dikenakan pria ini terdapat symbol kerajaan Alderth. Berarti dia adalah bangsawan Alderth. Dan fakta itu semakin membuatnya bertanya-tanya.

Meskipun penampilannya kotor karena tanah, pria ini tetap terlihat bersinar dimata Baekhyun. Ia teringat bagaimana mata hazel itu menatap kedalam matanya. Menimbulkan desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Senyuman terkembang di bibir mungil Baekhyun, perlahan ia menuangkan air lagi ke kain kecil berwarna biru yang dibawanya. Dengan telaten ia mengelap wajah pria itu dari kotoran tanah dan sisa darah yang mengering. Berhati-hati, dia mengangkat sedikit kepala sang pria dan meletakkan tasnya disana sebagai bantalan sebelum tangannya berpindah mengelap rambut hitam legam makhluk tampan dihadapannya. Sedari tadi, mata Baekhyun tidak dapat berpaling dari wajah tampan itu. Suara dalam kepalanya berbisik menyuruhnya sedikit menyentuh wajah lelaki itu, mengingatkannya jika setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi. Dan, itulah yang ia lakukan. Menuruti perintah suara itu.

Perlahan tangannya terulur dan mengusap pipi pria itu dengan lembut. Lalu usapannya beralih ke alis dan kelopak mata yang sedang terpejam. Telunjuk lentik Baekhyun pindah menelusuri hidung mancung itu dengan sangat lembut dan jarinya berhenti beberapa senti diatas bibir tebal berwarna merah milik pria dihadapannya. Ia sedikit ragu-ragu, tetapi rasa penasaran seolah mendesak, hingga ia memberanikan diri mengelus bibir itu dengan ibu jarinya. Lelaki ini, sangat sempurna dimata Baekhyun. Pertama kalinya ia melihat betapa sempurna pahatan karya tuhan yang sangat indah dan tanpa cela.

Sayang sekali, kegiatan itu harus berhenti ketika untuk kedua kalinya, mata bulat itu terbuka. Menandakan pemiliknya sudah sadar. Baekhyun langsung memundurkan tubuhnya dan menatap takut-takut. Pria itu mengerang dan dengan perlahan mendudukkan tubuh tegapnya. Ia menatap ke sekeliling, hingga mata itu akhirnya terfokus kepada Baekhyun. Tatapannya sungguh aneh, tidak dapat di deskripsikan oleh Baekhyun.

"aku dimana?", tanya nya.

Baekhyun merasakan tubuhnya merinding mendengar suara berat itu. Sungguh… menawan.

"a…anda berada di ladang bunga milik saya tuan", Jawab Baekhyun sedikit tergagap.

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan kembali mengamati keadaan di sekelilingnya. Ia sepertinya masih bertanya-tanya kenapa ia berada disini.

"Scarlet Wall, pantas saja makhluk jahanam itu tidak melihat kita", Ujar Chanyeol sambil tersenyum tampan kearah Baekhyun. Desiran aneh dalam diri Baekhyun kembali lagi.

"y…ya, karenanya aku bisa keluar masuk ladang dengan aman selama ini tuan", Baekhyun berusaha membalas senyuman itu tetapi sepertinya tidak berhasil. Ia terlalu gugup.

Mendengar kegugupan di suara manis itu, Chanyeol kembali tersenyum dan mendekat. Pertama kalinya ia melihat seseorang yang sangat indah seperti lelaki mungil dihadapannya ini. Sempat terselip perasaan bersalah karena tubuh mungil itu harus menyeretnya kesini. Pastilah sangat berat.

"Terimakasih sudah menyelamatkanku. Namaku Park Chanyeol, siapa namamu?", tanya Chanyeol dengan nada yang seolah membuat Baekhyun ingin pingsan.

"B…Byun Baekhyun, Tuan", Baiklah, Baekhyun harus berusaha tidak terlihat memalukan dengan terus berbicara gagap setelah ini.

"nama yang indah, seperti pemiliknya", Kekeh Chanyeol. "katakan Baekhyun, apakah kau bisa mengantarku keluar dari hutan ini dengan selamat tanpa bertemu makhluk berkepala singa itu lagi?", Tambah Chanyeol sembari berdiri dengan perlahan.

Sebenarnya ia tidak keberatan jika berlama-lama berduaan dengan si cantik dihadapannya ini. Tetapi ia ingat, ia masih memiliki pasukan yang menantinya diluar sana.

"tentu saja, tuan. Ikuti saya", Ujar Baekhyun sebelum melangkahkan kakinya mendahului Chanyeol. Sebenarnya ia hanya ingin cepat-cepat menyambunyikan pipinya yang memerah karena pujian Chanyeol tadi.

Bersyukurlah Chanyeol karena kaki panjangnya, ia dapat dengan mudah menyamai langkah kaki Baekhyun dan berjalan di sampingnya. Lelaki itu sangat mungil. Tingginya tidak mencapai telinga Chanyeol. Dan menurutnya itu sangat menggemaskan. Senyuman tampan tercetak di bibir sang raja. Ia memalingkan pandangannya dan memutuskan untuk melihat ke sekeliling jalan setapak yang tertutupi oleh tumbuhan Scarlet Wall. Tiba-tiba saja ingatannya soal berburu kembali. Dan sial, dia belum mendapatkan hewan buruannya. Ia dianggap belum menyelesaikan prosesi First Chasse jika ia keluar dengan tangan kosong.

Sang raja muda terus berjalan dengan tatapan kosong sampai-sampai ia tidak menyadari lelaki mungil di sampingnya sudah berhenti di samping pohon besar untuk melepaskan ikatan tali yang memerangkap seekor sapi hitam besar yang menjadi target Chanyeol tadi. Tetapi, mata bulat itu langsung melebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat begitu kesadaran menghampirinya.

Baekhyun sedang menuntun sapi itu sambil sesekali menariknya. Oh saat itu, rasanya Chanyeol ingin mencium Baekhyun jika saja ia tidak ingat bahwa mereka baru saja bertemu.

"Baek, darimana kau dapat sapi itu?", tanya Chanyeol perlahan.

"oh? Aku menemukannya tadi dia sedang memakan rumput di daerah sini. Dia menurut saja ketika ku tali. Aku akan menjualnya ke pasar setelah ini", Ujar Baekhyun dibarengi senyuman menawannya.

Mendengar itu, diatas kepala Chanyeol seperti muncul Bohlam yang langsung menyala dibarengi dengan senyuman lebar di wajah tampan itu.

"Tunggu Baek, aku memiliki penawaran untukmu. Sebenarnya, tujuanku kesini adalah untuk melakukan perburuan pertamaku. Aku sudah akan menangkap sapi ini ketika Aolez menemukanku dan jika aku keluar dengan tangan kosong, aku dianggap tidak berhasil", Jelas Chanyeol yang kini sudah berdiri dihadapan Baekhyun dengan wajah memohon.

Kening Baekhyun mengkerut mendengar penjelasan Chanyeol. Perburuan pertama? Apakah yang dimaksud adalah First Chasse? Berarti…

"Perburuan pertama? Bukankan itu adalah salah satu prosesi pengangkatan seorang raja baru?", Tanya Baekhyun sambil memiringkan kepalanya.

"benar, First Chasse… sebenarnya…",

Belum selesai Chanyeol mengucapkan kalimatnya, Baekhyun langsung memekik. Ia teringat bahwa dua hari lalu, kerajaan Alderth baru saja mengangkat raja baru karena raja Charlie baru saja meninggal. Berarti, lelaki dihadapannya ini…

"yang mulia! Maafkan kelancangan hamba yang tidak memberi pengormatan dengan layak", pekik Baekhyun sambil menjatuhkan lututnya ke tanah. Tuhan dia sangat malu. Bagaimana bisa dia memperlakukan rajanya dengan sembarangan begitu. Sekarang semuanya masuk akal, kenapa bisa ada lelaki setampan, dan semewah ini bisa tersesat di hutan Anubis.

"hey hey, tidak perlu berlutut seperti itu Baek. Kau sudah menyelamatkanku. Aku berhutang nyawa padamu", kekeh Chanyeol sembari perlahan menyentuh lengan Baekhyun dan menyuruhnya kembali berdiri. Lelaki mungil itu sangat menggemaskan.

"j..jika yang mulia mau, yang mulia bisa membawa sapi ini. Hamba tidak keberatan yang mulia", Ujar Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah dibalik poni panjangnya.

"Panggil aku Chanyeol, Baek", jawab sang raja dengan lembut. Lagi-lagi perasaan aneh itu membuncah dalam tubuh Baekhyun.

"dan benarkah aku boleh membawanya? Aku akan membayarnya Baek, seharusnya kau mendapatkan uang dari sapi ini", lanjut Chanyeol.

Tetapi, gelengan adalah jawaban Baekhyun. Lelaki mungil itu mendongak dan dengan gugup menatap wajah tampan sang raja.

"t…tidak yang muli… em maksudku Chanyeol. Anda yang melihatnya terlebih dahulu. Jadi ini milik anda".

Chanyeol mendecak pelan. Otaknya mulai berpikir hingga matanya jatuh pada cincin merah dengan lambang Phoenix yang dihiasi berlian berwarna merah melingkar di jarinya. Cincin kebangsaannya sebagai seorang raja.

Senyuman terkembang di wajah tampan sang raja. Dengan lembut, ia menggenggam tangan lentik Baekhyun. Chanyeol memasangkan cincin itu di jari manis Baekhyun. Sedikit kebesaran memang, tetapi masih pas di jari lentik itu.

"ini untukmu, karena telah menyelamatkan nyawaku dan memberikanku sapi ini secara Cuma-Cuma", Ujar Sang raja dibarengi dengan usapan lembut ibu jarinya pada jemari lentik milik Baekhyun. Menimbulkan semburat merah di pipi mulus itu.

"tapi yang mulia…",

"aku memaksa", potong Chanyeol tegas.

Membuat Baekhyun menunduk dan menggumamkan terimakasih dengan pelan. Ingin rasanya Chanyeol menggigit lelaki mungil ini saking gemasnya. Tetapi lagi-lagi, ia masih waras sehingga pertahanan dirinya masih sangat tinggi. Dan itu menjadi akhir perdebatan mereka dengan Chanyeol yang menarik tali sapi besar itu sambil berjalan disamping Baekhyun.

"kau tinggal dimana Baek?", tanya Chanyeol. Memutuskan untuk memecahkan keheningan diantara mereka.

"saya tinggal di Erith yang mulia.", jawabnya pelan.

Kini semuanya menjadi masuk akal. Pantas saja Baekhyun memiliki ladang di Anubis, desanya berada dekat dengan hutan ini.

"kau memiliki ladang bunga yang besar Baekhyun. Bunga-bunganya sangat indah", puji Chanyeol tulus. Baekhyun tersenyum mendengar pujian itu dan menunduk malu-malu.

"terimakasih yang mulia. Saya memiliki toko bunga kecil di Erith. Karenanya saya harus setiap hari kesini dan memanen bunga", jawab Baekhyun.

Baru saja Chanyeol akan bersuara, suara teriakan Jenderal Oh menginterupsi interaksi mereka. Chanyeol menoleh dan tanpa disadari ternyata mereka sudah keluar dari Hutan Anubis.

Jenderal Oh Sehun berlari cepat menghampiri sang raja dengan wajah khawatir. Chanyeol bisa melihat Jillian sudah berada di sana Bersama kuda-kuda lainnya. Ia bernafas dengan lega melihat kudanya selamat.

"Yang mulia! Saya sangat khawatir melihat Jillian keluar sendirian! Kami sudah menyusul anda tapi anda tidak ada dimana-mana", ujar Sehun.

Chanyeol tersenyum dan menyerahkan tali sapi itu kepada salah satu pengawal yang meletakkan jubah beludru panjang di pundak Chanyeol.

"seseorang menyelamatkanku… perkenalkan ini…", nihil.

Baekhyun tidak ada disana ketika Chanyeol menoleh. Oh tuhan, lelaki cantik itu nyata kan?

"siapa yang mulia? Kami hanya melihat anda", Ujar Sehun bingung.

Helaan nafas lolos dari bibir Chanyeol. Ia akan mencari lelaki mungil itu dan menemukannya sampai dapat begitu semua prosesi ini selesai.

"lupakan Jenderal Oh, ingatlah. Erith dan toko bunga", Jawab Chanyeol sambil berlalu menghampiri Jillian.

Dengan lincah, sang raja lompat naik ke punggung kuda putih itu dan tersenyum ke Jenderalnya yang masih tampak kebingungan.

"sampai kapan kau akan berdiri disana Jenderal Oh? kita harus segera kembali ke Rissingshire dan memasak sapi itu", kekeh Chanyeol sebelum memacu Jillian menjauh dari area hutan Anubis.

'sampai bertemu lagi, penyelamatku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi saat itu', gumam Chanyeol dalam hati.

TO BE CONTINUED