"But I'd follow you to the great unknown
Off to a world we call our own"

Do Not EDIT and REPOST.


Erith, January 22, 1850

"kemarikan keranjang itu Baek, biar aku yang membawanya", Ujar Chanyeol sembari menarik keranjang besar berisi bunga yang berada di genggaman Baekhyun.

Sudah enam hari berlalu sejak kedatangannya ke Erith, sang raja muda nampak sudah mulai terbiasa dengan kegiatan dan lingkungan sekitarnya. Jika pada awal kedatangan ia terlihat mengernyit tidak suka atau menunjukkan wajah kesal ketika tidak didepan Baekhyun, kini tiap ia mengantar bunga ke toko tuan Piers, senyuman akan menghiasi wajah tampan itu. Satu senyuman ditujukan pada nyonya Spencer, karena susu kedelai nya yang amat nikmat tentu saja. Senyuman lain ditujukan untuk tuan Zanders yang suka memberinya kepiting rebus gratis, karena ia tampan dan mengingatkan akan masa muda si pak tua ramah itu. Dan tentunya beberapa senyuman untuk warga Erith yang menyapanya dengan 'semoga harimu menyenangkan tuan muda tampan'.

Sejujurnya, Chanyeol kadang membayangkan bagaimana reaksi rakyat Erith jika mengetahui bahwa lelaki tinggi asing itu adalah raja mereka. Apakah akan tetap ramah ataukah perlakuan mereka akan berbeda. Tetapi, dia sudah merasa puas dengan seperti ini. Melihat secara langsung bagaimana rakyatnya hidup secara normal. Jika dia mengaku bahwa dirinya adalah raja, belum tentu yang ditunjukkan oleh para warga desa adalah yang biasa mereka lakukan tetapi bisa saja hanya ingin membuat sang raja terpukau bahkan kasihan.

Selain itu, Chanyeol tidak mau tersebarnya kabar tidak menyenangkan yang menyangkut pria mungil kesayangannya. Sang raja muda ingin semua tertutup hingga saatnya tiba ketika ia mengenalkan Baekhyun dihadapan rakyat Alderth sebagai seorang ratu. Dan sampai hari itu tiba, ia tidak akan gegabah sehingga menghancurkan semua rencana yang sudah disusunnya.

"tidak perlu Chanyeol. Jujur saja aku tidak enak sudah terlalu banyak memerintahmu. Bagaimanapun kau adalah raja ku", jawab si lelaki mungil disertai sebuah gelengan kecil.

"bukankan sudah kubilang? Aku berkunjung ke Erith sebagai pria bernama Park Chanyeol yang ingin bertemu dengan si cantik perangkai bunga, Byun Baekhyun. Bukan sebagai Edmund Danvers the 6th King of Alderth. Dan jika aku kemari sebagai raja, aku tidak mungkin mengenakan pakaian santai ini tanpa 10 pengawal mengikutiku kemana-mana".

"tetapi, tetap saja. Aku tidak akan membiarkanmu. Sudah cukup kau mengantarkan bunga untuk tuan Piers sejak tiga hari yang lalu dan menyiram bunga-bungaku, Tuan Park", Ujar Baekhyun sambil berjalan cepat. Berusaha menghindar dari Chanyeol.

Tetapi, sekeras apapun Baekhyun berusaha menghindar, Chanyeol akan tetap menjadi seorang dominan yang keras kepala. Sehingga, Baekhyun hanya menghela nafas ketika tiba-tiba Chanyeol sudah merebut keranjangnya paksa dan berjalan cepat menjauh dari si lelaki mungil.

"Baek, nanti malam setelah acara pernikahan tetanggamu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan", Ucap Chanyeol sambil tersenyum kearah si mungil yang sudah berhasil menyamakan langkah kakinya.

"Kau serius mau menemaniku?".

"tentu, anggap saja malam terakhir ku disini bersamamu", kekeh Chanyeol.

"ayo, matahari sudah semakin tinggi. Kau tentu tidak mau melihat Sehun dan Jongin mengacaukan Belle Bittersweet kan?", Tambahnya sembari mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan mungil itu, dan berlari menuju Jillian yang sudah menunggu didepan hutan.


Matahari sudah terbenam di peraduannya ketika Byun Baekhyun melangkahkan kaki memasuki kamar. Ia hanya memiliki waktu dua jam untuk bersiap mendatangi pesta pernikahan Sarah dan John, tetangga nya. Sejak siang tadi, lelaki tinggi tampan bernama Chanyeol yang berjanji akan menemaninya, menghilang bagai ditelan bumi. Ia mengatakan setelah mengantar bunga pesanan tuan Piers, ada sesuatu yang harus diurusnya dan tidak perlu menunggu. Mau tidak mau sore itu ketika waktunya toko tutup, Baekhyun langsung beranjak pulang seperti biasa, sebelum Chanyeol hadir di hidupnya.

Hanya 6 hari, dan rasanya asing menginjakkan kaki kedalam rumah sendirian. Tanpa sosok tinggi yang terus menempelinya seperti kucing. Senyum sedih mengembang di wajah cantik itu. Malam ini adalah malam terakhir Chanyeol ada disini. Setelah besok, ia tidak tahu apakah mereka bisa bertemu lagi atau tidak. Benar ia sudah memikirkan ini sejak pertemuan pertama mereka di hutan Anubis. Tetapi, tuhan sangatlah baik padanya hingga memberikan kesempatan menghabiskan waktu selama seminggu dengan lelaki tampan itu. Lelaki yang diam-diam sudah berhasil mencuri hatinya. Setiap malam sebelum tidur, Baekhyun akan menimbang-nimbang haruskah ia mengatakan perasaannya. Tetapi siapa dia hingga punya hak untuk mengatakan itu. Seminggu Bersama Chanyeol agaknya membuat lelaki mungil itu kadang lupa bahwa si tampan dan baik hati itu adalah Rajanya. Orang nomor satu di kerajaan Alderth. Sehingga, dengan lancang ia memberikan hatinya secara Cuma-cuma pada Chanyeol. Lalu kesadaran seolah menamparnya, bahwa ia hanyalah rakyat biasa, ia tidak pantas bersanding dengan Chanyeol. Mereka berbeda, Chanyeol memiliki segalanya sedangkan Baekhyun tidak memiliki apa-apa untuk ia berikan pada lelaki itu, kecuali hati dan dirinya. Namun Baekhyun ragu, jika hal itu bisa membuat sang raja bahagia.

Sebuah helaan nafas lolos dari bibir mungil itu. Untuk kesekian kalinya, Baekhyun memutuskan untuk mengabaikan semua perasaan yang akhir-akhir ini menekannya. Ia yakin, seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

"oh? apa itu", gumamnya ketika mata kecil itu menangkap sebuah kotak berwarna merah maroon tergeletak diatas tempat tidur. Semakin ia mendekat, semakin jelas Baekhyun melihat logo kerajaan Alderth berada diatas kotak itu. Baekhyun tentu langsung bisa menebak darimana kotak itu berasal.

Perlahan jemarinya membuka tutup kotak yang dilapisi dengan kain lembut dengan hiasan logo kerajaan Alderth yang terbuat dari kain beludru hitam. Seketika itu irisnya melebar kaget. Jika diperhatikan sekilas nampak kilatan sinar bahagia dimata itu.

Didalam kotak itu terdapat kemeja sutera putih bersih, dibagian tengah kerah lehernya dihiasi ruby besar berkilau berbingkai pahatan garis vector indah membentuk bunga abstrak yang terbuat dari emas. Sudah pasti, kemeja ini sangatlah mahal. Hanya bangsawan kerajaan yang biasanya mengenakan kemeja model ini. Puas memperhatikan kemeja lembut itu, Baekhyun perlahan meletakkannya di tempat tidur dan meraih hadiah lain yang terdapat didalam kotak. Ternyata hadiah selanjutnya adalah sebuah celana beludru merah yang senada dengan hiasan ruby pada kemejanya. Membuat Baekhyun ingin menangis karena keindahan pakaian yang dipegangnya. Ia bertaruh, jika meletakkan pakaian ini di pelelangan, uang yang didapatnya akan sama dengan penghasilan Belle Bittersweet selama sebulan. Tetapi, tentu saja itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya, mengingat siapa yang memberikan pakaian ini.

Benda-benda terakhir yang ada didalam kotak itu adalah sebuah mahkota yang terbuat dari bunga perpaduan warna merah putih, sebuah sepatu kulit hitam mengkilat disertai dengan pesan kecil yang menyuruhnya segera bersiap. Kekehan lolos di bibir mungil Baekhyun sebelum ia beranjak bersiap menghadiri pernikahan Sarah dan John, serta bertemu dengan rajanya yang tampan.

Bersiap untuk Baekhyun tidak membutuhkan waktu lama. Setelah ia mengenakan pakaian, tangan lentiknya berpindah untuk memoles sedikit wajah cantik itu dengan peralatan seadanya. Terakhir, Baekhyun mengenakan mahkota dari bunga di rambutnya yang sudah tersisir rapih. Ia menatap bayangan tubuhnya sendiri di kaca besar yang terpasang di ujung ruangan, seperti tidak melihat Byun Baekhyun si perangkai bunga, tetapi seperti melihat sosok asing mewah yang berwajah sama dengannya.

"Baek? Apa kau sudah siap?", itu suara Sehun.

Untuk terakhir kalinya, Baekhyun menatap ke arah bayangannya dan tersenyum simpul. Sebelum kakinya perlahan melangkah keluar kamar dengan jantung berdebar. Sesungguhnya ia takut dengan reaksi Chanyeol, apakah ia akan senang atau tidak dengan penampilan Baekhyun. Si lelaki mungil ini nampak khawatir jika ternyata ekspektasi sang raja tidak terpenuhi, bagaimanapun ia hanyalah seorang lelaki desa, pakaian mahal mungkin tidak akan terlihat cocok untuknya dimata Chanyeol.

Begitu pintu terbuka, Sehun yang berdiri didepan sana langsung mendongak. Seketika mata dan mulutnya melebar begitu Baekhyun masuk kedalam jangkauan mata si pria berwajah datar itu. Reaksi yang ditunjukkan Sehun malah membuat Baekhyun semakin gugup. Apakah, ia terlihat aneh?

"y... yang mulia… Ehm maksudku, Tuan Byun… Tuan Park sudah menunggu anda didepan", ujar Sehun sedikit terbata.

Mata sipit Baekhyun berkedip bingung melihat bagaimana formalnya Jenderal Oh ini. Biasanya ia adalah yang paling santai didepan Baekhyun, tapi malam ini benar-benar berbeda. Seperti akan menghadiri acara serius, padahal mereka hanya mau memenuhi undangan tetangga Baekhyun.

"terimakasih Jenderal Oh", Jawab Baekhyun.

Kaki mungil itu perlahan melangkah keluar dari rumahnya, tidak berbeda dengan Sehun, Jongin yang sudah menunggu didepan pintu depan langsung melebarkan matanya. Sebelum tubuh berotot itu ia bawa untuk membungkuk dalam kepada Baekhyun, yang hanya ditanggapi anggukan gugup oleh si kecil.

'sebenarnya apa yang direncanakan Chanyeol?'. Kata-kata itu terus berputar-putar dalam otaknya. Dan kemana lelaki itu sebenarnya? Sehun mengatakan lelaki itu menunggunya didepan, tetapi hanya Jongin yang ada di sisian pintu.

Begitu Baekhyun melangkahkan kakinya menuju jalan setapak yang mengarah ke pagar kayu, mata kecil itu menangkap sosok lelaki tinggi dan tampan yang sejak tadi ia cari. Jika biasanya Chanyeol terlihat menawan, malam ini dia terlihat 5 kali lipat lebih menawan. Sang raja muda itu mengenakan kemeja yang sama dengan Baekhyun. Hanya saja hiasan di bagian depan kerah lehernya berbentuk phoenix emas yang berhiaskan ruby merah besar. Kaki kokoh dan panjang itu juga dibalut dengan celana bludru yang sama dengan milik Baekhyun. Rambut yang selama di Erith dibiarkan menutupi kening, kali ini disisir rapih menunjukkan keningnya, seperti pertama kali sang raja datang. Sang pria tampan itu kini sedang menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan oleh si mungil, tatapan yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Intens nya tatapan itu membuat Baekhyun menundukkan kepala sambil berjalan mendekat. Malu jika semburat di pipinya terlihat.

"jangan menunduk, tunjukkanlah pada dunia wajah cantikmu ini Baekhyun", ujarnya dengan nada yang sangat lembut. Jika Baekhyun bisa mengibaratkan, suara Chanyeol seperti coklat panas di musim dingin. Hangat dan menenangkan. Membuat semburat merah muncul di pipi Baekhyun.

Perlahan tangan sang raja menyentuh dagu si mungil dan mengangkatnya. Jantung mereka berdebar tidak karuan ketika sepasang mata itu bertemu dan saling menyelami kedalam iris masing-masing. Keheningan seolah menyelimuti mereka selama beberapa detik, hingga akhirnya si mungil memutuskan untuk mengakhiri kontak mata itu terlebih dahulu. Merasa tidak kuat dengan debaran jantungnya yang sangat menggila.

"k…kurasa kita harus berangkat sekarang. Aku khawatir kita akan terlambat", ujar si mungil malu-malu. Yang dibalas kekehan oleh lelaki satunya.

Perlahan, tangan berotot itu terulur kearahnya, tanda agar Baekhyun menggandeng tangan Chanyeol dan mereka segera berangkat. Jadi itulah yang Baekhtyun lakukan, melingkarkan tangannya ke lengan berotot itu dan mereka berjalan beriringan menuju kediaman Sarah yang menjadi lokasi acara. Senyuman bangga tidak sedikitpun luntur dari wajah tampan sang raja selama perjalanan mereka yang tidak terlalu jauh itu.

Hanya butuh waktu 15 menit untuk mereka tiba di pesta. Suasana disana ramai, semua tetangga Baekhyun sepertinya hadir dan memenuhi taman yang tidak terlalu luas, tempat pesta diselenggarakan.

Begitu kedua lelaki itu menampakkan kaki disana, mata seluruh tamu seperti tertarik kearah mereka. Seolah ada magnet tersendiri yang menempel di tubuh kedua orang berbeda ukuran itu. Bahkan, para tamu sempat lupa siapa pengantin sebenarnya karena Baekhyun dan Chanyeol nampak sangat memukau.

Sepanjang acara, mereka berdua sempat bercakap dengan mempelai dan hampir semua tamu yang hadir. Chanyeol nampak berbincang seru dengan tuan Zanders dan tuan Piers sambil meminum bir yang ada di tangannya. Sedangkan Baekhyun sibuk meladeni pertanyaan orang-orang tentang identitas lelaki tinggi tampan yang datang dengannya, yang seperti biasa hanya dijawab sekenanya oleh si mungil. Sesekali lelaki mungil itu juga tersipu menerima pujian mereka tentang betapa menawannya ia dengan pakaian itu. Pertanyaan lain yang Baekhyun dapat adalah apa sebenarnya hubungan Baekhyun dan Chanyeol. Tetapi, pertanyaan itu akan selalu menjadi angin lalu untuk Baekhyun. Ia lewatkan seolah-olah tidak mendengar apapun.

Dari tempat Baekhyun berdiri, ia bisa melihat kalau sang raja muda itu sedang dikerumuni tetangganya. Nampaknya beberapa warga Erith ada yang cukup berani untuk mendekati Chanyeol dan berusaha mengajaknya berbincang. Tentu saja, mereka semua ditanggapi dengan ramah oleh sang raja. Di kejauhan, Baekhyun menatap si tampan sambil tersenyum, merasa takjub dengannya yang sama sekali tidak sombong pada tetangga-tetangga Baekhyun disana.

Semuanya berjalan seperti itu hingga mereka berdua memutuskan sudah waktunya kembali. Berpamitan kepada warga Erith sepertinya agak sulit bagi mereka berdua, terbukti beberapa kali mereka ditahan untuk diajak mengobrol di sana dan disini hingga akhirnya bisa benar-benar meninggalkan lokasi pesta dengan tenang. Tentu saja, mereka tidak langsung pulang kerumah karena Chanyeol sudah berjanji akan mengajak Baekhyun ke suatu tempat.

Di ujung jalan, terlihat Jillian yang sudah menanti. Sepertinya Sehun atau Jongin yang mengantarkan kuda putih gagah itu untuk mereka berdua. Seperti biasa, Chanyeol akan membantu Baekhyun naik sebelum ia sendiri melompat naik dan mulai memacu kuda putih kesayangannya.

Jillian berlari cepat membelah Erith yang sudah sepi. Menuju ke bukit yang sangat familiar bagi Baekhyun. Tetapi, jika biasanya mereka berbelok ke kanan, kali ini Jillian berbelok kiri melewati jalan setapak menanjak yang menuju ke sisi lain bukit. Tentu saja Baekhyun tau mereka menuju kemana. Taman Qrygorf, yang terletak di bukit Fruht. Jika sebelah kanan bukit Fruht digunakan untuk makam warga Erith, bagian kiri merupakan tempat terindah dan paling romantic yang dimiliki Erith. Taman Qrygorf merupakan sebuah taman dengan hamparan rumput hijau yang sangat indah. Pohon maple yang dihiasi dengan lampion-lampion putih dipadukan dengan pemandangan gunung Zarf yang menakjubkan, membuat taman ini menjadi pilihan pertama bagi mereka yang ingin menyatakan perasaan atau sekedar menghabiskan waktu berdua dengan pasangan. Jujur, Baekhyun bingung bagaimana Chanyeol bisa tahu keberadaan tempat ini. Mungkin seluruh warga Erith tahu mengenai tempat ini, tetapi orang di luar Erith tentu tidak akan menyangka jika ada tempat seindah itu di desa yang di cap menyeramkan ini.

Begitu mereka turun dari kuda, Chanyeol langsung mengikat Jillian di salah satu dahan pohon sebelum dengan lembut menggandeng tangan Baekhyun dan membawanya ke salah satu potongan kayu besar yang memang digunakan untuk duduk. Keheningan menyapa mereka setelah itu, keduanya sama-sama bingung harus memulai dengan apa. Suara jangkrik dan gemericik dari air terjun menjadi satu-satunya suara yang menemani mereka.

Si kecil tentu tidak tau maksud Chanyeol mengajaknya kesini, sedangkan Chanyeol tidak tahu bagaimana harus mulai mengungkapkan perasaannya. Ia takut Baekhyun tidak akan suka dengan apa yang akan ia ucapkan, sehingga ia memikirkan kata-kata yang tepat untuk si lelaki mungil itu.

"Baek", Panggil Chanyeol Akhirnya.

Merasa namanya dipanggil, si kecil perlahan menoleh dibarengi dengan gumaman pelan dan senyuman di wajah cantiknya.

Melihat tiada respon lagi yang ditunjukkan si mungil, Chanyeol memutuskan untuk melanjutkan apa yang ia ingin katakan. Hari ini adalah hari terakhirnya di Erith, belum tentu ia memiliki kesempatan lagi untuk mengatakannya. Jika tidak hari ini, berarti tidak akan pernah.

"Terimakasih Baek sudah menampungku disini selama seminggu. Tentu aku sudah banyak merepotkanmu. Berkatmu, aku jadi menikmati hari-hariku selama di Erith".

"Kau tidak perlu mengucapkan terimakasih Yeol, bagaimanapun kau adalah rajaku. Seperti yang kukatakan, sudah menjadi tugasku untuk melayanimu dan pejabat kerajaan Alderth sebagai rakyat yang baik", jawab si mungil dengan pipi yang merona. Tetapi, cahaya redup disana sangat membantu menyembunyikan warna merah di pipinya itu.

"Baek, kau tahu hari ini adalah hari terakhirku ada disini. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sudah beberapa hari ini kuyakini", perlahan tangan Chanyeol terulur dan menggenggam tangan yang lebih mungil.

"Sepertinya, aku jatuh cinta padamu Baek. Sejak pertama kali kita bertemu di hutan Anubis, aku sudah sangat tertarik padamu. Tetapi, karena aku belum yakin dengan perasaan itu, aku memutuskan untuk kesini dan menemuimu langsung selama masa seminggu liburku. Disini, aku melihat seperti apa dirimu Baek. Kau adalah orang paling cantik dan baik hati yang pernah kutemui. Rasa cintamu pada nenek membuatku kagum, dan aku tidak heran kenapa hampir semua warga Erith menyayangimu. Dan aku memutuskan untuk menjadi salah satu dari orang-orang itu. Aku, mencintaimu Byun Baekhyun. Ikutlah denganku kembali ke Rissingshire dan memimpin Alderth bersamaku", Mata cokelat itu menatap dalam ke mata Baekhyun dibarengi dengan keluarnya pengakuan dari mulut sang raja tampan.

Jika kalian bertanya bagaimana reaksi Baekhyun. Mata kecilnya kini sudah dipenuhi air mata yang sebentar lagi akan jatuh menuruni pipi. Ia tidak menyangka lelaki yang ia cintai membalas perasaannya. Perasaan bahagia itu membuncah didalam hatinya, membuatnya ingin memeluk si tampan itu tengan erat. Tetapi, Baekhyun tetaplah Baekhyun. Meskipun Chanyeol sudah mengaku, Baekhyun tetap pada pendirian jika tidak pantas bagi orang sepertinya untuk menyentuh raja.

"Y…yang mulia, tentu bohong jika saya mengatakan saya tidak merasakan apa yang mulia rasakan. Tetapi, saya hanyalah rakyat jelata. Seorang pedagang. Bagaimana mungkin orang seperti saya bisa mendampingi anda memimpin kerajaan sebesar Alderth. Saya tidak berpendidikan, saya bukan seorang bangsawan. Saya tidak memiliki apapun untuk diberikan pada anda selain diri saya dan hati saya. Saya, tidak pantas yang mulia", air mata yang sejak tadi ditahannya itu akhirnya menetes. Mengenai genggaman tangan mereka. Sungguh sakit rasanya mencintai seseorang, tetapi kita sadar bahwa kita tidaklah pantas bersanding dengan orang tersebut.

"Baek, aku tidak perduli dengan kastamu. Yang kupedulikan adalah aku mencintaimu dan kau membalas perasaanku. Serta kau bersedia mendampingiku memimpin Alderth dengan segala kebaikan dan kerendahan hati yang kau miliki. Aku tahu, kau bukanlah bangsawan, tetapi kau adalah orang yang cerdas dengan wawasan luas. Ibuku, juga bukanlah seorang bangsawan. Tetapi dia bisa membuktikan bahwa dirinya pantas mendampingi mendiang ayahku memimpin Alderth. Kau lihat, sekarang semua orang mencintainya tanpa melihat darimana dia berasal", satu kecupan ia daratkan di punggung tangan mungil milik Baekhyun. Mata lebar itu tidak sekalipun melepaskan mata Baekhyun dari perangkapnya.

Pernyataan sang raja muda membuat Baekhyun terdiam, menimbang apakah ia sanggup menerima tantangan sebesar itu dan melepaskan mimpinya. Selama ini, Baekhyun hanya membayangkan dirinya menjadi seorang perangkai bunga sukses yang memiliki cabang di ibukota Rissingshire. Setiap hari, ia akan membuat bunga-bunga indah yang bisa membuat pelanggannya tersenyum. Sedikitpun ia tidak pernah membayangkan menjadi seorang ratu, mendampingi lelaki tampan di hadapannya memimpin kerajaan sebesar Alderth hingga akhir hayatnya. Baekhyun takut, ia tidak bisa mengemban tugas itu. Ia takut akan mengecewakan banyak orang karena kegagalannya. Bagaimanapun, ia tidak tahu apa-apa mengenai memimpin kerajaan.

Selain itu, ada banyak hal yang memberatkannya. Benar ia mencintai Chanyeol dengan segenap hatinya. Tetapi menjadi ratu, sama saja melepaskan semua mimpinya Bersama sang nenek. Meninggalkan semua yang ia miliki di Erith, kenangannya bersama sang nenek, dan tentu saja kebanggaannya, Belle Bittersweet.

Perlahan Baekhyun menghembuskan nafasnya dan mengulurkan tangan untuk mengelus rahang tegas sang raja. Tangan lentik itu kemudian merambat dan mengelus pipi Chanyeol. Membuat si pemilik memejamkan mata menikmati betapa lembut dan hangat tangan itu menyentuh kulitnya. Debaran jantung didalam sana semakin menggila, seolah mau lompat dari tempatnya.

"yang mulia… Saya mencintai anda, itu adalah kebenarannya. Tetapi…".

Chanyeol membuka mata bulatnya dan menatap bingung kearah si mungil. Di mata yang berkilau karena air mata itu, Chanyeol menangkap keraguan yang nyata. Keraguan yang membuat Chanyeol takut akan apa yang selanjutnya diucapkan si mungil.

"Saya… maafkan saya yang mulia, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya tidak mungkin meninggalkan Belle Bittersweet".

"Baek…"

"maafkan aku Chanyeol… Aku hanya tidak tahu, ini terlalu mendadak bagiku".

Perlahan sang raja muda menghela nafas dan tangannya terulur untuk mengusap air mata yang lolos dari mata si mungil. Sejujurnya ia juga tidak tega jika melihat Baekhyun menangis. Chanyeol mengerti Belle Bittersweet adalah segalanya bagi Baekhyun, karena itu ia akan berusaha mengerti apa yang lelaki mungil itu rasakan, daripada harus memaksanya.

"Baek, maafkan aku jika terlalu memaksamu. Aku tidak memaksamu untuk menjawab malam ini, pikirkan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya", Ujar Chanyeol dibarengi dengan senyum tampan sebelum perlahan ia mendekat dan menempelkan bibirnya di kening Baekhyun. Kedua mata itu ia pejamkan bersamaan dengan ciuman itu ia berikan. Sang raja muda seolah ingin menyalurkan semua perasaannya, menunjukkan pada si mungil betapa Chanyeol sangat mencintainya.

Erith, January 23, 1850

Seorang lelaki mungil sedang menggeliat dalam tidurnya ketika matahari pagi bersinar tepat mengenai iris terpejam miliknya. Baekhyun perlahan menggosok matanya lalu mengerjap. Berusaha beradaptasi dengan cahaya yang baru saja ia terima. Masih dengan wajah mengantuk, Baekhyun memandang ke sekeliling. Ia benar yakin ini adalah kamar sang nenek, dan kenapa ia tidur disini? Otak paginya yang masih agak lamban berusaha mengingat-ingat kejadian di hari kemarin.

Beberapa menit berlalu hingga sepasang mata kecil itu terbuka lebar, nampaknya ia baru mengingat bahwa semalam, setelah kelelahan menangis ia tertidur. Chanyeol pasti yang membawanya kesini. Tetapi, dimana lelaki itu adalah misteri satu lagi yang harus ia pecahkan. Dengan erangan disini dan disana, Baekhyun perlahan bangkit dari tempat tidur dan berjalan pelan keluar kamar. Ia mengira, begitu ia keluar langsung akan disambut oleh ketiga pria tampan yang sedang duduk di ruang makan atau di depan perapian. Tetapi ia salah. Alih-alih mendengar suara ribut mereka bertiga, Baekhyun malah mendengar suara ribut banyak orang didepan rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh ia berlari kedepan rumahnya, dan pemandangan yang ia lihat seketika membuat kedua irisnya terbuka lebar.

Di jalanan depan rumahnya dipenuhi oleh tetangganya, atau bahkan sebagian besar warga Erith yang bergerombol mengelilingi kereta kuda mewah dengan logo Alderth disana. Di bagian paling atas kereta terdapat hiasan berupa mahkota besar yang berkilauan diterpa sinar matahari.

Benar, itu adalah kereta raja.

Ditengah kebingungannya, Baekhyun melihat Jillian yang sudah berada di barisan paling depan gerombolan kuda yang akan menarik kereta tersebut. Dibelakang Jillian terdapat 8 kuda hitam yang berbaris rapi, menandakan siap berangkat.

Dimana Chanyeol?

Apakah ia akan meninggalkan Baekhyun?

Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca bersamaan dengan ia berlari menuju kereta kuda itu. Tetapi, banyaknya orang yang ingin bertemu dengan raja membuat ia sulit mendekat. Berkali-kali ia berusaha menerobos gerombolan itu, semakin dekat ia bisa melihat jelas sosok yang sudah dirindukannya dari balik jendela kereta.

Sang raja sedang duduk di dalam sana dengan pakaian resminya. Dari samping, Baekhyun bisa melihat air muka sang raja yang nampak sedih.

Seperti mengetahui bahwa pria nya ada disitu, perlahan Chanyeol menoleh. Ia melihat lelaki mungilnya menatap kearahnya dengan wajah sedih. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata indah itu. Bahkan Chanyeol masih belum sempat mendengar jawaban itu dari Baekhyun. Tetapi, baru saja tangan itu akan meraih kenop pintu, Jongin langsung menahannya.

"yang mulia… saya tidak menyarankan anda untuk keluar. Saya takut akan terjadi keributan yang lebih baik lagi. Anda akan bertemu dengannya lagi. Dan saya benar-benar meminta maaf, ini sudah waktunya bagi kita untuk pergi", Ujar Jongin sambil menatap sedih kearah sang raja.

Perlahan sang raja mengangkat tangannya sambil menatap kearah pria mungilnya, tangan itu melambai pelan disertai dengan senyuman sedih. Bibir tebal sang raja membisikkan 'aku mencintaimu' yang entah bisa ditangkap atau tidak oleh si mungil. Hingga Jongin mengisyaratkan kusir untuk berangkat, Chanyeol masih saja menatap lelaki mungilnya yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.

Tetapi samar-samar Chanyeol mendengar teriakan suara itu di kejauhan. Ia bahkan tidak yakin ataukah itu hanya imajinasinya atau tidak. Sehingga, ia tetap menolehkan kepalanya dan benar, ia melihat tubuh kecil itu berlari mengikuti kereta.

Tentu saja, jarak mereka sudah terlalu jauh untuk si mungil dapat mengikutinya. Sayangnya, kedua kaki mungil itu menyerah dan terduduk di tengah jalanan Erith. Ia masih terus terisak, mengundang empati dari warga sekitar yang sudah mengenalnya. Baekhyun berakhir menangis tersedu-sedu di pelukan Xiumin yang dengan sabar mengelus punggungnya.

Dalam lubuk hatinya, perasaan bersalah seperti menggerogoti. Bersalah karena ia belum menjawab pertanyaan sang raja semalam, dan sedih karena ia harus berpisah dengan cara seperti ini. Lama kelamaan, tidak hanya Xiumin yang menghampirinya. Tetapi hampir setiap warga yang mengenalnya akan menghampiri dan mengucapkan kalimat-kalimat penghibur terbaik mereka. Meskipun semua itu sia-sia. Baekhyun terlalu sedih bahkan untuk mendengar nasihat mereka.

Mau tidak mau, sebagai sahabat yang baik Xiumin memapah Baekhyun kembali kerumahnya. Lelaki mungil itu sangat lemas dan pandangannya kosong. Tidak heran, Baekhyun adalah seseorang yang bisa dibilang sendiri. Kehilangan orang yang ia cintai adalah ketakutan terbesarnya. Setelah kehilangan nenek, luka itu mulai sembuh dengan adanya Chanyeol. Tetapi, sekarang Chanyeol juga harus pergi, membuat luka itu kembali menganga.

Jika ditanya, tentu saja Baekhyun ingin memutar waktu dan mengiyakan lamaran Chanyeol. Apapun asal ia tetap bersama dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, dalam keadaan sadar, kebimbangan itu akan kembali. Bagaimanapun, Belle Bittersweet adalah segalanya bagi Baekhyun, kenangannya dengan sang nenek sejak ia kecil semua berada disana, tertanam jauh didalam toko mungil yang indah itu. Tidak akan mudah baginya untuk melepas Belle Bittersweet.

Setibanya mereka di halaman depan rumah Baekhyun, ringkikan kuda membuat dua pasang mata itu mendongak kaget. Seekor kuda putih terikat di salah satu pohon di pekarangannya. Kuda yang sangat cantik. Melihat itu, Baekhyun langsung berlari menghampiri. Tangannya bergetar begitu ia melihat gulungan kertas yang di segel dengan stempel kerajaan. Perlahan ia membuka gulungan itu dan mata kecilnya membaca dengan seksama.


Erith, 23 January 1850

Namanya Jasmine. Ia adalah belahan jiwa Jillian. Sejak bayi mereka selalu bersama. Mereka biasanya akan panik atau memberontak jika dipisahkan, karenanya aku agak heran melihat Jasmine yang nampak tenang ketika Sehun mengikatnya di pohon. Apakah mungkin Jasmine sudah bisa merasakan untuk siapa ia berada disini?

Jika kebanyakan raja akan memberi hadiah perhiasan untuk calon ratu mereka, aku berencana memberikan Jasmine sebagai hadiah. Sebagai symbol bahwa sama halnya dengan Jillian kepada Jasmine, ratuku adalah segalanya bagiku. Satu-satunya pasangan untukku. Karena itu, aku mohon padamu, jangan terlalu lama pisahkan Jillian dengan Jasmine. Seperti jangan terlalu lama kau membiarkanku sendirian. Bisakah kau melakukan itu ratuku?

Yours,

CY Park


Air mata kembali lolos dari mata kecil Baekhyun, membuat Xiumin langsung mendekat dan melongok kearah kertas itu.

"Baek, apa katanya?", Tanya Xiumin.

"kau bisa melihatnya hyung", Jawab Baekhyun pelan.

"um Baek, aku tidak bisa membaca".

Senyuman timbul di wajah cantik itu, bukan senyuman cerah andalannya. Melainkan sebuah senyuman sedih.

"hyung, bisa kau jaga Belle Bittersweet dulu? Aku akan kesana setelah makan siang. Aku ingin sendiri", Ujar Baekhyun.

Mendengar itu, Xiumin hanya mengangguk mengerti sebelum memberikan sebuah pelukan terakhir dan beranjak dari rumah Baekhyun. Baekhyun menatap kepergian sahabatnya kemudian berbalik dan perlahan mengelus kepala Jasmine.

Alih-alih memberontak karena disentuh orang asing, Jasmine malah mengusapkan kepalanya ke tangan Baekhyun sebelum berjalan semakin dekat. Seolah ingin membenamkan kepalanya di tubuh mungil itu. Membuat Baekhyun memeluk kepala kuda itu dan mengusak surai lembutnya.

"maafkan aku harus memisahkanmu dengan Jillian, Jasmine. Percayalah, aku juga tahu bagaimana rasanya", Ujar lelaki mungil itu pelan.

Erith, January 25, 1850

"Ah rasanya melelahkan harus mengambil bunga sendiri kesini. Biasanya anak muda tampan itu akan mengantarkan untukku. Tetapi, begitu tahu ia adalah yang mulia raja, rasanya aku ingin mengubur diriku sendiri", Ujar Tuan Piers sambil menyerahkan beberapa keping koin kepada Baekhyun.

Baekhyun hanya memberikan senyuman simpul dan mengangguk. Sudah 2 hari berlalu sejak Chanyeol kembali ke Rissingshire. Semuanya terasa sangat asing bagi lelaki cantik itu. Baekhyun sudah menghabiskan hampir seumur hidupnya seperti ini, tanpa Chanyeol. Tetapi, hanya seminggu lelaki itu disini, semuanya serasa berubah. Sesuatu yang biasanya merupakan kebiasaan menjadi sesuatu yang sangat asing baginya. Tidak hanya Baekhyun, orang-orang disekitar juga akan mengeluh bagaimana suasana biasanya jika ada yang mulia raja diantara mereka. Setiap bertemu Baekhyun, mereka akan bercerita bagaimana perasaan kagum yang dirasakan terhadap sang raja yang tidak sombong dan mampu berbaur tanpa diketahui selama 6 hari. Dan respon yang Baekhyun berikan tentu sebuah senyuman sedih.

"maaf tuan Byun, saya tidak bermaksud membuat anda sedih"

Senyuman itu kembali di wajah Baekhyun.

"tidak apa tuan Piers. Saya bisa mengerti"

"ketahuilah, King Edmund sangat mencintai anda. Saya mengerti jika Erith dan Belle Bittersweet memberikan banyak kenangan. Hanya saja, anda masih sangat muda. Diluar sana adalah kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas, bersama dengan orang yang anda cintai. Saya yakin, anda pasti akan bahagia. Evelyn, akan sangat senang diatas sana melihat cucunya bahagia, meskipun tanpa Belle Bittersweet", Ujar Tuan Piers dibarengi dengan senyuman. Kerutan-kerutan di wajahnya samakin jelas, membuat lelaki itu tampak hangat dan berwibawa.

Anggukan dan gumaman terimakasih menjadi jawaban Baekhyun, sebelum tuan Piers berbalik keluar untuk melanjutkan aktifitasnya. Tanpa Baekhyun sadari, Xiumin yang sejak tadi sedang menyiram bunga kini sedang menatap kearahnya.

"kau tau Baek, aku setuju dengan tuan Piers", Ujarnya.

Membuat Baekhyun menoleh dan menghela nafas. Hingga kini, ia bahkan belum bisa menentukan. Hati dan otaknya terus saja memiliki keputusan yang berbeda.

"entahlah hyung, aku tidak tahu". Lagi, itu adalah jawaban yang si mungil berikan.

"aku akan ke Anubis sebentar, kita kehabisan bunga mawar", Ujar Baekhyun sebelum beranjak keluar dari toko. Setibanya ia diluar, angin dingin langsung menerpa wajahnya.

Sesungguhnya selama dua hari ini Baekhyun tidak benar-benar bisa tidur. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Bayangan akan lelaki tampan itu selalu saja menghampirinya. Tidak hanya dalam mimpi, tetapi juga tiap saat dimana kesendirian itu menjemputnya. Saat dimana ia tiba dirumah, disana hanya ada dirinya. Tidak ada lagi suara tawa Chanyeol dengan kedua temannya. Atau suara ribut sang raja yang bertanya tentang banyak hal. Ketika momen itu tiba, Baekhyun akan langsung menangis sambil memeluk dirinya sendiri. Rasa rindunya pada sang raja seolah tidak dapat ia bendung lagi.

"aku harap, kau mau menungguku", Bisiknya pelan sambil menatap kearah langit.

Etuviel Palace, January 25, 1850

Seorang lelaki tan sedang menatap khawatir kearah sang junjungan yang sedang melamun di meja kerjanya. Di samping lelaki tan itu, si kepala pelayan, Do Kyungsoo, juga menunjukkan raut khawatir yang sama. Sudah dua hari ini sang raja tidak menghabiskan makanannya, malah cenderung memainkannya dan pergi begitu saja setelahnya.

Kehilangan focus juga dialami oleh lelaki tampan itu. Parahnya, kemarin ia hampir meleset memanah salah satu pengawalnya ketika sedang latihan bersama Sehun. Setelah kejadian itu, sang raja hanya membanting alat panahnya sebelum berbalik masuk ke istana.

Keanehan-keanehan ini tentu diakibatkan oleh lelaki mungil cantik yang Jongin tahu pasti siapa. Sebenarnya tidak benar memisahkan mereka dengan cara seperti itu. Tetapi jika saja pak tua berwajah bengis yang merupakan tukang daging itu tidak melihat kereta raja mengantar baju, semuanya akan aman. Karena pak tua itu menyebarkan berita kepada warga Erith bahwa 'si pria asing itu adalah yang mulia raja', seluruh warga pagi itu berbondong-bondong mengunjungi rumah Baekhyun. Membuat Chanyeol, Jongin dan Sehun yang panik langsung menyelamatkan raja dan menyuruhnya masuk ke dalam kereta untuk segera kembali ke Rissingshire. Bagaimanapun, keselamatan raja adalah yang utama. Siapa yang tahu diantara gerombolan itu ada pembunuh bayaran yang dikirim olah kerajaan lain? Sehingga kejadian pagi itu merusak semua rencana yang sudah disusun oleh sang junjungan di hari terakhirnya bersama si mungil.

Keadaan mengkhawatirkan sang raja, sudah sampai ke telinga sang ibu suri yang selama dua hari ini terus menemani anak lelakinya sebelum tidur. Menyuruhnya menghabiskan susu agar ia tidak sakit. Tetapi, setelah itu sang raja akan kembali diam dan memejamkan matanya. Seolah tidak ingin menjawab apapun yang ditanyakan sang ibu.

Hal lain yang terjadi adalah, selama dua hari ini sang raja sangat menyeramkan. Ia marah hanya karena pelayan menjatuhkan kemoceng di depan kaki sang junjungan ketika ia sedang lewat. Atau karena kopinya terlalu manis dan daging steak pesanannya terlalu matang. Singkatnya, semua orang di istana ikut menderita bersama dengan sang raja.

"Jongin, tidakkah menurutmu sebaiknya kita menjemput lelaki itu?", Tanya lelaki bermata bulat itu.

"kau tau Kyung, Tuan Byun bukanlah orang sembarangan. Meskipun ia hanyalah pedagang, aku melihat ia adalah orang dengan kepribadian luar biasa. Tuan Byun sangat menyayangi neneknya. Banyak hal menjadi pertimbangannya".

"tapi tidakkah kau lihat, keadaan yang mulia raja sudah sangat mengkhawatirkan. Aku hanya takut beliau akan jatuh sakit".

"jika mereka ditakdirkan bersama, mereka akan bersama. Untuk sementara ini, ayo kita berbuat yang terbaik untuk yang mulia raja dalam masa menunggunya", Ujar Jongin akhirnya, disertai senyuman tampan.

Tidak mereka ketahui, disana sang raja bisa mendengar semua yang mereka katakan. Membuatnya menghela nafas dan menatap kearah langit.

"aku akan menunggumu sampai kapanpun, ratuku", gumamnya pelan.

To Be Continue

Hello!

This is Kileela, makasih yaa yang sudah mau membaca ff ChanBaek pertamaku, Tightrope. Terutama yang sudah mau love, follow dan yang udah review. Kalian udah bikin aku semangat nulis ff ini!

Makasih banget banget buat my one of favorite author kak Valbi Fleur yang sudah bersedia mampir kesini dan baca ff ku ^^ so happy laah wkwk, and terimakasih juga buat Hyera832, beautyp138, EvieBeeL, berrybyun, Chanyeoltidakmesum, milkybaek, Gyupal, iitanakemamake, Parkbaekxh614, chanxlxbaek, yerseoul, LyWoo, dan Nurfadillah yang sudah menyempatkan diri review. Review kalian sungguh berharga guys buat author baru sepertiku! Thank youu! enjoy Chapter ini dan selanjut-selanjutnya ya! /ngilang/