Hand in my hand and we promised to never let go

We're walking the tightrope

Do Not EDIT and REPOST.


Rissingshire, January 30, 1850

Yang terhormat, Tuan Byun Baekhyun

Beberapa hari ini, yang mulia raja nampak tidak baik. Beliau beberapa kali tidak dapat menghadiri acara-acara kerajaan karena kondisinya. Suhu tubuhnya terus tinggi, tabib Zhang khawatir jika ini terus berlanjut bisa berubah menjadi penyakit serius. Dalam tidurnya, yang mulia akan memanggil nama anda. Beliau menolak makan, Bubur kesukaan yang mulia disaat sakit pun seperti tidak membantu membangkitkan nafsu makannya. Tuan Byun, sepertinya yang mulia sangat merindukan anda.

Sekian.

Jenderal Oh Sehun.


Rissingshire, February 3, 1850

Yang terhormat, Tuan Byun Baekhyun

Hari ini terjadi kekacauan. Yang mulia raja tidak sengaja menembakkan panahnya ke salah satu pengawal (lagi). Untungnya tidak serius, hanya mengenai paha si pengawal. Yang mulia raja terlihat sangat bersalah setelah itu. Demamnya sudah turun, beliau sudah sehat menurut tabib Zhang, hanya saja beliau masih diam seperti biasanya. Ibu Suri kemarin memaksa Jenderal Oh memberikan dimana alamat anda, tentu saja untuk menjemput anda secara paksa. Hanya saja Jenderal Oh menolak memberi tahu. Keadaan yang mulia raja sangat mengkhawatirkan. Sehingga ibu suri tidak memiliki pilihan lain.

Kabar lainnya, Jillian juga jatuh sakit. Beberapa hari ini sang raja tidak bisa membawa Jillian kemana-mana, sehingga harus menaiki Cobalt, mereka tidak terlalu akur, beberapa kali yang mulia raja hampir jatuh dari kuda. Saya tidak pernah melihat beliau se sedih ini. Saya benar-benar berharap tuan Byun bisa segera memberi keputusan.

Sekian.

Penasihat Kim Jongin


Rissingshire, February 8, 1850

Yang terhormat, Tuan Byun Baekhyun

Tabib Zhang mengatakan, yang mulia raja terkena penyakit di lambungnya. Jarangnya beliau menghabiskan makanan menjadi penyebab penyakit ini. Tabib Zhang sudah memberikan obat, semoga saja obatnya dapat segera bekerja. Yang mulia raja tampak kesakitan. Begitupun dengan Jillian.

Beliau masih memanggil nama anda dalam tidurnya. Bukankah ini sudah terlalu lama untuk berfikir tuan Byun?

Kami harap, anda mau segera membalas surat-surat yang kami kirimkan.

Sekian.

Jenderal Oh Sehun


Rissingshire, February 12, 1850

Yang terhormat, Tuan Byun Baekhyun

Maafkan kami, jika kami terus mengganggu anda dengan semua surat ini. Sudah beberapa kali ini kami terus mengirimkan surat, tetapi sepertinya anda tidak berniat membalasnya. Tuan Byun, kami sudah menyimpulkan anda telah mengambil keputusan. Sehingga anda tidak mau membalas surat dari kami. Kami mengerti jika itu memang yang anda inginkan.

Saya hanya ingin menyampaikan untuk terakhir kali, bahwa yang mulia raja sangat mencintai anda. Biarpun tampak mustahil, seminggu bersama anda sepertinya membuat beliau merasakan cinta yang sesungguhnya. Dalam 21 tahun hidupnya, anda adalah orang pertama yang membuatnya seperti ini. Tuan Byun, terimakasih telah memberikan kebahagiaan kepada yang mulia raja kami walaupun hanya sebentar. Dan terimakasih telah memperlakukan kami dengan baik selama di Erith. Anda sungguh adalah orang yang baik. Saya berharap mimpi anda membangun toko bunga di Rissingshire dapat segera terwujud. Kami akan menjadi pelanggan pertama anda ketika itu.

Tuan Byun, keadaan Jillian sudah membaik. Kami hanya berharap anda mau merawat Jasmine dengan baik. Semoga disana anda dan Jasmine berada dalam keadaan sehat. Mungkin setelah ini kami akan berhenti mengirim surat untuk anda. Kami takut menjadi pengganggu aktivitas anda.

Sampai Jumpa Tuan Byun.

Penasihat Kim Jongin.


Etuviel Palace, February 14, 1850

"selamat pagi penasihat kim, ada kiriman surat untuk anda", Ujar seorang wanita berpakaian pelayan.

Jongin, sedang duduk di meja kerjanya ketika pelayan itu datang. Sudah dua hari berlalu sejak surat terakhir yang ia kirimkan pada tuan Byun. Pengawal yang mengirimkan surat itu mengatakan bahwa tuan Byun sendiri yang menerima dan tidak lama si pemilik Belle Bittersweet itu langsung membacanya. Tetapi, si perangkai bunga cantik itu tidak terlihat mau memberikan surat balasan disaat bersamaan. Jongin tidak mengerti kenapa Baekhyun seperti mengabaikan surat-surat yang ia dan Sehun kirimkan. Jika ia benar mencintai sang raja, tentu akan memberikan respon atas surat-surat yang Jongin dan Sehun kirimkan.

Helaan nafas keluar dari bibir si penasihat sebelum ia melihat kearah nampan emas yang berisi beberapa tumpuk surat yang tiba hari itu. Satu persatu ia melihat siapa pengirim surat-surat tersebut. Dan lagi kekecewaan harus ia rasakan karena, semuanya merupakan surat resmi. Tidak ada dari Byun Baekhyun. Diliputi rasa kecewa dan kesal, ia melemparkan tumpukan surat itu kembali ketempatnya, kemudian jari-jarinya ia gunakan untuk mengurut keningnya. Mereka benar-benar akan menyerah setelah ini.

Tetapi jika mengingat keadaan yang mulia raja, bagaimana ia bisa menyerah. Jika satu-satunya yang bisa membuat junjungannya kembali seperti biasa adalah tuan Byun, maka Jongin dan Sehun akan melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki mungil itu.

"permisi penasihat Kim, ada satu surat yang tertinggal", Jongin mendongak ketika pelayan itu kembali sambil membawa sebuah amplop putih polos yang tidak terlihat seperti surat resmi. Mata Jongin langsung melebar kaget melihat surat itu. Bisa saja itu surat dari tuan Byun.

Dengan cepat, pria yang dipanggil penasihat Kim itu berdiri dan merebut surat yang masih berada di genggaman si pelayan. Mata nya langsung menyisir setiap tulisan yang ada disana.

Akhirnya, sebuah surat balasan. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya sembari membuka surat itu dengan tidak sabaran. Membuat si pelayan menatap heran pada di penasihat yang wajahnya selalu terlihat kaku selama ini ternyata bisa tersenyum.


Erith, February 13, 1850

Yang Terhormat, Penasihat Kim Jongin

Maafkan saya baru membalas surat anda dan Jenderal Oh. Banyak hal yang harus disiapkan sebelum keberangkatan saya ke Rissingshire. Bagaimanapun, saya ingin memberikan hadiah untuk orang yang saya cintai di hari Valentine ini. Saya benar-benar berharap jika kedatangan ini bisa menjadi kejutan untuk yang mulia raja. Saya akan berangkat tepat setelah matahari terbit. Semalaman mata saya tidak bisa terpejam memikirkan semua ini, membuat saya gugup. Sehingga saya memutuskan menulis surat di di pukul 3 dini hari.

Mungkin saat anda membaca surat ini, saya sudah tiba di Rissingshire.

Sampai bertemu Penasihat Kim.

Byun Baekhyun.


"Yatuhan… Yatuhan!", si penasihat Kim itu langsung nampak panik usai membaca surat di tangannya. Mulutnya membentuk huruf O sembari kakinya berjalan kesana-kemari tanpa arah. Lagi, si pelayan yang masih setia menunggu disana menyernyitkan keningnya bingung.

"Kau! Katakan padaku dimana orang yang mengantarkan surat ini", Ujarnya.

Pelayan wanita itu berkedip dan membungkukkan tubuhnya sedikit. Menghindari tatapan mata penasihat Kim yang membuatnya gugup.

"i…ia adalah seorang lelaki bertubuh pendek dengan pakaian biasa tuan. Hanya saja, ia menunggangi Jasmine. Tadi, pengawal depan mengatakan lelaki itu menanyakan dimana Jillian... Tuan?",

Tanpa menunggu pelayan wanita itu menyelesaikan ucapannya, Jongin langsung berlari menuju tempat dimana si lelaki mungil kesayangan sang raja itu berada. Ia harus segera mempertemukan Chanyeol dengan Baekhyun, demi kebaikan sang raja dan seluruh warga istana yang beberapa hari ini menderita karena perlakuan keras orang nomor satu di Alderth itu.

"CEPAT PANGGILKAN JENDERAL OH DAN SURUH IA MENEMUIKU DI KANDANG JILLIAN SEGERA", Teriak Jongin sambil terus berlari dan akhirnya menghilang dibelokan koridor.


Seorang lelaki mungil sedang tersenyum melihat dua kuda putih yang saling mengusapkan kepala ke leher pasangannya. Jika diartikan itu bisa berarti sebuah pelukan bagi manusia. Tidak hanya itu, bahkan terdengar ringkikan dari kedua makhluk indah dihadapannya. Chanyeol tidak berbohong mengenai Jillian dan Jasmine adalah soulmate. Baekhyun sedikit merasa lega bisa menyatukan mereka sebelum kejadian buruk menimpa salah satunya.

Ketika ia mendapat kabar bahwa Jillian jatuh sakit, Baekhyun merasa amat khawatir. Kekhawatirannya terhadap sang raja yang sudah menumpuk ditambah kekhawatirannya akan Jillian, membuat lelaki mungil itu memutuskan bahwa ia harus ke Rissingshire. Jika Chanyeol sebagai orang nomor satu di Alderth siap berjuang bersamanya memimpin Alderth, tentu tidak ada alasan baginya untuk menolak.

Tuan Piers benar, bahwa Baekhyun masih muda dan ia beruntung diberikan kesempatan oleh tuhan mengenal dan melihat betapa luasnya dunia ini. Ia yakin, neneknya akan bahagia jika Baekhyun menjalani hidupnya dengan baik. Tidak seperti beberapa hari kemarin tanpa Chanyeol. Berada jauh dari sang raja perlahan menurunkan gairahnya untuk beraktifitas, makan dan tidur. Ia hanya menghabiskan waktu untuk memikirkan si pria tinggi hingga beberapa kali di protes oleh pelanggan karena salah memberikan pesanan.

"terimakasih sudah membawa Jasmine kembali. Sudah beberapa hari ini Jillian tidak mau makan dan keadaannya sungguh buruk", Ujar seorang lelaki tua bertubuh gempal yang Baekhyun ketahui bernama Kangin.

"tidak perlu berterimakasih tuan, memang sudah seharusnya saya membawa Jasmine kembali".

"omong-omong, yang mulia raja pernah mengatakan bahwa Jasmine akan diberikan kepada calon ratu Alderth, sehingga beliau meminta saya sebagai kepala pengurus kuda kerajaan untuk selalu memantau keadaan Jasmine. Jika saya boleh bertanya, apakah anda orang itu?", Tatapan penasaran diberikan si lelaki tua itu kepada Baekhyun.

Membuat si mungil hanya tersenyum dan menatap kembali kearah sepasang kuda putih yang sedang menidurkan tubuhnya diatas tumpukan jerami, dengan Jillian yang menyandarkan kepalanya di perut Jasmine.

"saya…"

"TUAN BYUN!", Teriak seorang pria menginterupsi percakapan kedua lelaki tadi. Membuat mereka serempak menoleh.

Kangin yang menyadari siapa pemilik suara itu langsung membungkuk kepada penasihat Kim yang tampak ngos-ngosan dan berkeringat. Dibelakangnya, Jenderal Oh mengikuti dengan wajah datar. Tetapi sekilas Kangin dapat melihat air kelegaan di wajah tampan itu. Meskipun hanya sepersekian detik.

"terimakasih tuan Byun! Terimakasih", Ujar Jongin yang langsung membungkuk didepan si lelaki cantik itu. Diikuti oleh Sehun. Sungguh, membuat Baekhyun kikuk.

Di tempatnya berdiri, tanda tanya besar muncul diatas kepala sang kepala perawatan kuda kerajaan Alderth, sebenarnya siapa lelaki pendek itu? Kenapa penasihat Kim dan Jenderal Oh sangat hormat padanya?

"Ini masih jam 6, makan pagi akan diadakan dua jam dari sekarang. Masih ada cukup waktu. Sehun, aku akan memanggil Kyungsoo, kau bawa tuan Byun Masuk kedalam. Jangan sampai sang raja tahu. Ingat", Ujar Jongin sebelum tersenyum untuk terakhir kali pada Baekhyun dan berlari kearah dia datang tadi.

Sehun hanya menggeleng melihat kelakuan temannya. Kemudian ia tersenyum pada Baekhyun sambil memberikan lengannya pada si lelaki mungil. Yang disambut dengan senang hati oleh Baekhyun dan mereka berjalan bersama mengikuti arah kemana Jongin lari tadi.

Di sana, Kangin masih menatap mereka heran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masih bingung dengan kelakuan tiga orang tadi. Tetapi, ringkikan Jasmine membuatnya tersadar bahwa tidak hanya manusia yang butuh makan, kuda-kudanya pun begitu.


"Kyungsoo, bukankah kemarin sudah kukatakan pada Jongin aku tidak akan hadir sarapan hari ini?", Ujar sang raja, wajah tampannya nampak sangat lelah.

Sang raja baru saja selesai bersiap dan berencana langsung menuju ruang kerjanya, tetapi tiba-tiba Kyungsoo datang memberi kabar bahwa Ibu suri memintanya ikut sarapan bersama di sayap timur. Jujur saja, itu adalah hal terakhir yang sang raja inginkan saat ini. Mendapat tatapan kasihan dari keluarga dan orang-orang disekitarnya. Sehingga, sebisa mungkin ia menghindari acara sarapan bersama atau makan malam bersama akhir-akhir ini.

"maafkan saya yang mulia, hanya saja yang mulia Ibu Suri mengatakan ada hal penting yang ingin beliau diskusikan dengan anda dan yang mulia puteri Elissa", Jawab lelaki pendek dengan mata bulat lebar yang merupakan kepala pelayan sayap barat itu.

Sang raja hanya menghembuskan nafasnya lelah kemudian beranjak keluar tanpa mengatakan apapun. Kyungsoo yang melihat itu langsung tersenyum lebar kemudian memberi isyarat kepada pelayan raja yang berbaris didepan pintu untuk mengikutinya. Kyungsoo tidak peduli jika rajanya marah, karena setelah ini ia yakin junjungannya akan merasa sangat bahagia melihat kejutan yang menanti.

Rombongan pelayan itu mengikuti sang raja dengan langkah lebar dan setengah berlari, karena sang raja nampak marah sehingga berjalan dengan sangat cepat menuju ke sayap timur. Mereka yang kebetulan sedang membersihkan patung atau karpet langsung berhenti melakukan kegiatan begitu sang raja lewat. Takut kejadian kemoceng beberapa hari lalu terulang lagi. Ditambah wajah sang raja sangat tidak bersahabat, jika membuatnya marah itu berarti selamat tinggal pada karir mereka.

Kepala pelayan sayap timur langsung membulatkan matanya kaget melihat sang raja yang sudah tiba dengan wajah sangat kesal. Membuat si pak tua itu takut dan langsung membuka pintu untuk mengumumkan kedatangan sang junjungan.

"Yang mulia King Edmund Danvers the 6th telah tiba, yang mulia", Semua orang di ruangan itu langsung tersenyum dan berdiri. Begitupun para pelayan yang langsung membungkukkan badan.

Chanyeol memasuki ruangan itu dengan wajah lelah dan murung, tidak berniat melihat wajah dan menyapa ibu serta kakaknya. Sang raja tidak menyadari jika ada tambahan satu lelaki mungil yang berdiri di samping sang ibu.

Raja Alderth itu langsung mendudukkan dirinya di kursi dan menyeruput sedikit kopi favorit yang sudah disediakan. Lelaki tampan itu sama sekali tidak mendongak, malah focus memainkan sendok kecil yang ada dihadapannya. Semua yang ada di ruangan itu saling melirik sambil tersenyum geli melihat tingkah kekanakan sang raja. Tentu mereka tahu sang raja kesal karena sang ibu memaksanya untuk makan bersama, padahal semalam ia sudah berpesan pada Jongin bahwa ia tidak akan hadir.

Ibu suri perlahan menyenggol Baekhyun dan tersenyum manis, mengisyaratkan pada si mungil untuk menyapa lelaki tampan yang dikelilingi awan hitam itu terlebih dahulu. Anggukan menjadi respon Baekhyun sebelum ia beranjak berjalan mendekat kepada sang raja.

"Selamat pagi yang mulia, menu hari ini adalah pie apel segar yang baru saja matang. Semoga anda menyukainya", Ujar Baekhyun. Yoora, menatap mereka berdua sambil menangkup bibirnya, menahan pekikan karena tidak sabar melihat reaksi adik semata wayangnya itu.

Mendengar suara itu, sang raja muda perlahan meletakkan kopinya dan menoleh ragu kearah asal suara. Dan begitu sosok orang yang amat dirindukannya itu menyapa netra, Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. Matanya berkedip, seperti berusaha mengenyahkan lelaki mungil itu dari pandangan jika itu hanyalah imajinasinya.

Setelah beberapa kali berkedip, dan sosok itu masih disana, perlahan sang raja muda berdiri sambil menatap intens kearah Baekhyun.

"B…Baek?", suara berat itu sedikit bergetar.

"ya yang mulia?", jawab si mungil dengan lembut.

Senyuman lebar seketika timbul di wajah tampan itu, tanpa menunggu Chanyeol langsung menangkup kedua pipi mulus milik lawan bicaranya. Matanya menelusuri detail wajah cantik pria mungil itu. Kemudian, seolah tidak peduli dengan sekitar, sang raja langsung mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir tebalnya dengan bibir merah si mungil.

Ciuman itu seperti memberitahukan pada Baekhyun betapa ia sangat merindukan si perangkai bunga. Betapa ia sangat kesepian tanpa lelaki mungil itu selama ini.

Dengan perasaan bahagia yang membuncah, sang raja semakin memperdalam ciumannya dan memberikan sedikit lumatan di bibir manis itu. Jantungnya semakin menggila ketika ia merasakan sepasang tangan mungil menempel di dadanya. Itu adalah ciuman pertama mereka yang akhirnya Chanyeol dapatkan setelah ia menderita selama lebih dari seminggu. Dan cukup sekali Chanyeol mengecap bibir itu, ia sudah merasa ketagihan. Sangat berat baginya untuk melepas ciuman mereka.

Jongin yang berada paling dekat dengan mereka berdua langsung menoleh kearah Sehun sambil tersenyum lebar. Begitupun dengan ibu suri dan Yoora yang menangkup bibir dengan tangan, berusaha menahan pekikan mereka. Genangan air mata haru bahkan memenuhi mata sang ibu suri. Rasa lega luar biasa akhirnya ia rasakan ketika sang putera bisa bersatu dengan orang yang dicintainya. Keadaan Chanyeol beberapa hari kemarin membuatnya sangat khawatir. Sungguh, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada puteranya.

Tetapi disisi lain, Tiffany juga bisa mengerti posisi Baekhyun. Ia pernah merasakan itu sebelumnya. Dan melihat bagaimana Baekhyun bersikap dan menceritakan soal asal-usulnya, toko bunga serta neneknya, Tiffany bisa menyimpulkan lelaki mungil ini adalah orang yang tepat untuk mendampingi sang putera memimpin Alderth.

"EHM ingatlah disini masih ada orang yang belum memiliki pasangan!", itu suara Yoora. Memutuskan sudah cukup sang raja dan calonnya menjadi tontonan para pelayan dan tentunya nanti akan dijadikan bahan gossip.

Dehaman Yoora membuat Chanyeol dan Baekhyun melepaskan ciuman mereka sambil tersenyum dan menatap mata satu sama lain.

Dimata Chanyeol, Baekhyun sangat menawan dengan kemeja sutera merah muda dan celana panjang berwarna putih. Kemeja sutera yang dihiasi pita besar di bagian tengah kerah lehernya membuat Baekhyun semakin cantik dan menonjolkan kulit putih mulusnya. Rambut lembut yang biasanya terjatuh natural menutup sebagian mata kecil Baekhyun, di tata sedemikian rupa dengan sedikit lekukan hingga poninya tidak menutupi mata indah itu. Baekhyun, sangat menakjubkan.

Sedangkan di mata si mungil, sang raja sangat tampan mengenakan setelan jas mewah bludru berwarna hitam dengan kemeja putih dan hiasan phoenix di bagian kerah lehernya. Rambut yang biasa ditata hair up dibiarkan terjatuh menutupi kening menawan itu. Meskipun ada lingkaran hitam di bawah mata yang lebih menonjol dari biasanya, sang raja tetap terlihat sangat tampan.

"baiklah sudah cukup acara saling menatapnya, ayo kita makan pagi bersama. Aku yakin setelah perjalanan dari Erith, calon menantuku pasti lapar", Ujar ibu suri menginterupsi.

Mendengar itu, Baekhyun menunduk malu dan mengelus dada sang raja sekilas sebelum berbalik menuju kursinya. Tadinya jika ia duduk diapit ibu suri dan puteri Yoora, kini Baekhyun duduk di samping Chanyeol dan berseberangan dengan ibu suri. Sarapan pagi ini berbeda dari beberapa hari lalu, atmosfer kebahagiaan sangat terasa dan membuat semua orang di ruangan itu tersenyum.

Begitupun dengan penasihat Kim yang diam-diam mengecup punggung tangan kepala pelayan Do kemudian menggenggamnya, dan kembali menatap lurus kedepan sambil berpegangan tangan. Tentu saja menimbulkan dengusan dari Jenderal Oh yang sepertinya masih sendiri.


The Rose Chamber adalah sebuah kamar mewah yang terletak di sayap barat istana Etuviel. Biasanya, kamar ini digunakan untuk para calon ratu sebelum mereka resmi mengikat janji pernikahan dengan pimpinan kerajaan Alderth. Letaknya yang tidak jauh dari kamar utama raja, dan desainnya yang sangat elegan membuat kamar ini menjadi pilihan utama untuk calon orang nomor dua di Alderth. Ruangan mewah itu bernuansa putih dan pink pastel. Lantainya yang terbuat dari marmer putih dilapisi dengan karpet mahal kualitas tinggi berwarna merah muda. Di bagian tengah ruangan diisi dengan tempat tidur king size mewah yang pilar-pilarnya terbuat dari emas. Kain kelambu putih tipis menjutai di sekeliling tempat tidur itu. Sprei sutera berwarna salem dengan bedcover senada membuat kasur mewah itu sangat nyaman, mengundang orang untuk segera merebahkan badannya disana. Tepat di hadapan tempat tidur, terdapat perapian besar yang sekelilingnya juga dihiasi marmer berwarna putih. Terdapat lemari pakaian serta rak buku kokoh yang terbuat dari kayu jati menghiasi bagian kiri ruangan, dekat jendela kaca besar yang mengarah langsung ke taman Wonderbush. Terakhir, satu set meja rias dengan bangku empuk berwarna salem menjadi pelengkap kamar indah itu.

Ruangan The Rose Chamber juga dilengkapi dengan kamar mandi dalam yang semua keramiknya terbuat dari marmer putih. Bak mandi elegan disangga dengan empat kaki yang diukir dari emas membuat suasana meneriakkan kata 'mewah'. Jika di kamar sudah terdapat perapian, si perancang ruangan sepertinya memutuskan untuk memberikan satu lagi perapian besar di kamar mandi, agar suasana ruangan yang terbuat dari marmer tidak terlalu menggigit ketika musim dingin. Dan terakhir, kaca besar menghiasi kamar mandi itu.

Sebagai calon ratu, Baekhyun diharuskan untuk menempati kamar itu hingga upacara pernikahannya. Biarpun sang raja merengek agar lelaki mungil itu berbagi kamar dengannya, yang namanya peraturan tetap peraturan. Akibat dari rengekan itu, sang raja mendapatkan pelototan pedas dari sang ibu. Tentu berguna karena akhirnya Chanyeol hanya bisa pasrah menerima peraturan yang sudah ada sejak dulu tersebut.

Baekhyun sedang menata beberapa lukisan sang nenek ketika matahari sudah berada di tempat tertingginya. Dengan telaten tangan indah itu menata gambar wanita tua yang sangat ia sayangi. Baekhyun hanya tidak mau jauh dari neneknya, dan lelaki cantik itu merasa jika ada gambar sang nenek disana, setidaknya bisa menjadi sumber kekuatan ketika hari-hari di istana menjadi sulit nanti.

Mungkin hari ini, semuanya tampak berjalan baik-baik saja. Tetapi siapa yang tau untuk beberapa hari kedepan? Ia bukanlah bangsawan, tentu tidak akan mudah baginya untuk beradaptasi dan diterima begitu saja. Terutama oleh para Lord yang terkenal mengintimidasi dan tentu saja, rakyat.

Baekhyun sudah mendengar bahwa ibu suri juga bukan berasal dari keluarga bangsawan, tetapi semua rakyat dapat menerimanya dan para Lord amat menghormatinya. Tapi tentu untuk mencapai titik itu Baekhyun harus berusaha dengan keras. Menjadi orang yang dipercaya dan dihormati tidaklah mudah, ia tahu itu.

Jujur, jika ia melihat kilasan balik hidupnya selama beberapa tahun, tidak pernah sedikitpun Baekhyun menyangka hal seperti ini akan ia alami. Meninggalkan zona nyaman, demi mengikuti orang yang ia cintai. Jika kemarin mimpi Baekhyun hanya menjadi seorang perangkai bunga terkenal di Rissingshire, kini yang ada di depan matanya hanyalah bagaimana ia mendampingi Chanyeol memimpin kerajaan dan membuat lelakinya itu menjadi seorang pemimpin yang paling dicintai oleh seluruh rakyat Alderth. Serta bagaimana Baekhyun bisa menjadi seorang Istri, Ratu, dan Ibu yang baik agar tidak mengecewakan sang raja yang sudah sangat mempercayainya.

"Selamat siang yang mulia maaf mengganggu aktifitas anda. Perkenalkan, saya Do Kyungsoo, kepala pelayan di sayap barat. Mulai hari ini saya yang akan melayani semua keperluan anda. Semoga anda bisa merasa nyaman disini".

Merasakan ada kehadiran sosok lain dikamarnya membuat Baekhyun berhenti dengan kegiatan menata lukisan. Senyuman terkembang di bibirnya sembari berbalik untuk menyapa kepala pelayan mungil itu. Sebenarnya ia sudah melihat kepala pelayan Do tadi ketika makan pagi, tetapi mereka belum berkenalan secara resmi.

"selamat siang kepala pelayan Do. Tidak perlu terlalu formal, kau bisa memanggilku Baekhyun saja", ucapnya.

"akan sangat tidak sopan jika saya memanggil calon ratu Alderth seperti itu, yang mulia", senyuman berbentuk hati tercetak di wajah Kyungsoo. Membuat si lawan bicara mengeluarkan kikikan menggemaskan.

"kau tahu, Raja Edmund belum mengatakan apa-apa soal menikahiku. Kurasa aku belum resmi menjadi 'calon ratu', kikikan itu kini menjadi tawa yang terdengar sangat menyenangkan di telinga. Kedua jari tengah dan telunjuk lentik itu bergerak-gerak seolah membuat tanda kutip imaginer.

"oh, percayalah yang mulia, ketika sang raja sudah mengatakannya. Anda tidak akan bisa menolak, dan beliau tidak akan melepaskan anda apapun kondisinya. Raja itu cukup, protektif kalau anda ingin tahu", lagi suara tawa kedua lelaki mungil itu memenuhi kamar. Jika dilihat, sepertinya mereka berdua akan lebih mudah akrab setelah ini.

"Apakah memang semua Carrier hobi menggosip?", ujar suara berat yang amat familiar di telinga si mungil peragkai bunga.

Kedua anak manusia yang sedang asik bercerita itu seketika menolah ke asal suara dan kedua irisnya melebar. Sang raja sedang berdiri dengan gagah di depan pintu menggunakan seragam resminya. Wajah tampan itu nampak serius menatap ke dua lelaki mungil yang mematung melihat kehadirannya.

Kyungsoo menjadi orang pertama yang sigap dan membungkuk hormat pada raja, kemudian diikuti oleh si mungil cantik perangkai bunga. Menimbulkan kekehan di bibir sang raja sebelum ia mengambil langkah lebar untuk menghampiri laki-laki mungil kesayangannya.

"Kyungsoo, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Baekhyun".

"Baik, Yang Mulia".

Setelah bunyi pintu ditutup pertanda Kyungsoo sudah tidak ada disana, kedua lelaki berbeda ukuran itu secara reflek saling mendekat untuk menatap kedalam mata masing-masing. Perasaan bahagia seolah meletup-letup didalam hati keduanya. Setelah berpisah cukup lama, terbersit perasaan lega dapat melihat satu sama lain, melihat orang tersayang dalam keadaan baik-baik saja. Terlebih bagi Baekhyun yang berkali-kali diberitahu oleh Jongin dan Sehun bahwa sang raja tidak dalam keadaan baik ketika mereka berpisah.

Sebuah usapan lembut Baekhyun berikan di rahang tegas pasangannya. Membuat si pemilik memejamkan mata menikmati sensasi usapan yang ia terima. Sungguh, ia kira tidak akan pernah lagi merasakan sentuhan lembut Baekhyun seperti ini. Chanyeol sudah hampir putus asa kemarin, ia yakin Baekhyun tidak akan pernah datang. Tetapi, tuhan sepertinya sayang menyanyangi Chanyeol sehingga doa-doa yang terselip di tiap kegiatan yang ia lakukan akhirnya dikabulkan.

"apakah anda baik-baik saja yang mulia? Saya sangat khawatir", suara itu mengalun lembut memasuki indera pendengar Chanyeol.

"hmm, aku baik asal kau ada di dekatku"

"maafkan saya yang mulia, jika membuat anda menunggu terlalu lama".

Hening menyambut ketika sang raja tidak kunjung merespon ucapan Baekhyun. Lelaki tampan itu malah menatap kedalam mata Baekhyun. Menelusuri kedalam manik hazel yang berbinar cantik.

"apakah kau akan membuatku menunggu lagi, yang mulia?", tanya Chanyeol akhirnya.

Panggilan itu membuat iris Baekhyun melebar kaget. Ia tidak menyangka rajanya akan memanggil seperti itu.

"y…yang mulia"

Tanpa menunggu, sang raja langsung menjatuhkan lututnya di karpet. Sebuah kotak kecil emas yang diukir dengan pola indah sudah berada di genggamannya. Perlahan tangan kekar sang raja membuka kotak itu. Jika di luar saja sudah menakjubkan, isinya jauh lebih menakjubkan.

Sebuah cincin berbahan emas putih bersimbol mahkota dengan hiasan diamond berwarna merah biru mengisi kotak mewah itu.

Melihat lelaki tercinta sedang berjongkok sambil membuka kotak cincin dihadapannya, memicu air mata menggenang di mata indah Baekhyun. Ia tidak menyangka hari ini akan benar-benar datang. Sungguh seperti mimpi.

"Byun Baekhyun, aku hanya akan mengatakan ini sekali. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu di hutan Anubis. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu makhluk terindah yang pernah kulihat dalam hidupku di tempat paling menyeramkan di kerajaanku. Sejak malam itu aku terus memikirkanmu. Memikirkan semuanya tentang kita dan Alderth. Aku belum yakin kala itu, sehingga aku memutuskan mengunjungi Erith hanya untuk melihat apakah kau benar orang ku cari. Baekhyun, seminggu sudah cukup untukku mengetahui bahwa kau adalah seorang lelaki baik hati, penyayang, cerdas, bertalenta, dan mengagumkan. Membuatku mengambil keputusan dengan mudahnya, untuk menjadikanmu ratu Alderth. Pendampingku. Tetapi, kau ternyata bukanlah orang yang mudah. Kau adalah orang hebat dengan mimpi yang besar, membuatmu meninggalkan semua itu agaknya keterlaluan. Sehingga ketika melihatmu meragu, aku tidak bisa berbuat apapun selain membiarkanmu memilih jalan itu sendiri. Jalan menuju mimpimu, atau menuju padaku. Biarpun aku harus menanggung rasa kesepian dan kecewa yang amat besar atas keputusanmu nantinya. Tetapi, Aku tidak mengira, kau akan muncul disini. Di depanku, meninggalkan semua impianmu, semua kenanganmu bersama nenek hanya untuk berada disini, bersamaku. Karena itu, Byun Baekhyun, Maukah mau menikah denganku, menjadi ratuku, sosok ibu bagi putera mahkota kelak, dan mendampingiku memimpin Alderth hingga akhir hayatku?".

Deraian air mata sudah memenuhi pipi mulus Baekhyun. Ia tidak tahu harus merespon apa. Lidahnya terasa kelu. Meskipun ini sudah kedua kali sang raja mengungkapkan perasaannya, tetapi kali ini sensasinya berbeda. Mereka sedang berada di istana, dengan si lelaki tinggi menggunakan seragam resmi yang penuh dengan bintang serta symbol jabatannya. Jelas, jika kemarin ia melamar sebagai Park Chanyeol, kini ia melamar sebagai King Edmund Danvers the 6th. Dan fakta ini membuat Baekhyun yakin bahwa Chanyeol, tidaklah main-main dengan perasaannya.

"Y…yang mulia King Edmund Danvers the 6th, seminggu bersama anda di Erith sudah cukup membuat saya merasa asing dengan kebiasaan saya selama bertahun-tahun tanpa anda. Tiada satu menit pun tersisa untuk saya tanpa mengingat dan merindukan anda. Anda pun tahu, bagaimana hati ini berdetak hanya untuk siapa. Tetapi keraguan akan kemampuan saya menjadi pendamping anda memimpin Alderth menahan saya selama ini. Tetapi saya sadar, saya tidak akan pernah bahagia jika tidak bersama anda. Saya akan berusaha menjadi seorang ratu dan pendamping yang baik bagi anda yang mulia, serta melahirkan putera mahkota yang tampan dan bijaksana nantinya, seperti ayahnya. Mari, kita menikah yang mulia".

Jawaban Baekhyun sontak membuat sang raja muda kaget selama beberapa detik sebelum akhirnya tawa lega keluar dari bibirnya. Tanpa menunggu, ia langsung berdiri dan melepaskan cincin Phoenix yang melingkar di jari manis Baekhyun lalu menggantinya dengan cincin yang sudah digunakan turun-menurun oleh ratu Alderth itu.

Melihat itu, perlahan Baekhyun mengambil cincin Phoenix yang selama ini ia kenakan dan memasangkannya di jari tengah sang raja. Tempat dimana benda itu seharusnya berada.

"nah, sekarang dia sudah kembali pada pemiliknya", ujar Baekhyun.

Sang raja yang terlalu bahagia seperti tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ia hanya melakukan satu hal yang terlintas di otaknya.

Mencium Baekhyun.

Dan itulah yang ia lakukan. Mencium Baekhyun dalam dan menyalurkan semua perasaan bahagianya.

To Be Continued.

Hola! It's Kileela!

Maaf ya untuk update kali ini sangat lama di post dan chapternya juga agak pendek. Aku beberapa hari lalu sempat sakit sampai masuk ICU and sampai sekarang masih lemes sebetulnya. But yeaaa FF for lifee kan wkwk berapa lama ga nulis aja udah rindu sama raja Chanyeol dan perangkai bunga Byun :(.

Anyway, semoga ga mengecewakan yaaa, thanks yang sudah review dan mau baca cerita ini. I love u all to the maxx!.

See u on the next chapter! bubyee!