"So I risk it all just to be with you
And I risk it all for this life we choose"

Do Not EDIT and REPOST.


Etuviel Palace, May 6, 1853

Bunyi kecipak air dari dalam bathtub menggema memenuhi kamar mandi mewah di eagle room. Dua anak adam yang sedang berendam bersama didalam sana sesekali terkekeh mendengar cerita atau candaan yang dilontarkan satu sama lain. Wajah keduanya tampak bahagia meskipun baru saja usai menghadiri pesta ulang tahun yang paling mungil diantara mereka.

Acara ulang tahun ke-24 ratu Alderth itu dirayakan secara besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua bangsawan dari kerajaan yang menjalin kerjasama dengan Alderth, akan diundang merayakan ulang tahun sang ratu yang sudah tiga tahun memimpin kerajaan raksasa itu.

"apakah kau senang, ratuku?", bisik sang raja, sembari mengusap pelan perut rata suami tercintanya.

Kikikan manis dibarengi dengan anggukan menjadi jawaban si mungil. Memang benar, ia merasa sangat bahagia. Semua orang yang hadir di pestanya tampak menikmati acara yang diselenggarakan, dan tentu ia banjir ucapan selamat ulang tahun dari setiap orang yang hadir. Bahkan beberapa dari para tamu akan berlomba memberikan hadiah terbaik yang akan diingat oleh sang ratu.

Jika di masa awal ia menjadi ratu banyak sekali bangsawan yang tidak menyukai atau menganggap rendah dirinya, setelah tiga tahun berlalu para bangsawan itu justru berbalik berlomba-lomba 'mencium kaki' sang ratu. Sebisa mungkin mendapat perhatian dari puncak kepemimpinan kedua di Alderth itu, tentunya untuk keuntungan pribadi mereka. Para bangsawan yang awalnya gemar memojokkan serta melontarkan kata-kata sinis, kini hanya kalimat bak gula yang terucap dari mulut mereka.

"apakah kau suka dengan hadiahku?", ucap sang raja lagi.

"tentu saja yang mulia. Hiasan kemeja yang anda berikan sangat indah. Warna zamrudnya kurasa akan cocok dengan kulitku".

"syukurlah jika kau menyukainya. Jongin harus mencari hingga ke Fairbury untuk mendapatkan zamrud itu. Aku ingin yang terbaik untuk ratuku".

"terimakasih yang mulia", kikik Baekhyun sembari bibir mungilnya memberikan kecupan lembut pada rahang sang raja yang tepat dibelakangnya.

Sang raja sedang menyandarkan tubuh lelahnya di ujung bathtub, kedua kakinya terjulur melepaskan lelah. Sedangkan si mungil duduk diantara kedua kaki sang raja dan menyandarkan punggung telanjangnya dengan nyaman di dada berotot sang suami yang juga tidak terbalut apapun. Sesekali kedua iris sipit si mungil akan terpejam menikmati elusan telapak tangan sang raja di perutnya atau di area sekitar pahanya. Sensasi geli dan hangat telapak tangan itu membuatnya terlena.

"Kapan perut ini akan diisi calon putera mahkota kita, sayang?".

Namun, pertanyaan sang raja yang seperti terlontar tanpa sadar itu membuat suasana bahagia yang dirasakan berubah. Senyuman hilang dari wajah Baekhyun, digantikan mendung yang disebabkan oleh perasaan bersalah yang begitu membuncah.

Sudah tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Baekhyun bahkan beberapa kali bertemu tabib Zhang untuk menanyakan apakah benar ia memiliki Rahim seperti yang dikatakan nenek. Nyatanya, tanpa berfikir dua kali setelah memeriksa perut rata milik sang ratu, tabib Zhang langsung mengangguk mantap dan meyakinkan bahwa memang benar, sang ratu Alderth adalah seorang carrier. Hanya saja mungkin belum saatnya ia mengandung. Baekhyun hanya perlu sabar dan berdoa pada dewa.

"saya juga berharap demikian yang mulia".

Menyadari nada sedih dalam seutas kalimat itu, sang raja langsung mengulurkan tangannya untuk memberikan usapan lembut pada pipi sang ratu. Dengan pelan ia menolehkan wajah cantik itu agar menghadap kearahnya.

"hey sayang aku tidak memaksamu untuk itu. Kita memiliki banyak waktu bersama. Itu hanya harapan ku. Bodohnya diriku mengatakan itu padamu. Maafkan aku. Tabib Zhang mengatakan kita harus bersabar. Harusnya aku melakukan itu", ujar Chanyeol dengan lembut. Bibir tebalnya perlahan ia tempelkan di kening sang ratu. Menciumnya dengan lembut seolah menyalurkan perasaan bersalah yang pimpinan Alderth itu rasakan.

"mereka bilang, aku adalah seorang ratu yang sempurna. Tetapi mereka salah, seorang ratu yang belum bisa memberikan keturunan untuk raja dan kerajaannya bukanlah ratu yang sempurna. Maafkan aku untuk itu yang mulia. Saya akan memperbanyak jadwal pertemuan terapi dengan tabib Zhang dan mph…"

Belum sempat untaian kalimat itu selesai diucapkan oleh bibir manis sang ratu, sepasang bibir tebal milik lelaki yang lebih tinggi sudah membungkamnya terlebih dulu. Membelitnya kesebuah ciuman dalam nan lembut. Melumat belahan bibir mungil itu dengan amat pelan, mengecap setiap rasa yang menguar dari sana dengan mendamba. Usaha sang raja untuk menenangkan perasaan kalut yang dirasa oleh suaminya.

Sebenarnya lelaki tinggi itu tahu, sang ratu amat sensitive jika membahas soal kehamilan. Karena hampir setiap saat, orang akan menanyakan soal kapan Alderth memiliki penerus, karena sudah tiga tahun mereka menikah dan belum ada tanda-tanda sang ratu mengandung. Bahkan beberapa rumor buruk mulai tersebar bahwa sang ratu adalah penipu, dan sebenarnya ia bukanlah carrier. Namun seiring berjalannya waktu isu itu mulai surut karena berita yang disebarkan oleh tabib Zhang secara diam-diam. Tetapi, jika kita membahas tentang perilaku manusia, kita tidak bisa memaksa seseorang berpola pikir atau mempercayai sesuatu begitu saja. Tentu ada saja dari mereka yang masih mencurigai apakah sang ratu benar seorang carrier, lalu akan membawa rumor itu kembali ke permukaan. Sang raja tidak dapat berbuat apa-apa, menghukum mereka bukanlah sesuatu yang adil untuk dilakukan.

Satu-satunya harapan adalah menanti dewa mengabulkan permintaan mereka dan membungkam semua rumor buruk itu. Karena meskipun si mungil tidak mau mengakui, sedikit banyak rumor itu mempengaruhi dirinya. Senyuman lebar serta tawa ceria yang sering ia tunjukkan kini lebih sering digantikan dengan wajah murung. Si ratu Alderth itu lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan dan menatap keluar jendela, entah memikirkan apa. Chanyeol hanya tidak bisa melihat sang ratu tampak begitu menyedihkan, karena itu juga berimbas pada dirinya.

"mmh…"

Perlahan sepasang tangan mungil itu mendorong dada bidang sang raja, membuat ciuman mereka terlepas.

"yang mulia, saya mmh…"

Tetapi, bagaikan singa yang menerkan mangsanya, sang raja tidak menunggu barang sedetik untuk kembali meraup bibir mungil itu kedalam belenggu bibirnya. Menghisap kedua belahan bibir itu sekaligus dan kembali melumatnya. Dan ketika dirasa sudah cukup, sang raja melepaskan ciuman itu untuk berpindah mencicipi manisnya kedua tonjolan pink menggoda yang ada di dada sang ratu.

Sensasi yang amat luar biasa itu tentunya tidak dapat ditolak lebih lama lagi oleh si mungil. Sehingga, begitu sang raja dengan mudah membalikkan tubuh kecilnya untuk saling berhadapan dan kemudian dengan lembut melesakkan benda tumpul besar kedalam tubuh sang ratu, Baekhyun hanya bisa pasrah. Mendekap erat tubuh berotot Chanyeol untuknya berpegangan, menahan tubuhnya yang terasa lemas seperti seluruh tulang di dalam sana menghilang entah kemana.

Malam itu desahan kembali memenuhi ruangan eagle room, melebur manis dengan suara rintikan hujan diluar sana yang entah sejak kapan turun. Dibarengi dengan ucapan cinta yang tercetus dengan tersengal dari mulut sang raja, Baekhyun akhirnya menyadari bahwa dengan ia memiliki Chanyeol yang begitu mencintainya, Baekhyun adalah seorang ratu yang sempurna.


Etuviel Palace, May 15, 1853

"yang mulia, badai kemarin merusak lahan labu milik saya. Panen yang seharusnya tiga hari lagi gagal. Saya sudah tidak memiliki biaya dan tenaga lagi. Lahannya terlalu luas, dan saya tidak mampu membayar orang untuk membantu proses penanaman", ujar seorang pria tua berjenggot. Wajah bulatnya tampak sedih, kedua tangan gempalnya memeluk topi besar lusuh yang tadi ia kenakan.

Pagi ini adalah jadwal konsultasi Baekhyun dengan beberapa warga yang memiliki keluhan dan membutuhkan bantuan kerajaan. Seperti biasanya, Baekhyun akan mendengarkan setiap keluhan yang para warga ucapkan dengan sabar. Sesekali, jika ia diizinkan oleh Kyungsoo, Baekhyun akan memberikan pelukan memenangkan bagi beberapa dari mereka.

Senyuman manis Baekhyun berikan pada lelaki tua itu, anggukan sebagai tanda bahwa ia mengerti situasi yang dirasakan oleh si pak tua.

"tentu saja, badai kemarin agaknya memberikan dampak yang buruk bagi beberapa dari kita. Ah aku ingat, tuan Burke memiliki beberapa karung persediaan biji labu terbaik. Serta beberapa karung pupuk kualitas terbaik kurasa dapat membantu pertumbuhan labu-labu itu. Aku akan segera mengirimkan beberapa orang untuk kesana dan membantu anda ya tuan? Jangan bersedih, semoga panen berikutnya menjadi sukses yang sangat besar bagi anda".

"terimakasih! Terimakasih yang mulia! Saya doakan anda dan yang mulia raja serta kerajaan Alderth selalu diliputi dengan kemakmuran. Dan semoga kebahagiaan anda akan semakin lengkap dengan kehadiran penerus kerajaan Alderth. Anda adalah seorang ratu yang luar biasa, yang mulia", ucap lelaki tua itu dibarengi dengan bungkukan badan tanda penghormatan kepada sang ratu. Wajah tua lusuhnya yang tadi terlihat sedih kini berbinar senang. Membuat sang ratu juga ikut tersenyum melihatnya.

Anggukan menjadi jawaban Baekhyun sebelum lelaki itu dibimbing keluar oleh salah satu pengawal disana, meninggalkan Baekhyun berdua dengan Kyungsoo serta Jenderal Oh.

Sang ratu dengan lelah menyandarkan tubuhnya ke sandaran empuk kursi tahta. Perlahan jemari lentik tersebut memijit pelipis dengan pelan.

"yang mulia, jangan terlalu dimasukkan ke hati", ucap Kyungsoo.

"aku tidak mengira hampir semua dari rakyat yang datang hari ini mendoakanku untuk segera hamil. Sungguh, aku merasa buruk tidak bisa memenuhi keinginan rakyat dan suamiku".

"yang mulia, kehamilan, kematian, kehidupan, semuanya merupakan takdir. Sebuah takdir mutlak yang tidak ada campur tangan manusia didalamnya. Kita hanya perlu memohon dan terus memohon pada dewa. Anggaplah itu kelebihan anda memiliki ratusan ribu orang yang turut berdoa bersama anda untuk diberi karunia menimang anak oleh sang dewa", kali ini Jenderal Oh yang biasanya diam ikut angkat suara. Tidak tega melihat kondisi sang ratu yang selalu sedih.

Helaan nafas kemudian lolos dari bibir sang ratu untuk kesekian kalinya di hari itu. Lalu dibarengi dengan sebuah anggukan samar. Lelaki mungil itu berusaha tersenyum semanis mungkin pada Kyungsoo dan Sehun. Meskipun ia yakin, dua lelaki berbeda ukuran itu sudah tahu bahwa senyuman sang ratu hanyalah pura-pura.

"terimakasih sudah menemaniku, kalian beristirahatlah. Dan Kyungsoo, aku akan berada di perpustakaan. Bawakan aku jahe hangat dan sup kecambah pukul empat nanti ya".

"baik yang mulia", ucap Kyungsoo dan Sehun bersamaan. Tubuh mereka membungkuk ketika sang junjungan beranjak meninggalkan ruangan tahta untuk kembali mengurung dirinya di perpustakaan. Tentu saja mereka berdua sudah bisa menebaknya. Itu sudah menjadi kebiasaan yang mulia ratu sejak setahun belakangan.

Helaan nafas lolos dari bibir Sehun ketika suara debuman pintu terdengar. Ia menatap Kyungsoo yang juga menatapnya.

"Aku merindukan yang mulia ratu yang ceria dan selalu tersenyum lebar", ucap lelaki tampan yang terkenal dengan sikap dinginnya itu.

"benar, bahkan sudah beberapa bulan ini beliau berhenti merangkai bunga. Aku sangat khawatir. Hah, semoga saja orang-orang diluar sana memutuskan untuk berhenti menekan sang ratu mengenai keturunan kerajaan".

Tepukan Sehun berikan pada pundak yang lebih kecil, berusaha memberikan semangat. Agaknya kondisi sang ratu mempengaruhi banyak orang.

"temani beliau ya kepala pelayan Do, saya harus pergi ke markas, latihan dimulai satu jam lagi", ujar Sehun, sebelum kakinya beranjak keluar dari ruangan tahta diikuti oleh ketiga anggota militer yang juga ikut berjaga disana tadi. Meninggalkan Kyungsoo yang membungkukkan badannya dengan hormat kepada sang Jenderal.

"Dewa, kumohon kembalikan kebahagiaan yang mulia. Sudah cukup ia mengalami banyak kesedihan dalam hidupnya. Jangan kembali kau ambil kebahagiaan yang sudah mulai dirasakannya", bisik Kyungsoo sembari memejamkan matanya. Berharap dewa mendengarkan doanya dan bersedia mengabulkan.


Etuviel Palace, July 3, 1853

Idlehall merupakan sebuah ruangan yang luasnya hanya setengah dari main velvet hall. Berada di bagian utama istana, ruangan ini sering difungsikan untuk pertemuan khusus para Lord dan yang mulia raja Alderth. Sebuah meja persegi panjang besar dipasang di tengah ruangan dengan sebuah kursi besar di tengah dan 25 di samping kiri dan kanannya. Biasanya sang raja sebagai pemimpin pertemuan akan duduk di kursi tengah. Di hadapan raja sebelah kiri adalah tempat duduk Lord Oswald Warrer sebagai ketua dari Lord lainnya, pria tua berjenggot putih dengan wajah culas itu terkenal sebagai yang paling mengintimidasi diantara lainnya. Ambisinya akan tahta dan daerah kekuasaan sudah terkenal dimana-mana. Sedangkan di sebelah kanan sang raja adalah Lord Roland Kim, atau sang raja sering memanggilnya Suho. Ia adalah pimpinan klan dengan usia paling muda diantara yang lain. Meskipun begitu, ia terkenal sebagai yang paling bijaksana dan baik hati diantara lainnya. Hal yang membuat raja dekat dengan Lord Roland adalah sejak remaja mereka akan berdampingan dengan ayah mereka untuk terjun langsung ke medan perang. Bersama saling melindungi satu sama lain.

Seperti hari-hari biasanya, sang raja dengan ke-25 lord sedang berkumpul untuk membahas kesuksesan panen di Alderth yang semakin tahun semakin meningkat. Serta hasil tambang emas yang juga sukses dan cenderung naik jumlahnya dibanding tahun-tahun sebelum Chanyeol duduk di kursi tahta. Banyak orang mengatakan bahwa ini merupakan bentuk restu dari dewa atas kepemimpinan raja dan ratu Alderth yang baru. Dan para lord tentu tidak bisa menangkis hal tersebut, karena memang benar adanya.

"baiklah kurasa pertemuan bisa diakhiri sampai disini. Untuk membicarakan perkembangan lainnya, aku akan memberitahu Jongin agar mengundang kalian untuk hadir nanti. Terimakasih my lord", ujar sang raja.

Tetapi, belum sempat Chanyeol berdiri dari kursinya, Lord Oswald memutuskan untuk membuka suara. Mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan, terlebih dihadapan sang raja.

"yang mulia, hari ini kami memutuskan untuk menambah satu agenda untuk didiskusikan bersama anda".

Mendengar itu, sang raja menatap bingung kearah pak tua yang sedang tersenyum penuh arti itu. Nyatanya tidak hanya sang raja, para lord lainnya juga saling bertatapan bingung mendengar ucapan lord Oswald.

"apa yang ingin kalian bicarakan denganku?".

"mengenai keturunan anda. Penerus pimpinan kerajaan Alderth".

Suasana sunyi di ruangan itu langsung berubah, suara bisikan dan obrolan pelan dari lord lainnya mulai terdengar. Jujur saja, mereka terlihat kaget dengan keputusan lord Oswald yang dengan berani menanyakan mengenai masalah yang sangat sensitive akhir-akhir ini. Mereka semua jelas tahu bagaimana perasaan raja dan ratu mengenai isu tersebut. Bahkan perubahan sikap ratu yang lebih pendiam sudah banyak diketahui oleh penghuni istana. Mustahil bukan jika Lord Oswald tidak mendengarnya?

"bukankah aku pernah mengatakan untuk tidak membahas masalah anak hingga setidaknya lima tahun usia pernikahanku dengan ratu?", aura dingin seketika menguar dari tubuh gagah sang raja. Wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat.

"saya tahu yang mulia, tetapi rakyat mulai resah karena mereka khawatir yang mulia ratu membohongi kita semua. Tiga tahun agaknya cukup lama. Posisi penerus tidak bisa dibiarkan kosong terlalu lama", ucap Lord Oswald. Keningnya berkerut dalam sembari matanya menatap serius kearah sang raja.

"rakyat mana yang kau maksud? Karena jika kau belum tahu, Tabib Zhang, yang merupakan tabib nomor satu di Alderth sudah mengkonfirmasi bahwa yang mulia ratu adalah seorang carrier. Jika kau ingin membahas rumor sampah itu didepanku, lebih baik aku pergi sekarang".

"tidakkah anda sadar menjadi raja bukan hanya berarti berkuasa? Melainkan juga mendengarkan serta menuruti apa keinginan rakyat?".

"keinginan rakyat, atau keinginan anda, Oswald? Katakan rencana apa yang kau punya kali ini?", ujar raja dingin, matanya menatap tajam kearah pak tua itu. Chanyeol sudah sangat hafal tabiat pak tua itu. Bahkan sejak ayahnya masih menjabat, Oswald sudah menjadi lord yang paling ambisius diantara lainnya.

Cerita lama mengatakan, Oswald sejujurnya menyimpan dendam, karena klan Danvers yang dipilih untuk menduduki tahta. Ia menganggap klan Warrer lebih pantas. Sehingga ia akan berusaha menjatuhkan klan Danvers kapanpun mata jelinya melihat kesempatan.

Dipilihnya klan Danvers untuk menduduki tahta terjadi bukan tanpa pertimbangan dan persetujuan 25 klan lainnya. Klan Danvers adalah yang terkuat, memiliki prajurit yang mencapai ribuan orang. Harta kekayaannya pun tidak diragukan lagi. Serta mendiang raja Andrew Danvers, yang merupakan raja pertama, adalah sosok legendaris yang berhasil merebut kemenangan di wilayah mereka dengan taktik perang dan strategi manipulasinya. Berkat mendiang raja Andrew, mereka bisa berada di posisi sekarang.

"semuanya terserah anda yang mulia, saya dan para lord lainnya setuju untuk memberi yang mulia ratu waktu. Tetapi tiga tahun sudah cukup lama. Kami menginginkan anda menikah lagi", tak gentar, pak tua itu kembali berbicara dengan percaya diri. Mengabaikan pertanyaan sinis raja yang sebenarnya sangat menohok itu.

Kepalan tangan Chanyeol sudah semakin memutih menahan emosi, kapan saja, kepalan tangan tersebut bisa melayang mengenai wajah lelaki tua yang menurutnya sangat arogan itu.

"mohon maaf jika saya menginterupsi yang mulia, dan Lord Oswald. Jika lord Oswald mengatakan ini merupakan keputusan kami semua agar yang mulia menikah lagi, saya tidak pernah ikut andil dalam keputusan tersebut. Begitupun dengan beberapa lord lainnya. Lagi pula, yang mulia ibu suri Tiffany mengandung yang mulia puteri Elissa di usia pernikahan ke dua nya dengan mendiang raja Charlie. Dan dua tahun kemudian barulah lahir yang mulia raja Edmund. Posisi penerus kosong selama empat tahun, dan anda tidak masalah. Agaknya keterlaluan jika memaksa yang mulia ratu dengan cara seperti ini", suara lembut dan sopan dari Lord Roland mendapat anggukan dari beberapa lord lain yang sebenarnya merasa tidak setuju dengan omong kosong yang disampaikan Lord Oswald secara sepihak itu.

Tak gentar meskipun mendapat tatapan tajam dari si pak tua bengis, Roland tetap tersenyum tampan dan matanya balik menatap wajah Oswald mengejek. Hanya Lord Roland, atau Suho yang berani melakukan itu. Klan Kim jumlahnya sama besar dan memiliki lahan sama luas dengan Klan Warrer. Hanya saja karena usia Oswald yang lebih tua membuatnya menjadi pemimpin. Secara kekuasaan, mereka berada di posisi yang sama.

"kau dengar itu Warrer? Jika kau melakukan ini karena suamiku adalah lelaki dan kau memutuskan untuk memperlakukannya berbeda, sama saja kau melanggar hukum kerajaan Alderth, dimana setiap ratu yang sudah berhasil melaksanakan Alyssum of The Throne memiliki kekuasaan dan hak yang sama terlepas dari gender dan asalnya. Aku bisa saja menghukum mu karena mengabaikan hal itu. Berhati-hatilah", tegas sang raja. Mata tajamnya menatap lekat ke lord Oswald dengan penuh intimidasi.

"Pertemuan kububarkan". Ucap Chanyeol lagi, lebih kepada seluruh lord yang ada disana, sebelum kakinya beranjak keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Lord Oswald yang menggebrak meja dan menatap tajam ke Lord Roland.

Suara ribut para Lord terdengar memenuhi ruangan setelah itu. Membuat Jongin yang sedari tadi berada disana dan menyaksikan segalanya hanya bisa menggeleng heran, lalu berjalan keluar mengikuti sang junjungan. Lagi-lagi lord Oswald membuat ulah. Jika tidak mengingat posisinya, Jongin pasti tidak akan keberatan membantu Chanyeol memukuli wajah arogan pak tua itu.

...

Sepasang iris sipit sedang menatap ke luar jendela dengan wajah murung. Tatapannya terlihat kosong entah fokus kemana. Begitupun dengan kemana arah pikiran itu melayang. Sebenarnya terlalu banyak yang berkecamuk di kepala indah itu. Semakin lama, perasaan sedih dan bersalah itu semakin menghimpitnya. Memerangkapnya dalam sebuah kubus sempit gelap tak berpintu.

Sejujurnya, ia pun sangat menginginkan hadirnya seorang anak. Seorang manusia mungil yang akan mewarisi paras rupawan sang raja dan mungkin sedikit bagian dari dirinya. Betapa menggemaskan anak mereka nanti. Terlepas apapun jenis kelaminnya. Baekhyun akan sangat berterimakasih jika dewa mengabulkan doa-doanya.

Meskipun sang raja tidak terang-terangan menunjukkan, Baekhyun tahu lelaki tinggi itu sebenarnya juga sangat menginginkan hadirnya seorang anak. Tetapi, orang nomor satu Alderth itu terus berusaha menutupinya agar tidak menyakiti perasaan sang ratu.

Hanya saja, terkadang luapan kata-kata itu tidak dapat ditahan oleh Chanyeol. Seperti malam ketika usai perayaan ulang tahun sang ratu. Itu adalah pertama kalinya sang raja dengan terang-terangan mengungkapkan keinginannya akan kehadiran seorang anak. Saat itu Baekhyun merasa dirinya gagal menjadi pendamping yang sempurna untuk Chanyeol.

Hembusan nafas lelah kembali lolos dari belahan bibir mungil milik sang ratu. Berusaha membuat dirinya sendiri lebih tenang. Manik hazel yang sejak tadi menatap tak tentu arah itu mendadak terfokus pada pemandangan di Wonderbush yang terletak tepat di hadapan perpustakaan. Senyuman sedih menghiasi wajah cantik itu kemudian.

Dibawah sana, di jalan setapak menuju ke air mancur yang merupakan pusat dari taman utama Wonderbush, seorang anak yang berusia sekitar 3 tahun sedang berlarian. Wajah menggemaskannya tampak tersenyum dengan riang. Mengundang tawa seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan yang sedang duduk di bebatuan pinggir air mancur.

Langkah kaki mungil itu kemudian berhenti tepat di gerombolan bunga mawar yang tertata rapih. Tak mengindahkan teriakan sang wanita tentang duri yang menghiasi tangkai bunga indah tersebut, tangan kecil anak lelaki itu dengan hati-hati memetik mawar kuning yang ada di dekatnya. Tawa menggemaskan khas anak-anak keluar dari bibirnya sembari berlarian ke arah sang ibu. Kaki-kaki kecil yang masih belum stabil dalam berlari itu terlihat menggemaskan dimata Baekhyun. Menarik sang ratu Alderth untuk terus memperhatikan adegan manis dibawah sana.

Baekhyun merasakan pelupuk matanya sudah tergenang ketika anak lelaki itu memberikan bunga kuning tadi kepada sang ibu yang lalu memeluknya erat sebagai ganti. Entah kenapa, adegan itu menimbulkan kilasan di benak Baekhyun dimana ia menjadi peran utama disana. Si ratu Alderth itu melihat dirinya sedang terkekeh menunggu seorang anak lelaki kecil dengan telinga lebar seperti peri yang amat menggemaskan. Seolah bermain-main dengan perasaannya, otaknya memutuskan untuk menambah sang raja didalam adegan itu. Lelaki tampan itu tampak bahagia menggendong si kecil yang memiliki telinga sama dengan dirinya, tawa lepas keluar dari belahan bibir tebal sang raja terdengar ketika pangeran kecil itu mengerang dan cemberut kesal karena kegiatannya di interupsi oleh sang ayah. Wajah berseri-seri nan rupawan terlihat di wajah keluarga kecil tersebut.

Setitik air mata mengiringi imajinasi itu, meleleh turun membentuk aliran sungai kecil di pipi mulus sang ratu. Apakah mungkin tabib Zhang berbohong mengenai rahimnya? Apakah sebenarnya dia hanya lelaki biasa dan bukan carrier? Pertanyaan itu menyeruak ke permukaan, menghapus imajinasi indah itu bagai kepulan asap yang menerobos melalui celah pintu. Membuat semuanya menjadi tak terlihat. Hanya kegelapan dan kesedihan yang menggantikan.

Isakan pelan kemudian memenuhi perpustakaan, getaran pundak sang ratu semakin lama semakin hebat. Ia membenamkan wajahnya di sela-sela lutut. Tidak lagi peduli dengan imagenya sebagai ratu. Karena disana hanya ada dirinya, dan ceceran perasaan sedihnya yang bertebaran dimana-mana.

Sesungguhnya, ia sudah berusaha untuk bersikap seperti biasa. Mengabaikan semua omongan rakyatnya yang melulu soal kehamilan. Tetapi, semua itu tidaklah mudah jika Baekhyun bahkan mulai mendengar para pelannya akan berbisik tersembunyi. Menuduhnya telah menipu Chanyeol dan seluruh rakyat Alderth. Tidak hanya itu, mereka juga dibelakang Baekhyun akan menertawakan keputusan raja yang menikahi lelaki miskin dari antah berantah seperti dirinya.

Jujur, semua itu yang menyakitinya. Baekhyun adalah seorang lelaki yang tumbuh dengan ajaran bahwa manusia hanya memiliki tugas untuk berusaha, setelahnya dewa yang akan memutuskan. Sang ratu yakin dewa mendengarkan semua doa-doanya dan akan mengabulkannya suatu saat nanti. Pada awalnya Masalah kehamilan yang tak kunjung datang tidak terlalu membuatnya sedih, karena ia percaya pada dewa. Tetapi tekanan dari rakyat dan orang-orang sekitarnya lah yang membuat Baekhyun menjadi seperti ini.

Hingga suara handle pintu yang dibuka membuat sang ratu dengan cepat menghapus air matanya lalu membetulkan posisi duduknya. Meraih buku terdekat dan pura-pura fokus pada benda tebal persampul cokelat yang ia bahkan tidak mengetahui apa judulnya.

Itu adalah sang raja, yang melangkah masuk dengan derap langkah cepat. Wajahnya tampak murung dan tidak bersahabat. Dibelakangnya, Jongin mengikuti. Wajahnya tampak tegang, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah. Baekhyun melihat itu semua, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

"yang mulia", ucap Baekhyun pelan. Ia beranjak berdiri dan mendekat kearah sang raja yang hanya diam sembari mengobrak-abrik beberapa berkas di meja miliknya. Kening sang ratu mengkerut bingung, tak biasanya Chanyeol tidak menyapanya seperti ini. Baekhyun yakin, sesuatu telah terjadi, dan itu bukanlah hal baik.

"Chanyeol", panggil Baekhyun lagi. Mengulurkan tangannya untuk mengelus pundak tegap sang raja.

"aku harus ke Arcane Catacombs untuk menemui beberapa petugas disana. Kau berhati-hatilah di sini. Jangan lupa makan malam, aku akan makan malam di Faydale dengan Lord Roland jadi tidak perlu menungguku". Entah itu hanya permainan ilusi yang membuat suara berat itu terdengar sangat dingin menggigit, atau memang seperti itulah kenyataannya, Baekhyun tidak tahu. Hanya hatinya mencelos mendengar respon dari suaminya.

"Yeol. Apakah aku boleh ikut?".

"sudah kukatakan untukmu tinggal disini. Aku akan pergi membawa Jillian. Beristirahatlah agar Rahim mu terus dalam keadaan baik".

Perlahan sang ratu berjalan mundur dan menatap kaget pada punggung sang raja. Tidak tahu kemana perginya sang suami yang manis dan lembut beberapa jam lalu.

"Aku pergi", ucap sang raja sebelum ia berbalik keluar begitu saja, tidak ada pelukan atau ciuman perpisahan seperti biasanya. Diikuti oleh Jongin yang menyempatkan diri untuk membungkuk hormat pada sang ratu. Senyuman di wajah tampan itu seolah menyiratkan pada sang ratu agar tidak bersedih.

Debuman pintu yang tertutup tak membuat Baekhyun beranjak dari tempatnya berdiri. Sang ratu terus mematung disana dan menatap kearah pintu. Berusaha menerjemahkan apa maksud sang raja dan perlakuannya yang dingin itu. Pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan mereka, sang raja bersikap seperti itu.

...

"katakan padaku penasihat Kim, apakah keputusanku menikahi Baekhyun salah? Hingga menimbulkan masalah seperti ini?", ucap sang raja pelan yang kini sedang mengelus surai Jillian. Mereka sudah siap berangkat, tetapi sang raja memutuskan untuk menanyakan hal itu tiba-tiba.

"Yang mulia ratu adalah ratu yang paling disayangi oleh rakyat Alderth. Bahkan yang mulia ibu suri pun tidak dapat menandingi kepopuleran Ratu Aidyn. Tetapi anda tahu, akan selalu ada orang yang memutuskan menjadi brengsek dan mengambang ke permukaan. Menampakkan dirinya dan membuat seolah-olah ribuan orang lainnya memiliki pemikiran yang sama".

Mendengar itu, sang raja menghembuskan nafasnya pelan sebelum melompat naik ke punggung Jillian, matanya menatap sedih kearah penasihat kepercayaan sekaligus sahabatnya itu.

"aku hanya merasa ini salahku menikahi Baekhyun dan membuatnya berada di posisi ini. Sebuah suara dihatiku terus berteriak bahwa seharusnya aku tidak melakukan ini. Tidak menikahi Baekhyun dan membiarkannya bahagia dengan mimpi-mimpi yang dia miliki".

"Apakah itu berarti anda menyesal dengan cinta yang tumbuh di hati anda, yang mulia?", ucap Jongin. Dan pertanyaan itu sukses membungkam raja.

Pimpinan Alderth itu memalingkan wajahnya dan langsung menghentak tali kekang Jillian, membuat kuda putih gagah tersebut mulai berlari cepat keluar dari gerbang utama istana. Meninggalkan Jongin yang masih berdiri di samping kudanya. Sungguh, lelaki tan tampan itu berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak ingin Chanyeol maupun Baekhyun akan terluka karena kejadian ini. Mereka berdua berhak bahagia.


Etuviel Palace, July 4, 1853

Semilir angin menerpa wajah cantik sang pemilik tahta kedua kerajaan Alderth itu. Suasana pagi di taman wonderbush adalah favoritnya. Ia bisa melihat indahnya banyak bunga yang ditata sangat rapih. Sejak dirinya resmi menjadi ratu, banyak hal yang berubah dari taman wonderbush. Jika ibu suri lebih menyukai tanaman berwarna keunguan dan putih, Baekhyun adalah kebalikannya. Baekhyun sangat menyukai warna-warna terang karena menurutnya itu akan membawa kebahagiaan bagi siapapun yang melihat. Sehingga, wonderbush kini berubah dipenuhi bunga mawar dan anyelir berwarna-warni. Tukang kebun istana menata semuanya sesuai yang diinginkan Baekhyun. Menyulap taman wonderbush menjadi tampak cerah dari sebelum Baekhyun menduduki kursi tahta.

Percaya atau tidak, anggapan sang ratu mengenai warna-warna cerah itu tampaknya benar. Karena sejak berubahnya suasana di taman wonderbush, para pelayan yang tadinya malas berjalan-jalan disana kini menjadi sering terlihat. Kadang menghabiskan waktu beristirahat mereka sembari duduk di salah satu bangku taman.

Tetapi, kali ini ada pengecualian karena sang ratu sedang duduk disana. Menikmati kesendiriannya. Bahkan Kyungsoo yang biasanya akan mengikuti sang ratu kemanapun ia pergi, tidak terlihat dimanapun. Sejak semalam, sang raja tidak kembali ke istana. Baekhyun bahkan tidak pernah mengetahui soal rencana kepergian mendadak raja itu. Perpisahan dingin ketika terakhir kali mereka bertatap muka agaknya membuat mood sang ratu tampak mendung sepagian ini. Ia bahkan menolak makan pagi bersama ibu suri dengan alasan tidak enak badan. Tentunya membuat sang mertua khawatir dan dengan cepat memaklumi kenapa menantu kesayangannya itu tidak bisa datang.

Semalaman, ia terjaga menanti kedatangan suaminya dan berharap wajah tampan itu akan kembali tersenyum seperti biasa. Lalu membawanya kedalam pelukan hangat yang menenangkan tidur malamnya hingga pagi. Namun, semua itu hanya menjadi harapan semu ketika hingga fajar menyingsing, sang raja belum tiba di Rissingshire. Sang ratu harus menelan pahitnya kekecewaan dan memutuskan untuk menyendiri. Merenungi semua yang terjadi.

Selama ini Baekhyun bertahan karena Chanyeol selalu berada di sampingnya. Menyemangatinya dan mempercayainya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa jika mimpi buruk ini berlanjut hingga membuat hal yang paling dirinya takutkan terjadi, sang raja berpaling dan pergi meninggalkan Baekhyun.

"aku dengar dari Joseph, Lord Oswald dan lainnya meminta yang mulia raja menikah lagi kemarin? Apakah ini ada hubungannya dengan yang mulia ratu yang tidak kunjung hamil?". Suara pelan itu memecahkan ketenangan di sekitar Baekhyun. Mau tidak mau membuat sang ratu mencari-cari asal dari suara tersebut.

Dan disana ia melihat dua orang pelayannya Joy dan Irene sedang berbincang di balik pohon. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran sang junjungan.

"benar, Joseph mengatakan para Lord meminta sang raja untuk menikah lagi. Karena sudah terlalu lama dan yang mulia belum hamil juga. Jika aku bukan pelayan, aku tidak akan segan mencakar wajah lord Oswald kau tahu", ucap Irene. Wajahnya mengkerut kesal. Mengundang anggukan setuju dari Joy.

"benar, mereka sangat keterlaluan. Apakah mereka tidak memikirkan keadaan ratu? Aku tidak tega melihat beliau yang terus murung akhir-akhir ini. Yang mulia raja adalah penyemangatnya. Bisa kau bayangkan bagaimana keadaan yang mulia ratu jika sang raja juga berbalik meninggalkannya".

"apakah itu benar?". Suara lembut itu seketika membuat kedua pelayan itu menoleh kaget. Menemukan sang junjungan berdiri disana dengan ekspresi wajah yang bahkan tidak bisa dibaca oleh mereka.

"y…yang mulia".

"apakah ini alasan sang raja menjadi dingin padaku? Karena beliau akan menikah lagi?", ucap Baekhyun lagi. Berusaha sekuat tenaga menahan tetesan air matanya.

"y…yang mulia tidak seperti itu. Itu hanyalah permintaan para lord. Saya yakin, yang mulia raja tidak akan menyetujuinya", ucap Irene terbata. Berusaha menenangkan sang ratu.

Baekhyun terdiam setelah itu. Merasa dunianya mendadak hancur. Bahkan ketika tidak lama kemudian Kyungsoo berlari-lari menghampiri mereka. Baekhyun masih terdiam dan menatap kosong ke tanah di hadapannya. Membuat pelayan kepercayaannya itu khawatir melihat ekspresi kosong itu.

"yang mulia…".

Hening, tidak ada jawaban.

"Byun Baekhyun", panggil Kyungsoo lagi.

"Kyung, aku akan berada di ruangan merangkai. Aku ingin sendiri, sudah lama aku tidak merangkai bunga", Ucap Baekhyun dibarengi dengan senyuman. Dan tanpa menunggu, ia berbalik meninggalkan ketiga orang yang berdiri bingung disana.

Kyungsoo berusaha bertanya pada Irene dan Joy. Ketika si pelayan mungil bermata bulat itu mendapat jawabannya, ia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"habislah kita", ujar Kyungsoo pelan.

...

"dimana yang mulia ratu?", ucap raja ketika menapakkan kakinya memasuki istana. Semalaman ia memutuskan untuk bermalam di kediaman Lord Roland untuk menyelesaikan segala urusannya. Alasan kenapa ia pergi ke sana secara tiba-tiba.

Sejujurnya, pimpinan Alderth itu merasa amat bersalah karena sudah memperlakukan sang ratu dengan buruk di pertemuan terakhir mereka. Ia tidak bisa tenang, bahkan matanya tidak kunjung memejam memikirkan wajah cantik sang ratu. Ia sangat merindukan tubuh mungil itu memeluknya, dan kini ia tidak sabar untuk melakukan itu. Sekaligus meminta maaf atas sikapnya kemarin.

"saya tidak melihat yang mulia ratu sejak tadi pagi, yang mulia. Hanya saja tadi kepala pelayan Do mengatakan tentang yang mulia mengetahui semuanya tentang pertemuan dengan para lord kemarin. Saya tidak mengerti apa maksudnya", Ucap Jaehwan sembari membungkukkan badannya hormat.

Mendengar itu, seketika mata lebar sang raja membulat. Ia berusaha menghindar karena takut sang ratu akan curiga jika terjadi sesuatu. Ia benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini tanpa sepengetahuan suami tercintanya. Tetapi dengan dirinya yang tidak ada disamping sang ratu, malah membuat berita itu terdengar di telinga suaminya dari orang lain.

"katakan padaku dimana Kyungsoo", ucap sang raja tegas. Membuat Jaehwan mengedipkan matanya bingung.

"kepala pelayan Do ada di dapur untuk menyiapkan sup kecambah yang mulia ratu… Yang mulia? Yang mulia?".

Tanpa menunggu si kepala pelayan menyelesaikan kalimatnya, sang raja langsung berjalan cepat menuju dapur. Tidak perduli dengan tubuh lelah serta pertemuan penting dengan para lord yang akan diadakan dua jam lagi dan harus dihadirinya. Chanyeol harus segera bertemu dengan suami mungilnya itu.

Gebrakan pintu dapur yang dibuka membuat Kyungsoo dan beberapa pelayan lain membulatkan matanya kaget. Dan langsung membungkuk hormat begitu mengetahui siapa sosok dibalik aksi tersebut. Jujur saja mereka heran melihat sang raja ada disana, selama hidupnya sang raja hanya akan ke dapur jika memiliki kepentingan mendesak. Bisa dihitung dengan jari berapa kali pimpinan Alderth itu menginjakkan kakinya di dapur.

"Yang mulia…", ucap Kyungsoo.

"dimana ratu?", tanya sang raja tanpa basa basi, nafasnya sedikit tersengal akibat berlari cukup jauh.

"y…yang mulia sudah mengetahui…".

"persetan dengan itu! Katakan dimana ratu", bentak sang raja. Membuat Kyungsoo menjengit kaget.

"y…yang mulia ratu berada di ruangan merangkai, yang mulia", jawab Kyungsoo pelan.

Tanpa menunggu, pimpinan Alderth itu langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ke tempat tujuannya.

Ruangan merangkai berada di taman bagian dalam sayap kiri kerajaan. Sebenarnya agak jauh dari dapur yang berada di bagian belakang istana. Tetapi berterimakasihlah pada sepasang kaki panjang itu, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sang raja tiba di tempat tersebut.

Dari kaca luar, ia sudah bisa melihat sosok cantik itu sedang memilah bunga mawar hitam dan helenium yang ada dihadapannya. Senyuman yang biasanya terpatri disana, hilang entah kemana. Membuat hati sang raja mencelos.

Berhati-hati, sang raja mendorong pintu kaca itu, berharap mendapatkan sebuah respon dari suami mungilnya. Tetapi nihil, lelaki mungil itu tetap fokus pada bunganya. Perlahan, kaki jenjang sang raja berjalan mendekat. Semakin jarak antara mereka terkikis, semakin jelas terlihat guratan kesedihan di wajah manis itu. Seharusnya ia tidak pergi kemarin, dan rasa penyesalan itu membuat dada sang raja terasa amat sesak.

"sayang…", panggilnya lembut.

Keheningan kembali menyahut, jemari lentik itu masih sibuk menata kedua bunga berwarna kuning dan hitam itu agar membentuk suatu rangkaian yang sempurna. Baekhyun sangat perfeksionis, Chanyeol tahu itu.

"sayang, jawab aku", ucapnya lagi. Kali ini kedua lengan kekar itu melingkar memeluk pinggang ramping sang ratu dari belakang. Menempelkan dada bidangnya di punggung sempit itu.

Sang ratu tetap bergeming dan perlahan mengikat rangkaian itu dengan sebuah pita hitam. Dengan terampil ia memberikan sedikit sentuhan disini dan disana pada rangkainnya. Membuat buket bunga itu akhirnya terlihat sempurna.

"maafkan aku sayang. Maafkan aku", bisik sang raja. Masih berusaha mendapatkan perhatian sang ratu.

Kedua belah bibir tebal sang raja memberikan kecupan sayang di pundak suami mungilnya. Ingin menyalurkan semua perasaan cinta itu lewat isyarat yang ia harap dapat diterima oleh sang ratu.

"yang mulia", ucap suara lembut itu akhirnya. Menarik atensi sang raja, membuatnya mendongak dan mengeratkan pelukan di pinggang mungil itu.

"jika memang itu keinginan anda, menikahlah lagi. Dapatkan kebahagiaan anda, biarpun itu tidak bersama dengan saya".

"apa maksudmu sayang? Aku tidak akan menikah dengan siapa-siapa. Aku milikmu. Kau tahu itu ratuku", bisik sang raja.

"saya sudah mendengarnya. Para lord menginginkan anda menikah lagi. Saya tidak akan melarang anda. Bahkan jika nantinya saya harus melepaskan tahta demi calon penerus kerajaan dapat mengklaim posisinya. Saya akan melakukannya. Menyerahkan mahkota saya kepada siapapun wanita beruntung itu", ucap Baekhyun pelan. Lelaki mungil itu bersyukur sang raja tidak dapat melihat wajahnya. Sehingga lelaki tinggi itu tidak bisa melihat bagaimana si mungil berusaha sekuat tenaga menahan air mata.

"Byun Baekhyun. Berhenti mengatakan hal seperti itu. Aku tidak akan meninggalkanmu untuk siapapun itu diluar sana. Baek, sayang tatap aku kumohon".

"yang mulia, maafkan saya yang belum bisa melahirkan seorang keturunan untuk anda. Membuat anda melewati masa sulit ini. Sejak tadi saya berfikir, seharusnya saya tidak datang waktu itu. Tidak memaksakan diri dan menyadari posisi saya sebenarnya. Maafkan saya yang belum bisa menjadi ratu yang sempurna untuk Alderth".

Sang raja melepaskan pelukannya dan membalik paksa pundak itu sehingga sang ratu menghadap kearahnya. Kedua telapak tangannya menangkup pipi mulus milik Baekhyun. Memberikan elusan lembut disana dengan ibu jarinya.

"sayang, dengarkan aku hm? Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Aku tidak akan menuruti kemauan Oswald. Aku akan selalu bersamamu. Kita akan menanti sampai kapanpun dewa memberikan kesempatan pada kita untuk memiliki anak. Percayalah padaku, kumohon?", ucap sang raja lembut sembari menyatukan kening mereka dan memejamkan matanya.

"Jika memang benar anda tidak akan menikah lagi. Apakah arti sikap dingin anda kemarin yang mulia? Saya merasa anda jengah dengan saya yang tidak bisa memberikan anda keturunan dan…"

"kumohon berhentilah Baekhyun. Aku sangat amat mencintaimu, tanpa atau dengan adanya keturunan. Jantung ini hanya akan berdetak untukmu. Aku akan melakukan apapun untukmu, percayalah padaku. Maafkan sikapku kemarin, aku mengaku semua itu salahku memperlakukanmu seperti itu. Sungguh aku tidak sedikitpun memiliki keinginan untuk menyakitimu".

Perlahan sang raja melepaskan tangkupannya dan menjatuhkan kedua lututnya di lantai. Kedua tangannya menggenggam erat tangan sang ratu. Baekhyun yang melihat itu langsung kelabakan dan berusaha membangkitkan tubuh suami tingginya. Tapi tentu itu mustahil, Chanyeol memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya.

"y…yang mulia, kumohon jangan seperti ini…", ucap lelaki mungil itu panik.

"Biarkan aku berlutut dan memohon maaf serta ampunan darimu ratuku. Maafkan semua sikapku. Maafkan jika aku tidak sengaja membuatmu berfikiran buruk tentangku dan berbalik meragukanku. Demi dewa, aku sangat mencintaimu. Aku bersumpah akan membuat siapapun orang diluar sana tidak lagi bisa berbicara jika mereka membicarakan hal buruk tentang keluarga kita. Membuat mereka bungkam untuk selamanya karena telah menyakitimu. Maafkan raja bodoh ini, yang mulia?", mata lebar sang raja tampak berkaca-kaca. Tetapi sebisa mungkin sang pimpinan Alderth itu menahan agar lelehan air asin itu tidak membasahi wajahnya.

"yang mulia, saya memaafkan anda. Saya mohon berdirilah. Jangan seperti ini", sang ratu berusaha sekuat tenaga untuk menarik pundak kokoh itu. Tetapi hasilnya tetap nihil.

"ratuku, tahukah kau. Seorang raja tidak akan pernah berlutut pada siapapun. Hanya pada ratunya. Begitupun denganku. Tanpamu, aku bukanlah apa-apa ratuku. Kau adalah segalanya, kau memberikan warna baru bagi kehidupanku yang membosankan. Membawaku merasakan indahnya hidup dan kasih sayang. Hanya bersamamu aku bisa merasakan semuanya. Karena itu, kumohon dengan segala kerendahan hatiku dan diriku sebagai manusia biasa, berjanjilah kau tidak akan pernah melepaskan mahkotamu untuk siapapun diluar sana. Kau adalah orang yang pantas memilikinya", kecupan lembut sang raja berikan kepada punggung tangan suami mungilnya.

Deraian air mata sudah sejak tadi membasahi wajah manis sang ratu. Anggukan hanya menjadi satu-satunya respon yang bisa ia berikan. Lidahnya terasa kelu sehingga sulit untuk berkata-kata. Penyesalan karena sikapnya yang tidak mempercayai sang raja serasa menghimpit. Seharusnya ia terlebih dahulu mendengarkan penjelasan suami tingginya itu.

Perlahan, ratu Alderth it menjatuhkan tubuhnya dan ikut berlutut bersama sang raja. Kemudian mendekap tubuh tegap itu dengan erat. Isakan pelan sang ratu memeuhi ruangan itu. Membuat hati Chanyeol merasa teriris mendengarnya. Ia sudah berjanji tidak akan membuat lelaki mungil ini menangis. Tetapi lihatlah apa yang dilakukannya.

Elusan pelan sang raja berikan pada punggung sang ratu. Berusaha menenagkannya. Sesekali bibir tebal itu mengecup puncak kepala Baekhyun dengan sayang.

"apakah kau memaafkanku, ratuku?".

Anggukan cepat menjadi jawaban yang si mungil berikan sebelum ia kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher sang raja. Mengusapkan hidungnya dengan kulit leher sang raja yang terasa lembut.

"aku mencintaimu, yang mulia", bisik Baekhyun.

"kau tahu, aku lebih dari mencintaimu".

...

"maafkan aku harus kembali mengundang kalian berkumpul disini. Semalam aku berkunjung ke Arcane Catacombs bersama Lord Roland dan penasihat Kim. Aku menemui hakim agung disana untuk membahas pemberlakuan hukum baru di kerajaan Alderth. Ternyata tidak se sulit yang kukira karena hakim agung langsung setuju dengan keputusanku dan mengatakan sudah terlalu banyak oknum yang berani merendahkan ratu dan bahkan raja. Karenanya hari ini aku akan mengumumkan pemberlakuan hukum baru di Alderth terhitung sejak tanggal tiga Juli 1853, bahwa barang siapa yang berani membicarakan hal buruk, menjelekkan, menyebarkan isu buruk mengenai keluarga kerajaan akan dihukum mati, tidak perduli kasta dan statusnya, tanpa remisi. Saat ini, beberapa pengawal sudah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan untuk memberitahukan hal ini…"

Di tempat lain, puluhan pengawal berpakaian seragam kerajaan yang tersebar di seluruh wilayan Alderth sedang berdiri di tengah-tengah masyarakat yang bergerombol di sekeliling mereka. Setiap warga dari tiap penjuru Alderth berkumpul untuk melihat pengumuman apa yang dikatakan oleh sang raja. Pekikan kaget dan gumaman mereka terdengar jelas ketika pengumuman itu usai diberikan. Menimbulkan reaksi beragam dari mereka. Sebagian dari mereka nampak takut, sebagian lagi nampak puas dan senang. Tetapi, mereka tahu, titah raja adalah mutlak. Tidak ada jalan lain selain mematuhinya.

"Sehingga, kuharap kalian sebagai pimpinan klan dapat menjadi contoh yang baik", ucap sang raja, mengakhiri pengumumannya. Semua lord disana saling bertatapan.

Lord Roland menjadi yang pertama tersenyum sembari membungkukkan badannya dengan hormat. Kemudian Lord lain bernama Tobin mulai mengikutinya. Lama kelamaan semua Lord membungkukkan badannya pada sang raja. Tanda bahwa mereka tunduk dengan peraturan baru dan seluruh peraturan yang dibuat sang raja. Menyisakan satu orang, Lord Oswald yang mengepalkan tangannya dan menatap benci kepada sang raja.

Tetapi Chanyeol adalah Chanyeol. Dia hanya tersenyum miring. Matanya tampak menantang lelaki tua itu.

"jika anda merasa keberatan dengan keputusan ku, saya dengan tangan terbuka mempersilahkan anda mengundurkan diri dan lepas dari bagian kerajaan Alderth. Tetapi tentu anda mengetahui akibatnya. Dimana berarti wilayah yang dimiliki klan Warrer menjadi wilayah tanpa perlindungan kerajaan yang bisa diserang oleh kerajaan manapun. Begitupun dengan Alderth. Klan Danvers, dan ke 23 klan tidak lagi ber aliansi dengan anda. Sehingga, bersiaplah untuk berperang kapanpun, tuan Warrer", Ucap Chanyeol tenang. Kepulan asap imaginer seperti keluar dari kepala pak tua itu.

Lepas dari Alderth berarti kematian. Kerajaan Alderth adalah satu dari 3 kerajaan terbesar dengan jumlah aliansi terbanyak dan wilayah terbesar. Sudah dipastikan ia akan kalah jika Chanyeol menyatakan perang pada klan Warrer. Pada akhirnya wilayan milik klan Warrer akan jatuh ke tangan Alderth, tanpa dirinya sebagai pemimpin.

Pak tua itu kini sadar, Chanyeol bahkan jauh lebih berbahaya dibanding mendiang raja Charlie. Sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain membungkukkan badannya bersama dengan para lord lainnya.

"baik, yang mulia raja", ucap para lord itu serentak. Menimbulkan senyuman puas di wajah Chanyeol.

To BE CONTINUED

Yehey chap 7 is up! selamat membaca yaa, jangan lupa review okee? Makasih juga udah baca,review,favorited, and following this story.. I Love u guys A LOTTTTTT!