"Hand in my hand and you promised to never let go"
.
.
Do Not EDIT and REPOST.
Rissingshire, August 6, 1853
Seorang wanita berjubah hitam tengah melangkah membelah jalanan kota Rissingshire. Sesekali tangannya terlihat menarik kupluk jubah yang ia kenakan. Dari gerak geriknya, tentu semua orang bisa menebak bagaimana wanita ini berusaha sekuat tenaga menutupi identitas dirinya. Tetapi, hiruk-pikuk ibukota Rissingshire seolah memberikan keuntungan tersendiri bagi wanita tersebut. Dimana orang-orang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak akan memperdulikan kehadiran sesosok wanita aneh berjubah yang nampak mencurigakan.
Langkah kaki itu perlahan ia bawa berbelok melewati sebuah gang kecil yang diapit oleh dua toko kue terkenal di Rissingshire. Memang dari luar terlihat tidak ada yang salah dengan gang tersebut, tetapi begitu sepasang kaki jenjang wanita itu melangkah semakin dalam, aroma minuman keras dan tawa-tawa mengerikan mulai terdengar. Beberapa wanita cantik terlihat berdiri didepan sebuah rumah bordil sembari menjajakan apa yang mereka miliki. Melontarkan kalimat-kalimat menggoda pada lelaki yang kebetulan lewat. Hari masih begitu cerah, tetapi malam seolah sedang berlangsung disini.
KLING
Suara bel tanda pintu terbuka berbunyi dengan amat nyaring. Aroma minuman keras yang awalnya hanya tercium samar berubah menjadi amat menyengat memenuhi seluruh ruangan itu. Tawa-tawa khas lelaki dewasa terdengar dimana-mana. Desahan samar entah darimana asalnya juga ikut mewarnai bar remang-remang pinggiran kota ini. Orang menyebutnya, Wild Alley, tempat tergelap di seluruh kota Rissingshire. Tempat berkumpulnya barang-barang illegal, criminal, rumah bordil, dan hal lain yang bahkan tidak dapat dibayangkan.
Meskipun begitu, si wanita seolah tidak perduli dan tetap melangkah. Mengabaikan panggilan menggoda atau jawilan yang diberikan para lelaki disana. Matanya tetap terfokus pada seseorang yang sedang duduk menantinya di bagian paling ujung bar tersebut. Hingga deritan kursi yang ditarik oleh si wanita membuat atensi seorang lelaki berjubah hitam yang sama, beralih dari segelas minuman keras yang sedang digenggamnya. Kepalanya mendongak lalu bibirnya melengkung membentuk senyuman simpul sebagai symbol sapaan.
"aku tidak punya banyak waktu", ucap si wanita, menjadi yang pertama membuka obrolan.
"kulihat anda tidak ingin berbasa basi. Sungguh jiwa muda yang menggebu-gebu".
"berhentilah bermain-main. Katakan apa yang ingin kau katakan".
Kekehan lolos di bibir lelaki itu. Perlahan tangannya meraih gelas bir yang sedari tadi berdiri manis di meja lalu meneguk cairan kuning itu dengan cepat. Menghabiskan separuh dari isinya. Seolah dengan sengaja membuat si wanita kesal karena dibuat menunggu.
DRAK, bunyi hantaman antara bagian bawah gelas dan meja akhirnya terdengar. Membuat wanita berjubah hitam tersebut kemudian menatap tajam pada lelaki dihadapannya.
"3 September, Phoenix akan terbang ke kerajaan Patrathia selama empat bulan", ucap lelaki itu, masih dengan senyuman mengejek menghiasi wajahnya.
Mendengar itu, si wanita meloloskan sebuah kekehan pelan. Kuku panjangnya yang dihiasi pewarna merah menyala mengetuk-ngetuk meja. Mengiringi keheningan sementara diantara mereka. Sebagian wajah nya yang tertutupi kupluk tampak sedang berfikir. Ia, melihat sebuah kesempatan emas yang mungkin tidak akan pernah datang lagi setelah ini.
"aku akan menemui si bodoh itu. Hanya dia yang bisa membantuku", ujarnya.
"Cih, Tidakkah kau pernah bilang lelaki bodoh itu memutuskan menjadi pendeta?".
"dari awal dia adalah iblis. Menjadi pendeta tidak akan mengubahnya menjadi malaikat".
"kau yakin? Aku harap kali ini semuanya akan berhasil. Jika tidak kita akan tamat".
Kekehan kembali lolos dari bibir berhias pewarna itu. Kekehan demi kekehan akhirnya berubah menjadi tawa membahana yang memekakkan telinga. Mengundang raut wajah heran dari lawan bicaranya.
Tidak ada sepersekian menit, seluruh tawa itu menghilang digantikan dengan wajah datar yang sempat membuat pria dihadapannya bergidik sesaat. Wanita ini memang bahaya. Seperti seekor ular berbisa yang bersembunyi dibalik seekor kelinci putih yang menggemaskan.
"Phoenix, akan menjadi milikku. Bagaimanapun caranya", untaian kalimat itu lolos dengan begitu dingin. Seolah mengandung puluhan pisau tajam yang dapat menusuk siapapun dihadapannya.
Etuviel Palace, August 6, 1853
"Kyungsoo, tolong katakan pada tuan Bertram untuk mengganti bunga lily ini menjadi mawar merah ya? Kurasa akan lebih baik jika nuansa cerah ditambahkan", ucap Baekhyun sembari kakinya melangkah menyusuri jalan setapak yang terbuat dari bebatuan di taman Wonderbush.
Dibelakang sang junjungan, Kyungsoo bersama ke delapan pelayan lain mengikuti kemanapun lelaki mungil itu melangkah. Sesekali mereka akan membungkuk mengiyakan permintaan sang ratu. Bahkan Baekhyun membiarkan jika mereka kelepasan terkikik karena mendengarkan ocehan sang ratu yang menggemaskan tersebut. Dimata para pelayan, Baekhyun memang berbeda dari para ratu sebelumnya. Beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati dan bijaksana. Si ratu bertubuh mungil itu tidak akan segan untuk mengajak pelayan-pelayannya bergurau dan bercerita selagi mereka masih bisa menyadari batas-batas posisi yang seharusnya.
"yang mulia, anda tampaknya amat terobsesi dengan mawar akhir-akhir ini", kekeh kepala pelayan sekaligus sahabat sang ratu tersebut. Cengiran khas di wajah manis Baekhyun terkembang.
"Oh! aku selalu terobsesi dengan mawar, kepala pelayan Do".
Gelengan kepala akhirnya menjadi respon dari si kepala pelayan, kemudian sepasang tungkai itu mulai melangkah untuk mengikuti kemana perginya sang pemilik tahta nomor dua Alderth tersebut.
Begitu Baekhyun mendudukkan diri di salah satu bangku taman dan jemari lentiknya mulai membuka satu persatu halaman buku hamlet, Kyungsoo menyadari inilah saatnya meninggalkan sang ratu sendiri. Ia sudah sangat hafal kebiasaan sang junjungan yang akan lebih nyaman dibiarkan sendiri di tempat sunyi ketika sedang membaca. Sehingga, dengan senyuman, Kyungsoo beserta pelayan lainnya membungkuk sebelum membalikkan tubuh untuk menjauh dari sana. Memberikan waktu berkualitas bagi sang ratu.
Hembusan nafas lolos dari bibir Baekhyun, menyertai derap langkah pelayannya yang lama-lama tidak lagi terdengar. Di awal kedatangannya ke istana, lelaki mungil tersebut akan merasa kikuk karena diikuti segerombolan orang kemanapun ia melangkah, terlepas dari waktunya tidur, mandi, serta ketika sedang bersama dengan raja.
Namun, lama kelamaan, diikuti oleh segerombolan orang agaknya menjadi hal biasa bagi Baekhyun. Tetapi ratu Alderth itu benar menginginkan sedikit waktu untuk bersama dirinya sendiri. Sehingga, di tahun keduanya menjadi ratu, Baekhyun memberikan permintaan khusus bagi para pelayan agar meninggalkannya sendirian ketika sedang membaca. Meskipun ia sudah merasa terbiasa, tetapi si mungil itu akan merasa amat lega ketika para pelayan tidak mengikutinya. Karena, saat itulah Baekhyun akan menjadi Baekhyun. Seorang lelaki mungil sederhana yang suka tertawa, membaca, bermimpi, dan bersenandung. Ia bukanlah Aidyn Danvers, ratu Alderth yang sempurna, cerdas, tegas, dan anggun. Dihadapan dirinya sendiri, Baekhyun tidak perlu memenuhi ekspektasi siapapun atas dirinya, dan disaat itulah ia benar-benar bisa merasa bebas.
BRUK
"AW! Hwaaaaa".
Sebuah suara yang diikuti dengan tangisan khas anak kecil terpaksa membuat atensi sang ratu teralihkan dari buku tercintanya. Mata kecilnya beralih untuk menatap siapa tersangka dari keributan tiba-tiba itu.
Adalah seorang anak lelaki kecil yang Baekhyun lihat beberapa waktu lalu bersama ibunya di taman Wonderbush. Jika melihat dari posisi si anak, sepertinya ia baru saja terjatuh. Dan fakta itu seperti secara otomatis menderingkan bel di kepala Baekhyun. Membuat sang ratu langsung berdiri dan menghampiri si bocah yang sudah berlinangan air mata.
"Hey, kau tidak apa?", ucap sang ratu dengan lembut.
Wajah menggemaskan anak lelaki itu mendongak. Sepasang manik kristal berwarna safir itu menatap kearah sang ratu yang tersenyum kepadanya. Isakan pelan lolos dari bibir mungil menggemaskan itu. Membuat sang ratu memiliki dorongan kuat untuk menggigit sepasang pipi gembul yang menyerupai adonan donat mengembang tersebut.
"kiit", suara menggemaskan sang anak terdengar, sembari bibir merahnya mencebik. Air mata masih berlinangan menuruni pipinya.
"Sakit? Mana yang sakit hm?".
"ini, pi caakiit", isak anak lelaki itu sembari menunjuk-nunjuk lututnya.
"oh my, kemari biar kulihat", kekeh sang ratu sebelum jemari lentiknya membersihkan kotoran tanah yang menempel di lutut bocah menggemaskan tersebut. Baekhyun merasa amat lega ketika tidak menemukan luka apapun disana.
"V! Vincent! OH TUHAN VINCENT! Y…yang mulia", suara seorang wanita muda berpakaian pelayan terdengar, kemudian bergabung bersama kedua sosok berbeda ukuran yang sedang berjongkok ditengah taman.
Pelayan tersebut mendadak tercekat melihat bagaimana keponakannya menangis dengan sang ratu yang nampak dengan sabar mengusap-ngusap lututnya. Oh tuhan semoga ia tidak akan terkena masalah karena lalai mengawasi Vincent.
"y…yang mulia mohon ampuni keponakan hamba yang mengganggu anda. Hamba bersedia menerima hukuman apapun asal jangan berikan kepadanya. Dia tidak mengerti apa yang dilakukannya", ucap pelayan itu terbata.
Agaknya pernyataan itu membuat Baekhyun mengernyit dan kemudian membiarkan sepasang manik matanya menatap kearah si pelayan. Wajah cantiknya tampak bingung.
"Apakah selama ini kau menganggap aku seorang ratu yang tidak memiliki hati seperti itu? Ah sungguh menyakitkan", wajah sang ratu mendadak berubah sedih. Sungguh membuat si pelayan serba salah.
"y…yang mulia b…bukan begitu. A…ampuni kata-kata lancang hamba. Hamba tidak bermaksud begitu".
Tundukan kepala yang begitu dalam tidak mengizinkan sang wanita untuk dapat melihat ekspresi geli sang junjungan yang kini sudah berdiri sembari mengangkat tubuh mungil keponakannya dengan mudah. Membawa anak lelaki kecil menggemaskan itu ke dalam pangkuannya.
"tegakkan kepalamu. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku yakin tidak ada hukum yang melarang seorang anak kecil yang belum lancar berjalan untuk terjatuh dihadapan seorang ratu", kekeh Baekhyun.
Perlahan, pelayan wanita itu mendongak dan membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf untuk yang kesekian kali. Hingga akhirnya berdiri tegak disamping bangku sang ratu, karena sesuai dengan etika kerajaan, tidak sopan jika seorang pelayan berdiri dihadapan keluarga bangsawan yang sedang duduk.
"apakah namanya Vincent?", tanya Baekhyun memecah keheningan. Tangannya sibuk mengelus surai blonde anak lelaki yang tampak fokus memainkan hiasan berbentuk mahkota di kerah baju sang ratu.
"ya, yang mulia".
"Kau bilang dia keponakanmu, kemana orang tuanya?".
"Orang tua Vincent sudah meninggal sejak ia bayi, yang mulia. Hanya saya satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Biasanya, saya akan menitipkan Vincent pada tetangga, tetapi hari ini mereka harus pergi ke gunung Zarf sehingga, terpaksa saya membawanya bekerja. Tuan Herbert berpesan agar ia tidak mengacau. Saya akan terkena masalah", ucap pelayan wanita itu sembari menundukkan tubuhnya.
Sang ratu terdiam mendengarkan penuturan pelayan tersebut. Vincent memiliki kisah hidup yang hampir sama dengannya. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak kecil yang harus bermain di tempat orang tua bekerja. Bagaimana neneknya akan mendapat masalah karena ulahnya.
Perasaan iba dan nostalgia itu seolah menghantamnya bersamaan dengan semilir angin sejuk yang berhembus. Membawa perasaan sedih yang secara tiba-tiba ia rasakan. Vincent amat menggemaskan, anak itu memiliki sepasang manik berwarna safir yang indah. Pipi gembulnya yang berwarna kemerahan terlihat pas dengan kulit seputih salju miliknya. Sungguh anak yang tampan. Entah kenapa secara mendadak Baekhyun seperti merasakan suatu koneksi antara dirinya dan anak kecil itu. Anak kecil asing yang baru dilihatnya dua kali.
"Siapa namamu?", ucap Baekhyun.
"Jessica, yang mulia".
"Jessica, mulai hari ini kau tidak perlu menitipkan Vincent kepada tetangga. Aku akan menyuruh Kepala pelayan Sunny menyiapkan sebuah kamar untuk Vincent di sayap timur. Kau, pekerjaanmu adalah merawat Vincent dengan baik. Memandikannya, menyuapinya, membereskan kamarnya, dan melakukan semua hal yang Vincent butuhkan".
Mendengar itu, rahang Jessica langsung jatuh. Ia melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang junjungan. Apakah ia bermimpi?
"Aku akan mengatakan pada tuan Herbert untuk merubah semua tugasmu dan memberikannya pada orang lain. Kau digaji untuk merawat keponakanmu dengan baik. Sehingga lakukanlah dengan benar ya?", senyuman manis terkembang di wajah Baekhyun.
Jessica yang merasa tubuhnya mendadak kaku hanya bisa mengangguk. Tubuhnya seperti dipaku menjadi satu dengan bebatuan dibawahnya sehingga ia tidak dapat membungkuk atau berterimakasih. Semuanya terlalu mengejutkan untuk ia terima.
"Jika kau diberikan sebuah hadiah yang luar biasa seharusnya kau membungkuk bahkan bersujud berterimakasih pada yang mulia, Jessica", hingga suara datar itu membuatnya tersadar.
Dihadapannya, di samping lain sang ratu, kepala pelayan Do berdiri tegap dengan wajah datar yang sedang mentapnya. Tetapi manik mata bulat itu nampak hangat. Sedangkan dibelakang Kyungsoo, para pelayan wanita lain tersenyum kearahnya. Sebuah senyuman hangat yang membuat hatinya bergetar dan serasa ingin menangis.
"yang mulia… terimakasih…terimakasih", sepasang lutut itu seketika bersatu dengan bumi dibawahnya. Tubuh ramping Jessica bersujud di hadapan sang ratu. Baekhyun melirik kesal kepada Kyungsoo yang hanya tersenyum penuh arti. Kyungsoo tahu, Baekhyun tidak terlalu suka dihormati secara berlebihan hingga seperti ini. Dan entah kenapa, sahabatnya harus muncul disaat mengharukan itu.
"Jessica, angkat tubuhmu. Kau tidak harus bersujud seperti itu. Aku hanya membantu sedikit. Dan satu lagi, tugas mu yang paling penting adalah selalu mengantar Vincent ke perpustakaanku di sayap barat setiap pukul tiga sore. Aku akan memberikannya pengetahuan yang sudah seharusnya diterima anak seusia Vincent", Tambah Baekhyun.
"b…baik yang mulia" ujar Jessica sembari membungkukkan badannya lagi, entah untuk yang keberapa kalinya.
Senyuman terkembang di wajah manis Baekhyun, kemudian dia memberikan kecupan di pipi menggemaskan Vincent. Membuat si anak yang sejak tadi masih fokus bermain dengan hiasan mahkota itu terkikik.
Baekhyun merasa sangat bahagia, entah kenapa sang ratu seperti merasa bahwa ia memiliki anaknya sendiri. Dan ia mendadak memahami bagaimana bahagianya memiliki seorang anak. Rasanya seperti mendapatkan sebuah hadiah yang amat special, dimana ia harus menjaganya sepenuh hati hingga tubuhnya tidak lagi mampu untuk melakukan itu.
Hari itu, meskipun Vincent bukanlah anaknya sendiri. Baekhyun akhirnya dapat merasakan bagaimana memiliki makhluk kecil mungil dipelukannya.
"Apakah ada sesuatu hingga taman Wonderbush mendadak ramai seperti ini?".
Suara berat yang terdengar otomatis membuat semua kepala menoleh. Setiap orang yang ada disana langsung membungkuk dalam begitu menyadari suara itu milik sang raja yang sedang berdiri dengan gagah tidak jauh dari sana.
Dibelakang Chanyeol, Jongin beserta Jaehwan dan para pengawal lain berdiri tegap. Menatap kearah mereka dengan ekspresi tidak terbaca.
"yang mulia", ucap Baekhyun riang.
Sang raja melangkah kearah sang ratu untuk kemudian meraih pinggang sempit itu dan membawanya mendekat. Sebuah ciuman manis Chanyeol berikan pada bibir merah suami mungilnya. Menyaksikan itu, para pelayan dan pengawal terdiam dengan kikuk. Berusaha menatap kemanapun kecuali pada kedua junjungan mereka yang sedang bermesraan.
PUK
PUK
Sayangnya, sebuah tepukan kecil yang dirasakan Chanyeol pada pipinya, membuat kegiatan mereka berakhir. Sang raja nampaknya tidak menyadari kehadiran sosok kecil asing di gendongan sang ratu, sehingga matanya langsung membola begitu melihat seorang anak kecil lelaki yang amat menggemaskan berada diantara mereka. Dan menjadi tersangka atas tepukan kecil di pipinya.
Dibelakang kedua junjungannya, Jessica meneguk ludah. Berharap sang raja tidak akan marah diperlakukan seperti itu oleh keponakannya.
"Siapa ini, sayang?".
"perkenalkan, namanya Vincent. Ia adalah keponakan Jessica, pelayan dapur. Mulai hari ini aku meminta Vincent tinggal di istana, dan aku akan menjadi guru privat untuknya", ucap Baekhyun dibarengi cengiran lebar yang amat menggemaskan.
Seketika dahi Chanyeol mengernyit mendengar pernyataan semangat yang terlontar dari bibir si mungil. Tidak dapat langsung mencerna maksud sang ratu.
"bagaimana dengan orang tua Vincent?", tanya sang raja.
"mereka sudah tiada, Jessica satu-satunya yang ia miliki. Tetapi Jessica sering meninggalkan Vincent sendiri. Aku tidak tega. Bolehkah Vincent tinggal disini seperti yang kuinginkan yang mulia?".
Sang raja tidak dapat berkutik begitu mendengar nada manja sang ratu yang disertai tatapan memohon seperti anak anjing yang lucu itu. Dengan susah payah Chanyeol meneguk ludahnya kemudian mengangguk. Tidak dapat menolak keinginan sang ratu. Lagipula, suami mungilnya tentu tidak akan kesepian dengan adanya Vincent.
"tentu saja sayang, apapun yang kau inginkan, lakukanlah", ucap sang raja sembari mengecup kening Baekhyun dengan sayang.
Pekikan riang yang terlontar menjadi tanda bahwa sang ratu amat bahagia karena suami tampannya itu langsung menyetujui. Sungguh Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa jika Chanyeol menolak keinginannya. Ia tidak bisa membayangkan Vincent kecil yang harus sendirian di tempat seadanya milik tetangga Jessica.
Senyuman lebar terus menghiasi wajah manis itu, dan semakin lebar ketika melihat sang raja dengan sayang mengusak surai blonde Vincent. Hati Baekhyun terasa hangat. Perasaan yang kemudian memancing sebuah ide usil di kepala indah ratu Alderth tersebut.
"ah, aku sangat lelah. Vincent amat berat. Bisakah anda menggendongnya, yang mulia?", ucap Baekhyun.
Seluruh pelayan yang ada disana terbelalak, sedangkan Jessica, ia merasa jantungnya akan lepas sebentar lagi.
Kekehan berat terdengar, mengiringi sepasang lengan kokoh yang membawa tubuh kecil Vincent ke pelukannya. Sedangkan yang paling kecil, terkikik senang sembari melingkarkan tangan gembulnya di sekitar leher sang pimpinan Alderth tersebut. Vincent masih kecil, ia belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Perasaannya masih amat sederhana, dimana ketika ia merasa ada orang yang memperhatikan serta menyayangi dirinya, bocah lelaki itu akan merasa amat senang.
"ah ternyata kau berat juga. Sekarang katakana padaku jagoan, apa yang kau sukai hm?", ucap sang raja Alderth sembari memberikan kecupan ringan di pipi donat milik Vincent.
Kerjapan polos menjadi jawaban Vincent, anak kecil itu tampaknya sedang berusaha mencerna kalimat orang dewasa yang diucapkan lelaki tinggi asing yang jujur saja, sedari tadi hidung mancungnya membuat Vincent gemas ingin memencet dan menarik benda tersebut.
"umm… Panah? Pi suka panah", jawab Vincent pelan.
"OH? benarkah? Vincent, lelaki yang sedang menggendongmu itu adalah seorang pemanah nomor satu di Alderth", Kedipan mata usil Baekhyun berikan pada sang suami. Satu alis di jidat tampan Chanyeol menukik. Berusaha menerka kode yang diberikan oleh pujaan hatinya tersebut.
"benar… lalu apa maksudnya?".
"tentu saja! Yang mulia raja akan mengajarkanmu memanah setiap hari Kamis, Vincent", kikik Baekhyun.
Seketika rahang sang raja terjatuh mendengar penuturan itu. Lihat bagaimana suami mungil manisnya tersebut menjebak dirinya. Ditambah lagi tepukan tangan semangat dari kedua tangan Vincent membuat sang raja tidak dapat menolak. Tentu anak lelaki itu akan merasa kecewa.
"ehm t…tentu saja. Kita akan berlatih memanah setiap hari Kamis, bersama Jenderal Oh. Ya Vincent?".
"Ya Papa!", kikik anak lelaki kecil itu. Membuat berpasang-pasang mata disana membulat kaget. Apakah anak itu baru saja memanggil sang raja…papa?
"Vincent! Ya Tuhan, ampuni Vincent, yang mulia. Ini salah hamba yang mengajari Vincent jika 'papa' adalah seseorang yang akan mengajarinya memanah suatu hari nanti", Jessica tergagap. Seketika menyesali keputusannya membawa Vincent ke istana.
Tanpa diduga, sang raja tertawa lepas mendengarnya. Kemudian menghujani surai blonde itu dengan ciuman ringan. Betapa gemas dengan anak lelaki dipelukannya itu. Jika dilihat, memang Vincent cocok menjadi seorang bangsawan. Wajahnya amat menggemaskan, dan ia yakin beberapa tahun kedepan anak lelaki digendongannya ini akan tumbuh menjadi pria berparas rupawan bak pangeran. Chanyeol yakin, ayah dan ibu Vincent tentu memiliki gen yang bagus. Sang raja mulai memikirkan beberapa kemungkinan di kepalanya.
"tenanglah Jessica, kurasa panggilan papa tidak buruk juga. Benar kan sayang?".
Baekhyun masih membatu di tempatnya berdiri. Pandangannya kosong, dan bibir mungilnya membulat membentuk huruf O. Masih terlalu kaget bahkan untuk menjawab pertanyaan sang suami.
"Vincent, tidakkah kau ingin menyadarkan mama agar tidak terus melamun?", ucap Chanyeol lagi.
"mama?", tanya anak itu polos. Kemudian dibalas anggukan oleh sang pimpinan Alderth.
"MAMA!", teriak Vincent dengan suara bayi nya. Menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.
"m…mama?", gagap sang ratu.
"ma!", kikik Vincent.
Sang ratu mengalihkan pandangannya pada sang raja, berusaha mencari jawaban dari lelaki tinggi itu. Anggukan penyemangat beserta senyuman menghiasi wajah tampan itu. Tanpa izin, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tidak menyangka, hari itu akan menjadi amat indah.
Etuviel Kingdom, August 14, 1853
"Kau sudah mengirimkan surat konfirmasi kepada raja Geoffrey bahwa aku setuju untuk hadir?", tanya Chanyeol kepada lelaki tan dihadapannya.
Chanyeol bersama dengan Jongin sedang berada di ruang kerja sang raja. Membicarakan tugas dan rencana kerajaan selama beberapa tahun kedepan. Kerajaan Alderth baru saja meresmikan kerjasama dengan Kerajaan Patrathia. Yang merupakan sebuah kerajaan dengan penghasilan batubara terbesar di seluruh dunia. Sebagai symbol resminya kerjasama antara dua kerajaan ini, Chanyeol sebagai raja Alderth harus melakukan kunjungan sendiri ke empat pusat penambangan batubara yang ada di Patrathia. Memastikan sendiri bagaimana kualitas yang dihasilkan serta kondisi yang akan kerajaan Alderth terjuni nanti.
Kunjungan bisnis penting seperti ini biasanya akan berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Karena letak tambang tersebar di beberapa titik berjauhan. Kerajaan Patrathia pun lokasinya juga jauh dari kerajaan Alderth. Sehingga sang raja yakin ini akan menjadi perjalanan bisnis yang cukup panjang.
Namun satu hal yang paling membuatnya berat adalah sang ratu. Ini pertama kalinya dalam pernikahan mereka Chanyeol harus pergi jauh selama beberapa bulan. Biasanya hanya akan berlangsung beberapa hari. Sang raja agaknya takut dengan reaksi sang ratu. Ditambah keadaan sang ratu yang sudah mulai kembali ceria. Sungguh pimpinan Alderth itu tidak ingin menghapus senyuman cantik dari wajah suami mungilnya.
"Sudah yang mulia, dua hari lalu".
Anggukan sang raja berikan sebelum ia kembali membaca satu persatu surat resmi yang tertumpuk di meja kerjanya. Matanya terfokus pada setiap kalimat yang tertera disana. Membuat suasana amat hening.
"yang mulia, bagaimana dengan yang mulia ratu?", pertanyaan pelan yang terlontar dari penasihatnya membuat sang raja terdiam selama beberapa detik. Ia belum menemukan bagaimana cara memberitahu Baekhyun agar tidak membuat lelaki mungil itu sedih.
"aku belum menemukan caranya".
"yang mulia, anda tahu semakin cepat semakin baik bukan? Jika waktunya terlalu dekat, yang mulia ratu akan lebih kecewa", jawab Jongin.
Hembusan nafas berat lolos dari belahan bibir sang raja. Menyandarkan tubuh pada punggung sofa empuk tempatnya duduk sejak tadi. Ia tahu, penasihatnya benar. Semakin lama, sang ratu akan mendengarnya dari orang lain. Dan itu bukanlah keputusan tepat.
"saya yakin beliau akan mengerti. Lagipula ada V, yang akan menemani beliau", ucap Jongin lagi.
Benar, V atau Vincent. Kehadiran anak lelaki diantara mereka itu agaknya membuat suasana hati sang ratu semakin lama semakin membaik. Setiap malam, sesaat sebelum terlelap, sepasang pimpinan Alderth itu akan membicarakan mengenai Vincent. Hingga terlintas keinginan sang raja menjadikan Vincent anak mereka secara resmi. Karena hingga saat ini status Vincent masih belum jelas. Orang masih menyebut Vincent sebagai 'anak asing yang tiba-tiba dekat dengan yang mulia'. Jujur saja, sebuah panggilan yang kurang enak didengar.
"Aku sempat berfikir menjadikan Vincent anakku, menjadikannya putera mahkota", ucap sang raja pelan.
Jongin tersenyum simpul mendengarnya. Lelaki tan itu sungguh paham seberapa besar keinginan raja menimang seorang anak. Sejak remaja, Chanyeol sangat menyukai anak kecil. Seperti memiliki kelemahan tersendiri pada makhluk mungil dengan suara cempreng itu. Tetapi, karena perasaan cintanya pada sang suami, Chanyeol selalu berusaha menutupi itu semua. Seolah-olah ia tidak peduli. Padahal didalam lubuk hatinya, seorang anak akan melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Yang mulia, maafkan hamba. Tetapi seperti yang anda ketahui, seorang putera mahkota, atau penerus tahta hanyalah mereka yang merupakan keturunan langsung dari raja dan ratu. Atau anak kandung raja dan ratu".
Hening untuk sesaat, sang raja menatap nyalang pada tumpukan kertas dihadapannya.
"ya Jongin, aku tahu. Aku hanya berandai-andai. Kau tahu Vincent adalah anak tampan yang cerdas. Ia akan menjadi seorang pemimpin baik hati dengan bimbingan Baekhyun".
"yang mulia, jangan putus asa seperti itu. Saya yakin, yang mulia ratu akan segera mengandung. Ketika itu terjadi, Vincent bisa menjadi seorang kakak yang akan membimbing putera mahkota nantinya".
Diam adalah jawaban sang raja. Raut wajah lelah amat ketara di paras tampannya. Persoalan anak akan selalu membuat sang raja menguras energi secara berlebihan. Bagi Chanyeol, kini perasaan sang suami adalah prioritasnya. Meskipun itu harus menekan semua ego nya untuk menimang seorang anak. Namun, pimpinan Alderth itu bersyukur, Vincent hadir diantara mereka untuk mengobati perasaan lelah itu.
"Katakan pada Lord Roland untuk mengurus peresmian Vincent sebagai anak angkatku dan Baekhyun. Aku tidak berharap ia bisa naik tahta, aku hanya berharap anak itu memiliki perlindungan resmi serta masa depan yang layak", ucap sang raja.
Senyuman terkembang di wajah Jongin, sebelum ia membungkuk hormat pada sang junjungan.
"kau boleh pergi", tambah sang raja sebelum beranjak berdiri untuk menatap keluar jendela. Membelakangi Jongin.
Rissingshire, August 22, 1853
Derap langkah terburu sepasang kaki mungil menggema memenuhi koridor lantai empat sayap barat istana Etuviel. Setelah langkah tersebut, derap langkah beberapa orang lain terdengar menyusul. Teriakan-teriakan para wanita itu tidak digubris oleh si kecil yang sudah rapi mengenakan rompi mahal berwarna cokelat miliknya. Rambut blonde yang ditata rapi keatas menunjukkan kening sesekali bergoyang akibat lompatan-lompatan yang ia lakukan.
"pangeran Vincent! Pangeran tunggu kami!", teriak mereka.
Namun kikikan hanya menjadi respon anak tersebut sembari mempercepat tempo derapan kakinya. Kemarin malam, mama nya yang cantik itu mengatakan mereka akan berkunjung ke kota hari ini. Entah urusan apa, tetapi ia mengatakan bahwa Vincent boleh ikut. Kini pangeran kecil itu sudah tidak sabar untuk segera pergi melihat pemandangan luar bersama sang mama.
Semenjak ia sering bersama dengan Baekhyun di perpustakaan, Vincent menjadi seorang anak yang banyak tahu. Seolah memang ditakdirkan cerdas, Vincent sudah mulai lancar berbicara dan mulai bisa menghafal Alphabet. Sang ratu Alderth tersebut sungguh bahagia melihat perkembangan pesat anak angkatnya. Semakin lama ikatan antara mereka semakin terjalin dengan kuat. Vincent yang awalnya hanya mau bersama sang bibi, kini ia benar-benar tidak dapat dipisahkan dari mama nya.
Jika pengangkatan Vincent Fletcher menjadi Vincent Danvers dikira akan menimbulkan polemik panas di kalangan para bangsawan, ternyata salah. Hampir semua lord menyetujui keputusan mendadak yang raja umumkan tersebut. Terkecuali Oswald, tentu saja. Pak tua itu seperti tidak akan pernah setuju dengan apapun yang Chanyeol lakukan.
Paras rupawan bak terlahir sebagai darah biru, dengan kilauan mata berwarna safir yang sanggup meluluhkan hati banyak orang tentu menjadi salah satu alasan. Bahkan, ibu suri dan puteri Yoora langsung memberikan pelukan hangat pada anak kecil menggemaskan yang kini menjadi cucu serta keponakan angkat mereka. Sesekali nenek, begitu Vincent memanggilnya, akan membelikan baju-baju mahal yang cocok untuk dipakai cucu barunya tersebut. Vincent, merasa disayangi dan diterima. Ia menjadi anak paling bahagia di seluruh penjuru Alderth.
"Mama! Mama!", teriakan menggemaskan terdengar jelas hingga kamar sang ratu.
Otomatis, bibir merah itu melengkung membentuk senyuman ketika suara Vincent masuk ke indera pendengarnya. Menyadari sudah saatnya ia menyudahi kegiatan mengaca.
Begitu pintu mahoni raksasa itu terbuka, Vincent langsung menerobos masuk lalu menghempaskan dirinya untuk memeluk kaki sang ratu. Mengabaikan pelayan yang membungkuk untuk menyapa dirinya.
"mama. Kita pegi?", tanya nya.
"ya sayang, kita akan pergi sekarang", kekeh sang ratu yang kemudian menjawil hidung mancung milik anaknya.
Untuk terakhir kali, ratu Alderth tersebut mengecek penampilannya. Lalu berpindah memperhatikan pakaian dan rambut Vincent. Ketika dirasa semua terlihat sempurna, anggukan menjadi isyarat untuk Kyungsoo memberikan aba-aba pada pelayan beserta pengawal untuk bersiap. Sang ratu dan Pangeran sudah siap berangkat ke tengah kota.
…
Gerombolan rakyat sudah berkumpul di sekitar jalanan Fryt, yang merupakan jantung kota Rissingshire. Hari itu, pembukaan panti asuhan pertama Alderth diselenggarakan. Baekhyun, menjadi ratu pertama dengan gagasan untuk merawat anak-anak tanpa orang tua yang di eksploitasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Tujuan sang ratu adalah memberikan kehidupan yang layak bagi mereka, memberikan ilmu untuk bekal masa depan mereka nantinya. Tentunya semua itu dibiayai oleh kerajaan dan diawasi langsung oleh sang ratu. Seluruh rakyat tampak antusias dan bersorak senang menyaksikan bagaimana ratu Alderth yang amat anggun itu memotong pita dan tersenyum manis kepada mereka semua.
Jika biasanya hanya sang ratu yang menjadi pusat perhatian, kini semua itu harus terpecah pada sosok kecil yang sejak tadi berada di samping Baekhyun. Berita raja dan ratu mengangkat seorang anak sudah tersebar ke seluruh Alderth. Seluruh rakyat penasaran dengan sosok mungil yang menurut rumor itu sangar menawan serta menggemaskan. Dan mereka yang hadir hari itu, setuju dengan semua rumor yang beredar. Bahkan sekilas, anak lelaki itu terlihat mirip dengan sang ratu. Seolah dewa memang menakdirkan Baekhyun menjadi orang tua angkat Vincent.
Sorak sorai serta tepukan tangan meriah rakyat ternyata berbanding terbalik dengan aura gelap yang mengelilingi seorang wanita berjubah hitam. Wanita itu berdiri di kejauhan sambil menatap penuh kebencian pada sosok mungil yang tampak bersinar di bawah sinar matahari tersebut. Tangannya sudah terkepal sejak tadi, seolah berusaha menyalurkan seluruh emosinya disana.
Decihan sinis keluar dari bibirnya untuk kesekian kali dalam hari itu. Merasa muak karena pikirnya, sang ratu hanya berpura-pura baik. Dalam lubuk hati terdalam, ia tidak sabar melihat lelaki mungil itu menangis meraung dan kembali pulang ke Erith.
"kita lihat saja nanti Byun. Aku akan berada disana, dan kau berada disini, menangisi nasibmu", kekeh wanita itu sinis sebelum membetulkan kupluk jubahnya dan berbalik pergi. Menghilang di kegelapan gang sempit tidak jauh dari sana.
Disaat bersamaan, sepasang iris kecil sang ratu menatap ke sebuah ujung gang sempit disamping toko roti. Entah kenapa, sang ratu merasa ada seseorang yang mengawasinya dengan intens dan itu seperti menekannya. Sejak tadi, ekor mata Baekhyun seperti menangkap sosok berjubah yang tampak sedikit menyeramkan. Namun, ketika ia menoleh dan sosok itu tidak ada, sang ratu berusaha menghalau perasaan aneh serta tak nyaman yang ia rasakan.
'Mungkin itu hantu', decak Baekhyun dalam hati.
Bagaimana pun, kehadiran sosok itu terasa amat kuat. Aura gelapnya seperti dapat menjangkau Baekhyun yang berdiri jauh darinya. Membuat sang ratu bergidik ngeri.
"yang mulia! Yang mulia".
"HEY jangan menerobos hey!".
"yang mulia! Hamba mohon menolehlah".
Menyadari itu, Baekhyun perlahan menoleh dan disana berdiri seorang gadis cantik dengan rambut tergelung keatas, ia terlihat seperti ingin mendekat, namun barikade pengawal yang berdiri di sekeliling sang ratu seperti tidak dapat tertembus oleh tubuh rampingnya.
"biarkan dia lewat, Daniel", kekeh Baekhyun kepada kepala pengawalnya yang sedang menunjukkan wajah garang pada sang gadis. Mengabaikan wajah cantik yang memberengut dengan keras kepala itu.
"tapi yang mulia…"
"dia tidak terlihat berbahaya kurasa".
Ucapan sang ratu adalah perintah, sehingga Daniel tidak memiliki pilihan lain, selain membiarkannya lewat. Meskipun begitu, iris sipit Daniel dengan tajam memperhatikan tiap gerak-gerik gadis itu. Mengantisipasi jika ternyata ia adalah orang gila yang ingin menyerang sang ratu.
"yang mulia. Sungguh kehormatan bagi hamba bisa bertemu dengan anda. Nama saya Yeri. Saya adalah penggemar nomor satu yang mulia!", ucap gadis itu dibarengi dengan cengiran lebar.
Kekehan menjadi jawaban sang ratu sembari mengangguk dengan anggun. Membuat gadis dihadapannya terpana.
"yatuhan, anda bahkan jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat yang mulia".
"ah, kau terlalu berlebihan. Terimakasih ya".
Gadis itu membungkukkan badannya dengan dalam, senyuman kembali menghiasi wajahnya. Mata sipit si gadis tampak berkilat semangat. Entah apa tujuannya hingga bersikeras ingin bicara dengan sang ratu.
"yang mulia, Saya dan suami saya memiliki toko kue di ujung sana. Baru saja kami membuat kreasi baru bernama Aidyn, yakni kue berbentuk bunga mawar merah yang indah. Yang mulia adalah inspirasi kami, kami akan sangat senang jika yang mulia bersedia mampir untuk mencoba kue tersebut", ucap sang gadis malu-malu.
Sang ratu terlihat berfikir untuk beberapa saat, hingga kemudian tersenyum lebar dan mengangguk. Tidak ingin mengecewakan rakyatnya yang mengaku menjadi penggemar nomor satunya tersebut.
"oh benarkah? Kurasa aku memiliki sedikit waktu untuk mampir. Bukan begitu Vincent?".
"ya mama!", pekik Vincent Bersemangat. Seketika semua yang ada disana menahan gemas melihat sang pangeran.
"kalau begitu, tunjukkan jalannya", kikik sang ratu sambil menggandeng tangan mungil anaknya, lalu segera mengikuti langkah si pemilik toko kue. Bersama seluruh rombongan pengawal kerajaan yang tetap berada dekat dibelakangnya. Sang ratu tidak sadar, bahwa di istana, seorang lelaki tinggi tengah menanti kedatangan suami mungilnya yang terlambat lebih dari dua jam.
…
Pekikan serta gumaman heboh dari kerumunan rakyat yang berdiri didepan toko roti milik Yeri terdengar ketika Baekhyun sedang menikmati potongan kedua kue bernama Aidyn itu. Tenyata Yeri memiliki sebuah toko kue terkenal di Rissingshire. Dan si ratu Alderth tentunya tidak heran, karena semua kue buatan Yeri beserta suaminya memiliki bentuk unik dan rasanya sangat lezat.
"Yang mulia raja tiba!"
"yatuhan ia sangat tampan!"
"yang mulia!"
Suara-suara riuh itu akhirnya menarik perhatian Baekhyun untuk menoleh keluar pintu kaca. Memang sedari tadi rakyat berkumpul disana untuk melihat dirinya. Tetapi kini, mereka memberikan punggung kepada Baekhyun karena, nampaknya seseorang baru saja menarik perhatian mereka.
Dan benar, tersangkanya adalah si pimpinan Alderth yang tiba dengan amat dramatis. Mengendarai Jillian, dengan pakaian resmi masih melekat ditubuh gagahnya. Keningnya yang terbuka tampan berkilauan karena keringat, seperti habis berlari-lari puluhan kilometer.
Sang raja melompat dengan mudah turun dari punggung Jillian, dan seketika semua orang di toko roti itu berdiri untuk memberi salam pada raja. Terkecuali Vincent, yang matanya sudah berbinar melihat kedatangan Chanyeol.
"papa! Papa datang ma!", pekik anak kecil itu sebelum melompat dari kursi lalu berlari menghampiri sosok tinggi yang baru saja selangkah masuk kedalam toko. Terkekeh melihat wajah anak lelakinya penuh dengan cokelat.
"hey jagoan", kekeh sang raja sembari membawa anak lelaki itu pada gendongan hangatnya.
Wajah sang raja berubah mengintimidasi begitu menatap sang ratu. Satu alisnya menukik tajam, membuat Baekhyun menunduk memainkan jemarinya gugup. Benar, ia memiliki janji makan malam dengan sang raja. Sang ratu nampaknya lupa, dan kini Chanyeol menyusulnya kesana.
'oh tuhan semoga dia tidak menghukumku nanti', gumamnya dalam hati.
"jadi, kau lupa janji makan malam denganku karena sibuk menikmati kue disini, Aidyn?", ucap sang raja dengan nada rendah. Suara beratnya menjadi semakin berat.
Yeri, dan suaminya Seungjae saling melirik di posisi tubuh mereka yang membungkuk memberi hormat pada raja.
"y…yang mulia, maaf saya lupa. Saya kira makan malam kita besok. Lagipula, saya tidak bisa menolak permintaan Yeri dan Seungjae untuk mencicipi resep mereka yang baru", ucap sang ratu tergagap.
Telapak kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gugup bersamaan dengan langkah kaki sang raja yang semakin mendekat. Hingga akhirnya sang ratu dapat melihat sepasang sepatu mengkilap itu tepat di hadapannya.
"aku sungguh kecewa, sayang".
Mendengar itu, sang ratu langsung mendongak, berusaha menjelaskan lagi, tanpa menyadari bahwa wajah sang raja sudah amat dekat dengan kepalanya. Benar saja, belum sempat sepatah kata meluncur, bibir merah mungil itu sudah diraup oleh sang raja kedalam sebuah ciuman manis yang dalam.
BLUSH
Warna merah langsung menyebar ke seluruh wajah sang ratu. Seluruh rakyat disana terpekik tertahan melihat kedua junjungannya berbagi ciuman mesra tanpa canggung. Sedangkan Vincent, berusaha menutupi mata dengan sepasang tangan mungil miliknya. Paman Kyungsoo bilang, Vincent akan sakit perut jika melihat papa dan mama menempelkan bibirnya satu sama lain. Sehingga Vincent harus menjadi anak baik dan tidak melihat. Anak lelaki kecil itu yakin, paman Kyungsoo akan sangat bangga padanya.
…
"sejujurnya, aku sangat kesal karena kau melupakan janji makan malam kita sayang".
Matahari sudah terbenam sejak tadi. Sang raja berakhir duduk di toko kue itu dan mencoba sepotong kue yang bernama Phoenix. Benar, kue tersebut menjadi sambutan atas terbangnya Phoenix diatas langit Alderth. Namun, Yeri dan Seungjae tahu bagaikan punuk merindukan bulan jika meminta sang raja langsung menikmati kue karya mereka.
Tetapi hari ini, seperti mimpi, lelaki tampan dan gagah itu sedang duduk di kursi kecil, di tengah toko sederhana miliknya. Sembari menikmati kue Phoenix yang berbahan dasar pisang dan cokelat tersebut. Berkali-kali Yeri meminta sang suami mencubit dirinya, berharap jika ini mimpi, maka mimpi ini akan segera berakhir.
Tetapi, bukannya hilang, sang raja malah meminta satu potong lagi, alasannya karena potongan pertama terlalu kecil. Hanya saja, si mungil yang merupakan ratu Alderth tahu pasti, raja sangat menyukai kue itu. Bisa dilihat dari cara beliau menikmati setiap kunyahan.
Kini, mereka sedang dalam perjalanan pulang. Chanyeol merasa akan sangat romantis jika mereka berkuda bersama. Sehingga dengan terpaksa, sang ratu meninggalkan kereta kudanya dan hanya menaiki Jasmine. Sedangkan Chanyeol, dengan si kecil Vincent dipelukannya, menaiki Jillian.
Kedua kuda putih itu berjalan beriringan membelah jalanan kota Rissingshire yang masih ramai. Namun rakyat sangat kooperatif, sehingga mereka langsung berhenti untuk memberi jalan pada sang junjungan. Dibarengi dengan lambaian tangan dan bungkukan badan yang dalam.
"maafkan aku yang mulia, anggap saja makan kue tadi sebagai makan malam hm? Aku benar-benar lupa", rengek Baekhyun dengan nada manja. Jika saja Chanyeol berada dalam jarak yang dapat menjangkau sang ratu, pasti ia sudah menerkam si mungil itu. Sayang sekali, kini mereka berada di dua kuda yang berbeda. Dan si kecil yang akhir-akhir ini dipanggil 'mini Aidyn' sedang berada dipelukannya.
Memang sang raja akui, semakin lama, Vincent terlihat semakin mirip dengan Baekhyun. Sangat aneh karena mereka tidak memiliki sedikitpun hubungan darah. Ketika raja Alderth itu menatap ke wajah menggemaskan sang anak, ia akan langsung teringat dengan sang istri.
"aku maafkan karena kau tampak menggemaskan dan kue tadi enak", deham sang raja.
Mendengar itu, Baekhyun terkikik senang. Suami tingginya memang yang terbaik. Sebagai seorang raja, ia tidak suka menekan dan memaksa. Jabatan raja itu hanya akan dipakai kepada siapapun, kecuali Baekhyun, dan kini Vincent. Ia akan menerima apapun yang Baekhyun berikan dan berusaha mengabulkan semua permintaan suami mungilnya. Sang ratu tidak bisa merasa lebih bahagia dari itu.
"terimakasih yang mulia… astagaa lihatlah, anak itu sudah tertidur. Pasti terasa hangat sekali dipelukanmu, Chan".
"tentu, jika tidak hangat, kau tidak akan betah semalaman menempeliku seperti koala selama tiga tahun ini", Kekeh Chanyeol, sembari tangan besarnya mengusap wajah damai milik si kecil yang sudah tertidur.
Semburat merah untuk kesekalinya di hari itu kembali menghiasi pipi mulus sang ratu. Itu benar, bersandar di pelukan sang raja memang sangat hangat dan nyaman. Karena alasan itulah, Baekhyun semakin malu.
"Baekhyun, aku mencintaimu", ucap raja lagi. Tidak memberi kesempatan pada sang ratu untuk menjawab pernyataan sebelumnya.
Si mungil menangkap ada sesuatu yang berbeda dari pernyataan cinta sang raja Alderth tersebut, seperti amat serius dan sendu. Seperti ada sesuatu salah.
"kau tahu aku juga amat mencintaimu Chan". Senyuman manis ia berikan pada sang raja, berusaha menenangkan keadaan raja sebaik mungkin dengan senyuman itu.
Etuviel Palace, August 25, 1853
Bias oranye kemerahan menghiasi Alderth sore itu. Menandakan sang matahari sudah bersiap kembali ke peraduannya. Hiruk pikuk istana yang sejak pagi terdengar tanpa henti sedikit demi sedikit mulai berkurang. Berganti dengan suara serangga berkerik, menimbulkan suasana malam yang sunyi.
Namun, di lantai tiga sayap barat istana, seorang lelaki tampan sedang bersandar pada sofa miliknya. Sepasang iris tajam tersebut menatap nyalang ke pemandangan kota Rissingshire yang terlihat dari kaca besar di ruang kerjanya. Pikirannya sejak tadi melayang jauh, bahkan tidak menghiraukan penasihatnya yang pamit untuk beristirahat.
Waktu kepergiannya semakin dekat, dan ia belum bisa memberitahu sang suami mungil. Yang paling Chanyeol takutkan adalah kepergiannya nanti. Bagaimana bisa ia meninggalkan sang ratu selama empat bulan? Chanyeol bisa saja mengajak Baekhyun untuk ikut dalam perjalanan bisnis itu. Tetapi berarti posisi tahta akan kosong, hal tersebut bisa berujung pada kekacauan. Sehingga mau tidak mau, Baekhyun harus tinggal.
Rentetan pikiran itu terus berkelebat di benaknya. Semakin lama membuatnya semakin tertekan hingga tidak menyadari suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan cukup keras. Lelaki pimpinan Alderth itu seperti terlempar kembali ke bumi ketika sebuah tangan mengelus surai hitamnya dengan lembut.
Perlahan sang raja menoleh, dan mendapati pujaan hatinya berdiri disana dengan senyuman manis. Sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar bahkan ketika tiga tahun sudah berlalu sejak mereka mengucapkan janji pernikahan. Dengan lembut seolah menyentuh kelopak bunga yang ringkih, Chanyeol meraih tangan tersebut dan memberikan kecupan-kecupan penuh cinta di sana.
"Kenapa belum kembali ke kamar yang mulia? Aku sudah menyiapkan air hangat anda", ujar suara itu dengan lembut.
Sang raja hanya menggumam samar sebagai jawaban, kemudian menarik tubuh mungil itu kedalam pangkuannya. Membuat si pemilik tubuh terkikik dan dengan pasrah mendudukkan dirinya di paha kokoh Chanyeol.
Kedua mata lebar itu kemudian memejam ketika merasakan jemari lentik milik sang ratu mengusap sayang kedua pipinya. Menelusuri seluruh bagian wajah tampan itu dengan telunjuknya yang indah. Sensasi sentuhan lembut itu seketika membuat sang raja tenang. Seolah sang ratu memiliki mantera nya tersendiri.
"Chan, aku tahu kau harus pergi ke Patrathia", bisik sang ratu.
Seketika mata terpejam itu membelalak kaget. Yang ia takutkan terjadi, sang ratu mendengar itu dari orang lain. Sang raja lagi-lagi merasa amat kecewa dengan dirinya sendiri.
"Sayang, maafkan aku membuatmu mendengarnya dari orang lain. Sungguh ketika aku merencanakan makan malam itu aku berusaha memberitahumu. Aku minta…"
"sshh, tidak apa-apa. Aku tahu ingin menjaga perasaanku, yang mulia", potong sang ratu sembari menempelkan telunjuk lentiknya di bibir tebal sang raja.
Senyuman manis kembali menghiasi wajah menawan itu, bias warna oranye yang menyinari sosok itu membuatnya berkali-kali lipat lebih memukau. Hingga membuat sang raja harus menahan nafasnya selama beberapa detik. Untuk kesekian kalinya, jemari sang ratu mengusap lembut wajah sang raja. Menyalurkan seluruh perasaannya melalui kontak fisik tersebut.
"pergilah, yang mulia. Ketika pertama saya setuju menikah dengan anda. Saya sudah mengantisipasi semua ini. Saya sudah bertanya pada diri sendiri, apakah saya siap jika anda harus pergi untuk melakukan perjalanan bisnis selama beberapa bulan? Apakah saya akan mempercayai anda selama empat bulan kita terpisah? Apakah saya bisa mengatur istana sendiri tanpa anda? Jika Baekhyun si perangkai bunga, tentu ia akan menjawab tidak. Karena dia dilahirkan untuk merangkai bunga. Tetapi, sesuatu dalam diri saya, yang kini saya ketahui adalah sosok Aidyn Danvers, mengatakan saya siap menghadapi semua itu. Karena saya dilahirkan untuk mendampingi anda memimpin Alderth. Ini adalah takdir saya, dan saya tidak punya pilihan lain selain menjalaninya".
"sayang…"
"berangkatlah, tapi kumohon berjanjilah untuk selalu mengingat bahwa aku disini. Menanti anda kembali", ucap sang ratu. Manik hangatnya menatap tepat ke manik bulat sang raja. Menyelam kedalam lautan perasaan yang terpapar nyata disana.
"demi tuhan, aku sangat mencintaimu ratuku", bisik sang raja. Tanpa menunggu lagi, pimpinan Alderth itu langsung menempelkan ciuman penuh perasaan pada belahan bibir lawan bicaranya. Merasakan betapa manis dan adiktivnya benda kenyal tersebut.
Kali ini, bulan yang baru saja hadir di luasnya langit malam menjadi saksi bagaimana kedua pimpinan Alderth itu berbagi kasih satu sama lain. Saling menyalurkan perasaan cinta mereka dengan hasrat yang menggebu.
Etuviel Palace, September 3, 1853
Hari berlalu bagai kilasan-kilasan buram setelah hari dimana sang ratu mengetahui tentang kepergian suami tercintanya. Setiap malam sebelum terlelap, keduanya akan selalu menyempatkan memberitahu satu sama lain bagaimana perasaan cinta itu mereka rasakan.
Sang ratu meskipun berusaha menyembunyikan, kini terdiam sendiri sembari melipat pakaian-pakaian yang akan dibawa sang raja. Sesekali ia menciumi pakaian itu. Menyesap aroma maskulin sang suami yang selalu sukses membuatnya ketergantungan. Wajah sedih menghiasi paras rupawan itu. Sesekali ia akan mengusap tetesan air mata yang menuruni pipinya.
Mungkin hanya empat bulan, tetapi sesuatu terasa mengganjal hatinya. Membuat dia tidak tenang memikirkan kepergian sang suami. Ketakutan-ketakutan menderanya, memerangkapnya tanpa memberi kesempatan baginya untuk lolos. Kyungsoo mengatakan, mungkin itu hanyalah perasaan takut dan khawatir. Baekhyun berusaha menyetujui itu, dan beberapa kali mengabaikan debaran jantungnya yang terasa aneh. Seperti sesuatu benar akan terjadi.
"lihat itu Vincent, mama sudah siap", suara berat itu seperti menyelamatkan Baekhyun dari lautan perasaannya. Menariknya keluar ke realita.
"mama! Jiyan (Jillian) sudah siap belcama Uncle Ongin", kikik si kecil yang kini sudah duduk di samping sang ratu diatas Kasur.
Kekehan pelan menjadi jawaban si cantik sebelum menjawil hidung mungil milik anaknya.
"benarkan? Kalau begitu kebetulan sekali, mama juga sudah selesai membereskan baju papa".
Yang paling tinggi diantara ketiganya fokus melihat interaksi antara mereka. Tersenyum sedih lalu berjalan mendekat. Menarik sang ratu berdiri untuk memberinya pelukan yang amat erat. Ia akan merindukan tubuh mungil itu setiap malam selama empat bulan kedepan.
"jaga dirimu baik-baik sayang. Empat bulan akan berlalu dengan cepat dan tanpa kau sadari aku sudah akan kembali", bisik sang raja.
Anggukan hanya jawaban yang sanggup diberikan sang ratu. Karena sedari tadi berusaha menahan lelehan air matanya. Ia tidak ingin sang raja melihatnya menangis. Takut akan membuat pimpinan Alderth itu khawatir dan malah tidak fokus menjalankan pertemuan serta kunjungannya.
"berjanjilah kau akan kembali dengan keadaan baik-baik saja", ucap sang ratu.
"aku berjanji sayang, dengan segenap jiwaku".
Sang ratu kembali mengeratkan pelukannya, menerima kecupan penuh cinta yang raja bubuhkan pada keningnya. Ketika ciuman itu terlepas, sang ratu Alderth berusaha memberikan senyuman terbaiknya pada sang raja.
"Vincent", ucap sang raja yang kini sudah beralih fokus pada anak kecil yang sedang duduk di ranjang. Kedua lutut sang raja menapak tanah untuk menyamakan tinggi dengan Vincent.
"papa punya hadiah untukmu. Berjanjilah Vincent akan menjaga mama selama papa pergi ya?".
Iris safir itu mentap tepat ke mata bulat sang ayah. Sejujurnya anak kecil itu belum terlalu mengerti dengan perpisahan. Ia hanya memahami bahwa dalam beberapa hari kedepan, ia tidak akan melihat sang papa. Sehingga, si kecil kemudian bisa menyimpulkan bahwa ia membenci perpisahan.
"papa, jangan pelgi", ucap anak itu.
"papa hanya pergi sebentar sayang. Vincent harus berjanji akan menjadi anak baik ya?", ujar sang raja dengan nada sayang sembari mengulurkan belati kecil dengan hiasan Phoenix besar di pegangannya. Kedua mata Phoenix itu dihiasi dengan ruby merah yang berkilauan.
Dengan penasaran, Vincent menerima belati itu dan mengamatinya sebelum akhirnya mengangguk.
"Vincent akan menjadi anak baik agar papa segera pulang!", kikik anak itu.
Chanyeol kemudian mengangguk dan mengusap surai blonde anaknya. Semakin merasa sedih karena tidak akan bisa bertemu keluarga kecilnya dalam beberapa bulan.
Perlahan kaki panjang itu kembali berdiri menapak lantai marmer dibawahnya. Lalu memberikan sebuah ciuman manis untuk terakhir kali pada sang suami, sebelum ia berbalik keluar dari kamar.
"aku pergi, ratuku", ucapnya lirih.
Baekhyun hanya mengangguk samar sebelum berjalan mendekat kearah jendela. Ia menolak turun kebawah mengantar sang suami, takut tidak bisa menahan air matanya dan terlihat oleh para penjaga serta pelayan.
Ia menatap kosong pada kereta kuda sang raja. Matanya bersibobok dengan mata sang raja untuk terakhir kali ketika si pimpinan Alderth itu mendongak ke jendela. Lambaian diberikan si raja Alderth pada sang suami sebelum tubuhnya menghilang masuk kedalam kereta kuda.
Menit telah berlalu hingga kereta kuda mewah milik sang raja sudah tak terlihat lagi. Namun, ratu Alderth itu masih tetap tidak bergeming pada posisinya, separuh jiwanya seakan ikut bersama sang raja.
"ma, apa papa harus pergi?".
"papa, akan kembali sayang".
Alderth, September 10, 1853
My Dear Husband, King Park Chanyeol
Baru beberapa hari sejak kepergian anda, saya sudah merasakan rindu yang amat menyesakkan. Hari ini istana amat sepi, saya tidak memiliki pilihan lain dan memutuskan untuk belajar pedang bersama Jenderal Oh. Doakan aku berhasil suamiku! Jangan lupakan makan dan istirahat. Aku tidak mau kau sakit.
Aku, mencintaimu yang mulia.
Your Husband
Queen Aidyn
Alderth, October 1, 1853
My Dear Husband, King Park Chanyeol
Yang mulia, apakah segalanya baik-baik saja? Jackson mengatakan surat kemarin sudah diterima sendiri oleh anda. Namun balasan tidak kunjung datang sehingga saya memutuskan untuk menulis lagi. Saya harap anda dalam keadaan sehat.
Vincent amat merindukan anda dan selalu menanyakan soal anda. Anak itu bahkan tidak mau belajar memanah dengan Jenderal Oh. Ia mengatakan paman wajah rata itu menyebalkan. Benar, Vincent sudah mulai berbicara dengan lancar. Bersiaplah mendengarkan ocehannya ketika anda kembali nanti.
Kabar baik lainnya, saya sudah bisa mengayunkan pedang dengan benar. Apakah ini tandanya saya sudah bisa melindungi anda di medan perang yang mulia? Hihi, saya amat merindukan anda.
Saya, mencintai anda yang mulia
Your Husband
Queen Aidyn
Patrathia, October 11, 1853
Yang mulia Ratu Aidyn Danvers the 6th
Yang mulia raja dalam keadaan baik. Mohon maaf jika saya yang harus membalas surat ini. Beberapa hari ini yang mulia raja amat sibuk. Tetapi saya memastikan kalau beliau sehat-sahat saja.
Yang mulia raja berpesan jangan terlalu memaksakan diri anda untuk belajar pedang, beliau amat khawatir. Beliau juga berpesan akan menulis sendiri surat untuk anda ketika ada waktu senggang.
Sekian.
Penasihat Kim Jongin.
Alderth, October 29, 1853
My dear husband, King Park Chanyeol
Yang mulia, apakah anda benar-benar sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk membalas surat saya? Penasihat Kim mengatakan anda akan menulis segera ketika memiliki waktu senggang. Namun hingga kini tidak satupun saya menerima kabar dari anda.
Saya sangat khawatir. Saya harap yang mulia dalam keadaan sehat. Maafkan saya yang terus mengirimi anda surat. Tetapi, saya hanya ingin mengetahui bagaimana kabar suami saya yang berada jauh disana. Saya amat merindukan anda yang mulia.
Saya harap anda akan segera membalas surat saya. Saya mencintai anda.
Your Husband
Queen Aidyn
Alderth, November 27, 1853
My Dear Husband, King Park Chanyeol
Meskipun surat ini akan menjadi surat tidak terbalas seperti lainnya, saya tetap bersikeras untuk menulis.
Selamat ulang tahun suamiku. Kuharap kau baik-baik saja disana. Kuharap, kau masih mencintaiku. Karena jujur saja, mengetahui kau menerima sendiri semua surat dariku dan enggan membalasnya membuat ragu menyeruak di hati.
Namun, aku sudah berjanji untuk percaya, dan itulah yang akan kulakukan. Bersenang-senanglah dihari ulang tahunmu rajaku. Segeralah kembali. Aku amat sangat merindukanmu.
Bahkan jika kau tidak memiliki waktu membalas surat ini, tidak apa. Setidaknya kau tahu, aku menunggu setiap detik hingga kembalinya dirimu ke Alderth.
Aku mencintaimu, Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
.
.
.
To Be Continued
Haloo! Chap 8 is up! sudah mulai masuk konflik ya, dan aku pengen jawab beberapa pertanyaan kalian. Sooooooo sorry, kalau aku akan membuat Baekhyun tersakiti disini. Believe me, aku juga gak tega tapi ilham yang kudapat seperti itu. Jadi aku harap kalian tetep enjoy baca ff ini bagaimanapun nanti kelanjutannya. i'll try my best to give u guys a happy ending.
Anyway, aku juga mau berterimakasih banget banget buat kalian yang udah mau baca, review, favorited dan follow ff pertamaku ini. Ff yang mungkin masih sungguh amatiran ehehe. Bener-bener gak nyangka bakal ada yang mau baca dan ngeluangin waktu untuk review. Thank you sooooooo much! jangan lupa review juga ya di chap ini.
I Love youu guyssss a loooooooottttt!
.
.
.
(see u on May 6th guys) XOXO
