"Never sure, will you catch me if I should fall?"

.

.

.

Happy Birthday, Byun Baekhyun!

.

.

Do Not Copy and Repost


Patrathia, December 5, 1853

Yang Mulia Ratu Aidyn Danvers the 6th

Bagaimana keadaan anda yang mulia? Sudah beberapa bulan berlalu, namun sang raja tampak belum memiliki waktu untuk membalas pesan anda. Saya lagi-lagi harus meminta maaf karena menjadi orang yang menulis surat untuk yang mulia.

Kabar yang mulia raja baik, hanya beliau sangat sibuk. Saya bahkan jarang bertemu beliau terlepas dari waktu kunjungan ke tambang. Yang mulia raja menginap di kediaman salah satu Lord kerajaan Patrathia dan saya tidak ikut serta. Namun setiap saya bertemu dengan beliau, beliau nampak baik-baik saja.

Jika segalanya berjalan sesuai rencana, kami akan kembali dalam 4 hari. Saya berharap yang mulia tetap dalam keadaan baik.

Sampai bertemu, yang mulia.

Hormat saya

Penasihat Kim Jongin


Alderth, December 12, 1853

Suasana istana hari itu berbeda dari biasanya. Sebuah kabar mengatakan, sang raja akan kembali. Semua pelayan istana sibuk membersihkan seluruh lantai dengan lebih teliti. Para pengawal mulai berbaris dan berjejer rapi untuk menyambut kehadiran sang junjungan. Begitupun dengan para pelayan dapur, yang sudah menyiapkan banyak hidangan lezat kesukaan sang raja. Berharap hidangan mereka akan sedikit mengurangi rasa lelah pimpinan Alderth itu setelah melalui perjalanan jauh.

Berbanding terbalik dengan suasana di bagian utama istana, ruangan merangkai terasa amat sunyi dan tenang. Sang ratu Alderth menjadi satu-satunya orang yang mengisi ruangan tersebut. Sepasang tangannya fokus merangkai bunga mawar merah dan baby breath yang akan ia berikan pada sang raja nanti. Baekhyun memilih mawar dengan kualitas paling baik dan segar, menatanya menjadi satu buket indah yang diikat bersama menggunakan pita berwarna merah.

Senyuman manis terkembang di wajah cantik pemilik tahta kedua Alderth itu. Jujur saja ia sangat merindukan sosok suami tingginya. Empat bulanterasa amat lambat bagi sang ratu Alderth. Ditambah lagi, surat-surat yang ia kirimkan tiada pernah mendapat balasan. Baekhyun merasa ragu, sesibuk itukah sang raja hingga tidak bisa membalas suratnya. Apakah sang raja tidak merindukan Baekhyun?

Berkali-kali firasat tidak enak menghampiri. Mimpi-mimpi buruk menghiasi tidur malamnya hampir setiap hari. Namun rasa cinta dan besarnya kepercayaan yang diberikan pada sang raja Alderth itu amat besar, hingga Baekhyun memutuskan untuk mengabaikan semua firasat yang ia alami.

Lelaki mungil itu bersyukur ada Jenderal Oh, Vincent, Kyungsoo, Ibu suri, Puteri Yoora, Irene dan pelayan-pelayan lain yang akan bersedia menemani serta menghibur dirinya. Mereka seolah memiliki caranya masing-masing. Dan akan selalu berhasil.

Seperti Jenderal Oh yang membuatnya menjadi ahli menggunakan pedang. Terhitung di latihan ke tigapuluh mereka, sang ratu sudah dapat memojokkan sang jenderal dan menjatuhkan pedang lawannya. Baekhyun amat senang mengetahui bahwa kemampuan pedangnya sudah jauh diatas rata-rata.

Lain dengan Jenderal Oh, Ibu suri akan seharian mengajak sang ratu merangkai bunga. Membuat puluhan buket indah yang akan diberikan secara gratis pada rakyat Alderth yang beruntung.

Semua hal itu memang membuat senyuman di wajah cantik sang ratu akan kembali merekah, namun tiada yang tahu didalam hatinya, sang ratu merasa amat sedih. Merindukan sosok seorang lelaki yang tidak dapat digantikan oleh kehadiran siapapun.

Serasa bermimpi, Baekhyun amat bahagia ketika kemarin Kyungsoo memberi tahunya bahwa sang raja sudah dalam perjalanan kembali ke Alderth dan akan tiba hari ini. Sang ratu memilih pakaian terbaiknya, menata rambutnya, memakai riasan wajah tipis. Membuatnya amat cantik hari itu. Namun satu hal yang lewat dari penglihatannya, adalah Kyungsoo yang tampak sedih ketika mengatakan kabar tersebut.

Sang ratu bahkan belum juga menyadari ada yang berbeda dengan wajah sang sahabat seharian tadi. Kyungsoo akan menatapnya dalam. Sesekali menggenggam tangan sang ratu dan memberikan usapan disana.

Bahkan, ketika waktunya sang raja telah tiba. Baekhyun tetap mengabaikan ekspresi sedih Kyungsoo yang membawa kabar itu kepadanya. Sang ratu Alderth nampak bahagia dan langsung berjalan cepat sembari membawa buket bunga buatannya. Mengabaikan Kyungsoo yang seperti ingin mengatakan sesuatu.

Sepasang kaki itu tidak berlari, karena seorang ratu tidak berlari. Baekhyun hanya bisa melangkah secepat yang ia bisa menuju bagian depan istana. Saking senangnya bahkan tidak bisa menangkap tatapan iba dari para pelayan serta pengawal yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Lelaki mungil itu hanya tidak sabar bertemu dengan sang suami yang sudah amat dia rindukan.

PLAKK

"KAU SUNGGUH KETERLALUAN PARK CHANYEOL!".

Suara menggelegar ibu suri membuat Baekhyun sedikit memelankan langkah kakinya. Jantungnya yang tadi berdetak karena bahagia kini berubah. Perasaan tidak enak dan gelisah itu kembali menekannya. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.

"BAGAIMANA KAU BISA MELAKUKAN ITU PADA MENANTU KU? BAGAIMANA KAU BISA MENGHAMILI WANITA MURAHAN INI DAN MEMBAWANYA KEMARI?! APA KAU SAKIT JIWA?".

DEG

Sesuatu serasa menghantam sang ratu. Membuat kakinya seolah tidak sanggup melangkah lebih jauh lagi. Ia hanya menunduk disana, terdiam, tidak berani melihat pemandangan dihadapannya. Sang ratu curiga apakah ini salah satu mimpi buruk lainnya yang ia alami? Apakah ia sedang tertidur saat ini? Baekhyun tidak percaya ini adalah realita. Pasti ini semua hanyalah bagian dari kekhawatiran berlebihan yang ia rasakan sehingga membuat dirinya bermimpi. Mimpi yang amat nyata hingga cubitan keras yang diberikan pada lengannya sendiri terasa sangat nyeri.

"bu… para pelayan sedang melihat".

"AKU TIDAK PEDULI. SAMPAI AKU MATI, ANAK DIKANDUNGAN WANITA ITU BUKAN CUCUKU! KAU DENGAR ITU?!".

Bentakan sang ibu suri kembali terdengar hingga menarik si mungil keluar dari belenggu lamunan panjangnya. Baekhyun terhenyak lalu mendongak secara otomatis. Disana, ia melihat sang raja. Wajah tampannya itu begitu bersinar. Tidak ada yang berubah sejak empat bulan mereka berpisah.

Ini nyata, semuanya nyata.

Hanya saja, sesuatu nampak tidak benar. Sesuatu itu membuat hati sang ratu berdenyut nyeri. Memancing air asin berkumpul di pelupuk mata.

Sang raja berdiri tegap, tangannya menggenggam jemari lain milik seorang wanita cantik. Yang ia ketahui pasti siapa. Puteri Subin. Orang yang pernah Baekhyun takutkan akan kembali merebut hati sang raja darinya.

Baekhyun kira, ia akan langsung berhadapan dengan wajah tampan itu, memeluknya dan berbagi ciuman penuh kerinduan. Namun sepertinya semua itu salah. Baekhyun harusnya tidak mengabaikan semua firasat buruk tersebut.

Ia tidak menyangka, hari itu akan tiba, dimana semua ketakutan menjadi nyata. Dimana semua mimpi buruk dan firasat yang ia abaikan itu benar terjadi.

"y…yang mulia", itu suara lirih Jongin, sebagai orang pertama disana yang menyadari kehadiran sang junjungan. Lelaki tan itu mengira, tiada yang akan mendengarnya. Sayangnya, ia salah besar. Ucapan lirih itu menarik atensi semua mata yang berada disana. Termasuk sang raja.

Baekhyun nampak terpaku ditempatnya berdiri. Matanya menatap lurus kearah sang raja. Perasaan sakit dan kecewa terpampang jelas di mata beningnya. Meskipun begitu, air mata tidak mengalir menuruni pipi mulus sang junjungan seperti perkiraan Jongin dan Kyungsoo. Sang ratu terlihat tegar. Namun siapapun disana bisa merasakan sakit hati itu menguar amat kuat, membuat semua orang ikut sesak karenanya.

"Baek…".

"selamat datang, yang mulia", ujarnya. Dinginnya kalimat itu amat menusuk, membuat siapapun bergidik, karena untuk pertama kalinya nada seperti itu terucap dari ratu mereka yang manis.

"baby"

Tiada pelukan, tiada langkah kaki semangat sang ratu yang menghambur kepelukan raja. Hanya ada suara sakit hati yang senada dengan jatuhnya buket bunga mawar ke lantai marmer mengkilap dibawah telapak kaki si lelaki mungil. Satu-satunya hal yang Baekhyun harap akan menelannya hidup-hidup dan membawanya pergi dari sana.

Tanpa ingin merespon panggilan sang suami, ratu Alderth itu berbalik. Menginjak buket bunga mawar indah yang ia buat. Menjadikannya tidak lagi berbentuk. Seperti hatinya.

"Baby! Tunggu", semuanya terjadi begitu cepat. Sang raja berlari dan meninggalkan Puteri Subin begitu saja. Secepat mungkin berusaha mengejar sang ratu yang entah berada dimana sekarang.

Keheningan melanda ruangan utama istana. Semua orang disana masih berusaha memproses yang baru saja terjadi. Hingga kepala pelayan Ratu muncul dengan terengah. Matanya bersibobok dengan sepasang manik gelap milik sang kekasih.

Lelaki mungil itu berusaha bertanya melalui isyarat mata, dan gelengan pelan menjadi jawaban yang diberikan oleh Jongin. Membuat tubuhnya merasa lemas secara mendadak.

Yang mulia ratu, tidak dapat menerima kabar itu dengan baik. Kyungsoo dan Jongin sudah dapat memprediksinya.

Sesungguhnya, Kyungsoo sudah terlebih dahulu mengetahui tentang raja dan puteri Subin yang kembali bersama. Namun sungguh ia tidak tega menghancurkan hati sang ratu. Sehingga berusaha menyembunyikan semuanya. Ia berharap sang raja sadar dan meninggalkan Puteri Subin untuk kembali ke Alderth. Tetapi, harapan Kyungsoo harus musnah ketika surat terakhir dari sang kekasih mengatakan, raja akan kembali, bersama wanita itu.

"Aku, akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika kau berani menyakiti Aidyn. Kau dengar itu wanita murahan?", peringatan yang sarat kebencian meluncur dari mulut ibu suri untuk terakhir kalinya, sebelum berbalik diikuti oleh Yoora bersama para palayan.

Kyungsoo dan Jongin memutuskan untuk beranjak tidak lama kemudian. Meninggalkan Subin sendirian di ruangan itu. Kepulan asap imajiner keluar dari kepalanya. Tidak menyangka mereka semua lebih membela seorang rakyat jelata dibandingkan bangsawan sepertinya.

Deritan pelan suara pintu yang terbuka memecah keheningan di kamar utama istana. Sosok mungil yang duduk membelakangi pintu nampak tak bergeming dan tetap pada posisinya. Sesekali, bahu sempit itu bergetar. Isakan tertahannya membuat hati si lelaki satunya seakan teriris. Semua ini salahnya, ia sudah terlanjur melakukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan sebagai seorang lelaki. Sang raja Alderth itu tidak memiliki pilihan lain.

"Baby", panggilnya.

Hening.

Terlalu hening hingga membuat sang raja terasa amat gugup. Ketakutan-ketakutan yang membayanginya selama empat bulan kemarin kini harus ia hadapi. Tidak ada lagi jalan kembali.

"sayang, jawab aku", tangan berototnya terulur untuk menyentuh bahu sempit sang suami. Berusaha membalikkan badan kurus itu untuk menghadap kearahnya. Apakah Baekhyun sekurus ini ketika ia pergi kemarin?

Kekuatan sang raja tentu dapat dengan mudah membalikkan badan lemah itu. Dibuat menatap kearahnya. Hanya saja, sepasang iris sipit itu masih enggan bertemu dengannya. Sang ratu memejam dan membiarkan aliran air mata menuruni pipi merah mulusnya. Baekhyun hancur, Chanyeol tahu itu. Ia sudah merusak janji yang dibuatnya sendiri kepada suami mungilnya ini. Sang raja tidak bisa berharap banyak, hanya jangan biarkan Baekhyun pergi darinya.

"apakah, karena aku tidak hamil sehingga kau melakukan semua ini?".

Lirih ucapan sang ratu seolah menusuk tepat di ulu hati sang raja. Menarik keluar seluruh perasaan bersalah yang mengisi hatinya selama empat bulan ini. Membiarkan hal itu menekannya. Chanyeol pantas mati karena kesalahannya. Sang raja sadar akan hal itu.

"sayang…"

"apakah kau sudah tidak mencintaiku? Itukah alasan semua suratku tidak pernah kau balas?".

Perlahan kelopak mata si mungil terbuka. Iris bening yang berkilauan karena air mata itu menatap tepat ke manik bulat sang raja. Semua perasaan kecewa, sedih, dan sakit hati yang sang ratu Alderth rasakan terpampang jelas disana.

"Sayang, maafkan aku… kumohon ampuni aku, ratuku". Kedua lutut itu bersimpuh. Meluruhkan seluruh jabatan, kekuasan, dan harga diri, Sang raja memohon ampun pada ratunya. Kedua tangan mungil itu ia genggam dengan erat. Kecupan sayang berkali-kali ia berikan di punggung tangan mulus itu, tetapi kekecewaan mengantam ketika si lelaki mungil menarik kasar kedua tangannya menjauh.

"ayo kita bercerai", ucap suara lembut itu pelan. Ekspresi datarnya jujur saja membuat sang raja Alderth merasa ketakutan.

"apa yang kau bicarakan. Aku tidak akan bercerai denganmu ratuku. Kumohon jangan berfikiran seperti itu".

"kau sudah memilikinya. Untuk apa aku disini?".

"kau adalah segalanya bagiku Baek. Kumohon jangan seperti ini"

"jika kau mengatakan itu empat bulan yang lalu, aku tentu akan mempercayainya Ed. Ayo kita bercerai".

"Byun Baekhyun!".

"jika kau benar mencintaiku, kau tidak akan sempat melihat orang lain ketika aku tidak ada. Kau tidak akan pernah terpikirkan untuk melakukan hal itu hingga membuatnya hamil…"

"hentikan! hentikan Baek… Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku, aku berjanji, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan berbuat adil pada kalian. Aku bersumpah", lagi kedua tangan itu berusaha menarik yang lebih mungil kedalam genggamannya.

"tidak…"

"aku bersumpah Baek…"

"anda tahukan yang mulia, jika seseorang sering bersumpah, itu akan menjadi hal yang mudah untuknya. Hanya bersumpah, tanpa kesungguhan didalamnya".

Untaian kalimat tajam itu membuat sang raja membisu. Ia sadar, sudah terlalu banyak yang dijanjikan pada sang ratu. Namun semua itu harus ia ingkari dengan membawa Subin ke Alderth.

"aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku sayang. Haruskah aku bersujud padamu?", ujar sang raja putus asa.

"saya tidak membutuhkan anda bersujud yang mulia, saya hanya membutuhkan bukti dari semua ucapan anda".

Pemilik tahta Alderth itu terdiam. Ucapan sang ratu seperti membunyikan bel kesadaran dalam otaknya. Manik kristal sang raja menatap ke sepasang lainnya, Berusaha menunjukkan ketulusannya melalui kontak mata itu. Perlahan namun pasti tangannya terulur, menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya.

Kecupan manis ia berikan ke seluruh wajah cantik sang ratu, kemudian berpindah ke lehernya. Fakta bahwa si mungil tidak memberikan perlawanan apapun membuat sang raja Alderth sedikit merasa tenang, dan dengan berani melanjutkan.

Kecupan-kecupan yang berawal manis itu berubah menjadi sesuatu yang lain ketika kemeja putih sang ratu terlepas dari tubuhnya dan melayang jatuh ke lantai. Diikuti dengan kemeja sang raja yang menambah tumpukan pakaian di lantai marmer tersebut.

Desahan nafas berat serta detak jarum jam menjadi pengiring kegiatan panas mereka. Dunia sang raja serasa melebur ketika kejantanannya berhasil menerobos masuk lubang surga yang amat ia damba. Menghunuskan benda tumpul itu dalam-dalam tanpa menyadari tetesan air mata yang mengalir menuruni pipi sang ratu. Menganggap isakan pelan yang sang ratu berikan sebagai desahan nikmat yang membuatnya semakin brutal melakukan kegiatannya.

Suara nyaring retakan hati sang ratu yang berupa teriakan bersamaan dengan pelepasan mereka terdengar. Dekapan erat penuh kehangatan diberikan oleh sang pimpinan Alderth pada suami mungilnya. Bersamaan mengatur nafas terengah mereka.

"aku mencintaimu ratuku. Aku akan berusaha adil. Kumohon, berikan satu kesempatan lagi padaku".

Anggukan kepala menjadi jawaban sang ratu Alderth tersebut. Kemudian memejamkan matanya untuk masuk kedalam alam mimpi. Berusahan kabur meskipun hanya sesaat dari realita hidup yang amat menyakitkan.

Suasana kamar sudah gelap ketika si ratu Alderth membuka matanya. Ia mengira dekapan hangat itu masih dirasakan oleh tubuh mungilnya. Tetapi nihil.

Dinginnya udara malam lah yang menyapa. Tempat tidur disampingnya kosong, sang raja tidak terlihat dimanapun. Perlahan, sang ratu membangkitkan tubuh mungilnya dan menapak pada lantai marmer dingin dibawahnya. Melangkah pelan untuk meraih sebuah jubah tidur berwarna ungu tua.

Kain sutera itu meluncur lembut melalui kulit mulus sang ratu menutupi tubuh mungil telanjangnya. Simpul asal menjadi satu-satunya pengaman agar pakaian itu tidak terlepas dari tubuhnya.

Setelah dirasa pantas, Baekhyun menapakkan kakinya keluar dari kamar. Menengok kanan kiri sebelum melangkah menjauh. Mencari keberadaan Chanyeol adalah tujuannya sekarang. Dan itulah yang ia lakukan. Kakinya ia bawa menuju ruangan kerja sang raja.

Namun, belum sempat ia tiba disana. Suara-suara dari ruangan rose chamber menarik perhatiannya. Sang ratu dengan berhati-hati berjalan mendekat dan sedikit mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Yang ia tahu, rose chamber dalam keadaan kosong. Siapa yang berada disana?

Sepasang mata kecil itu membelalak lebar melihat seorang wanita cantik yang mengenakan gaun tidur putih panjang sedang berdiri menghadap kaca. Dibelakangnya, tubuh kokoh sang raja yang hanya terbalut celana piyama tipis mendekap erat tubuh sang wanita. Dagu nya bersadar nyaman di pundak, dan kedua tangan kokohnya memberikan elusan di perut yang nampak mulai membuncit itu.

Mendadak, mata sang ratu terasa panas. Seperti sesuatu membakar kedua maniknya dan menghasilkan lelehan air asin yang entah sudah keberapa kali dalam hari itu lolos.

Tetapi, secara tiba-tiba pandangan ratu menggelap dan ia mendengar bisikan seseorang dibelakangnya.

"jangan melihat, yang mulia".

Itu adalah suara jenderal Oh, yang menutupi kedua mata sang ratu dengan telapak tangan besarnya. Berusaha menghalau pandangan sang ratu dari hal menyakitkan dihadapannya.

"Jenderal Oh…".

"jangan melihat sesuatu yang akan menyakiti anda, yang mulia", ucap sang Jenderal sebelum membalikkan badan sang ratu. Memegangi kedua pundak sempit itu sambil wajahnya tersenyum tipis.

"yang mulia, ingatlah ini. Jika suatu hari anda sudah tidak bisa menahan semuanya. Temui aku, katakan 'Jenderal Oh, ayo pergi', dan aku akan membawamu pergi dari sini", bisik sang jenderal.

Iris mata sang ratu menatap bingung pada lelaki dihadapannya. Memang benar, sejak sering berlatih pedang, hubungan mereka berdua menjadi dekat. Kecanggungan antara mereka seperti lenyap entah kemana.

"aku akan membawamu pergi. Luhan pasti akan senang bertemu denganmu", kekeh sang jenderal.

Lelaki mungil itu terdiam. Kemudian memutuskan untuk mengangguk. Perlahan menghapus air mata yang mengalir menuruni pipinya.

"sekarang beristirahatlah. Sudah malam, kau pasti lelah. Selamat malam yang mulia".

Setelah ucapan selamat malam tersampaikan, Jenderal Oh mengantarkan sang ratu hingga kedepan kamarnya lalu beranjak pergi ketika tubuh mungil itu sudah menghilang dibalik pintu.

Malam ini, seperti selama empat bulan terakhir, sang ratu kembali terbaring sendirian di tempat tidur luasnya. Memeluk dirinya sendiri untuk menghalau dinginnya malam yang menusuk.


Rissingshire, March 17, 1854

Tiga bulan berlalu seperti kedipan mata.

Tiga bulan yang penuh dengan rasa kecewa, sakit hati, dan air mata.

Tentunya bagi sang ratu Alderth yang merasakan bagaimana suami tingginya berubah menjadi orang asing yang tidak ia kenal. Di tiap malam sunyi yang ia lewati sang ratu terkadang akan bertanya pada langit bertabur bintang diatasnya, kemana perginya suami hangat dan sabar yang amat mencintainya tersebut? Apakah mungkin lelaki yang kembali ke Alderth itu adalah lelaki yang berbeda dengan dia yang melakukan kontak mata terakhir dengan sang ratu sebelum masuk kereta Sembilan bulan lalu?

Tiada lagi pelukan hangat di malam yang dingin. Tiada lagi ciuman manis penuh cinta yang ditutup dengan bisikan cinta romantis seperti dulu.

Singkatnya, Park Chanyeol telah berubah.

Setiap hari lelaki tinggi itu akan menghabiskan waktunya dengan Subin, yang semakin hari perutnya semakin membuncit besar. Subin menarik seluruh perhatian lelaki tinggi itu. Byun Baekhyun bukan lagi dunianya.

Tiga bulan terlewati dengan dingin. Teh bikinan sang ratu yang selalu menjadi favorit sang raja akan selalu terabaikan karena kehadiran cairan ungu yang merupakan wine bikinan Subin mendadak jadi kesukaan terbaru sang raja. Baekhyun akan merasa khawatir setiap hari dengan kesehatan suaminya karena harus menenggak minuman alcohol itu. Namun, lelaki mungil itu tidak bisa berbuat apapun ketika kalimat 'aku menyukai ini lebih dari teh. Sejak dahulu favoritku adalah wine Baek, bukan teh' meluncur dari bibir favorit sang ratu, Bak tamparan keras bahwa sang ratu seolah tidak tahu apa-apa mengenai suami tingginya. Ketika itu, sang ratu tidak dapat membendung air matanya. Sampai tidak menyadari senyuman sinis yang Subin berikan pada dirinya.

Seperti halnya teh buatan sang ratu yang terabaikan hingga dingin, begitulah nasib sang ratu Alderth setiap malam. Janji sang raja akan berbuat adil nyatanya menjadi satu dari janji-janji kosong yang diucapkan pemilik tahta Alderth tersebut. Sang ratu harus menghadapi dinginnya malam sendirian. Sang raja mengatakan bahwa setiap malam Subin akan merasa kesakitan dan gelisah jika Chanyeol tidak ada disisinya. Sebuah alasan tepat untuk sang raja terus bersama si wanita yang mengandung anak nya itu.

Jika orang mengatakan, seseorang tidak akan bisa berubah dalam sekejap, nyatanya waktu empat bulan seolah bisa membuat sang raja berubah menjadi sosok lain. Sosok yang amat berbeda. Jas Navy favorit sang raja mendadak bukan kesukaannya lagi ketika Subin menyiapkan jas merah terang beludru untuknya. Lagi-lagi meninggalkan pakaian yang sudah disiapkan sang ratu begitu saja. Terabaikan, seperti sang ratu Alderth tersebut.

Tidak ada yang bisa ia lakukan memang, selain menerima semua perlakuan sang raja. Menelan pahitnya kenyataan yang tidak pernah terbayang dipikirannya. Baekhyun tidak tahu kemana perginya perasaan cinta, sapaan hangat, senyuman manis dan seluruh kebahagiaan itu. Semuanya menghilang begitu saja, meninggalkan kenyataan getir bahwa sang raja telah mengambil kembali hatinya dari Baekhyun dan memberikan pada orang lain.

12 minggu berlalu dengan sang ratu menjalankan tugasnya sebagai ratu Alderth, bukan sebagai seorang suami. Ia berusaha sebisa mungkin menjalani setiap pertemuan dan agenda yang sudah disiapkan. Sebisa mungkin tersenyum manis terhadap rakyatnya, menutupi fakta bahwa luka dihatinya masih menganga lebar dan bernanah. Tidak terobati.

Semuanya amat berat, hingga membuat kesehatannya menurun. Tentu semua orang menyadari itu, bagaimana wajah cerah dan ceria sang ratu berubah pucat. Senyuman di bibir merah itu berubah menjadi senyuman hampa yang tidak sampai ke mata beningnya. Jika ia sedang sendiri, sang ratu tidak akan berfikir dua kali untuk berpegangan pada tembok dan berjalan tertatih. Menahan berat tubuhnya yang seperti tidak bisa ia tompang lagi.

Tentu saja, semua orang menyadari bagaimana pipi berisi itu kini menjadi lebih tirus, menonjolkan tulang pipinya. Semua orang, kecuali sang raja yang seolah tidak peduli.

Sekeras apapun sang ratu Alderth berpura-pura, semua orang akan tetap menyadari perubahan yang terjadi padanya. Karena jujur, sang lelaki mungil itu tidak pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan.

Seperti hari-hari lainnya, sang ratu akan sibuk menyelesaikan agenda hariannya. Hari ini, sang ratu memutuskan untuk mampir ke toko Yeri. Menikmati manisnya kue yang ia harap dapat mengobati pahitnya kenyataan yang harus ia telan setiap hari.

Namun ada yang berbeda, sang ratu seolah tidak nafsu melihat benda merah muda manis segar bernama Strawberry yang menjadi favoritnya sejak 25 tahun eksistensi dirinya. Ia akan merasa mual ketika mencium apapun yang berbau strawberry. Preferensi nya berubah menjadi rasa cokelat manis yang sebelumnya tidak terlalu ia sukai.

Sang ratu bahkan meminta Kyungsoo merubah aroma kamarnya menjadi aroma kokoa. Meminta cokelat hangat di sore hari daripada susu strawberry kesukaannya. Baekhyun menolak kue strawberry lezat buatan Yeri dan memilih kue yang penuh cokelat. Terkadang sang ratu akan mengernyit sambil tetap memakannya, menghalau perasaan tidak nyaman yang membuat lidahnya berteriak protes.

Yeri awalnya bingung ketika sang ratu menolak mentah-mentah kue strawberry buatannya dan meminta yang cokelat. Bukan hanya kue cokelat biasa, melainkan yang masih hangat dan baru matang. Alasan kenapa kini sang ratu ditinggalkan berdua dengan Vincent di kedai Yeri. Sedangkan si pemilik kedai sibuk membuat kue dibelakang sana dengan sang suami.

Kyungsoo dan Daniel tidak terlihat karena sang ratu meminta mereka berkeliling untuk membeli beberapa hal yang sang ratu inginkan secara tiba-tiba. Kyungsoo bahkan sempat mengira sang ratu sedang hamil, namun pernyataan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Baekhyun.

"ma, kenapa bibi Yeli lama sekali?", ucap Vincent. Memecahkan rangkaian lamunan yang sedari tadi menyibukkan sang ratu.

"hm? Mungkin sebentar lagi sayang".

"ma, mama telihat pucat". Perlahan tangan mungil Vincent terulur untuk menyentuh pipi sang mama yang terasa amat dingin di kulitnya. Sedari tadi, pengeran kecil itu terus mengawasi wajah cantik mamanya tanpa disadari oleh si lelaki mungil.

"mama baik-baik saja Vincent".

"mama bohong".

Senyuman manis Baekhyun berikan pada anak lelaki kesayangannya, kemudian menjawil hidung mungil itu. Semakin lama, Vincent semakin mirip dengan Baekhyun. Perbedaan mereka hanya terletak pada tulang-tulang Vincent yang sepertinya akan menjadi lebih tegas daripada sang ratu.

"apakah mama melindukan papa?", lirih anak kecil itu.

Tercekat adalah respon otomatis sang ratu. Lidahnya mendadak kelu, tidak tahu harus berkata apa.

"apakah papa tidak menyayangi kita lagi ma?".

"kenapa papa tidak pelnah menyapa dan menggendong Vincent lagi? Apakah papa benci Vincent?", lanjutnya.

"Vincent…"

"Vincent melindukan papa".

Namun hening kembali menyapa. Membuat Vincent mengguncang pelan lengan sang mama. Paras rupawan itu mengerut khawatir. Bibir mungilnya terus memanggil sang mama bagaikan mengucap mantra.

Tetapi, Ucapan terakhir anak itu terdengar samar di telinga sang ratu, karena mendadak pandangannya mengabur dan kepalanya berputar. Panggilan panik Vincent semakin lama tidak lagi terdengar. Rasanya seperti Baekhyun ditarik masuk kedasar sungai, kedalam kegelapan yang mendadak membelenggunya.

Sepasang iris sipit itu kembali terbuka sekitar dua jam kemudian. Berusaha beradaptasi dengan suasana sekitar yang amat familiar. Benar, ia sudah berada di kamarnya. Seingat sang ratu, tadi ia masih berada di kedai kue milik Yeri sebelum kegelapan menjemput. Pastilah Kyungsoo dan Daniel yang segera membawanya kembali.

"Yang mulia, anda sudah sadar?", ujar suara lembut itu. Membuat sang ratu menoleh dan mendapat lelaki muda tampan yang tersenyum kearahnya. Menampilkan sebuah cekungan manis di pipi sang pemilik.

"Tabib Zhang", lirih sang ratu sebelum dengan perlahan berusaha mendudukkan tubuhnya. Namun sayangnya, tangan Kyungsoo lebih sigap sehingga ia langsung kembali terbaring nyaman diatas Kasur empuk itu.

"jangan banyak bergerak yang mulia, anda sebaiknya istirahat".

"apa yang terjadi, tabib Zhang? Kyungsoo?".

Senyuman kembali timbul di kedua wajah itu. Senyuman yang amat manis, hingga membuat sang ratu mendadak gugup.

"Selamat yang mulia, anda hamil. Usia kandungan anda sudah menginjak Sembilan minggu".

Rentetan kalimat itu membuat sang ratu terdiam sesaat. Seperti berusaha mencernanya dengan baik dan memutuskan apakah ini mimpi atau realita.

"yang mulia, anda hamil. Yatuhan saya sangat senang! Selamat yang mulia!", pekik Kyungsoo. Berkat pekikan tersebut, Baekhyun akhirnya sadar, bahwa ini nyata.

Lelehan air bening kemudian muncul, membentuk aliran sungai kecil di pipi sang ratu. Ia sangat bahagia. Semua penantian selama hampir empat tahun ini seolah terbayar dengan layak. Ia mengandung.

"Yang mulia raja?", tanya ratu Alderth itu pelan.

"oh, yang mulia raja sedang ada pertemuan dengan para lord. Namun tabib Zhang sudah menuliskan surat secara khusus untuk beliau. Saya sudah meletakkannya di meja kerja yang mulia raja", ujar Kyungsoo yang dibarengi anggukan setuju dari tabib Zhang.

"yang mulia, saya berdoa agar bayi ini menjadi jawaban dan solusi dari masalah pelik yang menjerat anda. Sekali lagi, selamat yang mulia. Jika sesuatu terjadi, jangan segan untuk memberitahu saya", ucap sang tabib dengan lembut.

"tabib Zhang, Kyungsoo, bisakah kita merahasiakan ini? Setidaknya hingga aku berbicara berdua dengan yang mulia raja?".

Kedua lelaki yang tingginya hampir sama tersebut saling menatap dengan bingung. Sejujurnya bingung kenapa sang ratu memilih untuk merahasiakan hal bahagia ini dari semua orang. Namun, mereka percaya pada sang junjungan. Amat percaya hingga langsung mengangguk tanpa mempertanyakan tujuan sang ratu.

Gebrakan pintu yang ditutup menggema memenuhi ruang kerja mewah milik sang raja Alderth. Sepasang kaki jenjang terbalut gaun berwarna orange panjang melangkah mendekat ke meja.

Beberapa menit lalu, wanita tersebut melihat kepala pelayan pribadi ratu masuk membawa sebuah surat. Perasaan sang wanita mengatakan sesuatu yang buruk terjadi dan ia harus memastikan segera sebelum yang raja tahu.

Sepasang mata kucing itu bergerak-gerak cepat menelusuri meja sang raja, dan kemudian senyuman puas tersungging di bibirnya yang dihiasi pewarna merah. Surat beramplop putih polos itu sudah berada di genggamannya, dan tanpa menunggu ia membuka kasar amplop tersebut.

Iris matanya bergerak kekanan kekiri membaca apa yang ada didalam surat itu. Decihan kesal kemudian terdengar.

Sang ratu telah hamil. Ia bahkan membaca dua kali surat resmi yang ditulis oleh tabib kerajaan untuk sang raja untuk memastikan.

Dia tidak menyangka sang ratu bisa hamil, ia mengira bahwa Baekhyun bukanlah carrier dan Chanyeol terlalu bodoh untuk mempercayai sang ratu. Subin tahu, posisinya terancam. Ia tidak akan bisa menjadi ratu jika raja mengetahui Baekhyun hamil. Ini akan menjadi bencana.

Sehingga, dengan cepat wanita itu melakukan apa yang langsung terlintas diotaknya. Menyobek surat tersebut menjadi potongan kecil sebelum melemparkannya kedalam perapian. Senyum licik kembali menghiasi wajah itu. Puas karena sepertinya, dewi fortuna masih ada dipihaknya.

"kau tidak akan bisa menang melawanku, Byun", desisnya.


Etuviel Palace, March 18, 1853

"kubilang raja sedang tidur, bagian mana yang kau tidak paham dari kata-kataku", desis wanita itu pada lelaki mungil dihadapannya.

"Chanyeol tidak pernah tidur di ruangan kerjanya. Sekarang kumohon biarkan aku masuk", sang ratu Alderth itu bersikeras sembari mendorong pelan tubuh wanita dihadapannya.

Namun, sepertinya tenaga wanita itu amat besar dibanding Baekhyun yang sedang tidak enak badan, sehingga ketika ia balik mendorong Baekhyun dengan kuat, tubuh ratu Alderth itu harus terhuyung mundur beberapa langkah.

"apa yang kau tahu mengenai Chanyeol? Kau hanya mengenalnya sebentar. Dan jika kau penasaran, Chanyeol sudah membaca suratmu. Ia menitipkan salam kepadamu dan ucapan selamat atas kehamilanmu, yang mulia. Namun sayangnya ia sangat lelah dan tertidur. Chanyeol berpesan agar tidak diganggu oleh siapapun selain aku, jadi kau bisa pergi sekarang".

"benarkah?"

"apa?!"

"benarkah Chanyeol mengatakan itu?"

"tentu, apa untungnya aku berbohong?".

Sang ratu Alderth terdiam sebentar, mencoba mencerna informasi yang baru didapatnya.

"jika kau sudah selesai, aku harus beristirahat sekarang. Jadi pergilah", ujar wanita itu lagi sebelum membanting pintu ruangan kerja Chanyeol dengan keras. Membuat sang ratu melonjak kaget.

Apakah sang raja sudah tidak perduli lagi padanya?

"Yang mulia".

Perlahan Baekhyun menoleh untuk merespon panggilan tersebut, dan mendapati Irene berdiri dibelakangnya sembari tersenyum.

"anda seharusnya tidak berjalan-jalan dahulu. Kondisi anda masih lemah, hamba akan membantu anda kembali ya yang mulia? Lagipula, hamba baru saja membuatkan anda kue cokelat favorit anda atau mungkin favorit pangeran kecil?", kikik Irene, yang seolah menular dan membuat Baekhyun ikut tersenyum.

"baiklah, show me the way".


Etuviel Palace, May 4, 1853

Suasana hening ruang makan mewah di sayap timur membuat semua yang berada disana terasa nyaman. Sesekali sang ibu suri akan menaruh beberapa lauk di piring sang ratu Alderth. Menimbulkan senyuman manis di wajah cantik itu.

Sudah beberapa minggu berlalu, dan semuanya tidak berubah seperti yang sang ratu harapkan. Chanyeol masih menjadi sosok dingin yang sama. Masih tidak menatapnya, dan hanya tersenyum tipis ketika mereka berpapasan. Seolah ia tidak peduli dengan kehamilan Baekhyun.

Semakin hari, bersamaan dengan perutnya yang sedikit membuncit, Baekhyun sadar, bahwa Chanyeol tidak lagi mencintainya dan menginginkankan kehadirannya.

Perubahan drastis sang raja itu nyatanya tidak hanya dirasakan oleh Baekhyun. Ibu suri dan puteri Yoora sering bercerita bagaimana lelaki tinggi itu berubah menjadi sosok yang amat dingin bahkan kepada keluarga kandungnya. Mengabaikan mereka seolah kehadiran mereka tidak ada artinya. Ratusan makan pagi bersama yang selalu mereka lakukan sudah dilewatkan oleh sang raja yang lebih memilih menghabiskan paginya dengan Subin.

Namun ada sesuatu yang berbeda hari itu, ketika tiba-tiba Sunny mengumumkan kehadiran sang raja. Membuat mereka membelalak kaget kemudian berdiri untuk menyambut pimpinan Alderth tersebut.

Langkah kaki tegap itu terdengar menggema memasuki ruangan, jika mereka mengira senyuman akan tercetak di wajah tampan itu, sepertinya salah. Karena aura kemarahan seolah menguar dari sana. Mata tajamnya mengunci si lelaki mungil yang masih berstatus suaminya tersebut.

"katakan Byun, apa maksudmu menyebarkan rumor bahwa anak dikandungan Subin bukanlah anakku?", ucap sang raja Alderth itu tanpa basa-basi.

Wajah cantik berkerut bingung. Tidak memahami maksud sang raja yang tiba-tiba berkata seperti itu kepadanya.

"tidak usah berpura-pura polos seperti itu! Aku adalah orang yang melakukan itu kepada subin berkali-kali hingga dia hamil seperti ini! Aku adalah ayahnya, jadi berhentilah sekarang. Jika kau mengira itu akan menarik simpatiku, kau salah besar".

"Park Chanyeol, hentikan", desis sang ibu suri.

"diamlah bu! Ini urusanku dengan Baekhyun!", bentak Chanyeol, membuat semua yang ada disana menjengit kaget.

"Yeol, aku tidak pernah mengatakan itu. Bahkan aku tidak pernah berfikiran seperti itu tehadap Subin", lirih Baekhyun. Berusaha sebisa mungkin menahan air matanya. '

"sudahlah Byun. Aku sadar selama ini aku telah tertipu dengan sikap bak malaikatmu. Berhentilah Byun. Jika kau tidak tahan bertahan disisiku, kau boleh pergi dari istana ini dan lepaskan mahkotamu", ucap Chanyeol.

Rentetan kata itu terasa amat menusuk. Hingga sang ratu tidak bisa menahan air matanya lagi. Ratu Alderth itu terisak pelan bersamaan dengan sang raja yang berbalik keluar begitu saja.

Jenderal Oh yang berada disana mengepalkan tangannya, muak melihat perlakuan sang sahabat terhadap suami mungilnya. Bagaimanapun, sang jenderal juga menjadi salah satu orang yang merasakan perubahan drastis dari raja Alderth tersebut.

Chanyeol seperti membuang mereka semua dan menyimpan Subin sebagai gantinya.

Isakan pelan sang ratu terdengar amat menyedihkan di telinga mereka semua. Bahkan ibu suri seolah tertular dan ikut menangis sembari memeluk menantu kesayangannya itu.

"wanita ular itu, aku akan membunuhnya!", teriak Yoora keras. Tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya.

Chanyeol, sudah keterlaluan.

Kejadian tadi pagi agaknya memberikan dampak yang amat besar bagi sang ratu. Seharian, lelaki mungil itu terlihat murung. Binar-binar cahaya yang biasanya menyelimuti tubuh mungil tersebut seolah redup, tergantikan dengan awan mendung yang amat tebal.

Dinginnya hembusan angin seolah tidak memberikan efek pada tubuh mungilnya hingga ia bersikeras duduk di taman Wonderbush sendirian. Beberapa kali Kyungsoo berusaha menghiburnya, namun semua itu seolah tidak ada artinya, karena sang ratu tetap terlihat sangat menyedihkan.

Hampir dua jam sudah ia berada disana, telapak tangannya mulai dingin. Namun ia tidak peduli. Rasa sakit di hatinya mengalahkan semua reaksi lain yang dirasakan oleh tubuh sang ratu yang sebenarnya tidak dalam keadaan sehat.

Apakah ia melakukan sesuatu yang salah pada sang raja? Tatapan kebencian itu terasa amat nyata dan menusuk. Pertama kalinya Chanyeol melihatnya seperti itu. Apa yang sudah ia lakukan sehingga pantas mendapatkan kebencian dari lelaki yang ia cintai?

Baekhyun berusaha, berusaha sekuat tenaga menahan semua sakit hati yang ia rasakan. Berharap sang raja akan berubah kembali menjadi lelaki yang amat menyayanginya seperti dulu. Tetapi dewa tampaknya tidak berada di pihaknya. Semakin hari, hubungannya dengan Chanyeol semakin memburuk. Seolah ada lubang besar menganga yang memisahkan mereka. Menjadi amat jauh hingga tidak dapat melihat dan merasakan satu sama lain.

Sang ratu tidak habis pikir, bagaimana bisa semudah itu sang raja membuangnya. Menyuruhnya pergi dan melepaskan mahkota. Semudah itukah Chanyeol melupakan Baekhyun? Semudah ketika ia jatuh cinta pada lelaki mungil itu dulu?

"ehm, bolehkah saya bergabung dengan anda, yang mulia?".

Adalah suara Oswald yang sedang tersenyum lebar kearah sang ratu. Seolah tidak peduli dengan ekspresi murung yang sedari tadi menghiasi parah indah itu.

Baekhyun hanya mengangguk namun terus terdiam, mengabaikan kehadiran lelaki tua itu.

"sungguh melelahkan hari ini. Sang raja mengadakan pertemuan mendadak untuk mengatakan sesuatu. Tidak menyangka itu adalah isu yang menggemparkan para lord".

Nama sang raja tampaknya berhasil membuat Baekhyun mengalihkan fokusnya dan beralih mendengarkan ocehan pak tua tersebut. Merasa penasaran.

"aku tidak menyangka yang mulia mengajukan Puteri Subin untuk melakukan prosesi Alyssum of The Throne, apakah ini berarti anda akan turun tahta? Kenapa yang mulia? Bukankah anda sedang hamil?", tanya lelaki tua itu. Berusaha sebisa mungkin menyembunyikan nada mengejeknya.

"maksud anda lord Oswald?".

"mohon maaf, yang mulia raja sendiri yang memberi tahu saya bahwa anda hamil. Namun beliau mengatakan tetap akan melakukan prosesi Alyssum of The Throne untuk puteri Subin. Agar keturunan mereka dapat duduk di tahta… yang mulia! Yang mulia tunggu!".

Baekhyun beranjak pergi bahkan sebelum pak tua itu sempat menyelesaikan ucapannya, sehingga tidak bisa melihat bagaimana senyuman licik itu terkembang di wajah keriputnya.


Alderth, May 6, 1854

Bunyi dentingan piano yang berasal dari ruangan musik memenuhi sayap barat istana Etuviel. Chanyeol yang baru saja kembali dari kegiatannya berkuda bersama Sunbin memelankan langkahnya untuk melihat siapa yang berada dibalik grand piano hitam tersebut.

Perlahan ia mengintip, dan mendapati sosok mungil lelaki yang berstatus suaminya itu duduk disana. Jemari-jemari lentiknya tampak dengan mahir menari diatas tuts piano, menghasilkan melodi indah yang enak didengar.

Agaknya permainan piano itu membuat sang raja seolah tidak dapat bergerak dari tempatnya berdiri. Ia mematung disana, membiarkan alunan melodi itu memenuhi dirinya. Menghanyutkannya.

"high in the sky we can see the whole world down below, we're walking the tightrope. Never sure will you catch me, if I ever should fall?".

Hingga suara nyanyian lirih itu membuatnya tersadar lalu membuka mata. Suara sang ratu terdengar sedih. Seperti menahan rasa sakit yang amat menekan. Membuat sang raja semakin terpaku dan tidak sadar bahwa permainan piano itu telah usai.

Tanpa sadar, kedua pasang iris raja dan ratu Alderth tersebut bertemu. Sepasang iris terlihat kaget, namun berubah sedih. Sedangkan iris lainnya, entahlah tidak ada yang bisa menerjemahkan apa maksud tatapan sang raja Alderth itu.

Sesuatu di hatinya berbisik, menyuruhnya berjalan mendekati sang ratu. Namun sesuatu hal lain yang lebih kuat muncul, melarangnya mendekat. Mengembalikan kesadaran penuh dirinya atas apa yang sudah dilakukan sang ratu pada Sunbin dan calon bayinya.

Perasaan yang tadi sempat membuatnya hanyut hilang begitu saja, membuat sepasang kaki panjang itu berbalik pergi. Meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun.

Meninggalkan sosok sang ratu bersama kepingan dirinya yang sudah hancur, karena sang suami bahkan tidak mengucapkan ulang tahun kepadanya.

Biasanya, di pagi hari sebelum pegelaran besar acara ulang tahun sang ratu, Ibu Suri, puteri Yoora, Chanyeol, Kyungsoo dan lainnya akan terlebih dahulu merayakan hari special itu secara tertutup. Sang raja akan menjadi yang paling semangat memberikan ucapan itu dibarengi dengan ciuman serta pelukan hangat.

Namun pagi itu, tidak ada sosok Chanyeol diantara mereka. Sang ratu berusaha tetap berfikir positif bahwa mungkin sang raja akan terlambat hadir. Tetapi, ketika Jongin mengatakan bahwa sang raja memutuskan untuk berkuda bersama Subin, luruh sudah semua kepercayaan yang Baekhyun pegang dengan kuat selama ini.

Bahkan ketika baru saja mereka bertatap muka, sang raja tidak memiliki sedikitpun keinginan memberi selamat atas hari special Baekhyun.

Detikan jarum jam ke 40 muncul bersamaan dengan sesuatu yang menyeruak didalam hati sang ratu. Sesuatu yang berusaha ia tahan dan abaikan selama ini. Sebuah keinginan pergi yang ia abaikan, demi sang raja.

Chanyeol adalah alasan Baekhyun datang ke Rissingshire, melepaskan mimpinya, mempertaruhkan semua yang ia miliki, melewati masa-masa sulit demi berada di posisinya sekarang. Namun kini, Chanyeol sudah berbalik pergi dan tidak membutuhkannya. Baekhyun sudah tidak memiliki alasan apapun untuk tinggal.

Seolah berjalan dengan sendirinya, kaki Baekhyun melangkah tanpa ia sadari. Sesekali tangannya mengelus perut yang sudah mulai membuncit itu. Baekhyun tidak sadar kemana kaki itu melangkah, hanya sadar ketika ia sudah berada di ruangan Sehun. Berdiri dihadapan lelaki tampan yang kini menatapnya bingung.

"Jenderal Oh, ayo pergi", lirihnya.

Seketika mata tajam milik sang jenderal membelalak kaget.

Tiga jam sebelum acara besar-besaran itu dilaksanakan, sang pemeran utama di hari itu malah berada di kendang para kuda yang sangat sepi. Hanya dirinya dan Sehun yang berada disana. Baekhyun mengatakan pada Kyungsoo dia ingin sendiri sebelum pesta dilaksanakan, sehingga si kepala pelayan tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan sang ratu sendiri setelah riasan wajah dan pakaian sang ratu sudah terpasang.

Ketika Baekhyun merasa Kyungsoo sudah tidak disana, dengan cepat ratu Alderth itu melepaskan seluruh pakaiannya. Mengganti dengan pakaian usang yang dulu ia bawa ketika pertama kali tiba di Rissingshire. Mahkota berkilauannya sudah tergeletak di meja, beserta cincin pernikahannya dengan sang raja. Dibawah kedua benda sakral itu, secarik surat berteriak untuk segera dibaca.

Sang ratu mengenakan jubah bludru berwarna zamrud agar tidak menarik perhatian. Kupluk jubah menutupi sebagian besar wajahnya.

Sebelum tubuh mungil itu melompat turun dari balkon, wajah cantiknya menoleh untuk terakhir kali. Menyimpan semua itu didalam hati dan kenangannya. Semua yang pernah terjadi disana dan bersama siapa ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar tersebut.

Lelehan air mata dengan kasar ia enyahkan dari wajahnya, kemudian tubuh mungilnya melompat lincah ke bawah dan berjalan cepat menuju kandang kuda. Berusaha sebisa mungkin tidak menarik perhatian.

Dan disinilah ia berada. Menanti jenderal Oh yang sedang mempersiapkan kuda hitamnya dan kuda cokelat lain untuk sang ratu. Tentu saja Baekhyun tidak membawa Jasmine, karena kuda putih cantic itu adalah milik Subin sekarang.

Namun, tanpa ia kira, sebuah sundulan pelan ia rasakan di lengan kirinya. Membuat sang ratu menoleh. Disana, Jasmine menatap sedih kearahnya. Ringkikan pelan terdengae sembari kuda putih itu menarik-narik tubuhnya agar ikatannya dilepas.

"hey Jasmine tenanglah", bisik sang ratu sembari memberikan usapan di surai Jasmine.

Bukannya tenang, sang kuda malah semakin memberontak. Terus berusaha menarik tubuhnya sekuat tenaga. Seolah tidak ingin berpisah dengan sang ratu.

"kurasa, Jasmine harus ikut. Dia menolak bertuan pada Subin. Dimatanya, kau adalah ratunya, satu-satunya yang berhak", Ucap Jenderal Oh, yang kini sudah berada disamping Baekhyun.

"tetapi, yang lain akan curiga".

"ada aku, mereka akan percaya padaku", kekeh sang Jenderal, sebelum membuka pintu kandang Jasmine dan melepaskan kuda putih tersebut dari kungkungan tali yang menjeratnya.

Mereka bergerak dengan cepat, namun sepelan mungkin. Agar tidak ada yang mendengar. Semua pelayan dan pengawal sedang terfokus pada acara sang ratu yang akan digelar sebentar lagi. Membuat ini menjadi momen yang tepat untuk mereka.

"Jenderal Oh, apakah kau yakin akan melepaskan jabatanmu demi membantuku? Aku tidak bisa membuatmu kehilangan segalanya".

"sejak saya melihat anda, saya sudah memutuskan akan melindungi anda dan menjadikan anda pimpinan saya yang sebenarnya. Meletakkan kesetiaan saya kepada anda daripada sang raja. Saya akan mengikuti anda kemanapun, yang mulia", ucap Sehun, tubuh gagahnya membungkuk. Mungkin untuk yang terakhir kali. Karena, ketika mereka melangkah pergi dari Alderth, Baekhyun bukanlah seorang ratu lagi.

Anggukan samar menjadi jawaban sang ratu, sebelum ia dengan perlahan menarik tali kekang Jasmine untuk membawanya keluar. Namun, pergerakannya untuk naik ke punggung Jasmine harus terhenti ketika suara seorang anak kecil masuk ke indera pendengar sang ratu.

"mama, mama akan kemana?", itu adalah suara Vincent.

Sebisa mungkin Baekhyun menjaga air mukanya setenang yang ia mampu. Berusaha agar Vincent tidak curiga atas kepergiannya.

Ketika dirasa sudah siap, Baekhyun berbalik dan mendekati tubuh mungil itu. Kemudian berjongkok dan membawa anak itu kedalam pelukannya.

"mama hanya akan pergi sebentar dengan paman Sehun. Vincent kembalilah kedalam ya?".

"bolehkan aku ikut ma?", ucap anak itu. Matanya terlihat penasaran.

"mama hanya akan pergi sebentar, setelah itu kita akan bertemu lagi ya?", ucap Baekhyun lembut. Berusaha menahan kesedihan yang menyeruak ke permukaan begitu saja.

"kenapa Vincent tidak boleh ikut?".

"karena… karena Vincent harus disini menemani papa", usapan lembut sang ratu berikan pada putera mungilnya. Menatap wajah tampan menggemaskan itu untuk terakhir kali. Mengingat semuanya dengan jelas.

"Vincent tidak mau! Vincent mau dengan mama!".

"dengarkan mama, mama hanya pergi berjalan-jalan sebentar. Tidak akan lama, Vincent harus jadi anak baik dan kembali masuk kedalam ya? Tunggulah mama bersama paman Kyungsoo".

Kedua tangan kecil Baekhyun kini menangkup sepasang pipi gembul milik Vincent. Mata hazelnya menyelami manik safir yang selalu menjadi favoritnya tersebut.

"mama janji?".

Sang ratu terdiam beberapa saat, berusaha menahan gejolak perasaannya. Sebelum akhirnya mengangguk dan mencium kening anaknya lama. Menyalurkan semua perasaan yang ia miliki.

"mama janji. Mama sangat menyayangi Vincent, Vincent harus berjanji akan menjaga papa, dan menjadi anak pintar ya?".

Sesungguhnya anak lelaki itu tidak memahami kalimat perpisahan yang sang mama ucapkan. Di fikirannya, sang mama hanya akan pergi sebentar, dan ia harus menjadi anak baik. Seperti biasanya ketika Baekhyun pergi bersama paman Sehun untuk mengunjungi kota.

"Vincent janji ma!", kikik anak itu.

Baekhyun mengangguk, lalu kembali merengkuh tubuh mungil itu kepelukannya. Sebelum dengan pelan menyuruh pangeran kecil itu kembali masuk kedalam.

Kepala sang ratu tertunduk dalam, menahan semua kesedihan itu pada tempatnya. Menyimpan perasaan menyakitkan sebuah perpisahan di tempat dimana tidak bisa lagi terlepas dengan mudah. Sejujurnya ia lega tidak harus melakukan ini dengan Kyungsoo, ibu suri, Puteri Yoora dan terutama Chanyeol. Karena itu akan sangat berat bagi sang ratu.

"anda siap, yang mulia?".

"ya, ayo kita pergi".

.

.

.

Derap langkah kuda yang berlari dengan cepat menggema di jalanan sepi yang dikelilingi pepohonan besar sehingga membuatnya sedikit tertutup. Untuk terakhir kali, sang ratu menoleh. Menatap kearah istana yang semakin lama terlihat semakin kecil. Kelebatan memori manis memenuhi kepala indahnya. Membuatnya tersenyum sedih.

'selamat tinggal, yang mulia', bisiknya pelan. Sangat pelan hingga untaian kata itu seolah melebur bersama angin yang berhembus.

Tidak ia sadari, hembusan angin yang mendengar bisikannya, membawa patahan kalimat sedih itu masuk kedalam istana. Membuat sesosok lelaki tinggi yang duduk di kursi tahta mewahnya langsung berjengit kaget.

Ia merasa mendengar suara sang ratu berbisik kepadanya, namun kursi tahta disebelahnya tidak berpenghuni. Raja Alderth itu mengesampingkan perasaannya, menganggapnya angin lalu. Seperti perlakuannya pada sang ratu beberapa bulan terakhir ini.

"YANG MULIA RATU MENGHILANG! YATUHAN CEPAT KALIAN CARI BELIAU", teriakan Kyungsoo terdengar bersamaan dengan kehadirannya di Velvet Main hall. Membuat semua orang disana berbalik kaget.

"apa maksudmu pelayan Do?", tanya Lord Roland yang kebetulan berada didekat si lelaki mungil itu. Wajah tampannya nampak terkejut.

"YANG MULIA RATU TIDAK ADA DIKAMARNYA DAN TIDAK ADA DIMANA-MANA. PAKAIAN PESTANYA, MAHKOTA, SERTA CINCIN PERNIKAHANNYA TERGELETAK BEGITU SAJA".

Teriakan Kyungsoo seakan menyadarkan sang raja secara mendadak. Membuat pimpinan Alderth itu langsung berlari keluar dari hall menuju kamar sang ratu. Atau kamar mereka dulunya. Mengabaikan teriakan Subin yang terdengar jelas ditelinga lebarnya.

Jantung sang raja berdegup kencang ketika matanya menangkap benda berkilauan itu benar tergeletak di meja bersama dengan cincin pernikahan mereka. Hingga sang pimpinan Alderth menyadari, dibawah kedua benda tersebut ada sebuah surat yang dilipat rapih.

Tangan sang raja bergetar sembari menyingkirkan mahkota ratunya perlahan. Kemudian membuka lipatan kartas broken white tersebut.

Air mata raja menjadi pengiring sang waktu yang terus berjalan, ketika pimpinan Alderth itu menyadari, ratunya telah pergi.


Alderth, May 6, 1854.

My Dear Husband, King Park Chanyeol

Yang mulia, saya masih mengingat jelas hari itu dimana pertama kali kita bertemu. Kau menatapku dengan mata indahmu, terakhir kali sebelum mata itu terpejam dan membuatku panik. Seolah baru terjadi kemarin, saya juga mengingat hari dimana saya mengetahui bahwa lelaki yang saya tolong adalah Raja dari kerajaan tempat saya tinggal. Hanya butuh seminggu bagi anda untuk mengucapkan kata cinta kepada saya, perasaan sama dengan yang saya rasakan.

Sejak hari itu, saya memutuskan untuk menyerahkan semua yang saya memiliki, meninggalkannya jauh dibelakang saya untuk mengikuti langkah anda menuju dunia baru, dimana hanya ada kita berdua dan keluarga kecil kita, seperti yang mulia janjikan. Sudah 4 tahun berlalu sejak hari itu, aku masih belum menjadi seorang pendamping yang sempurna untukmu, hingga membuatmu lupa akan janji itu dan meninggalkanku sendiri di dunia yang kita bangun Bersama. Untuk berpindah dan membuat dunia baru dengan orang lain. Saya bersikeras untuk tinggal, namun kenyataan menghantam saya, kenyataan bahwa keberadaan saya sudah tidak memiliki arti lagi bagi anda.

Saya pernah berjanji, akan selalu berada disisi yang mulia hingga anda sendiri yang meminta saya untuk pergi. Sekaranglah saatnya saya untuk pergi. Sampai kapanpun, saya akan selalu mencintai anda. Menyimpan anda ditempat paling special dalam hati saya. Maafkan saya yang mulia. Maafkan saya karena tidak bisa bertahan lebih lama dan terpaksa pergi bersama anak kita yang bahkan belum sempat berjumpa dengan ayahnya. Tetapi saya yakin, kehadiran anak anda bersama dengan ratu Subin akan membuat yang mulia merasa amat bahagia.

Saya kira, kita akan memiliki akhir yang berbeda dari kisah Hamlet dan Ophelia. Nyatanya saya salah. Seperti mereka, kita tidak dapat bersatu. Seperti Hamlet, anda akan tetap menjadi orang yang tidak tersentuh, dan seperti Ophelia, saya akan jatuh dan tenggelam kedalam kegelapan kesedihan yang mungkin akan membunuh saya suatu saat nanti. Seperti takdir yang akan tetap membuat saya pergi, meskipun cinta anda kepada saya melebihi cinta 40 orang kakak laki-laki kepada Ophelia.

Berbahagialah, hingga kita berjumpa lagi. Saya mencintai anda.

With Love, Once your Queen

Byun Baekhyun

.

.

.

.

.

.

"sayang, tidakkah menurutmu wanita penyihir berjubah itu amat mencurigakan?", bisik Yeri yang kini sedang menatap keluar jendela kedainya. Mengamati sosok wanita muda yang setiap saat terlihat selalu terbalut jubah hitam misterius.

"mencurigakan kenapa sayang? Abaikan saja dia, seperti yang lain", ucap Seungjae acuh.

"bagaimana aku bisa mengabaikan jika aku selalu melihatnya lewat sembari membawa berbotol-botol cairan berwarna ungu yang kemudian ia bawa masuk ke kereta kuda istana. Menurutmu apa hubungannya ia dengan keluarga kerajaan?", gumam Yeri.

"mungkin ia hanya memberikan obat seperti tabib Zhang. Sudahlah, cepat tutup tokonya. Ini sudah malam", kekeh si lelaki sambil menggelengkan kepalanya.

"tapi ia penyihir. Kau tahu itu bukan berarti baik, Seungjae", ucap Yeri kesal.

"baiklah baiklah, kita bisa lanjutkan kecurigaanmu besok. Aku sudah lapar".

Memang Yeri menuruti apa kata sang suami, namun kecurigaan tidak dapat ia tepis begitu saja. Dalam benaknya, ia berencana segera menuliskan sebuah surat untuk Daniel. Kepala pengawal sang ratu yang kini menjadi salah satu temannya.

.

.

.

.

To Be Continued


Maafkan akuuu guys :(

akhirnyaa konflik yang kalian tunggu sudah tiba.

Apakah alurnya kecepetan? please let me know :(

Jangan lupa review yaaa...

dan Thank you sudah menyempatkan baca, review, favorited, dan follow ff ku.

Review dan kritik kalian sungguh berharga.

I love u guys aloooooot.

BTW, HBD Papa Byun! I love u to the moon and back!

regards,

Kileela