"Well, it's all an adventure
That comes with a breathtaking view"

.

.

.

Do Not Edit and Repost


Etuviel Palace, May 10, 1854

"Katakan Daniel, Jaehwan, kenapa kalian ingin menemuiku secara mendadak seperti ini", ucap sang raja Alderth sembari menatap kedua lelaki yang berada dihadapannya. Di sofa empuk ujung ruangan, Subin menatap ketiga orang tersebut dengan penuh tanya.

"Mohon maafkan hamba karena telah lancang bertemu disaat yang tidak tepat yang mulia… Kami sudah mencoba berbicara dengan penasihat Kim, namun beliau meminta kami mengatakan pada yang mulia secara langsung", Jaehwan membungkukkan tubuhnya sembari menjawab.

"lalu? Apakah sangat penting hingga kalian harus kemari?".

"kami, mohon mengundurkan diri dari posisi di istana yang mulia", itu suara Daniel yang terdengar amat yakin. Bahkan terlalu yakin untuk seseorang yang akan melepaskan jabatan pentingnya di kerajaan.

"Maksud kalian? Kalian ingin berhenti bekerja?", tanya sang raja kaget. Tidak menyangka hal ini juga akan dilakukan Daniel dan Jaehwan.

Terhitung sejak kepergian sang ratu Alderth dari istana, sudah sekitar tiga puluh pelayan dan pengawal kerajaan yang mengundurkan diri. Jujur saja, sang raja terkejut dengan mereka yang rela melepaskan pekerjaan demi sang ratu. Memang, sudah menjadi tradisi di kerajaan, jika salah seorang junjungan meninggal atau pergi meninggalkan istana, mereka yang mengabdi serta menaruh seluruh kesetiaannya pada raja atau ratu, akan juga pergi meninggalkan istana. Istilah mudahnya, menolak untuk mengabdi pada orang lain yang akan menggantikan posisi junjungan mereka.

"ya yang mulia, kamu merasa tidak ada lagi alasan berada disini jika yang mulia ratu sudah pergi", jawab Daniel, tubuh berototnya membungkuk dalam.

"Kenapa? Bukankah ada Puteri Subin yang bisa kalian jaga setelah ini?".

"mohon maaf yang mulia, kami hanya mengabdi pada satu ratu. Sejak awal beliau dinobatkan dan sampai selamanya, hanya ratu Aidyn lah ratu kami", setelah meluncurnya kalimat itu, bersamaan Daniel dan Jaehwan membungkuk kepada raja. Tidak menyadari dibelakang sana, si wanita yang sejak tadi diam sudah mengepalkan tangannya marah.

Sudah beberapa kali ia menyaksikan para pelayan ratu, pelayan utama, pelayan dapur, para penjaga, pengawal khusus ratu semuanya mengundurkan diri karena hanya bersumpah mengabdi pada Baekhyun, fakta ini agaknya membuat Subin amat marah. Sejak awal, hampir semua orang di istana tidak ada yang menyukainya, menganggapnya sampah dan penganggu. Dalam benaknya, Subin sudah tidak sabar untuk naik tahta dan membuat mereka semua jera.

"Baiklah jika itu yang kalian inginkan, terimakasih Daniel, karena telah menjaga Aidyn dengan baik selama ini", untaian kata itu terucap lirih, alunan nada kesedihan terdengar amat jelas dari bibir sang raja.

Daniel kembali membungkuk hormat, entah keberapa kali dalam hari itu. Lalu akhirnya berbalik bersama Jaehwan dan meninggalkan ruangan kerja pribadi milik sang raja. Meninggalkan Chanyeol dan Subin sendirian di sana, seperti beberapa bulan terakhir ini. Si raja Alderth tersebut seolah diisolasi dari dunia luar, dan hanya menghabiskan waktu di ruangan kerjanya, bersama Subin.

Rintikan hujan yang terjatuh ke bumi kembali menarik atensi penuh Chanyeol, perlahan tubuh tinggi itu berbalik dan menatap keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana. Di dalam benaknya, sesuatu seperti tengah bertarung. Berebut untuk mendapatkan kendali penuh atas dirinya.

Sesuatu yang amat pelan itu, berdesir pelan, membisikkan seluruh memori indah dirinya bersama sang ratu. Memori yang seperti perlahan menariknya keluar, membuat hatinya berdenyut nyeri karena rasa rindu yang luar biasa menekan. Sedangkan satu hal lainnya, seolah lebih kuat, menekannya kembali masuk ke suatu hal yang tidak dapat ia pahami. Membuatnya seketika lupa, dan kembali dipenuhi rasa kebencian terhadap sang ratu yang tega pergi meninggalkannya bersama Sehun, sahabatnya.

"sayang, kau belum meminum wine mu", bisik suara itu tiba-tiba.

Sepasang lengan kurusnya melingkari perut sang raja dari belakang. Memeluknya erat, hingga membuat sang raja tersadar dari lamunan panjang. Senyuman menghiasi wajah tampan tersebut.

Perlahan tangan sang raja menggenggam tangan milik si wanita yang kukunya berhias pewarna merah menyala itu. Memberikan elusan lembut penuh sayang disana.

"aku sedang tidak ingin…".

"kenapa?"

"aku akan meminumnya nanti"

Anggukan menjadi jawaban Subin sembari menyandarkan kepalanya di punggung kokoh Chanyeol. Mempererat pelukannya, tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan perutnya yang sudah sangat membuncit.

"bagaimana keadaan pangeran kecil hari ini hm?", ujar sang raja lembut.

Si wanita dibelakangnya terkikik pelan lalu berjinjit dan meletakkan dagunya di pundak sang raja.

"dia sangaaat baik dan merindukan ayahnya. Sepertinya ingin dipeluk sembari tidur malam ini", bisiknya manja. Mengundang kekehan pelan dari Chanyeol yang kemudian mengecup pipinya sekilas.

"aku akan segera menyelesaikan tugasku dan kita tidur ya?".

Wanita dibelakangnya kembali mengangguk, kedua telapak tangannya kemudian memberikan usapan lembut di perut berotot sang raja. Membuat lelaki didepannya menggumam pelan merasakan elusan itu.

"aku sungguh tidak menyangka yang mulia ratu akan menjalin hubungan seperti itu dengan Jenderal Oh", ujar nya pelan. Tidak sang raja sadari, wajah cantik itu tersenyum licik.

"apa maksudmu?", kening sang raja mengkerut bingung. Ya memang sang ratu pergi bersama Sehun sahabatnya, tetapi ia mengira tidak ada yang seperti itu diantara mereka.

"aku dengar dari pelayan, selama kau pergi mereka sering berlatih pedang berdua dan sepertinya ada sesuatu yang terjalin".

"sesuatu seperti apa?"

"seperti, mereka menyukai satu sama lain…"

Seketika, sang raja menyentakkan tangan itu lepas dari pelukannya. Kedua tangannya mengepal sebelum ia berbalik dan berjalan menuju pintu, entah pergi kemana. Wajah tampan itu mengerut marah.

"tentu saja, semuanya sangat mudah", kikikan itu terdengar begitu debuman pintu yang amat memekakkan telinga terdengar.

Di tengah gelapnya malam, tiga orang pria muda tengah berkumpul di ruangan militer. Percakapan mereka tampak serius, bisikan mereka sepelan desahan angin malam yang berhembus. Pada pukul ini, hampir seluruh penghuni istana sudah masuk ke alam mimpi mereka, sehingga tidak akan menyadari apa yang sedang dilakukan ketiga pria tersebut.

"Kau yakin Guanlin?"

"ya, aku sudah mendapat surat dari Jenderal mengenai keberadaan pendeta tersebut. Ia berada di kerajaan yang sama dengan Jenderal dan yang mulia ratu".

Daniel tersenyum samar mendengar itu. Mereka sudah sangat dekat dengan kebenaran yang menanti diujung sana.

"kita kesana segera setelah matahari terbit"

"kau sudah memastikan semuanya dengan Yeri?"

"ya, aku sudah menerima surat dan semua detail yang ia rencanakan. Kita punya satu jam dari sekarang untuk tiba di toko Yeri"

"Jaehwan, kau berjaga disini pastikan wanita ular itu benar-benar pergi meninggalkan istana"

"tentu, kalian berhati-hatilah", kekeh Jaehwan.

Anggukan menjadi komunikasi non-verbal yang mereka lakukan, sebelum masing-masing tubuh tegap itu melangkah keluar, menuju tempat dimana mereka seharusnya.

"Dan Jaehwan, pastikan kau menemui penasihat Kim untuk memberitahukan hal ini. Ingat, lakukan ketika wanita itu sudah pergi", ucap Daniel yang dibalas tepukan di pundak oleh lawan bicaranya.

"aku tahu apa yang harus kulakukan. Pergilah".

Hening kembali menyambut ketika tiga pasang kaki itu melangkah pergi, menghilang dibalik gelapnya malam. Mempertaruhkan nyawa dan seluruh takdir mereka demi sang junjungan.


Rissingshire, May 11, 1854

BRUKK

"astaga! Maafkan aku", pekikan nyaring terdengar membelah sunyinya malam di tengah kota Rissingshire.

Sejauh mata memandang hanya ada kedai-kedai yang sudah tutup. Tidak ada siapapun disana, kecuali seorang wanita berjubah hitam yang tampaknya sedang akan berjalan masuk kedalam kereta kuda. Tetapi sayang, sepertinya apa yang ia lakukan harus gagal karena seorang gadis ceroboh menabraknya, amat keras sehingga botol-botol berisi cairan ungu yang ia bawa jatuh dan pecah berserakan di tanah.

Decakan kesal terdengar, si wanita berjubah hitam mendongakkan wajahnya. Matanya menatap tajam kearah siapapun itu yang berani menabraknya.

"kau, bersyukurlah aku tidak merubahmu menjadi katak karena sudah menabrakku dan menumpahkan semua minuman berharga ini!", hardiknya.

"oh tuhan! Maafkan aku nona, aku sungguh tidak sengaja. Aku sangat mengantuk".

"aku tidak peduli! Apa yang akan kau lakukan sekarang hah?!".

"a…aku akan membantumu membuatnya? Atau haruskah aku membayar semuanya?".

Si wanita berjubah kembali mendecih kesal, sebelum mengibaskan jubahnya.

"aku tidak butuh uangmu, dasar orang miskin", ujarnya sinis. Dengan derap langkah kesal wanita itu berjalan cepat masuk kedalam kereta. Lalu tidak lama kemudian terdengar langkah kaki tapak kuda yang semakin lama semakin menjauh.

Kereta kuda itu menghilang, meninggalkan wanita satunya sendirian disana dengan senyuman mengejek. Ia membalikkan wajahnya cepat dan menatap ke sepasang mata lain yang sedang mengawasinya, di dalam gelapnya malam.

Anggukan disertai acungan jempol diberikan oleh si wanita, sebagai tanda bagi dua orang lelaki 'tak terlihat' itu untuk melakukan tugas mereka selanjutnya.


Etuviel Palace, June 1, 1854

"Yeol, apakah aku harus pergi?", rengek Subin.

Membuat sang raja terkekeh kemudian mengelus sayang surai hitam panjang milik wanita dihadapannya.

"tentu saja, sebentar lagi kau akan menjadi ratu. Itu sudah menjadi tugasmu".

Si wanita memberengutkan wajahnya lalu memeluk tubuh kokoh lelaki dihadapannya. Memang benar, sudah menjadi tugas ratu menghadiri pertemuan dengan ratu-ratu kerajaan lain. Meskipun Subin belum resmi menduduki tahta, namun dengan absennya Baekhyun, ia menjadi satu-satunya pengganti untuk menghadiri acara tersebut. Terlebih prosesi Assylum of The Throne akan dilaksakan kurang dari sebulan. Selangkah lagi baginya untuk duduk di tahta.

"bagaimana kalau anak kita merindukan ayahnya?".

"hanya seminggu sayang, setelah itu kita akan bertemu lagi", kekehnya.

"kau janji?".

"tentu… jaga dirimu baik-baik sayang. Seminggu akan berlalu dengan cepat dan tanpa kau sadari kau sudah akan kembali", ucap sang raja.

"jaga dirimu baik-baik sayang. Empat bulan akan berlalu dengan cepat dan tanpa kau sadari aku sudah akan kembali".

Gaungan suara itu tiba-tiba terdengar di telinga sang raja. Membuatnya terdiam bingung selama beberapa saat. Ucapan itu amat familiar. Seperti baru terjadi kemarin.

"yeoool", rengekan itu kembali menyadarkannya. Perlahan sang raja mengerjapkan mata dan menfokuskan padangan pada wanita dihadapannya.

"berangkatlah, kau akan terlambat nanti", kecupan sang raja berikan pada kening Subin, membuat si puteri tersenyum senang.

"jangan lupa meminum wine mu, kau bisa memintanya pada pelayan ya? Aku tahu kau sangat menyukai wine buatanku".

"tentu, aku akan meminumnya setelah pertemuan dengan lord nanti", ujar Chanyeol, yang dibalas anggukan oleh Subin.

Sebelum wanita itu berjalan anggun memasuki kereta kuda dan pergi meninggalkan pelataran istana.

Suasana sunyi di Idlehall terasa amat menggigit pagi itu. Suara cicitan burung di pohon mahoni yang ditanam dekat jendela pun tampaknya tidak dapat membantu setiap insan di ruangan itu untuk merasa lebih tenang.

Semuanya terlihat tegang, bahkan penasihat Kim yang berdiri diujung ruangan pun tampan berdiri tidak nyaman ditempatnya. Mereka baru saja usai membahas keberangkatan puteri Subin ke Quvia untuk menggantikan ratu Aidyn selama seminggu yang dijadwalkan hari ini, namun tidak lama kemudian ekspresi sang raja berubah serius. Seperti teringat akan sesuatu.

Beberapa detik lalu baru saja terjadi ledakan amarah yang luar biasa dari sang raja Alderth. Bermula dari penasihat Kim yang memberitahukan soal adanya pertemuan mendadak yang diadakan raja, hingga para lord harus berkumpul pagi-pagi sekali di istana, dilanjutkan dengan sang raja yang langsung marah besar.

Kemarahan sang raja ternyata dipicu oleh berita yang ia dengar mengenai hubungan khusus sang ratu dengan jenderal Oh, yang bahkan tidak diketahui oleh para lord. Beberapa kali, meja malang itu menjadi sasaran gebrakan bahkan pukulan tinju sang raja.

Membuat para lord hanya terdiam sepanjang kemarahan tersebut. Kini, nampaknya amukan itu sudah mereda, dilihat dari sang raja yang sedang menyenderkan tubuhnya di punggung kursinya sembari memijit pelipis.

"hentikan", lirih sang raja akhirnya.

"y…ya yang mulia?", itu suara lord Roland yang memberanikan diri untuk menjawab.

"kubilang hentikan, seluruh pencarian terhadap Aidyn".

Gumaman seketika terdengar memenuhi ruangan itu. Para lord saling menatap dengan bingung. Menghentikan pencarian berarti menyerah dan melepaskan jabatan sang ratu Alderth. Dan jujur saja mereka tidak menyangka sang raja akan melakukan itu, pada suaminya yang amat ia cintai. Setidaknya itulah yang para lord ketahui.

Tetapi tampaknya kini mereka harus melihat sendiri bagaimana kedatangan puteri Subin membuat sang raja berubah. Berubah menjadi sosok yang tidak lagi mencintai sang ratu dan lebih memilih mantan kekasih yang ia hamili secara sengaja.

"saya setuju yang mulia, pergi meninggalkan semua tugasnya dengan Jenderal Oh, benar-benar kelewatan. Lagipula ini sudah hampir sebulan, Ratu Aidyn seolah tidak ingin ditemukan. Biarkan dia menghilang, jika kembali kita akan adili sesuai dengan hukum Alderth", tentu saja, itu adalah Oswald. Yang tanpa menunggu langsung menyetujui titah sang raja tersebut. Untuk pertama kali sejak Chanyeol duduk di kursi tahta.

Chanyeol hanya terdiam, kepalanya memberi anggukan samar sembari kristal gelap miliknya menatap satu per satu para lord yang masih terdiam. Ketukan jemari sang raja pada meja menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sana.

"Saya tidak setuju", itu suara lord Roland, yang terdengar jelas namun tetap sopan. Matanya menatap langsung ke wajah sang raja.

Manik mata hitam kelam yang tadinya datar kini berubah tajam, menusuk kedalam mata sang lord. Dengan rahang mengeras, sang raja memajukan tubuhnya untuk mendekat. Berusaha mengintimidasi temannya tersebut.

"apa kau bilang?"

"saya tidak setuju, yang mulia. Ratu Aidyn adalah ratu terbaik yang pernah Alderth miliki. Kepergian beliau hampir sebulan lalu membuat Alderth seolah dihukum oleh dewa. Bencana alam yang menimpa dua desa terbesar milik Alderth saya rasa sudah menjadi peringatan yang cukup. Yang mulia ratu Aidyn, harus kembali", tegas Lord Roland.

"Jika kau, menolak permintaanku, kau bisa keluar dari wilayah Alderth dan bersiaplah untuk perang", geram sang raja. Kedua tangannya mengepal erat.

Jika sang raja mengira lord Roland akan ciut dan berakhir menerima titahnya, ia salah. Lord muda itu malah berdiri dari kursinya. Menatap lurus ke wajah sang raja tanpa takut. Sejurus kemudian, apa yang terucap lantang dari bibirnya membuat pimpinan Alderth beserta lord tertua diantara mereka kaget.

"Saya, Roland Kim, ketua dari Klan Kim, penguasa wilayah Faydale, Elderminster, Silverchill, dan Edgeham menolak penuh keinginan yang mulia atas pemberhentian pencarian yang mulia ratu Aidyn. Kami seluruh anggota klan siap untuk berperang dengan Alderth jika memang itu yang harus kami hadapi".

"Roland…", geram sang raja.

"hentikan sekarang Roland, kau tahu kau akan mati jika melakukan ini", ejek Oswald sembari terkekeh.

Lord Roland tidak bergeming dan tetap berdiri tegap dengan wajah berwibawanya, tak gentar sedikitpun. Ia tahu, sesuatu yang buruk sedang terjadi, ia tahu sang raja sedang tidak menjadi dirinya sendiri, hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka. Meskipun itu menentang titah sang junjungan.

"Saya, Baines Conner, ketua dari klan Conner menolak permintaan yang mulia atas pemberhentian pencarian yang mulia ratu Aidyn. Anggota klan sudah siap berperang dengan Alderth jika memang itu konsekuensinya", suara berat lain terdengar. Tubuh lord paruh baya dengan wajah tegas itu berdiri. Tak gentar dengan tatapan raja yang semakin lama semakin tajam.

"bergabunglah dengan kami, jika kalian merasa ratu Aidyn terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja, my lord", ucap Roland pelan, tatapannya tidak sedikitpun beralih dari si pimpinan Alderth.

Jika penolakan Roland cukup membuat raja terkejut, berdirinya 19 lord lain membuat sang raja luar biasa terkejut. Amarah dalam dirinya sudah siap meledak kapanpun, tetapi sebagai raja ia tahu apa yang benar atau tidak untuk dilakukan. Marah berarti berperang, dan jumlah 5 klan yang ada dipihaknya tentu akan kalah, atau berarti kekalahan dan akhir dari Alderth.

"kalian bodoh! Amat bodoh! Lelaki kecil itu bahkan tidak berguna untuk kerajaan! Puteri Subin akan memimpin Alderth dengan lebih baik! Ia adalah bangsawan dibanding ratu miskin kalian itu! Dengarkan aku…"

"Klan Kim memberikan bantuan 15 orang detektif dan pemburu handal dari Faydale untuk mempercepat pencarian yang mulia ratu", potong Roland lagi, lelah dengan ocehan pak tua tamak itu.

"klan Conner memberikan bantuan 20 prajurit berkuda terbaik untuk menemukan yang mulia ratu"

"klan Arrowsmith memberikan bantuan 70 kuda balap terbaik untuk pencarian"

"klan Tillman…"

"klan Heaper…"

Dan begitulah seterusnya para pimpinan klan bersautan memberikan bantuan mereka agar pertemuan sang ratu dipercepat, membuat si pak tua pimpinan para lord geram hingga menggebrak meja dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan. Meninggalkan suara debuman pintu yang masih menggema di ruangan yang mendadak hening tersebut.

Chanyeol masih terdiam, kepalanya serasa berputar bingung. Tidak menyangka para Lord akan bereaksi seperti ini. Sungguh diluar dugaannya.

Pimpinan Alderth itu kembali merasakan hal itu, sesuatu yang amat pelan itu kembali terdengar. Kembali menyeruak ke permukaan. Awalnya sang raja tidak memahami apa itu, namun lama kelamaan ia menyadari, itu adalah Aidyn, suami mungilnya yang amat ia cintai. Perasaan cinta untuk lelaki mungil itu yang selama ini seolah dipenjarakan oleh sesuatu lain yang lebih kuat. Yang ia ketahui adalah perasaan cintanya untuk puteri Subin.

"yang mulia?", pimpinan Alderth itu terus diam. Mengabaikan panggilan lord Roladn kepadanya. Matanya setiap terpejam, menolak untuk terbuka dan melihat kenyataan yang sedang ia hadapi.

"Selamat siang yang mulia", kali ini suara lain yang terdengar. Suara lain yang lebih menenangkan. Membuat sang raja mau tidak mau membuka mata.

Disana, tepat dihadapannya berdiri tabib Zhang, bersama dengan sosok lelaki tua yang ia ketahui sebagai kakek tabib nomor satu di Alderth tersebut.

"maafkan kami, yang mulia", suara itu berupa bisikan bersamaan dengan jemari keriput lelaki tua itu terulur dan menekan keningnya keras. Membuatnya terpejam dan seolah ditarik masuk kedalam sebuah gua gelap tak berujung.

Sepasang mata kelinci itu terbuka setelah sedari tadi kegelapan melingkupinya. Matanya menatap bingung keadaan sekitar yang amat asing. Seingatnya, tadi ia berada di Idlehall sebelum semuanya gelap. Tetapi bagaimana bisa ia berada di taman bunga mawar merah yang amat indah ini?

Perlahan, raja Alderth itu berdiri. Membawa tubuhnya melangkah hati-hati mengilingi taman yang tampaknya sangat sepi tersebut. Hanya ada dirinya, dan ribuan bunga mawar merah di sana.

Keindahan bunga tersebut, cerah merah yang menghiasi kelopaknya, membuat sang raja teringat akan sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang amat menyukai bunga mawar. Yang wajahnya seindah bunga terang tersebut. Seseorang yang telah mengambil hatinya beberapa tahun lalu. Seseorang yang kini meninggalkannya, sendirian.

"Yang mulia", suara lembut itu terdengar. Membuat sang raja menoleh cepat ke asal suara.

Persetan jika memang ia bermimpi, hatinya membuncah bahagia melihat sosok itu berdiri dihadapannya. Wajah cantiknya masih sama, tubuh indahnya masih sama, namun ada sesuatu berubah. Sesuatu yang bukannya membuat lelaki mungil itu itu tampak buruk, malah membuatnya semakin indah, semakin bersinar.

Perut rata yang terakhir kali ia lihat kini sudah sedikit membuncit. Benar, sang ratu memang sedang mengandung.

"Baek…", kaki panjang sang raja melangkah mendekat. Takut kalau terlalu lama ia terdiam, sosok itu akan pergi.

"yang mulia…", senyuman manis menghiasi wajah itu, kedua lengan mungilnya menyambut tubuh gagah sang suami yang langsung menarik tubuh mungil itu dalam pelukan erat.

"baby…", bisiknya. "baby, kau disini".

"ya, yang mulia saya disini".

"kenapa? Kenapa kau meninggalkanku?", ujar sang raja. Perlahan pelukan mereka terlepas. Kedua manik gelap milik pimpinan Alderth itu menatap dalam ke sepasang manik indah dihadapannya. Sesuatu yang amat ia rindukan.

"karena anda sudah memiliki orang lain".

"apa maksudmu? Aku hanya mencintaimu sayang kau tahu itu".

"apakah yang mulia lupa? Yang mulia dan Subin akan memiliki anak sebentar lagi. Anda melupakan saya", lirih sosok cantik itu. Paras indahnya terlihat sangat sedih.

"a…apa maksudmu? Aku dan Subin sudah lama berlalu. Itu hanya masa lalu, hanya kau yang kucintai baby", ujar sang raja terbata. Matanya menatap bingung kearah Baekhyun.

Alih-alih menjawab, sosok mungil itu malah berjalan mundur. Jemari lentiknya menunjuk sebuah aliran sungai kecil yang ada disamping mereka.

Perhatian raja kemudian sepenuhnya teralih, menatap kearah air bening yang kini menampakkan sesuatu. Menampakkan dirinya. Semua yang ia lakukan bersama Subin, bagaimana wanita itu bisa hamil.

Kedua kristal bulat sang raja bergerak-gerak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berkali-kali ia meminta gambaran bergerak itu berhenti, namun nihil. Semakin lama, yang ditampilkan genangan air itu semakin membuat sang raja tidak percaya.

Hingga tepat dibagian akhir, dimana ia melihat dirinya, dihadapan ibu, kakak serta sahabatnya, menyuruh Baekhyun melepaskan mahkota jika memang ia tidak bisa bertahan disamping Chanyeol. Melihat bagaimana air mata di sepasang sipit favoritnya itu menggenang lalu berlomba-lomba untuk mengalir.

"tidak… tidak itu bukan aku! Baby aku tidak mungkin melakukan itu padamu… aku tidak mencintai Subin. Demi tuhan baby, aku hanya mencintaimu", dengan panik, sang raja menatap ratunya yang masih setia berdiri disana. Menatapnya sedih.

"tidak, kau yang membuangku Yeol. Aku sadar, aku sudah tidak berarti apa-apa untukmu", lirih Baekhyun.

Dengan cepat, sang raja melangkah mendekat dan merengkuh tubuh mungil itu. Menahan kedua pundaknya. Genangan air asin sudah memenuhi mata kelincinya.

"baby dengarkan aku. Itu bukan aku, tidak aku tidak mungkin melakukan itu padamu", suara berat itu bergetar. Kedua ibu jarinya berusaha mengusap aliran sungai kecil yang sudah menuruni wajah cantik sang ratu.

"sayang…", ujarnya lagi karena tidak mendapat jawaban apapun dari sosok yang amat dicintainya tersebut.

"aku akan selalu mencintaimu, rajaku. Namun, seperti kelopak bunga yang telah diremas hingga tak berbentuk, aku tidak bisa lagi menjadi orang yang sama. Berbahagialah, rajaku"

"tidak! Kau tidak bisa pergi lagi. Tidak lagi baby aku tidak akan melepaskanmu", rentetan kalimat panik itu terdengar menggema.

Namun semuanya sudah terlambat, karena bukannya mengangguk atau menyetujui, sang ratu tersenyum sedih. Kedua jemari lentiknya membetulkan kerah kemeja sang raja yang nampak kusut. Kemudian memberikan elusan sayang di dada bidang suami tingginya.

"selamat tinggal, yang mulia", bisiknya lembut. Sebelum kedua tangan itu mendorong dada bidang sang raja dengan keras. Amat keras sehingga sang raja terpental jauh kebelakang. Seperti melayang menjauh dan semakin jauh dari sang ratu.

"TIDAK! BABY BABY JANGAN TINGGALKAN AKU", teriaknya.

Sang raja Alderth itu tidak berdaya, karena sang ratu akhirnya menghilang dari pandangan ketika ia kembali ditarik masuk kedalam gua gelap tempat ia datang tadi.

.

.

.

"BABY!", teriak suara itu sembari tubuhnya bangkit dari posisi terlentang.

Pundaknya bergerak naik turun akibat dari hembusan nafasnya yang terburu.

Matanya terpejam erat, berusaha memproses hal yang baru saja dialaminya.

Kepalanya serasa dipukuli oleh ribuan orang.

Merasa suasana disekitarnya berubah hening, sang raja perlahan membuka mata. Memastikan ada dimana ia sekarang.

Disana ada sosok sang ibu, yang berdiri dan menatap khawatir kearahnya. Disamping sang ibu, terdapat kakaknya yang juga memasang ekspresi sama. Semuanya ada disana, semua kecuali sosok itu. Sosok yang amat ia rindukan dengan segenap hati.

"selamat datang kembali, Yang mulia", ujar tabib Zhang dibarengi senyuman tampan.


Crennica, June 03, 1854

"banguun yang mulia, banguun", sebuah suara menggemaskan perlahan masuk kedalam indera pendengar seorang lelaki mungil yang tengah mengarungi alam mimpi. Membuatnya terbangun dan senyuman langsung menghiasi wajah cantiknya.

"aku sudah bangun cantik", kikik lelaki mungil itu.

Dengan amat perlahan ia bersusah payah membangunkan tubuhnya yang semakin hari terasa semakin berat. Ia yakin ini salah Luhan yang selalu mencekokinya dengan makanan enak dan sehat setiap saat. Ditambah nafsu makannya yang sungguh gila sejak perutnya diisi oleh makhluk mungil lain yang harus berdiam disana selama sembilan bulan.

"kemari biar aku membantumu yang mulia", ujar suara menggemaskan itu lagi. Sepasang tangan mungilnya kemudian terulur dan menarik lelaki dihadapannya agar lebih mudah bangkit dari posisinya.

Kekehan lagi-lagi lolos dari bibir si lelaki mungil sembari ia berusaha keras mengangkat tubuhnya. Ketika tubuh itu berhasil duduk, sosok kecil yang semula menariknya langsung berhambur mendekat. Menempelkan telinga di perutnya yang sudah terlihat membuncit.

"selamat pagi pangeran kecil. Apakah kau sudah bangun?", bisik anak kecil bernama Wendy itu. Mengundang senyuman hangat terukir di wajah cantik Baekhyun.

"ya, aku sudah bangun nona kecil", itu adalah suara Baekhyun yang dibuat semenggemaskan mungkin untuk menirukan suara anak kecil.

Sebuah tinju pelan dari dalam sana kemudian ia rasakan, Baekhyun memberikan elusan lembut di perutnya. Disaat seperti inilah Baekhyun merasa amat bahagia. Merasa amat dekat dengan sosok mungil yang ada didalam sana. Selama beberapa bulan ini, sosok mungil itulah yang menjadi penghiburnya. Membuatnya tersenyum kala perasaan rindu dan sedih membelenggunya. Menyelamatkannya dan membuatnya menjadi sosok yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"yatuhan aku sudah menunggu kalian di ruang makan sejak tadi! Berhenti bermain-main dan ayo sarapan. Kau tidak boleh telat mengisi perut Baek. Ingat, kau makan untuk dua orang", kali ini adalah suara Luhan. Yang mendecak sembari berdiri kesal didepan pintu. Menatap kedua makhluk berbeda ukuran dihadapannya tidak tertarik.

"aku baru saja bangun Luhan. Tenanglah", kikik Baekhyun, kemudian beranjak mendekat sembari menggandeng tangan mungil milik Wendy.

"benar ma! Yang mulia baru saja bangun begitupun dengan pangeran kecil".

Nyatanya, naluri Luhan sebagai orang tua lebih kuat daripada naluri mengomelnya, sehingga ia langsung luluh mendengar ucapan anak perempuan kesayangannya tersebut. Satu tangannya lalu terulur untuk mengusap perut Baekhyun.

"baiklah baiklah, kalau begitu ayo kita sarapan sekarang. Aku tidak mau kau sakit Baek, kau tahu itu".

"aku tahu, terimakasih Luhan", Ujar Baekhyun tulus.

Begitulah setiap pagi sejak kedatangan Baekhyun kerumah ini. Luhan selalu menjadi sosok cerewet yang amat memperhatikannya. Memastikan semua nutrisi yang diterima si janin cukup. Membantunya menyiapkan pakaian, membantunya memijit punggung ketika Baekhyun terasa amat lelah. Luhan mengingatkannya akan Kyungsoo. Dan setiap saat, itu akan membuat si lelaki mungil merasa amat rindu.

Di hari pertama kedatangan mereka di kediaman keluarga Oh, Luhan tanpa ampun langsung memukuli suami tingginya dengan karung bekas jerami ̶ karena ia baru saja memberi makan kuda ketika mereka datang, mengira suami nya itu selingkuh dan menghamili carrier lain. Oh andai saja Baekhyun bisa berbuat hal yang sama, mungkin itulah yang ia lakukan ketika sang raja tiba bersama Subin kala itu. Namun si lelaki mungil berusaha menampik pemikiran tersebut, tidak ingin menjadi sedih secara tiba-tiba. Ia sudah berjanji meninggalkan semuanya dibelakang. Maka itulah yang akan ia lakukan.

Setelah kejadian memukuli Sehun dengan karung bekas jerami, akhirnya Luhan memutuskan berhenti dan mendengarkan penjelasan Jenderal Alderth itu. Semua kemarahannya seketika menguap digantikan perasaan sedih serta rasa bersalah pada si mungil cantik dihadapannya. Tidak perduli bahwa itu pertemuan pertama mereka, dan lelaki dihadapannya adalah seorang ratu, Luhan langsung menariknya kedalam pelukan hangat dan menuntun Baekhyun masuk ke mansion milih keluarga Oh. Baekhyun tidak heran ketika menyadari betapa luas dan mewah kediaman mereka, Sehun adalah bangsawan, tentu wajar jika ia menjadi salah satu orang terkaya di desa tempat tinggalnya.

Sejak hari itu, setiap detik Baekhyun semakin dekat dengan Luhan dan Wendy, anak kandung Sehun dan Luhan yang berusia lima tahun. Sebenarnya Sehun sudah menikah dengan Luhan jauh sebelum Baekhyun bertemu dengan Chanyeol. Namun Jenderal itu agaknya sangat pintar menyembunyikan rahasia bahkan dihadapan seluruh warga kerajaan. Kecuali Baekhyun tentu saja, lelaki dingin itu tidak sengaja membocorkan rahasianya sendiri di salah satu sesi latihan pedang mereka.

Luhan menjadi sosok yang dari asing menjadi amat penting bagi Baekhyun. Baginya, Luhan merupakan Kyungsoo namun versi cerewet. Lelaki bermata rusa itu tidak akan segan memarahinya jika lupa memakan sayuran atau buah-buahan barang sehari. Atau akan mengomel sepanjang hari jika Baekhyun lupa mengoleskan tumbukan bengkoang di perut buncitnya. Meskipun begitu, dengan adanya Luhan, ia merasa jauh lebih baik. Amat baik hingga kadang ia bisa lupa dengan kesedihan dan alasan mengapa ia berada disana.

Beberapa kali, Baekhyun membicarakan mengenai ia akan pindah dan tinggal terpisah dari keluarga Oh. Lelaki mungil itu merasa sungkan karena terlalu banyak merepotkan dan mengganggu kehidupan sang jenderal bersama keluarganya. Namun ide itu selalu ditentang keras oleh Sehun dan terutama Luhan yang langsung mengoceh sembari mengacung-ngacungkan sendok penggorengannya kearah si mungil. Hingga, keinginan untuk pindah itu hilang dari benak Baekhyun dan memutuskan menganggap mereka adalah keluarga.

Kini, yang dilakukan Baekhyun setiap hari adalah membantu Luhan merawat bunga-bunga di rumah kaca yang sengaja Sehun bangun untuk sang ratu. Agar ia tetap memiliki kegiatan selama kehamilannya. Setelah itu Baekhyun akan merajut banyak baju untuk lelaki kecil di perutnya, kadang jika ia ingin, si ratu Alderth itu juga akan membuatkan satu syal untuk Wendy.

Seperti hari-hari lainnya, Baekhyun kira hari itu akan sibuk. Ia sudah menggenggam jarum dan benang lalu bersiap membuatkan syal merah muda untuk Luhan, Ketika suara langkah tegap terdengar mendekat kearahnya. Tidak hanya satu namun banyak langkah yang berjalan beriringan. Membuatnya seketika menoleh.

Mata kecil itu seketika membelalak lebar melihat siapa sosok yang ada dihadapannya. Tangannya bergetar tidak karuan dan sebisa mungkin ia menyembunyikan perut buncitnya dibawah meja.

"Yang mulia…"

"P…penasihat Kim? Daniel? Jaehwan? Apa yang kalian lakukan disini?", sang ratu tergagap. Dan menatap bingung kearah Sehun ketika tiga lelaki itu menjatuhkan lututnya di lantai untuk memberi penghormatan padanya.

"Kami memberi salam pada yang mulia ratu Aidyn", ujar mereka serempak.

"hentikan, aku bukan ratu kalian lagi. Berdirilah".

"kami tidak akan berdiri sampai yang mulia menerima salam kami", ucap Jongin.

Baekhyun menatap bingung kearah Sehun, yang kemudian dijawab anggukan oleh sang Jenderal. Tanda untuknya segera menerima salam ketiga orang tersebut atau ini akan berlangsung lama.

"a…aku menerima salam kalian".

Dan senyuman terkembang di wajah Jongin, Daniel serta Jaehwan sebelum mereka kembali berdiri di samping kursi sang ratu. Mata Jaehwan berbinar senang begitu melihat perut rata sang ratu kini sudah membuncit. Membuat lelaki cantik itu tampak semakin menggemaskan.

"kami sangat senang bisa bertemu kembali dengan yang mulia. Apakah Jenderal Oh memperlakukan anda dengan baik?".

"tentu saja Penasihat Kim, aku merasa seperti dirumah", jawab sang ratu, senyuman manis menghiasi wajahnya.

"kami belum sempat mengucapkan ini, tetapi lebih baik terlambar daripada tidak sama sekali. Selamat atas kehamilan anda yang mulia. Anda terlihat luar biasa, saya dengar bayinya lelaki? Saya yakin ia akan sangat menakjubkan, seperti anda".

"terimakasih Penasihat Kim. Lalu apa yang kalian lakukan disini? Aku tidak menyangka kalian mengetahui rahasian Jenderal Oh", kikik Baekhyun, matanya menatap jail pada sang jenderal yang sedari tadi hanya diam.

"Jenderal Oh akan melakukan apapun demi anda yang mulia", gumam Jongin, sangat pelan hingga Baekhyun tidak yakin benar dengan apa yang ia dengar.

"Ya? Aku tidak mendengarmu penasihat Kim?".

"maksud saya, kami sebenarnya sudah di Crenicca sejak dua minggu lalu, yang mulia. Ada sesuatu yang harus kami urus dan syukurlah semuanya berjalan mudah sehingga kami bisa kembali ke Alderth. Namun rasanya tidak sopan jika kami tidak mengunjungi anda terlebih dahulu", ujar Jongin sembari tersenyum tampan pada sang ratu.

"ah terimakasih, kalian tidak perlu melakukan itu. Lalu bagimana…", Jongin Menaikkan satu alisnya bingung mendengar sang ratu menggantung ucapannya. "bagaimana kabar yang mulia raja", lirih, ucapan itu terdengar amat pelan.

Senyuman kembali terkembang di wajah tampannya, matanya menatap prihatin pada sang ratu yang kini menunjukkan senyuman sedih.

"Yang mulia raja baik, tetapi sesuatu tampak menggangu beliau. Beliau menjadi kurang tidur dan tidak nafsu makan".

Baekhyun mengangguk, memutuskan untuk tidak menanggapi jawaban Jongin terlalu jauh dan memalingkan wajah kearah jendela. Berusaha menyembunyikan air mukanya yang mungkin berubah sedih. Takut, jika perasaan sedih yang masih ia rasakan disadari oleh keempat pria gagah tersebut.

Tetapi, sesuatu diluar sana menarik penuh atensi sang ratu. Sesosok lelaki familier yang hampir setiap minggu menjadi temannya bercerita tertangkap oleh kedua kristal bening Baekhyun. Membuatnya diliputi ribuan pertanyaan.

"bukankah itu pendeta Kang? Apa yang ia lakukan di dalam kereta kuda kerajaan?", ucap Baekhyun. Kepalanya berpaling untuk menatap bergantian kearah sang penasihat dan Jenderal. Berusaha mendapatkan jawaban.

Jongin mengumpat dalam hati karena kesalahan kusir yang memarkir kereta kuda mereka tepat di samping ruangan sang ratu. Namun ia berusaha tenang dan kembali tersenyum.

"ah, pendeta Kang adalah teman saya. Ia ingin mengunjungi saudarinya di Alderth. Saya mengajaknya berangkat bersama", jawab Jongin. Matanya melirik was-was pada sahabatnya yang setia memasang wajah datar andalannya.

"Yang mulia, bagaimana kalau kita berbincang di ruang makan? Luhan sudah menyiapkan teh dan biscuit untuk kita", bagai hembusan angin surga yang menerpa Jongin begitu Sehun membuka mulutnya. Membuat kepalanya mengangguk semangat, dan terlalu semangat untuk mengiyakan ajakan itu.

Berharap sang ratu akan berubah fokus dan melupakan kehadiran pendeta Kang diantara mereka.

.

.

.

To Be Continued


Haiiii, chap 10 is up! maaf kalau chapter ini agak lebih pendek dari biasanyaa hehe.. but aku harap kalian masih enjoy yaa bacanyaa...

Anyway, aku kemarin bacain review kalian, dan percayalah i can relate. Akupun yang nulis kaya sambil ngomel-ngomel sepanjang aku ngetik di chap kemarin (i know im weird, so...)

Kalau sesuai rencana yang udah aku siapin, harusnya Chapter depan bakal end. Nah karena ituu aku mau tanya, kalian pengen Happy Ending, Sad Ending, atau Sad Ending with epilogue?

Because tbh, aku punya banyak versi ending di kepalaku heheheh.

anywaaay segitu dulu yaa aku ngocehnyaa, terimakasih banyaaaak udah baca, review, favorited, dan follow. Daaan jangan lupa review juga di chap ini yaa ehehe.

I luvvv u guyss sooooooo muchhhhh.

see ya!