"saya tahu bahwa takdir itu kejam, tetapi bisakah saya mendapat satu kesempatan lagi, wahai dewa?"
.
.
.
Do not edit and repost
.
.
Baca sampai bawah ya, I've got something to say :)
(tulisan miring adalah flashback)
Etuviel Palace, December 25, 1854
Butiran-butiran benda yang menyerupai kapas putih berjatuhan, memenuhi seluruh kerajaan Alderth. Akhir tahun berarti salju, natal, tahun baru, dan sejuta kehangatan bersama keluarga. Setiap orang di kerajaan amat senang dan tidak sabar menanti datangnya hari ini. Hiasan-hiasan khas natal sudah terpasang diseluruh penjuru ibukota Rissingshire. Bahkan beberapa pernak Pernik merah dan hijau itu sudah sampai ke dalam istana Etuviel.
Para pelayan mengganti topi putih mereka menjadi topi wool hangat bewarna merah dengan sedikit sentuhan zamrud di beberapa titik. Seluruh karpet yang berwarna crème berubah menjadi merah. Beberapa pohon natal juga terpasang di berbagai sudut utama istana. Singkatnya, semua orang merasa tidak sabar menanti datangnya natal.
Orang bilang, waktu akan menyembuhkan semua luka. Dan momen-momen kebersamaan seperti natal mengambil peran yang cukup besar dalam mengurangi rasa sakit, menyembuhkannya perlahan, dan meninggalkannya dibelakang. Seperti Kyungsoo, ia adalah satu dari sekian banyak orang yang amat terpukul dengan kabar kematian sang ratu. Sejak kabar itu ia terima, tiada hari dilewati tanpa titikan air mata. Tiada hari tanpa lelaki bermata bulat itu melamun atau bahkan ia dengan sengaja menata ulang lemari milik sang ratu. Lemari yang masih penuh dengan baju-baju yang ditinggalkannya.
Tiada yang menghitung, namun semua orang tahu, Kyungsoo sudah puluhan kali membereskan lemari itu. Disela-sela kegiatannya, si kepala pelayan itu akan mengelus kemeja milik Baekhyun atau bahkan memeluknya dengan erat. Ketika semuanya sudah cukup, lelaki pendek itu akan kembali menata ulang semuanya. Dengan telaten melipat satu persatu pakaian yang bahkan masih rapih tak tersentuh tersebut. Semua orang di istana tahu, Kyungsoo hancur. Ia merasa semua tidak adil bagaimana takdir mempermainkan mereka. Kepala pelayan itu merasa sang raja pantas mendapat satu kesempatan lagi dari dewa. Ia merasa, sahabatnya yang bak malaikat tak bersayap itu pantas mendapat kebahagiaan seperti halnya dalam novel romansa. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika dewa sudah menjentikkan jari nya saat itulah takdir akan terjadi. Tiada jalan kembali, dan hanya ada penyesalan diujung jalan.
Seperti halnya luka menganga, lama kelamaan, lelaki pendek itu sudah mulai bisa menerima kenyataan. Ada pepatah mengatakan, jika satu pergi, akan datang satu lainnya sebagai pelipur lara karena nyatanya memang seperti itulah hidup. Akan ada yang datang dan ada yang pergi. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit ditinggalkan itu mulai bisa ia terima tanpa harus meraung di tengah malam lagi karna hantaman rasa rindu yang amat kuat.
Semuanya semakin membaik sejak yang mulia raja menunjuk dirinya sebagai ibu asuh pangeran Jackson. Kyungsoo lah yang melakukan semuanya untuk Jackson. Mengganti popoknya, membuatkan susu, menimangnya dan menemani sang bayi hingga tertidur.
Hal yang paling Kyungsoo sukai adalah ketika matanya beradu tatap dengan iris hazel yang amat familiar milik sang bayi. Iris yang sangat identic dengan milik mamanya. Singkatnya Kyungsoo yakin, Baekhyun masih hidup. Ia hidup didalam Jackson.
Tetapi, jika kita berkata mengenai manusia, tentu tidak bisa kita menyamaratakan satu dengan satu lainnya. Setiap orang lahir dengan dna berbeda. Dengan bentuk berbeda dan jiwa berbeda. Setiap manusia berhak memiliki perasaannya sendiri dan kepercayaannya sendiri. Sehingga, lain hal nya Kyungsoo, tampaknya sang waktu pun tidak dapat menyembuhkan lobang menganga dihati sang raja Alderth. Lelaki tinggi tampan dengan segala otoritas dan kemewahan yang melingkupinya itu, masih belum bisa berdiri dengan kedua kakinya. Takdir seolah menariknya jatuh kedasar dan semakin jatuh tanpa ia sempat menyelamatkan diri.
Dimulai dari ramuan ungu laknat itu, dilanjutkan dengan anak buah Oswald yang memanah dirinya. Bukan hanya panah biasa yang menancap. Tapi sebuah panah yang satu centimeter lagi akan merenggut nyawanya jika terlambat diselamatkan. Untung saja tabib Zhang bergerak cepat, meskipun sang raja harus melewati masa koma selama dua bulan. Mata panah tajam itu mengenai salah satu syarafnya yang langsung terhubung ke otak, menyebabkan ia tidak sadarkan diri.
Bisa dibilang, masa itulah yang paling disesali oleh Chanyeol. Ia melewatkan dua bulan begitu saja, padahal waktu itu amat berharga, mungkin jika kejadiannya tidak seperti itu, sang raja akan memiliki lebih banyak kesempata. Tetapi manusia hanya bisa berandai-andai bukan? Jika jika jika dan jika. Hanya itu yang bisa dilakukan disaat pikirannya melayang. Membayangkan apakah akhir mereka akan berbeda jika Chanyeol tidak bodoh? Tentu tidak, dewa sudah menentukan jalannya seperti ini. Maka apapun yang terjadi, pada akhirnya Baekhyun akan pergi.
Hampir tiga bulan berlalu seperti kerjapan mata. Rasa sakit itu masih sama seolah terjadi kemarin. Rasa sesak akibat desakan penyesalan dan kesedihan masih menghimpitnya tiap malam. Membuatnya berakhir menghabiskan sebotol penuh vodka yang ada di lemari berisi minuman keras yang ia koleksi. Begitulah setiap malam panjang yang melelahkan sang raja lewati. Berakhir dengan di pagi hari ia merasa seperti ribuan truk melindas kepalanya.
Satu-satunya pelipur lara adalah kehadiran dua anaknya. Dua anak lelaki menggemaskan yang membuatnya memiliki sedikit harapan untuk hidup. Membuatnya yakin bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk mendapat ampunan dewa. Jika Chanyeol boleh meminta, ia akan rela menukarkan nyawanya untuk Baekhyun. Karena tanpa Baekhyun, Chanyeol bukanlah siapa-siapa.
Raja Alderth itu lebih memilih menyendiri di ruangan kerjanya, menatap kosong kearah langit. Berharap Baekhyun melihatnya dari sana, dan sudah memaafkannya. Bahkan ketika hembusan angin musim gugur sudah berubah menjadi turunnya bulir-bulir salju menandakan musim sudah berganti, Chanyeol masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Baekhyun, hidupnya, nyawanya, seluruh dunianya direnggut dengan cara seperti itu oleh sang pencipta. Di tiap malam ketika sedikit kesadaran masih melingkupi, pimpinan Alderth itu akan menyelipkan satu doa. Doa agar ia diberikan satu lagi kesempatan untuk menebus segala dosanya. Untuk menepati semua janjinya pada Baekhyun, dan untuk membuktikan betapa ia mencintai lelaki mungil tersebut dengan segenap jiwa.
Tidak ada, sekali lagi tidak ada satupun obat yang benar-benar menyembuhkan luka di hatinya secara permanen. Rasa sakit itu hanya akan hilang sementara. Lalu akan kembali ditengah sunyinya malam di kota Rissingshire. Bahkan natalpun tidak memiliki efek apapun untuk hati sang raja. Alih-alih menyembuhkan, momen hangat yang terjadi sekali dalam setahun itu malah membawanya ke masa lalu. Masuk menyelami memori indah yang pernah ia lalui bersama suami mungilnya. Singkatnya, memperparah luka di hati tersebut.
Tahun inipun, sang raja membiarkan seluruh keluarganya bersama Jongin, Sehun, Luhan, dan Kyungsoo berkumpul di sayap timur. Menikmati kebersamaan yang menghangatkan dinginnya musim. Membiarkan dirinya sendiri, terisolasi di ruangan kerja miliknya ditemani secangkir vodka dan percikan api perapian. Setidaknya membuat tubuhnya merasakan hangat, meskipun tidak sampai ke hatinya.
Tok Tok Tok
Gema ketukan pintu akhirnya menarik atensi raja, membuatnya berbalik dan menatap kearah pintu. Gumaman 'masuk' cukup keras ia ucapkan hingga sosok diluar sana bisa mendengar dan perlahan mendorong pintu jati mewah tersebut. Itu adalah Sehun, yang dengan ragu-ragu melangkah masuk untuk menghampiri dirinya. Hubungan mereka tidak bisa dikatakan baik meskipun Sehun sudah kembali menjabat sebagai Jenderal. Mereka jarang bercakap, lebih kepada sang raja yang mengabaikan Sehun. Masih amat kecewa karena tidak memberitahukan semuanya lebih cepat. Tetapi kembali lagi, semua itu salahnya. Sehun memiliki alasan yang logis atas semua yang dilakukannya.
"y…yang mulia", gumam Sehun pelan. Yang seperti biasa, hanya dibalas anggukan oleh sang raja.
"saya… ingin mengatakan sesuatu".
Rahang Chanyeol mengeras, raja Alderth itu kemudian berbalik dan menjatuhkan tubuhnya di kursi. Menghisap cerutunya.
"Maafkan saya, yang mulia. Seharusnya saya tidak melarang anda bertemu yang mulia ratu. Seharusnya saya menjadi penyelamat kalian, bukannya malah menjadi tembok penghalang".
Sang raja masih terdiam, enggan menanggapi meskipun telinganya masih aktif mendengarkan tiap untaian kata yang Sehun ucapkan.
"saya memiliki alasan kenapa tidak memberitahu yang mulia ratu mengenai kondisi anda. Mengenai kebenaran bahwa anda dibawah pengaruh sihir".
"karena kau ingin melindunginya kan", gumam sang raja akhirnya. Memberikan sedikit respon.
"ya, kandungan yang mulia ratu bukanlah kandungan yang kuat. Sedikit saja ia memikirkan sesuatu secara berlebihan, pendarahan ringan akan terjadi. Tabib memintaku merahasiakan semua tentang anda. Setidaknya sampai Jackson lahir. Tetapi saya tidak tahu. Jika semuanya akan seperti ini. Mohon ampuni saya, yang mulia", kepala Sehun tertunduk dalam. Menunjukkan melalui perilakunya betapa ia amat menyesali semua kesalahan yang dilakukan.
"kenapa, kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?".
"karena yang mulia, selalu menutup pintu untuk saya. Tidak membiarkan saya masuk untuk memperbaiki semuanya".
Lagi-lagi, raja Alderth itu tidak memberikan respon. Malahan kini memberikan punggungnya pada Sehun. Ditempatnya berdiri, sang jenderal merasa kaku. Perasaan bersalah menghimpitnya hingga tidak menyisakan jalan lain untuknya.
"yang mulia, saya hanya akan mengatakan ini sekali. Tetapi Patrathia bisa menjadi jawaban untuk semua kegelisahan anda", lirih Sehun.
"apakah kau bermaksud menyindirku? Apakah maksudmu aku harus mencari pelacur lain untuk melupakan suamiku?", gebrakan meja terdengar, sama menggelegar dengan suara berat Chanyeol yang terdengar amat marah.
"b…bukan yang mulia. Saya hanya…", Sehun menggigit bibir bawahnya. "saya tidak berhak mengatakan apapun, namun saya hanya bisa mengatakan, anda mungkin akan menemukan jawaban atas semuanya, di Patrathia".
"keluar", desis Chanyeol.
Sehun menggelengkan kepala melihat betapa keras kepalanya sang raja. Ini bukan pertama atau kedua bahkan ketiga. Sang raja akan selalu marah besar dan moodnya memburuk ketika berbicara dengan Sehun ataupun Jongin. Ia tidak bisa selamanya bermusuhan dengan sang raja atau lebih tepatnya dimusuhi oleh sang raja.
Sehingga si jenderal Alderth tidak memiliki pilihan lain, selain mengatakan hal yang sudah menghantuinya sejak beberapa bulan terakhir.
"Park Chanyeol. Aku tidak main-main. Sudah cukup kau membuangku dan Jongin secara perlahan atas kesalahan yang kita lakukan. Aku berusaha membuat semuanya baik, membuatmu menemukan sesuatu yang mungkin ingin kau temukan. Jawaban yang bisa kita berikan hanya itu. Rahasia besar yang kita simpan. Bahkan sesuatu yang Luhan dan Kyungsoo tidak ketahui. Pikirkanlah", akhir Sehun. Sebelum jenderal tampan itu membungkuk hormat dan berbalik keluar dari sana. Membiarkan sang raja sendirian dalam sunyi ditemani oleh sesuatu yang berdebat sengit dalam otaknya.
Etuviel Palace, December 28, 1854
"UWAAAA UWAAAA", tangisan nyaring pemilik kursi tahta selanjutnya kerajaan Alderth membelah kesunyian malam. Menggetarkan telinga siapapun yang mendengar. Membuat mereka seketika terjaga.
Sang raja Alderth yang baru saja menyandarkan tubuh lelahnya setelah mandi, dengan sigap bangkit untuk menghampiri baby box kecil yang kerangkanya terbuat dari emas dengan ukiran mahkota disini dan disana tersebut. Senyuman tersungging di wajah tampan itu begitu melihat air mata sudah meleleh menuruni wajah menggemaskan anak lelaki bungsunya.
"hey, papa disini sayang tenanglah", tanpa melewatkan beberapa detik lagi, sang raja langsung membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Satu tangannya yang lain dengan mudah meraih botol susu milik sang putera mahkota yang sudah disiapkan sejak tadi oleh Kyungsoo.
Chanyeol sudah hafal, setiap pukul sebelas malam, Jackson akan selalu menangis karena lapar. Dan itu sudah menjadi tugasnya karena ketika sang matahari tengah duduk disinggasana, disaat bersama sang Phoenix juga harus terbang mengelilingi langit Alderth. Memimpin, melihat, dan melakukan semua kewajibannya. Kala bulan dan bintang muncul menggantikan kehadiran sang matahari, saat itulah sang Phoenix harus kembali ke sarangnya berubah menjadi seorang ayah.
Chanyeol memperhatikan tiap detail paras rupawan anaknya tersebut. Menikmati setiap kesunyian yang hanya ditemani suara bibir anaknya yang menghisap dot tanpa ampun. Melihat bagaimana mata bening itu menatap kearahnya adalah momen kesukaan sang raja. Mengingatkannya akan seseorang yang selalu ia rindukan. Hal lain yang ia sukai adalah bagaimana hidungnya tampak menjadi salah satu bagian kesukaan sang pangeran. Jemari kecil gembul itu akan meremat hidungnya setiap kali Chanyeol memberinya susu seperti ini.
Disaat seperti itulah, sang raja Alderth mengira lukanya sembuh dan ia merasa siap untuk melanjutkan hidupnya, meninggalkan semua dibelakang. Tetapi salah, rasa sakit itu akan selalu kembali dalam wujud memori yang bertebaran di mana-mana dalam kamar mereka. Membuat hatinya berdarah hingga mengeluarkan aliran air asin hangat dari kedua iris hitam tersebut. Sehingga, di momen tenang berdua dengan sang putera mahkota adalah salah satu saat yang paling raja Alderth itu tunggu. Karena dengan kehadiran makhluk mungil yang bahkan masih membutuhkan orang lain untuk minum itulah, Chanyeol bisa sejenak lupa akan luka nya. Merasa senang, setidaknya hanya beberapa waktu.
Sang raja tidak melepaskan sedikitpun kontak mata dari putera nya. Manik gelap sang raja menelusuri tiap detail paras menawan bocah lelaki dipelukannya. Bentuk matanya, alis, hidung dan telinga, semua adalah hasil duplikat sempurna atas dirinya. Sedangkan bibir mungil itu, dagu serta kristal hazel didalam sana adalah milik sang mama. Hal yang selalu berhasil mengira dirinya tengah melihat kedalam manik milik lelaki mungil itu. Lelaki mungil yang amat ia cintai.
Puk
Tampaknya Jackson menendang sesuatu hingga membuat suara kertas yang beradu dengan lantai terdengar. Sontak keheningan nyaman tadi berganti dengan panik sang raja yang langsung mengelus telapak kaki puteranya. Ketika ia yakin tidak ada yang menggores kaki mungil itu, sang raja kemudian mulai mencari apa yang menjadi sasaran tendangan jagoan kecilnya.
Ternyata itu adalah sebuah surat, yang ia terima sehari setelah natal. Takdir seolah mempermainkannya dengan sedemikian rupa hingga ia harus menerima undangan pesta tahun baru di kerajaan Patrathia. Tepat sehari setelah Sehun mengatakan hal misterius itu. Kebingungan melandanya, bagai banjir bandang yang tanpa ampun menyeret siapapun di jalannya. Chanyeol setiap hari melihat kearah surat itu. Menimbang haruskah ia berangkat hingga tanpa sadar membawa secarik kertas yang biasanya sehabis ia baca akan dibuang itu, ke tempat tidur.
"Jack, apa menurutmu papa harus berangkat", gumam Chanyeol sembari memberikan elusan sayang pada kepala sang anak yang dibingkai oleh surai terang milik mendiang suami mungilnya.
Tentu saja hanya keheningan yang menyahut karena Jackson belum pada usia yang memperbolehkan dirinya untuk memahami dan menjawab percakapan orang dewasa. Namun, kristal bening itu tampak berbinar. Mengalahkan ribuan bintang diatas sana, seolah Jackson menyuruhnya untuk menghadiri undangan itu. Meyakinkannya. Mendorong sesuatu dalam dirinya untuk berangkat saat itu juga.
Kalau itu memang jawaban, biarlah ia menemukannya. Dan jika bukan, mungkin dewa memang memiliki rencana lain untuknya.
Malam itu, secara tiba-tiba sang raja Alderth mengetuk pintu kamar Jongin setelah memastikan pangeran kecilnya sudah kembali tertidur pulas. Jongin yang memang selama ini masih didiamkan oleh sang raja merasa kaget sekaligus senang. Ia bahkan ingin rasanya memeluk sahabat tingginya tersebut. Tetapi Jongin urungkan tentu saja, memikirkan imagenya dihadapan para penjaga yang kebetulan sedang berada disekeliling mereka.
"bangunkan seluruh pengawal, aku akan berangkat ke Patrathia sekarang juga", ujar sang raja yang kemudian berlalu begitu saja. Seolah apa yang ia ucapkan tidak berarti apapun. Meninggalkan Jongin yang mengerjap kaget lalu melongo begitu menyadari, jam masih menunjukkan pukul dua pagi.
"Yang mulia… yang mulia yang benar saja, yatuhan Park Chanyeol! Aku tidak akan mengikutimu ke kerajaan lain di pukul sedini ini…"
"aku tidak mengajakmu penasihat Kim!", potong sang raja dari kejauhan tanpa membalikkan badan. Tangannya melambai asal kemudian tubuhnya tidak lama menghilang dibalik koridor.
"apakah dia gila?", gerutu Jongin.
Patrathia, December 31, 1854
Hiruk pikuk pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan acara besar-besaran untuk menyambut tahun baru terdengar di seluruh penjuru istana Patrathia. Semua orang tampak antusias dengan pesta besar yang memang diadakan oleh kerajaan ini. Barisan kereta kuda berisi para bangsawan yang akan menghadiri pesta sudah terlihat sejak tadi di gerbang utama istana.
Bangsawan yang sudah tiba terlebih dahulu kini satu persatu masuk sembari memberikan undangan milik mereka kepada si penyambut, tugasnya mengumumkan siapa yang datang di grand entrance door. Agar semua yang ada diruangan tahu, siapa tamu-tamu special kerajaan tahun ini.
Layaknya bangsawan lain, sang raja Alderth pun tidak termasuk dalam pengecualian. Hanya saja karena Alderth merupakan kerajaan besar terpandang, sehingga pengawalan atas dirinya lebih ketat dibanding yang lain. Semua orang menahan nafas ketika melihat sosok tampan itu menginjakkan langkah pertamanya didalam hall. Si penyambut dengan lantang menyebutkan namanya sebelum kemudian membungkuk hormat. Diikuti seluruh pengawal yang ada di barisan depan.
Ratusan sinar lilin menerpa jas bludru hitamnya yang dihiasi permata di beberapa sisi, membuat jas mahal itu berkilauan. Rambut hitam selegam arang itu mengkilap, membingkai wajah tampan sang raja yang tampak datar, mengintimidasi, seperti biasanya. Derap langkah tegasnya menjadi satu-satunya pengiring music yang masih terdengar. Karena mendadak ruangan menjadi sunyi, para wanita seperti tercengang melihatnya, sedangkan para lelaki, beberapa terlihat iri dan sisanya terlihat kagum. Memang, sudah tersebar keseluruh penjuru dunia mengenai ketampanan sang raja Alderth. Namun sensasi melihat sosok itu secara langsung tetaplah berbeda. Sangat menyenangkan.
Ketika kaki jenjang itu sudah menuruni tangga untuk bergabung dengan tamu lainnya di lantai dasar hall, suara-suara gumaman mulai terdengar lagi. Para wanita single sudah berbisik, beberapa bahkan mengecek penampilannya sebelum bersiap menyapa sang raja. Tampaknya, kabar meninggalnya sang ratu Alderth sudah sampai ke mana-mana, membuat Chanyeol kembali menjadi mangsa empuk untuk para wanita itu.
Namun, Chanyeol adalah Chanyeol. Raja Alderth itu bahkan tidak repot-repot untuk menoleh dan menatap mereka. Ia memasang wajah datar sejak tadi sembari membawa sepasang kaki panjangnya menuju singgasana raja Leo untuk memberikan sapaan.
Senyuman langsung tersungging di wajah raja Leo begitu melihat temannya berjalan mendekat. Lalu ketika jarak mereka sudah cukup dekat, tepukan di pundak ia berikan pada sosok tinggi dihadapannya.
"aku turut berduka, Ed", ujarnya. Wajah tampan itu terlihat prihatin.
Sedangkan sang raja Alderth yang sudah ratusan kali mendengar itu hanya tersenyum simpul sembari mengangguk.
"terimakasih Leo atas perhatianmu".
"ya, tetapi sekarang bukanlah saatnya untuk bersedih. Nikmati pestanya dan bersenang-senanglah. Setelah ini akan ada atraksi pedang, kau pasti menyukainya", kekeh pimpinan Patrathia yang hanya dibalas dengan dehaman oleh Chanyeol.
Setelah berbasa-basi sebentar, Chanyeol memutuskan untuk melangkah pergi dari hadapan raja Patrathia untuk mengambil wine. Cuaca sangat dingin dan ia membutuhkan sesuatu yang hangat. Mata tajamnya sesekali menyisir ruangan mencari keberadaan Roland yang memang sengaja ikut dengannya. Lelaki itu mendadak hilang ketika sang raja menemui Leo tadi.
Namun, jumlah manusia didalam ruangan itu terlalu banyak untuk kapasitas mata sang raja dapat menemukan Roland. Sehingga ia akhirnya menyerah dan langsung mengambil satu gelas wine yang sudah disiapkan pelayan. Chanyeol menggumam nikmat saat cairan merah itu mengenai lidahnya. Memang, wine Patrathia adalah yang terbaik. Itulah alasan kenapa ia sangat mudah jatuh dan meminum wine pemberian Subin kala itu. Wine Patrathia adalah favoritnya. Kerajaan ini selalu memanen anggur kualitas terbaik setiap tahunnya, menjadikannya kerajaan penghasil wine terbesar di seluruh dunia.
"yang mulia! Pertunjukan pedang akan dimulai, raja Leo sudah menyiapkan tempat paling depan untuk anda. Mari saya antar", ujar Roland secara tiba-tiba. Untung saja sang raja Alderth tersebut memiliki reflek yang baik sehingga gelas digenggamannya tidak terjatuh.
Raja Chanyeol mengangguk sekilas kemudian mengikuti kemana langkah Roland membawanya. Mereka melewati para tamu yang sudah berkumpul mengelilingi lantai yang dihiasi aksen melingkar. Roland berteriak permisi berkali-kali agar orang-orang tersebut memberikan jalan bagi sang raja. Dan tidak lama kemudian, mereka berhasil melewati lautan manusia tersebut.
Sang raja tersenyum sekilas kepada raja Leo yang ternyata sudah duduk di sofa merah double untuk dua orang. Raja Alderth itu mendudukkan dirinya sembari menyesap wine yang masih berada di genggaman.
Suasana hening sesaat, sebelum tabuhan drum yang amat keras terdengar. Bersamaan dengan keluarnya sekitar sepuluh orang lelaki berpakaian hijau yang berbaris dan berdiri mengelilingi bagian luar lingkaran.
Chanyeol memperhatikan mereka dengan malas, sesekali memutar-mutar gelas yang ia pegang. Atraksi dimulai dengan teriakan dari seorang lelaki gempal dan kemudian gerakan-gerakan pedang mereka tampilkan. Berbagai gaya, dan tarian semua membuat para tamu terpukau bahkan bertepuk tangan. Dan tidak berhenti disitu, secara tiba-tiba kesepuluh orang tadi berhenti bergerak dan membentuk formasi dua baris.
Tabuhan drum kembali terdengar, membuat semua orang penasaran. Atensi sang raja pun teralih dan akhirnya fokus menatap para lelaki itu, yang tepat berada di hadapannya. Suara krincingan terdengar. Lalu muncullah seorang sosok lelaki berbadan mungil yang mengenakan jubah sutera panjang berwarna putih. Chanyeol tidak bisa mengetahui siapa itu, karena lelaki itu masih memunggungi mereka.
"dia adalah penampil terbaik kami. Meski baru beberapa bulan ia bekerja disini", bisik raja Leo, Chanyeol hanya mengangguk.
Perlahan, tubuh itu berbalik seperti slowmotion. Membuat sang raja tercengang begitu mengetahui siapa pemilik punggung sempit tersebut.
Lelaki itu amat cantik, meskipun satu matanya tertutupi 'eyepatch' berwarna merah maroon, namun keanggunan serta kesempurnaan itu tidak lantas tertutup. Chanyeol amat mengenal siapa orang itu, meskipun satu matanya terhalang kain merah yang amat mengganggu. Satu irisnya yang tidak tertutupi bersinar tajam menatap setiap orang disana. Hanya sekali dalam seumur hidup, ia pernah bertemu dengan seseorang yang amat luar biasa, amat memukau. Hanya sekali, ia bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya tergila-gila.
Jemari lentiknya dengan lihai mengayunkan pedang yang ia genggam. Tubuh mungil itu bergoyang mengikuti irama musik. Chanyeol tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pasti ia hanya bermimpi, atau mungkin ini adalah ilusi yang tercipta dari kerinduan tak berujung yang dirasakannya.
"d…dimana kau bertemu dengannya?", bisik Chanyeol. Berusaha menyembunyikan suara nya yang bergetar.
"Dia? Tiba-tiba saja datang untuk melamar. Kemampuan pedangnya sangat bagus. Dan wajahnya, aku tidak pernah melihat lelaki secantik itu, meski sebelah matanya harus tertutup". Chanyeol masih terdiam, berusaha mencerna informasi yang diberikan oleh Leo.
"meskipun yah, aku tidak tahu kenapa ia memakai penutup mata itu. Mungkin matanya terluka. Tetapi lelaki itu terlalu diam, kami bahkan mengira ia bisu", lanjut Leo. Sebelum lelaki itu fokus pada atraksi dihadapannya.
Chanyeol seolah ditelan didalam dunianya sendiri. Tidak memperhatikan sekitar dan matanya menatap kosong pada lelaki yang sepertinya tidak menyadari kehadiran sang raja Alderth tersebut. Jujur saja, sang raja tidak tahu apakah ini benar mimpi atau realita. Ia belum bisa memutuskan.
Waktu terus berjalan, penampilan tersebut akhirnya berakhir. Tabuhan drum berhenti bersamaan dengan para penampil yang berpose bersama dengan si lelaki mungil berdiri ditengah. Sang raja Alderth masih terpaku ditempatnya. Sepasang mata itu masih menatap nyalang ke sosok yang diterpa ribuan sinar lilin ditengah sana. Membuatnya bersinar, bak permata langka yang amat indah.
Detik berlalu, sang waktu memutuskan sudah saatnya bagi mata mereka untuk bertemu. Satu hazel itu bertubrukan dengan iris gelap sang raja. Didalam sana, sang raja menangkap sebuah emosi. Rasa terkejut yang amat sangat. Hingga tampaknya tidak bisa disembunyikan oleh lelaki berjubah putih tersebut. Jantung sang raja berdegub kencang.
Ini nyata, lelaki mungil itu nyata.
Suaminya, masih hidup dan sedang berdiri beberapa meter dihadapannya, menyamar menjadi seorang penari pedang.
Dunia disekitar Chanyeol seakan berputar, dan raja Alderth itu berubah panik ketika si mungil langsung berbalik dan berlari menghilang dibalik kerumunan.
"Baekhyun!", teriak sang raja sembari berdiri dari duduknya.
Cukup lantang hingga semua orang menatap bingung kearahnya. Bahkan raja Leo sudah berdiri disampingnya lengkap dengan kernyitan di dahi.
"kau mengenalnya?".
"katakan dimana ia tinggal leo", ujar sang raja pelan. Matanya masih menatap nyalang ke semua manusia disekelilingnya.
"maksudmu?"
"LELAKI ITU! Dimana ia tinggal?"
Raja Leo menatap bingung kearah temannya, namun tetap menjawab pertanyaan membingungkan itu.
"tentu saja bersama para prajurit pedang lain di asrama mili…Hey Edmund kau mau kemana?".
Tidak, waktu berjalan terlalu cepat dan tidak akan mau menanti sang raja jika ia tetap terdiam disana tanpa berbuat apapun. Ia bisa kehilangan ratunya lagi. Chanyeol tidak akan membiarkan itu. Ia harus memastikan apa yang dilihatnya. Dan jika memang ini jawaban yang Sehun maksud, ia akan menemukannya. Memilikinya lagi, dan membawanya kembali ke Alderth.
…
Seperti kesetanan, raja Alderth itu berlari secepat yang kakinya bisa menjangkau. Tetapi sayang, banyaknya orang yang memenuhi area istana membuat usahanya agak sulit. Beberapa kali ia harus mendorong orang-orang tersebut secara paksa agar memudahkan jalannya. Decakan kesal berkali-kali ia terima. Namun raja Chanyeol seolah tuli dan hanya ingin segera bertemu dengan lelaki itu.
Dewi fortuna seperti berpihak pada Chanyeol. Karena begitu ia melangkah keluar dari bagian utama istana, lautan manusia itu berkurang. Memberikannya ruang yang cukup untuk mempercepat ayunan kaki panjang tersebut. Kepalanya menoleh kesana kemari, mencari keberadaan lelaki mungil berjubah putih yang lumayan mencolok ditengah gelapnya malam.
Chanyeol berharap dalam hati agar dewa memberinya satu kesempatan lagi. Kesempatan yang ia bersumpah tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Kesempatan terakhir dan setelahnya sang raja akan menyerah.
Semakin lama, langkah itu membawanya menuju kesebuah hamparan rumput yang menanjak. Seperti bukit kecil di belakang istana. Hawa dingin semakin menusuk ketulang, namun ia sungguh tidak peduli. Dibawah sana, Chanyeol bisa melihat banyak lampion yang sudah siap diterbangkan oleh ratusan orang yang tengah berkumpul. Memang, sudah menjadi kebiasaan di kerajaan Patrathia untuk menerbangkan lampion di penghujung tahun. Sebagai alat mengirimkan harapan mereka pada tahun selanjutnya secara langsung kepada sang dewa. Jika saja raja Alderth itu sempat, ia pasti akan menulisnya. Namun ini bukan saatnya ia peduli akan lampion.
Rasa frustasi bercampur dengan tarikan nafas berat ia rasakan. Lelaki mungil itu terlalu cepat hingga dirinya kehilangan jejak. Sedang sang waktu, seolah tidak ingin membantunya dengan bergerak lambat. Terus berjalan dengan cepat dan setiap detiknya semakin menjauhkan suami mungilnya dari jangkauan jari si raja Alderth.
"BAEKHYUN!", teriaknya seperti orang gila. Ia tahu lelaki mungil itu tidak akan mendengarnya.
"BYUN BAEKHYUN!".
Hening menyahut.
Perasaan sakit itu kembali menekannya, melemahkan tubuhnya, meluruhkan lututnya kepada sang bumi yang ia pijaki. Tangisan frustasi ia keluarkan, beruntung disana sangat sepi sehingga Chanyeol yakin tidak akan ada yang melihat dirinya dalam kondisi seperti itu.
Kepala yang seumur hidupnya berhias mahkota itu menunduk dalam ketika penyesalan kembali datang dan menenggelamkan dirinya dalam sumur gelap tak berdasar. Membuatnya lupa akan sekitar.
Begitulah sang raja Alderth pasrah membiarkan sang waktu terus berjalan. Ia merasa amat lelah. Tiba-tiba saja perasaan optimis yang sempat dirasakan beberapa saat lalu menguap entah kemana. Melebur bersama hembusan angin musim dingin, menerbangkannya jauh hingga tidak terlihat.
"kau tidak bisa seperti ini, orang akan melihat", suara lembut itu terdengar. Sangat lembut, sangat menenangkan dan melegakan disaat bersamaan. Bak oasis ditengah hamparan pasir sejauh mata memandang.
Perlahan, raja Alderth itu mendongak. Matanya yang dipenuhi air mata mengabur, hingga tidak bisa melihat jelas siapa yang ada disana. Gelapnya malam pun seolah tidak membantu. Namun yang ia tahu pasti, Chanyeol sangat mengenal suara itu. Suara yang setiap malam memenuhi mimpinya. Suara yang amat ia rindukan hingga dirinya merasa semua itu tidaklah nyata.
"B…baek", lirihnya.
Alih-alih menjawab, lelaki mungil itu malah melepaskan jubahnya kemudian menjatuhkan jubah hangat tersebut pada pundak lebar sang raja.
Tangan pimpinan Alderth itu bergerak cepat menggenggam jemari lentik yang masih ada dipundaknya tersebut. Bahkan lebih cepat dari otaknya yang masih berusaha memproses semua ini.
"apakah kau nyata?", ujarnya lagi, berusaha memastikan.
"ya", suara itu sangat pelan, bak hembusan semilir angin.
"bagaimana… bagaimana bisa? Mereka bilang kau…",
"aku harus pergi", potong si mungil bahkan sebelum sang raja sempat menyelesaikan ucapannya.
Tangan mungil itu seketika melepaskan genggaman lelaki yang lebih besar kemudian berlari menjauh. Beruntung bagi Chanyeol, kakinya yang panjang bisa lebih cepat menjangkau tubuh mungil itu, dan segera membawanya masuk dalam dekapan hangat. Tidak peduli jika suami mungilnya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dekapan tersebut.
"kumohon, jangan pergi", lirih sang raja.
Ucapan itu tampaknya berhasil menenangkan Baekhyun hingga ia perlahan berhenti memberontak. Memasrahkan dirinya, namun tidak balas memeluk tubuh berotot tersebut.
"kumohon, berikan aku kesempatan Baek. Untuk memperbaiki semuanya".
Tidak, masih tidak ada jawaban. Lagi-lagi hanya suara angin yang berkolaborasi dengan riuh suara dibawah sana yang terdengar. Sang raja merasakan sepasang tangan mendorong dadanya untuk menjauh. Lalu tubuh mungil itu berbalik melangkah ke ujung bukit. Mendudukkan diri di rerumputan sambil matanya menatap kosong pada warga yang tengah sibuk dengan lampion mereka.
Chanyeol tidak bodoh sehingga ia cepat memahami maksud si mungil. Raja Alderth itu mengikuti yang suaminya lakukan. Kemudian duduk disamping Baekhyun. Mereka hanya terpisah jarak beberapa senti. Dan sang raja masih belum bisa memutuskan apakah ini mimpi atau tidak.
"kenapa, kau kesini?", lirih suara itu. Memecah kesunyian diantara mereka.
Chanyeol menoleh, menatap paras indah itu dari samping.
"a…aku meng̶ "
"apakah Sehun dan Jongin memberitahumu?", potong Baekhyun. Kepalanya menoleh menatap sang raja.
Chanyeol baru akan menjawab, tetapi fokusnya beralih pada eyepatch yang menutupi salah satu mata indah favoritnya itu. Meskipun Baekhyun tetap terlihat cantik menggunakannya, namun rasa khawatir tidak dapat dipungkiri oleh sang raja.
"Baek, apa yang terjadi pada matamu?".
"bisakah kau tidak menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga?", ujar lelaki mungil itu kesal. Ia kembali memalingkan wajah.
"aku mengkhawatirkanmu Baek", tangan lebar itu terulur untuk menyentuh pundak sempit Baekhyun.
Baekhyun menghembuskan nafasnya perlahan, selanjutnya jemari lentik itu dengan kasar menarik lepas eyepatch yang terpasang di satu matanya.
Chanyeol mengerjap bingung, tidak ada yang berubah. Mata Baekhyun tetap berbinar indah, tanpa cacat ataupun luka. Lalu apa alasan suami mungilnya melakukan ini?
"aku baik-baik saja. Tetapi orang akan tahu siapa aku tanpa eyepatch ini".
Secara tidak sadar, sang raja menghela nafas lega. Melupakan fakta bahwa si mungil melakukan semua itu demi tidak diketahui keberadaannya oleh siapapun.
"kenapa? Kenapa kau melakukan semua ini?".
Diam, hanya itu yang Baekhyun lakukan. Jemarinya bermain dengan ujung baju yang ia kenakan. Meskipun pakaian itu tidak semewah yang biasa digunakannya sebagai seorang ratu, namun si mungil tetap terlihat amat menawan.
"jawab aku Baek".
"karena aku sudah lelah dengan semuanya!", tegas Baekhyun tiba-tiba.
"aku sudah mengetahui semuanya bahwa ternyata kau berada dibawah pengaruh sihir. Bahwa Subin dan Oswald sudah dihukum mati. Aku mendengarkan percakapan Sehun dan Luhan secara diam-diam. Mereka tidak mau memberitahuku", jeda sejenak sang mungil menghela nafasnya lelah.
"aku tahu bahwa meskipun itu terjadi, kau tetap tidak mau mengunjungiku. Kau membiarkanku sendiri meskipun mereka bilang kau sudah sadar", iris hazel itu menatap iris gelap lainnya. Kilat kesedihan terpampang nyata disana, dan Baekhyun tidak berusaha sedikitpun untuk menyembunyikannya.
"tidak seperti itu sayang… Sehun tidak mau memberitahuku, aku…"
"kau tidak lagi mencintaiku. Tentu itulah alasannya. Kejadian kemarin menyadarkanku, bahwa aku tidak akan pernah bisa hidup di istana. Aku tidak cocok untuk hidup disana. Semuanya sangat berbeda, penuh dengan persaingan, taktik politik licik, aku… aku tidak bisa menghadapi itu semua. Aku ingin sekali saja dalam hidupku menjadi egois. Melepaskan diri dari genggamanmu dan mengejar mimpiku, meski harus mengulang semuanya dari awal. Karena itu aku pergi", Baekhyun melemparkan gumpalan rumput yang dicabutnya. "aku meminta Sehun bekerjasama. Membohongi Luhan, Kyungsoo, kau dan semuanya atas kematianku".
"bagaimana bisa, bagaimana bisa kau meninggalkan Jackson seperti itu demi tuhan Baek!", hardik sang raja. Namun tidak memberikan efek apapun pada Baekhyun. Lelaki mungil itu malah tertawa miris, kemudian menatap dalam ke mata Chanyeol.
"Jackson baru saja lahir. Orang tua macam apa aku hingga tega membawanya pergi. Lagipula, kau lihat sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa. Aku tidak punya uang untuk menghidupinya. Aku tidak bisa melihatnya mati kelaparan bersamaku. Karena itu, aku meninggalkannya di tanganmu. Di tempat yang tepat".
Chanyeol menggeleng, masih tidak dapat mengerti maksud si mungil. Tidak bisa memahami jalan pikiran lelaki itu hingga berbuat sejauh ini. Apakah rasa sakit yang amat sangat bisa membuat seseorang kehilangan akalnya?
"kenapa kau melakukan itu? Tidakkah kau ingin memberikan kesempatan kedua padaku? Menantiku menjelaskan semuanya?", lirih sang raja. Kekecewaan terlihat di paras tampannya.
"tiga bulan sudah cukup bagiku untuk menunggu sejak aku mendengar percakapan Sehun dan Luhan. Aku sudah tidak bisa menanti lagi, yang mulia. Seperti yang kubilang, aku juga seorang manusia yang berhak bermimpi dan berhak egois".
"jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan mengejarmu Baek! Andai kau tahu bahwa aku serasa ingin mati tanpa adanya dirimu. Jackson dan Vincent adalah alasan kenapa aku bertahan".
Baekhyun beranjak berdiri setelah mendengar kalimat itu. Punggungnya menghadap Chanyeol untuk membelakangi lelaki tinggi tersebut. Berusaha sekuat tenaga menyembunyikan air mata yang mengalir deras menuruni pelupuk matanya.
"baby…", ujar suara itu lembut, diiringi dengan pelukan hangat yang sang raja berikan. Dagu kokoh milik sang raja bersandar nyaman di pundak sempit Baekhyun.
"baby, ayo kita pulang"
"aku tidak punya rumah"
"rumahmu di Alderth. Bersama aku, dan anak-anak kita", bisik sang raja.
Diam, lelaki mungil itu tetap membisu tanpa keinginan untuk menjawab sedikitpun. Membuat sang raja gelisah dibelakangnya. Takut dengan apapun yang akan terjadi setelah ini. Memang Baekhyun masih hidup, namun semua akan sama jika lelaki mungil yang amat ia cintai itu menolak untuk kembali bersamanya.
"aku akan melakukan apapun untukmu, bahkan mati sekalipun Baek".
"benarkah?", lirih Baekhyun akhirnya.
"ya, aku bersumpah".
Baekhyun tertawa pelan kemudian perlahan melepaskan dirinya dari kungkungan sang raja.
"Kau hanya perlu melepaskanku, yang mulia. Semua sudah berakhir. Anggaplah aku sudah mati, seperti yang selama ini kau ketahui. Selamat tinggal, yang mulia", ucap Baekhyun sebelum kemudian berlari cepat, menghilang di balik pepohonan.
"B…BAEK! BAEKHYUN TUNGGU!", secepat kilat sang raja berusaha menyusul si mungil. Matanya menatap nanar kesana kemari demi dapat melihat sosok itu lagi.
"BYUN BAEKHYUN!", teriaknya lagi.
Nihil, tidak ada jawaban.
Sang raja menghela nafasnya kecewa kemudian kembali berteriak.
"AKU AKAN MENDAPATKANMU LAGI. KAU DENGAR? ITU ADALAH SUMPAHKU BYUN BAEKHYUN!".
Detik berlalu, berubah menjadi menit ketika sang raja Alderth menyerah karena tidak kunjung mendapat respon. Memutuskan bahwa suami mungilnya sudah tidak ada disana, sehingga ia berbalik dan melangkah pergi. Tanpa tahu, sesosok tubuh mungil itu tengah bergetar dengan tangisan tanpa suara dibalik sebuah pohon mahoni.
Patrathia, January 1, 1855
"yang mulia, apakah benar? Yang mulia ratu… masih hidup?", lirih Roland.
Ia mengatakannya dengan amat hati-hati. Takut jika sang raja merasa tersinggung hingga marah. Namun rasa penasaran sang lord terlalu tinggi hingga muntahan pertanyaan itu tidak bisa ia tahan lebih lama lagi.
Semalam, Roland mencari keberadaan sang raja hingga ke sudut-sudut istana. Ia amat khawatir melihat sang raja berlari kesetanan mengejar lelaki mungil yang mengenakan eyepatch tersebut sembari meneriakkan nama ratu Alderth.
Memang, ketika ia melihat penampilan itu kemarin, si lelaki mungil yang menjadi centre dalam tarian sangatlah familiar. Seperti ia pernah melihatnya, atau bahkan sering melihatnya. Roland sempat curiga dan berencana untuk menanyakan hal tersebut pada sang raja ketika pesta usai, namun belum sempat hal itu ia lakukan, sang raja ternyata sudah lebih sigap untuk bertindak.
Kecurigaannya semakin besar dan berubah menjadi keyakinan begitu ia menemukan sang raja berjalan gontai kembali ke istana. Wajahnya merah, tangannya mengepal dan nafasnya memburu amat cepat. Roland yakin, sesuatu yang tidak baik sudah terjadi hingga membuat rajanya kembali seperti itu.
"ya", singkat. Dan amat pelan jawaban sang raja. Sebelum sosok gagah itu kembali berbalik menatap keluar jendela, entah memperhatikan apa diluar sana.
Roland hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar itu. Jika memang sang ratu masih hidup, itu berarti Jenderal Oh dan Penasihat Kim telah berbohong kepada seluruh penjuru kerajaan. Mereka, bisa dihukum penjara atau bahkan mati karena kesalahannya.
"apakah ini berarti, Jenderal Oh sudah berbohong, yang mulia?".
Chanyeol hanya terdiam, bibirnya yang menyesap wine menjadi satu-satunya suara yang ia keluarkan.
"yang mulia, anda tahu jenderal Oh dan penasihat Kim bisa dihukum jika semuanya tahu akan hal ini bukan?", ujar Roland lagi, suaranya terdengar khawatir.
Chanyeol menghela nafasnya pelan. Jemarinya mengetuk-ngetuk gelas kaca yang ia genggam.
"Apakah aku harus merelakan nyawa sahabatku demi kebahagiaanku sendiri Roland? Ataukah aku harus menyelamatkan sahabatku dan melepaskan Baekhyun?", perlahan tubuh itu berbalik. Untuk pertama kalinya, Roland menangkap kesedihan yang amat sangat didalam iris gelap sang junjungan. Lord Alderth itu hingga tidak dapat berbuat apa-apa karena kesedihan yang menguar dari sana seperti menulari dirinya.
"y…yang mulia"
"kirimkan surat pada hakim agung mengenai hal ini, dan aku ingin bertemu Leo".
"baik yang mulia", Roland membungkukkan badannya hormat. "raja Leo sudah menanti anda di ruangannya".
Chanyeol hanya mengangguk sekilas kemudian berlalu melewati Roland menuju pintu dan menghilang dibaliknya.
…
Riuh suara prajurit yang mengelilingi hamparan rumput hijau di bagian belakang istana seolah menggetarkan pagi yang hening di istana Patrathia. Sorakan-sorakan serta teriakan mereka terdengar amat jelas bahkan hingga ke bagian utama istana. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana seluruh prajurit dan anggota penari pedang berkumpul untuk berlatih. Di akhir kegiatan, biasanya mereka akan bersenang-senang. Seperti mengadakan duel atau berlomba.
Tetapi, ada yang berbeda sejak tiga bulan belakangan. Kemunculan seorang anggota baru klub tarian pedang agaknya membuat para prajurit amat senang. Bagaimana tidak? Wajahnya amat cantik, melebih kecantikan wanita meskipun satu matanya tertutup. Tubuh mungil yang mereka kira lemah itu nyatanya sangat tangguh hingga selalu berhasil mengalahkan prajurit pedang terhebat sekalipun. Menjadikannya juara bertahan selama tiga bulan ini dan membawa pulang seluruh koin emas hasil taruhan para prajurit.
Para prajurit tangguh kerajaan Patrathia sangat menikmati waktu mereka memperhatikan si mungil itu bertarung dan mengayuhkan pedangnya. Dalam benak mereka, ini seperti membunuh dua burung hanya dengan satu batu sekaligus. Mereka bisa bersantai dan menikmati pemandangan indah.
"Baiklah! Apakah ada yang ingin bertarung lagi melawan penari pedang terbaik kami?", itu adalah suara Jihoon, salah satu penari pedang yang juga merupakan teman terbaik Baekhyun selama tiga bulan terakhir.
Senyuman terkembang di wajah cantik Baekhyun sembari satu tangan mengangkat tinggi-tinggi pedang di genggamannya. Iris hazel yang tidak terutup eyepatch tersebut menyisir ke setiap prajurit yang mengelilingi dirinya. Tetapi sayang, lelaki itu melewatkan dua pria lain yang tengah menatapnya dari kejauhan.
Pria paling tinggi diantara keduanya sedang tersenyum sembari menatap lekat pada sosok mempesona yang tengah diterpa sinar matahari disana. Tidak sedikitpun melepaskan pandangannya sejak ia tiba di tempat itu tadi.
"yang mulia… sudah saatnya", bisik Roland. Anggukan diberikan oleh sang raja sebelum lelaki tampan berbalut kemeja putih itu berjalan dengan gagah kearah kerumunan.
Roland tersenyum lebar sembari mengikuti langkah cepat sang raja. Ia tidak menyangka cara ini akan diambil oleh Chanyeol setelah lelaki tinggi itu menghilang untuk bertemu raja Leo. Tampaknya, sang raja Patrathia sudah mengetahui hal ini sehingga si raja Alderth bisa dengan mudah menemukan ratunya yang semalam sempat terlepas lagi dari genggaman.
"Aku, aku menantang yang mulia ratu Alderth untuk bertanding pedang denganku", ucap sang raja lantang sembari membelah kerumunan para prajurit.
Mendengar itu, suasana seketika hening. Seluruh prajurit disana menoleh keasal suara untuk melihat siapa dalang dibalik kejadian itu. Dan ketika mereka sudah mengetahui siapa, secara serempak puluhan prajurit tadi menjatuhkan satu lututnya di tanah untuk memberikan penghormatan pada sang raja Alderth.
Baekhyun membelalak kaget melihat lelaki tampan yang masih berstatus suaminya itu berjalan mendekat diikuti oleh Lord Roland. Mau tidak mau, si mungil ikut menundukkan tubuhnya untuk memberi hormat.
"y…yang mulia, apakah anda yakin ingin melakukan duel ini dengan kami?", Jihoon menjadi pertama yang membuka suara. Memastikan apakah semua ini benar. Bagaimana bisa seorang raja kerajaan besar seperti raja Alderth sudi berduel bersama mereka?
"tentu, aku ingin menantang dia…", Chanyeol mengarahkan pedangnya kearah sang suami mungil. "Ratu Alderth, untuk berduel pedang denganku".
Baekhyun merasa ingin ditelan bulat-bulat oleh bumi ketika mendengar itu. Bagaimana bisa sang raja mengatakan itu secara terbuka seperti ini. Tidakkan sama saja ia menimbulkan masalah baru?
Seluruh mata seketika menatap kaget pada Baekhyun. Ada yang tercengang, ada yang bahkan tidak dapat menahan diri untuk berbisik. Tidak percaya jika lelaki asing cantik itu adalah ratu Alderth yang dikabarkan sudah wafat.
"Y…yang mulia", desis Baekhyun sambil menatap tajam pada sang raja. Tetapi Chanyeol hanya memberikan senyuman miring andalannya.
"R…ratu Alderth, maksud yang mulia?", lagi Jihoon bersuara.
"dia, lelaki cantik itu yang berdiri dibelakangmu adalah ratu Alderth. Ratuku, yang pergi karena kesalahanku".
Bisik-bisik semakin terdengar jelas disekeliling mereka. Wajah Baekhyun sudah memerah sekarang. Berusaha mengabaikan tatapan Jihoon kepadanya. Tatapan yang jika diartikan adalah 'kau berbohong padaku!'.
"bagaimana, ratu Aidyn? Apakah anda bersedia? Tentu aku tidak menginginkan koin emas. Aku menginginkan dirimu. Jika aku menang, kau akan kembali pulang bersamaku ke Alderth. Jika aku kalah, aku akan menuruti semua kemauanmu", suara Chanyeol terdengar lantang. Kaki panjangnya perlahan mendekati yang lebih mungil. Membuat Baekhyun mendadak merasa gugup.
"terima! Terima! Terima! Terima!", perlahan bisikan para prajurit berubah menjadi seruan penyemangat untuk mereka. Secara bersamaan teriakan yang juga memojokkan si mungil. Semakin detik berlalu, semakin lebar saja senyuman sang raja.
Helaan nafas perlahan Baekhyun hembuskan. Tangannya mencengkram erat pegangan pedang yang ia bawa. Sebenarnya lelaki mungil itu sangat ingin marah, namun ia berusaha menahannya sekuat tenaga. Bagaimanapun Chanyeol adalah raja, dan ia tidak berhak memaki seorang raja dihadapan puluhan orang meskipun itu adalah suaminya sendiri.
"baiklah, aku menerimanya. Dengan syarat"
"katakan sayangku", kekeh sang raja. Tanpa disadari oleh si mungil, lelaki tinggi yang masih amat tampan itu sudah berjarak hanya beberapa senti saja darinya. Sedikit lagi, bibir mereka bisa bersentuhan.
"a…aku", Baekhyun meremat lagi pegangan pedangnya, berusaha menghilangkan rasa gugup yang mendadak datang. "aku ingin ada kesempatan kedua bagi siapapun yang kalah".
Tentu, itu adalah syarat yang masuk akal. Baekhyun tahu seberapa hebat sang suami dalam bermain pedang. Bahkan mungkin raja Alderth itu sangat hebat menggunakan semua senjata yang ada. Kemungkinan ia menang mungkin lebih tipis, dan Baekhyun kali ini tidak akan mudah mengikuti keinginan pemilik tahta Alderth tersebut.
"tentu, apapun untukmu sayang", bisik sang raja dibarengi kekehan. Sang ratu Alderth hanya menatap tajam pada suami tampannya.
Bunyi pukulan gong kemudian menjadi tanda bagi mereka untuk mengambil posisi ancang-ancang. Sepasang suami tersebut perlahan berjalan mundur, namun iris keduanya seolah tidak ada yang ingin melepaskan satu sama lain.
Teriakan mereka kemudian terdengar, dilanjutkan dengan bunyi pedang kedua pimpinan Alderth yang beradu untuk pertama kali.
SLING, suara pedang sang ratu yang ia tarik terlebih dahulu menimbulkan bunyi yang lumayan memekakkan telinga, menunjukkan pada siapapun disana betapa tajam senjata miliknya. Meskipun begitu, tidak berarti sang raja akan lengah. Dengan cepat ia menangkis serangan kedua yang diarahkan Baekhyun padanya. Menimbulkan dentingan yang memekakkan telinga.
Suara sorakan terdengar keras mengiringi kedua pedang itu berduel satu sama lain. Satu menyerang satu menangkis. Sesekali, gerakan mengejutkan diberikan oleh masing-masing dari mereka, menunjukkan kemampuan pedang yang dimiliki. Jujur saja, sang raja Alderth merasa kemampuan Baekhyun sangat luar biasa, dalam hati ia berjanji akan berterimakasih pada Sehun karena sudah mengajarkan sang ratu mengayunkan pedang hingga menjadi amat handal.
Teriknya matahari dan gerakan lincah membuat keringat mereka bercucuran, kulit mulus kedua pimpinan Alderth itu berkilat terkena cahaya. Setiap mata disana menjadi saksi bagaimana sang raja Alderth berusaha mendapatkan kembali sang ratu, dan bagaimana sang ratu berjuang untuk perasaannya.
SLINGG
Lagi suara itu terdengar bersamaan dengan pedang sang raja yang memojokkan sang ratu. Memenjarakan tubuh mungil itu pada himpitan pedang dan tangan kekarnya. Membuat Baekhyun diam tak berkutik. Secara otomatis, senyuman kembali terkembang di wajah tampan itu. Nafasnya yang berderu cepat membuat nya tampak sangat menggoda dimata sang suami mungil. Namun tentu saja, Baekhyun tidak akan menjatuhkan harga dirinya didepan sang raja, tidak hari ini.
"menyerahlah sayang, kembalilah padaku. Aku akan memperbaiki semuanya", ucap sang raja.
Baekhyun terdiam, matanya menatap dalam ke mata sang raja. Senyuman kemudian terkembang di wajah cantik itu. Iris hazel yang tadinya amat tajam kini berubah lembut dan sangat…menggoda. Chanyeol merasa dunia bergetar didalam kepalanya.
"tentu saja… tidak akan semudah itu… Yang mulia", dengan cerdik si ratu Alderth menggunakan kesempatan lengah Chanyeol untuk menyerang. Ia menundukkan tubuh mungilnya kemudian berputar dengan indah. Membuat sang raja semakin tercengang melihat bagaimana tubuh itu bergoyang dengan amat indah sebelum mengarahkan pedang itu kearah dirinya. Sungguh, jika dia mati dengan cara seperti ini, raja Alderth itu merasa rela. Ia dijemput oleh dewa kematian terindah yang pernah ada. Teriakan-teriakan yang tadi terdengar jelas di telinga lebar itu mendadak hilang entah kemana. Disekeliling tubuh mungil yang kini seperti melompat kearahnya itu seperti terdapat binar-binar cahaya imajiner.
KLANG
Sayang, suara itu harus menyadarkannya. Dilanjutkan dengan suara teriakan heboh para prajurit disekeliling mereka.
"WOOOOOOOOOO AIDYN! AIDYN! AIDYN AIDYN!".
Tidak ada hitungan menit, dan sang raja kini sudah terjatuh di tanah. Pedang kebanggaannya terlempar beberapa meter. Sedang Baekhyun kini berada dihadapannya sembari menodongkan pedang yang ia genggam tepat di wajah raja Chanyeol.
"aku menang yang mulia", kekeh Baekhyun. Matanya kembali menatap tajam kearah sang raja. Senyuman miring terkembang menghiasi paras cantik yang dibalut keringat itu.
Chanyeol menggeram marah kemudian menjatuhkan tubuhnya untuk terlentang di tanah. Berusaha mengatur nafas dan memejamkan mata sembari merasakan semilir angin yang menerpa tubuhnya. Ia tidak akan menang dengan cara seperti ini, Baekhyun adalah kelemahannya.
"SELAMAT RATU AIDYN!", teriak Jihoon yang lagi disambut sorak sorai para prajurit.
Perlahan Baekhyun menjauhkan pedangnya dan menunduk untuk mengulurkan tangannya pada sang raja. Meskipun mereka sedang dalam masa 'perang dingin' namun Baekhyun masih sedikit khawatir pada suami tingginya. Ratu Alderth itu bersumpah hanya sedikit ia merasa khawatir, hanya sedikit. Ya benar, sangat sedikit hingga ia merasa jantungnya akan lepas kapan saja.
GREP
Baiklah, jika kita membicarakan raja Alderth, tentu kita tahu bahwa pria tersebut adalah seseorang yang amat menawan dengan jutaan trik untuk menjatuhkan mangsanya. Dan ya itulah yang ia lakukan sekarang. Dengan cepat, sang raja menarik tangan Baekhyun yang terulur. Kemudian membenamkan tubuh mungil itu kedalam dekapannya, hingga posisi Baekhyun kini tengkurap diatas tubuh kekar milik Chanyeol.
Membuat mereka menjadi bahan tontonan puluhan orang hingga beberapa dari mereka bersiul menggoda.
"apa yang kau lakukan Chanyeol!", desis Baekhyun.
Namun raja Alderth itu hanya tersenyum sembari menatap dalam ke satu hazel Baekhyun yang tidak terhalang kain.
"aku mencintaimu", bisiknya. Kemudian meraup bibir manis yang amat ia rindukan itu.
Memberikan lumatan dalam di kedua belah benda kenyal merah milik sang ratu. Tidak peduli tangan mungil itu sudah menghantam dadanya berkali-kali, memberontak untuk dilepaskan. Justru itu membuatnya semakin semangat memperdalam ciuman mereka. Raja Alderth itu lupa betapa candunya bibir Baekhyun. Dan ketika akhirnya ia dapat mengecap benda kenyal bak heroin itu, Chanyeol merasa tubuhnya amat ringan. Merasa kecanduan lagi akan benda yang dulu pernah menjadi kesukaannya itu.
Serangan di bibir yang amat sensual itu membuat Baekhyun mendadak lemas, semua perlawanan yang ia berikan lagi kini berubah menjadi pelukan pada leher kokoh sang raja. Bibir mungilnya sebisa mungkin mengimbangi pangutan dalam sang raja. Baekhyun amat merindukan ciuman ini, dan ia tidak dapat berdusta lebih lama lagi.
Waktu berjalan, raja dan ratu Alderth itu seolah tuli dan masih fokus mengecap bibir masing-masing tanpa peduli dengan sekeliling. Memuja momen yang seperti telah jutaan tahun mereka lewatkan. Namun sayang, kedua pimpinan Alderth itu adalah manusia. Oksigen tentu menjadi kebutuhan utama karena kini dua pasang paru-paru didalam sana sudah berteriak karena asupan yang semakin menipis tiap detiknya. Dengan berat hati, sang raja Alderth melepaskan pangutan mereka. Nafas keduanya memburu, mata Chanyeol terus memerangkap mata Baekhyun yang juga menatap lembut kearahnya. Raja Alderth itu bersumpah ia kembali melihat cinta yang amat sangat disana. Mengapung di tengah-tengah samudera hazel bulat milik suaminya.
"ANDA HEBAT YANG MULIA".
Chanyeol sangat ingin mencari siapa pemilik suara itu dan melemparnya ke sungai, karena berkat suara teriakan lantang itu, Baekhyun seperti tersadar. Tatapan lembutnya berubah menjadi tatapan tajam yang menusuk ke iris gelap sang raja. Perasaan cinta itu lenyap begitu saja. Kedua tangannya mendorong dada bidang itu sekuat tenaga.
Tanpa mengucapkan satu patah katapun, ia berbalik untuk mengambil kasar pedang miliknya yang tergeletak di rerumputan. Kemudian berjalan pergi dari sana. Meninggalkan sang raja yang masih dalam posisinya. Tercengang.
"AKU MASIH MEMILIKI KESEMPATAN KEDUA! SAMPAI JUMPA MINGGU DEPAN SAYANG!", teriaknya. Namun si mungil tidak menggubris dan tetap berjalan membelah kerumunan prajurit yang mengelilingi mereka. Kemudian, punggung sempit itu kembali menghilang, lepas dari pandangan sang raja.
Rissingshire, January 05, 1855
Derap langkah sepasang kaki panjang yang diikuti sepuluh pasang lainnya menggema memasuki ruangan utama istana Etuviel. Seketika, atensi seluruh orang disana terfokus pada sang raja, dilanjutkan dengan bungkukan badan tanda penghormatan.
Pagi itu, sang raja akhirnya kembali menginjakkan kaki di Alderth tanpa sang ratu tentu saja. Lelaki tampan itu berencana akan kembali Patrathia untuk mendapatkan lelaki mungil itu, namun ada banyak hal yang harus ia selesaikan. Sesungguhnya rasa kecewa sudah tak lagi terbendung, mengingat ia kembali gagal untuk kesekian kali dalam usaha mendapatkan suami mungilnya. Memang benar, ia sudah mendapatkan jawaban yang Sehun maksud. Namun sepertinya jawaban itu tidak berhasil ia pecahkan, hingga malah berbalik menjadi masalah lainnya.
"selamat datang kembali yang mulia", ucap mereka serempak.
Chanyeol mendongakkan kepala untuk balas menyapa mereka, namun semua rencana itu urung saat melihat sosok lelaki berwajah datar yang sangat ingin ia temui. Tentu saja bersama dengan di tan lain yang sudah berani menyembunyikan rahasia amat besar dari dirinya.
"Oh Sehun…", desis sang raja.
Tidak sampai satu kejapan mata, suasana tenang tadi berganti dengan pekikan yang keluar dari bibir para pelayan wanita. Semua orang disana membelalakkan mata kaget, ketika sang raja secara mendadak menyerang Jenderal Alderth dan mengarahkan tinjunya pada rahang tegas itu.
Jenderal Oh yang saat itu tidak siap, langsung jatuh tersungkur di tanah, setetes darah mengalir turun dari sudut bibirnya. Lelaki tampan itu mengerang kesakitan sembari berusaha bangkit.
"yang mulia apa yang anda lakukan?", kaget Jongin.
"bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?! Pada Alderth?!", bentak Chanyeol sembari menghampiri tubuh Sehun yang masih tergeletak disana.
Tanpa ampun, raja Alderth itu kembali memberikan bogemannya pada wajah jenderal Oh, bertubu-tubi hingga wajah itu tidak berbentuk dan berlumuran darah. Meskipun begitu, Sehun sama sekali tidak memberikan perlawanan dan hanya diam. Begitupun dengan Jongin.
Karena saat itu mereka sadar, sang raja sudah mengetahui rahasia kecil mereka.
"apakah…kau sudah…selesai?", ucap Sehun tersengal. Hidung dan pelipisnya masih mengeluarkan darah hingga menutupi pandangannya.
"aku tidak akan pernah selesai mengingat apa yang kau lakukan keparat!", desis Chanyeol.
"hentikan yang mulia! Biarkan Jenderal Oh menjelaskan semuanya. Biarkan kami menjelaskan semuanya", ujar Jongin, yang perlahan mendekat kearah dua sahabatnya yang kini beradu tatapan tajam.
"Diam kau Jongin! Aku tidak menyangka, kau juga tega melakukan ini kepadaku".
"kami melakukan semuanya untukmu… Park", kekeh Sehun menyahut. Meskipun wajahnya sudah penuh luka, namun senyuman miring masih menghiasi wajah itu.
Mendengar ucapan itu, seketika Chanyeol menghempaskan tubuh Sehun begitu saja, hingga sang jenderal kembali terjatuh di tanah. Raja Alderth itu perlahan membalikkan tubuhnya lalu memejam. Berusaha menenangkan diri. Sedangkan Jongin, dengan sigap langsung membantu sahabatnya yang sudah babak belur itu untuk berdiri.
"Ini semua permintaan yang mulia ratu. Beliau…", ucap Jongin ragu sembari menatap kearah Sehun, Jenderal Alderth itu mengangguk tanda bagi Jongin untuk melanjutkan. "beliau mengancam akan bunuh diri jika kami tidak menuruti keinginannya…"
Crennica, October 11, 1854
Kejamnya badai diluar sana masih menemani perasaan duka tiap insan yang masih bernafas di dalam mansion Oh. Luhan dan tabib Jean memutuskan untuk keluar dari ruangan melahirkan karena si lelaki bermata rusa itu tidak bisa berlama-lama ada disana. Terlalu menyakitkan untuk dilihat, sehingga ia lebih memilih ikut memandikan si kecil yang belum memiliki nama tersebut. Bisa dikatakan suami Sehun itu masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Baekhyun akan pergi dengan cara seperti ini.
Suasana kamar itu amat sepi, udara dingin terasa menggigit di kulit. Derasnya hujan diluar sana pun seolah tidak membantu. Sehun menjadi satu-satunya yang tertinggal disana bersama tubuh Baekhyun yang terbujur kaku. Penyesalan terasa menghimpit di dada sang Jenderal. Ia berharap sang waktu akan membantunya, membalikkan kembali semua ke masa dimana Sehun masih bisa memilih. Tentu, ia akan memilih kebahagiaan Baekhyun dan Chanyeol. Dirinya bersumpah tidak akan lagi egois dengan memisahkan mereka berdua. Namun semua itu hanya angan-angan, nyatanya sang waktu akan tetap menjadi sosok yang berjalan lurus, sesuai jalur. Tidak ada keringanan bahkan bagi seorang Jenderal seperti dirinya.
Tangan lebar itu bergetar sembari menggenggam sepasang tangan lainnya yang terasa amat dingin. Sehun tidak bisa menahan lagi, hingga ia berakhir menangis seperti bayi sembari membenamkan wajah di kedua tangan sang junjungan. Ratusan untaian maaf ia rapalkan bak mantera, berharap sang ratu bisa mendengar dan memaafkannya dari atas sana. Seharusnya ia bisa memberikan akhir bahagia bagi Baekhyun, tapi semua itu hancur di hari ia menolak untuk memberitahu Chanyeol dimana keberadaan Baekhyun. Itu semua salahnya, bahkan jika dewa meminta nyawanya ditukar dengan sang ratu, ia akan melakukannya.
Derasnya hujan dan kerasnya badai diluar sana melebur bersama isakkan sang jenderal. Mengubur suara keras itu sehingga tidak terdengar dari luar sana. Begitulah detik demi detik berlalu, Jenderal Alderth itu masih menolak untuk beranjak.
"Jenderal, kenapa kau menangis", lirih suara itu.
Sehun yakin ini pasti imajinasinya, karena diruangan itu hanya ada dirinya. Dan pemilik suara itu sudah dipastikan meninggal oleh tabib. Apakah mungkin itu hantu?
"jenderal, aku memanggilmu", ujar suara itu lagi.
Seketika lelaki tampan itu mendongak, kemudian mengerjap berkali-kali untuk memastikan jika yang ia lihat adalah nyata.
Sang ratu tengah menatapnya, dadanya naik turun karena nafas itu masih ada disana. Apakah benar ini bukan ilusinya?
"Jenderal Oh, aku mendengar semuanya. Aku terbangun tepat ketika Luhan tengah meraung dan mengguncang tubuhku. Apakah mereka mengira aku mati?", bisik Baekhyun.
Seolah kaku, jenderal Alderth itu hanya mengangguk. Bibirnya kelu untuk bahkan sekedar berucap.
"b…bagaimana…"
"Aku, belum mati Jenderal", kekeh sang junjungan.
"t…tapi bagaimana dengan tabib Jean? Aku harus memberitahukan yang lain!".
"Tidak!", pekik Baekhyun. "tidak… kumohon", perlahan Baekhyun menggenggam tangan Sehun kemudian tersenyum. Menarik sang jenderal agar kembali ke posisinya yang berlutut di samping ranjang.
"aku selama ini selalu mengganggapmu seperti adikku. Kau seperti seorang adik yang kuharap kumiliki dalam hidupku. Sehun…", Baekhyun menjeda ucapannya. "aku, mempercayaimu. Biarkan aku pergi, jauh dari Alderth. Dari kalian semua. Biarkan aku, mengulang semuanya, mengejar mimpiku, membangun duniaku sendiri dimana aku tidak perlu lagi bergantung pada orang lain".
"tidak, bagaimana bisa aku melakukannya? Aku tidak bisa membiarkanmu berada diluar sana sendirian! Kau bisa terluka…"
"aku adalah seorang lelaki Sehun. Aku menghabiskan hidupku seorang diri sebelum bersama Chanyeol. Aku bisa melakukannya, kumohon izinkan aku lepas. Atau…"
"atau?"
"atau aku akan membunuh diriku sendiri", lirih Baekhyun. Tanpa Sehun sadari, lelaki mungil itu sejak tadi tengah menggenggam sebuah gunting yang dipakai oleh tabib Jean untuk proses bersalin. Kini gunting itu sudah mengarah ke leher mulus sang ratu, sedikit saja, besi tajam itu akan menghunus masuk dan mungkin Sehun benar-benar akan kehilangan kesempatannya.
"t…tidak jangan lakukan itu yang mulia… kumohon", Tangan bergetar Sehun berusaha meraih ke benda tajam digenggaman sang ratu.
"maka lepaskan aku. Bantu aku pergi dari sini. Aku hanyalah lelaki miskin, yang hanya bisa memberikan seluruh kepercayaan serta hatinya sebagai hadiah pernikahan. Namun, sungguh tidak sanggup melihat semua kepercayaan itu dirusak, dan hati itu dicabik-cabik ribuan kali oleh suamiku sendiri. Aku memutuskan sudah cukup aku diam, menerima semuanya karena aku amat sangat mencintai Chanyeol. Kini aku ingin menjadi egois, dengan melepasnya, melepas Alderth, melepas anakku, dan mengejar mimpiku", bisik sang ratu. Matanya berkilat karena air mata. Membuat hati Sehun terasa amat sakit.
"Yang mulia…"
"kumohon Oh Sehun…", lirihnya.
Saat itu, Sehun sadar. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain mengiyakan permintaan sang junjungan dan mengatur semuanya. Membantunya pergi dan melepaskan diri selamanya dari Alderth.
Rissingshire, January 05, 1855
"aku tahu, akulah yang berdosa. Aku tahu hukuman apa yang menantiku atas semua kesalahanku. Karenanya, aku akan menerima kematian jika memang itu yang pantas kudapatkan. Lepaskan Jongin, karena ia tidak termasuk dalam rencana ini. Jongin, hanya berada di waktu dan tempat yang salah hingga aku terpaksa memberitahunya. Aku akan menerima hukumanku, atas kebohonganku padamu, rajaku, dan pada Alderth. Tetapi kau harus berjanji, untuk membawa Baekhyun pulang. Dan membahagiakannya. Berjanji untuk tidak menyakitinya lagi hingga maut memisahkan kalian. Seperti yang kau janjikan di hari pernikahan kalian", ucap Sehun.
Jongin membelalakkan matanya sembari mengguncang bahu sahabatnya. Berusaha menyadarkan jika memang lelaki berwajah datar itu sedang mengigau.
"apa maksudmu! Kau tidak bersalah! Jangan seperti ini Oh! Chanyeol tidak akan melakukan itu padamu! Benarkan Chanyeol?".
Hening, sang raja masih tetap pada posisinya membelakangi mereka.
"katakana Park Chanyeol!", hardik Jongin.
Perlahan, tubuh tinggi itu berbalik, mata gelap nya menatap tajam kearah Sehun. Menusuk bak mata pisau yang tepat mengenai jantungnya. Sehun tahu, ia tidak memiliki kesempatan lagi. Dan dirinya wajib bertanggung jawab atas semua dosa yang ia lakukan.
.
.
.
.
To Be Continued
Heyyy aku back membawa Epilogue buat kaliaan !
Epilogue nya aku bagi dua chapter karena kepanjangan :') mohon pengertiannya ya wahai readerku yang tercintaa.
Anywayy, aku mau ngasih tau, kalau aku berencana bikin giveaway photocard set gitu (unofficial ya), photocardnya tentuu adalah cast nya tighrope. Ini murni karna aku sangat berterimakasih sama kalian udah mau baca ff ku, review, favorited dan follow. Aku tidak bisa ngasih banyak sih, tapi itu dari lubuk hatiku yang terdalaam (readers langsung muntah berjamaah)
Sudah segitu dulu yaa.. makasih semuanyaa! jangan lupa review ya! i love you all!
regards,
Kileela
