"Hari itu, untuk pertama kali setelah lima tahun pernikahan mereka. Baekhyun dengan mantap mengatakan bahwa ia tidak menyesal menggandeng tangan Chanyeol dan bersama melalui tightrope menuju ke dunia yang mereka bangun bersama. Dunia dimana hanya ada Chanyeol, Baekhyun, dan Keluarga kecil mereka."

.

.

.

Baca sampai Akhir yaa..

.

.

DO Not Copy and Repost


Patrathia, January 6, 1855

"Jihoon bisakah kau berhenti menatapku seperti itu sejak tadi? Demi tuhan kita sudah sekamar selama tiga bulan", Decak seorang lelaki mungil dengan eyepatch merah yang menghiasi satu matanya.

Kedua lelaki yang orang sering mengatakan berparas cantik bak wanita itu memang ditakdirkan menghuni kamar yang sama. Sebuah ruangan sempit pengap dengan tembok tipis di ujung markas militer kerajaan Patrathia. Di awal pertemuan, tampaknya sesuatu hal diantara mereka amatlah 'senada' sehingga menjadi dekat dalam kedipan mata.

Tetapi, suasana sedikit berubah sejak seluruh Patrathia mengetahui bahwa Baekhyun adalah ratu Alderth. Jihoon menjadi agak kikuk berada di sekitar Baekhyun. Nada bicaranya pun berubah menjadi sangat formal, sungguh membuat sang ratu kesal.

Ia mengira seiring berjalannya waktu, lelaki yang lebih muda darinya itu akan melupakan fakta bahwa Baekhyun adalah seorang ratu dan kembali menjadi dirinya. Tetapi, kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Raja Leo memanggilnya kemarin. Memberinya bungkukan badan hormat serta memanggilnya ratu Aidyn. Pimpinan Patrathia tersebut mengatakan bahwa dirinya harus menjaga Baekhyun dengan baik sampai raja Edmund tiba. Mulanya Baekhyun mengira jika raja Patrathia akan mengusir lelaki mungil tersebut. Namun ia bisa bernafas lega ketika Leo mengatakan tidak akan turut campur dalam rumah tangga kedua pimpinan Alderth tersebut, menyerahkan seluruhnya pada mereka berdua dan menjadi seorang tuan rumah yang baik dengan menyediakan fasilitas yang layak untuk sang ratu.

Lelaki berwajah dingin itu menyediakan kamar tamu terbaik di bagian utama istana dan memaksa Baekhyun pindah kesana dengan embel-embel 'aku akan sangat sedih jika kau menolak'. Sehingga rayu Alderth itu tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan ya, dengan syarat Jihoon ikut serta bersamanya.

Well, memang Jihoon berakhir pindah ke kamar mewah bersama sang ratu. Tetapi ia tidak bisa memungkiri sikapnya yang kikuk. Kadang ia secara tidak sadar akan terang-terangan menatap sang ratu dengan takjub. Dan Baekhyun sungguh tidak menyukainya.

Seperti saat ini, mereka baru saja usai berlatih dan kembali ke kamar. Alih-alih mengganti bajunya dan membersihkan diri seperti biasa, Jihoon malah diam terpaku menatap sang ratu yang tengah melepaskan eyepatch nya di depan cermin. Jujur saja, meskipun dirinya sering diperhatikan namun tidak dapat dipungkiri ada terbersit rasa canggung jika diperhatikan sedemikian rupa oleh kawan sekamar. Bahkan jika orang itu sudah berbulan-bulan tinggal bersamanya.

"m…maafkan kelancangan hamba yang mulia", Jihoon tergagap sembari membungkukkan tubuhnya.

Di ujung kamar, Baekhyun merotasikan bola matanya sembari menatap tajam Jihoon dari kaca.

"Jika sekali lagi aku mendengarmu memanggilku yang mulia atau apapun itu, lihat saja. Aku tidak akan memaafkanmu", geram Baekhyun kemudian membawa tubuhnya untuk berdiri dan berkacak pinggang dihadapan Jihoon. "lagipula, ini Patrathia bukan Alderth, aku bukan siapa-siapa disini. Jadi berhentilah. Sudah cukup semua orang memperlakukanku bak ratu, aku hanya berharap kau akan berbeda", lirih Baekhyun akhirnya. Rasa bersalah hinggap di hati Jihoon.

"y…ya maksudku Baek. Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya merasa tidak pantas berbuat seenaknya pada seorang ratu".

Anggukan menghiasi kepala Baekhyun, wajah kesalnya mendadak berubah. Sorot mata main-main yang ia berikan tadi lenyap, digantikan dengan kesedihan yang menari-nari dalam hazel miliknya. Lelaki mungil itu perlahan berbalik untuk duduk di sofa berwarna zamrud mewah di dekat jendela. Matanya menatap nanar ke luar sana. Helaan nafas berat lolos dari bibir merah tersebut.

"Kau tahu Jihoon, aku pergi meninggalkan tahtaku, kerajaanku, anakku, teman-temanku dan semuanya di Alderth. Semata-mata hanya karena aku ingin lepas dari semuanya", ucap Baekhyun. Memutuskan untuk mengawali cerita yang sudah ia sembunyikan selama beberapa bulan terakhir. Jihoon adalah orang terdekatnya di Patrathia, Baekhyun menganggap lelaki itu pantas untuk mendengar yang sesungguhnya.

"Aku sudah melalui rasa sakit yang amat sangat untuk waktu lama. Yang kuinginkan hanyalah aku lepas dari belenggu rasa sakit yang akan terus kurasakan kemanapun aku pergi, jika aku masih tetap terikat dengan mereka, dengan Alderth…dengan suamiku", Setitik air mata turun membasahi pipi merah itu. Baekhyun akan selalu seperti ini tiap ia teringat akan semua rasa sakit yang berusaha ia kubur dalam-dalam selama tiga bulan terakhir. Itulah alasan mengapa ia berusaha menyembunyikan hal tersebut, meninggalkannya di belakang, dan memulai kembali semuanya sebagai orang lain. Hanya itu yang bisa Baekhyun lakukan untuk menyelamatkan dirinya yang telah hancur berkeping-keping sejak lama.

"baek…", dengan hati-hati Jihoon mendekat untuk memberikan usapan di pundak. Lelaki itu akui, Baekhyun adalah sosok yang amat misterius. Dibalik sikap ceria serta senyuman manisnya, Jihoon selalu yakin ada yang ia sembunyikan. Semua akhirnya terbukti seiring berjalannya waktu. Meskipun begitu Jihoon masih tidak bisa menahan rasa terkejut ketika mendengar sendiri apa yang sesungguhnya terjadi. Untuk pertama kali.

"tiap malam aku akan bertanya pada diriku. Apakah aku menyesali semuanya? Apakah aku seorang lelaki jahat yang sudah meninggalkan anak yang baru dilahirkannya begitu saja. Apakah aku seorang pendosa yang dengan egois meninggalkan tahta dan melanggar sumpahku pada rakyat hanya karena rasa sakit hati? Aku amat membenci diriku tiap aku memikirkan semua itu. Kenapa aku tidak bisa lupa dengan mudah. Kenapa meskipun aku telah berusaha menjadi orang lain, aku masih tetaplah sama? Kenapa…", Baekhyun menggantung ucapannya. Menahan getaran yang mulai terdengar jelas di tiap untaian kata yang ia keluarkan. "kenapa setelah semua rasa sakit yang ia berikan, aku masih tetap mencintainya", lirih Baekhyun akhirnya.

"oh Baek…", tanpa menunggu lagi Jihoon langsung membawa lelaki yang lebih tua darinya itu kedalam sebuah pelukan hangat. Menawarkan pundaknya sebagai wadah untuk Baekhyun menumpahkan segala tangis disana. Sesungguhnya, ia terlalu kaget mendengar semua penuturan sang ratu hingga tak tahu harus merespon apa.

"well, aku sudah memutuskan", ujar Jihoon secara tiba-tiba. "Aku akan menjagamu dengan baik mulai saat ini! Dan jika suamimu itu ingin mendapatkanmu kembali, aku akan memastikan ia berusaha amat sangat keras untuk itu. Persetan dengan gelarnya sebagai yang mulia raja dengan segala ketampanan dan keseksiannya itu…"

"Jihoon, apa kau baru saja mengatakan suamiku tampan dan sexy… didepan suaminya?", pelukan mereka terlepas. Baekhyun menatap lawan bicaranya dengan jail.

'mati aku', batin Jihoon.

"a…aku…maksudku… tidak! Bukan seperti itu. Yang jelas aku tidak peduli jika dia raja atau siapapun. Dia tetap harus berusaha dengan keras untuk mendapatkanmu lagi!", Jihoon berdeham sembari memalingkan wajahnya yang bak tomat matang.

"baiklah baiklaaah… kau memang yang terbaik Jihoon", kikik Baekhyun sembari mengacak surai madu milik teman sekamarnya itu.


Alderth, January 09, 1855

Hujan deras bersama dengan turunnya salju tengah terjadi di Alderth. Udara sekitar sangat menggigit. Angin yang berhembus amat kencang tidak membantu, malah membuat pepohonan besar yang tertanam disekitar bergoyang tidak beraturan bahkan beberapa tumbang dan menghalangi jalan. Semua orang berlarian untuk segera berlindung ke tempat yang hangat, bersembunyi dari kejamnya musim dingin. Kedai-kedai di sepanjang jalan Rissingshire tutup lebih cepat dari biasanya. Suasana ibukota hari itu sangat sunyi, bak kota mati yang tengah diserang ganasnya badai salju.

Tidak jauh berbeda, di area istana Etuviel para penjaga tengah menatap keluar jendela. Beberapa dari mereka yang masih kuat menahan dingin, membantu mengenyahkan butiran es yang memenuhi lantai marmer di halaman depan istana. Sedangkan di dapur bagian belakang istana, suasana sangat ramai karena para pelayan tengah berkumpul untuk menikmati hangatnya teh. Sesekali mereka bercanda dan bertukar cerita. Namun, ketika suara petir yang memekakkan terdengar, suara pekikan para wanita seketika juga akan terdengar kemudian diikuti suara tawa karena kekonyolan mereka sendiri.

Tidak berbeda jauh, para bangsawan di lantai atas sayap timur pun tengah menikmati hangatnya perapian sembari menyenderkan tubuh di sofa empuk mereka. Semuanya, berusaha sebisa mungkin melawan rasa dingin dengan berbagai cara. Namun agaknya, ada yang berbeda. Beberapa dari mereka tampak berusaha sekuat tenaga melawan rasa dingin, untuk sosok mungil lain di istana.

Di sayap barat istana, suara tangisan bayi bersautan dengan derasnya badai diluar sana. Semua orang di ruangan itu tampak khawatir. Beberapa pelayan tengah berusaha sebisa mungkin membesarkan api di perapian agar makhluk mungil itu bisa bertahan.
Wajahnya memerah, suhu tubuhnya sangat tinggi dan kerasnya tangisan yang keluar dari bibir mungil yang membiru itu memperparah semuanya. Tabib Zhang, salah satu dari ke tujuh orang lainnya tengah menatap iba pada sang putera mahkota yang kini berada di gendongan sang ibu suri. Disekeliling mantan ratu Alderth itu, berdiri Kyungsoo, Jongin, Luhan, dan puteri Yoora yang juga terlihat sangat khawatir. Bahkan Kyungsoo tidak berhenti menggerak-gerakkan kakinya cemas.

Di ujung ruangan, dihadapan jendela besar berbingkai emas, sang raja berdiri tegap sembari menatap keluar. Wajahnya tampak datar, tapi rasa sedih terlihat jelas di kedua matanya.

Raja Alderth itu merasa terpuruk. Didalam sana, badai tengah terjadi di hatinya. Lelaki tampan itu merasa amat kecewa pada dirinya sendiri. Kesalahan di masa lalu itu semakin menghantui malam-malam sunyi yang ia lalui. Semua menjadi parah ketika pimpinan Alderth itu sadar, sang suami mungil berbuat hingga sejauh itu, karena dirinya. Semua adalah akibat dari perbuatannya. Ia adalah pendosa, yang pantas mendapat hukuman. Tetapi sungguh, ia tidak bisa menerima jika Jackson, mataharinya, menjadi salah satu yang harus menanggung dosa yang raja Alderth itu perbuat. Melihat anak lelakinya tengah kesakitan seperti ini meremat hati Chanyeol.

Orang mengatakan, ia adalah orang terkuat di seluruh Alderth. Seorang ksatria tangguh dan hebat yang tak terkalahkan. Namun, mereka tidak tahu, sang ksatria bahkan tidak dapat berbuat apa-apa di saat seperti ini. Ia hanya bisa memberikan yang terbaik untuk kesembuhan puteranya. Sang ksatria sadar ini saatnya untuk pasrah pada takdir dan yakin bahwa hanya dewa yang bisa menyembuhkan bayi mungil yang amat ia sayangi itu.

"Tabib Zhang, apakah tidak ada cara lain? Kenapa demamnya tidak kunjung turun", ucap ibu suri. Tangannya sesekali mengusap kening Jackson.

"saya sudah memberikan ramuan yang lebih berat dari tadi pagi yang mulia. Kita tunggu hingga beberapa jam lagi. Suhu yang amat dingin sepertinya memperparah demam yang mulia pangeran".

Ibu suri mengangguk paham, kemudian menimang sang cucu, berusaha membuat makhluk mungil itu tenang dan hangat. Iris madu milik Tiffany perlahan beralih pada puteranya yang berdiri tak bergerak sejak tadi. Hatinya mencelos melihat bagaimana raja Alderth itu tampak menghukum dirinya sendiri tanpa ampun.

"Yeol… apa yang kau lakukan disana? Disana sangat dingin. Kemarilah", ujar sang ibu lembut.

Hening, raja Alderth itu tidak menjawab. Matanya masih menatap nanar keluar jendela menerbangkan fikirannya bersama angin kencang yang berhembus di luar sana.

"yeol…", panggil ibu suri lagi.

"aku akan tetap berangkat ke Patrathia malam ini", jawab sang raja. Tidak repot-repot mengiyakan ucapan sang ibu.

"bukankah aku sudah mengatakan badai besar masih terjadi hingga besok, aku tidak…"

"membawa Baekhyun pulang adalah satu-satunya cara. Jackson masih membutuhkannya. Hanya Baekhyun", lirihnya sembari menatap kearah sang ibu. Iris gelap itu nampak amat terluka.

"aku tidak bisa jika sesuatu yang buruk terjadi padamu Park Chanyeol! Sadarlah! Sudah cukup Jackson kehilangan Baekhyun, ia tidak bisa kehilanganmu juga", hardik Tiffany. Perlahan wanita paruh baya itu beranjak dan memberikan Jackson pada Kyungsoo. Sebelum melangkah untuk mendekati puteranya.

"aku akan baik-baik saja", jawab Chanyeol. Wajahnya berpaling untuk kembali menatap nanar keluar sana.

"Aku tidak bisa kehilanganmu juga. Setelah ayahmu, semuanya sungguh berat bagi ibu", tangan mulus yang mulai keriput itu dengan hati-hati menyentuh pundak sang raja. Memberikan elusan sayang disana.

"percuma bu, aku sudah mati… di hari Baekhyun pergi meninggalkanku", lirih Chanyeol. Perlahan menggenggam erat tangan Tiffany, ia berusaha memberikan senyuman terbaik pada sang ibu.

"jangan katakan itu Chanyeol…"

"aku akan baik-baik saja. Aku akan kembali, bersama Baekhyun", ucapnya final. Sang ibu tahu, itu bukanlah janji yang diucapkan oleh Edmund, sang raja Alderth. Melainkan janji seorang Park Chanyeol yang amat menyayangi sang ibu dengan segenap hatinya.


Alderth, January 09, 1855

Langit sudah berubah gelap ketika raja Alderth itu mengenakan jubah bludru tebalnya. Diluar sana, hujan masih turun namun tidak sederas tadi siang. Suhu tubuh Jackson pun sudah membaik sehingga lelaki tampan itu bisa merasa sedikit lebih tenang untuk pergi. Memang benar jika ibu suri mengatakan cuaca hari itu terlalu bahaya untuk bepergian, karena sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Tapi, Chanyeol tidak bisa hanya berdiam diri menunggu hujan turun dan membiarkan sang waktu berlari cepat sembari membawa suami mungilnya semakin jauh untuk ia jangkau. Besok adalah hari dimana ia memiliki kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan Baekhyun kembali, dan jika gagal ia akan tetap berusaha hingga sudah tiada jalan lain untuk dilalui. Itu adalah tekadnya.

Perlahan, sang raja berjalan mendekat kearah baby box milik Jackson. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar tidak mengganggu anak bungsunya. Si pangeran kecil tengah tertidur pulas berbalut selimut tebal yang hangat. Wajahnya tampak damai, tangisan menyayat hati yang memenuhi istana Etuviel sejak tadi pagi sudah tidak lagi terdengar.

Senyuman terkembang di wajah sang raja melihat wajah menggemaskan itu, ditambah bibir merah sang bayi yang mengerucut secara tidak sadar. Sesungguhnya ia tidak tega meninggalkan Jackson dalam keadaan seperti ini. Rasa takut akan kehilangan pun memenuhi benaknya. Namun, besarnya rasa khawatir itu sebesar rasa sadar sang raja bahwa Jackson masih amat membutuhkan Baekhyun. Benar, anak itu memang dilimpahi dengan kenyamanan, kehangatan, baju-baju terbaik yang pernah ada, susu kualitas terbaik di seluruh penjuru dunia, dan hal mewah lain. Namun semua itu tidak berarti jika Baekhyun tidak ada disampingnya. Melihatnya tumbuh, mengajarkannya hal baru, dan berdampingan bersama sang raja untuk merawat Jackson.

Itulah alasan mengapa sang raja amat bersikeras untuk pergi ke Patrathia dan bertemu Baekhyun. Mengabaikan fakta bahwa cuaca sedang buruk, dan Patrathia berada di daerah pegunungan. Tentu saja, ia tidak bodoh. Jalanan ke Patrathia melewati jurang dan jalanan terjal. Ia bisa terluka, atau bahkan terbunuh. Tapi keadaan amat mendesaknya. Sesuatu dalam dirinya mengatakan seolah ini adalah kesempatan terakhir baginya. Jika ia tidak berjuang sekarang, makan tidak akan ada lagi kesempatan lain. Maka itu, Chanyeol mempertaruhkan segalanya untuk keluarga kecilnya, untuk Baekhyun.

"baik-baiklah selama papa pergi. Papa akan membawa mama kembali", bisik sang raja sembari mengelus surai Jackson.

Dengan hati-hati, sang raja mengeluarkan belati kecil terbuat dari kristal bening yang amat indah. Dibarengi senyuman, Chanyeol meletakkan belati yang terbungkus aman itu di samping bantal si kecil Jackson.

"jika sesuatu terjadi pada papa, berjanjilah akan menjadi seseorang yang kuat di masa depan. Jagalah dirimu sendiri, Vincent, dan semua orang disekitarmu. Cari mama hingga kau berhasil menemukannya. Anggap saja ini hadiah pertama dan terakhir papa untukmu", lirih sang raja.

Pimpinan Alderth itu kemudian membungkuk dan memberikan ciuman sayang di kening puteranya. Senyuman kembali menghiasi wajah tampannya.

"papa? Papa akan pergi?", ujar suara itu.

Kekehan lolos dari bibir sang raja menyadari siapa pemilik suara menggemaskan yang tampak mengantuk itu dan berbalik. Di depan pintu, Vincent berdiri sembari mengusap matanya. Satu tangan lain tengah menyeret boneka besar yang tergeletak di lantai.

"Vincent, kenapa kau terbangun hm?", ucap Chanyeol sembari membawa tubuh mungil itu kedalam gendongan. Kecupan ia berikan di pipi bulat milik Vincent.

"Vincent mendengar Grandma mengatakan papa akan pergi. Vincent ingin melihat papa".

Chanyeol mengangguk kemudian mendudukkan tubuh mungil Vincent pada tempat tidur miliknya yang berada tepat di samping baby box Jackson. Ia tidak menyangka Vincent akan terbangun dan membuat acara perpisahan ini semakin terasa berat.

"papa tidak akan lama, berjanjilah selama papa pergi kau akan menjaga Jackson ya".

Vincent mengangguk kemudian menepuk pipi sang papa. Anak kecil itu mendadak merasa takut. Seiring berjalannya waktu, Vincent sudah bisa mengetahui bahwa pergi berarti berpisah. Dan itu bukanlah hal baik.

"mama juga mengatakan itu ketika ia pergi", lirihnya.

"hm? Apa yang mama katakan?".

"mama mengatakan pada Vi bahwa mama hanya akan pergi sebentar dengan paman Sehun. Tapi, mama tidak kembali hingga sekarang. Apakah papa juga tidak akan kembali seperti mama?".

Pertanyaan polos itu seolah menohok Chanyeol. Tidak menyangka anak bungsunya sudah tumbuh begitu cepat hingga bisa memahami hal seperti ini. Terbersit perasaan bersalah jika nanti ia tidak bisa menepati janji pada Vincent untuk kembali.

"papa akan berusaha yang terbaik untuk kembali", ujarnya.

Tangan lebar itu mengelus kepala Vincent dengan sayang sebelum memberikan pelukan hangat terakhir kali. Ia berharap dewa menyaksikan semua ini. Hingga berbelas kasih padanya, dan memberikan keajaiban pada keluarga kecil mereka.

"apakah Vincent masih menyimpan belati yang papa berikan?".

Anak itu mengangguk, kemudian tangan mungilnya meraih belati yang tersimpan rapi di kantung bajunya.

"Selama papa pergi, Vincent yang harus menjaga Jackson, grandma, Aunty Yoora, dan lainnya ya? Berjanjilah akan menjadi anak baik?"

"Vincent berjanji pa".

Sang raja kembali tersenyum, kemudian memberikan instruksi pada anak sulungnya untuk kembali tidur. Ia membiarkan anak kecil itu merebahkan diri di Kasur milik sang raja. Setelah Chanyeol memastikan selimut sudah melindungi tubuh mungil itu, sang raja meniup lilin yang masih menyala. Membuat ruangan seketika menjadi gelap.

"selamat malam", lirihnya.

"selamat jalan pa", jawab Vincent.

Menjadi ucapan yang terakhir didengar sang raja sebelum pintu jati mewah itu tertutup sempurna.

Helaan nafas berat lolos dari bibir sang raja sebelum tubuh berotot itu berbalik dan berjalan tegap menuju mayor Minho yang sudah menunggunya di ujung koridor. Sang raja hanya mengangguk sekilas menyambut sapaan hormat Minho dan berjalan telebih dahulu keluar istana diikuti para pengawal serta beberapa anggota militer lain.

"yang mulia, sumber kami mengatakan bahwa perjalanan ke Patrathia akan lebih terjal karena beberapa pohon tumbang serta terjadi longsor di satu titik sekitar sepuluh kilometer dari perbatasan Patrathia", ujar Minho.

Sang raja berdecak kesal mendengarnya. Namun ia tidak akan mundur sekarang.

"Aku akan berkuda sendiri. Siapkan Jillian dan kuda kalian. Pastikan semuanya dalam keadaan sehat dan siap untuk ditunggangi".

"y…ya yang mulia? Berkuda sendiri tanpa kereta? Tidakkah akan berbahaya?", Minho tergagap. Tidak bisa memahami jalan pikiran sang raja.

"menaiki kereta akan memperlambat perjalanan kita. Aku harus tiba besok pagi di Patrathia apapun keadaannya. Lagi pula untuk apa aku membawa puluhan prajurit militer terbaik jika masih mengkhawatirkan bahaya", tegas sang raja.

Sang mayor hanya diam dan mengerjapkan matanya. Ia tahu, sang raja adalah orang paling keras kepala yang pernah ia temui. Apapun yang dikatakannya adalah titah, dan Minho tidak memiliki pilihan lain. Sehingga ia dengan segera memerintahkan anak buahnya untuk bergerak memenuhi perintah raja.

Ucapan sang raja bahwa beliau ingin tiba di Patrathia tepat ketika matahari terbit berarti satu, mereka harus bergerak cepat. Dan tiap detik yang berlalu sangatlah berarti bagi sang pimpinan Alderth.

Nyatanya, cuaca dan kondisi sekitar selama perjalanan lebih buruk dibanding yang Chanyeol bayangkan. Baru lewat tiga jam setelah mereka meninggalkan istana, berbagai halangan telah menghadang. Pohon tumbang dimana-mana membuat mereka berkali-kali harus memutar jalan. Hembusan angin kencang terdengar mencekam ketika menerpa pepohonan lebat hutan yang mereka lewati. Dinginnya air hujan menusuk hingga ke tulang. Namun raja Alderth itu seperti mati rasa. Ia hanya menginginkan Baekhyun saat ini.

Berkali-kali Jillian meringkik memberikan protes, berusaha memberitahu tuannya sebisa mungkin bahwa puluhan bahaya menghadang mereka didepan. Insting Jillian yang begitu kuat memang selalu tepat dan jarang sekali meleset. Jika ini hari biasa, sang raja akan memutuskan untuk kembali ke istana. Namun kali ini tidak, Chanyeol menulikan telinganya dan memilih mengelus surai Jillian, berusaha menenangkan kuda putih kesayangannya itu serta disaat bersamaan menguatkan agar Jillian sanggup terus berlari, hingga mereka tiba di Patrathia.

"bersiaplah, beranikan diri kalian. Kita akan memasuki hutan Anubis dalam tiga jam kedepan", titah sang raja tegas.

Benar, jika menempuh jalur biasa yang dilewati untuk tiba di Patrathia dapat memakan waktu lebih dari sehari jika berkuda. Sang raja benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama hingga ia melewati lewat jalur lain yang mungkin dapat merenggut nyawanya. Memilih hutan Anubis yang hingga kini membawa kenangan tersendiri bagi sang raja.


Patrathia, January 10, 1855

Pagi itu, suasana amat mendung. Hembusan angin dingin serasa menggigit. Semalam hujan berhenti sekitar pukul tiga pagi dan Baekhyun tidak bisa memejamkan mata. Seorang pengawal memberinya kabar bahwa sang raja Alderth tengah dalam perjalanan menuju Patrathia menunggangi kuda. Ia tidak bisa memungkiri rasa khawatir yang meliputi. Hari ini adalah saat yang dijanjikan untuk mereka melakukan adu pedang kedua. Saat yang paling ditunggu karena inilah momen dimana Baekhyun menghadapi takdir yang sudah digariskan untuknya.

Sesungguhnya, Baekhyun tidak berharap sang raja akan tetap berangkat dalam kondisi cuaca yang amat berbahaya hingga mempertaruhkan nyawanya. Karena, jika sang raja melakukan itu, semuanya menjadi jelas bagi Baekhyun. Bahwa perasaan itu tidaklah main-main. Sang raja tidak membual, dan itu terbukti dari betapa keras usahanya untuk kembali mendapatkan Baekhyun. Namun Baekhyun takut semua itu kembali janji palsu dan harapan kosong lain. Sehingga Baekhyun menolak untuk jatuh lagi. Katakan Baekhyun egois dan buta, namun rasa sakit yang pernah ia rasakan begitu lama membuat dirinya takut. Takut untuk kembali mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Chanyeol. Merasa khawatir jika nantinya Chanyeol akan kembali melepaskan genggaman itu untuk orang lain.

Setelah malam panjang yang melelahkan, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari kamar sekitar pukul enam pagi. Dan disinilah dia sekarang. Ditengah lapangan dengan puluhan anggota militer bersamanya. Mereka tengah berlatih, namun tidak benar-benar berlatih karena sungguh, alasan mereka berkumpul adalah menyaksikan pertandingan pedang kedua pimpinan Alderth tersebut.

Ternyata rasa penasaran juga dirasakan oleh sang raja Patrathia sendiri, pimpinan berwajah dingin itu juga terlihat berdiri di atas batu besar dengan seorang pengawal memayungi dirinya. Hujan rintik-rintik kembali turun membasahi bumi sekitar satu jam yang lalu. Dan Baekhyun semakin merasa khawatir setiap detiknya.

Kabar mengatakan bahwa sang raja akan tiba tepat ketika matahari terbit, dan hingga kini setelah empat jam berlalu, tidak ada tanda-tanda kedatangan sang raja. Baekhyun sangat hafal bahwa suaminya adalah orang yang tepat waktu dan melihatnya terlambat seperti ini, Baekhyun tidak bisa berdiam tenang. Berkali-kali kaki mungil itu melangkah tak tentu arah. Berjalan berputat-putar sambil sesekali menggigit jarinya. Hal ini tidak luput dari pandangan Jihoon. Lelaki itu bahkan sudah berkali-kali berusaha menenangkan pemilik tahta kedua Alderth tersebut. Tetapi hasilnya nihil. Raut panik tak lekas meninggalkan paras cantik itu.

Bisa Jihoon pahami memang, karena sebesar apapun rasa sakit yang ratu Alderth itu rasakan, cintanya terhadap sang raja jauh lebih besar.

"tenanglah Baek, mungkin beliau istirahat sebentar. Tidak akan terjadi apa-apa", Ujar Jihoon. Maniknya mengikuti kemanapun tubuh mungil sang ratu Alderth melangkah.

"aku tidak memikirkannya. Aku hanya merasa… merasa… ya aku merasa sedikit lelah karena sejak tadi duduk. Ingin melemaskan kakiku", kikik Baekhyun gugup. Lalu mendudukkan dirinya dengan paksa diatas rumput.

Lelaki lainnya mendecih pelan sembari merotasikan bola matanya. Ia tahu sang ratu berbohong tentu saja. Lelaki itu bahkan tidak duduk sama sekali sejak tadi.

"ya terserah kau saja, yang mulia".

"sudah kubilang jangan ̶ "

"Yang Mulia raja Edmund Danvers, King of Alderth telah tiba", seru seorang penjaga yang berdiri ditengah Menara cagak tinggi di ujung lapangan, menginterupsi bantahan Baekhyun. Diam-diam Jihoon berterimakasih pada lelaki tersebut.

"E…ed", Tubuh mungil itu tanpa menunggu langsung berdiri secara reflek. Hatinya merasa luar biasa lega mendengar bahwa suaminya baik-baik saja.

"Tidak khawatir huh? Ya aku mengerti"

"diamlah Jihoon", decak Baekhyun kesal sembari mengerucutkan bibirnya.

Jihoon memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah mereka dan fokus ke hadapannya. Menanti kedatangan sang raja Alderth yang sudah memasuki gerbang utama istana.

Menit berlalu, derap langkah kuda yang awalnya terdengar sayup-sayup, semakin lama terdengar semakin jelas. Baekhyun merasakan jantungnya berdegub. Tanpa ia akui, pertemuan mereka ini sudah dinantinya sejak sang raja kembali ke Alderth beberapa hari lalu.

PUK

"berikan sapaan padanya, ia akan senang", itu suara raja Leo yang entah sejak kapan berada di samping Baekhyun dan memberinya tepukan di pundak sebagai penyemangat. Sang ratu Alderth hanya mengangguk kaku, lalu membiarkan matanya mengikuti raja Leo yang berjalan mendekat ke jalanan berbatu di ujung sana untuk menyambut Chanyeol.

Deguban di jantung Baekhyun semakin lama semakin menggila, apalagi ketika sosok Jillian yang gagah sudah masuk kedalam penglihatannya. Baekhyun memberanikan diri untuk melihat sosok yang menunggangi kuda putih gagah itu, tapi hatinya malah mencelos.

Chanyeol terlihat lelah. Tubuhnya basah kuyup, beberapa percikan lumpur mengenai pipinya. Rambut yang biasanya selalu tertata rapi itu kini tak beraturan dan menutupi sebagian mata tajam sang raja. Meskipun begitu, entah kenapa ia masih tetap sangat menawan dimata Baekhyun.

Keadaan yang sama juga terjadi pada para prajurit dibelakang sang raja. Tubuh mereka basah kuyup terkena hujan, noda lumpur mengotori pakaian dan sebagian wajah para prajurit tangguh Alderth tersebut.

Baekhyun menatap kosong ke pemandangan di hadapannya, berusaha menahan segala gejolak perasaan yang tiba-tiba menyerang bak halilintar di siang hari.

Semuanya berlalu dengan cepat bak kedipan mata, karena tiba-tiba sang raja sudah berdiri beberapa meter dihadapan Baekhyun. Satu tangannya menggenggam erat pedang Justifier yang tetap mengkilat indah meskipun terkena kejamnya badai. Mata tajam sang raja menatap lurus ke wajah suami mungilnya, tidak sedikitpun beralih. Tubuh gagah itu bergerak senada dengan sang waktu yang semakin lama membawanya semakin dekat dengan tubuh mungil itu. Hanya satu kedipan mata, dan tubuh mungil itu masuk kedalam dekapan hangat tubuh basah sang pimpinan Alderth.

Baekhyun mengerjapkan matanya bingung. Tidak tahu harus merespon seperti apa. Memang ia merindukan suami tingginya, namun ia belum siap membuka diri secepat itu pada sang raja.

"y…yang mulia, yang lain melihat", ujar Baekhyun yang serupa bisikan. Suaranya seolah tidak mau keluar karena rasa gugup yang menekan.

"Aku merindukanmu, ratuku", bisik sang raja. Kecupan sayang ia berikan pada kening suami mungilnya. Baekhyun diam membeku, tidak tahu harus berbuat apa.

Dibelakang mereka, Jihoon menahan pekikan senang lalu memalingkan wajah begitupun para prajurit disana yang langsung menatap kearah lain. Berusaha memberikan privasi bagi kedua pimpinan Alderth itu.

Keheningan yang amat nyaman melingkupi mereka. Desahan angin dingin yang berkolaborasi dengan rintikan kecil hujan menjadi music yang manis bagi raja dan ratu Alderth itu. Baekhyun mendadak tidak peduli dengan rasa sakit nya dan menerima ciuman itu. Memejamkan matanya sembari mengusap dada sang raja dengan lembut.

Detik berubah menjadi menit ketika sang ratu memutuskan sudah cukup 'sapaan' yang ia berikan pada sang raja dan mendorong dada bidang itu perlahan untuk menjauh darinya. Matanya berpaling, menatap kemanapun kecuali sosok lelaki tinggi yang sebenarnya masih sangat ia cintai itu.

"aku adalah seorang raja. Aku menepati janjiku untuk melakukan pertandingan pedang kedua bersamamu. Dan itulah yang akan kulakukan. Apapun hasilnya aku akan menerima, tetapi aku mengajukan satu syarat untukmu", ujar sang raja.

Baekhyun memundurkan tubuhnya perlahan dan menatap kearah Chanyeol. Tatapan hangatnya berubah dingin, seperti saat pertemuan terakhir mereka.

"katakan"

"Jika aku kalah, aku tetap memintamu kembali ke Alderth…"

"itu mustahil, lalu untuk apa semua ini? Kau kira aku main-main?", tegas Baekhyun. Sorot mata itu terlalu tajam hingga menyakiti hati sang raja.

Hening, Chanyeol terdiam dan tidak menyahut. Ekspresi nya terluka dan membuat Baekhyun sedikit merasa bersalah. Apakah ucapannya terlalu kasar?

"Jackson sakit, Baek...", lirih sang raja. "sudah tiga hari demamnya tidak kunjung membaik. Aku… aku hanya ingin kau menjenguknya".

Desiran sedih sang ratu rasakan mendengar ucapan Chanyeol. Anaknya sedang sakit. Jacksonnya. Perasaan bersalah itu kembali menekan Baekhyun hingga ke ulu hati. Jackson masih sangat rapuh, tentu saja ia masih membutuhkan sang mama. Tidak banyak yang tahu, namun setiap malam Baekhyun akan membuang asi yang ia peras dari kedua tonjolan di dadanya. Selain bisa hamil dan melahirkan, seorang carrier juga diberi anugerah menyusui anaknya secara langsung. Namun Baekhyun bahkan belum sempat melakukan semua itu. Air susunya ia buang setiap hari demi meredakan rasa nyeri yang menekan dada. Tentunya, rasa nyeri berbeda dengan yang ia rasakan kini.

"Hanya sampai Jackson sembuh", ujar Baekhyun akhirnya. "aku akan kembali ke Patrathia setelah Jackson sembuh".

Raut wajah sang raja seketika berubah lega, senyuman menghiasi paras tampannya.

"Kau tidak perlu kembali ke Patrathia. Aku akan melepaskanmu jika memang itu yang kau inginkan. Kembalilah ke Erith dan mengejar mimpimu. Aku tidak akan menganggu. Hanya biarkan Jackson dan Vincent mengunjungimu sesekali".

Baekhyun berdeham pelan. Tidak pernah terpikir olehnya bisa kembali ke Erith setelah semua ini berakhir. Itu adalah impian yang seperti tidak akan pernah terjangkau mengingat Erith juga milik sang raja. Chanyeol memiliki semuanya yang ada di Alderth, semua hingga butiran kerikil tak berharga yang berserakan di tanah.

"a…aku akan memikirkannya", ujar Baekhyun. Chanyeol hanya mengangguk.

Lelaki mungil itu kira, percakapan ini telah usai dan mereka bisa segera memulai pertandingan pedang yang tampaknya sudah ditunggu oleh seluruh prajurit di lapangan hijau itu. Tetapi ia salah.

Alih-alih mengambil posisi, sang raja malah kembali berjalan mendekat kearahnya. Iris gelap itu terfokus pada pedang di genggaman tangan Baekhyun. Mau tidak mau, si mungil pun ikut mengamati pedang yang ia pegang. Memang itu hanyalah pedang biasa, terbuat dari besi murahan tanpa ukiran indah seperti pedang Justifier milik suaminya. Namun pedang ini cukup tajam, dan ringan. Baekhyun lumayan menyukainya.

Perlahan tangan Chanyeol terulur untuk mengambil pedang itu dari tangan Baekhyun. Dan memberikannya pada lelaki gempal yang Baekhyun kenal sebagai Mayor Minho. Si mungil menatap penuh tanya kearah pimpinan Alderth itu.

"Gunakan ini", ucap sang raja sembari meletakkan sebuah pedang yang masih berada di dalam pembungkusnya. Baekhyun mengerjap melihat pedang yang kini sudah digenggamannya itu.

Pembungkus pedang terbuat dari emas dan dihiasi dengan permata indah yang tersebar indah di seluruh permukaannya. Pada bagian handle pedang terdapat satu permata besar berwarna merah menyala yang terlihat sangat mencolok. Rasa penasaran membuat Baekhyun perlahan mengeluarkan pedang itu dari pembungkusnya. Dan ketika mata Baekhyun melihat langsung benda yang di genggamannya, air mata seketika menggenang mengaburkan pandangan.

Pedang itu mengkilat, terbuat dari besi terbaik yang diukir membentuk pola bunga dan dedaunan pada separuh bagian atasnya. Dari bagian tengah hingga ke ujung, pedang ini berbentuk seperti pedang pada umumnya, namun ukiran indah yang berjejer di pinggir kiri membuatnya tampak berbeda. Sangat indah. Sangat Baekhyun.

"Para leluhur memberinya nama pedang Loyalty, pedang yang diukir khusus untuk ratu Alderth sebagai symbol kekuatan dan keindahan yang melingkupinya. Aku menahan pedang ini darimu karena tidak ingin melihatmu bermain-main dengan benda tajam hingga membahayakan diri. Namun, melihat bagaimana kau mengalahkanku di pertandingan pertama, aku rasa sudah waktunya kau bersatu dengan pedang ini. Ibu memintaku membawanya dan memberikan padamu, terimalah", ujar sang raja.

Baekhyun masih diam ditempatnya sambil mengamati pedang indah itu. Jemari lentiknya dengan lembut mengelus dan menyisir permukaan pedang mengkilat yang ia genggam.

"a…aku bukanlah ratu Alderth lagi", bisiknya.

"kau adalah ratuku, dan akan selalu menjadi ratuku apapun keadaannya".

Untaian kata itu agaknya membuat jantung Baekhyun kembali bereaksi. Namun si mungil itu tampak sangat pintar menyembunyikan perasaannya. Rasa sakit yang menyerang hatinya begitu lama, membuat Baekhyun berubah menjadi sosok lain yang amat kuat. Melindunginya dari luar, meskipun di dalam sana, darah masih mengalir deras dari robekan luka hatinya, tidak terobati.

Perlahan, Baekhyun berjalan mundur tanpa sepatah katapun untuk mengambil ancang-ancang. Mengabaikan ucapan Chanyeol dan memutuskan sudah cukup mereka berbincang.

Beberapa saat kemudian, Bunyi gong tanda dimulainya pertandingan dimulai, terdengar. Chanyeol mengeluarkan pedang kebanggaannya dari pembungkus dan mengacungkan pedang itu kearah sang ratu. Matanya berubah tajam dan fokus pada pertandingan yang akan ia hadapi. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Chanyeol akan berusaha, bahkan jika ia harus terluka karenanya.

SLINGG

Kedua bilah pedang itu beradu. Sungguh ironis bagaimana pedang yang diciptakan berpasangan itu harus berakhir melawan satu sama lain untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Hari itu, tentu akan menjadi hari yang tercatat selamanya dalam sejarah Alderth.

Tekanan dari keduanya sama-sama keras, seperti pandangan mereka yang sama manusuknya. Chanyeol menjadi yang pertama menarik pedang Justifier untuk kemudian memberikan serangan yang langsung ditangkis dengan baik oleh Baekhyun. Menimbulkan dentingan yang memekakkan telinga.

Jika pertandingan pertama mereka kemarin menegangkan, pertandingan kedua ini bahkan jauh lebih intens. Tidak ada sedikitpun jeda dari kedua orang itu untuk tidak saling melawan. Suara dua bilah pedang mewah yang beradu terdengar mengiris hati. Kedua pedang itu memiliki takdir yang sama dengan kedua pemilik mereka di masa ini. Ditakdirkan berpasangan, namun berakhir melawan satu sama lain. Yang satu memperjuangkan cintanya, sedang yang lain memperjuangkan mimpi dan menyelamatkan sisa hatinya yang masih belum hancur.

Rasa lelah setelah perjalanan jauh tampaknya membuat kondisi tubuh sang raja tidak seperti biasa. Raja Alderth itu berkali-kali harus mundur tertatih karena serangan tanpa ampun dari suami mungilnya.

Baekhyun dengan jeli mengamati tiap gerak sang raja seperti yang selalu diucapkan oleh Sehun dalam pembelajaran mereka. Baekhyun melihat berbagai kesempatan untuk mengalahkan suami tingginya. Namun hal itu tidak ia lakukan. Sesuatu didalam dirinya melarang keras Baekhyun melakukan itu dan berakhir menyakiti Chanyeol.

Berbeda dengan Baekhyun yang tampak prima, sang raja sejak tadi merasakan kepalanya berdenyut sakit karena semalaman penuh diguyur hujan. Pandangannya sedikit mengabur, tetapi raja Alderth itu masih berusaha sebaik mungkin menjatuhkan pedang Baekhyun dan memenangkan pertandingan terakhir mereka.

"Baek, hentikan semua ini. Ayo pulang bersamaku. Lupakan semuanya", tegas sang raja sembari memberikan serangan yang langsung ditangkis dengan cepat oleh Baekhyun.

"kau dengan mudah menyakitiku, apa kau berharap aku akan dengan mudah memaafkanmu?", balas Baekhyun. Serangannya semakin membabi buta karena ucapan sang raja.

"kau tahu aku mencintaimu Baek! Jangan keras kepala", hardik sang raja, berusaha sebaik mungkin menghindari serangan Baekhyun. Lalu balik menghunuskan pedangnya yang berhasil di hindari oleh sang ratu.

"cintamu tidak cukup untuk membuatku kembali, yang mulia", ujar Baekhyun tajam. Bahkan lebih tajam dari bilah sepasang pedang tertinggi kerajaan Alderth.

Tangannya meremat handle pedang dengan erat sebelum menunduk dan menjegal kaki sang raja lalu menangkis pedang justifier dengan keras hingga pedang mewah itu terpental jauh dan terjatuh di tanah, bersamaan dengan tubuh berotot sang raja seketika membentur tanah. Chanyeol mengerang sakit sembari mengatur nafasnya tersengal. Kenyataan lagi-lagi menampar raja Alderth itu, Chanyeol kembali kalah di kesempatan terakhirnya.

Perlahan Baekhyun melangkah mendekat sembari mengacungkan pedangnya kepada sang raja. Matanya menatap tajam ke orang nomor satu Alderth tersebut.

"jika anda mengira aku adalah orang yang mudah, anda salah yang mulia. Rasa sakit, merubahku", ujarnya dingin.

Mata sang raja menatap dalam ke iris hazel itu. Berusaha mencari-cari kebohongan disana. Namun, hanya rasa sakit dan kebencian yang ia lihat mengapung di permukaaan bening manik Baekhyun.

Derap langkah seluruh prajurit Alderth yang turut serta tiba-tiba terdengar. Minho yang memimpin mereka perlahan mengeluarkan pedangnya lalu berdiri tepat di belakang sang raja.

JLES

Bilah pedang tajam Minho menancap sempurna di rerumputan sebelum Mayor Jenderal Alderth itu menjatuhkan lututnya, bersujud pada sang ratu. Diikuti puluhan prajurit yang serempak bersujud dan menjatuhkan keningnya di tanah. Sebuah penghormatan dan tanda menyerah karena kekalahan raja mereka. Sudah menjadi tradisi yang digunakan di medan perang, bahwa siapapun yang mengalahkan raja mereka, abdi dari sang raja pun akan turut berlutut tanda menyerah.

"Hormat yang mulia ratu!", Seru Minho.

"HORMAT YANG MULIA RATU", saut seluruh prajurit itu serempak, mengikuti pimpinan mereka.

Hening, seluruh prajurit Patrathia yang sejak tadi menonton seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Begitupun dengan raja Leo yang tercengang ditempatnya berdiri. Chanyeol adalah seorang raja yang handal menggunakan pedang. Seumur hidupnya, Leo tidak pernah melihat ada orang yang lebih hebat dari Chanyeol dalam bertarung. Hari ini, asumsinya terbantahkan dengan telak.

Baekhyun hanya terdiam di tempatnya berdiri, menganggukkan kepalanya sekilas sebagai tanda bahwa ia menerima hormat para prajurit Alderth. Sebelum matanya kembali menatap dingin kearah suami tampannya yang masih terduduk di rerumputan.

"aku akan kembali ke Alderth, hanya sampai Jackson sembuh. Setelah itu, aku adalah pria yang bebas. Aku berhak melakukan apapun yang kumau, yang mulia", ujar Baekhyun.

Tubuh mungil itu kemudian berbalik pergi diikuti oleh Jihoon yang berlari kecil mengikutinya.

Waktu berlalu, semakin jauh Baekhyun melangkah pergi. Sang raja tetap terdiam di tempatnya, seolah kehilangan seluruh tenaganya. Chanyeol tetap tidak melepaskan pandangannya dari punggung sempit itu. Perasaan kecewa, menyesal, dan marah semua bercampur menjadi satu. Raja Alderth itu tidak menyangka sang ratu berubah menjadi sosok lain, yang tidak lagi ia kenal. Dan semua itu, karena dirinya. Chanyeol lah yang menciptakan monster dalam diri Baekhyun.

Namun satu hal yang luput dari kesadaran sang raja Alderth. Bahwa Baekhyun menitikkan air mata dibalik punggungnya. Menyembunyikan pada dunia betapa sakit yang ia rasakan. Menyembunyikan betapa ia kecewa, pada dirinya sendiri.

"apa kau yakin ingin tinggal Jihoon?", ujar Baekhyun sembari tersenyum manis pada teman sekamarnya.

Jihoon mengangguk sembari memeluk erat tubuh mungil sang ratu lalu mengusap air matanya yang sudah menitik sejak tadi. Merasa amat sedih harus berpisah dengan lelaki manis itu untuk waktu yang lama.

"baiklah, kunjungi aku y ajika kau rindu", kekeh Baekhyun.

Malam sudah menjemput ketika lelaki mungil yang bukan lagi ratu Alderth itu mengucapkan salam perpisahan pada Jihoon. Mereka berada di depan pintu utama istana. Didepan sana, Chanyeol sedang menunggu bersama para prajuritnya. Raja Alderth itu sudah terlihat lebih segar. Pakaiannya sudah ganti, rambutnya sudah tertata rapi. Ketampanan masih menghiasi parasnya. Namun, kesedihan tidak dapat dihilangkan begitu saja dari raut wajahnya.

Beruntung, udara malam itu lebih cerah. Meskipun angin dingin berhembus, namun tidak ada butiran salju ataupun air yang mengguyur bumi. Baekhyun menebak perjalanan mereka akan lebih mudah dibanding perjalanan Chanyeol semalam.

Setelah memberikan pelukan akhir pada Jihoon, si lelaki cantik itu perlahan melangkah mendekat ke rombongan sang raja. Namun ada satu hal yang menarik perhatian sang ratu, hingga sukses membuat hatinya bergolak sedih.

Jillian dan Jasmine tengah mengusapkan kepalanya ke satu sama lain. Mereka tampak bahagia dapat bertemu lagi setelah sekian lama. Baekhyun lagi-lagi merasa dirinya adalah penjahat dalam kisah mereka karena terlalu banyak memisahkan dan meninggalkan.

Ternyata, Baekhyun tidak satu-satunya yang menyadari interaksi mengharukan kedua kuda putih tersebut. Chanyeol juga tengah memperhatikan bagaimana kuda kebanggaannya dengan sayang mengusapkan surainya ke leher Jasmine. Tanpa sadar, senyuman menghiasi wajah sang raja. Ia berharap nasibnya akan sama dengan kedua itu, namun lagi-lagi takdir menghukumnya, tentu karena ia adalah seorang pendosa.

"harusnya aku sadar kau masih hidup ketika aku tidak menemukan Jasmine di rumah Sehun. Jasmine dan dirimu tidak dapat dipisahkan, sesuai dengan yang kurencanakan sejak dulu", ujar sang raja pelan. Sedikit menarik atensi Baekhyun untuk beralih dari jasmine dan Jillian. Tak dapat ditahan, senyuman pun terkembang di bibir merahnya.

"ya, seperti kau dan Jillian", jawabnya pelan.

"tidak bisakah kau memaafkanku? Dan kita berusaha memperbaiki semuanya?", ujar sang raja. Matanya beralih menatap dalam ke sisian wajah cantik Baekhyun.

"yang mulia, saya sudah memaafkan anda", perlahan Baekhyun menoleh dan balas menatap dalam ke iris gelap itu. "tapi, kita tidak bisa kembali bersama. Semuanya, terlalu berat untukku. Kumohon biarkan aku, menyelamatkan sisa diriku yang belum hancur".

Untaian kata itu bagai tamparan untuk sang raja hingga pimpinan Alderth tersebut hanya bisa menunduk. Helaan nafas yang amat berat ia loloskan, sebelum perlahan berbalik dan mengusap surai Jillian. Raja Alderth itu menoleh terakhir kali pada suami mungilnya, lalu melompat lincah ke punggung gagah kuda putih tersebut. Tanpa tatapan terakhir kali, sang raja langsung memacu Jillian untuk jalan.

Minho membungkukkan badannya sembari mengulurkan tangan untuk membantu Baekhyun menaiki Jasmine. Tidak lama kemudian, rombongan itu memacu kudanya menjauh dari Patrathia.

Sepanjang perjalanan, Chanyeol hanya diam. Tidak sedikitpun menoleh untuk menatap Baekhyun. Agaknya itu membuat hati Baekhyun berdenyut sakit. Namun itu adalah pilihannya, Baekhyun siap menerima konsekuensi atas apa yang ia pilih.

Sesungguhnya, Baekhyun telah berusaha keras mengarahkan Jasmine agar berlari dibelakang Jillian. Karena Baekhyun merasa dirinya tak pantas bersanding dengan raja tampan itu. Namun, Jasmine merasa ini saatnya membangkang. Hingga kuda putih itu akan terus mensejajarkan dirinya dengan Jillian. Akibatnya, Baekhyun tidak memiliki pilihan lain selain beriringan dengan lelaki yang masih berstatus suaminya itu. Chanyeol pun tampak tidak keberatan, atau tidak peduli. Pria mungil itu belum bisa memutuskan. Beberapa kali, Baekhyun menoleh. Memperhatikan bagaimana satu tangan sang raja menggenggam erat tali kekang Jillian sedang tangan lainnya beristirahat pada paha kokohnya. Munafik, jika Baekhyun mengatakan jantungnya tidak berdebar melihat betapa gagah dan menawannya sang raja.

Sehingga yang ia lakukan pada akhirnya hanya menunduk, dan membiarkan Jasmine memimpin perjalanan kali ini. Karena Baekhyun sadar, mungkin ia bisa memaksa hatinya bersabar dan mengabaikan cinta menggebu pada sang raja Alderth. Namun ia tidak bisa egois dan memaksa Jasmine melakukan hal bodoh yang sama seperti dirinya.

Patrathia, January 12, 1855

Bunyi terompet menjadi tanda bahwa kedua pimpinan Alderth telah menginjakkan kakinya memasuki wilayah istana. Di sepanjang jalan Rissingshire, semua rakyat telah berkumpul sejak pagi karena mendengar ratu mereka telah kembali. Sorakan bahagia terdengar di seluruh penjuru kota. Sesekali Baekhyun melambaikan tangannya untuk membalas sapaan rakyat, berusaha menahan perasaan bersalahnya pada ratusan orang yang sudah menyambutnya dengan sedemikian rupa. Sungguh Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka ketika tahu, sang ratu telah melepaskan jabatannya. Berbeda dengan Baekhyun, Chanyeol hanya mengangguk sekilas. Terlihat jelas, sang raja sedang tidak dalam mood yang baik bahkan untuk berpura-pura sekalipun.

Jika Baekhyun kira berhadapan dengan rakyat adalah yang terberat, ratu Alderth itu salah. Kyungsoo, Luhan, Ibu Suri, Puteri Yoora, Jongin dan Sehun tampak sudah menantinya bersama puluhan pelayan dan seluruh penjaga yang berbaris rapi dari halaman istana.

Baekhyun berusaha sebisa mungkin untuk tidak gugup dengan menggenggam erat tali kekang Jasmine. Kuda putih itu meringkik perlahan, seolah bisa menangkap perasaan tidak nyaman dari tuannya. Perlahan Baekhyun mengusap surai Jasmine, meyakinkannya bahwa sang ratu baik-baik saja.

"aku tidak akan mengatakan apapun pada mereka. Kau bawa sendiri berita itu pada mereka", ujar sang raja pelan. Masih enggan menatap Baekhyun.

Si mungil mengira Chanyeol hanya membual dan akan membantunya. Tentu, Chanyeol selalu menyelamatkannya selama ini bukan?

"selamat datang kembali, yang mulia", ujar seluruh pelayan dan penjaga secara serempak begitu sepasang pimpinan Alderth itu melompat turun dari kuda.

Tanpa menunggu untuk berbasa-basi, sang raja langsung melangkah masuk kedalam istana. Meninggalkan mereka semua yang berkumpul di halaman depan.

Dengan hati-hati Baekhyun melangkah mendekati Kyungsoo dan Luhan. Kedua lelaki yang tingginya tidak beda jauh itu sudah menatapnya sengit. Bahkan jika bisa, Kyungsoo tampak ingin memukul kepala Baekhyun dengan sepatu yang ia kenakan.

"h…hai", ujar Baekhyun tergagap.

"hai? HAI? Kau baru saja mengatakan HAI dengan mudahnya setelah apa yang kau lakukan pada kami? Demi tuhan Byun Baekhyun!", hardik Luhan. Baekhyun berjengit sedikit dan menggigit bibir bawahnya.

"m…maafkan aku… aku ̶ "

"jangan pernah lakukan itu lagi! Seberat apapun itu, kami akan selalu berada disini. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pergi lagi", itu adalah Kyungsoo. Yang tanpa Baekhyun duga langsung menariknya kedalam pelukan hangat. Diikuti Luhan yang juga ikut memeluknya.

Baekhyun tidak bisa lagi menahan tangisannya, sehingga ia tersedu-sedu di pundak Kyungsoo. Sedang kedua lelaki lainnya mengelus punggung sempit itu sayang. Kata Maaf Baekhyun ucapkan berkali-kali bak mantera. Membiarkan perasaan bersalah meliputinya.

Setelah puas berpelukan, Baekhyun beranjak mendekati sang ibu suri yang sudah berlinangan air mata. Memang, Baekhyun bukanlah anak kandungnya. Namun Tiffany memiliki keterikatan tersendiri dengan menantu kesayangannya itu. Perasaan sayang luar biasa seorang ibu kepada anaknya.

"bu…maafkan aku", ujar Baekhyun bergetar. Perlahan, ratu Alderth itu menjatuhkan lututnya dan memeluk kaki sang ibu suri. Dibelakang sang ratu, Kyungsoo, Luhan, Sehun dan beberapa pelayan serta penjaga ikut membungkuk dalam. Sedangkan Jongin, mayor Minho, dan pelayan serta penjaga sisanya tetap berdiri tegak. Terlihat jelas pada siapa mereka menaruh kesetiannya.

Jika seseorang telah memutuskan untuk bertuan pada salah satu raja atau ratu, kepada orang itulah mereka sepenuhnya mengabdi. Jika sang ratu yang merupakan junjungannya tengah bersujud, itu berarti mereka juga wajib membungkuk hormat. Jika sang ratu rela menjatuhkan seluruh harga diri serta otoritasnya, mereka yang notabene hanya seorang abdi, tidak memiliki alasan untuk tidak melakukan hal yang sama.

"bangunlah Byun Baekhyun. Kau adalah seorang ratu… Aku sudah memaafkanmu", ujar Tiffany sembari terisak. Ibu suri mengangkat perlahan tubuh menantunya agar kembali berdiri dan membawanya kedalam pelukan.

"Aku sudah tidak lagi muda, yang kuinginkan hanya melihat mu dan Edmund bahagia. Jangan pernah lagi melakukan hal bodoh seperti berpura-pura bahwa kau sudah meninggal. Kau tidak tahu betapa hancurnya kami mendengar kabar itu Baek".

Baekhyun hanya mengangguk, bibirnya kelu dan isakan yang amat hebat membuat dirinya susah untuk mengucap.

"berjanjilah. Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi meninggalkan kami, meninggalkan Alderth dan tahtamu. Atau kau ingin melihatku mati karena memikirkanmu", ujar ibu suri.

Hati Baekhyun teriris mendengar ungkapan itu. Tiffany sudah seperti seorang ibu bagi Baekhyun. Tentu ia tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang sudah mulai tua itu. Melihat Tiffany sakit karena dirinya, adalah hal terakhir yang Baekhyun inginkan.

"a…aku berjanji bu", ujar Baekhyun akhirnya. Tanpa sadar, janji berarti ia kembali terikat. Ia tidak bisa pergi lagi, untuk selamanya.

Deritan pintu perlahan membelah sunyinya eagle room. Suasana hangat seketika menyapa tubuh mungil sang ratu. Tidak ada perubahan yang signifikan dari ruangan itu. Bahkan sprei dan kelambu yang terpasang masih sama seperti terakhir kali ia pergi. Hanya satu benda kecil yang indah memberikan sedikit sentuhan lain di kamar mewah itu. Sebuah baby box yang sangat cantik. Didalam sana, anaknya tengah berbaring, anaknya yang amat ia rindukan siang dan malam. Hati Baekhyun berdegup semakin kencang dibuatnya. Ini adalah kedua kali Baekhyun bertemu dengan Jackson. Kali pertama adalah sebelum ia pergi secara diam-diam dari kediaman Sehun. Hanya sepuluh menit yang amat berharga, ditengah gelapnya malam, Baekhyun memandangi wajah Jackson untuk pertama kalinya. Sang ratu kira, itu akan menjadi kali terakhir baginya. Namun dewa sangatlah baik, sehingga ia memiliki kesempatan lain untuk bertemu dengan puteranya.

Dengan hati-hati sang ratu melangkah masuk. Berusaha tidak bersuara sedikitpun agar tidak mengganggu Jackson. Air matanya tidak dapat lagi terbendung ketika sang ratu menatap wajah damai puteranya yang tengah tertidur. Kali ini terlihat jelas, karena cahaya dari matahari musim dingin yang bersinar terang. Baekhyun bisa melihat bagaimana indah paras mungil itu. Paras yang mengingatkannya akan seseorang. Jackson adalah versi mini dari Chanyeol.

Perlahan, tangan Baekhyun terulur untuk menggendong makhluk mungil itu. Mendekapnya erat dan memberikan kecupan sayang di kening. Air mata yang terus mengalir keluar dari matanya membasahi kening Jackson. Membuat bayi itu terganggu tidurnya dan terbangun. Baekhyun jatuh cinta lagi ketika sepasang mata itu terbuka perlahan. Maniknya bertatapan langsung dengan manik identical lain yang lebih mungil. Hanya beberapa detik, karena setelah itu Jackson menyipitkan matanya dan mulai menangis.

Baekhyun terkekeh pelan dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang menempel pada jendela, perlahan jemari lentiknya membuka kancing kemeja dan untuk pertama kali menyodorkan dadanya kepada Jackson. Insting tajam Jackson membuat bayi itu seketika paham, dan langsung menghisap air susu yang keluar dari nipple pink milik sang mama. Tangisan seketika berhenti, mata bulat basah itu menatap wajah cantik sang mama dengan penasaran.

Detik itu, meskipun ini adalah kali pertama, Baekhyun sudah bisa memutuskan bahwa menyusui Jackson adalah saat yang paling ia sukai. Melihat bagaimana sepasang mata bening itu menatap kedalam matanya. Bagaimana jemari kecil milik anaknya beristirahat nyaman di dadanya sembari makhluk mungil itu sibuk menyusu. Baekhyun merasa hatinya bisa meledak kapanpun karena rasa bahagia. Mendadak, ia tidak lagi merasa sakit.

Klek.

Hingga suara pintu yang dibuka menginterupsi keheningan serta momen mereka. Perlahan Baekhyun mendongak dan mendapati sang raja tengah berdiri didepan pintu sembari menatapnya kaget. Baekhyun bisa menebak bahwa sang raja tidak mengira Baekhyun ada didalam kamar.

"mmm… m…maaf aku tidak tahu kau ada disini", ujar sang raja.

"tidak apa Chan… Tunggu ̶ "

BRAAK

Terlambat, pintu sudah tertutup bahkan sebelum Baekhyun dapat menyelesaikan ucapannya.

Jujur saja, Baekhyun ingin membina hubungan baik dengan sang raja meskipun mereka tak lagi bersama. Baekhyun tentu membutuhkan Chanyeol untuk bersama membesarkan Vincent dan Jackson. Namun, ia sadar betul sang raja kecewa padanya. Dan Baekhyun tidak dapat berbuat apapun tentang itu.

Helaan nafas berat ia loloskan, sebelum sang ratu memutuskan untuk kembali menatap wajah damai anaknya yang ternyata sudah tertidur tanpa ia sadari. Untuk sesaat, Baekhyun merasa amat bahagia. Ia bisa merasakan bagaimana jatuh cinta lagi untuk pertama kali pada sosok mungil di dekapannya. Bagaimana perasaan hangat menyusupi buku-buku hatinya, hingga membuatnya terlena dan lupa bahwa ia belum mengatakan yang sebenarnya, pada semua orang. Baekhyun tidak peduli untuk saat ini. Yang ia inginkan hanya bersama dengan Jackson.

Setelah lima menit berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba pintu eagle room kembali terbuka, menampakkan Vincent yang tanpa menunggu langsung menghambur kearah sang mama yang seperti sudah sangat lama tidak ia jumpai.

Air mata yang sempat mengering kembali turun membasahi pipi sang ratu Alderth. Sebisa mungkin ia memberikan pelukan pada Vincent sedang satu tangannya lain menahan tubuh mungil Jackson yang tengah tertidur.

"ma… mama sudah pulang", ujar Vincent pelan. Mata polosnya menatap tepat ke manik Baekhyun seolah menuntut sebuah jawaban.

Baekhyun menyadari, Vincent sudah jauh lebih besar sejak terakhir ia bertemu dengannya. Selain itu sorot matanya sudah berubah lebih tegas dibanding dengan sorot takut serta malu yang dulu sering anak kecil tampan itu tunjukkan. Baekhyun sangat bangga, melihat bagaimana anaknya tumbuh dengan baik ditangan sang raja.

"ya, mama sudah pulang".

Senyuman mengembang di bibir Vincent. Otak polosnya membuat anak itu seketika percaya pada ucapan sang mama meskipun sekali Baekhyun pernah mengingkari janji mereka. Janji bahwa ia akan pergi sebentar dan kembali, namun nyatanya tidak.

"ma, bisakah mama tidak pergi lagi? Vincent sangat sedih tidak ada mama. Meskipun papa selalu menemani Vincent sebelum tidur, namun rasanya tidak lengkap tanpa mama".

Hati Baekhyun mencelos, bagaimana caranya ia mengatakan bahwa dirinya akan pergi pada anak ini? Tentu itu akan menyakiti Vincent, dan hal tersebut sama sekali tidak ia inginkan.

"benarkah? Papa menemani Vincent setiap malam?", jika mengubah topik pembicaraan adalah solusinya, maka itulah yang Baekhyun lakukan.

"ya… papa akan menemani Vincent dan Jackson tidur. Tetapi tiap malam, Vincent takut papa tidak bangun lagi seperti waktu itu. Sehingga Vincent akan membangunkan papa sesekali untuk memastikan", kikik anak itu menggemaskan.

Dahi Baekhyun berkerut mendengar pernyataan Vincent. Ia tidak memahami sedikitpun apa yang dimaksud anak sulungnya. Baekhyun kira Chanyeol baik-baik saja selama ini dan lupa akan dirinya. Lalu kenapa, apa maksudnya ia tertidur dan tidak bangun?

"papa tidak bangun lagi? Apa maksudnya hm?".

"Vincent tidak tahu. Yang jelas, Grandma mengatakan kalau papa sakit dan Vincent harus tidur dengan Grandma. Tapi Vincent tidak percaya! Papa kan sangat kuaat! Lalu Vincent memutuskan mendatangi papa suatu malam. Tapi Grandma benar, papa tidak kunjung bangun bahkan setelah Vincent bangunkan berkali-kali. Di bagian dada papa dipenuhi ramuan hijau aneh yang baunya sangat tidak enak", bibir Vincent mengerucut. Mendadak kenangan buruk itu kembali memenuhi fikirannya.

Sayangnya, penjelasan Vincent tidak dapat sedikitpun dipahami oleh sang ratu. Apa maksudnya? Apakah Chanyeol sakit? Kenapa tidak ada yang memberitahu dirinya akan hal ini?

Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya. Membuat sang ratu tanpa sadar mengabaikan Vincent yang tengah bercerita. Hingga anak itu menyadari bahwa sang mama tidak memperhatikannya dan berakhir merengek sembari menghentakkan kaki.

Hal ini sepertinya berhasil, karena Baekhyun langsung tersadar dan memeluk tubuh mungil itu dengan satu tangannya. Menyalurkan seluruh rasa rindu dan sayang yang teramat besar.

"ma, mama belum berjanji padaku kalau mama tidak akan pergi lagi".

Hening menyapa, bibir Baekhyun kelu untuk saat.

"ya… mama berjanji", lirih Baekhyun akhirnya.

Tidak menyadari, seorang lelaki tinggi sedang bersandar pada tembok bagian luar eagle room. Semua percakapan menggemaskan itu terdengar dengan jelas olehnya, membuat debaran aneh terjadi di jantungnya.

Empat orang dewasa tengah berkumpul di satu ruangan sayap barat. Yang tertua sedang memejamkan mata sembari berfikir. Sedangkan tiga lainnya tengah berdebat sengit membahas suatu hal yang amat penting.

Ibu suri, Puteri Yoora, Kyungsoo dan Luhan menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi antara dua pimpinan Alderth itu. Mereka merasakan aura dingin sang raja yang sedikitpun tidak tampak bahagia dengan kembalinya sang ratu. Tentu, kedua orang ini pastilah bertengkar karena suatu hal.

"tidak tidak. Aku tidak yakin Chanyeol akan senang kita mencampuri urusannya", tegas puteri Yoora.

"ayolah, kita tidak bisa membiarkan Baekhyun pergi lagi", decak Luhan.

"aku setuju, kita harus memikirkan cara", sahut Kyungsoo.

"oh Diamlah!", hardik ibu suri mendadak.

Perlahan kedua mata itu terbuka lebar, dibarengi senyuman yang amat sumringah.

"pernikahan Chanyeol dan Baekhyun sudah masuk tahun ke lima kan?".

Serempak, tiga kepala lainnya mengangguk.

"aku punya rencana. Kyungsoo! Hubungi tuan Sterling. Katakan ia memiliki tugas mulia yang harus segera dilaksanakan", kekeh Ibu Suri. Mengundang tatapan heran dari tiga lainnya.


Etuviel palace, January 13, 1855

Matahari musim dingin menyorot dengan amat terang pagi itu. Membuat suasana istana seolah kembali hidup setelah beberapa hari lalu diserang badai. Setiap orang di istana seperti terbawa dengan cerahnya suasana sekitar dan ikut tersenyum cerah pada siapapun yang mereka temui. Begitupun dengan sang ratu yang mengawali pagi pertamanya di istana setelah sekian lama.

Tidak banyak yang berubah, semua masih melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Para pelayan akan menyapanya ketika sang ratu melewati koridor. Suasana hati sang ratu sungguh baik pagi itu. Meski semalam ia tidak berhasil menemukan Chanyeol dan mengajaknya bicara. Memang, akibat dari ucapan Vincent, Baekhyun sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Memikirkan apa maksud anak sulungnya itu.

Niat pertamanya adalah bertemu Chanyeol. Menanyakan apa maksud Vincent secara jelas. Namun, lelaki itu seolah menghilang secara misterius. Ia tidak ada diruangannya dan di semua ruangan yang biasa ia tempati. Mengundang ribuan tanya di otak Baekhyun.

Sang ratu menghela nafasnya pelan, hari ini ia bertekad akan menemukan Chanyeol dan memperjelas semuanya. Tapi sebelum itu, sang ratu punya urusan lain yakni mengisi perut. Jackson sudah bangun tepat ketika matahari terbit. Memekik pelan dan seketika menangis dengan sangat keras. Membangunkan sang ratu dari tidurnya yang amat tidak jenak.

Setelah menyusui Jackson, lelaki cantik itu melanjutkan kegiatannya memandikan sang bayi dan kembali menidurkannya. Kini, Baekhyun merasa sangat kelaparan. Dan ia tidak dapat menunggu lagi untuk mengisi perut.

"jujur saja Lu, aku sangat khawatir dengan keadaan yang mulia raja", itu adalah suara Kyungsoo.

Baekhyun baru saja akan berbelok masuk kedalam dapur sebelum ia mendengarkan suara sahabatnya. Mendadak, lapar tidak lagi ia rasakan. Berganti dengan rasa penasaran yang luar biasa. Ratu Alderth ini menahan keinginannya masuk kedapur dan berdiam di samping pintu. Berusaha mendengarkan apa yang kedua sahabatnya akan katakan.

"benar Kyung. Yang mulia raja masih belum sembuh betul dari luka panahan itu. Kemarin beliau baru kembali dari Patrathia dan malamnya harus pergi lagi ke Faydale sampai besok".

Pantas saja Baekhyun tidak dapat menemukan lelaki itu dimanapun. Ia pergi tanpa memberitahunya. Semuanya masuk akal sekarang. Tapi tunggu, luka panah?

"Apakah kau tidak berencana memberi tahu yang mulia ratu alasan sang raja tidak menemuinya dalam jangka dua bulan setelah Sehun kembali dari Alderth kala itu? Baekhyun amat terluka karena itu. Hingga ia ingin pergi selamanya dari kehidupan kita", lanjut Luhan.

Kernyitan di dahi Baekhyun semakin lama semakin dalam. Semuanya sangat membingungkan. Otaknya mendadak bodoh sehingga sulit memahami maksud mereka.

"entahlah, bagaimana caranya aku harus memberitahu Baekhyun bawa sang raja sekarat akibat luka panah hingga tidak sadarkan diri selama dua bulan? Baekhyun akan panik mendengarnya kau tahu".

"benar, andai saja ketika itu Sehun memberitahu yang mulia keberadaan Baekhyun. Kejadiannya tidak akan seperti ini. Beliau tidak perlu membahayakan diri dengan diam-diam mengikuti Sehun dan berakhir terluka…".

Detik itu, dunia Baekhyun seakan berputar didalam kepalanya. Mendadak suara kedua temannya mengabur. Pandangan Baekhyun berubah tidak fokus.

Jadi itulah kenyataannya? Chanyeol terluka, dan hampir merenggang nyawa karena… karena ingin bertemu dengannya?

Oh tuhan, kenyataan macam apa ini? Baekhyun sungguh tidak dapat memahaminya. Perasaan bersalah yang sejak awal ia rasakan semakin menjadi-jadi kini. Kilasan bagaimana ia melawan sang raja di pertandingan pedang padahal suaminya masih belum pulih total menghantui Baekhyun. Kata-kata kejam yang ia ucapkan untuk menyakiti Chanyeol kembali terngiang, dan malah berbalik menyakiti dirinya sendiri.

Air mata sudah mengalir deras membentuk sungai kecil di pipi tanpa ratu Alderth itu sadari. Hatinya seperti diremas.

"Sungguh, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berterimakasih pada sang raja. Setelah apa yang suamiku lakukan padanya, ia masih memaafkan Sehun. Mengembalikan jabatannya. Memberikan perlindungan hukum penuh pada Sehun agar tidak dihukum mati dan mengampuninya. Kurasa, sujudpun tidak akan pernah bisa mengganti hutangku…".

Perlahan, lelaki mungil itu berbalik. Ia berjalan secepat yang ia bisa untuk kembali ke kamar. Air matanya terus mengalir deras. Semakin lama ia berdiri disana, semakin lemas kakinya terasa. Baekhyun kira, Chanyeol adalah tersangka dalam kisah mereka. Namun kenyataannya, Baekhyun lah yang bersalah. Bersalah karena tidak pernah memberi kesempatan untuk dirinya mendengar, dan membiarkan sang raja menjelaskan.

Bias sinar oranye menghiasi langit Rissingshire sore itu. Menyinari sesosok lelaki mungil yang tengah duduk sembari menatap keluar jendela. Matanya sembab akibat menangis sejak pagi. Sang ratu menolak bertemu dengan siapapun, menolak makan, dan membiarkan ia sendiri bersama dirinya di kesunyian The Rose Chamber.

Baekhyun kembali mengulang semua kejadian di otaknya. Sejak hari dimana ia bertemu sang raja, menikah, dan melalui hari-hari indah bersama. Tapi, akhirnya tiba pada bagian menyakitkan dimana Subin hadir diantara mereka. Memporak-porandakan kisah indah mendekati sempurna yang telah mereka rajut bersama. Membuat Baekhyun terpaksa pergi jauh, membawa Jackson bersamanya. Sang ratu bahkan masih merasa amat sakit di bagian dada mengingat kejadian itu. Nafasnya seketika sesak karena air mata seolah tidak mau berhenti.

Lama kelamaan, kenangan itu membawanya kepada hari dimana ia mendengar secara diam-diam bahwa Chanyeol tidaklah bersalah. Ia hanyalah korban dari kejamnya ramuan sihir yang membuat sang raja Alderth lupa akan segalanya. Ketika itu, hati Baekhyun terasa amat bahagia. Rasa lega luar biasa meringankan beban yang selama ini ditanggungnya. Malam itu, Baekhyun memutuskan sudah memaafkan sang raja dan menunggunya datang. Menjemput dirinya, dan bersama mereka menanti kehadiran putera yang masih dikandungan sang ratu.

Namun, dua bulan kemudian, perasaan bahagia itu berubah ketika Baekhyun menyadari penantiannya sia-sia. Setiap malam ia menanti, dan setiap malam pula ia harus kecewa. Karena sang raja tidak kunjung datang. Rasa sakit hati kembali menyerangnya. Bagaimana bisa sang raja masih tetap tidak peduli dengan dirinya dan putera dikandungannya. Semua perasaan terkhianati itu kembali mendera Baekhyun. Mendadak, ia meragu. Bagaimana jika ternyata Chanyeol benar mencintai Subin. Dan sang raja menyadari itu setelah semuanya terlewati.

Pikiran itulah yang terus memenuhi Baekhyun selama jangka waktu tidak hadirnya Chanyeol bahkan setelah kasus itu terungkap. Pikiran itu mengantarkan Baekhyun menuju hari dimana Jackson akhirnya lahir. Hingga ia memutuskan akan pergi dan meninggalkan semuanya dibelakang.

Kini, setelah semua prasangka yang memenuhi dirinya itu terbukti salah, Baekhyun merasa menjadi orang terkejam yang pernah ada. Penyesalan menekannya bak beton yang jatuh tepat di dada. Membuatnya diam, tak bergerak, tak bernafas. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah bertemu Chanyeol. Namun lelaki itu tampak menghindarinya dan lebih memilih pergi ke Faydale tanpa sepengetahuan sang ratu.

Tentu, Baekhyun tidak bisa menyalahkan Chanyeol. Lelaki itu sudah melewati begitu banyak hal menyakitkan seorang diri seperti dirinya. Namun Baekhyun terus saja merasa dirinya adalah satu-satunya pihak yang tersakiti dan balik menyakiti tanpa ia sadari.

Kemarin, setelah ia melihat Jackson dan Vincent, sang ratu merasa amat berat untuk pergi dari istana. Baekhyun berfikir dua kali dengan keputusannya. Rencana tinggal dan berusaha kerja sama dengan sang raja tanpa ikatan romansa sempat terbersit di pikirannya. Katakan Baekhyun munafik, tapi ia hanya seorang pria dengan dua anak lelaki kecil rapuh yang masih amat membutuhkan kehadiran dirinya. Berat terasa untuk Baekhyun meninggalkan mereka dan memutuskan untuk tinggal. Lalu mulai berusaha berteman dengan Chanyeol.

Namun, fakta baru yang ia terima hari ini seperti membuka matanya lebar. Menyadarkannya. Seolah dewa memberikan jawaban yang sebenarnya ia butuhkan atas dilemma yang membuatnya terjaga setiap malam.

Baekhyun hanyalah manusia terlepas dari statusnya sebagai seorang ratu. Ia bisa salah, ia bisa merasa sakit, dan ia bisa munafik.

Dengan keputusan final yang baru saja ia ambil. Sang ratu mengusap air matanya. Chanyeol sudah berusaha memperbaiki semuanya, namun Baekhyun terlalu buta dengan kebencian dan rasa egois hingga tidak bisa melihat semua itu. Kini giliran Baekhyun, yang harus memperbaiki semuanya.


Etuviel Palace, January 15, 1855

"em, maafkan aku tuan Sterling. Tapi untuk apa yang mulia ibu suri memintaku hadir disini?", ujar Baekhyun pelan. Membuat lelaki tua berjenggot yang tengah sibuk dengan kanvasnya mendongak. Lalu tersenyum pada sang ratu.

"apakah yang mulia ratu tidak mengatakan pada anda? Tradisi setiap lima tahun usia pernikahan raja dan ratu", ujar pak tua itu.

Baekhyun mengkerutkan keningnya. Sungguh ia tidak sedang dalam mood melakukan semua ini. Semalam ia tidak bisa memejamkan mata. Mengakibatkan dirinya terbangun dengan sakit kepala luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Baekhyun sesungguhnya hanya ingin mengurung diri di kamar seharian bersama Jackson sembari menunggu sang raja kembali. Namun, semua cita-cita itu harus musnah ketika tiba-tiba Kyungsoo masuk kedalam kamarnya, memaksa mandi, sembari mengatakan bahwa ibu suri menunggu dirinya di ruangan lukis.

Rasa kesal luar biasa ia rasakan ketika melihat bahwa ibu suri tidak ada diruangan lukis dan hanya tuan Sterling yang sedang menunggunya dengan seperangkat alat lukis yang sudah siap digunakan. Separuh bagian ruang lukis tertutup kain berwarna merah, menyembunyikan sebuah kursi kayu yang sepertinya akan digunakan.

Sungguh, Baekhyun tidak mengerti. Tidak ada yang memberitahunya mengenai hal ini. Terlebih tentang tradisi lima tahun pernikahan. Ia merasa de javu, seolah kembali ke masa dia masih seorang penghuni baru di istana mewah ini.

"tuan Sterling, tolong jelaskan padaku. Sungguh aku tidak memahami maksud anda", titah Baekhyun.

Lagi-lagi pak tua itu hanya tersenyum jail, semakin membuat sang ratu merasa kesal.

"tradisi lima tahun pernikahan raja dan ratu, berarti raja dan ratu harus menjalani prosesi lukis bersama. Maksudnya, anda dan yang mulia raja akan dilukis berdua", jelasnya.

"bukankah kami sering dilukis berdua?".

Kekehan terdengar dari mulut pak tua itu. Kekehan jail yang menggoda.

"oh tentu kali ini berbeda. Anda dan yang mulia raja akan dilukis bersama, telanjang".

Benar, sang ratu langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan tuan Sterling dan terbatuk-batuk amat keras. Demi tuhan, apa maksudnya dilukis telanjang? Bagaimana Baekhyun bisa telanjang dihadapan orang lain?

"yang mulia raja tidak ada disini, hingga mustahil jika…"

CKLEK

"tuan Sterling, kurasa ibuku salah paham. Aku tidak bisa melakukan ini dengan… Baek?", seketika kedua pasang mata raja dan ratu Alderth itu membelalak lebar. Tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan suasana seperti ini.

Sang raja menjadi yang pertama memutuskan kontak mata mereka dan berdeham kikuk. Membuat sediki rasa kecewa mengapung di permukaan hati Baekhyun.

"kurasa terjadi kesalahpahaman. Aku dan yang mulia ratu tidak bisa melakukan ini sekarang. Ibu sepertinya salah sangka. Yang mulia ratu sedang… tidak enak badan. Ya, dia sedang tidak enak badan. Sehingga aku akan memikirkan semuanya lagi bersama dan ̶ "

"tidak, ayo kita lakukan", lirih Baekhyun. Menginterupsi ucapan sang raja yang terdengar sangat cepat ditelinganya. Bahkan membuat Baekhyun hampir saja mengira lelaki itu tengah gugup.

"y…ya? Baek, apa kau ̶ "

"aku yakin, ayo kita lakukan", ujar Baekhyun sembari tersenyum manis. Senyuman yang selama ini amat sang raja rindukan.

"ah! Luar biasa! Kalau begitu, silahkan yang mulia bersiap dibalik kain merah ini. Jika sudah siap, beritahu saya ya", pekik tuan Sterling senang. Seolah tidak peduli dengan ketegangan yang terjadi antara dua anak adam dihadapannya itu.

Baekhyun menjadi yang pertama beranjak ke balik kain merah itu, memberikan isyarat mata pada sang raja untuk mengikutinya.

"Baek, kau tidak harus melakukannya karena ibu. Aku akan membicarakannya lagi", ujar sang raja. Masih berusaha meyakinkan Baekhyun bahwa ia bisa mundur dan batal melakukan prosesi dadakan ini.

"tidak, aku tidak melakukannya karena ibu", jawab Baekhyun. Membuat sang raja berkedip bingung. Seingatnya, kemarin Baekhyun masih amat dingin dan tidak mau berbicara dengannya. Sang raja mendadak curiga, sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuannya.

"ayo, tuan Sterling sudah terlalu lama menunggu", lanjut Baekhyun. Sebelum tubuh mungil itu berbalik untuk menanggalkan satu demi satu pakaian yang melekat padanya.

Raja Alderth itu seolah kaku di tempatnya berdiri. Ia masih tidak merasa yakin, namun punggung telanjang Baekhyun seolah menghipnotisnya. Membuat Chanyeol secara tidak sadar ikut melepaskan pakaiannya, hingga tubuh berotot itu tidak terlapisi sehelai benangpun.

Dunia disekitar Chanyeol seketika berhenti, ketika tubuh telanjang yang sangat indah itu berbalik menghadapnya. Senyuman yang sangat cantik menghiasi paras suami mungilnya. Dan jangan lupakan semburat merah yang membuat sosok Baekhyun semakin sempurna dimata sang raja Alderth.

"kemarilah", lirih Baekhyun, kemudian membimbing sang suami tinggi yang masih diam mematung itu untuk duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan, posisinya membelakangi sang pelukis.

"B…Baek", bisik sang raja. Degupan jantungnya semakin menggila. Ia lupa bagaimana rasanya menatap ke tubuh indah itu secara langsung. Chanyeol merasa bertahun-tahun telah berlalu sejak hari terakhir ia menatap sempurnanya ciptaan sang dewa yang merupakan suami mungilnya tersebut.

Perlahan, tangan sang ratu terulur dan memberikan usapan lembut di pundak kokoh sang raja. Kemudian meremasnya pelan, dan menggunakan pundak itu sebagai pegangan, bersamaan dengan sang ratu yang melebarkan kedua pahanya untuk duduk di pangkuan sang raja.

"tuan Sterling mengatakan ini posisi yang pas", bisik Baekhyun. Berusaha menahan rasa gugup yang tiba-tiba menderanya.

Dibawah sana, tubuh sang raja bergetar akibat sensasi luar biasa ketika tubuh telanjangnya bersentuhan langsung dengan kulit mulus Baekhyun. Api gairah seketika membakarnya, ketika kedua benda di bawah sana saling bergesekan secara tidak sengaja.

Sekuat tenaga sang raja menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih jauh. Ia takut akan menakuti Baekhyun dan memperparah hubungan mereka yang sudah berada di ujung tanduk tersebut.

Degupan jantung mereka terdengar amat keras, hingga terdengar jelas oleh keduanya. Chanyeol tidak dapat lagi menahan gelenyar gairah yang ia rasakan ketika perlahan jemari Baekhyun mengusap tengkuknya sayang. Sedang satu tangan lainnya memberi belaian sayang pada surai hitam sang raja. Reflek, raja Alderth itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Baekhyun. Memberikan elusan lembut disana.

Desahan pelan terdengar, amat pelan seperti bisikan angin. Hingga Chanyeol tidak bisa memastikan apakah suara itu nyata atau hanyalah bagian dari imajinasi liarnya.

"kami sudah siap, tuan Sterling", ujar Baekhyun pelan.

"sudah? Baiklah! Aku akan melepaskan kainnya sekarang", ujar lelaki tua itu.

Tak lama kemudian, kain merah yang melindungi mereka terjatuh di lantai. Mengekspos keduanya secara jelas di mata sang pelukis.

"ah sangat sempurna! Yang mulia raja, bisakah anda menoleh ke kiri?".

Dengan berat hati, raja Alderth itu memalingkan wajahnya dari keindahan yang sedang ia nikmati dan mengikuti intruksi dari sang pelukis.

"benar tepat sekali. Yang mulia ratu, anda bisa meremat rambut sang raja? Jangan terlalu keras, namun cukup meyakinkan ya? Lalu saya ingin anda membenamkan separuh wajah anda dibalik rambut sang raja dan menatap kearahku. Ingat, tatapan tajam yang menggoda", kekeh tuan Sterling.

Tentu, sang ratu Alderth melakukannya sesuai dengan yang diminta. Bahkan matanya tidak main-main menatap menggoda kearah si pelukis. Siapapun yang melihat posisi mereka saat ini tentu akan setuju, bahwa keduanya terlihat amat… Erotis.

Semuanya memang tidak masuk akal, prosesi apa yang mengharuskan raja dan ratu bersedia dilukis telanjang? Namun itulah adanya. Prosesi ini dimulai pada masa raja ketiga Alderth yang amat menjunjung tinggi seni. Raja Philip mempercayai bahwa erotisme sejalan dengan rasa cinta dan keindahan. Menurutnya, rasa cinta yang terjalin kuat akan terlihat dari bagaimana raja dan ratu menikmati jalannya prosesi melukis ini. Perasaan cinta mereka akan menggetarkan hati siapapun yang melihat hasil lukisan mereka. Membuktinya bahwa cinta mereka nyata. Menunjukkan bahwa aturan yang dibuat oleh ayah raja Philip, tidaklah salah. Tentu hasil dari lukisan mereka akan dipajang di ruangan rahasia yang hanya bisa dilihat oleh raja dan ratu yang sudah melewati kegiatan ini. Begitupun dengan sang pelukis. Hanya keturunan Sterling lah yang bisa dan dipercaya untuk melanjutkan tradisi tertutup ini.

Detik berlalu berganti menit, hingga satu jam yang amat mendebarkan terlewati. Keduanya berusaha sekuat tenaga menahan gejolak gairah yang amat menyiksa. Apalagi, secara tidak sengaja Baekhyun akan bergerak gelisah, membuat kedua kejantanan mereka bergesekan secara tidak sengaja. Memperparah keadaan, dan membuat suhu udara disekitar mereka mendadak naik. Hingga kedua pimpinan Alderth itu berkeringat.

Gesekan suara pensil dan kertas menjadi satu-satunya suara yang mengiringi heningnya ruangan itu. Sang waktu berjalan amat lambat, seperti tidak mengerti betapa tegangnya kedua pimpinan Alderth itu. Beberapa kali, sang pelukis meminta mereka untuk rileks. Agar prosesi ini cepat selesai. Namun semua itu diabaikan begitu saja oleh keduanya. Hawa kecanggungan terasa amat tebal disekitar mereka. Membuat kedua pimpinan Alderth itu tidak bisa mempedulikan hal lain, selain mereka berdua, dan bagaimana friksi menyenangkan ini bisa mereka abaikan.

"baiklah! Saya rasa sudah cukup! Saya akan menyelesaikan lukisan ini dalam beberapa hari kedepan. Dan sekarang saya akan keluar, agar yang mulia leluasa berpakaian kembali".

Tidak ada hal yang lebih melegakan lagi bagi mereka saat itu, kecuali ucapan sang pelukis yang sejujurnya telah mereka nanti sejak tadi. Terlebih sang raja Alderth yang sunggih tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, dan bisa saja menerkam suami mungilnya tanpa peduli jika si pelukis melihat.

KLEK.

Pintu tertutup, hening kembali menyapa. Dengan kaku, sang raja Alderth menolehkan wajahnya kembali. Menatap ke wajah cantik yang kini juga tengah menatapnya.

Kedua pasang iris itu bertemu. Membangkitan debaran menggila didalam dada mereka. Perlahan, sang ratu mengusapkan jemarinya dengan lembut pada pipi sang raja. Tidak sedetikpun melepaskan sepasang manik hitam lain yang memerangkap hazelnya.

"baby", bisik sang raja yang menyerupai desahan. Membuat sang ratu merinding.

"maafkan aku…", Ujar Baekhyun. "maafkan aku sayang, maafkan aku karena tidak pernah memberikan kesempatan padamu untuk berbicara".

"Baek, apa yang terjadi?", ujar sang raja bingung. Kerutan menghiasi kening menawannya. Sembari perlahan telapak tangan kasar itu membelai lembut pinggul sang ratu.

"aku sudah mengetahui semuanya… Maafkan aku", Bisik Baekhyun lagi. Kali ini tepat dihadapan bibir sang raja yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

"tidak, maafkan aku Baby. Semuanya salahku, dari awal, akulah si pendosa itu", bisik sang raja.

Sang ratu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha meyakinkan sang raja bahwa itu tidaklah benar. Bahwa Baekhyun sudah menyadari kesalahannya. Sudah saatnya mereka berhenti untuk saling menyalahkan diri sendiri.

Setitik air mata tidak bisa lagi ditahan oleh sang ratu. Hatinya membuncah bahagia karena dewa masih memberinya kesempatan berbicara dengan Chanyeol. Berusaha memperbaiki semuanya. Benar, mereka berdua sudah terlanjut sakit. Namun berpisah agaknya bukan jalan yang baik untuk dilalui. Karena tiap itu terjadi, hal buruk akan selalu menimpa mereka. Membawa mereka semakin jauh satu sama lain.

"kumohon, berhenti menyalahkan dirimu. Aku sudah memaafkanmu, rajaku. Kini biarkan aku yang meminta maafmu. Maafkan aku, maafkan aku yang tidak pernah memberimu kesempatan, maafkan aku yang sudah egois dengan meninggalkanmu bersama anak-anak sendirian. Sungguh, aku tidak akan pernah tidur nyenyak tiap malam jika kau belum mengampuni dosaku", bisik sang ratu. Isakan pelan lolos dari bibirnya.

"baby… hey, sayang. Aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis kumohon, sudah cukup aku membuat air matamu mengalir selama ini".

Ratu Alderth itu perlahan mengangguk. Tidak sanggup mengucapkan apapun karena isakkan yang terus menderanya.

Tidak tahan tentu saja, sang raja Alderth tidak bisa terus melihat suami mungilnya menangis seperti itu. Hingga ia memutuskan untuk melakukan hal pertama yang melintas di kepalanya.

Memangut bibir merah itu. Membawanya kedalam ciuman lembut yang memabukkan.

Perlahan, sang ratu kembali melingkarkan tangannya di leher sang raja. Bibir mungil itu berusaha sebisa mungkin membalas ciuman yang diberikan oleh suami tingginya. Kedua belah bibir itu saling memangut, mengecap rasa manis bak candu yang mereka rasakan.

Ciuman yang berawal manis itu tidak lama berubah panas. Lumatan lembut yang raja lakukan semakin lama semakin menuntut hingga membuat yang lebih mungil bergerak gelisah di pangkuannya. Lagi, membuat dua kejantanan mereka bergesekan secara tidak sengaja.

"mmh", desahan pertama lolos dari bibir sang ratu ketika Chanyeol memutuskan menyudahi pangutan bibir mereka untuk pindah menyerang leher putih mulus itu.

Kecupan-kecupan manis sang raja berikan di sepanjang pembuluh darah yang terlihat jelas dibalik kulit menggoda itu. Sang ratu semakin menggeliat geli karenanya.

"s…sayang ngh", desahnya lagi, sembari meremat pundak sang raja.

"shh, aku disini, baby", bisik sang raja. Tepat di lubang telinga Baekhyun.

Seketika, bisikan itu seperti menyengatkan sesuatu ke sekujur tubuh mungilnya. Membuat ratu Alderth itu menggelinjang.

"jangan lepaskan aku lagi, yang mulia", lirih Baekhyun. Kepalanya menunduk, dan tatapan sayu yang amat menggoda ia berikan pada suami tingginya.

"cinta kita sudah ditakdirkan sejak ratusan tahun lalu, Baby. Aku pernah melepasmu sekali kala itu. Aku tidak akan melepasnya lagi. Kali ini aku bersumpah, dengan segenap jiwaku. Aku tidak akan mengingkarinya lagi", ujar sang raja mantap. Suara beratnya terdengar amat lembut mengalun di telinga Baekhyun.

Ratu Alderth itu perlahan menggigit bibir bawahnya. Lalu kembali menarik wajah sang raja untuk berbagi ciuman manis. Tentu ciuman manis yang tidak lama berganti dengan suara desahan-desahan nikmat yang bahkan terdengar sampai keluar ruangan.

Begitulah, takdir mempermainkan mereka. Mengombang-ambingkan perasaan mereka bak nahkoda yang tengah berlayar. Jika suatu hari badai dan ombak besar terjadi lagi, mereka berdua hanya perlu mengingat bahwa suatu saat ketenangan serta keindahan laut akan kembali menyambut jika mereka berhasil melewati badai itu dengan baik.

Seperti sekarang. Mereka pernah memutuskan untuk berpisah, untuk menyerah dengan takdir dan melepaskan satu sama lain. Tapi hanya dalam kedipan mata, semuanya berubah. Mereka yang awalnya menyerah menjadi percaya. Memutuskan untuk kembali bangkit dan berusaha menarik tangan satu sama lain yang semakin waktu berjalan semakin terpisah jauh.

Begitulah cinta, begitulah kehidupan. Begitu sederhana, dan itulah yang membuat segalanya menjadi indah.

Hari itu, untuk pertama kali setelah lima tahun pernikahan mereka. Baekhyun dengan mantap mengatakan bahwa ia tidak menyesal menggandeng tangan Chanyeol dan bersama melalui tightrope menuju ke dunia yang mereka bangun bersama. Dunia dimana hanya ada Chanyeol, Baekhyun, dan Keluarga kecil mereka.

Dunia yang terasa amat sempurna hanya dengan merasakan lelaki tinggi itu berada amat dekat dengannya. Amat dengan hingga tubuh keduanya dapat menyatu. Amat dekat hingga Baekhyun bisa merasakan deguban jantung menggila itu didalam sana. Amat dekat hingga Baekhyun yakin, mereka tidak akan pernah terpisah lagi.

.

.

.

THE END

HALOOOOO akhirnyaa ya end jugaa FF ini gaess hehehe. Gimana? suka? or not? ehehe. Anyway! terimakasih yaa sudah baca ff pertamaku. Sudah menyempatkan review, favorited, dan follow cerita pertama ini. I'm so happyyyy sampe gabisa berkata-kata!

intinya makasih buaaaanyaaaaaaaaakkkk! I Love u guys to the moon and back to the moon and back again!

Anywaay, bagi yang belum tau, aku mau ngadain giveaway buat kalian. Tapi hanya untuk yang follow ig ku ya karena mudah bagiku menanyakan soal alamat dan lainnya kalau disana.

oke okee? segitu dulu yaa. Sampai jumpa minggu depaan. eh maksudnya sampai jumpa di ff ku selanjutnya (yang mungkin masih berkaitan sama ini) ehe he he he he lupakan anggap aku tidak bilang apa-apa!

BYE BYE GAES SELAMAT MEMBACAA!

jangan lupa review yaa.

regards,

Kileela.