Bonus I
(The three musketeers)
.
.
.
Do Not Edit And Repost
Etuviel Palace, February 22, 1855
Derikan suara serangga malam menerobos masuk melalui celah jendela kaca di eagle room yang terbuka. Semilir angin mengibarkan kelambu putih mewah yang menggantung, seolah melebur dengan remang cahaya lilin. Membuat suasana amat romantis.
Malam itu, bangunan utama Alderth terlihat amat sunyi dan tenang. Seluruh penghuninya sudah masuk kedalam hangat selimut masing-masing. Menyisakan beberapa penjaga saja yang bertugas pada jam nya.
Cuaca seharian tadi juga lebih hangat dari biasanya. Kentara sekali perbedaannya dengan hari kemarin yang terasa menusuk tulang. Sehingga menikmati udara malam tidak akan semenyeramkan biasanya, malah terasa menyenangkan. Terakhir, suara percikan api yang bersumber dari perapian menjadi pelengkap untuk petang yang sempurna.
"jangan lakukan ini sayang, Jackson bisa terbangun", bisik sang ratu, membelah keheningan yang sejak tadi tercipta. Jemari lentik itu memberikan cubitan pada lengan kekar Chanyeol yang tengah menyusup di sela-sela pinggang sempitnya. Punggung Baekhyun bergerak-gerak geli akibat kecupan kupu-kupu yang diberikan bibir tebal sang raja Alderth, sekaliguas berusaha mengenyahkan bibir nakal itu dari kulit bak pualamnya.
"baby…", bisik sang raja. "apakah kau tidak ingin memberikan kesempatan padaku untuk mencicip susu Jackson?".
Mendengar itu, secara otomatis sang ratu langsung mendecak kesal. Lalu menyikutkan lengan pada sang suami tinggi, tepat mengenai perut berototnya. Menimbulkan erangan dari si target. Ratu Alderth itu tidak peduli bahkan jika suami tampannya tengah merajuk dibelakang sana.
Seperti itulah mereka, sejak masalah itu terselesaikan.
Benar, sudah beberapa hari berlalu sejak momen dimana mereka menyelesaikan masalah rumit yang lebih dari setahun sudah mereka lewati. Dua belas bulan yang penuh rasa sakit dan tangis. Keduanya tidak pernah merasa begitu lega sebelum ini. Seolah ber ton-ton batu baru saja disingkirkan dari dada sepasang pimpinan Alderth tersebut.
Raja dan ratu Alderth itu seolah kembali ke lima tahun silam ketika mereka baru saja mengikat janji suci dihadapan pendeta. Kalimat manis, kecupan mesra, dan pelukan sayang tanpa canggung mereka lakukan di depan umum. Seolah ingin menunjukkan pada dunia seberapa besar perasaan itu mengkonsumsi hati mereka. Cinta yang begitu menggebu.
Karena itu tidak heran, jika Jongin menyebut keduanya 'pengantin baru kedua'. Ya, Raja dan ratu Alderth itu seolah tidak ingin berjauhan. Benar-benar tidak ingin hingga mencapai titik dimana sang raja akan mengikuti Baekhyun kemanapun lelaki mungil itu pergi, begitu pula sebaliknya. Baekhyun yang selama lima tahun ini menjadi ratu, sekalipun tidak pernah melibatkan diri dalam rapat dewan, kini akan selalu terlihat di balkon atas ruangan Idlehall dan memperhatikan seluruh prosesi yang tengah dilakukan sang raja bersama puluhan lord lain.
Kris, sang anggota baru, beberapa kali bertanya pada Roland ̶ yang kini menjabat sebagai ketua para lord, apakah ini sudah menjadi kebiasaan kerajaan Alderth jika sang ratu mengawasi jalannya rapat rahasia seperti ini. Lelaki tampan itu hanya tersenyum penuh arti sembari berkata, "Penasihat Kim bilang, mereka dalam fase pengantin baru kedua".
Pimpinan muda Klan Warrer bersurai blonde tersebut kemudian mengangguk paham, dan tak lagi memperpanjang pertanyaannya.
Seperti itulah hari-hari mereka lalui, tak hanya sang junjungan, melainkan seluruh penghuni istana Etuviel. Hanya tawa dan canda yang terdengar di sekeliling bangunan mewah nan megah kebanggaan Alderth itu. Kesedihan dan amarah seolah musnah terhapuskan oleh sang waktu. Senyuman cerah menghiasi hampir seluruh wajah berseri baik para bangsawan maupun pelayan dan penjaga. Seolah emosi yang dirasakan oleh raja dan ratu mereka memiliki efek yang dahsyat bagi para abdi nya.
"kenapa kau selalu menolakku seperti ini? Sangat malang! Benar aku adalah pria paling malang di seluruh penjuru Alderth", gerutu sang raja. Sepasang lengan berotot itu otomatis melepaskan kungkungannya pada tubuh telanjang pria mungil lain yang berada di dekapan, untuk kemudian berbaring terlentang.
Kikikan tak lagi dapat ditahan oleh sang ratu. Si mungil cantik itu mau tidak mau berbalik dan merangsek semakin dekat ke sumber kehangatannya. Lalu menyandarkan kepala di dada bidang suami tingginya yang tengah merajuk.
"hey tuan, apakah kau lupa apa yang baru saja kau lakukan padaku beberapa menit lalu?".
"tsk, tentu saja itu berbeda. Beberapa saat lalu kegiatan kita adalah membuat adik untuk Jackson. Dan barusan aku hanya ingin menyusu sedikit. Tapi lihat bagaimana dengan tega kau menolakku", suara berat itu dibuat semanja mungkin. Hingga pemilik tahta nomer dua Alderth itu dengan gemas menarik hidung mancung sang raja.
"menyusu bagimu akan membawa kita kembali pada kegiatan lain. Ingat kau besok harus bangun pagi dan pergi bersama anggota Three Musketeers mu itu".
Mendengar itu, sang raja menghela nafas pelan kemudian memeluk erat pinggang sempit suami mungilnya.
"Three Musketeers hm? Sepertinya aku harus membatasi waktumu berkumpul dengan anggota lelaki-lelaki pendek mu itu".
Cubitan panas tanpa ampun diberikan sang ratu pada pinggang Chanyeol, membuat lelaki tinggi itu mengerang untuk yang kesekian kalinya.
"cepatlah berbaikan dengan jenderal Oh. Kalian terlalu mendiamkan satu sama lain. Rasanya sangat aneh", ujar Baekhyun.
Mendengar nama sahabatnya disebut, sang raja menoleh dan kembali menghela nafas. Jujur saja, bahkan setelah waktu berlalu. Hubungannya dengan sang jenderal seolah tak kunjung membaik. Mereka berdua lebih memilih menghindar dan sebisa mungkin untuk tidak berada di ruangan yang sama. Hal ini membuat Jongin si penasihat menjadi yang paling menderita. Diapit dua lelaki dengan aura dingin mematikan yang menguar.
"kau tahu aku dan Sehun baik-baik saja. Aku bahkan membebaskannya dari hukuman mati. Jika aku menyimpan dendam ia tentu sudah mati sekarang", jawab sang raja. Suaranya terkesan dingin.
"Oh suamiku, tidakkah kau dengar sendiri bagaimana nada bicaramu barusan?", perlahan ratu Alderth itu bangkit dan menompang dagunya di dada bidang Chanyeol. Mata nya berbinar indah, menatap dalam ke sepasang manik gelap lain. "aku tahu kau amat menyayangi Sehun seperti saudaramu sendiri, jika tidak kau tentu tak akan repot-repot menyelamatkan nyawanya. Kalian hanya perlu menghancurkan dinding yang tanpa sadar kalian bangun tersebut".
Tangan besar sang raja dengan lembut mengusak surai terang Baekhyun. Matanya menatap kosong ke langit-langit yang dihiasi ukiran mewah diatas sana.
"Sayang?", bisik Baekhyun, berusaha mengembalikan atensi si tinggi kepadanya.
"sesuatu membuat diriku dan Sehun tak bisa lagi seperti dulu. Aku amat kecewa padanya, begitupun ia kepadaku".
"tak bisa, atau kalian belum mencoba?".
Untuk kesekian kalinya dalam hari itu, sang raja menghela nafas. Kristal segelap malam itu menatap dalam ke wajah cantik ratunya.
"baby…"
"kumohon, besok adalah saat yang tepat untukmu dan Sehun. Bicarakan masalah kalian, cobalah untuk saling memahami. Aku yakin kalian bisa melakukannya. Kalian sudah bersama sejak kecil bukan?", bisik sang ratu.
Hening menyambut. Sang raja nampak tak yakin harus menyanggupi permintaan sang suami mungil atau tidak. Jujur saja, kekecewaan yang ia rasakan pada Sehun sangatlah besar. Hingga titik dimana bertemu Jenderal Alderth itu terasa sangat canggung dan tidak semenyenangkan dulu. Terlebih mengingat betapa besarnya 'perang dingin' mereka kala itu. Disisi lain, raja Alderth itu juga tak dapat menolak permintaan ratu nya. Hingga ia secara tak sadar mengangguk samar, berharap Baekhyun tak melihat pergerakannya itu.
Tetapi ia salah, senyuman lebar menghiasi paras manis sang ratu melihat anggukan itu.
"berjanjilah padaku", bisiknya.
"ya, aku berjanji", lirih Chanyeol, bebarengan dengan hembusan nafas berat yang ia loloskan.
Glimmerhelm, February 23, 1855
Riuh tepuk tangan ratusan warga terdengar hingga ke penjuru sebuah desa kecil yang terletak 100 mil di bagian barat ibukota Rissingshire. Glimmerhelm bisa dibilang merupakan penghasil kentang dan ubi terbesar di seluruh Alderth. Setiap tahun, hasil pertanian mereka akan menyumbang pundi-pundi emas yang cukup besar untuk kerajaan. Sehingga tidak heran, jika setiap tahunnya panen mereka akan dirayakan secara besar-besaran dan dihadiri oleh petinggi-petinggi Alderth.
Seperti sebelum-sebelumnya, hari ini pun tak jauh berbeda. Perayaan panen diadakan di jantung desa Glimmerhelm. Warga yang sejak awal sudah terlihat senang semakin antusias begitu melihat kuda putih gagah yang ditunggangi sang junjungan membelah kerumunan. Raja Alderth itu sesekali tersenyum untuk menyapa rakyat diikuti oleh Jenderal Oh yang berada di kanan dan Penasihat Kim di sebelah kiri Chanyeol.
Wajah tampan, pakaian mewah, serta aura penuh wibawa cukup untuk membuat setiap insan yang berada di kerumunan itu tercengang. Bahkan berkedip pun terasa sangat sulit. Bisa dimengerti, tidak setiap hari mereka bisa melihat langsung orang nomor satu Alderth itu.
"demi tuhan, aku tidak menyangka The Three Musketeers akan hadir. Kukira yang mulia tidak akan datang karena tahun lalu beliau pun tak datang", bisik salah seorang wanita paruh baya dengan pakaian khas kasta tengah yang membalut tubuh berisinya.
Anggukan tanda setuju diberikan oleh pria tua berjenggot yang berdiri disampingnya, "Ya, terlebih kabar dari ibukota mengatakan yang mulia raja dan Jenderal Oh tengah dalam hubungan yang tidak baik. Apakah ini berarti The Three Muskeeters tak lagi ada?".
"Tsk", wanita lain yang ternyata juga termasuk dalam percakapan itu berdecak, lalu menyikutkan sikunya pada lengan si pak tua. "kalian terlalu mudah termakan gossip. Jika mereka tidak dalam hubungan baik, tentu Jenderal Oh tidak akan menatap yang mulia raja seperti itu. Lihat! Lihat… Mata itu terlihat khawatir".
Mendengar itu, secara otomatis ketiga pasang mata mereka menatap objek yang dimaksud oleh si wanita. Sekitar dua ratus meter didepan mereka, terlihat sang raja sedang berusaha menembus kerumunan untuk naik keatas panggung kecil dengan Lord Kris Warrer menanti disana.
Dibelakang sang raja, terlihat jelas jenderal Oh memelototi beberapa warga agar memberikan jalan pada sang junjungan. Atau sesekali dengan canggung ia mendongak khawatir melihat tangan salah satu warga yang terlalu berani menyentuh Chanyeol.
"hmm, kau benar. Mungkin itu hanya gossip", kekeh si pak tua akhirnya.
Tidak tahu, jika didepan sana sang raja baru saja menepis kasar tangan Jenderal Oh yang secara reflek menyentuh pundak sang junjungan. Sentuhan di pundak merupakan isyarat yang hanya mereka berdua ketahui bahwa keadaan kuranglah baik dan harus berhati-hati. Namun sayangnya, sang raja tampak belum memaafkan sang jenderal hingga isyarat sederhana itupun ditolak olehnya.
Tidak peduli jika lelaki berwajah dingin dibelakangnya itu tampak sedikit terluka karena tindakan Chanyeol.
Oh Sehun seketika terdiam di tempatnya berdiri dan menatap kosong kearah sang raja yang sudah berdiri di samping Kris dan memulai sambutannya. Sungguh, jenderal Alderth itu tak menyangka jika Chanyeol akan sangat sulit memaafkannya. Nampaknya, sang waktu belum berhasil mengembalikan persahabatan mereka seperti sedia kala.
PUK PUK
"Semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan. Chanyeol memang seperti itu kan?", Ujar Jongin sembari memeberikan tepukan penyemangat pada pundak tegap berbalut baju besi sang Jenderal.
Untaian kata tak dapat ia ucapkan, hingga anggukan menjadi wakil yang paling bisa diandalkan oleh sang jenderal. Di dalam sana, hatinya meng amini apa yang dikatakan Jongin. Karena sesungguhnya, Sehun juga memiliki sebersit rasa rindu atas kehadiran sang sahabat yang sudah seperti kakak baginya. Namun tentu, gengsi akan posisinya sebagai lelaki sejati menahan seluruh luapan perasaan itu dan membiarkannya bersembunyi dibalik tembok yang ia bangun tanpa sadar.
…
BRUK
"OOF, YAK OH SEH…"
"SSTT DIAMLAH", bisik Sehun. Satu tangannya membekap mulut sang raja yang berusaha memberontak.
Entahlah bagaimana ini bisa terjadi, seharusnya hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka. Penyambutan untuk acara pesta panen berjalan lancar. Semua warga tersenyum lebar sejak tadi. Dan sang raja sudah tak sabar meneguk minuman yang disediakan bar langganan mereka, L'Empire, yang bisa dibilang merupakan bar nomor satu di seluruh penjuru Glimmerhelm. Bar bernuansa mewah itu menyediakan minuman alcohol terbaik, dan berlokasi di area elit. Sehingga hanya bangsawan dan mereka yang memiliki ratusan keping emas lah yang sanggup membayar tagihan yang diberikan sebagai ganti atas pelayanan yang didapat.
Namun suasana bahagia itu entah hilang kemana digantikan ketegangan yang datang secara tiba-tiba. Semua berawal dari sang raja yang meninggalkan Jillian, Cobalt dan Thunder di tempat mereka diikat tadi lalu berjalan kaki menuju L'Empire karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi sayang, di tengah perjalanan sekelompok lelaki gempal bersenjata mengepung mereka. Awalnya tidak terlalu serius, mereka hanya meminta raja menerima mereka sebagai penjaga istana. Hanya saja, menjadi penjaga istana tidak semudah yang dibayangkan. Hanya mereka yang berhasil melalui berbagai ujian ketat yang dapat masuk. Meskipun terlihat sepele, penjaga juga mengambil peran yang sangat penting. Tanpa mereka yang terpercaya, mungkin istana sudah ratusan kali mengalami pencurian.
Sebagai raja yang baik, Chanyeol berusaha menjelaskan kepada mereka mengenai prosedur dan protocol yang sudah ada sejak dulu. Sayangnya para lelaki gempal itu tidak peduli dan dengan berani menyerang ketiganya. Sungguh nahas, karena mereka bertiga sama sekali tak membawa pedang dan meninggalkannya di kuda. Mengira tidak akan ada kejadian seperti ini.
Setelah beberapa menit terlewati dengan pergumulan sengit, akhirnya ketiga bangsawan itu berhasil kabur. Dengan Jongin yang berlari cepat menuju kuda mereka dan Chanyeol serta Sehun yang malah mengambil arah lain. Membawa mereka semakin masuk kedalam bagian terpencil desa.
Secepat apapun mereka berlari, derap langkah segerombolan pria itu tetap saja terdengar dibelakang mereka. Terus mengikuti dan tak melepaskan kedua target itu dari pandangan. Tetapi, dewi keberuntungan sepertinya sedang berbaik hati hari itu. Di tengah-tengah momen genting yang terjadi, Sehun melihat sebuah celah yang bisa digunakan untuk mereka bersembunyi.
Semua rasa canggung, rasa marah, dan kesal yang keduanya pendam seolah tak lagi diingat. Bahkan sang raja membiarkan Jenderal Oh menarik lengan kekar itu dan membawanya masuk ke celah antara dua pohon tanjung yang berada di halaman rumah warga. Tanpa menunggu, kedua lelaki tampan itu melompat kedalam lubang galian yang cukup tinggi hingga dapat menyembunyikan keduanya.
Semakin lama, derap langkah itu semakin menjauh, membawa sang raja Alderth pada kesadaran akan jarak dirinya dan Sehun yang nyaris menempel dengan sempurna. Dengan brutal, tangan kekar itu mendorong jauh Sehun hingga yang lebih muda harus menerima rasa sakit akibat benturan cukup keras antara punggungnya dengan batu besar yang menancap di tanah.
Sebenarnya, ada sedikit rasa bersalah yang timbul di hati Chanyeol melihat ringisan Sehun. Tetapi pimpinan Alderth itu memutuskan untuk tak peduli dan bersiap naik kembali ke atas.
Baru saja kaki panjang itu menjejak tanah dan menjadikannya pijakan untuk naik, Sehun dengan kasar menarik pundak sang junjungan hingga tubuh tinggi itu jatuh terduduk di dalam lubang. Geraman marah terdengar, namun sang jenderal tidak peduli dan malah membekap mulut sang raja dengan satu tangan. Sedang tangan lainnya berpegangan pada pangkal tanah, menompang berat tubuhnya yang kini berjinjit untuk mengintip.
Ternyata, gerombolan itu belum sepenuhnya pergi.
"Kurasa mereka benar sudah pergi. Kalau sampai penasihat Kim kembali membawa pasukan kita bisa habis bos!", ujar salah satu dari gerombolan pria gempal tadi.
"tsk, kita sudah terlalu berani. Menampilkan wajah dihadapan yang mulia raja dan mengancamnya. Kita benar harus pergi dari sini segera".
Setelah itu derap langkah kembali terdengar, semakin lama semakin jauh hingga sunyi datang menghampiri. Sang raja yang sepertinya sudah menyadari bahwa suasana kini benar-benar aman, menampik tangan sang jenderal dan mendengus. Lalu tanpa menoleh lagi, memanjat naik keatas. Meninggalkan Sehun yang meringis sembari mengusap lengannya yang terbentur batu tajam.
"YANG MULIA! Park Chanyeol! Syukurlah kukira sesuatu yang buruk terjadi pada kalian! Prajurit sudah mengejar mereka", dari dalam lubang, Sehun dapat mendengar jelas suara Jongin dan memutuskan untuk mengikuti Chanyeol memanjat keluar.
"Oh Sehun! Yatuhan aku sangat lega! Haruskah kita langsung kembali ke istana? Pakaian kalian terlihat kotor", ujar Jongin begitu sosok Sehun masuk kedalam irisnya.
"gerombolan tikus itu tidak dapat merusak rencanaku. Ayo, L'Empire sudah menunggu", ucap Chanyeol. Nadanya terdengar datar kemudian berlalu dan melompat naik ke punggung Jillian. Memacu kuda itu menuju bar yang sudah diimpikannya sejak beberapa hari.
Bersamaan, Jongin dan Sehun menghela nafas. Well, itu sebelum mata elang Jongin menangkap bercak darah yang menembus kemeja putih sang jenderal.
"Hey. Kau tidak apa bung? Tanganmu berdarah", ujar Jongin.
"ya, terpantuk batu sedikit. Sangat sial, batu itu terlalu cerdas hingga ia memilih bagian lenganku yang tidak tertutupi baju besi".
Lagi, Jongin menghembuskan nafasnya lelah dan memberikan tepukan penyemangat pada pundak Sehun lalu merematnya.
"apakah Chanyeol tidak melihatnya?".
"ia tidak peduli, seperti biasa", jawab Sehun sembari melepaskan pakaian besinya lalu membuang benda itu asal.
"Chanyeol akan kembali seperti biasa. Ia hanya butuh waktu. Bersabarlah".
Jenderal Alderth itu terdiam beberapa saat, dalam hati bertanya-tanya apakah yang dikatakan Jongin benar. Namun ia memutuskan tak akan memperpanjang pembicaraan mereka dan mengangguk. Lengan kekarnya yang dalam kondisi sehat dengan kasar merangkul leher Jongin lalu menariknya berjalan cepat menuju Cobalt dan Thunder yang sudah menanti.
…
Dentingan gelas kaca yang beradu, dan suara gumaman orang melebur menjadi satu. Menimbulkan kesan khas dari bar mewah nomor satu di Glimmerhelm tersebut. Di ujung sana, tiga orang lelaki tengah duduk mengelilingi meja bundar dengan gelas berisikan Merlot dihadapan mereka. Yang paling tinggi, tampak tengah asik mencicipi jamur portabello rebus di tangannya.
Suasana disekitar mereka cukup berisik, namun hening menyelimuti meja mewah yang khusus disiapkan untuk sang raja tersebut. Sehun tampak diam sembari sesekali mengelus luka di lengannya, sedangkan Jongin sibuk mengawasi dua orang yang mengeluarkan aura dingin dihadapannya.
Jongin yakin seratus persen bahwa Chanyeol pasti melihat luka di lengan Sehun. Karena memang lukanya cukup besar dan warna merah darah sangatlah kontras dengan pakaian Sehun. Tetapi entah kenapa, pimpinan Alderth itu seolah tidak peduli dan malah sibuk menikmati makanannya. Sungguh, lelaki tan itu ingin protes, namun itu sama saja menabuhkan genderang perang dengan Chanyeol.
"permisi, segelas anggur putih pesanan yang mulia raja. Selamat menikmati", seorang pelayan paruh baya dengan pakaian formal menginterupsi suasana hening yang menyelimuti mereka.
Bunyi 'tuk' pertanda gelas Kristal itu sudah mendarat aman di meja menjadi suara terakhir yang terdengar. Karena setelah itu sang pelayan sudah berlalu pergi.
Jongin mengerutkan keningnya heran, ia hafal bahwa Chanyeol bukanlah penggemar Anggur putih. Menurut sang raja rasanya terlalu 'sehat' sehingga minuman alcohol itu menempati nomor urut akhir di daftar minuman kesukaan sang raja.
Berbeda dengan Chanyeol, justru anggur putih adalah kesukaan Sehun.
Realisasi itu membuat Jongin membelalak dan bersiap membuka mulut. Namun belum sempat ia melakukannya, Chanyeol sudah mendahului.
"minumlah, ini bagus untuk kesehatan", ujar Chanyeol. Lelaki tampan itu meletakkan gelas berisikan anggur putih tepat dihadapan Sehun sebelum berdeham dan kembali melahap jamurnya.
Seketika, rahang Jongin terjatuh mendengar ucapan Chanyeol. Sedangkan Sehun, lelaki berwajah datar itu mendadak tersenyum lebar. Merasa amat bahagia meskipun suara Chanyeol masih terdengar datar. Setidaknya ini adalah kemajuan. Setelah beberapa bulan ia dan Chanyeol saling beradu punggung dingin, kini sang raja tampak sudah mau membalikkan sedikit badannya untuk menghadap Sehun.
"T…terimakasih Park", ujar Sehun.
"Hm", singkat Chanyeol.
Namun cukup membuat senyuman tak luntur dari wajah Sehun dan membuatnya lupa akan denyutan nyeri luka yang menghiasi lengan berototnya.
"Lihatlah kau sangat pilih kasih. Kau memesankan anggur putih special untuk Sehun, dan tidak untukku?", decak Jongin. Berusaha mencairkan canggung yang sempat terjadi.
"lukai lenganmu dulu baru aku akan memesankannya", jawab Chanyeol singkat. Sepertinya tanpa sadar, karena tak lama kemudia raja Alderth itu tersedak dan terbatuk-batuk karena kesadaran atas ucapan yang ia lontarkan muncul.
"Ah kalian berdua manis sekali. Segeralah berciuman berpelukan kalau perlu tidur bersama nanti malam. Seperti pasangan baru saja", goda Jongin sembari menaik turunkan alisnya.
BRAK
"Kim Jongin", desis Chanyeol. Mata elang itu menatap tajam pada targetnya tanpa ampun.
"M…maaf yang mulia", lirih Jongin. Kepalanya menunduk. Berusaha menyembunyikan senyuman disana. Karena meskipun sang raja terlihat marah, kedua pria lain di meja itu sadar, bahwa itu adalah salah satu cara bagi nya menutupi rasa gugup dan malu. Tipikal Park Chanyeol.
Lirihan Jongin tersebut tak lagi ditanggapi oleh yang paling tinggi, sehingga suasana di meja itu kembali hening. Hanya ada suara garpu dan piring yang beradu. Berkolaborasi dengan suara bibir yang menyesap minuman dari gelas kristalnya. Erangan atas reflek yang dikeluarkan ketika kerasnya alcohol mengenai tenggorokan seolah menjadi melodi terakhir yang melengkapi.
Ditempatnya duduk, sesekali sang Jenderal Alderth menoleh untuk menatap sang junjungan. Mendadak merasa lega karena mungkin setelah ini hubungan mereka akan membaik. Perasaannya mengatakan seperti itu. Dan insting Sehun adalah juara dua di seluruh penjuru Alderth, setelah sang raja tentu saja.
"Chanyeol, apakah Sehun belum memberitahumu? Mengenai catatan Jenderal Richard yang ditemukan Sehun di brankas rahasia markas militer?", ujar Jongin. Menyingkirkan sepi yang sejak tadi menyelimuti.
Sang raja mendongak, lalu mengernyitkan keningnya bingung. Ekspresi yang kontras dengan sang jenderal yang kini melotot marah pada Jongin.
"Jenderal Richard? Aku belum pernah mendengarnya?".
"Demi tuhan! Kau adalah keturunan Danvers bagaimana kau tidak tahu hal ini?", Jongin berdecak. Mengabaikan tatapan membunuh Sehun. "Jenderal Richard adalah kekasih Putera Mahkota Beck Danvers. Kakak dari Raja Raymond yang bunuh diri ratusan tahun lalu".
"Pangeran Beck? Aku tidak pernah memiliki leluhur dengan nama itu. Bukankah Raja Raymond adalah anak tunggal?".
BRAK
Gebrakan meja yang ditimbulkan oleh tangan lebar Jongin terdengar. Pria tan itu berubah menjadi mode bersemangat.
"Itu rahasia kerajaan kau tahu? Semua jejak tentang pangeran Beck dihapus, begitupun Jenderal Richard. Awalnya aku mengira itu hanya bualan para orang tua. Namun tidak! Sehun menemukan catatan pribadi sang Jenderal. Juga ada lukisan kecil sang jenderal disana bersama pangeran Beck. Aku sangat penasaran namun Sehun bilang gambarnya sudah rusak. Bukankah itu berarti mereka benar ada? Yakan Sehun?".
Secara otomatis, kedua pasang mata itu beralih menatap sang Jenderal yang kini kaku bak batu di tempatnya duduk.
"y…ya, aku benar menemukan buku milik Richard. Namun isinya hanya peta dan strategi perang. Tidak seperti yang Jongin ucapkan. Lagipula, tidak ada yang penting. Itu hanya masa lalu. Dan di buku itu tak ada satupun fakta yang bisa membuktikan cerita para tetua", Jawab Sehun.
Sang raja tampak berfikir sebentar. Namun kemudian mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.
"Tapi kau bilang…"
"aku salah membaca, Kim Jongin", tandas Sehun.
Seolah memahami isyarat mata tajam itu, Jongin langsung terdiam dan meneguk merlotnya.
"tapi, kurasa memang terjadi sesuatu di era itu. Sangat mustahil bagaimana bisa semua lukisan masa muda raja Raymond habis terbakar bersama dengan ruangan pribadinya ketika terjadi pencurian besar-besaran di istana? Dan lagi… Tentu leluhurku membuat aturan mengenai kebebasan raja memilih pasangan, dengan suatu alasan kan?", ujar Chanyeol.
Sehun berdeham pelan. Berusaha mengusir rasa gugupnya.
"m…mungkin itu hanya kebetulan".
"atau mungkin, Raja Raymond berusaha menghilangkan jejaknya dan pangeran Beck?", mata tajam Chanyeol menatap dalam kearah Sehun. Lalu senyuman miring penuh arti berkembang di bibirnya. Sungguh, sang jenderal Alderth itu mulai merasakan keringat dingin bercucuran dibalik pakaiannya.
'apakah, ia tahu?', batin Sehun.
…
Senja telah tiba ketika ketiga anggota The Three Muskeeters bertolak ke Rissingsire. Jillian si kuda putih terlihat memimpin perjalanan dan berjalan di tengah. Menapak gagah pada tanah dengan bunyi tapak yang terdengar tegas. Beberapa puluh meter dibelakang Jillian, Cobalt dan Thunder berjalan beriringan mengikuti langkah si kuda putih.
Bias cahaya oranye sore di langit luas terlihat kontras dengan si putih Jillian, si hitam Cobalt dan si cokelat Thunder. Menimbulkan perpaduan yang apik untuk dilihat. Jalanan berumput yang mereka lalui sudah mulai sepi. Tidak ada orang berlalu lalang seperti tadi. Namun malah membuat perjalanan mereka terasa damai dan menyenangkan.
Didepan sana, sang raja tampak focus menatap kejalanan. Satu tangannya menggenggam erat handle pedang Justifier yang menggantung di sisian tubuhnya. Sikap siap siaga jika terjadi penyerangan tak terduga seperti tadi.
Berbeda dengan junjungannya. Jongin menompangkan dagunya pada kepala Thunder. Matanya terasa berat, salahkan perutnya yang kenyang, dan alcohol yang mulai mempengaruhi system kerja tubuhnya. Sedangkan Sehun menatap lurus kedepan sambal sesekali mengusap kepala Cobalt.
"Hey Oh Sehun. Kenapa kau berbohong?", gumam Jongin. Cukup keras hingga Sehun mendengar, tapi juga lumayan pelan sehingga tak bisa ditangkap oleh sang raja.
"kukira kau sudah tidur"
"berhenti mengalihkan pembicaraanku. Katakan", desis Jongin.
Sang Jenderal perlahan menghela nafas. Iris tajamnya menoleh menatap Jongin. Bias cahaya senja menyinari Kristal itu hingga warnanya berubah kecoklatan dan bersinar.
"Biarkan dia hidup sebagai dirinya di era ini. Masa lalu tidak dapat diubah. Dewa memberinya kesempatan dengan takdir baru yang lebih indah. Tidak adil jika semua itu dirusak karena kenangan akan masa lalu yang pahit. Dewa membuatnya kembali ke dunia ini, dengan jutaan kemewahan dan lelaki yang sejak ratusan tahun lalu ia cintai. Bersama dengan memori baru yang hanya ada keindahan di dalamnya, tanpa sedikitpun jejak ingatan perih kehidupan sebelumnya. Itu adalah anugerah. Tidak seharusnya kita merusak anugerah yang dewa berikan pada seseorang".
"jadi maksudmu lebih baik ia tidak tahu?".
"ya, itu lebih baik. Sudah cukup mereka menderita dulu. Biarlah di kehidupan ini hanya ada kebahagiaan, hingga ajal menjemput", Senyuman simpul menghiasi wajah Sehun. Membuat Jongin seketika melongo.
"apakah kini aku berbicara dengan Raja Raymond? Atau Oh Sehun?".
"berhentilah memanggilku seperti itu. Aku yang kini berada di sampingmu adalah Oh Sehun. Aku berbeda dengan aku di kehidupan sebelumnya. Biarkan aku menjalani hidupku sebagai Oh Sehun dengan tenang tanpa bayang masa lalu. Lagipula, aku sudah bisa bertemu dengan kakak-ku dan melihatnya setiap hari. Itu sudah cukup".
Bibir Jongin mencebik dengan dramatis mendengar penuturan Sehun. Kedua tangannya menggapai-gapai seperti ingin memeluk sahabat berwajah datarnya itu. Membuat lelaki lainnya mengernyit jijik dengan ekspresi terharu yang tidak natural tersebut. Namun sayang, Thunder bukannya malah mendekat kearah Cobalt seperti yang diinginkan sang penasihat, tetapi menjauh. Jika sedang sial mungkin…
BRUK
Ya, Jongin sedang sial sehingga ia harus terjatuh dari punggung Thunder. Cukup keras, hingga Jillian berhenti dan Chanyeol menoleh.
"Kim Jongin, apa yang kau lakukan?", ujar Chanyeol.
Sedangkan Sehun, saksi dari kejadian tragis itu, hanya tertawa dan memacu Cobalt meninggalkan Jongin. Yang kini mengerang kesakitan sembari mengusap punggungnya.
Etuviel Palace, February 24, 1855
Dentingan ke 12 Grand Watch di bagian utama terdengar menggema hingga ke sudut tergelap istana Etuviel. Suara tapak kuda yang semakin lama semakin mendekat mengalahakan derikan suara serangga malam yang sejak tadi menjadi unsur dominan disana. Para penjaga dan pelayan yang seharusnya sudah beristirahat dan bergumul mesra dengan selimut hangat, mau tidak mau berjajar rapi menyambut kedatangan si phoenix yang baru kembali dari kunjungan.
Jaehwan sebagai kepala pelayan sayap barat kini berdiri paling depan dengan Alexandre, kepala penjaga sang raja yang baru. Bungkukan dengan serentak mereka berikan ketika kaki panjang itu menapak lantai marmer mengkilat dibawahnya.
Rasa lelah terasa amat menekan, ingin rasanya sang raja segera masuk dan memeluk tubuh mungil yang sudah amat ia rindukan itu. Sehingga tanpa berbasa-basi lagi, pimpinan Alderth itu melemparkan asal pedangnya pada Alexandre dan berlalu masuk kedalam. Meninggalkan Jongin dan Sehun dibelakang.
Sayangnya, baru beberapa langkah ia menapak masuk ke istana. Sebuah tubuh mungil yang jelas milik wanita dengan libung terjatuh tepat dihadapannya. Reflek, sang raja mengulurkan tangannya untuk menangkap tubuh itu. Membawa masuk ke rengkuhannya. Tentu, itu dilakukan semata-mata karena pimpinan Alderth itu kaget.
Ternyata ia adalah seorang pelayan wanita sayap barat yang baru di rekrut minggu lalu. Sepertinya wanita muda itu belum terbiasa dengan kehidupan istana yang berat dan sibuk hingga harus jatuh pingsan dihadapan junjungannya. Kesalahan fatal yang bisa membuatnya digantung jika sang raja dalam mood yang tidak baik.
"yang mulia!", pekik jaehwan sembari berlari mendekat diikuti Alexandre dan lainnya.
Raja Alderth itu menegakkan tubuh sembari menahan berat wanita di pelukannya. Hembusan nafas lelah lolos dari bibir merah itu. Sejujurnya ia ingin marah, namun melihat wajah pucat si wanita, sang raja mendadak tidak tega.
"Jaehwan, kau berikan wanita ini istirahat selama beberapa hari. Nampaknya ia sakit", ujar Chanyeol pelan sembari melihat wajah pucat abdinya untuk terakhir kali.
"baik yang muli…"
"Chan! E…ed kau sedang apa?".
Jawaban Jaehwan sukses diinterupsi oleh sebuah suara lain yang amat dikenal oleh seluruh nyawa di ruangan itu. Benar, yang mulia ratu. Jongin dan Sehun langsung membelalak kaget. Merasa hal buruk akan terjadi lagi.
Bukankah menurut kalian kejadian ini sedikit familiar?
Dengan susah payah, sang raja menelan ludahnya yang mendadak mengeras seperti batu. Menatap khawatir pada sang ratu yang kini memajukan bibirnya lucu sambal bersedekap marah. Matanya terlihat kecewa.
"Baby… ini tidak seperti yang kau kira. Dia pingsan ketika aku lewat… sungguh aku tidak…"
"AKU MEMBENCIMU EDMUND! TIDURLAH DENGAN JILLIAN MALAM INI", teriak si mungil sebelum berbalik dan kakinya melangkah cepat hingga tak lagi terlihat dibalik dinding lorong.
Belasan rahang di ruangan itu seketika jatuh. Pertama kalinya mereka melihat sang ratu marah besar seperti ini. Namun tampaknya mereka maklum, karena sang ratu sedang tidak enak badan. Alasan yang masuk akal mengapa tabib Zhang datang berkunjung sore tadi. Tetapi tidak ada yang tahu benar penyakit apa yang membuat ratu mereka mendadak pemarah seperti barusan.
"Kejar dia, Romeo", celetuk Jongin. Seketika menyadarkan Chanyeol dari lamunannya.
"Ah aku bisa gila", gerutunya. Dengan cepat sang raja melepaskan pegangannya dari wanita itu dan berlari kearah suami mungilnya pergi tadi. Tanpa peduli dengan keadaan si pelayan yang baru saja di pegangnya. Untung, Alexandre tepat berada di samping sang raja untuk menangkap pelayan wanita itu dan membawa tubuh kecilnya dalam rengkuhan.
Seperti takdir, tepat ketika tubuh hangat Alexandre menompang tubuhnya. Wanita itu membuka mata, dan iris mereka beradu. Menimbulkan semburat merah di pipi si pelayan.
…
"Edmund kenapa kau harus sial sekali haha? Sungguh memalukan sungguh memalukan rasanya dimarahi suamimu didepan para pelayan kan? Ah sungguh aku benar-benar sial", gerutu sang raja. Kakinya bergerak seirama dengan kalimat yang terucap bak mantera dari bibirnya.
Sungguh, raja Alderth itu merasa lelah dan ingin segera istirahat. Sayangnya, bahkan keinginan se sederhana itu tak dikabulkan oleh dewa malam ini. Ia malah berakhir dengan tergesa menyusul sang ratu yang ia yakini sudah mengunci dirinya di kamar.
Ratusan scenario berkelebat di otak sang raja. Ia berencana akan memanjat balkon atau mendobrak pintu jika memang itu diperlukan. Apapun asalkan kesalahpahaman ini tak berlanjut serius. Ia tidak ingin masa pahit yang sempat terjadi dalam pernikahan mereka kembali terulang.
BRUK
"DIMANA MATAMU HA… Tabib Zhang?", Ujar Chanyeol kaget. Tangannya perlahan mengusap pundak tegap yang baru saja menjadi korban tabrakan atas dirinya dan si tabib.
Menyadari siapa sosok yang ia tabrak, sang tabib dengan cepat membungkuk hormat pada sang raja. Wajahnya berusaha mempertahankan ekspresi tenang yang selama ini ia tunjukkan dalam 26 tahun masa hidupnya.
"apa yang anda lakukan disini?".
Lelaki tampan itu tersenyum ramah pada sang junjungan. Kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Menunjukkan gestur 'hormat' dan tenang.
"hamba baru saja memenuhi panggilan yang mulia ratu. Beliau merasa kurang enak badan".
"Apa? Suamiku sakit? Apakah serius? Apa yang terjadi, kenapa ia tak mau memberitahuku?".
Bukannya wajah serius atau sedih yang sang raja dapat, melainkan sebuah senyuman hingga menunjukkan cekungan khas di pipi sang tabib. Sungguh hati sang raja kini bergolak karena perasaan khawatir, tidak nyaman, dan panic yang berkumpul menjadi satu.
"Yang mulia ratu baik-baik saja… Hanya…"
"hanya apa? Tabib Zhang jangan bermain-main seperti ini", desis sang raja. Rahangnya mengeras. Siap untuk meledak marah.
"hanya yang mulia harus sabar menghadapi perubahan emosi yang mulia ratu mulai hari ini. Tampaknya janinnya perempuan, mungkin beliau akan lebih sensitive dan emosional", Tabib Zhang membungkukkan badannya lagi. Menahan senyuman lebar yang akan terlihat jika ia tidak segera membungkuk hormat.
"j…janin? Apa m…maksudmu tabib…"
"selamat yang mulia, nampaknya julukan The Three Muskeeters sudah mendapatkan tiga anggota penerus. Yang mulia ratu tengah mengandung. Usianya baru menginjak empat minggu".
"APA? MENGANDUNG?".
.
.
.
THE END
Haloo i'm back setelah sekian lamaaaa! ada yang kangen sama tightropee? aku bawa bonus bagian 1 nih buat kaliaan. setelah ini mungkin ada bonus part 2 dan seterusnya. Fungsinya untuk menjelaskan beberapa bagian yang kelewat di inti cerita kemarin. Bisa flashback bisa maju kedepan. Jadi perhatikan tanggal dan tahun tiap baca ya! Oiyaa tiap bonus itu berdiri untuk satu cerita dan satu tema. Jadi akan berbeda-beda.
Sekali lagii terimakasih yaa untuk kalian yang baca, fav, review dan follow tightrope serta ff ku lainnya. I love youuu all! jangan lupa review chap ini juga yaa, supaya aku bisa memperbaiki lagi kedepannya. Aku tanpa kalian butiran debuu eheheh. I Love u fuuullllll!
Love,
Kileela
