Angin malam menyapu wajah pemuda itu. Malam belum terlalu larut, langit pun tampak cerah meski rembulan hanya bersinar separuh dan bintang-bintang tersamarkan oleh cahaya kota. Namun Izuku terus merasakan hawa tidak menyenangkan di sekitarnya yang semakin mencekam.
"Seharusnya di sekitar sini …," gumam Izuku lirih, lebih seperti berkata pada dirinya sendiri.
Sepasang netra sewarna zamrud tampak terfokus pada buku catatan kecil di tangan, mencermati petunjuk-petunjuk yang telah didapatkannya dari orang-orang yang melapor. Sementara di sebelahnya, tampak seorang bocah kecil yang mengikuti langkahnya dengan separuh acuh. Menyusuri jalan kota yang mulai sepi.
"Shouto, kau merasakan sesuatu?" tanya Izuku tak lama kemudian, mengambil alih atensi sosok di sebelahnya.
Shouto melirik Izuku sekilas, lantas kemudian lengannya terangkat, menunjuk beberapa arah secara acak masih dengan ekspresinya yang tak sedikit pun berubah.
"Di sana, di sana, di situ, dan di belakang pohon besar itu," ujarnya pelan, "sebenarnya masih banyak lagi, tapi mereka itu yang auranya paling kuat. Sejak awal kita datang ke tempat ini, sebenarnya kita memang sudah diawasi oleh mereka, Izuku-sama."
"Se-sebanyak itu …?" cicit Izuku lirih
Ini tugas pertama mereka. Izuku tahu ini berbeda dengan latihan yang biasa ia lakukan. Banyak roh-roh jahat yang sungguh akan membuatnya celaka jika ia tak cukup kuat untuk menghadapi mereka. Dan jika gagal, bukan tidak mungkin dirinya dan Shouto akan terbunuh.
"Mereka hanya mengawasi, tidak akan menganggu, soalnya ini memang daerah mereka. Dan mereka bukan roh jahat yang kita cari … mungkin?" lanjut Shouto lagi. "Tidak perlu khawatir. Aku akan melindungi Izuku-sama."
"…."
"Apa?" tanya Shouto ketika mendapati Izuku menatapnya lekat dengan ekspresi aneh.
"Aku terharu … barusan kau tampak manis sekali ketika bicara seperti itu, Shouto," balas Izuku dengan mata berkaca-kaca.
"To-tolong lepas, Izuku-sama!" Shouto mulai meronta ketika Izuku memeluknya dengan erat. "Tolong jangan salah paham dengan wujud ini, aku sudah hidup jauh lebih lama darimu, kautahu? Lagipula ini bukan wujud asliku."
"Aku tahu kok." Izuku melepas pelukannya. "Menurut cerita yang kudengar, kau itu meninggal ketika seumuran denganku saat ini, 'kan? Meski aku tidak mengerti kenapa kau muncul dalam wujud kecil begitu ….
"Tapi tidak buruk juga sih, aku suka anak-anak."
Shouto tak banyak menanggapi. Ia lebih memilih melanjutkan langkahnya dalam diam. Membiarkan tuannya sibuk mengoceh sendiri dengan rasa ingin tahunya.
"Dan kau bicara denganku dengan cara yang sedikit tidak biasa."
Kalimat itu ternyata mampu menarik kembali atensi sang shikigami. "Maksudnya?"
"Kebanyakan Shikigami yang kulihat selalu bicara dengan kalimat yang sopan pada tuannya, tapi kau ini tidak ada sopan-sopannya, bahkan sejak kita pertama bertemu." Kali ini Izuku tertawa di akhir kalimatnya, membuat Shouto menatapnya dengan dahi berkerut.
Sang shikigami tampak berpikir sejenak sebelum kembali berbicara. "Apakah itu membuat Anda merasa tertanggu, Izuku-sama? Kalau begitu, mohon maafkan saya. Saya—"
Tawa Izuku yang tiba-tiba pecah membuat kerutan di dahi Shouto semakin dalam. Bocah itu mulai menatap Izuku dengan bingung.
"Saya mengatakan sesuatu yang lucu?"
"Tidak—astaga … aku benar-benar menyukaimu, Shouto." Izuku menjawab di sela tawanya. Dalam sekejap ia telah melupakan kegelisahannya beberapa saat yang lalu. Melihat bagaimana polos Shouto menanggapi kalimatnya dengan serius benar-benar membuat Izuku tidak tahan.
"Tidak perlu sampai begitu. Aku menyukai cara bicaramu, kok. Lebih terasa seperti kita sedang berteman dibanding sepasang shikigami dan tuannya," lanjut Izuku kemudian.
Shouto tertegun. "Teman …?"
Izuku kembali berjongkok dan menyamakan tatapannya dengan Shouto. Sebelah tangannya mengusap lembut surai berbeda warna di pucuk kepala anak itu. "Kau ini benar-benar roh yang manis."
Shouto diam, sedikit menundukkan kepala dan membiarkan jemari Izuku bermain selama beberapa saat di antara helai rambutnya.
Namun suasana itu seketika berubah mencekam ketika keduanya merasakan hawa membunuh yang lewat sepintas. Tatapan Shouto yang menjadi lebih tajam dan waspada menuju satu arah membuat Izuku turut mengikuti arah tatapannya.
Napas pemuda itu tercekat ketika mendapati entah sejak kapan, seorang wanita yang tampak begitu lusuh melangkah terpincang-pincang mendekati mereka berdua. Sekali lihat saja Izuku langsung tahu bahwa sosok di hadapannya adalah roh yang cukup berbahaya.
Shouto masih menatap tajam, siap menyerang. "Izuku-sama ..."
"Umh," Izuku mengangguk pelan, "tidak salah lagi."
Shouto baru saja akan menyerang ketika wanita itu berdiri tepat di hadapan Izuku, tetapi pergerakannya terhenti karena pemuda itu memberinya isyarat untuk menunggu.
Izuku terkesiap ketika wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap lurus. Leher yang patah membuat kepalanya tak bisa benar-benar tegak. Separuh wajahnya tampak hancur dan telah membusuk, sementara matanya menatap Izuku sayu.
"Anakku …." Terdengar suara serak dari kerongkongan yang nyaris putus. "Apa … kau lihat … anakku?"
Butuh beberapa waktu bagi Izuku untuk mencerna keadaan, hingga akhirnya ia menatap miris ketika mulai mengerti yang sebenarnya terjadi.
"Tidak," jawab Izuku singkat. "Maaf."
"Kau … bohong …."
Izuku tersentak.
"Kekkai!" Segera ia melompat mundur dan membuat tembok pelindung ketika tatapan sayu itu berubah menatapnya nyalang, berikut hawa membunuh yang kini begitu jelas ditujukan ke arahnya.
Tepat ketika wanita itu bergerak menyerang Izuku, dalam sekejap tanah yang mereka pijak berubah menjadi hamparan es. Sebuah kristal es yang tajam menembus tubuhnya. Izuku sempat mendengarnya menggumamkan 'anakku, anakku' dalam rintihan lirih, sebelum akhirnya roh itu terkikis menjadi debu.
"Uhuk!"
Tubuh kecil Shouto yang roboh tepat setelah ia menyerang mengambil alih atensi Izuku sepenuhnya kini. Segera saja ia menghampiri shikigami-nya.
"Shouto! Kau tak apa-apa?" tanyanya cemas.
Shouto menghela napas lirih, menatap Izuku tanpa ekspresi.
"Aku baik-baik saja," jawab Shouto sembari menyingkirkan tangan Izuku dari bahunya. "Kekuatanku belum sepenuhnya kembali karena kontraknya belum sempurna. Daripada itu … kenapa kau menghalangiku menyerangnya tadi, Izuku-sama? Jika aku terlambat sedikit saja, kau pasti akan terluka! Kekkai ini bahkan tidak mampu melindungi dirimu sendiri!"
Shouto mengetuk dinding hawa pelindung yang melingkupi mereka berdua, membuatnya hancur berkeping. Dan Izuku seketika teringat bahwa kekkai yang dibuatnya ternyata masih belum hilang.
Izuku tertegun. Ia tahu bahwa kekkai miliknya cukup kuat untuk bisa melindunginya dari yokai lemah hingga setidaknya yang kelas menengah, dan ia baru saja melihat bocah kecil di hadapannya menghancurkan tembok itu hanya dengan sebuah ketukan.
Ini kali pertama ia benar-benar turun ke lapangan dan melakukan pekerjaannya sebagai seorang onmyouji. Meski ia pun sedikit banyak ia telah terlatih, kemampuan Shouto nyatanya cukup membuat ia terkagum. Terlepas dari bagaimana wujudnya, Izuku mulai yakin bahwa Shouto adalah shikigami yang bisa ia andalkan.
Dan lagi, mendapati Shouto yang ternyata cukup peduli membuat Izuku hanya bisa melempar senyum. "Terima kasih. Daripada itu, Shouto. Sebaiknya kita segera kembali sebelum roh lain datang dan menyerang kita. Semakin malam, semakin tidak aman."
"Apa yang kaulakukan, Izuku-sama? Tolong turunkan aku!" Sang shikigami nyaris terlonjak kaget ketika Izuku mengangkat tubuhnya tanpa permisi dan menggendongnya di punggung.
Izuku tertawa kecil. "Pegangan saja yang benar dan istirahatlah. Kau sudah bekerja keras hari ini. Bisa repot kalau kau tidak punya cukup energi ketika aku tiba-tiba membutuhkanmu, 'kan?"
Terhenyak ketika lagi-lagi mendapati reaksi yang di luar perkiraannya, Shouto membuang tatapannya ke arah lain.
"Ini menyenangkan kautahu? Aku selalu ingin memiliki seorang adik," sambung Izuku riang.
Tanpa menyadari bahwa kalimatnya membuat ekspresi di wajah Shouto sekilas berubah. Hanya sesaat, sebelum Izuku menyadarinya, Shouto telah kembali memasang wajah tanpa ekspresi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku …," balas Shouto kemudian.
Mendengarnya, Izuku kembali menghela napas lirih. Tatapannya teralih ke arah tempat roh jahat yang menyerangnya tadi terbunuh, menatap sendu.
"Aku telah mengumpulkan beberapa informasi dari orang-orang sekitar sebelumnya, dan ketika melihatnya sendiri … akhirnya aku mengerti."
Shouto menunggu dalam diam, membiarkan Izuku menyelesaikan penjelasannya.
"Wanita itu mungkin korban kecelakaan yang terjadi di sekitar daerah ini sekitar dua atau tiga bulan lalu. Saat itu memang ada kabar bahwa terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan seorang ibu dan bayinya meninggal, terlindas mobil yang menerobos lampu merah.
"Roh wanita itu pasti menyimpan amarah yang besar, makanya dia tidak bisa kembali dan terjebak di sini, berusaha menemukan bayinya dan menghantui orang-orang. Kehilangan seseorang yang disayangi membuatnya perlahan-lahan berubah menjadi roh jahat … dan aku belum memiliki cukup kemampuan untuk menolongnya."
"… ohh." Shouto tak menanggapi banyak.
"Roh yang malang. Bagaimanapun, yang namanya seorang ibu pasti menyayangi anaknya. Sebuah keluarga bukanlah hubungan yang begitu mudah putus bahkan ketika kau sudah meninggal."
"… itu omong kosong," balas Shouto lirih.
"Ehh? Shouto?" Tanggapan yang terdengar janggal itu membuat Izuku meliriknya, sedikit terkejut.
"Tidak …." Shouto mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala di bahu Izuku. Memberi isyarat bahwa ia tak ingin bicara lebih banyak dan memutus obrolan mereka.
Izuku turut menghela napas lirih, melanjutkan langkahnya dalam diam.
Ia masih harus mengenal shikigami-nya ini lebih jauh.
To be continued
Catatan penulis.
Ahhahah. Maapkan atas keterlambatan update, yah.
Terima kasih sudah mampir dan membaca, terlebih lagi untuk yang sudah menyempatkan mereview.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!^^
Best regards, Sakyu.
shirocchin: Wahh, makasih banyak udah mampir yah. Dan makasih juga buat koreksinya.^^ /bow.
Ahhahah. Kucinta Shouto kecil yang unyu banget. X3
yulian28: Sebenarnya ku masih belum ada rencana yang pasti buat fanfic satu ini, jadi update-nya bakal random banget, sesuka hati. Wkakakakakak.
Oh, dan terima kasih sudah membaca yah.^^
hanazawa kay: Shouto kecil itu imut banget. (●´ω`●)
Yang sekarang aja masih imut dia mah. Oh, btw, makasih banyak udah baca dan review. /hug hug.
asta: iyah, imut banget diaaa. (●´ω`●)
Makasih banyak sudah mampir dan membacaa.
baegimulgogi: Ini udah dilanjut kok. (゜▽゜) Wkkakakakak.
Makasih banyak udah mampir dan membaca~ /hug hug.
