Hold Me
Chpt 2
Jimin x Yoongi / MinYoon
Rated : M
Genre : Romance, Drama
Warn : Mature content! Mpreg (mungkin)
Pair belongs to God, I just make story of them.
Hai, sekali lagi aku mengingatkan kalau FF ini rated nya M alias Mature content. Jadi tolong cek ke kartu tanda pengenal kalian, sudah kah kalian cukup umur? Hehe.
Buat yang tetep bandel, yaudah deh, kepengen ngejewer (?) tapi apa daya tangan tak sampai.
Jangan lupa cek author's note di bawah ya! *wink*
••
••
••
Previous Chap
"Ugh.. Penuh.." Desahnya lirih, cairan Jimin mulai menetes sedikit demi sedikit keluar dari lubangnya.
"Aku menjijikan..." Yoongi mulai menangis di bawah guyuran shower. Ia jijik dengan dirinya sendiri.
Tbc - 29 juni 2016
.
.
Jimin mengerjapkan matanya, tidak bisa tidur kalau belum melihat Yoongi keluar. Ia menatap pintu kamar mandi di sebrangnya, perlahan ia mendengar isakan. Isakan?! Yoonginya!
Jimin bangkit terburu-buru, menggedor pintu kamar mandinya. Ia tau Yoongi tidak mengunci pintunya, tapi ia segan untuk masuk ke dalam kalau Yoongi tidak mengizinkannya.
"Yoongi? Yoongi buka pintunya!"
"Tidak mau!" Itu suara Yoongi, terdengar bergetar? Ah apakah kesayangannya benar-benar menangis hebat di dalam sana?
"Sayang, aku minta maaf okay? Aku benar-benar tidak berniat mengeluarkannya di dalam. Biarkan aku masuk ya?" Jimin memelas, tidak ada balasan dari dalam
"Yoongi-ah? Kalau kau diam, ku anggap kau mengizinkan aku untuk masuk."
Hening, tidak ada jawaban. Jimin memutar knop pintu kamar mandinya, ia dapat melihat Yoongi berdiri di bawah shower dengan bahu yang bergetar.
"Kenapa Yoongi? Jijik karena aku memenuhimu lubangmu dengan spermaku?"
Yoongi menggeleng, memutar balik badannya untuk menatap Jimin dengan pandangan takut. Pandangan yang membuat Jimin merasa tercubit.
Jimin mendekat, mematikan shower yang mengguyur Yoongi. Yoongi memutus kontak matanya, memilih menatap objek lain selain Jimin.
"Yoongi, tatap aku.." Jimin meremas pinggang mungil Yoongi dengan lembut.
"Yoongi, jangan buat aku mengulanginya." Jimin menggeram, Yoongi justru membuang muka, menolak menatap Jimin. Kelakuan Yoongi memaksa tangannya untuk menggenggam dagu Yoongi dan mengarahkannya untuk menatap balik ke arah Jimin.
"Apa yang kau takutkan?" Jimin merubah intonasinya menjadi lebih lembut, menatap sayang ke arah Yoongi.
"A-aku.. Aku.." Yoongi gelisah, tidak berani menatap Jimin. Bagaimana mungkin dia menjelaskan kondisinya? Memang ia adalah pihak yang di dominasi, tetapi hal yang coba ia utarakan membuat harga dirinya sebagai pria sedikitnya tercoreng.
"Yoongi, katakan sejujurnya. Sejak awal kau selalu melarangku mengeluarkannya di dalam dirimu, kau selalu memintaku memakai pengaman. Kenapa?" Jimin menuntut, tapi tak kunjung ada jawaban dari Yoongi.
"Kau takut kalau kau akan terkena penyakit?"
Yoongi menggeleng cepat, "tidak. Sama sekali tidak."
"Lalu kenapa? Jangan bertele-tele Yoongi. Kita baru saja berbaikan, jangan menyulut amarahku."
"Bagai-bagaimana kalau.. Aku.. Aku seorang male pregnant?"
"A-apa?!" Jimin terbelalak, kupingnya masih benar untuk mendengar Yoongi dengan jelas.
"Kau.. Apa?"
"Aku male pregnant."
Jimin bergegas keluar dari kamar mandi, meninggalkan Yoongi yang merasakan kecewa atas reaksi yang diberikan Jimin.
Bibir Yoongi bergetar, sekarang apa? Jimin akan jijik dan benci padanya? Jimin akan meninggalkannya karena hal ini? Iya?
Air mata Yoongi sudah mendesak keluar dari matanya, tetapi suara pintu terbuka membuat ia menolehkan wajahnya menatap sosok bersurai orange milik kekasinya yang perlahan menghampirinya, Jimin bergerak untuk menyelimuti tubuh basahnya dengan handuk.
"Sialan! Kau–" Yoongi rasanya ingin menangis saja, dia pikir Jimin meninggalkannya. Yoongi hanya menurut ketika Jimin membawanya keluar dari kamar mandi.
"Kenapa tidak bilang dari awal, hmm?" Jimin mendudukan Yoongi di atas kasurnya, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan surai mint Yoongi.
"Kau pikir mudah? Bagaimana kalau kau berpikir bahwa aku aneh dan menjijikan?!" Yoongi bersungut sebal.
"Apakah sejak awal kita bercinta, kau selalu takut Yoongi? Kau takut benihku berkembang di dalam tubuhmu?" Jimin merendahkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yoongi.
"Ini konyol Jimin! Aku takut–"
"Apakah kau berpikir bahwa aku akan pergi meninggalkanmu saat kau mengandung anak kita?"
"Aku menjijikan..."
"Tidak Yoongi, kau istimewa." Jimin mengecup surai berwarna mint itu, menangkup wajah Yoongi yang memerah menahan tangis.
"Lagipula Yoon, aku baru sekali meninggalkannya di dalam tubuhmu. Apakah spermaku sangat bagus hingga dapat menumbuhkan sesuatu di dalam tubuhmu dalam sekali tembak?" Jimin berbisik kecil di telinga Yoongi, menyeringai melihat wajah Yoongi yang merah padam karena malu.
"Aku harap aku bisa meninggalkan benihku dan memenuhi lubangmu hingga cairan itu melesak keluar dari hole mu karena tidak mampu menampungnya.." Jimin berbisik menggoda, dibalas tinjuan oleh Yoongi di perutnya. Uh, dirty talk yang Jimin lakukan membuat wajah Yoongi memanas.
"Aw..." Jimin mengerang sakit, dipegangnya kedua tangan Yoongi, menghentikan tinjuan yang Yoongi berikan.
"Yoongi, ayo lanjutkan yang tadi!"
Mata Yoongi membulat, sesuatu yang keras menyundul perutnya. Se-sejak kapan milik Jimin mengeras?
"Ta-tapi.."
Jimin lebih cepat mendorong tubuh Yoongi untuk berbaring di ranjangnya, menghentikan protes yang akan Yoongi lakukan.
"Jimin.. Sakit.." Bibir Yoongi mengerucut, mengundang Jimin untuk menghisapnya.
"Aku akan memakai lube"
"Baiklah.." Yoongi pasrah saat Jimin sudah berada di atas tubuhnya, menyingkirkan handuk yang membungkus dirinya dengan tidak sabar.
"Yoongi aku sudah tidak tahan. Lebarkan kakimu." Jimin tidak melakukan foreplay apapun, ia sudah tidak tahan untuk berada di dalam Yoongi.
Kekasih mungilnya menurut, melebarkan kakinya untuk mempermudah Jimin. Yoongi mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah bawah, ia dapat melihat Jimin memberikan lube di sekitar Juniornya. Ah, ukuran milik Jimin sangat besar dan Yoongi selalu ragu untuk dapat menampungnya utuh.
"Aah.. Jiminhh.. Pehlanhh.." Yoongi tersentak saat benda tumpul itu merangsak masuk ke dalam tubuhnya, ah rasanya milik Jimin makin membesar di dalam sana.
Kejantanan Jimin baru masuk setengah tetapi lubang milik Yoongi sudah menahannya dengan ketat, membuat miliknya serasa di pijat.
"Kauu.. Ahh.. Sangatt ketatthh Yoonhh.." Jimin mendorong miliknya untuk semakin masuk utuh.
"Yoongi, kau tidak apa-apa?" Jimin menatap Yoongi yang memejamkan mata, meremas seprai tempat tidurnya.
"Kau- kau membesar Jimhh.." Yoongi membuka matanya, mendesah saat milik Jimin benar-benar masuk ke dalam tubuhnya.
"Bergerak Jim, ayo kita menggila." Yoongi berujar mantap, membuat Jimin makin bernafsu untuk segera menggenjot tubuh mungil kekasihnya.
"Ah sayang, rasanya nikmat.. Jangan pernah membuka kakimu untuk orang lain Yoongi. Kau milikku, hanya milikku." Klaim Jimin tanpa berhenti menggenjot tubuh Yoongi.
"Aah.. Jiminhh..." Yoongi mengerang nikmat saat Jimin menyentuh G-Spot nya, "Jimhh.. Disituuhhh... Ahh"
Jimin makin bersemangat, di maju mundurkan pinggulnya, kejantanannya keluar masuk dan hole Yoongi yang berkedut membuat miliknya terasa dipijat.
"Ugh Jim.." Yoongi tersengal saat miliknya keluar, baru sekali keluar dan Yoongi sudah lemas.
"Aku belum keluar sayang.." Jimin terus menggenjot, memperdalam miliknya di tubuh Yoongi. Tak lama ia merasakan sesuatu akan menembak dari juniornya, "ahh Yoongihhh" Jimin klimaks tanpa mengeluarkan miliknya, sudah bukan masalah kan?
"Ji-jimhh.. Penuh.. Cabut eungghh" Yoongi merengek, perutnya terasa tergelitik saat Jimin mengeluarkannya di dalam.
"Tidak Yoongi, aku belum selesai" Jimin menyeringai, menarik cepat tubuh Yoongi untuk duduk, menghasilkan erangan sakit dari Yoongi.
"Maaf- tapi aku tidak tahan"
Jimin mencumbu bibir Yoongi dengan ganas, permainannya berantakan tanpa tempo, ia hanya menjilat, menghisap bibir Yoongi dan berperang lidah dengan gerakan tidak teratur. Yoongi pasrah, memiringkan kepalanya ke kanan untuk membalas ciuman Jimin. Lidah mereka berperang, mendorong satu sama lain untuk masuk ke mulut masing-masing.
"Jim.." Yoongi memukul bahu Jimin, napasnya terasa habis. Ciuman tidak beraturan ini menghisap habis napasnya.
"Hhh... Hhh.. Hhh.." Yoongi meraup napas sebanyak-banyaknya, harus ia akui- walau Jimin menciumnya dengan berantakan, tapi Jimin merupakan seorang good kisser.
"Jim.. Ahhh.. Jangannhh ehmm.. buat.. tandahh" Jimin tidak mengindahkan Yoongi, mulutnya bermain-main di sekitar leher kekasihnya.
"Aakhh.." Yoongi mengerang, Jimin memberikan kissmark di lehernya.
"Ji-jimhh.. Ahh jangan bermain disituh.." Yoongi mendesah, Kepala jimin sudah menunduk untuk bermain di puting kanan milik Yoongi, menciumnya, menjilatnya, tangan Jimin tidak diam, tangan kirinya memelintir puting kiri Yoongi, membuat Yoongi mengerang. Sementara tangan kanannya membelai lembut perut Yoongi, bermain-main sebentar disana sebelum akhirnya tangannya berhenti di junior Yoongi. Jimin tidak melakukannya dengan lembut- gerakan cepat dan kasarnya justru membuat kejantanan Yoongi ereksi.
"Aah.. Jiminhh.. I'm cum.." Yoongi meletakkan kepalanya di bahu Jimin setelah Jimin berhasil membuat Yoongi menembakkan spermanya ke perut Jimin.
"Aku tidak tahannn.. Genjot saja aku Jimhh.." Yoongi mengerang saat Jimin lagi-lagi bermain dengan putingnya. Jimin menyeringai mendengar ucapan Yoongi.
"Yoongi, doggy style!" Perintah Jimin membuat Yoongi menegakkan tubuhnya.
"A-apa?"
"Kau mendengarnya Yoongi. Doggy style. Cepat berbalik dan menungging"
"Ta-tapi milikmu masih berada di dalam, keluarkan dulu ugh."
"Nah, berputarlah. Jangan biarkan adik kecilku lepas dari sarangnya terlalu lama"
Sialan. Jimin sengaja benar melakukan ini.
"Cepat Yoongi! Anggap saja ini hukuman untukmu."
Yoongi mau tidak mau melepas kukungan kakinya pada pinggang Jimin,
Membalikkan badannya membelakangi Jimin
"Bagus, sekarang cepatlah menungging dengan benar"
Yoongi perlahan menaikkan pinggulnya untuk menungging, sementara Jimin masih berdiri di belakangnya, "su-sudah.."
Jimin tersenyum menang, menepuk pantat Yoongi yang begitu menggoda. Tanpa memberikan aba-aba ia memasukkan miliknya, Yoongi mengerang sakit saat Jimin memaksa kejantanannya untuk masuk ke lubang Yoongi, ia menggerakkan miliknya. Memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo cepat.
"A-ah.. Jiminhh.. Fasterrr.." Nikmat dan sakit menjadi satu, "more.. Lebih dalam Jim"
Jimin makin bernafsu, "sebut namaku Yoongihh.."
"Aah.. Jimhh.. Jiminn.."
"Ahh disituhh!" Yoongi merasakan titik g-spot nya ditumbuk oleh kejantanan Jimin.
"Jiminhhh.."
"Aku hampir keluar Yoonhh.."
"Aahh..." Bersamaan dengan desahan Yoongi, Jimin mengeluarkan spermanya lagi.
Yoongi rasanya ingin roboh, lututnya melemas. Jimin mencabut miliknya, membiarkan spermanya kembali keluar.
"Yoongi, aku mau lagi. Aku mau kau di atasku."
Yoongi mengerang, mau tidak mau mendorong tubuh Jimin agar terlentang. Ia duduk di atas perut Jimin, Jimin dapat merasakan spermanya yang menetes dari lubang Yoongi mengenai perutnya.
"Jim, aku– aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.."
"Masukkan milikku ke dalam lubangmu Yoongi" Yoongi menurut, "ugh Jim.. Susah"
"Dorong lebih keras Yoongi" perintah Jimin.
"Sakit Jim.." Yoongi memejamkan matanya, memaksa kejantanan Jimin untuk masuk ke hole nya. Yoongi diam saat ia merasa kejantanan Jimin membesar dan memenuhinya. "Ahh.."
"Bergeraklah Yoon.." Jimin memegangi pinggul Yoongi, menjaga agar Yoongi tetap seimbang.
Yoongi menaik turunkan pinggulnya, "lebih cepat Yoongi."
Yoongi semakin menghentakkan tubuhnya naik dan turun, berada di atas tidak membuatnya nyaman dan puas.
"Jim.. Tidak suka.." Rengek Yoongi pada akhirnya, lelah sendiri karena Jimin tidak kunjung klimaks. Jimin terkekeh, mendorong tubuh Yoongi dan mengangkanginya.
"Kau memang ultimate bottom Yoon" Jimin berada di atas Yoongi, ia kembali mulai bergerak lagi, memaju mundurkan pinggulnya.
"Ahh.. So tight.. Kau ketat sekali Yoonhh.."
Dan Jimin kembali menggenjot tubuh Jimin semalam suntuk hingga Yoongi roboh, Yoongi hanya pasrah membiarkan Jimin terus menabur benih di dalam tubuhnya.
.
.
.
Jimin merasakan sinar matahari mengganggu tidur nyenyaknya, semalam ia benar-benar bermain hingga puas. Melirik jam dinding di kamarnya- jam 10 pagi. Jimin menatap Yoongi yang tidur membelakanginya, miliknya masih tertancap di dalam tubuh Yoongi. Ah, rasanya amat menakjubkan. Jimin tidak pernah bosan untuk menggagahi kekasih mungilnya. Jimin ingat ia mulai berpacaran dengan Yoongi saat kuliah, lima tahun sudah, dan Jimin merenggut keperawanan Yoongi tiga tahun lalu.
Jimin mengenal Yoongi saat mereka berada di SHS, Yoongi merupakan senior yang terkenal dengan sikap dinginnya- saat banyak yang memuja Jimin dan Taehyung (sahabatnya), Yoongi justru tidak mengindahkan keberadaanya. Perbedaan dua tahun di antara mereka, cukup membuat Jimin merasa sulit untuk mendekati Yoongi. Beruntung saat kuliah ia masuk kuliah yang sama dengan Yoongi, meski berbeda jurusan. Menaklukan Yoongi tidak semudah dugaannya- ia perlu menempeli Yoongi kemana-mana tanpa punya malu. Membuat Yoongi terkadang jengah dengan tatapan orang-orang, untung bagi Jimin karena akhirnya Yoongi menerimanya.
Jimin tersenyum mengingat kenangan lamanya, ia memeluk Yoongi. Sebenarnya Yoongi bukannya orang yang terganggu dengan hal kecil saat tidur, tapi kali ini ia perlahan membuka matanya.
"euhm.. Jim.." Jimin mengeratkan pelukannya, membuat tubuh mereka menempel erat.
Yoongi bergerak-gerak, berusaha mencoba melepas pelukan Jimin.
"Sa-sayang.. Jangan bergerak-gerak atau adikku akan kembali bangun.."
Yoongi melotot horror, apa?! Ia baru sadar bahwa milik Jimin masih berada di dalamnya.
"Keluarkan."
"Kalau aku tidak mau?" Yoongi tau Jimin menggodanya, tapi ia tidak peduli. Ia merasa penuh di bawah sana, sebenarnya sampai jam berapa Jimin menggenjot tubuhnya. Ah, tiba-tiba Yoongi merasakan pegal di seluruh tubuhnya, terutama dari pinggang hingga ke bawah.
"Jimin, aku merasa penuh. Bisa kau keluarkan milikmu atau aku harus berguling sendiri? Sebenarnya sampai jam berapa kau bermain dengan tubuhku?"
"Jam 3 pagi.."
"APA?!" Yoongi berteriak, disusul debuman pintu yang mengagetkan mereka berdua.
"A-astaga.. EOMMA?!" Jimin buru-buru meraih selimut di kakinya, menyelimuti tubuh telanjang mereka berdua. Gerakannya membuat Juniornya tertarik keluar dari lubang Yoongi.
"Aa.." Desahan Yoongi tertahan oleh tatapan membunuh yang diberikan ibu Jimin pada mereka berdua.
"ANAK KURANG AJAR! NIKAHI YOONGI BARU KAU BUAT HAMIL!" Ibunya berkacak pinggang di depan Jimin.
"Ma-mama..." Yoongi mencicit takut, baru kali ini mereka tertangkap basah setelah bercinta. Ini memalukan.
"SIAPA YANG MENGAJARIMU, HAH?! BAGAIMANA KALAU BENIH YANG KAU TINGGALKAN DI DALAM YOONGI BENAR-BENAR BERKEMBANG SEBELUM KALIAN MENIKAH?!" Ibunya bersungut marah, menarik Jimin turun dari tempat tidur.
"U-umma..." Jimin buru-buru menarik boxer nya yang berada di lantai, memakainya dengan cepat.
"Umma rasanya migrain.. Kaki Umma lemas.." Jimin memegangi tubuh ibunya, menuntunnya menuju kasur. Yoongi terduduk, panik.
"Mama, mama baik-baik saja?" Yoongi bertanya takut-takut, takut terkena amukan dari Ibu kandung Jimin.
"Katakan, apa Jimin memaksamu? Aku mendengar dari Taehyung bahwa kalian bertengkar, tapi apa yang aku lihat sekarang?" Ibu Jimin memijat keningnya, merasa pusing dengan kelakuan anak dan calon menantunya.
"Ma-mama.."
"Mama tidak marah kau melakukannya dengan Jimin, kalian sudah dewasa. Hanya saja Mama kecewa karena kalian melakukannya tanpa ikatan pernikahan." Yoongi dan Jimin terdiam, membiarkan wanita paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya.
"Yoongi, Mama mendengar semuanya semalam. Mama menahan diri untuk tidak langsung menghajar anak ini, makanya Mama kembali ke rumah dan memutuskan berkunjung lagi pagi ini. Mama terkejut dengan pembicaraan kalian berdua, apakah itu benar Yoongi?" Ibu Jimin menarik tangan Yoongi untuk ia genggam, membelainya lembut bak sesuatu yang amat berharga.
"Yoongi, Mama takut Jimin melukaimu.."
"Umma! Aku tidak akan melukai Yoongi!" Jimin dengan cepat membantah, membuat Ibunya menatapnya tajam.
"Katakan Yoongi, apa yang Mama dengar semalam benar?"
"Ya Mama, yang Mama dengar perihal aku yang dapat mengandung adalah benar."
Mata Ibu Jimin membesar, menatap Yoongi yang berkaca-kaca, siap menangis dengan fakta memalukannya.
"Oh sayang, jangan menangis.."
Jimin berdecih, Ibunya akan mulai berdrama lagi. Lebih baik ia membersihkan diri atau menuju dapur untuk memakan sarapan karena ia yakin ibunya pasti memasak. Biarlah Yoongi bersama Ibunya, terkadang Ibunya lebih jago membuat Yoongi merasa nyaman dan tenang. Dengan langkah besar ia memilih menuju dapur, perutnya keroncongan karena belum memakan apapun sejak kemarin. Ia melihat chappjae, ddak galbi, dan kimchi di atas meja makannya. Buru-buru ia duduk, mengambil nasi secukupnya beserta lauk yang menggodanya, ia makan terburu-buru.
"kau menikah bulan depan!"
Uhuk! Jimin buru-buru meraih segelas air, meminumnya cepat.
"Umma!" Jimin protes karena tersedak. Ibunya tidak sedang bercanda kan? Ia sedang sibuk menggarap project baru, lagipula satu bulan untuk menyiapkan pernikahan? Jimin merengut.
"Umma yang akan menyiapkannya, kau tinggal datang untuk fitting baju dan acara pernikahan." Ibunya bersedekap.
"Tapi Umma.." Ibunya mendudukan dirinya di bangku yang berhadapan dengan Jimin.
"Jimin- kau sudah menabur benih. Jangan coba untuk lari!"
"Aku tidak lari! Hanya waktunya tidak tepat. Aku memiliki project baru karena boygroup asuhanku akan comeback bulan depan. Aku akan sangat sibuk bulan ini dan sebulan ke depan."
"Lalu kau tidak akan bertanggung jawab bila Yoongi hamil? Kau ini mencintai Yoongi tidak sih?!" Ibunya menatapnya tajam, seakan ingin menerkam Jimin bila ia menjawab pertanyaannya dengan salah.
Yoongi yang sudah berpakaian lengkap terdiam di balik tembok, mengurungkan niatnya untuk menghampiri dua orang disana ketika ia mendengar percakapan mereka. Menikah? Yoongi belum pernah memikirkannya. Meski kedua orang tua mereka sama-sama sudah tau hubungan mereka, tapi Yoongi belum pernah memikirkan bahwa ia akan menuju jenjang pernikahan bersama Jimin.
"Umma.." Yoongi menajamkan pendengarannya, ingin mendengar jawaban Jimin.
"Aku mencintai Yoongi sejak aku melihatnya di Senior High School, aku mengejarnya dengan susah payah saat kuliah. Aku mencoba mempertahankan hubungan kami yang aku rasa hanya aku yang berjuang untuk mempertahankannya. Kalau ditanya apakah aku mencintai Yoongi, tentu. Tentu aku mencintainya, aku menyayanginya, tapi itu tidak cukup untuk membuatku menikah dengannya–"
Yoongi merasa sesak, jadi Jimin tidak ingin menikahinya? Bahkan setelah ia menabur benih di dalam tubuh Yoongi?
"–Aku butuh lebih dari sekedar cinta untuk menikahi Yoongi. Aku ingin membahagiakannya dengan materi juga.."
"Kau sudah cukup mampu Jimin. Ayahmu bahkan bersedia memberikanmu tempat di perusahaannya."
"Aku hanya merasa.. belum siap."
"Umma tidak mau tau. Siap atau tidak kau harus menikahi Yoongi secepatnya!"
"Aku tau.." Jimin berkata lirih, melanjutkan makannya yang kini terasa hambar.
"Selamat pagi Mama~!" Yoongi berjalan dengan sedikit tertatih memasuki dapur, ia bersikap seolah ia tidak pernah mendengar pembicaraan kedua orang di hadapannya.
"Aku belum menyapa Mama karena situasi tadi, apakah Mama sudah merasa lebih baik?" Yoongi mengecup pipi Ibu Jimin, tersenyum riang dan mendudukan dirinya di samping Ibu Jimin.
"Harusnya aku yang bertanya- apakah keadaanmu baik-baik saja setelah anak nakal ini menggempurmu?" Ibu Jimin bertanya blak-blakan, tidak memperdulikan Jimin di depannya yang makin sulit menelan makanannya.
"Ma-mama.. Jangan membahasnya lagi" Yoongi bersikap malu-malu, dan itu mendatangkan kekehan gemas dari mulut Jimin.
"Tidak usah tertawa Park." Yoongi menatap Jimin tajam, membuat Jimin menelan kekehannya.
"Mama, aku akan pulang.." Yoongi berdiri dari duduknya.
"Makan dulu Yoongi."
Yoongi menggeleng, "aku merasa perutku penuh sekarang, aku akan makan nanti saja di rumah."
"Kau yakin kau baik-baik saja? Jangan terus-terusan memakan ramen instant yang kau simpan di lemari dapurmu."
Yoongi menggeleng lagi, "tidak, aku akan minta umma memasak untukku. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku." Yoongi mengecup pipi ibu Jimin, sebelum melangkah ke arah Jimin dan mengecup pipinya juga.
Jimin mengangkat alisnya heran, ke rumah orang tua?
Jimin menahan lengan Yoongi untuk pergi, menarik tubuh kekasihnya untuk duduk di pangkuannya.
"Umma, bisa tolong tinggalkan kami berdua? Please.." Pinta Jimin memandang ibunya yang segera beranjak keluar dari dapur.
"Ada apa hmm?" Jimin memegang dagu Yoongi, memandangi wajah tanpa cela kekasihnya.
Yoongi lagi-lagi menggeleng, "tidak apa-apa, aku hanya rindu Umma"
Jimin mencium bibir Yoongi dengan tiba-tiba, melumatnya dengan kasar, dan melepasnya saat Yoongi memukul dadanya.
"Aku tidak suka ketika kau berbohong"
Yoongi menyembunyikan wajahnya di leher Jimin, "aku dengar. Aku mendengar semuanya.."
Jimin tertegun, ah pembicaraannya dengan ibunya. "Yoongiku, kau tau bagaimana aku. Aku bahkan akan menikahimu meskipun kau tidak dapat hamil."
"Bagaimana kalau Mama benar? Bagaimana kalau ternyata dua bulan ke depan bahkan satu bulan ke depan, ada yang tumbuh dan berkembang dalam diriku?"
"Aku akan-
"Bertanggung jawab dengan mengakui ini anakmu tanpa menikahiku?" Yoongi memotong cepat, membuat Jimin ternganga. A-apa?
"Tentu aku akan menikahimu, tapi tidak dalam waktu dekat. Sayang, tolong mengerti aku." Jimin menatap ke dalam bola mata Yoongi, bola mata yang lebih sering mengeluarkan tatapan tajam dan menghakimi pada orang lain- tapi bola mata itu juga yang membuat Jimin jatuh pada Yoongi.
"Yoongi, aku tau tidak seharusnya aku menunda pernikahan kita. Tapi project baru sudah menungguku, dan aku khawatir tidak memiliki waktu sedikitpun untuk mengurus pernikahan kita. Bahkan, aku khawatir satu bulan ke depan aku tidak dapat menemuimu." Jimin memeluk pinggang Yoongi, membenamkan wajahnya pada dada Yoongi.
"Jim-
"Bersabarlah dan berikan aku sedikit waktu lagi, aku akan melamarmu secara resmi setelah projectku selesai. Bagaimana?"
Yoongi melepaskan pelukan Jimin, menimbang-nimbang haruskah ia setuju pada keinginan Jimin.
"Ku mohon Yoongi, tidak sampai tiga bulan. Aku janji."
Yoongi menghela napas, mengangguk setuju pada akhirnya. Ia berdiri dari pangkuan Jimin, namun Jimin kembali mendudukan Yoongi di pangkuannya.
"Jim, aku mau pulang."
"Kau tidak membersihkan diri dulu? Aku bersedia memandikanmu." Yoongi melotot, jelas tau apa yang ada di pikiran Park -mesum- Jimin.
"Tidak!" Yoongi meloncat turun, namun kembali terdiam. Ia merasa ada yang mengalir dari bagian belakang tubuhnya.
"Ji-jim.. Apakah kau benar-benar mengeluarkan semuanya di dalam?"
Jimin mengangguk dengan semangat, "tentu saja."
Yoongi melotot horror, melempar coat hangatnya ke wajah Jimin, ia berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur dengan tergesa.
"JIMIN BODOH!" Teriak Yoongi dari dalam kamar mandi, membuat Jimin yang mendengarnya tertawa.
Terdengar umpatan-umpatan lain dari Yoongi yang berada di dalam kamar mandi, Jimin sih mengendikkan bahu, melanjutkan makan yang sempat tertunda. Hahaha.
End/tbc
.
.
Hai~ hai~ hai lagi~
Hayo, kemarin siapa yang udah nyangka Yoongi yang enggak-enggak? :v
Ini termasuk update cepet ga? Soalnya aku mau nagih Vernonku:3
Ini enaknya dilanjut atau end sampe sini aja? Kalo dilanjut, niatnya aku bikin Jimin yang Boyfriend goals, dia kan boyfriend material sekali, kekeke~
Tapi kalo memang yang minat sedikit, yaudah.. Sampe sini aja xD
Makasih banyak yg udah bersedia baca dan ninggalin jejak.
Hanvc, Shuu-ie, Hirudinea, Yoongiena, ORUL2, Rossadilla17, ChimChim Park, Bornsinger, MiniMinyoonMini, Lunch27, Anone (guest), dan GlossyA. (Sampai aku ngetik ini, review yang masuk dari orang-orang ini, makasih ya!)
Bersedia ninggalin jejak (lagi)? Ini udah lebih panjang dari kemarin loh u,u
p.s. Resiko yang timbul setelah membaca NC di atas adalah tanggungan masing-masing xD
p.s.s. Terima kasih juga buat yang udah fav dan fol ff ini, tapi kayaknya kalau kalian ngasih review itu bakal lebih baik lagi :)
Thx in advance.
