Hold Me

Chapter3

Jimin x Yoongi / MinYoon

Rated : M

Genre : Romance, Drama

Warn : Out Of Character

Pair belongs to God, I just make story of them. So, this story is mine.

3

2

1

From: My Baby Sugar

Jim, lapar...

Badanku masih sakit, malas keluar. Jam segini sudah istirahat makan siang kan? Ke apartemenku ya, bawakan aku cheesecake ya atau Strawberry shortcake. Pokoknya cake, aku tidak mau yang lain. Apalagi yang sayur hijau itu. ❤️❤️❤️

Jimin tersenyum, okay.. Titah sang tuan putri harus dituruti.

To: My Baby Sugar

Siap tuan putri! (^•^)

"Hoi! Sedang membalas pesan siapa sih? Bahagia sekali wajahmu." Jhope menepuk bahunya, membuat Jimin hampir melempar telepon gengamnya.

"Duh, hyung ini bisa tidak sih jangan mengagetkan? Kalau aku jantungan, lalu mati muda bagaimana? Duh amit-amit, belum nikah nih!" Jimin bersungut-sungut, tak lupa ia menekan tombol send untuk membalas pesan Yoongi.

"Kau juga sih, dari tadi tumbenan sekali pegang handphone terus. Biasanya paling-paling sehari cuman dua atau tiga kali. Malah kadang tidak pegang sama sekali."

Jhope mengambil air kemasan di samping Jimin, meneguknya dengan kasar.

Jimin hanya tersenyum- sejak kemarin Yoongi memang aktif menghubunginya, mungkin Yoongi memang berusaha untuk berubah dan lebih peduli pada kekasihnya ini.

"Duh lelah sekali ya, trainee jaman sekarang semangat sekali." Keluh Jhope, membuka bajunya yang sudah basah dengan keringat.

"Jim, dua hari ini aku bolak-balik ke studio atas, nemenin Suwoong rekaman. Kok disana tidak ada Suga ya? Gebetanmu itu tumbenan sekali tidak ada di ruangannya."

Suga- nama yang Yoongi gunakan sebagai song-writer, ngomong-ngomong di agensi tidak ada yang tau hubungan Yoongi dan Jimin. Pengecualian untuk Taehyung karena Taehyung bersahabat dengannya sejak masa-masa ia naksir Yoongi di bangku SMA dulu, belum lagi Taehyung memacari adik sepupu Yoongi yang kurang ajarnya kebangetan ke Jimin. Iya, lingkup teman Jimin memang tidak jauh dari si tetet itu.

"Oh benarkah? Aku juga tidak tau." Jimin menjawab sok polos, padahal sih tau benar kenapa Yoongi tidak berada di studionya. Haha.

"Hyung, aku keluar dulu ya~" Jimin mengambil tas kecilnya dan bergegas keluar.

"Loh, loh, mau kemana? Jangan lupa nanti kita akan membuat koreo baru!"

"Beli cheesecake! Oke, dahh~"

Jhope mengerjap heran, sejak kapan Jimin hobi makan cheesecake? Ah, bukan urusan dia juga~

.

.

"Wah.. Kumamon..." Mata Yoongi berbinar ketika melihat berita sosok hitam dengan wajah idiot- menurut Jimin, di berita elektronik yang sedang ia baca melalui tabletnya. Boneka yang terkenal di Jepang itu akan diikutkan dalam sebuah pameran boneka di Seoul.

'Aku mau kumamon'

'Kenapa kumamon lucu sekali sih..'

Atau,

'Bisa tidak aku bawa pulang kumamon yang bisa berjalan' - entah Yoongi tidak tau atau pura-pura tidak peduli bahwa kumamon yang bisa berjalan diisi oleh seorang manusia.

"Lucunya.. Tapi pamerannya masih dua minggu lagi." Bibir Yoongi mengerucut, ingat bahwa dua minggu ke depan dia akan memulai membuat lagu sebagai main song boygroup yang akan comeback.

"Atau aku mengerjakannya sekarang saja? Jadi dua minggu lagi aku sudah terbebas dari project itu.."

"Tapi aku belum tau konsep seperti apa yang akan mereka gunakan, PD-nim baru akan memberitahukannya dua minggu lagi."

Yoongi menghela napas, ia ingin sekali melihat kumamon...

Ting Tong

Yoongi mendongak mendengar bel apartemennya berbunyi, pasti Jimin pikirnya cepat. Ia bergegas berdiri untuk membuka pintunya.

Benar pikirnya, di depannya Jimin tersenyum cerah, menjinjing kotak yang dia tebak adalah cake yang dia minta. Yoongi meraih kotak di tangan Jimin, dan membawanya masuk.

"Aku tidak dipersilahkan masuk nih?" Jimin menggerutu melihat Yoongi berjalan masuk dengan senyum riang tanpa memperdulikannya.

Yoongi berhenti, menoleh ke arah Jimin dengan alis terangkat sebelah, "sejak kapan kau meminta izin untuk masuk? Biasa juga nyelonong begitu saja."

"Hehehe.. Kan kali ini biar sopan." Jimin mengekori Yoongi menuju ruang tamu, duduk di karpet dan terus memperhatikan Yoongi yang mondar-mandir dari dapur kesini.

"Your ass. Kalau mau bersikap sopan, panggil aku hyung. Bukan berbicara banmal kepada orang yang lebih tua dua tahun darimu." Yoongi mengambil pisau kue, dua sendok dan dua piring kecil, meletakkannya di meja ruang tamunya dan kembali lagi ke dapur untuk membuatkan Jimin minuman.

"Loh, kan kamu sendiri yang memberi ijin untuk memanggil nama saja.." Jimin membuka box berisi cheesecake itu, memotongnya dengan ukuran cukup besar untuk Yoongi.

"Kapan? Aku tidak ingat tuh." Yoongi bersuara dari arah dapur, disusul suara berisik lainnya.

"Masa tidak ingat? Ituloh saat–" Jimin berhenti berbicara.

"–kamu yakin beneran mau dengar kapannya?" Jimin bertanya tidak yakin.

"Memangnya kapan?" Itu suara Yoongi yang masih di dapur.

"Eer.. Saat anniversary kita yang pertama. Waktu itu kan kita hampir... Bercinta." cicit Jimin di akhir kalimatnya.

"Hampir apa? Aku tidak ingat dan suaramu tidak terdengar." Yoongi berjalan pelan membawa nampan berisi dua gelas strawberry ice milk blend dan meletakannya di depan Jimin yang mukanya memerah.

"Jim, kenapa? Apa penghangat ruangnya terlalu panas hingga wajahmu memerah?" Yoongi menempelkan punggung tangannya di dahi Jimin, bergumam 'tidak deman juga tuh.'

Jimin menjauhkan tangan Yoongi dari keningnya, tidak ingin menyauti pertanyaan Yoongi dan memilih pura-pura sibuk dengan memotong-motong cheesecake menjadi beberapa bagian.

"Dasar aneh." Cibir Yoongi, ia mulai memasukkan sesendok cheesecake ke mulutnya, mengatakan bahwa cheesecake adalah yang terbaik dan sebagainya.

"Yoongi makannya berantakan sekali sih, mirip sama anak-anak kindergarten di depan agensi." Jimin mengusap bibir atas Yoongi yang dipenuhi krim dengan jempolnya kemudian menjilatnya.

"A- sialan, sok kecakepan." Ketimbang membalas perkataan Jimin yang mengejeknya seperti anak kecil, Yoongi lebih memilih mencibir kelakuan Jimin yang sok keren ketika menghapus krim di bibirnya. Yoongi berpura-pura fokus memakan cheesecake nya, padahal hatinya dugeun-dugeun diperlakukan seperti itu oleh Jimin.

"Aw- princess nya Jimin memerah malu. Manis sekali sih..." Jimin menopang kepalanya dengan kedua tangan, memperhatikan Yoongi yang sok tidak peduli.

"Berisik! Makan saja sana cheesecake bagianmu!"

Dan Jimin hanya tertawa, dengan gemas mencubit pipi Yoongi.

.

.

"Jim, kenyang.." Yoongi mendorong piringnya ke depan, minumannya juga sudah habis setengah.

"Loh, kan baru makan sedikit, biasanya habis setengah loyang sendiri.." Tumben- pikir Jimin dalam hati.

Yoongi menggeleng, sekali lagi mengatakan bahwa dia kenyang.

"Jimin yang bereskan ya?" Yoongi memang bukan memberi perintah, tapi Jimin menurutinya dengan patuh. Ia merapikan piring dan gelas yang mereka gunakan, tak lupa memasukkan cheesecake yang tersisa ke dalam box.

"Ku taruh di kulkas ya, siapa tau nanti kamu mau makan cheesecake lagi.." Suara Jimin terdengar dari arah dapur, Yoongi bergumam mengiyakan.

"Sudah ya, aku harus kembali ke agensi." Jimin mengambil jaket dan tasnya.

"Nanti saja.." Tapi Yoongi menahannya, merajuk untuk tidak ditinggalkan.

"Tumben manja, biasanya malah aku diusir biar cepat pergi.." Jimin kembali duduk di sebelah Yoongi. Yoongi hanya diam, melingkarkan tangannya di lengan berotot Jimin.

Bermenit-menit mereka hanya duduk diam dalam keheningan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Jimin menikmati bagaimana Yoongi memeluk lengannya dan bersandar di bahunya.

Save me~ save me~ i need your love before i fall~

Nada dering telepon genggam Jimin berbunyi, ia membuka tasnya dengan tergesa.

'Hobie Hyung is calling...' Tertera pada layar handphone nya.

"Hallo?"

"Yah! Kau dimana heh? Ini sudah selesai makan siang dan aku belum melihat batang hidungmu! Kau tidak lupa kita akan membuat koreografi bapsae hari ini kan?" Suara Jhope di sebrang sana membombardir tanpa jeda.

"A- Hyung.. Tunggu 30 menit lagi ya? Please..."

"Haish, oke. 30 menit ya Jim, jangan sampai aku lumutan karena menunggumu."

"Okay~ terimakasih hyung~!"

Jimin menekan ikon berwarna merah di handphone nya, memutus panggilan teleponnya dengan Jhope.

"Yoongiah, aku harus kembali sekarang.."

Hening, tidak ada jawaban dari Yoongi.

"Yoon.." Jimin melambai-lambaikan tangannya di wajah Yoongi, tidak ada respon dari kekasih sugar nya.

"Yah, tidur.." Jimin melepas pelan pelukan di lengannya, meletakkan tangannya di punggung Yoongi untuk menahan tubuh kekasihnya, ia mengangkat tubuh Yoongi secara perlahan, berusaha agar tidak mengganggu tidur kekasihnya.

Jimin berusaha meraih gagang pintu kamar Yoongi dan membukanya, mendorong pelan pintu itu dengan kakinya. Ia meletakkan Yoongi di ranjang empuk milik kekasihnya, Yoongi sendiri tidak terlihat terganggu sama sekali dengan gerakan yang Jimin buat, ia justru makin menyamankan dirinya.

"Aku pergi ya.." Pamitnya pada Yoongi walau tidak ada sautan balasan, sebelum pergi Jimin tidak lupa memberi ciuman di kening Yoongi dengan lembut.

"Sleep well sayang.."

_••••_

Sudah dua minggu berlalu sejak Jimin ke apartemennya, Yoongi ingat ia terbangun di atas tempat tidurnya tanpa Jimin dan sudah seminggu ini kontak di antara mereka mulai jarang terjadi. Bahkan ia belum bertemu lagi dengan Jimin hingga saat ini.

Yoongi menghela napas kasar, begini ya rasanya merindukan seseorang? Ia jadi selalu memikirkan orang yang dirindukan, okay jujur saja kalo ia memang merindukan Jimin. Sebenarnya tidak kali ini saja sih, sebelumnya juga pernah, tapi ia merasa keinginan ingin bertemu Jimin tidak sebesar sekarang. Yoongi bahkan sampai lupa kalau hari ini ada pameran Kumamon– boneka kesukaannya.

Yoongi bergerak gelisah di dalam studio nya, ia merasa frustasi karena tidak dapat fokus pada apa yang tengah ia kerjakan. Lirik lagu yang seharusnya dapat ia selesaikan juga terbengkalai, ia bangkit dari tempat duduknya tetapi dengan cepat duduk kembali. Yoongi mengurungkan niatnya untuk melihat Jimin di lantai dua tempatnya mengajar, berpikir kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja muncul.

'Bagaimana kalau ada yang melihatku di lantai dua? Kemudian bertanya ada urusan apa aku di lantai dua?'

'Kalau aku kesana dan ternyata Jimin sedang melatih, apa yang akan aku lakukan?'

'Kenapa aku tidak coba mengirim pesan ke Jimin?'

Yoongi dengan gerakan kilat mengambil ponselnya,

To: Jimina

Jim, kangen~~

Kau dimana? Sedang mengajar tidak?

Yoongi menggeleng, dengan cepat menghapus pesannya kembali. Yoongi merasa gemas sendiri, gengsinya yang setinggi himalaya itu membuatnya malu mengakui bahwa ia merindukan Jimin.

To: Jimina

Temui aku di atap. Sekarang.

Yoongi menekan tombol send dan memasukkan telepon genggamnya ke dalam kantong, ia bergegas keluar dari studio nya untuk menuju ke atap. Lagipula sebentar lagi jam makan siang, tidak apa-apa 'kan kalau Yoongi menyelinap untuk menemui Jimin.

.

.

.

Jimin bersiul, wajahnya berseri-seri seperti matahari di pagi hari. Ia baru saja keluar dari sebuah gedung dengan menenteng plastik besar berwarna pink dengan aksen polkadot.

"Apakah Yoongi akan menyukainya? Dia harus menyukainya karena aku sudah rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkannya." Senyum Jimin mengembang, membayangkan bagaimana reaksi Yoongi nanti.

Ah, ia sampai lupa mengecheck ponselnya. Ia mengerutkan kening saat melihat notifikasi di pesan masuknya, Yoongi?

From: My Baby Sugar

Temui aku di atap. Sekarang.

Jimin segera mengecheck tanggal dan waktunya, today 10.34 a.m. Mampus, Jimin melirik arloji di pergelangan tangannya, 01.24 p.m. Jimin benar-benar akan habis di tangan Yoongi. Ia berdoa semoga Yoongi memaafkannya dengan cepat.

Jimin segera berlari menuju parkiran, untung hari ini ia membawa mobil jadi ia tidak harus bersusah payah berlari ke subway atau menyetop sebuah taksi.

'Tunggu, tunggu, butuh berapa menit dari sini ke agensi?'

'Lebih baik aku ngebut, ah tapi– tidak! Nanti kalau terjadi kecelakaan lalu Yoongi menjanda bagaimana?'

'Okay Jimin, lebih baik kau segera pergi sekarang atau kau benar-benar habis di tangan kekasih imutmu.'

.

.

.

Yoongi menunduk, menatap layar ponselnya yang tak menerima balasan apapun dari Jimin. Jimin mengabaikan pesannya? Dan betapa bodohnya ia karena tetap menunggu. Yoongi mendesah kasar, Jimin benar-benar sibuk ya?

Yoongi mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri, jadi begini rasanya diabaikan? Yoongi ingin berteriak marah, tapi ia terlalu malas dan lelah setelah menunggu berjam-jam di atas sini. Apalagi bulan ini sudah memasuki musim dingin, udara dingin sisa-sisa musim gugur yang menenangkan sudah tidak lagi terasa, tergantikan dengan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Yoongi berbalik, memutuskan untuk turun sebelum dirinya terkena flu.

Belum sampai tangannya pada gagang pintu, pintu itu sudah lebih dulu terbuka menampilkan Jimin dengan rambut kusut dan acak-acakkan, napasnya tersengal tak beraturan seperti habis berlari jauh.

"Hhh... Thank God– you are still here.. Hhh"

Yoongi menaikkan alisnya, heran. Sesaat kemudian ia mengendikkan bahunya, berjalan melewati Jimin tanpa mengacuhkannya.

((Grep))

Langkah Yoongi berhenti, tubuhnya ditarik oleh Jimin. Ia baru saja akan melayangkan sebuah protes yang dihentikan dengan isyarat tangan Jimin.

"Biarkan aku.. Hhh.. mengambil napas.. Hhh okay?"

Yoongi tidak mengangguk, tapi tidak beranjak pergi juga. Jimin masih menahan lengannya.

"Okay, jadi.. Aku baru membaca pesanmu. Aku minta maaf." Jimin melepas pegangannya pada lengan Yoongi.

Yoongi tak membalas hanya menatap dingin ke arah Jimin. Ia segera memutuskan kontak mata mereka, dan memutuskan pergi dengan menabrakan bahunya dengan bahu Jimin dengan kencang, bungkusan di tangan Jimin terlepas.

Yoongi berhenti, bungkusan berwarna pink itu menarik perhatiannya. Jimin buru-buru mengambil bungkusan itu dan menyodorkannya pada Yoongi.

"Untukmu.."

Yoongi menaikkan alisnya, heran. Ia tak mau begitu saja mengambil bungkusan yang Jimin sodorkan padanya.

"Sudah ambil saja, dibuka ya." Jimin memaksa Yoongi untuk mengambil bungkusan itu, mau tak mau tangan Yoongi menerimanya.

"Aku belum—"

Jimin memotong ucapan Yoongi dengan cepat, "iya tau, kamu masih kesal kan? Aku harap setelah kamu membukanya, kamu akan memaafkanku."

Jimin beranjak pergi, memberi waktu kepada kekasihnya untuk memaafkannya.

Yoongi membuka bungkusan plastik pink bercorak polkadot itu, 'tidak ada swag-swag nya sama sekali.'

"Kumamon!" Yoongi memekik senang ketika melihat isi bungkusan itu, ia baru ingat hari ini ada pameran boneka. Jangan bilang Jimin datang ke pameran itu?

Tulisan 'Limited Edition' yang tercantum di boneka itu makin membuatnya senang bukan kepalang. Ia memang tau kalau pihak penyelenggara menjual Kumamon khusus, tapi ia tidak menyangka Jimin mendapatkannya.

Yoongi berbalik dengan cepat, ia segera berlari mengejar Jimin. Di bagian tangga berbelok ia bisa melihat Jimin dengan ponsel di kupingnya.

"Ya, aku tau. Terima ka–

"Jimin!" Yoongi melompat ke arah Jimin dengan riang, memeluk tubuh Jimin dengan erat membuat Jimin terkejut dan memutuskan panggilan di ponselnya.

"Yo-Yoongi.." Yoongi melepas pelukan eratnya, menatap Jimin dengan mata yang berbinar senang.

"Terima kasih."

Oh, Jimin merasakan ribuan bunga bermekaran di sekelilingnya. Senyum Yoongi terlihat amat sangat manis.

"Boleh minta balasan?"

Yoongi mengangguk dengan cepat, anggukan yang akan segera disesalinya.

.

.

Jimin keluar dari bilik toilet sambil membenarkan ikat pinggangnya, sementara Yoongi masih terduduk lemas. Wajah Jimin berbinar, tebak siapa yang habis mendapat jackpot? Terima kasih atas anggukan Yoongi karena Jimin akhirnya mendapat jatahnya lagi setelah dua minggu.

"Kau menyebalkan!" Yoongi menggerutu sebal.

"Iya aku tau." Jimin berbalik, membantu Yoongi merapikan celananya lagi. Bersyukur toilet di lantai ini sangat jarang dikunjungi orang karena Yoongi tidak perlu bersusah payah menahan desahannya ketika Jimin menikmati tubuhnya.

"Aku benci padamu Park."

"Yayaya, aku juga benci kamu Minku sayang~" Jimin mengecup kilat bibir Yoongi sebelum menarik Yoongi untu keluar dari bilik.

"Tunggu! Tunggu! Tuan Kumamon!" Yoongi melepas pegangan Jimin, mengambil bungkusan plastik berisi Kumamonnya yang ia letakkan di dekat wastafel.

"Kan sayang sekali kalau tertinggal.." Jimin hanya menggeleng pelan menanggapi Yoongi yang begitu senang dengan bungkusan di tangannya. Yah tidak sia-sia sih Jimin mengantri sejak pameran itu belum buka, sebenarnya ia cukup takut tidak berhasil mendapatkan boneka itu, but thanks God, ia bisa mendapatkannya.

"Aku mencintaimu." Ucap Jimin sebelum mereka harus berpisah, lantai tempat mereka bekerja kan berbeda.

"Aku juga." Yoongi membalas, mencium pipi Jimin dengan gerakan super kilat sebelum membuka pintu darurat lantai tiga dan berlari meninggalkan Jimin dengan cepat.

Jimin lagi-lagi menggeleng, memangnya Yoongi tidak merasa sakit karena berlari? Jimin tertawa pelan kemudian tersenyum senang sambil memegang pipinya. Kapan lagi Yoongi dengan senang hati menciumnya lebih dulu. Iya, garis bawahi kata senang hati. Ah, kalau sudah mendapat energi dari Yoongi, Jimin jadi semakin bersemangat untuk melatih para trainee.

.

.

.

Tbc

hai~ iya ini pendek, awal doang soalnya. Jadi nanti bertahap gitu ya, ga langsung hamil saat itu juga si Yoongi, hehe.

Aku kepengen nunjukkin kalo Jimin itu boyfriend material sekali~ Rada fluff ga sih? Gagal ya? Mian._.")

terima kasih buat yang sudah fav dan fol, terutama buat yang review ya~~ ku senang sekali~~ maaf di dua chapter yang lalu, nc nya terlalu vulgar– semoga ga ada yg mikir ini pwp ya ?

Maaf kalo berantakan dan nemu typo, ngetiknya pake handphone xD

Berkenan untuk review lagi?