Hold Me
Chap 4
Rated : M
Warn : Out Of Character
I don't own anything but the story.
Please kindly to check my note after you read the story.
•••
••
•
Yoongi meletakkan ponselnya dengan kesal, ini masih pagi dan ibunya sudah merusak mood nya. Ibunya baru saja menelpon dan mengatakan kalau Jungkook– sepupunya akan ikut tinggal bersamanya untuk waktu yang cukup lama. Orang tua Jungkook akan menghadiri acara yang berkaitan dengan bisnis mereka di Amerika sekaligus untuk membuka cabang baru lagi disana dan sebagai orang tua yang cukup protektif pada Jungkook mereka tidak ingin Jungkook sendirian, tapi mereka juga tidak bisa mengajak Jungkook karena anak itu tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir semesternya. Jadi sebagai gantinya mereka menitipkan Jungkook pada ibunya, dan ibunya yang menyebalkan itu mengirim Jungkook padanya.
Bukan masalah besar kalau Jungkook bukanlah remaja yang mulai beranjak dewasa yang suka sekali mengganggunya, Jungkook itu cerewet, berisik, menyebalkan seperti kekasihnya, Jimin.
Berbicara tentang Jimin, ini sudah sebulan sejak pertemuan terakhir mereka. Mereka hanya berkomunikasi via telepon, tidak ada tatap muka sama sekali.
Yoongi ingat Jimin mengatakan bahwa dia akan sibuk dengan para trainee yang akan segera melakukan debut, Jimin dan Jhope perlu berusaha untuk membuat koreografi yang tentunya akan membuat orang-orang merasa puas dan takjub ketika melihatnya. Yoongi sendiri sudah selesai dengan project lagunya, ia cukup heran karena berhasil menulis lagu dengan tema cukup sedih sementara hatinya tengah berbunga-bunga– okay, lupakan sejenak bagian berbunga-bunga karena Yoongi harus segera ke kamar mandi.
.
.
Yoongi menaruh kepalanya di meja ruang tamunya, ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah lelah dan mata dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. Ia memang sudah terbebas dari project lagu itu dan sudah dapat merasakan liburan untuk sejenak, tetapi beberapa hari terakhir ia tidak dapat merasakan indahnya liburan karena terus-terusan merasakan mual sehingga ia harus bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah, dan yang menyebalkan adalah tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Yoongi mendesah lelah, begadang memang tidak baik untuk kesehatan.
.
.
Ting tong
Yoongi mengangkat kepalanya dari atas meja, siapa yang datang ke apartemennya? Apakah ketika ibunya menelpon, Jungkook sudah berada di bawah untuk menunggunya mengatakan 'iya' pada ibunya?
Yoongi tidak langsung beranjak membukakan pintu, ia melakukan stretching untuk melemaskan leher dan bahunya yang terasa kaku, ia juga melemaskan pinggangnya yang ikut sakit karena terlalu lama duduk.
Ting tong
Yoongi berdecak mendengar bel kedua, ia segera bangkit untuk membukakan pintu, "tunggu sebentar!"
"Hai..." Hal pertama yang dia lihat ketika membuka pintu adalah wajah Jimin dengan senyum lebar yang membuat matanya membentuk garis– mungkin orang lain akan mengira Jimin sedang menutup mata.
"Mau apa?" Yoongi bersedekap, menjawab sapaan Jimin dengan pertanyaan.
"Kekasihku dingin sekali, tidak merindukanku?" Alis Jimin naik-turun menciptakan wajah menggoda yang terlihat seperti ejekan di mata Yoongi.
"Tidak."
"Duh sakitnya..." Jimin menunjukan wajah terluka yang kentara sekali dibuat-buat.
"Menggelikan." Yoongi berbalik membiarkan Jimin mengekorinya.
"Yoongi, pergi yuk.." Langkah Yoongi terhenti, ia berbalik untuk menatap Jimin dengan tatapan sangsi.
"Tidak mau, aku mau di rumah saja." Ia mengambil remot televisi, menggonta-ganti channel dan berakhir mematikannya kembali.
"Benar tidak mau?" Jimin mendekat, memepetkan tubuhnya pada Yoongi.
"Ish, sana!" Yoongi mendorongnya menjauh, tetapi Jimin kembali mendekat lagi.
"Jim, kau benar-benar minta dipukul ya?" Yoongi menahan kesal karena kini Jimin berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan Yoongi.
"Mau, kalau dipukul kissu dari bibirmu."
"Mesum!" Yoongi mencibir, tetapi bergerak untuk mencium bibir Jimin secara kilat.
"Tidak berasa, itu kissu atau poppo?"
"Memangnya apa bedanya?!"
"Tentu saja berbeda, kissu itu seperti ini–"
Jimin dengan gerakan kilat merubah posisinya menjadi duduk, menarik tengkuk Yoongi untuk mendekat.
Jimin meraup bibir Yoongi dengan rakus, mengemut bibir bawah Yoongi dan menggigitnya pelan, membuat Yoongi memberikan akses menuju mulutnya, lidah Yoongi tak tinggal diam saat lidah jimin mulai memasuki mulutnya, lidah mereka saling membelit satu sama lain, yang mana pada akhirnya membuat lidah Yoongi mengalah membiarkan Jimin mengabsen isi mulutnya.
"Jim!" Yoongi memekik pelan ketika ciuman di bibirnya terlepas dan berpindah ke lehernya, menyusuri tiap jengkal leher putih nan mulus milik kekasihnya. Tangan Jimin yang semula berada di tengkuknya perlahan berpindah menyusuri punggungnya kemudian menyingkap bajunya ke atas. Tangan nakal Jimin tidak berhenti sampai disitu, dibelainya perut Yoongi, tangannya merambat naik menuju ke–
"Yoongi hyung!" Keduanya terkesiap, buru-buru menarik diri menjauhi satu sama lain.
"Ju-Jungkook.."
"Untung bibi memberitau kode apartemen ini, beliau mengatakan kalau sampai bel kedua kau tidak kunjung keluar, aku bisa menggunakan kodenya~" Jungkook tersenyum lebar, menunjukkan gigi kelincinya yang membuatnya terlihat menggemaskan.
"Kau bahkan belum menekan bel, Kook!" Itu suara protesan Jimin yang ditanggapi kekehan kecil dari Jungkook.
"Tadinya sih mau memberi kejutan ke Yoongi hyung, eh ternyata malah aku yang terkejut."
Jungkook menarik kopernya mendekati Jimin dan Yoongi, "make out saat musim dingin memang terdengar asyik ya.."
"JEON JUNGKOOK!"
Jungkook tertawa keras setelah berhasil membuat sepupunya berteriak marah.
"Jim, geser dong!" Jungkook mendorong tubuh Jimin ke sisi sofa yang satunya dan mendudukan dirinya di tengah-tengah Jimin dan Yoongi, ia memeluk tubuh Yoongi dengan sangat erat.
"Yoongi hyung~ kangen~ kok belum putus juga sih sama si bantet ini?"
((Twitch))
'Pukul tidak ya, pukul tidak ya...' Itu suara hati Jimin yang kesal, Jungkook ini memang suka sekali bercanda begini, tidak peduli bahwa yang dia olok-olok lebih tua dua tahun darinya.
"Sana-sana masuk kamar sana.." Yoongi mendorong tubuh Jungkook menjauh, menendang pelan betis Jungkook agar segera beranjak.
"Tidak mau, nanti si bantet ini melakukan hal yang lebih mesum dari tadi. Nanti kalau hyung tekdung duluan bagaimana?" Oh, Yoongi yang seorang male pregnant memang bukan lagi rahasia di keluarga mereka.
"Dengar ya Jungkook, kalau kau mau tau, aku sudah sering memas–
–Aw! Yoongi!" Jimin harus rela kena lempar remot dari Yoongi, plus mendapat tatapan membunuh yang malah membuat Jimin gemas.
"Kenapa? Sudah sering tindih-menindih ya?" Jungkook bertanya dengan nada polos, mengabaikan teriakan Yoongi.
"Jeon Jungkook! Masuk ke kamar dengan senang hati atau aku seret?!"
"Iya, iya. Bilang saja mau melanjutkan yang tadi.." Jungkook tertawa sekali lagi, ia berdiri dari sofa dan berjalan memasuki kamar dengan riang, merasa puas sudah menggoda hyung-hyung nya.
"APA HAH?!" Yoongi melotot menatap Jimin yang sudah tersenyum-senyum tidak jelas.
"Kamu ga mau ngelanjuttin yang tadi?" Alis Jimin naik-turun menggoda Yoongi.
"Lanjutkan saja sendiri!" Yoongi bangkit, belum sampai lima langkah ia meringis pelan, perutnya terasa sakit.
"Yoongi?"
Yoongi berdiri membelakanginya sehingga Jimin tidak dapat melihat raut wajah Yoongi yang menahan sakit.
"Ji-Jim? Bisa.. Kau.. Pulang?" Suara Yoongi terbata dan terdengar berat, membuat Jimin beranjak mendekatinya.
"Hei, kenapa? Wajahmu pucat, kau sakit?" Jimin menangkup wajah Yoongi yang sudah tak lagi meringis, tetapi berubah memucat.
"Ti-tidak, i'm okay. Bisa kau pulang? Aku ingin istirahat." Yoongi memegang tangan Jimin yang berada di pipinya, menurunkan tangan itu secara perlahan.
"Aku antar ke kamar ya.."
"Jim gendong, capek.." Jimin mengerutkan alis, padahal Yoongi tidak kemana-mana. Namun meski begitu ia tetap menuruti kemauan Yoongi, ia mengangkat Yoongi dan menggendongnya seperti koala. Yoongi meletakkan kepalanya di bahu Jimin, bohong kalau dia bilang lelah. Karena sebenarnya perutnya sakit dan merasa tak sanggup berjalan ke kamar. Yoongi bisa mendapat award atas aktingnya tidak?
"Tidak butuh sesuatu?" Jimin bertanya setelah menurunkan tubuh Yoongi di kasurnya.
"Tidak, terima kasih.."
"Okay. Aku tidak usah pulang ya, aku di ruang tamu saja bagaimana? Nanti kalau Yoongi butuh sesuatu bisa panggil aku."
Yoongi menggeleng, "kan sudah ada Jungkook, aku bisa panggil dia."
"Baiklah kalau begitu, mungkin aku akan menemui Taehyung saja dan mengajaknya hang out."
"Istirahat ya.." Jimin mengecup kening Yoongi cukup lama, ia bahkan sempat menghirup wangi rambut Yoongi.
"Hati-hati di jalan.." Jimin tersenyum mendengarnya, mengacak surai mint milik Yoongi dengan gemas sebelum meninggalkan Yoongi sendiri di kamar.
.
.
Tok tok
Jimin mengetuk pelan pintu kamar yang berada tak jauh dari kamar Yoongi. Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Jungkook yang masih mengenakan pakaian yang sama.
"Ada apa Jim?" Jungkook sedikit menguap, duh memang deh tidak ada sopannya pada Jimin. Untung Jimin baik hati dan sabar, coba kalau tidak, sudah gulat mereka.
"Aku titip Yoongi ya.."
"Loh kan sudah besar kenapa dititip-titip?"
((Twitch))
"Dengar ya bocah, Yoongi sepertinya sakit tapi dia tidak mau jujur padaku dan malah mengusirku pulang. Jadi, aku menitipkan Yoongi padamu."
Jungkook mengangguk mengerti, mendorong Jimin ke samping karena dia menghalangi jalannya.
"Yah! Aku belum selesai bicara, kau mau kemana?"
"Jim, kau berisik! Pantas Yoongi hyung mengusirmu, pulang sana!" Jungkook berhenti di depan kamar Yoongi, menatap Jimin dengan pandangan 'bawel, berisik, dasar ban– ah sudahlah'
Serius, kalau Jungkook bukan adik sepupu Yoongi dan pacar Taehyung, sudah Jimin ajak gulat sejak kemarin.
"Oke! Aku keluar untuk menemui si alien itu untuk mengajaknya memandang gadis-gadis seksi!"
"Yayaya, pandangilah dada seksi mereka sampai kalian puas." Jungkook menjawab dengan tak acuh, tau benar kalau Jimin tidak akan mengajak kekasihnya untuk melakukan itu. Jungkook membuka pintu kamar Yoongi, memasuki kamar bernuansa elegant itu dengan gerakan berhati-hati. Takut kena semprot Yoongi.
.
.
"Hyung?" Jungkook mendekati Yoongi yang berbaring membelakanginya. Kepala Yoongi menoleh, ia memutar badannya untuk berbaring menatap Jungkook yang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Hyung baik-baik saja?" Jungkook meraih tangan Yoongi, memeriksa denyut nadi kakak sepupunya itu. Sebagai mahasiswa kedokteran yang tengah menuju ke tingkat akhir, dan memiliki kecerdasan melebihi rata-rata, Jungkook cukup menguasai dasar-dasar kedokteran.
"Aku baik-baik saja, beberapa hari terakhir aku tidur larut bahkan tidak tidur sama sekali. Jadi sepertinya aku butuh istirahat."
Jungkook bergerak cepat untuk keluar kamar, dan secara cepat kembali lagi dengan membawa stetoskop di tangannya. Layaknya seorang dokter, ia memeriksa tubuh Yoongi. Bahkan hingga menyingkap baju Yoongi ke atas, yang mana sempat di protes oleh Yoongi.
"Hyung, aku.. Ku rasa kau harus ke rumah sakit."
"Aku hanya butuh istirahat.." Tolak Yoongi halus, merasa tidak perlu ke rumah sakit.
"Kau harus!"
"Jungkook!"
"Hyung!"
"Terserah lah!" Yoongi memutar tubuhnya lagi untuk membelakangi Jungkook.
"Ish! Hyunggggg~~" Jungkook merengek, hyungnya yang satu ini memang... Argh Park Jimin kau 'kok bisa tahan?!
"Berisik Jungkookie... sana keluar dari kamarku."
Menghela napas pasrah, Jungkook mau tidak mau keluar dari kamar Yoongi. Tapi sebelum itu, "pokoknya hyung harus melakukan pemeriksaan!"
Blam!
Jungkook menutup pintu kamar Yoongi dengan kekuatan penuh, cukup kesal karena diabaikan.
"Kenapa juga Park Jimin tidak peka. Huh." Jungkook kembali memasuki kamarnya sambil bersungut dan menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Mulutnya tidak berhenti menyumpah-nyerapahi Jimin. Duh Jeon Jungkookie, salahnya Jimin tuh apa? :")
.
.
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya yang mana di awali Yoongi dengan bolak-balik ke kamar mandi, Jungkook bahkan sudah lelah menyuruh Yoongi ke rumah sakit. Jadi ia hanya memperhatikan Yoongi yang keluar masuk kamar mandi dari dapur, sekalian memasak sesuatu yang bisa Jungkook masak.
Yoongi berjalan lunglai ke arah dapur, mendudukan dirinya di meja makan.
"Jungkook..." Panggilnya lirih, Jungkook menoleh dan mendekati Yoongi.
"Apa aku bilang, hyung sebaiknya ke–"
"Iya! Iya! Aku akan memeriksakan diri." Yoongi beranjak menuju kamar mandi.
"Loh? Mual lagi hyung?"
"Aku butuh mandi Jeon!"
"Ohiyaya.." Jungkook menepuk keningnya pelan, kemudian kembali melanjutkan acara memasaknya.
.
.
Jungkook hampir loncat dari duduknya, suara pintu yang dibanting keras membuatnya terlonjak kaget.
"Hyung?" Jungkook menatap Yoongi yang masuk dengan wajah dingin, kentara sekali hyung nya itu tengah kesal dan siap meledak.
"Jangan. Ganggu. Aku." Penekanan pada setiap ucapan Yoongi membuat Jungkook sedikit takut, tapi bukan berarti ia menghentikan diri untuk bertanya tentang hasil pemeriksaan Yoongi.
"Okay, tapi setidaknya ceritakan padaku tentang hasil pemeriksaannya." Jungkook mengekori langkah Yoongi menuju kamar.
Blam!
Kalau Jungkook tidak berhenti dengan cepat, mungkin hidungnya sudah membentur pintu. Yoongi benar-benar tidak ingin berbicara dengannya.
Bruk!
Bunyi lembaran benda membuat Jungkook secara reflek memutar gagang pintu kamar Yoongi, yang sialnya terkunci.
"Hyung! Kenapa sih?!"
"JIMIN BERENGSEK!" Itu teriakan Yoongi yang disusul bunyi lemparan benda lagi.
"HYUNG!"
"DIAM JEON JUNGKOOK!" Teriakan terakhir Yoongi membuat Jungkook benar-benar diam, mungkin kakak sepupunya memang butuh waktu untuk sendiri. Soal hyung nya yang mengumpati Jimin, Jungkook rasa dia tidak bisa melakukan apapun hingga amarah sepupunya mereda dengan sendirinya.
.
.
.tbc.
hai~ maaf ga bisa update cepet, hehehe
ngomong-ngomong happy ied mubarak ya~
terima kasih buat yang review di chapter 3 kemarin, aku ketawa-tawa bacanya. XD
ohiya, tolong digaris bawahi ya, meriksa orang ga semudah yang ku tulis disini (bagian Jungkook meriksa Yoongi), dan tentunya mahasiswa kedokteran ga semuanya bisa ngelakuin hal ini. Hehe. Yah namanya kan cerita, kalau dibuat se-real mungkin sih bisa, tapikan sejak awal terutama bagian mpreg kan sudah ga real :v
jadi... Tolong dimaklumi ya~
Untung update selanjutnya, mungkin sehari atau dua hari setelah chapter ini rilis. Itu kalau ga ada halangan.
Aku mau nulis nama-nama yang review, tapi karena aku ngetik lewat handphone, itu sedikit menyulitkan dan makan waktu. Maaf ya ga ditulis, tapi ku baca semua kok, walaupun itu cuman review berisi kata 'lanjut.'
Keberatan ga untuk meninggalkan jejak? Thx in advance~
