Hold Me
Chpt 5
Jimin x Yoongi / MinYoon
Rated : M
Genre : Romance, Drama
Warn : Out Of Character, Mpreg.
Pair belongs to God, I just make story of them. So, this story is mine.
I just want to remind you to kindly check my note. Thank you, hope you enjoy the story! ^o^
•••
••
•
"Hyung! Mau sampai kapan kau mengurung diri?!" Suara Jungkook terdengar dari luar kamar, ia menggedor pintu kamar Yoongi dengan kencang.
"Hyung! Ayo keluar, kau harus makan. Setelah itu kau boleh mengurung dirimu lagi, aku tidak akan mengganggumu untuk hari ini." Penawaran Jungkook sungguh membuat Yoongi bimbang, jujur saja Yoongi tidak tahan untuk mendengar gedoran keras yang tidak berhenti sejak kemarin, belum lagi suara Jungkook yang berteriak memekakkan telinganya.
"Setidaknya makan demi anakmu." Jungkook sekali lagi bersuara.
Yoongi merasakan sesuatu seperti menghantam jantungnya, bia menggigit bibirnya yang mulai bergetar dan melangkah menuju pintu dan membuka kuncinya.
Ceklek
Tubuh Yoongi disambut dengan pelukan dari Jungkook, "Jangan mengurung diri lagi, kau harus makan, keluar dan berjalan-jalan." Jungkook tersenyum dengan mata berkaca-kaca, Ibunya berada di belakang Jungkook, memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Umma..." Yoongi menghampiri ibunya dan memeluknya erat, rasanya beban pikirannya sedikit berkurang hanya dengan memeluk ibunya.
"Jungkookie menelpon Ibu, mengatakan kalau anak Ibu mengurung dirinya di kamar selama dua hari. Yoongi ada masalah?" Ibunya menuntun Yoongi untuk duduk di kursi meja riasnya. Meraih bahu Yoongi untuk membuat Yoongi nyaman ketika menceritakan masalahnya. Jungkook masih berdiri, ingin tau juga kenapa Yoongi mengurung dirinya di kamar hingga tidak memikirkan nyawa lain di tubuhnya- Yoongi belum memberitau Jungkook perihal kehamilannya, tapi memang Jungkook yang jenius, melihat gejala dan denyut nadi Yoongi pun sudah cukup jelas bagi calon dokter seperti Jungkook.
.
.
Yoongi duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit, ia baru saja selesai melakukan serangkaian pemeriksaan, bolak balik dari ruangan yang satu ke ruang yang satunya. Salah satu alasan kenapa akhirnya ia mengikuti saran Jungkook untuk menjalani pemeriksaan karena ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya, setiap beberapa menit sekali ia merasakan mual tetapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya, belum lagi bagian perutnya terasa seperti di remas kencang, Yoongi berpikir bahwa dirinya terkena kram perut- tapi itu terus terjadi selama beberapa waktu. Meski kram di perutnya terjadi hanya di saat-saat tertentu namun Yoongi sudah tidak dapat menahannya.
"Tuan Min Yoongi." Perawat itu menyerahkan hasil lab pemeriksaan Yoongi, secarik kertas yang membuat Yoongi menahan napasnya, punggungnya sedikit menegang membaca kalimat di dalamnya. Yoongi tidak takut ketika mereka melakukan serangkaian pemeriksaan pada tubuhnya, ia lebih takut pada hasil pemeriksaannya. Yoongi menguatkan dirinya, sebenarnya ia pun tidak terlalu terkejut dengan hasilnya mengingat dua bulan lalu Jimin benar-benar menggempur tubuhnya dengan hebat.
Yoongi gelisah sepanjang jalan menuju tempat menebus resep yang sempat ia terima, ia bingung untuk memutuskan apakah ia harus langsung memberitaukan berita ini pada Jimin atau tidak. Tapi setelah dipikir-pikir kekasihnya itu harus tau apa yang terjadi padanya. Setelah menerima obat dan mendengarkan dengan baik aturan meminumnya, ia cepat-cepat menuju parkiran dan membawa mobilnya dengan cepat menuju agensi yang mempekerjakan kekasihnya- dan juga dirinya.
.
Dan apa yang dilihat Yoongi sekarang bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuknya, di depan sana dengan mata kepalanya langsung ia melihat Jimin sedang memeluk seorang wanita dari belakang, sambil sesekali membelai setiap inchi tubuh wanita itu dengan gerakan yang cukup sensual.
Yoongi meremas kuat kertas digenggamannya, pola tak berbentuk di kertas yang timbul dari hasil remasannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya ketika melihat Jimin melakukan kontak intim dengan seorang wanita.
Yoongi melempar asal kertas hasil pemeriksaannya, kertas yang menunjukkan bahwa dirinya positif membawa Park junior di tubuhnya. Membawa dirinya menjauh dari tempat itu. Jauh dari Jimin karena yang Yoongi butuhkan saat ini adalah ketenangan.
.
.
"Hyung yakin mereka tidak sedang melatih koreografi?" Jungkook menjadi orang yang lebih dulu bertanya ketika Yoongi menyelesaikan ceritanya, sementara ibunya sendiri masih terpekur diam- hamil? Yoonginya...
Yoongi menggeleng keras, "bagaimana mungkin mereka berlatih di tengah lorong!"
"Yo-Yoongi.. Itu- itu anak Jimin?" Heh' sepertinya kesadaran ibunya sudah pulih.
"Tentu saja Umma, aku hanya bercinta dengan Jimin!" Yoongi merasakan wajahnya terasa panas. Kesal sekaligus malu karena ibunya justru menanyakan hal yang beliau sudah tau jawabannya.
Ibunya melangkah keluar kamar, "Umma! Mau kemana? Setidaknya hibur aku!" Yoongi bersungut sebal, merengek manja pada ibunya yang mulai menjauh.
"Tentu saja menemui calon besan Umma!" Ibunya berteriak dari luar kamar Yoongi.
Yoongi kaget, tidak! Mamanya tidak boleh tau, ia tidak mau mamanya memaksa Jimin untuk menikahinya. Ia tidak mau menikah kalau Jimin terpaksa untuk melakukannya. Yoongi takut, ia berdiri cepat, tetapi ia justru terduduk kembali saat perutnya kembali sakit.
"Ugh.. Jungkook.." Yoongi meremas perutnya, Jungkook buru-buru menarik tangan Yoongi.
"Hyung, jangan meremasnya. Remas tanganku saja, oke?" Jungkook cukup panik, tapi jiwanya sebagai calon dokter memaksanya tenang untuk menangani Yoongi.
"Apa mereka memberimu obat?" Jungkook bertanya cepat ketika Yoongi makin meremas lengannya dengan kuat, 'sakit hueee..'
Yoongi menggeleng, "hanya obat mual.."
"Oke, aku mengerti. Sekarang tarik napas, buang napas, lakukan secara perlahan dan teratur." Yoongi mengikuti instruksi Jungkook, menarik napas dan membuangnya secara teratur, perlahan sakit di perutnya mereda.
"Sudah lebih baik?" Jungkook mengelap keringat di dahi sepupunya ini, "sakit sekali ya hyung?"
Yoongi hanya menggangguk mengiyakan, ia terlalu lemas untuk sekedar mengatakan iya. Belum lagi dua hari ini dia hanya minum air dari botol yang memang tersedia di kamarnya.
"Hyung tidak boleh terlalu lelah, jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu stress, jangan berdiri tiba-tiba, hyung harus mengendalikan emosi hyung. Jangan begadang lagi karena itu tidak baik untuk kesehatan kalian!" Jungkook melarang ini itu seperti sudah ahli, calon dokter masa depan ini terus-terusan menceramahi Yoongi untuk berhati-hati.
"Sekarang makan ya? Aku sudah membeli bubur dan sup untuk Hyung." Jungkook menarik pelan tubuh Yoongi, menuntunnya menuju dapur dan mendudukan Yoongi di bangku meja makan yang sudah terisi dengan makanan.
"Hyung harus makan yang banyak!" Seru Jungkook dengan kencang.
"Bawel!" Hanya satu kata dari Yoongi dan itu berhasil membuat Jungkook menutup mulutnya dengan rapat. Uh, Jungkook sebal punya sepupu seperti Yoongi.
Keheningan itu hanya berlangsung semenit karena telepon rumah mereka berdering, Jungkook dengan cepat mengangkatnya.
"Hallo? Yoongi, ini aku Jim-
Jungkook langsung menutup telponnya, oh.. itu gerakan reflek. Serius. Ia hanya tidak menyangka kalo kekasih sepupunya yang menelpon.
"Siapa Kook?"
"Eer.. Agen asuransi. Iya, agen asuransi" Yoongi tidak percaya- tapi ia tidak peduli kalau Jungkook berbohong. Jungkook memukul jidatnya pelan, kenapa juga ia harus berbohong.
"Hyung, lalu bagaimana dengan Jimin? Masa Hyung tidak memberitahukan kehamilan Hyung? Nanti kalo keponakanku tidak punya ayah bagai–" Jungkook menelan kembali kalimatnya, Yoongi yang menatapnya tajam membuat ia gemetar.
"Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anakku!" Mulut Jungkook sudah akan terbuka lagi-
"Diam Jeon Jungkook, aku hanya ingin makan dengan tenang."
Jungkook hanya mengerucutkan bibirnya sebal, punya sepupu seperti Yoongi memang wajib sabar, sebentar-bentar lembut, sedetik kemudian garang seperti barongsai. Kalau bukan sepupu, sudah Jungkook tenggelamkan di kolam plastiknya. Ah tidak, tidak, itu tindakan kriminal.
..
..
"Hallo? Kau dimana? Ayo bertemu!"
"Sedang sibuk, tidak bisa sekarang"
"Pokoknya sekarang! Aku tidak suka dibantah Kwon Jiyoung!"
"Suaramu ituloh Yubin, astaga gendang telingaku. Aku sedang di butik."
"Baik, aku akan ke butikmu!" Yubin- ibu Yoongi, menutup handphone flip nya, dia tidak sabar untuk mengacak-acak butik milik calon besannya. Ia menyeringai sebelum menyuruh supirnya untuk melajukan mobil ke butik calon besan sekaligus sahabatnya itu.
..
..
"Hai Chim!" Jhope menyapa Jimin dengan riang, "tau gosip terbaru tidak?" Ia bertanya seolah Jimin peduli pada gosip yang beredar di sekelilingnya.
"Hmm? Ani.." Jimin melepas converse nya, menggantinya dengan pantofel karena ia akan ke kantor ayahnya siang ini.
"Min Yoongi- incaranmu kan?"
Jimin mendongak, mengiyakan melalui tatapan, orang-orang di agensi masih tidak ada yang tau kalau ia dan Yoongi menjalin hubungan. Yoonginya tidak suka bila orang-orang di agensi mengetahuinya, karena itu mengganggu ke professional annya.
"Katanya Min Yoongi hamil!" Jhope berseru cukup kencang, orang-orang yang masih berada di dalam ruangan itu sampai melihat ke arah mereka.
Gerakan tangan Jimin yang akan menalikan tali pantofelnya terhenti, "a-apa? Hyung bilang apa?"
Jhope berdecak, "Gosipnya Min Yoongi sedang hamil, dan tidak ada yang tau siapa yang berhasil memiliki Yoongi."
"Yoongi– Yoongi yang 'itu'?" Jimin memastikan sekali lagi, dadanya berdebar kencang.
"Iya yang itu, yang terakhir kita lihat rambutnya berwarna mint. Yang sering kau tatap dengan mata kecilmu setiap kita bertemu dengannya."
"Jangan membual hyung.." Jimin berdesis, kalau gosip itu benar, kenapa Yoongi tidak memberitaunya? Ia baru sadar sudah dua hari ini Yoongi tidak mengabarinya.
"Aku tidak membual! Cleaning service kita menemukan kertas hasil pemeriksaan Min Yoongi di lorong, kertasnya kusut- tetapi masih bisa dibaca. Sepertinya dia kesal sehingga meremas kertas itu dengan kuat."
"Di.. Lorong?"
"Iya lorong, lorong dekat tempat kita latihan bersama penyanyi soloist itu. Oh hei- kau menjadi main dancer nya kan?"
"Kapan?" Dada Jimin makin berdebar.
"Apanya?"
"Mereka menemukannya?! Damn!"
"Hei, calm bro, kenapa sih? Mereka menemukannya dua hari lalu."
"Shit!" Jimin berlari keluar dengan tali pantofel yang belum terikat dengan benar, berlari kesetanan meninggalkan Jhope yang mengangkat alisnya heran.
"Kenapa sih dengan anak itu?" Kerutan di dahi Jhope menghilang, tergantikan senyum lebar ketika handphone nya berbunyi dan menampilkan 'Suwoongie is calling...'
.
.
.
Jimin menyetop taksi karena hari ini dia tidak membawa mobil, memberitau alamat apartemen Yoongi pada supir dan memintanya bergegas.
Tangan Jimin sibuk mencoba mendial handphone Yoongi- yang dijawab oleh operator yang mengatakan nomer Yoongi sedang tidak aktif. Sial! Dia sudah dapat menebak, dua hari lalu Yoongi pasti mendatanginya, dan sial– dia memang sedang mempraktekan koreografi yang intim dengan penyanyi soloist itu. Yoongi pasti melihatnya dan salah paham.
Jimin mencoba menelpon telepon rumah Yoongi, pada bunyi sambungan ketiga, telponnya diangkat, Jimin lega, setidaknya ia masih memiliki harapan bahwa Yoongi tidak benar-benar marah.
"Hallo? Yoongi, ini aku Jim-"
Tut tut tut.. Shit!
..
..
"Jiyoung~~~" Jiyoung mendesis kesal, suara kencang Yubin selalu memekakkan telinganya, heran deh.. Kok dia bisa betah berteman dengan spesies seperti Yubin.
"Berisik tau!" Jiyoung menutup sketch nya kasar, "mau apa hah?" Jiyoung berkacak pinggang, nada bicaranya seakan ingin mengajak Yubin untuk berperang.
"Kapan Jimin akan melamar Yoongi? Aku tidak mau cucuku lahir tanpa status pernikahan di antara mereka." Yubin berbicara to the point, tidak peduli kalau Jiyoung semakin ingin membungkam mulut Yubin.
"Cucu yang mana maksudmu heh? Jimin bilang sih bulan depan."
"Uri Yoongi sedang mengandung anak Jimin."
"A-APA?! DAMN, KENAPA OMONGANKU BENERAN JADI KENYATAAN?! YUBIN-AH, BAGAIMANA INI?!"
"Loh kok malah panik?" Yubin mendudukan dirinya di hadapan Jiyoung.
"LOH KOK KAU SANTAI?!" Jiyoung berteriak, gentian Yubin yang rasanya ingin menyumpal mulut Jiyoung.
"Ya mau bagaimana lagi.. Kalau aku omeli juga sudah terlanjur kejadian. Mulutku hanya berbusa sia-sia."
"Kau tidak tau seberapa murkanya aku melihat Jimin menggagahi Yoongi! Anak itu.. Benar-benar.. Duh kepalaku pusing, rasanya aku akan cepat menua.. Aduh.."
Yubin memutar matanya, mulai lagi deh Jiyoung si drama queen.
"Yubin, ayo siapkan pernikahan mereka!" Jiyoung tiba-tiba berseru, mengagetkan Yubin.
"Apa? Jimin saja belum melamar Yoongi!"
"Tidak apa-apa! Pokoknya setelah Jimin melamar, tidak perlu ada pesta pertunangan, kita langsung nikahkan mereka!" Jiyoung berdiri dengan semangat, menatap Yubin dengan seringai.
Yubin menimbang-nimbang, memangnya anak mereka mau begitu saja menerima apa? Apalagi Jiyoung pasti ribet ini-itu, pokoknya—
Jiyoung melotot, seakan tau apa yang ada di pikiran Yubin.
"A-a.. Oke oke, aku ikut rencanamu."
Yubin menyerah, mengikuti rencana Jiyoung akan lebih baik daripada menolaknya dan mendapat terror bertubi-tubi setiap harinya.
..
..
Bel apartemen Yoongi berbunyi- yang mana sama sekali diacuhkan oleh dua orang yang sibuk bermain game.
"Hyung, buka sana!" Jungkook dengan tidak tau dirinya memerintah Yoongi yang masih fokus menatap character yang ia mainkan.
"Kurang ajar! Sana kau yang buka!" Yoongi menendang betis Jungkook dengan kencang. Mau tidak mau Jungkook mengalah, melangkah ke pintu dan membukanya.
Mata Jungkook terbuka lebar, "Tae Hyung?!" Jungkook menarik lengan Taehyung dengan cepat, membawanya masuk ke ruang tamu dimana Yoongi masih asik bermain dengan konsol PS4 nya.
"Loh, Yoongi hyung di rumah? Biasanya di studio." Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan bertanya.
"Err.. Hyung sedang liburan. Iyakan hyung?" Jungkook menyenggol kaki Yoongi, hanya dibalas gumaman oleh Yoongi.
"Oh, ku pikir sekarang sedang sibuk. Soalnya Jimin juga sibuk, apalagi soloist wanita yang-
Brak!
Suara bantingan yang kencang membuat Taehyung bergidik ngeri, Yoongi membanting konsolnya kesal.
"Ada apa dengan wajah kalian?! Aku hanya kalah main!" Yoongi mendorong tubuh Taehyung agar menyingkir dari jalannya, Taehyung yang didorong sih hanya melongo.
"Yoongi hyung sedang pms ya?" Celetuk Taehyung asal.
"Aku mendengarmu Kim Taehyung!" Yoongi berteriak menuju kamarnya.
"Bukan, tapi Yoongi hyung sedang hamil, mood nya jadi labil deh. Mood swing nya parah." Jungkook berbisik lirih, Taehyung hanya menangguk-anggukan-
"WHAT?! HAMIL?!" Taehyung berteriak kaget, membekap mulutnya sendiri karena ia sendiri terkejut dengan teriakkannya.
"BERISIK KIM ALIEN TAEHYUNG!"
"Hyung! Jangan berteriak! Kontrol emosimu!" Jungkook membalas teriakkan Yoongi dengan teriakkan juga, jadilah mereka bersaut-sautan dengan suara kencang. Ya Tuhan tolong lindungi gendang telinga Taehyung, dan sabarkanlah tetangga apartemen Yoongi.
"Kook, kok bisa?"
"Apanya?"
"Itu loh Yoongi hyung.. Kok bisa.. Tekdung?"
"Bisalah! Kan digagahi sama Jimin." Jungkook melengos, menuju dapur untuk membuatkan Taehyung minum.
"Loh tapikan-
"Kim Tetet berisik! Mau aku sumpal pake lap?!"
"Maunya disumpal pake bibir kamu, mumumu–
–Aw!" Itu teriakan Taehyung karena Jungkook mencubit pinggangnya dengan kencang.
"Bawel deh!"
"Kok kamu jahat sih say sama aku?"
"Jijik hyung, jijik.." Jungkook mengernyit melihat aegyo Taehyung, lucu sih, tapi ya enek juga kalo bibirnya taehyung monyong monyong minta di gaplok sendal.
.
.
.
Ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong
Lagi-lagi bel apartemen Yoongi berbunyi, yang ini ganas. Memencet bel seperti kesetanan.
"Ih sebel deh, besok bel nya ku copot juga nih!"
"Loh, loh, jangan dong. Masa nanti aku harus gedor-gedor pintu kalo mau main."
"Berisik sih. Udah sana hyung yang buka, aku capek abis dijadiin samsak sama Yoongi hyung." Jungkook meluruskan kakinya, celana pendek yang ia gunakan tertekuk sehingga hanya menutup setengah pahanya. Duh, Taehyung mau sih ngebukain pintu, tapi kalo di hadapannya ada fanservice gratis dari kekasihnya, gimana?
Ting tong ting tong
"Ish sana buka pintunya hyung!" Jungkook mendorong Taehyung, 'yah.. Sayang sekali kan jadi mubazir' pikir Taehyung.
"Siapa?" Berbeda dengan Jungkook yang langsung membukakan pintu, Taehyung malah bertanya terlebih dahulu.
"Jimin."
"Jungkook, di luar ada Jimin!" Taehyung berseru kencang.
"Buka-
"JANGAN DIBUKA!" Yoongi berteriak dari dalam kamarnya, astaga, mungil-mungil suaranya kencang sekali.
"Tuh Jim, dengar kan? Kata Yoongi hyung jangan dibuka." Taehyung berbicara dengan Jimin melalui saluran suara di sebelah pintu apartemen Yoongi.
"Yah! Tae- sebentar saja.. Please.. Aku harus menemui Yoongi"
"Sebentar ya, aku tidak mau kena amuk dua kali sama mas-mas yang lagi hamil muda."
Jimin menegang, jadi Yoongi benar-benar sedang hamil? Tapi kenapa malah alien aneh ini yang tau duluan.
"Yoongi hyung, kata Jimin cuman sebentar. Palingan numpang pipis." Taehyung berteriak kencang, Jungkook yang mendengarnya hanya terkikik geli, duh kekasihnya emang kelewat ajaib. Yakali Jimin kesini hanya untuk numpang pipis.
"TIDAK! POKOKNYA TIDAK! KALAU KAU SAMPAI MEMBUKAKAN PINTU UNTUK JIMIN, AKU BERSUMPAH KAU TIDAK AKAN BISA MENDATANGI PERNIKAHANMU SENDIRI TAE!"
"ASTAGA HYUNG! Ku bilang berhenti berteriak! Itu tidak baik untuk janinmu!"
"Tuuhkan Jim, aku tidak berani membukakan pintu untukmu. Sudah ya, dah~~~" Taehyung melenggang menuju ruang tamu, mengabaikan erangan kesal Jimin. Taehyung menghampiri Jungkook yang memijat keningnya frustasi, kakinya masih dalam posisi yang sama seperti tadi. Taehyung membawa kaki Jungkook ke pangkuannya, memijatnya pelan.
"Capek ya? Aduh kasihan pacarku ini"
Plak! Jungkook memukul tangan Taehyung yang awalnya memijat betisnya justru makin merambat ke paha Jungkook.
"Modus!" Cibirnya kesal.
"Biarin, modus gini juga kamu suk-
Ting tong ting tong ting tong ting tong
"Argh! Aku benar-benar akan mencabut bel di apartemen ini!" Jungkook bangkit menuju pintu, memasukkan password dan- klik, terbuka. Apartemen Yoongi kan menggunakan password- percuma juga sih tadi kalo Taehyung yang dia perintah, mana tau Taehyung password apartemen Yoongi.
"Sana masuk, kelakuanmu udik tau ga." Jungkook melengos, kembali ke ruang tamu. Aduh, cekit-cekit, dikatain udik sama remaja usia 21 tahun:")
"Yoongi hyung di kamar Jim!" Jungkook berteriak, Jimin bergegas melepas pantofelnya, tidak lupa menutup pintu apartemen Yoongi.
"JUNGKOOK BOCAH KURANG AJAR! KAU MEMBUKAKAN PINTU UNTUK JIMIN?!" Yoongi berteriak dari dalam kamarnya.
"ASTAGA HYUNG! AKU BILANG JANGAN BERTERIAK! LAGIPULA SIAPA YANG TAHAN MENDENGAR BEL DIPENCET KESETANAN OLEH ORANG GILA?!"
Taehyung tertawa kencang, secara tidak langsung kekasihnya mengatakan Jimin adalah orang gila.
"Uh, serius deh, kalau bukan sepupu sudah ku ajak gulat dari tadi!" Jungkook memutar badannya, kakinya yang tadinya berada di pangkuan Taehyung berpindah. Jungkook lebih memilih kepalanya yang berada di pangkuan Taehyung.
"Cupcupcup, masa kakak sepupunya mau diajak gulat- nanti kalau Yoongi hyung keguguran bagaimana?"
Jungkook memukul perut Taehyung, "ish! Aku kan hanya bercanda! Mana tega sih gelut sama sepupu sendiri. Mending aku geluttin kamu."
Taehyung tersenyum, mengelus surai hitam Jungkook yang terasa sangat halus di tangannya.
"Ekhem.." Jimin berdehem keras, meminta atensi dari pasangan di hadapannya.
"Duh, Jimin ngapain sih? Gabisa ya ga ganggu kami? Sudah syukur aku mau bukain pintu."
"Sebenarnya.. salahku itu apa sih?" Jimin berusaha memastikan kesalahan yang ia perbuat, jujur Jimin masih sedikit ragu kalau Yoongi benar-benar melihatnya. Kenapa Yoongi tidak menghampirinya? Apa karena ada orang lain disana? Atau Yoongi marah karena hal lain?
Jungkook memutar menatap Jimin, "loh kok tanya aku? Tanya dirimu sendiri dong–
ih hyung, jangan berhenti mengelus rambutku. Elus lagi!"
"Iya, iya, bunny ku yang cerewet. Jim, ku pikir kamu bakal mati deh kalo masuk ke kamar Yoongi hyung sekarang." - Taehyung
Jleb.
"Astaga Tae.. Kalo ngomong.. Suka bener." - Jungkook
Jleb. Jleb.
"Apalagi Yoongi keadaannya lagi beg–
Brak! Yoongi membuka pintu kamarnya dengan kasar, berjalan cepat ke arah kamar mandi, melewati tiga orang yang memandangnya dengan raut berbeda-beda.
"Hoek.. Hoekk.."
Air dari keran wastafel terdengar mengalir, tiga pasang mata di ruang tamu itu terdiam mendengar suara Yoongi yang terus menerus muntah.
"Jung, sejak kapan Yoongiku begitu?"
"Ehm.. Seminggu lalu, kayaknya sih- pasalnya 'kan seperti yang kau tau, aku juga baru pindah kesini seminggu yang lalu."
"Selalu begitu, kook?"
"Iya, malah kadang tiap–
"Hoekk..."
–menit." Wajah Jimin berubah pias, baru tau keadaan kekasihnya.
"Jim, jangan bilang kau benar-benar tidak tau kalo Yoongi hyung sedang hamil?" Taehyung menunjuk wajah Jimin dengan raut menuduh.
"Hoek.. Jungkook.." Yoongi memanggil Jungkook dengan lirih, mualnya benar-benar datang di saat yang tidak tepat.
Jimin menggeleng, "aku benar-benar tidak tau."
"Lalu kalau masalah yang di-
"Jungkook!" Jungkook buru-buru bangkit saat mendengar Yoongi memanggilnya.
"Hyu-hyung sudah merasa lebih baik? Masih mau muntah lagi?"
"Mual..." Yoongi merengek, mencengkram ujung wastafel.
"Hyung pasti belum minum obatnya kan? Ayo, kita kembali ke kamar." Jungkook menuntun Yoongi untuk kembali ke kamarnya.
"Yoongi..." Suara lirih Jimin menghentikan langkah Yoongi.
"Aku tidak mau melihat Jimin!" Yoongi yang memang tidak setinggi dan sebesar Jungkook menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Jungkook.
"Oh ayolah hyung, sudah ya marah sama Jiminnya.. Marahnya ditunda dulu."
"Tidak mau! Pokoknya sebal, aku kesal melihat Jimin!"
Jimin yang mendengar ucapan Yoongi hanya mendesah pasrah, Yoongi kalau sudah ngambek memang susah dibujuk. Harus ditunggu hingga marahnya reda, biasanya sih butuh seminggu- malah pernah dua minggu.
"Nanti kalo Jiminnya ikut kesal, lalu pergi bagaimana? Nanti baby tidak punya ayah, hyung juga nanti tidak bisa melihat Jimin lagi. Lalu Jimin menikah dengan orang lain deh, membentuk keluarga bahagia dengan wanitanya-"
"Hiks... Hiks.." Yoongi terisak, aduh aduh.. Yah Jungkook kelewatan ya? Kok Yoongi malah menangis sih, aduh..
"Mau Jimin.." Cicit Yoongi pelan di antara isakannya.
"A- apa? Hyung mau apa? Cimin?"
Taehyung tertawa kencang mendengarnya.
"Jimin! Jimin! Mau Jimin!" Yoongi menghentak-hentakkan kakinya.
"O-oh.. Jimin. Oke, kita ke kamar dulu ya. Nanti aku suruh Jimin menyusul."
Yoongi menggeleng, "mau sekarang!" Oh, hebat kau Jeon bisa membuat Yoongi langsung berubah pikiran.
Jimin bangkit dari duduknya, menghampiri Yoongi yang sudah mencak-mencak di tempat.
"Duh, iya, iya. Tuh pangeranmu tuh. Tadi saja nolak-nolak, giliran dibilang–
Jimin menyenggol kakinya, memberi kode 'sebaiknya jangan lanjutkan ucapanmu'
"Yuk, sama Jimin.." Jimin menarik pinggang Yoongi, dan hap–
mengangkat tubuh Yoongi ke kamar.
"Jim, letak obatnya tanya Yoongi hyung ya! Minumnya sudah ada di atas lemari nakas tempat tidur!" Jungkook berseru sesaat sebelum Jimin membawa Yoongi ke kamar.
"Duh pacarnya Taehyung pasti lelah, sini-sini.." Taehyung menepuk kedua pahanya, meminta Jungkook berbaring disana. Tapi bukannya berbaring, Jungkook malah duduk di pangkuan Taehyung, ia menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung.
"Duh manjanya pacar hyung.."
"Pelukkk~~~"
"Iya-iya my bunny kookie" Taehyung gemas, melingkarkan tangannya untuk memeluk Jungkook.
"Kook.."
"Hhmm?"
"Besok jangan nge gym lagi, masa otot tanganmu lebih besar dari hyung." Jungkook terkekeh, mengiyakan saja agar Taehyung berhenti komentar.
.
.
"Obatnya dimana?" Jimin langsung bertanya to the point setelah ia menurunkan Yoongi di kasur.
"Di lemari nakas yang paling bawah.." Yoongi memejamkan matanya, mualnya masih terasa. Jimin membuka bungkus obatnya, mengambil air dan menyodorkannya ke Yoongi.
"Minum dulu, baru nanti tidur lagi." Yoongi menurut, dengan cepat menenggak obatnya, meminum air walau hanya seteguk. Membuerikan gelasnya pada Jimin.
"Minum lagi Yoongi.." Yoongi menggeleng, menutup mulutnya.
"Mual Jim.. Mau muntah."
"Baiklah, tidak usah." Jimin menaruh gelasnya di atas nakas kemudian mengusap pipi Yoongi dengan ibu jarinya.
"Yoongi mau cerita kenapa marah padaku?"
"Yoongi melihat Jimin memeluk seorang wanita.."
"Yoongi masih mau mendengar penjelasanku tidak?"
Yoongi menggeleng, "tidak. Jimin pasti bilang kalau sedang berlatih. Dulu juga begitu, dengan BoA nuna, Hyuna nuna, Ayeon nuna, Hyo-"
Jimin menghentikan ucapan Yoongi dengan bibirnya, ia mencium Yoongi dengan lembut, menghisap bibir Yoongi dan menggigitnya pelan, meminta Yoongi untuk membuka mulutnya- rasa obat. Tapi Jimin tidak peduli, ia mengeksplor mulut Yoongi dengan lidahnya, Jimin kembali menghisap bibir Yoongi, seolah-olah ingin memakan habis bibirnya.
"Euhmm.. Jiminnhh.. Na..paasss" Yoongi mendorong bahu Jimin, menghentikan ciuman Jimin yang mencuri oksigennya.
"Jimin! Keponakanku belum lahir! Jangan membuat yang baru lagi!" Itu suara Jungkook, membuat Jimin terkekeh pelan. Yoongi merasakan wajahnya memanas, adik sepupunya memang tidak ada sopan-sopannya.
Yoongi menepuk ranjang di sampingnya, meminta Jimin ikut berbaring bersamanya.
"Jim, elus.." Jimin menggerakkan tangannya ke surai Yoongi yang masih berwarna mint.
"Bukan rambut.." Yoongi merengek, loh biasanya kan yang dielus memang rambut Yoongi.
"Perut Jim..." Yoongi mengarahkan tangan Jimin ke perutnya, "elus. Pokoknya mau dielus sampe tidur."
Jimin tersenyum, mengelus perut Yoongi dengan lembut. Titah Min Yoongi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh Jimin.
"Jangan berhenti sampai aku tidur!"
"Iya sayang.." Jimin mengecup kening Yoongi, "ayo pejamkan matamu dan beristirahat."
Yoongi menurut, memejamkan matanya, jatuh tertidur dengan cepat selama Jimin mengelus perutnya.
"Aku benar-benar mencintaimu Min Yoongi.." Jimin berhenti mengelus, mendaratkan ciuman lembut di perut Yoongi. Jimin merasa sangat bahagia tapi ia tidak mengerti bagamaina cara mendeskripsikan kebahagiaannya namun Jimin tak mau ambil pusing, jadi ia memilih memeluk pinggang Yoongi dan ikut pergi ke alam mimpi.
.
.
-Bersambung-
^ kemarin ada yang ngeluh karena ada tulisan tbc, sekarang diganti deh jadi bersambung. Haha :)))
Maaf buat tulisan yang berantakan, bahkan ada typo dan idenya pasaran. Ku sudah berusaha meminimalisir kesalahan u,u
Ini words nya hampir 4k loh, tega ga review? U_U")
tega buat nge review lanjut doang? Etapi makasih loh walau cuman 'next' doang. Muehehe~~
tega buat nge fav dan fol doang? Eh tapi ini ga maksa review loh ya, cuman kan ya... Ku butuh komentar juga. Siapa tau ngebantu buat kelancaran chapter selanjutnya.
pssst, makasih buat yang sudah fav, fol dan terutama yang ngasih review di chapter empat : Pregnant?
Yoongiena • Rizuku • Jimsnoona • A Y P (Guest) • Hanvc • Bornsinger • Reny245 (Guest) • Reginacitraramadani • Reallyoungest • Restika dwii07 • SiscaMinstalove • Pinkerbell97 • XiayuweLiu • MinJiSu • MiniMinyoonMini • Minyoonlovers • Dessy574 • GithaAC
p.s. Numpang promo ya. Kalau ada yang mau baca oneshoot MinYoon, bisa check akun ku breathinginlove, rencananya nanti akan ku isi dengan oneshoot pair lain.
.
.
Makasih loh mau ngasih attention ke note yang luar biasa panjang ini.
Feel free to give review? Thx in advance~~^.^
