Hold Me

Chpt 6

Jimin x Yoongi / MinYoon

Rated : M

Genre : Romance, Drama

WARN : MATURE, OUT OF CHARACTER AND MPREG

Pair belongs to God, I just make story of them. So, this story is mine.

•••

••

Drrrt drrtt drrtt

Suara getaran handphone di atas meja nakas memaksa Jimin untuk membuka mata, Jimin mengerjap pelan, memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan angka empat. Memandang tangannya sendiri yang masih nyaman bertengger di pinggang milik kekasihnya, ia makin mengeratkan pelukannya dan seakan enggan untuk melepasnya.

Drrtt ddrrrtt drrtt

"Jim, ponselll..." Suara Yoongi yang ikut merasa terganggu dengan bunyi getaran handphone miliknya membuat Jimin terpaksa melepas pelukannya, ia meraba meja nakas untuk mengambil handphone nya.

Dahinya mengerut melihat ID call di layar ponselnya, 'Appa is calling..'

"Hallo, Appa?"

"..."

"Aku tidak jadi kesana karena sedang bersama Yoongi."

"..."

"Tidak! Aku tidak melakukannya, aku hanya sedang tidur bersama Yoongi– maksudku benar-benar tidur." Jimin buru-buru memperjelas ucapannya ketika mendengar suara tawa menggoda dari sebrang, maksud Jimin kan benar-benar tidur, bukan 'tidur' yang itu.

"..."

"Ya Appa, aku mengerti. Nanti malam aku ke rumah bersama Yoongi."

"..."

"Iya, aku juga menyayangimu." Sambungan itu terputus, setelah menaruh telepon genggamnya lagi di atas nakas, ia kembali menghadap ke Yoongi yang sudah terjaga dari tidurnya, memeluk pinggangnya lebih erat dari sebelumnya. Yoongi memutar diri, menyamping menghadap Jimin yang kini mulai menelusuri wajahnya dengan telunjuk.

"Kekasihku manis sekali, baru bangun saja tetap manis." Jimin menarik pelan hidung Yoongi, ia merasa gemas melihat wajah bangun tidur kekasihnya.

"Jim, aku masih mau marah. Aku kesal."

"Duuh, sugar.. sudah ah marahnya. Ada yang lebih penting dari itu.." Jimin memberi kecupan pelan di bibir Yoongi, tapi namanya Jimin maka kecupan itu datang berkali-kali dari kening hingga kembali ke bibir. Tak ada bagian wajah Yoongi yang lolos dari kecupan Jimin, bahkan Jimin merasa ia bisa mengulang kegiatan itu sampai Yoongi muak dan membentaknya.

"Sudah berapa lama Yoongi?" Suara Jimin yang berubah serius membuat Yoongi terdiam untuk sejenak.

"Apanya?"

"Kau tau apa yang ku maksud.." Jimin mengelus perut Yoongi dengan pelan, namun matanya tetap memandang ke arah Yoongi yang kini menyembunyikan wajahnya di dadanya, menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Jimin dengar dengan jelas.

"Aku tidak bisa mendengarmu.." Protesan Jimin membuat Yoongi mengerang kesal, ia cukup malu dengan pertanyaan sederhana dari Jimin.

"Enam minggu! Ku bilang usianya enam minggu."

"Ah syukurlah, untung bukan empat.." Helaan napas lega dari bibir Jimin membuat Yoongi menatapnya dengan tatapan tak mengerti.

"Memang tidak ingat sebulan lalu ngapain?" Jimin menyeringai, seringai yg memaksa Yoongi mengingat kejadian sebulan lalu.

..

"Boleh minta balasan?"

Yoongi mengangguk dengan cepat, anggukan yang akan segera disesalinya.

Jimin menariknya menuju lantai 5, lantai ini adalah tempat menyimpan alat-alat musik dan perlengkapan sound yang lain.

"Jim, kau mau apa?" Yoongi merengut menatap Jimin di depannya, tangan Jimin yang menariknya mengharuskannya untuk terus mengekori Jimin.

"Ja-jangan bilang kau.." Yoongi melotot horror, Jimin menariknya menuju kamar mandi.

Jimin menarik bungkusan yang berada di tangan Yoongi dan menaruhnya di dekat wastafel.

Ia berbalik, menyeringai setan dan mendorong tubuh Yoongi ke tembok, ia memenjarakan kekasihnya yang menatapnya was-was dengan kedua tangan.

"Mau mencoba quick sex? Aku belum pernah mencobanya sambil berdiri.." Jimin berbisik dengan suara berat di telinga Jimin, Yoongi bergetar merasa tergelitik dengan hembusan napas Jimin.

"Ji-Jim, ini masih di kantor.." Yoongi berontak, berusaha mendorong tubuh Jimin yang menahannya. Mungkin kalau bukan di kantor ia tidak akan protes, memang sih toilet di lantai ini jarang di datangi tapi kan–

"Jim!" Jimin memegang tangan Yoongi yang terus mendorongnya, dengan beringas ia mencium bibir Yoongi yang pada akhirnya membuat Yoongi pasrah dan menerimanya begitu saja.

"Jim, Ta-tanganmu.. Aahh.." Yoongi mendesah tak tertahan, tangan Jimin yang bermain-main di putingnya membuatnya ikut terangsang.

"Jadi, mau dilanjutkan?" Jimin tersenyum penuh kemenangan melihat Yoongi yang dengan pasrah mengangguk. Ia mengangkat tubuh Yoongi menuju salah satu bilik dan mendudukannya.

"Yoongi, bukakan.." Yoongi bisa melihat junior Jimin yang mendesak meminta dikeluarkan dari celana yang membungkusnya. Dengan tangan bergetar ia memegang ikat pinggang Jimin, Yoongi mencoba membukanya dengan cepat karena Jimin juga mulai membukakan celana miliknya juga, mereka sama-sama terangsang.

"Jim, su-susah.. Ahh.. He-hentikan.." Gerakan Yoongi yang berusaha membuka kancing celana Jimin terhenti, Jimin benar-benar sialan, Yoongi bahkan belum berhasil melepas celana Jimin tetapi kekasihnya justru sudah berhasil menarik celana miliknya turun ke bawah, bahkan Jimin bermain di paha dalam yang putih nan mulus miliknya.

"Aah.." Gerakan tangan Jimin yang membelai kejantanan Yoongi membuatnya mendesah tak tertahan.

"Sudah tak sabar sayang?" Jimin menyeringai, ia akhirnya membuka celana miliknya sendiri. Ia bisa melihat adik kecilnya mengeras dan siap untuk masuk ke sarang hangatnya. Tapi masalahnya adalah apakah manhole Yoongi sudah siap.

Tangan Jimin menarik Yoongi untuk berdiri, ia membalikkan tubuh Yoongi. Bongkahan mulus menyapa matanya, Yoongi memekik pelan karena Jimin meremas bokongnya. Ia menahan napas saat jari-jari Jimin menari disana, menyusuri tiap jengkalnya.

"Yoongi, aku sudah bilang kan kalau aku ingin mencobanya sambil berdiri? Boleh ku coba?" Yoongi mengangguk, tak ingin protes lagi atas apa yang akan Jimin lakukan.

Yoongi lagi-laki memekik, Jimin memasukkannya dengan sangat cepat, dan memaju-mundurkan miliknya dengan sangat cepat juga hingga Yoongi tidak bisa untuk tidak mendesah. Permainan mereka berhenti setelah Yoongi bisa merasakan sesuatu menyembur di dalam sana, hanya sekali dan Jimin sudah mengeluarkan miliknya. Yoongi terduduk, meraup banyak oksigen seakan ia baru saja menahan napas.

Jimin keluar dari bilik toilet sambil membenarkan ikat pinggangnya, sementara Yoongi masih terduduk lemas.

"Kau menyebalkan!" Yoongi menggerutu sebal.

..

"Kau menyebalkan!" Itu kalimat pertama yang Yoongi ucapkan setelah mengingat kejadian sebulan lalu ketika mereka melakukannya di toilet kantor. Kalau bukan karena Kumamon limited edition yang Jimin berikan, mana mau Yoongi melakukannya di kantor.

"Nahkan. Untungnya dia sudah ada disana saat kita melakukan quick sex,coba kalau dia muncul karena quick sex itu..."

"Memangnya kenapa?" Yoongi menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Ya masa aku harus menjelaskan kalau dia dibuat saat kita melakukannya di toilet, bukan di atas ranjang." Ungkap Jimin blak-blakan, ucapan Jimin membuat Yoongi memukulnya dengan bantal dan mendorongnya menjauh. Yoongi merasa kesal sekaligus malu dengan ucapan Jimin.

"Minggir sana!"

"Aw!" Suara erangan sakit terdengar dari mulut Jimin, Yoongi mendorongnya dari kasur hingga jatuh ke lantai.

"Kok kamu kasar banget sih?" Jimin berdiri dan mengusap bagian belakangnya yang sakit.

"Bodo." Yoongi keluar dari kamar untuk menuju ruang tamu dan menemukan Jungkook dan Taehyung yang tertidur di sofa dengan saling memeluk satu sama lain.

"Romantis ya, kita kapan begitu.." Jimin tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Yoongi.

"Apanya?" Yoongi pura-pura bodoh dan tidak mengerti.

"Tau ah.." Jimin mendengus, mencibir Yoongi yang berpura-pura tak paham. Yoongi berbalik, menatap wajah Jimin yang pura-pura memasang wajah ngambek.

"Memangnya mau baby tertindih?" Ucapan Yoongi membuat Jimin mempertemukan kening mereka.

"Ya setelah baby lahir kalau begitu.." Ia mengecup kilat bibir Yoongi dan menariknya menuju dapur.

"Makan yuk, mau makan apa? Biar aku yang memasak.."

"Maunya cheesecake."

"Yoongi..."

"Jimin..."

"Haish!" Jimin mengusak rambutnya kesal, merasa gemas dengan Yoongi.

"Tidak ada cheesecake untuk hari ini." Putus Jimin langsung.

"Aku maunya cheesecake!"

"Sayang..."

"Cheesecake!"

"Hyung berisik! Kenapa tidak dibelikan saja sih Jim?!" Itu suara Jungkook yang berteriak dari ruang tamu, Jimin menatap Yoongi yang memelas. Bukannya Jimin tidak mau membelikan sih, tapi masa iya anaknya hanya menerima asupan cheesecake yang tidak sepenuhnya sehat itu.

"Oke, aku bisa beli sendiri!" Melihat Jimin yang terdiam membuat Yoongi merasa kesal, dirinya segera berbalik menuju kamar namun dengan cepat Jimin menariknya.

"Oke, oke, aku belikan. Setelah itu kita ke kantor Appa. Bagaimana?"

"Papa sudah di Seoul?" Yoongi berubah antusias, matanya berbinar senang. Oh, Ayah Jimin adalah salah satu orang yang masuk dalam kategori orang-orang terfavorit menurut Yoongi. Ayah Jimin itu unik, tapi asik. Ayahnya sendiri tidak kalah unik sih, hanya saja Ayah Jimin itu berbeda. Yoongi kagum padanya, mereka suka bertukar selera musik, bahkan Ayah Jimin bersedia meluangkan waktu untuk mendengar lagunya dan memberinya kritik tentang lagu yang ia tulis.

"Iya, Appa baru sampai tiga hari yang lalu.." Jimin mulai menerka dalam hati, pasti Yoongi akan–

"Ayo jemput Papa!"

–meminta bertemu dengan Ayahnya. Jimin cukup paham sih kenapa Yoongi bisa sangat 'klop' dengan Ayahnya, Ayahnya juga memang terbiasa menghadapi sikap ibunya yang sebelas-dua belas seperti Yoongi (hanya saja ibunya itu ratu drama), jadilah Ayahnya senang-senang saja saat dulu Jimin mengenalkan Yoongi sebagai kekasihnya.

"Tidak jadi beli cheesecake?"

"Tidak. Aku mau bertemu Papa."

"Okay, sana bersiap-siap.." Yoongi mengangguk, berjalan cepat menuju kamar mandi. Ingat 'kan kalau dia juga harus mandi?

.

.

Sepeninggalan Yoongi, Jimin berpindah menuju ruang tamu dan masih disuguhi pemandangan yang sama seperti ketika ia keluar dari kamar Yoongi.

"Rasanya aku ingin mengguyur mereka dengan air dingin.." Bibir Jimin mencibir, sebenarnya sih ia juga iri dan ingin. Kapan coba ia dan Yoongi bisa berpelukan dengan tenang dan nyaman di atas sofa kalau baru ingin mencoba saja sudah ditendang Yoongi.

"Ngiri ya?" Itu suara Taehyung yang perlahan bangkit dari tidurnya.

"Hyung~~"

"Aku masih disini Kook.." Taehyung mengangkat kepala Jungkook dan menaruhnya dipangkuannya, ia mengelus surai gelap milik Jungkook dengan pelan dan lembut.

"Lalu bagaimana?" Taehyung menatap lurus ke arah Jimin yang duduk di sofa satunya.

"Apanya?"

"Ya tentang Yoongi hyung, bantet..."

'Lah kok bawa-bawa tinggi?' Itu suara hati Jimin.

"Ya gimana? Tidak ta–" Jimin mendelik, menatap Taehyung yang bersiap melemparnya dengan remote televisi.

"Jim, minta diajak gulat ya?! Masa kau sudah buat hamil lalu bilang tidak tau?!"

"Hyung, pelan-pelan saja bahasnya, nanti Yoongi hyung dengar.." Jungkook berbalik menghadap Jimin, menatap pria yang dua tahun lebih tua darinya itu.

"Kau akan menikahinya kan?!" Jungkook menatapnya dengan tatapan menuntut.

"Tentu saja! Tapi aku tidak punya ide untuk melamarnya, aku tidak tau cara melamarnya."

"Apa? Jadi hanya karena itu? Tentu saja itu mud–"

"Kenapa kalian berbisik?" Tau-tau Yoongi sudah berdiri di depan mereka, memincingkan mata curiga.

"Hyung kepo." Sahut Jungkook dengan cepat.

"Kau–"

"Yoongi sudah selesai?" Jimin buru-buru memotong, bahaya kalau mereka tidak cepat-cepat pergi.

"Sudah, ayo." Jimin berdiri, menelisik Yoongi dari atas hingga ke bawah. Rasanya ada yang kurang, ah Jimin tau!

"Et, tunggu sebentar!" Jimin berlari memasuki kamar Yoongi dan keluar dengan membawa coat panjang berwarna cokelat.

"Masa begini saja harus diingatkan terus.." Jimin memakaikan coat itu pada Yoongi, mengancingkannya dengan teliti. Jimin heran kenapa Yoongi selalu lupa pada coat nya, sementara coat ini dapat membuat tubuh menjadi lebih hangat di saat cuaca dingin seperti ini.

"Nah kan kalau begini sudah aman." Jimin tersenyum menatap Yoongi, mendaratkan kecupan kilat pada bibir tipis Yoongi.

"Tidak bisa ya tidak pakai cium bibir segala?"

"Tidak." Jimin tertawa, ya habis bibir Yoongi itu seperti candu sih, ia jadi tidak bisa menahan diri.

"Kook, kami pergi ya. Awas kalau kalian berdua melakukan macam-macam!" Yoongi mewanti-wanti Jungkook, padahal tanpa diwanti-wanti juga Taehyung tidak berani macam-macam lebih dari kissu, walaupun kelihatan mesum begini tapi Taehyung itu tidak mau melakukannya sebelum Jungkook wisuda. Kan bahaya kalau Jungkook ternyata sama seperti Yoongi, bisa-bisa Taehyung digantung oleh orang tua mereka nanti.

.

.

"Yubin, lihat! Model seperti ini bagus untuk Yoongi.." Jiyoung memperlihatkan satu buah jas berwarna putih dengan model sederhana tetapi tetap terlihat berkelas yang dibawa oleh asistennya, sebenarnya di mata Yubin semua terlihat sama tetapi tentu akan berbeda kalau itu di mata desaigner seperti Jiyoung. Jadi yang bisa ia lakukan adalah mengangguk mengiyakan ucapan Jiyoung.

"Okay, kita sepakat yang ini. Aku ingin kemejanya berwarna hitam."

"Tidak! Aku ingin biru muda, uri Yoongi akan terlihat manis."

"Tidak, tidak, aku suka yang hitam. Yoongi juga pasti lebih suka hitam."

"Tapi biru muda terlihat bagus!" Yubin menggeleng keras, menolak warna hitam.

"Tidak! Pokoknya–"

"Bagaimana kalau pink?" Suara serak dan berat menginterupsi mereka. Itu seunghyun, ayah Jimin.

"TIDAK!" Tolak keduanya dengan cepat, mereka serempak menatap Seunghyun dengan tatapan membunuh. Pink? Yang benar saja heh, mana mau Yoongi mengenakannya.

"Tidak swag.." Ucap Jiyoung yang disetujui oleh Yubin.

"Okay, okay, berhenti menatapku seperti itu."

"Aku rasa hitam akan pas dengan jas dan dasi kupu-kupi berwarna putih." Jiyoung bergerak menuju karyawannya yang membawa berbagai pilihan jas, kemeja dan dasi.

"Tapi biru muda akan membuatnya terlihat makin manis.." Yubin kekeuh memilih biru muda, Jiyoung rasanya gemas ingin menyubit sahabatnya ini.

"Ku rasa hitam akan lebih baik, kita bisa menggunakan warna biru untuk pesta kebunnya."

"Aww, suamiku memang pengertian~~"

"Tidak! Tidak! Kita tidak akan melakukan pesta kebun. Yoongi pasti lelah dan itu tidak baik untuk kehamilannya."

"APA?!" Jiyoung dan Yubin terkejut, mereka menatap Seunghyun yang ternyata ikut terkejut, itu bukan hanya suara kagetnya seorang. Melainkan juga suara kaget ayah Yoongi.

Iya,

Ayah Yoongi.

San.

.

.

.

-udahan dulu-

a/n

ku sedang tidak ingin banyak omong karena lagi ga mood, tapi maksa update. Ya maaf.

Aku melihat banyak nama baru di kolom review, bahkan ada saran yang maaf belum dapat ku penuhi. Ah senangnya~^^ makasih banyak. Jadi ini ada bonus kecil di atas, flashback yang di toilet.

Terima kasih ya~~!^_^ I'll be back with longer words and try my best to make it more fun than this chapter. Just wait :)

Thx in advance readers-ah~