Hold Me

Chapter 7

Rated : M

Genre : Romance and Drama

Warn : Out Of Character, M-Preg

Jimin x Yoongi. Slight! Taehyung x Jungkook

Kim Yubin x Jung San as Yoongi's parent

Kwon Jinyoung x Choi Seunghyun as Jimin's parent

••

Hope you enjoy!

••

Previous chapt

"APA?!" Jiyoung dan Yubin terkejut, mereka menatap Seunghyun yang ternyata ikut terkejut, itu bukan hanya suara kagetnya seorang. Melainkan juga suara kaget ayah Yoongi.

Iya,

Ayah Yoongi.

San.

.

.

.

"Ye-yeobo?" Yubin mendekat menuju suaminya, ia sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya karena setaunya suaminya ini tengah menjadi produser di suatu acara televisi. Iya, Ayah Yoongi adalah San atau yang dikenal dengan nama panggung San E adalah rapper yang cukup terkenal.

"Apa yang kalian katakan barusan tentang putraku?" Wajah San mengeras, ia tidak mungkin salah dengar perihal putranya, kupingnya belum bermasalah.

"Yoongi–

–Ah bagaimana kalau kita duduk dulu, kau pasti lelah." Yubin menarik suaminya menuju sofa yang juga diduduki oleh Seunghyun.

"Jangan pandang aku begitu, kay.. Aku juga tidak tau." San menghela napas mendengar perkataan Seunghyun, setidaknya ia bukan satu-satunya orang yang tidak tau.

"Jadi, Yoongi... Yoongi..."

"Ck! Kenapa kau berbelit-belit, katakan saja Yoongi hamil."

"Jiyoung..." Yubin melotot ke arah sahabat lamanya itu, berdesis kesal karena Jinyoung terburu-buru.

"Panggil Jimin dan Yoongi kemari!"

"Tapi–"

Brak!

San E menggebrak meja di depannya dengan kencang. Seunghyun mengelus dada, bisa-bisa ia gagal melihat cucunya lahir ke dunia kalau begini.

"San, sabar.."

"Bagaimana bisa sabar?! Yang hamil itu putraku Hyun! Kalau yang hamil putramu sih aku bisa sabar."

Seunghyun mendelik, enak saja putranya yang hamil. Mereka ini kan TOP sejati, masa menjadi bottom dan dirasuki (?)

"Suruh mereka kemari sekarang juga!"

"Handphone ku mati.." Ujar Yubin beralasan, suaminya ini sulit sekali ditebak. Apakah ia akan membuat Jimin babak belur atau justru melakukan hal lain.

Saat Jimin mengenalkan diri sebagai kekasih putranya sih San E tidak banyak berkomentar, begitupun ketika Jimin membujuk mereka untuk memberikan kesempatan pada Yoongi untuk bekerja di dunia entertain, mereka luluh begitu saja. Tapi kalau masalahnya mengenai putra mereka yang hamil di luar nikah? Siapa yang berani menjamin Jimin tidak akan mendapat pukulan pada wajahnya.

"Haruskah ku buang ponselmu dan memberikan yang baru?"

Yubin memukul bahu suaminya, suaminya ini suka sombong dan pamer sekali.

"Biar aku yang telepon.."

Yubin memberi death glare pada Jiyoung, duh sahabatnya itu tidak sadar kah kalau Yubin sedang berusaha menyelamatkan wajah rupawan Jimin?

Jiyoung tak mengindahkan Yubin, ia mengambil telepon genggamnya dan mendial nomer dengan nama 'anak manja kesayangan', tunggu sampai Jimin mengetahuinya. Dia akan protes habis-habisan.

Tut... Tut... Tut... Tut... Tut..

"Yeoboseyo?"

"Jim, ke butik Umma sekarang!"

"Tapi aku sedang menuju kantor Appa.."

"Tidak usah kesana, Appa mu ada disini, orang tua Yoongi juga."

"A– begitukah? Baiklah aku kesana.."

.

20 minutes later

.

Yoongi menggenggam tangan Jimin dengan kuat, awalnya ia tidak tau kenapa Jimin meminta supir taksi untuk memutar arah dan justru memintanya mengantar mereka ke butik ini sampai Jimin menjelaskan kalau keluarga mereka berkumpul disini. Yoongi gugup, di satu sisi ini kesempatan yang baik untuk memberi keluarga mereka tetapi di sisi lain ia merasa takut. Apa tanggapan Appa dan Papanya?

"Tidak perlu takut, selama kita bersama aku bisa menjadi kuat untuk melindungimu." Jimin mengelus tangan Yoongi untuk menyalurkan ketenangan pada kekasihnya. Jimin tau Yoongi takut dan gugup, ia pun juga merasakan hal yang sama. Tetapi Jimin paham, bagaimana pun dia harus menghadapi orang tua mereka.

"Kita masuk ya.." Jimin menggandeng tangan Yoongi yang ikut mengekorinya, pegawai butik yang membukakan pintu mengatakan bahwa orang tua mereka sudah menunggu di lantai atas, ruang pribadi ibunya.

"Selamat... Sore?" Jimin memecah keheningan, para orang tua menoleh ke arah pasangan yang baru datang itu.

"KAU!" San berdiri hendak mendekat ke arah Jimin, tetapi Seunghyun menahannya untuk tidak mendekati pasangan yang masih saling bergandengan tangan itu.

"San-ah, tenangkan dirimu.."

"Seunghyun, lepaskan aku. Aku harus berbicara empat mata dengan anakmu."

"Silahkan, tapi tolong jangan gunakan kekerasan di depan Yoongi." Seunghyun melepas lengan San E, membiarkan pria paruh baya itu menarik Jimin hingga pegangannya pada Yoongi terlepas.

"Appa!" Yoongi berteriak, badannya gemetar ketakutan. Apa? Apa yang akan ayahnya lakukan pada Jimin?

"Jangan sakiti Jimin.." Ujar Yoongi lirih, matanya berkaca-kaca menatap ayahnya yang menarik Jimin memasuki suatu ruangan.

"Yoongi, duduklah.." Ibunya mendekati Yoongi yang gemetar.

"U-umma..."

"Tidak apa-apa sayang, kalaupun ayahmu memukul Jimin, kita semua mengerti karena Jimin memang pantas mendapatkannya." Jinyoung ikut mendekat, mengelus surai berwarna terang milik Yoongi.

"Ayo duduk dan tunggu Appa mu selesai berbicara dengan Jimin."

"Ka-kakiku... Gemetar.." Yoongi menggeleng, rasanya ia tidak bisa memindahkan kakinya untuk sekedar berjalan satu langkah.

[Brak!]

Mereka tersentak kaget, jantung Yoongi berdebar, ia buru-buru menoleh ke ruangan tempat ayah dan kekasihnya berada. Suara apa itu.. Apa yang ayahnya lakukan? Yoongi benar-benar cemas kalau ayahnya benar-benar menyakiti Jimin.

"U-umma.." Dahi Yoongi berkeringat, ia merasakan kakinya melemas dan tak kuat menopang tubuhnya.

[Bug!]

Bersamaan dengan bunyi pukulan itu Yoongi kehilang kesadaran, beruntung Jiyoung sempat menahannya agar tidak sampai jatuh ke lantai.

"Astaga!" Seunghyun buru-buru menghampiri Yoongi dan mengangkat tubuhnya menuju sofa.

"Yoongi.. Jiyoung bagai-bagaimana... Uri Yoongi.."

"Tenanglah Yubin..." Jiyoung mengelus bahu Yubin berusaha menenangkan keadaan sahabatnya.

"Uri Yoongi hanya panik, dia akan baik-baik saja. Jangan menangis duh... Yubin, sudah hentikan tangisanmu.."

"Ta-tapi.."

"Hyunie, tolong telepon dokter keluarga kita.."

"Sudah aku lakukan sayang.." Seunghyun menggoyang-goyangkan telepon genggamnya yang baru saja ia gunakan untuk menelpon dokter pribadi mereka.

.

.

Jimin keluar dari ruangan itu sambil meringis memegang perutnya. Ayah Yoongi memang tidak memukul wajahnya, tapi memukul perutnya. Sial! Rasanya sangat sakit.

"Ku pegang ucapanmu Jim!" San E mendahului Jimin, ia melangkah dengan cepat menuju tempat Yoongi yang tengah diperiksa.

"Kau! Kau benar-benar..." Yubin memukul dada San E begitu suaminya mendekat, ia kesal karena kelakuan suaminya anak mereka sampai pingsan begini.

"Maaf ya, aku hanya memberikan pelajaran kecil pada calon menantu kita.." San E memeluk tubuh Yubin dan mendekapnya erat.

"Hemeh, kau pukul anakku kemudian bermesraan di depan mata kami. Kalau bukan calon besan dan teman lama, sudah ku tendang keluar.." Jinyoung meletakkan tangannya di pinggang, mulai mengomel karena kelakuan orang tua Yoongi.

"Pelajaran untukmu Jim.." Jimin meringis, Seunghyun menepuk bahu Jimin dengan tepukan yang tidak bisa dibilang pelan, sengaja betul Ayahnya.

"Apakah kalian sudah tau kalau Yoongi-ssi sedang mengandung?"

"Ah kami semua sudah tau.."

'Baru saja' tambah Seunghyun dalam hati.

"Bagus. Yoongi-ssi pingsan karena serangan panik, tolong jangan buat ia terlalu lelah dan memikirkan hal-hal berat. Aku akan memberikan resep vitamin untuknya, kalian bisa menebus resepnya di apotek." Dokter pribadi keluarga Park itu memasukkan lagi stetoskop ke dalam tasnya, ia menuliskan sebuah resep dan memberikannya ke Ibu Jimin.

"Aku berharap semoga Yoongi-ssi cepat pulih.."

"Ah iya, terima kasih dokter Lee. Hati-hati di jalan.." Jinyoung dan Seunghyun tersenyum ke arah dokter pribadi mereka yang kini sudah melangkah turun menuju pintu keluar.

"Nih, sana tebus. Sekalian beli es batu untuk mengompres perutmu." Jiyoung mengulukan resep itu ke arah Jimin.

"Umma..."

"Sudah sana, tidak ada rengek-rengekan lagi, cepat pergi sebelum Yoongi sadar." Jimin merenggut tak senang, mau tak mau ia beranjak sambil menahan sakit di perutnya. Ibunya benar-benar tega.

.

.

"Euhmm.. U-umma.." Mata Yoongi mengerjap, membiasakan diri dengan lampu terang di ruangan itu.

"Yoongi.. Syukurlah anak umma sudah sadar.." Yubin buru-buru mendekat, mengelus pipi Yoongi yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

"Jimin... Dimana Jimin?!" Yoongi duduk dengan terburu-buru, tidak memedulikan kepalanya yang terasa pening. Ia menatap sekeliling dan hanya menemukan orang tua Jimin, Umma dan Appa–

"Appa!" Yoongi berlari menuju ayahnya.

"Apa yang Appa lakukan kepada Jimin?!"

San E tertawa, ia mengacak surai Yoongi. "Kekasihmu pantas mendapatkannya."

Yoongi dengan kasar menjauhkan tangan ayahnya dari kepalanya.

"Aku benci Appa!" Yoongi mundur menjauhi ayahnya, dengan cepat ia berbalik, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Yoongi!"

Hap!

"Hati-hati sayang.." Jimin menangkap pinggang Yoongi dan membantunya berdiri. Ia tersenyum saat Yoongi langsung memeluknya dengan erat.

"Jimin.. Aku pikir kau dilarikan ke rumah sakit.." Mata Yoongi sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan tangisannya.

"Hei! Hei! Jangan menangis. Aku tidak apa-apa kok, lihat. Lihat aku baik-baik.." Jimin menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Yoongi dengan lembut.

"Aku benar-benar marah pada Appa!" Yoongi memberi tatapan membunuh pada ayahnya yang menghendikkan bahu tak peduli.

"Jangan begitu.. Abeoji benar, aku pantas mendapatkannya."

"Tapi.."

"Sudah, tidak apa-apa." Jimin gantian memeluk Yoongi dengan erat.

"Ayo sudahi drama manis ini dan pergi ke restaurant milik keluarga kita, bagaimana?" Seunghyun menarik Jimin menjauhi Yoongi, tak mengacuhkan protesan dari anak semata wayangnya itu. Rasanya Jimin ingin melempar ayahnya dengan plastik obat digenggamannya.

"Mama.."

"Ya sayang?" Jiyoung menoleh, mendekati Yoongi yang terlihat ragu.

"Aku ingin.. aku ingin Appa dan Papa yang memasak."

"Err.. Tapi.. Yoongi tau 'kan kalau ayah kalian tidak bisa memasak?" Yoongi mengangguk, tentu saja ia tau.

"Tetapi aku menginginkannya.." Yoongi menggigit bibir bawahnya, matanya memohon seperti anak kucing yang minta dipungut.

"Okay.. Kita tidak perlu ke rumah kalau begitu. Kita biarkan ayah kalian memasak di dapur restoran." Yubin tertawa dalam hati, tau betul kenapa Jiyoung mengusulkan ide itu. Supaya mereka tetap bisa memakan masakan enak tanpa perlu merasakan masakan aneh hasil karya suami mereka.

"Call!" Yoongi berseru, ia menyeret Jimin untuk jalan lebih dulu. Restaurant milik keluarga Jimin memang terletak tak jauh dari butik ibunya, hanya berjarak beberapa blok dari sini sehingga mereka bisa berjalan kaki.

.

.

Seunghyun dan San E menghapus keringat yang mengucur di dahi, pekerjaan di dapur memang bukan keahlian mereka.

"Apa ini? Abeoji yakin ini tidak beracun?" Jimin mengaduk-ngaduk spaghetti dengan tampilan cukup aneh. Hidung Jimin rasanya gatal dengan bau lada yang begitu menyengat.

"Tentu saja tidak, ini layak makan." San E mengambil garpu dan memberikannya pada Yoongi untuk mencobanya. Yoongi menerima garpu itu dengan senang hati, ia menggulung spaghetti itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Enak kok..."

"Benarkah?"

"Iya, Appa coba saja.." San E mengambil garpu lagi, diikuti Jimin dan Seunghyun yang penasaran ingin mencoba, para ibu justru terkikik geli menatap mereka.

"Uhuk! Ah, ladanya.." Jimin dan Seunghyum buru-buru mengambil minum dan meminumnya dengan rakus. San E terbatuk, bagaimana bisa anaknya mengatakan ini enak?

"Sudah, Yoongi tidak boleh makan ini.." Jimin menarik piring itu menjauh, sekarang tersisa semangkuk sup ikan buatan ayahnya.

"Yoongi, tidak usah dicoba ya.." Jimin memandang sup itu penuh keraguan. Tampilannya memang terlihat meyakinkan, tapi siapa yang tau soal rasanya? Ia bahkan sangsi kalau ayahnya mencobanya terlebih dahulu.

"Tidak, tidak. Aku mau mencobanya.." Yoongi mengambil sendok untuk merasakan kuah sup itu.

"Woah, enak.."

"Tuhkan, aku punya bakat memasak ternyata.." Seunghyun merasa senang. San E tak terima, ia mengambil sendok dan ikut mencoba sup itu.

San E mengernyit, membuat ekspreksi berlebihan. "Kau memasukkan satu bungkus garam hah?!"

Seunghyun tak percaya, ia ikut mencicipi sup buatannya. "Asin..."

Jimin menggeleng, lidah Yoongi benar-benar ajaib. Ia menarik sup ikan itu menjauh.

"Jim..."

"Tidak Yoongi, aku akan memesankan makanan yang layak untukmu."

"Nah Appa, Abeoji.. Silahkan makan masakan kalian." Jimin melengos, memanggil pelayan dan memesan. Ibu mereka tertawa geli, sudah dapat menebak kalau akhirnya akan seperti ini.

"Aku tidak mau memakannya!" San E dan Seunghyun kompak menolak, menjauhkan mangkuk dan piring berisi hasil masakan mereka.

.

..

["Duduklah Jim." San E meminta Jimin untuk duduk. Jimin dengan ragu-ragu duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan ayah kekasihnya itu.

"Kau sadar apa yang kau perbuat?!"

Jimin menelan ludah gugup, "sa-sadar Abeoji.."

Brak!

Jimin terlonjak ke belakang, pukulan San E pada meja itu membuatnya sedikit gemetar.

"Aku membiarkan hubungan kalian, tapi bukan berarti aku mendukung yang kau lakukan! Kau menghamili Yoongi tanpa ikatan pernikahan!"

"Maafkan aku Abeoji, tapi aku berjanji aku bertanggung jawab."

"Kapan kau mengetahui kehamilannya?"

"Siang ini.."

"APA? Jadi kau juga baru tau?! Kau menikmati perbuatanmu tapi tidak menyadari hasilnya?"

"Maafkan aku, tapi aku sungguh-sungguh akan bertanggung jawab dan menikahi Yoongi."

"Saatpertama kali kau datang ke rumahku aku sedikit terkejut, Yoongi itu tidak peduli dengan hubungan semacam ini, tapi dia membawamu ke rumah dan mengenalkanmu sebagai kekasihnya. Tentu saja aku senang, dan ku harap kau memang serius Jim. Karena kalau tidak, aku sendiri yang akan menggali kuburan untukmu."

Jimin tercekat, ia hanya mengangguk kaku.

"Kemarilah.." San E merentangkan tangannya, menyambut Jimin sebagai calon menantunya. Namun–

Bug!

"Kau pantas mendapatkan pukulan." San E menepuk bahu Jimin dan tersenyum kecil sementara Jimin meringis menahan sakit pada perutnya. Ayah Yoongi benar-benar serius dengan pukulannya.

"Jaga putraku baik-baik.." Jimin mengangguk di sela-sela ringisannya.]

..

.

Jimin keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya dan menuju lemari untuk berpakaian. Ia menatap Yoongi yang masih terlelap dengan damai, Jimin mendekat, menatap wajah Yoongi dan menelusurinya dengan telunjuknya, mengelus pipi Yoongi dan mencubit hidungnya pelan. Yoongi mengerang, dengan mudahnya merasa terganggu oleh sentuhan Jimin.

"Hei sayang..." Sapa Jimin saat Yoongi benar-benar membuka matanya.

Chuu~p

"Jimin!" Yoongi memukul dada Jimin yang mencuri ciumannya, padahal Yoongi sendiri masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

Jimin menyingkirkan helaian rambut Yoongi yang jatuh menutupi matanya, "Tidurnya nyenyak tidak?"

Yoongi mengangguk, sesuatu dalam dirinya ingin bermanja-manja dengan Jimin tapi ia juga merasa malu untuk melakukannya.

Jimin berdiri lagi, menatap Yoongi yang masih berbaring dengan nyaman. "Mau mandi sekarang?"

Yoongi sekali lagi mengangguk, mengulurkan tangannya ke arah Jimin. "Gendong..."

Jimin terkekeh, menuruti keinginan kekasihnya. Ia mengangkat tubuh Yoongi dan membawanya ke kamar mandi miliknya, semalam mereka memang bermalam di apartemennya karena jaraknya lebih dekat dari restaurant.

"Harus ku mandikan juga?" Jimin menaik-turunkan alisnya, menggoda Yoongi yang berada di dalam bath up.

"Mesum! Sana keluar!"

"Okay, aku tinggal membuat sarapan ya.." Jimin menutup kamar mandi itu dan beranjak ke dapur. Apa yang harus ia buat untuk Yoongi? Haruskah ia membuat roti sandwich isi bacon?

Lima belas menit berlalu, Yoongi sudah keluar dengan menggunakan pakaian milik Jimin.

"Jim?" Yoongi menengok ke dapur dan menemukan Jimin disana, tetapi Yoongi tidak mendekat dan memilih duduk di meja makan untuk memperhatikan Jimin.

Jimin berbalik, hampir saja piring yang ia bawa terjatuh. Ia kaget melihat Yoongi yang menumpukan kepala di tangannya.

"Kenapa tidak memanggil?"

"Aku ingin memperhatikanmu, apa yang kau masak?"

"Aku membuat sandwich dan bacon. Yoongi mau susu?" Jimin melongokkan kepala menatap isi kulkasnya yang mulai kosong.

"Vanila?"

"Iya.." Jimin menuangkan susu kemasan itu di gelas dan menyodorkannya pada Yoongi. Yoongi baru saja mengulurkan tangan untuk menerima, tetapi menurunkan lagi tangannya dan berlari menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.

"Hoek.." Lagi-lagi mual, Jungkook bilang kalau dirinya mengalami morning sickness dan itu wajar.

"Hooekk.." Jimin memijat tengkuk Yoongi dengan pelan, setelahnya menuntunnya kembali ke meja makan.

"Bawa obat mualmu?" Yoongi menggeleng, menutup mulutnya karena kembali merasakan mual.

Jimin dengan cekatan memasukkan makanan ke dalam kotak bekal, ia dengan cepat bergerak ke kamar, mengambil barang-barang yang ia butuhkan, ia juga mengambil coat dan mengenakannya pada Yoongi. Tak lupa dengan kotak bekalnya, ia menarik Yoongi keluar apartemen dan menuju basement. Yoongi menurut, berusaha mengimbangi langkah Jimin yang terkesan tergesa-gesa.

.

.

"Kim Tetet! Bangun!" Jungkook menggoyang-goyangkan tubuh Taehyung yang tidur di karpet dengan kencang, kekasihnya itu memang menginap dengan alasan ingin menemani Jungkook. Berhubung Yoongi juga bermalam di apartemen Jimin, maka Jungkook dengan senang hati membiarkan Taehyung menemaninya.

"Jam berapa?" Taehyung mengerjap, raut wajah cemberut Jungkook adalah pemandangan pertama yang ia lihat pagi ini.

"Jam tujuh!"

"Kenapa kau cemberut?"

"Pikir saja sana sendiri!" Jungkook beranjak pergi menuju dapur, meninggalkan Taehyung yang berusaha mengingat kesalahannya.

Taehyung mendengus setelah mengingat-ngingat. Jungkook yang mencoba menggodanya dan berakhir dengan penolakan keras darinya, ia jadi ingat kenapa dirinya harus tidur di karpet bukan di atas ranjang hangat Jungkook.

"Kook..." Taehyung berjalan menghampiri Jungkook sambil merapikan rambutnya yang acak-acakkan.

"Jangan marah ya.." Taehyung melingkarkan lengannya di bahu Jungkook. Jungkook baru saja akan membuka mulut, tetapi suara pintu apartemen yang terbuka membuatnya mengatupkan mulutnya lagi.

Mereka berdua menoleh ke arah suara pintu yang terbuka. Jungkook melepaskan diri dari pelukan Taehyung dan beranjak menuju pintu depan, "hyung?"

"Hai Jungkookah~" sapaan itu datang dari Jimin, Jungkook hanya ber'hmm-hmm' ria sebagai jawaban. Untung Jimin sabar:")

"Butuh sesuatu?" Jungkook mengekori Jimin dan Yoongi yang menuju ruang tamu.

"Ambilkan obat Yoongi di kamarnya ya Kook.."

"Okay.."

"Sekalian minum ya untuk kami.."

"Jim?"

"Iya?"

"Sehat?"

"Iya."

"Kakimu baik-baik saja?"

"Iya."

"Ambil sana sendiri!" Jungkook melempar bantal sofa itu ke arah Jimin sebelum beranjak pergi ke kamar Yoongi, Taehyung yang berdiri di sudut sebagai penonton hanya tertawa. Merasa kasihan sekaligus terhibur menatap Jimin yang menjadi korban bully kekasihnya.

Bibir Jimin mencibir, mau tak mau mengambil minum sendiri. Saat ia kembali Jungkook sudah berada disana menyuapi Yoongi dengan sandwich buatannya.

"Enak tidak hyung?"

Yoongi mengangguk, mengambil satu sandwich dan menyodorkannya ke depan mulut Jungkook. Tanpa babibu Jungkook melahap Sandwich yang Yoongi sodorkan.

"Yah! Yah! Siapa yang memperbolehkanmu memakannya?" Jimin berkacak pinggang, menatap Jungkook dengan pandangan marah yang dibuat-buat.

"Hyung..." Jungkook menatap Taehyung, meminta pembelaan dari kekasihnya.

"Sudah sih Jim, ngalah sama anak kecil." Jimin tertawa setan mendengar ucapan Taehyung yang sekilas seperti meledek kekasihnya sendiri.

"Hyung!" Jungkook menggembungkan pipinya, bibir merahnya mengerucut imut.

"Loh benar kan, kekasih hyung ini kan masih anak kecil.." Taehyung dan Jimin tertawa, menatap Jungkook yang makin cemberut.

"Kalian berisik.." Suara protesan Yoongi menjadi satu-satunya hal yang membuat Jimin dan Taehyung menahan tawa mereka.

"Kau tidak kuliah Kook? Bukankah kau ada ada ujian?"

"Ujiannya jam sembilan hyung.."

"Kau Jim? Tae?"

"Loh kami kan sudah lulus kuliah..."

"Maksudku ke agensi, alien."

Taehyung manggut-manggut, kemudian berhenti dan menepuk keningnya.

"A- hyung, aku pulang dulu ya."

"Tidak mau membersihkan diri dulu Tae?"

"Tidak Jim, nanti saja di apartemenku." Taehyung menyambar jaketnya yang berada di sofa dan dengan cepat berjalan menuju pintu, tetapi tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang membuat Jungkook yang mengekori langkahnya terkejut hingga mundur ke belakang.

"Kookie, hubungi hyung saat kuliahmu selesai. Jangan kemana-mana sebelum hyung datang, okay?"

Jungkook mengangguk, memberi sign ok dengan tangannya dan bergerak membukakan pintu untuk Taehyung.

"Hati-hati Taetae~~" seruan Jimin mengantarkan kepergian Taehyung dari apartemen Yoongi. Jungkook kembali ke ruang tamu dan mendapat tatapan yang aneh dari Jimin.

"Apa? Kenapa menatapku begitu?"

"Tidak mau berangkat juga? Ini sudah jam delapan loh.."

Jungkook memicingkan matanya, ada apa dengan gelagat Jimin yang seakan mengusirnya. Mencurigakan.

"Berangkat saja sana.."

"Okay, aku berangkat." Jungkook masuk ke dalam kamar, tak lama kemudian kembali dengan menenteng tas.

"Hyung, aku berangkat ya.." Yoongi yang menaruh kepala di atas meja hanya menjawab malas-malasan, mengatakan hati-hati dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Nahkan sekarang kita bisa bermesraan." Jimin memepetkan tubuhnya pada Yoongi, Yoongi mengangkat kepala dan menatap Jimin dengan pandangan terganggu.

"Berangkat sana ke agensi.."

"Tidak ada jadwal latihan pagi."

"Ya ngapain deh sana jauh-jauh, ruang tamu ini masih luas loh Jim."

"Min Yoongi..." Jimin tiba-tiba berbisik di telinga Yoongi.

"A-apasih Jim?" Yoongi sedikit mendorong dada Jimin agar menjauh.

"Yoongi, sudah berapa lama kita berhubungan?"

"Lima tahun, kenapa? Kepalamu terbentur makanya kau lupa?"

Jimin merogoh kantong celananya, ia menarik tangan Yoongi, meletakkan sesuatu di atasnya dan mengepalkan tangannya.

Jimin membiarkan Yoongi menarik tangannya kembali dan membuka kepalan tangannya. Yoongi menatap Jimin tak mengerti, "cincin?"

Wajah Jimin mendadak gugup, ia tidak tau apa yang harus ia katakan.

"A-aku.. Aku membelinya sebelum pertengkaran kita." Yoongi diam, ia tau masih ada yang ingin Jimin katakan.

"Aku tidak tau apa yang harus aku katakan, intinya aku melamarmu. Aku ingin kau berjanji dihadapan Tuhan untuk terus bersamaku, aku ingin membahagiakanmu, aku ingin– Yoongi, aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu dan anak-anak kita kelak."

Yoongi mengangkat alis, "apa maksudmu?"

"Kau harus menikah denganku." Jimin tidak bertanya apakah Yoongi mau menikah dengannya, tetapi lelaki itu justru memberi perintah pada Yoongi tanpa memberinya kesempatan menolak.

Yoongi tertawa, tetapi tawanya segera memudar dan tergantikan dengan wajah serius.

"Aku menolak."

"A-apa?"

"Aku menolakmu."

-–—•-–—•-–—•

.

...

..

.

Tbc

Hai~~~ first, i want to thank y'all, review nya nembus 100. Wow. Wow. I will try happily to make the next chapter dan tentunya mencoba lebih baik lagi untuk ke depannya. Kekeke~

Gimana udah ada yang mulai masuk kerja atau sekolah minggu ini? Semangat ya :3

Oh iya, gausah bingung perihal kerjaan Yoongi ke depannya gimana. Setauku sih ini bukan perusahan yang punya peraturan ngelarang suami-istri untuk kerja bareng, kayak Tablo dan istrinya aja lah ya, setauku mereka satu agensi. CMIIW.

Jadi.. Bocoran ya... Rencananya aku bakal bikin ff ini sampe chap 10, dan ngasih bonus TaeKook di akhir. Tapi.. I'm not really sure, aku takut ff ini membosankan. Haha.

Ngomong-ngomong karena masalah line OA, OA kesayangan jadi ga jelas masa depannya (?), aku jadi kurang hiburan buat ngisi waktu luang. But.. Aku sangat berterima kasih karena jejak yang kalian tinggalkan bener-bener made my days. Setiap baca komentarnya jadi bikin makin semangat. Hahaha. Terima kasih ya~ sampai jumpa di chapter selanjutnya!^.^

P.s. Aku benar-benar ingin membalas review kalian satu persatu-satu, tapi ku rasa aku akan menyimpannya hingga akhir. Kekeke~

Thx in advance.