Hold Me

Chpt 8 pt 1

Rated : M (T for this chapter)

Genre : Romance, Drama

Warn : Out Of Character, M-Preg

Jimin x Yoongi. Slight! Taehyung x Jungkook

Kim Yubin x Jung San as Yoongi's parent

Kwon Jiyong x Choi Seunghyun as Jimin's parent

Pair belongs to God, I just make story of them. So, this story is mine.

*First of all, I WANT TO APOLOGIZE.

Udah lewat berapa chapter dan aku baru sadar kalo namanya GD tuh Jiyong, not Jinyoung. Maaf banget, ke depannya aku bakal nge check google lagi sebelum nulis nama cast nya. Aku benar-benar merasa malu karena butuh waktu yang lama untuk menyadarinya dan terima kasih buat siscaMinstalove yang udah ngoreksi kesalahan ini. Luv ya! (Tapi bukan berarti aku ga cinta readers ku yang lain loh ya, ku cinta kalian semua kok. Apalagi yang nulis review nya heboh, uhuk).

Dan kalau ada yang heran kenapa GD dan Seunghyun saya dapuk (?) menjadi orang tua Jimin, jawabannya adalah karena bubun. Iya, sj_94. Eventhou' she doesn't read my story, I want to thank her karena cerita gularoti yang dia tulis berhasil bikin saya jadi makin cinta berat sama BTS especially MinYoon (dulu mah sukanya TaeKook doang).

Maaf update nya lama, aku sedang merasa sensitif dan mudah terganggu karena suatu hal hingga tidak tau harus menulis apa. Ngomong-ngomong chapter ini 6k+words, jadi bacanya kalau kalian punya waktu luang aja.

So, hope you forgive my mistake(s) and enjoy to read this chapter. :)

...

..

.

Previous chapter

"Aku tidak tau apa yang harus aku katakan, intinya aku melamarmu. Aku ingin kau berjanji dihadapan Tuhan untuk terus bersamaku, aku ingin membahagiakanmu, aku ingin– Yoongi, aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu dan anak-anak kita kelak."

Yoongi mengangkat alis, "apa maksudmu?"

"Kau harus menikah denganku." Jimin tidak bertanya apakah Yoongi mau menikah dengannya, tetapi lelaki itu justru memberi perintah pada Yoongi tanpa memberinya kesempatan menolak.

Yoongi tertawa, tetapi tawanya segera memudar tergantikan wajah serius.

"Aku menolak."

"A-apa?"

"Aku menolakmu."

.

.

Raut wajah Jimin semakin menegang, ia menatap Yoongi tak percaya. Yoongi menolaknya? Apakah karena ia bertindak terlalu lambat? Atau karena lamaran yang ia lakukan bukanlah hal yang bisa dibanggakan?

"Bercanda."

"Ha?"

"Aku bercanda."

Jimin hampir menangis mendengarnya, ia menatap Yoongi dengan raut yang sulit di deskripsikan.

"Kenapa dengan wajahmu?! Kau pikir setelah aku mengandung anakmu, aku berani menolak lamaran mu?" Bohong. Misalnya ia tidak sedang mengandung anak Jimin sekalipun, tetapi Yoongi akan tetap menerima lamaran kekasih bantetnya itu.

Lagipula, memangnya ia bisa melepas Jimin begitu saja? Apalagi ia sudah di anu-anu, jadi ia tidak akan serius untuk menolak lamaran Jimin, Yoongi bercanda ketika ia bilang bisa menjadi single parent. Ia butuh tentunya butuh Jimin, bukan hanya karena anak yang dikandungnya, tapi karena ia memang menginginkan Jimin untuk berada di sisinya. Ia ingin Jimin benar-benar menjadi miliknya sehingga tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya.

Yoongi mengulurkan cincin dan jarinya ke arah Jimin, "pakaikan."

Jimin dengan bergetar mengambil cincin itu. Cincin yang ia berikan bukan cincin dengan banyak permata yang mengelilinginya atau ukiran rumit yang terpatri di dalamnya, cincin ini begitu sederhana, bahkan ia sempat ragu kalau Yoongi akan menyukainya. Cincin yang ia beri hanya sebuah cincin dengan model ring kecil bertahtakan satu permata, bukan karena Jimin tidak mampu membeli cincin dengan model yang lebih mewah, tapi karena cincin ini terlihat begitu indah meski modelnya sederhana.

Jimin dengan tangan yang masih bergetar secara perlahan memakaikan cincin itu ke jari Yoongi dan terus menggenggam tangannya meski pun cincin itu sudah terpasang indah disana. Diam-diam Yoongi tersenyum, ia cukup tersentuh sekalipun yang Jimin lakukan tidaklah romantis.

Tidak ada kejutan, tidak ada musik yang mengiringi, bahkan sekedar setangkai bunga pun tidak ada. Jimin juga tidak menjanjikan hal muluk selain membuatnya bahagia, tapi Yoongi cukup puas karena Jimin sudah membulatkan tekad untuk melamarnya. Lagi pula meski pun dirinya bertindak sebagai submissive di hubungan mereka tetapi ia tetap lah laki-laki, ia tidak butuh setangkai bunga atau pun kejutan manis yang berlebihan, dengan Jimin memberanikan diri melamarnya saja itu sudah cukup.

"Jimin.." Panggil Yoongi dengan lembut.

"Y-ya?" Jimin mengerjap menatap Yoongi dengan wajah bodohnya.

"Tanganku.."

"A, ma-maaf.." Jimin melepas jemari Yoongi yang sedari tadi masih berada di genggamannya.

"Terima kasih.." Yoongi tersenyum, bukan senyum lebar dengan gummy smile nya, tapi senyum kecil yang justru sangat manis. Jimin tidak bisa mencegah tangannya untuk tidak menyentuh pipi Yoongi yang terlihat lebih chubby dari sebelumnya.

"Yoongi.." Mata Jimin menjelajah wajah Yoongi dan berhenti pada bibir merahnya.

"Hmm?"

"Aku rasa mereka memanggilmu Suga bukan karena kulitmu yang sepucat gula.." Yoongi menaikkan alis, menatap Jimin penuh tanya.

"Tapi karena senyuman mu yang semanis gula."

Mata Yoongi membulat, dengan tiba-tiba Jimin mendaratkan bibirnya pada bibir Yoongi dan melumatnya, Jimin menghisap bibir Yoongi bak permen dan melepasnya dengan keadaan memerah basah. Jimin menjilat bibirnya, jilatan yang meninggalkan kesan seksi menggoda dan membuat Yoongi blushing hingga wajahnya terasa panas hanya karena tatapan Jimin.

"Siapa yang memberimu izin untuk menciumku?!"

"Seseorang bernama Park Yoongi."

"Siapa itu? Aku tidak mengenalnya!" Yoongi membuang muka, menghindari tatapan menggoda milik Jimin.

"Dia ibu dari calon anakku, dia belahan jiwaku, tempat ku menitipkan hatiku, dia dunia ku. Dia segalanya." Jimin berbisik di telinga Yoongi.

"Pembual!" Yoongi menyikut perut Jimin dengan kencang.

"Argh! Ssshh.." Jimin berteriak sakit kemudian mendesis, Yoongi benar-benar niat ketika menyikutnya ya?

"Ma-maaf, apakah benar-benar sakit?"

"Ayahmu juga memukul perutku kemarin.."

"Apa?! Haruskah aku ambilkan handuk dan air dingin? Tung–"

"Jangan kemana-mana, 'kan obatnya itu cukup dengan melihat wajah manismu.." Jimin mencolek dagu Yoongi dengan jahilnya.

"Gombal!"

"Tapi kau cinta.." Jimin tertawa menatap Yoongi yang lagi-lagi blushing.

"Tenang, kau tidak sendiri. Aku juga mencintaimu kok.."

"Park Jimin!"

—•–-–•—

.

Wedding day

.

—•–-–•—

"You may kiss your bridegroom."

Jimin tersenyum saat pastur itu mempersilahkannya mencium pasangan yang baru saja berjanji bersamanya dalam suka dan duka hingga maut memisahkan, ralat– maut pun takkan bisa memisahkan Yoongi darinya. Jimin mempertemukan kedua kening mereka hingga hidung mereka bersentuhan hingga Yoongi dapat merasakan napas Jimin yang teratur. Pandangan mata mereka berdua bertemu, mereka terpaku dan saling menyelami kelamnya safir milik satu sama lain untuk beberapa saat.

"Aku mencintaimu Yoongi." Ia mempertemukan kedua bibir mereka, tidak ada lumatan disana, hanya ciuman lembut yang dapat Yoongi rasakan pada bibirnya. Ciuman yang membuatnya merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, rasanya sangat menggelitik sekaligus menyenangkan.

"Aku juga mencintaimu." Ucap Yoongi setelah ciuman mereka terlepas, ia kembali menatap ke dalam mata Jimin.

Hari ini dengan campur tangan kedua ibu mereka, mereka berdua melaksanakan pernikahan di sebuah gereja kecil tetapi indah di pinggir Busan. Pernikahan mereka berjalan lancar meski keduanya sepakat menolak usulan ayah Yoongi untuk mengadakan resepsi besar-besaran, Yoongi belum ingin kolega ayahnya memenuhi pestanya– meski itu artinya menolak kehadiran para rapper hebat kenalan ayahnya. Mereka berdua hanya ingin pesta sederhana, pesta private yang hanya dihadiri keluarga mereka saja– pengecualian untuk Taehyung karena nyatanya Jungkook merengek meminta Taehyung untuk diikut sertakan yang mana tanpa Jungkook merengek pun Jimin dengan senang hati akan mengundang Taehyung dalam pestanya. Yoongi tersenyum, kini ia resmi menjadi menyandang status sebagai pendamping Jimin dan ia merasa bahagia karenanya.

Jimin meletakkan tangannya pada pinggang Yoongi, ia menatap balik ke dalam mata Yoongi yang berbinar bak bola krystal. Jimin tidak tau kalau rasanya sangat membahagiakan seperti ini, rasa bahagianya seakan meluap dan lagi melihat Yoongi yang tersenyum bahagia membuatnya merasa bahagia seperti menemukan rare pokemon. Iya, senyum Yoongi selangka pikachu sehingga begitu dinantikan kemunculannya.

Kebahagiaan tak hanya dirasakan oleh mereka berdua tetapi keluarga mereka juga, kedua orang tua mereka duduk di kursi paling depan, menatap mereka berdua dan turut merasa bahagia. Oh, jangan lupa Jiyong yang mulai berdrama di pelukan suaminya, Seunghyun yang sudah kebal menghadapi drama Jiyong hanya tersenyum mendengarkan curahan kesedihan istrinya tentang putra semata wayang mereka yang kini sudah menikah dan membentuk keluarga sendiri. Yubin juga sempat menangis hingga hampir membuat riasan matanya berantakan, terima kasih pada San E yang mengingatkannya tentang riasan matanya sehingga ia langsung menahan diri untuk tidak melanjutkan tangis berlebihannya.

"Love you more..." Jimin mengecup surai Yoongi yang kini kembali ke warna asalnya, hitam.

"Ayo lempar buketnya dan lihat siapa yang akan segera menyusul kita.." Yoongi mengangguk, berbalik dengan buket bunga ditangannya.

"Satu.. Dua.. Tiga.."

Beberapa teman dekat serta saudara mereka juga ikut menghitung dan siap untuk berebut buket bunga yang akan Yoongi lempar.

Buket bunga itu terlempar tinggi pada hitungan ketiga dan jatuh di pangkuan sesosok lelaki cantik yang langsung terkejut. Ia tidak ikut memperebutkan buket bunga itu karena ia belum memiliki pasangan dan lagi merasa sia-sia untuk memperebutkan buket yang mitosnya akan membuat si penangkap bunga cepat menyusul ke jenjang pernikahan.

"Hai Jin~~ ku tunggu undangannya~!" Yoongi melambai, berteriak ke arah Jin sebelum Jimin mengangkat tubuhnya dengan bridal style menuju ke mobil yang akan membawa mereka pergi meninggalkan gereja.

Jin sempat memasang wajah bodoh ketika menatap buket bunga digenggamannya sebelum akhirnya tersenyum cantik karena melihat warna bunga di dalam buket itu, mawar pink dan putih yang disusun menjadi satu rangkaian indah.

"Cantik.." Gumannya pelan.

"Kau lebih cantik dari buket bunga itu."

Jin mendongak, menatap seseorang yang mengulurkan tangan ke arahnya.

"Aku Kim Namjoon, teman rapper Yoongi." Namjoon, yang terkenal dengan nama panggung Rapmonster itu tersenyum menawan. Laki-laki itu juga menebar pheromone cassanova yang kuat di sekelilingnya.

"Kim Seokjin.." Jin meraih tangan Namjoon untuk menjabatnya dengan erat. Namjoon mengelus permukaan tangan Seokjin dan merasakan kelembutan disana, namun sayangnya nada dering yang berasal dari telepon genggam Seokjin harus membuat ia melepas genggamannya.

"Can I have your phone number, babe? Cause I think I fall in love with an angel." Jin tertawa kecil dan menutup mulutnya dengan punggung tangan, khas seorang yang peduli pada penampilannya.

"Sure.." Jin menyebutkan nomer teleponnya sebelum melangkah pergi karena telepon genggamnya kembali mendapat panggilan dari rekan kerjanya di rumah sakit. Jin tak lupa menengok ke arah Namjoon dan memberi gestur 'call me tonight' pada Namjoon yang dibalas Namjoon dengan senyum idiotnya. Hemm, love in the first sight, Joon?

.

.

"Bagaimana perasaanmu?" Yoongi menatap Jimin sebelum meletakkan kepalanya di bahu pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Mereka kini berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka menuju hotel sekaligus tempat pesta pernikahan mereka yang akan dilangsungkan malam nanti.

"Aku khawatir kalau pasanganku akan cepat lelah menghadapiku, dan kemudian meninggalkanku. Itu kenapa aku tidak pernah mencoba mencari pacar saat SMA, aku tidak ingin merasakan patah hati ketika ditinggalkan." Yoongi menarik jemari Jimin dan menggenggamnya erat.

"Tapi saat kuliah kau justru datang menerobos dan memaksaku untuk mencoba menjalin hubungan. Aku selalu takut sikapku membuatmu muak dan ternyata benar, tiga bulan yang lalu kau muak 'kan?" Yoongi melepas genggamannya, namun Jimin justru menarik jemarinya dan menggenggamnya lagi dengan erat.

"Maafkan aku, tidak akan ada lagi kata berakhir di antara kita.." Jimin mengecup kening Yoongi dan beralih mengecup perut Yoongi yang sudah memasuki bulan ketiga kehamilannya, dan karena itu Jimin sempat khawatir kalau jas yang Yoongi kenakan akan membuatnya sesak. Beruntung ibunya dengan cepat menyesuaikan ukuran tubuh Yoongi, karena kalau tidak, mungkin Jimin akan memaksa Yoongi mengenakan gaun– yang mana pastinya akan mendapat penolakan keras dan bonus pukulan penuh cinta dari Yoongi.

"Kalau kau tanya bagaimana perasaanku, aku khawatir kau akan muak dan pergi meninggalkanku. Tapi karena sekarang kau sudah benar-benar menjadi milikku, aku tidak perlu khawatir. Karena kalau kau meninggalkanku, aku yakin Appa bersedia membantuku untuk menggali kuburanmu."

"Yo-Yoongi.." Jimin menatap Yoongi dengan takut, yang benar saja.

"Bercanda. Lagipula sekarang aku semakin percaya kalau kau mampu bertahan dan membahagiakanku serta anak kita."

Jimin tersenyum mendengarnya, "wah.. Sekarang Yoongi cerewet ya. Aku senang mendengarnya..."

"Apasih! Ini karena kau juga tau, aku kan tidak ingin kau terus berpikir kalau hanya kau yang mencintaiku. Aku kan juga mencintaimu..." Yoongi buru-buru mengalihkan wajahnya menuju jendela mobil, apasih yang ia katakan barusan? Memalukan.

"Malu ya?"

"Tidak, siapa juga yang malu, aku hanya bosan menatap wajahmu."

"Uuu, jahatnya. Gulanya Jimin jangan buang muka terus dong, kan aku jadi rugi tidak bisa menatap wajah manismu.."

"Jim, kau mau ku sumpal dengan jas atau ku tutup mulutmu dengan dasimu sendiri."

"Tidak ada penawaran yang lain? Seperti disumpal dengan bibirmu misalnya.."

"Kapan sih mesum mu berhenti?"

"Saat kau tidak di sampingku."

"Terserah lah.." Yoongi menyenderkan kepalanya lagi di bahu Jimin, tangannya bermain-main di kancing Jas milik suaminya.

"Jim."

"Hmm.."

"Jimin..."

"Iya, ada apa sayangku?"

"Elusi rambutku ya, aku mau tidur. Aku masih mengantuk karena Umma membangunkan ku terlalu pagi." Yoongi menutup matanya, menyamankan diri di bahu Jimin.

Sebenarnya Jimin berniat menyuruh Yoongi untuk berbaring berbantalkan pahanya, tetapi ia sadar mobil yang mereka tumpangi bukan sebuah limousine panjang, jadi dia membiarkan Yoongi menyender pada bahunya dan menuruti Yoongi untuk mengelus surainya.

..

..

"Hai hyung.." Namjoon menoleh ke arah orang yang memanggilnya, ia sedikit terkejut karena menemukan Taehyung yang menggandeng seseorang tengah melambai ke arahnya. Kim Taehyung, mantan trainee yang menjadi pelatih vokal di agensi tempat mereka bekerja. Tak ada yang tidak mengenal pria dengan kepribadian unik tersebut, semua orang di agensi mengetahuinya.

"Kau..."

"Aku berteman dekat dengan Jimin– mungkin hyung jarang melihatku bersamanya di agensi dan secara kebetulan aku memacari adik sepupu Yoongi hyung." Taehyung menjelaskan alasannya berada disini dengan cepat seakan dapat menebak rasa penasaran Namjoon.

"Oh.. Yang di sampingmu?"

"Jeon Jungkook, adik sepupu Yoongi hyung. Ku lihat hyung– boleh ku panggil hyung? Ku lihat hyung baru saja berkenalan dengan Jin hyung."

"Aku Kim Namjoon, tentu kau boleh memanggilku hyung. Oh.. Seokjin, kau mengenalnya?"

"Dia alumni fakultas kedokteran dari kampus ku, kebetulan dia pernah menjadi mentor ku jadi aku mengenalnya."

Namjoon mengangguk-anggukkan kepala, "oh jadi dia dokter.. Kau tau dia bekerja dimana?"

"Tentu, dia–"

"Jungkookie, Taehyung-ah, ayo kita kembali ke hotel."

"Sebentar Eomonim, aku dan Jungkook akan segera menyusul."

"Okay, Umma ke mobil duluan ya.." Ibu Jungkook melambai dan beranjak pergi.

"Err.. Hyung, bagaimana kalau kita bertukar nomer ponsel? Aku bisa membantumu mendekati Jin hyung.."

"Benarkah? Berapa nomer ponselmu?" Jungkook menyebutkan nomer ponselnya dan Namjoon mengetiknya dengan cepat, ia mencoba mendial nomer Jungkook dan tersambung.

"Nah, aku akan menyimpan nomer hyung juga dan menghubungimu lagi nanti."

"Okay, ku tunggu ya.."

"Duluan ya hyung~" Jungkook melambai dengan cepat karena Taehyung menariknya untuk segera bergegas.

"Pelan-pelan hyung, mobilnya masih akan menunggu kok."

"Untuk apa kau menawarkan nomer ponselmu?"

"Eh? Tunggu, hyung cemburu?"

"Tidak." Jungkook tertawa mendengar penyangkalan Taehyung.

"Jangan tertawa, kau berniat ku hukum ya?"

"Hukuman? Apakah menggelitikku sampai aku mengeluarkan air mata adalah sebuah hukuman? Ku pikir kau akan mengikat kedua tanganku dan menahanku di atas ranjang."

"Kau tau aku tidak akan melakukan itu, setidaknya tidak sekarang."

"Lalu kapan kau akan membuatku mendesah di bawahmu?"

"Jeon Jungkook, berhenti mengatakan hal semacam itu!" Raut wajah Taehyung mengeras menahan kesal, ia melepas genggamannya pada tangan Jungkook dan berjalan lebih dulu.

"Sial! Hahh.. Aku ditolak lagi." Jungkook menendang udara kosong sebelum berjalan dengan cepat untuk menyusul Taehyung.

.

.

"Tuan muda, kita sudah sampai.." Suara supir yang mengantar mereka menyadarkan Jimin dari lamunannya.

"Oh, sudah sampai.." Jimin melirik ke arah Yoongi yang menjadikan bahunya sebagai bantalan. Bangunkan tidak ya? Jimin tidak tega membangunkan Yoongi yang tertidur amat pulas, tapi jujur saja menggendong Yoongi dengan posisi seperti ini pun bukan hal yang mudah.

'Maaf ya Yoongiku' Jimin meminta maaf dalam hati sebelum berusaha membangunkan Yoongi tanpa membuatnya terbangun dengan kondisi kaget.

Yoongi menggeliat, ia bisa merasakan sesuatu seperti angin meniup-niup tengkuknya. "Euhm, Jim..."

"Yoongi bangun, kita sudah sampai."

"Gendong..." Yoongi merengek, masih dengan mata yang tertutup ia meminta Jimin untuk menggendongnya.

"Iya, iya. Tapi keluar dulu ya, aku kesulitan untuk menggendongmu kalau masih di dalam mobil." Yoongi menggangguk, membiarkan Jimin keluar lebih dahulu kemudian mengikutinya.

"Pegangan yang erat ya, jangan bergerak-gerak.." Jimin mengangkat tubuh Yoongi dengan bridal style, ia ingin menggendong Yoongi dengan gendongan ala piggy back sampai kemudian ia sadar kalau perut Yoongi bisa terhimpit.

Jimin tidak lupa mengucapkan terima kasih pada supir yang sudah mengantar mereka sebelum memasuki hotel, beruntung mereka sudah check in di hotel sejak kemarin jadi Jimin tidak perlu susah payah menggendong Yoongi sambil membawa koper menuju kamarnya.

.

.

"Jim.. Mau kemana?" Yoongi menarik tangan Jimin yang hendak beranjak setelah menurunkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.

"Aku mau mengecheck apakah keluarga kita sudah tiba di hotel."

"Kan bisa telepon.."

"Semalam aku lupa mengisi ulang baterai ponselku, jadi ku rasa ponsel ku mati."

"Bisa pakai ponselku."

"Tapi–"

"Okay, pergi sana! Awas kalau kau masuk ke kamar lagi."

Ah, Jimin baru paham sekarang, Yoongi merajuk untuk tidak ditinggal.

"Okay.. Jadi mana ponselnya Mommy?"

"Jangan panggil aku seperti itu!" Yoongi melempar satu bantal yang sukses mengenai wajah Jimin.

"Aw, anarkis sekali sih Mom–

–iya, iya, tidak ku panggil begitu lagi." Jimin sudah bersiap melindungi wajahnya dengan bantal yang sebelumnya Yoongi lempar.

"Ponselnya disana.." Yoongi menunjuk ke arah meja tv yang terletak di tengah-tengah kamar itu.

"Okay, tunggu sebentar ya.." Jimin beranjak untuk menelpon ibunya menggunakan ponsel Yoongi setelahnya ia kembali ke ranjang tempat Yoongi berbaring.

"Tumben.." Jimin memijat kedua kaki yang terlihat sangat mulus tanpa cela itu sambil sesekali modus mengelus-elus paha Yoongi.

"Hentikan!" Yoongi memukul tangan Jimin yang makin merambat menuju atas.

"Kau pintar sekali mengambil kesempatan sih, dasar mesum." Jimin tertawa, ia melepas jasnya kemudian merangkak perlahan ke sebelah Yoongi dan berbaring sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Jimin menatap Yoongi dengan lekat, kulit putih nan mulus, mata kecil yang indah, hidung yang mancung meski tidak semancung sahabatnya, Yoongi itu memang tidak secantik pria androgini, tetapi dia manis, dan... Indah.

Jimin jadi tersenyum mengingat kenangannya tentang Yoongi semasa SMA, sangat dingin. Tapi justru itu daya tarik Yoongi di matanya, bagaimana Yoongi terlihat begitu mempesona dengan auranya. Bagaimana Yoongi sibuk dengan dunianya sendiri dan tanpa sadar dia telah menarik Jimin untuk terus memperhatikan tingkahnya.

Sejak pertama kali ia melihat Yoongi, Jimin sudah menetapkan kalau Yoongi itu pusat dunianya. Pusat dimana ia memfokuskan diri selain pada cita-citanya, hingga ia rela melakukan apapun untuk Yoongi. Kecuali kalau disuruh bunuh diri, Jimin akan menolak. Pasalnya ia ingin terus mendampingi Yoongi sampai malaikat maut sendiri yang datang dan menjemputnya.

"Tumben kau manja.."

"Minta ditendang ya?" Jimin justru tertawa, ia merasa gemas sekali pada Yoongi.

"Jangan tertawa!"

"Hei, belum makan kan? mau makan sesuatu tidak?"

"Tidak mau.."

"Yakin? Nanti baby kurang asupan nutrisi dan gizi loh.."

"Tidak!" Yoongi menatap Jimin dengan kesal, mana mungkin ia membiarkan anaknya kurang gizi. Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tapi Yoongi sedang tidak mood untuk makan apapun. "Jim~ Buatkan susu ya?"

Jimin mencubit hidung Yoongi dengan gemas. "Okay, bawa susunya tidak?"

Yoongi mengangguk, tetapi kemudian buru-buru menggeleng lagi. "Maunya susu cokelat, susu yang kemarin kita beli rasanya tidak enak. Aku tidak suka."

"Tidak enak?" Jimin menatap Yoongi dengan heran. Setelah acara lamaran yang membuat Jimin sempat shock mendadak karena jawaban Yoongi, mereka pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli ini itu untuk kebutuhan Yoongi termasuk produk susu kehamilan. Seingat Jimin, Yoongi sendiri yang memilih produk susu tersebut dan berarti ia sudah meminum produk itu dari sebulan yang lalu, tapi kenapa justru baru protes mengenai rasanya sekarang?

"Iya, rasanya aneh. Maunya susu yang biasa Jim..." Ia menatap Jimin dengan tatapan memelas sementara tangannya bermain pada dasi yang masih Jimin kenakan. Gulung-lepas-putar-lepas-gulung lagi, begitu terus sampai Yoongi tiba-tiba merasa kesal dan menarik dasi Jimin dengan kencang.

"Sa-Sayang, aku tercekik..." Jimin menarik dasinya dari tangan Yoongi dan melepas dasinya sebelum Yoongi kembali mencoba membunuhnya dengan menarik dasi miliknya dengan kencang.

"Maaf.."

"Terus bagaimana? Kan tidak ada susu yang lain.."

"Tidak mau, maunya itu! Pokoknya itu Jim!"

Chup!

Yoongi mendelik karena Jimin justru menciumnya. "Ish! Jimin!"

"Hehe.." Jimin menyengir lebar, pasalnya bibir Yoongi benar-benar mengundangnya sih.

"Aku pesankan saja ya?" Yoongi mengangguk, Jimin sempat-sempatnya menjawil hidung Yoongi sebelum menelpon layanan kamar dan meminta susu, jus jeruk, strawberry shortcake, dan spaghetti bologna. Ini sudah hampir siang dan ia butuh makan juga mengingat pagi ini ia tidak sempat sarapan.

Tok tok

Jimin menoleh, siapa yang mengetuk pintu kamar mereka? Apakah layanan kamar datang secepat ini?

"Hai Jim~~~" Ibu Yoongi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika ia membuka pintu, kemudian ia menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan yang lain.

"Oh Eomonim datang sendiri, yang lainnya sedang makan di restaurant hotel. Eomonim hanya ingin mengecheck keadaan kalian, terutama Yoongi. Kalian sudah makan belum?"

Jimin menyingkir dan memberi jalan masuk untuk mertuanya, "Masuklah Eomonim, Yoongi sedang berbaring di dalam. Aku sudah memesan sesuatu untuk kami berdua."

"Tidak Jim, Eomonim mau ke kamar saja. Ah iya, jangan lupa nanti malam. Selamat menikmati waktu kalian berdua ya." Ibu Yoongi berbisik sebelum pergi, "dan tolong jangan membuat cucu baru untuk Eomonim karena yang ini belum lahir, buatlah lagi kalau yang satu ini sudah lahir."

Wajah Jimin memerah, malu sekaligus merasa lucu. Jadi secara tidak langsung mertuanya mengatakan bahwa ia boleh membuatkan mereka cucu lagi nanti, dan dengan senang hati Jimin bersedia melakukannya. Hehe.

"Siapa Jim?"

"Oh, itu Eomonim.."

"Umma? Kenapa tidak kau suruh masuk?"

"Beliau menolak. Yoongi, tau tidak Eomonim mengatakan apa?"

"Apa?"

"Beliau bilang kita boleh membuatkan mereka cucu lagi setelah baby lahir."

"Mukamu senang sekali sih, dasar mesum!"

Jimin tertawa, tapi ketukan pintu menghentikan tawanya. Ia membukakan pintu, kali ini layanan kamar yang mengantar pesanannya.

"Ini untukmu.." Jimin menyerahkan piring berisi strawberry shortcake ke Yoongi.

"Kan aku tidak minta, maunya susu cokelat." Meskipun protes tapi tangan Yoongi tetap mengambil sepotong kue yang Jimin berikan.

"Ih bawel deh, nih ada juga susu yang Yoongi minta. Nah yg ini bagianku."

Gerakan tangan Yoongi yang akan menyuap kue terhenti, ia melirik spaghetti milik Jimin. "Jim, mau.."

"Apa?" Jimin melihat arah tatapan Yoongi yang menatap spaghetti miliknya. Jimin mengangkat piring spaghetti nya untuk bertukar dengan Yoongi, tapi Yoongi menghentikannya.

"Suapi.."

Jimin menggeleng pelan melihat Yoongi yang tiba-tiba menjadi sangat manja, ia tersenyum dan menyuapi Yoongi tanpa protes sedikitpun.

"Jimin, aaaa" Yoongi menyodorkan satu sendok strawberry cake ke mulut Jimin dan memintanya untuk membuka mulut.

"Enak.." Jimin menerima suapan Yoongi dengan senang hati, kapan lagi Yoongi mau melakukan ini.

"Aaa lagi.." Yoongi terus menerus menyuapi Jimin dengan kue yang seharusnya ia makan, sementara ia sendiri justru memakan spaghetti milik Jimin.

Jimin mendesah pasrah saat Yoongi juga mengambil minuman miliknya, dan menyodorkan susu cokelat ke arahnya. 'Hhh, terima saja Jim.. Masih untung susu cokelat biasa, bukan susu cokelat untuk ibu hamil.' Pikirnya dalam hati.

Jimin langsung meminum susu cokelat yang kini menjadi miliknya, melihat Yoongi yang juga sudah meminum habis jus jeruknya membuat Jimin berinisiatif membereskan meja dan peralatan makan yang sudah mereka gunakan.

"Nah, sekarang Yoongi mau apa? Tapi jangan berkeliling ke pantai atau hal lain yang membuatmu lelah karena nanti malam kita masih akan berkumpul dengan yang lain untuk melakukan perayaan."

"Jim, peluk.." Yoongi merentangkan tangannya ke arah Jimin, persis seperti anak kecil yang meminta untuk digendong.

"Tidak mau ah.."

"Jim.." Bibir Yoongi mencebil, kakinya menghentak-hentak di kasur. Jimin menyeringai, ia segera melompat ke atas ranjang dan mendorong Yoongi.

"Apa yang kau lakukan? Yah! Yah! Park Jimin!" Yoongi berteriak karena Jimin dengan tiba-tiba mendorongnya untuk berbaring dan mulai melepas kancing jas miliknya.

"Menelanjangimu..."

Mata Yoongi menatap Jimin dengan horror, "Jim, kau tidak lupa kan kalau aku sedang mengandung?"

"Lalu kenapa?"

"Kau tidak boleh melakukannya!"

"Hahaha, memangnya aku mau apa? Kau kan belum mengganti baju mu, makanya aku ingin menggantikannya." Duh Jimin mau tertawa, ia kan hanya ingin melepas Jas serta kemeja Yoongi dan menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman, bukannya ingin melakukan hal yang bersifat nganu. Memang nganu sekali pikiran Yoongi.

Wajah Yoongi memerah malu, Jimin sih suka ambigu dan nganu, ia jadi sering berpikir yang iya-iya jadinya. "Kan aku bisa ganti sendiri."

"Kan aku mau membantumu.."

"Yakan bisa bilang dulu, bukannya tiba-tiba menelanjangiku."

Jimin mengecup bibir Yoongi, "kamu makin bawel deh, terima saja ya service dari suamimu ini.."

Tubuh Yoongi sudah polos tanpa pakaian apapun, perutnya yang sudah membuncit juga bisa Jimin lihat dengan jelas. Jimin memandang takjub ke arah perut Yoongi, ia mengelusnya dengan pelan dan hati-hati. Di dalam sini, di sini ada buah hati mereka. Tiba-tiba Jimin merasa sesuatu bergetar dalam hatinya, sesuatu yang membuat matanya berkaca-kaca.

"Jim, kau kenapa?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Terima kasih ya Mommy~~"

"Jim! Jangan panggil aku begitu!"

"Lalu mau dipanggil apa?"

"Tidak tau, belum memikirkannya. Panggil Daddy saja bagaimana?"

"Ey, kalau kau dipanggil Daddy, lalu yang dipanggil Mom siapa?"

"Kau! Hahaha"

"Nakal! Minta dihamili lagi ya?"

"Itu sih kemauanmu!"

"Rawrrr!" Jimin menerjang Yoongi dengan tiba-tiba, ia tidak menindih Yoongi sih, Jimin masih menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Bisa bahaya kalau ia menindih Yoongi.

"Ih apasih, hahaha geli.. Jim.." Yoongi mendorong kepala Jimin yang mengusel lehernya.

"Hahah Jim, sudah.. Hentikan.." Yoongi berhasil, Jimin mengangkat kepalanya dari leher Yoongi dan mengecup bibirnya kemudian disusul dengan sebuah kecupan di perutnya.

Jimin bangkit dan menuju ke koper Yoongi, "Yoongi bawa kaus tidak?"

"Tidak tau, Umma yang menyiapkan."

Jimin hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawaban Yoongi, ia mencari-cari ksus dan menemukan sebuah kaus berwarna putih dengan lengan panjang.

"Sini ku pakaikan.." Yoongi menurut, ia merubah posisinya menjadi duduk dan mengikuti instruksi Jimin untuk mengangkat tangan. Tenang, sedang tidak ada hutan amazon di ketiaknya. Bulu-bulu itu sudah ia cukur habis, kan ia malu kalau sampai Jimin melihatnya.

"Ih! Mau apa? Aku bisa ganti celana sendiri!" Yoongi menghentikan gerakan Jimin yang sudah akan menurunkan resleting celana miliknya.

"Yakin tidak mau digantikan juga?"

Satu buah bantal melayang ke arah Jimin, "asdfghjklz.."

"Minggir sana." Yoongi menuju kopernya dan mencari sebuah celana pendek yang bisa ia gunakan. "Berbalik! Awas kalau kau mengintip, ku congkel matamu dengan garpu."

"Yah galak, padahal aku mau lihat." Protes Jimin, dengan berat hati ia berbalik. Benar-benar berbalik, kan seram kalau matanya benar-benar akan di congkel kalau ketahuan mengintip.

"Dasar mesum!"

"Aduh!" Jimin mengelus kepalanya yang dipukul oleh Yoongi dengan sebuah bantal.

"Kan mubazir Yank kalau tidak dilihat.."

"Hih, minta dibekap bantal ya?"

"Ehehe, tidak.. Sudah kan? Gentian ya aku yang ganti."

"Ih sana! Sana ganti baju di kamar mandi! Siapa juga yang mau liat live action menjurus porno." Yoongi mendorong tubuh Jimin menjauh.

"Yakin tidak mau lihat?"

"Jim, sepertinya ditabok bantal kurang sakit ya? Mau dipukul menggunakan ponsel?"

Jimin hanya tertawa tidak jelas, ia menurut masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti. Tak butuh waktu lama, Jimin sudah kembali lagi dengan pakaian yang lebih santai.

"Ke kamar Jungkook dan Taehyung yuk.."

"Tidak mau ah." Yoongi menjawab dengan malas sambil memainkan ponselnya, tapi tak lama ia menaruh ponselnya lagi di meja nakas yang terletak disamping tempat tidur dan berbaring.

"Sini.." Yoongi menepuk bagian sebelahnya dan meminta Jimin untuk berbaring disana.

"Terus mau apa?"

"Tidur."

Jimin gemas, Yoongi ini sepertinya lebih suka tidur daripada melakukan aktivitas di luar ruangan. Jimin memepetkan tubuhnya ke arah Yoongi, ia melingkarkan tangannya di perut suaminya itu.

"Yasudah tidur deh, mau dielus tidak?"

Yoongi menggeleng, "peluk saja."

Tak butuh waktu lama bagi Yoongi untuk masuk ke alam mimpi dan membiarkan Jimin menyusuri wajahnya yang terlihat damai.

"Aku mencintaimu, Yoongi.." Jimin mengecup kening Yoongi sebelum menutup matanya dan jatuh tertidur.

.

.

.

"Sayang, pakaikan.." Jimin menyodorkan sebuah dasi berwarna hitam ke arah Yoongi yang diterima dengan baik oleh Yoongi.

Yoongi menaikkan kerah kemeja Jimin dan memakaikan dasi ke leher Jimin dengan wajah serius. Tapi kemudian gerakan tangannya terhenti, ia membuka dasi yang sudah hampir terpasang itu dan membuka kancing teratas kemeja Jimin. "Jim, tidak usah pakai dasi ya. Kancingnya dibuka saja, acaranya kan tidak terlalu formal dan hanya keluarga kita saja."

"Okay, apapun katamu.." Jimin menaruh lagi dasinya dan menatap Yoongi, "sudah siap?"

Anggukan Yoongi menjadi tanda bagi Jimin, ia kemudian menggandeng Yoongi untuk menuju ruangan yang sudah mereka sewa untuk pesta kecil-kecilan bersama keluarga mereka. Yang mereka maksud keluarga disini adalah kedua orangtua mereka, orang tua Jungkook, serta Jungkook dan Taehyung.

Mereka memasuki ruangan yang sudah diubah dengan pernak-pernik yang cukup mewah, ada meja kecil juga yang berisi makanan ringan dan kue-kue kecil, serta waiters yang siap mengisi ulang gelas-gelas tersebut dengan wine, cocktail atau minuman non alkohol seperti Jus.

"Wah, pasangan yang baru menikah ini sudah datang. Tidak aneh-aneh dulu kan?" Ayah Yoongi menyambut mereka dengan godaan yang disusul sorakan menggoda dari orang-orang di ruangan itu.

"Appa, tidak ada hal aneh. Berhenti berpikiran yang tidak-tidak sebelum Jimin ikut tertular."

"Loh kok jadi aku?"

"Kau kan mesum.."

"Mesuman juga Jungkook.."

"Loh ntet, apa sih bawa-bawa namaku?"

"Hehe, peace."

"Nah, karena pasangan pemilik pesta sudah datang, ayo kita mulai pestanya~"

Seunghyun berjalan menuju Jiyoung dan mengulurkan tangan, "ayo berdansa sebentar.."

"Siapa yang bilang aku mau berdansa denganmu."

"Yakin my queen menolak? Haruskah aku berdansa dengan Yubin saja?"

Plak!

Seunghyun meringis, ia menoleh ke orang yang memukul kepalanya dari belakang.

"Mau cari mati ya?" Itu San E.

Seunghyun tertawa canggung, "damai.. Aku bercanda..."

"Sukur, masih untung San tidak memukul wajah tampanmu." Ejek Jiyong, ia malah tertawa melihat Seunghyun yang mengelus kepalanya hingga rambutnya berantakan.

"Mana mau aku berdansa dengan orang jelek.." Jiyong berdiri untuk merapihkan rambut Seunghyun, ia perlu sedikit berjinjit untuk melakukannya.

"Jadi, mau berdansa denganku?"

Jiyong mengangguk, ia menarik seunghyun lebih dulu dan menyusul San E dan Yubin yang sudah lebih dulu berdansa.

"Kalian tidak ikut berdansa?" Ayah dan Ibu Jungkook melirik dua pasangan yang duduk mengapit mereka.

Yoongi menggeleng, Jimin jadi ikut menggeleng. Sementara Jungkook terlihat badmood, entah kenapa ia menolak bertemu pandang dengan Taehyung.

Taehyung menghela napas, ia berdiri dan menarik Jungkook untuk berdansa.

"Aku tidak bilang mau berdansa dengan hyung.."

"Kau berani menolakku?"

"Tidak.."

"Lupakan hal yang singgah di otakmu dan mari berdansa dengan tenang."

"Tapi hyung paham kalau aku menginginkannya."

Tatapan mata Taehyung menajam, "dan aku tidak."

Jungkook merasa kesal, ia mendorong dada Taehyung dan dengan cepat berlari keluar dari ruangan itu.

"Ck, Anak itu.." Taehyung mengusap wajahnya, ia kembali ke tempat duduk dan mendapat tatapan heran dari kedua orang tua Jungkook.

"Jungkook hanya sedang merajuk, bukan begitu Tae?" Jimin memutus pandangan heran dari kedua orang tua Jungkook yang kini tersenyum maklum, ayah Jungkook mengelus bahu Taehyung pelan.

"Kau tau Jungkook itu keras kepala dan terkadang masih kekanakan, kau harus banyak bersabar saat menghadapinya."

Taehyung tersenyum, ia menggangguk pelan tanpa mengeluarkan satu kata pun. Justru Yoongi yang berada di sebrang yang menyauti, "persis seperti Jimin."

Jimin hanya mencibir dalam hati, memang yang jelek-jelek selalu dia.

"Eh, siapa yg mengizinkanmu meminum wine?" Jimin dengan cepat menarik gelas di tangan Yoongi sebelum dia sempat meminumnya.

"Sedikit saja Jim, ayolah.."

"Tidak boleh."

"Sedikitttttt saja."

"Tidak. Wine itu tidak baik untuk kehamilanmu, minum yg lain saja." Jimin segera menenggak habis wine di tangannya dalam sekali shoot.

"Yah! Kau tidak tau cara meminum wine?"

"Sengaja, agar kau berhenti memintanya."

"Aku bisa minta lagi pada pelayan.."

"Jangan coba-coba atau.."

"Ap–

Uhmm.. Jim..." Yoongi memukul dada Jimin. Kurang ajar, di depan banyak orang pun masih berani menciumnya.

"Aku bisa melakukan yang lebih panas.."

"Arghh.." Jimin meringis merasakan cubitan yang cukup menyakitkan dari ibunya pada lengannya.

"Masuk kamar sana kalau mau berbuat yang aneh-aneh.."

"Loh, Jungkook kemana? Ia tidak ikut makan-makan?"

"Jungkook merajuk, Yongie. Sepertinya ia tidak ikut bersenang-senang malam ini."

Jiyong menganggukan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Ibu Jungkook yang merupakan adik kembarnya.

"Sepertinya pelayan sudah selesai menyiapkan makanan, ayo kita makan lebih dulu." Jimin dan Yoongi mengangguk, diikuti Taehyung dan kedua orang tua Jungkook yang berjalan menuju meja makan.

"Yah! San! Yubin! Ayo!" Panggilan Jiyong menyadarkan pasangan yang suka tidak tau tempat itu, mereka bergegas menyusul.

Makan malam bersama mungkin bukanlah inti bahkan ini masih awal dari acara pesta kecil-kecilan yang Jimin dan Yoongi buat, tapi kalau melihat betapa ribut para orang tua mereka rasanya makan malam kali ini akan berlangsung ramai dan lama. Tapi berbeda dengan Taehyung yang sedikit gelisah, ia takut Jungkook melakukan hal aneh di kamar.

"Paman, bibi, aku undur diri duluan. Aku khawatir dengan Jungkook. Maafkan aku Jim, hyung, aku harus undur diri lebih awal."

Jimin dan Yoongi tersenyum maklum, "Ah kami mengerti, sudah sana cepat lihat keadaan Jungkook."

"Tolong jaga Jungkook ya Taehyungie." Pesan ibu Jungkook pada Taehyung yang ia balas dengan senyum dan anggukan mengiyakan, ia segera berjalan cepat keluar meninggalkan ruangan tanpa menyentuh makanannya.

"Wah.. Bertambah dua porsi lagi ya, sepertinya timbanganku akan bertambah." Ujar San E bercanda, sedikit garing sebenarnya. Yoongi sendiri hanya tersenyum geli menatap ayahnya.

Sesudah acara makan, mereka mengobrol ringan sambil sesekali meledek pasangan yang baru menikah.

"Ciye tidak bisa melakukan malam pertama, jangan bermain solo ya Jim.." Ucapan Seunghyun mendapat gelak tawa dari orang-orang termasuk Jimin sendiri. Ia tertawa malu karena mendengar sindiran ayahnya.

"Ayo kita bernyanyi.." Jiyong dan Minah– Ibu Jungkook, serempak menoleh ke arah satu sama lain, well mereka juara dalam hal ini.

Jiyong mengambil botol wine dan menjadikannya sebagai Mic, sementara Minah menggunakan botol air mineral. Mereka menyanyikan lagu Maroon 5 dengan bahasa Inggris yang cukup dapat diacungi Jempol, tapi sayangnya Jiyong terlalu mendramatisir hingga Seunghyun dan Jimin tertawa melihat ekspresinya.

"Lebih baik kita battle rap, setuju tidak Yoongi?" San E menatap Yoongi yang tiba-tiba berubah antusias, Yubin ikut bersorak. Keluarga kecil dengan darah rapper ini secara tiba-tiba merebut botol dari 'saudara kembar' yang sudah selesai bernyanyi itu.

Seunghyun menggeleng, tetapi ikut berdiri dan bergabung. "Aku satu team dengan Yoongi, bagaimana?"

"Siapa takut, aku dan Yubin siap mengalahkan kalian."

San E memulai dengan freestyle rap, dengan maksud bercanda ia mengejek anaknya. Yoongi melotot, 'wah ayahnya benar-benar minta dikalahkan dengan telak.'

Mereka bersahut-sahutan, Seunghyun tak mau kalah, ia ikut membela Yoongi dan meledek San E dan Yubin.

Jimin melongo, kemudian tertawa keras mendengar rap konyol yang bersautan. Jiyong dan Minah mencebil, dengan kompaknya mereka berdua mencoba memperagakan cara rap Seunghyun. Suami Minah tertawa mendengar rap dari empat orang yang memegang botol, belum lagi ipar dan istrinya yang dengan kompak mencebilkan bibir dan sok meniru.

"Hah.. Hah.. Sudah, aku menyerah.. Hhh.. Kata-katamu Min Yoongi.. Sepedas cabai."

Yoongi tertawa riang, ia segera memeluk Seunghyun karena mereka berhasil mengalahkan San E dan Yubin.

"Katanya aku sudah tua.." Yubin yang di sampingnya hanya tertawa mendengar keluhan suaminya yang baru saja mendapat knock down dari anak mereka.

"Ayo Jim giliranmu.." San E menarik Jimin dan mendorongnya maju.

"Tapi aku tidak tau mau melakukan apa..."

"Justru itu, lakukan spontan."

Jimin mengangguk, ia menarik Yoongi untuk berdiri di sampingnya. Kemudian Jimin bergeser beberapa langkah menjauhi Yoongi, ia melipat kemejanya sampai siku dan mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Mengotak-atiknya sebentar hingga instrumen nada dari sebuah lagu mengalun.

Jimin mulai menyanyikan sebuah lagu, suara lembut tapi powerful milik Jimin perlahan terdengar.

Yeongwonhi neoreul saranghae neoui gyeotheuro ganeun gil amu mal mothaedo

(Aku mencintaimu selamanya meskipun aku tak mengatakan apapun saat menuju ke arahmu)

Himi dwaeojulkke naega jikyeojulkke nan neol saranghae

(Aku akan menjadi kekuatanmu, aku akan melindungimu, aku mencintaimu)

Jimin berjalan satu langkah menuju Yoongi.

Jichigo manhi himdeul ttaen eonjerado naege gidaedo dwae yeongwonhi naegen neoppuningeol

(Ketika kau lelah berjuang, kau dapat selalu bersandar kepadaku)

Langkah kedua menuju Yoongi yang kini tidak bisa melepas tatapannya dari Jimin.

Nan eonjena neoui gyeothe Forever with you

(Aku akan selalu di sampingmu selamanya denganmu)

Bibir Jimin menampilkan seringai, ia akan melakukan rap yang mungkin akan membuat Yoongi sedikit terkejut.

Saranghae. neoegero ganeun gil

(Aku mencintaimu, dalam perjalanan ke arahmu)

Gomawo. All that I so wanna give you

(Terima kasih. Semua yang ingin kuberikan padamu)

I love you han jul du jul neol saenggakhae sseonaeryeogal sarangiran phyeonji

(Aku mencintaimu. Baris demi baris aku akan menulis surat cinta)

Yoongi terbelalak, Jimin melakukan rap? Ia tidak menyangka Jimin dapat melakukannya.

Neoreul hyanghan I Do I Say ah~ what can i do neol bomyeon michigesseo

(Ke arahmu, aku melakukan aku mengatakan ah, apa yang kulakukan hanya melihatmu)

Jimin sekali lagi mengambil langkah menuju Yoongi tanpa melepas pandangannya.

Naneun eotteokhaedo neo bakke an boineunde nan eojjeorago deouk kheuge buphureoga

(Apa yang harus kulakukan, apapun yang kulakukan aku hanya melihatmu. Ini tumbuh semakin besar)

Yoongi bisa merasakan tatapan Jimin menghujam tepat ke jantungnya.

Neoreul hyanghan sarangi banji jangmi boda deouk hwasahago

(Cintaku padamu lebih indah dari sebuah cincin atau mawar)

Yoongi berkaca-kaca sekaligus tersenyum geli karena mengingat cara Jimin melamarnya, tanpa sebuah bunga.

Sesang jonjaehaneun mueotboda naneun naege gamsahae

(Lebih dari apapun yang ada di dunia, aku berterima kasih)

I love you I need you I want you

Jimin menunjuk Yoongi dan mengirimkan lambang hati dengan jarinya.

Neol saenggakhamyeon halsurok dugeundaeneungeol

(Semakin aku memikirkanmu hatiku semakin berdebar)

Nan neoreul wonhae neol barae naege ollae

(Aku menginginkanmu, aku mengharapkanmu, akankah kau datang padaku)

Yoongi melangkah menuju Jimin, kakinya seakan bergerak menuruti hatinya.

Neol hyanghan naui mam ijen boyeojulkke

(Hatiku menuju padamu, aku akan menunjukkannya padamu sekarang)

Jimin juga melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka.

Neowa na isesang kkeutkkaji urin hamkkehae

(Kau dan aku sampai akhir dunia kita bersama)

Jimin menghentikan penampilannya dengan mendaratkan bibir di atas bibir Yoongi sementara tangannya berada di pinggang belahan jiwanya. Yoongi menutup matanya, ia meremas rambut Jimin dan memperdalam ciuman mereka. Para orang tua bersorak, Jiyong menahan diri untuk tidak menghampiri kedua insan yang makin meresapi ciuman lembut mereka.

"Aku mencintaimu..." Jimin membisikkan kata-kata itu tepat pada telinga Yoongi, rasanya Yoongi ingin menangis, ia merasa terharu dengan yang Jimin lakukan.

"Aku juga mencintaimu.." Balas Yoongi berbisik, ia menutup matanya saat Jimin mendaratkan kecupan lembut di keningnya dengan waktu yang cukup lama.

Well, sepertinya sampai disini pesta mereka.

.

..

.

To Be Continue

(Bersambungnya kurang greget ya. Sengaja, biar kalian ga penasaran).

*Penggalan lirik diambil dari lagu Path Towards You yang dinyanyikan oleh Junho ft Taecyeon of 2PM

.

.

.

Maaf update nya lama ya, aku gatau apa yang harus ku tulis. Diksi ku macet. Berantakan, banyak salah tanda baca, amburageul (?) lah pokoknya, dan lagi ada sesutu yang harus ku urus.

Mungkin emang ini Yoongi bercanda, tapi plot aslinya enggak. Tapi tiba-tiba aku berubah pikiran dan tidak ingin membuat masalah mereka terlalu runyam, pasalnya Yoongi sedang terlihat manis akhir-akhir ini, dan Jimin terlihat makin menawan. Aku jadi ga tega xD

Oh ya.. Aku nulis MinYoon bukan karena kepingin di notice bubun loh ya, bukan. Tapi karena beneran berterima kasih karena dikasih unjuk MinYoon dan jadi terinspirasi buat nulis cerita dengan mereka sebagai cast utamanya.

Dan juga, dengan ini aku mau minta ijin hiatus. Seperti yang kalian baca di awal, aku sedang moody an dan rasanya sangat menyebalkan karena pasalnya aku turut kesal juga pada diriku sendiri. Aku mau hiatus juga karena ada sesuatu menyangkut satu semester ku ke depan. Tapi tenang, aku ga hiatus satu semester kok. Hahaha. Aku ga bisa janji bakal balik cepet, but i swear aku ga bakal discontinue in ff ku lagi. Jadi, sampai jumpa (mungkin satu bulan lagi) :)

I hope y'all will wait patiently and bear with me y. I'm gonna miss you all~

Terima kasih buat review nya di chapter kemarin

Rayania _ Biyuuu _ Win500 _ TaekookYonmin _ Jimsnoona _ XiayuweLiu _ Princexod _ Yoongiena _ SiscaMinstalove _

Reny246 _ So sorry to author luv you thor _ BornSinger _ Dessy574 _ Reallyoungest _ SyugarMint _ Minyoonlovers _ CandytoPuppy _ ChimChim Park _ A Y P _ Rrriiieee _ Restika dwii07

Tanpa kalian, chapter ini ga bakal ada.

.

.

Jakarta, 24 Juli 2016.

With all of my love,

. .

. .

-Reborn to rise-