Hold Me
Chpt 8 pt 2
Jimin x Yoongi. Slight! Taehyung x Jungkook
Kim Yubin x Jung San as Yoongi's parent
Kwon Jiyong x Choi Seunghyun as Jimin's parent
Pair belongs to God, I just make story of them. So, this story is mine.
.
.
Hai, lama ya? Maaf ya, ternyata aku gabisa balik dalam waktu sebulan.
Maaf harus membuat kalian menunggu lama, kadang aku suka gemes mau nulis disaat jam kosong, tapi selalu gagal karena aku lupa alur dan udah ga nge feel lagi sama cerita ini. Udah lama banget dan aku ngerasa bersalah. Aku ga bisa janji kalau chapter ini bakal lebih bagus dari chpt sebelumnya, malah menurutku cenderung ngebosenin.
Aku minta maaf. Semoga kalian tidak bosan dan masih bersedia untuk membaca ini. :)
P.S. Tolong baca chptr sebelumnya terlebih dahulu, aku khawatir kalian lupa. hehe.
.
.
.
Hold Me
Jimin x Yoongi / MinYoon
Rated : M
Genre : Romance, Drama
.
.
.
Pagi ini setelah semalam mereka melakukan perayaan yang cukup menguras sisi emosional Yoongi, mereka semua berkumpul–termasuk Taehyung dan Jungkook untuk melakukan sarapan bersama sebelum nanti siang kembali ke Seoul.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Ayah Jungkook menatap Taehyung dan Jungkook yang menjaga jarak dari satu sama lain, sebagai pasangan yang sangat jarang bertengkar tentunya mereka membuat orang-orang di sekitar mereka keheranan.
"Tidak ada." Jungkook menjawab singkat, kembali fokus memakan salad sayurnya.
"Kalian terlihat aneh. Selesaikan masalah kalian, bukannya justru berjauh-jauhan." Ibu Jungkook ikut bersuara, Yubin dan Jiyoung mengangguk ikut menyetujui ucapannya.
"Jangan sampai hubungan kalian putus begitu saja hanya karena masalah sepele, kau tentunya tidak ingin pengorbanan kalian meminta restu pada orang tuamu menjadi sia-sia 'kan?" Jiyong angkat bicara, Taehyung dan Jimin itu begitu dekat sampai Jinyoung sudah mengetahui seluk beluk kehidupan Taehyung seperti ia tau tentang Jimin. Tentunya ia jadi tau tentang kedua orang tua Taehyung yang sempat menentang hubungan antara Taehyung dan Jungkook.
"Maafkan aku ahjumma, aku akan menyelesaikannya bersama Jungkook nanti."
"Lebih baik kalian selesaikan sekarang Tae, aku tidak ingin melihat wajah anakku yang terus-terusan tertekuk."
"Baiklah Abeoji, kami duluan.." Taehyung berdiri, menarik Jungkook untuk mengikutinya.
"Aku belum selesai! Hyung!"
Orang tua mereka langsung menatap Yoongi dan Jimin yang saling berpandangan, mereka mengendikkan bahu mengisyaratkan ke tidak tauan mengenai apa yang terjadi dengan pasangan yang jarang bertengkar itu.
"Ah iya, Jimin dan Yoongi akan tinggal dimana? Di apartemen Yoongi atau di apartemen Jimin?" Merasakan aura yang sedikit berubah tak enak membuat Ibu Jungkook berinisiatif mencari topik lain untuk diperbincangkan.
"Ah itu–" Yoongi terdiam, benar juga ya, ia dan Jimin belum membicarakan hal ini.
"Di rumah ku, Bi.."
"Di apartemenmu Jim?"
"Bukan. Di rumah ku, rumah ku dan Yoongi. Aku membeli sebuah rumah di–"
"Kau membeli sebuah rumah dan tidak memberitahuku?"
Jimin meraih tangan Yoongi dan mengecupnya, "sengaja ku beli tanpa memberitahumu, supaya menjadi kejutan.."
"Bagaimana kalau aku tidak suka rumahnya?"
"Percaya padaku, kau akan menyukainya." Yoongi tersenyum, baiklah kalau Jimin berkata seperti itu. Tapi awas saja kalau ia tidak menyukainya, akan ia babat habis rambut Jimin.
Yoongi berdecak kesal, sudah satu jam mereka menunggu Jungkook dan Taehyung di lobi tapi yang ditunggu justru tidak muncul-muncul.
"Minah, kemana Jungkook dan Taehyung, mereka lupa kalau akan kembali ke Seoul?" Jiyong ikut bosan karena harus menunggu keponakannya itu.
"Aku tidak tau, aku sudah mencoba menelpon ponsel mereka tapi tidak tidak ada jawaban."
"Haruskah kita memeriksa ke kamar mereka? Siapa tau mereka tertidur?" Usul Yubin membuat mereka serentak memandang ke arah Jimin.
"Okay, aku yang pergi." Jimin baru akan melangkah sebelum akhirnya dua orang yang mereka tunggu terlihat berlari ke arah mereka dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang berantakan, koper di tangan mereka membuat mereka terlihat seperti orang yang kabur dari rumah. Bersyukur tampang mereka rupawan, jadi mereka tidak disangka gembel yang lari dari kejaran petugas penertiban.
Yoongi melirik mereka dengan tatapan tajam, "kalian habis bergulat di kamar? Bergulat saja sampai mati."
Jungkook meringis, ia dan Taehyung hanya tertawa canggung dan meminta maaf berkali-kali.
"Kami tertidur/bergulat.."
"Kalian tidur atau gulat? Atau tidur sambil bergulat?" Seunghyun menggeleng pelan, kemudian tertawa kecil.
"Kami tidur sambil gulat. Iyakan, Jungkook?" Taehyung memberi kode kepada Jungkook melalui matanya.
"I-iya, terlalu terbawa mimpi. He.. He.."
"Mencurigakan."
.
.
.
Yoongi berjalan pelan memasuki agensi tempatnya bekerja, sebenarnya Jimin melarang Yoongi untuk datang ke agensi dan cukup menyelesaikan pekerjaannya di rumah dan lagi sudah sebulan ini ia memilih begitu, tetapi hari ini Yoongi mendapat panggilan dari atasannya mengenai lagu baru yang akan mereka keluarkan untuk sebuah grup hiphop yang akan debut tiga bulan lagi, sehingga mau tak mau Yoongi harus datang ke agensi dan membicarakannya secara langsung.
Tangan Yoongi terkepal, kesal. Selama ia menunggu di ruang tunggu, ia selalu mendengar bisik-bisik mengenai dirinya yang saat ini tengah hamil. Yoongi ingin marah karena mereka membicarakan dirinya, tapi Yoongi sadar ini salahnya sendiri yang membuang hasil pemeriksaannya sembarangan. Lagipula perutnya yang sudah membesar ini memang tidak bisa disembunyikan. Yoongi menghela napas berat, merasa tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hei, kenapa berbisik? Tidak sekalian memakai speaker untuk membicarakan orang lain?" Itu suara Jimin, menyindir sekumpulan wanita yang berbisik membicarakan Yoongi.
"Jimin-ssi.." Yoongi mengerjap, buru-buru menyapa Jimin dengan sapaan formal.
"Hai hyung, setauku seharusnya saat ini kau tidak berada disini."
Yoongi berdesis kesal, kenapa Jimin sok akrab padanya. Dahulu mereka sudah sepakat bahwa mereka adalah orang asing bagi satu sama lain ketika di tempat kerja dan sekarang Jimin menyapanya seakan mereka memiliki hubungan yang akrab.
"Kenapa?" Jimin bertanya bodoh, menghiraukan raut kesal Yoongi. Jimin tidak peduli bahwa sekumpulan orang tadi kini malah berganti berbisik tentang mereka berdua.
"Untuk apa kau disini?"
"PD-nim memanggilku."
'Hei, sejak kapan mereka akrab?'
'Apakah Yoongi-ssi menggoda Jimin-ssi?'
'Ku dengar Yoongi-ssi belum menikah?'
'Apakah selama ini ia berhubungan dengan banyak pria tanpa status?'
'Kalau Yoongi-ssi mengandung, bukankah berarti Yoongi-ssi yang berada di bawah? Berarti selama ini dia gay?'
'Lihat perut Yoongi-ssi, kira-kira sudah berapa bulan?'
"Hei-hei kalian yang disana, berhenti membicarakan Yoongi. Karena demi Tuhan, objek yang kalian bicarakan dapat mendengar bisik-bisik kalian dengan jelas!"
"Kalau begitu, kenapa kau yang ribut? Yoongi-ssi yang mendengarnya saja tidak protes! Atau jangan-jangan kau salah satu yang tidur dengannya? Makanya kau membelanya?" Salah satu wanita yang membicarakan Yoongi memprotes ucapan Jimin.
Yoongi bangkit, menghampiri wanita itu dengan perlahan.
"Mau apa? Benar yang ku katakan?" Wanita itu secara tidak langsung menantang Yoongi, teman di sebelahnya berdecak kesal, menyenggol kakinya, "kau cari mati!" Bisiknya takut.
"Bangun. Katakan sekali lagi dengan kencang di hadapanku." Yoongi berucap tajam, wanita itu bangkit dari duduknya.
"Apa? Apa?! Tentang Jimin yang menjadi salah satu orang yang menidurimu? Jal-
PLAK!
Yoongi tidak main-main dengan tamparannya, Jimin berdecak karena Yoongi menggunakan kekerasan, ditambah mendengar suara tamparan yang begitu kencang membuatnya meringis ngilu.
"Camkan baik-baik dalam otak penggosipmu. JIMIN ADALAH SATU-SATUNYA ORANG YANG TIDUR DENGANKU!" Yoongi berbalik-
"Menjijikan." Desis wanita itu kencang.
Yoongi berhenti sebentar dan mengepalkan tangannya menahan amarah. Tanpa berbalik ia berkata lirih, "Ya, aku menjijikan. Tapi kelakuanmu lebih menjijikan."
Jimin menggeram marah, ia memandang wanita itu dengan tajam. "Iya, aku ayah dari bayi itu. Aku satu-satunya pria yang meniduri Yoongi. Benar, kami seorang gay karena kami jatuh cinta pada satu sama lain. Cih, benar kata Yoongi, kelakuanmu lebih menjijikan." Jimin melangkah pergi menyusul Yoongi yang sudah sampai di depan lift.
"Yoongi-"
Ting
Ucapan Jimin terhenti ketika pintu lift itu terbuka dengan Jhope di dalamnya. Yoongi memasuki lift itu diikuti Jimin di belakangnya. Pintu lift tertutup, Yoongi menekan tombol menuju lantai dasar.
"Yoongi.." Jimin mengabaikan tatapan bertanya milik Jhope.
"Yoongi, tatap aku." Jimin berdecak karena Yoongi mengalihkan tatapannya pada lantai lift.
"Yoongi.." Yoongi tidak menjawab, tangannya meremas pegangan lift dengan kuat. Tiba-tiba perutnya sangat sakit.
"Ji-jim.. Sa-sakitt.." Yoongi menyender pada dinding lift, makin meremas kencang pegangan lift itu.
"Yo-Yoongi! Mana yang sakit?" Jimin berubah panik, dengan cepat mendekati Yoongi.
"Pe-perutku.. Jim.." Yoongi meremas perutnya yang sudah membuncit karena kehamilannya sudah memasuki bulan keempat. Jimin buru-buru menarik tangan Yoongi, memindahkannya ke bahu miliknya.
"Jangan meremasnya, Sayang! Remas bahuku saja." Yoongi segera meremas bahu Jimin dengan kencang, perutnya rasanya sangat sakit.
Tangan kanan Jimin mendarat di atas perut Yoongi, mengusapnya dengan gerakan memutar, "Jagoan appa, tidak boleh menyusahkan umma ya."
Seiring dengan usapan Jimin, remasan di bahunya perlahan mengendur. Jimin menatap wajah Yoongi yang berkeringat, mengusap keningnya dengan lembut.
"Kita ke rumah sakit ya?" Yoongi hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Jimin. Jimin bernapas lega, ia mendorong kepala Yoongi dengan pelan dan menyenderkannya di bahu miliknya sementara Yoongi memejamkan matanya dan menikmati sentuhan lembut Jimin di rambutnya.
Sentuhan di punggungnya menyadarkan Jimin bahwa ada orang lain di dalam lift ini, Jhope menatapnya dengan tatapan bingung.
"Hyung, errr.. Yoongi adalah istriku." Ucapan Jimin membuat Jhope kaget, mulutnya menganga, kemudian terkatup menelan semua pertanyaan yang ingin dilontarkan.
"Hyung, bisa tolong tekan tombol menuju basement? Aku memarkirkan mobilku dibawah." Jhope tersadar, buru-buru menekan tombol menuju lantai terbawah.
Ting
Lift sampai di lantai dua, lantai tempatnya melatih para trainee. Jhope melangkahkan kakinya keluar lift.
"Maaf aku tidak mengundang hyung ke pernikahan kami, Yoongi tidak mau orang-orang di agensi tau." Jimin berucap sebelum Jhope benar-benar keluar dari lift.
"Tidak apa-apa, aku mengerti." Jhope berbalik, tersenyum maklum. Pintu lift kembali tertutup, dan terbuka lagi di lantai satu.
"Loh, Yoongi hyung?" Itu suara Taehyung, ia memasuki lift dan menutupnya lagi. Taehyung memandang Jimin dengan tatapan bertanya karena melihat Yoongi yang bersandar padanya.
"Perutnya sakit lagi, jadi aku akan membawa Yoongi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan." Mulut Taehyung membentuk huruf o, ia mengangguk-angguk mengerti.
Ting
Pintu lift berhenti di basement, ia mengangkat tubuh Yoongi secara bridal. Jimin melangkahkan kakinya keluar lift diikuti Taehyung di belakangnya, "butuh bantuan membuka pintu mobil?" Jimin mengangguk mengiyakan.
Taehyung mengikuti Jimin ke tempat mobilnya terparkir, membukakan pintunya dengan sigap, "thanks bro." Taehyung hanya mengangguk, berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Jimin, ia berniat menjemput Jungkook di kampusnya.
Jimin memasukkan Yoongi ke dalam mobil dengan hati-hati, membantu Yoongi menggunakan seatbelt dan menutup pintu mobilnya dengan pelan agar tidak mengagetkan Yoongi kemudian Jimin berputar menuju pintu pengemudi dengan cepat.
Dengan perlahan Jimin melajukan mobilnya, tangannya kirinya menggenggam tangan Yoongi yang dibalas Yoongi dengan menggenggam tangan Jimin lebih erat.
"Yoongi, maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Karena aku kurang berusaha keras untuk menahanmu di rumah, harusnya kau tidak mendengar ucapan mereka."
"Aku-"
"Kau tidak menjijikan Yoongi, sama sekali tidak. Bagiku kau istimewa." Jimin mengecup tangan Yoongi dengan lembut.
"Kenapa kau cheesy sekali sih.." Yoongi merajuk, tetapi wajahnya memerah malu. Jimin hanya tertawa kecil melihat sikap Tsundere Yoongi.
.
.
Keadaan ruang tunggu saat ini tidak terlalu ramai, hanya ada dua orang ibu-ibu hamil selain Yoongi. Ibu hamil yang satunya ditemani suaminya, sementara satunya sendirian. Yoongi dan Jimin hanya tinggal menunggu satu pasien yang sedang diperiksa di dalam.
"Wah, enak ya kalo periksa diantar suami.." Ibu hamil yang menunggu sendirian itu bercelutuk menatap Yoongi dan Jimin. Jimin dan Yoongi hanya tersenyum canggung.
"Sudah berapa bulan?" Ibu hamil yang satunya menatap perut Yoongi.
"Empat bulan.." Yoongi membalasnya canggung.
"Kenapa memakai celana jeans sih? Harusnya kau memakai sesuatu yang lebih longgar." Ibu hamil itu menasihati Yoongi, menatap celana jeans Yoongi yang membalut kaki kecilnya.
"A- i-iya, terimakasih nasihatnya."
"Min Yoongi." Seorang perawat memanggil Yoongi untuk masuk. Yoongi segera berdiri dibantu Jimin, memasuki ruang periksa tak lupa tersenyum sopan pada ibu-ibu yang berada disana.
"Mereka manis sekali..." Dua mata ibu hamil itu berbinar menatap mereka berdua.
"Hai Yoongi, dan.. Jimin?" Jin, dokter kandungan yang mengenal Yoongi menyapa mereka dengan ramah.
"Seingatku ini belum tanggal check up mu.." Jin mengecheck kalender di mejanya, dan mengerutkan dahi.
"Yoongi mengalami sakit perut lagi, apakah itu berbahaya mengingat Yoongi sering mengalaminya?"
"Ayo berbaring, aku akan memeriksa keadaanmu."
Jin melakukan pemeriksaan seperlunya, menatap Yoongi dengan kening berkerut.
"Yoon, tentu kau paham bagaimanapun juga kehamilanmu berbeda dari umumnya, itu akan sedikit menyulitkanmu." Jin berjalan menuju mejanya, menulis resep untuk Yoongi. Sementara Jimin membantu Yoongi untuk berdiri lagi.
"Jimin.." Jin memberi gestur agar mereka segera duduk untuk mendengar penjelasannya.
"Yoongi, ini sudah bulan keempat, kau sudah dapat merasakan perubahannya kan? Simpan semua jeans mu. Termasuk ripped jeans mu. Jangan gunakan jeans atau celana yang terlalu ketat lagi, itu hanya akan membuatmu sesak. Gunakanlah celana yang lebih longgar agar kau juga lebih mudah beraktivitas."
Yoongi mengangguk patuh, memang seharusnya ia mulai memakai celana yang lebih longgar.
"Jimin, kau kan suaminya, tolong perhatikan apa-apa saja yang Yoongi kerjakan, beraktivitas boleh, tapi jangan sampai membuatnya lelah. Jangan biarkan Yoongi memikirkan hal-hal yang membuatnya stress, apalagi sampai down, itu berpengaruh sekali pada bayi kalian."
"Apakah sebelum kesini ada sesuatu yang mengganggu Yoongi? Aku rasa hal itu menyebabkan Yoongi mengalami guncangan. Kalau hal ini terus terjadi, tentu akan berbahaya bagi Yoongi dan juga janinnya. Bisa saja Yoongi mengalami keguguran." Jin memandang mereka berdua dengan serius.
"Ini masih bulan keempatnya, dan aku harap kalian dapat menjaganya dengan baik. Silahkan tebus resep yang aku berikan, minum dengan teratur untuk menguatkan kandunganmu. Kalian mengerti kan?"
Hening. Jimin dan Yoongi fokus pada pikirannya masing-masing.
"Kalian tenang saja, kandungan Yoongi cukup kuat. Aku hanya memperkirakan kemungkinan terburuk apabila Yoongi terus mengalami sakit."
Jimin mengangguk, mengambil resep yang Jin berikan. "Terimakasih sarannya, aku akan lebih memperhatikan Yoongi."
Jin tersenyum menatap keduanya, "Jangan lupa check up lagi. Ah iya, kalian tidak ingin mengetahui kelaminnya?"
Jimin menatap Yoongi, "aku rasa akan lebih istimewa kalau itu menjadi sebuah kejutan nantinya."
"Terimakasih Jin, ngomong-ngomong, Namjoon menanyakanmu."
Yoongi tertawa melihat raut wajah Jin berubah menjadi malu. Ia menggandeng Jimin untuk keluar dari ruangan itu.
"Kau tunggu disini ya, aku menebus obatnya dulu." Jimin mendudukkan Yoongi tak jauh dari tempat menukar resep, Yoongi menarik bagian belakang kemeja Jimin.
"Habis ini ke supermarket ya? Buatkan aku tteopokki yang pedas." Yoongi menatap Jimin dengan mata kecilnya yang indah, Jimin mengusak rambut Yoongi gemas.
"Okay Sugar~" Jimin menjawil gemas hidung Yoongi, menimbulkan gerutuan kecil dari bibir Yoongi.
.
.
.
"Hhh.." Jimin menghela napas lelah, bukan karena ia melakukan pekerjaan berat tetapi karena Yoongi. Ia melirik ke lengannya yang terus-terusan ditempeli oleh Yoongi. Kalau Jimin sedang tidak memasak sih ia senang-senang aja, masalahnya adalah dia sedang memasak tteopokki dan Yoongi membatasi gerakannya.
"Yoongi, biarkan aku menyelesaikan ini dulu ya?"
"Tidak mau!"
Jimin menyerah, ia mematikan kompor dan menyeret Yoongi menuju meja makan. Ia mengangkat tubuh Yoongi dan mendudukkannya di atas meja.
"Dengar ya, Sayangnya Jimin. Pesananmu bisa lebih cepat selesai kalau kau tidak mengganggu suami tampanmu ini. Tunggu sebentar disini, okay?" Jimin tersenyum, ia mengecup kilat bibir tipis Yoongi.
Sret!
Jimin berdecak pelan, ia berbalik lagi menatap pelaku yang menarik apronnya tanpa dosa.
"Sayang.." Jimin memelas sementara Yoongi menggeleng pelan.
"Gendong," Yoongi merentangkan tangannya ke arah Jimin.
"Kenapa hyung jadi manja sekali sih, aku jadi tidak tahan. Aku selesaikan ini dulu, bagaimana?"
"Aku sudah tidak mau tteopokki," Yoongi merenggut lucu. "Aku mau susu."
"Oke, aku buatkan." Jimin baru saja akan berbalik sebelum Yoongi lagi-lagi menarik apronnya.
"Bukan susu yang itu." Jimin menatap Yoongi heran, semakin heran ketika semburat malu-malu muncul di wajah Yoongi.
"Aku mau yang ini," tangan Yoongi terjulur untuk mengelus pelan adik kecil Jimin.
"Ha?!"
.
.
.
Jimin tersenyum penuh kemenangan, entah ada angin apa hingga istrinya berubah menjadi seagresif ini. Sebenarnya Jimin cukup khawatir, bagaimana kalau Yoongi kelelahan dan terjadi sesuatu dengan calon anak mereka? Tapi mana bisa ia menolak Yoongi dengan tatapan puppy nya, lagipula terlalu sayang kalau Jimin tolak. Begini juga kan adik kecil Jimin rindu sarangnya. Uhuk.
Yoongi sudah bersiap dengan Jimin di belakangnya, mereka akan melakukannya dengan posisi menyamping yang menurut mereka (sesuai anjuran Jin juga sih) paling aman. Tetapi baru saja Jimin menyiapkan adiknya, Yoongi tiba-tiba berbalik menghadapnya.
"Jimin?"
"Y-ya?"
"Tidak jadi ya, aku lelah." Yoongi mendorong Jimin menjauh, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Dang!
"Min Yoongiiiii!"
Teriakan frustasi Jimin hanya dibalas kekehan oleh Yoongi yang berada dibalik selimut, "hihihi.."
.
.
.
TBC
ehehe.
Kesel ya? Ya maaf~
Sekali lagi, hae gaeess~ Long time no see
TERIMAKASIH BANYAK BUAT YANG MASIH MAU BACA CERITA INI, KALAU ADA READER BARU JUGA TERIMAKASIH.
TERIMAKASIH ATAS SEGALA SUPPORT DALAM BENTUK REVIEW, FAV/FOL, MAUPUN PM.
MAAF GABISA NYEBUTTIN UNAME KALIAN SATU-SATU, BUT SERIOUSLY I REALLY THANK YOU ALL.
P.S. CAPSLOCK JEBOL
P.S.S MAAF KALAU ADA ERROR DAN TYPO
Love you all,
-Reborntorise (SS)-
