Chap 3
"Hindia."
Suara berat bergaung di kamar bergaya klasik eropa. Tak ada jawaban. Hanya sunyi senyap menyapa.
Dipanggilnya kembali nama itu sambil melangkah mendekat. Sosok pemuda berambut hitam hanya duduk membelakangi di tempat tidur berkelambu. Derap langkah terdengar bagai hitungan mundur kematian.
Pemuda itu masih keras kepala tak menjawab.
Tangan besar menelungkup dagu pemuda sawo matang dari belakang. Menengadahkan kepalanya hingga bersender di dada bidang.
Binar hijau permata berserobok dengan binar cokelat tua.
"Namaku bukan Hindia," desis pemuda sawo matang.
Ditepisnya telapak tangan yang menggenggam wajah, pemuda itu berbalik menantang. Sikap pongah dan tak bersahabat ditunjukkannya tanpa jengah.
"Namaku Indonesia. Atau Indonesië dalam bahasamu. Bukankah anak-anakku sudah mengajukan nama itu ke petinggimu?" tambahnya sinis.
Lengan kurus digenggam kuat oleh jemari besar bule pirang. Mata hijaunya berkilat. Bayangan tubuh besar seakan memakan bayangan tubuh kecil di depannya.
"Sudah kubilang juga, bukan? Pengajuan itu ditolak," kecamnya.
Gigi kuning pemuda sawo matang bergemeretak. Menahan amarah meluap-luap. Ingin sekali ia menjambak rambut jabrik pirang. Sayang sungguh sayang, tingginya tak sampai. Ia hanya bisa memelotot, menggeram dan berusaha lepas dari cengkeraman.
"Sampai kapan pun namamu tetap Hindia Belanda. Tak ada yang berubah. Kau adalah milikku." Pria itu berujar tenang, "Dan tak akan ada yang bisa merubah statusmu itu, Hindia."
"Akan kurubah status itu. Bagaimana caranya, apa pun caranya, dan siapa pun yang akan membantuku. Camkan itu, Belanda," desis Hindia tak mau kalah. Belanda melepaskan genggamannya. Hindia mendesis sambil mengusap lengan yang membekas tangan.
Pria pirang itu berbalik ke arah meja bundar. Menggeser nampan perak yang berisikan makanan dan minuman.
"Makan. Kubawakan dari dapur. Habiskan sekarang juga," perintahnya lugas.
Hindia mencebik. Belanda mengabaikan perangai kekanakan. Ia mengangkat nampan, kemudian membawanya ke sebelah Hindia.
Bau semerbak rempah mengudara, membuat air liur mengalir di dalam mulut pemuda sawo matang. Hindia mengumpat kesal. Perut pun mengkhianatinya dengan bergemuruh meminta makan.
"Kaulapar, bukan?" cemooh Belanda. "Hentikan sikap kekanakanmu dan makan olahan daging dicampur rempah yang pas dicecap olehmu."
Belanda mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Hindia. Bibirnya berbisik pelan di telinga Hindia, hingga hembusan napas menggelitik rangsang.
"Tentu tak mungkin kau tak memakannya. Karena..., semur ini dibuat dari rempah hasil tanam anak-anakmu sendiri. Hasil dari jerih payah mereka, berlumur peluh dan darah dari tubuh mere—"
Sontak piring itu terhempas ke arah Belanda. Kuah semur panas mengenai jas putih yang dikenakannya. Nampan dan piring jatuh mengotori keramik putih.
Raungan marah menggelegar. Leher sawo matang dicengkeram kuat. Belanda mencekik hingga napas Hindia menyempit. Jari pemuda sawo matang mencakar tangan bule hingga berbekas melintang.
"Kau— tak tahu diuntung. Keparat sepertimu hanya bisa merengek meminta merdeka. Nyatanya hanya omongan belaka," geram Belanda sambil mengeratkan genggaman.
"Akan kutunjukkan padamu siapa yang berkuasa atas dirimu. Siapa yang memilikimu. Siapa yang membuatmu tak berdaya akan hal apa pun."
Dilepasnya cekikan mematikan, kemudian dihempaskan tubuh pemuda itu di atas ranjang. Hindia megap-megap meraup napas. Usahanya terhenti saat tubuh besar melingkupnya hingga tak bisa bergerak.
Kemeja putih yang dikenakannya ditarik hingga robak-rabik. Celana bahan panjang terlepas tanpa disadari. Kaki jenjangnya dilebarkan hingga memperlihatkan teritorial rawan.
Saat benda gemuk panjang memasuki tubuhnya, ia menahan jeritan. Berkali-kali hingga ia memejam mata penuh nestapa. Ia meredam semua emosi, membiarkan pria adidaya mengubrak-abrik tubuhnya. Kekuasaannya.
Kebebasannya.
.
.
Mata cokelat tua membuka perlahan.
Kelambu ranjang menutup dari segala sisi. Melihat siluet jendela yang gelap dan tertutup, perkiraan waktu lewat tengah malam. Mendesah lelah, ia hanya berbaring terdiam.
Tubuhnya terasa tertusuk belati tajam. Sakit dari bagian bawah, lengan, pinggul, juga kepala tak hentinya berdenyut. Tubuhnya begitu lengket oleh peluh dan cairan mani. Belanda benar-benar murka melihat dirinya yang keras kepala menolak untuk dijadikan kepemilikan.
Hindia terkekeh pelan.
Tak masalah. Bukan hal baru ia diperlakukan jalang. Ia memang sakit, tapi lebih sakit anak-anaknya yang diperlakukan lebih tidak adil. Bekerja tanpa henti, disiksa, juga diperlakukan berdasarkan kasta.
Beberapa kali Hindia menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit berlipat-lipat jika memejam mata, mendengar jeritan para rakyat.
Ia ingin berbuat sesuatu, namun segala kebebasannya direnggut. Ia menjadi hak milik Belanda dengan begitu egois. Bercakap dengan anaknya pun hanya diberi waktu sekali dalam seminggu. Keluar dari rumah miliknya hanya saat acara pertemuan petinggi, pelajar dan bangsawan.
Ia bagaikan boneka. Dikendalikan dengan tali kasat mata. Berkali-kali ia mencoba melepas, namun tali yang menjerat membuatnya kembali diam senyap.
Di segala keputusasaan, pasti terdapat setitik harapan.
Kecil, bahkan terasa samar. Namun Hindia yakin, harapan kecil itu bisa berubah menjadi besar apabila dibesarkan oleh sekelilingnya. Apabila didukung oleh berbagai pihak. Gemuruh kecil di dalam dadanya menyiratkan adanya pemberontakan sedikit demi sedikit yang dilancarkan anaknya.
'Jika mereka saja tak hentinya berbuat pergerakan, mana mungkin aku diam saja,' pikir Hindia dengan senyum tipis.
Ketukan pintu membuatnya menoleh ke arah pintu kayu bercat cokelat. Saat Hindia tak menjawab, ketukan bertambah kencang dengan irama tak senada.
Meringis saat cairan turun ke paha, Hindia berjalan tertatih ke arah pintu. Piyama besar putih melekat di tubuhnya yang sempat dipakaikan Belanda. Membetulkan pakaian, Hindia membukakan pintu dengan waspada.
Nampan tersodor ke arahnya tanpa kata. Nampan itu bergemetar hingga membuat sup wortel di atasnya hampir tumpah. Reflek, Hindia mengambil nampan agar tak menambah beban pembawanya.
Saat ia mendongak, sosok pemuda berdarah terlihat di netranya. Ia hampir terkesiap, namun ia tahan.
Wajah pemuda itu tertutup aliran darah, debu, dan tanah. Rambutnya lepek, berwarna hitam kemerahan termakan sinar matahari. Baju putih kumal melekat dengan darah dan tanah sebagai corak.
Hindia melihat sekeliling. Tak ada penjaga yang menunggu di depan kamarnya. Kemungkinan Belanda menyuruh mereka berjaga di depan pintu rumah.
Ya, Kompeni keparat itu memang sengaja. Sengaja mengantarkan 'hadiah' untuknya pagi buta. Hindia mengeraskan rahangnya penuh amarah.
Menarik tubuh pemuda itu masuk ke dalam, Hindia pun menutup pintu pelan. Bau anyir dan keringat merasuk ke hidung Hindia. Entah apa saja yang dilakukan Belanda kepada pemuda di depannya. Namun melihat jalannya yang menyeret kaki kanan, dipastikan kakinya patah.
Alis Hindia mengerut tak tega. Hatinya terasa tercabik melihat anaknya diperlakukan semena.
"Kau..., siapa namamu?" ujar Hindia serak.
Pemuda itu berjengit saat mendengar suara Hindia. Namun diam seribu kata. Hindia menyuruhnya untuk duduk di meja bundar, namun ditolaknya mentah-mentah. Pemuda itu memilih duduk di lantai keramik, bersikap patuh layaknya abdi.
Hindia semakin menipiskan bibirnya saat tubuh pemuda itu bergemetar. Entah karena cuaca dingin atau tubuhnya yang kelaparan.
Maka disodorkannya nampan berisikan makanan untuk pemuda. Pemuda itu menggelengkan kepalanya panik. Matanya membelalak, bergerak kanan-kiri. Seakan takut jika Hindia akan menjadi pemicu hukumannya.
"Tenanglah. Tidak ada penjaga di sekitar kamarku. Aku pun tak lapar. Jika makanan dan minuman ini tak habis, aku juga akan dihukum sama sepertimu. Bisakah kau membantuku menghabiskannya? Aku berjanji tidak akan mengatakan bahwa kau yang memakannya," ujar Hindia menenangkan.
Sedetik kemudian, pemuda itu melongo. Ia bolak balik menatap nampan, kemudian wajah Hindia. Begitu ia lakukan hingga lima menit terlewat.
Tangan terbakar matahari itu gemetar menggapai perkedel. Ia melihat Hindia lagi dengan ragu, seakan menunggu reaksi marah. Hindia hanya tersenyum sambil berjongkok di depannya.
Sontak, pemuda itu melahap makanan tanpa segan. Tangan kotornya menyuap nasi dan lauk sekaligus. Sendok dan garpu diabaikannya. Meminum teh hangat, kemudian menelan sup wortel hingga tumpah ke pakaiannya.
Hindia bangkit dari posisinya. Ia berjalan ke arah kamar mandi di ujung kamar. Diambilnya ember kecil, diisikan air hingga setengah. Berjalan keluar, Hindia meraih kemejanya yang robek di lantai. Dibasuh hingga basah, lalu diperas. Pemuda itu telah menyelesaikan makanannya. Nampan begitu berantakan, gelas ditaruh di atas piring. Tangannya kotor karena makanan.
Tersenyum mafhum, Hindia membersihkan jemari pemuda itu dengan kain basah. Tadinya pemuda itu menarik kembali tangannya. Namun Hindia memaksa.
Wajah pemuda itu pun dibersihkan setelah ia membasuh kedua kalinya. Alis pemuda itu tebal. Matanya cokelat. Bibir tipis, hidung bangir. Parasnya tentu tampan jika darah dan tanah tak mengotori wajah. Dengan cekatan, Hindia membersihkan bagian yang terluka.
Pemuda itu hanya diam.
"Kau tak bisa bicara?" tanya Hindia sambil menyeka bagian leher.
Pemuda itu mengangguk. Hati Hindia mencelos. Anaknya yang cacat pun diperlakukan bagai binatang. Apa salahnya? Apa salah anak-anaknya?
"Maafkan aku," ucap Hindia dengan suara bergetar.
Pemuda itu mendongak. Bingung kenapa pemuda di depannya meminta maaf padahal ia memberikan makanan, minuman juga air untuk membersihkan badan.
Pemuda itu meraih tangan Hindia yang bergemetar. Menangkupnya dengan perlahan, seakan takut ia berbuat salah. Rasa hangat menguar dari genggaman tangan pemuda bisu. Hindia menggigit bibirnya.
Begitu banyak hal yang tak bisa ia lakukan untuk anak-anaknya. Hindia tahu ia begitu tak berguna. Namun, setidaknya ia ingin bisa meringankan beban rakyatnya.
Walau pun hanya satu orang.
.
.
