Chap 4
Pembawa makanan ke kamarnya selalu berbeda.
Kadang pria paruh baya, pemuda tanggung, wanita, atau remaja lelaki dan perempuan. Persamaan mereka hanya satu, tubuh penuh luka hingga bau anyir menyerbak. Hindia menebak teror pembawa makanannya hanya akan berjalan sekitar satu atau dua bulan. Tebakannya meleset, teror itu berjalan hingga setahun penuh.
Belanda seakan memiliki stok budak yang siap siaga untuk disiksa dan diperintah untuk menjalankan tugas.
Hindia tetap berkukuh untuk tidak tunduk pada Belanda.
Justru teror itu digunakannya sebagai alat pengumpul informasi. Ia akan menyodorkan makanan kepada anak-anaknya. Meminta mereka membasuh diri, namun tidak kentara. Sebab jika kondisi mereka terlalu apik, Belanda akan curiga. Setelahnya, ia akan mengajak mereka berbicara mata ke mata.
Kadang mereka hanya diam, menangis, tertawa kecil ataupun meluapkan amarah. Hindia mencoba menangani masalah mereka satu persatu. Meminta mereka untuk tetap berjuang. Agar saat merdeka kelak, mereka dapat merasakan indahnya kebebasan.
Satu harapan kecil ditanam Hindia di dalam pemikiran anak-anaknya. Tak sedikit yang menepis pemikiran positifnya, namun banyak yang tersenyum kasih saat mendengar kisahnya.
Belanda tetap menemuinya tiap malam. Kadang meminta tubuhnya, kadang hanya ingin berbincang—atau lebih tepatnya, melontarkan serapah satu sama lain.
Hindia tak habis pikir dengan kesabaran Belanda menanganinya.
Pribadi Belanda terlihat bercampur aduk. Kadang marah, apatis, juga penuh kasih sayang.
Tak satu dua kali ia bersikap layaknya kekasih. Datang menghampiri Hindia, memeluk, mencium, juga menyetubuhinya penuh cinta. Tentu Hindia menolak mentah-mentah. Ia tak membalas kasih mesra yang ditujukan padanya. Ia hanya bersikap datar. Seakan cinta kasih Belanda sekadar bohong belaka.
Namun dustalah ia jika tidak merasakan gundah.
Saat pria itu menyatukan tubuhnya dengan penuh kelembutan, Hindia hampir terlena. Tubuhnya merespon terlalu sensitif, mengikuti gerakan lamat-lamat si kompeni, merasakan bagaimana kawasan vitalnya disentuh sayang.
Hindia menggosok pergelangan tangannya yang membekas tali.
Semalam, Belanda masuk ke pribadi biadab. Ia memperlakukan Hindia bagai budak. Menyeretnya, memukul, dan menyetubuhinya paksa. Saat ia hampir pingsan, Belanda akan menyiramnya dengan minuman keras. Kemudian menyesap cairan itu secara kasar, hingga menimbulkan bekas ungu di tubuhnya.
Ia sama sekali tidak mengerti Belanda.
Tentu ia tahu bagaimana beratnya posisi personifikasi negara. Merasakan apa yang dirasakan negaranya, rakyatnya, hingga masuk ke dalam batin. Tak sekali dua kali Belanda batuk darah, atau bonyok mendadak di sekujur tubuhnya. Belanda memang terlihat tak masalah dengan negaranya. Namun korupsi dan kekuasaan bermain kotor hingga sampah sarap terlihat nyata ataupun kasat mata.
Rasa simpati mulai merasuki Hindia.
Tapi ia menepisnya habis-habisan. Ia tidak akan terlena. Belanda adalah kompeni biadab yang membuat anaknya merana. Tak akan ia biarkan tetek bengek semacam cinta mengganggu tujuan kebebasannya.
Hindia tak akan memaafkan dirinya, jika ia jatuh cinta pada orang yang salah.
.
.
.
Gadis kumal berdiri diam di depannya.
Berambut hitam sepunggung, penampilan serampangan, dengan wajah datar seakan menutup emosi hingga tak terbaca.
Hindia mengerjap pelan.
Pembawa makanannya berbeda dari yang biasanya. Tinggi gadis itu hanya sepinggang. Kurus kering hingga tulang belikat terlihat di balik gaun putih sepaha. Besar nampan hampir menutup sebagian tubuhnya. Dengan panik, Hindia menarik nampan itu agar gadis itu tak terjengkang ke belakang.
Gadis itu berbalik saat nampan telah diterima Hindia. Secepat kilat, ia menarik kembali tangan kecil sang gadis.
"Jangan pergi dulu," ujar Hindia pelan.
Gadis itu mengerut bingung, namun mengangguk pelan. Ia bersimpuh di keramik putih. Lagi-lagi emosinya tak terbaca. Hindia menghela napas melihat kelakuan anaknya yang berbeda.
Nampan diletakkan di keramik, pemuda sawo matang ikut bersimpuh. "Makanlah, ini untukmu."
Gadis itu diam. Alisnya mengerut heran. Hindia ikut bingung menatap reaksinya. Dengan telunjuk, pemuda itu menunjuk nampan lalu ke mulutnya. "Ma-kan," ejanya pelan.
Mata gadis itu membesar. Ia membuka mulut, mengeluarkan suara, "Ku?"
Ah, dia bisa berbicara. Kenapa dia seperti tergagap? Tunadaksa?
"Kau bisa berbicara?"
Gadis itu mengangguk.
"Bisa menulis atau membaca?"
Gadis itu diam.
Hindia menggelengkan kepalanya. Ia akan menelusuri anak ini lebih dalam setelah perut kosong sang gadis terisi penuh.
Disodorkannya lagi nampan itu di depannya sambil menunjuk kembali ke arah gadis. Gadis itu mengangguk senang. Ia meraih sendok—yang membuat Hindia terperangah, karena kebanyakan pembawa langsung makan dengan tangan—dan menaruhnya di genggaman. Sayang tangannya bergemetar hebat. Ia tak bisa memegang sendok dengan benar. Alisnya mengerut kesal, seakan tak terima santapannya terhambat.
Dengan senyum kecil, Hindia mengambil piring dan sendok, lalu menyuapi gadis itu dengan perlahan. Setelah habis, gadis itu berserdawa. Senyum sumringah terpatri di bibirnya. Ia pun berdiri terhuyung. Hindia reflek bersiap menangkap apabila tubuhnya jatuh.
Dua langkah terlewat, gadis itu terdiam di tempat.
Hindia menatapnya heran. Namun saat genangan air kuning turun dari kaki kecil sang gadis, ia tersadar. Seakan hal yang mafhum, Hindia segera ke kamar mandi untuk mengambil perlengkapan bebersih.
Gadis itu masih menunduk malu. Tubuhnya bergetar. Hindia menepuk punggungnya pelan, seakan menghiburnya. Saat ia menunduk, mata cokelat tuanya membelalak.
Di genangan pipis itu terlihat cairan kental putih yang mengambang.
Sontak Hindia menatap ke arah wajah anak gadis. Mencoba memastikan apa yang ada di pikirannya benar atau tidak.
Saat wajah gadis itu memperlihatkan raut wajah merengut menahan tangis, Hindia langsung menggendong tubuh kecilnya ke kamar mandi.
Ia melepas gaun putih kumal dengan agak paksa. Kemudian memasukkan gadis itu ke dalam bak mandi besar dan mengguyurnya dari kepala. Gadis itu berjengit saat air bersih mengenai tubuhnya. Hindia membersihkan seluruh tubuh gadis itu, hingga berhenti tepat di kemaluan.
Keduanya terdiam. Hanya percikan air yang mengisi kesunyian.
Tangan sawo matang pemuda digebuk ke tembok kiri. Gadis itu berjengit kaget saat mendengar bunyi keras di sebelahnya.
Amarah melingkup pemuda personifikasi Hindia. Segala emosi membuncah pikirannya. Ia begitu frustasi, kesal, juga prihatin dengan semua kondisi carut-marut. Bahkan perlakuan biadab mereka, dilakukan hingga ke anak kecil tak bersalah.
Hindia menyalahkan dirinya sendiri yang tak dapat berbuat apa-apa. Ia tak berguna. Padahal ia personifikasi Hindia. Seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Sigap di bagian terdepan dalam pemberontakan.
Nyatanya ia hanya melacur, mengangkang kaki untuk musuh selama tiga abad.
Hindia menertawai hidupnya.
Tak bisakah ia berbuat sesuatu untuk rakyatnya?
Apakah ia pantas untuk menjadi 'Hindia'?
Wajahnya memanas. Air mata turun dengan sendirinya mengaliri pipi sawo matang. Ia menahan isak, setidaknya ia tidak ingin terlihat lemah di depan anaknya.
Tangan kiri yang terluka disentuh lembut oleh kedua tangan mungil dengan perlahan.
Hindia terkesiap, mendongak menatap wajah gadis yang terlihat ketakutan. Gadis itu mencoba tersenyum, namun rasa takut membuatnya terlihat seperti senyum tawar. Tak putus asa, gadis itu meraih rambut hitam kelam Hindia, mengelusnya pelan.
"Na...ngis..., jangan... tak apa...," ujarnya lamat-lamat.
Ucapan gadis itu justru menambah keras tangis Hindia. Pemuda itu meraung. Pilu rasa hati, bagai diiris sembilu.
Ia memeluk tubuh kecil gadis itu penuh kasih. "Maaf... Maafkan aku...," ucap Hindia tanpa henti.
Gadis itu mengangguk dan tetap mengelus rambut Hindia. Ia menangis dalam diam.
Raungan sang personifikasi Hindia memecah kesunyian malam.
Tak diketahuinya, tangis pilu itu didengar seseorang di depan pintu kamar. Pria bertubuh tegap yang memegang kenop pintu, terdiam seribu bahasa. Dahinya ditempel di pintu kayu bercat cokelat.
Sendu menggerogoti hatinya. Mata hijau permata dipejam erat.
Seakan mencoba mengurangi rasa sakit yang entah kenapa juga dirasakannya.
.
.
