Chap 5

Paha sawo matang disusuri dari luar hingga dalam. Mengecup bagian dalam, menyaksikan refleks kedut di kaki jenjang sebelah kanan. Daerah vital dimainkan dengan selembut tulang. Lenguhan panjang merdu terdengar di pendengaran bule pirang.

Tak bosannya ia menjamah pemuda berkulit eksotis di dalam dekapan. Kulit mereka begitu kontras, membuat pemuda tak lelah memandang indahnya perbedaan warna. Rambutnya sehitam arang, sementara miliknya pirang secerah matahari. Matanya cokelat gelap, dirinya hijau permata. Gurat wajah bulat, sementara dirinya kotak. Segalanya berbeda, namun justru perbedaan membuatnya terpana.

Dikecupnya lagi daerah vital pemuda kepunyaannya.

Desah redam membuat gemas untuk segera memasukkan teritorial miliknya ke dalam lingkup tubuh miliknya. Namun ia urungkan. Entah kenapa pemuda yang biasa meledak-ledak, lebih diam dari yang biasanya.

Tentu Belanda tahu mengapa ia berlaku pasif.

Si gadis itu. Anak gadis Hindia yang membuatnya lemah.

Cukup sudah kekeraskepalaan yang diperlihatkannya setahun belakangan. Belanda mengagumi akan keteguhan—atau mungkin lebih tepat disebut masokhisme—pemuda sawo matang. Namun ia juga tak menyukai sikap tak bersahabat dari miliknya. Mau tidak mau, Belanda memikirkan berbagai cara untuk dapat membuatnya patuh, bertekuk lutut hanya padanya.

Digenggamnya daerah vital lebih kuat, hingga jeritan terdengar.

"Ada apa, Hindia? Kau lebih diam dari yang biasanya," geram Belanda menahan libido yang terus meninggi.

Sungguh gatal ia ingin menjamah lebih, namun ia harus bisa berpikir rasional. Ia adalah penguasa atas Hindia, maka konsentrasinya tak boleh lengah. Jika lengah, maka dipastikan Hindia akan berhidung tinggi, menunjukkan sikap pongah.

Pujaannya tak menjawab.

Maka dicengkeramnya bongkahan kenyal di kedua jemarinya keras-keras. Pemuda sawo matang itu terkesiap, memandang benci dirinya. Sumpah serapah pasti dirapal Hindia tanpa diminta. Belanda menyunggingkan senyumnya melihat betapa frustasinya sang pujaan saat menahan emosi meluap.

"Aku... menginginkan seseorang."

Alis pirang terangkat. "Ho? Kau berani meminta?"

Gigi kuning itu bergemeretak lebih keras. "Aku mohon... agar aku diberikan satu anak gadis dari Hindia Belanda, Tuan Dirc van Freerk," desisnya sarat kematian.

"Aku tolak," jawab Belanda seketika.

Mata cokelat tua itu melebar tak percaya. "Aku sudah memintamu dengan baik-baik! Apa maumu, Kompeni Keparat!"

"Dan kau tahu aku tak suka dengan kebohongan menjijikkan seperti yang Kau lakukan tadi, budak Satria Wilaga."

"Kau— memang keparat, berengsek, biadab, tak punya ha—mmhh!"

Mulut gatal Hindia itu dibekap cepat dengan mulut Belanda. Menekan omongan ketus bak cabai rawit, Belanda menggerilya kawah hangat dengan ciuman dalam. Hindia menggebuk pundaknya kencang, namun diabaikan. Kekuatan Hindia hanya setengah kekuatannya, tak mempan untuk menyerang dirinya yang adidaya.

Saat kedua mulut itu terlepas, Hindia memukul pipi Belanda. "Berengsek!"

Belanda menarik kaki jenjang lebar-lebar. Membalikkan tubuhnya hingga bokong sekal memenuhi penglihatan. Ia menampar keras hingga nyaring terdengar. Hindia terkesiap dan memandang ke arah belakang dengan pandangan tajam.

"Hentikan, Keparat! Baik! Baik! Aku meminta maaf! Tolong dengarkan permintaanku sejenak!" Hindia menjerit keras saat tamparan semakin menguat.

"Jadi?"

Hindia mengatur napas tersengal. Ia menarik napas panjang lalu menatap mata hijau permata dengan binar cokelat tua.

"Aku ingin anak gadis terakhir yang kau bawa padaku untuk menjadi budakku. Dia gagu, tak bisa membaca atau menulis. Tubuhnya ringkih dan lemah. Berikan ia padaku, dan aku akan menuruti keinginanmu."

Seringai tipis muncul di bibir Belanda. "Aku pegang omonganmu. Akan kubawa dia, tapi kau harus menuruti keinginanku tanpa perlawanan."

Hindia meneguk ludah kasar. Menatap wajah bule itu dengan tatapan menahan amarah. Ini demi anaknya. Ini demi anaknya.

"Ya. Aku mengerti, Tuan."

.

.

.

Pertemuan sosial antara bangsawan, petinggi, tentara juga pelajar terpilih diberlangsungkan di sebuah bangunan luas bertempat di Bandung. Bangunan yang menjadi saksi atas kemakmuran para kompeni dan bangsawan yang berdansa di atas penderitaan rakyat Hindia Belanda.

Saat itu ia dijadikan pajangan layaknya boneka hias. Menemani Belanda sebagai bukti bahwa ia memperlakukan Hindia tanpa cela. Memakai baju khas eropa, jas lengkap dengan penampilan rupawan, membuat Hindia menahan mual.

Baju yang diberikan padanya seakan pengingat bahwa ia adalah milik Belanda. Berdesis tak senang saat Belanda merangkul pinggangnya, Hindia mengalihkan pandangan.

Di sanalah, ia melihat sosok rupawan khas orang Jawa dengan paras tegas. Penampilannya layaknya kaum pemuda biasa, namun auranya memancarkan perbedaan. Sikapnya begitu anggun, seakan tak terjamah rakyat jelata. Ia tersenyum ke siapa pun yang menyapanya. Ikut berbicara saat kawanan pelajar berbaur dengan tentara ataupun bangsawan.

Saat pandangan mereka bertemu, Hindia merasa arus gelombang menerpa tubuhnya.

"Hindia?"

Mata cokelat tua itu mengerjap. Menatap Belanda yang memerhatikannya cemas, ia kembali menatap ke sekeliling ruangan. Sosok rupawan itu menghilang.

Menelan kekecewaan, Hindia kembali mengalihkan pandangannya ke arah tamu Belanda. Ia yakin ada sesuatu yang berbeda dari pemuda tanggung tersebut. Gejolak jiwa membuatnya sadar akan ada secercah harapan yang timbul di tengah-tengah masa pelik.

Tak ia sadari, saat itu binar hijau permata berkilat tajam menatap sinis sudut ruangan.

Menatap sosok pemuda yang akan menjadi cikal bakal pemimpin suatu bangsa yang pernah menjadi hak miliknya.

.

.

Benarlah dugaan Belanda kala itu.

Sosok pemuda misterius yang ia lihat, bukanlah pemuda biasa. Ia adalah Sukarno. Pemuda pintar yang menggenggam gelar insinyur di umurnya yang ke-25. Ia tidak hanya pintar dalam pelajaran, ia juga pintar bernegosiasi. Sikap wibawa yang ditunjukkan membuat para pemuda sepantaran menyeganinya.

Ide-ide pencetus untuk mendirikan perkumpulan belajar tentu membuat gelisah para kolonial. Mereka memutar otak, mencari alasan agar bisa membuang si pemuda pintar sebelum bisa memberontak.

Belanda pun turut tak senang dengan kehadiran pemuda misterius yang menarik perhatian Hindia. Ada yang berbeda dari diri pemuda itu. Sama seperti dirinya yang dulu pernah menemukan sosok Christiaan Snouck—yang berjasa sebab dapat memenangkan perang Aceh untuk Belanda. Gemuruh pasti terasa di tubuh Hindia saat melihat sosok si pemuda pintar.

Ini buruk. Akan sangat menjadi buruk jika keduanya saling bertemu.

Karena itu Belanda semakin menguatkan keamanan Hindia dari pengaruh rakyatnya sendiri. Dengan perjanjian tak tertulis antara dirinya dan Hindia, maka kekuasaan Hindia akan menjadi milik Belanda seutuhnya.

Tak akan Belanda biarkan miliknya direbut paksa oleh sosok pemuda bau kencur. Karena itulah rencana pembuangan dan kepenjaraan untuk Sukarno, sangat disambut baik oleh Belanda.

Akibat beraktivitas mencurigakan di Partai Nasional Indonesia, Sukarno ditangkap di Yogyakarta, kemudian dijebloskan ke penjara di Bandung. Namun saat ia membacakan pledoi—pembelaan yang fenomenal Indonesia Menggugat, ia dibebaskan di tahun 1931.

Namun sayang sungguh sayang, keputusan untuk membuang si pemuda pintar ke Flores di tahun 1933 adalah kesalahan besar bagi kolonial Belanda.

Sebab justru disanalah, si pemuda pintar mengasah kemampuannya untuk memimpin. Sebagai cikal bakal proklamasi yang akan dicetusnya, saat penjajah tak lagi memiliki hak atas negaranya.

Negara Indonesia.

.

.