Chapter 6
Gadis kecil itu dinamai Nesia. Alasannya simpel, perpotongan dari nama Indonesia.
Hindia tentu masih tak patah semangat untuk mempertahankan nama Indonesia untuknya kelak. Ia simpan harapan di nama gadis kecil dengan sejuta masa depan.
Memang Belanda memandang Nesia sebelah mata. Tapi Hindia buktikan jika anaknya yang berkekurangan sekali pun, akan dapat menghirup kebebasan lebih dulu darinya. Tak sepertinya yang hanya digaris takdir sebagai personifikasi bangsa, gadis kecil itu memiliki masa depan kasat mata.
Tak ada yang bisa memutuskan masa depannya, kecuali Nesia.
Maka diajarinya pelajaran dasar seperti membaca, menulis dan berhitung layaknya pendidikan untuk rakyat jelata di Hindia Belanda. Gadis itu menangkapnya sangat perlahan. Bahkan harus berulang-ulang. Belanda kadang mencemooh Nesia yang bahkan tak bisa menghafal huruf konsonan.
Namun Hindia tak pernah menyerah. Ia menulis di kertas kecil-kecil dengan berbagai warna. Menunjuk satu persatu huruf yang berbeda warna, membuat konsentrasi Nesia fokus ke satu pikiran.
Sedikit demi sedikit, Nesia semakin cepat untuk menghafal huruf. Hitungan tambah dan kurang menyusul tak lama kemudian. Secara perlahan juga ditambah dengan aljabar dasar.
Tentu Hindia sangat merasa bangga. Tak sekali dua kali ia sengaja memperlihatkan kepintaran Nesia di depan Belanda yang bersikap apatis.
Tapi suatu keanehan pula, saat ia terkadang melihat sikap lembut Belanda saat berbicara dengan Nesia suatu waktu di pagi hari. Keduanya bercengkerama layaknya ayah-anak. Nesia seakan tak takut dengan embel-embel personifikasi penjajah bangsanya, si kompeni dari Belanda.
Bahkan lebih terkejutlah Hindia, saat mendadak kelinci putih menyembul dari balik jas putih Belanda.
"Kau suka?"
Nesia mengangguk cepat. Saat ia meraih bulu halus putih kelinci, mata Nesia seakan berbinar. Belanda menaruh kelinci itu di pelukan Nesia. Menyuruhnya untuk mengelus pelan di bagian kepala, dan memberinya makan sayuran.
Kelinci itu dinamai Indo. Sebab penggalan sisa dari nama Indonesia adalah Indo. Belanda mendelik saat Nesia memanggil nama kelincinya dengan lantang. Hindia berpura-pura tidak tahu. Ia menyibukkan diri dengan berberes kamar, atau menyuruh Nesia untuk membersihkan badan.
Anehnya, Belanda tidak mengomentari nama kelinci ataupun nama Nesia.
Satu hal yang kembali membuat Hindia mengerut kening. Jika Belanda berbuat baik, maka ada suatu strategi yang akan dilancarkan. Pengalamanlah yang berbicara. Hindia bukan anak kemarin sore. Ia harus tahu strategi apa yang dilancarkan penjajah.
"Apa maksudmu berbuat seperti ini, Belanda?" tukas Hindia sambil menatap skeptis ke arah Belanda yang melepas jas putihnya di kamar.
"Tidak ada apa-apa. Nesia terlihat kesepian. Karena itu kuberikan peliharaan."
"Bohong. Kau mempunyai akal bulus apalagi?"
Belanda melirik Hindia dari sudut matanya. "Tidak ada apa-apa."
Hindia mendengus.
Mana mungkin ia akan percaya dengan sikap pasif Belanda belakangan ini. Entah kenapa, Belanda terlihat lebih lelah dari biasanya. Kantung matanya menghitam, pundaknya terlihat merosot. Kadang ia lebih banyak melamun, bahkan saat bercinta pun tak fokus.
Ada yang aneh dengan sikap Belanda.
Namun ia tepis segala pemikiran cemas. Bukan urusannya jika Belanda bersikap aneh. Urusannya hanya untuk mencapai kemerdekaan. Bukan mencemaskan penjajah.
.
.
Sialnya, rasa cemas yang menggemuruh membuat kesabarannya habis seketika.
"Apa yang terjadi padamu, Kompeni?"
Hindia bertanya untuk keberapa kalinya.
Ia tak ingin mencemaskan penjajahnya. Hanya saja ada rasa tak nyaman saat melihat sikap Belanda yang bagaikan mayat hidup. Ia tidaklah bodoh. Ada yang disembunyikan Belanda belakangan ini. Tapi ia menutup diri. Mencegah Hindia untuk masuk ke dalam teritorial rawan.
Ia tahu posisinya sebagai jajahan. Namun bukankah mereka berposisi sama? Personifikasi negara? Tak bolehkah mereka saling tukar pikiran? Tak perlu mengumbar rahasia negara, cukup dengan berbincang, mengatakan pendapat, mengeluarkan segala rasa ganjal tentu akan membuat tenang. Seperti halnya rakyatnya yang ia ajak bicara dulu.
Setidaknya hati akan tenang jika bisa mencurahkan isi hati.
Pria bertubuh besar itu hanya diam.
Punggung lebarnya membelakangi Hindia. Biasanya posisi mereka terbalik. Ia yang membelakangi Belanda. Tak akan membiarkan Belanda mengubrak-abrik dirinya.
Mendengus kesal, Hindia melangkah panjang menuju Belanda.
Dilepasnya kemeja putih yang melekat, diturunkannya celana bahan hitam yang dipakainya.
Kulit halus sawo matang terlihat tanpa pertahanan. Ia berjalan mendekat, lalu mencium bibir Belanda dengan kasar. Jemari meraba tubuh kekar di bawahnya sambil melepas jas putih, juga celana yang menutup teritorial rawan.
Sesekali ia gerakkan pinggul untuk mengaburkan konsentrasi Belanda yang sempat datang. Ia akan memaksanya bercinta, agar ia dapat melepaskan stress yang melanda. Persetan jika tingkahnya seperti jalang, toh sudah lama ia lakukan hal menjijikkan.
Saat lenguhan terdengar di bibir Belanda, Hindia semakin bersemangat. Ia memegang teritorial rawan Belanda, lalu meremas, meraba atas-bawah, juga mengeruk ujung lubang. Tangan kiri meraba bokong sekal miliknya, memainkan daerah rawan, untuk dimasuki hingga ke dalam.
Tak ada kata yang terucap selain geraman juga lenguhan. Belanda masih bersikap apatis. Namun daerah vital yang menegak tak dapat berbohong. Tanpa aba-aba, Hindia masukkan daerah vital itu ke dalam teritorialnya. Masuk hingga ke ujung, menyempitkan teritorial sebab kesakitan melanda, namun diabaikan dengan melepas desisan keras.
Mata hijau permata itu menatap tubuh Hindia yang naik turun. Mengelus kulit halus eksotis yang masihlah ia kagumi akan keindahannya. Binar cokelat tua yang berkilat tak bosannya ia pandang.
Segala yang ada di tubuh Hindia begitu indah.
Indah hingga ia bersikap egois untuk bisa memilikinya. Ia adalah tambang emas. Ia adalah pasokan rempah-rempah. Rakyat yang begitu patuh untuk dijajah.
Hanya satu kekurangan Hindia yang selalu membuat Hindia muak.
Keinginan untuk merdeka. Bebas darinya. Bebas dari belenggu yang melingkupnya.
Belanda mengusap wajah kasar, seiring gerakan Hindia yang semakin cepat. Desahan erotis mengumandang seiring bunyi pertemuan daging terdengar. Tak ada lagi Hindia yang malu di depannya. Tak ada lagi Hindia yang ketakutan saat dimasuki teritorialnya.
Ia begitu biasa dengan keadaan pelik.
Belanda menginginkan agar ia semakin menunduk. Bukan semakin kuat untuk berdiri sendiri.
Saat cairan mani memenuhi lubang, tubuh Hindia jatuh di atas tubuhnya. Desah napas Hindia menggelitik rangsang. Tubuhnya berpeluh, bebauan rempah menusuk hidung.
Tak lama kemudian, napas putus-putus itu kembali normal. Hindia tertidur lelap di atas tubuh kekarnya. Dengan perlahan lengan Belanda melingkup tubuh Hindia. Membawanya ke dalam dekapan.
Dipejamnya mata, merasakan halus lembut kulit juga rambut milik Hindia. Ia tak ingin melepas tubuh Hindia. Ia takut jika dilepas, maka ia akan menghilang. Belanda mengecup pelan rambut hitam arang.
Secara mendadak, mata hijau permata itu terbelalak.
Ada gemuruh menyakitkan yang menyerang ulu hatinya. Terasa samar, namun semakin menderu hingga menyempitkan napas. Tangannya bergemetar. Kakinya tersayat secara tiba-tiba.
Belanda terkekeh melihat tubuhnya.
"Sudah waktunya, ya?"
Diabaikannya kesakitan yang melanda, ia hanya ingin menenggelamkan diri dimabuk cinta. Merasakan indahnya kisah kasih dengan pujaan hatinya.
Bukan dengan peperangan yang tak ada hentinya.
.
.
