Chapter 7

Keesokan pagi, Belanda telah menghilang. Hindia mengerjap menatap ranjang dingin di atas tubuh tertutup piama.

Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga berbuat bagai jalang butuh belaian. Hindia mengedikkan bahunya, memilih untuk tidak ambil pusing dengan rasa sakit di dada.

Nesia datang ke kamarnya membawakan sarapan. Gadis itu beranjak remaja. Tubuh kecilnya bertambah delapan senti. Ia semakin terlihat ayu dengan sanggul juga pakaian kebaya sederhana yang membalut tubuhnya. Hindia menyuruhnya untuk makan bersama. Tentu disambut senang oleh Nesia.

Mendadak, pintu kamar Hindia didobrak terbuka. Prajurit Belanda berwajah pucat memandang Hindia juga Nesia yang duduk di ranjang.

"Ma-maaf mengganggu. Apakah Anda melihat Tuan Dirc?" ujarnya sambil menunduk. Ia diperintah untuk tidak melihat langsung pemilik kamar misterius di dalam kediaman Dirc. Maka begitu tak sopannya ia jika sekarang ia melihat pemuda itu dengan mata telanjang.

Hindia justru terkejut dengan penuturan prajurit Belanda.

Mengapa ia yang bertanya? Bukankah Belanda pergi atas perintah?

"Tidak. Dia tidak ada di sini. Mungkin bisa kau tanya prajurit yang lain?" jawab Hindia pelan. Prajurit itu kembali menunduk lalu menutup pintu dengan tergesa.

Kata-kata prajurit itu justru membuat Nesia tak nyaman.

Di mana Belanda?
.

.

.

Pertanyaan Hindia terjawab tiga minggu setelahnya.

Desas-desus Jepang mengalahkan armada gabungan sekutu membuat para kolonial berang. Mereka panik akan datangnya lawan dari Asia yang tak terduga. Keadaan stabilitas Belanda hancur seketika saat Jepang mendarat di pulau Jawa.

Ancaman Letnan Jenderal Hitoshi Imamura bahwa ia akan terus menyerang Belanda apabila mereka tidak menyerah, membuat keadaan semakin runyam. Prajurit Belanda terus menerus dikerahkan untuk menghabisi Jepang. Sayang sungguh sayang, Belanda dengan mudahnya dipukul mundur oleh Jepang.

Personifikasi Belanda masih menghilang.

Hindia mencoba agar tidak gelisah menunggu kabar. Ia tahu harusnya ia merasa tenang jika penjajahnya tak muncul ke permukaan. Harusnya senang karena berarti impian merdeka ada di depan mata.

Sayangnya tidak.

Ia semakin panik dengan keadaan tak menentu yang diteriakkan pemerintah Belanda. Namun ditenangkannya pikiran, mencoba untuk tidak termakan kepanikan.

Di saat keadaan genting, hanya satu yang ia bisa atasi sedini mungkin. Keselamatan Nesia.

Ia harus bisa menyelamatkan Nesia dari kondisi carut-marut. Ia adalah harapan Hindia. Tak akan Hindia biarkan Nesia mati konyol di tempat seperti ini.

Maka didekatinya prajurit Belanda yang sebelumnya mendobrak kamarnya dengan tidak sopan.

Ia bersikap canggung, layaknya prajurit tambahan yang belum berpengalaman. Namun kesigapannya saat musuh mendekat dari kejauhan, membuat Hindia merasa tenang.

"Kau. Ya, kau! Siapa namamu?" tanya Hindia.

Prajurit itu terdiam sejenak kemudian membuka mulutnya. "Willem," jawabnya.

"Aku tahu aku tak bisa mempercayaimu. Begitu juga dirimu yang tak bisa mempercayaiku. Tapi—bisakah aku meminta satu hal darimu?"

Prajurit berambut cokelat itu berniat membuka mulutnya, namun dikatupnya lagi menunggu ucapan Hindia.

"Ini adalah permintaanku yang paling egois dan tak termaafkan. Tapi, tolong dengan segala kerendahan hatimu, selamatkan Nesia."

Sontak Nesia terkesiap. "Tidak!"

"Nesia, ini bukan saatnya untuk menola—"

"Aku tidak akan meninggalkan kediaman ini tanpamu!"

"Nesia!"

"Jangan buang aku, Indonesia! Jangan buang aku lagi! Apa kau tak membutuhkanku? Apa aku sebegitunya tak berguna di matamu? Biarkan aku bersamamu! Mati pun tak apa! Asal aku bisa menghabiskan nyawa bersamamu!" pinta Nesia penuh nestapa. Air mata mengalir di pipi sawo matangnya. Sanggul terkoyak hingga beberapa helai rambut panjang turun ke wajah.

"Nesia. Aku tak membuangmu. Aku juga tak memikirkan bahwa kau tak berguna. Kau sangat berguna bagiku. Karena itu aku ingin kau tetap hidup!"

"Aku tak akan hidup tanpamu! Aku sudah berjanji kepada Belanda kalau aku akan menjadi malaikatmu! Aku akan menyelamatkanmu! Tidak akan kutinggalkan sampai ajal menjemput!"

"Dia memintamu berjanji seperti itu? Lupakan janji itu! Kau harus tetap hidup. Harapanku ada padamu. Dengar, Nesia..." Hindia mencengkeram lengan Nesia erat hingga gadis itu meringis pelan.

"Aku tak akan mati selama negara ini tak mati. Aku akan tetap hidup jika negara ini hidup. Karena itu jangan pikirkan aku! Jika kau memang mau melepas ajal bersamaku, pergilah! Teruskan hidupmu! Buat angan-anganmu terwujud, hingga cucu-cicitmu menemuiku. Jangan khawatir, saat aku bertemu pandang dengan cucu-cicitmu, aku akan segera tahu. Karena itu kumohon..., Nesia!" Hindia menjerit saat Nesia menutup telinga dengan kedua telapak tangan.

"Tidak! Aku tak mau dengar! Aku tak mau dengar!"

"NESIA!"

Napas Hindia terengah-engah. Pikirannya kalut akan frustasi dan kepanikan. Tentara Jepang semakin mendekat. Bunyi tembakan juga dentuman terdengar dari segala arah.

Tak akan ia biarkan Nesia mati sia-sia.

Maka dipukulnya perut Nesia hingga ia meringkuk kesakitan. Namun di tengah kesakitannya, jemari lentik Nesia meraih-raih tubuh Hindia.

"...dak... tidak... Dirc... tidak mau... tidak... Indonesia..."

Saat kegelapan menyelimuti pandangan Nesia, Hindia mengangkat tubuh gadis itu dan menyerahkannya pada prajurit Willem. Diusap kasar air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Diraihnya Indo yang meloncat di sekeliling mereka. Kecupan diberikannya di kepala Indo, kemudian diletakkannya kelinci putih di atas perut Nesia.

"Pergilah," ujar Hindia serak.

Prajurit Willem menganggukkan kepala. Berbalik menuju semak-semak dan berjalan memasuki hutan belantara.

Jeritan melengking terdengar dari belakang tubuhnya. Derap langkah seirama mengalihkan pandang Hindia.

Di sanalah, sosok pemuda rupa Asia berdiri di antara tentara. Pedang tajam ditebasnya ke arah prajurit Belanda yang sekarat. Memasukkan pedang dengan keanggunan, pemuda itu berjalan ke arah Hindia.

"Ikutlah denganku, Hindia-san. Ah, bukan, mulai sekarang..., namamu bukan lagi Hindia," ujarnya datar.

Tubuh pemuda itu tak lebih dari tinggi Hindia. Jas putih melekat di tubuhnya dengan garis bisban emas di kerah juga pergelangan tangan.

Diraihnya pipi sawo matang Hindia, mengelus dengan gerakan lamat-lamat. Mata cokelat terang itu berkilat tajam.

"Namamu adalah Indonesia."

.

.

.

Surat beramplop putih terselip di bawah pintu kamarnya.

Mata cokelat itu mengerjap pelan. Mengambil surat itu dengan perlahan. Membolak-balikkan mencoba mencari siapa gerangan pengirimnya.

Nihil. Surat itu tak bernama.

Maka dibukanya amplop itu, dikeluarkan isi hingga menampilkan kertas putih bersih di dalamnya.

Saat tulisan Belanda tergores rapi di atas kertas, sontak Hindia merobeknya. Tubuhnya bergemetar, matanya terbelalak lebar.

Ada perasaan takut, terkejut, juga marah yang melintas di hatinya. Namun juga ada perasaan asing yang mulai bergerilya di sela-sela emosi miliknya.

Perasaan yang ia kutuk sampai mati.

Perasaan akan kelegaan bahwa si berengsek masihlah hidup.

.

.

.

Surat demi surat yang masih dalam keadaan utuh, disimpan Indonesia di kotak penyimpanan.

Sesekali surat itu dibacanya. Tapi ia lebih sering untuk tidak membukanya. Ia tidak mau tahu akan isi surat yang ditulis Belanda. Namun ia juga bersyukur akan keberadaan surat itu. Sebab surat itu bagai pertanda baginya bahwa Belanda masih hidup.

Di beberapa surat yang ditulis Belanda, berisikan kata-kata mutiara ataupun kata-kata romantisme belaka. Entah apa yang dimaksud dengannya. Namun Indonesia tak luput memerhatikan bahwa ada suatu maksud di dalam surat yang datang tiap waktunya.

.

.

"Selamat pagi, Satria-san. Bagaimana tidurmu semalam?" ucap pemuda Asia basa-basi.

Indonesia—atau Satria memiringkan bibirnya.

Pemuda bertubuh kecil di depannya bukanlah pemuda polos. Ia adalah pemuda berwajah datar, dengan katana—pedang panjang yang tersemat di pinggangnya.

Nama samarannya adalah Honda Kiku.

Perawakan asia dengan wajah oriental, kulit putih mulus, mata sipit dengan pupil cokelat terang. Rambut hitam legamnya tertata rapi membentuk wajah. Walau tampilannya seakan pemuda polos yang tak tega melihat mayat, kenyataannya ia adalah pemuda kejam yang haus darah.

Darah samurai mengalir deras di dalam tubuh kecilnya.

Tak akan Satria lupakan kala pedang tajam itu menebas kepala prajurit Belanda yang tersisa. Ia mempertontonkan acara tebas di depan khalayak. Wajahnya datar, seakan cipratan darah adalah oksigen baginya. Jeritan pilu ataupun permohonan meminta ampun tak digubrisnya. Ia bagaikan mesin pembunuh yang dikendalikan tanpa perasaan kalut.

Namun di satu sisi, pemuda itu adalah pemuda yang mudah melamun. Kadang matanya menatap langit, menikmati angin semilir dengan pandangan teduh. Bergumam bahasa Jepang, Kiku biasa mengomentari tingkah tentaranya yang sedang bercengkerama. Kadang juga ia mencatat sesuatu di kertas saat melihat tentaranya bergulat.

Entah apa yang ada di pikiran Kiku.

Tentu kekejaman Kiku tidak hanya ditunjukkan ke pihak Belanda. Walau di awal terlihat bekerja sama, namun sebetulnya ia adalah pedang bermata dua.

Penyiksaan dari Jepang justru lebih kejam daripada Belanda.

Berselimutkan embel-embel rekan satu Asia, Jepang berhasil menduduki Indonesia tanpa ampun.

Anak-anak Satria dipekerjaan layaknya mesin. Tak diberi istirahat, makan ataupun minum berkecukupan. Mayat bergelimpangan saat pembangunan terjadi bukanlah hal yang mengagetkan.

Satria yang tinggal di dalam kungkungan Jepang pun merasakan hal yang sama. Tak sekali dua kali ia diseret ke ruang bawah tanah. Disiksa hingga pingsan, diguyur air cuka, dipukul ataupun ditusuk pedang seperti makanan sehari-hari.

Bedanya, ia masih diperlakukan layaknya manusia. Setelahnya ia akan dirawat oleh dokter pribadi Kiku, diberi makan ala Jepang, juga diberi tempat tidur di kamar miliknya. Mungkin ia hanya dijadikan pelampiasan oleh Kiku. Satria tidak masalah. Ia terbiasa dengan siksaan fisik maupun batin.

.

.

Suatu kekagetan saat Indonesia diberikan hadiah mengejutkan oleh Kaisar Hirohito yang sedang berulang tahun.

Hadiah yang memang dinanti-nanti sejak dahulu kala. Tak lain tak bukan, kemerdekaan.

Pada bulan Maret 1945, Kaisar Hirohito mendirikan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Dengan diketuai oleh dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua dari orang Jepang juga Raden Panji Soeroso.

Selidik punya selidik, hadiah itu diberikan dikarenakan kekalahan Jepang dalam perang Pasifik yang semakin jelas terlihat. Cara yang licik karena jika Jepang memanglah kalah dalam perang, maka sekutu akan disambut rakyat Indonesia sebagai penyerbu kemerdekaan negaranya. Namun, rasa senang akan persiapan kemerdekaan membuat semua rakyat menutup kenyataan yang tersimpan.

Di satu sisi, Satria turut senang dengan kemerdekaan yang akan diberikan Jepang kelak.

Namun melihat gelagat buruk dari Kiku, mau tidak mau Satria tetap waspada akan keadaan. Ia tetaplah bersikap biasa kepada Kiku yang juga bersikap biasa padanya.

Tak diketahui oleh Kiku ataupun Satria, bahwasanya roda kehidupan berjalan tanpa henti menyusuri waktu. Siapa yang berada di atas roda, akan jatuh saat ia berada di bawah. Begitu juga sebaliknya, pihak bawah akan merasakan bagaimana rasanya di atas roda kehidupan.

Tak ada kepastian di dunia ini, seakan takdir mempermainkan nasib manusia.

Nasib yang membawanya akan kebaikan ataupun keburukan.

.

.