Chapter 8

Pagi hari berjalan seperti biasa.

Kegiatan sarapan di ruang makan, berlangsung tanpa gangguan. Kiku menyantap sup miso dengan wajah datar dan keanggunan. Indonesia menyantap ikan bakar dengan perlahan. Harusnya pagi itu tak ada masalah yang terjadi.

Seharusnya.

Keadaan berubah saat mendadak Kiku berdiri dari kursinya.

"Kiku?" panggil Satria pelan.

Mata hitamnya membelalak. Tubuhnya bergetar. Saat Satria menjulurkan tangan, ingin menyentuh lengan, mata hitam itu mendelik ke arahnya.

Secara tiba-tiba, Kiku memuntahkan darah. Cipratan mengotori meja panjang hingga ke atas makanan. Ia terbatuk tak terkendali. Dahinya ia jedotkan hingga berbunyi memekakakkan telinga.

Satria panik dengan keadaan Kiku yang tak terkendali. Prajurit Jepang datang tergopoh, mendekati mereka juga memanggil bantuan. Jemari Kiku merogoh dada. Jas putih yang dikenakannya ditarik hingga robak-rabik. Ia mencakar-cakar kemeja putih di dalamnya. Pupil matanya membelalak lebar. Giginya menggeremetak menahan sakit tak tertahan.

Muntahan juga gumpalan darah kembali dikeluarkan. Air mata dan ingus menyusuri wajah putih. Satria meraih lengan Kiku, hendak menghentikan kegiatan menyiksa diri.

"KIKU! HENTIKAN KIKU!" jerit Satria saat Kiku meraung-raung.

"...kit, sakit... tolong... tolong mereka. Sakit. Jangan..., hentikan. Panas. PANAS! PANAS!" Kiku menggelepar-gelepar di lantai keramik.

Kancing kemeja putih terlepas saat ia menarik kuat.

Bulatan gosong menganga di dadanya. Luka bakar juga kulit mengelopak terlihat menyakitkan. Rongga dada menyempit hingga tulang dada tercetak jelas. Prajurit Jepang berjengit ngeri menatap kondisi personifikasinya.

Satria masih memanggil nama Kiku dengan teriakan lantang. Namun mata hitam itu menatap hampa. Konsentrasi Satria pecah saat prajurit Jepang yang lain datang berlari ke arah mereka.

Tubuh Kiku direbut paksa. Dibawa dengan tandu, kemudian bergegas keluar meninggalkan Satria yang bergemetar hebat.

Sayup-sayup, Satria mendengar beberapa prajurit di belakangnya yang berbisik ketakutan.

Mata cokelat Satria melebar saat ia mendengar berita yang dibawa.

Bom atom jatuh ke Hiroshima hingga luluh lantak.

.

.

BPUPKI dibubarkan keesokan harinya. Diganti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dipilih tiga tokoh penting dalam kepanitiaan; Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, juga dr. Rajiman Widyadiningrat.

Satria terdiam di kamarnya. Ia hanya memandang kosong ke arah langit dari jendela.

Harusnya ia bisa lari dari rumah penyekapannya. Namun ia urungkan. Ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya yang paling dalam.

Memang, Jepang adalah penjajah yang lebih biadab dari Belanda. Penyiksaan atas anak-anaknya tentu tak akan bisa dilupakan dengan mudah oleh Indonesia. Diperlakukan layaknya bukan manusia, dipekerjakan layaknya mesin tanpa istirahat.

Namun Satria tak menampik ia begitu ketakutan saat melihat kondisi Kiku yang begitu lemah tak berdaya. Kondisinya bagai bencana datang tak diduga.

Kota Hiroshima, pusat industri juga tempat pemberangkatan yang dijadikan markas besar, luluh lantak. Separuh rakyat di Hiroshima meninggal karena efek radiasi. Memikirkan mayat bergelimpangan dengan kondisi badan separah—atau lebih parah dari Kiku, Satria menggeleng pelan.

Wajahnya mengerut penuh kepanikan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

Tiga hari setelahnya, bom atom kembali jatuh di kota Nagasaki.

Satria tak bisa membayangkan bagaimana kondisi tubuh Kiku saat ini. Bom atom yang dinamai 'Little Boy' saja membuat Hiroshima tak berkutik, apalagi dengan bom atom yang dikabarkan lebih besar?

Satria tersenyum penuh keprihatinan.

Perang tentu tak menghasilkan apa pun selain kehormatan negara yang menang juga hilangnya nyawa orang-orang tak bersalah. Begitu ironis jika memikirkan bagaimana bahagianya pihak yang menang saat mendengar pihak lawan hancur lebur. Di satu sisi kebanggaan juga kelegaan besar akan nyawanya dan nyawa keluarganya terselamatkan. Namun di sisi sebaliknya, nyawa manusia bergelimpangan seakan tak memiliki arti.

Prajurit Jepang seakan hilang kendali. Mereka panik akan kabar yang terjadi di negara kelahiran. Namun memegang teguh janji kepada Kaisar, prajurit tetap berjaga di sekitar lingkungan Indonesia. Tak sekali dua kali, Satria melihat kawanan prajurit yang menangis dalam diam saat mendengar kabar keluarga.

.

.

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah terhadap Sekutu. Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan dirinya dan disiarkan di seluruh Jepang keesokan harinya. Tentu pemberontakan kecil terjadi oleh kaum militeris yang menolak untuk menyerah. Namun Kaisar menengahi dengan penuh ketenangan.

Dalam pernyataannya, Kaisar Hirohito juga menyinggung bahwasanya jika bom atom tetap dilancarkan terus menerus, maka bukan bangsa Jepang saja yang musnah. Namun juga peradaban umat manusia akan musnah.

Setelahnya golongan muda bergerilya mengelilingi kawasan Jakarta. Mencari warga yang masih disekap ataupun masih dalam kungkungan Jepang.

Pencarian itu sampai ke tempat penyekapan Indonesia.

Mengusir prajurit Jepang yang masih tersisa, Wikana dan Sukarni bertandang ke rumah bergaya klasik eropa. Semua pintu didobrak, memperlihatkan kamar demi kamar.

Saat pintu cokelat tua terbuka, di sanalah Indonesia berada.

Ia memandang sayu ke arah dua orang yang juga memandangnya. Kedua pria itu terperangah.

Ketiganya hanya saling memandang. Wikana dan Sukarni tak dapat berbicara saat melihat sosok pemuda yang memandang tajam namun penuh ketenangan.

Sontak gemuruh di dalam dada terasa panas membara. Lidah kelu Wikana dicoba digerakkan.

"Kau... siapa?"

Pemuda itu hanya diam. Jemari sawo matang bergerak menyusuri dadanya, dan mencengkeram erat kemeja cokelat muda yang dipakainya. Mata cokelatnya berkilat, angin menyibakkan rambut hitam kelamnya.

"Aku... Indonesia."

.

.

.

Dari sanalah pemuda-pemuda berkumpul keesokan harinya.

Dihadiri oleh beberapa orang, pertemuan itu menuntut kemerdekaan Indonesia. Darwis dan Wikana meneriakkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri.

Gegap gempita datang dari peserta yang hadir. Wikana menambahkan bahwa kemerdekaan tak dapat digantungkan pada orang ataupun kerajaan lain. Jepang sudah menyerah, Belanda tidak dapat menjamah, maka inilah kesempatan Indonesia untuk merdeka.

"Lebih cepat lebih baik," tambah Chaerul sambil memerhatikan raut wajah peserta yang hadir.

Para pemuda berteriak senang, menggebu mengapresiasi pernyataan pemimpin rapat.

Satria hanya diam memerhatikan. Tentu ia sangat bangga, betapa menggebunya anak-anaknya untuk segera membuatnya bebas. Namun ia tahu pasti, kemerdekaan tak dapat datang dengan secepat kilat. Pertemuan ini hanya mengumpulkan satu suara dari pihak pemuda dengan umur muda. Entah apa yang akan dikatakan oleh pihak yang lebih tua saat mendengar keputusan mereka.

Benarlah prediksi Satria.

Sukarno dan Hatta menentang keras atas putusan pemuda.

"Indonesia masih dalam kuasa Jepang secara De Facto. Memang, Jepang telah menyerah pada sekutu. Bukan Jepang yang harus kita waspadai. Namun pihak Belanda yang sewaktu-waktu dapat bergerilya," ujar Sukarno penuh ketenangan di malam itu.

Tak terima dengan keputusan kedua tokoh penting tersebut, para pemuda meninggalkan kediaman Sukarno dengan segera.

Namun para pemuda tetap tidak menyerah.

Mereka mengatur strategi kembali dengan mengadakan pertemuan singkat di malam itu juga. Keputusan untuk 'menculik' dua tokoh penting, membuat Satria menekan dahi yang terasa pening.

Pandangannya mulai mengabur saat Sukarni memanggil namanya.

Samar-samar ia mendengar perintah untuk membawanya ke Rengasdengklok segera. Tak sempat menjawab, Indonesia tenggelam dalam lingkup hitam.

Membawanya kembali ke permukaan, membawanya ke masa detik-detik kemerdekaannya.

.