Chapter 9
Entah berapa lama ia tertidur.
Indonesia mengerjapkan mata, menatap langit-langit ruangan rumah keturunan Tionghoa, Jiaw Kie Song. Langit dari jendela menampakkan langit cerah. Namun angin sepoi dan cahaya yang mulai meredup, maka dipastikan waktu lebih dari jam dua belas siang.
Indonesia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.
Suasana rumah terasa tenang. Seperti tidak ada perdebatan hingga adu kekuatan antar satu sama lain. Indonesia yakin, Sukarno dan Hatta dapat mengatasi emosi yang bergejolak dari golongan muda.
Indonesia pun berjalan menuju keluar ruangan Mencari keberadaan anak-anaknya yang entah berada di mana.
"Ah, Anda sudah bangun?"
Suara riang menginterupsi kegiatan Indonesia di depan pintu. Dilihatnya Sukarni yang membawa ember berisikan air hangat. "Untuk apa air itu?" tanya Indonesia penasaran.
Sukarni tersenyum lebar."Untuk mandi adek Guntur. Kasihan dia kepanasan habis berkelana dari Jakarta ke sini."
"Lalu? Di mana semuanya berada?"
"Ah, beberapa sedang bersiap untuk mengantar kembali bung Karno dan bung Hatta menuju Jakarta. Sebagian berjaga di luar rumah. Kalau bung Karno dan bung Hatta sedang beristirahat di ruang tengah."
Indonesia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih infomu, Sukarni."
.
Saat Indonesia menapaki ruang tengah, suasana hangat menyapa sanubari.
Di sanalah, dua tokoh penting Indonesia duduk mengelilingi meja bundar. Cengkerama mereka terhenti saat menyadari hadirnya Indonesia. Hatta melihatnya dengan pandangan teduh. Sukarno sama seperti dulu saat ia pertama kali melihat sosoknya.
Begitu rupawan, juga berwibawa.
Mata Indonesia memanas. Ada rasa kelegaan yang amat sangat saat ia bisa berbicara langsung dengan keduanya. Dengan calon proklamator. Dengan calon pemimpin dan wakil negaranya yang akan memerdekakan diri dari penjajah.
"Ada apa, Indonesia?" tanya Sukarno pelan. "Bagaimana jika Anda duduk di sebelahku? Kita masih memiliki sedikit waktu sebelum Achmad menjemput."
Hatta berdiri dari kursinya. "Aku akan bersiap. Anda bisa duduk di sini, Indonesia." Kemudian Hatta mengangguk ke arah Sukarno, dan pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
Dengan langkah perlahan, Indonesia duduk di kursi yang ditempati Hatta sebelumnya.
Ia menggelengkan kepala, mengusir rasa memanas juga air mata di pelupuk mata. Sejak kapan ia menjadi lemah seperti ini?
"Akhirnya kita bertemu, Indonesia," ujar Sukarno sambil menjabat tangan Indonesia.
Indonesia mengangguk. "Ya, sejak saat pesta sosial itu, ya?"
"Benar. Saat ada pria berbadan besar yang memandangku dengan pandangan membunuh."
Pemuda personifikasi mengerjap. "Membunuh? Dia? Kau juga melihatnya?"
"Ya, saya melihatnya. Pria yang begitu kaku. Terlihat emosional juga sangat tertutup. Bicaranya ketus dan keras. Tipe yang tak akan mudah untuk menyatakan isi hati secara gamblang," jawabnya kalem.
Indonesia menyeringai mendengar ucapan Sukarno.
"Tipe yang jika menulis di surat, maka berisikan kata-kata lugas tak berbasa-basi," tambah Sukarno sambil menyesap kopi hitam.
"Betul! Suratnya selalu lug—" mata Indonesia melebar, "sebentar..., apa jangan-jangan kau..."
Bibir Sukarno tertarik, guratan senyum simpul tercetak di wajah rupawan. Ia diam sambil menatap Indonesia begitu lekat. Binar cokelat tua Indonesia membelalak.
"Bukankah kau disekap?" jerit Indonesia tak terima.
"Ya. Dia diam-diam datang kepadaku saat di pembuangan Flores. Menitipkan surat untuk diberikan padamu. Tentu saat itu aku menolaknya. Tak ada kepastian aku akan bisa bertemu denganmu segera. Namun ia bersikeras. Ia bilang bahwa aku akan segera dapat bertemu denganmu. Benar saja, aku bebas setelah ia pulang ke Jakarta. Saat itulah aku menjalankan permintaannya. Dengan cara menitipkan surat ke beberapa pembantu atau pun prajurit di kediamanmu berada."
"Dari mana keyakinan si keparat itu datang? Bukankah ia yang menyekapku?" desis Indonesia sambil mengepalkan tangan.
"Ia datang sebelum Jepang menyerang ke Jakarta. Ia seakan tahu bahwa ia tak akan lama lagi berada di dekatmu. Karena itu ia menitipkannya pada orang lain."
"Kenapa harus padamu? Begitu jauh ia datang hanya untuk menitipkan surat? Rasanya aneh. Kenapa ia tidak langsung menemuiku dan memberikannya? Pengecut." Gigi Indonesia bergemeretak.
Sukarno terdiam menatap Indonesia yang dilingkup amarah. Ia mengelus pinggiran cangkir porselen.
"Karena ia tak bisa mengungkapkan cinta dengan gamblang."
Alis hitam Indonesia mengerut.
"Cinta? Dia? Si Biadab? Tak mungkin." kekeh Indonesia.
Sukarno tersenyum ke arahnya. "Mungkin memang tak bisa dipercaya. Aku pun sama sekali tak menyangka adanya sosok personifikasi seperti Anda dan Belanda. Namun tak menutup kemungkinan kalian tak bisa jatuh cinta. Bukankah cinta datang kepada siapa pun juga? Apa Anda pikir tak ada cinta yang tertambat antara prajurit Belanda dengan wanita Indonesia? Apa Anda pikir tak ada cinta antara rakyat Jelata dengan bangsawan?
"Semuanya akan menjadi mungkin. Cinta tak memihak pada siapa pun. Ia datang dan pergi tanpa peringatan. Ia begitu merdeka, tak berpatok pada logika dan akal," ujar Sukarno sambil memandang wajah Indonesia begitu lekat.
Indonesia menipiskan bibirnya. Lidah kelu untuk menyangkal.
"Jawablah surat itu saat masa tenang datang. Ia pasti menunggu Anda membalas surat-suratnya. Sebab hati 'kan gundah jika orang yang dicinta, tak memberi kabar."
.
.
Pukul 17.30 Achmad Subarjo datang tergopoh-gopoh ditemani Yusuf Sukanto. Perawakannya tua, dengan keriput di wajah juga janggut putih di dagu. Ia menatap kedua tokoh penting dengan wajah lega yang sangat kentara.
Setelah menjamin bahwa kemerdekaan akan diproklamasikan sebelum pukul dua belas siang, rombongan pun kembali ke Jakarta dengan pengawalan ketat. Mereka bergegas ke rumah Laksamana Maeda, untuk meminta bertemu dengan kepala pemerintahan militer Jepang, Mayor jenderal Hoichi Yamamoto. Sayang, ia menolak karena mereka datang saat tengah malam.
Karena itu mereka pergi ke kepala departemen umum pemerintahan militer Jepang, Mayor Jenderal Otoshi Nishimura. Untuk menjajaki sikapnya terhadap pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelahnya, mereka segera kembali ke rumah Maeda.
Maeda sendiri tidak ikut hadir di dalam perumusan naskah. Namun ia digantikan Miyoshi, orang kepercayaan Maeda, untuk menyaksikan Sukarno, Hatta dan Achmad Subarjo merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Yang selanjutnya diketik oleh Sayuti Melik, lalu ditanda tangani oleh Sukarno dan Hatta.
.
.
Gemuruh menggebu terasa di tubuh Indonesia sedari ia menapaki kediaman Sukarno di jalan Pegangsaan Timur.
Rakyat bersorak-sorai, tak sabar ingin mendengar kemerdekaan. Begitu padat kediaman itu dengan hampir seribu orang yang berkumpul. Seakan tak ingin ketinggalan dengan proklamasi kemerdekaan negara mereka.
Setelah Sukarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera oleh Latief Hendraningrat dan S. Suhud. Bersamaan dengan naiknya bendera Merah Putih, para hadirin spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa ada aba-aba yang memimpin.
Indonesia tertegun saat melihat bendera Merah Putih sampai di puncak tiang.
Seakan terasa tak nyata, seakan semua penderitaan di masa lampau hanyalah mimpi buruk belaka. Apakah boleh ia mencecap kebebasan? Apakah ia telah bebas dari segala belenggu penderitaan?
Gegap gempita juga sorak semarai berkumandang. Tak ada yang berdiam diri setelah Suwiryo dan dr. Muwardi mengucapkan sambutan.
Tak sedikit yang berarak-arakan keliling Jakarta sambil berteriak, "Merdeka! Merdeka! Indonesia Merdeka!"
Tua-muda, pria-wanita, bersatu dalam puncak kemenangan. Mereka berteriak hingga suara serak, kepalan tangan dijunjung tinggi menunjuk langit.
"Merdeka!"
Air mata turun tanpa dapat Indonesia hentikan.
Ya, ia telah bebas. Bebas dari belenggu yang menyelimutinya. Menahan untuk tidak mengepakkan sayap. Menahan dirinya untuk menghirup napas kebebasan.
Sekarang ia bukanlah lagi bernama Kepulauan Hindia. Bukan Hindia Belanda. Bukan campur tangan kekuasaan penjajah.
Ia adalah garuda yang bebas mengepakkan sayap.
Ia adalah Indonesia.
.
.
