LADY OF THE SEA
Chapter 3
King of Pirates
Semalaman Naruto menunggu dan mengawasi pantai sebelah timur yang ia perkirakan akan digunakan oleh kapal bajak laut menurunkan jangkarnya. Sisi timur pulau kecil ini tidak mempunyai banyak karang sehingga menjadi satu-satunya pilihan untuk kapal berlabuh. Saat angin laut sudah mulai berembus, batas cakrawala sudah mulai menjingga menandakan mentari sebentar lagi terbit. Dengan teropong mini monokululernya, mata naruto memicing dan ia menangkap sebuah kapal berbendera bajak laut yang mulai berlabuh sesuai rencana.
"Bajak laut senju," gumam Naruto.
Di balik lensa teropongnya Naruto melihat awak kapal sudah mulai turun. Ia segara bergegas dan menuruni pohon yang digunakannya untuk mengintai.
Perdu menyembunyikan tubuh Naruto yang sedang berjongkok mengamati para perompak yang baru saja menginjakkan kaki di daratan pulau ini. Dilihatnya satu laki-laki yang cukup mencolok dengan rambut panjang berkibar disapu angin. Naruto yakin dia adalah laki-laki Senju, sang kapten yang dijuluki raja bajak laut abad ini. Siapa yang tak kenal mereka, senju dengan lambangnya. Sekali Naruto pernah melihat lambang senju di Dermaga Basali dan berdasarkan kasak-kusuk, Senju adalah bajak laut terkuat dan hanya orang bodoh yang berani menantangnya. Tidak disangka Naruto akan bertemu mereka di tempat dan situasi seperti ini.
Dirasa waktu yang tepat, Naruto keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekat pada gerombolan sang bajak laut. Kedua tangannya ia angkat ke atas tanda ia tidak menghendaki permusuhan. Seperti dugaannya, semua awak lagsung bergerak cepat mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya kepada Naruto.
"Aku Naruto, sebulan lalu terlempar ke laut waktu badai dahsyat menghantam kapalku dan berakhir terdampar di pulau tak berpenghuni ini—"
Naruto mengedarkan pandangan pada setiap pasang mata dan berakhir menatap sang kapten yang melipat kedua tangannya di dada. Kini ia berhadapan langsung pada laki-laki berahang tegas dengan ikat kepala berlambang senju.
"Aku ingin menawarkan kesepakatan," lanjut Naruto.
"Awak kapal rendahan yang beruntung karena terdampar. Aku ragu kau mempunyai sesuatu yang lain untuk ditawar selain tubuhmu sendiri."
Laki-laki yang diduga Naruto adalah kapten melontarkan cemohan dan disambut oleh anak buahnya dengan tawa menjijikkan. "Kau lumayan tampan, pirang," kata salah satu awak berbadan gempal dan tawa itu semakin riuh.
Naruto mengepalkan tangan karena harga dirinya tersinggung. Naruto tahu maksud perkataan itu. Membawa tawanan laki-laki sebagai pemuas seks di atas kapal bukan hal yang baru mengingat tabu bagi mereka berlayar dengan membawa perempuan.
Menarik salah satu sudut bibirnya, Naruto membalas, "aku tidak tertarik dengan batangan, lagipula kalian sudah memiliki satu pelacur cantik yang harusnya sepadan mengingat pantangan yang kalian langgar."
Setelah mengatakannya, Naruto melihat satu-satunya perempuan yang sedari tadi berdiri tenang di belakang kapten maju ke arahnya. Mungkin tersinggung karena perkataan Naruto, namun langkahnya terhenti oleh lengan kekar sang kapten.
"Pelacur kami sangat memuaskan asal kau tahu, dan kita akan membiarkan kau merasakannya." Setelah mengatakan itu, tawa kembali pecah.
Sang kapten memberi tanda untuk diam dengan mengepalkan tangannya ke atas.
"Mada-chan, tunjukkan pada bocah pirang ini."
Naruto tidak siap dengan apa yang selanjutnya terjadi. perempuan dengan rambut raven panjang yang diikat tinggi itu maju dengan cepat dan mengayunkan pedangnya tanpa sungkan pada Naruto. Reflek Naruto mengambil pedangnya dan menahan serangan langsung itu. Dentingan dua logam seolah menjadi pertanda bahwa pertarungan telah dimulai dan sorakan keluar dari para awak yang membutuhkan hiburan.
Dalam sepersekian detik ketika naruto bertahan, iris safirnya beradu dengan mata hitam tajam sang perempuan. Pandangan dingin itu menusuk yang menyorotkan ketekatan dan ambisi. Naruto menambah kekuatan lengannya dan berhasil menghalau dan membuat mundur lawannya, namun dengan cepat pedang itu kembali berayun dengan lincah berusaha menebas setiap bagian tubuh naruto dengan gerakan tangkas. Mungkin karena perempuan kekuatan dalam setiap serangan tidak terlalu besar, namun gerakan pedang yang diimbangi dengan kelincahan dan ketangkasan jauh lebih mematikan. Naruto hanya bisa bertahan dan semakin terpojok menahan serangan membabi buta.
Mencari celah, Naruto kembali fokus. Ia menumpukan tenaganya pada lengan dan dalam satu momentum ia berhasil menangkis serangan dan membuat lawannya mundur satu langkah. Sempat ragu, namun ia meyakinkan diri jika perempuan di depannya adalah wanita tangguh, maka ia menghentakkan kaki kirinya dan menendang ke arah perut perempua itu hingga ia tersungkur. Naruto maju dan menghunuskan pedangnya, sedangkan sang lawan justru dengan licik meraup pasir pantai dan menaburkannya ke arah Naruto.
Mau apapun gendernya, bajak laut selamanya adalah seorang bajingan licik. Naruto membatin saat matanya perih akibat pasir yang mengenai wajahnya. Ketika perhatiannya teralih, sang perempuan perompak kembali menyerangnya dengan teknik pedang yang belum pernah Naruto lihat sebelumnya. Ia terpojok lagi dan pada akhirnya perempuan itu berhasil melucuti pedangnya dan menghunuskan ujung pedangnya pada leher naruto.
Naruto mendongak menghindari pedang tajam meyayat kulit lehernya. Matanya melirik ke bawah dan bertatapan dengan mata oniks perempuan yang memandangnya pongah dengan seringai memuakkan. Naruto menggeram namun tidak bisa berbuat banyak, ia sepenuhnya juga mengabaikan sorak sorai para awak kapal di sekelilingnya.
"Kau curang," desis Naruto.
"Kukira kau seorang bajak laut." Kepongahan itu semakin kentara saat Naruto dipaksa mundur.
"Mada-chan, cukup. Kau akan membuatnya pipis dicelana, hahahaha."
Tawa lepas keluar dari mulut sang kapten yang menginterupsi tindakan wanitanya. Seperti pawang yang berhasil menjinakkan, sang perempuan dibuat menurut dan mundur. Naruto hanya bisa bernapas lega saat pedang yang siap menembus kerongkongannya turun.
"Katakan, apa ada orang lain di pulau ini? dan tawaran yang kau ajukan."
"Kau bisa pegang kata-kataku, aku sendirian di pulau ini—"
Naruto kembali mengedarkan pandangan dan melanjutkan, "tentang kesepakatan, aku ingin membuat penawaran secara tertutup."
Kerumunan itu bubar dan sang kapten mengajak Naruto berbicara empat mata. Ternyata posisi sang perempuan tidak bisa dianggap remeh, perempuan yang bernama Madara itu adalah wakil kapten. Naruto berdecak kagum, mungkin Madara adalah satu-satunya wanita yang mempunyai posisi sebagai perompak sekaligus wakil kapten. Dan sang kapten sendiri bernama Hashirama yang berdasarkan penilaian singkat naruto mempunyai sifat bertolak belakang dengan wakilnya atau mereka berdua memang mempunyai hubungan khusus.
Mengabaikan semua kejanggalan yang naruto amati, ia mulai fokus bernegoisasi dan mendapatkan kesepakatan yang memuaskan.
Madara melempar kain kepada Naruto sesuai yang diminta dan kemudian pemuda pirang itu pergi masuk ke sisi dalam pulau.
.
.
Oryza Kana
.
.
Siulan panjang keluar dari bibir naruto. Ia menghadap ke pantai sebelah utara untuk menemui Sasuke sesuai perjanjian.
"Apa kau akan mati jika keluar dari lautan?" tanya naruto begitu Sasuke menyembulkan kepalanya.
"Bagaimana kesepakatannya?" Sasuke mengabaikan pertanyaan Naruto karena ia sedari tadi gelisah dengan hasil perundingan yang Naruto lakukan.
"Tenang saja, semua berjalan lancar. Dan kau tidak perlu menyembunyikan identitas. Mereka tidak akan menyakitimu meskipun tahu kalau kau mermaid." Naruto tersenyum bodoh dan bangga akan dirinya sendiri.
"Kau mengatakannya?"
"Ya, karena mereka juga cerdik, Sasuke. Perempuan telanjang di pulau kecil akan sangat mencurigakan."
"Siapa yag telanjang? Aku sudah mempersiapkan baju untukku, meskipun sangat jelek, aku menemukannya di laut."
"Percaya padaku, semua akan baik-baik apa kau benar-benar bisa hidup tanpa terbenam di dalam air?"
"Hn, angkat aku ke daratan."
Masuk ke dalam air, Naruto menuruti perintah Sasuke. Dirasakannya beban Naruto yang tergolong enteng dan licin dilengannya karena bergesekan dengan tubuh bagian bawah Sasuke. Dengan wajah memerah Naruto mengangkat Sasuke dan mendudukkannya di batuan yang lebar di pantai. Ia membuang baju yang dibawa Sasuke karena sangat jelek menurutnya, lalu mengambil kain yang ia bawa dari madara dan menyerahkannya pada Sasuke. Berusaha menjadi pria yang terhormat, Naruto membalikkan badan memunggungi Sasuke untuk memberi perempuan itu ruang.
"Kau sudah bisa berbalik."
Pertama kali yang Naruto lihat adalah Sasuke yang membungkus badannya dengan kain berwarna coklat tua hingga ke paha. Alih-alih melihat ekor biru metalik yang pernah ia lihat sebelumnya, Naruto justru mendapati dua kaki jenjang yang menggairahkan.
Naruto meneguk ludahnya susah payah. "K-kau bisa berubah jadi manusia. apa kau bisa berjalan?" tanya Naruto gugup.
"Otot kakiku masih belum terbiasa."
Hening.
Hening.
"Dobe, tentu saja aku butuh digendong." Setelah mengatakannya Sasuke membuang muka dan naruto tergagap dan dengan canggung mulai mengangkat Sasuke ke pelukannya.
Saat mereka sampai di pantai sebelah timur, sebagian awak sudah bersiap untuk melakukan pelayaran kembali karena tidak ada sesuatu yang berharga di pulau terpencil itu dan pengecekan kondisi kapal yang ternyata baik-baik saja. Kapal siap berlayar lagi. Semua orang menghentikan pekerjaannya dan memilih mengawasi Naruto yang tidak lagi sendirian.
"Kami meletakkan emasnya di karang sebelah utara," kata Naruto.
Hashirama memberi tanda pada anak buahnya dan tiga orang pergi ke arah Naruto datang. Sasuke menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Naruto. Ini pertama kalinya Sasuke berada di sekitar manusia dan perasaan tidak nyaman seolah menggelayutinya tanpa bisa dicegah.
Sang kapten cukup berbaik hati dengan memberi mereka kamar sempit dengan satu tempat tidur tanggung, meja, dan kursi. Naruto menurunkan Sasuke di atas tempat tidur dan mengamati ekspresi penasaran yang terpampang di wajah cantik itu. Sasuke mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar dan telapak tangannya merasai kain yang membungkus badannya dan turun meraba kain yang terpasang di tempat tidur. Untuk pertama kalinya Sasuke berinteraksi dan akan tinggal di sekitar manusia dan barang-barang mereka.
Saat Naruto pergi untuk membantu kapal bertolak, Madara masuk ke kamar dan menemui Sasuke. Ia membawa pakaian perempuan dan akan mengenakannya pada Sasuke.
"Kau wanita," kata Sasuke begitu melihat seorang perempuan masuk.
"Seperti yang kau lihat," acuh Madara. Ia menarik kasar kain yang dipakai Sasuke dan mendapatkan perlawanan. "Apa kau ingin telanjang dan membiarkan para pria berotak selangkangan horny melihat kulit mulusmu?"
"Ini membuat kulitku gatal," kata Sasuke begitu ia mengenakan dalaman pakaian.
"Tidak ada pilihan selain membiasakan diri menjadi manusia, kau ikan yang beruntung."
Merasa tersinggung Sasuke mencebik, namun ia tidak melawan hingga ia mengenakan pakaiannya lengkap. Ia merasa takjub pada dirinya sendiri yang sekarang berbalut baju berenda dan meskipun agak sesak dan gatal tapi ia menyukainya.
"Tunggu, bagaimana kau bisa tau kalau aku mermaid?"
"Kami tidak bodoh, pacar pirangmu tak akan meraih kesepekatan dengan kami jika ia tak menceritakannya dengan jujur."
"Hn."
"Aku penasaran, apakah kau yang membuat kapal kami bermasalah? Dan apa kau tahu sesuatu tentang mermaid, seperti di mana mereka tinggal."
"Aku soliter, dan meskipun aku pernah menjumpai kelompok-kelompok dari kaumku namun aku tidak mengetahui banyak tentang mereka. Aku dulu pernah bergabung berkelompok dengan mermaid lain, tapi aku merasa itu adalah sebuah kesalahan. Kadang aku merasa kami berbeda. Aku juga tidak tahu perbedaannya di mana, hanya menuruti insting dan aku hidup sendiri... dan ya, aku yang membuat kapalmu bermasalah," jelas Sasuke.
"Apa kau bisa menangis?" tanya Madara dengan topik yang agak melenceng.
Sasuke mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu, tinggal di dalam air laut membuatku tidak bisa membedakan air mataku dan air laut."
"Hah, lucu sekali."
Sasuke menatap lurus Madara yang bersandar pada dinding dengan salah satu kaki bertekuk dan kedua tanan bersedekap. Agak takjub, Sasuke seolah mendapatkan rolemodel sempurna untuknya belajar menjadi manusia berjenis kelamin wanita. Madara terihat tangguh dan dalam waktu yang bersamaan terlihat anggun juga. Sasuke sempat berpikir jika ia replika perempuan di hadapannya. Warna rambut, warna mata, postur tubuh, semuanya mirip yang membedakan hanya sifat Madara yang bar-bar.
Sasuke terus menjaga obrolan mereka tetap berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan sepele seputar kehidupan manusia dan madara menjawabnya dengan singkat namun cukup jelas. Entah sudah berapa lama hingga Naruto masuk dan Madara menyingkir keluar.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Banyak hal."
"Kau terlihat cantik dengan baju itu."
"Sasuke, kau tidak mau bercerita tentang mermaid dan kenapa kau ingin ke Kuil Kyuubi—"
"Aku akan mengatakannya begitu kita di daratan," potong Sasuke.
"Aku janji," lanjut Sasuke begitu dilihatnya raut muka Naruto yang kecewa. "Kau berkata jujur pada mereka?"
Sasuke mengalihkan topik.
"Mereka tidak bodoh, jika aku tidak menceritakan semuanya mereka tidak akan percaya. Emas dan perempuan di pulau kecil bukan hal yang lazim."
"Aku mengerti."
"Kau bisa tidur di sini, aku akan di kabin bawah dengan awak yang lain."
Sasuke menolehkan kepala cepat dan menyahut, "Jangan! Di sinilah. bersamaku."
"Jika kau tak keberatan," keki Naruto.
Naruto berdehem pelan untuk mengurangi kecangungan mereka berdua. Dan kemudian Sasuke menurunkan kakinya dari ranjang untuk mencoba berdiri. Ia harus belajar menjadi manusia dan berjalan dengan menggunakana dua kaki. Karena tidak mungkin nanti Naruto akan menggendongnya setiap saat ketika berada di daratan.
Hanya sedetik telapak kakinya menyentuh lantai kayu, ia terjatuh. Dan jangan lupakan, Sasuke berada di atas kapal yang berlayar yang tentunya dalam kondisi tidak seimbang.
Naruto menangkapnya dan meletakkan tangannya pada bahu Naruto.
"Kau seperti seorang pesakitan," ejek Naruto. Ia pelan-pelan memapah Sasuke agar terbiasa menggunakan otot kakinya. Butuh sebulan berlayar untuk sampai di pelabuhan Basali dan itu waktu yang panjang untuk Sasuke belajar berjalan seperti balita.
.
.
.
"Naruto, bagaimana kalau aku punya rahasia besar?" gumam Sasuke di samping Naruto.
Mereka berdua berada di ranjang salah satu kabin kapal yang sedang berlayar di lautan tenang. Di dalam ruang yang terbatas mereka berbagi tempat tidur dan Sasuke ingin berbagi cerita kepada pemuda yang sudah beberapa minggu dekat dengannya.
"Sepertinya kau memang punya rahasia besar, berdoalah agar kapal ini tidak tenggelam karena mengangkut Sasuke dan beban besarnya."
Sasuke memukul kepala Naruto. Ia heran dengan Naruto yang sekarang suka menggunakan bahasa sinis.
"Kau merajuk," kata Sasuke sambil mendekat ke arah Naruto.
"Tidak."
"Ya, kau merajuk karena aku tidak cerita apapun."
Sasuke mendudukkan diri dan melanjutkan," Baiklah, aku akan cerita— Naruto, aku akan mati."
Naruto mendengus.
"Aku juga, semua orang akan mati," jawab Naruto yang menduga Sasuke sedang tidak serius dan ia mendapat pukulan keduanya.
"Kenapa kau senang sekali memukul sih."
"Maksudku aku akan mati dalam waktu dekat karena aku mempunyai tanda kutukan!"
Sasuke membuang napas kasar. Ia mengatakannya dengan cepat dan penuh penekanan. Ketika ia berpaling ke wajah Naruto ia mendapati mata biru Naruto yang seperti bola biru berpendar dalam keremangan. Memandanginya dengan sorot yang tak bisa ia baca.
"Oh ya?" Naruto mengedipkan mata bodoh.
Sasuke mendengus, "Idiot." Ia menyesal karena diam-diam menyukai tatapan biru Naruto.
"Lihat." Sasuke memunggungi Naruto dan menyingkap kerah gaun malamnya. Di leher bawah belakangnya terdapat tanda tiga tomoe. Ia merasakan Naruto mendudukkan diri dan jemari si pemuda mengusapnya lembut dan tanpa bisa dicegah ia menikmati sapuan itu. lalu dengan cepat ia kembali menarik bajunya dan menghadap Naruto.
"Bagaimana bisa tanda kecil seperti itu bisa membunuhmu?"
"Karena tanda terkutuk."
Naruto memegang kedua bahu Sasuke dan dengan serius memberi saran, "darimana kau mendapatkannya? kau harus cepat menghapusnya. Kulihat tanda kutukanmu seperti tato, orang-orang biasanya menggunakan bara api untuk menghapusnya, kau juga bisa, meskipun rasanya pasti sakit sekali—"
"Diamlah bodoh."
Sasuke memotong perkataan ngelantur Naruto yang dibalas dengan gerutuan. Ia tidak menyangka bisa bertahan dan betah berada di dekat pemuda pirang yang selalu berbicara dan bertingkah konyol.
"tanda kutukanku bukan tato dan cara menghapusnya aku harus ke kuil Kyuubi. Itulah kenapa kita akan berlayar ke sana dan aku membutuhkanmu untuk mengantarkanku ke kuil tersebut."
"Aku pasti akan mengantarkanmu. Ingat, nyawa dibalas nyawa. Kau sudah menyelamatkanku dan sekarang giliranku membalasnya. Kau tidak akan mati Sasuke, pecayalah padaku. Aku akan membantu dan menemanimu hingga berhasil. Aku mengetahui dengan baik rumahku sendiri, dan aku akan memandumu begitu kita sampai ke Kuil Kyuubi."
Sasuke merasakan kelegaan saat mendengarnya. Tujuan ia pergi ke Kuil Kyuubi karena ia ingin melepas kutukan yang bersemayam pada tubuhnya. Kutukan yang ia dapat karena kesalahan kedua orang tua. Dan ia sangat sadar bahwa Naruto adalah kunci keberhasilan masalahnya.
"Terima kasih," ucap Sasuke tulus. Ia mengambil tangan Naruto dari kedua pundak dan mengusapnya lembut. Dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Mata kelamnya berbinar memaku kelereng biru yang cemerlang. Setelah semua yang terjadi butuh dorongan sedikit hingga dua insan tersebut hanyut dalam pusara sebuah perasaan. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai. Dua pasang mata yang saling memerangkap seolah berkata segalanya. Mereka saling mendekat hingga tanpa jarak. Sasuke merasakan bibir hangat yang mengecupnya dan ia seperdetik dan mereka sadar dengan apa yang terjadi.
Mereka kembali berbaring dan saling membelakangi. Sisa malam yang panjang memberikan waktu pada mereka berdua untuk menyelami lagi perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.
Bersambung...
/ingetin gue buat bikin side story Hashimada
/plis komen kalo ada yang mengganjal karna gw rencana bakal ngerevisi ff ini lagi, kayaknya bakal ada banyak plothole :')))
