Chapter 4

AIR MATA MERMAID

Oryza Kana

Sudah satu minggu kapal perompak yang ia tumpangi berlayar. Suara decitan kayu yang beradu, ombak yang berdesir, dan pemandangan yang hanya lautan biru di luar kapal sudah menjadi hal yang sangat biasa Sasuke rasakan. Otot kakinya sudah cukup kuat untuknya bisa berjalan normal. Meskipun ia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar sempitnya, walau bagaimanapun tenaganya sedikit lemah ketika ia tidak berada di dalam air untuk waktu yang relatif lama. Ia akan tiduran dan mengamati interior kamarnya yang sederhana sambil mendengarkan ombak dan kadang juga menyanyi untuk menghibur diri karena Naruto lebih banyak menghabiskan waktu di luar kamar. Naruto sebagai penumpang tahu diri untuk ikut ganti shift dengan para awak kapal lain.

Sasuke kadang pergi ke geladak kapal ditemani Madara atau Naruto dan bahkan Hashirama sang kapten. Ia tak berani sendirian ke luar dari kamarnya karena takut bertemu dengan awak kapal yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.

Ketika malam turun ia menunggu Naruto karena sudah seharian penuh ia tak melihatnya. Naruto, sejak malam ia mengaku mempunyai kutukan, Sasuke semakin mantap dengan pilihannya pergi ke Kuil Kyuubi bersama pemuda pirang tersebut. Ia bisa merasakan perasaan tulus Naruto dan meskipun ia menyangkal berkali-kali, ia sadar betapa ia sangat menyukai Naruto.

Namun hingga keesokan harinya, batang hidung pemuda bodoh itu tidak nampak. Ia baru saja ingin keluar namun Madara masuk dan membawa berita yang sangat mengguncangnya.

"Naruto pergi," singkat Madara.

"Apa maksudmu?"

"Naruto membawa sekoci dan mendayung ke kapal lain yang berpas-pasan dengan kapal kami kemarin."

"Tidak, kau berbohong! Aku tahu kau bohong Madara. Naruto tak mungkin meninggalkanku," jerit Sasuke.

"Kau pikir kenapa kami mau menampung dua orang asing tanpa keuntungan? jelas kami tidak bisa menolak putri duyung dan Naruto menjualmu untuk uang dan kebebasannya."

Sasuke melihat Madara seolah dia mempunyai tanduk yang baru saja tumbuh dari kepalanya. Perkataan Madara sangat aneh dan Sasuke tidak ingin mempercayainya. Meskipun ia mula sesak napas membayangkan penghianatan Naruto atas kepercayaannya.

"Kau terlalu polos tuan putri duyung. Kami— perompak tidak melakukan pekerjaan secara gratis. Semua harus ada imbalannya. Kau tidak tau dan tidak suka, tapi itulah kami." Madara menyeringai diakhir kalimatnya.

Tanpa bisa dicegah, air mata Sasuke turun. Apakah selama ini Naruto hanya bermain peran di depannya? Yang Naruto katakan kepadanya apakah semuanya palsu?

Sasuke bangkit dan ia ingin keluar kamar dan jika perlu mencari Naruto ke seluruh sudut kapal. Tapi Madara menarikanya kembali terduduk di atas kasur.

"Dengar Sasuke, Naruto sudah memilih meninggalkanmu, ia ratusan mil jauhnya dari posisi kita sekarang. Meskipun kau ingin memanggilnya dengan sihir suaramu, aku ragu kau bisa melakukannya—"

Madara duduk di sebelah Sasuke. "Terima kenyataan, jadilah tawanan yang baik atau kembali ke lautan tapi kami tidak membiarkannya dengan mudah."

Suara Madara sudah tak bisa ia cerna. Sasuke terdiam dan membiarkan gejolak emosi menguasainya.

Ia merasa seperti gadis kecil rapuh. Ia ingin marah pada pemuda pirang yang telah menipunya seperti seorang idiot. Namun ia semakin merasakan sesak ketika tersadar bahwa dirinya tak jauh berbeda dengan si licik Naruto. Bahkan mungkin Naruto memang melakukan hal yang benar ketika ia tak pernah menceritakan apapun. Naruto bukan prajurit yang menerima perintah tanpa mengetahui alasan. Ia adalah laki-laki bebas yang mengira dirinya mempunyai hutang nyawa pada mermaid yang telah menyelamatkannya. Nyatannya pertemuannya dengan Naruto telah direncanakan untuk kepentingannya.

Naruto meninggalkannya dan ia tak bisa mengendalikan emosi yang tiba-tiba menyeruak. konon, mermaid adalah makhluk melankolis yang gemar menyanyikan lagu lembut nan syahdu. Tidak hanya suaranya yang selembut serbuk bunga namun juga hatinya. Air matanya mudah lolos ketika kegundahan melanda hatinya.

Sasuke menangis entah untuk dirinya sendiri atau mendapati kenyataan pahitnya dihianati karena Naruto meskipun baru mengenalnya ia telah menaruh kepercayaan pada pemuda itu. Tidak mudah mencoba dekat dengan seseorang dan bertemua salah satu yang cocok. Dan Naruto adalah seseorang yang dengan cepat merebut perhatiannya. Pemuda yang dengan caranya yang aneh mampu membuatnya merasa nyaman dan lebih daripada itu Naruto mengerti dirinya. Ia menyukainya meskipun saat ini satu-satunya hal yang ingin sasuke lakukan adalah menyangkal dan menghapus perasaan itu.

Air mata Sauke semakin deras mengalir dan ia membiarkan madara yang sibuk menampungnya dengan gelas. Ia sepenuhnya tidak peduli dengan apa yang dilakukan perempuan bar-bar itu. membayangkan Naruto yang selama ini bertopeng di hadapannya membuatnya muak namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Perasaan kosong dan amarah bergumul dalam kepalanya dan ia hanya bisa menangis. Sasuke sudah menceritakan tentang tanda kutukan yang ia miliki dan Naruto tetap memilih pergi setelah mengetahuinya. Sudah jelas ia tidak berarti apa-apa untuk laki-laki perompak itu.

Benar kata Bee, mungkin ia belum siap keluar menghadapi dunia yang penuh orang-orang busuk dan tipu muslihat. Sasuke hanya mermaid kecil yang sebagian besar waktunya dihabiskan dengan pengasuhnya, Bee, sang kraken. Di balik tentakel sang kraken ia dilindungi dan dari mulut sang kraken ia mengetahui cerita dunia luar.

Sasuke mendongakkan kepala ketika Madara dengan lembut mengusap air matanya. Jari madara kemudian bergerak ke samping dan menyematkan rambut hitam Sasuke yang menjuntai pada telinga. Dipandanginya air muka Madara yang tenang. Ia merasa sangat lemah di depan Madara. Tak pernah ia merasa seperti ini bahkan ketika ia mengetahui bahwa ia akan mati muda karena sebuah kutukan. Mungkin ini memang karena pengalaman pertamanya membuat suatu hubungan dengan manusia. Hubungan yang di luar dugaan karena begitu emosional.

"Jangan menangis lagi, aku sudah tidak butuh air matamu itu."

Madara menjauhkan wajahnya dan ia menyeringai. Lalu kedua tangannya sibuk menuangkan cairan dalam gelas ke dalam botol.

"Aku tidak menangis untukmu." Sasuke mengusap wajahnya dan sesekali hidungnya menyedot ingus pelan.

"Naruto tidak kemana-mana, aku cuma bercanda tadi."

Apa Madara sedang menghiburnya?

"Kami mengerjaimu... untuk mendapatkan ini." Madara mengangkat botol kecil yang berisikan air mata Sasuke.

"Sasuke, satu-satunya yang kami inginkan dan buru adalah air mata mermaid, bukan mermaidnya apalagi emas yang kalian tawarkan—"

Madara mendengus saat Sasuke masih memandangnya penuh tanya, ia melanjutkan, " Aku bersekongkol dengan Naruto dan merencanakan semua ini. Awalnya aku ragu kau akan menangis untuk si idiot kuning itu, tapi kau melakukannya dengan sangat baik. Sepertinya tidak ada yang menandingi kemanjuran air mata mermaid patah hati."

Otak jenius Sasuke segera menyadari jika ia baru saja dipermainkan oleh perempuan berambut raven di hadapannya.

"Jadi... Naruto masih ada di dalam kapal ini?"

Madara mengangguk.

"Aku akan membunuhnya jika dia berani menemuiku," ucap Sasuke penuh dendam.

"Aku sarankan jangan, wajahmu yang sedang menangis sangat tidak tertolong lagi."

Madara hanya mengedikkan bahu acuh ketika Sasuke memandangnya nyalang.

"Akan sangat bijaksana jika kau segera meninggalkan kamarku sebelum aku membunuhmu juga."

Madara segera menurutinya. Sasuke mengembuskan napas panjang begitu Madara pergi dan menutup pintu.

~Oryza Kana~

Insiden penipuan yang dilakukan sang wakil kapten dan pemuda kuning sudah berlalu beberapa hari. Dan akhirnya putri duyung memberikan maafnya setelah Naruto berhari-hari sujud meminta maaf dan merengek jika semuanya adalah rencana licik Madara.

"Kau benar-beanr gadis pendendam," kata naruto begitu Sasuke memasang wajah jutek.

"Kau telah mempermainkan aku, Dobe!"

"Kumohon Sasuke, kau tau aku melakukannya bukan karena ingin. Itu taktik Madara karena mereka membutuhkan airmata mermaid. Itu yang aku janjikan ketika kita bisa menumpang kapal mereka."

Naruto mendekati Sasuke yang berdiri membelakangi dinding kayu kamarnya. Apa yang telah dilakukannya mungkin sedikit keterlaluan.

"Kau tahu, bajak laut tak selamanya tentang emas dan harta—"

Jemari naruto membelai pipi Sasuke yang memerah karena cuaca dingin. "Kau harusnya mempercayaiku, aku tak mungkin meningggalkanmu apalagi menjualmu."

Sasuke mendongakan kepala dan ia kembali merasakan kehangatan Naruto. Mata biru itu seakan menawannya tanpa bisa ia tolak. Sasuke bergumam pelan saat Naruto mulai mendekatkan wajahnya dan menyatukkan kening mereka. Ia bisa merasakan embusan napas yang saling menyapu wajah masing-masing. Dan saat seseuatu yang lembut menempel pada bibirnya ia sedikit terkesiap namun tetap membiarkan Naruto menciumnya lebih dalam.

Menuruti instingnya, Sasuke mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto dan pemuda itu membalasnya dengan mendekapnya semakin erat. Ia tidak pernah merasakan ciuman itu seperi apa. Ia tidak mengerti ketika tiba-tiba jantungnya bertalu cepat dan perasaan seperti tergelitik memenhui perutnya. Ia tidak mengerti tapi memutuskan untuk menerimanya. Ia menyukai naruto yang memeluknya dan memainkan lidahnya pada mulutnya.

"Aku menyukaimu," bisik Naruto setelah bibir keduanya berjarak.

Sasuke memeluk naruto dengan sangat erat dan bergumam, "Aku memafkanmu."

.

.

"Kau tahu, betapa mereka sangat senang waktu aku cerita kalau temanku yang akan ikut menumpang kapal mereka adalah seorang mermaid... dan mereka meyakinkanku kalau tidak akan menyakitimu karena yang mereka butuhkan hanya airmata saja, dan selanjutnya Madara membuat drama kecil-kecilan itu, dan... berhasil," jelas Naruto singkat. Jemarinya memainkan rambut Sasuke yang sekarang bersandar di bahunya.

"Hn... lupakan, aku tidak ingin membahasnya lagi. Naruto, aku akan cerita semuanya, mengapa aku ingin ke kuil Kyuubi."

"Tidak menunggu sampai ke pelabuhan Basali?"

"Tidak, tidak perlu," kata Sasuke sambil menyamankan posisinya karena ini akan menjadi cerita yang panjang.

Naruto hanya mengedikkan bahu. Dari awal dia tidak terlalu ingin memaksa Sasuke bercerita. Ia akan menunggu hingga gadis itu siap. Lagipula dengan menemani Sasuke ia seperti mempunya tujuan hidup baru karena Sasuke dengan cepat menjelma menjadi orang yang penting untuknya. Selain Sasuke telah menyelamatkannya, ia juga telah menjarah hati Naruto. Tidak ada yang ingin Naruto lakukan selain melindungi Sasuke bahkan jika mempertaruhkan nyawanya.

"Aku mempunyai kutukan yang akan membunuhku saat umurku genap 20 tahun, yang artinya satu tahun lagi."

"Siapa yang mengutukmu?!"

"Diamlah, simpan pertanyaanmu di belakang."

Naruto menggerutu namun ia menutup mulutnya.

"Apa kau percaya dengan dewa? Di dunia ini ada tujuh gerbang dunia. Setiap gerbang dihuni oleh ras atau makhluk yang berbeda. Dunia manusia berada pada gerbang paling rendah... gerbang pertama. Gerbang kedua oleh para siluman, iblis, dan sebangsanya, dan gerbang tertinggi dihuni oleh para dewa. Menurutmu kenapa dewa membuat banyak gerbang? Tentu agar makhluk-makhluknya tidak bercampur dan saling memusnahkan, mungkin juga karena perbedaan kekuatan. Yang paling penting dewa langit tidak ingin aturannya dilanggar. Apa yang terjadi jika aturan dilanggar?" tanya Sasuke di akhir kalimatnya.

"Dia marah?"

"Bisa iya, bisa tidak. Tergantung siapa yang melanggarnya. Dewa langit mempunyai banyak anak, salah satunya adalah dewa lautan— ayahku."

Naruto langsung berjengit dan memegangi pundak Sasuke.

"Kau anaknya Dewa Laut? Aku pernah menemuinya dalam mimpiku. Dewa Ashura dengan tongkat trisula. Benarkah?" ragu Naruto.

Sasuke mengangguk.

"Ayahku menentang aturan dewa langit, ia jatuh cinta dengan Indra, perempuan dari ras demon penghuni gerbang dunia kedua. Kau melihat perbedaanya kan? Para dewa seharusnya hanya menikah dengan dewa lainnya bukan dari ras rendahan. Dan ketika hasil persilangan dua makhluk yang berbeda lahir, dewa langit murka dan mengirimkan kutukan pada bayi yang tak berdosa..."

Naruto memeluk Sasuke dan mencium pelipisnya untuk memberi gadis itu kekuatan.

"Bahkan aku tidak bisa berada dekat dengan kedua orang tuaku. Jika hal itu terjadi, tanda kutukanku akan segera bereaksi dan menyakitiku. Makanya aku dari kecil di asuh oleh Killer Bee, sang kraken dari laut tengah. Aku mengetahui semuanya dari Paman Bee, bahkan aku tak pernah mengetahui rupa dewa Ashura dan Putri Indra— kedua orang tuaku."

"Tapi kau akan selamat 'kan? Aku tidak pernah mendengar cerita jika Kuil Kyuubi bisa menghapus kutukan, namun mungkin itu memang benar, kau akan tahu jawabannya dari Nenek Chiyo, petapa yang tinggal di kuil Kyuubi dan dia yang mengasuhku selama ini."

"Ya, setelah sampai di kuil aku akan tahu cerita lengkapnya. Ngomong-ngomong mau memang dikirim untukku."

"Tidak mungkin. Aku sendiri yang memutuskan ingin menjadi bajak laut dan meninggalkan kuil. Bagaimana mungkin."

Selama naruto tinggal dikuil ia menjalani hidup yang normal. Bahkan beberapa bulan yang lalu ia masih tidak mempercayai jika Mermaid benar-benar nyata di dunia. Apalagi mendengar cerita Sasuke tentang Dewa, iblis, gerbang dunia, yang semuanya memang ia pelajari di kuil, tapi ia tak pernah menyangka jika makhluk seperti itu memang ada di dunia lain yang masih terhubung dengan dunia manusia.

Dan jika memang itu semua benar dan tentu saja Naruto mempercayai Sasuke dan semua yang dikatakan gadis itu adalah kebenaran, maka ia tanpa keraguan akan selalu ada di sisi Sasuke.

"Sebenarnya aku juga tidak cukup yakin, tapi Paman Bee mengatakannya kalau kau memang ditugaskan untuk mengantarku, dan aku tidak tahu cerita detailnya bagaimana."

Naruto mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak peduli, jika memang seperti itu aku tidak menyesalinya dan bersyukur bisa bertemu denganmu."

"Hn... kau manusia pertama yang aku temui."

"Dan kau langsung menyukaiku." Naruto terkekeh begitu Sasuke ber-cih pelan.

"Mungkin kita memang ditakdirkan bersama karena kita mengerti perasaan masing-masing. Aku meskipun tinggal dan dikelilingi manusia tapi mereka membenciku dan aku tidak pernah mengenal siapa orang tuaku. Kau juga, bahkan dunia ini bukan rumahmu. Kita pasti sangat mengenal arti sesungguhnya dari kesepian dan perasaan ingin disayangi oleh orang yang melahirkan kita. Dan aku bersyukur kau akan bertemu mereka sebentar lagi."

"Ya."

Sasuke mengangkat kepalanya dan mencium Naruto sekilas. Tubuhnya seakan reflek bergerak sendiri. Itu adalah cara Sasuke menyampaikan perasaannya, ia ingin menghibur Naruto namun ia bukan tipe gadis manis yang bisa membesarkan hati orang lain.

Naruto yang mendapatkan perlakuan manis dari Sasuke kaget tapi hanya sedetik dan kemudian ia menyeringai dan memojokkan Sasuke. Sebelum ia terkapar di lantai kayu karena tendangan si gadis mermaid.

Bersambung—

Maunya bikin adegan lime atau lemon gitu~

Tapi kokoro ndak kuat T.T

ORYZA KANA