.
Braak..
Koridor mendadak hening setelah bunyi loker di tutup secara keras.
Semua yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing di koridor loker kini bergantian menatap ngeri pada loker yang membekas genggaman tangan dan gadis mungil yang melakukannya.
Setelah gadis itu pergi dari ruangan hening itu, mereka semua mulai sadar dan kembali beraktivitas. Tak sedikit juga ada yang berbicara tentang gadis mungil tadi.
Tap.. tap.. tap..
Gadis mungil berambut indigo sepinggang dengan poni yang membingkai wajahnya itu melangkah dengan kaki yang sedikit di menghentak, tangan menggenggam erat di kedua sisi tubuhnya, dan wajah yang memberengut. Tanda bahwa gadis itu sedang kesal.
Di arah yang berlawanan koridor yang sepi. Laki-laki itu berjalan santai dengan satu tangan di masukkan ke saku. Dia bisa santai karena ini masih terlalu pagi dan para fansgirlnya masih sibuk merias diri dengan dandanan menor menurutnya.
Siswa dengan marga Uchiha itu melihat gadis berjalan tidak sadar ke arahnya dengan menggerutu dengan suara kecil. Sadar akan berpapasan ia menyeringai tipis.
"Kau, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu? Jangan terus mendoakanku dengan sumpah serapahmu itu." Berbisik di telinga sang gadis setelah menariknya mendekat.
"Oh kupikir kau tak kan perduli tuan Uchiha Sa-su-ke?" Sambil mencoba melepas cengkraman pada lengannya dari tangan Siswa bernama Uchiha Sasuke itu.
"Jangan sampai telat mengumpulkannya atau kau akan menerima hukuman dari orochimaru-sensei, Hyuuga." Memyeringai, Melepaskan genggaman pada siswi yang bername tag Hyuuga Hinata itu dan berjalan ke arah tujuannya.
"Ini semua gara-gara kau pemalas, Dasar Uchiha menyebalkan." Hinata meneriaki Sasuke yang sudah jauh dari jangkauannya dan hanya menerima lambaian dua jari.
Sebetulnya Hinata bernar-benar ingin membalas perbuatan si Uchiha itu tetapi ia menunggu kesempatan yang lebih bagus.
Sedikit berkurang kejengkelannya karena mengingat hal itu ia tersenyum dan berjalan pelan ke arah yang sama dengan Sasuke yakni, kelas.
Sedangkan Sasuke yang sudah ada di kelas sudah duduk di tempatnya sambil memainkan ponsel.
Hari ini seperti sebulan sebelumnya ia berangkat lebih pagi untuk menghindari para fansnya tetapi bukan itu tujuan awalnya yang sebenarnya ingin menggoda si Hyuuga manis tadi.
Greek..
Melihat kursi di sampingnya yang sudah di tempati orang yang punya ia pun menyeringai.
Menyimpan ponselnya ke saku dan menghadap sepenuhnya sambil menopang kepalanya dengan tangan pada gadis itu yang sibuk merapikan alat belajarnya nanti.
"Apa lihat-lihat?!"
Mendengar kata yang ketus itu Sasuke menambah lagi seringainya.
"Bukan hanya kau yang punya mata, Hyuuga." Tanggap Sasuke.
"Tapi bisakah kau pergunakan untuk menatap tajam hal lain, Sasuke." Itu pernyataan yang dikeluarkan Hinata.
"Objek yang pantas cuma kau, Hyuuga." Jawab Sasuke tak menghilangkan seringainya.
"Hentikan seringai konyolmu dan bisakah kau membantuku soal yang sulit ini?" Telunjuk Hinata mengarah pada satu nomor pada bukunya.
"Huh.. kau masih belum menyelesaikannya.." Remeh Sasuke.
"Cepatlah.. ini tinggal soal yang sulit-sulit saja.. kau tau aku lemah pada hitung-hitungan seperti ini dan kau mengusulkan pada orochimaru-sensei soal yang segini rumitnya?!" Hinata dengan kesal menunjuk-nunjuk bukunya.
"Kemarikan.. kau itu lemah menghitung dari mananya.. ini sudah benar semua." Sinis Sasuke sambil mengoreksi apa yang di kerjakan Hinata.
"Aku harus lama untuk mengerjakan soal matematika Sasuke dan itu pun harus ada contohnya jika tidak ada contohnya maka aku tidak mau mencarinya. Dan kau tak memberitahukanku tugas-tugas ini setelah orochimaru-sensei memberikannya malah baru semalam sebelum aku tidur.. kau tau aku harus begadang untuk ini?!"
Hinata mulai mengomel meski dengan suara tak keras.
"Jangan mengomel.. suaramu tak pantas untuk seperti itu." Kata Sasuke yang mulai mengerjakan soal yang belum dikerjakan Hinata.
Sebenarnya sedikit kasian juga Hinata sampai begadang tetapi kenyataannya tak seburuk yang dia bayangkan bahkan Hinata masih bisa mengomelinya. Sebagai rasa bersalahnya ia juga mengerjakan soal mudah itu untuk Hinata.
"A-apa memang suaraku kenapa? Kan kamu yang memang menyebalkan kenapa tak mau diomeli?! Awas saja jika lain kali kau mengusiliku dengan soal yang mengerikan ini Sasuke.. A-apa sudah selesai? Hei apa ini benar? Kau yakin? Kenapa cepat sekali?"
Hinata tercengan saat Sasuke menyodorkan bukunya yang sudah terisi, melihat jawaban Sasuke yang singkat lain dari rumus tapi tetap sama dan lebih mudah.
'Apa Sasuke membuat rumus sendiri?' batin Hinata.
"ya, itu rumus yang cocok untukmu agar kau tak lemot mengerjakannya" jelas Sasuke.
"Apa kau barusan mengataiku 'lemot' secara tak langsung ha?! Lagian apa kau bisa memnbacaa pikiran ha?!" Berapi-api Hinata menyerang Sasuke.
"Hmph.. kau memang lemot.. dan mana ada membaca pikiran, kau yang terlalu mudah dibaca dasar aneh.."
Sasuke menutup menutup mulutnya yang hampir tertawa.
Ia sadar di kelasnya ini sudah ramai dan para fans diluar terus saja meneriakinya jadi ia tak ingin hal yang diluar dugaan terjadi, dan sejak kapan Hinata membuat dirinya aneh seperti ini.
"Apa?! Setelah 'lemot' sekarang 'aneh'?! Kau memang menyebalkan." Hinata mengerucutkan bibirnya tak memerdulikan Sasuke lagi.
"Terima kasih pujiannya.. nona Hyuuga.." Sambil menyeringai menatap Hinata yang mendengus.
Mereka yang duduk sebangku, di ujung belakang yang dekat dengan jendela. Dengan Hinata yang tepat di samping jendela yang menampilkan taman sekolah yang indah.
Sasuke terus menatap Hinata. Dengan posisi menghadap penuh ke Hinata dan kembali menyangga kepalanya dengan satu tangan.
Maka tidak ada yang melihat meskipun Hinata sendiri yang serius menekuni bukunya, bahwa Sasuke sekarang sedang tersenyum.
Senyum yang sesungguhnya.
TBC 》
