Pagi yang sedikit mendung menandakan berita cuaca di televisi benar adanya.

Lagi dan lagi Hinata Hyuuga melupakan sesuatu yang penting. Payung.

Memang benar dia antar jemput atau membawa mobilnya sendiri tapi baginya itu akan terlalu ribet dengan Hinata yang akan meladeni teman-teman sampah.

Dalam artian ada uang ada 'teman'.

Hinata tidak suka.

Jadi di putuskan sudah bahwa Hinata naik bis umum untuk kendaraannya kemana-mana. Dan kali ini Hiashi Hyuuga mengizinkannya karena dibantu Hikari Hyuuga.

Hinata sangat menyayangi keluarganya terutama kaa-channya.

Kembali lagi ke keadaan Hinata yang saat ini lagi - lagi menggerutu.

"Bagaimana aku bisa lupa lagi tentang payung kesayanganku. Padahal kan berada di tempatnya. Di samping aku memakai sepatu tadi. Apa gara - gara aku tadi mengambil roti neji-nii jadinya aku kena imbasnya? Benarkah ada karma? Dan aku juga lupa bento-ku?! Intinya menyebalkan. Lagi pula aku nanti ingin ke toko buku. Bagaimana ini?! Apa aku harus pinjam keperluan yang lain. Yah mungkin disalah satu sudut sekolah ini ada yang mempunyai dua pay-"

"Berisik."

Gerutuan Hinata yang aslinya memang benar-benar tidak keras itu terpotong. Sungguh itu hanya berupa gumaman kadang satu kata juga tersebut dalam hati karena mulutku terlalu susah mengatakannya.

Hinata tahu suara datar nan ketus itu. Bahkan lima hari belakangan ini mengganggunya. Penasaran, Hinata membalikkan badan.

"U-uchiha-san." Sapa Hinata gugup.

"Hn. Kemana?" Ambigu.

Tapi Hinata mengerti.

"Ke p-perpustakaan." Jawab hati-hati Hinata yang tak berani menatap mata kelam Sasuke.

"Ke kantin. Ikut." Sasuke menatap gemas pada mahluk di depannya ini.

Bagaimana bisa gadis yang tidak terlalu tinggi dan pendek mempunyai bentuk tubuh yang begitu 'wow'. Sasuke menyebutnya 'mahluk mungil'.

Benar-benar, lihatlah dadanya yang si tutupi kemeja yang agak longgar itu Sasuke sudah dapat mengetahuinya dengan jelas ukurannya dan bagian belakang yang pas.

Benar-benar perpaduan yang mematikan bagi Sasuke dengan wajah polos imut dan indigo yang membingkai pipi chubbynya.

Jangan lupakan hal yang benar-benar membuat Sasuke nyaman.

"H-hai U-uchiha-san."

Suara halus Hinata. Benar-benar, ah Sasuke benar-benar tak tahu harus mendeskripsikan seperti apa dan bagaimana.

"Sasuke." Tuntut Sasuke tak kentara.

Sasuke penasaran bagaimana suara merdu Hinata memanggil nama kecilnya apa lagi mendes- Sasuke sepertinya mulai melantur.

"S-Sasuke-kun." Hinata makin menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memanas.

"Hn."

Senyum Sasuke terbut meskipun sangat tipis tapi seharusnya Hinata melihatnya.

Selanjutnya Sasuke menggenggam telapak tangan Hinata menyeretnya ke arah kantin.

Entah memang atau kebetulan karena lorong kali ini benar-benar sepi. Ah mungkin ada pertandingan fikir Sasuke. Sasuke bertambah semangat sepertinya di kantin nanti juga sedikit orang.

Sampai Sasuke langsung duduk. Hinata masih berdiri.

"S-Sasuke-kun mau p-pesan apa?" Tanya Hinata.

"Jus tomat." Jawab Sasuke yang masih memperhatikan Hinata yang melihat kantin.

"Hanya itu? Apa tidak makan?" Tanya Hinata cepat dan menolehkan kepalanya pada Sasuke yang terlihat menatapnya.

"Hn." Tanggap Sasuke. Dan Hinata langsung berjalan pelan Sasuke tadi sempat melihat Hinata bersemu saat berbalik.

'Gadis ini menggemaskan sekali.'

Bagaimana Hinata bisa berubah sikap setiap saat. Selalu mengejutkan. Sasuke benar-benar penasaran.

Tak lama Sasuke melamunkan Hinata. Si rembulan lembut itu sudah datang membawa senampan pesanan mereka berdua. Dengan anggun Hinata meletakkannya.

Sasuke menelusuri wajah Hinata yang tersenyum tipis tak sadar.

"Ini punya S-Sasuke-kun. Ini punyaku." Kata Hinata sambil tersenyum puas melihat pesanannya.

Sasuke melihat pesanan Hinata yang tiga piring dan segelas besar jus anggur. Lain menu setiap piring yah meskipun hanya camilan dan bukan makanan berat.

Tapi justru itu sepertinya Hinata tak memusingkan soal bentuk tubuhnya, mengingat camilan yang sering ditakuti perempuan.

"Wow Hyuuga. Pesananmu." Sasuke tak bisa menahan rasa ingin menggoda si gadis imut.

"A-apa?!" Ucap Hinata ketus tapi wajah Hinata memerah karena dipandangi Sasuke intens.

"Tidak." Jawab Sasuke sedikit terkekeh.

Terkekeh?! Hinata sebal.

"Sasuke-kun tak pesan apa pun. Apa salah satu pesananku ada yang kau sukai Sasuke-kun."

Tanya Hinata sambil menyuapkan sandwich yang terlihat sebuah tomat menyembul setelah Hinata mengigit satu suapan.

"Ada. Tomat." Kata Sasuke sambil menyeringai dan Hinata yang bingung.

Sasuke memajukan tubuhnya dan meraih pergelangan tangan Hinata yang memegang sandwich dan mengarahkan ke bibirnya yang siap melahap.

"A-hkh.." Hinata benar-benar terkejut.

'Apa-apa an itu.' Pikir Hinata spontan.

Dan Sasuke kembali santai di kursinya dengan mengunyah sandwich Hinata.

"A-apa yang kau lakukan S-Sasuke-kun?! Untung kantin sepi." Hinata gemas sendiri apa yang dilakukan Sasuke.

"Tapi kan Sasuke-kun bisa mengambil yang di piring. Lihat itu ada dua?!" Hinata berseru.

"Tapi tomatku mengintip di sandwichmu." Jawab Sasuke tenang.

"Tahu ini sandwichku seenaknya saja." Hinata sedari tadi sudah mengunyah kembali makanannya sambil mengomentari sikap Sasuke.

'Tergagap sesuai situasi dan orang baru.' Fikir Sasuke dalam hati mengetahui keunikan Hinata.

"Jangan berbicara kalau pipi mu berisi penuh. Lihat pipimu seperti habis diberi baking powder." Ucap Sasuke tenang.

"Kau kira pipiku roti apa?!" Kata Hinata tak terima.

"Siapa bilang roti. Itu bakpau strawberry." Santai lagi Sasuke mengigit bekas Hinata dari tangan Hinata langsung.

"Kau menyebalkan, tuan. Lagi pula kau mengatakan sesuatu yang buktinya lima hari ini kau menghilang dan hari-hariku yang tenang. Kemana kau pergi?" Hinata mulai penasaran.

"Apa kau menungguku mengganggu hari-harimu nona Hyuuga?" Tanya Sasuke terkekeh.

"T-tidak. Hanya saja aku kira kau tak serius dengan kata-katamu." Jawab Hinata tenang sambil memakan sandwich yang lain.

"Ketahuilah. Aku tak pernah bermain dengan kata-kataku Hyuuga. Dan lima hari kemarin ada masalah dengan perusahaanku yang mempunyai kekuatan mengganti namamu. Hinata Uchiha sepertinya bagus."

Dengan tenang, santai, dan tegas Sasuke menatap intens Hinata mengatakan itu. Sasuke ingin mengetahui semua raut wajah Hinata.

"A-a-apa?!"

Hinata syok setelah beberapa saat memroses kata-kata Sasuke.

Dan lebih syok lagi ketika Sasuke mendekat lagi untuk memakan Sandwichnya.

Hinata sepertinya sadar kalau dari tadi Sasuke memakan sandwich yang sama dengannya apalagi dengan menyuapinya.

Hinata bertambah merah. Pekat. Seperti tomat yang disukai Sasuke.

Sasuke hanya terkekeh melihat raut Hinata.

Sasuke kembali mendekatkan diri pada Hinata yang masih mematung dan memegang pergelangan tangan hinata, bukan untuk memakan sandwich di tangan Hinata.

Sasuke mendekat ke arah telinga Hinata dengan menyampirkan helaian rambut indigonya ke belakang telinga menggunakan tangan satunya.

"Kau milikku dari awal, Hinata. Kau tahu itu."

Sebuah seringai dan telinga yang memerah.

》TBC