Middle School

[ If Cupid misses the heart, he touches the body fatally ]


Sasuke kecil kini telah menjadi remaja berusia 15 tahun. Ia juga salah satu murid terbaik yang selalu dibanggakan sekolah, dan juga temannya.

Keadaan yang berputar balik, terasa lucu. Dahulu seisi sekolah membencinya, kini seisi sekolah mencintainya. Jika ada yang bertanya, 'Hal apa yang membuatmu membenci sekolahmu yang dulu?' Sasuke akan mengatakan dengan lantang jika itu Uzumaki Naruto.

Sasuke tentu masih ingat seperti apa rupa anak brengsek yang seharusnya bertanggung jawab atas semua kebencian yang ditujukan padanya waktu itu, meskipun waktu berlalu, ia tidak akan melupakannya begitu saja, tidak sebelum ia mati. Rasa bencinya kepada Naruto sudah melebihi akal warasnya, bahkan bersumpah jika suatu saat mereka bertemu lagi, akan menghajar si pirang habis-habisan hingga tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakannya.

"Sasuke, selamat pagi!"

"Lagi-lagi gadis itu," batin Sasuke bosan.

Ketika mereka bertemu untuk yang pertama kali, Sakura secara gamblang mengatakan jika obsesinya adalah Sasuke. Sejak saat itu Sakura membawakan bekal setiap hari, mengajaknya berbicara tanpa henti, juga mengikutinya ke mana pun ia pergi.

"Aku membuatkanmu bekal, bagaimana jika kau makan siang dengaku nanti?"

Sakura bertanya, dan Sasuke merasa tidak harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan untuknya, jika menurutnya tidak penting.

.

Saat bel istirahat berbunyi, Sasuke bisa melihat bagaimana angkuhnya Sakura saat mereka melewati para gadis kelas sebelah. Ia juga bisa melihat bagaimana para gadis kelas sebelah merespon dengan cibiran sambil menatap iri.

"Maaf, kau tahu di mana kelas 3-C?"

Sasuke tidak berniat untuk menghentikan langkahnya ataupun menoleh. Ia tahu jika Sakura akan mengurusnya nanti.

"Itu ..., kau lurus saja ikuti koridor ini lalu belok ke kiri. Kelas 3-C ada di ujung koridor setelahnya, tidak begitu jauh," jelas Sakura.

Semua berjalan sesuai keinginannya, terkadang Sasuke merasa Sakura cukup berguna jika itu menyangkut hal merepotkan yang tidak penting baginya.

"Aku tidak pernah melihat wajahnya di sekolah ini," ujar Sakura.

"Siapa?" sahut Sasuke, sedikit penasaran.

"Anak itu, kau melihatnya? Dia mengenakan jaket berwarna oranye. Sepertinya murid baru."

Sasuke menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah jari Sakura yang menunjuk ke arah koridor.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat." tanya Sakura cemas.

Sasuke menatap tajam, selepas itu ia pergi. Tidak peduli dengan Sakura yang kini menatapnya takut dari arah belakang.

.

"S-Sasuke ..., apa kau masih marah padaku? A-aku benar-benar minta maaf." Wajah Sakura tertunduk dalam tatkala ia berkata dengan suara yang bergetar.

Sasuke hanya diam, menatap Sakura yang kini mulai terisak. Tidak tahu mengapa para gadis mudah sekali menangis. Wajah mereka memerah, dengan air mata deras membasahi pipi. Mereka terlihat, seolah-olah tidak berdaya, dan menurutnya itu semua sangat menjijikkan.

"Membuat seorang wanita menangis itu, tidak baik."

Sasuke bisa melihat tatapan takut di mata Sakura ketika suara asing seseorang yang berasal dari belakang tubuhnya, berani memotong pembicaraan mereka berdua.

"Kau tidak akan mengerti, jadi kumohon jangan ganggu urusan kami!" teriak Sakura histeris, takut jika permasalahannya dengan Sasuke akan menjadi semakin rumit.

"Kau gadis yang cantik, tidak seharusnya menangis karena kekasihmu yang arogan ini."

Sasuke tersenyum sinis. Julukan arogan tidak membuat darahnya mendidih, tetapi merasa sangat terganggu, dan terhina ketika Sakura disebut sebagai kekasihnya.

"Apa kau mengenalku?" Sasuke bertanya. Ia menoleh untuk melihat sosok berkedok murid baru yang berdiri di belakangnya sejak tadi.

Rambut hitam, kulit putih pucat, dan senyum palsu yang terkembang di bibir. Sasuke merasa tidak begitu asing dengan paras anak laki-laki itu, tetapi di mana persisnya pernah melihat, ia tidak bisa mengingat.

"Aku murid baru di sini, jadi aku tidak mengenalmu," sahut si anak baru.

"Jika kau tidak mengenalku, kau tidak punya alasan untuk berurusan denganku," balas Sasuke.

"Aku hanya memberi tahu bagaimana cara memperlakukan kekasihmu dengan be—"

Sasuke merasa kesabarannya sudah habis. Ia mencengkram kerah baju anak itu, lalu menariknya kasar, meniadakan jarak di antara mereka.

"Dia bukan kekasihku! tutup mulutmu, atau aku akan membunuhmu!"

Seisi kelas terdiam, sambil menatap bingung ke arah Sasuke.

"Bukankah kau ingin membunuhku? Apa yang kau tunggu?" sahut si anak baru menantang.

Jantung Sasuke secara aneh berdegup liar. Ia ingat tatapan itu, tatapan ngeri yang diberikan seisi kelas padanya, membuatnya terpaksa mengingat jika ia pernah berada di dalam kondisi yang sama sebelumnya.

"Ayo, apa yang kau tunggu? Jagoan?"

Kedua tangan Sasuke gemetar dengan hebat, ia merasa perutnya diputar hingga membuatnya mual. Rasa mual yang tidak jauh berbeda, sama seperti 3 tahun yang lalu.

"Hey Uchiha."

Sasuke mengernyit. Suara itu, senyum itu, dan panggilan itu. Ini semua terasa sangat familiar di ingatannya.

"Iruka memintamu untuk pergi ke ruangannya," lanjut si anak baru dengan seringai di bibir.

Pupil hitam Sasuke membulat. Untuk sepersekian detik ia merasa jantungnya berhenti berdetak. Semua memory buruk yang telah ia paksa hapus dari dalam ingatannya kembali datang menghantui secara bersamaan.

"Apa kau sudah mengingatnya sekarang? Sombong sekali, apa kau lupa padaku? Aku tidak pernah melupakanmu, kau tahu?"

Sasuke melepas cengkraman tangannya. Berlari secepat mungkin meninggalkan ruang kelas dengan wajah memucat, tangan gemetar, dan keringat dingin menetes dari dahi. Ia sudah ingat sekarang.

"Sai," batinnya, "nama anak itu ..., Sai bukan? Dari kelas 6-B."

.

"Hey, di mana Sasuke? Aku tidak melihatnya sejak tadi?"

"Kau benar juga, dan apa kau lihat ekspresi wajahnya? Sangat pucat dan menyeramkan, untuk pertama kalinya aku melihat Sasuke seperti itu," sahut gadis yang lainnya.

"Aku melihatnya! Seperti bukan Sasuke saja, mengancam dan bertindak kasar seperti itu, kenapa dia melakukan ha—"

"Sasuke sedang tidak enak badan," potong Sakura cepat, "dia mengirimkanku pesan singkat, jadi bisakah kalian diam?!"

Seluruh mata tertuju pada Sakura. Hampir semua gadis di kelasnya memberinya tatapan tidak suka, tetapi ia tidak peduli. Menurutnya berbohong untuk Sasuke meski dijauhi seisi sekolah pun bukan lagi masalah.

"Itu benar."

Kini seluruh mata beralih pada sosok yang berdiri di ambang pintu kelas.

"Sasuke juga memberitahuku jika dia sedang tidak enak badan," lanjut anak itu melirik ke arah Sakura, seakan memberi kode jika ia akan mengikuti permainan ini.

"Kalian dengar itu?" timpal Sakura sinis.

"Sasuke sedang sakit, tetapi kalian di sini menggosip yang tidak-tidak," sambung anak itu menaikkan sebelah alisnya, menampakkan ekspresi muak.

"Siapa dia? Aku tidak pernah melihat anak itu di lingkungan sekolah sebelumnya. Anak itu pasti berbohong! Bagaimana mungkin Sasuke mau berteman dengannya hingga memberitahukan berita sepenting itu?"

"Siapa pun itu, dia memiliki poin yang benar," sahut gadis lainnya, "kenapa kalian terlihat sangat terkejut melihat Sasuke seperti itu? Sasuke sedang sakit dan moodnya menjadi buruk, itu sangat wajar. Seharusnya kalian mengingat hal penting seperti ini, sehingga jika lain kali Sasuke sedang sakit, dia tidak perlu membuang energinya untuk anak baru menyebalkan itu."

Gadis-gadis lainnya terlihat saling menatap, lalu mengangguk tanda paham. Kecuali Sakura yang hanya diam sambil menatap bingung ke arah pintu. Senang karena dibantu, meskipun tidak tahu siapa anak bersurai pirang itu.

.

"Murid baru di tahun ajaran terakhir? Memangnya ada? Apa mungkin ..., dia anak bermasalah?"

Sasuke melirik saat telinganya mendengar kalimat yang entah mengapa membuatnya tidak nyaman.

"Ada, di kelas 3-C. Aku tidak tahu, tetapi dia terlihat biasa saja."

Mengapa jantungnya berdebar? Sasuke tidak tahu. Saat ini yang terpenting, adalah memastikan kebenaran akan hal itu.

"Sai ..., itu pasti Sai. Aku bertemu dengannya kemarin," batinya berulang kali. Meskipun hatinya sempat ragu untuk beberapa detik.

Kelas di ujung lorong hanya diisi anak berandalan. Tidak berprestasi, hanya membuat masalah. Sasuke menyadari saat anak-anak yang mulanya tertawa lepas, diam seketika saat ia melangkah masuk ke dalam kelas. Menatapnya seperti menelanjangi. Membuatnya muak.

"Di mana murid baru itu?" Sasuke bertanya dengan nada datar. Menutupi rasa yang berkecamuk di dada, tidak membiarkannya terlihat oleh siapa pun.

"Ah ..., maksudmu Sai? Dia sedang makan siang di atap," sahut anak laki yang duduk di atas meja.

"Apa kau punya pesan? Akan kusampaikan nanti," timpal anak lainnya.

"Hanya Sai? Bagaimana denganku?"

Seluruh mata tertuju pada pintu kelas yang terbuka lebar, kecuali Sasuke.

"Aku juga anak baru."

Familar. Sasuke kenal suara itu, hanya sedikit lebih berat, sisanya masih terdengar sama hingga membuat jantungnya berdegup lebih keras lagi. Ia tidak ingin menoleh, sama sekali tidak ingin, tetapi tubuhnya bergerak sendiri meskipun ia menolak.

"Kau pasti murid nomor satu di sekolah ini?" lanjut anak laki-laki bersurai pirang itu.

Jika ini mimpi, Sasuke ingin segera bangun. Atau jika ini kenyataan ia lebih memilih untuk mati. Apa yang ia lakukan di masa lalu hingga dihukum seperti ini, ia tidak tahu. Ingin berbicara bibirnya kelu, berlari pun kakinya tidak mampu.

Bukan hanya Sai. Itu Naruto. Uzumaki Naruto ada di sana. Anak yang sama, yang pernah membuatnya tersiksa, saat ini berdiri di ambang pintu sembari tersenyum tipis ke arahnya.

"Semua orang membicarakanmu bagaikan topik terpanas, tetapi ..., aku tidak peduli, karena aku tidak mengenalmu. Tolong menepi karena aku tidak bisa kembali ke mejaku jika kau hanya berdiri di sana."

Senyum di bibir Naruto menghilang, sorot matanya menajam bagaikan belati yang baru diasah, dan Sasuke merasa itu tidak adil. Seharusnya itu menjadi kalimatnya. Harusnya ia yang mengatakan kalimat itu dengan lantang tepat di hadapan wajah si pirang yang membuatnya ingin muntah. Harusnya ia yang mengucapkan kalimat yang menurutnya 'keren' itu agar terkesan telah melupakan semuanya. Terbebas dari masa lalu yang membelenggu, bagaikan orang baru yang tidak saling kenal.

"Kau menghalangi kami, Sasuke," Sai menimpali.

Seisi kelas hanya diam, menyimak pemandangan langka, saat nomor satu di sekolah mereka dipermalukan, diusir, dan tidak dipedulikan.

"Tsk." hanya decakan yang keluar dari bibir Sasuke saat itu.

Kesal. Ada tiga hal yang membuat Sasuke sangat kesal hingga langkahnya menghentak tatkala berlari di koridor sekolah, matanya memanas karena emosi meluap di dada, dan kukunya menancap pada telapak tangan saat ia mengepal kedua tangannya erat.

Satu, Bertemu kembali dengan Naruto. Dua, Sai yang terlihat sangat akrab dengan Naruto, dan tiga, Naruto yang bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal.

.

"Sasuke, makan siangmu?"

"Aku tidak lapar," sahut Sasuke datar, memalingkan wajahnya saat Sakura mendekat sambil membawa dua buah kotak makan seperti biasa.

"Kau ..., kau terlihat berbeda, apa ada yang membuatmu gelisah?" Sakura bertanya karena khawatir, meskipun tahu bersikap seperti ini hanya akan membawa masalah.

"Gelisah?" ulang Sasuke. Nadanya meninggi, ia hampir lepas kendali.

Sakura gugup. Matanya bergerak ke kiri dan kanan gusar, tidak pernah melihat Sasuke menatapnya setajam itu sebelumnya.

"Gelisah, huh?" Sasuke tertawa. Ia sendiri tidak tahu mengapa tertawa. Tidak ada yang lucu, mungkin saja saat ini ia menertawai dirinya sendiri yang terjebak dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

"Jika kau ingin bercerita ..., aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu, Sasuke," ujar Sakura lagi, berusaha menatap Sasuke meskipun ragu-ragu.

"Hn? Apa kau bisa melakukannya?" Sasuke tersenyum meremehkan. "Masalahku lebih rumit dari itu, apa kau yakin bisa mendengarnya tanpa jeda hingga selesai? Apa kau yakin sikapmu terhadapku nanti tidak akan berubah setelah mendengarnya? Apa kau yakin benar-benar bisa?!"

Gebrakkan meja membuat seisi kelas hening. Sasuke melangkah ke luar saat seluruh mata tertuju padanya.

Siang itu, Sakura tidak tahu mengapa Sasuke menjadi sangat kasar. Menurutnya itu aneh, saat Sasuke bersikap tidak sama seperti biasanya. Seperti bukan dirinya sendiri.

.

Tangan pucat menadah air dari dalam keran untuk membasuh wajah, berharap bisa menghapus kabut—yang menurutnya kekacauan—di dalam kepala.

Sasuke menghitung berapa banyak tingkahnya yang berbeda hari ini ketika menatap pantulan wajahnya di cermin. Saat menyadari lebih banyak tingkah yang menurutnya aneh, dibandingkan bulir air yang menetes dari wajahnya. Ia mulai gelisah.

Baru satu hari mampu membuatnya bersikap bagaikan orang lain. Tembok 'karakter baik' yang susah payah diciptakannya selama ini hancur, dan semuanya karena Naruto.

'Mengapa masih terikat dengan masa lalu?' Ia sangat ingin tahu jawabannya.

'Mengapa memori buruk tentang Naruto masih lekat di kepalanya?' Ia juga sangat ingin tahu jawabannya.

'Mengapa ini selalu tentang, Naruto, Naruto, dan Naruto?' Sasuke benci untuk mengakui jika mungkin saja, ia mulai terobsesi pada sosok itu.

Ia menggeleng, lalu menghela napas, pertanyaan di kepalanya tidak membantu, hanya membuatnya semakin gelisah. Niat untuk kembali ke kelas pun enyah, tetapi ia tidak mau menghabiskan seluruh waktunya di toilet hingga bel tanda pelajaran usai berdering.

"Atap sekolah," batinnya dalam hati.

Kakinya baru melangkah dua kali ke arah pintu, tetapi pemandangan di hadapannya membuatnya kembali teringat pada pertanyaan-pertanyaan abstrak di kepala.

"Huh? Kau lagi? Aku tahu kita satu sekolah, tetapi apa aku harus bertemu denganmu setiap saat?" Naruto mengernyit tidak suka, raut wajahnya menampakkan rasa tidak senang yang luar biasa jelas.

Lagi-lagi Sasuke merasa itu tidak adil hingga membuat darahnya mendidih.

"Pencuri," gumam Sasuke pelan.

"Apa?" Naruto mengernyit tidak paham.

"Kenapa kau selalu mencuri kalimat yang ingin kukatakan?!"

Tangannya meninju rahang Naruto sangat keras, menyeretnya sebelum membenturkannya ke arah dinding, meninju lagi, melakukannya berulang kali hingga si pirang tergeletak tidak berdaya di lantai toilet yang kotor.

Sasuke menang lagi.

Sama seperti hari itu, ia terbawa oleh euforia yang menurutnya sangat manis. Namun saat kakinya melangkah ke arah pintu. Ia disadarkan—juga dikejutkan—oleh fakta yang menarik.

Naruto tidak pernah melawan.

Bukannya tidak bisa. Naruto terlihat enggan, bahkan jika itu sekedar untuk melindungi dirinya sendiri.

"Apa kau kesal karena aku melupakanmu? Apa kau benci karena aku melupakan kejadian hari itu?" Naruto bertanya meskipun bibirnya yang pecah, terasa amat ngilu.

"Sasuke ..., kukira kau anak yang cerdas."

Di detik itu, Sasuke merasa ingin menangis jika saja darah Uchiha yang mengalir dalam tubuhnya mengijinkan.

.

Makan malam kali ini terasa berbeda. Ayahnya sibuk membaca selembar kertas berisi pemberitahuan, ibunya sibuk mengatakan kalimat yang selalu bermula dengan kata, 'tidak seharusnya', dan kakaknya yang terlihat tidak begitu peduli, meskipun ikut menyimak.

"Ini sulit Sasuke," ucap ayahnya menggeleng pelan, lalu melempar selembar kertas dari tangannya, tanda menyerah.

"Tidak seharusnya kau membuat kami khawatir seperti ini. Kau meminta kami untuk mengirimmu ke luar negri?" timpal ibunya, menghela napas berulang kali, terlihat hampir menangis. Namun ditahan.

"Bukannya kami tidak mengijinkan, lagipula kau memang akan pergi ke sana beberapa tahun lagi, tetapi tiba-tiba seperti ini ..., kenapa?"

"Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah? Semuanya baik-baik saja, bukan?"

"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Ini tahun ajaran terakhir." Ayahnya melanjutkan.

"Tidak Sasuke, kau murid yang berprestasi di sekolah, apa kau yakin mereka akan mengijinkanmu pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas?" Ibunya bersandar pada punggung kursi, melemaskan ototnya yang tegang.

Sasuke masih bungkam.

"Dia akan gila jika kalian tetap memaksanya. Kenapa tidak menuruti saja apa yang dia inginkan, terlambat satu tahun pun tidak masalah bagi, Sasuke. Dia selalu menjadi anak baik yang penurut, apa salahnya memberi kebebasan sesekali sebagai hadiah?"

Ruang makan hening diselimuti keterkejutan luar biasa. Kakaknya yang selalu diam, malam itu ikut buka suara.

.

Atap sekolah yang berangin, terik matahari yang hangat, dan perut yang kenyang membuatnya sedikit mengantuk.

Sakura di sebelahnya saat itu tidak banyak bicara. Terlalu senang karena untuk pertama kalinya bekal buatannya habis dimakan tidak tersisa. Sasuke bukannya merasa iba pada gadis itu. Ia memang lapar, karena semalam tidak sempat mengisi perut. Ayah, ibunya berdebat hebat, dan ia hanya bisa menunduk taat.

"Sasuke, aku akan membuatkanmu bekal yang sama besok," ujar Sakura tersenyum lebar.

Sasuke bergumam singkat. Bangkit dari tempatnya untuk kembali ke kelas. Namun langkahnya terhenti, ketika anak laki-laki bersurai hitam yang menghadangnya dari balik pintu menatap malas.

"Aku tidak ingin ada perempuan di sini," ujar Sai. Senyum palsu di bibirnya hilang, wajahnya jadi sedikit menyeramkan.

Sakura tahu kalimat itu ditujukan untuknya. Cepat-cepat pergi meninggalkan mereka berdua, tidak lagi mencoba untuk bertanya 'memangnya ada apa'.

"Apa urusanmu?" Sasuke bertanya dengan nada angkuh sambil bertolak pinggang. Namun belum mendapat respon wajahnya ditinju hingga ia terdorong ke belakang.

"Apa perbedaan terjatuh, dan dihajar, Sasuke?" Sai bertanya sambil menyeringai. "Luka lebamnya pasti lebih lebar."

Sasuke menatap tajam, menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Hanya satu pukulan tubuhnya hampir goyah, saat itu ia merasa tubuhnya terlalu lemah.

"Sayangnya ..., Naruto itu bukan anak yang jujur. Dia pikir aku bodoh," sahut Sai.

"Persahabatan yang mengharukan, jadi apa ini balas dendam?" Sasuke tertawa meremehkan.

"Apa kau iri? Kami lebih dari itu. Kau yang tidak pernah punya sahabat, tidak akan mengerti bagaimana rasanya," sahut Sai tidak kalah meremehkan.

Menyeka darah menggunakan punggung tangan dari sudut bibirnya, hatinya mencelos mendengar kata, 'kami lebih dari itu', dan Sasuke tidak tahu mengapa.

"Sudah cukup. Jangan melukainya lebih dari ini," ujar Sai

Lagi-lagi kesalahan dilimpahkan padanya. Sasuke tidak terima, meskipun tidak ingin terus merengek tentang bagaimana rasa sakit yang dideritanya.

"Lukanya yang tidak terlihat lebih banyak dibandingkan denganmu. Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Naruto," lanjut Sai.

"Jangan khawatir," ada jeda sesaat, "ini ..., yang terakhir. Memangnya kau pikir aku tidak bosan selalu berurusan dengan orang yang sama?"

Saat Sai menatapnya datar, Sasuke pergi tanpa menoleh.

.

Berita yang tersebar begitu cepat, tidak lagi bisa dihindari. Sakura meneror dengan kalimat yang sama, para guru bertanya di mana kesalahan mereka mengajar, dan murid lainnya menatap tidak percaya.

Seisi sekolah gempar saat nomor satu memutuskan untuk pergi.

Bukannya tidak ingin menjawab. Sasuke hanya merasa menjelaskan hal yang sesungguhnya terjadi, tidaklah penting. Keputusannya sudah bulat tidak bisa diubah, dan ia tidak sabar harus menunggu di atap sekolah seperti ini, bersembunyi dari bom pertanyaan yang membuat telinganya tuli.

"Jadi kau mengikuti jejakku?"

Suara itu memang tidak asing, tetapi tidak lama lagi, Sasuke yakin akan mampu melupakannya.

"Apa kau datang untuk mengejek? Karena aku tidak peduli lagi, terserah apa yang kau katakan."

"Benarkah?"

Sasuke menoleh. Memperhatikan sosok pirang dibalut perban di wajah. Ia terlalu senang saat ini. Meskipun sosok itu berdiri enam langkah dari tempatnya, ia tidak merasa terganggu.

"Melarikan diri dari kenyataan menyenangkan, bukan? Rasa puas terbebas dari masalah yang membuat bahumu terasa ringan, karena kalimat-kalimat menganggu di kepala? Aku tahu bagaimana rasanya karena aku pernah melakukan hal yang sama sepertimu dulu." Naruto tersenyum.

Sasuke merasa kalimat itu menyindirnya, tetapi tidak diambil pusing.

"Aku minta maaf jika kelakuan Sai kemarin membuatmu kesal, dia memang se—"

"Meminta maaf atas nama orang lain? Bagaimana dengan namamu sendiri?" Sasuke memotong. Jantungnya berdegup lebih cepat, rasa senang di hatinya mulai menguap entah ke mana.

"Apa kau ingin aku minta maaf?" sahut Naruto balik bertanya.

Pupil mata Sasuke membulat sempurna. Ia kesal, sangat kesal, tetapi tidak mau menunjukkan ekspresinya. Tidak kali ini. Ia tidak ingin lagi terhasut oleh emosi.

"Bukannya sudah kulakukan beberapa tahun lalu? Apa kau tidak ingat? Aku yakin Iruka tidak seceroboh itu hingga melupakan titipan pesan di kertas oranye yang kutulis untukmu hari itu, atau ..., kau menginginkan kalimat itu terlontar dari bibirku se—"

"Kau pikir itu cukup?!" Sasuke memotong lagi. Ia menyerah, dan kalah dari hasutan emosi. "Jika kau memang ingin menghibur seisi sekolah dengan lelucon bodohmu kenapa kau membawa namaku di sana? Apa tidak ada orang lain yang bisa kau ajak kerja sama? Aku tidak mengenalmu saat itu. Lelucon itu bahkan tidak lucu, dan aku sangat memben—"

"Itu bukan lelucon."

Kali ini Naruto yang memotong, dan Sasuke merasa lidahnya kelu untuk merespon.

"Itu bukan lelucon, Sasuke." Naruto mengulang kalimatnya, saat ia melangkah mendekat.

"Sama sekali bukan lelucon."

Mengulangnya berulang kali, hingga jarak mereka hanya tersisa sepuluh senti.

"Aku tidak ingin melukaimu. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin mendengar kalimat buruk itu terucap dari bibirmu, tetapi ..., kau tidak mengerti juga?"

Keduanya saling menatap. Saling menebak apa yang harus mereka lakukan di detik berikutnya.

"Akan kulakukan sekarang Sasuke, tidak peduli kau menyukainya atau tidak."

Naruto menciumnya tepat di bibir. Ciuman lembut tanpa paksaan. Membuatnya merasakan rasa yang menurutnya aneh itu melalui bibirnya yang pucat untuk pertama kalinya.

Ia tidak membencinya, tetapi tidak juga menyukainya.

"Sekarang kau ingin pergi?" Naruto bertanya, "jika memang itu yang menurutmu benar, maka lakukan saja."

Kali ini Sasuke tidak ingin menangis, meskipun darah Uchiha yang mengalir dalam tubuhnya mengijinkan.

.

Continued