The Other Side of the Coins

[ Finally he met someone who shot an arrow straighter than Cupid did ]


"Sai!"

Pagi itu di kelas, anak laki-laki yang dipanggil 'Sai' menoleh saat hendak menyuap bekal yang dibawanya dari rumah. Memerhatikan sahabatnya—anak bersurai pirang dari kelas 6-C bernama Naruto—yang berlari menghampirinya.

"Aku bertemu dengannya di lapangan sekolah! Anak baru di kelas 6-A, namanya Sasuke! Anak perempuan kelasku ternyata tidak berbohong tentang si murid baru!" teriak si pirang.

"Lalu? Dia hanya murid baru, memangnya apa yang hebat dari itu?" sahut Sai datar terlihat tidak peduli, sembari memerhatikan raut wajah Naruto yang berseri-seri.

"Um, Sasuke berbeda," sahut Naruto, melirik ragu.

"Apa yang membuatnya berbeda? Kau tidak mengenalnya. Ini terlalu berlebihan, murid baru tahun lalu saja kau tidak peduli," sahut Sai tidak mau kalah.

"Aku tidak tahu," ujar Naruto, "yang jelas dia berbeda. Kau akan mengerti jika kau melihatnya nanti."

"Terserah apa katamu, Naruto," sahut Sai menyerah, "lalu apa yang kau lakukan?"

"Aku ..., aku menyapanya," jawab Naruto, meskipun terlihat lagi-lagi ragu.

"Kau tidak mungkin menyapanya, aku mengenalmu, jadi jangan berbohong," ujar Sai tidak percaya. Sebelah alisnya naik, menatap skeptis saat senyuman lebar di bibir Naruto perlahan menghilang digantikan senyuman tipis yang terlihat memaksa.

"Aku hanya melambaikan tanganku sambil tersenyum. Aku terlalu gugup untuk menghampirinya, lagipula dia menatapku seakan tidak peduli ..., tidak, maksudku dia tidak menatap, dia hanya melirik lalu memalingkan wajahnya," ujar Naruto sedikit menunduk.

Sai tidak lagi bisa menahan tawanya, kala itu.

"Kau!" geram Naruto.

"Memangnya apa yang kau harapkan? Dia akan menghampirimu dengan senyum termanis dan mengatakan 'ayo berteman'? Anak baru sepertinya pasti asing melihatmu, lagipula kau itu selalu terlihat kotor, Naruto," sahut Sai.

"Apa aku seburuk itu?" gumam Naruto pelan. Matanya menatap sayu ke arah Sai yang kini balik menatapnya sambil tersenyum lebar.

"Kesan pertama yang kau berikan selalu sangat buruk, apa kau tidak ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau tidak sengaja melempar lumpur ke arahku, jika saat itu ibuku tidak melarang, aku pasti akan melempar lumpur kotor itu kembali ke wajahmu," lanjut Sai.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Aku tidak tahu."

Mereka saling menatap. Mulanya Sai enggan untuk membantu, karena jujur saja ia tidak suka, dan tidak tahu mengapa Naruto terlihat sangat peduli dengan sosok 'anak baru' itu, tetapi melihat sahabatnya tertunduk dalam karena kecewa, entah mengapa ia merasa tidak tega.

"Kapan Iruka ada di kelas?" tanya Sai datar.

"Huh?" sahut Naruto mengernyit, "untuk apa kau menanyakan hal itu? Kelas kita berbeda, sangat tidak penting!"

"Ini penting!" sahut Sai tidak kalah nyaring.

Lagi-lagi Naruto menatap wajah sahabatnya untuk beberapa detik, sebelum membuka mulut. "Hari ini ..., sebelum istirahat pertama, jam pelajaran ketiga, memangnya ada apa?"

Sai mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga si pirang yang membuatnya tertawa lebar.

"Ide yang bagus Sai!"

.

Jantung berdegup keras seakan memberontak, dan ingin meloncat keluar dari dalam dada. Berulang kali memastikan dan memberi semangat pada dirinya sendiri jika akan baik-baik saja, tetapi Naruto merasa itu tidak cukup.

Iruka—wali kelasnya—bertanya, 'Apa cita-cita kalian?' beberapa menit yang lalu. Satu persatu temannya menjawab dengan hebat tentang impian mereka, dan itu bisa dipastikan sangat berbeda dengan 'jawaban' yang ada di dalam kepalanya.

"Ini seperti mengungkapkan perasaanku secara tidak langsung," batinnya, sambil menelan ludah.

Tidak lama lagi gilirannya, dan Naruto merasa semakin gugup. Jemarinya yang basah oleh keringat dingin tidak berhenti mengetuk meja, saat iris birunya memerhatikan ke mana arah Iruka menoleh selanjutnya.

"Naruto, bagaimana denganmu?"

Saat seluruh mata tertuju padanya, Naruto merasa ia harus bangkit dari atas kursi, agar suaranya terdengar lebih lantang.

"Aku ingin menikah dengan Sasuke!" jawabnya yakin.

Tiga detik yang sangat berharga menurutnya karena mengucapkan kalimat 'itu' tidak semudah yang dikira. Namun seisi kelas merespon dengan menatapnya tidak percaya, lalu detik berikutnya mereka puas tertawa. Bahkan Iruka yang biasanya serius, harus menahan bibirnya untuk tidak terbuka lebar sambil berdeham paksa.

"Naruto, bagaimana denganmu?" ulang Iruka.

Penegasan itu membuat Naruto sedih, karena tahu jika jawaban miliknya tidak dianggap serius.

"Naruto, bagaimana denganmu?" ulang Iruka sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

"Uzumaki Naruto?"

Masih tidak ada jawaban.

.

"Dilihat dari raut wajahmu, pasti rencanamu itu tidak berhasil."

Sai melirik saat Naruto melangkah menghampiri dari ambang pintu kelasnya, pada saat jam istirahat pertama.

"Memang tidak," sahut Naruto lesu. "Mereka semua menertawakanku, menganggapnya seperti lelucon, bahkan Iruka ikut tertawa."

Sai menghela napasnya ikut prihatin, meskipun di detik berikutnya bibirnya membentuk senyuman tipis, karena senang.

"Aku mengikuti idemu dengan sempurna, lalu kenapa mereka tertawa, apa itu lucu?" ujar Naruto, alisnya mengeryit tanda tidak mengerti.

"Itu karena kau, 'Naruto'. Semua menganggap apa yang dikatakan olehmu adalah lelucon," sahut Sai.

"Benarkah?" Naruto balik bertanya, "mungkin mengatakan, 'aku ingin menikah dengan Sasuke' memang bukan ide yang ba—"

"Kau apa?" Sai memotong.

Naruto menoleh, memerhatikan raut wajah Sai yang tampak berbeda karena tidak lagi dihiasi senyum yang menurutnya aneh.

"Aku ..., ingin menikah dengan Sasuke?" ulang Naruto.

"Kau benar-benar mengatakan hal seperti itu di hadapan Iruka dan teman sekelasmu?!" selidik Sai tidak percaya.

Naruto merespon dengan mengangguk, karena memang ia tidak berbohong.

"Pantas saja," Sai menyahut sambil tersenyum, "kalimat itu memang terdengar bodoh, sudah sewajarnya mereka tertawa."

"Huh? Kenapa kau ikut membela mereka?!" sahut Naruto tidak terima.

Sai menaikkan sebelah alis. "Apa yang kau lakukan sangat jauh berbeda dengan apa yang kukatakan tadi pagi. Kubilang sesuatu yang mampu 'menarik perhatian', tetapi tidak berlebihan. Bertemu, berkenalan, atau berteman, tidak sama dengan menikah. Apa kau tidak berpikir dahulu sebelum mengatakannya?"

Saat itu, Naruto hanya bisa merespon dengan menatap datar tampak bingung. Sahabatnya yang selalu mendukung, untuk pertama kalinya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan, dan itu membuat suasana mereka terasa canggung.

Tidak ada pilihan, selain kembali ke kelas. Langkahnya lebar ingin cepat sampai, tetapi teriakan teman sekelasnya membuat langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.

"Tentu saja mengunjungi calon pengantin pria!"

Hatinya mengatakan berulang kali jika itu pasti Sasuke, tetapi otaknya mencoba menepis jauh-jauh.

"Huh? Apa ..., ini berhasil?" batinnya, sambil mengernyit tidak percaya, tetapi saat iris biru memastikan ada sosok itu di dalam kelasnya, jantungnya mulai berdegup dua kali lebih cepat.

Senyum terkembang di bibir dengan wajah sedikit bersemu, otaknya mulai berimajinasi tentang bagaimana pertemuan mereka yang akan terasa manis. Namun ia tidak tahu, jika kenyataan terkadang memang terasa jauh lebih pahit.

Bukan sapa yang diterimanya, melainkan pukulan keras yang dilayangkan Sasuke, hingga tubuhnya tersungkur ke atas lantai.

"Menjijikkan! Semua ini membuat perutku mual! Jika kau mengucapkan kalimat itu, atau muncul di hadapanku sekali lagi, aku akan membunuhmu!"

Semua terjadi begitu cepat hingga membuatnya bingung, tidak tahu bagaimana harus merespon, tetapi luka lebam di tubuhnya, atau luka tidak terlihat di hatinya. Naruto tentu tahu, mana yang lebih terasa sakit.

.

"Anggap saja ini seperti, 'menuai apa yang kau tanam', Naruto. Pelajaran yang sangat berharga, bisa kau dapatkan di mana pun."

Kapas yang terasa dingin karena alkohol, menempel di sudut bibirnya. Sejak tadi Iruka tidak berhenti mengoceh. Sedangkan Sai masih bersandar pada tembok sisi kiri ruangan, meskipun Iruka sudah menyuruhnya untuk kembali ke kelas berulang kali.

"Itu tidak sebanding dengan lebam di wajahnya? Anak baru itu terlalu kasar," Sai menyela. Membela Naruto karena tidak terima melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.

"Aku tahu," sahut Iruka, "ini sulit karena keduanya salah. Naruto dengan leluconnya, dan Sasuke yang terlalu sensitif."

Naruto hanya bisa menatap Iruka datar. Kata 'lelucon' yang terlontar dari wali kelasnya terasa aneh didengar, karena menurutnya tidak sekali pun ia merasa kalimat itu cocok dijadikan bahan tawa.

"Naruto, apa kau mau minuman kaleng? Soda jeruk? Atau yang lain? Aku akan membelikannya un—"

"Sai," potong Iruka, "Aku berterima kasih karena kau sudah membawa Naruto ke sini, tetapi jangan menjadikan muridku sebagai alasan untuk tidak menghadiri kelasmu, cepat kembali atau aku akan memberitahu guru yang bertugas jika kau sengaja membolos."

Naruto melirik saat Sai berdecak malas. Untuk beberapa detik, ia bisa memastikan raut wajah sahabatnya tampak khawatir saat menatapnya untuk yang terakhir kali sebelum kembali ke kelas.

"Aku tahu Sai sahabatmu, tetapi dia juga murid di sekolah ini," ujar Iruka, "dan ..., mengapa kau diam saja sejak tadi, apa tidak ada yang ingin kau katakan? Atau karena Sai ada di sini?"

"Ini bukan salah Sasuke, tetapi salahku," gumam Naruto pelan.

Bahkan Iruka harus memastikan sekali lagi, karena merasa telinganya salah dengar.

"Ini bukan salah Sasuke, tetapi salahku. Jadi jangan memberinya hukuman. Hukum aku saja," ulang Naruto. Tersenyum lebar, meskipun terlihat dipaksakan. "Aku tidak apa-apa, ini sama sekali tidak terasa sakit. Lagipula, Sasuke tidak akan memukulku jika aku tidak mengatakan hal yang membuatnya marah, karena itu ..., karena itu aku mohon padamu, jangan menghukumnya atau memberitahu kedua orangtuanya. Dia murid baru di sekolah ini, dan aku tidak ingin dia harus pindah ke sekolah lain karena masalah ini."

"Kau," ada jeda sesaat, "kau ini aneh Naruto ..., disaat anak lain seusiamu ingin mereka yang selalu dibenarkan meskipun salah, kau justru sebaliknya." Iruka menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan menghukum Sasuke, sekarang bersiaplah karena aku akan mengantarmu pulang."

Naruto mengangguk cepat sambil tersenyum lega, lalu menyerahkan selembar kertas lusuh berwarna oranye kepada Iruka, dan mengatakannya, 'untuk Sasuke', beberapa detik sebelum mereka meninggalkan ruangan.

.

Keduanya melangkah menuju tempat yang sama, tetapi saat Naruto berhenti tepat di hadapan mobil sedan berwarna silver yang ia yakini milik Iruka, pria itu tetap melangkah menuju mobil sedan berwarna hitam yang terparkir beberapa garis setelahnya.

Naruto bingung, dan mencoba memanggil nama wali kelasnya, tetapi sosok pria yang turun dari dalam mobil, melangkah ke arahnya, lalu berjongkok tepat di hadapannya, membuatnya bungkam seribu kata.

"Apa itu sakit?"

Naruto hanya diam, saat lebam di wajahnya disentuh oleh tangan bersuhu dingin pria itu.

"Maaf, terkadang adikku yang bodoh memang sulit mengedalikan emosi," ada jeda sesaat, "aku sudah mendengar semuanya dari Iruka, dan aku juga tahu keinginanmu untuk tidak menghukum Sasuke. Kau anak yang baik Naruto, tetapi ..., aku bukan seorang kakak yang senang melihat adiknya terbebas dari kesalahan begitu saja."

Detik itu, Naruto merasa semua pertanyaan di kepala tentang 'siapa pria bersurai hitam di hadapannya yang tampak seperti Sasuke dewasa', telah terjawab.

"Aku harus bertanggung jawab atas tingkah laku Sasuke kepada orangtuamu. Aku yakin tidak ada orangtua yang senang melihat kondisi putra mereka terluka seperti ini, tanpa penjelasan dan permintaan maaf yang cukup," ujar pria itu.

"Aku sudah berjanji dengan Iruka! Sasuke tidak akan dihukum dan Iruka menyetujuinya!" sahut Naruto panik.

"Jika perlu, aku juga berjanji padamu untuk tidak menghukum Sasuke, ataupun memberitahu kedua orangtua kami tentang masalah ini meskipun ingin," ucap pria itu meyakinkan, "apa yang kulakukan nanti hanya untuk membuat Sasuke merasakan jika kebrutalan yang dilakukannya padamu, dan sifatnya yang palsu itu bukan lagi hal yang menurutnya benar."

Naruto tidak mengerti maksud dari kalimat yang telinganya dengar, meskipun dalam hatinya ia yakin jika pria yang tidak diketahui namanya itu, tidak akan mengingkari janji.

Siang itu kembali ke rumah bersama 'wali kelasnya' dan 'kakaknya Sasuke'.

Ibunya yang menyambut dari balik pintu tampak sangat khawatir melihat luka lebam di wajahnya, tetapi belum sempat mulutnya terbuka untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, pria dengan ciri fisik sama seperti Sasuke, sudah lebih dahulu memotong kalimatnya sambil memperkenalkan diri sebagai Uchiha Itachi.

"Orang dewasa begitu rumit," batin Naruto. Mengintip dari balik celah pintu kamar, saat ibunya mencoba untuk menghubungi ayahnya di kantor. Sedangkan Itachi, dan Iruka diam menunggu.

Naruto tidak tahu apalagi yang mereka bicarakan setelah itu. Raut wajah Ibunya sempat terlihat mengerikan bagaikan singa betina yang murka, bahkan Itachi dan Iruka memucat karena itu. Namun beberapa menit setelahnya mereka bertiga terlihat tenang, dan diakhiri dengan Ibunya yang mengangguk setuju.

Ketika ayahnya kembali dari kantor malam itu, ibunya membuka suara tentang sekolah baru yang jauh lebih bagus di kota sebelah. Naruto tidak begitu peduli jika boleh jujur. Namun saat ayahnya mengatakan, 'minggu depan kau mulai besekolah di sana', rasa ketidakpedulian itu menguap entah ke mana.

"Sekolah baru, tetapi ..., kenapa ayah?" tanya Naruto. Alisnya mengernyit tampak bingung.

"Kau tidak bisa kembali ke sekolahmu yang lama, jika anak itu masih ada di sana," sahut ibunya.

"Anak itu? Tidak ibu, dia punya nama. Namanya Sasuke," jelas Naruto, "lagipula memangnya kenapa jika Sasuke ada di sana? Apa karena kami berkelahi?"

"Naruto," panggil ayahnya. Suara yang biasanya lembut, terdengar lebih berat. Ayahnya yang hampir tidak pernah marah, menampakkan ekspresi tidak suka yang jelas kentara. "Aku sudah membicarakan hal ini dengan ibumu tadi siang, mulai minggu depan kau akan bersekolah di kota sebelah, dan keputusan kami sudah bulat," lanjut ayahnya.

"Tidak! Aku tidak mau pindah!" Naruto menolak, menatap kedua orangtuanya dengan mata memohon.

"Naruto," panggil ibunya lembut, mencoba meyakinkan. "Jika kau kembali ke sekolahmu, itu berarti Sasuke yang harus pindah. Kalian tidak bisa berada di lingkungan yang sama karena kami, Itachi, dan Iruka sudah membicarakan tentang hal ini."

Jika saja saat itu ibunya tidak mengatakan 'Sasuke yang harus pindah', Naruto tahu kepalanya bisa lebih keras daripada batu.

.

Tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Tidak pada teman sekelasnya, tidak pada guru-gurunya, tidak pada sahabatnya Sai.

Tidak juga pada anak bersurai hitam, bernama Sasuke.

Para siswi di sekolahnya yang baru sibuk bertanya mengenai dirinya tanpa henti, para siswa sibuk menggerutu dibuat iri, sedangkan jauh di dalam lubuk hatinya, Naruto mulai meragukan janji Itachi.

Hari pertama yang melelahkan.

Hari setelahnya, dan beberapa hari setelahnya lagi. Bahkan 365 hari setelahnya, tepat di kelulusan sekolah, masih tidak ada satu pun berita dari Itachi, tentang janji mereka.

Naruto ingin menyerah saat itu.

"Mungkin ..., memang tidak seharusnya," gumamnya pelan tidak selesai, saat kakinya melangkah keluar gerbang sambil berharap keputusan yang akan diambilnya nanti bisa bulat. Namun seseorang yang turun dari mobil sedan hitam di lahan parkir, membuyarkan pikirannya cepat.

"Mengapa orang selalu membuat kesalahan yang sama? Itu karena mereka bodoh."

Sosok yang familiar, suara yang familiar, dan senyuman aneh yang familiar. Remaja di hadapannya yang bersurai hitam, berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Sai. Naruto tahu siapa itu, tanpa perlu berpikir dua kali.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Kushina, dan mendapatkan anggukkan setuju dari kedua orangtuaku untuk melanjutkan sekolah di kota sebelah itu sulit, jadi jangan terlihat seperti kau sudah bosan hidup dan menolak apa pun yang ada di sekitarmu, karena aku belum menghajarmu hingga puas."

Sai melempar selembar kertas, dan Naruto tersenyum tipis, membaca surat penerimaan murid baru milik sahabatnya, di sekolah menengah yang sama dengan tujuannya.

Melupakan Sasuke sepertinya tidak akan mungkin terjadi, membuang harapan yang telah menumpuk pada janji Itachi juga sulit dilakukan, tetapi jika ada Sai, setidaknya itu akan sedikit menghibur.

Naruto mengatakan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Berharap semua berjalan sesuai keinginannya, tetapi ia lupa jika masa pubertas akan menuntutnya lebih.

Setiap hari harus bangun untuk menghapus paksa sisa imajinasi liarnya tentang Sasuke malam tadi, waktu yang dihabiskan di kamar mandi menjadi dua kali lebih lama, dan ponselnya dipenuhi halaman web asing 18+ dengan kata kunci yang sama.

Naruto malu, karena Sasuke membuatnya tidak lagi memiliki kontrol akan tubuhnya.

.

"Sai, aku ..., aku gay."

Tidak ada sahutan berupa verbal, hanya tatapan datar diberikan oleh sahabatnya yang berkulit pucat siang itu di atas atap sekolah. Beberapa hari setelahnya, Sai memberikan kartu hotel cinta yang terletak 6 blok ke sebelah utara, dan nomor ponsel seorang gadis, sepulang sekolah.

Mulanya Naruto tidak paham.

"Kau bisa memastikan, gay atau tidak setelah benar-benar melakukannya dengan wanita," ujar Sai.

Sekarang Naruto tahu ke mana arah pembicaraan mereka saat itu.

"Akan kuberitahu hasilnya besok," sahut Naruto, membalikkan tubuhnya.

Penolakan atas jati diri memang terasa cukup menyakitkan, terlebih jika itu dilakukan oleh sahabatnya sendiri. Karena itu Naruto akan melakukan apa yang Sai inginkan dengan tubuhnya, meskipun hatinya menolak. Sebagai tanda bukti.

Besoknya kembali ke sekolah dengan bekas tamparan di pipi, dan luka di sudut bibir. Sai yang memang sudah menunggu, memperhatikannya dengan lekat tanpa berkedip.

"Jadi ..., gay, huh?"

"Sudah kukatakan padamu, bukan?" sahut Naruto balik bertanya, kesal. Kuku para gadis yang berwarna-warni adalah senjata mematikan menurutnya. Sangat mengerikan.

Sai mengulurkan tangan, dan Naruto mengernyit dibuatnya.

"Apa kau tidak mau kuberi selamat?" tanya Sai, "kau tahu? Aku benci dengan seseorang yang melakukan hal apa pun dengan setengah hati. Jika kau berpikir aku tidak mendukungmu lagi kali ini, kau salah Naruto. Jujur saja aku tidak peduli dengan orientasi seksualmu, tetapi di luar sana akan ada banyak orang yang tidak setuju dengan keputusanmu. Aku tidak ingin mereka mengecohmu dengan mengatakan, 'kau mungkin bingung' hanya karena kau tidak memiliki pengalaman dengan wanita."

Hari itu Naruto mendapat pelajaran berharga. Berprasangka buruk pada sahabatnya sendiri ternyata bukanlah hal yang baik, dan ia berjanji dalam hati untuk tidak melakukannya lagi sambil tersenyum tipis saat meraih tangan Sai yang terulur ke arahnya.

.

Kenaikan kelas, dan kenaikan kelas lagi. Hanya tersisa satu tahun, sebelum hari kelulusan.

Naruto berpikir akan menghabiskan tiga tahun dalam hidupnya di sekolah menengah yang sama, tetapi sosok yang berdiri di depan gerbang sekolah sore itu menghapus semua perkiraan di kepalanya, juga membuktikan bahwa menumpuk harapannya selama ini tidak sia-sia.

"Aku masih menepati janjiku sampai hari ini."

Akhirnya Naruto mendengar kalimat yang ditunggunya bertahun-tahun secara langsung dari bibir Itachi, dan ia tidak akan melewati kesempatan ini begitu saja.

"Bagaimana kabar Sasuke? Dia baik-baik saja?" tanya Naruto malu-malu. Bom pertanyaan meledak di kepalanya, terlalu semangat hingga bingung ingin memilih pertanyaan yang mana.

"Sasuke lulus dengan nilai tinggi, dia berhasil masuk ke sekolah terbaik, dan menjadi murid nomor satu," jawab Itachi.

"Benarkah?" sahut Naruto memastikan.

Saat Itachi mengangguk, entah mengapa Naruto merasa kedua matanya memanas. Ia merasa lega, pilihan yang diambilnya beberapa tahun lalu, tidak menghancurkan Sasuke.

"Naruto apa itu temanmu?" Itachi menunjuk ke arah Sai yang menghampiri mereka dari lobby utama, tampak bingung.

"Ya, namanya Sai," sahut Naruto. Telapak tangannya cepat-cepat menyeka air yang hampir meluap dari sudut mata, malu karena terlena oleh euforia.

"Apa aku mengenalmu?" Sai bertanya dengan nada yang datar. Iris hitam menatap lekat, karena entah mengapa ia merasa tidak asing dengan sosok pria itu.

"Namaku Uchiha Itachi. Kita mungkin baru pertama kali bertemu, tetapi kau pasti mengenal adikku," sahut Itachi.

"Sasuke?" Sai balik bertanya. Matanya menatap tidak percaya ke arah Naruto yang memamerkan senyum lebarnya. "Kenapa kau terlihat sangat senang bodoh?! Sasuke! Dia kakaknya Sasuke! Anak aneh yang memukulmu dan membuatmu harus pergi karena kelakuannya yang buruk!"

"Sai hentikan! Itachi tidak ada sangkutannya, jangan menyeretnya ke dalam masalah yang bahkan sudah kulupakan sejak lama!" Naruto balik membentak.

Sai memalingkan wajah. Naruto membentaknya untuk pertama kali, dan ia merasa tidak senang.

"Sasuke memang anak yang aneh," ujar Itachi, "aku minta maaf padamu Sai, karena adikku telah memukul sahabatmu, dan membuatnya pergi meninggalkanmu."

Sai tidak menyahut, hanya tangannya saja yang mengepal dengan erat. Itachi berbeda, ia tahu. Namun rasa kesal di hatinya tidak bisa hilang begitu saja seperti Naruto.

"Naruto," panggil Itachi, "aku ke sini bukan hanya untuk mengatakan masih menepati janji, tetapi aku ingin membawamu kembali bertemu Sasuke."

Naruto dan Sai menoleh secara bersamaan, yang berbeda hanyalah ekspresi mereka. Yang satu tampak tersenyum, dan yang satu tampak sangat kesal.

"Benarkah? Tentu saja aku mau! Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya sejak dulu, lagipula Ibuku pasti mengijinkan jika hanya kembali ke kota selama beberapa hari," sahut Naruto cepat, sama sekali tidak menolak.

"Ini tidak menyangkut hanya untuk sehari, Naruto, tetapi se—"

"Tidak!" potong Sai, "Naruto tidak akan kembali, tidak jika itu hanya sehari ataupun sedetik! Aku tidak mengijinkannya untuk bertemu Sasuke lagi."

Naruto ingin membentak Sai sekali lagi, karena kesal. Namun Itachi lebih dahulu mendahuluinya.

"Sai. Kau membenci adikku, aku bisa mengerti. Naruto telah kehilangan banyak hal hanya karena sifat palsu Sasuke yang aku tidak tahu dari mana asalnya, karena itu aku melakukan hal ini, bukan hanya untuk Naruto, tetapi juga Sasuke. Jika kau masih meragukanku, aku juga bisa membawamu ikut."

Sai diam. Terlihat membutuhkan waktu lebih banyak untuk berpikir. Itachi rumit, menurutnya. Ada hal yang tidak dimengertinya dari sosok itu, tetapi entah apa ia tidak tahu, sedangkan Naruto disampingnya terlihat tidak begitu peduli, karena di dalam kepalanya hanya ada Sasuke.

"Baiklah ..., aku mau ikut," ujar Sai.

Ketiganya menaiki mobil sedan warna hitam. Mulanya Naruto tidak tahu ke mana Itachi akan membawa mereka, tetapi saat roda ban mengarah ke tempat yang terasa familiar, dia tahu Itachi membawanya kembali ke asrama.

Ingin bertanya 'mengapa' lidahnya kelu untuk mengucap. Hanya bisa saling pandang dengan Sai mencari jawaban sesungguhnya sebelum teralih oleh Itachi yang membuka paksa pintu mobil tepat di lahan parkir.

"Naruto?"

Si pirang tidak menghiraukan saat namanya dipanggil oleh sahabatnya. Kakinya melangkah menuju kamar di lantai 2 sedangkan Itachi dan Sai mengikuti di belakang.

Ruangan cukup besar terisi 3 orang. Naruto dan Sai lagi-lagi hanya bisa saling pandang saat Itachi menyamankan tubuhnya di atas lantai.

"Naruto aku bisa membawamu kembali," ucap Itachi, "hanya saja kau masih terikat di sekolah ini sebagai siswa dan itu tidak akan mudah, ini kartu namaku beserta nomor ponsel."

"Maksudmu membawaku kembali?" tegas Naruto.

Sai disampingnya hanya bisa diam mengamati, meskipun dia benci untuk melihat Naruto sangat antusias saat membahas tentang masalahnya.

"Kembali bertemu Sasuke," sahut Itachi, "kembali ke kotamu melanjutkan kehidupanmu di sana."

"Apa kau pikir orangtua Naruto akan menyetujuinya semudah itu?" sela Sai, "kau pernah membuat Naruto meninggalkan segalanya beberapa tahun yang lalu dan kau pikir bisa mengulangnya lagi hanya untuk memperbaiki sifat palsu adikmu? Kau pikir Naruto itu pesuruhmu? Kau pikir kehidupan Naruto adalah mainan yang kau bisa mainkan sesukamu hanya karena Naruto terobsesi dengan adikmu?!"

"Sai," panggil Naruto lembut. Tidak ada tanda terkejut di raut wajahnya atas pernyataan yang telinganya dengar. Ia sudah mengetahuinya, sejak lama memang terobsesi dengan sosok itu, dan tidak akan lagi mengelak.

"Naruto kau juga sama gilanya!" membentak karena kesal, Sai ingin meninju wajah sahabatnya jika saja tidak lagi bisa menahan akan kontrol tubuhnya.

"Aku tahu kau kecewa, Sai," ujar Itachi, "apa aku terlihat seperti mempermainkan kehidupan sahabatmu? Kau kesal karena itu? Mungkin memang terlihat seperti itu, tetapi aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Sasuke tidak bisa berubah jika itu bukan Naruto, dan Naruto sendiri juga tidak bisa melupakan Sasuke semudah itu, apa aku salah?"

"Kau hanya memanfaatkan keadaan!" timpal Sai.

"Terserah apa katamu, Sai. Jika Naruto memang sahabatmu, seharusnya kau tahu apa yang dia inginkan dan membantu meraihnya, bukan menghalangi seperti ini." Itachi bangkit dari duduknya, melangkah ke arah pintu sebelum menoleh untuk yang terakhir kali. "Aku bisa membantumu Naruto, tetapi kau juga harus berusaha. Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak bisa membantu jika kau masih menjadi murid sekolah ini."

Naruto sadar ia terlalu banyak diam dan membiarkan Sai mengambil alih semuanya hari ini, jika boleh jujur itu bukan kemauannya. Sasuke memenuhi benaknya, khayalan manis bagaimana rasanya saat mereka bertemu lagi nanti setelah sekian lama membuatnya sulit berpikir meskipun mengerti apa yang dikatakan Itachi.

"Naruto apa kau akan menyetujuinya begitu saja?!"

Sai membuyarkan imajinasinya yang lebih manis daripada gula. Naruto mengangguk tanda setuju meskipun Sai menatapnya tidak suka. Jika memang terlihat seperti hidupnya dipermainkan oleh para Uchiha, maka biar saja. Selama ia masih bisa bertemu kembali dengan Sasuke, menurutnya itu lebih dari cukup.

"Apa kau tidak bosan berurusan dengan para Uchiha?" Sai bertanya. Suaranya yang lantang kini terdengar lirih, tanda ia juga menyerah menyadari tidak ada tempat pada Naruto untuk menoleransi sedikit perkataannya.

"Apa maksudmu?" sahut si pirang.

"Semua Uchiha menyebalkan dan kau tahu itu, lalu kenapa kau masih terperosok di tempat yang sama?"

Naruto hanya menghela napas.

"Kau tidak tahu, huh? Mungkin semuanya akan lebih mudah jika kau tahu."

Iris biru melirik, memerhatikan Sai yang memalingkan wajah. Kebalikan dari dirinya, sahabatnya sangat membenci para Uchiha. Alasan pastinya tidak tahu, sama seperti dirinya yang tidak tahu mengapa sangat terobsesi dengan mereka.

.

Hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas terasa sangat menyebalkan. Ditambah Sai yang menghindar darinya selama beberapa minggu terakhir setelah insiden Uchiha Itachi datang menemui mereka. Ada saja alasan menolak tidak penting yang dikatakan Sai saat diajak bermain atau bertemu. Naruto tahu itu bentuk tanda protes, dan itu terjadi karena kesalahannya. Sadar jika ia bersikap seakan menganggap Sai tidak penting bagi hidupnya, melukai sahabatnya sendiri karena ego.

"Kau akan selalu menghindar?"

Remaja berkulit pucat menoleh, makan siangnya di atap sekolah terganggu saat Naruto melangkah menghampirinya dari pintu.

"Menurutmu, itu hukuman yang pantas untuk sahabat sepertiku, Sai?"

"Sahabat?" Sai balik bertanya, "aku sahabatmu? Benarkah ..., sejak kapan?"

Langkah Naruto terhenti tepat di hadapan Sai. Iris biru dan hitam saling beradu entah apa yang dicari; kejujuran, kepastian, atau kebencian.

"Sai," panggil Naruto.

Tidak ada respon dari pemilik nama.

"Sai!" panggil Naruto sekali lagi.

"Diam!"

"Maaf," ujar Naruto, "maaf karena aku membuatmu merasa aku tidak menganggapmu a—"

Pukulan keras mendarat di rahang hingga kalimat Naruto terpotong paksa. Pukulan selanjutnya, dan pukulan lainnya.

"Apa kau mengerti sekarang? Aku tidak ingin melihatmu hancur, tetapi kau memanggil kehancuran itu untuk datang padamu. Kau tidak hanya mencintai Sasuke, kau sudah terobsesi dengannya dan aku mencoba memaklumi hal itu. Sejak awal aku membantumu, bahkan sampai detik ini aku tahu kau masih memerlukan bantuanku dan kenapa ..., kenapa aku masih ingin membantumu meskipun ini terasa sangat menyebalkan?!"

Naruto tersenyum tipis. "Itu karena kau sahabatku, Sai. Kau mungkin bisa mengelaknya saat ini, meskipun hatimu menolaknya."

Mulanya Sai tidak ingin membuka mulut, tetapi melihat Naruto tidak berhenti tersenyum ke arahnya, ia menyerah sambil menghela napas. "Kau masih menjadi murid sekolah ini, bagaimana jika aku menghapus namamu dari dalam daftar? Kau membutuhkannya jika ingin kembali menemui Sasuke."

"Apa rasanya akan sakit?" tanya Naruto memasang wajah layu, paham ke mana arah kalimat yang dimaksud sahabatnya.

"Jika kau bisa menahan rasa sakit yang diberikan Sasuke, ini tidak akan sebanding," sindir Sai, mengepalkan tangannya kuat sebelum menghantamnya tepat ke wajah Naruto.

Menahan nyeri sambil terkekeh pelan, si pirang menunggu pukulan selanjutnya, tetapi Sai diam menatapnya.

"Ayo, apa kau tidak bisa balik memukulku?" tanya Sai, "Itachi bilang aku bisa ikut, dan tentu saja dengan kesempatan ini aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang bodoh seorang diri nanti."

Naruto menyeringai. Telapak tangan mengepal saat memahami maksud sahabatnya.

Mereka berkelahi, saling memukul dan menghantam. Meskipun terdengar kalimat 'apa itu sakit?' diiringi tawa yang sering terlontar dari bibir keduanya. Melakukannya berulang kali. Hingga mereka berakhir menunduk di ruangan kepala sekolah dengan hukuman 100 poin, dan ancaman akan dikeluarkan dari sekolah jika mereka mengulangi perbuatan yang sama hingga tiga kali.

"Jangan berpikir untuk mengulanginya lagi!"

Naruto dan Sai mengangguk mengerti, meskipun saat kaki mereka melangkah ke luar ruangan, bibir masing-masing membentuk seringai puas.

Besoknya melakukan hal yang sama, dan besoknya lagi.

Beberapa jam setelahnya mereka menunduk di ruangan kepala sekolah, bertingkah selayaknya saling membenci bersama kedua orangtua masing-masing. Naruto menoleh ke arah ayah dan ibunya yang menatap kecewa, sedangkan Sai hanya diam menatap selembar surat pemberitahuan jika ia dikeluarkan dari sekolah.

Meskipun begitu keduanya sama sekali tidak terlihat menyesal.

.

"Sepertinya, ibuku masih tidak percaya aku berkelahi denganmu. Dia selalu menjadikan alasan, 'Naruto adalah sahabat terbaikmu, Sai! Kenapa kau melakukannya?!' Aku tidak punya pilihan, selain berbohong kau berusaha merebut seseorang yang kucintai."

Naruto tertawa geli, mendengar kalimat pernyataan Sai dari dalam speaker ponselnya.

"Apa mereka mengatakan sesuatu?"

"Kedua orangtuaku? Mereka tidak banyak bicara. Ayah menamparku dan ibu hanya menatapku kecewa, itu saja. Mungkin karena ini bukan kali pertama, Sasuke juga berkelahi denganku kau ingat? Mungkin mereka berpikir putranya memang bermasalah," sahut Naruto tertawa.

"Apa itu sakit?"

"Ayolah, kita berkelahi selama 3 hari berturut-turut. Apa kau pikir satu tamparan di wajah membuatku menangis?"

Kali ini Sai yang tertawa.

Keduanya berbicara selama beberapa menit, setelahnya ponsel dimatikan. Malam itu keduanya lagi-lagi tidur sambil menahan rasa nyeri. Sai memutuskan untuk menggunakan es batu di sekitar lebam wajahnya, sedangkan Naruto mengirim pesan singkat pada Itachi.

Beberapa hari setelahnya.

Naruto dikagetkan oleh kedatangan selembar surat yang berisi undangan dari salah satu sekolah terbaik di kotanya. Tanpa harus berpikir dua kali ia tahu jika itu pasti jawaban dari pesan singkat yang ia kirimkan pada Itachi.

Berlari mencari ibunya di dapur, menunjukkan selembar kertas yang membuat Kushina menangis haru. Naruto merasa buruk telah membohongi orangtuanya, tetapi ia juga tidak bisa membohongi hatinya yang sudah teramat sangat menginginkan Sasuke.

.

Continued