Satu minggu yang padat. Terlalu sibuk mempersiapkan segalanya untuk sekolah yang baru, Naruto sama sekali lupa akan kondisi Sai, tetapi ia yakin Itachi tidak mungkin mengingkari janji dan benar sesuai dugaannya. Hari pertama sebagai murid baru di sekolah terbaik kotanya, Sai berdiri dengan tangan dilipat depan dada tepat di samping jendela kelas, mengenakan seragam yang sama sepertinya, dengan senyum palsunya.
"Rasanya aneh sekali mendapatkan undangan murid berprestasi di bidang akademis. Aku bahkan tidak sepintar itu, dan kelakuan ibuku yang terlalu senang membuatku tidak nyaman," ujar Sai.
Naruto tertawa. "Maaf, aku terlalu sibuk hingga lupa memberitahumu."
"Aku tahu," ujar Sai, "hey, boleh aku meminjam jaket oranye milikmu?"
"Huh? Boleh saja, tetapi untuk apa?"
"Aku tidak punya jaket oranye, dan aku menginginkannya," jawab Sai.
Naruto segera melepas jaket yang dikenakan. Jika dipikir lagi terasa aneh karena ini untuk kali pertama Sai meminjam benda miliknya yang berwarna oranye. Namun ia tidak begitu peduli.
"Akan kukembalikan besok," ujar Sai menepuk pelan bahu Naruto, hendak pergi, tetapi baru kakinya melangkah dua kali ke arah pintu, lengannya ditahan dari arah belakang.
"Apa kau sudah bertemu dengan Sasuke?"
Sai menoleh untuk tersenyum singkat. "Aku belum bertemu denganya, tetapi aku tahu dia ada di mana."
Melepas genggaman tangan saat Sai lanjut melangkah. Sudut bibir ditarik membentuk seringai tipis, kini Naruto paham mengapa anak itu meminjam jaket miliknya. "Dia selalu punya cara yang menarik, huh?"
Tidak mau kalah. Bergegas menyusul Sai diam-diam terlihat seperti menguntit. Menjaga jarak aman sehingga keberadaannya tidak diketahui, tetapi masih bisa mengintai dengan jelas.
Beberapa koridor dilewati, kelas, serta puluhan murid yang menatapnya bingung. Sekolah yang didirikan di atas tanah yang luas, tidak heran jika mendapat predikat nomor satu di kotanya.
Saat Sai berhenti tiba-tiba, ia ikut diam tidak lagi lanjut melangkah.
Iris biru memerhatikan sekitar dari jauh, detik berikutnya pupil membulat sempurna melihat sosok yang mampu membuat napasnya tercekat, berdiri tepat tidak jauh dari kakinya berpijak.
Sosok yang masih terlihat sama seperti dahulu, bahkan semakin membuatnya terpesona. Seperti imajinasi di kepala yang berubah menjadi nyata, sosok itu menarik semua oksigen miliknya hingga sulit bernapas, tidak lagi bisa menampung luapan emosi di dada.
"Ini sangat konyol," ungkap Naruto, menahan tawa karena malu atas reaksi yang diberikan tubuhnya.
Beberapa detik setelahnya memalingkan wajah dengan senyuman tipis di bibir, lalu melangkah menjauh.
Sasuke terlihat begitu dekat. Namun tidak bisa direngkuh. Meskipun hatinya belum puas, selagi masih memiliki kontrol atas tubuhnya lebih baik memilih untuk menjernihkan kepala sebelum menghancurkan segalanya.
Kembali ke kelas dipilih, menjalani tugasnya sebagai murid. Saat bel tanda jam pelajaran ketiga telah usai berbunyi, sosok dengan surai hitam legam melangkah mendekatinya dari pintu.
"Hey, cepatlah. Aku lapar."
Menoleh ke arah sosok di samping. Sai berdiri mengenakan jaket oranye miliknya, lagi-lagi melipat tangan depan dada dengan wajah tidak senang.
"Kau pergi saja sendiri, nanti aku menyusul. Kau tahu? Catatan sebanyak ini harus diselesaikan, hari pertama dan urat tanganku seperti ingin putus!" sahut Naruto mengeluh.
Sahabatnya yang dipanggil Sai tidak lagi menyahut, pergi begitu saja setelah menatap dengan sebelah alis naik skeptis tanpa mengucap kata. Bahkan Naruto harus memastikan dua kali jika sahabatnya itu benar-benar telah pergi meninggalkannya.
Tidak terasa jarum panjang bergerak sudah melewati empat angka.
Tersadar jam makan siangnya hanya tersisa sepuluh menit, Naruto bergegas menutup buku dan mengingat di mana letak kantin. Berlari kecil, melangkah cepat, berlari lagi. Saat melewati koridor yang sepi dan telinganya secara tidak sengaja mendengar beberapa gadis kelas sebelah menyebut nama seseorang yang selalu menghiasi benaknya, langkahnya terhenti.
Alis mengernyit mendengar para gadis bertukar pikiran mengucap kalimat tidak menyenangkan tentang pemuda yang dicintainya. Iris biru memerhatikan seisi kelas dari celah pintu yang terbuka. Ada delapan gadis, satu di antara mereka yang bersurai merah muda terlihat di sisi yang sama sepertinya.
Mengamati dengan seksama selama beberapa menit. Saat gadis bersurai merah muda mulai terpojok keadaanya, ia tidak lagi bisa menahan diri.
"Itu benar," ujar Naruto datar.
Kini seluruh mata beralih menatapnya yang berdiri di ambang pintu kelas, bingung.
"Sasuke juga memberitahuku jika dia sedang tidak enak badan," lanjut Naruto melirik ke arah gadis surai merah muda, seakan memberi kode untuk mengikuti permainannya.
"Kalian dengar itu?" timpal gadis surai merah muda sinis.
"Sasuke sedang sakit, tetapi kalian di sini menggosip yang tidak-tidak," sambung Naruto menaikkan sebelah alisnya menampakkan ekspresi muak, sebelum pergi meninggalkan kelas yang hening untuk sesaat, dan para gadis yang diam tidak lagi menyahut.
Melangkah, melangkah, dan melangkah, berusaha menghilangkan emosi berlebih di dada.
Kantin yang mulai sepi, hanya ada beberapa murid termasuk sahabatnya yang bersurai hitam di sana.
"Kukira kau tidak akan datang," ucap Sai, melihat Naruto duduk di hadapannya, dengan raut wajah berbeda, tidak tampak seperti biasanya.
Naruto menyahut hanya dengan gumam singkat.
Sai memerhatikan lebih lekat, makanan miliknya yang tidak tersentuh diberikan pada Naruto. "Apa kau baik-baik saja?"
Iris biru menatap balik, bibir membuka hendak mengucap kata. Namun berbeda dengan apa yang ada di dalam kepala. "Apa ini untukku? Sai kau memang sahabat yang terbaik!"
Tertawa sambil mengunyah. Naruto tahu Sai masih menatapnya seolah tidak puas dengan kalimat yang diucapnya, tetapi ia tidak punya pilihan selain berbohong. Entah mengapa ia mulai merasa tidak nyaman jika harus membicarakan tentang Sasuke, Sasuke, dan Sasuke, tepat di hadapan sahabatnya yang satu itu.
.
Tidak seperti orang lain yang dengan mudah menghapal seisi gedung, Naruto belum terbiasa jika boleh jujur. Seperti hari ini, hari kedua di sekolahnya yang baru, ia masih meraba di mana letak tangga menuju atap sekolah di mana Sai menunggu untuk makan siang.
"Kenapa kau selalu saja membuatku menunggu? Aku hampir mati karena kelaparan."
Disambut pertanyaan diikuti pernyataan saat kakinya menginjak atap sekolah untuk pertama kali Naruto tidak punya pilihan selain tertawa.
"Apa kau harus selalu ditemani saat makan? Sai, aku tidak tahu kau semanja itu," sahut Naruto, menyeringai, dengan tatapan mengejek.
Yang dipanggil Sai membuang muka. Malu karena kalimat menohok dari bibir si pirang.
"Sekolah ini sangat luas," keluh Naruto, "kau tahu? Mungkin aku bisa tersesat di dalamnya."
"Bukankah memang itu yang kau inginkan? Tidak mudah bagi Sasuke untuk menemukanmu di sini." Sai menyuap bekalnya, sama sekali tidak memerhatikan si pirang yang menatapnya datar selama beberapa detik.
"Aku ..., aku melihatnya kemarin."
"Seperti penguntit?" selidik Sai datar.
Naruto diam.
"Mau sampai kapan? Kau kembali karena Sasuke, tetapi saat dia ada di hadapanmu nyalimu mengkerut," lanjut Sai.
"Tidak akan lama lagi," sahut Naruto, "aku hanya tidak ingin kejadian yang sama terulang dua kali."
"Naruto, kau tahu mengapa orang selalu membuat kesalahan yang sama?" tanya Sai, iris mata menatap lurus, meskipun tidak terlihat emosi di dalamnya.
Si pirang memilih diam.
"Itu karena mereka bodoh." Sai menyuap kembali bekalnya. Selebihnya tidak ada kalimat yang diucap, karena memang tidak ingin dan tidak tahu harus mengatakan apa.
30 menit yang terasa hening. Dua sahabat tenggelam dalam pikiran dan kegiatan mereka masing-masing. Saat bel berbunyi, keduanya kompak bangkit untuk kembali ke kelas.
Masih tidak ada yang dikatakan, Naruto melangkah mendahului sahabatnya seolah tidak sabar, tetapi langkah lebarnya terhenti tepat satu meter sebelum mereka tiba di kelas.
Sai yang memerhatikan dari belakang melangkah lebih cepat, saat berdiri tepat di samping Naruto, kini ia tahu apa penyebab langkah sahabatnya terhenti.
"Di mana murid baru itu?"
Suara yang terasa familiar di telinga Naruto berasal dari dalam kelas, suara seorang Sasuke, yang entah mengapa sulit untuk dilupakan.
"Ah ..., maksudmu Sai? Dia sedang makan siang di atap."
Naruto tahu Sai ada tepat di sampingnya, tetapi ia terlalu sibuk membaca situasi keseluruhan untuk peduli. Bahkan ketika sahabatnya menoleh, ia meninggalkanya untuk kembali melangkah.
"Apa kau punya pesan? Akan kusampaikan nanti."
"Hanya Sai? Bagaimana denganku?" tanya Naruto tiba-tiba. Tubuhnya seperti bergerak sendiri tidak tahu mengapa, dan bibirnya seakan mengucap kalimat yang entah ia rangkai dari mana, bahkan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, saat kedua matanya menangkap dengan jelas Sasuke berdiri memunggunginya di dalam kelas. "Aku juga anak baru."
Sai melirik untuk sesaat, tahu sahabatnya yang pirang terlihat gugup. Namun berusaha disembunyikan.
"Kau pasti murid nomor satu di sekolah ini?" lanjut Naruto tersenyum tipis, saat sosok di hadapannya menoleh. "Semua orang membicarakanmu bagaikan topik terpanas, tetapi ..., aku tidak peduli karena aku tidak mengenalmu. Tolong menepi karena aku tidak bisa kembali ke mejaku jika kau hanya berdiri di sana."
Naruto tidak tahu kenapa kalimat itu keluar spontan dari mulutnya, kenapa senyum di bibirnya menghilang, dan kenapa sorot matanya menajam. Ini bukan dirinya, ia tidak ingin memberikan kesan pertama seperti ini setelah sekian lama, tetapi tubuhnya bergerak sendiri diluar kendali, seolah memberikan hukuman, seolah ingin menggoda sosok di hadapannya.
"Kau menghalangi kami, Sasuke," Sai menimpali.
Iris biru sempat menatap lekat ekspresi di wajah Sasuke seakan tidak ingin kehilangan satu detik pun sebelum pemuda itu berdecak kesal lalu pergi. Ekspresi menarik yang membuatnya merasa bersalah, tetapi juga senang secara bersamaan.
Naruto tidak pernah tahu jika jauh di dalam dirinya ia memiliki rasa keinginan besar untuk menggoda Sasuke.
.
"Terkadang, aku tidak mengerti isi kepalamu."
Sepasang mata ber-iris biru yang mula sibuk menatap ponsel, berhenti untuk melirik.
"Kukira kau akan senang saat bertemu dengan Sasuke tadi. Maksudku, tertawa atau memeluknya mungkin? Nyatanya sebaliknya," ujar Sai.
"Bukan seperti itu," sahut Naruto mencoba meluruskan, "aku sangat senang bertemu dengannya setelah sekian lama, hanya saja aku tidak tahu mengapa tubuhku bertindak seolah membencinya, tetapi melihat respon yang diberikan Sasuke, entah mengapa itu membuatku senang?"
Kali ini Sai melirik malas.
"Kau tidak mengerti, huh? Aku sebenarnya ..., juga tidak mengerti." Naruto tertawa, menepuk bahu sahabatnya sambil melangkah mendekati pintu.
Setelahnya menuju toilet dekat tangga, sambil tersenyum mengingat bagaimana wajah Sasuke beberapa menit yang lalu, tetapi saat jemarinya hendak meraih knop, sosok yang muncul dari balik pintu membuat senyuman lembut di bibirnya spontan berganti sinis.
"Huh? Kau lagi? Aku tahu kita satu sekolah, tetapi apa aku harus bertemu denganmu setiap saat?" ucap Naruto.
Tatapan tajam saling beradu. Jarak mereka sangat dekat hingga Naruto merasa jantungnya ingin meledak, menahan segala gejolak dalam tubuhnya yang haus akan pemuda itu.
"Pencuri," gumam Sasuke pelan.
Naruto membalas singkat selagi tidak lepas mengamati ke mana arah perbincangan mereka akan berakhir. Ia merasa familiar dengan polanya, ia merasa pernah berada di posisi yang sama seperti ini sebelumnya.
"Kenapa kau selalu mencuri kalimat yang ingin kukatakan?!"
Sudut mata membaca gerakan tangan Sasuke yang mengarah tepat ke rahangnya. Saat kepalan tangan pucat menghantam keras, Naruto tahu perkiraanya tidak salah.
Memejamkan mata saat tubuhnya diseret dan dibenturkan ke arah dinding. Hantaman demi hantaman ditahan hingga tubuhnya tidak mampu lagi berdiri.
Rasa sakit yang familiar, sangat familiar, entah di tubuh, atau di hatinya hingga tidak lagi membuatnya terkejut karena telah terbiasa.
"Apa kau kesal karena aku melupakanmu? Apa kau benci karena aku melupakan kejadian hari itu?"
Naruto tidak sempat bertanya mengapa Sasuke menatapnya seolah ingin menangis, dan juga tidak sempat mendengar jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Sepasang kelopak matanya telah menutup rapat entah apa yang terjadi setelahnya ia tidak tahu, rasa kantuknya terlalu mendominasi hingga tidak bisa ditahan lagi.
Seingat Naruto, dalam tidurnya ia berbisik pelan, "Apa aku yang membuatmu menangis, Sasuke?"
.
"Hey, Naruto. Sampai kapan kau mau tidur? Ini hampir malam dan kau menyita seluruh kasurku."
Terbangun karena mendengar sebuah pertanyaan. Pandangan mata sedikit mengabur, tetapi masih bisa memastikan jika ada Sai duduk tepat di sampingnya.
"Apa ini hari sialku? Jika saja bukan aku yang menemukanmu di toilet, aku tidak harus repot membawamu ke rumah seperti ini, lalu kembali ke sekolah. Untung saja orangtuaku sedang berada di luar kota, karena aku tidak memiliki uang lebih untuk membawamu ke rumah sakit atau hotel. Aku juga tidak bisa membawamu pulang ke rumahmu karena Kushina ada di sana," lanjut Sai.
"Dasar brengsek, apa menurutmu seorang sahabat pantas mengatakan hal semacam itu?" rutuk Naruto pelan. Iris biru melirik, memerhatikan Sai yang menyiapkan segelas air dan beberapa butir painkiller untuknya. Tanpa perlu mendengar langsung dari bibir pucat sang sahabat, kepalanya bisa menebak jika Sai telah mengetahui alasan mengapa ia berakhir di dalam toilet.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" selidik Sai membelakangi tanpa menoleh, "apa kau berpikir kenapa aku tidak bertanya apa yang terjadi? Atau kau sudah bisa menebaknya? Hahaha ..., Sasuke lagi bukan?"
Naruto menghela napas. Wajahnya menunduk dalam, tidak lagi memerhatikan saat Sai menoleh balik ke arahnya.
"Jadi," ada jeda sesaat, "kau berperan sebagai tipe yang setia di sini? Tidak sedikit pun merasa lelah setelah menunggu selama tiga tahun?"
"Apa maksudmu?" sahut Naruto, memaksa bangkit dari atas kasur untuk melihat pantulan tubuhnya yang telah dibalut perban di cermin.
"Aku hanya tidak ingin kau mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan hanya membuatmu kecewa. Hitam dan putih, dan kau berada di abu-abu sejak saat itu," jelas Sai.
"Berhenti mengatakan hal yang tidak penting," sahut Naruto cepat, saat jemarinya mengambil beberapa butir painkiller dari sisi meja.
"Bergantung pada harapan manis ingin bertemu, lalu harapan itu menjadi kenyataan. Kau pikir kau menang, nyatanya masih berada di posisi yang sama seperti waktu itu."
"Kubilang berhenti," gumam Naruto.
"Kejadian yang sama terulang lagi untuk kedua kalinya?" kata Sai, "apa kau ingat mengapa orang selalu membuat kesalahan yang sama? Itu karena mereka bodoh."
Naruto melirik tajam.
"Aku memberitahu Itachi apa yang terjadi melalui ponselmu dan tidak ada jawaban. Sasuke bahkan menganggap apa yang kau lakukan itu menjijikkan. Dia mengatakan, 'jangan khawatir, ini yang terakhir. Memangnya kau pikir aku tidak bosan selalu berurusan dengan orang yang sama?' tepat di hadapanku dengan wajah datar miliknya, apa kau yakin mencintai Sasuke bukanlah suatu kesalahan?"
"SAI!" bentak Naruto.
Iris hitam dan biru saling beradu. Keduanya merasa banyak yang ingin diungkapkan, tetapi terhalang tembok rasa takut kehilangan.
"Itu benar! aku mencintai Sasuke dan aku tidak berusaha lagi untuk menutupinya! Rasa tertarik yang kurasakan sejak dulu tidak pernah berkurang sedikit pun, semakin hari kian bertambah, rasa aneh itu telah mengambil alih semuanya! Pikiran, hati, dan tubuhku, hingga membuatku sesak memikirkannya! Mungkin aku juga sudah gila, tetapi aku tidak peduli!"
Sai diam. Sengaja menunggu Naruto untuk berbicara lebih banyak, meskipun telapak tangannya terkepal erat.
"Aku tahu kau hanya ingin melihatku bahagia, dan aku berbohong jika tidak pernah merasa putus asa! Aku mencobanya! Berulang kali menghapus bayang Sasuke dari dalam kepalaku, tetapi itu sulit! Itu tidak semudah yang kau bayangkan, dan kau tidak akan mengerti, Sai!"
Hening, yang terdengar saat itu hanya deru pendingin ruangan.
"Sasuke akan pergi," ujar Sai.
Naruto menoleh tidak percaya. Alis mengernyit memastikan telinganya tidak salah dengar, meskipun ia ragu untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Semakin kau mencoba untuk mendekatinya dia akan menjauh dan berlari, karena itu pikirkan baik-baik," lanjut Sai balik memunggungi.
Tangan Naruto terkepal. Tepat saat jarum panjang menunjuk angka tiga, ia berlari menuju pintu. Tidak mengucapkan selamat tinggal, tidak juga mengatakan ke mana akan pergi, ataupun sekedar berterima kasih.
"Naruto dan omong kosongnya," sinis Sai, "sama sepertimu yang menumpuk harapan 'suatu saat dia menjadi milikku', aku sangat tahu apa yang sebenarnya kau rasakan," ada jeda sesaat, "jadi, jangan mengira hanya kau saja yang terluka," lanjut Sai, menoleh ke arah pintu saat sosok si pirang tidak lagi berada di sana.
.
"Itu bukan lelucon. Itu bukan lelucon, Sasuke. Sama sekali bukan lelucon."
"Aku tidak ingin melukaimu. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin mendengar kalimat buruk itu terucap dari bibirmu, tetapi ..., kau tidak mengerti juga?"
"Akan kulakukan sekarang Sasuke, tidak peduli kau menyukainya atau tidak."
"Sekarang kau ingin pergi? Jika memang itu yang menurutmu benar, maka lakukan saja."
Tersenyum pahit, hingga ikatan perban di wajahnya terasa ketat karena tekanan berlebih. Naruto Iri melihat siswa dan siswi lainnya dimabuk cinta dari atap sekolah saat bibirnya masih bisa merasakan bagaimana hangatnya suhu bibir Sasuke, dan itu membuatnya mulai berpikir 'tidak seharusnya ia merasakan rasa sakit yang sama berulang kali', saat memori di kepalanya memutar ulang segala hal yang telah terjadi.
Ragu juga bingung.
Apa keputusan yang diambilnya selama ini salah? Apa ini masih terlalu cepat untuk kembali? Apa Sasuke masih membencinya? Apa tidak ada rasa sedikit pun pada Sasuke untuk dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul menghantui, tidak tahu jawabanya ia mencoba menepis satu-satu.
"Apa kau yakin mencintai Sasuke bukanlah suatu kesalahan?"
Kali ini, muncul sebuah pertanyaan yang tidak lagi bisa ditepisnya.
Menyadari rasa cintanya pada Sasuke sudah melebihi akal warasnya, tetapi ia berbohong jika rasa sakit itu tidak mulai membuatnya muak.
Menyerah adalah keputusan yang bulat, dan ia tidak ingin itu terjadi karena jujur saja baginya itu sulit. Untuk saat ini memilih 'tidak akan menyerah untuk mencintai Sasuke', memang tindakan yang tepat, hanya saja ia membutuhkan jeda waktu beberapa saat untuk berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Kau di sini rupanya?"
Suara yang khas berasal dari belakang. Tidak perlu menoleh untuk memastikan, sudah tahu siapa yang datang untuk menemuinya.
"Kelas membuatku muak," jawaban singkat Naruto, mengartikan banyak hal.
"Kelas, atau murid nomor satu yang sebentar lagi akan pergi?"
Pertanyaan atau ejekan, Naruto tidak tahu mana yang benar. Sepasang iris birunya melirik saat Sai bersandar tepat di sebelahnya, memerhatikan sahabatnya yang kini ikut menatapnya dengan senyuman—yang menurutnya aneh—di bibir.
"Keduanya," sahut Naruto singkat. Kembali menatap kosong ke arah taman belakang sekolah.
Mulanya Sai ingin mengucap kata. Namun melihat ekspresi di wajah Naruto entah mengapa membuat bibir yang sudah terlanjur terbuka mengatup kembali. Menghela napas diambil sebagai pengganti, dan diam tidak mengeluarkan suara sebagai penambah. Masih ada banyak hal yang ingin diketahui, tetapi waktu tidak mendukung dan ia merasa masih sanggup untuk menunggu.
Keduanya diam.
Siang itu mereka habiskan di atas atap sekolah, seakan menyerap energi dari mahatahari sebanyak mungkin hingga langit berwarna kemerahan dan bel tanda pelajaran telah usai, berdering.
Besoknya, dan besoknya lagi.
Sai masih tidak membuka mulutnya jika itu menyinggung tentang Sasuke, Naruto juga ikut tidak buka suara tentang Sasuke.
Satu minggu berlalu, lalu bulan.
Tanggal 2 di bulan kedua setelah Sasuke pergi, Sai tidak lagi sanggup untuk menunggu karena Naruto mulai bersikap seperti tidak ada yang terjadi, si pirang kembali menjadi dirinya yang dulu lagi seperti belum mengenal Sasuke.
"Apa kau membentur kepalamu? Atau memang kau tidak punya pendirian yang kuat?"
"Hm?" Naruto menoleh sambil tersenyum meskipun mulutnya penuh mengunyah ramen instant.
"Kau bisa mengatakan dan memastikan betapa besarnya cintamu, lalu saat ini kau bertingkah seakan semua hal yang telah terjadi hanya sebuah mimpi," lanjut Sai.
"Apa maksudmu?" tegas Naruto, menelan paksa ramen panas yang belum terkunyah sempurna di dalam mulutnya.
"Aku berbicara tentang Sasuke," sahut Sai.
"Sasuke?" ada jeda sesaat, "aku ..., tidak mengenalnya. Apa maksudmu? Kau ini berbicara tentang siapa?"
Sai tidak pernah mengira, jawaban atas pertanyaan yang terlontar dari bibir Naruto bisa membuatnya merasa bingung. Ia senang jika memang si pirang bisa melupakan Sasuke perlahan, tetapi bertingkah seakan tidak mengenal seseorang yang telah menolak cintamu berulang kali terkesan sangat kekanak-kanakan. Apalagi ia tahu betapa besar cinta sahabatnya itu.
"Naruto," panggil Sai.
"Apa lagi, huh? Aku sangat lapar dan aku tidak ingin kau menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak jelas," balas Naruto.
Lagi, bibir yang semula terbuka hendak mengucap kata mengatup kembali.
Terserah, menurut Sai.
Jika memang Naruto menginginkan seperti ini maka biar saja. Hal terpenting semua keinginan dan harapannya yang dulu hanya imajinasi, terkabul sudah. Naruto melupakan Sasuke dan kembali menjadi sosok yang begitu dekat dengannya, itu juga menandakan ada sedikit celah untuknya menyalip.
"Kesempatan ini tidak terulang dua kali," ujar Sai, dalam hati.
Hari-hari terasa menjadi jauh lebih menyenangkan, hanya dirinya dan Naruto tanpa gangguan. Sahabat, masih berlaku sebagai status di antara mereka, meskipun sebenarnya bukan itu yang diinginkan, tetapi efek sebab-akibat sangat mengerikan.
Nyali yang tidak seberapa, sejak awal sudah terbukti tidak mampu melampaui sosok yang dicintai si pirang. Bukannya menjadi pemberani setelah pesaingnya pergi, sampai saat ini masih saja berada di dalam lingkaran yang sama, menunggu waktu yang tepat dijadikan alasan utama, memanfaatkan kesempatan yang ada.
Merasa buruk, bisa melihat bayang Naruto yang mengejar Sasuke pada dirinya sendiri. Penolakan lebih pahit dari empedu, dan pengalaman adalah guru terbaik. Tidak seperti Naruto yang masih bisa tersenyum setelah ditolak berulang kali, ia tidak sekuat si pirang, juga tidak yakin jika penolakan menghantamnya sekali, ia masih bisa berdiri.
Mungkin suatu saat ia bisa mengatakannya. Mengatakan seluruh isi hatinya, sejujur-jujurnya tanpa lagi ada yang disembunyikan. Entah kapan itu akan terjadi ia akan terus menunggu, saat ini biarlah ia menikmati rasa senang yang mungkin sebenarnya tidak seberapa.
"Mengapa orang selalu membuat kesalahan yang sama?"
Sai tersenyum getir.
"Itu karena mereka bodoh."
Entah pada siapa kalimat ditujukan, entah maksudnya. Ia terlalu sibuk untuk memahami, bahkan setelah 2 musim terlewati, masih saja tidak mengerti.
"Sekolah A di kota sebelah, atau sekolah B di kota ini?"
Menunggu cukup lama, tetapi tidak juga mendapat jawaban.
"Sai?" panggil Naruto.
Pena terjatuh ke atas meja dari genggaman tangan, pemuda yang dipanggil namanya menoleh pelan, ekspresi wajah menyiratkan kebingungan.
"Apa pekerjaan rumahmu terlalu sulit hingga kau melamun seperti itu?" si pirang mengakhiri pertanyaan dengan tawa garing, seolah mengejek. Namun tidak menunjukkannya secara langsung.
Masih tidak menyahut. Sai bangkit dari atas meja belajarnya, menghampiri sosok yang terbaring santai di atas kasur dengan lembaran brosur berinti sama.
"Ibu menyarankan sekolah A di kota sebelah. Aku juga menginginkannya, tetapi ..., aku tidak tahu jika kau akan menyukainya," ujar Naruto. Menggeser tubuhnya, berbagi tempat, mempersilakan Sai mendekat.
"Sekolah A di kota sebelah, tidak buruk juga, lagipula apa hubungannya ini semua denganku?" Jemari pucat mengambil selembar brosur, membaca tulisan demi tulisan yang tertera, tanpa mengeluarkan suara.
"Sai, kita akan selalu bersama," ujar Naruto
Iris hitam melirik penuh rasa keingintahuan.
"Kita akan selalu bersama-sama ..., karena itu aku tidak mau jika hanya keinginanku saja yang diutamakan," lanjut Naruto, menatap sosok di sampingnya yang tersenyum lebar.
Malam itu sebuah keputusan diambil. Di dalam ruangan yang tidak begitu besar, salah satu di antara mereka membuat janji yang terasa sangat manis.
Beberapa bulan setelahnya, mereka tersenyum lebar saat pria dengan kamera menghitung mundur dari angka 3.
Kelulusan yang memuaskan, orangtua yang tersenyum bangga.
Pesta, pesta, dan pesta.
Diakhiri salam perpisahan.
Keduanya membungkuk hormat pada orangtua, sebelum tangan kekar mereka menggeret koper besar ke luar pintu rumah.
Menuju tempat yang sama, yang memang sudah menanti mereka. Lingkungan baru, teman baru, hal baru. Mengulangi pola yang sama, di tempat berbeda. Dimulai dari kamar asrama yang cukup luas. Berkasur dua, di sisi kiri dan kanan serta fasilitas menunjang lainnya.
"Rasanya seperti ingin mati." Menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, Naruto menyerah pada lelah tidak lagi berkutik.
Sai di samping hanya tersenyum tipis. Sama lelahnya, hanya saja tidak ingin menunjukkan. Ia memilih untuk duduk di tepian kasur, mengamati seisi ruangan hingga merasa mulai bisa beradaptasi.
"Jadi ..., 3 hari lagi, huh? Aku tidak percaya rasanya secepat ini," ungkap Naruto, memejamkan mata.
"Seperti baru kemarin," ujar Sai menimpali. Diam-diam mengamati surai si pirang yang bergoyang tertiup hembusan pendingin ruangan.
"Benar." Angguk setuju Naruto.
Mulut terkatup rapat, tidak lagi menyahut. Sai diam mengamati Naruto yang ia kira mulai tertidur pulas tepat di atas kasur dekat jendela, sama sekali tidak pernah mengira akan menjadi seperti ini.
Ada sedikit rasa puas dalam hatinya akan kondisi yang saat ini ia miliki, meskipun tahu itu hanya bisa dipastikan melalui satu sisi.
Naruto belum seutuhnya menjadi miliknya, dan ia tahu betul tentang peraturan berlaku menyangkut 'barang pinjaman', tetapi ia terlalu lelah untuk berpikir saat ini.
Tubuh terbaring, mata terpejam. Sai mulai menyerahkan semuanya pada waktu.
Sama sekali tidak menyadari, jika sepasang kelopak mata ber-iris biru kembali terbuka saat ia tertidur lelap.
Naruto bangkit dengan helaan napas. Kaki jenjang melangkah pelan meninggalkan ruangan menuju tempat yang menurutnya bisa membuatnya tenang.
Atap.
"Sangat bodoh," bisik si pirang pada diri sendiri, "hingga aku mulai membenci diriku sendiri."
Kedua tangannya meremat kuat. Pasir kasar pada lantai atap berdebu mengotori saat bersentuhan langsung dengan bagian kulitnya yang basah oleh bulir air menetes.
Hari ini tumpukan emosi sesungguhnya yang selalu disembunyikan, meluap. Pola yang sama membuatnya kembali teringat, dan ia tidak mampu lagi menahan.
Selama ini hanya menampilkan yang terbaik ke luar, bukan berarti jauh di lubuk hatinya merasa demikian.
Naruto masih terluka. Tidak pernah sembuh, atau merasa lebih baik sejak saat itu. Rasa perih yang menggerogotinya dari dalam terkadang tidak bisa ditahan, hingga bernapas pun sulit rasanya.
Selalu tersiksa dengan rasa sakit yang sama, tetapi tidak pernah bisa membuatnya kebal.
Seharusnya ia tahu.
Jika mencintai akan terasa sesakit ini, ia tidak akan berani untuk memulai. Seperti racun tanpa obat penawar, ia tidak bisa melakukan apa pun, bahkan menolong diri sendiri terasa sulit.
Seharusnya ia tahu.
Tidak semua keinginan, imajinasi, dan harapannya bisa menjadi kenyataan. Meskipun telah berusaha hingga ingin mati, sosok itu masih sangat jauh untuk direngkuh, tidak akan pernah mendekat.
Seharusnya ia tahu.
Di luar sana ada yang menginginkannya, membutuhkannya, mendambakaannya sama seperti ia menginginkan, membutuhkan, dan mendambakan sosok itu.
Seharusnya, ia tahu akan hal itu.
.
"Naruto bagaimana dengan ramen untuk makan malam?"
Si pirang menoleh antusias, ponsel di tangannya dilempar ke atas kasur kala ia menghampiri pemuda pucat surai hitam yang berdiri dekat meja tengah ruangan.
"Lagi?" balik bertanya, sepasang irisnya memerhatikan plastik transparan berisikan beberapa cup ramen instant tergeletak tidak beraturan.
"Apa kau sedang sakit?" Sai mengernyit heran. Ini kali pertama Naruto terlihat ragu saat ditawarkan makanan yang sudah jelas menduduki peringkat nomor satu dalam daftar 'favorit'.
"Tidak," ada jeda sesaat, "maksudku ..., beberapa bulan belakangan kau selalu membeli ramen instant untuk makan malam, ini makanan yang enak! Tentu saja aku sangat menyukainya dan tidak akan menolak ..., tetapi apa kau tidak bosan?"
"Aku tidak akan membeli jika bosan," sahut Sai cepat, "jika kau masih melihat makanan yang sama di atas meja, kau pasti bisa menyimpulkan sendiri jawabannya."
Naruto tertawa hingga deretan gigi rapihnya terlihat. Duduk di depan meja adalah hal yang dipilihnya, menunggu air panas memasak ramen mentah dalam cup selama beberapa menit.
Diam-diam memerhatikan Sai di seberang meja, yang terlihat diam dengan laptop dalam pangkuan.
Wajah tampan tidak lagi dihiasi senyuman aneh, iris hitam fokus pada layar menyilaukan cahaya, dan bibir pucat yang sedikit terbuka.
Mengingatkan Naruto pada sosok itu.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Lamunan terpecah hingga tubuhnya tersentak kaget. Naruto menggeleng spontan, menoleh ke sembarang arah menutupi kegugupan.
"Kau bisa memakan ramenku jika milikmu saja tidak cukup. Aku bisa membelinya lagi nanti, jadi jangan sungkan," lanjut Sai, kembali beralih pada layar.
Membungkam mulut dengan sengaja, jantung berdetak tidak berirama, perasaan aneh campur aduk luar biasa. Naruto, tidak tahu apa yang baru saja terjadi pada dirinya sendiri.
Sama sekali, tidak tahu.
Dalam hati menolak mentah-mentah disusul merutuk kasar karena 'Sai adalah sahabat' dijadikan alasan utama, tetapi detik berikutnya ia terdiam. Menyadari jika penolakan dalam hatinya terjadi bukan karena tidak berdasar.
Sai tidak membuat jantungnya berdebar.
Sai tidak membuat telapak tangannya basah karena keringat dingin.
Sai tidak membuat kepalanya memvisualkan imajinasi liar yang tidak dimaksud akal.
Bukan Sai yang membuatnya bertingkah seperti ini, tetapi sosok itu. Sosok yang selalu menghantui benaknya, sosok yang membuatnya jadi serba salah.
Ini semua karena ia melihat dan merasa adanya sedikit ciri sosok itu, pada diri Sai.
"Maaf!"
"Huh?"
"Aku harus pergi ke menemui teman sekelasku, ada ..., uh ... pekerjaan rumah yang aku tidak mengerti dan aku tidak memiliki buku lengkapnya," ucap si pirang. Merangkai kalimat palsu yang entah dirasa masuk akal atau tidak, setelah itu tergesa menuju pintu, menarik knop sekuat tenaga, dan berlari.
Sama sekali tidak berani menoleh ke belakang, meskipun telinganya bisa menangkap beberapa potong kalimat bingung yang dilontarkan sahabatnya.
Menghiraukan sapaan ramah dari beberapa penghuni asrama lainnya, teriakan genit para siswi yang bertatap muka, serta tepukan akrab teman sekelasnya.
Tujuannya hanya satu, yaitu pergi menjauh. Entah ke mana kakinya akan membawa, ia tidak peduli. Sampai energinya habis, ia tidak akan berhenti. Sampai kepalanya bisa berpikir normal, ia tidak akan kembali.
.
"Apa kau melihat Naruto?"
Dua orang teman sekelasnya menggeleng pelan, dan itu jawaban yang membuat Sai khawatir. 3 jam sudah lamanya si pirang pergi, dengan sikap aneh yang dilihatnya terakhir kali, tanpa ada tanda akan kembali.
25 menit menuju tengah malam, tidak tahu apa yang ada dalam kepalanya hingga memutuskan untuk menarik jaket dari punggung kursi, lalu berlari ke luar asrama.
Lingkungan sepi dan gelap, udara dingin membuat napasnya sedikit tersengal-sengal. Kaki jenjang mulai melangkah pelan, lalu berangsur cepat, hingga berlari tanpa disadari.
"Naruto!"
Teriakan pertama dari mulut disusul uap putih, tidak menghiraukan jika volume-nya bisa menggangu istirahat orang lain, bahkan hendak melakukannya lagi dan lagi.
"Naruto!"
Teriakan kedua.
"Hey Naruto!"
Teriakan ketiga, bisa dipastikan mendapat sahutan dari penghuni asrama yang merasa terganggu.
Ia tidak suka ini. Rasa khawatir yang mengganggu, juga logika yang membuatnya tersika. Naruto bukan anak-anak lagi, lalu kenapa ia merasa seperti ini? Merasa bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada si pirang.
"Sai?"
Betapa ia menginginkan suara itu di telinganya, dan melihat sosok itu dengan kedua matanya. Si pirang yang menatapnya ragu-ragu, dengan kedua tangan di dalam saku terlihat kedinginan.
"Apa kau ini terlalu bodoh? Setidaknya kau bisa memberitahuku jika tidak akan kembali, aku tidak perlu mencarimu seperti ini, lebih baik mengunci pintu lalu tidur," ucapnya berbohong, tentu saja bukan itu yang ingin dikatakan.
"Maaf," sahut si pirang pendek, memamerkan senyum meskipun ragu, terlihat ada yang ditutupi. "Aku hanya ingin mendinginkan kepalaku sebentar."
Tidak ada sahutan berupa verbal setelahnya, tangan Sai yang pucat dan dingin menarik lengan Naruto kencang untuk mengikutinya.
Keduanya bungkam, suasana menjadi canggung. Seakan tidak ada topik menarik, hening menjadi pilihan.
Berbaring saling memunggungi di kasur masing-masing, larut dalam pikiran mereka. Ada rasa yang ditahan, takut memperburuk suasana jika diluapkan.
Malam itu hanya suara pendingin ruangan yang mendominasi karena keduanya memaksa memejamkan mata meskipun tidak mengantuk.
Keesokan harinya masih sama, berada dalam satu ruangan. Namun tidak bicara, lebih tepatnya saling menghindari.
Hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Stagnan.
Sai tahu ia harus melakukan sesuatu, tetapi entah apa yang harus dilakukan. Raut wajahnya datar, kaki melangkah menyusuri lorong asrama, isi kepala seperti benang kusut.
Jemarinya meraih kenop pintu, diputarnya perlahan searah jarum jam. Iris hitamnya yang semula menatap lantai, beralih memerhatikan seisi ruangan. Salah prediksi yang membuat jatungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, sama sekali tidak menyangka ada sosok itu di sana, yang sedang duduk di tepi kasur, menatap ke arahnya.
"Kau ..., kau pulang lebih cepat hari ini?"
Pertanyaan memaksa dari bibirnya disesali. Sai tahu harusnya ia menggunakan kalimat lainnya, tetapi apa yang ingin diucap dan apa yang berada di dalam kepalanya sangatlah berbeda. Keadaan membuatnya aneh, bahkan tidak tahu bagaimana haris bersikap seperti dirinya yang biasa.
Si pirang mengangguk.
Meletakkan tas miliknya ke atas meja, Sai berpikir keras untuk menyusun kalimat yang akan diucapnya nanti.
"Kukira kau akan ke—"
"Sai," potong si pirang.
Otak seakan tidak berfungsi, serta tubuh yang sulit merespon. Sai hanya bisa diam saat Naruto menghampiri setelah memanggil namanya, menarik tubuhnya ke dalam dekapan, menghilangkan jarak di antara mereka sebelum menciumnya tepat di bibir.
Realita atau halusinasi yang sulit dibedakan.
Terkejut. Namun tidak ada penolakan tanda dirinya memang tidak keberatan. Niat ingin bertanya diurungkan, meskipun jauh di lubuk hatinya masih mempertimbangkan keinginan untuk memiliki Naruto seutuhnya karena 'sahabat' dijadikan alasan.
Kelopak mata terpejam, akal sehat tertutupi kabut perlahan. Saat itu semuanya terasa buram, hanya bisa diam, mencengkram bahu si pirang saat gerakan tubuhnya mulai dibatasi.
Euforia sejenak seperti candu, membuat Sai menginginkan lebih tanpa bisa menunggu. Naruto membawanya pada dunia yang baru, dan ia tidak berharap untuk kembali.
Mereka melakukannya.
Entah sudah keberapa kali sejak saat itu, hitungan yang hilang tidak lagi dipedulikan. Berulang kali, setiap hari, seminggu penuh, bulan, dan tahun. Melalukan hal yang sama tanpa ada rasa jenuh.
Keduanya saling membutuhkan untuk menguras habis hasrat yang mereka miliki. Tidak ada keinginan untuk kembali, karena keduanya sama-sama sudah melewati batas.
Denial, meskipun Sai tahu betul kenyataan pahit dibalik hubungan mereka. Apa pun yang ia lakukan, tidak akan pernah ada cinta yang terjalin di antara mereka.
Naruto membutuhkannya jika teringat pada sosok itu, Naruto memeluknya erat karena sosok itu, Naruto memperlakukannya lembut karena sosok itu, Naruto menangis di hadapannya karena sosok itu.
Ia sadar akan sulit baginya melampaui sosok itu, sosok yang dicintai Naruto melebihi dirinya sendiri, bertahun-tahun lamanya, sosok yang bernama Uchiha Sasuke
.
'Temui aku di cafe xxx seberang jalan setelah kau pulang nanti, ada hal yang ingin kubicarakan.'
Ekspresi wajah datar membaca ulang kalimat pesan singkat pada layar ponselnya. Tidak ada rasa gembira, tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
"Itachi," gumam Naruto pelan.
Bersandar pada punggung kursi, mata menatap kosong ke arah papan tulis. Ruang kelas kosong, tidak ada murid lainnya sejak 30 menit yang lalu.
"Untuk apa?" gumamnya lagi.
Sudut bibir membentuk senyum sinis, dalam ingatan hanya ada kenangan pahit, menggali hingga mendapatkan memori yang diinginkan sama saja dengan berhalusinasi.
Kehidupannya sudah sedikit lebih tenang saat ia berusaha melepas segalanya perlahan, meskipun menyatakan tidak lagi menginginkan pria itu adalah mutlak kebohongan, karena apa yang ia lakukan semuanya didasari oleh sosok yang sama.
"Apa ini tentang," ada jeda sesaat, "Sasuke, lagi?"
Ada rasa aneh dalam hati saat bibirnya mengucap nama itu, nama yang dulu tidak pernah lupa disebutnya, nama yang dulu membuatnya tersenyum, nama yang dulu membuatnya lupa akan rasa sakit, nama yang membuatnya gila.
"Sasuke," ulangnya lagi.
Tertawa. Entah apa yang ditertawakan, dirinya sendiri, atau sosok itu.
"Uchiha Sasuke," ucapnya.
Bangkit dari atas kursi, menarik tas dari atas meja, melangkah perlahan keluar ruangan, menyusuri lorong, meninggalkan gedung sekolah, menyeberangi jalan, menuju salah satu cafe di seberang jalan.
"Hey."
Menoleh saat disapa, oleh wajah familiar yang tersenyum ke arahnya dari salah satu kursi dekat jendela.
"Hey," balas menyapa, menghampiri sosok yang lebih dulu menunggunya di sana.
"Aku tidak mengira kau akan datang, apa kau lapar? Silakan pesan apa pun yang kau inginkan," ujar Itachi menyerahkan selembar menu.
Naruto tersenyum singkat, memesan minuman kesukaannya pada pelayan, lalu kembali menatap Itachi.
"Bagaimana kabarmu dan temanmu itu, kalian masih bersama-sama? Tiga tahun yang lalu kalian masih terlihat kecil, dan sekarang ..., lihatlah kau sudah menyaingiku."
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Naruto langsung pada inti, mengabaikan basa-basi yang dirasanya tidak penting.
"Apa keberadaanku di sini membuatmu merasa tidak nyaman?" Itachi balik bertanya dengan senyum tipis di bibir, "apa aku hanya mengingatkanmu pada rasa sakit?"
Naruto diam.
"Aku pernah minta maaf padamu, dan akan kulakukan lagi jika perlu, meskipun itu bukan kesalahanku," ujar Itachi, "aku bisa saja mengabaikan ini semua, tetapi aku melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan apa yang dilakukan Sasuke padamu. Terlalu mencampuri urusan orang lain ..., mungkin kau bisa menganggapku seperti itu."
Naruto masih memilih untuk diam.
"Ini tahun ketiga, bagaimana dengan universitas pilihan kalian?" Meneguk kopi hitam miliknya dari dalam cangkir, matanya berpaling dari Naruto ke luar jendela.
"Belum," sahut si pirang singkat.
Itachi tersenyum tipis.
"Aku bahkan tidak yakin jika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi," jelasnya.
"Begitu rupanya," ada jeda sesaat, "kau tahu? Sasuke harus menunggu satu tahun lamanya untuk bisa melanjutkan sekolahnya di sana."
Tubuh Naruto menegang.
"Anak yang bodoh. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan." Itachi tertawa, sekali lagi meneguk kopi dari dalam cangkirnya sebelum bangkit dari atas kursi. "Kau tahu Naruto, aku menemuimu hari ini bukan tanpa alasan."
Si pirang menoleh.
"Kau mungkin mau memikirkannya lagi, melanjutkan ke perguruan tinggi tidak akan seburuk itu," ujar Itachi. Merogoh saku celana, meninggalkan secarik kertas di atas meja, sebelum melangkah keluar pintu.
"Tidak banyak yang berubah, masih sama seperti biasa," gumam Naruto pelan disusul tawa.
Secarik kertas dalam tangannya digenggam erat, sebuah alamat ditulis lengkap dengan tinta warna hitam.
Mulanya ragu. Namun tahu jika di dalam hatinya masih mengingkan hal yang sama. Keinginan yang belum terpenuhi kembali menghantui, tidak lagi terkejut menyadari jika masih berada di tempat yang sama, setelah bertahun-tahun lamanya.
Senyum pahit di bibir menemani langkahnya.
Keadaan yang tidak sama seperti dahulu membuatnya merasa buruk. Semua yang telah dilakukan memiliki dampak, dan jika harus merubahnya, ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Keterlibatan Sai adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri. Tahu jika perbuatannya tidak benar, tetapi tidak mempunyai keinginan untuk berhenti karena terlalu tamak.
Sai yang selalu menunggu, Sai yang selalu mendukung, Sai yang selalu berada di sampingnya, Sai yang tidak pernah menyakitinya. Namun ia tidak bisa mencintai seorang sahabat.
Semua yang telah terjadi, semua yang telah dilakukan, hanya ada satu alasan. Sai mengingatkannya pada sosok itu.
Berkata jujur terlalu sulit, mengungkapkan kenyataan juga bukan keinginannya. Keputusannya memilih kebohongan manis, meskipun 'tidak ingin menyakiti siapa pun' terdengar palsu, karena seharusnya ia tahu jalan yang dipilihnya akan berakhir seperti ini.
.
"Kukira kau tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi, apa keputusanmu berubah di menit terakhir? Lagipula, mengapa bukan di kota ini saja?" Pertanyaan bernada rendah dari bibir Sai tidak mengurangi rasa keingintahuannya, bahkan kegiatannya terhenti hanya untuk mendengar sahutan.
"Aku sudah memikirkan hal ini berulang kali," ada jeda sesaat, "mungkin ..., universitas tidak akan seburuk itu, dan aku ingin melihat peluang lainnya," sahut Naruto. "Aku tahu beberapa universitas terbaik di sini, tetapi ..., apa kau tidak bosan berada di tempat yang sama?"
Bersandar pada punggung kursi, lalu mengedik. Sai paham apa yang dimaksud Naruto.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak tertarik," sahut Sai cepat, "bukankah sudah kukatakan padamu tujuanku hanya universitas Y saja?"
Naruto mengangguk, merebahkan tubuhnya pada kasur, dengan telapak tangan sebagai penyangga kepala.
"Lalu, kapan kau akan mulai mencari? Kau harus cepat Naruto, jangan buang banyak waktu."
"Aku tidak tahu pastinya, jadwalku padat," jelas si pirang, menghela napas pelan.
"Sebenarnya kau ini serius atau tidak?" Sai mengernyit bingung. "Apa kau lupa bulan depan adalah golden week? Kau bisa pergi saat itu."
Naruto menoleh, menatap Sai dalam diam sebelum menaikkan sebelah alisnya. "Kau benar ..., aku sama sekali tidak ingat bulan depan adalah golden week. Baguslah kita memiliki waktu yang cukup untuk pergi."
"Kita?" tegas Sai.
"Ya," ada jeda sesaat, "kau tidak akan ikut denganku?" Naruto balik bertanya.
"Aku tidak pernah menyatakan akan ikut denganmu," jelas Sai.
Naruto menatap Sai selama beberapa detik sebelum memalingkan wajah, menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. "Kukira kau akan ikut denganku ..., kalau kau ikut semuanya pasti lebih mudah."
Sai menutup bukunya.
"Maksudku ..., kau tahu kadang aku ini ceroboh, aku bisa saja meletakkan benda berharga di mana pun dan pergi begitu saja, dan aku ..., jujur saja aku membutuhkan pandanganmu tentang beberapa hal nantinya, ka—"
"Sudah diam," potong Sai cepat, "aku akan ikut, memang benar pria ceroboh dan bodoh sepertimu akan sulit melakukan segala hal sendiri."
Bangkit dari atas kasur dengan bibir tersenyum lebar, sama sekali tidak menutupi, ataupun malu untuk menunjukkan jika ia senang dengan kalimat yang baru saja telinganya dengar.
Sore itu keduanya menghabiskan sisa waktu seperti hari-hari lainnya.
Naruto yang tidak sabar menandai kalender milik mereka dengan spidol warna merah, sedangkan Sai yang tidak begitu peduli hanya bisa memerhatikan sambil menggeleng. Hari demi hari terlewati, coretan pada kalender bertambah, warna merah mulai mendominasi karena memang Naruto tidak pernah lupa untuk menghitung mundur setiap hari.
"Apa kau sudah mempersiapkan segalanya? Ingat jangan ada yang tertinggal, aku tidak ingin membuang waktu," teriak Sai dari dalam mobil, menunggu di kursi penumpang.
"Kurasa tidak ada yang tertinggal," sahut Naruto. Kakinya melangkah santai setelah memastikan kedua koper telah berada di bagasi, pintu dibuka, tubuh dihempaskan di kursi pengemudi.
Mesin mulai bekerja, roda berputar, kecepatan yang bertambah di setiap detik. Perjalanan yang memakan waktu lama, menggunakan dua transportasi berbeda, darat dan udara, hampir 20 jam lamanya.
Lelah, lapar, dan mengantuk.
Keduanya hanya bisa tertawa memerhatikan ekspresi masing-masing yang terlihat buruk saat mereka berdiri di pinggir trotoar pada pukul 2 malam untuk menunggu taksi yang akan membawa mereka ke hotel.
Seperti alkohol yang memabukkan, Naruto merasa jet lag tidak banyak berbeda.
Pukul 3 malam keduanya tidak lagi bisa menahan hasrat untuk tidur. Naruto merasa kasur hotel terlalu sayang untuk dilewatkan, bahkan Sai tidak peduli jika ia masih mengenakan sepatu.
.
Mata menatap kepulan asap putih dari dalam cangkir kopinya, suhu udara semakin menurun saat matahari mulai tenggelam membuatnya merapatkan jaket.
Hampir 2 jam, dan 4 cangkir kopi, tetapi si pirang masih belum menampakkan batang hidungnya.
Sai menghela napas, tubuhnya bersandar nyaman pada kursi.
Lapar juga mengantuk. Istirahat yang tidak cukup membuat tubuhnya terasa tidak nyaman. Naruto sengaja membangunkannya pada pukul 6 tadi pagi, beralasan tidak ingin membuang waktu, meskipun Sai tidak tahu mengapa harus ikut karena ini bukan kegiatannya. Dikira bisa bersantai di hotel dan menikmati pemandangan kota pada sore hari, nyatanya saat ini ia harus menunggu si pirang di kedai kopi pinggir jalan.
"Brengsek," rutuknya pelan, menghembuskan napas hangat dari mulutnya.
"Sai!"
Teriakan dari sisi kiri yang membuatnya menoleh, dalam hatinya mengucap 'Naruto akan memiki umur panjang.' sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Maaf! Aku pasti membuatmu menunggu lama ..., ada beberapa yang harus kupastikan, dan tidak kusangka memakan waktu selama ini, Sai."
Sai hanya diam memerhatikan. Naruto yang terengah, dan wajah yang sedikit memerah, membuktikan jika si pirang telah berlari hanya untuk menemuinya, dan ia merasa itu sudah sewajarnya.
"Apa kau lapar? Maaf itu pasti terdengar sangat bodoh, tentu saja kau pasti lapar, lihat saja cangkir-cangkir ini, ah, sudahlah ..., aku sangat lelah dan lapar hingga tidak tahu harus berbicara apa," ada jeda sesaat, "ayo kita pergi, mungkin ada restoran dekat sini."
"Menjawab pertanyaanmu hanya buang-buang waktu Naruto," ketus sai, melangkah tepat di samping si pirang yang kini tersenyum malu ke arahnya. "Rasanya lidahku mati rasa karena hanya menenggak kopi selama beberapa jam terakhir."
"Maaf," ujar si pirang disusul tawa.
"Lalu bagaimana? Apa kau sudah membuat keputusanmu?"
"Belum. Sepertinya aku membutuhkan lebih banyak waktu, ini tidak semudah yang kubayangkan."
"Kau harus memikirkannya matang-matang."
"Ya." Naruto mengangguk. "Sai, lihat di sana ada restoran. Aku lapar sekali, dan aku tahu kau juga, jadi ayo cepat."
Keduanya berjalan cepat, perut yang keroncongan membuat dorongan untuk berlari. Pintu kaca dengan tint warna ungu menjadi tujuan. Namun, langkah lebar mereka terhenti ketika sorot mata sosok lainnya beradu pandang.
"Sasuke?"
Nama yang baru saja disebut Naruto, membuat ingatan Sai berputar ke belakang. Begitu banyak masalah terjadi hanya karena sosok yang sama, bahkan disaat ia mulai berharap, Uchiha Sasuke masih kembali untuk menghancurkannya.
Diam dipilihnya sebagai tembok batasan. Tidak ada pertanyaan untuk diajukan, juga terlalu malas memulai basa-basi, meskipun ekspresi di wajahnya tidak bisa berbohong melihat Naruto menatap sosok itu begitu lekat.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ini tahun ketiga, kami harus mencari di mana universitas terbaik," Sai menyela.
Ada rasa puas dalam dirinya ketika bisa menjawab pertanyaan yang diajukan untuk Naruto, juga rasa puas saat melihat ekspresi tidak senang di wajah Sasuke.
Tahu masih ada banyak hal yang bisa dilakukan, tetapi memutuskan untuk diam, memerhatikan.
"Maaf, tetapi adikku ini tidak suka dipaksa."
Ingin tertawa, saat Itachi menatapnya sinis sebelum pergi bersama Sasuke. Dalam ingatannya masih jelas bagaimana pria itu membuat Naruto mengikuti keinginannya.
"Mereka selalu membuatku berpikir, apa benar semua Uchiha bersikap sama?" ujar Sai melangkah meninggalkan Naruto.
Rasa lapar menghilang, makan malam yang terasa hambar.
Tidak banyak yang dibahas. Pertanyaan dan pernyataan dihindari, lebih tepatnya tidak ingin peduli. Menolak kenyataan jika ternyata Naruto masih bersikap sama setelah bertahun-tahun lamanya, meskipun sudah berulang kali mengingatkan pada diri sendiri, sulit baginya untuk melampaui Sasuke.
Malam yang terasa panjang.
Berdiri di balkon hotel, berusaha menenggelamkan pikiran buruknya dengan pemandangan. Namun apa yang dipikirkan terlalu nyata hingga sulit baginya untuk dihilangkan.
Menarik napas, lalu menghembuskannya. Kaki melangkah ke dalam ruangan, saat si pirang mendengkur pelan. Duduk di salah satu kursi, bersandar dengan sekaleng bir dalam tangan, mata menatap pada jaket milik si pirang dan juga abu rokok yang berserakan.
Secarik kertas yang terlihat dari dalam saku menarik perhatiannya, sudah lusuh tidak lagi tampak seperti baru.
Ada rasa keingintahuan besar yang tidak bisa ditahan. Ia memutuskan niatnya tidak jadi diurungkan, jemari bergerak didasari keinginan, mata membaca tanpa hambatan.
Beberapa detik setelahnya, ia menyadari ada hal lain yang dituju Naruto di sini.
.
"Aku tidak menyangka kau menganggap hal ini sangat serius. Benar. Aku memang memberimu alamat di mana Sasuke tinggal, tetapi apa yang kau lakukan cukup membuatku terkejut. Kau datang satu bulan setelahnya meskipun kau terlihat tidak lagi peduli saat itu? Hahaha ..., kau ini benar-benar sulit diprediksi ."
"Sangat serius?" Naruto balik bertanya, "apa kau pikir semua yang kulakukan selama ini hanya main-main saja, Itachi?"
Pria yang dipanggil Itachi menggeleng singkat, lalu tersenyum tipis saat menyuap sup hangat miliknya. "Di mana Sai? Aku juga harus meminta maaf padanya untuk sikapku kemarin."
"Di hotel," sahut Naruto.
Itachi mengedik. "Tidak ikut denganmu? Ah ..., dia pasti mengira aku ini pria aneh karena bertingkah tidak mengenali kalian. Dia harus tahu yang sebenarnya, aku tidak bisa bertingkah seperti biasa di hadapan Sasuke."
"Itu tidak perlu," jawab Naruto, "aku mengajak Sai ke sini hanya untuk menemaniku mencari universitas, dia sama sekali tidak tahu apa pun tentang, kau dan Sasuke."
Itachi menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa kau menyembunyikan hal ini darinya? Bukankah sejak awal Sai tahu apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan dia juga ikut terlibat dalam hal ini."
Naruto menatap Itachi selama beberapa detik, sebelum mengalihkan pandangan. "Ada beberapa hal yang tidak lagi sama seperti dulu. Ini urusanku dan Sai, jadi kuharap kau bisa mengerti akan hal itu."
"Baiklah ..., terserah kau saja," ujar Itachi mengedik, "lagipula alasanku memanggilmu ke sini adalah tentang Sasuke."
Naruto kembali menatap Itachi, seluruh perhatiannya tersita karena merasa tertarik.
"Sejak kalian bertemu 3 hari yang lalu dia mulai bertingkah sangat aneh," ada jeda sesaat, "setiap hari pergi mengunjungi tempat yang sama, tidak ada yang dilakukan, tidak ada yang datang, entah menunggu siapa? Kukira dia hanya menginginkan waktu untuk dirinya sendiri karena kehadiranku menggangu, nyatanya tidak."
"Menunggu?" tegas Naruto.
"Menunggumu," jelas Itachi.
Naruto menggeleng, tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar, meskipun tahu ada rasa aneh bergejolak dalam hatinya yang tidak bisa diungkap kata. "Tidak mungkin, untuk apa dia menungguku?"
"Mana kutahu?" sahut Itachi cepat, "jika tahu jawabannya, aku tidak akan memanggilmu ke sini. Lagipula bukankah alasanmu ke sini untuk menemui Sasuke? Kenapa tidak menemuinya sekali lagi?"
"Aku ingin menemuinya ..., tetapi tidak tahu jika dia akan senang dengan hal itu. Bisa saja Sasuke sedang menunggu orang lain?"
"Terserahmu saja Naruto, jika menurutmu hanya dengan melihat Sasuke dan kehidupan barunya dari jauh sudah cukup membuatmu bahagia maka teruskan apa yang kau anggap benar, tetapi jika kau ingin menemuinya sekali lagi, cepatlah, karena aku hanya akan memberikanmu waktu selama 2 hari, setelah itu," ada jeda sesaat, "aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya berhenti melakukan hal yang nantinya berakhir mempermalukanku."
Diam dipilih Naruto saat Itachi pergi. Hatinya bimbang, tubuhnya mulai tidak tenang. Ada hal yang tidak diyakininya benar, meskipun terlalu takut untuk memastikan.
Tubuh perlahan bangkit dari atas kursi, melangkah keluar bangunan untuk menyusuri trotoar.
Isi kepalanya mulai penuh oleh kebingungan. Siapa yang harus dipercaya, ia tidak tahu. Perkataan Itachi sangat meyakinkan, tetapi ia juga tahu bagaimana buruknya dahulu diperlakukan.
Sasuke tidak mungkin menunggunya. Berulang kali mengucap kata yang sama, menanam keyakinan jika itu benar adanya dalam kepala. Namun entah mengapa masih ada rasa tidak nyaman dalam hatinya.
Menarik napas panjang lalu membuangnya.
Naruto mempercepat langkah kakinya menuju bangunan bertingkat seberang jalan. Jemari menarik pintu utama yang terbuat kaca, melangkah menuju lift, dan menekan salah satu tombolnya.
5 menit selanjutnya, ia disambut ramah oleh Sai yang tersenyum dari balik pintu.
"Makan malam?"
Naruto mengangguk. Melepas jaket yang dikenakan, menggantungnya di balik pintu, sebelum merebahkan tubuhnya pada kasur.
"Ada ramen instant di dalam laci, itu milikku, tetapi kau boleh memakannya," ujar Sai dari arah sofa.
Naruto tersenyum tipis meskipun lawan bicaranya tidak melihat. Tubuhnya dihadapkan pada tembok, mata menatap kosong dinding yang dilapis cat warna putih.
"Sai," panggilnya.
Dari atas sofa, pria yang dipanggil Sai menoleh.
"Jika kau harus memilih satu di antara 2 pilihan ..., apa yang kau lakukan?"
"Memilih yang paling kusukai? Bukankah memang itu sudah menjadi sifat alami manusia?" Sai balik bertanya, "kau tentu tahu apa yang kau inginkan, Naruto. Kau dihadapkan dengan 2 pilihan, dan kau tidak tahu harus memilih yang mana itu sama saja dengan omong kosong. Kau tidak mendapatkan hal yang kau inginkan pada pilihan pertama, maka kau akan berpaling pada pilihan kedua. Akan selalu ada persamaan di antara mereka, karena kau selalu menggunakan pilihan pertama sebagai refrensi. Pilihan kedua akan selalu menjadi salinan, jadi menurutku untuk apa buang-buang waktu? Pilih saja pilihan utama, kenapa sulit sekali untuk menentukan pilihan universitasmu?"
Hening untuk beberapa detik, sebelum Naruto membiarkan tawanya terdengar pelan.
"Kau mungkin benar, Sai. Mengapa sulit sekali bagiku untuk menentukan pilihan, meskipun ..., aku tahu apa yang kuinginkan," sahut Naruto, "kurasa universitas memang membingungkan, huh?"
Sai tidak lagi menyahut tanda percakapan mereka telah berakhir, sedangkan Naruto masih dalam posisinya yang sama, belum mengantuk, hanya kelopak matanya saja yang terasa berat.
Waktu yang singkat.
Keesokan paginya kembali mengunjungi beberapa universitas incaran. Sai tidak lagi menemani, menolak tegas karena lebih memilih untuk menikmati waktu terakhirnya di kota ini sendiri.
Tidak ada banyak waktu tersisa, tidak banyak memiliki pilihan. Dalam 36 jam mereka kembali. Pesawat keberangkatan menunggu pada pukul 7 besok malam. Hari itu keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, keduanya juga memutuskan untuk kembali saat matahari tenggelam.
Malam lainnya terlewati.
"Sai," panggil Naruto dari atas sofa.
Si pucat yang bersandar pada tepi kasur menoleh.
"Ada hal penting yang harus kulakukan. Kau bisa lebih dulu pergi, tidak usah menunggu."
Sai menaikkan sebelah alisnya tidak paham, meskipun tidak mencoba untuk bertanya. "Terserahmu saja, selagi kau masih mengingat pada pukul berapa pesawat akan pergi, itu bukan urusanku."
Naruto bisa merasakan adanya perubahan pada Sai. Nada yang terdengar dingin, tidak seperti biasanya.
"Ya," sahut si pirang.
Sore hari bersuhu dingin, keduanya memiliki tujuan berbeda. Tepat saat jarum pendek menunjuk ke arah 4, dari depan pintu kaca keduanya memutuskan untuk melangkah ke arah berlawanan.
Langkah pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima. Dilangkah keenam Naruto menoleh untuk memastikan, tetapi sejauh matanya melihat, Sai tidak lagi ada di sana.
Uap putih berasal dari mulutnya, jaket dirapatkan, ia memalingkan wajahnya untuk melanjutkan langkah.
Tempat yang sama yang pernah dikunjunginya waktu itu, beberapa langkah lagi, hanya sedikit lagi, tetapi kakinya memutuskan untuk berhenti.
Jantungnya berdegup, kedua tangannya menjadi dingin. Rasa aneh yang membuat isi perutnya seakan diputar. Rasa aneh yang seharusnya dirasakan remaja jauh lebih muda darinya.
Gugup, ia tidak melanjutkannya karena terlalu gugup. Matanya memandang sekitar, tampak toko koran kecil di seberang jalan. Tidak menunggu lama, ia memutuskan untuk pergi ke sana.
Berbekal majalah yang sengaja dibeli meskipun tidak dibaca, ia menunggu jantungnya kembali tenang. Dalam hati merutuk kasar karena merasa semakin payah tiap kali berurusan dengan si Uchiha.
30 menit, ia merasa jantungnya mulai bisa dikendalikan. Berulang kali mengucap 'tidak perlu gugup karena belum tentu dia ada di sana' dianggap jitu untuk membantunya.
Saat matahari mulai terbenam, kakinya kembali melangkah.
Pintu kaca dengan tint warna ungu yang tidak bisa dilupakannya meskipun dipaksa. Jemari menarik gagang pintu, kaki melangkah masuk, pandangan matanya bergerak ke segala arah, lalu terfokus pada salah satu sosok yang duduk tidak jauh darinya.
Semula tidak percaya dengan apa yang dilihat. Namun saat sosok itu menatap balik ke arahnya, ia tahu matanya tidak berhalusinasi.
Sasuke ada di sana, seperti apa yang dikatakan Itachi. Sasuke menunggunya, berhari-hari lamanya, di tempat yang sama, saat mereka kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya.
"Huh?"
Bibirnya tidak kuasa untuk memamerkan cengiran lebar, bahkan kakinya yang semula sulit melangkah terasa ringan saat mulai menghampiri sosok yang duduk tidak jauh darinya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi! Jika aku tidak pergi ke sini ..., mungkin aku tidak akan melihatmu lagi."
Tertawa meskipun terlihat memaksa, mungkin saja ia melewatkan kesempatan yang akan disesalinya seumur hidup jika saja pilihannya berubah di menit terakhir.
Saat Sasuke membuka mulutnya, itu membuat jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Beberapa pertanyaan dilayangkan si Uchiha, dan ia mencoba untuk menjawab dengan sebisanya.
"Kau tidak bersamanya hari ini?"
"Siapa?"
"Sai."
Ada banyak yang ingin Naruto katakan. Namun mulutnya tidak bisa bekerjasama baik dengan otak.
"Bukankah kalian selalu bersama? Aku ingat Sai pernah mengatakannya padaku, jika kalian ini sahabat ..., bahkan lebih dari itu."
"Lebih dari itu?" ulang Naruto.
"Jadi kalian ini, huh? Seperti ..., semacam sepasang kekasih atau?"
"Itu gila," menyahut cepat, tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar. Bibir pucat itu tidak bertanya, tetapi menuduhnya.
"Memangnya apa yang salah dengan itu? Kau pernah menyukaiku dulu, untuk menyukai pria lainnya tidak sesulit itu, bukan? Kenapa? Apa kau pikir aku akan terganggu dengan fakta itu? Tidak perlu tekejut, aku terbiasa dengan hal semacam itu, apa kau lupa? Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kau dan leluconmu itu mengajariku banyak hal te—"
Naruto memotong kalimat Sasuke dengan sengaja, karena ia merasa semuanya sudah melebihi batas. Keduanya saling menatap, menunggu satu sama lain untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sampai saat ini pun, aku masih ..., aku masih mencintaimu Sa—"
"Tentu ..., kau masih mencintaiku. Tidak perlu mengatakannya berulang kali, aku sudah tahu. Karena itu adalah memori terburuk yang pernah kumiliki."
Apa yang diharapkannya terlalu tinggi.
Naruto memalingkan wajah, menunduk dengan senyuman getir di bibir. Rasa sakit tidak lagi ada di hatinya, mungkin ia telah mati rasa setelah berulang kali merasakan hal yang sama.
"Maaf Sasuke, orang bodoh sepertiku, ternyata sangat egois."
Kakinya tidak menunggu untuk melangkah. Begitu cepat bahkan hampir berlari. Tidak lagi menoleh ke belakang, tidak lagi peduli.
Bertahun-tahun lamanya, sosok itu masih sama. Wajah, tubuh, sifat, cara berpikir, dan rasa bencinya.
Ia malu untuk mengakui, lagi-lagi terjerumus dalam masalah yang sama. Bodoh. Mungkin itu julukan yang pantas karena ia masih berharap meskipun tahu kebenarannya, sama seperti yang Sai katakan.
Rasa cinta yang selalu membuatnya hanyut terlalu berbahaya, ada perubahan sedikit saja, dan ia merasa berada di atas segalanya, meskipun belum tahu jika itu benar adanya. Buta, tidak tahu mana jalan yang harus dituju. Halusinasi dan kenyataan hampir terlihat sama saat dirinya tidak mau mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Anehnya setelah semua yang ia alami, tidak ada rasa benci sedikit pun dalam hati. Sasuke akan selalu menjadi sosok yang menempati hatinya, tidak peduli jika cintanya terbalas atau tidak.
.
End
A/N : Setelah sekian lama, akhirnya bisa juga bikin author's note kalo fic ini selesai, bukan janji kapan mau dilanjut, /yang nulis yang terhura, karena ini fic bejamurnya mana hanta heu/. Untuk ending, fic ini dari awal emang sengaja di bawa ke arah yang ga enak/depressing/, meskipun jelas dua-duanya saling cinta. Lebih enak gini menurut hathr, kalo happy end jatohnya terlalu maksa, jadi happy endnya nanti di fic lain aja ya.
