Beautiful Mistake

.

.

.

.

Haruno Sakura, Uchiha Sasuke

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

.

.

JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN! DLDR!

Selamat membaca!

oOo

Temari memandang suaminya dengan pandangan bingung. Suaminya sekarang berwajah sangat pucat, seperti baru melihat hantu. Iris jadenya memandang ibu mertuanya yang tampak biasa saja, dia menjadi curiga dan mendadak perasaan buruk menyergap hatinya.

"Itachi-kun.."

Seolah kembali ke dunia nyata, Itachi memandang istrinya. Dia memandang mata milik Temari dan merasakan perasaannya berangsur-angsur membaik. Menghela napas panjang, pria berambut hitam itu memandang kedua putranya.

"Itazuna, Itazura." Itachi memanggil kedua putranya. "Tou-san akan ke keluar sebentar bersama dengan kaa-sanmu, tolong jaga nenekmu sebentar. Jika terjadi sesuatu, tekan tombol merah disamping tempat tidur nenekmu dan dokter atau perawat akan datang. Tou-san keluar sebentar."

Temari mengikuti suaminya keluar dari ruang rawat ibunya. Dia tidak banyak bicara, dia sudah mengenal Itachi sejak mereka masih berada di sekolah dasar. Jadi, dia sudah mengenal Itachi luar dan dalam. Jadi, ketika Itachi mengajaknya bicara berdua, maka ada yang mengganggu suaminya.

Itachi menuju mesin minuman dan mengambil kaleng kopi sebelum memberikannya pada istrinya. Itachi sendiri mengambil minuman bersoda.

"Terima kasih."

Duduk di samping istrinya. Itachi menghela napas panjang.

"Ada apa, Itachi-kun?" tanya Temari.

"Apa kamu melihat wanita berambut pink tadi?"

"Oh, dokter yang memeriksa kaa-san tadi?" Temari menatap Itachi dengan pandangan curiga. "Memangnya kenapa?"

"Namanya Haruno Sakura. Aku sudah lama tidak mendengar namanya sejak Sasuke lulus sekolah menengah atas. Dia.. Mungkin sama seperti kita."

"Maksudmu?"

Temari mulai paham kemana arah pembicaraan Itachi. Sebelum menikah dengan Itachi, dua bulan yang lalu. Mereka memang menjalani hidup yang tidak diduga. Dia dan Itachi terlibat malam panas dan hamil, dia menyembunyikan kehamilannya hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.

Itachi kemudian menyadari perasaannya dan penantiannya selama ini tidaklah sia-sia. Itachi merupakan sosok pria yang perhatian, tidak sia-sia dia menunggu pria itu selama ini meski dia harus berjuang melawan rasa pedihnya.

"Apa maksudmu..."

"Ya. Sakura dan Sasuke sudah berteman sejak sekolah dasar. Sakura juga pernah mengatakan perasaannya dulu pada Sasuke namun Sasuke tidak menanggapinya. Aku tahu, tipe wanita Sasuke bukanlah seperti Sakura, namun aku tidak mau Sasuke terlambat menyadari jika Sakura adalah wanita terbaik yang memiliki Cinta yang tulus untuknya." Itachi mengusap wajahnya. "Aku tidak tahu, takdir apa yang sedang mempermainkan mereka berdua."

Temari merasa sedikit lega ketika mendengar cerita suaminya. Tadinya ia sempat berfikir, jika wanita berambut pink tadi memiliki hubungan spesial dengan suaminya. Dia menjadi malu sendiri dan memilih untuk tidak mengutarakannya pada Itachi. Bisa-bisa suaminya malah menertawakannya. Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.

"Apakah.." Temari memandang suaminya. "Apakah mereka melakukannya?"

Itachi memandang istrinya dengan pandangan bingung.

"Maksudmu?"

Temari menjadi ragu-ragu.

"Apakah.. Sakura hamil dan memiliki anak?"

Ah, Itachi baru paham. Dia menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Meski Temari tidak pernah mengatakannya, pastilah hatinya sangat sakit ketika mengingat kembali perjuangannya membesarkan Itazura dan Itazuna, bekerja part time dan harus menyelesaikan kuliahnya. Temari adalah wanita yang baik, dia tidak mau orang lain bernasib sama dengannya. Dan dia menyesal, mengapa dia tidak menikahi Temari dari awal.

"Apapun masalah mereka dan bagaimana akhirnya, hanya mereka berdua yang akan menjalaninya, kita tidak ada hak untuk ikut campur."

"Yah, kau benar."

"Ah, itu Itachi-nii dan Temari-nee."

Pasangan suami-istri itu menolehkan kepalanya dan melihat Karin yang sedang menggandeng lengan Sasuke. Mereka berdua sepertinya berkunjung untuk melihat kondisi ibu mertuanya.

"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bulan madu." Sasuke memandang kakaknya.

"Kami tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Kamu sedang sibuk-sibuknya dengan drama yang akan kamu mainkan, lalu siapa yang akan menjaga kaa-san?" Itachi menepuk bahu adiknya. "Sebaiknya kamu segera menemui kaa-san."

.

.

.

"Maafkan aku, Neji. Pekerjaan kantorku sedang menumpuk dan sedang ada trouble."

"Tidak masalah, Sasori-nii. Lagipula kami akan ke rumah sakit untuk menjemput Sakura. Kebetulan shiftnya sebentar lagi akan selesai."

"Baiklah, aku percayakan keponakanku yang cantik padamu."

Neji mematikan sambungan telepon dan memandang Sarada yang sedang duduk di kursi penumpang sembari meminum susu strawberry kesukaannya. Neji tidak bisa menahan senyumannya, Sarada memang benar-benar anaknya Sakura.

Dia masih ingat, saat itu musim gugur di bulan Oktober. Cuaca sedang dingin dan mereka berjalan menyusuri jalanan Tokyo. Kebetulan, ada kedai susu yang mereka lewati dan Sakura merengek ingin susu strawberry. Saat mendapatkannya, Sakura terlihat sangat senang dan menggemaskan. Persis seperti Sarada.

"Kita mau kemana, paman?" tanya Sarada.

Sarada memandang paman berambut panjang yang dia ketahui bernama Hyuuga Neji. Ibunya bilang, paman Neji adalah teman ibunya dan seorang pria yang baik. Lagipula, paman berambut panjang itu juga sering main ke rumahnya dan membawakannya banyak makanan.

"Kita menjemput ibumu, bagaimana?" Neji memandang jam di tangannya. Sepertinya mereka akan tepat waktu.

Mata Sarada berbinar dan terlihat sangat menggemaskan. Neji tidak bisa menahan senyumnya. Rasanya, dia bisa melihat temannya versi wanita. Menghela napas panjang, memorinya kembali ke masa lalunya.

Saat itu, dia terkejut ketika melihat Sakura yang muncul di apartemennya dengan kondisi yang kacau dan basah kuyup. Dia baru mengenal Sakura selama setahun sebagai sesama penulis yang sedang naik daun. Dia menyukai pribadi wanita itu yang mudah bergaul dengan siapa saja, namun memiliki mood yang menyeramkan terutama saat akan 'kedatangan tamu'.

Sakura memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Wanita itu mengatakan tragedi yang menimpanya dan Neji tidak menyangka jika Sakura akan melakukan hal itu. Namun, dia berfikir rasional dan memberikan saran untuk sahabatnya itu. Dia senang, jika pada akhirnya Sakura bahagia dengan kehidupannya.

Rumah sakit sudah terlihat dan Neji segera memarkir mobilnya.

.

.

.

"Bagaimana kondisi kaa-san?" tanya Sasuke.

"Kaa-san baik-baik saja."

"Mou, kaa-san harus banyak beristirahat."

Itachi melirik Temari yang menatap Karin dengan pandangan tidak suka. Istrinya memang pernah mengeluhkan sikap Karin yang menjengkelkan dan menyebalkan. Bagi Temari, dia merasa jika Karin tidak menghargainya dan hanya fokus pada Sasuke dan juga Itachi. Bahkan, dia merasa jika di depan Mikoto, Karin hanya mencari perhatian.

Mungkin, karena dirinya yang iri, jadi dia menanamkan kesan positif pada Karin. Namun, hal yang menyebalkan terjadi. Suatu ketika, Sasuke tidak pulang ke rumah dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Dia menghubungi Karin namun tidak ada balasan. Dan ketika Itachi yang menghubunginya, Karin langsung membalasnya dengan cepat. Sungguh menyebalkan dan dia tidak menyukai wanita itu.

"Aku akan keluar sebentar." Sasuke bangkit dari posisi duduknya.

"Sasuke-kun, kamu mau kemana?" tanya Karin.

"Hn. Merokok."

Mata hitam milik Itachi memandang kepergian adiknya. Sasuke memang menjadi pecandu rokok entah sejak kapan. Mungkin, ini karena Sasuke frustasi saat mencari pekerjaan dan akhirnya menjadi pecandu rokok. Seingatnya, teman-teman Sasuke sebangsa Naruto, Kiba atau yang lainnya tidak merokok setelah berkeluarga. Mungkin, Sasuke harus segera menikah agar bisa merubah kebiasaannya.

"Ne, Itachi-nii." Karin duduk di samping Itachi. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"

Dan wajah Temari semakin masam.

.

.

.

Sasuke berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Entah mengapa, pikirannya berkecamuk dan dia tidak tahu dari mana asalnya. Drama yang dibintanginya sudah selesai dan produsernya, Jiraiya dan sutradaranya, Yamato, ingin membicarakan tentang drama baru yang akan dibintanginya.

Hal yang dia dengar, Karin akan menjadi pemain pembantu yang bersifat antagonis dan dia akan dipasangkan dengan seseorang yang merupakan teman dari Neji. Dan entah mengapa, hal itu mengganggunya.

Dari kejauhan, dia bisa melihat Hyuuga Neji dengan jas coklat miliknya sedang menggandeng bocah perempuan kecil dengan rambut hitam yang terlihat lucu.

"Neji?"

Neji tampak terkejut ketika melihatnya. Namun, pria berambut panjang itu segera menguasai dirinya.

"Apa yang kamu lakukan disini, Sasuke?"

"Ibuku baru selesai operasi. Aku meluangkan waktu untuk menjenguknya." Sasuke menatap bocah perempuan itu. "Kau sendiri?"

"Aku akan bertemu dengan kenalanku." Neji tersenyum.

"Dan dia-?"

"Dia putrinya." Neji menggandeng tangan Sarada. "Sebaiknya kami segera permisi, Sasuke."

"Hn."

Neji berjalan melewati Sasuke dan tidak sengaja, mata hitam miliknya bertatapan dengan mata hitam milik gadis kecil itu. Sasuke memandanginya hingga hilang di belokan ruangan. Ada sesuatu yang mengganggunya ketika menatap gadis kecil itu.

"Sasuke-kun." Karin berjalan menghampirinya dan bergelayut manja. "Sudah selesai merokoknya?"

"Belum."

.

.

.

.

"Yugao-san, aku pulang dulu." Sakura memasukan barang-barangnya ke dalam tasnya.

"Hati-hati, Sakura-chan."

"Mama!" Sarada masuk ke dalam ruangannya dan langsung memeluknya.

"Sarada? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Sakura.

"Paman Neji mengajak Sala kesini, katanya mau menjemput mama dan makan." Sarada menatapnya dengan pandangan menggemaskannya. Emeraldnya menatap Neji yang berdiri tidak jauh darinya dan tersenyum.

"Kenapa kamu yang menjemputnya?"

"Kakakmu yang menghubungiku dan memintaku untuk menjemput Sarada. Kebetulan aku senggang dan ingin makan siang juga."

"Baiklah." Sakura menggandeng tangan Sarada. "Sarada ingin makan apa?"

"Pizza!" Sarada menjawab dengan semangat.

"Baiklah, baiklah. Katakan pada paman Neji, ya."

Hyuuga Neji tersenyum lembut menatap bagaimana Sakura dengan telaten mengurusi Sarada. Sakura memang benar-benar pantas menjadi seorang ibu dan dia turut bersyukur.

Dia adalah saksi hidup bagaimana terpuruknya Sakura. Wanita itu datang dan menangis, mengatakan jika dia hamil. Ketika dia bertanya siapa ayahnya, Neji tidak bisa menahan kegeramannya. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Mengapa wanita sebaik Sakura rela melakukannya hanya karena pria itu Cinta pertamanya?

Namun, lambat laun dia belajar. Jika Cinta pertamalah yang mengajarkan apa itu arti Cinta, apa itu arti kebohongan dan kepalsuan juga rasa sakit. Dari Sakura, dia belajar semua itu dan bersyukur karena Sakura tidak jadi menggugurkan bayi dalam kandungannya. Mungkin, semuanya akan lain jika saat itu dia tidak mencegahnya.

"Baiklah, ayo kita makan pizza."

.

.

.

.

Jam menunjukan pukul sebelas malam ketika Sasuke terbangun. Matanya menatap ruangan tempat ibunya dirawat dan memandang sekelilingnya. Kakaknya dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumah guna mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk keesokan harinya.

Mengusap peluh di dahinya, Sasuke bangkit dari posisi duduknya dan mengambil botol air mineral sebelum meneguknya hingga habis. Mimpi itu datang kembali dan setiap kali mimpi itu datang, dia tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya. Rasanya sangat menyebalkan.

Mencoba untuk tidak membuat suara yang bisa membuat ibunya terbangun, Sasuke mendudukan dirinya di sofa. Bayangan bocah perempuan yang bersama Neji terlintas di benaknya. Ada sesuatu yang mengganggunya tentang bocah perempuan itu.

Ah, rasa kantuknya menjadi hilang sekarang.

.

.

.

"Maafkan aku karena merepotkanmu, Neji-kun."

Mobil milik Neji berhenti di depan kediaman Haruno. Setelah makan, Sarada merengek ingin jalan-jalan dan Neji menurutinya. Sebenarnya, Sakura sudah mengatakan untuk tidak terus menuruti keinginan Sarada karena bocah kecil itu harus diajarkan tentang pengalaman hidup. Namun, Neji menuruti semua kemauan Sarada hingga pukul sebelas malam mereka baru sampai di kediaman Haruno dan Sarada tertidur nyenyak di kursi belakang penumpang.

"Tidak apa, Sakura. Aku senang."

Sakura menghela napas panjang dan membawa beberapa belanjaan mereka. Sedangkan Neji menggendong bocah kecil itu yang sedang tertidur lelap. Dari luar, Sakura bisa mendengar suara televisi dan dia yakin jika masih ada yang terjaga di dalam rumahnya.

"Tadaima." Sakura membuka pintu rumahnya.

"Okaerinasai." Sasori muncul dengan pakaian rumahannya. "Kenapa baru pulang? Kenapa ponselmu dan Neji mati?"

"Oh, kami kehabisan batrai jadi ponsel kami mati." Sakura tersenyum.

Neji melangkahkan kakinya masuk sembari menggendong Sarada.

"Maaf karena kami pulang kemalaman." Neji sedikit membungkukan badannya. "Sarada ingin berjalan-jalan dan aku tidak bisa menolaknya."

"Yah, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kenapa ponsel kalian mati."

"Begitulah Neji-kun, dia selalu luluh dengan anak-anak." Sakura tertawa kecil. "Oh ya, Neji-kun membelikanmu dua kotak pizza."

"Hahaha.. Mau mampir untuk nonton bola bersama?" tanya Sasori.

"Mungkin lain kali, Sasori-nii." Neji tersenyum simpul. "Aku harus pulang kareba masih memiliki banyak pekerjaan besok. Sampai jumpa, Sasori-nii, Sakura."

Sakura mengantarkan Neji hingga pria itu masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya hingga hilang di tikungan jalan. Terkadang, Sakura bersyukur karena memiliki teman seperti Neji.

.

.

.

Menunggu itu adalah hal yang membosankan.

Begitulah pikir Sasuke. Dia sangat benci menunggu dan sekarang dia berada di perusahaan manajemen yang akan bekerja sama dalam drama yang akan mereka mainkan. Disini, ada banyak aktris dan aktor yang telah di seleksi dan di casting secara ketat untuk menghasilkan drama yang mengejutkan masyarakat Jepang.

Jiraiya selaku sutradara tidak pernah memakai aktor dan aktris yang abal-abal dalam produksi dramanya dan menjadi salah satu sutradara hebat dan berpengaruh di Jepang.

"Kita masih menunggu siapa?" Karin buka suara.

"Neji dan pemain utamanya belum datang." Yamato menanggapi.

"Yah, aku sudah melihat rekaman castingnya. Dia benar-benar hebat, kenapa Neji baru membawa wanita itu sekarang?" Jiraiya memandang Yamato.

"Oh, dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter dan penulis. Neji selalu menawarkannya untuk bergelut di seni peran dan baru ini dia menerimanya."

"Penulis, ya. Tidak heran. Penulis dan dokter adalah kombinasi yang menakjubkan. Hebat juga wanita itu."

Karin merasakan telinganya panas. Dia sudah berada di dunia entertainment selama hampir lima tahun dan mendapatkan banyak pujian karena bisa bermain di seni peran. Namun, ini adalah drama impiannya. Bermain drama bersama dengan sutradara hebat dan berada di tim yang hebat merupakan impiannya. Jadi, dia terkejut ketika ditawari bermain seni peran meski hanya sebagai pemeran sampingan saja.

Dan rasanya, ketika mendengar aktris baru yang bahkan tidak memiliki pengalaman apapun dipuji oleh sutradara hebat, membuatnya panas.

Matanya melirik Sasuke yang sedang memainkan ponselnya. Setidaknya, sejak dia berpacaran dengan Sasuke namanya mulai melambung. Karena bagaimanapun, Sasuke merupakan salah satu aktor yang digandrungi dan dia merasa bangga ketika melihat tatapan iri wanita-wanita di luar sana ketika melihatnya jalan bersama Sasuke.

"Maaf, aku terlambat."

Hyuuga Neji muncul dengan setelan jas berwarna hitamnya. Sasuke meletakan ponselnya dan memandang Neji yang tersenyum menawan. Dia dan Neji pernah berada di sekolah menengah atas yang sama. Mereka memang suka nongkrong dan jalan bersama dengan teman-temannya yang lain. Namun, Neji adalah orang yang cerdas dan tidak heran jika Neji menjadi penulis bestseller yang terkenal dengan karya novelnya yang Indah.

Neji bukanlah Naruto yang berbicara seenaknya dan tanpa pikir panjang. Neji adalah tipe pria misterius yang segala kata-katanya sudah diatur hingga tidak menyinggung siapapun atau mengatakan tentang pribadinya. Neji adalah tipe pria yang tertutup.

"Mana wanita itu, Neji? Aku sudah tidak sabar ingin membicarakan project besar ini dengannya."

"Sebelumnya, saya minta maaf karena keterlambatan saya sebelumnya." Neji memandang sekelilingnya. "Saya adalah Hyuuga Neji dan kalian pasti sudah mengenal saya sebagai seorang penulis, kebetulan saya akan mengenalkan pemeran utama untuk drama yang akan dimainkan kali ini."

"Kebetulan, Neji adalah penulis naskah dramanya. Jika kalian sudah membacanya, ceritanya sangat menarik," ucap Yamato.

Sasuke bisa merasakan Neji menatapnya dengan pandangan meremehkan sekilas. Apa-apaan itu tadi? Dia merasa jika Neji sedang mengintimidasinya.

"Dia adalah seorang dokter dan juga penulis. Kebetulan dia adalah teman dekat saya, silahkan masuk."

Pintu ruangan dibuka dan Sasuke bisa merasakan detak jantungnya berhenti ketika melihat siapa yang masuk. Sejenak, beberapa orang yang terlibat tertegun ketika melihat wanita itu.

Rambut panjangnya diikat keatas, mengenakan pakaian berwarna putih dengan blazer berwarna pink yang senada dengan rok mini yang dikenakannya. Dipadukan dengan sepatu boots berwarna putih yang menambah kesan tinggi dan jenjang pada kakinya.

Rasanya, Sasuke kesulitan bernapas. Kenapa.. Kenapa..

"Perkenalkan, namanya adalah Haruno Sakura dan dia yang akan menjadi pemain utama wanita di drama ini."

Karin memandang kekasihnya dengan pandangan bingung. Sasuke tidak bergerak sama sekali dan memandangi wanita itu tanpa berkedip. Hatinya menjadi semakin panas.

"Perkenalkan, saya adalah Haruno Sakura. Salam kenal dan mohon bantuannya."

Kenapa Sakura ada disini?!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Halohaaaaaaaa... Ada yang menunggu fict ini?

Aduh, maafkan Saku karena banyaknya pekerjaan di dunia nyata yang menumpuk dan Saku belum dapat jatah libur, jadi susah mengatur waktu untuk menyelesaikan satu fict.. Semoga reader suka ya hehe..

Oh ya, jangan lupa tinggalkan review di cerita Saku ya. Hhaha.. Karena review kalian merupakan semangat kami para author.

Special's thanks to :

Nyanko-un, Saskey saki, faded light505, Guest(1), Xiuka07, byjoe, Guest(2),Sisi, colacolacola, Guest(3), Bananaris, Uchiharuno Kid, Sleepyash2823, Reeoocdi, ai cwhaan, Hanazono Yuri, kliwon 12, Azaleea em, Guest(4), sqchn, erlevss, luhputusetia-p, Azu Aa, Kim tataa, Yeari, Guest(5), silent reader XD, Kokorolove4, vj Ayu.

Ada yang salah sebut atau belum kesebut? Maaf jika ada yang terlupa dan terima kasih banyak!

Sampai ketemu di chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-