Beautiful Mistake
.
.
.
.
.
.
.
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke
.
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN!
DLDR!
Selamat Membaca!
oOo
"Sa-Sasuke-kun.. Apa yang kamu lakukan disini?"
Pria dengan seragam sekolah miliknya memandang seorang wanita berambut pink yang berdiri dihadapannya. Tidak ada yang tahu kesukaannya berada di atap sekolah disaat dia suntuk seperti ini.
"Bukan urusanmu."
"Aku kesini hanya khawatir padamu." Sakura duduk di sebelah Sasuke.
"Bagaimana lukamu?"
"Tidak apa. Hanya luka kecil." Sakura mengusap pipinya.
"Cut!"
Sakura menghela napas panjang ketika terdengar suara dari Jiraiya. Rasanya melelahkan dan hari sudah mulai sore, matahari sudah hampir terbenam ketika mereka selesai syuting.
"Bagus, Sakura." Jiraiya tersenyum. "Kita bahkan mendapatkan banyak scene. Sepertinya ini akan selesai dengan cepat."
"Tolong kalian lebih berlatih lagi." Yamato memandang pemainnya yang sedang beristirahat. "Jangan mau kalah dengan Sakura yang bahkan baru sekali bermain peran namun langsung bisa menyelesaikan scenenya dengan baik."
"Baik."
Matsuri memandang Sakura dengan pandangan mengagumi miliknya. Seniornya ini memang multitalenta. Segala sesuatu bisa dia lakukan, mulai dari mengobati orang, melakukan operasi tanpa kesalahan, menerbitkan novel yang sangat memukau dan kini dia melakukan acting dengan Bagus.
Sakura tersenyum dan menghampiri kakaknya, Yugao dan juga Matsuri. Dia tertawa ketika mendengar celoteh calon kakak iparnya jika dia masih pantas mengenakan seragam sekolah dan tidak terlihat seperti ibu dengan satu anak yang lucu.
Sasuke memandang Sakura sembari meneguk minumannya. Sial. Dia sangat geram dengan tingkah sombong milik Sakura yang menolaknya secara terang-terangan ketika dia ingin mengajak wanita itu berbicara. Tetapi, dia penasaran dengan tingkah Sakura yang berubah terhadapnya itu.
"Sakura, setelah ini apa kamu ada acara?"
Karin melotot memandang kekasihnya yang tiba-tiba mendekati wanita berambut pink itu. Api cemburunya mulai meledak dan jika tidak mengingat ini di tempat umum, dia tidak akan segan untuk menjambak rambut Sakura. Berani sekali mendekati kekasih orang.
Sedangkan Sakura memandang Sasuke tanpa minat. Mau apa lelaki ini menghampirinya dan mengajaknya berbicara? Sepertinya Sasuke menjadi begitu keras kepala dan bebal. Menyebalkan sekali. Seharusnya dia tidak menerima tawaran menjadi artis jika pada akhirnya akan berurusan dengan pantat ayam ini.
"Sudah aku katakan jika aku tidak ingin bicara diluar urusan pekerjaan."
Sasuke merasa jika wanita dihadapannya benar-benar berubah. Sejak kapan Sakura yang ceria, manis dan murah senyum menjadi jutek, sombong dan menyebalkan. Ah, dia lupa jika dia yang membuat Sakura seperti ini dan ini adalah kesalahannya.
Sasori menatap Sasuke dengan pandangan tidak suka miliknya. Sebagai salah satu orang terdekat Sakura, sedikit banyak dia membantu adiknya dan mengetahui perihal siapa ayah kandung dari Sarada. Dulu, dia yang mencegah mati-matian agar Sakura tidak menggugurkan kandungannya dan membantu adiknya untuk bicara dengan kedua orang tua mereka.
Sekarang, dia bisa melihat Sasuke dari dekat dan ingin rasanya dia memukul wajah tampan itu. Biarpun Sasuke disini bersalah, tidak dia pungkiri jika adiknya bodoh dan bersalah juga.
"Oh, apakah syutingnya sudah selesai?"
Hyuuga Neji datang dengan setelan jas berwarna hitamnya dan Sasuke bisa merasakan senyum Sakura begitu merah merekah. Wanita berambut pink itu langsung mendekati Neji dan pria berambut coklat itu memeluk pinggang langsing Sakura dan tersenyum.
"Kenapa baru datang?" tanya Sakura.
"Aku harus mengurus sesuatu dan bagaimana dengan syutingnya?" Neji mengelus pipi Sakura dengan lembut.
"Aku berhasil mendapatkan beberapa scene." Sakura menggandeng lengan Neji. "Oh ya, Neji-kun. Ngomong-ngomong soal pekerjaan, boleh aku menitipkan salah satu naskahku dan serahkan pada pak editor? Boleh yaa.."
"Iya, iya, dasar cerewet."
Karin mendekati Sasuke dan dia bisa melihat pandangan mematikan milik Sasuke ketika menatap Sakura. Dia harus segera bertindak atau Sasuke akan hilang dari pelukannya.
"Baiklah, syuting hari ini selesai dan terima kasih atas kerja kerasnya!"
"Terima kasih atas kerja kerasnya!"
.
.
.
.
Sasuke mengguyur tubuhnya dibawah shower. Dia memejamkan matanya dan merasakan sesuatu yang menyeruak di dalam dadanya. Semua Uchiha egois dan memang itu kenyataannya. Kakaknya bahkan mengejar Temari hingga membuat wanita itu tak berkutik dan menerima ajakan kakaknya untuk menikah. Setelah selama ini, mengapa baru hari ini dia merasa resah?
Dia dan Sakura berteman sejak mereka berada di sekolah dasar. Bersama dengan Naruto, Sai, Shikamaru dan teman-temannya yang lain. Dia dan Sakura berpisah setelah lulus dari sekolah dasar dan dia bertemu dengan Neji di sekolah menengah atas bersama dengan Naruto dan istrinya, Hinata. Dia tidak pernah tahu, jika Sakura dan Neji saling mengenal.
Dia juga berteman dengan beberapa sosial media milik Sakura dan melihat beberapa postingan Sakura dengan beberapa pria yang dia duga sebagai kekasih, mantan kekasih, atau teman atau apapun itu. Dia tidak pernah merasa seperti ini, merasa dadanya sangat sesak. Terakhir kali dia merasakan hal ini, saat dia merintis karir sebagai pelayan restaurant dan kekasihnya meninggalkannya entah dengan alasan tidak jelas, tetapi yang dia tahu pasti, karena kondisi ekonominya.
Butuh waktu lebih dari seminggu untuk bisa bangkit lagi dan perasaan sesak ketika melihat mantan kekasihnya bersama dengan orang lain. Dan perasaan yang sama datang ketika dia melihat Sakura bersama dengan Neji. Dia sebenarnya sudah tertinggal seberapa jauh?
Keluar dari kamar mandi dengan celana panjang tanpa atasan, matanya memandang Karin yang duduk diatas ranjangnya dengan pose sensual dan gaun malam yang begitu minim. Memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda, namun di mata Sasuke biasa saja.
Mungkin, karena urusan pekerjaan dan Sakura yang menyita pikirannya, dia merasa bosan dengan Karin. Namun, dia juga merasa muak karena suatu hal yang dia yakin akan menjadi boomerang bagi wanita itu nantinya.
"Sasuke-kun."
Sebuah pelukan diterimanya dan dia bisa merasakan sesuatu yang 'empuk' menyentuh punggung telanjangnya. Jujur saja, dia kehilangan gairahnya dan tidak memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seks. Dia sedang tidak berminat hari ini.
"Hn."
Mendengar tanggapan dingin dari kekasihnya membuatnya semakin panas. Karin memandang punggung kekasihnya dan Sasuke yang sibuk memilih kaos untuk dikenakan saat tidur.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Karin bersuara tanpa diminta. "Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Haruno Sakura?"
Karin bisa merasakan punggung kekasihnya menegang. Jika saja Karin bisa melihat ekspresi kekasihnya saat ini juga, mungkin dia akan melihat ekspresi kemarahan milik Sasuke.
"Itu tidak ada hubungannya denganmu."
Sasuke melepaskan pelukan Karin dan memakai kaosnya. Dia segera keluar dari kamar dan membuat Karin semakin berang. Dia semakin curiga tentang hubungan antara Sasuke dan Sakura. Jika tidak, tidak mungkin kekasihnya akan bersikap seperti ini.
"Sasuke-kun, tunggu!" Karin mengejar Sasuke. "Jika kamu tidak ada hubungan dengan wanita merah muda itu, kenapa kamu seperti ini?!"
"Berisik, Karin." Sasuke merasa muak dengan suara Karin dan seketika kepalanya menjadi sakit. Seingatnya, Sakura adalah orang yang paling berisik dan cerewet yang pernah dia kenal. Beberapa tahun lalu, saat mereka reuni, dia melihat bahwa wanita itu berubah. Sakura tidak secerewet yang dulu dan menjadi begitu anggun dan dewasa meski kata ceria dan murah senyum masih melekat pada wanita itu.
Baru kali ini Karin diperlakukan seperti ini. Sasuke bukanlah orang yang bersikap dingin seperti ini. Sasuke memang orang yang dingin, namun pria itu tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita dan dia merasa tidak terima ketika Sasuke memperlakukannya seperti ini.
"Memangnya apa bagusnya wanita itu, Sasuke-kun! Kenapa kamu begitu penasaran dengannya!"
Karin memandang Sasuke yang kini berjarak 5cm darinya dan sekarang dia bisa merasakan punggungnya menyentuh tembok yang dingin dengan tatapan menyeramkan milik Sasuke.
"Jika kau masih berani bicara dan mengusikku. Aku tidak akan segan-segan padamu."
Karin kini berwajah pucat dan berubah menjadi merah padam ketika melihat Sasuke berjalan menuju pintu apartemen sebelum membukanya.
"Aku akan tinggal di hotel untuk sementara dan akan meminta Kakashi untuk membawa barangku besok."
Tidak. Jangan. Kenapa semuanya jadi begini?
.
.
.
"Kamu yakin akan membelikan semua ini untuk Sarada?"
Neji menatap barang-barang yang dibawa Sakura mulai dari boneka tomat, makanan ringan hingga pie tomat kesukaan Sarada. Jika menyangkut gadis kecil itu, Sakura memang akan berubah.
"Iya. Untuk permintaan maafku dan karena aku akan meninggalkannya untuk syuting. Meski aku bisa pulang ke rumah, aku tidak yakin karena sekarang aku mudah lelah."
"Kamu yakin, ingin menjadi seorang aktris?" tanya Neji.
"Tentu saja." Sakura tersenyum. "Aku menyukainya."
Neji menyetir mobilnya di jalanan kota Tokyo dan matanya melirik Sakura yang sedang tersenyum. Ah, wanita ini memang murah senyum dan baik hati. Tetapi bisa menjadi menakutkan saat 'kedatangan tamu' atau menjadi serius saat mengerjakan operasi. Wanita ini begitu ekspresif dan dia menyayangkan kenapa Sasuke meninggalkan wanita sebaik Sakura.
Mobil milik Neji terhenti di depan kediaman Haruno. Sakura dengan senyum merekahnya menurunkan barang-barangnya dan tersenyum memandangnya. Dia selalu suka melihat senyuman bahagia itu.
"Apa perlu besok aku menjemputmu?" tanya Neji.
"Boleh. Syuting kemungkinan akan berjalan selama enam bulan dan aku berniat akan melakukannya serius agar bisa segera selesai. Lagi pula, aku pasti akan merindukan Sarada."
Neji tersenyum sebelum memegang wajah Sakura dengan lembut. Sakura tidak bisa menahan wajahnya yang merona merah ketika Neji mendekatkan wajahnya dan dia memejamkan matanya. Hingga akhirnya sebuah kecupan di terima di pipinya.
"Eh?" Sakura memandang Neji dengan pandangan bingung.
"Apa?" tanya Neji geli. "Apakah kamu ingin aku cium di bagian bibir?"
"Mou! Neji bodoh!"
Dan Neji tidak bisa menahan tawanya.
.
.
.
Sasuke membuka pintu kamar hotel dan memastikan tidak ada wartawan atau penyebar gosip yang akan melihatnya atau mengikutinya. Dia tidak mau keesokan harinya terdapat berita dirinya di sebuah hotel dengan caption 'dengan kekuatan hengpong jadul. Babang tamvan Sasuke berada di hotel.' lalu setelahnya, dia harus meladeni para wartawan haus berita dan itu merepotkan sekali.
Rasanya sangat menyenangkan ketika melihat kamar hotelnya yang mewah. Dia sengaja mematikan ponselnya agar tidak merasa terganggu dengan berbagai telepon yang masuk karena dia hanya ingin sendiri. Merebahkan dirinya di atas ranjangnya, Sasuke tidak ingin repot-repot untuk mandi dan memilih untuk langsung tidur. Menyenangkan sekali bisa terlelap tanpa memikirkan apapun.
.
.
.
"Sarada suka?"
Gadis kecil berambut kehitaman itu menganggukan kepalanya sembari sesekali sesenggukan akibat menangis. Setelah dia memberikan berbagai hadiah dan mengatakan pada Sarada jika dia akan pergi beberapa saat untuk melakukan syuting, Sarada menangis dengan kencang dan membuat ibunya terkejut.
Sarada menangis dalam pelukannya dan itu membuatnya bersedih. Sebenarnya dia bisa saja pulang setelah syuting selesai namun itu akan terlalu melelahkan. Jadi, dia berniat kerja keras dan pulang seminggu sekali atau saat dia mendapatkan libur. Toh, dia memerankan seorang gadis SMA dan latar tempat pembuatan syuting hanya disekitaran Tokyo saja.
"Mama akan meninggalkan Sala?" tanya Sarada memandang ibunya.
"Tentu saja tidak." Sakura mengusap wajah putrinya. "Mama akan pergi sebentar. Lagi pula, Sarada tidak mau melihat mama di televisi?"
Sakura bukannya tidak mau mengajak Sarada ke lokasi syuting atau membawa Sarada ke publik. Dia hanya belum siap untuk mempertemukan antara Sasuke dan Sarada. Dia hanya belum siap.
Memeluk putrinya, dia tahu jika Sarada pasti akan merindukannya dan begitu pula sebaliknya.
.
.
.
.
Prang! Brak!
Suara barang yang pecah, jatuh dan di banting terdengar di sebuah apartemen. Uzumaki Karin memandang ruang tamu apartemen milik Sasuke yang kini berantakan dan tak beraturan. Dia membanting semua barang-barang yang ada tanpa peduli apakah barang itu akan rusak atau tidak. Toh, Sasuke juga sudah mulai tidak peduli padanya.
Ting tong..
Karin memandang pintu apartemennya. Sudah dia duga jika Sasuke hanya menggertaknya saja dan pada akhirnya akan kembali ke dalam pelukannya juga. Merapikan sedikit rambutnya dan memastikan jika matanya tidak sembab dan penampilannya tidak buruk, dia berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya. Dia sudah mempersiapkan akting agar Sasuke tidak lari darinya. Namun, yang dilihatnya adalah senyum menyebalkan milik kekasih gelapnya.
"Wah, wah, lihatlah siapa yang habis menangis." Suigetsu menunjukan cengirannya.
"Berisik, Sui."
"Aku membawakanmu sake dan makanan ringan." Suigetsu menunjukan kantung plastik di tangannya. "Boleh aku masuk? Dia tidak ada disini, kan?"
"Terserahmu saja." Karin membalikan badannya dan membiarkan Suigetsu masuk.
Begitu masuk, Suigetsu tergoda dengan penampilan seksi milik Karin. Dia memeluk kekasihnya dari belakang sebelum mencium tengkuknya dengan lembut.
"Aku merindukanmu."
Karin tidak berkutik selain menerima segala sentuhan yang diberikan Suigetsu. Mungkin, dia bisa melupakan Sasuke sejenak dan bersenang-senang dengan Suigetsu.
.
.
.
Ddrrtt.. Ddrrrt..
Sakura yang sedang memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper memandang ponselnya yang bergetar. Dia mengambil ponselnya sebelum mengangkat telepon yang masuk.
"Moshi-moshi, Yugao-nee?"
"Belum tidur, Sakura? Maaf karena aku langsung pulang tadi dan tidak bisa mencari oleh-oleh untuk Putri manja itu."
"Tidak masalah, sudah ada Neji-kun yang menemaniku."
"Aku akan membantumu menjaga Sarada, tenang saja." Yugao tertawa. "Matsuri juga siap membantu."
"Terima kasih, Yugao-nee. Itu sangat membantu."
"Apa kamu mau mengisi sebuah seminar sebagai seorang Bintang tamu?"
"Eh?" Sakura terdiam sejenak. Tunggu dulu. Seminar? "Seminar apa? Tidak salah?"
"Kamu adalah panutan beberapa remaja sejak menghebohkan beberapa majalah saat diberitakan akan menjadi lawan main Sasuke dalam film ini. Temanya adalah 'cinta' temanku salah satu psikolog yang prihatin melihat banyaknya remaja yang terjerumus dalam manisnya Cinta dan ingin kamu menjadi salah satu Bintang tamunya."
"Baiklah, sepertinya menarik juga."
"Terima kasih, Sakura. Aku akan kirimkan tanggalnya nanti."
Sakura meletakan ponselnya dan memandang pakaiannya yang masih berantakan. Yosh, saatnya bekerja, Haruno! Sudah tidak ada waktu untuk memikirkan Uchiha itu.
oOo
Sasuke sudah datang pagi sekali dan duduk di salah satu kursi sembari menghafalkan naskah dengan Kakashi di sampingnya. Karin memandang Sasuke dari kejauhan dan dia ingin mendekati kekasihnya itu, namun sepertinya Sasuke sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Sasuke memang memiliki sebuah kebiasaan tidak akan mau diganggu saat pagi hari sebelum syuting guna menghayati peran yang akan dimainkannya.
Tak berapa lama, sebuah mobil masuk ke lokasi syuting dan Neji keluar dari mobil sembari membawa sebuah koper merah muda. Tak berapa lama, Sakura muncul dengan pakaian santainya dan terlihat sangat mengagumkan.
"Apa aku terlambat?" tanya Sakura.
"Tidak, Sakura-chan. Kamu bisa bersiap karena syuting akan dimulai satu jam lagi." Jiraiya tersenyum.
"Mau aku bawakan ke tendamu?" tanya Neji.
"Tidak perlu." Sakura mengusap pipi Neji.
"Mungkin aku akan mengunjungimu besok. Aku ada sebuah pertemuan dengan ayahku dan harus menemui editor untuk mengurus novelmu."
"Tidak apa, aku akan baik-baik saja." Sakura tersenyum sebelum mencium pipi Neji. "Lucky kiss sebelum bekerja."
Sasuke melotot ketika melihat Sakura yang mencium pipi Neji di depan banyak orang tanpa rasa malu lagi. Sedangkan Neji memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya miliknya. Apakah itu artinya Sakura sudah membuka hatinya dan berlabuh padanya? Tidak. Otaknya yang rasional mulai berfikir jika Sakura menganggap dirinya hanya sebatas teman.
Tersenyum dan melambaikan tangan pada Sakura, dia masuk ke dalam mobilnya dan memandang Sakura yang sibuk mengobrol dengan Jiraiya dan beberapa pemain lainnya. Mungkin untuk sementara, biarkan dia yang berjuang.
Karin menatap tajam Sakura dengan pandangan membunuh miliknya. Dia tidak mengerti mengapa Sasuke mengejar wanita itu, padahal jelas-jelas Sakura memberikan ciuman pada Neji. Huh, menyebalkan. Sasuke bahkan mengacuhkannya dan tidak mau bicara padanya. Dia harus mengatur taktik agar Sasuke tidak pergi dari pelukannya.
.
.
.
.
Sasuke membuka matanya ketika merasakan rasa dingin menusuk tulangnya. Matanya memandang Kakashi yang tertidur dengan novel di tangannya. Sepertinya Kakashi kelelahan setelah membaca novel dan akhirnya tertidur. Memandang jam yang menunjukan pukul tiga pagi, mungkin sake dan rokok bisa menemaninya kembali tidur.
Keluar dari tendanya, onyxnya menatap Sakura yang duduk dengan pakaian hangatnya dan sebuah cangkir di tangannya. Syuting hampir berjalan tiga minggu dan mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lain. Dia juga tidak ingin berbicara dengan Sakura sedangkan Karin selalu menatapnya dengan pandangan memuakkan miliknya.
Sakura menatap secangkir coklat hangat di tangannya. Setiap malam, dia selalu curi-curi kesempatan untuk bisa melakukan video call dengan Sarada. Dia tidak mau ada orang lain yang tahu tentang Sarada kemudian menyebarkannya dan dia harus berurusan dengan Uchiha Sasuke.
Kakaknya juga selalu mengirimkannya foto perkembangan Sarada dan membuatnya semakin merindukan Putri kecilnya itu. Setiap malam, dia tidak bisa membendung air matanya ketika melihat video betapa lucunya Putri kecilnya. Mungkin, lusa dia bisa pulang dan bertemu dengab Sarada.
"Kenapa tidak tidur?"
Sebuah suara bariton yang berat terdengar. Emeraldnya menatap Sasuke yang datang membawa sake di tangannya dan duduk di sampingnya.
"Bukan urusanmu."
Menghiraukan pertanyaan Sakura, dia mengeluarkan rokok dan menghidupkannya sebelum menghembuskan asapnya ke udara. Dia memandang Sakura yang sedari tadi memegang cangkirnya saja.
"Sakura, ada yang ingin aku tanyakan." Sasuke buka suara. "Apa kamu hamil setelah malam kita melakukannya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Uggghhh.. Maafkan atas keterlambatannya yang sangat terlambat iniiii :( dan terima kasih untuk yang sudah Setia menunggu :((
Adakah yang gregetan sama Karin? Hahahaha...
Special thank's to :
Haruno Rani, DCherryBlue, sqchn, Lacus Clyne 123, Azalea Em, Saskey Saki, Uchiharuno Kid, Chi wijaya, guest (1), guest (2), suket alang-alang, kanzaki 27, donat bunder, sasusaku fo lyf
Ada yang namanya belum kesebut atau salah penulisan?
Jangan lupa reviewwww!
Jangan lupa juga kunjungi Saku di wattpad dengan id AomineSakura
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
