PROHIBITED COPAS, DON'T BE PLAGIAT, DON'T BE SILENT!
BTS (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!
"Harga diriku bukan barang pasar yang bisa ditawar. Maaf sekali lagi."
"Tidak masalah. Dengan begini kau lebih menantang buat didapati."
"Sayangnya aku tidak bermaksud menarik perhatianmu."
"Bagus, berarti perlu dikonfirmasi kalau aku yang murni tertarik padamu. Dan itu ego omong-omong, bukan harga diri."
"Begitu? Yah, terserah. Nilaiku C di Bahasa Korea soalnya."
.
"Ya Tuhan, Jungkook, kau itu kenapa sih?" - "Membuatku jadi benar-benar menyukaimu—Tuhan! Kurasa kali ini ... sudah tidak bisa berpaling sama sekali. Maaf. Aku ... sungguhan kacau."
.
.
.
| | Vkook - TaeKook | |
.
.
.
.
©Chapter 5 : Jungkook, all about you!
.
.
...
"Di sini saja," si Jeon menoleh pada Taehyung usai mendelik antisipasif ke luar jendela mobil. Tepat di situ, paman Ahn menghentikan laju kendaraannya.
Saat mobil berhenti, si Kim menunjukan ekspresi bingung, "Di sini?" ulangnya, menatap area luar mendapati rumah Jungkook masih sekitaran seratus meter, "Tidak di depan rumahmu saja?"
Lantas si Jeon menggeleng, "Tidak-tidak—jangan," tanggapannya terdengar buru-buru. Mencurigakan.
Sarat penasaran, Taehyung menaikan sebelah alis, "Kenapa?"
Seakan tau negatifitas di isi kepala orang ini, Jungkook mendengus pelan, "Hyungku ada di rumah. Dapat libur dari sekolahnya, bisa repot kalau dia lihat aku turun dari mobil begini."
"Repot di bagian mananya? Kurasa tidak masalah?"
"Kepalamu tidak masalah! Kau tidak tau saja mulutnya itu ...," Jungkook berpikir beberapa sekon, menimbang-nimbang ujarannya sebelum otaknya menemukan jalan buntu, "Sudahlah—dia tau kau, aku tidak mau kalian bertemu," ungkapnya jujur, nadanya cuek tapi entah mengapa membuahkan binar-binar mengkilap di obsidian Taehyung yang menatapnya tak berkedip.
"Hyungmu tau aku?"
Jungkook mengangguk snobis sambil menoleh ke luar jendela lagi, menatap jalanan kosong dengan perasaan was-was. Takut kalau saja ada tetangga yang melihat dan mengadu ke keluarganya, "Aku yang ceritakan."
Detik itu Jungkook sukses membuat kilapan di mata Taehyung menyebar jadi ekspresi bahagia yang luar biasa.
Di saat si Kim sedang berhisteria, Jungkook lebih memilih membuka pintu mobil tanpa tau nyawa siswa ini sedang melayang-layang lepas dari raganya, "Sudah ya?" lalu keluar, "Tarimakasih tumpangannya," lantas berjalan singkat ke bagian depan mobil buat membungkuk pada paman Ahn yang menurunkan kaca, "Terimakasih," lelaki itu memberi senyum hangat. Kemudian menyaksikan si Jeon yang setengah berlari menuju rumahnya.
Menyisakan sang tuan muda yang masih berbunga-bunga, mengambang di luar jiwa.
Taehyung tau betul sampai mana batas kemampuannya. Sebesar apa eksistensinya di depan publik, tanpa menggaet nama besar orang tua, ia paham sekuat apa daya tariknya.
Maka melumpuhkan Jungkook buat jadi miliknya bukan sesuatu yang benar-benar sulit. Si Jeon cuma butuh waktu, saat ia bisa menunggu lebih sabar, Taehyung tau kemenangan bakal bermuara di telapak tangannya seperti biasa. Dengan mudah dan menyenangkan.
Ini klasik, hanya saja jadi lebih menarik karena Jungkook terlampau naif. Berpikir terlalu rasional dan penuh kehati-hatian. Membuat permainan mereka tidak berjalan segampang semestinya.
Jujur saja Taehyung bukan tipikal anak yang bisa bersabar segini lama. Remaja yang lebih dari Jungkook itu banyak—lebih tampan dan cantik, lebih mengagumkan, lebih memikat, lebih segala-galanya, dan yang pasti; lebih mudah dijangkau.
Tapi, tidak ada yang bisa membuat Kim Taehyung lebih jatuh dari pada bagaimana Jeon Jungkook melakukannya tanpa sadar.
"Ya Tuhan, dia ceritakan aku ke kakaknya? Wow—oh my God! Oh my God!"
.
.
.
.
.
.
Jo Liyeol's present
©2017
.
Boom! Bah!—LOVE!
—yah, yah. Bottom line, i'm going start to trust you —
( Ini hanya antara Taehyung yang terlalu rumit untuk disangkal, atau Jungkook yang mulai kendur pada pendiriannya. )
.
...
Sampai di rumah. Jungkook buru-buru menuju kamar melewati abangnya yang berbaring di sofa ruang tengah, sibuk menonton acara televisi. Cuma ada dia, karena biasa jam segini ayah dan ibunya masih ada di toko ayam.
Membanting pintu kamarnya masa bodoh, Jungkook melompat ke atas tempat tidur, "Durjana curang. Terkutuklah kau brengsek!" berteriak demikian sambil menendang bantal di kasurnya asal-asalan, "Kau dengan lagak sok baikmu! Topeng malaikatmu—bajingan! Mampus sana yang jauh!" umpatnya frustasi sambil mengacak-acak seisi ranjang.
Lalu teriakan-teriakan dongkol beserta rentetan sumpah serapah menggema, teredam bantal yang si Jeon bekap di atas mukanya.
Hingga suara pintu terdengar saat seseorang masuk, Jungkook mendelik membuka bantalnya, kaget bukan main ketika mendapati orang itu membawa satu pasang pantofel di tangan. Lalu buru-buru duduk—menghindar ketika sepatu berat itu melayang ke arahnya.
Dengan sebal Jungkook menyalak, "Hyung! Sinting, ya?!"
Di tempat lain Jeon Wonwoo masih bergeming datar. Lidahnya bermain-main di bagian dalam pipi, sebelum pasangan dari pantofel tadi ia bidik kembali pada sang adik, "Kau yang sudah tidak waras, Bocah! Tau berisik tidak?! Mau kusumpal lobang mulutmu pakai anus babi hah?!"
Jungkook mendengus kuat-kuat, merasa lega bisa menghindari lemparan kedua. Sumpah, kalau saja dulu ia tidak pernah ikut ekstrakulikuler taekwondo (waktu SMP), mungkin kepalanya sudah bocor sekarang. Abangnya siswa akademi militer, Sobat, keakuratan bidikannya tidak boleh dipertanyakan kalau sedang serius.
Hening merajai sebelum Wonwoo memilih abai dan berbalik, nyaris keluar kamar adiknya kalau saja Jungkook tidak lebih dulu mengintrupsi, "Kapan kau balik ke asrama?"
Wonwoo menoleh sinis, "Kenapa? Mengharap aku cepat-cepat pergi? Senang sekali kalau aku tidak ada di rumah?"
Dengan tanpa dosa Jungkook mengangguk pasti, "Nah."
Sukses menyulut sentimentil yang lebih tua buat melempar perabot apa saja yang ia ambil asal dari nakas, "Adik sialan!" lemparannya ditangkis Jungkook pakai bantal.
Yang lebih muda tergelak menang, "Bercana Hyungku sayang ... galak sekali sih. Pantas saja single berabad-abad."
"Terserah," Wonwoo memutar bola mata culas, kelewat malas buat meladeni, "Mau bilang apa? Cepat, aku sibuk."
"Sibuk apanya? Cuma santai-santai bisa dikategorikan sibuk?"
"Ini namanya healing, aku harus memanfaatkan hari-hari dengan sebaik mungkin, paham berandal kecil? Tau sendiri liburanku cuma dapat satu bulan sampai pertengahan musim panas nanti. Belum toko ayam ayahmu itu, kapan lagi aku bisa santai kalau bukan sore-sore begini?"
Jungkook mendengus tak peduli curahan hari abangnya, "Ayahmu juga brengsek."
Selang dua detik perabot lain kembali melayang ke arahnya—sialnya, kali ini kena tepat di kening. Jungkook mengaduh riuh sambil membungkuk, menanamkan kepalanya di pangkuan bantal. Sedangkan tanpa dosa Wonwoo malah tertawa sinis, "Makin hari makin kurang ajar saja mulutmu, kuadukan ke ayah mampus kau."
Buru-buru Jungkook menegakkan tubuh, seakan tak terjadi apa-apa ia melakukan V-sign di sisi kepala, "Ampun-ampun! Jangan begitu Hyung, damai ya? Mianhae-yo?"
"Belikan aku sepatu baru. Bagaimana?"
"Kau makan tinja di kamar mandi dulu, nanti kubelikan."
"Brengsek."
Jungkook mengernyitkan gimik cemooh, "Tuh, sendirinya begitu. Nanti kuadukan ke ayah."
"Adukan saja," Wonwoo membalas tanpa ngeri, terlalu datar dan konsisten, "Kau pikir ayah bakal berpihak ke siapa ... hm? Aku siswa akademi militer, kata-kata kasar sudah bahasa keseharianku," lalu menggulung tangan di depan perut ketika bersandar di daun pintu, "Memang kau? Pengecut jelek yang sekolah di sekolahan tidak bermutu. Tidak bisa meninggikan nama keluarga, mestinya kau jadi siswa paling cerdas di angkatan supaya dapat beasiswa masuk universitas."
Jungkook masih berlagak kurang ajar ketika itu, sampai Wonwoo melanjuti sengit dengan suara datarnya, "Bukannya bolos-bolosan tidak jelas, dapat nilai rata-rata, tapi tetap diam saat diomeli guru—nakalmu tanggung," di sana si Jeon kecil mulai menelan ludah, napasnya tertahan di kerongkongan, "Dan apa menurutmu aku tidak tau kalau kau suka merokok diam-diam dengan gerombolan bandit sekolahan? Bilang ke warnet buat ngegame, tapi nyatanya streaming film porno sama kawan-kawanmu. Berlagak sok inosen di depan orang-orang, padahal kelakuanmu bejat kalau sudah kumpul bareng teman mainmu—apa aku benar?" ia mendecak penuh ejek tatkala mendapati wajah adiknya luar biasa terperangah, "Krisis identitas, kalau mau jadi sampah—busuk saja sekalian, jangan takut mati atau peduli keluargamu lagi," Wonwoo mengambil napas santai, retinanya menghakimi Jungkook, "Kalau masih prihatin dengan orang tuamu, berhenti bertingkah tolol. Kawan baikmu adiknya Yoongi 'kan? Kudengar kau juga berteman baik dengan salah satu siswa berprestasi di sekolah?" jeda sebentar, "Sayang sekali kalau nyatanya anak-anak seperti itu bergaul sama rusaknya sepertimu."
Hening cukup lama saat Wonwoo membiarkan adiknya menyahutkan pembelaan. Tapi nihil. Senyap megudara ketika Jungkook tak bisa menyangkal apa-apa. Maka waktu itu menjadi sekon Wonwoo paham bahwa pernyataannya benar.
Ia menghela napas satu kali, "Tidak bakal kuadukan ke mama dan ayah—tenang saja, aku juga tidak mau buat mereka kecewa. Jadi mulai sekarang cari teman-teman yang benar, Kook. Aku tidak menyuruhmu buat menghindari kawan yang sekarang, hanya saja cerdas lah dalam bergaul, kau boleh bermain dengan mereka kapan saja ... asal tidak ikut rusak—atau semakin rusak. Karena kalau kau nakal setengah-setengah, itu sama sekali tidak keren. Kalau sungguh-sungguh ingin jadi berandalah sekolah, setidaknya kau mesti jadi pembuli yang sangar—" luapan emosional Wonwoo menggambang tak terdengar saat Jungkook justru membayangkan Taehyung karena ungkapan abangnya. Soal pembulli dan tindak penindasan di masa lalu si Kim. Hanya sebentar, sebab Wonwoo terlalu cerewet buat diabaikan, "—tapi wajahmu sama sekali tidak mendukung, jadi lupakan. Dan kusarankan buat bebenah diri, atau kau mampus di tanganku. Paham?"
Jungkook tersentak untuk ini, tanpa sadar reflek mengangguk. Terkejut bukan main, napasnya tercekat di kerongkongan. Oke, Jeon Wonwoo dalam mode serius bahkan lebih seram dari amukan dewa yang menenggelamkan Atlantis. Nyaris akalnya kosong buat bertanya-tanya, dari mana Wonwoo tau ini semua? Kalau saja ia tidak lebih dulu menyadari bahwa abangnya dan Min Yoongi itu kenalan waktu SMP. Sebatas teman nongkrong. Jadi sudah pasti, dari sanalah ia mensuplai informasi.
Terakhir kali sebelum Wonwoo melangkah pergi meninggalkan sang adik dengan kamar yang berantakan, ia sempat bersuara lagi. Namun nadanya berubah jahil, "Lalu soal—si anak kaya, kau sungguhan tolol kalau melepaskannya begitu saja. Kepalamu bakal kujagal sampai berani mendepaknya dari hidupmu, sebelum kau menerima keuntungan dari keberuntungannya. Hidup yang pandai, Kook. Tapi—yah ... pecundang sepertimu kusarankan jangan terlalu nekat buat berharap banyak-banyak. Apa lagi pada orang-orang kaya seperti itu—jaga lubangmu, jangan murahan. Sebab perasaan mereka mudah datang dan pergi," kemudian tergelak sinis sambil melenggang, lenyap dari pengelihatan Jungkook, "Kecuali kau Upik Abu yang kena percikan serbuk malaikat! Maka kau bakal jadi orang paling beruntung di alam semesta!" dan teriaknya terdengar kencang dari luar kamar.
Menelantarkan Jungkook termangu di atas ranjang. Berpikir dan merenungkan kata-kata sadis abangnya.
Bukan lagi hal mengejutkan bagi Jungkook saat kena bombardir pernyataan telak dari orang itu, yang sesungguhnya Jungkook sendiri mengerti, bahwa kelakuannya tidak seburuk apa yang abangnya lontarkan dari kata-kata pedasnya.
Jungkook selalu sadar diri dan memikirkan konsekuensi. Rasionalitasnya terlahir benar-benar besar.
Maka ia paham betul di mana saatnya ia menjadi nakal dan patuh pada tempat berbeda. Bagaimana cara bergaul dengan berandalan sekolah bersama Hansol-Jihoon, adalah cara berbeda yang ia gunakan saat bergaul dengan anak-anak lugu atau kawanan elit kelas sebelah. Harga dirinya yang mesti terkendali saat berhadapan dengan guru, adalah hal berbeda dari pada saat menghadapi kawan sebayanya. Dan benar-benar paham bagaimana ia mesti menanggapi Kim Taehyung dengan cara yang berbeda tatkala dihadapkan dengan para gadis yang mengejarnya.
Jungkook sudah cukup tau diri buat tau determinasi dari menindas dan berani mati. Menjadi nakal seutuhnya bukan hal bagus, tapi separuh nakal dalam konteks aman lebih terdengar keren menurutnya—peduli setan kata abangnya. Sebab setikdanya selama ia bisa menggendalikan emosional di saat dan waktu yang tepat, tidak barbar dan serampangan, adalah tindakan yang benar.
Meski begitu, bukan berarti ia menganggap Wonwoo salah. Orang itu benar—menurut pengalaman Jungkook selama hidup menjadi adik tunggalnya, perkataan Jeon Wonwoo tidak pernah salah ketika mengoreksi orang. Maka yang perlu Jungkook lakukan sekarang adalah merenungi kata-kata abangnya, mengambil sisi positif buat ia cerna jadi bekal kebaikan. Membuang hal negatif dan cukup.
—cukup.
Meneruskan ini hanya akan membuat jantung hatinya terasa nyeri. Memang Wonwoo selalu benar, tapi untuk yang terakhir, buat kali ini saja, ia ingin sekali menganggap Wonwoo menjadi orang paling salah di dunia. Sebab Jungkook juga bingung mengapa ia tidak bisa terima prasangka hyungnya. Mengenai kondisi hati Taehyung yang disama-samakan dengan kebanyakan anak orang kaya.
Jungkook memeluk bantal di pangkuan, lamat-lamat matanya terarah pada dwikkoji cantik yang ia pajang di atas meja belajar.
Semua orang bilang Taehyung berbeda 'kan? Iya 'kan? Kalau begitu ...
Boleh Jungkook mempercayai satu fakta ini?
Hanya yang ini, tidak lebih.
.
.
Dari subuh, harinya sudah rusak. Jeon Wonwoo yang pulang ke rumah adalah musibah terbesar menurut Jungkook, sebab untuk apapun, bagaimana cara Jungkook bisa menjuarai segala hal, buat menang melawan hyungnya adalah sebuah mitos. Ini telah menjadi paham Jungkook sedari kecil.
Jadi ketika orang sinting itu dengan jahanam mendobrak kamarnya jam lima pagi, membawa segayung penuh air keran, menyiramnya barbar dan dengan serampangan menggeret-geretnya ke kamar mandi. Jungkook cuma bisa mengumpat dalam hati.
Karena melawan Wonwoo sama saja melawan ayahnya.
"Jungkook!" seruan Hansol terngiang dari samping.
Siswa Choi itu baru sampai, meletakan tasnya dan sedikit heran mendapati Jungkook sudah ada di tempat segini pagi. Biasanya si Jeon datang kalau jam pelajaran sudah berdentang—entah terlambat, atau menghabiskan waktu di kantin dulu.
Membumbungkan aura kelam dari balik punggung yang menelungkup lesu di meja. Ia cuma menanggapi ala kadar, "Hm?"
"Wow! Kesambet apa, Man? Jeongguk Jeon datang jam segini? Kau mabuk ya?"
"Cerewet, ngantuk brengsek, otakku buntu. Ingin tidur—sumpah, demi Tuhan aku bangun jam lima pagi. Hyung sialan itu mestinya tidak usah pulang-pulang saja sekalian. Kenapa harus muncul saat mau liburan—duh, mataku berat," Jungkook menanggapi asal-asalan, suaranya teredam serak di kerongkongan.
Hansol hanya terkekeh kecil sambil memutar bola mata tak terpukau, "Ngawur," tak mau ambil pusing banyak-banyak, cukup paham kegundahan hati kawannya, "Ayo keluar, malas di kelas," ungkapnya sambil melepas topi gakurannya ke laci meja, "Nanti kuhubungi Jihoonie."
Jungkook tak bergeming, masih betah di tempat, "Kau saja, aku mau tidur."
Ungkapannya disambut gelengan tidak terima dari Hansol, sampai si Choi mesti memaksakan kehendak buat menyeret lengan Jungkook untuk keluar, "Ayo—ayo, Kook. Bangun-bangun!"
...
Menggeret langkahnya malas, Jungkook mesti berjalan mengekor di belakang Hansol juga Jihoon. Ia dan si Choi baru saja mendatangi kelas adik ketua OSIS itu buat ke kantin sama-sama, padahal Jungkook lebih minat menghabiskan jam paginya buat bermimpi ria.
Mungkin Jungkook luar biasa mengantuk, hanya saja telinganya masih berfungsi waras buat menghantarkan kesal, sebab gema pekikan yang bersaut heboh di sini.
Di lorong lantai tiga yang luar biasa ramai, jelas sekali ia bisa dengar teriakan histeris para siswi yang mengerubung di pinggiran koridor. Menyaksikan pertandingan basket di lapangan sana.
"Ya Tuhan! Mereka benar-benar tampan, astaga!"
Oh, oke. Ini pasti kompetisi dari kelas pertukaran. Masa bodoh, terserah mereka deh.
"Yang rambutnya biru ... manis sekali!" berisik, sumpah. Siapa sih siswi bawel yang teriak begini nyaring? "Kwon Soonyoung!" ampun, Tuhan, apanya yang manis dari gumpalan biru itu? Matanya aneh sekali padahal. Kasihan, selera gadis ini buruk kalau kagum dengan yang seperti itu.
"Paling tinggi itu Kim Mingyu 'kan?! Yang rambutnya warna platina!" nah, kali ini yang teriak laki-laki. Fanboy eh? Tidak malu ikut-ikutan histeris begitu? "Dia yang ada di majalah JL!" oh? Artis? Majalah JL? Anak kelas sebelah ada yang model? Memang Kim Mingyu yang mana? Tidak ingat.
"Lihat yang rambutnya silver! Itu Park Jimin! Park Jimin! Di sana! Yang pegang bola!" hah? Di bawah tanding basket 'kan? Itu makhluk cebol memang bisa? Duh, padahal tinggi badannya tidak keren sama sekali, apanya yang bisa dikagumi, hah? Kalian malah kelihatan menyedihkan kalau heboh begini.
"Goddammit! Jung Hoseok dan rambut oranyenya ... Tuhanku! Tuhanku! Dia luar biasa!" Tuhanku! Tuhanku! Kenapa pula kalian mesti menyebutkan warna rambutnya? Apa itu trademark mereka? Hah? Kalau misalkan mereka besok gundul bagaimana? Mampus saja kalian!
Hansol mendelik dari ujung mata, heran bukan main mendapati Jungkook yang mengekor di belakang tengah terkekeh sinis, "Ini anak sudah gila ya? Dari pagi kelakuannya aneh-aneh begini," cibiran pongahnya sontak membuat Jungkook sadar, lantas menengadah dan sadar dari lamunan kantuknya, "Kenapa tertawa?" disambut pertanyaan telak si Choi yang menghentikan langkah, turut memogokkan gerak kaki Jihoon. Si Lee ikut menoleh.
"Sudah dibebani Kim Taehyung, Wonwoo-hyung pulang pula. Otaknya makin tidak waras 'kan, kasihan," itu ungkapan prihatin Jihoon yang dibuat-buat, berlagak sok sedih.
Jungkook sendiri hanya memperkeruh wajah sambil bersungut-sungut, "Bajingan—dosa apa aku punya teman macam kalian?"
Ucapan dongkolnya malah dibalas tampang babi Hansol-Jihoon yang melakukan V-sign di sisi kepala.
Lalu pada akhirnya mereka kembali melangkah sampai ke salah satu sisi lorong yang lumayan sepi, Jungkook hanya menurut ketika langkah mereka kembali macet sebab Hansol yang tertarik buat menyaksikan pertandingan di bawah. Sedangkan Jihoon entah sejak kapan tidak mempermasalahkan hal demikian, lebih lagi ikut menikmati bagaimana si Choi menonton.
Dan Jungkook dengan penuh minat, memilih merapat ke dinding, mengampar di sana dan bersandar buat siap-siap tidur. Tapi baru tiga menit berselang, suara Hansol sudah mengintrupsi bunga mimpinya. Membawa ia kembali sadar sebab siswa itu memaksa buat si Jeon tetap terjaga, "Kook, Kook, kemari, Kook—cepat."
Menggeret langkah ogah-ogahan, Jungkook beranjak dari posisi. Menyelip di tengah Jihoon-Hansol buat memangku dagu di pinggiran koridor, "Hm?"
"Lihat-lihat! Bukannya mereka lucu?"
Jungkook mengedip beberapa kali, cukup lama memperhatikan pemandangan di bawah sampai kepalanya berasap bingung. Lantas ia menoleh pada si Choi, "Apa yang lucu? Sinting ya?"
Hansol terkekeh tipis sebab ini, lalu menggeleng, "Tidak tau," jawabannya sukses mengundang sulut kanibalisme Jungkook. Sebelum ia kembali berkata lebih jelas, "Hanya seperti ... ini sungguhan lucu. Isi murid di kelas sebelah kelihatan serupa gumpalan harum manis kalau dilihat dari atas sini, rambut mereka itu loh ... serasa lihat pelangi."
"Apa deh," Jihoon yang menyahut tanpa menoleh ke kawan-kawannya, masih fokus menatap panorama di bawah, "Mereka persis brandalan pengedar shabu-shabu yang suka hangover di pinggiran Calivornia, aku malah jijik melihatnya—norak."
Hansol mendengus kecil, lalu gelegak tawanya tersengar sarkas, "Kau kebanyakan menonton bluefilm, Ji. Aku tau itu salah satu scene di Daisies Porn."
Sontak Jihoon menoleh, menatap lurus pada Hansol; mengacuhkan Jungkook di tengah mereka, "Dan kau sudah menontonnya?" ajunya sarkastik.
Kening Hansol mengkerut tidak terima, "Kau yang kasih linknya, sialan."
"Itu link dari Yoongi-hyung, brengsek."
"Pantat ayam, tampang sepertimu biasa geledah Google buat cari film porno tau?"
"Otakmu kotor, jangan maling teriak maling, Choi. Kau yang biasa tunggu updatean seri fake-taxi 'kan?"
"Mengelak saja terus, bukannya itu kau ya? Fitnah itu kejam, Man!"
"Bajingan dasar—"
Seruan jengah Jihoon tersela, akibat ungkapan Jungkook yang lebih dulu berkomentar menengahi kedua kawannya, "Sobat, aku lagi dilanda kantuk berat dan ditarik ke mari cuma buat dengar kalian debat-cabul? Please, tolong pahamilah diriku. Aku masih polos loh."
Sontak ungkapannya sukses membuat raganya meraih tinjuan cinta dari sahabat-sahabat baiknya.
Sedangkan Jungkook sedang mengaduh kesakitan, dua orang yang tadi adu mulut justru kembali tenang. Menonton kembali pertandingan di bawah, "Kok boleh ya mereka mulai KBM dengan tampilan begitu?" suara Jihoon mengudara usai beberapa sekon, tak peduli sama sekali tatapan murka Jungkook yang membara-bara.
"Yeah, aku juga punya pertanyaan sama dari awal mereka hadir jadi murid pertukaran," suara Hansol menanggapi, "Lebih-lebih, sekolah macam apa DMN Academy yang membiarkan muridnya keliatan segini arogan?" lalu obsidian remaja ini terganti, menoleh sekedar mendapati Jungkook yang sudah kembali berdiri tegak. Si Jeon cuma menggedik bahu acuh merasa tidak tau dan tidak peduli, lantas Hansol kembali melanjuti separuh heran, "Kan pedoman resmi akademi mereka bukan di seni dan keartisan. Atau memang begitu kebebasan yang diberi sekolahan elit—"
Ungkapan tanyanya tersela, putus di tengah-tengah sebab histeria siswa-siswi di sekeliling ketiganya. Atau mungkin gema dari lantai lain membuat Hansol mengatup bibir rapat-rapat. Sebab pekikan mereka timbul saat sama-sama mendapati satu siswa yang baru muncul dengan seragam sekolah tidak diganti ke pakaian olahraga.
"AAA! Taehyung! Taehyung! Itu Kim Taehyung!"
Jungkook mengernyit. Atensinya lantas beralih ke satu arah di mana fokus perhatian murid lain bermuara. Di sana, Kim Taehyung dengan cengengesan genitnya melambai caper ke sepenjuru YaGook.
Ya, nyatanya Taehyung hanya playboy centil yang sedang belajar insyaf.
"Dia keluar—ya Tuhan! Akhirnya!"
"Keluar? Memangnya dia Jin?" entah kenapa kali ini Jungkook sama sekali tidak bisa mengutarakan apa yang ingin ia komentari sekedar dari dalam hati. Dan gumamannya berhasil membuat Jihoon juga Hansol melirik dari sudut mata.
"Crocodiles sake! Taehyung datang! Dia tampan sekali!"
"Dia datang? Duh, gaya kalian persis orang primitif yang tidak pernah lihat gadget," Jungkook mencibir jengah sebab ini, suaranya pongah namun juga sarat akan kekesalan yang tidak ia pahami. Lalu hening menggerayapinya cukup lama sampai ia mengingat sesuatu, "Ah—benar, jalang manja itu selalu menghadangku di depan gerbang 'kan? Jangan-jangan pagi ini juga? Tapi dia di sana? Berarti hari ini tidak menungguku, ya?"
"Rambut merahnya mendebarkan!"
"Apanya yang mendebarkan?!" entah kenapa Jungkook separuh berteriak, frustasi tiba-tiba. Otaknya melompong dibawa angan-angan, "Dia punya obsesi aneh atau apa sih? Kenapa rambutnya harus merah?" tanpa disadari dengusan jengahnya semakin membuat Jihoon juga Hansol melongo di tempat, mendengarkan bagaimana kawan mereka sedari tadi bergumam stres. Terlebih ketika Jungkook mengangguk-ngangguk—sarat akan implikasi, kemudian tersenyum jahat, "Lihat saja, apa yang bakal kalian debarkan lagi kalau si idiot itu ganti warna rambut."
"AAA ... my Taehyung!"
Jungkook menganga selepas teriakan super ini menggema tidak tau malu, entah dari lantai berapa, yang pasti itu ulah siswi sinting tidak punya etika. Si Jeon mendecih pongah, "My Taehyung?" sorot matanya satiris menghantam raga si Kim yang malah tertawa riang bersama kawan-kawannya di bawah sana, menanggapi teriakan tadi.
Lalu tanpa sebab, Jungkook merasa ada yang salah dari dirinya. Emosionalnya, akal pikirnya, dan segenap kontrol perasaannya. Menjadi campur aduk dan tak tertahan lagi buat ia kendalikan, semuanya melebur jadi satu. Yang Jungkook sediri tidak pahami mengapa bisa begini.
Sampai rasionalitasnya kembali, ia mendecak, "Ck! Sial, anak-anak ini kenapa cerewet sekali sih?" lalu memutar tubuh, "Ayo ke kantin saja," kemudian berjalan mendahului Hansol dan Jihoon yang kebingungan di tempat.
.
.
Jam masuk kelas masih lima belas menit lagi, jangka waktu yang sangat-sangat lama buat Jungkook. Kalau saja bukan gara-gara Wonwoo, mungkin ia masih bergelut diranjangnya saat ini.
Puas jajan di kantin, ia nyaris merapat ke meja pojok buat ambil bunga tidurnya lagi. Kalau Jihoon tidak lebih dulu menarik kerah belakang gakurannya, membawanya buat keluar kantin menuju taman belakang.
Setidaknya di sana lebih nyaman buat menghabiskan waktu menurut si Lee.
Tapi langkah mereka berganti arah saat obsidian Jungkook menangkap anak-anak kelas sebelah bergerombol di ujung koridor, selepas usai tanding basket. Jungkook yang jadi melangkah paling depan, entah mengapa mendapati Taehyung di sana membuat kakinya seakan-akan berjalan sendiri.
"Mau ke mana?" suara Hansol mengudara.
"Bilang ke jalang manja itu aku sudah datang."
"Hah?" kernyitan tidak mengerti terperi di ekspresi kedua kawannya, "Buat apa?"
Jungkook menggedik bahu acuh, "Siapa tau habis ini dia mau menungguku di depan gerbang?"
Gelak tawa dua siswa ini yang kemudian menggena satiris, mengolok-olok kawannya dari bagaimana vokal mereka terhempas.
"Duh, Jeon. Perhatian sekali," sindir Jihoon.
"Jangan berlebihan," tanggap Jungkook masa bodoh.
"Bukannya berlebihan, aneh saja. Kenapa pula kau mesti melapor padanya? Bukannya kau tidak suka?"
Si Jeon menghentikan langkah lantas berbalik menatap kawan-kawannya, "Memang. Lalu kenapa?"
Jihoon menggulung tangan di depan perut, berlagak pongah dengan aura otoriternya, "Kenapa tidak kau acuhkan saja? Biarkan dia tidak tau kalau kau sudah datang, sampai bocah kaya itu mampus menunggumu di gerbang."
Jungkook berdeham sekali. Oke, ini ide bagus. Tapi entah kenapa otaknya kembali berangan-angan, "Bagaimana kalau ternyata dia tidak menungguku?"
Pertanyaannya sontak membuat Jihoon juga Hansol mengedip di tempat, termangu tidak menyangka. Mereka yang punya kawan terlalu bodoh, atau isi kepala Jungkook sudah lumer dan berceceran ke tempat sampah?
"Yasudah, mau diapakan?" tangkap Jihoon sambil memutar bola mata culas, "Kenapa?" lantas obsidiannya mengambil fokus menghakimi si Jeon, "Kecewa kalau dia tidak menunggumu?" pertanyaan ini sarat sarkasme yang mengawan penuh.
Iris Jungkook melebar, merasa tidak terima bercampur kesal luar biasa. Lebih-lebih saat mendapati air muka Hansol seakan satu faham dengan si Lee.
Ya Tuhan, apa mereka berdua penghianat? Mengapa memperlakukannya begini jahat?
"Hei, kau ini apa-apaan ... ?" suaranya terdengar tak menyangka.
Tapi Jihoon justru menjawab dengan santainya, "Kook-ah, jujur saja, walaupun secuil—sekecil biji bawahmu. Perasaan care buat Kim Taehyung ada 'kan?" jeda, "Kau ... walaupun sangat-sangat dikit, rasa suka buat anak kaya itu ... ada 'kan?"
Jungkook menganga atas ini. Kenapa pula tiba-tiba Jihoon mempertanyakan hal tidak penting seperti ini? Kenapa kawannya jadi begini?
"Ji—"
"Jungkook," suara Jihoon terdengar lebih serius, "Kami bukan kawanmu yang jahat, kita sudah bersahabat lumayan lama 'kan? Kalau kau pikir kami tidak paham dirimu ...," senyap mengudara sebentar, "Kau salah," kening Jungkook mengernyit tidak suka. Mengalihkan fokus pada retina Hansol yang sama serius menghantamnya, "Akhir-akhir ini kau berubah, semenjak Taehyung lebih gencar mendekatimu. Kau pikir kami tidak sadar?" hazel Jungkook kembali bersibobrok pada manik hitam Jihoon, "Kupercayai kau orang paling hebat memendam perasaanmu sendiri. Tapi akui saja, kau mulai terasa kacau, frustasi dan entah apa—yang pasti kau terasa beda."
Si Jeon menghela napas kasar, retinanya beralih ke mana-mana. Sebelum kembali menatap Jihoon, "Apanya?" ketus Jungkook.
"Entah," si Lee menggedik bahu acuh tak acuh, "Sebagai kawan, hanya merasakan ada yang beda. Paham maksudku? Seperti ketika Hansol bertengkar dengan Seungcheol-hyung, saat dia terlihat sedih buat kita padahal orang-orang melihatnya biasa saja. Semacam itu. Perasaan sahabat?"
Jungkook menelan liurnya yang seperti gumpalan, napasnya tercekat dikerongkongan, "Jangan samakan," intonasinya terdengar tegas.
"Jungkook," kali ini suara Hansol memanggilnya, "Kami tidak akan memaksamu buat mengakui kalau kau mulai terjerat pada Kim Taehyung. Karena aku juga tidak yakin kalau kau paham atas perasaanmu," Jungkook melihat Jihoon yang mengangguk setuju saat Hansol melanjuti, "Hanya saja sebagai kawanmu ... kami cuma mau memberi yang terbaik."
Ungkapan si Choi sontak mengundang tawa ejek jungkook yang sarat main-main, "Duh kalian ini ... sudahlah, jangan begini. Sebenarnya kalian ini mau bicara apa? Lagak kalian aneh-aneh, tau?" kemudian ia memaksakan gelak tawa, "Kalau begini kalian malah persis aktor protagonis sinetron yang menyadarkanku supaya insyaf."
Hansol dan Jihoon masih bergeming di sana, menatap Jungkook lamat-lamat sebelum mengambil tawa snobis, "Yah, yah. Terserah apa katamu deh," Jihoon yang bersuara apatis, "Tapi Jungkook ... aku cuma mau ingatkan. Kau bakalan menyesal setengah mampus kalau sia-siakan Taehyung begitu saja," Jungkook mengerjap sebab ini, semakin terpukau ketika Jihoon melanjuti cuek, "Kalau kau mau tau, ternyata, dia tidak seburuk apa yang ada dipikiranmu. Kalau kau mau memberi kesempatan buatnya, mungkin, kau tidak bakal menyesal."
Oh, Tuhan. Ada apa dengan sahabat super juteknya ini? Kenapa tiba-tiba jadi begini?
Apa gara-gara kemarin dibawa Hansol beli bungeoppang? Efek samping diantar Seungkwan-Soonyoung? Jangan-jangan otaknya kena cuci di mobil anak-anak kaya itu?
"Wow! Lihat siapa yang bicara? Padahal sampai tadi masih memaki anak-anak kaya di kelas pertukaran."
"Oh? Siapa ya?"
"Tidak ingat, Lee?"
"Maaf, Jeon. Ingatanku kurang baik."
"Begitu? Hm ... kau dengan otak kecilmu itu, bangsat memang."
"Thanks, sialan."
"You're welcome, brengsek."
"Duh, kalian berdua ... mati sana."
"Love you too, Choi." / "Love you too, Choi."
.
.
Istirahat makan siang, Jungkook meregangkan otot di sepanjang koridor saat menuju kantin. Kakinya kebas akibat hukuman dari Im-ssaem sebab ketahuan tidur. Mungkin Jungkook sudah kelewat bodoh karena berlaku demikian. Dia duduk di barisan paling depan, namun nekat tidur di kelas—good job! Dijamin otaknya sudah tidak ada.
Pembahasan lain, pada akhirnya Jungkook tidak jadi menghampiri Taehyung pagi tadi. Ia berbalik dan mengikuti langkah awal Jihoon menuju taman belakang sampai bel masuk terdengar.
Dan atas alasan ini, mengapa ia menjadi pusat perhatian sekarang. Sebab Kim Taehyung dengan heboh berlari ke arahnya setiba siswa itu menjejaki kantin, bersama sahabat-sahabat dekatnya. Menggeser duduk Hansol buat menyelip di tengah-tengah, persisi menghimpit Jungkook.
"Jungkook, dari mana saja? Aku menunggumu loh di gerbang tadi pagi. Kukira kau tidak masuk?"
Jungkook memutar bola mata malas mendengar histeria siswa ini, lalu melirik sengit, "Menungguku dari mana? Kau 'kan main basket dari pagi."
Taehyung mengedip polos atas ucapannya, "Kau ...," jeda, "Lihat aku?" kemudian obsidiannya tiba-tiba berbinar, "Serius?"
Acuh tak acuh, si Jeon hanya membuang pandang kembali ke nampan makannya lalu mengangguk tipis.
Sementara Jungkook tak mempedulikannya, Taehyung justru memangku dagu sambil mengagumi wajah Jungkook begitu sungguh-sungguh, "Wow, kau lihat aku," gumamnya asal sambil cengengesan, "—oh!" ia berseru tipis saat sedikit menegapkan duduk tanpa melepas pangkuannya, "Berarti kau datang pagi?"
Usai menelan kuah sup ikan, Jungkook menoleh. Menatap muka Taehyung yang berada di jarak luar biasa dekat, "Apa pedulimu kalau aku datang pagi?"
"Sangat-sangat peduli," bukan Taehyung yang menjawab, sontak Jungkook menoleh menghadap depan. Mendapati Seungkwan yang mengambil duduk di sebelah Jihoon, disusul kawan-kawan si Kim yang lain, "Dia langsung kabur loh habis tanding basket selesai, ke depan gerbang buat menunggumu," pernyataan ini disambut anggukan apatis Taehyung. Merasa separuh malas menanggapi ujaran kawannya, sebab baginya, mengagumi muka Jungkook lebih bagus ketimbang apapun.
Si Jeon memaksakan senyum buat Seungkwan, sementara dalam hati ia mendecak sinis, 'Langsung kabur, hm? Parabola sekali. Memang aku tidak lihat kalian tebar pesona dulu di koridor.'
"Oh! Tadi aku tidak lihat kau tadi di lapangan?" ini suara Hansol menatap lekat-lekat figur si Boo di sebelah kawannya.
Sambil mengaplikasikan ion face, Seungkwan menanggapi separuh cuek, "Tidak semua siswa DMN bisa main basket, Sobat. Aku salah satunya," si Choi ber-'ah' ria sambil mengangguk-angguk.
"Nah-nah, si macan betina!" vokal Jimin melengking, siswa itu sudah duduk di sebelah Hansol. Obsidiannya membara kesal mendapati seorang siswa yang menyantap makanannya lumayan jauh dari meja mereka.
Seruannya membuat yang lain meoleh serentak menatap ke arah mana si Park memandang.
Oh, si Ketua OSIS.
"Kalian tau?" Jimin langsung menatap kawan-kawannya bergantian, termasuk Hansol-Jihoon juga Jungkook yang ikut menatapnya, "Kemarin waktu aku minta ijin buat Horse-seok, dia mempersulit pengesahan suratnya," lalu mendengus jengkel, "Bajingan sekali tidak sih?" sudut matanya kembali mengintai Min Yoongi di sana, "Aku curiga ... jangan-jangan dia suka aku? Kerjanya selalu cari perhatian sih," ungkapnya yakin.
"Tidak mungkin," Jimin menoleh lagi ke tempat kawan-kawannya. Mendapati Jihoon yang menanggapi, "Dia tidak tertarik pada manusia."
Si Park mengerjap, "Maksudmu?"
"Hanya game mobile yang bisa buat dia jatuh cinta," jeda, obsidian Jihoon tak berkedip menatap Jimin, "Itu kenapa dia tidak pernah pacaran sampai setua ini."
Kening si Park berkerut tipis. Yang benar saja—batinnya tak percaya. Kemudian mendengus penuh cela, "Sok tau."
Jihoon memutar bola mata, lalu mencebik, "Jangan remehkan aku. Dari semua orang di sini, aku yang paling tau soal dia."
"Hm ... iya, percaya," lagak si Park terdengar mengolok-olok. Membuat Jihoon mendengus bengis lalu acuh tak acuh kembali ke nampan kantinnya.
Jimin hanya tergelak remeh menanggapi ini, sebelum suara Hansol di sebelahnya terdengar, "Jelas. Karena Jihoonie adiknya Yoongi-sunbae."
"Hah?" si Park terperangah, menoleh horor ke muka Hansol, "Serius?" dan fokusnya teralih pada Jihoon yang sedang mengunyah, "Kau adik macan betina itu?"
"Iya," si Lee berkomentar usai menelan. Lalu menengadah menghunus baris mata si Park pakai ujung sumpit, "Dan aku biawak jantan kalau dia macan betina—" ia bergerak cepat seakan-akan hendak mehujam kepala Jimin pakai besi rambing itu, membuat si Park reflek memejam mata kuat-kuat. Tapi Jihoon tidak melakukan apa-apa selain kembali memakan isi nampannya, "—kukebiri barangmu kalau berani sebut dia begitu lagi."
Lalu tawa tipis-tipis terdengar dari mereka, menertawai aksi Jimin juga Jihoon yang tidak penting sama sekali. Sebelum Hoseok menyahut.
"Jungkook-ah, harusnya kau bilang kalau sudah datang tadi pagi. Tau tidak? Bocah brengsek ini bolos jam pertama gara-gara menunggumu sampai gila," siwa itu tidak duduk, ia berdiri di belakang Taehyung, mengusak kasar rambut merah siswa ini.
Lantas ungkapannya dihadiahi lirikan sadis Taehyung yang menghantamnya, "Tutup mulutmu, kuda."
Tanpa gentar si Jung justru tergelak senang, "Kalau bukan Jiminie yang maki-maki telpon dia, mungkin ini anak masih di sana, Jungkook-ah."
"Kubilang tutup mulutmu—brengsek," desisan tanpa suara yang kali ini Taehyung lontarkan, untungnya dipatuhi siswa itu. Hoseok mengangguk sok imut, lalu mengisyaratkan gerak seakan-akan menutup zipper di mulutnya.
Tapi tak lama, sebab suara Jimin langsung terdengar, "Besok kalau datang lebih pagi lagi. Pastikan kau absen dulu. Jangan buat dia makin sinting," kini vokalnya terdengar ketus namun juga cuek.
"Chim!" siswa Park itu mengalihkan fokus, langsung menatap Taehyung yang melotot padanya. Lalu si Kim kembali menyalak tanpa suara, "Jangan macam-macam, sialan, buat apa bilang begitu? Kau pikir Jungkook bakal mau? Yang ada dia nanti makin ilfeel padaku!"
Atas ini Jimin terbahak di tempat, mencemooh ketika siswa lain di sekitarnya menatap mereka berdua bingung, "Duh Tae, jangan sawan begitu dong," jeda, "Siapa tau Jungkook-ah mau? Bisa jadi kemajuan 'kan?" sekarang gelegak tawanya terdengar sarkastik saat sepasang alisnya menggedik iseng, "Lagi pula ...," kemudian obsidiannya berganti menatap Taehyung juga Jungkook bergantian, "Memang kau tidak punya nomor Jungkook? Kenapa bertindak drama di era global? Mestinya kirim pesan atau telepon saja, biar Jungkook-ah tidak disalahkan orang-orang begini. Lagakmu tadi pagi tuh primitif sekali, tau tidak?"
Untuk pertanyaan ini. Senyap mengudara cukup lama.
Sebab Park Jimin sukses membuat Kim Taehyung menjadi remaja paling bodoh sepanjang masa, dengan jelas kawan-kawannya bisa mendapati siswa itu dilanda resah dan menjadi ling-lung tiba-tiba.
Tidak menjawab, Taehyung justru menatap Jungkook yang menoleh cuek padanya.
"Jangan bilang ...," ini suara Soonyoung yang duduk di sebelah lain Jihoon. Ragu-ragu sejenak, kemudian menyeletuk heran, "..., kau tidak punya nomor Jungkook?"
Dan Kim Taehyung yang tidak bisa berkata-kata sudah cukup buat kelima sahabatnya terperangah. Sebelum anak-anak itu menyemburkan tawa dalam serentak.
"Demi ayam! Serius? Kau tidak punya nomor Jungkook? Sumpah?! Lalu selama ini kau ngapain, hah? Cuma pendekatan tanpa progress?! Kau datang dari jaman batu, ya?!" kehebohan Mingyu dalam sekejap turut membuat Hansol bahkan Jihoon ikut terbahak-bahak, menertawai keidiotan Taehyung yang sangat-sangat 'Wow'.
Sementara Jungkook sendiri hanya kembali pada nampan kantinnya, berusaha abai pada anak-anak ini dan pandangan orang sekitar yang penasaran menatap mereka. Sedangkan Taehyung langsung menunduk pada lipatan tangannya di meja, menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu campur geram.
.
Attention! Taehyung frustration—Completed.
.
Bagaimana bisa mereka sekejam ini padanya di depan Jungkook? Taehyung tau kalau mulut mereka tidak bisa dikontrol (sebab ia juga sama)—tapi setidaknya, ia mohon, cukup di depan Jungkook, tolong jangan terlalu blak-blakan.
Mau ditaruh mana mukanya habis ini, hah? Kloset?
Oke, ingatkan Taehyung buat lebih banyak ke gereja, memohon ampunan Tuhan karena dianugrahi kawan-kawan segini brengsek.
.
.
Usai bel masuk terdengar, mereka melangkah kembali ke kelas. Jungkook tidak tau, tapi mungkin ini tindak kesengajaan. Sebab Jihoon-Hansol lebih memilih ikut bergerombol dengan kawan-kawan Taehyung beberapa meter di depan mereka.
Ini jadi mereka sebab ia mesti jalan berdampingan dengan si Kim, tertinggal berdua. Tidak seperti biasanya, semenjak tadi siswa ini tidak banyak bicara, hanya sesekali berkata kemudian diam lagi. Namun Taehyung tidak menunduk, masih terlampau tangguh meski isi kepalanya tengah dilanda malu setengah mati ada di sebelah Jungkook.
Si Jeon sendiri entah mengapa, sebab akuan serampangan kawan-kawan Taehyung tadi, ada suatu sensasi yang membuat jantung hatinya menghangat.
Pelan-pelan, tanpa sadar Jungkook melirik, menelisik sebelah potongan wajah Taehyung yang akhirnya ia akui kalau siswa itu sungguhan tampan. Gigi-gigi taringnya bermain di bagian dalam bibir, mengontrol sensasi hangat yang ia benci, lebih-lebih memanas ketika ia mengeja dalam hati, 'Jadi dia sungguhan menungguku?'
Tak berselang lama langkah Jungkook terhenti, "Heh," gerak kaki Taehyung ikut berhenti.
"Kenapa?"
"Kau ...," ragu-ragu Jungkook bersuara, napasnya terhambat dikerongkongan, "Pulang nanti bisa antarkan aku?"
Kalimat tanyanya seketika membuat bola mata Taehyung mengkilap jernih, namun juga bingung dalam cara yang sama. Ia mengedip ling-lung.
Tuhan, telinganya masih waras 'kan?
Jungkook membuang muka sebab ini, sumpah demi kambing, Taehyung yang seperti itu malah membuatnya gemas. Mungkin siswa ini lebih bagus bertindak polos ketimbang sok absolut, "Bisa tidak? Aku mau beli sepatu buat hyung-ku."
"Bisa! Tentu saja!" seruan riang Taehyung langsung mengudara, "Nanti aku ke kelasmu!"
Jungkook melirik dari ujung mata, "Ya sudah," kemudian melenggang acuh mendauluhi Taehyung menuju kelas.
Menyisakan si Kim yang berbunga-bunga di tempat. Menampakan cengir gila menatap punggung Jungkook menjauh, sampai siswa itu hilang di tikukan lorong. Dan satu yang terlintas di otak Taehyung adalah mengais kantung dalam almamaternya, mencari ponsel dan menguhungi paman Ahn, "Ahjussi, bawa Limosin ayah!"
Yang Taehyung tidak tau, sebenarnya Jeon Jungkook ada di sana. Bersandar di tembok yang baru ia lewati di tikungan. Tak mendengar seruan bahagia si Kim, sebab terlalu sibuk menetralisir debar jantungnya yang bergemuruh serampangan.
"Idiot! Idiot! Buat apa minta diantar dia, hah? Apa pula beli sepatu buat Wonwoo-hyung? Duh, adik yang baik sekali kau Jeon Jungkook—habis sudah uang jajanku! Habis!"
.
.
Boom! Bah!—LOVE!
...
Mendelik. Lagi-lagi Jungkook mendelik, memperhatikan Taehyung dari ujung mata. Siswa Kim itu ada di depannya sekarang, fokus pada buku menu—di tengah-tengah mereka ada meja bersih yang cantik. Jungkook berdeham dua kali, menelisik bagaimana raut serius Taehyung yang selalu jadi malapetaka baginya terpampang begitu nyata di sana. Dengan sangat-sangat tampan.
Seragamnya yang tadi acak-acakan habis bergulat dengan Soonyoung ketika nyaris masuk mobil, sudah rapi lagi dengan almamater sekolah elit ia kenakan tanpa rompi, kancing paling atas kemeja terkait, dan dasinya tersimpul kukuh mencekik leher.
—sialan.
Ini tidak seimbang sama sekali dengan penampilan Jungkook yang persis gembel sekolahan. Rambutnya semerawut dan gakuran YaGooknya kucel efek belum dicuci satu minggu. Takdir Tuhan semakin memperburuk, sebab kenyataan kalau seragam sekolah mereka saja mempunyai level sangat-sangat jauh.
Kalau begini, malah terlihat seperti si pangeran dengan babunya 'kan?
Mereka masih di perjalanan membeli sepatu buat Wonwoo. Mestinya Jungkook sudah sampai di kios sepatu sekarang—mestinya, kalau saja ketika di mobil tadi perutnya tidak dengan brengsek menggemakan bunyi keroncongan.
Demi Tuhan, itu memalukan.
Ini juga gara-gara siang tadi dia tidak cukup makan, bayangkan, bagaimana bisa ia menikmati makanan saat kawan-kawan Taehyung terus berceloteh bising sepanjang jam istirahat.
Dan sekarang mereka di sini. Di restoran mewah daerah Gangnam. Meninggalkan paman Ahn di mobil cuma buat duduk berdua pada satu bagian strategis rumah makan ini. Sisi pinggir dekat jendela yang mengarah langsung pada jalanan, mereka di lantai dua omong-omong.
Kalau saja Taehyung tidak terlihat begini indah, mungkin Jungkook masih mengagumi bagaimana arsitektur memukau restoran megah ini. Dengan gaya Eropa jaman pertengahan, bercampur budaya hangat iklim tropis. Yang demi Tuhan dalam mimpi pun tidak pernah berani Jungkook bayangkan buat menjejakinya.
Ia tersedak liur sendiri saat Taehyung mengembalikan buku menu dengan pesanan final, pada waitress cantik yang terus menunggu di sisi meja. Ketika retina si Kim beralih menatapnya, Jungkook buru-buru menunduk, berdalih fokus pada buku menunya sendiri. Menyembunyikan wajah dari Taehyung dalam sampul lebar itu.
Si Kim cuma terkekeh kecil menyadari kelakuan Jungkook. Menanti remaja itu sambil memangku dagu di sebelah tangan, menikmati figur si Jeon di depannya. Dari jemari halusnya yang menggenggam kikuk buku menu, sampai rambut kelamnya yang menyembul; mengintip usil dari atas sampul.
—indah, semuanya terlihat indah dan memukau. Segala tentang Jeon Jungkook di mata Taehyung.
Debar jantungnya sama sekali tak tertutup alih-alih, memang tidak separah waktu awal-awal ia mengenal si Jeon. Hanya saja ... degupan itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Membuatnya makin nyaman dan menikmati bagaimana cara detakan ini berdesir.
Memiliki Jungkook sedekat ini tanpa paksaan adalah harapannya entah mulai kapan. Maka mendapati itu menjadi kenyataan, membuatnya hanya mampu berhisteria dalam kebahagiaan terselubung.
Ya, mimpinya menjadi nyata.
Sisi lain, selagi ia mengagumi, Taehyung sama sekali tidak tau kalau di depan sana Jungkook sedang menganga lebar. Nyaris tersedak liurnya lagi saat mendapati rentetan angka buat sebuah harga makanan di barisan daftar.
"Sial, makanannya dibuat dari parutan emas apa?" pelan sekali Jungkook berbisik, berkata pada diri sendiri. Menengguk liur susah payah ketika perutnya tiba-tiba kenyang, "Sup ikan satu mangkuk? Holly. Mana sanggup aku makan kalau begini? Beli ramyeon bisa dapat tiga dus."
Suara Taehyung terdengar, membuyarkan imajinasi absudrnya, "Jungkook? Kesulitan sesuatu?" nadanya hangat separuh kuatir. Tapi terlampau malas buat bergerak dari posisinya menumpu dagu.
Si Jeon menggeleng. Lantas menghela napas bulat-bulat, menghirup berat lalu menutup buku menunya sekali hentak, "Aku pesan air putih saja," ungkapnya yakin.
"Hah?" kening Taehyung mengkerut tipis, menatap Jungkook dengan netra yang berpendar tidak mengerti. Sebelum matanya mendelik pada sang pelayan yang juga melirik ke arahnya, bersilang tatap bingung, kemudian di situ Taehyung baru sadar. Rela keluar dari zona nyamannya buat melepas tumpuan, bersandar punggung saat tergelak geli menertawai kelakuan si Jeon—tidak terlalu keras karena ia sadar ini tempat umum.
Sedangkan waitress di sana menutupi mulutnya pakai sebelah tangan dan buku menu (yang tadi diserahkan dari Taehyung) dalam dekapannya, terkekeh lucu sambil menunduk sopan takut-takut kalau menyinggung perasaan pelanggannya.
Si Jeon malah mengerjap heran menanggapi ini, sebelum Taehyung bisa menggendalikan diri. Siswa Kim itu berdeham dua kali, tersenyum atraktif sambil memangku dagu lagi, "Aku yang bayar—ingat? Pesan saja sesukamu."
Tapi ujarannya dibalas gelengan mantap Jungkook, "Tidak, terimakasih. Aku lupa kalau sedang diet."
Diet? Jeon Jungkook?
—man?
Yah, Jungkook kira alasan itu sudah cukup meyakinkan buat ia terbebas dari perkara harga sialan ini. Tapi nihil karena dengan jahanamnya, pemudi cantik di sisi meja tiba-tiba buka suara, "Boleh saya memberi solusi, Tuan?" Taehyung mendongak, diam sebentar lalu mengangguk tanpa perlu tanggapan Jungkook. Sambil tersenyum ia berkata fasih, "Kami memiliki menu diet yang bagus untuk tingkat remaja, seperti La pasta dari bahan-bahan organik pilihan. Yang mengandung vet minyak yang penuh nutrisi. Makanan sehat kami bukan hanya pilihan dari salad dan beragam bubur kondusif, kami juga menyediakan macam-macam daging olah non kolesterol, jadi selain efektif untuk diet ini juga bagus buat kesehatan. Anda tertarik?"
Brengsek, itu bukan solusi!
Taehyung mengangguk paham, "Nice," wajahnya berseri pongah, lantas menoleh sambil menaikan kedua alis. Kini baru meminta pendapatnya.
Jungkook mengigit bibir bagian bawah serampangan. Bingung bukan main. Tapi kepalanya masih keras kepala tidak mau mengabaikan rasionalitas, dari pada mengeluarkan puluhan won cuma untuk satu makanan. Lebih baik memborong isi swalayan menurutnya.
"Tidak—terimakasih. Aku benar-benar hanya butuh air."
Tanggapan itu—ya Tuhan, bagaimana bisa Jungkook bicara demikian lucu dengan tampang seriusnya yang inosen luar biasa. Sumpah demi apapun, ini menggemaskan menurut Taehyung. Dalam hati ia terbahak-bahak keras sekali, mengulum bibir gemas usaha menahan tawanya. Ia mengangguk dua kali buat Jungkook—anggukan pelan yang sarat suatu makna.
Lalu berpaling pada sang waitress yang melongo di tempat. Dengan tangan yang tak dijadikan tumpuan, Taehyung memberi isyarat sampai pemudi itu membungkuk menyetarakan telinga di depan bibir si Kim. Taehyung berbisik di sana, membiarkan Jungkook bertanya-tanya dalam diam, tak lama si pelayan kembali ke posisi dengan senyum dan anggukan sekali. Lalu berbalik usai membungkuk tipis, melenggang pergi dari sana membawa paper pesanan juga dua buku menu tadi.
"Gila, kau tumbuh dengan asupan makanan seperti ini?" Taehyung mengerjap, mendapati muka tercengang Jungkook tidak tertutupi sama sekali.
Tanpa beban ia mengangguk, "Kenapa?"
"Kenapa?" ulang si Jeon sarkastik, "Aku lebih rela makan makasan gosong abangku di rumah dari pada beli jjampong di sini."
Taehyung terkekeh kecil mendengar tanggapan jengah siswa Jeon itu, "Di sini tidak menjual jjampong, Jungkook."
"Persetan deh," suara Jungkook terdengar masa bodoh, ia bersandar punggung di kursinya, "Besok-besok jangan bawa aku ke mari lagi, ingat? Awas saja kau."
"Kau kelaparan, kalau bukan ke restoran harus kubawa ke mana? Toko bikini? Mau makan tali bra, hah?"
Jungkook mendengus keras, "Idiot," decaknya kesal, "Aku tidak minta kau buat peduli dan mendanai isi perutku, kita tidak benar-benar dekat buat kau bisa mentraktirku, paham?"
Sambil menggedik bahu acuh Taehyung bersuara masa bodoh. Mengagumi paras manis Jungkook lebih menarik buatnya ketimbang meladeni mulut sinisnya, "Hanya merasa bertanggung jawab—kau jalan denganku, Jungkook, jadi kebutuhanmu itu kewajibanku."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan pernah berpikir buat menyogokku pakai uang dan kartu debitmu, kau pikir aku bakal terpengaruh? Jalang manja sepertimu, jangan coba-coba samakan aku dengan para mainanmu di luar sana," sorot matanya tajam tanpa kompromi, memicing benci meneriaki emosionalnya menusuk-nusuk Taehyung, "Lagi pula ... aku yang memintamu mengantarku. Tidak ada tanggung jawab apapun. Pa. Ham?"
Si Kim diam sebentar. Oke, dia bukan masokis yang suka dikasari (ia yang bahkan suka bicara kasar buat rentetan bandit genit yang suka mendekatinya dengan tujuan) tapi tempramennya sama sekali tidak bisa menyulut saat Jungkook yang berkata demikian sarkas teruntuknya.
Mungkin ini efek terbiasa, sudah terlampau kebal mendapati Jungkook yang mencercanya macam-macam. Maka Taehyung hanya berlagak santai dengan obsidiannya yang mendamba, "Aku mencintaimu—kau tau 'kan, Jungkook? Terpengaruh atau tidak, itu pilihanmu. Hanya merasa bertanggung jawab, karena aku mencintaimu, sama sekali tidak bermaksud menyogok—dan, persetan, aku mulai tidak keberatan kau panggil macam-macam. Itu tersengar seperti panggilan sayang darimu buatku," kemudian ia tertawa polos dengan cengir kotaknya, "Toh ... aku tidak merasa pernah di booking tante-tante, jadi terserah saja, aku bakal menikmatinya."
Ekspresi datar Jungkook terpetak jelas-jelas di wajah tampannya. Bersunggut-sungut—jengah bukan main, "Psiko masokis."
Tapi celaannya malah ditanggapi tawa ceria Taehyung yang merasa gemas, "Love you too, Bae."
.
.
"Tidak mau masuk?" separuh tertawa Taehyung bersuara, masih betah membukan pintu belakang Limosinnya supaya Jungkook masuk lebih dulu. Sebab si Jeon sendiri tetap di depan pintu mobil, tanpa henti menyerapah sejak keluar restauran tadi dengan wajah keruh tak bersahabat, "Jungkook?" tegur Taehyung dengan kekeh kilat.
Si Jeon mendelik murka, nyaris menggaruk muka si Kim kalau saja otaknya sudah tidak waras, "Brengsek," umpatnya sekali, sebelum lagi-lagi kalah dan masuk dengan emosi.
Oke, Taehyung memang brengsek. Karena di restoran tadi nyatanya apapun itu yang ia bisiki pada sang waitress, pasti sesuatu soal pesanan Jungkook. Sebab ketika pelayan lain muncul dengan roda dorong menyajikan makanan buat mereka—ini benar-benar menjadi mereka.
Ia tadi hanya pesan air putih, Man! Air Putih! Kenapa pula tiba-tiba diberi makanan yang sama persis seperti punya Taehyung?
Ulah Jalang manja itu—pasti. Umpat Jungkook tak henti-hentinya.
Taehyung sendiri tidak tau kenapa Jungkook bisa semarah ini hanya karena ia mengganti pesanan mereka manjadi sama. Harusnya siswa Jeon itu berterimakasih.
Tapi bukan berarti Jungkook menolak, ia menghabiskan jatahnya sampai tetes terakhir dengan kernyit di dahi. Mubazir bukan main mengeluarkan uang banyak-banyak buat satu porsi makanan—meski ia tidak munafik, Jungkook akui makanan itu luar biasa enak, hanya saja rasanya langsung terlupakan ketika ia makin kesal melihat bill yang Taehyung keluarkan setelah mereka makan.
Orang kaya—orang kaya sialan!
"Jangan begitu lagi," ketus Jungkook saat paman Ahn mulai melajukan mobil ke luar parkiran. Taehyung menoleh, mendapati air muka serius Jungkook yang tidak mau balik menatapnya, "Aku tidak suka kau bersikap seenaknya—marasa jadi sugar daddy hah? Kau pikir aku siapamu?" intonasinya berubah dingin.
Kemudian hening merajai.
Sebelum tiba-tiba Taehyung berkata sungguh-sungguh, "Maaf."
Jungkook menghela napas berat, entah kenapa jadi merasa bersalah mendengar Taehyung begini mudah menurutinya. Ia pikir, si Kim bakal mengajaknya debat dulu seperti biasa, "Sudahlah," pada akhirnya Jungkook mendengus jengkel. Kesal pada diri sendiri yang mengiba dan peduli, "Jangan meminta maaf. Kau membuatku seperti orang jahat," lalu menoleh. Mendapati air muka Taehyung yang terhias bias sendu. Jungkook mendecak marah, menghela napas lagi sebelum mengendalikan diri begitu baik, menatap balik obsidian si Kim yang menelisiknya hangat, menerima kesungguhan dari bagaimana retina itu menjeratnya. Jungkook membuang pandang kikuk selepas itu, menatap LCD besar di depannya, "Terimakasih," katanya diplomatis.
Sudut bibir Taehyung menarik senyum tipis menghilangkan lara hati. Hening sebentar, "Hm ...," suaranya ragu-ragu, "A-aku ... aku harus menanggapi bagaimana?" kemudian memaksakan tawa saat Jungkook menoleh snobis.
Jungkook tidak marah, hanya kesal untuk sesuatu yang ia sendiri bingung. Maka mendapati Taehyung yang begini; benar-benar salah menurutnya. Mestinya dia jadi si bangsat angkuh yang pas buat diumpati, tidak perlu sok protagonis seperti ini.
"Jangan tunjukan kekuasaanmu di depanku—soal uang dan segala tetek bengek tentang bagaimana kau tumbuh dengan menggenggam sendok emas," jeda mengudara.
'—yah ... pecundang sepertimu kusarankan jangan terlalu nekat buat berharap banyak-banyak. Apa lagi pada orang-orang kaya seperti itu—jaga lubangmu, jangan murahan. Sebab perasaan mereka mudah datang dan pergi,'
Brengsek, di saat seperti ini kenpa dia malah teringat kata-kata Wonwoo?
Jungkook menelan liurnya kasar, menatap Taehyung tepat di retina. Dalam dan intens, mencari alasan buat menyadari kalau segala tingkah laku Taehyung selama ini hanya omong kosong belaka. Tapi nihil. Bagaimana cara Taehyung menatapnya terlampau tulus dan memuja—maka Jungkook yang jadi benar-benar fustasi di sini.
"Cukup jadi siswa SMU biasa yang merepotkan, Kim," ungkapnya ketus, "Jadi Kim Taehyung yang apa adanya,"—jangan terlalu tinggi—"buat seakan-akan kita hidup di dunia yang sama,"—lipat sayapmu, turunlah ke bumi—"Tempat di mana aku tidak terlalu ragu buat menjangkaumu."
.
.
.
'—ya ... maka aku akan belajar buat mempercayaimu.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
©Boom! Bah!—LOVE!
V : Jungkook, all about you!
tbc.
Jo Liyeol's Curhat Timing
Uhuy, bab ini lebih panjang loh~ 7K+ =w= sawrry buat kemaren, dedek khilaf ngerebot chapter huhuhu. Duh, malu (つ﹏=)
Beteweh gaes, kalo ada yang ngerasa rancu gitu sama si Kuki. Perlu penjelasan yaw kayanya. Emang di sini dedek pengen bikin sifat Jungkook jadi labil selabil-labilnya, supaya lebih real aja buat anak SMU yang disukain bocah kaya macem Taehyung. Kalo dedek sendiri sih, ngebayanginnya pasti seneng banget, tapi curiga juga pasti gak mungkin enggak, terus lagi perasaan suka yang disangkal pasti ada dong, namanya belum percaya. Muehehe =w= gitu aja deh ... semoga kalian menikmati yaw.
Oh iye .. reviewnya jangan lupa oke? *maksa* Yang jadi siders dedek sumpahin nanti malem ga mimpiin oppa =w= muehehe ...
.
PS(1): Semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): Poppo dulu sini buat semua yang udah bacaaaa~ =3=
.
.
Bales review? Q&A? ⊙w⊙?
...
SwaggxrBang; ciee cieee kaka ga bisa nebak ciee =w= ih lucuan dedek ah ketimbang ffnya kak. Muehehe | SherryMC; Duh kaka nungguin ff ini update ya? Uluh uluh uluh, kecup dulu sini-sini. Kusayang kaka yang engeh ini ff kena rebot chapter, muehehe =w= nah, balik ke komen, iya atuh itu si Tae begitu efek gaulnya juga sama kawan yang kalo ngomong suka bleweran. Sama blak-blakannya. | Alpheratz3100; Dududu jangan setengah-setengah dong kak, nanti suaminya begowakan separo(?) *lah? =w= Dedek mah ga mau ngemubazirin orang-orang ganteng, cameo juga butuh belayan soalnya :v Si Encim bisa nyangkut ke Yunji itu kan syudah dedek jelasin di chapter kemaren. Kaka baca yang bener dong! Baca yang bener! *nyolot* muehehe ... maaciw kaka fightingnya =w= ini tsun-tsun seri dua udah nongol koq. | Pencinta Vkook; Dedek minta semua merchendes btsmu kak! Semuanya! Album juga ga mau tau! Muehehe =w= Iya kaka kutau ini ff manis banget kaya yang nulis, aku udah sadar diri koq, syumpah :v Wkwkwk Kaka me love u *lah?* pas kaka nulis komen: 'Mksh author nim udh bikin epep emesssss bgni ... etc.' Itu aku terhura sangat, ga tau kenapa tiap baca komenan 'terimakasih' itu rasanya nyut di ati ╥_╥ apakah ini cinta? Huhuhu kulebay ya? Mueheee :v oh ya, ku bukan authornim beteweh, panggilnya dedek aja dedek! Dedek Li =w= Apa Li-nya aja kalo kaka ngerasa muda (atau ga tau umur) *eh* =w= canda doang syumpah, muehehe. | dwi-yomi; sayang kaka jugaaaa ... kaka koq engeh chapter kemaren kena rebot, duh ╥_╥ tercengong ekye, waks :v Kecup sini kak~ kecup~ ffn ga eror kok, dedeknya yang eror duh. Aku khilaf kemaren =w= balik bales komen, iya ini si kuki emang sebenernya anak bego sekolahan yang aslinya cerdas(?) *apasih Li* =_= Pokonya gitu deh, intinya kuki tuh labil. Titik. Muehehe ...
Dah, sekian.
...
Buat yang lain sawrry ko ya, dedek teh ga bisa bales semuanya (╥_╥)
Kuudah ilang akal buat bales review permirsah.
.
.
And cintah lain buat:
| PuppyMochi | Vi | Albus Convallaria majalis | Ju | Sylvia803 |
| Ly379 | Kyunie | quiteumess | aliceus | audriepramesthi |
| Someone like you | jeondeui | Merli Kim | CaratARMYmonbebe | yeoNa95 |
| InfinitelyLove | Qua Ress13 | Iron jeon | Xchroemx | goldentime |
—to all Guess undetect.
.
Special thanks for: Follows, Favorite, and Reviews in Chapter 4.
Review Juseyooo!
.
.
Kunjungi personal blog Liyeol juga yaa: [ Jo Liyeol Fantasy ]
Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v
[04-07-2017]
