Hari ini adalah hari minggu,hari yang seharusnya menyenangkan. Biasanya aku Jungkook dan putra kami Choko,pergi piknik atau membuat pesta barbeque kecil-kecilan di taman belakang rumah kami.Namun sialnya hal itu tidak berlaku untuk hari ini.Produser-nim memintaku merampungkan lagu baru untuk boygroup yang comebacknya tengat waktunya hanya tinggal dua bulan lagi,kami dikejar deadline,masih banyak bagian yang harus direvisi.Dan jujur saja itu membuatku stress sekaligus senang dalam waktu bersamaan,stress karena deadline,senang karena lagu ciptaanku akan dibawakan salah satu boygroup terkenal di korea.

Untung saja yang jadi partnerku adalah Namjoon,dia itu jenius musik.Tanpa dia mungkin perkerjaan ini tidak akan pernah rampung.

Aku mengelus perutku yang membuncit.Kehamilan ini membuatku tak bisa mengenakan celana jeans lagi,sebagai gantinya aku memakai celana training dengan pinggang karet lembut,setidaknya dengan celana itu bayiku tidak akan tercekik di dalam sana.Aku juga memakai kaos kedodoran.Saat hamil seperti ini fashionku berkutat pada baju-baju oversize.Meski begitu kata Jungkook aku tetap seksi.

Memaut diriku di cermin sekali lagi dan aku siap untuk berangkat ke gedung agensi.Tapi suara bel yang nyaring mengejutkanku.

Siapa yang bertamu di hari minggu?

"Jin...Namjoon..." aku memandangi mereka bergantian. "Ada apa? Kok kalian kerumahku?"

Seokjin tidak menjawab,malah dengan santainya masuk kedalam dan memanggil nama choko keras-keras.Kini aku menatap namjoon yang tengah cemberut.

"Tanyakan saja pada suami cerewetmu.." katanya lalu mengikuti seokjin masuk rumah.

"Oh kalian sudah datang." jungkook datang dari ruang bermain choko,dengan choko yang bergelayut di punggungnya.

Seperti biasa choko selalu antusias bila bertemu seokjin dan namjoon.

"Uncle..." teriaknya riang.Jungkook segera menurunkannya dari gendongan.

"Halo sayang..." balas Jin.Lalu menarik tangan Choko untuk menuju dapur.Sepertinya Seokjin membawakan kue manis lagi untuknya.

Kini tinggal aku jungkook dan namjoon.

"Apa kau yang menyuruh mereka datang kemari?" aku melipat tangan di dada,meminta penjelasan pada Jungkook. "Kenapa?"

"Ah,aku lupa memberitahumu,baby. Hari ini kau tidak akan ke studio agensi,kau akan berkerja dirumah. Makanya aku meminta Namjoon datang kemari." terangnya

"Apa?" mataku membulat tak percaya.

"Kehamilanmu sudah berusia tujuh bulan,baby.Aku tidak akan membiarkanmu berkerja diluar rumah.Terlalu berbahaya." desahnya,alisnya bertaut meminta permaklumanku.

Ya ampun.

"Astaga kookie,aku hanya akan berhadapan dengan kertas dan komputer,bukannya sedang menghadapi pasukan tembak,tank atau sniper.Aku hanya akan membuat lagu,bukanya di medan perang." gerutuku frustasi,mengacak-acak rambutku dengan gemas.

Dari sudut mataku kulihat namjoon mencoba menahan tawanya. Baginya ini mungkin percakapan paling konyol yang pernah didengarnya.Aku melotot padanya.

"Lagipula studioku dirumah tidak selengkap studioku di agensi." rengekku lagi.

Jungkook tersenyum penuh arti.

"Kalau soal itu tenang saja,mari ikut aku."

Mau tak mau kami mengekorinya menuju studioku di rumah.Letaknya ada di sebelah ruang kerja Jungkook.

"Wow..." itu suara Namjoon saat jungkook membuka pintu.

Aku sama terkejutnya.Karena studioku berubah menjadi sebuah studio profesional dengan komputer dan alat-alat canggih lainnya.Bahkan ada dua buah kursi pijat mahal di sudutnya.

"Aku sedikit berinovasi."

Sialan!

Ini bukan inovasi,ini adalah cara terbaik membuang uang puluhan juta won.

"Ini terbaik kawan,ini surga.Ayo mulai berkerja!." Namjoon masuk kedalam studio dan segera menempatkan pantatnya di depan komputer.

Aku mendesah.Kalau sudah begini mau apa lagi.Jungkook memang tak pernah tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu.Kadang kala itu membuatku kesal dan bangga pada saat bersamaan.

"Maafkan aku,baby.Ini semua demi kau dan bayi kita.Aku hanya ingin membuatmu aman dan nyaman."

Sorot matanya menginginkan pemahamanku.

"Ok.."

Jungkook bernafas lega.

"Baiklah sayang aku akan pergi sebentar.Kau ingat Tuan Han? Investor baru kita.Beliau sakit dan aku akan menjenguknya sebentar."

"Jadi karena itu kau meminta Jin datang?" jin datang untuk menemani choko.

"Ya." jawabnya lalu mengecup keningku. "Aku akan ganti baju dulu."

Dia beranjak pergi dan aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah dimana tawa membahana jin dan choko terdengar.Entah lelucon apa yang dilontarkan Seokjin hingga choko tertawa terbahak-bahak.

"Hei kalian..." aku ikut duduk di sofa,mencomot sebuah cookies dalam toples di pangkuan choko.

"Enak kan,mommy? Uncle jin yang membuatnya."

Aku tersenyum dan mengangguk.

"Jin aku minta maaf karena menggangu akhir pekanmu."

"Tidak apa-apa,lagipula aku senang bila bersama choko." ujarnya mengecup pucuk kepala choko yang masih asik mengunyah cookies.

"Tapi aku ada satu permintaan."

"Apa?"

Aku mendesah dan sedikit mencondongkan badanku ke arah Jin.

"Please jangan ajak dia nonton drama percintaan,aku takut dia akan puber sebelum waktunya."

Ok,ini berlebihan.Tapi saat choko menyebutkan kata 'jatuh cinta' dengan mudahnya itu membuatku sedikit khawatir.

"Huh??" mata jin menyipit. "Aku tidak pernah mengajaknya nonton drama.Apa kau tahu dia bahkan memonopoli tv ku dirumah,kau tahu apa yang ditontonya?."

Aku menggeleng.

"Demi Tuhan.Jeon mini ini menonton CNN,yoon.CNN. kau tahu CNN? Aku bahkan tidak bisa menonton acara masak favoritku."

Sejenak aku ingin tertawa terbahak bahak namun yang keluar hanya cekikikan kecil begitu meihat wajah masam Seokjin.Aku sudah membayangkan saat Choko menonton siaran berita CNN sedangkan Seokjin yang mendumal disebelahnya.

Astaga,anakku.Ternyata Jungkook terlalu banyak menyumbangkan Gennya pada putra kami.

For Godness sake!

CNN?

"Choko karena mommy harus berkerja dan daddy harus pergi sebentar,choko sama uncle Jin dulu ya." aku mengusap kepanya lembut.

"Aye...aye...mommy." serunya.

"Mommy sudah menyiapkan CD kamen rider dan cloud bread,kau hanya boleh nonton itu atau bermain di ruang bermainmu,atau..."

"Tapi mom,aku kan ingin nonton film horor." rengeknya.

"Choko,tidak baik menginterupsi saat mommy sedang bicara."

"Mengupsi itu apa mommy?" tanyanya bingung.

Sungguh aku ingin tertawa keras,tentu saja anak sekecil dia belum bisa menangkap kata-kata panjang.

"Menginterupsi,sayang.Artinya saat mommy bicara choko tidak boleh memotongnya."

"Oh.." ucapnya lucu.

"Baiklah,mommy ada di studio.Kalau choko lapar minta uncle jin menyiapkannya ya." kataku mengecup pipi gembilnya.

"Jin aku titip choko dulu ya."

"Aye aye,yoon..."

Aku segera menuju studio.Namjoon dan perkerjaan sudah menungguku disana.

(Author P.O.V)

Jungkook sudah berpamitan dengan yoongi kini saatnya berpamitan pada putra kesayangannya.Rasanya menyebalkan saat seharusnya dia asik bermain dengan baby boy-nya dia harus pergi menjenguk salah seorang investor penting perusahaanya.

Jungkook mendengar putranya tertawa kencang saat berhasil mengalahkan Seokjin dalam permainan pirates.Tawa itu mengirimkan sinyal hangat ke hatinya.

"Hai baby boy..." jungkook membungkuk dan mengecup kepalanya.

"Eoh...Daddy mau pergi?."

"Ya sayang,daddy akan pulang cepat,sementara waktu mainlah dengan Uncle Jin ya.Dan mommy sedang sibuk jadi jangan menganggunya." pinta jungkook

"Oke,daddy." jawab choko. "Eung...apa aku boleh main bola di taman?." choko memasang puppy eyes andalanya sambil mengerjap lucu.

Jungkook mendongak keluar,menatap melalui pintu kaca besar.Sejam yang lalu turun hujan,akibatnya rumput jadi basah dan agak becek.Kalau choko main bola dia bisa kotor dan terserang flu.Dia tidak bisa membiarkan kuman-kuman diluaran sana menyentuh tubuh mungil putra kesayanganya.Tidak akan!

"No."

"Daddy..." rengek choko.

"Diluar kotor sayang,terlalu banyak kuman."

Seokjin memutar bola matanya jengah.

"Kau berlebihan sekali Jungkook. Kenapa kau tidak bungkus saja tubuhnya dengan plastik wrap dan taruh dia di lemari kaca agar tetap steril." sindir Seokjin.

"Apapun asal tidak main diluar,Jin.oke! Baiklah aku terlambat." jungkook mengecup pipi choko lagi. "Bye buddy...Jin aku titip choko."

"Bye,Daddy..."

Kini tinggal Seokjin dan Choko yang masih asik main di atas karpet bulu tebal di ruang tengah.Masih setia main dengan boneka plastik brrbentuk bajak laut dengan pedang mainan yang menancap di setiap lubangnya.

"Uncle,aku bosaaaan..." Choko berbaring terlentang dengan tangan terbentang,bibirnya mengerucut lucu.

"Tidak boleh main diluar,Choko.Nanti Uncle dimarahi sama Daddy Jungkook."

"Nonton film saja,Uncle."

"Baiklah." seokjin bangkit dan menuju rak kaset,mengeluarkan sebuah CD pocket bergambar superman.Setahunya pocket yang bergambar superman merupakan milik Choko,isinya tidak jauh dari seputar film kartun dan animasi.

"Kita muter film apa,baby?"

"Pipti gre..."

"Hah?? Film apa itu?"

"Ck!! Masa Uncle tidak tahu? Uncle joonie bilang itu film bagus.Choko dengar waktu Uncle Joonie ngobrol sama Uncle Chim Chim." Choko menarik-narik tanduk boneka unicorn dengan gemas.

Hah? Namjoon? Pipti gre? Pipti gre

Astaga!!

Fifty Shades of Grey?

Seokjin melongo.Karena setahunya suaminya adlah penggemar film fulgar tersebut.

Ingatkan dia untuk mencekik Namjoon setelah ini.

"NO!!" teriak Seokjin horor.Lalu buru-buru menutup mulutnya takut didengar Yoongi.

"Aduh,kenapa Uncle teriak? Choko kan jadi kaget." bocah lucu itu mengelus dadanya.

"Tidak,baby.Kita tidak boleh menonton film itu." Seokjin bingung bagaimana menjelaskan pada bocah berumur lima tahun kalau dia tidak boleh menonton film fulgar.

"Kenapa? Apa ada adegan berantemnya? Kata Mommy tidak baik menonton film yang berantem berantem." celotehnya.

Seokjin bingung antara ingin tertawa atau menangis saat mendengar penuturan Choko.

Dan juga ingin mencium pipinya yang menggembung lucu.

"Ya,ada adegan berantemnya."

Ya kalau yang dimaksud berantem itu guling-gulingan dan saling mendesah di atas ranjang.

"Kita nonton Finding Nemo saja ya?" bujuk Seokjin.

"Oke...let's go!"

Sekarang Seokjin bisa bernafas lega,terbebas dari masalah Fifty Shades sialan tadi.

(Jungkook P.O.V)

Aku tidak pernah bisa membayangkan bahwa hidupku diliputi kebahagiaan.Seumur hidupku aku tidak pernah mempercayai apa itu cinta,hingga aku bertemu dengan Yoongi. Sosok yang bisa menjungkir balikkan hidupku dengan segala pesonanya.

Aku jatuh cinta,dan mengalami manis pahitnya cinta saat bersamanya.Sifat kami yang bertolak belakang,aku cenderung tenang dan teratur maka dia adalah sosok yang bebas dan penuh tantangan,apalagi dengan sifat galaknya.Berdebat adalah rutinitas kami sehari-hari.

Menikah dengannya adalah keputusan terbaik dalam hidupku.

Dia bahkan memberiku seorang putra yang lucu.Anugrah terindah dalam hidupku selain Yoongi.Dan sekarang dia sedang mengandung anak keduaku.Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaanku saat ini?

Mempunyai putra dalam pernikahan kami tidaklah semudah yang dibayangkan.Aku bahagia,itu pasti.Tapi kadang kadang Choko sama keras kepalanya seperti Mommy-nya.Meski umurnya baru lima tahun dia termasuk anak yang cukup kritis.Kadang-kadang aku dan Yoongi pusing dibuatnya.

Belum lagi sifat cemburunya,Dia menyatakan penggemar Yoongi nomor satu.Sulit untuk bisa berdua dengan Yoongi bila ada Choko disekitar kami.Dia akan memonopoli perhatian Mommynya.

Quality timeku dengan Yoongi hanya bila Choko sudah tidur.

Seperti saat ini,aku barusaja dari kamarnya menunaikan jadwal menidurkan Choko,membacakan dongeng Peter Pan favoritnya.

Memastikannya tertidur,mengecup keningnya dan mematikan lampu kamarnya.

"Choko sudah tidur?."

Aku mengangguk.Kalau belum tidur mana mungkin aku bisa kembali ke kamar.

Dan disana cintaku,bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah novel di pangkuannya.Dihidungnya bertengger kacamata baca,membuatnya terlihat manis.

Well,dia memang manis dan selalu manis.

Aku naik ke atas ranjang,merangkak ke arahnya. Dia sudah bisa membaca maksudku,bibir tipisnya menyungingkan senyum menawan

Aku meraih novel dipangkuannya melemparnya sembarang ke lantai,lalu melepas kacamatanya dan memperlakukan hal yang sama,tak perduli kacamata sialan itu rusak,aku bisa membelikannya satu kontainer penuh kacamata baca bila dia menginginkannya.

"Aku merindukanmu baby." bisikku menariknya kedalam pelukanku berhati-hati agar perutnya tidak tergencet.

"Aku juga hari ini melelahkan." lembut nafasnya menerpa leherku membuat bulu kudukku meremang.

"Aku ingin membuatmu berhenti berkerja tapi hal itu hanya akan membuatmu sedih." mengecup puncak kepalanya.

"Kookie..." lirihnya.

Aku sudah siap-siap meledak saat tangannya menjarah dadaku,jari jarinya menyentuh ujung dadaku membuatku menggeram rendah.

"Ya,baby.Katakanlah..." nafasku dan nafasnya sudah memburu saat aku membalas perlakuanya,meremas lembut bongkahan pantatnya.

"Sentuh aku..." desahnya.

Mataku menggelap,aku siap melakukan apapun untuknya termasuk terjun dalam jurang kenikmatan bersamanya.

"Dengan senang hati,baby."

Ku baringkan tubuhnya perlahan,lalu meraup bibir tipisnya dan memberikan ciuman dalam.

Dua bibir yang saling berpanggutan lidah yang saling membelit dan aku dapat mendengar lenguhan seksinya sementara jari-jarinya berada di rambutku.

Melepas ciumanku dengan tak rela,aku menatap wajahnya yang memerah,matanya terpejam dan nafasnya memburu.Aku berganti menciumi leher putihnya,spot favoritku karena aku dapat mencium aroma vanila memabukkan dari tubuhnya,menjilat dan menggigit pelan.Kini dia mendesah dan itu adalah nada paling indah yang pernah kudengar darinya.

"Bagus,Begitu.Mendesahlah,baby!"

Membuka ikatan jubah tidurnya hingga dada putih dan perut bulatnya terpampang indah dihadapanku.Air liurku bisa saja menetes bila aku memandanginya lebih lama,maka aku menjadikannya sebagai arena bermainku selanjutnya.

Mencium.Menggigit.Menjilat.

Damn!!

Aku menyadari betapa nakalnya istriku,dia tidak mengenakan celana dalam seolah-olah telah bersiap menerima semua ini.

"Istriku,yang nakal." bisikku menciumi sekujur perut bulatnya.

"Kookie...pleaseeeehh..."

"Ya,baby..."

"Cium aku!!"

"Dimana,baby?." mengecup pinggangnya.lalu turun ke arah kejantananya yang sudah berdiri tegak.Mengundangku untuk menciumnya dan membenamkanya ke dalam mulutku.

"Disini?." ku kecup ujungnya.

"Ya.Ya.please kookie...ahhhh"

Aku tersenyum penuh kemenangan dan meraih kejantananya,Ini adalah milikku dan akan selalu milikku.

Aku sudah sangat siap untuk mendengar desahannya lagi hingga sebuah ketukan brutal terdengar di pintu.

OH NOOOOO!!!!!!

"MOMMY...DADDY...TOLOOONG...ADA SEMUT BESAAAAR DIKASURKUUU...!!!"