PROHIBITED COPAS, DON'T BE PLAGIAT, DON'T BE SILENT!
BTS (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!

[ ]

.

.

.

.

.

.

.

all my feelings on fire
guess i'm a bad liar
i see how your attention builds
i'm trying not to think about you
you're taking all perfection out my mind
every time i watch you serpentine

- Selena Gomez, Bad Liar.

.

i got you, i'll be perfect
yeah, if i can remove not from there.

.

.

;:;:;:;

.

.

.

.

.

.

.

Boom! Bah!—LOVE!
last chapter

.

.

; chapter 6 : don't stop, Taehyung.

.

©Jo Liyeol

2017!fic || nonsense || rate t+ || taekook!


...

Jungkook ternganga, obsidiannya berpendar ke seluruh toko. Mengamati dengan keterperangahan nyata.

Kacau, tidak percaya, terpukau bukan main.

Intinya, isi kepala yang kosong itu buntu tanpa arah.

Ia menengguk liur sekali, iris matanya masih menelisik saat kepalanya mendongak memperhatikan atap-atap bernuansa modern-elegan di atas sana.

Tapi kemudian, ketika suara Taehyung terdengar beriring remaja itu menunjuk-nunjuk bahunya tiga kali; Jungkook memiliki akal sehatnya lagi. Menoleh sekedar menemukan senyum hangat itu menjeratnya.

"Jungkook?"

Ia masih diam. Tergugu untuk keterpukauan lain.

Sampai waktu di mana Taehyung tertawa ringkas lalu mengenggam jemarinya hati-hati, tersenyum gemas, lantas membawanya masuk lebih dalam ke toko sepatu.

Jungkook hanya menurut, mengikuti jejak Taehyung membimbingnya. Sebab otaknya terlalu linglung untuk mencerna segala hal.

Taehyung mendudukannya di kursi kayu, "Tunggu sebentar," titahnya sebelum meninggalkan Jungkook ke balik rak pantofel.

Remaja Kim itu memindai, menelisik satu persatu jajaran sepatu hitam di depannya. Tapi kemudian, kepuasannya tidak memilih satupun dari mereka. Maka ia berbalik kembali menghampiri Jungkook, duduk di sebelahnya kemudian menengadah sambil mengangkat sebelah tangan memanggil penjaga toko.

Seorang pemudi cantik menghampiri mereka dengan sopan, menunduk kasual sebelum melempar senyum tipis; menumpuk tangannya di depan perut, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

Sementara Jungkook masih terlihat dungu, Taehyung justru menyilangkan kaki-kakinya—menautkan jemari di moncong lutut, "Tidak ada koleksi Barker Black?"

Wanita ini melihat ke arah Taehyung melirik sekarang, sekedar memperhatikan deretan pantofel di rak sebelah timur. Saat mereka kembali bersitatap ia merendahkan kepalanya sedikit, "Ada, Tuan. Inkaso merk atas ada di ruang VIP, mari ikuti saya," improvisasinya mengeja—santun dan elegan luar biasa. Ia berbalik. Dengan itu tutur wajahnya yang kaku memasung kernyit di dahi. Hanya untuk mendengar bocah SMU ini buarujar, ketika kaki jenjangnya nyaris melangkah.

"Tidak. Bawa saja sepatu-sepatu itu ke mari."

Suara ini.

Jungkook menoleh dengan cepat. Memindai dan mengamati. Begitu ia menemukannya, Jungkook kembali menyaksikan aura sombong Taehyung dipertemuan pertama mereka.

"Ye?" sementara wanita ini bungkam, kembali ke posisinya untuk menganga bingung, "T-tapi, Tuan—"

"Bawa semuanya ke mari, oke?" Taehyung menyela cepat. Ia tersenyum, namun hazelnya mengintimidasi lewat tatapan yang terlalu serius.

Maka yang dimaksud buru-buru membungkuk rendah, "Baik, Tuan. Harap tunggu sebentar," lantas ia bergegas pergi dari sana.

...

Wanita itu sedikit berlari menghampiri manajer tokonya. Lumayan kasar menepuk punggung lelaki yang membelakanginya ini, "Sajangnim-Sajangnim!"

Laki-laki itu berbalik, menaikan alis bertanya-tanya, "Kenapa?"

"Pelanggan di bagian barat D, bocah SMU, meminta koleksi Barker Black."

"Ya sudah, bawa dia ke ruang VIP," balas lelaki itu kelewat santai. Kamudian sebelah tangannya menepuk iseng pundak karyawan wanita itu, "Jangan terlalu panik, Jiyeon-ah, kau seperti tidak terbiasa saja melayani anak-anak kaya jaman sekarang," tapi kemudian, raut penuh guraunya seketika ternganga heran saat perempuan ini menggeleng cepat.

"Dia meminta kita keluarkan semua koleksi Barker Black dari ruang VIP!"

"Hah?!" manajer toko itu terperangah sesaat. Tapi lewat tiga detik sentimental yang langsung menggamanginya, ia mengepal kedua tangan di sisi-sisi tubuh, lantas berjalan tegap dengan hentakan kasar membimbing wantia tadi di belakangnya, "Beri tau aku di mana anak itu! Bocah sialan! Dia pikir di sini taman bermain, hah?!"

...

"Kenapa?"

Jungkook mengedip tiga kali, menyadari wajah Taehyung membelenggunya lama. Dengan senyum yang terkulum, tatapan mendamba dan ekspresinya yang terlalu tenang, entah mengapa sanggup menjadikan Jungkook terjerat tanpa ujung.

Maka di penghabisan akal sehat, bersama sisa-sisa kewarasannya, ia berpaling kikuk menghindari wajah Taehyung. Menarik napas banyak-banyak sambil memperhatikan jajaran sepatu di rak-rak depannya.

Nalarnya masih kosong.

Sampai detik ketika rasio otaknya menemukan kebenaran; Jungkook menemukan akalnya yang melompong tiba-tiba, hal tidak rasional yang menjadikannya kembali menatap Taehyung dalam sekejap, "Apa yang kau lakukan?!" vokalnya melengking nyaris memekik, sepasang matanya membola tidak percaya, sementara Taehyung bisa melihat jelas emosional siswa itu mengepul di kepala.

"Apa?" tapi menyebalkannya, Jungkook justru mendapati siswa Akademi DMN ini berkedip bingung.

Si Jeon terperangah, mulutnya menganga lebar seiring kedua tangan menjambak poninya resah, Jungkook memejam mata kuat ketika bergumam tak henti-henti, "Mati, mati, mati."

Taehyung di sebelahnya bertanya-tanya, kebingungan atas tindakan Jungkook yang tidak dapat dimengertinya. Ia berdeham sekali. Sebelah jemarinya bergerak hati-hati menepuk bahu kanan si Jeon, "Jungkook ... kenapa?"

"Kenapa?!" ulang Jungkook hampir menjerit, tangannya yang mencengkram poni melompat curling di depan dada, "Kanapa kau bilang?" ucapnya lagi—nada suaranya berbisik jengah, kesal bukan main. Maka Jungkook mengepal tangan-tangannya menahan emosi sebelum menepuk pahanya kencang, "Dengar—aku tidak tau pikiranmu ke mana—tapi ini masalah besar buatku," ia berbisik di depan muka Taehyung, "Oke? Masalah. Besar!" ejanya sambil mengusap telapak tangan di permukaan celana sekolah.

Kemudian yang Taehyung dapati selanjutnya adalah Jungkook menepuk kening frustasi, lalu membenturkan dahi di atas lutut-lututnya.

Sial. Mestinya dari awal ia tidak perlu repot-repot meminta Taehyung mengantarnya begini. Harusnya Jungkook tau siapa yang dia ajak sepulang sekolah. Membeli sepatu buat Jeon Wonwoo saja sudah di luar kewarasan—apa pula membelinya di tempat seperti ini?

"Mati saja, Jungkook, mati," ia membenturkan keningnya berkali-kali di permukaan kaki, "Habis sudah tabunganku seumur hidup, habis!"

Taehyung mengernyit, mulai membangun kegelisahan dalam pikiran. Lagi-lagi sebelah tangannya bergerak pelan, menepuk punggung si Jeon kini, "Jungkook, ada apa, hah? Kau kenapa?"

Kemudian Taehyung bisa dengar jelas kalau Jungkook menggeram dari posisi, sejenak, sebelum remaja Jeon itu mendudukan diri tiba-tiba; menoleh padanya dengan tatapan membunuh, "Masih bisa kau bertanya?" suaranya teredam amarah, sedangkan sebelah jemarinya merangsek naik mencengkram kerah seragam Taehyung, "Setelah membawaku ke tempat seperti ini—masih bisa kau bertanya?" Jungkook menghela napas kasar, sebelah tangannya yang lain mencengkram sisi kerah Taehyung satunya, "Kalau kau mau iseng tidak begini, man, ini keterlaluan!" regamnya emosi.

Siswa Kim di sebelahnya bungkam, berkedip linglung keheranan, pikiran logisnya tidak sampai untuk mencerna maksud dari pernyataan Jungkook. Terlalu buntu. Sebab bagaimana si Jeon memangkas jarak mereka telah sangat-sangat membuatnya mati rasa. Ia diam—hanya karena menahan hasratnya untuk tidak memajukan wajahnya berlawanan arah dari yang Jungkook lakukan, ia kebingungan—saat tidak dapat mencerna kata-kata Jungkook sebab terlalu fokus membayangi bagaimana rasa waktu itu; ketika memiliki belah plum Jungkook dibibirnya, akalnya lulu lantak—sekedar mengamati bagaimana kacantikan Jungkook menjeratnya tanpa ampun.

Mestinya Jungkook tau—harusnya ia sudah terlampau memahami, bagaimana perasaan Taehyung kepadanya untuk tidak melakukan tindak seperti ini.

Andai Taehyung tidak mengingat bagaimana usahanya untuk menahan diri, merendah, dan menjadi bukan Kim Taehyung. Semisal Taehyung tidak mengingat cara-caranya untuk bersikap lembut, berhenti kekanakan dan tidak lagi memaksakan kehendak. Kalau saja Taehyung tidak mengingat semua upayanya untuk mendapatkan Jeon Jungkook—mungkin ia sudah menciumnya sekarang, mengesampingkan akal sehat persis tempo hari; berpedoman pada egonya yang tinggi, mengacuhkan keadaan juga tempat, dan berakhir menyesali perbuatannya ketika Jungkook memakinya lagi.

Ya.

Maka Taehyung mendengus, berdeham berkali-kali sekedar merangkai otaknya untuk berkata tidak atas tindak yang dipikirkannya. Memundurkan kepala hati-hati seiring kedua tangannya berdalih menggenggam pergelangan Jungkook agar melepas cengkraman di kerahnya, "Oit-oit! Tanang, Jungkook—c, calm. Aku tidak mengerti maksudmu apa, jelaskan pelan-pelan, oke? Tenang dulu."

Jungkook menurut, melepas pangutannya untuk memicing sengit mengintimidasi Taehyung. Ia mendengus sekali, "Kim Taehyung, aku tidak peduli kalau kau selalu belanja di tempat seperti ini—paham? Aku tidak peduli, sama sekali tidak peduli!" Taehyung tersentak, memundurkan leher refleks ketika Jungkook menerkam bahunya kencang, "Tapi ini aku, Kim—aku. Kau mau bercanda menyama-nyamakan gaya hidupmu padaku yang biasa beli pakaian di swalayan? Setelah membawaku ke lestoran sialan itu belum cukup? Kau mau membuatku mati berdiri di sini? Jujur—" Jungkook mengambil jeda, napasnya tercekat di kerongkongan, "Tidak perlu kulihat satu-satu harganya, dari visualisasi toko ini saja sudah cukup," Jungkook meringis, alisnya nyaris berpauat, gimiknya memelas persis menahan tangis, "Kau tau? Hal-hal yang terlalu mudah kau dapati ini ... tidak semua anak bisa memperolehnya juga. Dan aku—a, aku mungkin mesti menguras habis tabunganku buat beli PS4. Atau kabar baiknya ... aku bisa membeli itu—itu, itu, yang i-itu—" asal Jungkook menunjuk salah satu sepatu di rak, menjadikan Taehyung ikut menoleh menatap arah telunjuknya. Kemudian remaja Kim ini kembali di selimuti getir ketika Jungkook kembali melanjuti membuat mereka bersitatap lagi, "Aku bisa membelinya, ya, bisa—mungkin. Setelah kumenjual ginjal ke pasar gelap atau jual diri ke om-om kaya."

"Jual padaku saja," Taehyung menyahut linglung, tangan kanannya terangkat menunjuk diri kikuk. Bahasan panjang Jungkook justru membuat akalnya melompong sebab terlalu lama memperhatikan wajah siswa ini.

Si Jeon diam sebentar, mengernyit, "Hah?"

"Jual diri. Jangan ke om-om kaya—padaku saja, berapapun bakal kubayar."

Maka Jungkook bungkam sungguhan. Rautnya tercengang, tidak habis pikir sama sekali. Keinosenan dari cara bicara Kim Taehyung itu terlalu ...

Shit! Itu cuma perumpamaan sialan!

... tidak tertahankan.

Jungkook menarik napas banyak-banyak sebelum mendengus kencang, tangannya mengepal di atas paha, berusaha keras menaan tempramennya setengah mati. Tapi kemudian; yang Jungkook sadari adalah dirinya telah membenturkan kening di dahi Taehyung keras-keras, "Mati saja sana!"

Taehyung mengaduh, membungkuk menggusak depan kepalanya brutal sementara si pelaku terlihat sama sekali tak mengiba, "Aduh—Jungkook—ya!" sambil meringis Taehyung beranjak menegapkan duduk, masih menggusak dahi ia mencibir dari ujung-ujung bibir, "Jungkook, aku paham maksudmu tap—ah! Ampun-ampun! Pardon, please!" ia memundurkan tubuh, menjerit sembari menutupi dahinya ketika Jungkook mengancam lewat gerakan. Maka Taehyung diam. Mengalah untuk tidak beragumen apapun sekedar menggusak keningnya yang sakit, berpikir sejenak apa Jungkook tidak merasakan nyeri yang sama karena remaja itu tidak terlihat kesakitan sedikitpun. Tapi kemudian, Taehyung melirik pelan-pelan hanya untuk mendapati si Jeon yang masih mengintimidasinya, untuk ini dia menghela napas, merotasikan mata sebelum menegapkan duduk tanpa gentar. Ia bersuara, retinanya membekap onix hitam Jungkook yang menyala buas, "Jungkook, aku paham apa maksudmu, oke? Aku pa—ya! Tenang dulu jangan seperti itu! Aku minta maaf tadi bicara sembarangan, itu diluar pikiran, jadi jangan salah paham—Jungkook! Aduh! Dengar! Jungkook! Dengar dulu! Dengarkan aku!" tangan-tangannya spontan menangkap pergelanan Jungkook, menariknya ke depan dada sedangkan hazel mengkilatnya membelenggu iris mata si Jeon, "Aku mengajakmu ke mari, jadi ini tanggung jawabku. Aku tidak memintamu buat membayar—menjual organ atau jual diri buat membeli sepatu untuk hyungmu," Taehyung menarik pergelangan Jungkook tiba-tiba, membuat remaja Jeon itu tersentak memajuhan tubuhnya mendekat, "Kau punya aku di sini, Jungkook, aku yang tanggung jawab oke? Aku yang bayar."

Jadi Jungkook diam, entah efek dari mana ia merasa tidak keberatan atas tindakan Taehyung. Oke. Buat kali ini sepertinya ia mesti mengalah.

Hanya untuk kali ini.

Berdalih berkata pada diri sendiri; karena tidak mungkin setelah melihat bagaimana Taehyung memberi titah pada wanita tadi, mereka pergi dengan jahanamnya. Meski pada dasarnya Jungkook sendiri tidak paham kenapa dirinya mau menurut.

Seperti bukan Jeon Jungkook.

...

"Di sana! Di sana, siswa yang berambut merah itu, Sajangnim."

Manajer toko dengan karyawan wanita tadi mendekat, berjalan ke arah Taehyung juga Jungkook yang masih menunggu. Tapi kemudian, ketika keduanya berdiri di hadapan siswa-siswa SMU ini, yang Taehyung dapati adalah raut tidak ramah si pria muda, "Maaf anak-anak, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ketus dari vokalnya yang meledek.

Taehyung mengernyit, begitupun Jungkook yang setelahnya langsung memperhatikan raut di air muka si Kim.

Taehyung masih diam, meneliti maksud dari gimik dan cara bicara pemuda ini. Kemudian sebelah alisnya terangkat melecehkan, jeda sebentar sebelum remaja Kim ini memainkan lidah di bagian dalam pipi, dan Taehyung menyemburkan gelaknya yang kasual—tawa yang belum pernah Jungkook temui semenjak mengenal Kim Taehyung.

Jungkook bisa lihat bagaimana Taehyung menyilangkan kaki arogan, menatap bergantian orang-orang di hadapan mereka lewat retinanya yang tajam. Lantas tatapannya terfokus pada lelaki di sana, "Pehatikan cara bicaramu, man. Tidak tau tatak rama pada pelanggan, hah?" Taehyung tersenyum, mengulum senyum di sudut bibir ketika hazelnya mengarmadakan amarah tipis.

Pemuda itu diam, sementara wanita di belakangnya menudukan kepalanya.

Maka Taehyung yang kembali bersuara setelah menggali saku celana, mengeluarkan black card dari dompetnya, mengapitnya diantara telunjuk dan jari tengah ketika menggoyangkan di sisi wajah, "Kami punya uang, tenang saja," lalu ia melanjuti sambil memasukan lagi kartunya ke dompet, sekedar membuat pemuda di hadapan mereka membeku—menelan liur susah payah, "Aku adik Kim Seokjin omong-omong, Kim Taehyung—kalau kalian belum tau namaku," kemudian Taehyung membuang dompetnya ke lantai, persis di bawah kakinya yang menyilang, lantas mendongak memperhatikan lelaki yang membatu di sana, "Ambil," titahnya bengis. Sedikitpun tidak main-main dari nada bicara dan tatapannya yang dongkol.

Pemuda itu tersentak, tidak terkecuali wanita di belakangnya dan Jungkook sekalipun. Ketiganya menatap Taehyung lewat cara yang berbeda, sebelum si manajer toko merangsek pelan-pelan—tau betul apa yang mesti di lakukannya; ia tidak menunduk, tidak pula membungkuk, tapi melipat lutut-lututnya hingga menyentuh ubin. Jemarinya memungut dompet remaja ini sambil bergumam dengan kepalanya yang merunduk, "J-joesonghamnida."

Taehyung mengangguk, "Diterima," ia menjentikan jemari, merebut dompetnya dari genggaman pemuda itu, "Pergi sana, bawa apa yang kumau," kemudian ia menengadah, menikam wanita yang masih berada di posisinya lewat retina, "—and sugar, kuingatkan padamu. Pelanggan itu raja, apapun keinginannya tidak perlu mengadu ke manajer tokomu dulu, turuti saja. Paham?"

Pemudi cantik itu mengangguk cepat, bahkan dari kepalanya yang menunduk bisa ia rasakan bagaimana intimidasi tatapan Taehyung.

Ketika remaja Kim ini menitah pakai dagunya pada si pria muda buat pergi, lelaki itu beranjak diikuti karyawati tokonya, mengambil apa yang remaja ini inginkan.

Sementara lewat ujung mata Taehyung mengikuti langkah mereka, ia tidak mengetaui bagaimana tatapan Jungkook mengiba pada subyek yang sama.

.

.


Jungkook menghentak tegas kaki-kakinya ke luar toko. Paperbag di tangan kiri ia cengkram kuat-kuat, rautnya definit dengan tatapan yang meredup final. Sedangkan Taehyung mengejarnya di belakang.

Siswa Akademi DMN itu terburu meraih pergelangan Jungkook, mematikan gerak remaja ini untuk berhenti.

Senja di trotoar depan toko, Jungkook menepis kasar jemari itu, berbalik menghadap Taehyung bersama afeksinya yang membara. Ratinanya tajam; menusuk tepat di mata, sedangkan guratan pada wajahnya yang kesal begitu tersirat amarah nyata.

Tapi Taehyung justru hanya bisa diam. Bibirnya rapat sementara lidahnya kelu untuk bersuara.

Ia hanya tidak mengerti—benar-benar tidak mengerti.

Sebelumnya, tidak ada yang salah. Sampai waktu ketika Taehyung membayar sepasang pantofel hitam di meja kasir, Jungkook masih baik-baik saja. Siswa itu cuma diam—sungguhan diam. Memang bukan seperti Jeon Jungkook, tapi Taehyung tidak merasa kejanggalan lain untuk mengerti mengapa Jungkooknya tiba-tiba begini.

"Jungkook—" vokal Taehyung tersendat ritme napasnya yang terengah brutal, "... kenapa?" sepasang alisnya nyaris berpaut, "Kau kenapa hm?"

Jungkook menggerit. Mendecih kilat lalu mencemooh lewat sekembar onixnya, "Selalu bertanya seakan tidak memiliki dosa. Hebat—hebat sekali. Kau tidak pernah menyadari kesalahanmu, hah?" ia menggeleng apatis, "Jalang sepertimu memang tumbuh selalu di manja 'kan? Sampai tidak pernah menyadari apa-apa saja kesalahan yang baru kau perbuat!"

Taehyung mengernyit tidak paham, sejujurnya cukup emosi mendengar bagaimana Jungkook bicara, namun ia bahkan tidak sampai hati untuk merasakan amarah, "Apa maksudmu?" ia menggemelatakan pelan grahamnya, "A-aku tidak mengerti ... aku tidak mengerti Jungkook! Aku berusaha melakukan yang terbaik hari ini! Membawamu ke Gangnam, Limosin, restoran mewah, Barker Black—aku melakukan yang terbaik untukmu!" bahkan tanpa Taehyung sadari intonasinya meninggi. Tapi kemudian, ia menghela napas merasa bersalah, menyadari tidak seharusnya ia membentak Jungkook, "... tapi kenapa?" Taehyung mengusak kasar poninya, mengusap wajah dan memejam mata ketika dua tangannya meraih jemari kanan Jungkook, "Apa lagi kesalahan yang kuperbuat mm? Jelaskan baik-baik, aku bakal memperbaikinya, janji."

Jungkook diam. Memindai bagaimana tatapan Taehyung berpendar terlampau tulus.

Namun tempramennya terlanjur membara. Ia merotasikan retinanya abai, mengenyahkan debar jantungnya yang semerawut dan mengigit bibir untuk mengalihkan fokus agar mengacuh, "Aku tidak minta—" nadanya menyeret dingin.

Bahkan sebelum Jungkook menyelesaikan kata-kata, Taehyung sudah mengerti ke mana arah pembicaraan ini berlangsung. Maka ia mengangguk banyak sekali, "Ya—iya, kau memang tidak minta. Tapi aku yang mau," Jungkook bisa merasakan gengaman di jemarinya menguat hangat saat Taehyung menggeleng pelan, "Kau tidak mengemis Jungkook, kau tidak memohon apapun padaku. Ini hanya keinginanku—hanya karena keinginanku. Jadi kau tidak perlu merasa terbebani, yeah? Keinginanku, Jungkook, aku yang mau."

Jungkook menepis. Menyentak tangannya hingga jari-jari Taehyung melepas pangutan, "Tapi aku yang memintamu—"

"Aku tidak peduli!" lagi, remaja Kim itu tidak membiarkan Jungkook bicara lebih banyak. Karena meskipun ia tidak memahami penyebabnya, Taehyung benar-benar tau tujuan dari ujaran Jungkook bermuara, "Bagaimana awal kau ada di sampingku sekarang—aku benar-benar tidak peduli," tangan kirinya kembali meraih jemari kanan Jungkook, "Selama kau merasa nyaman. Sebab apapun kau berdiri di hadapanku saat ini—tidak peduli kau yang meminta sekalipun. Itu hanya akan menjadi tanggung jawabku—untuk membuatmu merasa nyaman, Jungkook."

Jungkook diam, napasnya tercekat di kerongkongan.

Namun, lamat-lamat kepalanya menggeleng snobis, "Tapi aku tidak merasa nyaman," buat kedua kali ia melepas kasar genggaman Taehyung. Menjadikan siswa ini bungkam atas kata-katanya, "Aku tidak merasa dan tidak pernah merasakan kenyamanan yang kau maksud—jika itu yang kau beri dari awal," jeda, "Kau—terlalu tinggi, terlalu menjelaskan bagaiamana hidupmu yang terlahir menggenggam sendok emas. Kau yang ditakdirkan menjadi anak kaya raya, kau yang tidak pernah menunduk buat menyaksikan orang-orang kelaparan di bawah sana, kau yang bisa membeli segalanya; apapun, bahkan perasaan setiap orang disekelilingmu. Kau—kau yang terlalu keras kepala," jari-jemari di sisi tubuhnya mengepal kuat, menahan gebuan amarah di selubung hati, "Aku sudah bilang untuk membuat kita hidup di dunia yang sama, Kim—walaupun tidak mungkin, kau bisa menjadikannya seakan-akan benar! Menjadi Kim Taehyung yang apa adanya! Cukup jadi siswa SMU biasa yang merepotkan, aku tau kau paham betul maksudku tentang ini—tapi kau melakukannya lagi. Membuat seolah-olah seluruh dunia ada di genggaman tanganmu—dan kau mengajarkannya padaku," Jungkook menggeleng pelan, sekembar obsidiannya mencemooh, "Tapi maaf, aku tidak mau—aku tidak sudi bergabung menjadi orang sombong sepertimu."

Maka Taehyung tergugu di tempat, merasakan lubang hitam menghisap tubuhnya utuh ke dasar bumi. Membuatnya sesak dan kesulitan bernapas, karena Jungkook berbalik dan meninggalkannya begitu saja.

.

.


Nyaris jam delapan Jungkook baru sampai di rumah. Merasakan kakinya yang kebas setelah duduk lama di bis dan berjalan lumayan jauh menyusuri gangan sepi daerah rumahnya.

Jungkook membuka pintu, langsung menemukan Jeon Wonwoo yang merebahkan diri di sofa, fokus menonton acara musik. Langkahnya menjejak malas melewati abangnya, sekedar melempar paperbag—yang Jungkook sendiri bingung kenapa masih ia bawa-bawa—ke muka Wonwoo. Menghiraukan umpatan dan pertanyaan orang itu, ia menggeret kaki-kakinya masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat tidak peduli seruan heboh 'kau sungguhan membelikanku sepatu?!' Wonwoo dari ruang tengah setelah melihat apa isi tas kertas yang dilemparkan adiknya.

Jungkook melepas gakuran YaGooknya, melempar asal ke kasur setelah membuang tasnya di depan pintu. Lantas melompat, menenggelamkan wajah pada bantal ranjang. Ia menghela napas, entah apa yang salah, mengingat kembali bagaimana tatapan Taehyung menjerumuskannya menjadikan Jungkook merasakan bagaimana citra pendosa atas segala pernyataannya di akhir.

Namun Jungkook tetaplah Jeon Jungkook.

Atas apapun yang berhasil membuatnya gelisah, di penghujung akal kenyataannya Jungkook hanya akan persetan. Menutup mata dan terlelap tanpa beban.

.

.


Keesokannya, Jungkook sengaja berangkat sekolah lebih siang. Mendapatkan hukuman dari Jang-ssaem dan masuk kelas di jam pelajaran ke dua. Melakukan aktivitas seperti biasa dan keluar dengan Jihoon juga Hansol di waktu istirahat.

Tidak ada yang berubah.

Selain kekosongan yang ia terima karena Kim Taehyung.

Siswa itu tidak ada di gerbang waktu ia datang, tidak ada di kelasnya saat ia melewati ruang sebelah, dan sama sekali tidak terlihat nyaris setengah hari ini.

Bahkan di kantin, ketika kawan-kawannya berkumpul di meja yang sama dengan mereka bertiga persis hari kemarin, Jungkook tidak menemukannya.

"Taehyung tidak masuk," suara Jimin yang membuatnya berpaling, seolah-olah bisa membaca perilakunya sejak tadi. Si Park menggedik bahu ringan sambil mengunyah makan siangnya, "Warnet mungkin."

Maka sahutan Mingyu terdengar heran, "Semenjak kenal Jungkook, baru kali ini dia bolos lagi."

"Mungkin ada urusan di rumah," Seungkwan berargumen, nadanya menengahi, "Siapa yang tau? Ponselnya tidak bisa dihubungi dan Katalkku tidak dibalas dari kemarin."

Jungkook diam. Bertempur dengan pikiran.

"Paling-paling lagi depresi," Hoseok menenggak susu pisangnya sampai setengah, "Kemungkinan paling besar kalau anak itu begini, pasti habis bertemu ayah kandungnya 'kan? Apa lagi?"

"Tidak-tidak," Soonyoung yang menjawab cepat, "Kalau habis bertemu Daehyun-ahjussi pasti tujuan pertama pelariannya itu rumah Jimin," ia menyuap sesendok nasi, "... tapi kemarin aku menginap di rumah dia Taehyung sama sekali tidak muncul," Jimin mengangguk menyetujui.

Maka Hoseok menyahut setelah menenggak habis susunya, "Ya sudah, pulang nanti ke rumahnya saja. Kalau tidak ada kita ke warnet. Kalau di sana juga tidak ada kita taruhan Dota sampai malam, jangan terlalu dipusingkan, besok juga bocah itu muncul sendiri," jawabnya kalem sambil merecok minuman Mingyu di sebelah. Setelah mendapatkan air kawannya Hoseok menengadah menatap Jungkook, Hansol juga Jihoon, "Kalian ikut?"

"Oke," Hansol yang menyahut, sedangkan Jihoon hanya mengangguk.

Maka keseluruhan tujuh anak di sana memiliki Jungkook sebagai subyek pandang ketika si Jeon menggeleng, "Tidak, maaf, aku tidak bisa."

"Kenapa?" Seungkwan mengeryit nyaris tidak percaya. Dia pikir Jungkook sudah bisa dijangkau mereka pelan-pelan, dia pikir Jungkook sudah mulai terbuka, dia pikir—Jungkook telah mempersilahkan Taehyung menggapainya.

Tapi entah mengapa, kelima siswa DMN Academy itu menjadi paham mengapa kawan mereka tidak muncul hari ini—saat Jungkook menunjukan senyum ragu-ragu, menunduk, kemudian menggeleng pelan, "Tidak apa-apa."

Cukup menjawab—jelas dan pasti, bahwa ada apa-apa dengannya dan Taehyung di hari kemarin.

.

.


Dan prasangka mereka benar.

Keesokannya di hari Jum'at, Taehyung masuk sekolah. Sedikit siang dari biasanya, ikut bermain basket di lapangan, menyempatkan diri tebar pesona dan masuk kelas seperti biasa.

Tidak ada yang salah. Selain kejanggalan yang teman-temannya lihat ketika Taehyung berpapasan dengan Jungkook di koridor.

Siswa itu mengacuhkannya, mengabaikan figur yang selama ini ia kejar susah payah.

Hal yang bahkan membuat Jungkook membatu tidak percaya.

Taehyung hanya menengadah angkuh, berjalan begitu saja tanpa sudi melirik sedikitpun.

.

.


Tiga hari. Tiga hari Jungkook merasakan gelinyar lara.

Tapi ia mengabai, tetap berusaha untuk masa bodoh. Menjadikan Jihoon, Hansol bahkan kelima sahabat Taehyung selalu bertanya-tanya.

Memiliki egonya demi setengah mati menjadi natural.

Menghiraukan Taehyung yang tidak lagi meluangkan waktu buat menunggunya di gerbang, membiarkan Taehyung membuang muka saat mereka ada di satu tempat yang sama, berusaha tidak ambil pusing bahkan ketika Taehyung memperlakukannya bagai objek kasatmata.

Tidak ada lagi jalang manja yang mengintilinya ke mana-mana, tidak ada lagi manusia bodoh yang menatapnya begitu memuja, tidak ada lagi yang memperlakukannya bagai barang pecah belah.

Tidak ada lagi.

atau mungkin, tidak akan pernah ada lagi.

Jungkook menampik realita bahwa terkadang bagian dadanya merasakan nyeri sebab ini. Bahkan tidak menerima hakikat kalau faktanya ia merindu pada senyum kotak yang kekanakan itu, cara bicara yang mengesalkan itu, juga hazel yang selalu menatapnya berbinar-binar.

Merindukan sosok itu.

Kim Taehyung yang mampu melenyapkan egoieme hanya untuk menjadi manis. Menghilangkan keangkuhannya yang mendarah daging hanya untuk menjadi menggemaskan. Dan setengah mati berusaha berubah, menjadi lebih baik hanya untuk Jeon Jungkook.

...

Jungkook menengadah menatap langit mendung, mengangkat tangannya yang menggenggam dwikkoji cantik, menyandarkan tubuh di batang pohon membiarkan sunyi sepulang sekolah melilitnya. Membohongi Jihoon dan Hansol agar mereka membuatnya memiliki waktu pribadi. Hingga sepi menjadi latar belakang yang membuatnya sesak.

Sore di bawah pohon ek halaman belakang YaGook.

Semilir angin menjadi saksi bisu air mata Jungkook menderas untuk menangisi kekalahannya, bukti bahwa ia mengakui penyesalannya pada Kim Taehyung. Memeluk dwikkoji pemberian sosok itu ditengah isakan.

.

.


Boom! Bah!—LOVE!
; somewhere, I lost a piece of me.


"Seokjin-hyung!" Jimin berteriak, tanpa segan masuk begitu saja menuju dapur rumah, menemukan orang yang diteriakinya sibuk memotong bawang.

"Taehyung di kamar tamu. Ke atas sana."

Maka Jimin berbalik, menuju ruang yang dimaksud.

Sesampai di depan pintu ia menghela napas, entah mengapa merasa tidak enak hati. Jimin tau mood Taehyung sungguhan buruk akhir-akhir ini; ketika mereka berkumpul bocah itu jadi jarang sekali menanggapi, nyaris satu minggu Taehyung bicara hanya secukupnya, bahkan Jimin lupa kapan terakhir kali sahabatnya tertawa.

And look, Taehyung bahkan kabur ke rumah abangnya di akhir pekan. Membuat Jimin mesti putar arah dari mansion orang tua Taehyung saat paman Ahn bilang kalau tuan mudanya tidak ada.

Jimin menghela napas, menggenggam knop pintu lumayan lama. Sampai akhirnya ia memutarnya dan beranjak masuk, "Tae, ayo bicara! Aku menuntutmu cerita sesuatu padaku!"

Taehyung yang nyaris terlelap membuka mata memperhatikan figur yang baru saja masuk. Lantas ia bangkit mendudukan diri di tengah kasur, "Chim?"

Jimin mendekat, duduk di bibir ranjang sebelum merangsek ke tengah dan bersandar di palang kasur. Membuar Taehyung ikut bersandar di sebelahnya.

"Kenapa?" usut Taehyung pertama.

Jimin memperhatikan sengit, "Mau sampai kapan begini, hah? Belagak baik-baik saja saat ada Jungkook, tapi kenyataannya kau jadi persis orang tolol! Tau beban yang kami rasa setiap kali kita kumpul? Meladenimu yang menjadi suram benar-benar merepotkan!" Jimin mendengus kesal, obsidiannya membara emosional, "Kalau kau terpuruk, jangan simpan sendirian, man! Cerita 'kan bisa!" ia menghela napas. Lamat-lamat gebuan amarah di pangkal otaknya melebur mendapati kawannya terlihat rumit. Jimin membisik halus, "Kalian ada apa? Kau kenapa sama Jungkook?"

Taehyung bungkam, menunduk memainkan jemari di pangkuan, dan kelakuannya justru membuat Jimin kesal.

"Tae—"

"Aku mau menyerah, Chim," hening sebentar. Jimin terperangah, bola matanya nyaris keluar, sisi lain raganya menyalahi telinganya yang mungkin memiliki gangguan kronis, "Persetan, masa bodoh segalanya—aku lelah. Benar katamu dulu, harusnya dari awal aku tidak perlu repot-repot mengejarnya. Mestinya dari awal aku jaga harga diri, buat apa merendah hanya untuk orang sepertinya? Buat apa memburu hal yang sulit? Tidak guna 'kan? Sia-sia, hanya membuang waktu. Banyak sekali manusia yang lebih baik darinya, aku bisa dapat yang jauh lebih oke—yang bisa terima aku apa adanya, yang bisa menghargai usahaku, yang lebih mengerti perasaanku, ya-yang, yang—ARGH! Jeon Jungkook sialan!" Jimin mengernyit, mangamati bagaimana kawannya kacau bukan main.

Tapi kemudian, ketika Taehyung barubah sunyi dan tak kunjung mengangkat kepala.

Jimin tau kawannya menangis.

Lalu ia bisa dengar suara Taehyung yang terdengar sangat menyedihkan, "Aku tidak mau buat dia terus berprasangka padaku, aku tidak mau buat dia membenciku," jeda, "Dia bilang supaya aku jadi apa adanya—tapi bahkan semua orang juga tau, aku yang asli adalah aku yang buruk! Harusnya dia paham aku belajar merendah hanya karenanya! Dia benar bilang aku egois—iya! A, aku memang egois—tapi aku janji bakal berubah untuknya, aku janji!" maka Jimin tersentak, gerak motoriknya otomatis menarik Taehyung dalam dekapan ketika mendengar sahabatnya tersengguk lirih, "Aku sungguhan menyukainya, Chim. Aku—aku sangat-sangat menyukainya."

Sore diiringi bias mentari senja dari sayup-sayup gorden kaca, Park Jimin menjadi saksi hidup seorang Kim Taehyung terisak karena Jeon Jungkook.

.

.


Akhir pekan di minggu ke dua.

Hansol dan Jihoon menyeret Jungkook dari kandang abadinya, meminta izin pada orang tua Jeon dan Wonwoo-hyung buat membawa Jungkook pergi jalan-jalan.

Sementara keduanya begitu semangat dan rapi, Jungkook justru mengikuti kawan-kawannya dengan separuh sadar. Cuma memakai hoodie lengan pendek, jins selutut, dan loafers bahan.

Kepalanya sudah terlalu pening, dan matanya sungguh-sungguh mengantuk sekedar mencari dandanan yang atraktif. Sebab percaya atau tidak; semalam ia menangis lagi karena mengingat Kim Taehyung.

Sampai sekarang, Jungkook menyimpannya sendiri—tetap bungkam dan seakan tidak terjadi apa-apa. Selalu berucap 'baik-baik saja' ketika ditanyai, bahkan ia sama sekali tidak menceritakan ini pada abangnya, Jihoon, Hansol, atau Yoongi sekalipun. Cuma memendamnya sendiri. Tidak mau menjadi laki-laki melo di depan orang lain.

Karena Jungkook paham, menyesali apapun hanya berpatok pada seluruh kesalahannya dan egoismenya yang tinggi.

Tapi sialan.

Jungkook tidak pernah menyangka kalau sahabat-sahabatnya termasuk golongan kawan biadab. Karena dengan jahanam setelah membawanya berjalan ke luar gang, setengah jam membuat pantatnya rata duduk di bis, dan menggeret-geretnya di sepanjang trotoar—harusnya Jungkook sudah curiga semenjak mereka membawanya ke daerah Gangnam—sebab karenanya, kini ia bersilang tatap dengan sumber segala air matanya yang tertumpah.

"Kalian sudah sampai?!"

Suara Soonyoung nyaring menyambut kedatangan mereka sambil melambai tinggi. Hansol balik berseru, menyahut. Kemudian ketika ia mendelik, bocah bule ini syok menyaksikan Lee Jihoon balas melambai riang.

Tuhan, kerasukan apa biji cabe itu?

Sedangkan saat ia sedikit memutar tubuh buat melihat Jungkook yang mereka gandeng sama-sama, Hansol hanya menghela napas sebab mendapati kawannya menunduk dengan tudung hoodie yang mengisolasi kepala.

Responsif; saat ketiganya bergabung dengan enam sekawan itu, Kim Taehyung menjadi orang pertama yang beranjak meninggalkan tempat, bahkan sebelum Hoseok memberi ajuan untuk bersiap ke mobil.

Membuat Jungkook lagi-lagi mematung merasakan jantung hatinya berdenyut.

"Sudah, ayo-ayo!" Hoseok memecah hening yang canggung selepas Taehyung pergi dari sana, menggiring kawan-kawannya buat masuk ke minibus yang ia bawa.

Taehyung sudah menempati kursi sebelah supir. Mingyu, Seungkwan, Hansol duduk di kursi bagian belakang. Soonyoung, Jihoon, Jimin duduk di bagian tengah. Maka Hoseok menjadi kebingungan karena Jungkook yang berjalan paling belakang tidak memiliki tempat lagi.

"Aku duduk di mana?" Jungkook menatap Hoseok sambil menunduk diri sendiri. Keseluruhan nada bicaranya inosen, kosong dan linglung.

Siswa Jung ini menggusak belakang kepalanya sambil cengengesan canggung, "Kau dipangku Hansol bisa tidak?"

Sebab ini enam remaja yang telah memiliki tempat masing-masing menjadi berisik. Menggeser duduk buat menciptakan tempat untuk Jungkook, tapi nihil, minibusnya terlalu sempit.

"Sial, Jung! Sudah kubilang bawa Limosin saja! Tidak percaya sih!" Mingyu berteriak dari tempatnya di pojokan.

"Mau ke Lotte Word saja harus pakai Limosin?!" Hoseok balas berteriak.

"Setidaknya bawa minibus yang lebih besar!" itu omelan Seungkwan.

"Ya! Ya! Badanmu saja yang kelewatan melar, Boo! Jangan salahkan mobilnya!"

Kemudian Hoseok kena lempar botol milkshake yang sedang Hansol minum.

"Kenapa kau membuangnya?!" si Choi menyergah kaget, menatap nanar isi milkshakenya yang berceceran di bata trotoar.

"Beli lagi nanti, jangan seperti orang susah," sungut Seungkwan masa bodoh. Sedangkan Hansol hanya mendecak, mengalah. Merebahkan kepalanya di sandaran jok sambil menatap Hoseok, "Pertanyaanku, kau yang bawa mobilnya? Memang punya SIM?"

Dibalas cengir mengesalkan orang itu sehabis menggusak dadanya yang tadi kena lempar. Tidak perlu jawaban, karena Hansol sendiri paham mereka masih anak-anak dibawah umur yang kartu identitas negara saja belum punya. Apa lagi SIM?

"Jungkook, coba sini-sini," suara Jihoon mengalihkan perhatian si Jeon. Menyaksikan kawannya yang berusaha berdempet-dempetan dengan Park Jimin dan Kwon Soonyoung, tapi hasilnya hanya sebagian ruang kecil yang kemungkinan bakal membuat mereka sesak napas kalau nekat berempat di sana.

Jadi Jungkook menggeleng dengan senang hati untuk mengatakan tidak. Kemudian sudut matanya melirik, mendapati bayangan Taehyung yang sibuk memainkan ponsel dari kaca spion.

"Terus Jungkook taruh di mana?!" Jihoon beruara ketus.

"Bagasi belakang muat tidak?" Soonyoung menyahut sambil membalik posisi duduk buat melihat bagian paling belakang mobil.

"Penuh tas, brengsek," itu suara Jimin yang mulai sibuk main ipad.

Maka Soonyoung mendapatkan bogem mentah di kepala dari si Lee, untuk usul tidak masuk akalnya, "Otakmu sudah disfungsi, hah? Yang benar saja mau taruh Jungkook di bagasi?!"

"Ya lalu mau dia di mana?" Soonyoung balas menjawab sambil mengusak kepala, "Atas? Pentil? Tempat mesin? Lebih tidak mungkin 'kan?"

Maka hening selepas itu.

Sebelum helaan napas Jungkook terdengar berat, "Ya sudah, aku tidak usah ikut saja," usulnya kalem.

"Apa-apaan?!" Jihoon juga Hansol kompak tidak terima.

Jungkook menggedik bahu usai menghela napas lagi, "Ayolah, memang dasarnya dari awal juga aku tidak tau kalian mau rekreasi."

"Tapi Jungkook—" kata-kata Hansol terputus saat Jungkook menyela cepat.

"Aku tamu yang tidak diundang, oke? Jadi bukan masalah. Lagi pula aku juga tidak bawa persiapan apapun selain kartu bis," terlalu santai, Jungkook bicara seolah tidak memiliki beban sama sekali, justru berusaha meyakinkan kawan-kawannya.

Dan ketika Jeon Jungkook bersama segala kenekatannya langsung berbalik, bermaksud meinggalkan mereka sebelum Jihoon juga Hansol memprotes lagi, ia sama sekali tidak mengetahui kalau Kim Taehyung sudah membuka pintu depan mobil.

Menjadikannya tersentak saat nyaris menabrak permukaan padat itu. Tapi kemudian, Jungkook membeku ketika Taehyung menarik pergelangannya, menyeretnya masuk dan menutup pintu minibus Hoseok tanpa beban.

Hal yang bahkan membuat tujuh remaja di belakang sana terperangah tidak percaya.

Mereka pikir Taehyung tidak peduli.

Lantas Hoseok bergegas ke tempatnya mengemudi dan Hansol juga Jimin menutup pintu belakang minibus, sebab Taehyung bersuara lagi sambil kembali memainkan ponsel, "Cepat berangkat, kuda, mobilmu sempit."

...

Di sepanjang perjalanan, Jungkook sama sekali tidak mengalihkan fokus dari pemandangan jalan yang mereka lewati. Memiliki cara tersendiri untuk mengontrol debar jantungnya yang kacau balau.

Taehyung terlalu rapat, bahu dan pinggul mereka bahkan melekat satu sama lain.

brengsek.

Afeksi ini, perasaan yang membuatnya mengingat kenangan saat itu; momen sewaktu Taehyung duduk di satu kursi dengannya, memiliki kelas dan pelajaran yang sama, dan menggemaskan untuk mengenang bagaimana ancaman Taehyung yang sangat kenanakan agar bisa mengantarnya pulang.

Saat itu ... Taehyung bukan Taehyung yang sekarang. Taehyung dingatannya begitu hangat dan manis, bukan sosok dingin dan terlalu acuh tak acuh.

Maka Jungkook tersenyum pedih, terlampau fokus pada jalanan sampai tidak menyadari Taehyung yang terus menatap pantulan wajahnya dari spion.

Perlahan. Kenangan itu membuat matanya kembali berkaca-kaca, dan Jungkook berusaha menahannya, mengontrol diri untuk tidak menumpahkan air mata sekarang. Lantas kantuk menjadi pilihan utama sebagai senjata yang selalu berhasil mencegah tangisannya.

...

Taehyung masih memperhatikan. Mengamati wajah Jungkook yang terpejam dari kaca. Lingkatan mata tercetak hitam, kantung matanya membengkak, dan Jungkook kelihatan luar biasa lusuh.

Taehyung mengigiti bibir bawah. Beberapa hari lalu, Jihoon dan Hansol bilang kalau Jungkook mulai kelihatan stres juga aneh luar biasa—seperti bukan Jeon Jungkook.

Apa dia kelelahan?

Apa dia tidak tidur semalaman?

Apa dia habis menangis?

Dan masih begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Taehyung. Entah mengapa dadanya terasa ngilu membayangi andai kata Jungkook menjadi seperti ini karena ulahnya.

Yang ia pahami sekarang adalah Jeon Jungkook yang mungkin merasa bersalah; karena Taehyung sendiri paham, meskipun berlidah tajam Jungkook adalah remaja yang sangat rasional dan berhati lembut.

Jadi mungkin; Jungkook memikirkan ini sebagai beban.

Lastas ia menjadi acuh pada pikirannya saat menyadari bahwa kesadaran Jungkook telah benar-benar lenyap. Remaja itu mengangguk-anggukan kepala mengikuti guncangan mobil, terlihat tidak nyaman sama sekali, tapi hebatnya Jungkook masih bisa terlelap dengan pulas.

Ya, mungkin Jungkook terlalu kelelahan.

Maka entah bersama keberanian dari mana, Taehyung melempar asal ponselnya ke dashboard, sekedar menyamankan duduk dan letak lengannya untuk menarik Jungkook bersandar di bahunya.

Menjadikan Hoseok yang melihat dari sudut mata sanggup mengulum tersenyum, begitu pula Jimin yang terus memperhatikan; ia cuma tersenyum lebar atas perasaan kawannya.

Karena kenyataannya, bagaimanapun Taehyung mau menampik, dirinya masih terlampau peduli pada Jeon Jungkook.

.

.


"Dabomb baby! Kita sampai! Yeah!" Mingyu bersorak riang sesampai mereka menjejakan kaki di depan pintu masuk Lotte World.

Setelah Soonyoung mengurus adrimistrasi tiket, mereka masuk penuh semangat. Dan si Kwon mesti menahan diri buat tidak menelan Jihoon hidup-hidup saat mendapati remaja itu menganga heboh. Menggemaskan.

Sedangkan di sisi lain, ketika mereka terlalu bersemangat menghabisi waktu untuk berkeliling sebentar. Jungkook merangsek menjauh, berjalan di ujung lain dari tempat Taehyung melangkah apatis.

Tapi kemudian, kesembilan anak-anak itu bahkan tidak lagi terkejut saat remaja seusia mereka mulai berkumpul, mengambil foto, memekik gemas, bahkan tidak ragu mengikuti langkah yang mereka ambil.

Determinasi mutlak sebab memiliki Boo Seungkwan, Kim Mingyu, dan Kim Taehyung di sana.

"Konsekuensinya berat ya berteman sama aktor drama, model dan ulzzang papan atas," Jimin mencebik sarkastik.

Membuat Mingyu di sebelahnya mendecak kesal, "Diam cebol, salahkan Taetae sama si Boo sana. Jangan bawa-bawa aku."

Jimin merotasikan matanya abai, "Persetan. Untukku, kalian bertiga overdosis biadab kalau kita sedang jalan-jalan keluar begini."

Ujarannya sanggup membuat Taehyung yang dari awal hanya diam akhirnya buka suara. Tanpa disadari membuat Jungkook menahan napas sekedar mendengar vokal bariton itu mengudara, "Brengsek. Berani berpikir begitu? Memang menurutmu siapa yang membuat hidupku jadi tidak tenang begini?" ucapnya sewot, "Kalau bukan kau orang pertama yang menjual fotoku di fancafe, aku bakal hidup jadi siswa SMU yang normal."

Maka atas sergahan kesal Taehyung, raut snobis di muka Jimin berubah jadi kernyitan tawa humoris, membuat matanya menyipit jenaka. Jimin mengibaskan tangan dua kali, asal tapi kemudian ia tetap menampakan cengiran supaya air muka kawannya tidak lagi terlalu tegas.

Yang Jimin pikirkan sebenarnya bukan karena takut Taehyung bakal marah, sebab dia sendiri tau bocah ini tidak bisa emosi padanya. Yang ia khawatirkan justru tempramen Taehyung membuat remaja itu tidak lagi mau mereka jual. Karena setidaknya, penghasilan freelance dari foto-foto dan video singkat kegiatan Taehyung cukup menjadikan kelima kawannya tidak perlu memakai uang orang tua banyak-banyak.

Ya, hanya dengan memanfaatkan Kim Taehyung, mereka bisa hidup dengan nyaman. Berengsek memang. Tapi beginilah cinta dalam persahabatan mereka—menjadi bajingan satu sama lain.

.

.


Mereka mengambil banyak foto dan video take pendek. Menikmati permainan outdoor tanpa peduli tatapan dan lensa kamera lain yang memindai mereka. Hanya menyukai saat-saat kebersamaan ini dengan senyum dan tawa riang.

Dari awal, tujuan outdoor mereka langsung menuju Magic Island; mengagumi kecantikan air dari danau Seokchon, heboh kejar-kejaran dan mengambil satu gambar di depan Magic Castle. Tidak henti-hentinya berteriak saat menjajal tujuh belas wahana pemacu adrenalin, kemudian, bahkan Hansol juga yang lain sama sekali tidak bisa menahan semburan tawa ketika Seungkwan dan Hoseok terus histeris dan frustasi. Saat masuk ke area indoor, mereka menuju Adventure lantai satu untuk mencoba dua belas wahana dari enam belas yang ada. Kemudian menjajal dua wahana di Adventure lantai dua dan cuma menaiki satu wahana di Adventure lantai tiga karena Hoseok mengemis supaya mereka tidak naik French Revolution.

Setelah menyempatkan beristirahat dan mengisi perut ke cafe di Lotte Duty (yang seluruhnya dibayar Jimin), mereka beranjak lagi, kembali naik ke Adventure lantai tiga untuk mengunjungi Musium Folk.

Soonyoung yang tidak bisa menahan diri lagi buat mencubit gemas pipi Jihoon ketika biji cabe YaGook itu kembali melakukan tindakan manis, Seungkwan yang terus-terusan memukuli Hansol karena tidak berhenti meledeki kalau si Boo mirip miniatur buruh tambun di balik kaca, Mingyu menjadi terlalu heboh pada segala yang ia lihat, Hoseok yang masih lemas selalu terkejut dengan apapun, histeria Jimin yang membuat mereka terlalu banyak tertawa hingga keram perut saat memasuki wahana rumah hantu, juga Jungkook dan Taehyung yang memiliki pemikiran asing tiap kali ikut merangkai gelak bersama lainnya.

Hari ini menjadi momen yang bahkan mereka semua harap tidak berlalu cepat-cepat.

Memasuki malam, destinasi terakhir sebelum mereka menyerbu Jamsil Store dan menikmati parade Masked Festivals, sembilan remaja itu berada di Ice Rink.

Soonyoung masih sibuk memakaikan atribut skating ke Jihoon ketika mendengar Seungkwan terbahak-bahak karena Hansol tergelincir di lantai es. Jungkook menoleh, berjalan tertatih dengan sepatu skatnya pelan-pelan; memegangi besi di pinggiran ice rinks, dan melihat bagaimana Mingyu asik sendiri melakukan gerak balerina ke tengah-tengah, Jimin-Hoseok yang berdansa tidak tau malu, juga Kim Taehyung; sosok yang duduk di dekat Soonyoung dan Jihoon, sibuk memainkan ponsel, sama sekali belum memakai atribut skatingnya buat turun ke arena.

Tapi kemudian, ketika Jungkook mendengar Seungkwan meneriaki Taehyung, si Kim cuma menyahut nyaring lalu memakai sepatu skat ogah-ogahan. Hanya itu. Sebab Taehyung masih betah di tempatnya, tidak sedikitpun beranjak.

Jungkook tidak tau, dan mungkin, dia tidak akan pernah tau. Bahwa hal yang menjadi fokus Taehyung pada ponselnya adalah senyumnya pada hasil foto mereka di depan Magic Castle.

Padahal, di awal-awal ia sudah membuat komitmen untuk melupakan segala tentang Jeon Jungkook. Namun sekarang, Taehyung hanya merasa menjadi orang bodoh. Terlalu tolol untuk memikirkan maaf dan memiliki harapan supaya Jungkook mengizinkannya kembali. Bergerak dan berani menggenggam pergelangan Jungkook lagi.

Maka untuk dua pekan bagai neraka yang ia alami, kembali, Taehyung hanya bisa memperhatikan Jungkook dari kejauhan. Memangku ponsel saat tawa Jungkook dari jarak sejauh itu seakan-akan terdengar begitu jelas. Memperhatikan Jungkook yang terlalu geli mengamati kelakuan Hoseok-Jimin beratraksi dengan tarian couple. Dan bungkam. Ketika melihat Jungkook mencoba melepaskan pegangannya dari batang besi, mencoba ke tengah area dan terjerembap hingga membuat lututnya membentur lantai es.

Saat tujuh remaja di sana tersentak memperhatikan kejadian itu, Taehyung bisa lihat sangat jelas, goresan di lutut Jungkook mengakibatkan rembasan darah saat bocah itu berusaha berdiri susah payah.

Maka Taehyung sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bangkit dan bergegas menghampiri Jungkook. Menjadi panik saat berhasil berdiri diri di sebelah figur itu, tanpa pikir panjang melingkarkan lengan Jungkook merangkul lehernya, dan membawa sosok itu keluar wahana hati-hati.

Tidak menyadari bagaimana Jungkook bergeming, juga reaksi kawan-kawan mereka yang saling pandang linglung. Tapi kemudian, ketujuh siswa itu hanya melempar senyum masing-masing saat melihat Taehyung mendudukan Jungkook di kursi panjang, menyisakan prifasi buat keduanya.

Jungkook masih membatu. Kepalanya menunduk, hanya melirik dari sudut mata ketika Taehyung sibuk mengacak tas Seungkwan, mengambil bungkus plester yang ia tau selalu si Boo bawa. Setelahnya Taehyung merangsek berlutut di depan Jungkook, membuka botol air dari tasnya untuk menyiramkan ke luka si Jeon dan membersihkannya pelan.

Jungkook mengepal tangan-tangannya di sisi tubuh, mengigit daging di bagian dalam pipi, respirasi buntu di kerongkongan, sementara matanya entah mengapa menahan kemilap basah.

Hanya untuk mengamati bagaimanaTaehyung memperlakukannya sepenuh hati, mengeringkan bekas basah di lututnya dan membuka bungkus plester buat menambat lukanya.

Kemudian.

Jungkook buntu.

Tidak lagi memiliki akal manakala Taehyung diam di posisi, bertahan lama dalam sunyi lalu perlahan berdiri.

Jungkook masih menunduk, tapi Taehyung bersuara, "Mau es krim?"

Pink miss.

Jungkook hancur; lulu lantak dan melebur jadi serpihan kerikil kecil. Saat mendongak ragu-garu, sekedar menyaksikan cengir kekanakan yang ia rindukan, membuatnya kembali menunduk dan mengepal tangan semakin kuat.

Tapi yang Taehyung dapati kemudian adalah Jeon Jungkook yang kembali menatapnya dengan senyum manis dan mengangguk.

.

.


Setelah mengizin pada kawan-kawan mereka. Keduanya pergi keluar indoor Adventure, berjalan beriringan ke kedai es krim dan membeli dua skop stoberi cokelat.

Taehyung menjadi sumber teriakan gemas dari beberapa gadis ketika mereka melewati jalan memutar. Jungkook dengan sabar mentoleransi langkah Taehyung yang terus-terusan berhenti karena diajak berfoto, ia bahkan tidak keberatan saat dimintai tolong menjadi fotografer dadakan.

Maka Taehyung yang memiliki ide untuk menggeret Jungkook ke Seoul Norimadang di bagian barat danau Seokchon, sedekar menghindari manusia-manusia rese yang mengganggu kehidupannya.

Hanya untuk menciptakan sebuat canggung bagi Jungkook.

Duduk berdua dengan Taehyung, di tempat yang hanya memeiliki sedikit pengunjung saat ini, dengan sesekop es krim di tangan, menonton pertunjukan tradisional yang bahkan tidak ia mengerti sama sekali.

"Belepotan."

Jungkook berjengit saat memahami situasi; Taehyung menyeka bekas vanila di susut bibirnya, membersihkan cairan lengket di tangannya, dan memberi senyuman itu sebelum menghadap depan lagi.

Lalu hening.

Tak lama, Jungkook berusaha menelisik Taehyung dari ujung mata, melihat remaja itu berusaha memahami alur cerita dari para pemeran yang berlakon di sana. Maka Jungkook kembali menghadap depan. Ia tidak pintar, tapi cukup bisa memahami Taehyung juga sama tidak tertariknya menonton pertunjukan seperti ini.

Dan waktu berlalu.

Ketika malam kian menjelma, teater semakin dipenuhi orang, pertunjukan nyaris sampai ke penghujung.

Keduanya justru tanpa sadar terbahak-bahak bersama audiens lain, tidak kuat menonton bagaimana pelakon di sana terus melakukan komedi. Taehyung yang memukuli lengan Jungkook sangkin gelinya dan si Jeon yang bersandar di bahu Taehyung ketika klimaks adegan membuatnya tersentuh.

Maka waktu sama sekali tidak terasa, sampai lampu-lampu panggung meredup dan para penonton mulai bubar dari kursi masing-masing. Jungkook yang memberi tepuk tangan paling heboh dan Taehyung yang bersuit-suit berisik.

Kemudian mereka keluar area Norimadang saat Taehyung mengangkat telpon dari Jimin—menanyai keberadaan mereka, memberi titah agar ke duanya pergi ke posisi yang lain berkumpul untuk menyaksikan parade.

...

Mereka bergabung saat pawai mulai melewati jalan. Di tengah pengunjung lain yang berkumpul, sembilan siswa itu menikmati glamor dari barisan parade yang penuh lampu-lampu dan penari dengan kostum eksentrik.

Di tengah kerumunan orang yang banyak, sorak-sorai pengunjung menjadi pengalun ketika Jungkook tersentak. Menoleh saat merasakan tangan Taehyung menggenggam jemarinya. Tapi yang ia dapati hanya Taehyung yang sok inosen dengan gaya angkuhnya, tetap menonton pertunjukan seolah tidak melakukan tindak apa-apa.

Namun justru hal ini cukum membuat Jungkook mengulum senyuman.

Membalas sama erat pangutan jemari Taehyung, Jungkook kembali menatap depan, "Taehyung-ah," bisiknya pertama.

"Hm?" Taehyung belagak acuh tak acuh.

Sunyi mendominasi sebentar. Jungkook benar-benar bungkam saat debaran jantungnya berdegup terlalu nyaring, kacau, berantakan. Sementara akal logisnya tertata lagi ketika Taehyung mengeratkan genggaman.

Jungkook melepaskan senyum, tapi cara matanya menatap pertunjukan penuh rasa bersalah dan keragu-garuan, "Uh, mm, ma-maafkan aku atas segalanya. Aku salah. Terlalu sering mengacuhkanmu, tidak menghargai ketulusanmu, menyakitimu," ia berbisik, sekembar obsidian itu berpendar kacau dan basah, "Aku salah, Taehyung. Maafkan aku. Aku—"

"Sssh," Taehyung meremat jemarinya menenangkan, "Kau berisik, Jungkook," tapi bahkan dengan kata-kata si Kim yang dipenuhi canda, Jungkook sanggup menggigit bibirnya kencang untuk air matanya yang runtuh tanpa izin.

Dan Taehyung tau.

Ia menyadari Jungkook yang menangis ketika remaja itu menunduk tiba-tiba.

Maka ledakan kembang api di langit-langit Lotte World, sorakan heboh seluruh pengunjung dan suara berisik dari musik parade menjadi latar belakang dari bagaimana Taehyung menarik dagu Jungkook hati-hati dan menyatukan bibir mereka.

Membuat Jungkook lagi-lagi bergeming atas gerak tubuhnya. Menjadikannya mematung tak dapat berbuat apa-apa. Membiarkan air matanya terus mengalir saat bisikan 'saranghae' Taehyung tergumam di depan bibirnya.

Dan setelah itu, yang Jungkook tau adalah dirinya yang membalas sama erat saat Taehyung menariknya dalam pelukan. Mengangguk banyak sekali dan mendenggelamkan wajahnya di bahu Taehyung, menyembunyikan air matanya dan berbisik yakin. Mengacuhkan egoisme dan rasionalismenya selama ini.

"Me too."

Menjadikan Taehyung berdebar dan terlalu bahagia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook yang membangun keberanian untuk membiarkan Taehyung membawanya terbang semakin tinggi, Jungkook yang menetapkan kepercayaan untuk membiarkan Taehyung menjaganya dalam pelukan, Jungkook yang mempersilahkan hati untuk membiarkan Taehyung menjadikannya tenggelam.

.

.

Ia yang tak lagi meragukan hal-hal manis Taehyung untuk melindunginya,
ia yang tak lagi mengacuhkan cara-cara Taehyung untuk meraih tangannya,
ia yang tak lagi menyangkal kata-kata Taehyung untuk menjadikannya jatuh cinta.

.

.

Jeon Jungkook yang akan menyerah atas segalanya.

.

Karena si pejuang tangguh itu telah membuktikan semuanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

end.


Jo Liyeol's Curhat Timing!


Ladida dida =w= hai gaes?! muehehe

ada yang kangen sama dedek? =3=
waks, belom juga berapa hari bilang mau hiatus eh nongol lagi aqoh =w= muehehe

ya, gimana ya ... aqoh sendiri udah bilang kalo seminggu ga nulis itu rasanya jiwa raga ini bergetar-getar manjah :v (/apa sih Li?)

ya ... syudah lah, kunulis ini juga sebenernya buat pelarian dari pusyingnya persiapan unbk (jadi maklum lah kalo hasilnya semerawut/rancu =w= (emang dasarnya gapernah bikin ff bener)) tapi jujur, kubuat ini pake perasaan banget loh :v muehehe

dan sebenernya juga, kunyelesain bbl ini biar ga punya utang kebanyakan sama kalian =,= muehehe

dah lah, sekian.

.

PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta sangat-sangat kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): see you on next tale.
PS(4): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(5): jangan kapok maen di lapak dedek =3=

jakarta, 12 November 2017.


spesial cintah buat:

semua yang udah baca dan rela ngeluangin waktu untuk komentar.

—maaciw banget loh, disaat-saat begini kalian yang bikin dedek semangat. maaciw banyak, maaciiiw syekaleeeh =3= kukirim ciom penuh cinta ini buat kalian ... mumumumu