Present
ANOMALI
.
Cast:
.Taehyung and Jungkook.
And
.Other cast.
.
Genre: fantasy, romance, humor, triler
Warning:
Typo, tidak sesuai EYD (kadang formal-kadang banmal), romennya membuat anda kejang-kejang,mual dan naik pitam. Bila sakit kepala, konsumsi obat-obatan di sekitar anda. Terimakasih..
.
.
*Happy Reading*
.
.
Hello.01.
.
06.57 pm. [Two mounth before accident.]
BUGH BUGH
"Ughh.."
Baku hantam terus terjadi antara siswa-siswa sekolah menegah. Beberapa diantaranya sudah terkapar lemas dengan darah menghias wajah-wajah bonyok mereka. Basement mall yang belum selesai di bangun dan tak terpakai menjadi tempat adu jotos ketujuh siswa laki-laki tersebut.
"Tae!―ishh.." Lelaki jangkung berambut magenta menarik kasar tubuh kurus namun kekar milik Taehyung, teman satu sekolahnya. Satu kelasnya. Satu bangkunya. Satu gengnya.
"Udah, Tae. Udah woi!"
"Aku belum selesai dengan wajah menjijikan ini!" Teriak Taehyung, dirinya terus menggeliat marah dari rangkulan temannya itu dan terus menonjok wajah lebam musuhnya.
Si surai magenta semakin mempererat rangkulannya di bagian bahu kawan gengnya – dari belakang.
"Gila! Kau bisa membunuh anak itu karena nafsu saikomu Tae! Sadarlah!"
Telak. Taehyung terdiam. Nafasnya memburu, kepalan ditangan kurusnya menguat menahan amarah. Namjoon menyenderkan kepalanya di tengkuk Taehyung. Huff, hampir saja..
Bisa gawat kalau anak orang mati ditangan temannya ini. Terlebih si pemuda berambut merah ini adalah sahabat kecilnya. Semua dilakukan bersama. Susah senang ditanggung dirasa berdua. Dan jikalau si Taehyung ini masuk penjara karena bunuh anak orang, maka Namjoon Kim – tepuk dada – akan menemaninya. Huh!
"Maaf.."
Kepala Namjoon menegak lalu mencondongkan kepalanya kedepan. Diusapnya surai berkeringat milik Taehyung penuh kasih. Taehyung menoleh kearah Namjoon dan melihat pergelangan tangan Namjoon yang memerah akibat darinya.
Duh, Namjoon rasanya tak tega lihat wajah sahabatnya ini yang ekpresinya berubah jadi polos dan menyedihkan dalam sekejap. Taehyung memang sakit. Ck.
Namjoon menepuk pelan jemari Taehyung yang tengah mengusap pergelangan tangannya. Ini bocah memang bisa bikin perasaan Namjoon campur aduk. Antara baper. Takut. Senang. Juga kasihan.
"Wah, Tae. Kamu bakal didamprat Tuan Ji kalau liat kelakuanmu ini. Bagaimana ini, rupa mereka tak semulus sejam lalu.."
Taehyung memandang perbuatannya pada kelima siswa SMA seberang. Wajah mereka bonyok-bonyok. Walau masih sadarkan diri tapi rasa sakit yang mereka rasa tetap membuat mereka tidak bisa berkutik. Taehyung menghela nafasnya berat.
"Dalam waktu lima menit, tamat sudah riwayatmu Tae. Keluarga Ji pasti menghukummu buat bayarin mereka operasi plastik ke Seoul." Namjoon terkekeh sambil menunjuk semua muka bonyok di sampingnya.
Taehyung kembali menoleh pada korban kebonyokkannya. Tunggu, maksudnya korban di sini siapa? Dirinya yang jadi korban diantara kekerasan ini! Bermula dari mereka yang menelponnya satu setengah jam yang lalu. Anak SMA kota seberang itu katanya mau main sama Taehyung, ya Taehyung terima ajakan main mereka. Lima lawan dua tentu menarik perhatian jiwa saikonya si Taetae ini.
Dreeett.. dreeettt..
Getaran ponsel di saku celana hitam milik Taehyung memutuskan fokus si pemiliknya.
Tn. Ji calling..
Pik. Taehyung menggeser simbol hijau.
"YAK! JI TAEHYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN KALI INI?!" Bentak seseorang di seberang sana.
Taehyung sedikit menjauhkan jarak ponselnya. Lalu mendekatkannya kembali.
"Mm…, Halo, Ini dengan siapa?"‒Taehyung, datar. Tenang.
Namjoon bersorak heboh dalam hati. Melihat ketenangan sahabatnya ini. Great!
"Ya Tuhan, Jiwon! Kau beri makan apa anak ini? Kenapa dia tak takut padaku sama sekali!"
"Sayang! Aku beri makan ia sama seperti anakmu yang lain!"
Taehyung tersenyum kecil mendengar adu mulut Ayah Ibunya di seberang sana.
"TAETAE! AKU TIDAK BOHONG TENTANG MEMASUKKANMU KE SEKOLAH MILITER DI JERMAN SANA! TAK ADA PENOLAKAN APAPUN!"
Pik. Telepon terputus..
Hening.
"Well, ketahuannya ternyata cuman 40 detik. Dugaanku meleset 260 detik, ck."‒Namjoon, kecewa.
"Konyol. Sekolah militer di Jerman, cihh.." Taehyung menerawang gelapnya malam.
"Aku rasa bayarin mereka operasi plastik bukan hal yang buruk. Dari pada ikut sekolah kemiliteran, Tae." Kata Namjoon. Mencoba memberi pilihan bijak, katanya.
Taehyung mendelik, "Operasi taikmu!"
Namjoon terkekeh.
Eh ngomong-ngomong, Namjoon juga agak bonyok sana-sini. Di tulang pipi dan bibir bagian bawahnya sobek, ada sedikit darah disana.
Dengan wajah datarnya Taehyung membungkukkan badannya pada kelima siswa yang terkapar kesakitan.
"Terima kasih atas hiburannya." Ujar Taehyung. Namjoon tersenyum sok ganteng dan kelima siswa disana menatap Taehyung kaget sekaligus horror.
Taehyung pergi begitu saja diikuti Namjoon dibelakangnya. "Sering-seringlah mengajak kita main jika kalian semua bosan main boneka-bonekaannya." Lanjut Taehyung disambung kekehan Namjoon.
.
.
Sepuluh menit berlalu dan dua orang siswa berbeda warna rambut itu telah sampai di depan sebuah pekarangan rumah yang lumayan besar dengan tembok pembatas yang menjulang tinggi.
Taehyung tampak enggan turun dari boncengan Namjoon. Motor Kawasaki ninja 300 adalah motor kesayangan Taehyung, padahal motor itu milik Namjoon tapi yang sayang malah Taehyung. Aneh memang.
"Turun, Tae."
"Joon, bagaimana kalau kawasakinya menginap di rumahku malam ini?"
Namjoon menoleh ke belakang. "Huh? Menginap gimana maksudnya?"
"Iya. Dia bermalam di rumahku. Tinggal di sini. Satu malam saja. Aku akan bertanggung jawab penuh demi kenyamanan kawasaki keren ini. Nanti aku akan memandikannya, mengganti olinya sama top1, aku akan merawatnya seperti aku merawat Jolie.."
Hah?
Namjoon cengo. Kalau ada maunya si Taetae ini banyak omong.
"Dasar sinting. Kau anggap motorku kucing katé. Turun sekarang nggak?!"
"Sembarangan. Namanya Jolie!"
Taehyung menatap belakang kepala Namjoon tajam sambil turun dari motor dengan tidak rela. Sepertinya si Taehyung ini nurunin kakinya sesenti-sesenti, lamanya bukan kepalang. Namjoon jamin dirinya sudah bulukan lumutan berjamur kapalan korengan – atau apalah – sekarang ini, hanya untuk menunggu si Taetae ini enyah dari motornya setidaknya dari jok belakang.
"Tae, kau ingin aku menjerit manggil Hyung dan Nuna mu di rumah yang lagi pada nonton tivi?" Begini nih, kalo ajak si Taetae naik motornya. Rada sedeng emang ini anak. Kalo emang mau motor ya tinggal minta saja ke Tuan Ji yang punya uang banyak. Toh pasti dibelikan kok. Namjoon jengah deh jadinya.
"Kata siapa mereka lagi pada nonton?" Kata Taehyung yang masih belum juga turun dari motor Namjoon.
"Tae, aku serius. Aku lelah, mau mandi lalu menyantap makan malamku lalu tidur. Itu juga belum termasuk Geong Min yang merengek minta bantuin kerjain PRnya. Turun tidak?!"Jelas Namjoon, sambil mengacak-acak rambutnya sebal.
Taehyung menggeleng.
Naik sudah darah Namjoon sampai ke ubun-ubun, "Turun! Atau kau tidak akan pernah bisa naik motor keren ini lagi!"
Mata Taehyung membola kaget. Dengan segenap jiwa raga, Taehyung turun dari motor super kerennya Namjoon. Cukup lama hingga sepatu converse hitam itu menginjakan alasnya di aspal. Namanya saja Ketua geng tapi perilakunya seperti anak TK.
Ting.
Ting.
Ada dua pesan masuk, Namjoon menggeser lock mode di ponsel touchscreennya. Seketika raut wajahnya berubah datar.
Taehyung menghampiri Namjoon dan mengerutkan keningnya penasaran. Namjoon menatap Taehyung. Raut wajahnya tak bisa Taehyung baca, tidak seperti biasanya.
"Kenapa?"
Namjoon tersenyum dengan amat sangat manis. Taehyung melongo jadinya. Ini kali pertama Taehyung melihat senyum menawannya Namjoon. Biasanya si Namjoon ini selalu jadi lelaki menyebalkan, konyol dan 'belok'di mata Taehyung. Dalam 5 detik kedepan Taehyung rasa Namjoon jadi tampan dimatanya. Ya ampun.
"Masuk sana. Nanti masuk angin."Suruh Namjoon.
Iuh, it's so sweet! Pikir Taehyung dalam hati.
Namjoon hendak memakai helm full facenya namun ditahan Taehyung. Pemuda kurus itu menatap temannya datar seperti biasanya.
"Namjoon.." Panggil Taehyung. Namjoon bergumam sebagai jawaban.
Hening beberapa detik, hingga akhirnya Taehyung tidak jadi mengutarakan isi pikirannya yang sejak tadi membuatnya tak nyaman. Ketika Taehyung hendak membuka pagar besar rumahnya, kalimat Namjoon tiba-tiba membuatnya terdiam.
"Tae, ingat sama kontrak kita waktu kecil?"
Taehyung membalikan badannya sambil memutar bola matanya yang bulat. Ya ampun, kenapa juga ia mau-maunya bikin kontrak super bodoh sama itu anak. Lagipula, Taehyung tidak ingat yang seperti itu.
"Aku takkan membuang sahabatku sendiri, Tae. Walau jalan yang kau tempuh itu sulit dan penuh duri. Aku takkan pernah membuangmu. Kalau perlu, seret aku meski neraka adalah pilihanmu."
Taehyung terdiam. Kalimat itu…
Itu..
Itu terlalu formal omong-omong. Dapat referensi darimana si Namjoon ini.
Tapi bukan formal atau banmal masalah sebenarnya. Cuman kalimat barusan sangat aneh di telinganya. Walaupun ia melupakan tentang kontrak itu, tapi yang ia tahu bukan itu isi kontrak yang mereka buat saat kecil dulu. Bocah ingusan mana tau hal-hal mainstream begitu, waktu kecil mereka hanya tau permen lollipop dan popok. Ck.
"Apa isi pesan yang kau baca barusan?" Taehyung menatap curiga pada Namjoon. Ia tahu, ada maksud lain dari kalimat yang tadi Namjoon ucapkan.
Namjoon memakai helm full facesnya, menyalakan mesin motor dan siap meluncur.
"Namjoon!" Taehyung sedikitnya memukul helm itu agak kasar membuat teman kecilnya menjerit frustasi.
"Aduduh, oke. Oke. Orang rumah ngamuk gegara acara 'main' kita barusan, Tae. Sudah ya, aku mau pulang okey? Bye!" Setelahnya Namjoon meninggalkan Taehyung yang moodnya sudah down ke titik terendah. Terima kasih Namjoon Kim.
"Semarah itukah Tuan Kim? Wajahnya pucat begitu.." Gumam Taehyung, masih penasaran.
Taehyung memasuki pintu utama rumahnya. Menguncinya lalu kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruang tamu keluarga Ji. Sesampainya Taehyung dipelototi delapan bola mata. Dirinya seperti pelaku terror bom di Indonesia baru-baru ini, tak sempat Taehyung buang angin ia langsung dihadang empat kepala manusia saat dirinya baru memasuki ruang tamu.
Taehyung menatap keempat keluarganya dengan tatapan polos, seolah-olah matanya berbicara 'ada apa?' 'apa yang terjadi?' 'apa Jolie masuk freezer lagi?'.
"Boleh aku duduk dulu, Ayah, Ibu, Hyung, Nuna.."
.
.
Motor Kawasaki Ninja 300 milik Namjoon terparkir tepat di depan sebuah rumah bobrok dimana tempat itu agak jauh dari kota yang ramai. Di sepanjang perjalanan hanya gelap dan dingin yang menusuk. Gubuk ini pun sama sepinya. Tak ada keraguan dalam hazel milik siswa SMA itu. Langkah kakinya yang jenjang melangkah berjauhan, ingin rasanya pemuda itu segera sampai dan menghajar semua makhluk brengsek di dalam sana. Berani-beraninya mereka menggunakan cara licik begini padanya, bukannya ia takut kalah dari mereka hanya saja jika menyangkut keluarganya ia tentu saja akan marah. Cih, mereka memancing monster yang tertidur lelap rupanya.
"Wahh, tuan Ksatria sudah tiba rupanyaa!" Seru seorang pemuda bersurai hitam gelap.
"Oppa!"
Namjoon menghela nafasnya lega. Setidaknya Geong Min baik-baik saja.
"Eh, mana si cabe Taehyung?"
Ck.
"Itu bukan urusannya. Sekarang kalian berurusan denganku." Ujar Namjoon santai.
"Sombongnya bedebah ini. Padahal selama ini kau hanya jadi bayangan si Taehyung saja. Dasar tidak tau malu!" Ucap pemuda bername tag Ravi Kim.
"Dasar lalat jamban! Orang yang tahunya sex dan cari masalah tidak akan tahu yang namanya persahabatan dan kesetiaan. Kalian hanya mengutamakan nafsu yang menggantung dibawah sana saja 'kan?"
Ravi menggeram marah. Jemarinya terkepal dan memutih.
"Well..." Namjoon bertolak pinggang. "Ken, bisa kau lepaskan ikatan itu dari adikku? Itu pasti akan menyakitinya. Dan aku tidak suka itu"
Pemuda bersurai caramel itu menoleh pada keempat temannya meminta persetujuan. Salah satunya mengangguk, lantas dilepaskannya ikatan dipergelangan Geong Min. Segera gadis itu berlari pada kakak lelakinya.
"Kau tahu ini belum berakhir 'kan? Jangan kabur bedebah.."
Namjoon terkekeh angkuh, "Aku hanya akan mengantarnya sampai depan. Aku takkan kabur kemana-mana." Namjoon menggenggam lengan sang adik, "Mmm, selagi aku mengantar anak ini. Kau bisa mempersiapkan 'amunisi' dan mental kalian, kkekekekk.."
Ravi cs mendecih sebal. Si Namjoon brengsek.
Lalu Namjoon pergi membawa adiknya keluar dari tempat yang cukup berbahaya itu. Sesampainya di luar, pemuda bersurai magenta itu melepas genggamannya dan mengelus surai lembur Geong Min.
"Pulanglah. Oppa akan kembali setelah mengurus mereka." Namjoon segera beranjak dari tempat berdirinya.
"Oppa..!"
Namjoon menghentikan langkahnya.
"Apa tidak bisa kau berhenti dari semua ini?" Geong Min berucap pelan.
"Kau tahu itu buruk. Kau tahu adikmu ini khawatir. Eomma juga setiap malam berdoa untukmu. Appa selalu marah karena ia khawatir padamu. Kau tahu itu Oppa, tapi kenapa..."
Namjoon berbalik dan tersenyum hangat, "Tunggu aku di pemberhentian bus dekat starbuck. Okey?"
"Kau menyuruhku berjalan sendirian?! Kakak macam apa kau!"
"Tunggu aku di sana!"
Geong Min tercekat dibentak begitu.
Aku akan mengakhiri ini..
Maaf Tae, tapi kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku..
Kau pasti akan mengerti..
"Bagaimana jika kau tidak datang? Aku akan membeku kedinginan. Dasar bodoh!"
"Hanya setengah jam. Paling lambat 1 jam lah!"
Geong Min mendengus sebal. "Aku pergi. Bye!"
"Kalau telat. Awas kau!"
Namjoon mendecih kecut. Pemuda itu kembali ke gubuk tersebut. Well, berarti ia yang akan menyelesaikan para makhluk bangsat di dalam sana. Sendirian. Tanpa Taehyung. Si pembawa masalah sebenarnya. Alasan kenapa sandera yang dipilih adalah adiknya pasti karena Taehyung tidak punya adik yang harus dilindunginya, ia anak bungsu dalam keluarga Ji, ingat? Tidak sepertinya yang punya Geong Min. Lagipula, Taehyung punya ayah seorang polisi. Ayah Namjoon hanya seorang dosen di Universitas swasta.
"Baiklah, aku rasa kalian salah memilih lawan." Ujar Namjoon, memulai.
"Benarkah?" Tanya Ravi meremehkan.
"Bagaimana dengan ini?" Lanjutnya.
Krieet..
Terjadi keheningan sesaat, hingga...
DOORR..
DOORR..
DOORR..
DOORRR..
.
.
Taehyung mulai mengabsen keempat anggota keluarganya yang tampan-tampan dan cantik-cantik dengan hazelnya yang tajam setajam garpu taman depan rumah.
Dihadapannya kini ada Ji Chang Wook. Sang kepala keluarga Ji yang ganteng dan dermawan. Kepala keluarga Ji ini punya kulit putih bersih, itu karena Ayah selalu merawat kulitnya dengan bengkuang bersama dengan Ibu. Diumurnya yang hendak menginjak 50 tahun ini Chang Wook sudah memiliki dua putra yang tampan dan satu putri yang cantik, punya satu istri yang cantiknya tak terkalahkan alam sejagad yang juga baik hati dan tidak sombong. Kurang apa lagi coba hidupnya itu? Sudah menjabat jadi Kepala Departemen di Kepolisian Pusat di Daegu selama 22 tahun dan belum juga pensiun lantaran cara bekerjanya yang patut diacungi jempol dan kepolisian tentu tidak mau kehilangan 'pemasok duit' mereka. Well, intinya cara kerja si Ayah sangat amat bagus. Btw, dilihat dari manapun sosok itu adalah Suami dan Ayah idaman para kaum hawa dan anak-anak diluaran sana. Dan sekarang ini, Ayah Chang Wook sedang berpangku tangan, tanda bahwa sosok ayah itu tengah mengintimidasi si putra bungsunya yang bangor luar biasa.
Dibelakang ayah ada ibu yang sedang mengelus lembut pundak lebarnya mencoba sedikit saja menetralkan amarah sang suami tercinta.
"Anak sekolah pulang malam-malam begini. Kerjaanmu tawuran saja?!" Kata Chang Wook memulai ceramahannya.
Taehyung melirik jam besar di sebelah kirinya. "Aku tidak tawuran Ayah. Mana bisa disebut tawuran kalau hanya dua lawan lima.. Lagipula ini baru jam 8 malam.." ‒Taehyung, dengan polosnya.
Gigi Chang Wook bergemeletuk, Taehyung bisa dengar itu. Ia rasa Ibu juga bisa mendengarnya, soalnya Ibu cantiknya itu tepuk jidat setelahnya.
"Ayah sayang, sebaiknya kita makan malam dulu, bagaimana? Aku sudah buat tumis capcay kesukaan Ayah dan Taehyung. Hmm?" ‒Ibu, tersenyum malaikat.
"Jangan sekarang Jiwon. Kau tidak lihat, sekarang suamimu yang tampan ini sedang marahi si bungsu Ji?"
Taehyung tertegun. Jemari rampingnya saling bertautan. Hazelnya menatap Ayah kemudian pada Ibu.
Wanita bersurai caramel itu tersenyum keibuan pada Taehyung, tidak lama senyum itu menghiasi wajah cantik Sang Ibu – Jiwon – berganti dengan kedipan sebelah mata nakal tapi konyol yang ditujukan pada Taehyung. Taehyung tersenyum kecil tanpa disadari yang lain kecuali si Ibu.
Taehyung menatap sang Ibu lama namun sendu. Wanita cantik ini adalah wanita terhebat dan sangat berjasa dalam hidup Taehyung. Walau dirinya bukan anak kandung dari wanita bersurai panjang ini tapi tetap saja Jiwon merawatnya dan mencintainya dengan sangat tulus tanpa ada diskriminasi antara ia dengan kedua kakaknya. Wanita cantik di depannya ini adalah seorang dosen Biologi di Universitas M berbasis Internasional, tapi itu dulu 14 tahun yang lalu. Menikah diusia 25 dan dikaruniai anak pertama diusianya yang ke 26 tahun. Walau Jiwon disibukan dengan pekerjaannya sebagai dosen dan ibu rumah tangga, wanita cantik ini tetaplah sangat cekatan dalam merawat dan menjaga putri pertama mereka. Hal itu terjadi sampai keduanya dikaruniai anak kedua, seorang putra yang sangat amat tampan. Setelah menjalani dua pekerjaan yang sama sibuknya akhirnya Jiwon memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai dosen dan berakhir dengan memilih menjadi sosok Ibu yang memfokuskan hidupnya untuk suami dan anak-anak tercintanya.
Jiwon menarik lembut lengan suaminya kearah meja makan, walau awalnya menolak tapi ujung-ujungnya juga suami tercintanya itu berjalan mendahuluinya ke ruang makan diikuti kedua putra-putrinya.
Taehyung masih memperhatikan tingkah lucu kedua orang tuanya. Mereka akur tanpa batas. Sungguh. Taehyung rasanya beruntung berada diantara keluarga Ji yang ramai dan hangat.
Usapan halus di kepalanya menyadarkan Taehyung dari pikirannya. Dirinya menoleh kearah sosok jangkung yang berdiri di sampingnya.
"Ayo.." Ajak sosok itu.
Jemari lebar namun halus itu menarik lengannya dan merangkul pundak Taehyung kemudian mengusak surai red chili Taehyung gemas.
Taehyung memandang paras tampan hyungnya dari samping. Wajah itu warisan berharga dari sang Ayah tentu saja. Pemuda yang ia panggil hyung ini tersenyum hangat padanya. Bibir semerah delimanya menurun dari sang ibu semakin menambah kesan betapa menawannya hyungnya ini.
Ji Seokjin. Kakak tertua ke dua dari 3 bersaudara. Pemuda yang cerdas juga berprestasi dalam bidang apapun terutama bidang bermusiknya. Ingin mendirikan sebuah band tapi Ayah cukup tegas untuk menentang keinginan Seokjin. Rasa kecewa tentu ada. Tapi Seokjin tetaplah Ji Seokjin, pemuda dengan sejuta kecerdasannya tentu tidak ingin membuat kedua orang tuanya merasa kecewa padanya. Ia akan sangat rela mengorbankan kesenangannya demi senyum kebahagiaan Ayah dan Ibu. Jadi Seokjin bertekad mendalami bidang lainnya yang memang cukup ia sukai dan berakhir dengan Ji Seokjin sekarang ini, calon mahasiswa spikologi di Universitas Cambidge, Inggris. Dirinya mendapat beasiswa penuh di Universitas elit tersebut omong-omong.
Makan malam berlangsung dengan khidmat, tak ada pembicaraan apapun. Jiwon melirik Chang Wook yang sedang mengunyah makannya tanpa ada niatan membuka pembicaraan. Hal konyol yang biasa Chang Wook lontarkan saat makan malam berlangsung setiap hari, namun kali ini suaminya benar-benar bungkam. Bukan karena masalah yang anak bungsunya lakukan kali ini, pria paruh baya itu diam karena hal lain. Entah perasaan Jiwon saja atau bagaimana hanya saja suasana makan keluarga selama satu minggu terakhir ini terasa canggung. Semua terlihat kaku. Jiwon melirik Taehyung di depannya yang sedang menyuap brokoli. Jiwon menghela nafasnya berat.
Terutama Taehyung..
.
.
"Kalau sudah lulus sekolah nanti aku akan bekerja saja, Bu.."
Jiwon menoleh pada putra bungsunya yang sekarang ini sedang melap peralatan makan yang Jiwon cuci.
"Kenapa begitu? Kau harus kuliah dan sukses seperti Junmyeon nuna." Ujar Jiwon, wanita itu kembali melanjutkan acara cuci piringnya.
"Aku mau bekerja saja. Aku akan bekerja keras dan menghidupi diri sendiri."
Jiwon terdiam. Merasa ada yang janggal dengan kalimat Taehyung barusan. Wanita itu menghentikan kegiatannya dan mematikan kran air.
"Kenapa harus bekerja dan menghidupi diri sendiri? Ada ayah dan Ibu disini. Kau tidak sendirian, nak.."
Taehyung terdiam beberapa detik, "Aku, aku hanya tidak mau merepotkan Ibu dan Ayah lagi, maaf.." Taehyung menghentikan kegiatannya seketika.
Jiwon melap tangannya yang basah lalu menghadap kearah Taehyung.
"Lihat Ibu, Tae.."
Taehyung tetap menunduk. Jiwon mengelus sayang pelipis putra bungsunya. Mencoba menghantarkan rasa cinta dan kasih sayangnya pada si bungsu Ji. Ia tahu, Taehyung pasti sangat menderita beberapa hari ini, itu pasti terjadi sejak ia dan Chang Wook memberitahu identitas Taehyung yang sebenarnya seminggu yang lalu, bahwa ia bukan anak kandung keluarga Ji. Jiwon merasa menjadi manusia yang paling kejam dan berdosa sejak kejadian itu. Wajah Taehyung yang polos dan datar sukses mengcoveri semua rasa frustasinya, itu pasti. Dan bodohnya mereka sangatlah tidak peka saat itu.
"Maaf.. Maaf, nak. Kami sudah jadi manusia berdosa dan teregois dalam hidupmu. Maaf.."
Kehangatan usapan sayang Jiwon sukses tersampaikan pada hati Taehyung yang membeku seminggu terakhir ini. Liquid bening lolos begitu saja dari hazel indah Ji Taehyung. Jiwon terisak kala kedua matanya bersiborok dengan bola mata putra bungsunya yang menatapnya penuh kesakitan tak terkira.
"Hiks, I-Ibu dan Ayah tidak berdosa untuk hal ini.." Taehyung sesegukan. Lantas ia melanjutkan bicaranya sembari mengucek matanya yang semakin deras. "Selama aku ditinggal Ibu kandungku, I-Ibu sudah mengurusku dengan penuh kasih dan cinta. Itu sudah cukup bagiku. Dan aku tidak mau merepotkan Ibu dan Ayah lebih lama. Karena cinta dan kehangatan keluarga kecil ini sungguh membuatku takut.." Taehyung terengah menahan sesak yang menghujam hati terdalamnya. Jiwon terisak pilu dan mengusap air mata anak bungsunya ini penuh kehati-hatian.
"Apa yang anakku ini takut 'kan, hmm?"
"Aku sungguh takut, Bu.. aku takut tidak bisa pergi kalau jadinya cinta kalian padaku sebegitu besar.."
"Kenapa harus pergi? Kau akan tetap bersama kami di sini selamanya. Kita tertawa bersama, pergi main sama-sama dan akan selalu seperti itu sampai anakku sukses, menikah, punya cucu-cucu yang cantik dan tampan dan maut memisahkan kita! Kau mengerti 'kan? Hmm?"
Dengan sigap Taehyung memeluk sang Ibu tercinta, cairan bening itu menetes membasahi leher dan baju Jiwon. "Jangan tinggalkan aku Ibu.. ak-aku, sungguh takut. Kumohon‒hiks.."
Ya Tuhan, betapa kejam aku membiarkan putraku menderita..
"Oh, Taehyung anakku. Kau anakku yang paling berharga nak.."
Keduanya menangis tersedu-sedu, Jiwon memeluk Taehyung erat. Rasa khawatir tak terkira menghampiri perasaan Jiwon, sekelebat rasa takut kehilangan putra bungsunya ini begitu besar, seakan-akan putranya ini akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Enggan untuk melepas pelukannya, Jiwon menciumi pelipis sang putra kembali menyalurkan betapa dirinya tidak ingin melepaskan Taehyung apapun yang terjadi, jikalau mereka harus berpisah hanya mautlah yang bisa memisahkan mereka. Dan kekhawatiran itu kembali mengganggu batinnya. Jiwon takut kehilangan putranya tercinta, Ji Taehyung.
Taehyung, maafkan Ibu..
Taehyung mengeratkan genggamannya pada pundak Jiwon. Layaknya seorang anak yang memiliki seutas benang tipis yang mengikat kuat pada batin sang ibu, Taehyung pun merasa takut entah kenapa. Otaknya tiba-tiba mengingat kembali pada kejadian perkelahian yang selalu ia hadapi. Padahal kematian selalu menghampirinya tapi sepertinya Tuhan selalu mengoloknya dengan membuatnya tetap hidup hingga sekarang ini. Sekelebat ingatan kematian kedua orang tua kandungnya tiba-tiba menghampiri ingatan Taehyung, ingatan yang sudah ia lupakan selama dua belas tahun ini kembali lagi. Tanpa aling-aling. Taehyung takut sekarang. Matanya yang masih tergenang air mata menatap kosong lantai marmer yang dingin, bak halusinasi pemuda itu seperti memutar kembali masa lalunya yang mengerikan.
Genangan darah di bawah telapak kakiku..
Kedua mata Papa dan Mama yang terpejam damai..
Itu..
Siapa sosok gelap dibalik tirai kamarnya?
Sosok itu menatapnya..
Tajam sekali..
Hening seketika mendominasi kediaman Ji. TV yang menyala dan suara ribut hujan begitu tak terasa. Bodoh kalau misalnya ketiga manusia lainnya tidak mendengar isak tangis ibu dan anak itu sekarang ini.
Gadis bersurai raven sepundak memeluk kedua kakinya menahan isak tangis dengan karpet beludru sebagai alas duduknya. Seokjin memainkan lagu The Banks Of Loch Lommand dengan sebuah harmonica di kedua tangannya. Tubuh tegap itu menghadap jendela dan doenya memandang datar air hujan yang kini membasahi tanaman dan bunga-bunga cantik kesayangan sang ibu. Dibelakang sang putri tertua Chang Wook duduk terdiam diatas sofa brocken white faforitnya menatap TV yang menyala walau tahu dirinya tidak benar-benar menonton tayangan TV tersebut. Pikirannya melayang pada kejadian dua belas tahun yang lalu.
.
.
Twelve years ago..
Kringg.. kring..
Kring.. kringg..
"Halo?"
"TIDAK TAEHYUNG! Jangan lakukan itu, Mama mohon.."
Dijauhkannya benda berkabel itu, Chang Wook mengerutkan keningnya bingung. Ini siapa coba? Telepon ini sungguh mengganggu tidurnya dengan anak-anak. Terlihat Jiwon keluar kamar menuju kulkas dan mengambil sebotol air dari sana. Mereka saling bertatapan.
"Siapa?" Tanya Jiwon. Melalui kontak matanya.
Chang Wook mendekatkan kembali telepon yang sejak tadi ia pegang. Lalu mulai mempertanyakan sosok diseberang sana, entah siapa.
"I-ini aku Jiwon.. ini aku.." Suara itu tampak lirih dan terdengar bergetar.
Chang Wook mengerutkan keningnya. Ia kenal suara ini. Dirinya menoleh kembali kearah sang istri. "Sepertinya ini telepon dari Hae Kyo."
Jiwon menghampiri Chang Wook dan menerima telepon dari sang suami.
"Ada yang aneh.." Gumam Chang Wook namun masih bisa didengar Jiwon.
"Halo―"
"Jiwonh―hiks.. To-tolong aku..!"
Jiwon terdiam lebih tepatnya terkejut.
"Hae Kyo―?"
"Orang itu. O-orang yang aku ceritakan waktu itu. Di-d-dia di sini Jiwon. Aku harus bagaimana? Hiks."
Seketika wajah Jiwon berubah pias. Hae Kyo. Sahabatnya sejak ia duduk dibangku sekolah menengah dan sekarang hal buruk sedang terjadi pada sahabatnya ini. Dirinya Menatap wajah Chang Wook yang diam membisu.
"Mama.. Papa kenapa?"
Suara anak kecil terdengar di line telepon. Jiwon mengerutkan keningnya.
"Hae Kyo, suara i-itu.. baby T-taehyung..?"
"Hiks, T-taehyung― hikss.."
Jiwon sempat merasa nafasnya tertahan.
"Taehyung, anak nakal itu bersamaku sekarang."
Jiwon menghela nafasnya lega. "Lalu, dimana suamimu? Dimana dia?"
Alih-alih menjawab, Hae Kyo menangis pilu sekali membuat Jiwon merasa hatinya ikut teremas menyakitkan.
"D-dia.. . Jiwon, hiks.. Bagaimana ini? Suamiku, tubuhnya tidak bergerak lagi―hm!"
Jiwon membatu. Diseberang sana Hae Kyo masih terisak memilukan. Menimbulkan perasangka Jiwon menjadi buruk.
"Sssstt.. Kyo hentikan. Suaramu akan membuat pembunuh itu menyadari keberadaanmu." Kata Jiwon memperingati.
Chang Wook yang mengerti keadaan buruk tengah terjadi pada sahabat istrinya ―itu yang Chang Wook tangkap dari obrolan line telpon ini― dirinya langsung pergi ke kamar dan menelpon kantor polisi setempat. Dirinya juga menghubungi rekan kerjanya yang punya jam malam di kantor kepolisian pusat di Daegu.
"P-pembunuh?"
"Kyo, dengar. Kau tetaplah disana bersama Taehyung. Dimanapun kau pergi bawa Taehyung bersamamu dan carilah tempat yang aman disana. Tidak! Tunggu. Kau harus tetap bersembunyi disana. Jangan kemana-mana! Aku dan Chang Wook akan lapor polisi dan langsung menjemputmu juga Taehyung. Lalu―"
"Ssstt!"
"T-tae?"
"Ada apa, nak?"
"Itu Maa.. "
Hening..
"Hae Kyo? Kau mendengarku?"
"Itu.. Mama itu siapa?"
Jiwon terdiam, mencoba merekam ulang pertanyaan polos nan ringan yang ia tahu itu pasti Taehyung.
Hening terjadi beberapa detik kedepan. Suara nafas Hae Kyo dapat Jiwon dengar walau samar. Dan perasaan gelisah bertambah saat Jiwon mendengar langkah kaki dan geretan besi di seberang telepon. Jemarinya mengerat dan jantungnya berdetak kencang. Jiwon menahan nafas cukup lama.
"Hae―"
"J-Jiwon. Ada orang di sana."
Oh, kumohon. Jangan sampai itu terjadi..
"Itu.."
Keheningan berubah menjadi suara ribut dan jeritan Taehyung semakin memperjelas keadaan disana. Hae Kyo berteriak memanggil nama Taehyung.
Jemari Jiwon bergetarhebat. Tanpa ba-bi-bu lagi wanita bertubuh semampai itu berlari kencang, menaiki anak tangga sembari memanggil-manggil Chang Wook dan tepat di hadapannya Chang Wook baru saja keluar dari kamar tidur kedua buah hati mereka.
"Mereka tidurnya nyenyak. Sungguh melegakan."
"Bagaimana ini. Hae Kyo.. Hikss.. hikss.."
Chang Wook menghela nafasnya berat, menghampiri Jiwon yang terisak pilu dan memeluk sang istri penuh ketabahan.
"Bagaimana ini? Hiks.. Hikss.. kita terlambat..!"
Chang Wook melepas pelukannya dan mengusap air mata Jiwon.
"Mereka akan baik-baik saja. Aku sudah menghubungi kepolisian setempat dan sudah mengerahkan Taecyeon dkk ke tempat Hae Kyo." Chang Wook tersenyum lembut.
"Hae Kyo bukan wanita ceroboh. Dia pasti sedang bersembunyi. Tenanglah.."
Jiwon mengangguk. Walau agak sedikit mengganggu mendengar kalimat menenangkan itu, Jiwon tetap kembali memeluk sang suami tercinta. Mengingat Chang Wook pernah menjalin hubungan yang spesial dengan Hae Kyo sangat lama, tapi itu terjadi sebelum mereka akhirnya bertemu dan ditakdirkan untuk bersama.
Setengah jam kemudian Chang Wook dan Jiwon sampai di kediaman mewah keluarga Kim. Mansion bergaya eropa kuno itu terlihat ramai dengan mobil dan polisi dimana-mana. Chang Wook menggandeng Jiwon ke arah seorang pria jangkung yang sedang mengontrol kondisi di dalam mansion lewat walkytalky.
"Taecyeon!" Panggil Chang Wook. Pria yang dipanggil itu terkejut. Dirinya memberi salam dan melaporkan keadaan di mansion mewah tersebut kepada Chang Wook.
"Keduanya ditemukan di ruang kerja Tn. Kim. Anak berusia sekitaran 4 tahun ditemukan dipojok ruang kerja Tn. Kim, meringkuk dengan luka gores di pahanya. Dan seorang wanita berusia 35 tahun terluka cukup parah di bagian punggung dan lengannya. Diperkirakan itu terjadi untuk melindungi si anak ini. Dan sejauh ini, keduanya aman dan selamat. Mereka akan segara dibawa keluar."
Jiwon kembali meneteskan air matanya namun tidak kentara dimata suami dan orang-orang sekitarnya. Wanita cantik itu terlalu kalut. Tak bicara sedikitpun selama ditempat kejadian hanya air mata yang menggambarkan perasaannya sekarang ini.
"Bagaimana dengan pelakunya?" Tanya Chang Wook. Jiwon mendelik mendengar pertanyaan barusan.
Taecyeon menggeleng, "Dia berhasil kabur. Dan belum ada bukti yang bisa ditemukan. Kalaupun ada, itu belum akurat. Tapi.. Aku akan berusaha Pak!" Jawab Taecyeon.
Chang Wook mendecih sebal, "Yang benar saja! Ck." Gumam Chang Wook kesal. Tecyeon yang dengar menggaruk belakang kepalanya.
Chang Wook menepuk lengan temannya. "Terima kasih atas kerja kerasmu."
"Mulai besok pagi, tim penyelidikan akan mencari semua bukti yang ada di mansion ini. Ini tindak pembunuhan berencana kurasa.."Ungkap Taecyeon. "Mengenai kematian Tuan Kim Jung Ki…"
Jiwon menjauh dari pembicaraan Chang Wook dan Taecyeon. Lisannya basah dengan doa-doa yang terus-menerus wanita cantik ini lontarkan. Onyxnya memandang mansion mewah itu penuh harapan tinggi tak terkira. Hanya Tuhan yang ia punya sekarang ini.
Jadi tolong.. Selamatkan sahabatku..
Tak lama delapan pria berseragam polisi keluar dari dalam mansion. Seorang pria tegap menggendong tubuh ringkih seorang wanita yang Jiwon tahu betul siapa sosok lemah digendongan polisi tersebut. Polisi itu mendudukan wanita itu perlahan di atas hamparan rumput.
"Hae Kyo!"
Chang Wook menoleh cepat saat mendengar nama itu. Langkah kakinya yang jenjang melangkah gusar mencoba mendekat ke arah dimana istri tercintanya kini bersimpuh memeluk Hae Kyo. Namun langkahnya perlahan melambat, hazelnya memandang Hae Kyo ngeri. Piayama putihnya berubah jadi merah pekat terutama dibagian perut dan lengan sebelah kanannya. Hae Kyo adalah wanita anggun dan imut di mata Chang Wook baik dulu ataupun sekarang dirinya tidak pernah merubah cara pandangnya terhadap Hae Kyo,dan akan selalu seperti itu. Dan sekarang, wanita ceria itu sudah seperti mayat hidup, dengan bibir pias dan pakaiannya yang begitu berantakan juga hazelnya yang tidak fokus.
Suara jeritan kesakitan menyadarkan Hae Kyo. Wanita itu mencari-cari keberadaan suara tersebut. Itu suara anak terkasihnya, Kim Taehyung.
"Taehyung! Dimana anakku? Taehyung?!"
"Huaaaa.. Mamaaaa..!"
Jiwon mengambil alih gendongan Taehyung dari seorang polisi yang baru saja keluar dari bangunan mewah itu. Membawanya pada Hae Kyo yang sudah terisak pilu. Jiwon menahan tangis juga pedih di hatinya melihat moment ibu dan anak menyedihkan didepannya ini. Dengan tubuh yang lemah Hae Kyo tetap memangku tubuh Taehyung dipangkuannya lalu wanita itu mendekap hangat anak terkasihnya penuh cinta.
"Cepat! Panggil ambulan!" Teriak Chang Wook memberi perintah.
Lima menit berlalu dan suara tangis Taehyung baru saja mereda. Dekapan hangat dan usapan sang Mama menenangkan Taehyung. Jemari mungilnya memainkan bodrilan bunga di dada mamanya. Begitu asik dan tanpa mau diganggu. Jiwon mengusap lembut surai hitam Taehyung, membuat Taehyung menoleh ke arahnya.
"Taehyung mau nuna obati lukanya?" Tanya Jiwon sambil menunjuk luka cukup parah di bagian paha kecilnya. Hae Kyo tersenyum kala mendengar sebuah sebutan menggelikan yang sahabatnya ini lontarkan. Taehyung menggeleng dengan bibir mungilnya yang melengkung ke bawah.
"Kenapa? Bukankah itu sakit?" Tanya Jiwon lagi.
Kemudian Taehyung mengangguk kecil. Jiwon mengerut bingung. "Lalu kenapa tidak mau?"
"Mau sama Mama saja." Cicit Taehyung, mengundang jemari sang mama di kepalanya. Mengelusnya lembut. Dan selalu membuatnya terhanyut dengan kenyamanan luar biasa.
"Ada apa ini? Kenapa Taetaeku jadi manja begini? Kemana sifat beraninya?" Ucap Hae Kyo mencoba menggoda Taehyung yang kini sudah menutup wajahnya dengan jemarinya yang mungil.
"Tae, coba dengarkan Mama kali ini.."Jemari lentik sang mama menarik pelan jari mungil milik putra tercintanya, lantas membuat Taehyung mendongak menatap sang mama dengan senyum jahil diwajahnya yang tembam. Dan Hae Kyo akan merindukan ekspresi jahil nan lucu milik putranya ini. Karena yang ia rasakan kini adalah hanya sebuah halusinasi indah yang Tuhan beri untuknya. Kesempatan terakhirnya untuk menyampaikan rasa kasihnya pada putranya yang terkasih.
"Kau tahu 'kan betapa Mama sangaat mencintaimu?"
Taehyung mengangguk, "Mama mencintaiku karena aku lucu dan anaknya papa!" Serunya semangat.
Kembali tetesan bening itu jatuh dipipi putih Hae Kyo. "Oleh karena itu, Taetae harus jadi anak yang baik dan tidak boleh jahil pada siapapun. Harus mandiri dan tidak boleh mengompol—"
Taehyung memerhatikan setiap kalimat dari bibir tipis sang Mama dengan segala atensi yang dimilikinya tanpa protes, tanpa menyanggah apapun. Hazelnya yang bulat setia pada interaksinya dengan sang Mama tercinta, otaknya mencerna semua kalimat cinta dan amanat itu dengan sederhana dan polos.
Jiwon memaku pandangannya pada ibu dan anak di depannya, matanya sudah sembab sebab sejak tadi lelehan bening itu terus menerus mengalir tanpa bisa ditahan. Hatinya sakit! Teramat sakit hingga rasanya ia ingin menjeritkan tangisannya. Jiwon memandang sendu sahabatnya yang kini tersenyum penuh makna padanya.
"Jangan tangisi aku, Jiwon."Ujar Hae Kyo.
"Hm? Siapa yang menangis?" Jiwon melap air matanya, masa bodo dengan hati sok kuatnya.
Hae Kyo kembali mengusap kepala Taehyung. "Jelas sekali kau menangis. Aku bahkan tidak bisa bedakan antara air mata dan ingus.." Masih dengan senyum cantiknya, Hae Kyo menggenggam jemari sahabatnya. "Kau melihatku sedih, Jiwon. Jangan, jangan pandang aku begitu. Jangan kasihani aku."
Jiwon menggigit bibirnya, menahan tangis.
"Mana bisa begitu!? Kau kira aku apa? Batu?! Yang harus kau sadari, air mataku ini langka dan hanya akan keluar bila orang yang kusayangi juga bersedih!"
"Jangan salah artikan itu dengan kasihan.."
"Terima kasih.. terima kasih sudah menyayangiku Jiwon eonni—Hikss.. dan aku rasa kau bisa menjaga Taehyung untukku.."
Hati Jiwon mencelos..
"Hiks, mamaa~ ini apa?" Taehyung kembali menangis kala mata bulatnya melihat darah membasahi celananya yang berasal dari perut sang mama.
"Kenapa nak?" Tanya Hae Kyo, dengan hati-hati wanita cantik itu menegakkan badannya mencoba melihat wajah manis nan tampan anak tunggalnya itu. Namun, yang didapat hanya rasa sakit yang teramat pedih dibagian tubuhnya dan darah mulai memenuhi Hae Kyo semakin banyak.
"Ambulan! Mana ambulan!?" Teriak Jiwon panik. Kemudian Chang Wook menghampiri Jiwon dan memeluknya. Suara ambulan samar-samar terdengar dari jauh.
'Sepertinya pelaku menusuk korban dengan tombak berukuran 1,5 meter.'
Dahi Chang Wook mengerut, 'Jadi—maksudmu.. dia?'
'Tombak itu menembusnya. Maaf..'
Chang Wook rasa kepalanya pening dan sesuatu yang jauh di dalam hatinya terasa sangat sakit.
'Sebuah keajaiban Hae Kyo masih bisa bertahan dan menyampaikan cinta terakhirnya pada Taehyung.'
Kalimat itu masih saja terngiang di kepalanya. Jangankan kalimat itu, semua kejadian dua belas tahun yang lalu masihlah melekat di kepala seorang Ji Chang Wook. Diam-diam pria 49 tahun ini masih menyelidiki kasus itu. Butuh setahun dirinya memohon pada Tuan Hong untuk bisa menyelidikinya kembali. Karena kasus itu telah ditutup sejak mereka merasa buntu dengan semuanya. Tak ada petunjuk sama sekali, hanya ada satu bukti yang kepolisian miliki, yaitu seorang saksi.
.
.
Kim Taehyung~
Ik heb eindelijk je gevonden…
Hazel itu terbuka, menatap atap kamarnya yang menyala-nyala dan dipenuhi dengan stiker glow in the dark berbentuk bintang dan benda-benda langit lainnya. Tubuh kurusnya yang hanya berbalutkan kaos putih lengan pendek itu bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di head bed. Pemuda itu menyapu seluruh isi kamarnya dengan teliti. Tak banyak yang ia pikirkan hanya saja ia merasa ada seseorang yang memasuki kamar tidurnya. Ia mendengar suara asing barusan.
Ketika kaki jenjangnya hampir menyentuh lantai, pemuda bersurai red chili itu dikejutkan dengan suara dering sebuah ponsel. Dirinya mendengus sebal, lalu dibawanya ponsel itu dan memastikan siapa yang menelponnya tengah malam hampir ke subuh begini. Ini masih pukul 01.37 kalau kalian mau tau.
010-256-xxx-xxx
Taehyung mendesah malas, "Halo, luwak white coffee? Coffee nikmat nyaman di lambung?"
Krik..
Hening..
"Hikss, hikss.. bagaimana ini? Aku salah sambung..hikss" Ujar seseorang diseberang sana.
Taehyung mengerutkan keningnya bingung. Ini nomor ponselnya siapa sih? Mengganggu malam tenangnya saja. Ck.
"H-halo? I-Ini dengan Kim Taehyung?"
"Err, ini Geong Min. Adiknya Kim Namjoon."Lanjutnya.
Ah, ternyata yang menelponnya adalah adik sahabatnya.
"Ini Kim Geong Min adik menyebalkannya Kim Namjoon itu ya?"
"Eh"
Gadis diseberang line telepon itu mengiyakan pertanyaan Taehyung, setelahnya gadis bernama Geong Min itu menangis sembari terus mengatakan 'aku harus bagaimana' pada Taehyung yang pada dasarnya pemuda tampan itu tidak tahu menahu apa yang terjadi . Itu yang Taehyung terka sekarang.
"Dimana Namjoon?" Tanya Taehyung tanpa basa-basi. Rasa kantuk yang beberapa menit lalu masih dirasakannya hilang dalam sekejap.
"A-aku tidak tahu. Dia bilang aku harus tetap menunggunya di tempat pemberhentian bus dekat starbuck. Aku sudah menunggunya lima setengah jam! Tapi lelaki bodoh itu tidak juga datang." Geong Min menangis sejadi-jadinya. Membuat Taehyung pucat seketika.
Taehyung rasa ada yang tidak beres.
'Aku takkan membuang sahabatku sendiri, Tae. Walau jalan yang kau tempuh itu sulit dan penuh duri. Aku takkan pernah membuangmu. Kalau perlu, seret aku meski neraka adalah pilihanmu.''
Pesan..
Pesan yang dibaca Namjoon waktu itu..
Shit!
"Ada lima siswa yang menyanderaku, Taehyung Oppa. Dia pasti melakukan hal buruk pada Namjoon Oppa—" Geong Min terisak pilu. "Tolong Oppaku.. Hikss"
"Kumohon…"
"Dimana kau sekarang?"
Setelah Geong Min memberi tahu keberadaannya. Tanpa menunggu lagi Taehyung pergi menyusul adik sahabatnya itu.
Kau gila Kim brengsek Namjoon!
.
.
Suara hingar bingar memenuhi bangunan mewah bernuansa classic itu, minuman beralkohol dengan bermacam warna tersedia bebas di dalam setiap penjuru ruangan, setengah dari jumlah tamu undangannya terlihat sangat menikmati pesta tersebut. Minum, berciuman, sex sudah tidak asing lagi untuk setiap pesta alcohol macam ini.
Terlihat pemuda bertubuh jangkung tengah memandang kemeriahan pesta dari lantai atas. Wajah sosok itu bak seorang pangeran, banyak gadis-gadis yang membicarakannya, tentunya pembicaraannya tak akan jauh seputar gosip yang selalu mendera reputasi sosok tampan itu. Wajahnya yang rupawan, penerus perusahaan ternama, berbakat, juga memiliki otak yang jenius. Jeon Jungkook adalah nama yang diberi sang Kakek tercinta saat dia lahir ke dunia. Dan pemuda jangkung nan tampan itu adalah pemilik pesta ini, tidak seperti sosok yang kutu buku atau kita biasa menyebutnya cupu, namun pemuda yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas ini tetap saja seorang chaebol yang suka hura-hura dengan teman-teman free sexnya.
Jemarinya yang ramping mengambil segelas cocktail yang ditawarkan maidnya. Meminumnya dengan gayanya bak seorang penguasa sebuah negeri dongeng. Angkuh yang sialnya begitu menawan. Selalu begitu. Mulai dari tatapannya yang merendah, cara bicaranya yang halus namun menyayat hati, juga postur tubuhnya sangat proporsional, saat berjalan maupun berdiri tegak sangatlah berwibawa. Warisan keluarga Jeon memang sangat menakutkan, namun didamba setiap kaum hawa.
Onyxnya yang tajam menatap sahabatnya yang tengah mendekat, setelah sebelumnya sosok bertubuh lebih pendek darinya itu memanggil namanya.
"Ayo.. acara intinya akan segera dimulai." Ajak sosok bertubuh pendek itu, dan jangan lupakan senyumnya yang tak kalah menawannya dengan seorang Jeon Jungkook.
Jeon Jungkook mengerutkan keningnya, "Acara inti? Apa itu?"
"Kau akan tau nanti.."
"Beri tahu aku sekarang atau aku tidak ikut gabung."
"Hubungan sexnya Sehun. Live!" Seru pemuda bersurai silver itu antusias.
Alisnya yang tebal bak ukiran dewa itu setengah terangkat – penasaran, "Kali ini siapa yang jadi korbannya?"
Pemuda yang lebih pendek darinya itu sedikitnya menutup mulutnya menahan tawa, "Well, you know 'bout him better than me, perhaps.."
Jungkook mendecih, "Jangan bertele-tele!"
Mungkin keras kepala adalah nama asli daei si jeon Jungkook ini. Ck. Bedebah dengan semua kekepoannya.
"Kim Jongin." Jawab pemuda bersurai silver itu, dan baru saja kedua sahabat beda tinggi badan ini memamerkan seringai super seksi mereka.
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Aku rasa kau tau bahwa pemuda itu bukanlah makhluk dari bumi ini.."
"Dia terlalu picik.." Celetuk sahabat pendeknya itu membuat keduanya terkekeh.
"Kau melucu, Park jimin.." Ucap Jungkook sembari menggiring sahabatnya itu menuju ruang kumpul seluruh teman-temannya.
By the way, pemuda pemilik senyum bak malaikat itu bernama Park Jimin. Seluruhtemannya selalu menyebut Jimin dengan sebutan 'Malaikat dari Neraka'. Entah keburukan macam apa yang pemuda berwajah polos itu miliki..
.
Jungkook menatap kosong pada apa yang sedang layar berukuran 3x4 meter itu tayangkan. Desahan demi desahan menjadi backsound di ruangan berukuran sangat luas itu. Keributan yang terjadi dalam ruangan itu menambah kadar emosi seorang Jeon Jungkook hingga ke ubun-ubun. Tayangan ini bukan live juga bukan sorakan menggelikan atau tepukan heboh yang terjadi di sana, namun teriakan 'bubar' dari Jimin dan beberapa kawan Jungkook yang terdengar sekarang ini.
Jimin menatap sahabatnyanya prihatin. Pemuda itu kembali memfokuskan atensinya pada seberkas cahaya dari infocus yangakhirnya menampilkan dua makhluk bergender sama tengah melakukan hubungan badan di dalam sebuah ruangan – yang mungkin menurut Jimin adalah hotel. Dan sosok pemuda yang diperlakukan sebagai wanita – yang dimasuki – adalah salah satu sahabat mereka, Lee Minhyuk. Jimin memijit keningnya frustasi, pantas saja Minhyuk ijin tidak ikut pesta hari ini karena tidak enak badan. Alasan klise bagi anak penyuka pesta macam Minhyuk.
Semua tamu pesta sudah tak bersisa lagi, hanya tiga orang pemuda saja yang sekarang ini tengah menenangkan Jungkook yang kini sudah meluapkan amarahnya dengan membanting semua barang yang ada di sekitarnya.
"Jungkook! Tenanglah.."
"KIM TAEHYUNG! HAISSHH!"
Ketiga pemuda itu terdiam kaku. Nama yang Jeon Jungkook sebutkan cukup menarik perhatian mereka. Tidak bisa disebut musuh bebuyutan karena mereka baru berurusan dengan si Singa Merah itu satu tahun terakhir, jadi mereka menyebut si Kim Taehyung itu dengan rival terberat Jeon Jungkook – yang berarti musuh mereka juga.
"Kau mau kemana? Jungkook?!"
Tak ada sahutan dari si pemuda bersurai raven, menoleh pun tidak. Hanya langkahnya yang semakin lebar tanpa mau ditahan. Keempat pemuda itu hanya menatap khawatir sahabatnya yang semakin hilang dibalik tembok.
.
.
"Kyaaaa..! Oppaaa!" Jerit Geong Min panik tak terkira. Gadis itu sedikitnya berlari menghampiri kakaknya saat matanya bersiborok dengan tubuh kakaknya yang terduduk kaku disamping pintu masuk. Matanya yang masih berkedip sesekali tanda bahwa sang kakak masihlah dalam keadaan sadar walau hanya sedikit.
"Oh tidak! Y-ya Tuhaan..!" Geong Min menangis dibarengi jeritan pilunya yang membuat Taehyung diam tak berkutik.
Apa-apaan ini..
Namjoon…
Taehyung merasa kakinya melemas bak jelly. Otaknya tak mampu bekerja beberapa saat. Jantungnya berdetak cepat dan nyeri luar biasa. Matanya memanas siap mengeluarkan liquid beningnya.
Tak dapat menahan sakit di hatinya Taehyung akhirnya ambruk, pemuda itu meremas dada bagian kirinya merana. Keringat dan air mata bercampur jadi satu. Bibir bagian bawahnya berdarah sebab pemuda itu menggigitnya keras-keras menahan nyeri di hatinya.
Dengan jemarinya yang lemas Taehyung sesegera mungkin menghubungi nomor darurat kamudian menelpon Sang Ayah. Sempat ponsel touchscreen itu terjatuh beberapa kali saking tak kuat menahan gemetar jari-jemarinya. Chang Wook tentu mengamuk luar biasa saat ia menelponnya barusan. Walau begitu polisi dengan segera sampai di lokasi mereka berada. Tim medis dengan segera membawa Namjoon dan Geong Min ke Hwawon Hospital dengan ambulan.
Taehyung memandang mobil ambulan itu menjauh. Kenapa semua ini harus terjadi?! Ini bukan salah sahabatnya! Awal mula semua ini pasti karenanya! Dirinya memiliki banyak musuh akibat keangkuhan dan keegoisannya! Namjoon tahu apa!? Dia hanya manusia dengan Iq diatas 130. Siswa SMA berprestasi yang mencoba jadi pahlawan untuk sahabat tak bergunanya Kim Taehyung! Namjoon bodoh! Namjoon brengsek! Namjoon.. Kau.. Kau menyakiti perasaanku..
.
Pria berpakaian serba hitam itu menyeringai. Menonton kejadian melow didepannya dengan seksama. Mata setajam elangnya tak lepas dari tokoh utama dari kejadian itu.
Akhirnya aku menemukanmu setelah 200 tahun lamanya, Kim Taehyung..
Pria asing itu pergi meninggalkan tempat berpijaknya dan memasuki mobil audi R8 hitamnya dengan angkuh.
Je bent van mij, Taehyung~
Taehyung menoleh cepat kala suara asing itu kembali didengarnya. Hazelnya menyapu seluruh jalanan, bukit-bukit dan gubuk diujung jalan. Tapi nihil, tak ada seorangpun yang dapat ia curigai. Jemarinya tiba-tiba gemetar, rasa takut sedikitnya menyelinap dalam perasaan Taehyung yang sedang kalut. Namun pemuda itu tidak menghiraukan sepercik ketakutannya kali ini. Dan mungkin tidak untuk yang kedua kalinya.
.
.
.
.
.
See ya next chapter ››
Author's note:
Terima kasih sebelumnya karena udah read/fav/folow/review ff abal-abalnya aku yang masih newbie ini. Terharu sama review kalian yang pada penasaran dan suka sama ffnya. Terima kasih semuaa.. dan aku cinta kalian readers-nim ^^
Sebagai tanda terima kasih aku mau bales review kalian^^:
- hyejoon, Horee.. makasih yaa udah mau baca hyejoon, aku harap kamu puas sama kelanjutannya. Sampai ketemu di chapie depan!
- byunMphii, Makasih udah mau nungguin hikss *baper jadinyaa.. Udah dilanjut nih chingu.. semoga chingu suka!
- kookvv, Udah dilanjut nih! Semoga suka yaa
- exohye, WHOAA~ santai santai emaakk! yampuun kalo emak sruduk itu pria misterius nanti dia gakan main lagi di ff ini karena patah tulang, wkwkwk xD, makasih karena responnya suka sama prologuenya. Aku harap kamu juga suka sama chapie ini, eheheh.. *ngarep*Mungkin kamu pernah baca ini sebelumnya yang settingnya di Indo. Tapi tenang aja, ini settingnya di Korea kok.. JK reinkarnasi? Hmm.. sampai ketemu di chapie depan yooo.. wks.
- Sixxell, Ahahahahah... Aku ngikik baca review dirimu nak, kalo kamu jadi nenek bule itu, jangan hantuin aku yaa nanti aku kasih ketek Bang PD-nim kalo berani, wkwk.. BTW, aku ngga suka kalo neng taetae dinistain. Aku aja mencak-mencak sama otak dan jariku sendiri *Geleng-geleng. Karena semua yang kamu tanyain adalah resep rahasia semua kekepoan para readers, jadi aku akan jawab seiring berjalannya cerita wkwk.. sampai ketemu chapie depaan^^
- MelvyE, Kalo penasaran berarti dirimu membaca dengan baik wkwkwk.. Udah aku lanjutin nih, semoga kamu suka chinguu! Sampai ketemu chapie depaan, sarangee
- egatoti, Eheheheh, kamu emang yang terbaik kawan. Emang ff prologue ini pernah dipublish dengan judul yang berbeda, authornya pun berbeda. Hanya saja sepupuku yang agak miring alisnya itu memberi mandat *lebay* padaku karena dia lelah dengan hidupnya yang belom laku-laku dan malah milih jadi readers ff ini aja. Kan sinting ya itu anak? wkwkwk.. *ini bukan curcol, tapi ini adalah uraian penjelasan terjadinya ff ini dipublis ulang wkwkwk.. Oke, makasih udah pernah baca prologue ini sebelumnyaa. See you next chapie :D
- Clarissa Kim, Duh, terharu jadinya. Makasih ya Clarissa-sshi, semoga kamu suka sama chapie ini..
- Clarissa Kim, Duh, terharu jadinya. Makasih ya Clarissa-sshi, semoga kamu suka sama chapie ini.. xD
- kim ria, Makasih udah penasaran sama ff abal-abal ini ria kim, wkwk. Nunggu selama 4 hari gak kelamaan kan? semoga kamu suka sama kelanjutannyaa..
- vanillatae, Aku udah lanjut nih chinguu.. Aku tunggu respon kamu yaa, kamu readers yang pertama kali kasih review. Sampai ketemu chapie depaan. Harus review paling pertama lagi ah wkwk..^^
.
Sekian, terima kasih chingu-deul..
