Present

ANOMALI

.

Cast:

.Taehyung and Jungkook.

And

.Other cast.

.

Genre: romance, fantasy, humor, triler, family

Warning:

Typo, tidak sesuai EYD (kadang formal-kadang banmal), romennya membuat anda kejang-kejang,mual dan naik pitam. Bila sakit kepala, konsumsi obat-obatan di sekitar anda. Terimakasih..

.

.

*Happy Reading*

.

.

Hello.02.

.

12.15 pm. [57-d before accident.]

Taehyung mengetuk jari lentiknya sesekali, seringnya pemuda itu melihat jam bulat di belakang pria paruh baya yang sedang menjelaskan rumus-rumus kimia yang jujur saja tidak begitu Taehyung minati.

Tidak diminati tidak sama dengan tidak dipahami Taehyung,Okey?

Ia punya otak yang cukup encer ngomong-ngomong. Hanya saja, dirinya tidak bisa fokus dengan semua―catat! Semua― mata pelajaran selama tiga hari ini. Tidak dengan sebelah bangkunya yang kosong. Tidak juga dengan motor Kawasaki Ninja 300 milik sahabatnya yang kini benar-benar ada di rumahnya. Menginap. Dan entah untuk beberapa hari ke depan ia tidak tau– entah beberapa minggu, entah beberapa bulan, asal jangan sampai bertahun-tahun saja. Jika sampai itu terjadi,artinya motor itu harus jadi miliknya. Atau tidak, saat Namjoon sadar nanti pemuda jangkung itu harus membayar semua tagihan atas perawatan motor gede itu.

Hahh.. berpikir tentang motor super keren itu. Taehyung jadi mengingat kegalauannya beberapa hari ini.

Sahabatnya, Kim Namjoon…

Bagaimana kabarnya hari ini?

Sudah siumankah ia?

Setidaknya, keadaannya yang tidak kritis lagi bisa membuatnya bernafas lega..

Tapi nyatanya, itu tidak terjadi. Ini hari ketiga Taehyung menggalau. Hari ketiga bagi Kim Namjoon koma di rumah sakit. Dokter Park bilang, koma terjadi bila ada trauma pada kepala pasien. Ada kemungkinan pasien terbentur sangat keras saat terjatuh dan kepalanya tepat mengenai lantai. Sempat di hari ke dua Namjoon dirawat, ia mengalami kritis yang membuat seluruh keluarga sahabatnya itu panik luar biasa. Termasuk Taehyung sendiri. Pemuda itu sudah kalang kabut, untungnya Geong Min cukup tegar dan berhasil menenangkan dirinya.

'Kekhawatiran tidak akan mengubah apapun. Maka berdo'alah agar Namjoon oppa siuman dan baik-baik saja..' Kalimat singkat itu cukup menampar Taehyung, lantas untuk pertama kalinya Taehyung merasa kecil dan malu dihadapkan dengan ketegaran adik sahabatnya.

.

TENGG... TENGG...

TENGG...

"Hmm, baiklah. Cukup sampai di sini pelajaran kita. Jangan lupa, minggu depan aku akan memeriksa buku tulis kalian semua. Jangan sampai tidak ada catatan lagi. Terutama kau, Park Chanyeol!" Mendengar itu Chanyeol mengangguk sembari unjuk gigi.

Taehyung melenguh saat otot-otot lengannya ia renggangkan. Tak lama, tiga orang siswa menghampirinya. Tenang saja, mereka bukan musuh yang akan melabrak si tampan Taehyung. Mereka cukup – sangat – dekat omong-omong..

"Yak, Taehyung! Aku dengar Namjoon masuk rumah sakit dan koma? Apa itu benar?" Itu Byun Baekhyun yang bertanya, pelajar bereyeliner tebal di sekeliling matanya. Jangan lupa kehebohannya saat bertanya membuat seisi kelas langsung menoleh penasaran.

"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Son Hyunwoo santai. Nah, siswa ini memang paling keluar aura menenangkannya membuat Taehyung rela berbagi informasi pada siswa beken yang satu ini.

"Dia koma. Dan sempat kritis kemarin."

Semuanya hening dan mulai berpikir untuk simpati atau tidak. Lagipula hanya itu yang Taehyung jawab, ia malas kalau mereka yang hanya sekedar penasaran saja.

"Bagaimana ya?"

Taehyung menoleh pada sosok paling menonjol tinggi badannya. Park Chanyeol.

"Bagaimana apanya?" Tanya Taehyung.

"Tentu saja kita harus menjenguknya! Kau pikir apa Tae?"

"Aku akan menggalang dana ke setiap kelas kalau begitu, iya 'kan Hyunwoo-nie?" Seru Baekhyun semangat. Alisnya naik turun menatap teman sekelasnya. Hyunwoo memutar bola matanya.

Taehyung membereskan peralatan belajarnya.

"Mau kemana? Ini masih jam sekolah Ji Tae?" Tanya Wonwoo sembari mengeluarkan bekal makan siangnya. Membuat Chanyeol dan Baekhyun heboh.

"Aku izin keluar."

"Hah? Sudah izin Guru BK Tae?" Tanya Jisoo, orang memanggilnya si Wonder woman. Itu karena hanya Kim Jisoo lah wanita satu-satunya di SMA khusus laki-laki ini.

Taehyung menghampiri Jisoo yang kembali menulis di mejanya yang paling depan.

"Aku izin padamu langsung ya Soo. Aku malas bertemu Pak Siwon."

Terlebih wonder woman ini adalah seorang Ketua Murid di kelas Taehyung.

Jisoo menggaruk kepalanya yang gatal. "Starbuck ya. Hmm?"

"Oke."

"Yasudah. Pergi sana."

Yeah, Ketua kelas yang sama berandalnya dengan siswa-siswa lain. Terima sogokan kalau itu starbuck. Ck.

"Eh, Tae!" Panggil Chanyeol, mulutnya yang masih dipenuh nasi membuat Baekhyun mual.

Pemuda bersurai red chili itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Chanyeol.

Chanyeol menelan makanan di mulutnya. "Itu, si Jeon Jungkook. Dia mencarimu bung."

Hah?

Anak kelas X-A itu?

Taehyung meniup poninya, ada rasa jengkel di sana. Tanpa menoleh lagi pemuda bertubuh ramping itu melanjutkan perjalannya. Well, sebelum menemui Namjoon, bermain-main dulu boleh lah..

"Gudang di taman belakang katanya!" Seru Chanyeol dan dibalas Taehyung dengan isyarat 'oke' menggunakan jarinya.

.

Emmhhh.. Ughh, yeahh..

Ugghhh.. hhhssh~

Wanita itu mendesah sejadi-jadinya, membuat lelaki yang lebih muda darinya itu semakin liar meremas dua buah dada gempal milik wanita itu. Seringai si lelaki muda makin kentara akan terlenanya ia oleh hawa nafsu di dalam dirinya. Lengannya yang bebas merambat ke bawah dan memasuki bagian dalam rok ketat wanita itu dan menarik sedikit celana dalamnya. Selanjutnya bisa kalian pikirkan sendiri apa yang terjadi setelahnya.

Prangg..

Pemuda bersurai red chili itu tanpa sengaja menjatuhkan botol kaca yang dibawanya, membuat isinya tumpah dan botol itu hancur, berserakan dimana-mana. Tentu saja kejadian itu membuat dua makhluk mesum di depannya terkejut bukan main dan menghentikan kegiatan mereka seketika.

"Menjijikan! Makhluk tak beradab! Binatang ternak!" Seru pemuda bersurai red chili itu marah.

Setelah melihat siapa yang mengganggu kesenangannya, pemuda itu – yang ternyata seorang pelajar – tak menghiraukannya malah melanjutkan kembali having sex mereka. Walau awalnya wanita itu sempat menolak tapi ujung-ujungnya melayani juga.

Taehyung berbalik lalu berdecak sebal mengingat pemandangan mesum di belakangnya. Menjijikan. Sebejat apapun dirinya, ia tidak pernah mempermainkan hati perempuan manapun. Menyentuh saja tak sudi, apalagi berhubungan badan macam begitu. Bukannya ia tidak normal, hanya saja ia merasa belum tertarik pada sebuah hubungan yang menyangkut perasaan.

Beberapa detik berlalu tapi rasanya sudah seperti berjam-jam. Dikepalnya jemarinya sampai memutih. Suara aneh-aneh itu kembali terdengar, Taehyung menggigit bibirnya menahan jengkel. Ingin rasanya ia pergi tapi ia punya janji di tempat sepi ini. Bukan. Bukan berarti ia menikmati suara desahan mereka, penasaran pun tidak! Ia hanya menunggu kedatangan si sialan Jeon dangan sabar. Ada yang ingin si Jeon kepala besar itu katakan padanya dan Taehyung rasa ia tahu alasan kenapa si Jeon itu ingin menemuinya sekarang.

Tapi, apa ia harus tetap menunggu si keparat itu di tempat ini, terlebih ada dua makhluk yang sedang ngesex

Eungghh.. ukhhh...

—haissh, sebaiknya ia pergi dari sini. Sekarang! Sebelum dirinya naik pitam.

Kaki ramping itu sudah berjalan enam langkah hingga sosok jangkung dan bersurai raven itu menghadangnya –karena berselisih jalan. Keduanya terdiam sesaat. Taehyung mendengus, ini nih bocah yang ditunggu-tunggunya dari tadi.

"Oh, selamat siang Jeon Jungkook sialan.."

"Ji Taehyung bajingan!"

Tak ada salam tanda hormat dari si junior, Jeon Jungkook begitu saja mendorong kasar bahu pemuda bernama Ji Taehyung itu membuat pemuda bersurai red chili itu berdecak malas.

"Bangsat kau!"Seru Jungkook marah.

"Apa?!"

Akhh.. ugghh, yeahh~

Keduanya membatu. Lebih tepatnya mereka mempause kegiatan siap tempur mereka untuk sesaat. Taehyung melotot ke arah Jungkook. Jungkook hanya bersmirk ria melihat ekspresi terkejut Taehyung.

"Suka ya melihat adegan sex itu?"

Wajah Taehyung memerah. Merah parah sampai telinga. Bukan karena ia tersipu malu atau apa, harga dirinya merasa diinjak-injak oleh hoobae menyebalkan di depannya ini.

"Kau sengaja?"

Tentu saja itu ketidaksengajaan!

Namun kekehan keji dari Jeon Jungkook malah membuat sosok tampan ini terlihat seperti pelakunya, "Kenapa? Kau mau?" Dijulurkannya lidah berwarna merah muda itu, mencoba mengekspresikan wajah 'kenikmatan', jemari kanannya bergerak menyelipkan surai merah itu kebalik telinga Taehyung yang memerah dan panas.

"Bedebah Jeon Jungkook! Apa maumu!?" Tersulut sudah emosi Taehyung, yang pada dasarnya memang mudah meledak-ledak. Sepertinya Taehyung lupa tujuannya kemari untuk bermain-main dengan Jeon Jungkook.

Tanpa tedeng aling-aling Jungkook menarik tubuh Taehyung yang ringan dan mendorongnya ke tumpukan dus di samping mereka. Taehyung cukup terkejut dengan tindakan adik kelasnya yang tiba-tiba itu, gerakannya begitu cepat tanpa bisa Taehyung prediksi seperti biasanya. Jungkook yang masih mencengkeram kerah seragam kakak kelasnya ini agaknya terkekeh.

"Kau mengapung saat aku dorong tadi. Berapa berat badanmu, manis?"

Taehyung speechless dengan pertanyaan Jungkook, "What?!"

Apa barusan? Manis?! B-berat badannya?!Taehyung menggeram menahan marah.

Jungkook menyeringai. "Kau." Jari telunjuknya menyentuh dahi Taehyung yang tertutup poni lalu bergerak turun ke hidung, bergeser ke pipi sebelah kanan dan berakhir dibelakang telinga. Mengusap cuping itu sensual. Nafas Jungkook yang memburu sampai pada Taehyung.

Taehyung memakinya dalam hati, perasaan geramnya semakin memuncak, pasalnya Taehyung belum pernah diperlakukan seperti ini. Disentuh sembarangan dengan wajah saling berdekatan begini bukan style Taehyung dalam perkelahiannya selama sepuluh tahun. Bahkan musuhnya tidak pernah sampai menyentuhnya kalau bukan dengan alat-alat 'tempur'. Bukankah ini termasuk pelecehan?

"Kau sudah membuatku marah .Hyung!" " Ucapnya tajam, dan sangat bisa Taehyung tangkap bahwa adik kelasnya ini sangat sangat marah padanya.

Tanpa ada sedikitpun rasa takut dimatanya, Taehyung menantang onyx segelap malam itu sembari tersenyum geli. "Minhyuk?"

Jungkook menggeram marah.

"Lee Minhyuk ya? Kau pasti marah karena itu." Tanpa menunggu jawaban dari Jungkook, pemuda bersurai red chili itu malah mengangguk-anggukan kepalanya dengan wajah sok berpikir.

Jungkook menganga tidak percaya, "Apa kau bilang? Karena 'itu'?!'Itu' yang kau maksud sudah menyakiti sepupuku bajingan!" Jerit Jungkook penuh emosi tepat di depan wajah Taehyung yang menatapnya datar.

Jemari lentik itu perlahan naik dan mendarat tepat di dahi tak berponi milik Jungkook, mendorongnya layaknya pada seorang pecundang. "Makanya, jangan berani menantangku kalau mentalmu cemen begini. Aku sudah memperingatimu dan keempat lalat-lalat itu untuk menyerah. Dan kau! Bertekuk lututlah padaku, bedebah." Wajah tegas dan tatapan tajam Taehyung cukup membuat Jungkook ciut awalnya, namun mengingat apa yang dilakukan pemuda sialan di depannya ini pada sepupunya membuat amarah Jungkook kembali membara.

"Bertekuk lutut padamu? Aku?" Jungkook terkekeh sesaat, "Lalu kenapa harus Minhyuk yang jadi korbannya?"

"Kau yang membuatnya jadi seperti ini. Kalau saja kau tidak menentangku saat di upacara penyambutan siswa baru waktu itu, Lee Minhyuk tidak akan kuperlakukan seperti jalang!"

"Lagipula… Lee Minhyuk terlalu sayang untuk diabaikan kalau mau tau. Desahannya terlihat bahwa dia juga menikmatinya." Lanjut Taehyung tanpa perasaan. Seringaian itu kembali muncul membuat Taehyung berlipat-lipat lebih menyeramkan.

"KAU!"

BRAKK

Tanpa bisa ditahan Jungkook mendaratkan pukulan kerasnya pada Taehyung, namun pemuda besurai red chili berhasil menghindar dan alhasil bogeman itu mengenai tumpukan kardus yang ada di belakangnya dan membuat suara debuman diruangan itu.

"Dimana si bangsat itu?"

Taehyung mengangkat alisnya, "Bangsat yang mana?" Alih-alih menjawab, Taehyung malah berbalik tanya yang malah terkesan main-main di telinga Jungkook. Si bedebah ini!

"Aku tau bukan kau yang ada di dalam video itu Ji Taehyung. Jadi cepat katakan dimana si bangsat yang berani melakukan itu pada sepupuku sekarang!"

"Kami ada di sana saat itu. Menonton dan menikmati adegan panas antara Minhyuk dan salah satu orangku. Adegan romantis ala Lee Minhyuk di atas ranjang, duhh.. Kau bisa menyerangku sekarang, karena aku juga ikut menontonnya.." Taehyung terkikik geli melihat Jungkook yang berantakan dan memerah terpancing emosi.

Satu tonjokan kasar berhasil di dapat Taehyung tepat di tulang pipinya, kepala bagian belakangnya terkantuk pada kardus – yang entah berisi apa – yang cukup membuatnya mendesis.

Merasa belum cukup, Jungkook kembali menarik kerah seragam musuhnya dan membanting sosok kurus itu ke lantai semen yang kotor. Dengan sigap Jungkook segera menduduki bagian perut si kurus dan kembali memukuli wajah mulus Ji Taehyung.

"Aku tanya sekali lagi. Dimana. Si brengsek. Itu!"

Hening.

Jungkook menggeram frustasi kala hanya decihan meremehkan balasan dari Taehyung. "Kau ingin cari mati!" Teriaknya.

"Dari sepuluh kali tinjuan itu melayang hanya tiga saja yang kena wajah tampanku ini Jeon." Seringaian itu kembali nampak di wajah sang senior, "Mana bisa aku mati hanya karena tinjuan berantakan begini. Lagipula kau tidak bisa bicara sembarangan begitu, itu sangat menjatuhkan harga diriku omong-omong.."

Jungkook terdiam kala dirasanya belaian lembut mengenai kulit pipinya, mengantarkan sengatan aneh ke tengkuknya. "Jangan pernah merasa mampu menandingiku Jeon." Kalimat itu bagaikan perintah mutlak, begitu lembut namun tegas tanpa mau dibantah. Sekejap itu pula posisi mereka berubah. Jungkook meringis, Taehyung yang kini berada di atasnya menatap datar wajah putih bersih milik Jungkook, mengeratkan cengkeramannya pada kerah seragam sang junior. Menariknya kasar, hingga wajah keduanya kembali berdekatan.

"Jadi hanya segini amarah yang ada dibenakmu sekarang? Lalat banci!"Taehyung tetap menatapnya datar dan dingin.

Apa maksudnya si Taehyung ini?! Sudah lalat? Banci juga? Jungkook mengepalkan jemarinya kuat-kuat tidak terima atas perlakuan sunbaenya tersebut. Kepalan tangan itu semakin kuat, begitu onyxnya yang tajam menangkap hazel sang sunbae, sedikitnya Jungkook melihat rasa sedih dan frustasi yang mata setajam silet itu coba sembunyikan. Jungkook mendecih, "Kau menangis heoh?"

Taehyung terdiam. Mengerjapkan hazelnya terburu-buru. "Aku dengar salah satu anak buahmu kritis Taehyung.." Nafas Taehyung memburu. Jungkook tersenyum remeh. "Aku rasa itu hukuman untukmu yang Maha Sombong. Tunggu sampai ratusan musuhmu tau kalau si Singa Merah yang ditakuti ini sedang dihukum Dewa."

BUGH

Akhh..

"Jangan sebar dongeng tak mutu Jeon! Kau akan lebih dulu menjilat sepatuku sebelum menyebarkan omong kosong itu.."

"..Ohya, omong-omong kau main seruduk saja barusan. Beri salam pun tidak!"

Jungkook meringis, "Mana ada tata krama buat orang macam lendir siput begini—"

BUGH

"Ughh.." Cairan merah segar sedikitnya mengalir dari hidung mancung Jungkook, pemuda itu mendongakkan kepalanya tatkala pening menghadangnya.

"Dan nih! Hukuman Dewa buat anak bengal yang tak punya sopan santun sepertimu."

Ketika Taehyung hendak melayangkan kembali bogemannya di hidung Jungkook secepat itu pula teriakan marah menghentikan mereka. Taehyung mendongak. Menemukan pemuda jangkung yang tengah merapikan seragamnya yang berantakan. Hazel itu bertemu pandang dengan wanita cantik yang baru beberapa menit yang lalu melakukan hubungan illegal dengan sosok jangkung itu. Raut wajah Taehyung semakin mengeruh.

"Kalian ini mengganggu saja!—Heol, apa yang kalian lakukan?" Jeda beberapa saat. Pemuda itu menatap keduanya antara kaget dan tidak percaya, "Err.. Jungkook kau…" Sosok itu terkekeh geli. Membuat Taehyung maupun Jungkook heran.

"….kalian ini seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar."

"Aku bukan kekasihnya!/dia bukan kekasihku!" Seru keduanya bersamaan.

Mendengar itu si jangkung hanya terkekeh geli, dirangkulnya bahu sempit wanita disampingnya membuat Taehyung mendelik tajam pada wanita itu.

Lantas Taehyung bangkit dari singgasananya – dari atas perut Jungkook. Menatap keduanya nyalang. Si wanita menunduk takut. "Heh, apa yang kau lakukan barusan?" Tanya Taehyung dingin. pertanyaan sinis itu Taehyung tujukan pada si wanita.

Sosok jangkung itu mengerutkan keningnya. "Kau sudah dengar kami mendesah, menurutmu apa?" Taehyung menatap wanita tersebut datar tanpa ekspresi seperti biasa. "Jangan menatapnya begitu, sunbae. Jika kau mau, kau bisa memakainya juga. Kita.." Menunjuk dirinya, Taehyung dan Jungkook "Bergantian.." Lanjutnya.

"Kim Yugyeom!" Jungkook berseru sebal. Pemuda tampan itu bangkit, mengusap hidung mancungnya yang masih berdarah. "Aku tak sudi satu pakai dengannya.."

Taehyung mendengus. "Murahan.." Gumamnya namun masih bisa didengar ketiga makhluk lainnya. Wanita itu bergeming. Jemarinya meremas rok ketat yang dipakainya.

Jungkook menatap Taehyung yang membelakanginya yang juga sudah melangkahkan kakinya menuju pintu keluar gudang. "ARMY!"

Langkah Taehyung terhenti.

"Aku akan menakhlukannya dan membuat tubuh kurusmu bertekuk lutut dihadapanku Ji Taehyung! Jika perlu!" Taehyung membalik tubuhnya angkuh, kembali menghadap Jungkook yang menatapnya menantang. "Tubuh ini taruhannya!"Onyxnya yang tajam dan tak kenal takut itu telah membangunkan jiwa saiko seorang Ji Taehyung. Jungkook tak sadar akan itu.

"Aku ingin kau mati ditabrak truk."

Ketiga makhluk di dalam gudang itu terkejut. Ucapan yang Taehyung lontarkan membuat suasana dalam ruangan sempit itu semakin terasa menegangkan.

"Kau bilang tubuhmu akan jadi bahan taruhannya 'kan? Kalau begitu aku ingin tubuhmu terlindas truk hidup-hidup."

"Kau gila.." Gumam Yugyeom.

Jemari lebar milik Jungkook gemetar, bukan ancaman Taehyung yang membuat nyalinya ciut seketika. Tapi, tatapan sengit dan kepercayaan diri Taehyunglah yang tiba-tiba membuatnya pesimis untuk menang. Tak ada kesempatan untuk Jungkook kabur, dirinya sudah membangunkan singa yang tertidur dari dalam kandangnya. Genderang perang sudah berbunyi dan tak ada jalan untuk mundur bagi Jungkook. Keringat dingin mengalir begitu saja di pelipis Jungkook, tatapan datar nan sadis milik Tehyung menusuknya hingga rasanya seluruh tulang di tubuhnya linu semua. Jungkook mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mengusir rasa khawatir yang tiba-tiba menghantuinya.

"Kalau begitu… aku ingin kau lengser dari kedudukanmu, Ji Taehyung. Dan berlututlah dihadapanku.."

Smirk itu nampak di wajah datar Taehyung, "Lima hari. Aku kasih kesempatan untukmu mempersiapkan orang-orangmu selama lima hari—"

"—Tiga hari!" Jungkook menyela dengan keseriusan yang terpancar di matanya.

Taehyung bergumam 'oke.', "Tiga hari aku beri kesempatan. Ingat, bukan satu lawan satu. Aku ingin membuat suatu permainan yang luar biasa, seratus orang?"

"Setuju!"

Taehyung tersenyum tenang, cute. "Jam lima sore tepat. Basement mall di Seongwon. Tak ada molor waktu. Terlambat. Tubuhmu dilindas truk Jeon."

Jungkook terdiam. Kaku.

"Sampai ketemu besok lusa."

Tubuh kurus itu berlalu meninggalkan ketiga manusia yang masih tak bisa berkutik sejak kepergiannya. Hening seketika menghantui ketiga manusia dalam gudang tersebut. Sampai Yugyeom akhirnya yang memecahkan keheningan.

"Otakmu bocor atau apa?" Yugyeom bertanya dengan sangat lemah. Hampir seperti bisikan.

Jungkook menutup matanya, pening di kepalanya berhasil menyadarkan sosok tampan itu dari tindakannya barusan, "Aku hanya terbawa emosi.." Jungkook terduduk lemas. Mengusap wajahnya frustasi.

Yugyeom menatap atap gudang yang kotor, menghela matanya yang mulai berkaca-kaca. "Terbawa emosi apanya?" Gumam si pemuda jangkung lalu ia mengeluarkan smartphonenya. "Tenanglah. Aku akan menghubungi yang lain." Setelahnya pemuda bertubuh jangkung itu bergegas keluar gudang, tanpa disadarinya wanita itu masih terdiam di sana.

"Jimin akan membunuhku.." Gerutuan Yugyeom terdengar, Jungkook menghela nafasnya berat. Ya, ia masih punya ketiga teman yang pasti akan membelanya – Jimin, Yugyeom dan Zelo – juga satu sepupu yang begitu dekat dengannya– Minhyuk. Dan dirinya akan melibatkan keempat orang berharganya yang tak tahu apa-apa. Betapa gegabah ia dengan keputusannya barusan.

Taehyung sialan!

"A-aku bisa membantumu.."

Fokus Jungkook terbelah, wanita cantik yang tak lain adalah guru Sainsnya, Im Nayeon. Wanita itu berjalan mendekati Jungkook dan pemuda itu memandang gurunya penuh selidik.

"Taehyung juga manusia normal pada umumnya."

Jungkook memutar bola matanya jengah. "Jangan bertele-tele! Pergilah!"

"Sekarang ini Taehyung sedang dilanda stress berat dan kurasa aku tahu menyebabnya.."

Jungkook terdiam.

"M-mungkin, aku bisa membantumu… menghancurkannya."

.

.

Taehyung menggenggam jemari Namjoon yang hangat. Diusapnya jemari itu dengan lap yang sudah di basuh air hangat, mengusapnya lembut dan hati-hati. Tidak sadar dengan luka lebam yang baru di dapatnya dari sang hoobae– Jeon Jungkook – yang mulai menimbulkan dampaknya.

Taehyung termangu. Pemuda itu terduduk lemas dengan kepalanya yang bersandar pada sofa, meringkuk begitu kecil menghadap pada jendela berukuran cukup besar di samping sofa, angin sore yang berhembus tenang dari jendela yang terbuka menimbulkan surai red chilinya berantakan namun terkesan cute.

"Cepatlah sadar Kim Namjoon.. aku membutuhkanmu.. sungguh.."

Hatinya sungguh mendamba sang karibnya untuk cepat sadar dan merangkulnya seperti dulu. Bercanda bersama dan melakukan hal konyol seperti biasa. Taehyung kangen sekali pada Namjoon dan segala hal tentang sahabatnya itu. Perasaannya menghangat kalau mengingat momen-momennya bersama Namjoon.

Hei, Joon. Percaya atau tidak, tapi aku sunggu merindukanmu, sobat.. cepatlah sadar.. apapun.. kekonyolan dan kejeniusanmu, aku.. sungguh.. rindu..

Detik berikutnya, hazel indah itu menyembunyikan diri dibalik kelopak lembut Ji Taehyung. Ji Taehyung ya, dalam pejamannya sekarang ini Taehyung membayangkan mungkin marga itu takkan bertahan lama lagi ada pada dirinya. Kim adalah marga Taehyung yang sebenarnya. Dan Taehyung harus melepas segala hal tentang keluarga Ji yang hangat dan selalu membuat hatinya penuh akan rasa cinta. Ingin rasanya ia menghilang dari bumi ini untuk sementara. Dirinya sungguh lelah. Lemah. Rapuh. Dan menyedihkan. Sejak dulu hingga sekarang, Taehyung akan selalu menjadi Taehyung yang seperti itu. Selalu lemah. Selalu menyedihkan dan tak akan pernah berubah. Sifatnya dikenal pemberontak ataupun monster hanyalah tipuan yang dirinya buat karena hanya ingin menutupi semua kelemahannya selama ini. Dan kali ini, Taehyung tidaklah merasa baik-baik saja.

Kristal bening menganak sungai dari kelopak lembut itu. Hari ini Taehyung ingin melupakan sejenak semua masalah yang dirinya tanggung di pundaknya yang ringkih. Untuk hari ini saja. Biarkanlah..

Goedenacht, Taehyungie~

.

.

"T-taehyung.. ada apa dengan wajahmu?!" Wanita bertubuh pendek itu bertolak pinggang tanda bahwa wanita cantik jelita itu merasa sebal dengan kelakuan dongsaeng – angkatnya – itu. Taehyung yang berwajah datar sedatar talenan Ibunya ini hanya berlalu melewati nunanya begitu saja tanpa minat sama sekali. Sosok cantik itu menatap dongsaengnya sendu. Diikutinya sang dongsaeng hingga wanita itu sampai di dalam kamar dongsaengnya. Taehyung duduk di pinggir ranjang, disusul sang nuna yang berjongkok di depannya, menatap tepat pada hazelnya yang lelah. Nunanya tahu apa yang diresahkan adik tampannya akhir-akhir ini.

Digenggamnya jemari lentik Taehyung, mencoba mentransfer energi positif pada dongsaengnya. "Semua akan baik-baik saja, Tae. Namjoon adalah sosok yang kuat dan pantang menyerah, bukan?"

"Aku cemas.. sungguh, ini hampir membuatku gila.." Ucap Taehyung sangat lirih.

Junmyeon menghela nafasnya berat, "Emm, bagaimana kalau nuna buatkan makanan? Aku rasa kau belum makan sejak siang."

"Tinggalkan aku sendiri.."

"Bagaimana kalau kau tumbang? Nanti malah tidak bisa menjaga Namjoon lagi."

"Aku mau sendiri dulu nuna!"

Junmyeon tidak menyerah, "Mau pasta?"

"Ramyeon?"

"Sandwich tuna?"

"Atau jja-jjang..myeon?"

Tak ada jawaban. Pemuda itu semakin menundukkan kepalanya.

Junmyeon mendesah sebal kala tak mendapat respon baik dari si adik, membuat sosok cantik itu membawa kedua tangannya di kedua pipi tirus adiknya dan dengan terpaksa menegakkan kepala si adik menghadap padanya.

"Yak! Ji Taehyung!" Bentak Junmyeon. Taehyung terperanjat. "Dengar! Apa kau pikir Namjoon akan senang melihatmu begini?! Tidak makan, tidak belajar, tidak istirahat, sekolah bolos terus. Kau pikir Namjoon akan suka itu? Dengarkan nuna! Selama kau juga merasa baik. Semua kesulitanmu, penderitaan Namjoon akan terlewati dengan baik-baik juga. Maka dari itu.. cobalah tenang dan berpikirlah positif.. hmm?"

Taehyung menggeleng, "Kalau begitu, semua tidak akan baik-baik saja. Karena aku merasa sangat.. sangat.. buruk.." Air bening itu menggenang di pelupuk matanya. "Firasatku mengatakan semua tidak akan berjalan mulus―hiks. Dokter Park bilang hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Ukkh~ aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri bila hal buruk terjadi padanya―hiks" Lihat bagaimana rapuhnya sosok Taehyung ini. Hingga nunanya memeluk teramat erat dan tentunya warisan keluarga Ji yang luar biasa – yaitu – memiliki kehangatan yang selalu berkali-kali meluluh lantahkan egonya Taehyung. Taehyung terisak. Sang nuna memejamkan matanya menahan sesak di hatinya. Ia tidak boleh menangis, karena adiknya perlu sosok yang kuat untuk dijadikan sandarannya malam ini.

"Semua alur kehidupan akan berlalu dengan sendirinya Tae. Maka bersabarlah, semua akan baik-baik saja.."

Taehyung terus menggeleng dan berkata 'tidak baik-baik saja' atau 'tidak..' berulang-ulang. Wanita berusia 27 tahunan ini hanya memberi curahan kasihnya lewat pelukan sederhana namun membekas di hati Taehyung. Kalimat menenangkan tak luntur dari sang nuna, karena masalah sebesar apapun Taehyung tetaplah keluarganya. Adik yang paling dicintainya bersama dengan Seokjin.

"Masa preman menangis sih.."

"Junmyeon nuna menyebalkan!" Junmyeon melepas pelukannya dan mendapat protesan sang dongsaeng kecilnya. "Preman juga manusia, tauk!"

Junmyeon bangkit dari duduknya dan mengusap surai lembut sang adik kecil sembari tersenyum, "Nuna akan memasak makan malam untukmu. Jadi, segeralah mandi dan hilangkan mata sembabmu itu! Kau terlihat seperti godzila, hiiyy~" Wanita itu terkekeh geli sembari berlalu ke dapur di lantai bawah.

"Ohya Tae."

"Hmm?"

"Kalau begitu kau harus percaya pada keajaiban. Mintalah pada Dewa dengan tulus hati. Aku jamin dia pasti akan mendengarmu dan mengabulkannya." Taehyung termenung. Pemuda itu menatap kepergian nunanya dan dibaringkannya tubuh kurus itu di ranjangnya.

Taehyung mengusap seprei bermotif mobil-mobilan miliknya, huffhh.. ranjangnya saja terasa hangat. Bagaimana bisa dirinya pergi begitu saja dari keluarga Ji? Taehyung memijit alisnya. Peningnya balik lagi deh..

Keajaiban ya..

.

Ji Junmyeon, wanita berusia 27 tahun ini adalah si cikal keluarga Ji. Wajahnya seputih salju, hidungnya kecil begitu pas diwajahnya yang mungil dan tirus, juga bibir semerah darah yang semakin mempercantik rupanya. Tubuhnya yang terbilang mungil selalu menjadi bahan bully-an adik-adiknya lantaran hanya dialah yang memiliki tubuh sekecil itu. Ibu bilang, tubuhnya yang kecil mungil ini warisan berharga dari mamanya ibu – alias neneknya Junmyeon. Malah tubuhnya yang mungil ini menambah daya tarik dirinya di kalangan kaum adam. Walau tubuhnya kecil mungil bagaikan 'peri tink' lantas tidak membuatnya kecil di mata masyarakat. Dia adalah seorang designer terkenal di Korea Selatan. Walau hanya segelintir orang yang tau kehebatannya namun sosok Ji Junmyeon ini sudah di akui di beberapa label besar di dunia fashion. Salah satunya, Ralph Lauren, Burberry, Chloe dan Dior. Dari label yang disebutkan Junmyeon selalu berhasil melaunching designnya di sana.

Lantunan merdu dari bibir merah itu mengalun lembut di penjuru dapur, Taehyung duduk di meja makan sembari mengamati setiap gerak-gerik kakak perempuannya yang begitu mempesona. Jemarinya yang putih bersih dan mungil itu kini tengah memotong daging sapi menjadi beberapa bagian. Kakinya yang pendek nan ramping begitu lincah bergerak kesana-kemari saat mendekat ke arah kompor untuk memasukan beberapa bahan masakan ataupun mengambil dan menaruh barang di sekitaran dapur yang luas. Cipratan minyak berhasil membuat Junmyeon meringis walau ujung-ujungnya wanita itu terkekeh akibat kecerobohannya.

Taehyung tersenyum.

.

"Aw! Nuna!"

"Ya ampun. Tahan sedikit kenapa?!"

"Sakit ah!"

Junmyeon berdecak sebal. Dicubitnya paha kurus Taehyung, membuat adiknya itu menjerit minta ampun. "Menggemaskan! Rasanya aku ingin menggigitmu sampai habis."

"Enak saja. Nuna harus melawanku dulu, baru bisa menggigit Taetae.." Suara tegas namun lembut terdengar dari ruang tamu. Itu Ji Seokjin. Kakak kedua Taehyung. Adik lelaki Junmyeon. Pemuda itu baru selesai dengan mata kuliahnya. Taehyung memandang sang hyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Sekelebat ingatan tentang pacar Seokjin melintas diingatannya. Im Nayeon, wanita jalang itu. Tidak akan aku maafkan..!

Seokjin menghampiri kedua saudaranya, "Kau harus segera mengobati semua memar itu. Sebelum Ayah dan Ibu tahu dan semua berubah jadi masalah baru.." Seokjin mengambil alih salep dan cottobud dari Junmyeon. Pemuda tampan itu mendudukan bokongnya diantara dua adik-kakak itu hingga membuat Junmyeon secara kasar terusir dari tempat duduknya. Omelan Junmyeon menggema dan hanya mendapat peletan lidah dari kedua adik lelakinya. Mereka ini! Menyebalkan.

Junmyeon kembali memerhatikan adegan Seokjin yang sedang mengobati Taehyung. Seokjin yang menasehati Taehyung dan Taehyung yang kini pasrah diobati juga diomeli sang kakak – menurut Taehyung. Junmyeon menghela nafasnya berat, betapa dirinya mencintai kedua adiknya yang menjengkelkan ini.

"Hyung dengan si Nayeon itu, kapan putus?"

"Bicaramu Taehyung. Mau aku sentil?"

"Dia tidak cocok denganmu yang sempurna bak bangsawan di era Millenium.."

"Taehyu—"

"Dia jalang. Aku melihatnya ngesex dengan orang lain di gudang sekolah siang ini. Cih, wanita murahan yang biadab.."

Seokjin tergugu. Kegiatan mengoles salep itu mendadak terhenti. Keheningan menyelimuti ketiganya. Junmyeon melirik Seokjin yang terdiam seperti batu. Taehyung menatap hyungnya datar, seperti ucapannya tak melukai Seokjin.

Helaan nafas kecil dari Seokjin memecahkan keheningan, pria tampan itu tersenyum sembari mengusak surai adiknya. "Anak nakal. Candaanmu itu sudah keterlaluan, kau tidak mau aku traktir lagi ya? Hm?"

Taehyung menepis lengan Seokjin lalu beranjak dan pergi meninggalkan kedua kakaknya menuju kamarnya. Seokjin menatap kepergian adiknya, matanya sendu. Junmyeon bangkit, meninggalkan Seokjin yang masih terdiam di sofa setelah sebelumnya sosok nuna itu mengucap selamat malam dan mengusap lembut pundak Seokjin memberinya sedikit semangat.

.

.

Jimin menghela nafasnya berat, mengundang perhatian dari sosok manis di depannya, Park Yoongi. Surai raven ikalnya bergoyang kala pria manis itu memotong daging steak buatannya. Mengunyahnya dengan anggun bak seorang pangeran.

"Menghela nafas begitu akan membawa sial padamu, Jim.."

Jimin memutuskan lamunannya dan kembali fokus pada piring berisi pastanya. "Masa dokter hebat percaya hal begitu.."

Yoongi tersenyum dan Jimin meliriknya, cute banget.

Keduanya makan malam dengan tenang. Tak ada canda, tak ada dialog diantara kedua saudara itu. Hanya dentingan sendok garpu yang terdengar. Hingga pria yang lebih tua bangkit dan berjalan menghampiri dapur. Lengan kurus yang putih mulus itu menyalakan air kran dan mulai mencuci piringnya. Sosok cantik itu memang tak banyak bicara, begitu pun saat dirinya melakukan sebuah pekerjaan. Cukup diam. Fokus. Dan BAM! Selesai. Itulah gambaran seorang Park Yoongi.

Dan itu berlaku ketika mencuci piring.

Hingga sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang begitu mesra. "Wanginyaa… sudah berapa lama ya aku tidak mencium wangi lavender ini?"

Yoongi tersenyum hangat, "Cuman tiga hari Jim. Manja sekali dongsaengku ini.."

Pelukan Jimin semakin mengerat dan bibir tipisnya mulai menciumi tengkuk halus sang kakak membuat Yoongi sedikit tak nyaman. "Kau kenapa?"

"I'm okay.. just miss you too much.."

"…"

Jimin melepas pelukan itu dan membalikan tubuh pendek kakaknya. "Lihat wajahmu. Kantung mata itu menggangguku. Sungguh!"

"Kalau begitu jangan melihatku." Yoongi kembali mengerjakan kegiatannya. Jimin memberikan piring kotor bekas pastanya. "Aku mendapat pasien seorang pelajar tiga hari yang lalu. Asal sekolahnya sama denganmu, saking paniknya aku kira itu kau Jim."

"Lalu?"

"Tentu saja aku bersyukur itu bukan kau! Tapi.." Masih dengan mencuci piring, Yoongi merubah rautnya menjadi sedih.

"Tapi apa?"

"Entahlah, aku hanya merasa… pasien itu masihlah muda Jim. Aku sangat simpati padanya."

Jimin mengernyitkan alisnya, "Jangan bilang kau menyukainya?!"

Yoongi diam tak membalas tuduhan tak mutu Jimin. Dan pemuda bersurai silver itu jaw drop, Yoongi tidak membalas argumennya. Bukankah berarti itu benar?

"Ya Tuhan Min Yoongi! Kau membuatku gila!"

"Bukan Min! Tapi Park Yoongi, Jim.."

"Kau bukan kakak kandungku jadi aku tidak perlu memanggilmu dengan marga Park.."

Yoongi memutar bola matanya jengah dan mematika kran air, "Jangan mulai lagi Jim. Aku lelah.."

"Kau yang membuatku memulainya.."

Yoongi bertolak pinggang, dan itu cute luar biasa di mata Jimin. "Tiga hari aku tidak bisa tidur Jim. Jadi jangan bikin masalah denganku." Yoongi menghela nafasnya berat. Menatap adiknya yang juga tengah memerhatikannya.

"Terus kenapa tidak tidur saja?"

"Pemuda itu termasuk pasien darurat Jim. Mana bisa aku tidur, okey?"

Jimin memutar bola matanya jengah, "Aku tidak mengerti, sungguh. Kau tidak tidur tiga hari hanya untuk mengurus satu pasien saja? Bagaimana bisa kau tidak tidur barang semenit?! Bahkan aku bisa mendengar tubuhmu menjerit minta istirahat! Kecuali jika kau memang menyukainya!"

"Harus kau tau, barang semenit yang barusan kau katakan adalah aku harus selalu siaga satu saat pasien itu mendadak kritis! Pasien itu membutuhkanku Jim! Dia hampir mati saat aku mengoperasinya, dan hampir mati sore lalu karena syok otak! Dan aku memang menyukainya.."

"A-apa?!"

"Dia tidak berisik sepertimu, makanya suka."

"Itu karena dia koma! Cihh, aku harap dia begitu terus sampai 1000 tahun!"

"Jangan berharap yang aneh-aneh ah!"

"Mungkin dia memang ingin mati."

"Jangan bicara sembarangan! Kim Namjoon harus tetap hidup karena keluarganya sangat mencintainya! Dan aku hampir membunuh orang terkasih mereka. Ck."

Jimin keselak ludahnya sendiri, "S-siapa kau bilang?"

"Kim Namjoon,Jim!"

"A-apa?"

Yoongi mengusak surai silver itu gemas bercampur kesal, benar-benar dongsaengnya ini. "Iya. Iya. Aku mau tidur sekarang, jadi jangan ganggu, okey?"

Jimin hendak protes namun kalimatnya dipotong Yoongi yang kembali berbicara, "Jangan masuk kamarku, jangan ganggu, jangan mengetuk pintu barang sekali atau apapun itu. Jangan berisik!"

Jimin melongo. Sang kakak berlalu begitu saja tanpa menoleh pada sang adik. Si pendiam yang berubah jadi bawel dengan alasan sebal pada Park Jimin, adik angkatnya. Si pemuda bersurai silver menggeram kesal. Ditariknya lengan pale itu hingga sang empunya langsung menghadap Jimin dengan sekali tarikan. Yoongi terkejut bukan main. Ditambah bibir kissablenya yang tiba-tiba mengecap bibir tipis sang adik menambah kadar kejutnya bertambah. Jimin menciumnya. Lembut. Dan hangat.

"Jangan kunci pintunya.."

Kening keduanya beradu, Yoongi menatap netra Jimin yang terpejam, nafasnya yang mengalun lembut membuat Yoongi terperosok begitu dalam pada buaian seorang Park Jimin. Dongsaengnya.

Yoongi bergerak gelisah dalam dekapan mesra Park Jimin, "Jangan begini Jim. Kumohon.."

"Jangan berlaga bodoh, Dokter Min. Kau tau aku tidak akan bisa tidur jika tak ada kau." Yoongi menghela nafasnya berat, "Tak ada siapa-siapa di apartemen ini. Hanya kau dan aku. Tak ada yang lain. Hanya Yoongi… dan… Jimin.."

"Baiklah, lepaskan aku sekarang…"

Jimin melepas pelukan – yang menurutnya – mesra itu dengan tidak rela, "Malam ini aku ingin memelukmu sampai pagi, Min Yoongi.."

Yoongi menghela nafasnya lelah, "Bertengkar denganmu menguras energiku."

"Well, ciuman panas dan mesra dari Chef Jimin siap membuat energy Min Yoongi penuh kembali~"Yoongi mendengus geli,jemarinya mengusak surai lembut dongsaengnya sayang.

"Jadi… bisa kau jelaskan tentang Kim Namjoon, Dokter Park?"

Yoongi merotasikan bola matanya sebal.

.

.

Telah ditemukan empat orang tewas di dekat sebuah gubug tak terpakai tepatnya sore lalu pukul 16.34 di sebuah perkebunan di daerah Dalseong. Pihak polisi menyatakan bahwa empat korban tewas tersebut adalah seorang pelajar dari Distrik Jung.

Lee Baek Ji (57) pria paruh baya yang dalam perjalanan pulang dari berkebunnya tanpa sengaja mencium bau menyengat dari dalam rumput ilalang yang tingginya hampir dua meter itu merasa curiga dan menemukan empat korban tersebut tergeletak tak berdaya di bawah semak-semak.

"Awalnya kupikir itu adalah empat buah boneka rusak yang dibuang di sana. Tapi,aku yakin bau menjijikan itu berasal dari tumpukan boneka itu dan setelah aku melihat seorang pemuda tengah meringkuk dan menatap kosong padaku adalah manusia, di situ aku yakin tumpukan tanpa kepala itu adalah manusia juga."

Cha Hak Yeon (18) adalah satu-satunya siswa dari keempat korban pembunuhan tersebut yang berhasil selamat. Pemuda itu ditemukan dalam keadaan terdiam dengan tatapan kosong ke depan. 20 menit berlalu dan kepolisian masih kesulitan menemukan bagian tubuh empat korban tersebut dan itu menyulitkan polisi untuk mengidentifikasi korban, namun sebuah name tag di seragam korban menjadi satu-satunya titik terang polisi saat ini. Beberapa penyidik akhirnya mendatangi sekolah kelima korban tersebut dan menyelidiki identitas mereka. Dan mengindentifikasi korban berhasil dalam beberapa jam ke depan

Berikut identitas korban telah ditemukan.

Lee Jaehwan, 06 April 1997, 180 cm, 68 kg, seorang pelajar di Sekolah Menengah Shinho di Distrik Jung, Jr. Teknik

Lee Hongbin, 29 September 1997, 183 cm, 28 kg, seorang pelajar di Sekolah Menengah Shinho di Distrik Jung, Jr. Sosial

Ravi Kim, 15 Februari 1997, 183 cm, 65 kg, seorang pelajar di Sekolah Menengah Shinho di Distrik Jung, Jr. Teknik

Jung Taek Woon, 10 November 1998, 180 cm, 63 kg, seorang pelajar di Sekolah Menengah Shinho di Distrik Jung, Jr. Teknik

Cha Hak Yeon, 30 Juni 1998, 175 cm, 58 kg, seorang pelajar di Sekolah Menengah Shinho di Distrik Jung, Jr. Sosial

.

.

Terlihat empat pemuda tampan yang kini tengah melakukan berbagai macam kegiatan di dalam ruangan berukuran 5x6 meter tersebut, ada yang menonton tayangan TV dengan serius – Taehyung, ada yang tengah bersenda gurau – Chanyeol dan Baekhyun, dan ada yang tengah tertidur pulas layaknya tidak ada hari esok – Namjoon. Selepas lonceng pulang sekolah berdendang ketiga bocah SMA ini langsung cabut ke Hwawon hospital. Kangen Namjoon ceritanya. Dan berakhir dengan ketiganya yang dengan senang hati membunuh waktu dengan bermacam aktivitas positif, misalnya menunggui Namjoon yang masih koma, melap sebagian tubuhnya dengan air hangat atau menambahkan air ke dalam humidifier yang sudah berkurang, agar suhu ruangan tetap lembab.

Taehyung menatap tayangan berita sore itu dengan serius. Jemarinya bergetar menahan kekhawatiran yang membumbung tinggi di hatinya. Mereka.. tewas? T-tapi.. siapa?

"Menurutmu siapa yang melakukannya?" Pertanyaan Chanyeol berhasil mengalihkan fokus dua pemuda manis di ruang rawat no. 0133. Si surai merah menatap serius si pemuda jangkung namun pemuda bereyeliner lebih memilih melanjutkan kegiatannya memijit pundak si jangkung Chanyeol.

"Tentu saja yang membunuh mereka pasti seorang psikopat sadis.." Jawaban polos dilontarkan Baekhyun – pemuda bereyeliner. Chanyeol mencubit gemas pipi chuby Baekhyun.

"Yap. Tentunya psikopat yang sadis. Iya 'kan Tae?" Chanyeol terkekeh. Hazel Taehyung berotasi malas.

Taehyung kembali mengalihkan fokusnya pada tayangan televisi yang kini sudah mengganti topik bahasannya. Pemuda itu meremas jemarinya yang dingin. Ini janggal.. menurutnya.

"Mereka yang waktu itu di Stasiun Jeongpyeong?" Tanya Chanyeol. Mendapati wajah Taehyung yang kian mengeruh membuat pemuda tiang itu yakin tanpa perlu mendapat jawaban dari lawan bicaranya. "Tapi siapa.." Kalimat Chanyeol mengambang tidak pasti.

Taehyung kembali mengalihkan atensinya pada si jangkung Chanyeol. "Lokasi ditemukannya mereka itu tepat dimana aku menemukan Namjoon yang sekarat. Daerah Dalseong adalah tempat dimana lima korban itu ditemukan, dan itu berada di seberang gubug tersebut." Taehyung mengerutkan alisnya tanda sosok manis itu berpikir keras. Chanyeol memijit keningnya bingung.

"Bagaimana kau tau Namjoon berada di sana?" Tanya Baekhyun. Kegiatan memijit pundak Chanyeol sudah berakhir beberapa menit yang lalu semenjak kedua temannya mulai membahas pembunuhan tersebut.

"Malam itu, Geong Min menelponku dan meminta tolong bahwa ada sekelompok siswa yang menyanderanya dan Namjoon berhasil membawanya pergi dari rumah kecil itu."

"Jadi, kau curiga kalau-kalau mereka – korban itu – adalah si pelaku penyanderaan?"

Kerutan di dahinya bertambah, Taehyung menoleh pada tubuh tak berdaya sahabatnya yang kini masih dalam keadaan koma. Netra Namjoon saat itu kosong ke depan, air mukanya jelas kalau sahabatnya itu seperti orang mati karena syok. Sama halnya dengan salah satu pemuda yang ditemukan di TKP, mereka berdua ditemukan dalam keadaan yang sama persis. Ukh, ini sudah membuatnya hampir gila!

Taehyung menghela nafasnya berat. Mencoba menerka-nerka kejadian yang dialami sahabatnya, namun otaknya benar-benar buntu. Hanya gelap tak berujung yang ada di pikirannya, tak ada seberkas cahaya walau hanya sedikit. Diremasnya surai merah itu frustasi. Mengundang si jangkung Chanyeol kembali berbicara.

"Apa yang kau pikirkan?"

Taehyung mendelik sekilas pada si pemilik suara lalu menggeleng lemah. Ini sulit, mereka tidak akan bisa menemukan jalan keluarnya dalam waktu satu malam.

.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, ketiga pemuda itu masih asik dengan kegiatan masing-masing padahal matahari sudah lewat berjam-jam lamanya. Chanyeol mengusak surai Baekhyun gemas, sekarang ini Baekhyun tengah menelepon orang rumah, membujuk Bundanya agar menginjinkannya menginap di rumah sakit. Omong-omong, ketiga pemuda ini sudah mengantongi ijin dari kedua orang tua Namjoon untuk menjaga sahabatnya malam ini. Walau pada awalnya Ibu Kim sempat melarang mereka tapi kegigihan Chanyeol dan bujuk rayuannya Baekhyun sukses memaksa kedua orang tua Namjoon memberi mereka ijin dan mereka pulang dua jam yang lalu. Sebenarnya menginap di rumah sakit hanyalah cover bagi Taehyung untuk mengadakan 'rapat penting' dengan ke empat sahabatnya.

"Dimana Hyunwoo?"

Baekhyun menjilat bibir kissablenya yang mengering, "Ada urusan katanya.."

"Panggil dia sekarang.. kita perlu rapat."

"Ada apa?" Tanya Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

Taehyung bangkit dari duduknya. Berdiri tegak menatap kedua sahabatnya yang penasaran. Senyum manisnya mengembang, "Hanya… aku merasa kita perlu membabat habis serangga kecil yang mencoba mengotori teritori dewa.."

Kejadian yang terlalu janggal yang menimpa Namjoon masihlah buntu di kepala Taehyung, dan alangkah lebih baik dirinya mulai menyelesaikan masalah kecil terlebih dahulu, apalagi memangnya kalau bukan masalah yang sengaja dibuatnya dengan si Jeon keparat Jungkook. Bocah keras kepala itu akhirnya terpancing juga. Dan Taehyung sudah sangat menantikan tubuh bertotot Jungkook berada dalam kendalinya. Dilindas truk? Ck. Come on~ Ji Taehyung bukanlah manusia sekejam itu!

Itu hanya gertakan. Haha..

Senyum Baekhyun mengembang sama manisnya dengan Taehyung, ia mengerti maksud si Taehyung ini. Melayangkan hormat asal-asalannya pada pemuda bersurai red chili. "Ayay Captain!"

"Duhh, serangga mana yang sedang tidak beruntung kali ini?" Tanya Baekhyun sembari mengusap keningnya dramatis.

"Lebih tepatnya.. kelinci?"

"Itu bukan serangga Tae!" Baekhyun protes mengundang kekehan dari Chanyeol yang memperhatikannya sedari tadi.

"Dan juga,hubungi si jalang Kim. Aku rasa dia harus memulai aksinya kali ini."

Baekhyun mengangguk semangat.

"Heol. Teritori dewa ya? Kita?"—Chanyeol.

"Ya.. tentu saja. Kita itu dewa.."—Taehyung.

"Seseorang mengatakan itu padaku.."

.

.

Saat itu hujan deras mengguyur jalanan yang sepi. Tubuhku tak bergerak, lebih tepatnya aku tidak bisa menggerakkannya, sepatu converse hitam yang melekat pada kakiku seperti dipaku pada aspal. Mata sehitam arangku memandang jalanan sepi tak berpenghuni, menoleh kesetiap sudut jalan yang baru aku sadari bahwa tubuh ini tengah berdiri ditengah-tengah perempatan jalan yang – ingin aku tegaskan sekali lagi – begitu kosong dan dingin, awan bergerak terlihat begitu kelam saat itu, tak ada secercah cahaya barang sedikit, ini terlalu monokrom.Gedung-gedung pencakar langit dipinggiran jalan terlihat membisu, dingin dan begitu kusam. Kembali aku menatap jalanan panjang tak berujung di depan mataku, kenapa begitu menakutkan?

Hingga pandanganku berubah hitam dan sebuah kulit lembut menyentuh kelopakku yang terbuka. Seseorang tengah menutup kedua mataku. Aku yang sama sekali tidak terkejut, menyentuh lengan itu dengan kespontanitasan yang aku miliki. Jemarinya begitu halus dan wewangian asing yang lembut berhasil meluluhkan pikiranku. Siapa sosok ini?

'Jeon Jungkook..'

Dalam beberapa sekon, tubuhku menegang mendengar suara bass seorang lelaki. Suara yang cukup aku kenal. Tapi, bagaimana bisa seorang pemuda bisa memiliki kulit sebegitu lembutnya bak seorang puteri dongeng?Aku berusaha menghela pikiran yang menurutku tidak masuk akal, namun sosok itu kembali memangil namaku terkesan begitu lembut dan.. terdengar sangat dekat. Perasaan ragu masihlah menghantuiku dan mungkin bertambah banyak, dilepaskannya jemari sedingin es itu dan aku menoleh cepat ke belakang. Nihil. Sosok misterius itu menghilang begitu pun bekas dingin menyerah dan kembali menatap jalan di depanku, dan alangkah terkejutnya ketika sosok misterius itu berdiri di depanku dengan senyuman manisnya yang menurutku begitu cantik. Tanpa tedeng aling-aling lengan sedingin es itu menyentuh kedua pipiku. Mataku memaku pemuda cantik bersurai hitam itu dengan seksama. Kening yang tertutup rambut seatas mata, kulit tannya yang bersih, bulu mata yang panjang dan lentik, hidung mancung dengan tahi lalat kecil diujung membuatnya begitu menggemaskan dan jangan lupa bibir semerah darah itu, berhasil mengusik hatiku dan membuat sosok pemuda yang aku kenal itu sungguh beratus kali lipat berbeda.

Detik selanjutnya kedua mata kami bertemu. Lama kami saling bertatapan tanpa kalimat yang berarti dan hening mendominasi. Lengan sedingin es itu bergerak, memeluk leher jenjangku dan mengeliminasi tubuh kami. Tanpa keraguan akupun meraih pinggangnya, merapatkan tubuhku dan tubuh rampingnya. Hidung kami bersentuhan, bergesekan, kumiringkan wajahku untuk mempermudah bibir ini mengecupnya. Entah keberanian dari mana hingga akhirnya kami berciuman, bibirku mengemut bibir bagian bawahnya perlahan namun pasti, sosok itu membalas kulumanku di bagian atas bibirku yang tipis. Cukup lama kami melakukannya hingga sekonyong-konyong bibir hangat itu menghilang begitu saja dari jamahanku. Kuteliti seluruh sudut jalan, sampai terlihat sosok pemuda itu di ujung jalan tepat dihadapanku. Wajahnya yang ketakutan tak membuatku berlari ke arahnya, kedua kaki ini memaku sejak awal dan – sekali lagi – aku berusaha bergerak namun tak itu bergerak mencoba menyampaikan sesuatu. Alisku mengerut kala tidak ada suara yang sampai ke telingaku. Suara klakson cukup mengalihkanku dari sosok itu dan alangkah terkejut aku kala truk besar itu memacu kecepatannya tepat ke arah pemuda itu. Aku berteriak namun tak bersuara. Aku berlari namun tak bergerak. Sampai akhirnya lututku melemas saat kedua bola mataku menyaksikan begitu kerasnya pemuda itu terlindas ban truk yang besarnya mencapai setengah badannya. Mulutku menganga, mataku membelalak tak percaya bahwa tubuh itu kini tergeletak lemas dan.. hancur..

.

Jungkook bangun dari tidurnya, nafasnya terengah kala teringat mimpi aneh itu. Taehyung. Jungkook mendengus sebal kala sosok bangsat itu tiba-tiba muncul di benaknya. Jungkook menepis kasar pada jemari yang baru saja menyentuh keningnya. Zelo refleks beringsut dari dekat Jungkook.

"Akhirnya bangun juga!"

Lantas Jungkook bangkit dari tidurnya. "Sekarang jam berapa?"

"Sebelas. Pindah kamarmu sana! Jangan ganggu kami dengan segala lenguhan anehmu, ck."Seru Jimin kesal.

Jungkook menatap ke empat lelaki di hadapannya yang kini balas menatapnya dengan tatapan kesal. "Ugh, sori. Aku ketiduran.."

"Ya, aku tahu." – Zelo.

"Mana Minhyuk?"

"Sedang di toilet, dia baru datang barusan.."Jawab Yugyeom.

"Yak! Jangan masuk kamar! Aku ke sini tidak dengan pengorbanan ya. Jadi, aku harap pembicaraan ini dapat jalan keluar buat si bibir ember ini.." Jimin berkata demikian membuat Jungkook mendelik. Barusan siapa yang menyuruhnya masuk kamar?! Idiot.

Jimin mendengus sebal. Bagaimana ia tidak kesal kalau malam manisnya bersama sang hyung malah diganggu dengan telepon yang sangat mengagetkannya bahwa sang penelpon bilang kalau nyawa Jungkook diujung tanduk?! Itu sama sekali tidak lucu.

Yugyeom menceritakan kejadian sore lalu dengan begitu detail – kecuali making sexnya – membuat ketiga pemuda di ruang tamu itu menganga tidak percaya. Zelo mengusap wajahnya frustasi. Jimin memijit keningnya. Minhyuk beranjak dan menghampiri Jungkook yang duduk di sofa tunggal di depannya. "Maaf.. ini semua salahku.."

Jungkook menghela nafasnya, diusapnya jemari ramping milik sepupunya mencoba mentransfer energi positif bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.."

Ke empat pemuda dalam ruangan itu terdiam. Merasa aneh dengan kalimat yang barusan sahabatnya ucapkan, "Cih, kau bilang apa barusan?"Tanya Yugyeom, volume suaranya yang agak tinggi pertanda bahwa pemuda jangkung ini tengah marah. Zelo mencengkeram lengan berotot pemuda bertubuh tinggi.

Jungkook menatap Yugyeom santai, "Semua akan baik-baik saja, kurasa?"

"Sinting kau Jungkook! Baik-baik saja yang kau maksud itu apa dengan mempertaruhkan nyawamu pada si keparat Taehyung?!"

Zelo bangkit dan menarik lengan Yugyeom yang sudah naik pitam, pemuda bertubuh jangkung itu menarik kasar kerah baju Jungkook, hampir keduanya bertengkar kalau bukan Jimin dan Minhyuk yang melerai keduanya.

"Ayolah kawan, ini bukan waktunya bertengkar!" Jimin mendorong kasar dada kedua sahabatnya. "Berpikirlah dengan kepala dingin, bodoh!" Hardik Jimin pada Yungyeom yang ngos-ngosan. "Dan kau! Jelaskan apa maksud ucapanmu barusan?" Jungkook menarik nafasnya panjang, mengusap rambutnya, pemuda itu sedang menahan emosinya.

Lantas Jungkook duduk di sofanya semula dengan Minhyuk yang mengusap kedua pundaknyamencoba menenangkan. "Aku rasa aku perlu bantuan kalian."

"Berapa anak buah yang kalian punya?" Tanya Jungkook.

Hening sejenak, ke empat pemuda tampan itu tampak berpikir, "Taehyung bilang dia ingin membuat sebuah permainan yang menarik." Ke empat pemuda itu diam mengerutkan alisnya penasaran, "Yaitu dengan seratus orang ada dalam kelompokku, begitu pun kelompoknya.."

"What?! Dia sinting! apa dia bermaksud bikin kita terpojok atau apa?" Zelo bersuara, dia keberatan tentu saja.

Jimin menggeram sebal, "Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Seratus orang? Jangan konyol Jeon!"

"Aku berencana untuk tidak melibatkan kalian dalam permainan konyol ini. Jadi, cukup bantu aku untuk mengumpulkan minimal seratus orang.."

Yugyeom mendengus sebal, "Mau lawan mereka semua sendiri?"

"Kau gila! Lalu untuk apa ada kami?" Minhyuk berucap miris, menatap sepupunya marah.

"Kami bukan boneka suruhanmu kalau mau tahu. Aku di sini untuk membantumu! Kami di sini untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kau buat brengsek!"

"AKU TIDAK BUTUH!"

Rasanya Jimin cs terkejut bukan main. Keempat pemuda tersebut kini menatap Jungkook terperangah, tidak percaya dengan apa yang baru saja sahabatnya itu ucapkan. Kalimat 'tidak butuh' yang Jungkook maksud cukup melukai hati mereka. Jungkook sadar itu, namun egonya menolak untuk menarik kata-katanya dan meminta keempat pemuda itu tahu Jungkook sedang dalam keadaan panas dan tidak terkendali tapi tetap saja ucapan itu tidak pantas dilontarkan Jungkook.

Hening terjadi untuk kesekian detik, hingga Jungkook kembali mengalihkan fokus keempat temannya. "Karena itu adalah masalah yang aku buat, makanya tidak ingin melibatkan kalian." Jungkook menggeram, "Jika kalian ingin pergi, pergilah. Sungguh. Aku tidak menyesal membentak kalian dan aku tidak menyesal berurusan dengan Jahanam Taehyung! Karena aku yakin.. aku yakin bisa melumpukannya dan membuatnya bertekuk lutut di bawah kakiku!"

"Kau mengerikan.."

"Pergilah.. aku memanggil kalian bukan untuk menghakimi apa yang sudah aku lakukan. Jadi, enyahlah dari hadapanku.."

"Bukan itu maksud kami.." Zelo hendak menjelaskan betapa ketiga temannya ini sangat mengkhawatirkan Jungkook, namun kepergian Jimin membuat Zelo bungkam dan pemuda tiang itu pergi mengejar sahabatnya yang barusan membanting pintu dengan kencang.

Kini tersisa Yugyeom dan Minhyuk yang terdiam, Jungkook menatap Yugyeom tajam, "Kenapa masih di sini? Tidakkah kau lihat mereka pergi meninggalkanku.."

"Kau dan Taehyung sama jahanamnya."

Jungkook menggeram, dikepalnya jemari itu hingga memutih. Minhyuk berseru marah kala Yugyeom semakin memperparah keadaan.

"Kalian buta oleh kedudukan dan ingin saling tunduk satu sama lain. Kenapa kalian tidak saling menyakiti satu sama lain saja?! Kau sakit Jungkook! Betapa kalian sangat mirip saat bertengkar di gudang waktu itu. Taehyung yang pada dasarnya memang seorang psikopat gila dan kau tidak jauh berbeda dengannya.."

Setelahnya, Yugyeom pergi meninggalkan Minhyuk yang mematung dan Jungkook berteriak marah, membanting vas bunga berisi air pada meja kaca di hadapannya dan berakhir dengan meja yang juga pecah berhamburan. Seakan emosinya sudah terlampiaskan, Jungkook tertawa sekeras-kerasnya sampai-sampai terdengar begitu sakit di telinga Minhyuk, tawa itu berangsur-angsur mereda dan jadi kekehan-kekehan kecil dan akhirnya isakan lirih terdengar. Minhyuk menatap sang kakak sepupunya iba, pemuda Jeon itu menangis dihadapan sang sepupu, Kim Minhyuk. Pemuda bersurai blonde itu lantas memeluk kakak sepupunya erat, menenangkannya.

Dan malam itu Jeon Jungkook melampiaskan amarahnya dalam tangis hingga seperempat malam terakhir.

.

.

Pagi itu Taehyung meninggalkan sekolahnya tanpa pamit pada Guru Bahasa Koreanya, pemuda bersurai red chili itu berlari tanpa menoleh sedikitpun, tidak didengarnya teriakan marah Jaejoong Seonsaengnim yang memanggil namanya. Dibawanya dalam kecepatan tinggi Kawasaki ninja 300 itu pada alamat yang sering dikunjungi beberapa hari terakhir ini. Hwawon Hospital.

Sejak satu jam pelajaran berjalan entah kenapa Taehyung merasa begitu gelisah dalam duduknya, pemuda berdarah AB itu terus menggigiti ujung pensil – tanda bahwa sosok manis itu tengah dilanda rasa khawatir – dan entah mengapa dirinya jadi melakukan hal itu padahal sudah ia tinggalkan kebiasaan buruk itu sejak kelas enam sebuah pesan singkat – entah dari siapa, karena Taehyung terlalu terkejut – memberitahunya bahwa sahabat tercintanya kembali mengalami kritis dan hampir gagal bernafas. Lantas tanpa perhitungan lagi Taehyung segera menggas dirinya untuk segera sampai di Hwawon hospital. Dan meninggalkan tanda tanya besar juga rasa khawatir dari beberapa temannya.

Tanpa memarkirkan motor tersebut, Taehyung segera membawa kaki langsingnya berlari menuju ICU dimana Namjoon berada. Taehyung menatap Tuan dan Nyonya Kim yang kini tengah menunggu dengan raut khawatir, Kim Geong Min – adik namjoon –kini terisak sembari berdoa dan kedua orang tua Namjoon yang terlihat begitu tegar dengan saling mengucapkan kalimat positif satu sama lain, walau terlihat sorot mata keduanya sangat ketakutan akan kehilangan.

Dipeluknya Taehyung oleh adik sahabatnya, terisak meminta Taehyung menolongnya sekali lagi. Dan Taehyung merasa begitu kecil setelah dihadapkan pada hal yang menyangkut nyawa sahabatnya ini. Mengapa harus meminta padanya? Dirinya bukan Tuhan.

Jantung Taehyung berdetak hebat, matanya kosong dan hidungnya mulai memerah, surainya kuyu karena keringat dan penampilannya acak-acakan. Hazelnya menangkap beberapa dokter dan perawat yang kini dilanda panik dengan keadaan sahabatnya lewat kaca besar ruang ICU.

Taehyung melepas pelukkan Geong Min lalu perlahan tungkainya membawa tubuh kurus itu menghadap kaca besar ruang ICU. Alis Taehyung mengerut dan cairan bening lolos begitu saja dari hazelnya yang berubah melembut.

Namjoon masihlah tidak sadarkan diri. Dokter Park sudah berulang kali mengaktifkan defibrillator guna memacu irama sinus jantung di monitor kembali normal, terlihat seorang kepala perawat tengah menyerukan detak jantung Namjoon yang kian detiknya kian melemah. Dokter muda itu kini sudah beralih dari posisinya dan memposisikan dirinya di atas tubuh pasien, telapak tangannya menekan-nekan permukaan dada sahabatnya penuh perhitungan dan kehati-hatian.

Nafas buatan.

Lalu melakukan kompresi dada.

Nada statis di layar monitor tidak berubah..

Kembali membuat nafas buatan.

Kembali kompresi dada.

Taehyung menutup mulutnya dengan punggung tangannya, mencoba menahan isakannya yang tiba-tiba lolos. Cairan bening itu semakin deras menganak sungai di pipinya, membasahi jemari lentiknya. Kedua kakinya lemas bak jeli. Otaknya tak dapat berpikir jernih. Jantungnya berdenyut menyakitkan. Kaki ramping itu berjalan mundur secara teratur. Hazelnya menatap ngeri lengan berinfus milik Namjoon yang tergeletak tak berdaya di samping tubuh empunya, bergerak lemas mengikuti derit ranjang saat Dokter Park melakukan kompresi dada.

Taehyung merasa perasaannya terluka begitu dalam melihat kondisi sahabatnya yang begitu mengenaskan. Rasa menyesal tak ayal menghantuinya walau sudah ia tepis sekuat mungkin tapi hatinya terlalu peka untuk sadar bahwa alasan sahabatnya ini sekarat adalah dirinya. Akibat dari perbuatan Taehyung sendiri.

Lamunannya terputus kala suara derit pintu ruang ICU terdengar, menampilkan Dokter Park dan seorang perawat. Perawat tersebut pergi dengan terburu-buru dari ruangan penuh bau obat-obatan itu.

"Namjoon-sshi.. untuk sekarang ini jantungnya sudah kembali beraktifitas, tapi lemahnya jantung pasien aku perlu melakukan operasi. Karena pembengkakan otot jantung membuat aliran darah pasien terhambat. Dan aku rasa.. jalan satu-satunya adalah melakukan operasi lagi."

Sangat terlihat bahwa sosok Dokter muda itu terlihat panik dan ketakutan. Ditambah melihat respon kedua orang tua pasiennya yang terkejut dan pias, membuat nyali Dokter muda itu ciut seketika. Hingga sebuah kehangatan menggenggam lembut jemarinya yang dingin. Kehangatan yang dihantarkan Nyonya Kim.

"Kau tahu. Kami percaya padamu Dokter Park.."

Dokter Park terkejut. Onyxnya menatap wanita paruh baya itu penuh penyesalan. Sebegitu percayanya kah mereka padanya? Dirinya bukan Dokter jenius seperti senior-seniornya yang lain. Dirinya hanya seorang Dokter biasa yang bermodalkan ilmu kedokterannya dan keberuntungan. Dirinya hanya manusia biasa.

"Apapun keputusanmu. Kami akan menerimanya, tanpa penyesalan.." Ucap Tuan Kim, halus dan menenangkan. "Kami selalu mengawasimu Dokter Park. Tidak ada usahamu yang sia-sia dimata kami selaku orang tuanya. Kau Dokter yang baik. Sungguh.." Lanjutnya, kini mata itu terlihat berkaca-kaca.

Park Yoongi – si Dokter muda – terenyuh hatinya. Semangatnya kembali meningkat, diberi kepercayaan penuh oleh keluarga pasien sangat berpengaruh pada setiap dokter di dunia ini termasuk dirinya. Semburat senyum diberikannya pada kedua paruh baya itu, "Aku tak kan mengulangi kesalahanku lagi kali ini. Jadi, percayalah padaku dan berdoalah tanpa henti, karena Tuhan yang memiliki keajaiban. Aku sudah meminta bantuan seorang Dokter senior yang mungkin bisa membantuku saat pembedahan jantung nanti berlangsung."

Tak lama seorang perawat tiba-tiba menghampiri mereka, wajahnya yang pucat dan panik pertanda buruk bagi si Dokter muda. "A-ano.. Dokter Lee tidak ada di tempat, perawat Han bilang ia cuti dari kemarin.. bagaimana ini?"

Yoongi menegang. "B-bagaimana dengan Dokter Shin?"

Perawat itu menggeleng, "Sudah lima jam berlalu dan Dokter Shin masih melaksanakan operasinya di lantai 10."

BAM! Ketenangan dan kepercayaan diri seorang Park Yoongi hancur seketika. Dirinya tidak mau mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kali, maka dari itu ia sangat membutuhkan seorang senior untuk pembedahan kali keduanya ini.

Nyonya Kim terisak lirih, dipeluknya sang suami erat-erat. Taehyung yang masih bisa mendengar percakapan keduanya menghampiri.

"Kenapa masih di sini? Tidakkah waktumu tinggal sedikit lagi?"

Yoongi membisu. Jelas itu membuat Taehyung geram. "Kenapa diam saja? Yak! Ada orang sekarat di dalam sana! Kenapa kau diam saja brengsek!"

"A-aku tidak bisa..mam-maksudku.. aku—"

"—Sial! Dokter macam apa kau ini!?" Seru Taehyung. Ditariknya kerah kemeja milik si Dokter membuat si perawat menarik lengan Taehyung panik.

Wajah Yoongi berubah merah. Bibirnya gemetaran. "B-bagaimana jika tidak berjalan lancar?"

"A-apa?"

"Bagaimana jika operasinya gagal? Apa itu akan disebut malpraktik?"

Taehyung tergugu, jemarinya gemetar menahan marah. "Ja-jadi kau akan diam saja? Sadarkah kau barusan sudah membuat kedua orang tuanya percaya padamu?" Lirihnya. Membuat Yoongi sadar akan kelakuan bodohnya tadi.

Suara isak tangis Nyonya Kim dan Geong Min terdengar dikeheningan koridor ruang operasi. Jemari dingin Yoongi melepas genggaman Taehyung pada kerah kemejanya. "Maaf.."

Tanpa tedeng aling-aling pemuda itu berlutut memohon pada Yoongi yang mulai merasa bimbang. "K-Kumohon Dokter Park.. selamatkan sahabatku.."

Yoongi menatap pemuda di depannya menyesal.

"Akan kuberi apapun untuk keselamatan Namjoon. Apapun itu.. kumohon..hikss"

Bersamaan dengan itu suara detak sepatu pantofel terdengar begitu nyaring di lorong rumah sakit yang sepi. Membuat beberapa orang yang berada di sekitar sana menoleh penuh perhatian.

Bagai slow motion, Taehyung memandang sosok pria berbalutkan kemeja hitam itu penuh keterpanaan. Wajahnya yang dingin dan rahangnya yang tegas membuat sosok itu terlihat kharismatik. Surai caramelnya yang di gel membuatnya begitu rapi dan fasionable, juga jas dokternya yang tersibak melawan udara saat sosok jangkung itu berjalan tegap menuju ke arah mereka. Begitu gagah. Tak hanya Taehyung yang memandang takjub dokter tersebut, orang-orang di sekitarnya pun memandangnya sama.

Taehyung terpana sesaat hingga mata mereka bersiborok satu sama lain. Walau sekilas, tapi mata elang itu sempat menatapnya dingin dan entah kenapa tatapan itu membuat Taehyung was-was dan merasa terancam. Sosok itu terlihat menyimpan sesuatu dari sorot matanya saat mereka bertatapan barang 3 detik.

Sosok itu sedikitnya membungkuk pada Tuan dan Nyonya Kim. Dokter Park memandang pria jangkung itu penuh keterkejutan.

"Aku Kim Ji Hoon, Dokter bedah jantung dari divisi anak. Seseorang menghubungiku untuk membantu Dokter Park menjalani operasi siang ini."

Tak ada jawaban dari keenam manusia di sekelilingnya. Tatapan terkejut maupun speechless berhasil sosok bernama Kim Ji Hoon itu dapatkan. "Ekhem!"

"A-ah, baiklah kalau begitu. Kami permisi.. err mari dokter Kim." Ucap Dokter Park. Kemudian kedua dokter itu memasuki ruang ganti. Beberapa perawat mulai mempersiapkan keperluan operasi, seperti ruang operasi dan peralatannya. Dan Namjoon sudah dialihkan ke sana sejak beberapa menit berlalu.

Taehyung menangis haru setelah apa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Menangis dan memohon-mohon seperti tadi tentu saja sukses membuatnya malu dihadapan keluarga sahabatnya. Itu bukan settingan omong-omong, namun setelah dirinya tenang ia baru sadar bahwa ia sudah melakukan hal yang konyol.

.

Hari semakin sore. Chanyeol, Baekhyun dan Hyunwoo datang beberapa menit yang lalu, menunggui operasi Namjoon yang masih berlangsung hampir 4 jam. Taehyung berjalan gontai menuju mesin minuman. Pemuda itu menghela nafasnya berat, suara beradunya aluminium membuat sosok tampan itu meraih minumannya dari mesin tersebut.

Semoga operasinya berjalan lancar..

Taehyung menjilat bibirnya yang kering, kaki berbalut sepatu converse hitam itu membawa sang empunya kembali menuju ruang tunggu di lantai 6. Entah apa yang ia pikirkan hingga dirinya rela jauh-jauh ke lantai 3 hanya untuk membeli sebuah minuman dingin, padahal disetiap lantai sudah disediakan mesin minuman. Hazel itu menatap lantai dengan tatapan kosong, sekelebat ingatannya melayang pada sosok dokter aneh itu. Sesaat dirinya bingung, apakah ia harus khawatir pada keberadaan dokter tersebut atau malah dirinya harus mempercayakan hidup mati sahabatnya pada kemampuan kedua dokter itu?

Ik toezicht houden op jouw~

Langkah Taehyung terhenti, tubuhnya mematung tiba-tiba, sebuah suara samar-samar kembali didengarnya. Dan otaknya mulai mencerna setiap kejadian aneh yang selalu menghampirinya selama hampir dua tahun terakhir. Apa mungkin.. kejadian janggal yang menimpa sahabatnya juga…

Greb!

Taehyung terperanjat saat merasakan sebuah tangan meremas kuat-kuat kedua lengannya. Ketika dirinya hendak menoleh ke belakang sebuah bisikan berhasil membuatnya enggan untuk berbalik.

"Zou ik haar weer tot leven.."

Deg

Taehyung menegang, suara berat di belakangnya sudah pasti adalah seorang lelaki. "Siapa—?"

"Ik haal je op, Taehyung …"

Kecupan ringan Taehyung dapati di tengkuknya. Dengan sigap dan geram Taehyung membalik tubuhnya. Sayangnya, ia tidak menemukan apapun. Hanya bayangannya saja yang dapat ia lihat. Taehyung menggeram marah, walau tidak dapat ia pungkiri bahwa tangannya mulai gemetaran.

Tanpa babibu pemuda berkulit tan itu kembali melanjutkan perjalannya menuju ketiga teman-temannya berada dan baru melangkah sebentar tiba-tiba tubuh kurus itu terduduk lemas. Taehyung meraba tengkuknya ragu, matanya berkedip panik. Seluruh tubuh Taehyung lemas seketika. Bulu halus di seluruh tubuhnya meremang.

Basah. Dingin.

S-seseorang baru saja menciumnya!

.

.

Jungkook bukanlah tipe orang yang suka merutuki hidupnya, memang buat apa ia merutuki hidupnya yang kelewat sempurna begini? Huh, tapi sayangnya sudah lima hari ini ia selalu menghela nafasnya berat, mengomel tidak jelas maupun merutuki kehidupan damainya barang tiga menit sekali! Dan sore ini Jungkook benar-benar akan mengakhiri hidupnya di dalam basement tua yang tak pernah lagi dijamah manusia manapun. Sampai mampus pun Jungkook jamin tubuhnya tidak akan mudah ditemukan. Ck. Dramatis.

BTW, ini sudah pukul empat lebih empat puluh lima menit, dimana seluruh warga sekolah elit ini sudah membubarkan diri sejak sepuluh menit yang lalu. Dan tepat sore ini dirinya akan mempertaruhkan seluruh hidup dan matinya untuk permainan konyol yang – bodohnya! – sudah ia sepakati dengan seorang saiko sinting macam Ji Taehyung.

Jungkook terdiam. Speechless lebih tepatnya. Memandang takjub sekaligus nervous pada seratus pemuda bertopeng badut di depannya. Sepanjang ia memasuki pekarangan mall bekas ini dirinya sudah disambut 'hangat' oleh tampang seram mereka.

Great!

Cerdiknya mereka, menutupi identitas dengan topeng badut bak monster! Cih, aku dijebak!

"Yo, Jungkook!" Empat orang pemuda berjalan melewati kerumunan 'manusia badut' dan berdiri paling depan, menghadap padanya.

Jungkook menatap sosok Taehyung yang kini menggunakan topeng Joker dengan bibir yang lebar juga merah – semerah darah. Dari sebelah kiri Taehyung, ada seorang pemuda mungil dengan topeng Chains tengah memegang tongkat baseball. Disebelah kanannya ada dua pemuda dengan topeng Clown dan keduanya paling jangkung dari dua pemuda lainnya.

"WAHH~ Kau sendirian? Sungguh?" Taehyung tak habis pikir, hebat juga nyalinya.

"Memang kenapa? Kau pasti menganggap ini lucu, tapi sayangnya aku tidak takut padamu." Bohong! Padahal sudah ketar-ketir dari tadi. Jungkook menatap Taehyung datar, hebatnya si Jungkook ini malah memasang wajah angkuh yang luar biasa sexy. Kkekeke..

Taehyung terkekeh, "Kau mengujiku, ya kan? Kau ingin aku mengubah sistem permainan kita?"

"Bagaimana kalau satu lawan satu? Itu terdengar lebih gentle man dibanding main keroyokan.." Aku malah terdengar seperti anak mamih. Pengecut! Jungkook tak melepas pandangannya pada sosok bersurai red chili di depannya.

"Sudah kuduga.. kau hanya mempermainkan kita. Dasar kelinci gagal!" Baekhyun menggerutu kesal, bibirnya mengerucut ke depan.

Sebelah alis Jungkook berkedut, hinaan macam apa yang si pendek Chains itu lontarkan barusan? Kelinci gagal? Hah?

Jungkook benci mamalia imut itu.

"Bagaimana Taehyung? Setuju?" Tanya Jungkook mencoba tak acuh.

Taehyung bersmirk ria, pemuda itu maju selangkah dengan kedua tangan yang bertolak pingang, sangat terlihat arrogant. Namun di mata Jungkook itu terlihat lucu. Taehyung memiringkan kepalanya tanda anak itu tengah berpikir namun terkesan main-main.

"Aku menunggumu, Joker.."

"Oke! Kau.." Telunjuk milik Taehyung menunjuk Jungkook. "Akan kalah di tanganku."

Cih..

Jungkook mendecih sinis.

"AAKHH! TAEHYUNG SIALAN!"

Teriakan seorang gadis berhasil membuat seluruh manusia gangster di sekitarnya berjengit kaget. Termasuk Jungkook dan Taehyung. Jungkook membelalakan matanya tak percaya kala ia mendapatkan seorang gadis bertopeng Jabbawockeez baru saja melompat turun dari tumpukkan packingan angkur. Dari cara gadis itu berjalan juga sudah Jungkook pastikan sosok itu sedang marah.

"Sialan kau Taehyung. Beraninya ambil keputusan sendiri! Kau pikir buat apa aku kemari?!" Kalau bukan karena Chanyeol dan Hyunwoo, sudah pasti kepala Taehyung jadi korban pukulan gadis itu.

"Tenanglah bitch! Kau mengagetkanku!" Seru Taehyung sebal. Mengundang lirikan dari Jungkook.

"Kau menjanjikanku seratus kepala untuk kuhajar sore ini! Tapi mana?! Kenapa hanya satu?! Tampan pula!?"

Taehyung memutar bola matanya jengah. Jungkook menganga tidak percaya.

"Dasar wanita!" Taehyung kembali memfokuskan dirinya pada Jungkook yang masih mematung. Seringainya menjadi. "Entahlah Jungkook. Aku rasa… idemu sangatlah bukan aku sekali~" Taehyung terkekeh namun detik selanjutnya kekehannya berhenti berganti dengan tampangnya yang menatap Jungkook dengan sinis.

"Aku rasa otakmu perlu diperbaiki Kook. Bagaimana bisa kau masuk kandang singa seorang diri?"

Jungkook menelan ludahnya susah payah. Betapa bodohnya ia berpikir bahwa Taehyung dapat bernegosiasi dengannya begitu saja. Ini buruk. Jungkook meneliti sekelilingnya, tak ada celah! Walau tidak kentara namun Jungkook merasa puluhan manusia topeng itu kini mulai mendekatinya.

"Baiklah! Aku rubah sistem permainannya!" Seru Taehyung.

"Kau!" Taehyung menunjuk Jungkook. Jungkook menegang.

"Jadi tikus!"

Jungkook menggigit bibirnya kaku.

"Dan kita semua…" Taehyung menatap sekelilingnya. "Akan menjadi kucing yang kelaparan.."

Jungkook menggeram marah. "Kau mau memburuku?"

"Sebaiknya kau segera bersembunyi.."

Jungkook menatap sekelilingnya, tubuhnya yang berkeringat juga wajahnya menegang sudah jelas menandakan bahwa sosok pangeran kita ini tengah dilanda ketakutan walau itu tidak begitu kentara. Dengan perasaan yang campur aduk kaki jenjang milik Jungkook dengan segera berlari sekencang yang ia bisa. Hingga suara lantang Taehyung dan seruan puluhan manusia sukses membuatnya semakin mempercepat laju larinya.

"MARI KITA BERBURUU!"

Mati aku!

.

.

.

.

.

See ya next chapter››

Author's note:

Selamat sore semuanya.. author pemalas ini akhirnya update Chapter 2nya ANOMALI. Maaf atas keterlambatanku ini, huks.. Gak bisa nyalahin kehidupan RLku yang serba sibuk, akunya aja yang ga bisa bagi waktu antara RL dan FF ini.. wkwkwk.. dan entah kenapa tiba-tiba aku jadi ga pede chapter 2 ini. Khawatir kalian malah jadi bosen.. :'(

Gimana menurut kalian sama kelanjutannya? Panjang banget yaa?

Ahahah emang iya, ini udah 29 halaman lhoo.. dan jari aku rasanya ga bisa berenti ngetik. Sebenernya aku berencana ngecut ceritanya bukan di sini. Tapi… kalo tetep lanjut sesuai target ceritanya ga bakal ada akhirnya.. mungkin chapter depan gakan sepanjang dan serumit ini. Cerita intinya sebenernya bukan ini. Mungkin… chapter depan kita udah bisa liat cerita intinya wkwkwk..

Maaf atas ceritanya yang bikin pusing kalian.. ^^

Sooo~ Thanks a lot for your attention guys.. I love you so much much much moreehh~ kkekeke

Sebagai tanda terima kasih aku mau bales review kalian^^:

- vanillatae: Duhh, chinguu kata siapa kamu telat review? KAMU YANG PERTAMA UNTUK YANG KEDUA KALINYAA, HORAYY~ xD /aku kecup pipinya/plak..

- vanillatae: Makacihh udah suka sama chapter 1nya. Entahlah kamu suka chapter 2nya tao ga? Menurut kamu gimana sama chapter ini? Kkekeke..

- hyejoon: Iyaa horeee ada mas kookie~! Maaf yaa di chapter 1 mas kookienya dikit seiprit pula wkwk.. tapi entah deh di chapter ini menurut kamu, wkwk.. makasih yoo udah semangatin aku, emang itu yang bikin aku terus lanjutin ff abal-abal ini ehheh~ /nangis terhura/plakk

- MelvyE: Ahahahahah~ kamu hewir sekali nak! I like that~ /nari bareng sistar/plakk.. komanya namjoon masih berlanjut lhoo, kkekek.. entah kenapa aku seneng banget bikin Namjoon bobo ganteng di ff ini ehe~ /ditendang readers/ Duhh, gimana ya aku jawabnya ahaha.. kamu terlalu kepo yaa,, soalnya semua yg kamu itu rencananya bakal aku rahasiain sampe ffnya end kkekek~ yang sabar ya chinguu xD

- Hatsumi piyopiyo: AKKH AMPUUN~ ampun baru update chapter 2nyaa~ Eottae? Sukakah? Emang sengaja bahasanya dicampuraduk biar bacanya maupun saat menulisnya ngga sulit eheheh~

- egatoti: Sayang banget tebakan kamu salah, itu bukan mas kookie. Tapi tebakan terakhir itu memang betul ehehe~ his murderer hihihi..

- 7D: Namjoon memang ada apa-apa lhoo.. cuman jawabannya bukan di chapter ini wkwk.. makasih udah review yaa..

- princeRathena: PLISS jangan peluk guee.. sapo loee! Eits becanda deng kakakku yang cantekhh /muntah oli/plakk

- princeRathena: Udah dilanjut khakha~ pliss review yee.. ehehehe~

- Y BigProb : Jadi ceritanya mereka mau nonton adegan sexnya Hunkai. Cuman karena ada pembajakan, jadi yang muncul adegan sex sepupunya sama salah satu temen Taetae dan itu alasan knp mas kuki teriakin nama taetae ehehe.. maaf kalo alurnya ngga jelas begitu /peluk kamu../plakk

- Clarissa Kim: errr.. kasih tau ga yaaa.. aku biasanya makan dedaknya ayam punya emak Uu di empangan jadi bisa bikin ff ini wkwkwk.. becanda dengg.. nggalah, mamamku sama kok sama kamu~ xD udah aku lanjut chinguu. Eottae? Sukakah?

- ByunMphii: Ugghh.. makasih udah review~ udah aku lanjut inii.. gimana menurut kamuuu chinguu?

- Baby'Alien Kim TaeTae: Maaf udah bikin kamu nunggu lamaaa… aku udah lanjutin nihh, gimana menurut kamu chinguu? xD

- jjkkth4: Penjelasannya udah aku jelasin di komennya Y BigProb.. kamu ngga lambat kok say.. akunya aja yang kurang detail bikin alurnya ehehe.. mian yooo~ saranghaee~ /kasih ppoppo/plakk

- Guest100: Maaf eohh, udah bikin kamu nunggu.. udah aku lanjut nih ffnya. Tapi entah deh scene KookV di sini bisa disebut moment ato ngga kkekeke..

.

.

Sekian, terima kasih chingu-deul..