.

Present

ANOMALI

.

Cast:

.Taehyung and Jungkook.

And

.Other cast.

Genre: romance, fantasy, humor, triler, family

Warning:

Typo, tidak sesuai EYD (kadang formal-kadang banmal), romennya membuat anda kejang-kejang,mual dan naik pitam. Bila sakit kepala, konsumsi obat-obatan di sekitar anda. Terimakasih..

.

.

*Happy Reading*

.

.

Hello.03.

.

Jungkook menatap lembaran kelulusannya dengan senyum tipis yang mempesona. Pikirannya melayang pada kedua orang tuanya di rumah yang pasti akan memeluknya penuh kebanggaan. Jungkook harus segera pulang dan memberi tahu Ibu dan Ayahnya soal ini. Di sepanjang jalan menuju halaman sekolah senyum manis itu tidak luntur dari bibir tipisnya.

"Hei! Jungkook!"

Merasa namanya dipanggil, sosok tampan itu menoleh ke arah asal suara. Senyum tipis itu mengembang lebih cerah, "Hai Jim! Eh, selamat Siang Aunty.."

Wanita yang dipanggil Aunty itu mengusak surai lembut sahabat anaknya, "Wahh, hampir sebulan tidak bertemu Jungkook, kau semakin tinggi ya.."

Jungkook tersenyum bangga. Jimin merengut ingin protes. "Aku juga bertambah tinggi kok!"

Ketiganya tertawa lepas mendengar penuturan Jimin yang mulai terdengar manja dan menggelikan. Dasar anak mamih!

"Oh ya, dimana Tuan dan Nyoya Jeon?"

Jungkook terdiam. Seketika senyum manisnya berubah kaku.

"Err, apa kali ini mereka tidak datang lagi?" Tanya Jimin ragu-ragu.

Jungkook mengangguk pelan, pemuda itu tersenyum getir.

"Padahal ini hari kelulusanmu. Kenapa bisa begitu..."

Jungkook adalah anak tunggal dari Keluarga Jeon. Ayahnya Jungkook adalah seorang pejabat Negara dan Ibunya seorang wanita karier yang tentunya punya segudang aktivitas. Memang sudah takdirnya Jungkook kalau ia tidak bisa merayakan hari bahagianya bersama kedua orangtuanya sejak ia berumur belia.

Jimin selalu merasa simpati pada sahabatnya ini, namun ia enggan untuk mengekpresikannya lantaran ia juga masih mempertimbangkan perasaan Jungkook yang mungkin bisa saja sahabatnya ini merasa ternganggu. Jungkook 'kan punya harga diri yang tinggi.

"Yahh, mau bagaimana lagi, itu semua untuk Jungkook juga 'kan. Aunty juga sering meninggalkan Jimin sendirian. Asal kau tahu saja, semua orang tua di dunia ini tidak akan pernah senang jika harus pergi lama meninggalkan anak-anaknya." Mama Jimin tersenyum hangat. Dengan sayang, wanita umur 40 tahunan ini mengelus surai lembut Jungkook, membuat senyum Jungkook yang sempat padam kembali merekah senang.

Dan Jimin merasa sangat simpati pada sahabatnya ini.

"Ayo pulang. Biar Aunty antar kamu sampai rumah."

Jungkook mengangguk patuh. Dirangkulnya pundak lebarnya oleh Jimin.

.

.

Senyum Jungkook luntur seketika saat dirinya sampai di rumah. Sesampainya ia di depan pintu mansionnya ia berpapasan dengan Ibunya yang membawa dua koper besar di kedua tangannya tanpa sepatah katapun. Jungkook sampai mengira bahwa sosok wanita itu adalah orang lain lantaran tak ada senyum ataupun pelukkan hangat selamat datang yang biasa ia terima.

Jungkook mencoba mengejar wanita itu namun lengannya dengan kasar ditahan oleh Ayahnya, menariknya masuk rumah megah itu dan menguncinya. Kalimat yang didengarnya saat itu bukanlah penjelasan atas apa yang ia lihat namun beberapa patah kata yang sukses membuatnya bisa menyimpulkan bahwa keluarga yang dicintainya hancur tak bersisa.

"Mulai sekarang kau tinggal bersamaku dan warisilah kutukan ini bersamamu! Kelak kau harus mendampingi Presiden, seperti Jeon Ji Hyun* dan aku.."

.

.

"Kau masuk kelas apa?"—Jimin.

"Kelas X-1. Kau?"—Jungkook.

"Aku juga.. kalau kalian?"

Zelo mengangguk.

"Aku satu kelas dengan Yugyeom."—Minhyuk.

"Kelas X-2.." —Yugyeom.

"Ohh.." —Jungkook dan Jimin.

"Setidaknya kelas kita sebelahan. Jangan lupa makan siang nanti kita harus bersama-sama ya.." Ujar Jimin mengingatkan. Keempat sahabatnya mengangguk setuju.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 08.55 pagi, kegiatan pengenalan Yayasan sudah di mulai sejak satu jam yang lalu dan Bang Si Hyuk selaku Kepala Sekolah sekaligus pemilik Yayasan Bighit Institution baru saja menyelesaikan pidato penyambutannya untuk para siswa. Sejak dirinya berdiri dan memulai pidatonya hazelnya tidak lepas dari lima pemuda jajaran paling belakang yang sedari tadi mengabaikannya di atas mimbar dan asyik mengobrol. Tak mau menginterupsi, sosok tua itu terus memperhatikan lima bocah tersebut dari kursi VVIP.

"Pokoknya kita tidak boleh sampai berpencar. Nanti bisa dimangsa ARMY, hiyy.." Ucap Zelo dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

Jimin berdecak, "Kenapa harus takut sih. Mereka cuman pelajar biasa. Sama seperti kita. Langsung lapor guru BK. Selesai."

"Aku pernah dengar, mereka sangat sulit dikenali identitasnya." Ujar Yugyeom dengan raut wajah ragu.

Zelo menepuk jarinya sekali. Heboh. Mengagetkan orang-orang di sekitarnya. "Exactly! Kerennya mereka, selalu menggunakan apapun untuk menutupi wajah. Mereka selalu memakai pakaian serba hitam."

Minhyuk mengerutkan keningnya, "Mereka melakukan kekacauan di luar sekolah?"

Kembali Zelo menepuk jarinya, kali ini agak sedikit lantang. "Exactly! Exactly Minhyuk! Dan kabarnya hampir seluruh anggotanya berada di sekolah ini. Dan kalau kita cari gara-gara dengan mereka, kita pasti habis di luar sana."

"Pengecut.."

"Sstt..! Jungkook jaga bicaramu!"—Minhyuk.

"Kook jangan bicara sembarangan ah! Nanti kalau ada yang dengar mati kau."

"Hah, I don't care.." Acuh Jungkook.

"Lagipula aku tidak akan mati sendiri.." Jungkook memeletkan lidahnya, membuat keempat temannya jengkel.

.

"Aku rasa mereka keren."

.

Jungkook dkk langsung menghentikan kegiatan mereka detik itu juga kala mendengar suara asing dari belakang mereka. Zelo lebih dulu meringis. Disusul Minhyuk yang menepuk bibirnya berulang-ulang juga Yugyeom yang dengan refleknya menyikut perut Jimin yang ada di sampingnya. Jungkook menoleh ke arah belakang secara spontan berbeda dengan Jimin yang menoleh kaku.

Terlihat pemuda berwajah manis tengah tersenyum dengan mata yang menyipit lucu. Surainya yang berkilau terang sukses membuat Jimin dan Jungkook silau. Omong-omong, maksudnya terang di sini karena warna mencolok dari rambut pemuda itu. Rambut semerah cabai, bibir tebalnya yang berbentuk kotak, pipi yang merona, hidung mancung dengan tahi lalat kecil di ujungnya cukup membuat Jungkook terpana beberapa detik. Terlebih senyum lebar itu, sangat amat manis.

Sayangnya, menurut Jimin senyum manis pemuda itu bukanlah senyum terbaik di matanya. Malah terkesan ngeri dan horror, ditambah emblem dengan dua bintang itu cukup menyita perhatiannya. Jimin mencicit, "Maaf sunbae kalau kami berisik.."

Pemuda yang disebut sunbae itu terkekeh, "Tak apa. Lagipula aku cukup tertarik dengan obrolan kalian."

Alis Zelo mengkerut, "Seberisik itukah kita?"

"Menurut kalian bagaimana? Sejak kalian sibuk mendiskusikan sesuatu, sejak itu juga 'Tuan Beruang' Bang memperhatikan kalian dengan sangaat~ intens." Jawab si sunbae, senyumnya tak pernah luntur.

Gawat.

Baru juga masuk sekolah, mereka sudah dapat 'semburan hangat' dari seniornya. Sialnya mereka.

.

.

.

Onyx Jungkook membola sempurna, terkejut dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya yang bulat.

Ia masih ingat dengan jelas, sunbae yang menyapa mereka saat berlangsungnya pengenalan sekolah baru mereka. Kini pemuda bersurai red chili itu tengah memukuli seseorang.

Dengan brutal.

Kasar.

Dan tak pandang bulu.

Sampai bonyok.

Dan Jungkook tak bisa berkutik. Matanya secara otomatis merekam kejadian itu.

BRAKK..

"Kenapa? Kau takut jika aku membocorkan siapa sosok dibalik topeng Joker?!" Sosok itu terkekeh.

BUGHH!

"Akhh! Sialan kau!"

BRAKK..!

"Hentikan Tae!" Terlihat seseorang berlari tunggang langgang ke arah dua pemuda yang tengah berkelahi itu.

"Minggir Namjoon! Jangan lindungi si keparat itu!"

"Cukup Tae—haissh! Yak!"

BUGHH..

"Rasakan ini penghianat!"

Namjoon menarik lengan Taehyung kasar. Taehyung meronta. "Kau tau akibat dari perbuatanmu ini nanti? HAH?!"

BUGHH..

"Rasakan!"

"Kau bisa dapat SP lagi kalau begini!" Namjoon kembali menarik Taehyung.

"Tapi dia sudah membuatku marah! Dan penghianat tidak layak hidup!" Taehyung terus meronta, kaki rampingnya berhasil menendang pipi pemuda tak berdaya tersebut.

"Dan kelakuanmu ini sangat merepotkanku!" Seru pemuda bernama Namjoon itu. "Dia bisa mati, Bodoh!" Direngkuhnya tubuh kurus temannya. Jungkook menajamkan penglihatan dan pendengarannya, melihat warna terang dari surai si pemukul tentu Jungkook hapal betul sosok pemukul itu adalah seniornya waktu itu. Siapa tadi namanya? Taegung? Jigoong? Hah, siapa ya?

"A-aku.. hah.. tidak akan membiarkanmu dan ARMY—uhuk!" Seru pemuda bersurai caramel itu. "Kalian perusak! Kalian hama!"

Taehyung melotot marah. Namjoon menggertakkan giginya menahan marah. "Kalau kami hama. Kau lebih rendah dan kotor dari itu!" Hardik Namjoon tajam.

Taehyung siap meluncurkan bogemannya namun Namjoon lebih cepat bergerak. Dengan mengerahkan setengah tenaganya, Namjoon menyeret paksa tubuh yang lebih kecil darinya itu dengan kasar namun masih manusiawi – menurut Namjoon. "Cukup! Kita pulang!"

Taehyung melotot tak terima. "A-Apa-apaan kau—!"

"Ini area sekolah. Kita bisa habisi dia nanti malam."

Taehyung menatap lurus sosok pemuda yang terduduk lemas diujung taman. Dagunya terangkat arrogant. Tatapannya menajam. Masih tidak terima karena diseret sahabatnya, pemuda bersurai red chili itu akhirnya melepaskan diri. Taehyung berbalik membelakangi pemuda lemah tersebut. Satu lengannya terangkat, dua jarinya membentuk 'Victory' dan berakhir dengan jempolnya yang menunjuk kebawah.

Jungkook terpaku. Tatapannya tak lepas dari isyarat merendahkan itu. Tak menunggu lama, pemuda tampan itu berlari menghampiri kakak kelasnya yang makin melemas.

"S-Sunbae.. kau baik-baik saja?" Jungkook menghampirinya panik.

Pemuda itu menatap sosok Jungkook kaget. Alisnya kian mengerut menahan sakit di tubuhnya.

"Ya Tuhan, bagaimana bisa dia melakukan ini padamu?" Jungkook berusaha membopong sang sunbae.

"Ugh.. kau pasti melihat semuanya—Ohokk!"

"Maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Jungkook merigis. "Aku terlalu kaget.."

"Tidak masalah. Sshh.. setelah ini Taehyung dan kelompok sialannya itu pasti memburuku."

"Maaf?"

"Kau pasti siswa baru."

Jungkook mengangguk.

"Berhati-hatilah. Sikap dan perilakumu diperhatikan di sini."

Jungkook tersenyum miring.

"Oh ya, terima kasih bantuannya. Kenalkan, aku Yoon Jeong Han.."

Jungkook tersenyum. "Namaku, Jeon Jungkook sunbae.."

.

.

.

.

06.10 pm. [54-d before accident]

Jungkook menghembuskan nafasnya kasar. Hazelnya memindai setiap bangunan di sekitarnya. Pemuda itu mengusap keringat yang terus mengaliri pelipisnya. Jantungnya berdegub kencang dan suhu tubuhnya meningkat drastis.

Jungkook bersembunyi dibalik tembok sebuah ruangan luas, dimana ruangan itu gelap dan bau besi. Jungkook mengusak rambutnya gusar. Meratapi dirinya yang terlihat begitu tak berdaya. Merasa diremehkan. Dan jelas sekali ia tidak bisa menerima keadaanya yang seperti ini. Apalagi jika kenyataan pahit harus menyapanya, misalnya mati muda?

Jungkook menggerutu. Ia tidak bisa tinggal diam. Otaknya yang cerdas dan jenius mendadak tak berfungsi dan malah menjadikannya tolol dalam beberapa detik. Satu-satunya ide dalam otaknya adalah 'dirinya harus segera kabur dari tempat laknat ini, bagaimanapun caranya.' Lompat lantai kalau perlu.

Ah, tidak tidak.

Ia masih sayang nyawanya dibanding harta kekayaan Ayahnya yang banyak. Lha? Serius? Lagipula, Jungkook itu meskipun jenius jiwanya tetaplah jiwa anak-anak penuh kebebasan, senang menghirup udara korea yang penuh dengan asap rokok dan kenal pot, sex dan minuman tentu sudah lumrah dan malah kebutuhan hidupnya. Mana bisa Jungkook mati di tempat bau besi begini.

Cih. Tak sudi.

Jungkook keluar dari persembunyiannya. Kakinya yang kokoh penuh otot itu berjalan perlahan atau mengendap-endap atau apalah yang sebisa mungkin tidak menghasilkan suara. Onyxnya memindai penuh kewaspadaan. Namun takdir berkata lain, keadaan Jungkook sekarang ini bagaikan tikus yang terjebak dalam kandang pemangsanya. Kemanapun Jungkook berada, di situ pasti ada anak buah si sialan Taehyung.

Shit!

Jungkook berlari sekuat tenaga, kakinya menaiki tangga beton menuju lantai 10 – kalau Jungkook tidak salah hitung. Sudah hampir dua jam dirinya berlari, bersembunyi – untuk sekedar menata nafasnya – sebentar dan lanjut berlari lagi. Dan hebatnya, kemanapun ia berdiri anak buah Taehyung selalu menyambutnya dengan kejaran dan tawa membahana. Jungkook merinding jadinya.

Hingga tenaganya berkurang dan kaki penuh otot itu pun mulai lelah untuk menaiki tangga menuju lantai 11. Jungkook meringis saat dirasanya otot kakinya menegang alias kram. Akhirnya pemuda tampan itu berlari dengan tertatih, diselingi dengan jalan perlahan lantaran kaki kirinya yang semakin terasa sakit.

Jungkook memasuki ruangan kecil di ujung bangunan. Bersembunyi di balik tembok yang membentuk L, pemuda itu kembali mengatur nafasnya yang mulai berantakan. Penglihatannya memandang langit yang mulai menggelap lewat tembok yang sudah rontok. Jungkook mengurut kakinya perlahan dan mulutnya mengumpat begitu tahu betapa kaku otot kakinya. Yang benar saja, Jungkook tentunya tidak sempat berpikir untuk melakukan stretching sebelum kemari.

Teng! Teng!

Jungkook terdiam. Terdengar suara dari arah belakangnya walau terdengar cukup jauh darinya. Pemuda itu hendak bangkit namun tubuhnya sudah menolak untuk itu, kaki kirinya semakin nyeri membuatnya meringis pelan.

"Yoo~ Jungkook-sshi!"

Itu suara Taehyung.

Jungkook menahan nafasnya refleks, pemuda itu menekuk kedua kakinya supaya tidak ketahuan. Hazelnya bergerak waspada. Menelan ludah pun rasanya sulit Jungkook lakukan.

"Aku tahu kau bersembunyi di sini." Taehyung terkekeh. "Dan aku rasa kau juga sudah kelelahan.."

.

Teng!

Teng!

.

Suara besi yang diberadu pada beton cukup mengganggu pendengaran siapapun. Termasuk Jungkook.

Suara pentungan besi? Jungkook membatin.

"Aku beri kau pilihan saja kalau begitu.." Taehyung berjalan perlahan-lahan.

Onyxnya mengarah pada ruangan kecil di depannya. Dengan pentungan besi ditangannya, pemuda itu terus-menerus membuat suara beradu yang cukup berisik. "Pilihan pertama, keluar dari persembunyianmu dan menyerah. Mungkin aku bisa beri ampun setidaknya tidak sampai mati, mungkin.."

Tidak meyakinkan.. bantin Jungkook.

"Atau kau mau pilihan kedua? Tapi, kau tidak mungkin suka jika mendengarnya.. hmm, karena jika kau tidak mau menyerah, aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya seperti serangga yang terinjak..." Taehyung semakin dekat dengan tembok persembunyian Jungkook.

"Tapi, aku tidak akan membiarkanmu memilih sebenarnya..." Taehyung terkekeh.

"Itu hanya basa-basi.."Lanjut Taehyung. Pemuda itu sudah di balik tembok persembunyian Jungkook. Taehyung menyeringai, suara nafas Jungkook yang menderu saja bisa ia dengar dari sini.

Jungkook menegang. Keringat dingin mengucur dari keningnya. Dikepalnya kedua tangan itu hingga memutih. Suara kekehan Taehyung yang begitu nyaring cukup membuat Jungkook khawatir. Hingga...

.

Tengg...

.

"Karena aku menemukanmu.."

Jungkook terlonjak dan membelalakan matanya. Tatapan Taehyung yang dingin dan datar menjadi pandangan terakhirnya, detik itu juga pandangan Jungkook menghitam.

.

.

.

.

.

Jungkook menatap datar pada keributan yang dibuat beberapa teman dan sahabatnya yang kini tengah melakukan permainan truth or dare di kamarnya yang besar dan mewah. Jeritan Minhyuk yang memekakan telinga juga bagaimana dua teman wanitanya yang sudah tak berpakaian utuh.

Jungkook mengurut alisnya, pening menyerangnya karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Jungkook berjalan sempoyongan ke arah segerombolan manusia 'bar-bar' di depannya lalu duduk diantara Minhyuk dan Zelo.

"Hya! Jungkook kena kau!" Jerit Jimin, Bora dan Zelo bersamaan.

Yugyeom tertawa, "Moncong botol saja mau sama Jungkook kita~" Guraunya, ngaco.

"Ha! Pilih truth or dare?"—Jimin.

Jungkook menggeleng kencang. "Aku tidak mau!"

"Tidak bisa! Sudah kepalang nimbrung, jadi kau dipaksa untuk memilih." —Minhyuk.

"Yak! Truth or dare?!" Seru Jimin.

"DARE!"

"Ahahaha... anak ini memang tidak kenal takut ya..?" —Jimin.

"Tentu saja. Karena dia sepupukuu~" Minhyuk yang sudah teler memeluk Jungkook.

Yugyeom menarik paksa tubuh ramping Minhyuk. Sehingga sahabatnya itu duduk dengan tidak etis dipangkuannya. Pemuda jangkung itu lantas memeluk Minhyuk. "Peluk aku sajaa.. Jungkook bukan anak kecil lagi!"

Melihat adegan manja Yugyeom yang jarang terjadi membuat heboh ruangan mewah tersebut. Tawa Jimin dkk membahana, membuat Jungkook risih.

"Baiklah, Jim. Apa yang kau inginkan dariku? Wanita? Mobil? Apartemen mewah? Atau kau ingin jadi anak ayahku?"

Jimin bangkit guna menoyor kepala Jungkook, "Mana sudi aku jadi anak ayahmu!"

"Jimin tidak suka wanita, kau ingat?" Sergah Eun Bi, mengingatkan.

"Dia cinta mati sama penis Hyungnya.." Sambung Bora sarkas.

"Sudahlahh~ itu kenyataannya! Jadi kalian berdua tidak usah mengharap apa-apa dariku, oke?"

"Jungkook! Belikan aku jajanan yang dipinggir jalan sana! Belikan kami semua yaa.." Lanjut Jimin.

"Aku mau Pa Jun!" Seru Bora.

"Aku juga.." —Eun Bi.

"Hotteok! Bbopki!" —Zelo.

"Apa sajalah. Jadi sebaiknya kau pergi belikan kami itu.."

"Makanan apa itu? Aku tidak tahu!"

"Jangan pakai mobil! Jalan kaki saja, call?"

"Sinting!"

"Jungkook. Language!" Hardik Minhyuk.

Dengan berat kepala, akhirnya Jungkook angkat kaki dari mansion mewahnya.

.

.

Jungkook menyeret kaki jenjangnya menuju mansion dengan menenteng dua kantong keresek penuh pa jun dan hotteok. Pemuda itu berbelok saat melewati gang yang tidak terlalu besar di depannya. Hingga seseorang tanpa sengaja menabraknya karena berselisih jalan, membuat dua kantong berisi makanan itu jatuh berserakan.

Jungkook mengaduh.

"M-maaf! A-akhh.. kakiku.." Sosok itu meringis kesakitan. Dan sukses mengalihkan perhatian Jungkook dari jajanannya.

"Yoon Jeong Han sunbae?"

Pemuda yang kini dibopong Jungkook mengerutkan alisnya, merasa tidak asing dengan pemuda tampan yang membantunya.

"Jungkook. Jeon Jungkook.."

"O,oh.. aku harus pergi Jungkook. Terima kasih sudah membantuku."

Jungkook hendak menahan sang sunbae namun diurungkannya niat itu. Onyxnya menatap kepergian sunbaenya itu penuh curiga. Otaknya yang cerdas menyuruhnya untuk berjalan mengikuti Jeong Han.

Udara yang dingin rasanya membuat persendian Jungkook ngilu. Ditambah kurangnya cahaya di sepanjang jalan dan suasana yang sepi berhasil menciptakan kengerian sendiri buat Jungkook. Pikirannya jadi membayangkan cerita pembunuhan yang pernah ditontonnya dulu.

Pemuda bersurai gelap itu bersembunyi dibalik tembok saat tiba-tiba seniornya itu menghentikan langkahnya dan memegang sebelah kakinya yang terasa sakit. Ketika hendak menolongnya, suara melengking berhasil membuatnya mengurungkan kembali niatnya tersebut.

Ngiiiiiiingggggg...

Jungkook menutup kedua telinganya dan berbalik.

Terlihat siluet seseorang di ujung jalan sana. Sebelah tangannya mengacungkan sebuah flare gun –bentuknya seperti pistol dengan mocong pendek. Dan sebuah pentungan digenggam di sebelah tangannya.

Dengan perasaan takut, Jeong Han berlari tunggang langgang dari sosok itu. Jungkook yang melihat siluet itu berlari mengikuti Jeong Han dengan segera ikut menyusul keduanya. Perasaan Jungkook tidak enak tentang hal ini.

.

.

"Heol, ada tikus kecil yang menyusup ternyata.."

Jungkook yang tengah mengintip dari balik tumpukan mobil bekas terlonjak kaget. Dengan sigap Jungkook menyikut sosok asing dibelakangnya. Tanpa di duga sosok asing itu menahannya tak kalah sigap. Hingga sesuatu yang tumpul namun berat menghantam belakang lehernya telak.

Penglihatan Jungkook memburam walau tidak sepenuhnya pemuda itu pingsan, karena Jungkook merasa beberapa orang menyeretnya kasar entah kemana.

.

.

.

BUGHH..

BUGHHH..

"Ack!"

"Hentikan, brengsek!"

.

BUGHH..

.

Ohokk..

Jungkook terbatuk saat tendangan demi tendangan menghantam perut dan dadanya tanpa ampun. Jeong Han terus menerus meneriaki dan memaki si pemukul. Sampai beberapa menit kemudian sosok pemukul itu menghentikan hantamannya pada Jungkook.

"Benar anak ini bukan suruhanmu?"

"Aku bilang aku tidak mengenalnya!"

Sosok bertopeng Joker itu memiringkan kepalanya tampak berpikir.

"Aku bersumpah! Dia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Jadi.." Jeong Han melirik Jungkook yang lemas tak berdaya. "...lepaskan dia."

Si Joker terkekeh geli, "Bagaimana ini.. aku seperti sosok antagonis dalam sebuah drama. Ckck.. Jeong Han, kau kira aku tidak tahu kalau kau berbohong padaku? Aku bisa lihat matamu mengatakan sebaliknya.."

"Kalau kau pintar, tentu tahu kalau mata tidak bisa bicara!"

Si Joker menggeleng, "Tidak. Matamu bicara padaku kalau kalian pernah bertemu sebelumnya. Mungkin kalian pernah berbincang sekali."

.

Jeong Han menelan ludahnya kesusahan.

.

Tubuh si Joker menegak pertanda sosok itu serius dengan ucapannya. "Sepertinya anak ini tahu sesuatu tentang kita. Benar begitu, penghianat?"

Jungkook bangkit dari duduknya. Walau terlihat kesakitan pemuda tampan itu berjalan perlahan ke arah si Joker. Matanya yang merah dan berair menatap marah si Joker. Keduanya saling pandang. Sosok dibalik topeng Joker itu memiringkan kepalanya bingung.

"Wae―?"

BUGHH...

Tanpa tedeng aling-aling Jungkook memukul telak sosok dibalik topeng Joker itu hingga terjatuh. Dua anak buahnya yang sedari tadi menonton itu dengan harmonis kini mulai bergerak menahan Jungkook yang mengamuk.

Pemuda pendek bertopeng Chains terjatuh oleh pukulan Jungkook di perutnya dan langsung diserang Jeong Han dengan membabi buta. Pemuda bertubuh jangkung dengan topeng Clown segera membantu rekan satu gengnya – si Chains.

Jungkook menduduki sosok bertopeng Joker dan terus memukuli wajah sosok itu. Seperti mati rasa, punggung Jungkook yang terus menerus dihantam oleh pemukul baseball – oleh sosok bertopeng Clown – tidak mematahkan niatnya untuk terus memukul si Joker dibawahnya ini. Hingga topeng itu terlepas dan menampilkan wajah rupawan pemilik topeng musuh batman itu.

Keduanya bertatapan dan sangat jelas bahwa keduanya sangat terkejut bukan main. Sosok Joker itu mendecih saat merasa bibirnya berdarah. Jungkook tergugu dan menatap sosok manis dibawahnya dengan pandangan tidak percaya.

Dia..

Ketua geng ARMY..?

"K-kau.."

"Tae! Topengmu!"

BUGGHHH..

Hantaman keras mengenai bagian kepala Jungkook, membuat pemuda itu terhempas cukup jauh dan tergelak tak berdaya di atas tanah. Jeong Han yang sudah babak belur diseret sosok jangkung bertopeng Clown dan meletakkannya disamping Jungkook.

Terdengar samar-samar langkah kaki dari jauh, sekitar dua orang. Kini jumlah gengster sialan itu bertambah menjadi lima orang. Jungkook melirik Jeong Han. Kakak kelas itu jelas pingsan.

"Wahh.. apa yang kalian lakukan pada bocah asing ini?"

"Dia penguntit. Aku rasa komplotan si Jeonghan."

"Baek, kau gesit seperti biasanya.."

"Jadi, kalian bertiga menghabisinya? Lihat, kepalanya bocor."

"Tentu saja! Kalau bukan Chanyeol yang memukulnya, dia pasti ketahuan."

"Lagipula kalian dari mana saja sih?"

"Hyunwoo dan aku mencari si keparat Jeong Han sampai ke distrik Jung, kalau mau tahu. Kami kemari karena melihat asap hijau dari Taehyung."

Akhirnya, kelima gangster itu pergi meninggalkan dua pemuda yang tergeletak tak berdaya dihadapan mereka begitu saja. Tanpa rasa iba sedikitpun.

Jungkook menitikan air matanya tanpa sadar. Ya ampun, kepalanya bocor..

.

Apa aku akan mati?

.

Sekelebat bayangan pemuda bersurai red chili yang tersenyum manis padanya di hari pengenalan sekolah tempo hari memenuhi pikirannya.

Jungkook mendecih sinis.

.

Oh..

Jadi, orang itu adalah ketua geng yang ditakuti masyarakat sekolah dan diwaspadai pihak kepolisian Daegu..

.

Jungkook perlahan-lahan bangkit dari baringannya lalu menarik sang sunbae yang sudah terkapar lemas. Diangkutnya sang senior di punggungnya yang bidang. Dengan kesadaran yang mulai menipis, Jungkook menghubungi sepupunya – Minhyuk. Hingga sesosok pemuda manis berlari ke arahnya dengan wajah khawatir dan pucat. Setelahnya, Jungkook kehilangan kesadarannya.

Kini, yang Jungkook tahu. Dirinya tidak boleh menyerah pada pemuda bernama Kim Taehyung. Apapun yang terjadi, pemuda bersurai red chili itu harus menerima balasannya.

Jungkook takkan mengampuninya.

.

.

.

.

.

Jungkook menatap sinis sosok bertopeng Joker yang kini menawannya, mengikat kedua tangannya di belakang dan menutup mulutnya dengan lakban berwarna hijau. Onyx tajam milik Jungkook bertemu pandang dengan hazel kelam milik Taehyung – dari balik topengnya.

Taehyung menyeringai, tatapan itu tentu saja ekspresi marahnya si Jungkook terlepas dari ikatan di beberapa bagian tubuhnya. Taehyung melepas lakban laknat itu dari bibir tipis Jungkook secara kasar. Pemuda tampan itu sukses meringis.

"Dasar bajingan.." Desis Jungkook.

BUGHH..

Ohokk

Jungkook memejamkan matanya. Sekelilingnya terasa berputar.

Taehyung menghela nafasnya berat. Raut wajahnya yang tak bersahabat jelas menggambarkan bahwa pemuda itu sama marahnya.

"Kau tahu, yang aku pikirkan sekarang adalah menghancurkanmu, Jungkook.."

"Hancur sehancur-hancurnya.." Lanjut sosok bersurai red chili itu.

Mendengar itu, Jungkook terkekeh geli. Mengundang emosi Taehyung makin meradang.

"Kau tidak akan bisa menghancurkanku Ji Taehyung. Kau tahu kenapa? Karena aku terlahir untuk menang. Sejak awal dunia sudah berpihak padaku, dan kau selalu berada di belakangku. Jauh sekali.."

"Ingat perlakuanmu padaku malam itu?" Tanya Jungkook

Taehyung mendengus. "Setan alas.."

"Aku sudah menanti kekalahanmu sejak saat itu Taehyung. Hahh, diskors 3 minggu dan hanya mendapat SP dari kepolisian menurutku tidaklah setimpal dengan kekacauan yang kau dan anak buahmu lakukan. Aku ingin kau mendapat balasan lebih dari itu."

"Ck, kau sudah terlalu banyak bicara. Ingin ku buat bungkam lagi hmm.."

Satu tonjokan kembali Jungkook rasakan pada rahangnya. Kali ini sangat keras dan menyakitkan membuat pemuda bertubuh bongsor itu tumbang dengan darah segar muncrat dari mulutnya. Jungkook benar-benar sudah lemas dan pusing.

"JISOO!"

Wanita dengan kuncir kuda itu bangkit dari duduknya, berjalan santai melewati beberapa kawan gengnya. Lalu menatap wajah merah padam sang ketua geng yang terlihat gusar.

Taehyung menunjuk Jungkook yang tak berdaya – masih dengan ikatan di kedua tangannya, "Kau ingin memukulnya? Anak itu. Buat dia diam!"

Wanita bernama Jisoo itu terkikik geli dan mengangguk, lantas menggerakkan jarinya yang 'gatal'. Jungkook menatap sekelilingnya waspada. Lalu tatapannya jatuh pada wanita bertopeng Jabbawockeez yang berjalan mendekatinya.

"Kau terlalu mengkhayal jika aku akan kalah dari wanita macam dia."

Jisoo menyeringai dari balik topengnya, "Aku.. bukan wanita biasa sayang.."

Jungkook mengerutkan keningnya.

"Bukankah dia sangat menyebalkan?" Tanya Taehyung pada Jisoo. "Buat dia tidak bisa berjalan lagi. Aku muak melihatnya mengelilingiku terus."

Jungkook membelalakan matanya kaget.

Jisoo terkekeh. "Okay.."

"Persiapkan dirimu Tuan Jeon.."

Tanpa menunggu lagi Jisoo dengan mudahnya menendang tubuh Jungkook yang tak berdaya lantaran ikatan masih membelenggu kedua tangannya. Jungkook menahan nyeri pada wajah dan dibeberapa bagian tubuhnya. Onyxnya menatap Taehyung dari jauh. Pemuda bersurai red chili itu melihatnya dipukuli tanpa peduli, duduk bersantai dengan dua anak buahnya bertubuh jangkung di setiap sisinya.

Sialan Taehyung!

.

.

.

(recommanded song, Ruella - Live like legend)

Baekhyun berjalan menjauhi gerombolan gengnya, pemuda berpostur tubuh pendek itu memulai pengintaiannya di sekeliling mall Seongwon yang tertutup tembok gerbang. Mata doenya memandang sekitarnya santai. Merasa tak ada kecurigaan, pemuda itu berbelok menuju daerah lainnya.

.

PLOK

.

Baekhyun menghentikan langkahnya. Perlahan, pemuda pendek itu meraba kaos hitam di bagian belakang. Baekhyun menggigit bibir merahnya geram saat dirinya merasakan sesuatu yang lengket dan berbau amis. Baekhyun berbalik, dengan perasaan marah dirinya memindai beberapa rumah di sekitarnya. Tapi nihil. Tak ada tanda kehadiran orang dimanapun. Baekhyun mendecih geram saat dirinya harus menelan amarahnya lantaran tidak menemukan pelaku pelemparan telur itu.

Kembali doenya meneliti setiap sudut perumahan bertingkat yang mungkin saja pelakunya bersembunyi di atap-atap rumah. Doe itu mengunci pandangannya pada sebuah mansion tua dengan cat hijau lumut yang sudah pudar, memiliki balkon yang besar dan jaraknya bangunan itu cukup jauh dari ia berdiri, butuh beberapa detik bagi Baekhyun memperhatikan rumah usang itu. Saat hendak mengalihkan atensinya dari mansion tua itu, untuk kesekian kalinya Baekhyun merasa ada yang menariknya untuk kembali menatap mansion itu, – dan entah bagaimana – tapi Baekhyun merasa seseorang tengah memperhatikannya dari mansion tua itu.

Bagai slow motion, detik itu juga munculah sesosok pria berbalutkan pakaian serba hitam berjalan santai di atas balkon besar bangunan tersebut. Baekhyun menyeringai, itu pasti komplotannya si Jungkook sialan.

Kena kau!

Namun seringaian itu luntur seketika.

Baekhyun memperhatikan sosok jangkung itu dari jauh, dirinya cukup peka untuk merasakan aura mencekam yang kuat dirasakannya dari sosok asing itu. Tubuhnya yang jangkung dan cara berjalannya yang begitu angkuh berhasil meluluh lantahkan keberanian Baekhyun. Aura yang Baekhyun terima tentu bukanlah main-main. Terlalu mendominasi untuk dilawan. Terlalu pekat untuk tak terasa. Sosok itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Baekhyun.

Menatapnya.

Dengan lensa matanya yg berwarna emerald..

.

Baekhyun membeku. Tubuhnya bergetar.

Saat ini angin berhembus kencang, udara di sekitar Baekhyun mendingin seketika. Coat hitam yang sosok misterius itu kenakan tersibak, surai caramelnya bergerak mengikuti arah angin.

Layaknya terhipnotis. Doe milik Baekhyun terpaku pada sosok jangkung itu. Tak teralihkan. Hati dan pikirannya berontak namun tubuhnya menolak berpaling. Baekhyun menguatkan genggaman pada ujung pakaiannya. Perasaan kalut menghantuinya.

Bukan komplotan Jungkook?

L-lalu.. siapa...?

.

Lensa emerald itu.. mungkinkah..

.

'...hanya manusia terkutuk sajalah yang memiliki lensa mata berwarna emerald, mereka menyebutnya.. Goemul..'

'Baekki ingin melihatnya nenek~'

'Tidak bisa! Kau tidak boleh melihatnya. Itu kutukan Dewa!'

'Kenapa tidak boleh?'

'Siapapun yang melihat Goemul, dia pasti mati.'

.

'Dasar wanita gila! Itu hanya dongeng Baekhyun! Sebaiknya kita pergi dari sini..'

.

Sekelebat ingatan Baekhyun kecil mengawang di tiga belas tahun yang lalu. Dan pemuda bertubuh pendek itu masih begitu mengingat percakapan terakhir ia bersama sang nenek. Liquid bening itu mengalir begitu saja di pipi Baekhyun.

Tubuh Bekhyun menegang.

Pemuda itu sedikitnya menggeleng tidak percaya.

Tidak mungkin..

Itu.. hanya dongeng..

Namun, hatinya membenarkan apa yang dilihatnya kini. Dengan jarak yang harus dibilang jauh tapiBaekhyun dapat melihat lensa berwarna emerald itu, seolah-olah sosok itu sengaja memperlihatkan itu padanya.

"G-goemul.." Gumamnya lirih.

Sosok misterius itu menyeringai.

Tamat sudah riwayatku..

BRAKK

.

.

.

.

*Jeon Kang Hyun:

See yaa next chapter ››

Halo semuanyaaa~~ #senyumpolos #tanpadosa

Kyaaa...! Gimana kabar kalian semuanyanyaa? Sarehat? wkwk..

Duhh, kangen beraat sama akunku inii.. kangen readers-nim semuanya juga..

Hyaahh.. akhirnya bisa update jugaa~ pengen protes rasanya sama rl sendiri karena gak bisa fokus bikin ff ini, karena aku paksa-paksain akhirnya bisa update deh..

Beneran deh, aku seneng banget bisa update di ffn. Dan semoga kalian suka sama kelanjutannya ANOMALI ini. Sejujurnya selain sibuk sama rl, aku sempet terkena writer block (kkekekekk..), jadi aja kan.. faktor kedua lamanya ff ini diupdate.

Sejujurnya (lagi), ff ini juga jadi senjata makan tuan buat aku ahahahahahaa.. Aku tipe orang yang seneng sama alur yg belibet, ehh malah kena sendiri puyengnya bikin ni alur cerita kkekekek.. tapiiii berkat dukungan dan kekepoan uri readers-nim, sangat bisa jadi vitamin buat otak aku. Rasanya kayak ditetesin jus jeruk segar dibawah terik matahari ahay deuhh.. Udalah yaa sekian kangen-kangenannya..

Thanks a lot buat kaliaann semua!

[ vanillatae, YuRhachan, Y BigProp, Baby'Alien Kim Taehyungie, Clarissa Kim, rusaturnus, Guess100, Fbaekki09, Qoini, , aitaetae13, akira ayzharu ]

Detik ini juga pikiran aku tetep tertuju sama kerjaanku yg tiap hari terus numpuk di atas meja, huhhh..

Soo, keep support yaa yeorobeunn.. sarangee