Taehyung gelisah dalam tidurnya.

Di dalam mimpinya Taehyung melihat Namjoon menangis dengan wajah dan tubuh yang bersimbahan darah. Rantai yang membelenggu lehernya membuat keadaan Namjoon semakin terlihat mengerikan. Hingga terlihat seorang pria bertudung hitam dengan pakaian compang-camping muncul dari balik tubuh sahabatnya, menarik kasar rantai yang mengekang leher Namjoon. Menyeretnya menuju suatu tempat yang gelap dan mengerikan di ujung sana.

Taehyung mencoba berlari, namun tubuhnya tetap berada di posisi yang sama..

Mencoba meneriakan nama sahabatnya, namun tak bersuara sama sekali..

Dirinya terisak lirih, namun tak ada air mata yang mengalir..


"Boleh aku tawarkan sebuah bantuan?"


Taehyung terlonjak kaget.

Seorang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Menatap dingin dirinya dengan onyxnya yang tajam.


"Atau kau ingin aku membangunkannya dari koma.. Taehyung?"


Taehyung refleks bergerak mundur. Bagaimana bisa sosok itu mengenalnya?


"Tentunya membangunkan seseorang dari mati surinya tidaklah mudah.."

"..mata dibayar mata. Begitu juga dengan nyawa yang diambang batas kematian. Ada pertukaran setara yang bisa kau penuhi untuk keinginanmu itu.."


Merasa tertarik, Taehyung memberanikan diri menatap telak sosok misterius – namun tidak asing menurutnya – tepat pada onyxnya yang berwarna emerald. Dari dekat, Taehyung dapat melihat sosok itu lebih jelas. Kulit tannya yang bersih, rahang tegas, mata tajamnya yang seperti elang juga hidungnya yang mancung. Taehyung sempat memaku pandangannya sesaat, terlebih betapa indahnya emerald dalam onyx tersebut.

Pria misterius itu mendekat dan menundukan sedikit tubuhnya yang jangkung, membisikan sesuatu pada Taehyung.


"..mau menukar nyawanya dengan nyawamu?"


.

.

.

.

Present

ANOMALI

.

Cast:

.Taehyung and Jungkook.

.Other cast.

.

Genre: romance, fantasy, humor, triler, family

Warning:

Typo, tidak sesuai EYD (kadang formal-kadang banmal), romennya membuat anda kejang-kejang,mual dan naik pitam. Bila sakit kepala, konsumsi obat-obatan di sekitar anda. Terimakasih..

.

.

*Happy Reading*

.

.

Hello.03.

.

20 minutes ago.. [54-d before accident]

Zelo mengarahkan teropongnya ke arah dimana Jungkook dipukuli secara brutal oleh seorang wanita. Pemuda bersurai magenta itu meringis pilu. Tak mau sedih berkelanjutan, lantas di arahkannya teropong itu ke arah lain mencari sosok yang ia cari sedari tadi. Pemuda itu menyeringai kala caramelnya mendapati sosok yang dicarinya.

Baekhyun terlihat sedang mengintai sekelilingnya dengan begitu cermat dan teliti. Zelo sudah menyangka kalau-kalau si Baekhyun ini pasti tak akan lengah barang sedikit pun. Pemuda pendek itu terlalu cerdik, ck. Pemuda jangkung itu menekan tombol earphone di telinga sebelah kanannya.

"Hyung, target Bi sudah aku temukan. Bersiaplah. Lima menit lagi aku akan memulainya.."

"Oke. Akan kuberi tahu yang lainnya untuk bersiap."

.

.

.

.

.

Jimin memandang pemuda cantik bersurai hitam disampingnya penasaran. Pasalnya, wajahnya yang terkesan santai dan tak banyak bicara itu cukup mengganggu Jimin.

"Hei dude, you okay?"

Minhyuk tersenyum simpul sebagai jawaban. Ditepuknya pundak kurus itu oleh Jimin. Ia tahu, Minhyuk sedang dalam mode khawatir tingkat dewa. Sikap hyperactive dan cerewetnya hilang tertelan totoro by the way.

"Jungkook akan baik-baik saja. Dia bukan tipe yang suka diam saat diremehkan oleh orang lain. Kau tahu dia dengan baik kurasa.."

Minhyuk menatap sepatunya, sekarang ini sepatu menjadi objek terbaik buat Minhyuk. "Aku hanya merasa sedikit khawatir.."

"Sedikit?"

"Hm. Terkadang aku merasa Jungkook pantas mendapatkannya."

"Benar juga." Lucunya, Jimin mengangguk setuju secara spontan.

"Sejak ditinggal pergi ibunya, sikap Jungkook berubah 180 derajat. Anak itu tidak mau menghargai hidupnya lagi. Awalnya, Jungkook tidak peduli dengan sekitarnya dan selalu bertengkar dengan ayahnya, lalu anak itu mulai senang melakukan semua hal-hal bejat, mencari masalah seperti ini sudah menjadi kesenangannya sendiri.."

"..yang membuatku terpukul adalah dua hari sejak kepergian aunty. Jungkook hampir melakukan aksi bunuh diri." Lanjut Minhyuk dengan raut sendu.

Jimin membelalakan matanya terkejut. "Melakukan tindak bunuh diri? Jungkook?"

"Ingat luka gores pada lehernya saat wisuda tiga bulan yang lalu?"

Jimin mengerutkan keningnya, mengingat itu.

.

'Jangan-jangan...'

.

"Jungkook hampir menyayat urat nadi lehernya saat makan malam di arisan keluarga Jeon. Di depan semua kepala keluarga, juga di depan kakek."

Oke, Jimin menganga tidak percaya dengan tindakan sahabatnya itu sekarang.

"Anak itu nekat luar biadab ya.."

Minhyuk terkekeh, "Jangan begitu Jim. Jungkook saat itu benar-benar dalam keadaan sulit. Anak mamih seperti dirinya selalu bisa melakukan hal-hal nekat. Terutama mempertahankan harga diri ibunya di depan keluarga besar Jeon yang maha sombong."

Jimin menghela nafasnya berat.

Betapa beratnya hidup menjadi seorang Jeon.

"Kuharap, dengan adanya kejadian ini, anak itu bisa menghargai hidupnya dengan lebih baik lagi. Setidaknya keinginan tidak mau mati di tangan Taehyung dulu sajalah."

Minhyuk tersenyum manis. Dan Jimin membalas senyuman itu dengan senyuman hangatnya.

"Hoi hoi.. sampai sini dulu curhat-curhatannya!"

Yugyeom memandang tidak suka pada dua pemuda di depannya.

"Sebaiknya kita bersiap di pos masing-masing. Zelo sudah memberi aba-abanya padaku barusan."

Minhyuk dan Jimin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Minhyuk berjalan memimpin karena Yugyeom mempersilahkannya. Pukulan didapat Jimin di belakang kepalanya dan Yugyeom pelakunya. Jimin terkekeh jahat. Yugyeom mendecih sebal.

.

.

.

.

.

Zelo meneliti sekelilingnya waspada, pemuda jangkung itu kembali memandang jam tangannya. Tinggal satu menit lagi dan ia akan melakukan tugas sucinya. Yaitu melempari Baekhyun dengan telur. Zelo melepas teropongnya dan mulai mengarahkan benda tersebut pada Baekhyun yang mulai membelakanginya.

"Dalam hitungan mundur, aku akan memulainya hyung. Apa kalian sudah siap?"

"Oke. Kita sudah diposisi masing-masing."

Zelo menyipitkan sebelah matanya guna membidik sang target.

"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh..."

"...empat, tiga, dua.."

"Satu!/satu!"

.

.

PLOK

.

.

"Yess!" Seru Zelo.

"Hyung, target B―!"

Zelo segera berjongkok di balik tembok pembatas balkon guna bersembunyi saat dua onyx tajam milik Baekhyun bertemu pandang dengannya. Walau sekilas, ia merasa jantungnya mau putus saja. Zelo mengurut dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Menghela nafasnya sekali, lantas pemuda itu menegakkan tubuh bongsornya untuk mengintip keadaan Baekhyun. Pemuda itu meringis saat mendapati Baekhyun masih menatap tepat kearahnya. Duh, rasanya keberanian yang ia miliki beberapa jam lalu habis seketika dan sekarang cuman tinggal remahannya saja.

Pemuda jangkung itu berjalan sambil berjongkok ke arah pilar besar tidak jauh darinya. Lalu pemuda itu berdiri dan sedikitnya menyembulkan kepalanya guna mengintip keadaan sang target. Setelah diamatinya baik-baik, Zelo merasa ada yang janggal pada tatapan pemuda kecil di bawah sana. Terkesan kosong dan... takut?

Dirinya sempat mengira bahwa sedari tadi si target itu mempergokinya. Lantas, apa yang dilihat si targetnya ini?

Suara yang menginterupsinya dari earphone diabaikan Zelo. Pemuda itu menoleh perlahan, memandangi sekitarnya dan mencari jawaban atas apa yang terjadi.

Nihil.

Secara refleks Zelo mengusap tengkuknya. Entahlah, hanya saja angin yang menerpa tubuhnya terasa sangat dingin dan berbeda.

"Yak, Zelo! Apa yang kau lakukan, Bodoh!"

Zelo tersentak. Fokusnya buyar seketika.

"O-ohh.. maaf hyung.." Zelo kembali mengintip Baekhyun yang semakin mencurigakan.

"Ada apa denganmu? Yak! Apa yang kau lihat di sana? Apa Jungkook baik-baik saja?!"

Zelo mengedipkan matanya sekali.

Benar juga.

Jungkook.

Zelo mengusap wajahnya kasar. Kenapa fokusnya jadi buyar begini, ck. Sekarang ini, yang harus Zelo lakukan adalah menyelesaikan misinya dan menyelamatkan sahabatnya, Jeon Jungkook. Keuntungan besar bagi kelompoknya karena Baekhyun tengah dalam keadaan lengah seperti itu.

Fokus Zelo, fokus!

Lantas pemuda jangkung itu bangkit dari persembunyiannya dan berlari meninggalkan balkon. Membuang rasa penasarannya di belakang sana tanpa menoleh sedikit pun.

.

.

.

Yugyeom berdecak sebal saat pertanyaan bertubi-tubinya diabaikan Zelo. Membuat Jimin dan Minhyuk khawatir. Minhyuk melempari Jimin dengan kerikil kecil di sekitarnya membuat Jimin menoleh ke belakang.

"Ada apa?" Tanya Minhyuk lewat isyarat alisnya.

Jimin menggeleng.

Minhyuk mendengus.

Hingga suara debuman dan cahaya terang sebuah petasan tubes – yang berasal dari Zelo – mengagetkan ketiganya. Tanpa menunda lagi puluhan anak buah mereka berlari ke area Jungkook ditawan.

"Ck. Ada apa dengan bocah tiang itu sebenarnya?!" Seru Yugyeom jengkel.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara ledakan berhasil mengagetkan Taehyung dan seluruh anak buahnya. Taehyung bangkit dari 'singgah sananya' dengan wajah keruh. Keadaan mereka yang lengah berhasil dibobol puluhan musuh. Taehyung memberi isyarat lewat matanya pada kedua sahabat jangkungnya. Seakan-akan mutlak dan tegas, Chanyeol dan Hyunwoo segera bergegas menuju barisan paling depan dan saat itu juga perkelahian antar kelompok itu tak terelakan.

"Taehyung! Beri aku perintah!" Seru Jisoo. Wanita itu menghentakkan kakinya tidak sabar.

Mengganggu Taehyung yang sedang menghajar dua orang sekaligus. Gadis itu terlihat seperti sakit jiwa sekarang. Bagaimana tidak, seorang gadis sampai sebegitu senangnya ingin berkelahi melawan puluhan lelaki di depan sana.

Taehyung menyeringai, "Habisi mereka, Jisoo.."

Jisoo membungkukan sedikit kepalanya, tanda bahwa gadis itu menghormati sosok Taehyung namun terkesan main-main.

"Dengan senang hati~"

Gadis berkuncir kuda itu menyeret Jungkook masuk ke dalam gedung tua tersebut lalu meninggalkannya. Dengan penuh semangat, sosok itu berlari dan bergabung dengan puluhan lelaki di sana.

.

.

.

.

.

Jimin berlari mencari sahabat kecilnya. Lalu, pemuda bersurai silver itu memasuki bangunan tua dan menemukan Jungkook tengah berusaha membuka ikatan di pergelangan tangannya secara brutal.

"Oi.. oi.. Jungkook. Tenanglah.."

Bola mata Jungkook membulat, menandakan bahwa sosok tampan itu terkejut melihat kedatangan Jimin di hadapannya. Si pemuda yang lebih pendek melepas ikatan di kaki dan pergelangan Jungkook juga lakban dari mulut sahabatnya. Jungkook menarik uluran tangan Jimin. Dua manusia itu berlari meninggalkan gedung tua tersebut dan bergabung dengan yang lainnya.

Jimin mendelik, "Apa lihat-lihat?"

"Kau seperti tokoh marvel, Jimin." Senyum bahagia Jungkook mencuat seperti orang bodoh.

"Jangan samakan aku dengan iron man ya.." Ketus Jimin.

Jungkook terkekeh. Pemuda tampan itu sedikit memberi renggangan pada lehernya.

"Hahh, baiklah, Kook. Menurutmu berapa jumlah mereka yang akan aku tumbangkan?"

Jungkook terkekeh. "Cerewet.. Sesukamu sajalah.."

.

.

BUGHH

.

.

BUGHH

.

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung mengerutkan keningnya, rasa khawatir tak ayal menghantuinya beberapa kali. Di tambah tidak sedikit jumlah anak buahnya yang terluka cukup parah karena perlawanan gerombolan – sialan – Jungkook yang semakin gencar dan bertambah banyak – tiap menitnya – berhasil membuat dirinya dan seluruh anak buahnya merasa kewalahan dan itu sangat menguras tenaga mereka.

Taehyung mengabaikan kedua jemarinya yang sudah gemetaran. Pemuda bersurai red chili itu kembali menghajar musuhnya lebih banyak dari sebelumnya. Pemuda itu memaksa kadar staminanya yang mulai menurun. Namun, pukulannya tetap terasa sangat sakit dan gesit. Hingga tiba-tiba pandangannya mengabur, Taehyung mengusap sebelah matanya dan tidak berhasil. Pemuda itu berakhir mundur ke dalam bangunan tua untuk menghela nafasnya barang sedikit. Pikirannya mengawang. Mengingat sosok Namjoon yang selalu ada dimanapun dan kapanpun saat ia membutuhkannya.

"N-namjoon.."

"..a-aku membutuhkanmu.." Bibir itu berucap parau disertai helaan nafasnya yang berat.

.


"De tijd is gekomen, Taehyung.." (Waktunya sudah tiba, Taehyung..)


.

Degg

Taehyung terdiam. Jantungnya bertalu-talu karena terkejut. Jemarinya mengepal menahan gemetar. Nafasnya sedikit memburu dan panas. Keringat dingin mengalir di pelipisnya menuju dagu yang lancip. Pemuda itu mendelik pada sekelilingnya, memandang sekitarnya was-was, pemuda itu meneliti setiap sudut bangunan.

"S-siapa itu?" Cicitnya.

Kekehan terdengar di berbagai penjuru bangunan. Membuat Taehyung bergerak waspada.


"Je vergeet me.." (Kau melupakanku..)

"Hoe zit het met onze onderhandelingen over het wakker worden van je stervende vriend?" (Bagaimana dengan negosiasi kita tentang membangunkan temanmu yang sekarat?)


Taehyung tergugu. Dirinya mematung..

Negosiasi?

Bukankah itu hanya mimpi?


"Het is geen droom, schat.." (Itu bukan mimpi, sayang..)

"Ik kan het zo gezond maken als altijd. Maar op voorwaarde, gelijkwaardige uitwisseling." (Aku bisa membuatnya sehat seperti sedia kala. Tapi dengan syarat, pertukaran setara.)


Pertukaran setara?

BUGHH

Pukulan yang begitu tiba-tiba, menghantam telak bagian belakang punggung Taehyung, membuat Taehyung yang dalam keadaan lengah dan lemas berhasil terlempar dan berakhir terduduk sembari meringis kesakitan. Sang pelaku mendecih sinis pada sosok pemuda bersurai red chili itu. Tentu kalian tahu siapa pelakunya.

Tak mau melepas kesempatan langka ini, Jungkook dengan cepat menarik kerah baju Taehyung dan langsung menghajar wajah bertopeng joker itu. Taehyung meringis saat pukulan dan tendangan diterimanya di wajah dan tubuhnya. Pemuda yang lebih manis itu terus berontak dalam kurungan tubuh Jungkook dengan tenaganya yang hanya tersisa sedikit.


"Neem een kijkje.." (Lihatlah..)

"Betekent je leven niets meer, Taehyung?" (Bukankah hidupmu sudah tidak ada artinya lagi, Taehyung?)


Jungkook terkekeh sinis. Melihat sang sunbae yang terlihat begitu tak berdaya dalam kurungannya. Hingga selintas ide konyol muncul dalam pikirannya.

"Sekarang. Aku yang memegang kendali. Ji. Taehyung!"

Pemuda yang lebih kurus itu kembali berontak, namun lidahnya terlalu kelu untuk membalas ucapan sang hoobae.

"Kau akan menerima balasan atas apa yang kau lakukan selama ini. Kau ingat?"

Taehyung menghela nafasnya berat. Tubuhnya bergetar, "Kau hanya bocah kecil, Jeon Jungkook. Kau tidak bisa apa-apa.."

Jungkook melepas topeng joker itu perlahan. Menampakan wajah Taehyung yang pucat dan rautnya penuh garis khawatir. Alis Jungkook menukik.

"Kau sakit?" Diiringi dengan dengusan.

Taehyung menggigit bibir bagian bawahnya. Merasa terhina.

"Dasar bajingan kecil. Kenapa memangnya? Mau jadi pahlawan dengan menolongku?"

"Bukan bukan. Kau salah sangka.."

"..malahan aku berencana membuatmu lebih sakit daripada ini."

Dengan kasar Jungkook melepas kemeja hitam milik Taehyung dengan sekali tarikan. Membuat seluruh kancing kemeja tersebut lepas dan berserakan. Taehyung membelalakan kedua bola matanya saking kagetnya. Pemuda bersurai red chili kembali berontak.

"Sinting Jungkook! APA-APA KAU?!" Taehyung terus berontak. Namun, hanya dengan sisa tenaganya Taehyung jelas kalah telak.

Jungkook yang geram akhirnya menonjok Taehyung tepat di hidungnya. Pemuda yang lebih kurus mengerang kesakitan. Sakit di kepalanya semakin bertambah, Taehyung merasa benda-benda di sekelilingnya berputar-putar.

Degg..

Degg..

Degg..

Jantungnya yang berpacu cepat begitu terdengar di telinganya.


"Geen familie. Je bent alleen, Taehyung." (Tidak punya keluarga. Kau hanya sebatang kara, Taehyung.)

Taehyung meringis menahan pening di kepalanya..


"Geen vader.."(Tidak punya ayah..)

"..geen moeder.." (..tidak punya ibu..)


Hingga liquid bening itu terurai dari hazel kelamnya..

.

.

.


"Hoe?" (Bagaimana?)


.

Taehyung membuka matanya perlahan. Ingatan akan Namjoon yang begitu setia padanya, menyayanginya, melindunginya dengan nyawanya sendiri. Lalu, apa bedanya dengan Taehyung yang juga ikut mempertaruhkan nyawanya untuk sahabat yang juga ia sayangi? Saat dimana Namjoon hampir kehilangan nyawanya, masihlah teringat oleh Taehyung. Toh, hidupnya sudah berantakan sejak dulu.

Namjoon yang terbaring lemah.

Kedua orang tua Namjoon yang terisak sedih.

Juga Geongmin yang menangis memohon padanya.

Hatinya selalu bersenyut sakit setiap mengingat itu.

.

Jadi kumohon,

Siapapun itu..

Tolong selamatkan sahabatku.

Apapun itu..

Tak apa, walau nyawa ini taruhannya.

.

Jungkook bangkit dan sosok tampan itu menjambak surai halus milik Taehyung. Sang sunbae menengadahkan wajahnya pada sang hoobae sembari meringis kesakitan. Jungkook mendengus, sebelah tangannya yang bebas kembali menghajar dan menampar wajah bebas luka itu tanpa beban.

"Kau tahu Taehyung. Berkat kau, aku merasa bahwa hidupku ini terlalu berharga hanya untuk berurusan denganmu."

Taehyung terus meringis dalam diam. Mulutnya kebas tak terasa.

"Aku akan menelanjangimu dan mengarakmu di depan seluruh anak buahmu di luar sana.."

"..tidakkah itu sedikit melukai harga dirimu?"

Taehyung bergeming, pemuda itu mendadak mati rasa. Semua terasa blank.

Jungkook terkekeh keji. Jemarinya mengusap wajah Taehyung yang masih begitu halus di jarinya. Saat itu juga potongan ingatan masa lalu Taehyung kembali merangsek masuk tanpa permisi.

.

Bagaimana jari penuh darah itu melambai padaku dari balik tirai kamar..

Juga bagaimana Onyxnya yang tajam dan sedingin es itu menatapku penuh atensi tanpa berkedip..

Onyx berwarna emerald itu indah sekali walau tak seindah senyumannya yang sangat mengerikan..

.

'Dia bilang, akan terus mengawasiku hingga masanya tiba.'

'Sepertinya anakmu mengalami halusinasi berat akibat stress dan trauma yang dialaminya..'

.

Jungkook mengerutkan keningnya bingung, lantaran tingkah dari musuhnya ini sangatlah aneh. Jungkook sedikit menampar sebelah pipinya, mencoba menyadarkan Taehyung karena tatapannya yang kosong.

"Taehyung.."

Taehyung meremas rambutnya. Ingatan asing itu terus berputar di otaknya, seperti rol film yang rusak dan membuat pikirannya berantakan. Walau terdengar samar, namun suara Jungkook masih terdengar di telinganya.

Kini, dalam alam bawah sadarnya, Taehyung dapat melihat sesosok pria jangkung berpakaian serba hitam yang berjalan menghampirinya.

.

Sosok itu menyeringai,


"Overeenstemming is overeengekomen.." (Perjanjian telah disepakati..)


.

Taehyung membelalakan matanya terkejut, bangun dari kesadarannya sembari mengurut dadanya yang mendadak sesak. Taehyung seakan-akan tertampar akan sesuatu, kenyataan bahwa pria itu ada dalam potongan mengerikan dalam ingatannya. Taehyung merasa salah langkah kali ini.

"Sial.."

Taehyung meringis pilu dalam diam..

Itu adalah potongan ingatan masa lalunya dan pria dalam mimpinya itu ada di dalamnya.

.

Dan kini, Taehyung merasa takut..

Bahasa yang terdengar asing, namun ia mengerti artinya.

.

Ia sangat takut..

Hanya untuk berteriak memohon pertolongan..

.

Ia terlalu takut..

Hingga jemarinya yang bergetar, berakhir dengan menarik lemah seragam milik sosok itu.

.

Entah bagaimana, tapi sekarang ini dirinya ketakutan..

.

Ia takut..

.

Ia terlalu takut..

.

.

Untuk mati..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tolong aku.."

Jungkook tergugu. Jemarinya kembali menampar pelan pipi sang sunbae. Mencoba menyadarkannya.

"Kau –"

BRAKKK

BRAKK

.

.

Kerasnya suara hantaman berhasil mengalihkan perhatian Jungkook. Dan pemuda itu berjalan pelan ke arah suara ribut tersebut, langkahnya sampai pada tumpukan angkur yang kini hancur berantakan. Sepertinya hantamannya sangat keras, melihat bagaimana berantakan dan rusak beberapa rangkaian besi-besi di depannya ini.

Langkah Jungkook mendadak terhenti, onyxnya membelalak.

.

.

.

.

.

Perkelahian mendadak terhenti. Gemuruh petir terdengar sangar, disusul dengan air langit yang sudah membumi. Langit berubah gelap juga mengerikan dalam sekejap. Angin berhembus kencang menemani keheningan yang terjadi sore itu. Hingga seseorang menginterupsi apa yang terjadi.

"H-hei, barusan aku melihat seseorang terpental.."

"Ya. A-aku juga..melihatnya.."

"Yang benar saja. Angin tidak mungkin menerbangkannya kan?"

Chanyeol menoleh kesana-kemari, mencari sosok sahabatnya. Perasaan khawatir membuat langkah tegap itu berjalan ke arah tumpukan angkur yang kini sudah berserakan. Kakinya melemas saat menemukan tubuh kecil betopeng chains sudah tergeletak tak berdaya dan tertimbun beberapa angkur di sekitarnya.

"BAEKHYUUUN!"

Tanpa menunggu lama Chanyeol segera menyingkirkan besi-besi tajam itu dari sekitar Baekhyun. Hyunwoo yang mendengar seruan sahabatnya lantas berlari ke arah tempat tersebut. Sosok jangkung itu terkejut bukan main. Melihat Jungkook berdiri kaku dengan wajah pucat tak jauh dari Chanyeol menandakan bahwa Jungkook pun tak tahu apa-apa.

"A-apa yang terjadi sebenarnya.."

.

.

.

.

.


"Kom hier, Taehyung. En bewaar je vriende" (Kemarilah, Taehyung. Dan selamatkan teman-temanmu)


.

.

.

"N-namjoon..." Ucapnya spontan.

Tanpa tedeng aling-aling, Taehyung berlari tunggang langgang menuju rumah sakit, mengabaikan ratusan orang yang memandangnya aneh. Jisoo yang berteriak memanggil namanya diabaikan Taehyung. Jungkook yang melihat itu segera berlari mengikuti Taehyung. Rasa khawatir tak ayal terselip dalam sanubari Jungkook dan berakhir memilih berlari mengikuti sosok bertubuh kurus itu.

"Jungkook! Yak!"

Jimin mendengus sebal saat panggilannya diabaikan Jungkook, pemuda bersurai silver itu ikut berlari mengikuti Jungkook dan Taehyung. Jimin tentunya khawatir jika terjadi sesuatu pada sahabat kecilnya.

Kini Jungkook dan Taehyung sudah meninggalkan area bangunan tua tersebut dan keduanya terus berlari hingga akhirnya sampai di sebuah jalan besar namun sepi. Hujan yang semakin deras tidak melunturkan keduanya untuk berhenti hanya untuk istirahat sejenak. Taehyung memacu larinya lebih cepat, yang Taehyung pikirkan sekarang ini hanya keselamatan Namjoon. Entah bagaimana, tapi Taehyung memiliki firasat buruk tentang Namjoon. Tentang keadaannya yang ditemukan begitu tragis. Tentang dirinya yang diteror akhir-akhir ini. Juga, tentang kecelakaan Baekhyun yang tidak masuk diakalnya.


"Blijf rennen, ren totdat je voeten breken. Als het aankomt, breng ik je naar het donker." (Teruslah berlari, berlarilah hingga kakimu patah. Saat itu tiba, aku akan menarikmu dalam kegelapan)


Suara itu lagi!

Taehyung spontan menghentikan larinya. Hujan yang deras memakan suara di sekitarnya. Hazelnya memandang sosok Jungkook dari kejauhan yang berlari tunggang langgang ke arahnya dengan wajah yang kalut dan panik.

"-was!"

Apa yang coba dia katakan–

"Awas truk di depanmu!"

TIIN

TIIN

Taehyung membelalakan bola matanya.

"Kena, kau.."

BRAAAKKKK

.

.

.

.

Jungkook berteriak histeris..

.

Bagaimana tubuh itu terseret dan terpental jauh..

.

Dan berakhir di depan sebuah toko bunga yang kusam..

.

Dengan bersimbah darah, sosok Taehyung mencoba untuk bangkit..

.

Namun, kaki ini tak dapat bergerak barang sedikitpun..

Terpaku menatap sosok menyedihkan Taehyung yang meminta pertolongan padaku..

.

Juga..

.

Bagaimana ekspresi itu terekam dalam ingatannya..

.

Menyedihkan...

.

Hingga sampai akhirnya tubuh kurus itu tak bergerak lagi..

.

Haruskah aku menolongnya?


"Tidak seharusnya kau berada di sini, Tuan Muda.."


Onyx Jungkook membeliak, saat hendak berbalik ke arah suara – asing – tersebut detik selanjutnya pandangan Jungkook berubah menghitam dalam sekejap.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jin terdiam. Air matanya berurai tanpa tertahankan. Lemas pada jemarinya membuat telepon rumah itu terjatuh karena gravitasi. Langkahnya perlahan menghampiri keluarga kecilnya yang tengah tertawa bersama menonton tayangan TV yang lucu. Kedatangan Jin berhasil mengalihkan atensi ketiga anggota keluarganya.

Melihat raut muka Jin yang begitu berantakan berhasil mengusik hati sang ibu. Jiwon refleks menggenggam kedua tangannya yang tiba-tiba mendingin.

"Ada apa Jin? Siapa yang menelpon?" Tanya ayah.

"Ru-rumah sakit menelpon.."

.

Keadaan mendadak hening.

.

"..mereka bilang.."

Jin mengusap air matanya.

"..Taehyung mengalami kecelakan dan kini kondisinya sangat kritis–"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[the day of accident]

Jungkook membuka matanya. Semilir angin dari celah jendela kamarnya berhasil membangunkan dirinya yang baru tertidur tiga jam yang lalu. Tubuh atletis itu bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan diri mungkin langkah terbaik menurutnya, tiga puluh menit berlalu dan sosok tampan itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

Jungkook meninggalkan kamarnya yang berantakan dengan berbagai macam peralatan maupun buku usang yang kuno dan buku sejarah berabad-abad lamanya, juga minuman bersoda yang beserakan dimana-mana. Langkahnya mengantarkan Jungkook menuju ruang makan di lantai bawah. Di sana terlihat sang ayah tengah melahap sarapannya dengan khidmat.

"Kau terlambat."

"Maaf.. Aku bergadang."

Insung memandang anak tunggalnya dingin. "Jangan terlalu terobsesi pada sejarah kuno. Itu tidak penting untuk masa depanmu.."

"Jangan ikut campur. Aku tidak pernah tertarik untuk mengikuti jejakmu dan kakek."

"Maaf, tapi kau dilahirkan untuk itu, Jungkook."

"Tapi ini hidupku! Si kakek tua itu tidak bisa mengaturku seenak perutnya. Aku bukan kau, Ayah." Ucap Jungkook, ada tekanan di setiap katanya.

Insung mendengus sinis, "Bagaimanapun, dalam tubuhmu mengalir darah keluarga Jeon." Sendok yang dipegangnya ia tunjuk pada Jungkook sebagai penekanan.

Jungkook mengabaikan ucapan sang ayah. Pemuda itu mengambil selembar roti dan botol selai coklat. Dan memulai sarapannya dengan tenang. Suasana begitu sepi, hanya suara tapak sepatu para maid di mansion itu saja yang menjadi backsound sarapan ayah dan anak ini setiap paginya.

"Kudengar Seunghyub sudah memulai kelas politiknya sejak sebulan yang lalu. Selama itu juga aku dengar Jeon Jungkook selalu absen disetiap pertemuannya.."

Jungkook mendelik.

"..kemana saja kau selama sebulan itu?"

Jungkook bangkit dari kursinya lalu meminum sedikit susunya. Mengambil kasar tas gendongnya dan pergi meninggalkan sang ayah tanpa sepatah katapun. Insung menatap dingin kepergian anak semata wayangnya itu.

.

.

.

.

.

.

.

Sesampainya di sekolah, dari kejauhan Jungkook dapat melihat Chanyeol dan Hyunwoo tengah berjalan ke arah berlawanan dengannya. Ketiganya melempar tatapan benci dari jarak jauh. Saat berpapasan pun ketiganya mencoba untuk acuh.

"Dasar iblis.."

Jungkook menghentikan langkahnya, diikuti Chanyeol dan Hyunwoo.

"Apa kau bilang?" Jungkook mendelik marah.

Chanyeol menatapnya tajam, "Aku bilang kau iblis, Jeon Jungkook!"

"Brengsek kau!" Jungkook mendorong tubuh jangkung itu kasar. Hyunwoo bergerak melerai dua pemuda di sampingnya.

"Aku kira kau manusia, Jungkook-sshi.."

Jungkook bergeming. Pandangannya menatap Hyunwoo datar.

"Ternyata kau lebih mengerikan dari seorang psikopat sekalipun."

Jungkook mendelik, "Bukan urusanku dia tertabrak truk."

Hyunwoo mengeratkan jemarinya hingga memutih. "Setidaknya, kau masih memiliki otak cerdas untuk berpikir rasional saat itu. Menolongnya detik itu juga tidak akan merugikan nyawamu bukan?!"

"Tentu aku yang rugi!.."

"..selama anak itu hidup. Dia akan selalu menyusahkanku. Itu balasan untuknya yang tidak pernah sadar akan kelakuannya yang merugikan banyak orang."

"A-apa..?"

Tanpa permisi Jungkook segera meninggalkan Hyunwoo dan Chanyeol yang masih terdiam di tempatnya. Chanyeol menggeram menahan amarahnya yang membumbung tinggi. Hyunwoo menatap kepergian Jungkook kecewa, pemuda itu sungguh tidak percaya bahwa Jungkook baru saja mengatakan hal yang berhasil menampar telak perasaannya.

Semua perkataan Jungkook benar adanya..

ARMY sudah begitu jahat selama ini, sehingga membuat pemuda seperti Jungkook begitu layak mengatakan hal semacam itu pada mereka.

.

.

.

.

.

.

Jungkook mengusak surai ravennya acak. Pikirannya melayang pada hari dimana Taehyung mengalami kecelakaan. Banyak pertanyaan yang membuatnya berpikir 'mengapa saat itu ia tidak segera menolong Taehyung yang sekarat?'. Jemari bersimbah darah itu masih terbayang diingatannya saat mencoba menggapai Jungkook dari kejauhan.

Jungkook mendengus.

Terkadang, otaknya selalu mencoba membantah rasa penyesalannya selama ini. Namun, hati terdalamnya tentu saja merasa bahwa ia sudah berbuat keterlaluan sampai-sampai membiarkan Taehyung begitu saja. Normalnya, Jungkook tidak pernah membiarkan siapapun sekarat, terlebih kejadian itu terjadi tepat di depan matanya.

.

Walaupun itu Taehyung?

.

Ya. Walaupun itu Taehyung..

"Hoi!"

Lamunan Jungkook buyar saat seruan Jimin dan Zelo menginterupsinya. Jimin menepuk punggungnya dengan buku. Jungkook mengedikkan bahunya sebagai jawaban seadanya, membuat Jimin dan Zelo penasaran dibuatnya.

"Kenapa belum pulang? Bel sudah berbunyi lho.." Ungkap Zelo.

Jungkook bergeming. Onyxnya lebih asik memperhatikan dua pemuda jangkung yang sedang mengobrol di parkiran. Jimin ikut mengalihkan padangannya ke arah sana.

"Itu Chanyeol sunbae dan Hyunwoo sunbae.." Ucap Jimin.

"Konyol, kau memanggil mereka sunbae?" Sahut Zelo, ada rasa jengkel disana.

"Bagaimanapun mereka tetap kakak kelas kita Zelo."

Zelo merotasikan mata bulatnya malas.

"Sedang apa mereka di sana?" Gumam Jimin, lebih tepatnya pada diri sendiri.

"Menjenguk Taehyung kurasa.."

Jimin dan Zelo menoleh bersamaan. "Benarkah?" Tanya mereka kompak.

Jungkook bangkit dari kursi belajarnya. Lalu mengemas seluruh peralatan belajarnya tanpa minat. Jimin dan Zelo memperhatikan Jungkook yang mulai menyampirkan tas gendongnya.

"Jungkook.." Panggil Jimin.

Jungkook menoleh.

"Bisa temani aku mengunjungi Yoongi hyung di rumah sakit Hwawon?" Tawar Jimin.

"Err guys, aku pulang duluan sepertinya.. Mommy sudah menjemputku.. Bye!"

Jimin dan Jungkook melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Setelahnya, tinggal dua pemuda tampan ini saja yang masih tinggal di ruang kelas.

"Bagaimana? Mau ikut?"

"Aku ada kelas tambahan malam ini Jim."

"Kau benar-benar mau jadi Perdana Menteri Korea Selatan, heuh?"

Jungkook mendecih sinis. Jelas ia tidak sudi.

"Bolos lagi sajalah.." Jimin mengerling.

Jungkook tampak mempertimbangkan, namun pemuda itu tetap menolak.

"Aku pergi. Sampai jumpa besok Jim.." Jungkook melengos begitu saja.

Jimin menghela nafasnya lelah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara derit kursi roda yang berputar membuat beberapa suster yang berjaga di meja resepsionis sontak berdiri memperhatikan pemuda bersurai purple yang kini tengah mengayuh kursi rodanya. Sapaan dari suster yang berpapasan dengan pemuda itu dijawabnya dengan senyuman hangatnya, setelahnya suster-suster tersebut meringis penuh damba akan sosok pemuda berkursi roda tersebut.

"Ya Tuhan, tampannya pasien Kim itu.."

"Bagaimana ini, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama~" Ucap suster lainnya.

"Sudah satu bulan berlalu sejak pasien Kim sadar dari komanya ya.." Ungkap suster bername tag Kim Seo Eun.

"Hm! Padahal Park seonsae sudah berpikir kalau pasien Kim tidak akan sadar dari komanya."

"Pasien Kim sungguh dikelilingi keajaiban ya ... Duh, aku makin suka padanya~" Setelahnya tiga suster tersebut melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.

.

.

.

.

.

.

.

Wanita pemilik surai panjang itu melap lengan anak bungsunya perlahan. Setiap usapan lembutnya menyampaikan rasa sakit di hatinya. Penyesalan tak ayal menghantuinya tanpa permisi. Caramel lembut itu sudah tidak terlihat segar lagi, kelopak matanya yang sayu dan kantung matanya yang bengkak memancarkan betapa lelahnya wanita berumur setengah abad tersebut.

.

Klek

.

Terdengar suara pintu yang dibuka, menampilkan sesosok pemuda bersurai purple dengan kursi roda sebagai alat bantunya berjalan.

Wanita itu tersenyum menyambut pemuda tersebut. "Ah, selamat sore Namjoon.."

Namjoon tersenyum seadanya, "Sore aunty.."

Namjoon mengayuh kursi rodanya menuju brankar Taehyung. Pemuda itu memandang Taehyung sendu. Jiwon tersenyum pahit melihat keadaan menyedihkan yang dihadapi Taehyung dan Namjoon. Dua pelajar ini masih terlalu muda untuk mendapat hal semacam ini.

"Kebetulan sekali. Bisa bantu aunty menjaga Taehyung? Sepertinya aku harus ke laundry rumah sakit di lantai dasar."

Namjoon tersenyum, "Tentu."

Diusapnya sayang surai purple itu. Jiwon tentu sudah mempercayakan banyak hal pada Namjoon. Terutama percaya bahwa Namjoon akan selalu ada untuk melindungi buah hatinya. Setelah lima menit berkemas, wanita cantik itu pergi meninggalkan ruang rawat 0626.

Hening terjadi hingga beberapa menit ke depan. Namjoon tidak melepas pandangannya dari sosok sahabatnya yang terkulai lemas di atas brankar rumah sakit dengan masker oksigen sebagai alat bantu bernafasnya. Banyak luka hampir di sekujur tubuh Taehyung. Mulai dari tangan dan kaki kirinya yang dipasangi traksi dan dibalut gips, keduanya pun patah akibat benturan keras saat Taehyung terpelanting. Belum lagi bagian kepalanya yang diperban, Taehyung sudah menjalani operasi sebanyak dua kali di kepalanya, akibat dari pendarahan dan trauma di otaknya.

Namjoon mengusap luka jahit di pelipis sebelah kanan Taehyung, alisnya mengernyit ngeri melihat luka jahit – yang tidak tertutup perban – itu yang masih basah dan cukup mengerikan di mata Namjoon. Pemuda tampan itu menghela nafasnya berat.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Taengi? Hmm? Tidak bisakah kau tidak membuat masalah barang sebentar...?"

"..kau selalu berhasil membuatku khawatir setengah mati."

Namjoon menyandarkan kepalanya di atas ranjang dengan jemarinya yang menggenggam lengan berinfus itu.

"Cepatlah bangun, Tae. Dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu hingga jadi seperti ini." Liquid bening itu terurai dari caramel lembut Namjoon tanpa permisi.

Beberapa detik berlalu dengan kesunyian. Hampir saja Namjoon tertidur jika saja tubuh Taehyung secara tiba-tiba tidak bergerak kejang-kejang. Dan bunyi statis dari monitor detak jantung yang nyaring menambah kepanikan Namjoon menjadi lebih dari apapun. Pemuda bersurai purple itu dengan segera menekan tombol darurat di sisi ranjang pasien.

TIT! TIT! TIT! TIT!

TIT! TIT! TIT! TIT!

.

.

.

.

.

.

Jimin terlonjak kaget saat pintu ruang kerja kekasihnya terbuka mendadak. Jimin yang tengah berbincang mesra dengan Yoongi mendadak berhenti. Menampilkan seorang suster yang terlihat begitu panik.

"Park Yoongi seonsae! Pasien Kim Taehyung ... Dia kembali kejang-kejang. Detak jantungnya juga melemah!"

Raut wajah Yoongi berubah serius. Dokter muda itu beranjak dari duduknya dan berlari menuju ruang 0626 dimana Taehyung dirawat. Diikuti Jimin di belakangnya yang juga ikut panik dan berlari mengikuti Yoongi.

Di koridor – lebih tepatnya di ruang tunggu – terlihat Chanyeol dan Hyunwoo yang baru saja sampai, kedua pemuda itu menghampiri Namjoon yang masih dalam keadaan syok. Di belakang Namjoon ada Jiwon yang sudah terlihat sangat pias dan Changwook yang tengah menerima telepon dari Jin.

Hingga akhirnya dokter muda tersebut sampai – dengan Jimin di belakangnya – dan langsung memasuki kamar rawat Taehyung. Chanyeol dan Hyunwoo menatap pemuda bersurai silver dengan tatapan penasaran. Jimin seketika mati gaya. Untuk apa juga dirinya mengikuti Yoongi sampai ke sini.

Yoongi keluar dari kamar rawat Taehyung, lalu menghampiri kedua orangtua – angkat – Taehyung, dokter muda itu menyatakan bahwa putra bungsu kesayangan mereka harus melakukan operasi lagi akibat trauma di otaknya yang terus terjadi.

"Aku meminta izin pada kalian untuk melakukan operasi pada pasien Kim Taehyung. Jika operasi ini membuat kalian keberatan maka aku akan menghentikan semuanya."

Jin dan Junmyeon berlari menghampiri dokter dan kedua orangtua mereka. Hati Jin berdenyut sakit kala dirinya melihat sang ibu menangis tersedu-sedu dipelukan sang ayah. Changwook mengusap matanya yang mulai berair, hingga caramel itu memaku pada kedua anak dewasanya yang menatap kedua orangtuanya sedih.

"Maaf, tapi waktu kita tidak banyak―"

"―lakukan." Ucap Jin.

Seluruh penghuni koridor ruang rawat 0626 spontan terdiam. Jin melangkah maju mendekat. Yoongi menatap Jin meminta keseriusan atas ucapannya.

"Lakukan. Ini demi kebaikan adikku. Aku yakin, anak nakal itu pasti akan sembuh dan bangun dari komanya."

Chang Wook menepuk pundak anak lelakinya, "Kami percayakan semuanya padamu, Park seonsae."

"Kumohon selamatkan sahabatku, Park seonsae!" Seru Namjoon, kepalanya ia tundukan untuk menghormati dokter muda di depannya.

Yoongi tersenyum lembut pada Namjoon. "Kalian sangat mirip.." Ucapnya.

Doa terus dipanjatkan seluruh keluarga dan teman 'seperjuangan' Taehyung, mereka berharap operasi kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Yoongi memerintahkan suster Kim untuk memanggil dokter Lee Ji Hoon di divisi anak di lantai tiga. Tanpa berpikir panjang lagi, wanita itu segera berlari menuju lift, melewati seorang pria berpakaian serba hitam memperhatikan adegan miris di depannya tanpa ekspresi. Tanpa mereka sadari pria misterius itu menyeringai mengerikan.

.

.

.

.

.

"Apa Kim Ji Hoon seonsae ada hari ini?" Tanya Suster bername tag Kim Seo Eun dengan nafas terengah-engah.

Suster dengan seragam merahmuda memandang rekan kerjanya itu penuh tanya.

"Oh. Itu dia!" Serunya, sembari menunjuk seorang pria bersurai ikal dengan kemeja berwarna navy yang dibalut jas dokternya. Seo Eun mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk suster berseragam merahmuda tersebut. Ada yang aneh. Dokter itu sungguh berbeda dengan sosok yang dilihatnya dua minggu lalu.

"Err.. Benar dia itu Lee Ji Hoon seonsae..?" Tanya Seo Eun ragu.

Suster itu mengangguk.

"Dokter bedah jantung divisi anak?" Tanyanya lagi.

"Kim Seo Eun-sshi, dokter jantung anak di divisi ini hanya Lee Ji Hoon seonsae seorang. Lee Ji Hoon seonsae!" Pria yang dipanggil Ji Hoon itu menoleh dan berjalan menghampiri meja receptionist. Pria itu ikut membungkuk saat Seo Eun memberi salam padanya.

"Ada apa?" Tanya Dokter itu ramah.

Suster berseragam merahmuda itu memberi kode pada Seo Eun – untuk berbicara pada si dokter – lewat matanya yang bulat.

"Ah, iya.. maaf aku mengganggumu Lee seonsae. Tapi, Park Yoongi seonsae memintaku untuk memanggilmu ke ruang operasi di lantai 10. Pasien Kim Taehyung yang kau bantu saat operasi dua minggu yang lalu mengalami trauma otak lagi." Jelas suster cantik itu, ada nada panik di dalamnya.

Alis tebal itu mengerut. "Tunggu sebentar. Apa maksudmu aku mengoperasi ... siapa?" Tanya dokter tampan itu kebingungan.

"Y-ye?" Seo Eun terkejut. Dari raut wajahnya jelas saja wanita itu juga ikut kebingungan.

"Apa maksudmu aku membantu Park seonsae melakukan operasi? Selama tiga bulan ini aku melaksanakan dinasku di Afrika." Jelas Lee seonsae.

"Bagaimana bisa ... " Gumam suster cantik itu, namun masih didengar dua orang di sekelilingnya.

" ... tapi aku melihatmu memasuki ruang operasi tempo hari bersama Park seonsae. Dan itu sudah terjadi tiga kali berturut-turut. Kau juga membantu pasien Kim Namjoon yang saat itu mengalami trauma otak bulan lalu.." Masih sangsi, suster muda itu mencoba mengingatkan kembali dokter tersebut. Pasalnya, dirinya juga ikut saat operasi Kim Taehyung yang berlangsung dua kali itu.

"Itu tidak mungkin. Ji Hoon seonsae menjalani bakti sosial di Afrika sejak tiga bulan lalu. Mana mungkin dia ikut membantu Park seonsae melakukan operasi." Suster berseragam merahmuda itu mengusap keningnya. Tiba-tiba kepalanya pusing sendiri.

"Aku baru saja pulang dari afrika tiga jam lalu.. Seo Eun-sshi." Dokter tampan itu terkekeh kaku, setelah sebelumnya membaca name tag di dada suster di depannya.

Ketiganya terdiam.

Akhirnya suster muda itu kembali menuju lantai 6 dimana kamar rawat Taehyung berada. Wajahnya yang pucat pasi berlari menghampiri ruang nomor 0626.

"Suster Kim! Kau ini kemana saja? Park seonsae mencarimu kemana-mana!" Seru kepala perawat Jang, wanita tua itu bergerak panik sembari mendorong trolly berisikan peralatan operasi menuju lantai 10.

Seo Eun mencengkram gagang trolly membuat perawat Jang menghentikan langkahnya.

"Apa lagi?!" Seru wanita tua itu.

"A-ano ... Park seonsae tadi menyuruhku memanggil Lee Ji Hoon seonsae, tapi...―" Tamparan main-main mengenai pundak suster Kim, kepala perawat Jung menggeram gemas pada juniornya yang satu ini.

"Kau ini bicara apa! Lee Ji Hoon seonsae sudah berada di ruang operasi sejak kau pergi. Park seonsae memanggilmu tapi kau tidak dengar. Ayo, bantu aku bawakan ini semua.." Perawat Jung menyeret suster Kim paksa sementara wanita cantik itu masih terdiam tidak percaya.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Chanyeol, tidak santai. Caramel itu semakin menajam saat Jimin membalas tatapannya. Sayangnya Jimin tidak merasa ciut.

"Menjenguk Taehyung ... sunbae." Cerocos Jimin spontan. Setelahnya Jimin menganga tidak percaya akan jawabannya barusan. Chanyeol dan Hyunwoo mendadak bisu. Juga keheranan.

Jimin menelan ludahnya kesusahan. Tatapan tiga makhluk di sekitarnya membuat Jimin makin salah tingkah. Ngomong-ngomong sekarang ini hanya ada mereka berempat di lorong koridor depan kamar rawat Taehyung. Keluarga Taehyung memutuskan untuk menunggu di depan ruang operasi di lantai 10 sejak satu jam yang lalu.

"Hai. Namjoon sunbae.. Kau sehat." Sapa Jimin, ceritanya pemuda mungil itu ingin mencairkan suasana yang membeku akibat sikap konyolnya barusan.

"Hm." Jawab Namjoon. "Bagaimana kabarmu?" Lanjutnya.

"Kabarku baik.."

Hening kembali terjadi diantara mereka. Dan Jimin benar-benar mati gaya.

.

.

.

.

.

.

Suster Kim mengelap kucuran keringat dari pelipis Yoongi, sekarang ini dua dokter muda itu tengah melakukan craniotomy *¹. Pembedahan sudah berlangsung selama dua jam dan suasana di ruang operasi sangat menegangkan. Tekanan darah Taehyung yang kadang menurun drastis cukup mengganggu konsentrasi Yoongi, penambahan stok darahpun sudah dilakukan berkali-kali.

"Kenapa kau berani mengambil resiko seperti ini, Park seonsae?" Tanya pria bermata elang, Dokter Lee. Pria itu membantu dengan membuka ruang untuk Dokter Park membedah isi tengkorak milik Taehyung.

"Kenapa pertanyaanmu seperti itu?" Yoongi balas bertanya, datar sekali. Dokter muda itu tidak melepas fokusnya pada gumpalan darah pada otak pasiennya, kira-kira terdapat 500 an cc.

Onyx itu menatap pemuda tak berdaya yang kini di atas meja operasi tanpa belas kasih. "Hanya saja aku tidak melihat kehidupan pada anak ini.."

"Jangan begitu. Di saat genting seperti ini kita adalah pahlawan super bagi mereka yang menunggu di luar sana. Kau dokter, setidaknya pola pikirmu harus seperti itu." Yoongi mulai menyedot gumpalan darah itu sedikit demi sedikit.

Suster Kim memperhatikan keduanya bergantian, terutama pada dokter Lee yang menurutnya sangat mencurigakan. Hingga akhirnya kedua caramelnya bertemu pandang dengan onyx tajam dokter Lee. Suster Kim mendadak kaku, wanita itu mengalihkan pandangannya sedikit demi sedikit ke arah lain.

"Bagaimana ini ... sepertinya aku ketahuan."

Suster Kim kembali menatap dokter Lee, caramelnya sedikit menangkap kalimat isyarat dari bibir si dokter misterius tersebut.

"Kau tak akan bisa lari dariku..BOMM!"

.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTT

.

Bola matanya membelalak.

"Dokter Park! Detak jantung pasien Kim menurun drastis!"

"Defibrillator 200 Joule!" Seru Yoongi.

Dengan segera perawat Jung menarik Defibrillator tersebut mendekat pada Yoongi dan dokter muda itu langsung mengejutkannya tanpa menunggu lagi. Suara statis itu tak berubah, membuat seluruh penghuni ruang operasi tersebut kalang kabut. Dokter Lee yang mengambil alih pekerjaan Yoongi memandang kepanikan di depannya dengan santai. Terkadang, senyuman itu muncul walau samar.

"Tekanan darahnya menurun 90/60 seonsae!"

"Naikkan 360 Joule!"

Kepanikan terus terjadi di sana. Yoongi mengejutkan tubuh itu untuk yang kesekian kalinya. Namun tak ada yang berubah. Lengan berinfus itu masih tergeletak tak berdaya di samping meja operasi. Seperti tuli, Yoongi menaiki meja operasi dan segera melakukan kompresi dada.

Nafas buatan.

Kompresi dada.

Lakukan lagi, kompresi dada.

Nafas buatan.

"Park Yoongi seonsae.. pasien Kim.."

.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTT

.

Tik

.

Tik

.

Tik

.

Detik jam terus berbunyi. Yoongi dan seluruh perawat di sana bungkam, penyesalan jelas terukir di setiap wajah perawat dan dokter muda tersebut.

Sesak.

Yoongi menahan nafasnya menahan emosi dalam hatinya. Dadanya sesak sekali. Kenapa selalu terjadi lagi. Lagi dan lagi. Kenapa kematian selalu menang dalam segala hal?

Dokter Lee berjalan mendekati Yoongi, "Pasien Kim Taehyung, waktu kematian pukul 17.55 KST."

Yoongi memandang wajah Taehyung yang terpejam tenang. Anak muda di depannya ini sudah tiada.

"Park seonsae, sebaiknya kau segera memberi tahu pihak keluarganya. Biar aku yang bereskan sisanya." Lanjut dokter Lee.

Yoongi memejamkan matanya penuh penyesalan. Pria bertubuh mungil itu turun dari meja operasi dan berjalan gontai meninggalkan seluruh ruangan penuh benda tajam tersebut.

"Kalian bisa meninggalkanku sekarang. Bereskan saja semua peralatannya. Biar aku yang menyelesaikan operasi ini."

"Baik, seonsaengnim.." Jawab mereka serentak

"Oh, dimana suster Kim?" Tanya kepala perawat Jung. Para suster lainnya menggeleng tidak tahu.

.

.

.

.

Pria berpakaian serba hitam memandang datar pemuda tak bernyawa di hadapannya. Pria itu berjalan menghampiri tubuh pemuda itu yang masih dalam tahap jahit di bagian kepalanya. Disingkirkannya kain penutup di sekitarnya lalu pria bermata emerald itu memasukkan jarinya ke dalam bagian tengkorak yang terbuka.

.

.

.

.

.

"Oh, senior Jung. Sudah selesai operasinya?" Tanya seorang teman pada kepala perawat Jung. Tepukan pada lengannya menyadarkan wanita setengah abad itu dari lamunannya.

"Ya..―eh!" Kepala perawat Jung menepuk keningnya, teringat sesuatu.

"Ada apa?" Tanya temannya.

"Aku lupa Lee seonsae sedang menyelesaikan operasi pasien Kim sendirian. Kenapa alat jahitnya aku bawa semua.." Wanita itu menggerutu dan disaksikan oleh temannya yang kebingungan.

"Kau terlihat linglung sore ini.."

Mengabaikan ocehan temannya, perawat itu pun langsung berlari dengan membawa kotak instrument menuju lantai dimana operasi Taehyung dilaksanakan. Tak lama, wanita tua itu sampai di ruang operasi tersebut. Matanya mengerut. Dari balik jendela pembatas, kepala perawat Jung meneliti sesosok pria berpakaian serba hitam yang tengah melakukan hal aneh pada bagian tubuh jenazah pasien Kim.

"Siapa disana?!" Seru kepala perawat Jung.

Pria yang merasa aktivitasnya terganggu itu tampaknya terkejut, lantas sosok itu menoleh ke arah suara yang mengganggunya. Di sana, terdapat kepala perawat Jung yang menatapnya tanpa berkedip. Bola matanya membelalak, terkejut bukan main. Pria itu mengeluarkan jarinya dari dalam tengkorak Taehyung. Darah segar menetes dari kuku-kukunya. Membuat kepala perawat Jung merinding seketika.

"Apa yang kau lakukan pada pasien Kim?!" Seru wanita paruh baya itu lagi. Jemarinya yang gemetaran tanpa sengaja menjatuhkan kotak instrument saat pria misterius itu berjalan perlahan menghampirinya.

Pria itu menatap kepala perawat Jung dingin. "Aku melakukan apa yang biasa seorang dokter lakukan."

Kepala perawat Jung melirik tubuh tak berdaya Taehyung, tangan dan kakinya yang sudah bebas dari traksi dan gips membuat wanita itu kembali menatap pria misterius di depannya ngeri.

"S-siapa kau sebenarnya Lee seonsae..?"

Pria itu menyeringai, "Kau tak layak untuk tahu."

Pria bermata emerald itu mencekik leher wanita tua itu tanpa belas kasih. Kepala perawat Jung menganga dengan mata melotot merasa sesak. Kaki gemuknya sudah tidak menapaki lantai lagi. Masih dengan mencekik, pria misterius itu menusuk bagian perut sang kepala perawat dengan jarinya hingga menembus ke punggung. Sampai akhirnya kepala perawat Jung tergeletak bersimbahan darah dengan keadaan yang sangat mengenaskan pada bagian perutnya.

Pria itu tersenyum. "Kau mengganggu. Sungguh."

Setelahnya pria itu kembali berjalan menghampiri tubuh tak bernyawa Taehyung. Memulai kembali kegiatan yang barusan ia lakukan. Yaitu menjahit bagian kepala bekas bedahan yang Dokter Park lakukan. Ajaibnya jahitan yang pria misterius itu lakukan tidak menimbulkan bekas sama sekali. Rambut yang sempat dicukur hingga botak itu kembali tumbuh lebat seperti semula – red chili. Setelah semua yang dilakukannya selesai, lantas pria itu menarik koper besar dan membukanya. Lalu menaruh tubuh tak bernyawa itu ke dalamnya dengan menekuk bagian tubuh telanjangnya.

Tanpa permisi pria misterius itu berjalan melewati mayat suster Kim dengan menggeret koper itu santai.

.

.

.

.

.

.

.

"Maaf.."

Jiwon jatuh bersimpuh tak kuat menahan lemas pada tubuhnya dan langsung direngkuhnya tubuh itu oleh sang putra, Jin. Liquid bening itu kembali mengalir tanpa tedeng aling-aling. Jiwon menjeritkan rasa sakit di hatinya dengan menangis sekencang-kencangnya detik itu juga.

"Anakkuu ... Anakku Taehyungg ... Anakku yang malang.." Lirihnya.

Changwook memeluk Junmyeon yang sudah menangis tersedu-sedu. Pria tangguh itu ikut menangis lantaran rasa sakit di hatinya yang tidak dapat ditangguhkan lagi. Sesak sekali rasanya, rasa sesal di hatinya sangat membumbung tinggi dibandingkan kejadian dua belas tahun yang lalu. Ini lebih menyakitkan.

Jin terisak. Ingin rasanya ia tidak mempercayai kejadian yang terjadi hari ini. Ingatannya kembali pada Taehyung yang selalu mewarnai kehidupannya selama ini. Bagaimana mereka tertawa bersama, bagaimana Taehyung yang selalu membuatnya kesal, bagaimana adik kesayangannya ini merengut marah padanya. Jin menangisi adiknya yang paling ia cintai.

Yoongi menunduk, menyesali semua yang terjadi hari ini. Airnya matanya ikut mengalir melihat kejadian kehilangan ini. Harusnya ia sudah terbiasa dengan adanya kematian seperti ini, namun nyatanya rasa sakit di hatinya selalu mencuat dan menyentuh sisi kemanusiaannya. Obsidian itu menangkap sesosok pemuda di ujung lorong. Itu Jimin. Raut mukanya dipenuhi garis khawatir dan terkejut. Pemuda itu tak bergerak seinci pun. Hanya menatapnya dari jauh dan Yoongi kembali menunduk, dokter muda itu menangis dalam diam.

Suara ribut terdengar dari belakang punggung Jimin. Polisi, tim keamanan dan beberapa suster berlari tunggang langgang ke arah mereka. Yoongi mengusap bekas air matanya.

"Ada apa ini?" Tanya Yoongi bingung.

"Seseorang menelepon dari ruang operasi K bahwa telah terjadi kecelakaan!" Ucap seorang kepala perawat Han. Setelahnya gerombolan itu bergerak gusar menuju ruang operasi dimana Yoongi barusan mengoperasi Taehyung. Tak lama setelahnya terdengar suara teriakkan seseorang menggelegar sampai keluar ruang operasi.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook memandang datar pemuda jangkung di sampingnya yang menurut kabar angin katanya pria itu adalah sepupunya. Seunghyub namanya. Jeon marganya. Dan pemuda bersurai oranye itu adalah anak dari paman Jungkook, kakak ayah Insung. Tingginya 180 sentimeter dan Jungkook harus sedikit mendongak untuk berbasa-basi dengan pemuda berumur 20 tahunan itu. Sekarang ini keduanya tengah bermalas-malasan di kamar Jungkook. Sehabis pulang dari kelas politik dan mandi sepupunya ini melenggang masuk kamar Jungkook tanpa ijin untuk minta ditemani mengobrol. Tapi sampai saat ini keduanya malah sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa ngobrol apapun.

Seunghyub sibuk dengan iphonenya.

Dan Jungkook sibuk dengan buku sejarah kesayangannya.

"Lihat. Manis ya.." Pemuda itu menunjukkan sebuah photo anak SD bertubuh mungil dan berpipi chubby pada Jungkook. Jungkook mengerutkan alisnya. Jelas ia tidak tertarik.

"Siapa dia?" Tanya Jungkook, sekedar basa-basi.

"Rahasia."

Alis Jungkook berkedut. Dan pemuda itu menghiraukan sepupunya yang makin asik melihat-lihat photo yang menurutnya lucu.

"Setelah dewasa nanti anak itu pasti jadi wanita yang cantik. Saat itu tiba kau sudah jadi tua bangka." Ungkap Jungkook. Sedikitnya pemuda itu merasa tertarik untuk membahas itu. Membully sepupu pedophilnya ini lebih tepatnya.

"Siapa?" Tanya Seunghyub.

"Ya anak itu. Bocah yang ada di photo itu."

Mata Seunghyub memicing, "Bocah SD ini laki-laki kalau mau tahu."

Atensi Jungkook teralihkan. "Sungguh?"

Seunghyub masih tersenyum mendamba pada photo di iphonenya. Jungkook jadi memikirkan kabar angin bahwa sepupunya benar-benar seorang pedophile.

"Jadi benar kalau kau ini pedophil hyung?" Tanya Jungkook penasaran.

Seunghyub menoleh, "Aku bukan pedophile. Aku homo." Katanya.

Ringan sekali pria itu bicara. Jungkook saja hampir tersedak ludahnya sendiri. Dering telepon genggam milik Jungkook menginterupsi obrolan dua sepupu ini. Jungkook menggapai iphonenya lalu pemuda itu membaca nama penelpon.

.

Jimin call..

.

Jungkook mengangkat telepon dari sahabatnya itu. Setelah sebelumnya pemuda itu memberi isyarat pada Seunghyub untuk diam.

"Hai Jim.. Ada apa menelponku malam-malam begini?"

Sahutan dari line telepon membuat Jungkook mematung. Kabar meninggalnya Taehyung membuat Jungkook kaget bukan main. Pemuda itu refleks menghentakan punggungnya pada sandaran kursi belajarnya. Kepalanya mendadak pening, lantas Jungkook mengurutnya penuh kecemasan.

"Tapi Jungkook ... ada kejadian yang lebih aneh lagi."

Jungkook bergeming, menunggu kelanjutan dari Jimin.

"Jenazahnya Taehyung tidak di temukan dimana-mana ... tubuhnya menghilang entah kemana."

.

.

.

.

.

.

craniotomy : yaitu pengangkatan gumpalan darah pada otak.

See yaa next chapter ››

.

.

.

Note:

Akhirnyaa selesai jugaa...😬

Mungkin chapter ini bakal jadi yang terakhir yaa ceman-ceman.. Yang terakhir untuk Kooktae berantem-berantem ga jelas maksudnyaa ahahahaha..

Aku udah cape bikin dua sejoli ini berantem mulu wkwk.. Banyaknya moment sweet mereka bikin aku gereget bangeett. Dan just info aja kalo chap depan bakal nyambung sama prologue anomali yang udah aku publish dari baheula xixixixii..

Maaf sebelumnya karena chap ini lama banget di publishnya. Soalnya memang karena alurnya complicated banget dan buat ke depannya mungkin bakal banyak tokoh tambahan yang mungkin aja bisa jadi lakon ataupun mati terbunuh dengan tragis huahahahah... 😎

So, thanks a lot for all my readers.. Aku bersyukur banget kalian mau dan berkenan baca ff super ribet ini. Tapi inilah aku, hobinya memang bikin ff macem begini ehehehe.. Kalau ada yang ngga dimengerti sama alur ceritanya kalian bisa tanya aku. Dengan senang hati aku bakal tuntun kalian ke jalan yang lurus /cielaahh../ soo.. Love you manhi manhii.. 😆