Being a cool man

Main Cast :
-Oh Sehun
-Luhan as girl

Other cast :
-Irene
-Chanyeol
-Kai

Summary : Luhan hanya ingin membantu nasib percintaan Sehun dengan cara mengubah pria itu menjadi pria yang tampan dan keren. Bukannya mendapat sebuah tamparan di pipinya sehingga ia harus kehilangan sahabatnya.
/"Tidak ada cinta sebagai sahabat antara laki-laki dan perempuan. Lebih baik kau menjauh dan jangan dekati Sehun lagi"- Irene / "Maafkan aku"- Sehun/ "Gwenchana"- Luhan.

Rate : T

Disclaimer : Cast dalam cerita ini sepenuhnya milik Tuhan. Terutama Sehun, setengahnya milik saya, hehe *plak* But, this story is Mine. FF ini murni asli pemikiran saya.

Warning : awas typo nyempil.

.

.

.

.

Happy reading

Ps. Doa dulu sebelum dibaca.

.

.

.

Chapter 3

.

.

Setelah mengantarkan Irene pulang akhirnya Sehun tiba di rumahnya. Ketika ia membuka pintu rumah ia langsung disambut oleh suasana sepi dan hening.

Kemana semua orang?

"Eomma, appa. Aku pulaangg"

Tidak ada yang menjawab perkataan Sehun. Pria itu mengangkat kedua bahunya dan berfikir mungkin mereka masih dalam perjalan pulang dari kerja. Sehun pun melangkahkan kakinya menaiki tangga dimana kamarnya berada dilantai 2. Ia melempar tasnya asal dan berjalan menuju kamar mandi. Badannya terasa gerah dan lengket. Jadi, ia memutuskan untuk segera mandi.

15 menit kemudian

Sehun kini telah selesai mandi dan telah menggunakan pakaian andalannya. Baju kaos dan celana training. Ia berjalan menuju meja belajar dan menghidupkan ponselnya yang tadi sempat ia charger.

Setelah hidup, Sehun dibuat bingung dengan ponselnya yang tak berhenti bergetar. Banyak sekali notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Sehun mengernyit aneh

115 panggilan tak terjawab
7 pesan masuk

"Kenapa banyak sekali?"

Sehun memutuskan untuk melihat 115 panggilan tak terjawab dulu karena itu notifikasi terbanyak diponselnya.

115 itu didominasi oleh ibunya lalu Kai, Chanyeol -teman sekelasnya- dan

Luhan?

"Kenapa ia menelfon?"

Sehun memilih menelfon Luhan balik. Namun tak ada jawaban sama sekali membuatnya merasa aneh dan khawatir. Karena ini pertama kalinya Luhan menelponnya bukan hanya sekali melainkan berkali-kali dalam jangka waktu sebentar.

Sehun memutuskan untuk membuka pesan masuk. 7 pesan itu murni sepenuhnya dari Kai. Wajahnya tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Dengan cepat ia mengambil jaket dan kunci motornya. Sehun melaju dengan kecepatan tinggi menerjang ramainya Seoul malam ini tak peduli dengan teriakan, atau bunyi klakson padanya. Hanya satu yang saat ini ada dipikirannya.

Luhan dan Luhan

From : Kai
YA! KAU DIMANA?

KE RUMAH SAKIT DEOKSUK SEKARANG!

LUHAN MASUK RUMAH SAKIT!

YAA! SEKKIYA

APA KAU SEDANG ASYIK PACARAN DENGAN PEREMPUAN IBLIS MU IITU, EOH?!

YA! OH SEHUN BALAS PESAN KU SEKARANG

Cepatlah kemari aku tidak tahu apakah ini akan jadi hari terakhir kau dapat melihat Luhan. Kondisinya sangat kritis.

Sehun semakin mempercepat laju motornya. SMS terakhir Kai membuatnya merasa semakin takut.

Tidak, ia tidak boleh kehilangan Luhan. Perempuan itu sangat berarti bagi hidup nya.

.

.

.

Suara kaki Sehun menggema mengisi keheningan koridor rumah sakit. Setelah mengetahui letak ruang dimana Luhan dirawat ia langsung berlari secepat mungkin. Setibanya disana ia menghentikan langkahnya melihat ibunya yang memeluk ibu Luhan yang sedang menangis berusaha menenangkan. Sementara ayahnya berdiri disebelah ayah Luhan, walau tidak menangis kentara sekali jika diwajahnya ia sangat mencemaskan Luhan dan disana ada Kai yang juga menunggu.

Sehun merasa ragu untuk mendekat. Ada pikiran untuk segera pergi dari sana tapi pandangannya dan Kai bertemu membuat ia batal pergi dan melangkahkan kakinya mendekati mereka.

"Eo-eomma" Panggilnya pelan.

"Sehun-ah, kau dari mana saja. Kenapa kau tak bisa dihubungi sedikit pun" kata dengan suara yang tinggi.

Jelas sekali jika ia marah pada anak semata wayangnya. Biar bagaimanapun Luhan sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Dan Sehun yang mengaku sebagai sahabat Luhan tidak dapat dihubungi disaat yang genting ini.

Sehun menunduk "maafkan aku eomma" lalu menatap ibu Luhan yang masih menangis "Ahjummeoni, maafkan aku"

Ibu Luhan menghentikan tangisannya dan melepaskan pelukannya lalu menarik Sehun mendekat dan balik memeluk Sehun.

"Terima kasih telah bersedia menjadi sahabat Luhan dan membuat harinya bertambah cerah"

Ibu Luhan melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Sehun. "Apa maksud Ahjumma" ia tak menjawab dan memilih menundukkan wajahnya menahan tangisannya yang akan keluar.

Sehun menatap ibunya meminta jawaban tapi ibunya hanya diam dan memilih bungkam begitu pula ayahnya. Ketika ia bertatap muka pada Kai, lelaki tan itu menyuruh untuk mengikutinya lewat gerakan mulutnya.

.

.

.

"Luhan mengalami kanker otak, ia sudah mengidap penyakit ini sejak 2 tahun yang lalu. Hanya saja selama setahun kanker otak itu hilang tapi ternyata penyakit itu datang kembali dan lebih parah dari sebelumnya. Sebenarnya semenjak 3 bulan yang lalu appa ku telah menyarankan Luhan agar ia mau operasi di Jerman. Karena fasilitas dirumah sakit Seoul belum sepenuhnya lengkap. Tapi ia tetap menolak dan bersikeras tak ingin di operasi dengan alasan ia takut tidak dapat melihat mu lagi"

Seperti di sengat beribu-ribu watt listrik. Rasanya Sehun ingin menenggelamkan dirinya ke dasaran laut saat ini juga. Ia merasa gagal sebagai sahabat. Kenapa baru sekarang ia tahu jika Luhan mengidap penyakit yang mematikan. Jadi, ini alasan wajahnya yang kian memucat belum lagi Luhan yang cepat sekali merasa kelelahan.

"Dan lagi, ia tadi terkunci dalam Lab Kimia yang terbakar"

Sehun menegakkan kepalanya menatap Kai dengan sorot mata tak percaya. Ia tak tahu tentang kejadian ini. Bagaimana mungkin bisa.

"Luhan terlalu banyak menghirup asap dari larutan kimia membuat paru-parunya menyempit dan sempat tak bernafas. Tapi beruntung Chanyeol masih ada disekolah saat itu, ia lekas membawa Luhan kemari dan langsung menelpon ku."

"K-kapan itu terjadi?" Tanya Sehun dengan nada gemetar

"Sepulang sekolah"

Sehun merasa sekujur tubuhnya melemah. Ia menahan bobot tubuhnya pada dinding disebelahnya. Jadi, ini alasan dibalik Luhan yang menelponnya. Ia membutuhkan pertolongan dan pada saat itu ia malah asyik tertawa dengan Irene.

Sehun memejamkan matanya, berusaha menguatkan dirinya mendengar berita ini. Ia mengakui jika ia telah gagal menjadi sahabat bagi Luhan. Selama ini Luhan telah banyak membantunya, menyemangatinya ketika ia sedih sewaktu Irene menolaknya, ia juga berusaha merubah Sehun agar ia dapat jadian dengan Irene. Dan Luhan tidak marah pada Sehun ketika kejadian dimana Irene yang menampar Luhan. Gadis itu malah memilih menjaga jarak dengannya.

Sehun akhirnya menyerah, air matanya turun membasahi pipinya diikuti dengan tubuhnya yang merosot kebawah. Hatinya sakit mendengar semua ini. Ia tidak tahu jika nyatanya selama ini Luhan tersiksa.

Kai berjongkok didepan Sehun menepuk pundak pria itu memberikan kekuatan padanya "Kau harus kuat, Luhan tak ingin melihat sahabat terbaiknya menangis"

"A-aku telah gagal menjadi sahabatnya. Aku.. aku tak pantas jadi sahabatnya"

Kai tersenyum "jika itu menurut mu maka dari sekarang ubahlah kata gagal menjadi berhasil, ubahlah kata tak pantas menjadi pantas."

Sehun mendongak menatap kai tak mengerti dengan perkataannya "Percayakan pada hati mu. Berdirilah, Luhan menunggu mu"

.

.

.

Tempat berbeda diwaktu yang sama.

Dokter yang menangani Luhan akhirnya keluar. Membuat dua pasang orang tua itu bangkit berdiri dan segera mendekati sang dokter .

"Bagaimana keadaan anak saya dok" tanya Ayah Luhan.

Dokter menghela nafas pasrah membuat suasana di koridor rumah sakit yang sepi itu menegang.

"kami telah berusaha semampu yang kami bisa hanya saja Luhan harus secepatnya dibawa ke Jerman untuk mendapatkan penangan yang lebih baik"

Sempat terjadi keheningan sejenak.

"Kita harus membawanya sekarang" seluruh pasang mata itu menatap pada ayah Luhan

"Luhan harus selamat. Aku tak ingin ia pergi secepat ini. Anak ku harus selamat."

Setelahnya, semua terjadi sangat cepat. Sang Dokter dan beberapa perawat membantu membawa Luhan kedalam mobil ambulance. Beruntung orang tua Luhan mendapatkan tiket pesawat yang akan melandas ke Jerman malam ini. Ia dan sang istri bergegas begitu cepat mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya ke Jerman. Sebelum berangkat ibu Luhan sempat mengucapkan terima kasih pada kedua orangtua Sehun karena telah menjaga Luhan selama ini. Mereka berpelukan dan menumpahkan air mata yang sedari tadi mereka tahan.

"Berjanjilah, kembali dengan membawa Luhan pulang" kata terakhir sebelum mereka berpisah.

.

.

.

2 hari kemudian

Kemarin lusa adalah hari terburuk bagi Sehun. Ia kehilangan satu-satunya sahabat terbaik baginya. Ia berteriak seperti orang gila di koridor rumah sakit tepat didepan ruang dimana Luhan dirawat. Orang tuanya hanya diam tak menjawab pertanyaan Sehun perihal Luhan yang tak lagi ada diruang rawat. Hingga akhirnya Sehun pingsan dan segera mendapatkan penanganan dari dokter.

Setelah dua hari dirawat dirumah sakit hari ini Sehun telah diperbolehkan pulang. Dokter berpesan agar ia makan dengan teratur dan kembali mengontrol kesehatannya. Karena selama dua hari di rumah sakit Sehun tak mau makan dan beberapa kali kepergok mencabut infusnya dengan alasan ia harus mencari Luhan.

Pintu ruang rawatnya terbuka menampilkan Irene dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya. Irene melangkah masuk mendekati Sehun yang telah rapi dengan baju gantinya. Selama dua hari ini Irene memang selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang pacar. Sehun tersenyum membalas senyuman Irene.

"Bagaimana kabar mu? Kau terlihat kurus Sehun-ah padahal kau hanya dua hari menginap disini"

Sehun tersenyum dan merentangkan tangannya menarik Irene dalam pelukannya. Tangannya mengelus puncak kepala Irene sayang.

"Aku merindukan mu"

Irene tersenyum dan membalas pelukan Sehun erat. Ia merasa bahagia karena tidak ada lagi perempuan yang bernama Luhan. Meski ia tidak tahu kemana perempuan itu pergi hanya satu harapan Irene semoga perempuan itu tak ada lagi didunia ini.

To be continue

APA INI?! AIRIN DIPELUK SEHUN WOI. DI PELUK. WAH WAH WAH. SERODOK NIH /apa sih/

" Mba airin kenapa kau jahat sekali kasihan uri lulu :( "

"Aing jahat karena lu juga Thor :( "

"Eh iya deng lupa"

Hai semuaa /flying kiss/ di keroyok readers/

Masih ada yang nungguin cerita gaje ini, wkwk

Makasih banyak yang udah setia nungguin.

Gimana puasa kalian? Ingat, jangan pantengi abs oppa mulu :v khilaf bisa gawat itu.

ADA YANG LIAT POSTINGAN SEHUN? YANG DIA TELANJANG DADA ARGGHHHHHHH /digampar readers/ ASTAGA NAGA BIN NAGA NAGA ITU TUJUAN SEHUN POSTING FOTO APA COBA? MELELEH AKU MELELEH.

OH IYA HAPPY BIRTHDAY TO VIVI MOGA GA MAKIN NAKAL YA. JANGAN SERING GREPE-GREPE SEHUN HM.

CAPSLOCK JEBOL YA? BIARIN WKWKW XD

Oh iya (udah adem ini) jangan benci kembaran ku ya aka mba irene. Dia gak jahat kok aslinya baik sama seperti daku yang polos ga tau apa-apa. (padahal abs oppa makanan tiap hari wkwk xD)

Juga maap ini kalau misalnya ini kurang panjang, hehe tapi untuk chap depan aku usahain bakal panjang. Ya kalau sih, Haha.

Mind to review?

Big Thanks to :

Frizcha717, Arianne794, aleina8, LSaber, Universegoodnight, sarah, selynLH7, Apink464, listyoctaviani, galaxynine, Seravin509, dreamsoo12, AyuPacarChanyeol, KimaHunHan, misslah, auliaMRQ, NaruLoveAnime, NinditaAnggraeni, Salshabilla, lulubaek, sehun9499, chan61, LuluV, Sella Brizcswitch, babybobo, dkwlsajin, fansanakayam, kepala jamur, viki ismi, putriaudri947, mliani2704, bmylight, S.H 794, lutfita947, HannieOh, Lindah Neafizeeya, Hun1204, guest, Martina1609, devilojoshi, seluhundeer.

LUV U ALL /kecup atu atu/