Being a cool man

Main Cast :
-Oh Sehun
-Luhan as girl

Other cast :
-Irene
-Chanyeol
-Kai

Summary : Luhan hanya ingin membantu nasib percintaan Sehun dengan cara mengubah pria itu menjadi pria yang tampan dan keren. Bukannya mendapat sebuah tamparan di pipinya sehingga ia harus kehilangan sahabatnya.
/"Tidak ada cinta sebagai sahabat antara laki-laki dan perempuan. Lebih baik kau menjauh dan jangan dekati Sehun lagi"- Irene / "Maafkan aku"- Sehun/ "Gwenchana"- Luhan.

Rate : T

Disclaimer : Cast dalam cerita ini sepenuhnya milik Tuhan. Terutama Sehun, setengahnya milik saya, hehe *plak* But, this story is Mine. FF ini murni asli pemikiran saya.

Warning : awas typo nyempil.

.

.

.

.

Happy reading

Ps. Doa dulu sebelum dibaca.

.

.

.

Last Chapter

.

.

7 Tahun Kemudian *cepet ya udah 7 tahun*

Berlin, Jerman

Malam ini adalah malam terakhir salju turun membuat gadis cantik itu tak hentinya memandangi gumpalan kecil berwarna putih yang di sebut salju. Turun secara bersamaan menjadikan malam yang gelap itu terlhat lebih indah. Belum lagi cahaya lampu yang hidup dipinggir jalan menambah kesan cantik malam ini. Seulas senyum mampir di wajah manisnya. Matanya merekam keseluruhan yang ada, ia tak akan –tak ingin melupakan ini.

Sebuah usapan dibahunya membuat ia menoleh dan mendapati kedua orang tuanya yang tersenyum dibelakangnya.

"Apa kau belum puas melihat salju turun. Kenapa belum tidur juga?" Tanya ibunya

"Ini hari terakhir salju turun eomma. Aku tak ingin melewatkannya sedikit pun"

"Atau karena ini hari terakhir mu melihat salju turun disini?" Kini ayahnya yang bertanya.

Perempuan itu terlihat berpikir dan tersenyum. "Mungkin saja appa"

"Kau ingin disini lebih lama?" Tanya ayahnya

"Aku ingin hanya saja-" perkataannya itu berbalik dan menatap kedua orang tuanya yang bingung.

"ada yang ingin ku tanyakan pada appa dan eomma, jika seseorang mengambil sesuatu yang penting dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan?"

Pertanyaan itu tidaklah sulit sebenarnya. Memang apa lagi yang harus di lakukan selain memintanya mengembalikan atau merelakannya, bukan? Tapi namanya orang tua, insting mereka terlalu kuat untuk mencerna maksud perkataan anaknya. Sudah terlihat sesuatu penting apa yang dimaksud oleh anaknya. Kedua orang tuanya saling melempar senyum satu sama lain sebelum jawaban ibunya membuat ia terkejut.

"apa ini tentang Sehun?"

"Ne?"

"Kau merindukan Sehun kan?"

"Apa t-tidak." Jawab nya gugup membuat kedua orang tuanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang ketahuan.

"Katakan saja kau tak perlu berbohong, sayang"

"Ja, sekarang kemasi barang mu. Besok kita tak boleh telat ke bandara. Kau telah merindukan Sehun bukan" ujar Ayah nya dan menepuk pundak sang anak, tersenyum lalu beranjak pergi bersama sang istri dari kamar anaknya yang masih berusaha untuk berbohong.

"Eomma, appa siapa yang bilang aku merindukan Sehuuun. Aku tidak merindukannya. Sungguh" teriaknya hingga bunyi pintu yang tertutup menyisakan dirinya sendiri di dalam kamar dan mendesah pelan.

Sehun?

"Apa kabar dengannya. Apa ia telah menikah dengan Irene, bukankah ia pernah mengatakan akan menikah dengan Irene setelah mereka lulus."

Gadis itu merebahkan dirinya diatas kasur memandangi langit-langit kamar untuk terakhir kalinya.

"Atau mereka telah mempunyai anak. Bukankah telah 7 tahun berlalu. Pasti mereka telah mempunyai anak. 2, 3, 5 atau 10. berapa anak yang mereka miliki" monolognya.

Perempuan cantik itu menghela nafas lalu memiringkan posisi tidurnya.

"Haruskah aku pulang ke Seoul besok? Apa aku sanggup melihat kenyataan yang terjadi. Hati ku sangat sakit"

Hanya helaan nafas yang terdengar. Sebelum akhirnya gadis itu tertidur dalam posisi miring.

.

.

.

Keesokkannya

Seoul
09.00 KST

Hari ini adalah hari dimana Sehun telah sah menjadi seorang CEO menggantikan jabatan ayahnya. 30 menit yang lalu peresmian dirinya menjadi CEO telah selesai. Kini Sehun duduk di meja kantornya diruangannya. Namanya dengan rapi tertulis di papan nama diatas meja kerjanya.

Cklek

Pintu terbuka menampilkan dua lelaki tampan yang telah menemani harinya 7 tahun terakhir. Siapa lagi jika bukan Chanyeol dan Kai.

"Woaahh aku tak menyangka akhirnya seorang Oh Sehun menjadi seorang CEO sekarang" Sehun tersenyum bahagia mendengar ucapan Chanyeol. Dua pria tampan itu duduk di sofa yang ada disana tepat didepan meja kerja Sehun.

"Lihatlah sekarang, kau sangat tampan memakai jas kantor seperti itu" kata Kai

"Tentu saja. Dari dulu aku memang sudah tampan" katanya sombong membuat Kai dan Chanyeol mendesis pelan.

"Apa kau telah menemukan sekretaris baru?"

Sehun menggeleng "Belum. Aku akan membuka lowongan perkerjaan nantinya"

"Kenapa tidak memilih diantara kami saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin"

"Sajangnim" kata mereka serempak dan menundukkan kepala memberi hormat pada Sehun.

"Tidak. Akan. Pernah" jawab Sehun dan menekankan setiap kata yang ia keluarkan.

Kepala Sehun langsung ditoyor oleh Chanyeol.

"Jahat sekali. Kai-ya ayo kita pergi"

Dua pria tampan itu beranjak dari ruangan Sehun dan menutup pintu dengan keras.

"YA!"

.

.

.

Sehun menutup berkas terakhir yang telah selesai ia tanda tangani. Ternyata menjadi CEO tidaklah menyenangkan. Ia menyesal, seharusnya ia menerima saja tawaran Kai dan Chanyeol untuk menjadi bintang dunia.

Pria itu menghela nafas panjang merilekskan otot punggungnya disandaran kursi seraya memejamkan matanya. Lalu ia berdiri dan mengambil jas kantornya yang ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya. Jam kantor telah selesai, saatnya ia pulang.

Mobil mewah Sehun melaju dengan kecepatan standar. Ia ingin dengan cepat tiba dirumahnya dan baring di kasur yang telah menunggunya di rumah. Sehun menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah. Disebelahnya sebuah mobil hitam berhenti tepat disebelah mobilnya tanpa ia ketahui ada seseorang yang sangat dikenalnya didalam mobil hitam itu. Hanya saja Sehun tidak mengetahuinya sama halnya dia yang ada di mobil hitam disebelahnya. Ketika lampu berubah warna hijau Sehun kembali melajukan mobilnya.

.

.

.

Keesokkan pagi nya.

Sehun mengerang dalam tidurnya ketika cahaya matahari menusuk tepat ke wajah tampannya mengusik tidur tenangnya.

"Eomma berhentilah membuka gorden jendela kamar ku" gerutunya kesal pada sang ibu.

"Mau sampai kapan kau tidur. Apa kau lupa jika sekarang kau telah menjadi CEO. Cepat bangun dan bergegas lah" kata ibunya

"Baiklah baik"

20 menit menunggu akhirnya Sehun turun dari kamarnya dengan berbalut baju kemeja putih yang sangat pas ditubuhnya membuat dirinya terlihat lebih tampan walau sebenernya dia telah terlahir tampan.

"Bagaimana dengan pencarian sekretaris mu?" Tanya ayahnya ketika ia tiba di meja makan dan mengambil selembar roti.

"Aku belum membuat lowongan perkerjaan appa. Wae?"

"Appa dan eomma baru saja menemukan sekretaris yang cocok untuk mu"

"Benarkah? Kalau begitu suruh dia datang menemui ku sekitar pukul 10, karena aku akan sibuk hari ini" jawab Sehun dan mengigit roti tawar yang telah di olesinya dengan selai kacang.

"Dan pastikan ia telah memenuhi syarat yang pernah aku berikan pada appa"

"Tenang saja. Dia bahkan melebihi syarat yang telah kau beri"

Sehun tak menjawab dan sibuk mengunyah roti nya tanpa mengetahui jika kedua orang tuanya saling melempar senyum satu sama lain.

Tak lama setelah Sehun berangkat ke kantor. Bel kembali berbunyi membuat Ny. Oh dengan semangat berbalik kembali ke pintu dan membukanya.

Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya melihat siapa yang datang.

"Yeobo, lihat siapa yang datang" teriaknya pada sang suami.

Rasa rindu yang mereka rasakan terbayar sudah dengan kedatangan sahabat lama mereka. Bahkan mereka pulang dengan menepati janji mereka yaitu membawa Luhan pulang dalam keadaan yang sehat.

Yup, tamu yang datang adalah sahabat lama yang telah tak bertemu selama 7 tahun. Siapa lagi jika bukan Luhan dan kedua orang tuanya. Mereka sangat beryukur karena operasi yang Luhan jalankan di Jerman berhasil walaupun dokter sempat mengatakan besar kemungkinan operasi ini akan gagal, mengingat kanker otak yang Luhan derita telah distadium akhir. Tapi beruntung, sebuah mujizat datang bagi Luhan, sehingga gadis cantik itu selamat dari operasinya.

Setelah saling berpelukan satu sama lain, menghantarkan rasa rindu yang telah lama mereka rasakan. Sekarang mereka masuk kedalam dan berkumpul di ruang tengah.

"Bagaimana kabar kalian? Kenapa tidak langsung pulang saja setelah selesai operasi. Kalian membuat ku menunggu sangat lama" oceh nyonya Oh yang berpura-pura kesal.

"Apa kau tak merindukan Sehun? Kau membuatnya menunggu terlalu lama, Luhan-ah."

Luhan hanya tersenyum. "maafkan aku ahjumma"

Dan obrolan itu pun kembali berlanjut. Obrolan yang di dominasi oleh kedua orang tuanya dan orang tua Sehun. Sementara dirinya, akan berbicara jika ditanya saja.

Kedua netra Luhan memilih mengamati rumah yang telah 7 tahun ini tak pernah ia kunjungi. Biasanya rumah ini akan selalu ia datangi setiap harinya. Mengamati dan mengamati sembari mengingat masa lalunya dimana ia dan Sehun menghabiskan waktu dengan bermain dirumah mewah ini.

Tapi, Luhan teringat akan sesuatu. Kenapa tidak ada tanda-tanda anak kecil disini? Dan kemana Irene? Bukankah mereka telah menikah. Luhan masih mengingat jelas perkataan Sehun yang akan menikahi Irene setelah mereka lulus. Dan ini telah 7 tahun seharusnya ada anak kecil disini sedang bermain atau mereka belum mempunyai anak. Tapi jika iya. Kemana Irene? Ah, atau mereka telah memiliki rumah sendiri?

Luhan kurang yakin dengan opsi terakhir. Ia sangat tahu betul jika Sehun tak bisa meninggalkan kedua orang tuanya. Rasa cintanya sangat besar terhadap orang tua yang telah membesarkannya.

"Kau mencari Sehun?" Pertanyaan dari ny. Oh menghentikan aktivitas Luhan memandangi isi rumah Sehun.

Luhan tersenyum dan menggeleng pelan. Ia mencoba bertanya namun merasa ragu. Tapi ia sungguh penasaran, haruskah ia bertanya

"Ahjumma aku ingin bertanya.." kedua pasang orang tua itu melihat Luhan, penasaran akan pertanyaan gadis cantik itu "Apa Sehun dan Irene telah menikah?" tanyanya hati-hati

Kedua orang tua Sehun terlihat bingung awalnya tapi akhirnya mereka baru tersadar.

"Sehun dan Irene telah lama putus."

Luhan terkejut mendengar hal itu. ia tak menyangka, bagaimana bisa? Bukankah Sehun sangat mencintai Irene.

"Kenapa?" Tanyanya pelan

"Ahjumma tak bisa memberitahu. Lebih baik kau temui saja Sehun langsung" kata Ibu sehun meninggalkan rasa penasaran bagi Luhan.

Menemui Sehun? Haruskah dia?

.

.

.

Sehun melempar jasnya asal dan melonggarkan dasinya yang mencekik lehernya. Pria itu langsung duduk di kursi nya dan menghela nafas kasar.

Ini hari kedua nya menjadi CEO di perusahaan ayah nya tapi ia sudah dibuat kesal oleh salah satu karyawan kantornya. Sehun mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk ayahnya mengatakan jika pertemuan ia dan sekretaris barunya di batalkan saja. Karena ia dalam kondisi yang tak baik. Ia takut jika sekretaris baru itu jadi pelampiasan amarahnya.

Sehun memejamkan matanya berusaha menenangkan pikirannya. Tapi siapa sangka niatnya yang ingin menenangkan pikiran malah hancur dengan wajah Luhan yang tiba-tiba saja muncul dikepalanya membuat Sehun membuka matanya dan kembali menghela nafas.

Ia mengusap wajah kasar lalu menatap bingkai foto kecil yang ada diatas meja kerjanya. Foto yang menampilkan dirinya dan Luhan. Jemari Sehun mengambilnya dan mengelus wajah Luhan.

"eodiseo? Bogoshipeo," gumamnya pelan.

.

.

.

Malamnya Sehun pulang dalam keadaan yang kusut. Ia baru saja mendapatkan pesan dari ibunya jika mereka akan pergi ke suatu tempat meninggalkan Sehun sendirian dirumah.

Langkah Sehun pelan masuk dalam rumahnya. Ketika menaiki tangga langkahnya terhenti mendengar suara berisik dari arah dapur. Sehun pun urung menuju kamarnya dan memilih mengecek dapur terlebih dahulu. Disana ia melihat seorang perempuan yang sedang membelakanginya. Terlihat sangat familiar. Tapi siapa?

"Ssh" Sehun mendengar perempuan itu yang meringis kesakitan. Ia hendak menghampirinya namun terhenti ketika perempuan itu mengeluarkan suara yang sangat jelas ia kenal.

"Tahu begini lebih baik aku memesan makanan saja, dari pada harus susah payah memasak. Heish, merepotkan" keluhnya dan melempar pisau yang telah membuat jarinya mengeluarkan darah. Perempuan itu membalikkan tubuhnya hendak mengobati jarinya yang berdarah tapi tubuhnya malah diam membeku, terkejut melihat seseorang yang berdiri didepannya saat ini. Begitu pula pria didepannya yang sama terkejut seperti dirinya.

.

.

.

Sehun melangkah mendekat ke arah perempuan yang tak lain adalah Luhan. Perempuan yang 7 tahun ini selalu menghantui pikirannya. Dan entah kenapa tiap Sehun melangkah mendekat rasa gugup menguasai tubuh Luhan. Entahlah, mungkin ini efek telah lama tak bertemu. Sehun mengambil jemari Luhan yang berdarah.

"Jari mu terluka. Aku akan mengobatinya"

Membawa perempuan itu ke meja makan dan mendudukkannya di salah satu kursi disana sementara dirinya mencari kotak p3k. Tak butuh waktu lama Sehun kembali dengan kotak p3k ditangannya dengan jas kantornya yang telah ia buka.

Dengan telaten Sehun mengobati jari Luhan yang terluka sementara perempuan itu hanya memandangi Sehun yang sibuk dengan kegiatannya.

Tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara atau memulai sebuah obrolan kecil. Menutupi fakta jika sebenarnya mulut mereka telah gatal untuk berbicara. Sepertinya 7 tahun tak bertemu sanggup membuat mereka tampak seperti orang lain. Kecanggungan yang kini mereka rasakan.

Setelah berfikir panjang, beradu dengan ego dan rasa gengsinya akhirnya Luhan memberanikan diri untuk membuka sebuah obrolan. Jujur saja, diam seperti ini malah membuatnya bertambah gugup.

"Bagaimana kabar mu?" Tanya Luhan ketika Sehun telah selesai memasang plester pada jarinya.

Luhan melihat Sehun diam dan belum membalas pertanyaannya. Hingga pria itu selesai membersihkan peralatan obat dan memasukkannya kedalam kotak p3k. Barulah Sehun menjawab dengan nada yang dingin.

"Sangat buruk. Kau menghancurkan hidup ku, membuat ku putus dengan Irene, dan membuat ku menjadi pria bodoh yang menangisi wanita yang sama tiap malamnya"

Luhan menatap Sehun sedih. Hatinya terasa sakit entah kenapa. Nada suara Sehun yang dingin membuatnya menyesal. Seharusnya ia tahu jika hal ini akan terjadi. Sehun pasti sangat kecewa pada dirinya yang pergi begitu saja meninggalkannya tanpa sedikit pun kabar tentang kepergiannya.

Dan lagi kata Sehun yang menangisi wanita yang sama tiap malamnya. Ia tahu wanita itu pasti Irene. Sudah di pastikan jika Sehun memang masih mencintai Irene. Tapi, kenapa ia malah menyalahkan Luhan perihal mereka putus. Apa memang Luhan yang sudah membuat mereka putus. Apa ini alasan ibu Sehun menyuruhnya untuk meminta penjelasan pada Sehun.

Perempuan itu menunduk "maafkan aku"

Luhan sebisa mungkin menahan air matanya yang akan jatuh sebentar lagi.

"Aku tak menerima maaf mu. Aku hanya ingin kau memperbaikinya"

Luhan mendongak menatap Sehun. Tak mengerti dengan maksud pria didepannya kini.

Kedua pasang mata itu bertemu mencoba mengantarkan sesuatu lewat kedua mata mereka. Hanya saja tatapan Sehun terlalu sulit untuk dibaca oleh Luhan.

Grep

Sehun menarik Luhan dalam pelukannya. Memeluk perempuan itu seerat mungkin menyiratkan jika perempuan itu tak boleh lagi pergi.

"Kau adalah wanita yang jahat. Bagaimana bisa kau pergi begitu lama" Sehun sedikit mengeraskan suaranya.

"Jahat sekali"

Luhan hanya diam membiarkan Sehun yang terus mengatainya sebagai wanita yang jahat. Tangannya terangkat mengelus punggung Sehun ketika ia merasa bahu Sehun mulai bergetar berharap elusannya dapat membuat Sehun tenang. Ketika Sehun telah selesai berbicara kini gantian Luhan yang berbicara.

"Aku tahu. Maafkan aku" kata Luhan pelan sarat akan rasa bersalah.

Sehun melepaskan pelukannya begitu saja. Jemarinya terulur mengusap cairan bening yang berhasil lolos dari mata Luhan.

Gadis itu menangis. "Uljima" kata Sehun masih mengusap wajah Luhan yang di aliri oleh tangisannya.

"Maafkan aku Sehun-ah" Luhan lagi-lagi meminta maaf pada Sehun. Pria itu menurunkan tangannya dan memegang kedua bahu Luhan.

"Sudah ku bilang aku tak akan memaafkan mu. Kau harusnya bertanggung jawab"

"Apa yang harus ku lakukan?"

"Menikahlah dengan ku" kata Sehun dengan santai mengabaikan perempuan dihadapannya yang terkejut, tak percaya dengan apa yang dia katakan barusan.

Baru saja Luhan hendak berbicara tapi Sehun dengan cepat memotongnya.

"Tidak ada penolakan. Mulai sekarang kita berpacaran dan minggu depan kita menikah"

Luhan tercengang, perkataan Sehun sungguh mengejutkan baginya. Luhan rasa ada yang salah dengan otak Sehun saat ini. Benar, pria didepannya ini pasti terkena benturan dikepalanya. Atau sewaktu ia mengambil kotak p3k ia terjatuh dan kepalanya terbentur keras dengan lantai. Tapi jika iya, Luhan tak mendengar suara benda jatuh tadi. Apa mungkin Sehun sedang mabuk.

"Sehun, kau tak sedang mabuk bukan?" Tanyanya hati hati

Sehun tersenyum dan kembali menarik Luhan dalam pelukannya.

"Terima kasih telah kembali dan ku mohon jangan pernah pergi lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi pada ku jika kau pergi lagi. Dan aku tidak sedang mabuk, kau tahu sendiri jika aku benci minuman keras" jelasnya meyakinkan Luhan.

Luhan yang mendengarnya hanya tersenyum dan membalas pelukan Sehun.

"Aku berjanji"

"Aku anggap itu sebagai jawaban"

Luhan tak berniat untuk membalas perkataan Sehun karena itu memang kenyataannya. Apa kalian masih mengingat perkataan Irene yang mengatakan jika tidak ada cinta sebagai sahabat antara laki-laki dan perempuan?. Karena sepertinya Luhan mengakuinya. Ia sadar jika rasa cintanya pada Sehun sebagai sahabat bukanlah sekedar sahabat melainkan sebagai seorang pria. Begitu hal nya dengan Sehun, pria itu menyadari setelah kepergian Luhan. Jika ia merasa sesuatu hilang dalam dirinya. Dan ia sadar jika Luhan berhasil mengambil hatinya. Perempuan itu sangat berarti bagi dirinya. Bukan sebagai sahabat melainkan sebagai perempuan.

"Eheeemm"

Deheman keras dari para ayah membuat kedua sejoli itu melepaskan pelukan mereka. Dan segera berdiri.

"Apa kami akan terus melihat kalian berpelukan?" tanya ayah Luhan

Sehun dan Luhan hanya menyengir menahan malu.

"Ah! Aku mempunyai hadiah untuk eomma dan appa"

Membuat dua pasang orang tua disana bingung.

"Yang pertama, tidak ada lagi sebutan ahjumma dan ahjussi. Kini, sebutan itu akan berubah menjadi eomma dan appa. Dan yang kedua," Sehun menatap Luhan yang tersenyum dan mengangguk pelan

"Aku dan Luhan resmi berpacaran dan minggu depan kami akan menikah" sambungnya membuat dua pasang orang tua disana tercengang bahkan barang belanjaan yang dipegang oleh ibu Sehun terjatuh begitu saja ke lantai.

"Kalian serius?" Tanya ibu Luhan

"Eomma tak percaya?" Dengan santainya Sehun memanggil ibu Luhan dengan sebutan eomma

"Mana mungkin. Kau bukanlah style Luhan. Eomma tahu itu" kata ibunya membuat Sehun merasa kesal.

"Kenapa kalian tak percaya dengan perkataan ku?"

"Kau harus memberikan bukti. Baru kami percaya" kali ini ayah Sehun yang berbicara.

Sehun tersenyum "aku akan membuktikannya"

Pria itu memegang bahu Luhan dan menatapnya dalam membuat Luhan merasa gugup. Lewat matanya Luhan bertanya apa yang akan di lakukan oleh Sehun. Dan pertanyaan di jawab dengan sebuah benda kenyal yang menempel dibibirnya.

Sehun, pria itu menciumnya

Orang tua mereka memalingkan wajah merasa malu melihat apa yang dilakukan oleh anaknya. Bisa-bisanya mereka melakukan itu dihadapan orang tuanya.

Ciuman itu berubah menjadi lumatan kecil. Bibir Sehun melumat bibir bawah Luhan. Disela ciumannya Sehun tersenyum ketika Luhan membalas ciumannya. Pria itu menarik tengkuk Luhan semakin memperdalam ciuman mereka. Menghantarkan rasa bahagia yang sangat teramat mereka rasakan. Tak salah Sehun meyakinkan dirinya bahwa Luhan akan kembali dan setelah 7 tahun menunggu, perempuan itu kembali. Sehun berjanji bahwa ia tak akan melepaskan Luhan lagi. Ia tak akan membiarkan Luhan pergi lagi karena ia mencintai Luhan. Mencintai sahabatnya sendiri.

Tuk

Sehun terpaksa melepaskan ciumannya dan meringis kecil ketika sebuah benda melayang tepat ke kepalanya. Ia tahu siapa pelakunya, ini pasti ulah eommanya. Sehun sempat protes tapi sudah keduluan oleh ibunya.

"Mau berapa lama kau mencium Luhan? kau tak lihat dia hampir kehabisan nafas. Apa kau ingin membunuh menantuku, eoh?" Teriak eommanya.

Tunggu, apa Sehun tak salah dengar?

Menantuku?

Itu Sehun anggap sebagai jawaban jika kedua orang tuanya setuju.

Sehun menoleh dan merasa bersalah melihat perempuan yang telah sah menjadi pacarnya sibuk meraup oksigen.

"Maafkan aku" bisiknya pelan

Luhan mendongak dan tersenyum "gwenchana" katanya singkat.

Sehun kembali mempertemukan bibir mereka hanya mencium singkat ia tak ingin Luhan kembali hampir kehilangan oksigen akibat ulahnya.

"YAA!"

Sehun segera melepaskan ciumannya dan mendelik kesal ke arah para orang tua yang tak senang dengan kegiatannya.

"Dasar, orang tua tak mengerti anak" gumamnya pelan yang masih terdengar oleh Luhan. Membuat perempuan itu terkekeh kecil.

Dan semua terjadi begitu saja. Sesuai apa yang Sehun katakan Seminggu setelah mereka berpacaran, ia dan Luhan telah resmi menikah. Pernikahan yang dilangsungkan secara sederhana dan mengundang beberapa orang terdekat saja seperti keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Tapi sungguh tak di percaya ketika dua wanita yang sangat tak ingin Sehun lihat datang ke acara pernikahan mereka. Mata tajam Sehun tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari dua wanita di depannya kini.

Irene dan Seulgi

Dua wanita yang membuatnya harus kehilangan Luhan. Dan menunggunya selama 7 tahun lamanya. Luhan yang mengetahui itu menyikut pelan perut Sehun membisikkan padanya untuk menerima uluran tangan Irene. Ya, Seulgi dan Irene datang dengan niat untuk meminta maaf pada dua pasangan yang telah resmi menikah ini. Awalnya, Sehun tak berniat untuk memaafkan mereka. Hanya saja melihat wajah Luhan yang memohon akhirnya membuat hatinya luluh dan akhirnya ia memaafkan Irene dan Seulgi.

Begitu juga dengan Luhan. Gadis cantik itu telah mengetahui perihal rencana licik Irene yang menyuruh Seulgi untuk menguncinya dalam lab Kimia. Ia telah sepenuhnya memaafkan Irene dan Seulgi. Biar bagaimana pun juga tak baik terlalu lama menyimpan dendam pada orang lain.

Dan disinilah Sehun dan Luhan berada diatas balkon rumah mereka -rumah baru hadiah pernikahan mereka, yang tentu saja pemberian kedua orang tua mereka- dengan Sehun yang memeluk Luhan mesra dari belakang. Kedua pasang suami istri itu sibuk memandangi langit malam yang sangat cantik. Bulan dan bintang malam ini bersinar sangat terang seakan ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.

"Aku tak menyangka akan menikahi sahabat ku sendiri" kata Luhan yang masih sibuk menatap langit malam. Dibelakangnya Sehun tersenyum

"Bukankah itu bagus? Ini akan jadi cerita yang baik bagi anak kita nanti"

Luhan tak membalas perkataan Sehun dan hanya tersenyum. Hingga perkataan Sehun selanjutnya membuatnya terkejut.

"Ah! Kau ingin kita membuat berapa anak?"

Luhan membalikkan badannya membuat pelukan itu terlepas.

"Kenapa kau menanyakan hal itu pada ku?" tanyanya. Wajahnya memanas entah kenapa, merasa malu dengan pertanyaan frontal Sehun.

"Bagaimana kalau tiga? Dua laki-laki satu perempuan" Sehun tidak menjawab pertanyaan Luhan dan malah memberikan pertanyaan lain.

"Apanya tiga? Tidak! Satu saja. Kau pikir melahirkan itu semudah membalik tangan" ucapnya kesal.

"Bagaimana jika dua? Laki-laki dan perempuan" kekeuh Sehun masih berusaha agar Luhan mau.

"Tidak! Satu atau tidak sama sekali"

"Baiklah baiklah satu" Sehun akhirnya menyerah membuat Luhan tersenyum senang.

Melihat Luhan yang tersenyum membuat hati Sehun tenang dan diselimuti rasa bahagia. Kedua tangannya menangkup wajah Luhan. Matanya menyusuri wajah cantik sang istri yang kian bertambah cantik. Sehun mendekatkan wajahnya membuat Luhan memejamkan matanya. Ia pikir mungkin Sehun akan menciumnya tapi yang ada

"Satu untuk tahun ini dan satu untuk tahun depannya" bisik Sehun yang masih mempertahankan niatnya ingin memiliki 2 anak. Sebelum sempat Luhan menyemburkan Sehun dengan berbagai kalimat miliknya. Pria telah lebih dulu membungkam bibir Luhan dengan bibirnya membuat Luhan gagal mengeluarkan kalimatnya.

Sehun mencium Luhan dengan lembut. Tangannya yang berada diwajah Luhan telah turun memeluk pinggang ramping sang istri bergantian dengan Luhan yang telah mengalungkan tangannya ke leher Sehun.

Ciuman itu terlepas ketika pasokan oksigen yang mulai habis. Sehun tak menjauhkan wajahnya dari wajah Luhan. Dan masih memandangi Luhan penuh cinta. Dia kembali mengecup pelan bibir merah milik Luhan dan mengatakan kalimat yang membuat hati Luhan di mekari banyak bunga

"Saranghae"

Tatapan lembut penuh cinta itu salin bertemu.

"Nado saranghae" balas Luhan.

Sehun memeluk istrinya, mendekapnya erat menyalurkan kehangatan dari dinginnya Seoul malam ini.

"Apa kita akan terus berada diluar? Aku merasa kedinginan" suara Luhan yang pelan terdengar oleh Sehun membuat pria itu terkekeh dan melepaskan pelukannya. Masih dengan wajah yang tersenyum Sehun tak lepas memandangi wajah Luhan.

"Berhentilah menatap ku. Matamu tak bisa membuat suhu tubuhku menjadi hangat" kesal Luhan dan Sehun malah tersenyum. Tersenyum jail tepatnya

"Haruskah kita berbagi kehangatan?" tanyanya. Sebuah pertanyaan yang memiliki maksud dan arti berbeda jika tak sejalan dengan otak Sehun.

Belum sempat Luhan menjawab, Sehun sudah lebih dulu menggendong Luhan ala brydal style membuat wanita itu memekik pelan, terkejut dengan aksi Sehun yang tiba-tiba. Kedua lengan Luhan reflek mengalungi leher Sehun, berjaga-jaga siapa tahu Sehun menjatuhkannya ke lantai meski itu tidak mungkin. Jika iya Luhan akan menceraikan Sehun saat itu juga. Ah, tidak, dia hanya bercanda.

"Akan ku pastikan suhu tubuh mu panas-"

"Terbakar oleh gairah" lanjut Sehun yang berbisik pelan ditelinga Luhan. Gadis itu terkejut dan memukul punggung Sehun, meronta minta dilepaskan. Bukan Sehun namanya yang akan begitu mudah melepaskan Luhan dari gendongannya. Pria itu menghiraukan pukulan dan teriakan Luhan lalu membawa istrinya masuk ke kamar karena memang suhu di luar semakin dingin. Menutup pintu balkon dengan kakinya dan menarik gorden dengan mulutnya sehingga pintu balkon itu sepenuhnya telah tertutup.

"YA! TURUN DARI ATAS KU SEKARANG SEHUN DAN BERHENTI TERSENYUM SEPERTI ORANG GILA. KAU MEMB-" teriak Luhan dari dalam kamar begitu memekakkan telinga. Tapi sudah di ketahui bukan, Sehun menghentikan teriakan istrinya dengan caranya sendiri. Akan ia pastikan Luhan akan meneriaki namanya. Seperti yang telah ia katakan sebelumnya.

Akan ku pastikan suhu tubuh mu panas terbakar oleh gairah

Dan Sehun menepatinya.

-Fin

HAIIIIIIII

Astaga aku gak nyangka gak apdet udah sebulan. Lebih mungkin kali ya.

Duh duh, maaf ya ngegantung kalian selama itu.

Tapi

Memang sengaja sih :V /ditampar readers, soalnya ini chap terakhir. :(

/SEDIH BUNG/

Oh iya untuk para readers yang udah setia nungguin fanfiction unfaedah ini, yang udah mau baca dari awal hingga akhir, yang udah review, follow dan fav. aku ucapin banyak terima kasih sama kalian. :)

Gak nyangka aja gitu, ff unfaedah ini bisa disukai juga.

TERIMA KASIH SEMUA. /KECUP ATU-ATU/

Walaupun review kalian gak aku balas tapi tetap aku baca kok. Hingga senyum-senyum gaje sampai ketawa ngakak ngeliat review kalian yang kesal sama Irene kesal sama Sehun. WKWK :V

Tapi jangan kesal sama aku ya pfft :V

Oh iya aku juga ada cerita baru, hehe.

Bukan GS sih tapi ceritanya tentang friendship gitu.

Ada yang mau baca kah?

Sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK PARA READERS. ILY

Big Thanks to :

Frizcha717, Arianne794, aleina8, LSaber, Universegoodnight, sarah, selynLH7, Apink464, listyoctaviani, galaxynine, Seravin509, dreamsoo12, AyuPacarChanyeol, KimaHunHan, misslah, auliaMRQ, NaruLoveAnime, NinditaAnggraeni, Salshabilla, lulubaek, sehun9499, chan61, LuluV, Sella Brizcswitch, babybobo, dkwlsajin, fansanakayam, kepala jamur, viki ismi, putriaudri947, mliani2704, bmylight, S.H 794, lutfita947, HannieOh, Lindah Neafizeeya, Hun1204, guest, Martina1609, devilojoshi, seluhundeer, xiHan.a-oh, lulubaek,Willieshun, Luhan204, Ersaheizza07, PSCH Byunie Park, silviaanjani20, Phe19920110, oh biji7, heavengell, tesalonika, sifanq, happycirrus7, deerwolfselu, bbaekhyunfans, auliaMRQ, , yazzaka3399, seijuurou Eisha, SR7tok, Let'sBurnThisGirl, HanXiaoLu, Ayu Suci Wulan Siwi, Anna Monica, jjkkkkks, hunnaxxx, fansanakayam, ZiChoco, Youngie1218, Sungi Lee, Marlinah, Jihan01, Chan61.