Sollte Dies Geschehen ? Ich will immer bei dir sein ..

.

.

Kim Taehyung sebagai Kirt Tarrel

Jeon Jungkook sebagai Jan Jaeger

Park Jimin sebagai Petter Jeelmian

Min Yoongi sebagai Myer Yoon

Jung Hoseok sebagai Josh Hobey

Kim Namjoon sebagai Kirt O'Niel

Kim Seokjin sebagai Kyne Seekjan

((maaf untuk typos, enjoy the story!)

.


.

.

.

Sinar matahari pagi menembus awan putih dan kabut tipis yang melayang-layang, terbias keatas permukaan air muara sungai, lalu direkam dua manik lensa cokelat sewarna kayu sengon tua.

Satu kedipan, dua kedipan. Kilauan indah cahaya matahari diatas riak air berhasil menarik ujung bibirnya untuk terbentuk senyum. Mata terpejam, hirup dalam udara beraroma kauri dan pohon pinus.

Kedua tungkai kakinya semakin dia bawa menjauhi tempat awal ia berpijak. Maju, menyibak dahan rendah kowhai, menggilas semak belukar dengan jemari kakinya, maju, merasakan bebatuan kali mulai menggelitik kapalan di telapaknya. mata masih terpejam.

Saat kakinya menapaki dingin air, matanya terbuka, lengannya terentang, rambut sewarna mahoni mudanya tersisir sejuk angin.

"Selamat pagi dunia, aku telah membuka dua buah kado pagi ini, dan itu adalah kedua mataku. Terima kasih untuk 'tuhan' yang katanya telah memberikan ini padaku. dimanapun kau itu."

Dari jauh laki-laki lain berjubah korowai lebar dengan tombak dan kerenjang di masing-masing tangannya terkekeh melihat tingkah konyol pemuda yang merentangkan tangan. Berseru agak keras menyita atensi yang ditertawakan.

"Hei!, sedang apa kau?"

Tersentak, bulu merak di jubah karowai si pemuda cokelat mahoniterjatuh satu , dan ujung busur di punggungnya menyenggol kepalanya. Serta merta menoleh pada si pembawa tombak dan keranjang.

"Yah! mengagetkanku!"

Yang pertama berseru tersenyum mengejek. "Tarrel, kau yakin ini pagi hari?"

Kirt Tarrel-Taehyung mendengus, sudah menduga akan disodori pertanyaan semacam ini. "Yakin, lihat arah mataharinya."

"Uh, ya? lalu mana arah timur dan barat?"

"Disana dan kesana."

"Uh, ya?" Masih berniat menggoda, si pembawa tombak makin mendekati si pembawa busur.

"Ini jam 6 pagi! Hey, Aku sudah bisa baca arah mata angin, aku sudah bisa menyalakan api, aku tau kau hanya berniat mengejekku."

Josh Hobey-Hoseok tau kalau Tarrel itu pintar, laki-laki yang lebih muda darinya itu gampang pelajari banyak hal, namun sikap bandelnya yang membuat Tarrel selalu diganggu di kelompok mereka. "Oke, lalu apa yang jenius ini lakukan pagi-pagi disini? untuk meninggalkan urusannya di kebun kentang dan selada?"

"Ugh.."

"Tidak suka piket memasak, Tarrel?"

Tarrel menggulirkan pandangannya, ke kanan dan kiri. Mengatupkan rapat bibirnya berfikir sesuatu, apapun itu, agar bisa dijauhkan dari tungku, karna dia yakin akan berakhir merusak apapun yang ada disana. Ini demi keselamatan sarapan mereka.

Lama terdiam, Hobey menyeringai dan siap berjuar lagi sebelum suara lain mengalihkan mereka.

"Hobey! kau dapatkan ikannya?" itu Petter Jeelmian-Jimin, menyibak dahan kowhai dan mengikatnya di batang lebih besar, membuka jalan. Mata Jeelmian melebar saat melihat Tarrel berdiri disamping Hobey "Oh! disana rupanya kau, anak nakal."

"Aku dapatkan ikan dan tangkapan bagus lainnya, Jeel!" Hobey mengangkat keranjang ditangannya dan menarik lengan Tarrel yang meronta . Tarrel berguman sesuatu dengan desisan tak suka.

Jeelmian berdiri tegap, melipat tangan di depan dadanya yang telanjang. Sang Penjaga* suku Māori Aetearoa selatan itu terlihat segar sehabis membasuh diri dibawah air terjun Huka pagi ini. Ia berdecak melihat tingkah Tarrel yang meronta-ronta dalam tarikan Hobey.

"Bawa dirimu berguna untuk sesuatu, Tar. Terserah kau mau apanya Sang Pemimpin* tapi kuharap kau tidak membuat Jeje melakukan pekerjaannya jadi dua kali lipat lebih lelah." Jeelmian berseru, cukup keras untuk didengar mereka berdua dalam jarak lima meter.

Hobey agak melempar tubuh Tarrel, tubuhnya terdorong, berdiri sempoyongan dengan hidung Tarrel yang dekat sekali dengan dada bidang Jeelmian. Oh tidak, lihat! bulu merak jubah korowai Tarrel berguguran lagi!

"Hentikan itu, Hobey, kau bisa merusak jubah ku, kuhabiskan seminggu berburu dan seminggu lagi untuk membuat simpul!"

Hobey membalas hanya dengan memutar mata dan tertawa jenaka. Jeelmian berucap lagi.

"Tarrel, aku bicara padamu."

"Ah-ya, Oke, aku berusaha berguna. Lihat aku bawa busurku, aku akan pergi berburu burung!"

"Tidak, tidak, jangan burung lagi. Daniel sudah pergi untuk itu, dan tolong patuhi giliran piketmu. Bawa bokong montok mu ke kebun kentang lalu cabuti selada."

"Pasti setelah itu Yoon akan menyuruhku untuk mengupas kentang, lalu memasaknya. Aku tidak bisa-"

"Kalau kau berkata tidak, dan semua meniru untuk melontarkan tidak, yang tersisa hanyalah kalian semua kabur ke hutan untuk berburu, tanpa tungku berkebul, tanpa kebun, tanpa ada kano dan pondok yang diperbaiki. Terserah, makan saja tangkapan kalian mentah-mentah."

Hobey mengangguk samar, mengapresiasi ucapan Sang penjaga sambil memainkan tombaknya untuk menebas belukar disekitar kaki mereka. Tarrel mengulum bibir dengan kernyitan dahi mendalam.

Jeelmian melanjutkan. "Aku tau ada piket yang kelihatannya sial, tapi kita butuh kerja sama untuk lebih lama dan selamat disini. Kau mendengarku?"

Siulan Hobey yang selanjutnya terdengar menjengkelkan Tarrel. "Petuah yang sangat bangus dipagi hari, Jeel. Semoga si bungsu Tarrel ini bisa berhenti jadi anak yang seenaknya."

"Aku tidak-"

"Kau iya, jika kita masih berdiri disini memperdebatkan siapa yang akan mengupas kentang."

Tarrel menggeram rendah, menarik sulur busurnya agar lebih erat ke tubuhnya. "Tino pai. Aku pergi dari sini!"

Setelah debuman tubuh dari dada Tarrel dan Jeelmian yang sengaja ditabrakan, setelah gemerasak daun howkai mulai tenang. Jeelmian dan Hobey melepas raut serius dari bingkai wajah rupawan mereka.

Pipi bercoret tato mereka bergetar, berbagi pandangan dan mengeluarkan 'Pfft' satu sama lain setelah melihat bagaimana Tarrel menghentak-hentakan kaki ke bumi menyeret langkah masuk ke pemukiman kelompok.

"Uhh si bungsu menggemaskan sekali."

"Garap terus dia, hari ini hari legalitasnya. Buat dia jengkel sampai nanti di pesta kita buat dia mabuk dengan tuak dan beberapa cawan sopi."

Hobey dan Jeelmian melakukan tos, tertawa-tawa sambil menysurilangkah yang sama ke arah Tarrel ambil, jauhi sungai, kembali ke pemukiman.

"Tidak percaya dia sudah dua puluh lebih satu semester tahun, huh?" itu Hobey, mendesis penuh minat dengan kurang ajar.

"Siapa kira-kira yang nanti akan menggores tato di lehernya, ya?"

"Sang pemimpin, O'Niel?"

"Itu seharusnya bukan kakaknya." Jeelmian berguman, tidak itu tidak mungkin Kirt O'Niel -Namjoon alias Sang Pemimpin alias kakak Tarrel, tentu bukan.

"Kita lihat saja ramalannya, karena sepertinya O'Niel antara akan sibuk dengan tim berburunya atau sibuk dengan pasangannya, Yeah, si Yoon malam ini."

"Yang pasti bukan salah satu wanita yang ada di kelompok, karena Tarrel sendiri seorang sub*."

"Sepertinya bukan diriku, karena aku harus menari malam ini." Hobey mengusap dadanya dramatis, dan Jeelmian memukulkan tinju ke bisep tebal Hobey.

"Semoga beruntung. Karena legalitas artinya, malam dengan mabuk, goresan tato, juga telanjangi diatas tilam."

.

.

.

Tarrel menapaki jalan setapak yang ditandai dengan potongan cangkang kerang yang sebagian remuk dan sebagian utuh, untuk kembali ke pemukiman kecil mereka. Warna hijau daun, cokelat batang, merah matang tembikar, hitam, putih, sampai jingga kelopak bunga masuk di netranya.

Beberapa anggota lelaki senior di kelompok mondar-mandir sibuk, membawa parang, palu, keranjang batu, dengan menggunakan jubah korowai atau tanpa jubah. Mereka terbiasa bangun pagi akhir-akhir ini karena wilayah ini sedang dalam pemetaan. Pohon-pohon menjulang sudah banyak mereka babat, dan pondok-pondok baru sudah beberapa berdiri lebih kokoh. Pemukiman mereka mulai sempurna terbentuk dan itu cukup nyaman.

Para wanita, total empat dari keseluruhan kelompok, sedang berkumpul membuat lingkaran untuk menjahit karpet bulu beruang, menganyam dan menyiapkan pasak. Jesica dan Irene menyadari Tarrel mengamati mereka, kemudian melambai padanya sekilas. Senyum dan kalimat ceria saling terlempar dari lainnya yang ikut menyapa pagi mereka.

Tarrel masuk ke salah satu pondok, bertemu Jean dan Daniel yang kembali dari berburu. Mereka menaruh busur miliknya bersisisan dengan tempat dimana Tarrel meletakkan busurnya. Tarrel menyadari tatapan mereka padanya.

"Sarapan kita?" itu Daniel, menaikan alisnya main-main.

"Bawa tangkapan kalian ke dekat tungku, mana bisa mereka memasak kalau kalian lambat." Tarrel menggulung serat kain hitam dalaman jubah nya sampai siku, menjawab sedikit dongkol.

"Aish sudah tuh, kalkun yang besar sudah dihantarkan ke dekat tungku!" Itu Daniel lagi.

"Haha lihat dirimu, kau seperti siap mengumpat kapan saja." Jean terkikik ikut bergabung mengganggu.

"Aku bisa mengumpat sekarang, jadi jangan ganggu aku. Aku mau pergi menemui Yoon dan Jeje."

"Masak yang enak ya Tarreliee~ kita kelaparan sehabis berlarian berkilo-kilo meter!"

Tarrel menjulurkan lidah pada keduanya. Menyibak gorden jalinan kerang dan buru dengan beringas lalu membawa dirinya ke kebun. Tarrel bersumpah dia belum siap dengan kegiatan ini.

Myer Yoon-Yoongi melipat tangan di depan dada, posisi yang mengingatkan Tarrel pada Jeelmian beberapa saat yang lalu di dekat muara sungai. Badan Yoongi yang lebih pendek tidak berhasil menghalangi Jeje yang juga merengut melipat tangan di dada dibelakangnya.

Baiklah, awal yang tidak terlalu bagus.

"Aku terlambat, eh?" Tarrel menggerakan jemari dan lengannya, seperti menulis diatas udara lalu menangkupnya menjadi gestur maaf. Kalimatnya dieja perlahan, sejelas mungkin untuk Yoon.

Yoon mendapatkan kulitnya tidak sepucat biasanya, pelipisnya berkeringat, mukanya memerah karena terlalu banyak meniupi tungku juga tangannya sedikit teriris batu tajam untuk memotong. Dia mengedikan bahu dan menampilkan ekspresi marah.

Jeje maju menengahi. "Beruntung untukmu karena tinggal sedikit pekerjaan yang tersisa. Bawa keranjang ini bersamamu, cuci kentang-kentang ini ke anak sungai terdekat, lalu kembali lagi kesini. Kalau kabur lagi, kubakar kau bersama kalkun!"

Yoon akhirnya menurunkan lipatan tangannya, terkekeh tanpa suara. Surai hitam halusnya berlarian kemana-mana diterpa angin pagi, gigi rapihnya terlihat saat dia tertawa karena gertakan Jeje, itu manis sekali, dibalik perangainya yang sebenarnya galak dan menuntut.

Tarrel memandangnya dan terpana. Tak dipungkiri bagaimana Sang Pemimpin mereka, kakaknya , O'Niel memilihnya sebagai pasangan tidur dan bercengkrama.

Hanya satu kekurangan yang dimiliki Yoon.

Yoon kembali memicingkan mata sipitnya dan menyimpan senyum gusinya saat Tarrel masih berdiri konyol disana. Yang lebih tua mengangkat lengan kanannya, membuat isyarat diatas udara, lalu mengedikkan dagu ke arah yang harus Tarrel tuju. Tarrel mengerti, serta merta berlari sambil tertawa.

.

.

Sarapan berhasil dibuat dengan minim kekacauan dari Tarrel. Yap, setidaknya dia tidak menghancurkan tembikar yang baru saja dibuat Irene dan Lisa. Yoon menginstruksi dengan sangat baik sangat kontras dengan Jeje yang selalu mengomel.

Daging kalkun bakar dan sup dihidangkan. Potongan kentang mengambang yang memiliki bentuk buruk dalam kuali sup adalah hasil karya Tarrel, toh tidak masalah, kalau sudah masuk tergerus usus semuanya akan sama menjadi ampas. Kalau soal rasa Yoon lebih bisa memberikan magisnya.

"Ini enak sekali."

"Jahe, apakah ini rasa jahe dalam sup? aku merasa segar kembali!"

"Ini kau sebut potongan kentang, Je?"

"Bukan aku yang mengeksekusinya!"

"Kalkun bakar ini yang terbaik!"

"Kau sudah dapatkan energimu, ayo kembali bekerja kawan."

Riuh, mayoritas puas. Satu kelompok senang, Tarrel berhasil selamat dari kroyokan masa.

Mangkok batok kelapa di kumpulkan, daun talas dibakar di kompor tungku paling besar. Jeje menerima peralatan makan kotor dengan suka cita sambil menerima pujian untuk kalkun bakarnya. Beberapa orang kembali beranjak pada kesibukannya yang sebentar lagi akan final, juga sepertinya bergegas untuk menyiapkan lebih banyak lagi bahan makanan. Entahlah, karena selesai dengan mangkok nya Tarrel langsung diteriaki untuk tugas lain.

Dasar sial kau gerombolan Jeelmian diujung sana!

Aduh, sibuknya pemukiman baru, sibuknya nomaden. Dan mereka selalu mengalaminya tiap kali mereka datang ke tempat baru tentu saja.

Tarrel yang masih belum lepas dari tugas piket berjalan sempoyongan sambil dengan dramatis mengeluhkan sekarung potongan umbi wortel dan kentang yang tersampir di bahunya. Beberapa menit lalu, Tarrel merepotkan dirinya membuat sekop seadanya dari batang pipih, dahan, dan sulur ranting basah. Dia berharap prakarya ini bisa membantu banyak dalam proses berkebunnya.

Menyusuri rerumputan basah, rombongan capung bersaing dengan kumbang menabraki jubah korowai Tarrel. Dongakkan kepala Tarrel melirik asal suara siul-siulan, untuk temukan beberapa gelatik berlindung dibalik trembesi , bersembunyi dan menyerah terbang lebih tinggi karena bisa jadi disergap ajal oleh burung rajawali bermata tombak yang sedang berkeliling jauh diatas kepala dan pohon pinus yang menjulang tinggi.

Sampai di kebun mini-minian suku mereka, Tarrel mulai membungkuk, memasang kuda-kuda untuk menggemburkan kembali tanah. Cabuti semak belukar hama.

"Tumbuhlah yang subur untuk menghidupi kami, kebunku!" Tarrel berujar setelah menepuk tangan dan beres dengan empat deret baru cocok tanamnya.

Hujan turun sepanjang malam, gejolak air turun dengan cukup deras sejak di anak sungai. Tarrel basuhkan kedua kaki, tangan, wajah, dan segunung selada pada keranjang kayu sebelum ia mendengar gemerisik.

Tarrel menoleh cepat. Insting tarzannya, juga insting penuh keingintauannya bekerja. Tarrel menyimpan belati di bawah serat celana kain pendeknya, di harness kumal yang melilit paha, dan menyempatkan diri untuk mengelus gagangnya. Kalau itu hewan buas, Tarrel lebih dari siap menghadapinya.

Gemerisik lagi, Tarrel memeriksa dengan dongakan kepala ke dahan-dahan tinggi pohon kauri. Oke, adrenalinnya terbakar. Dia seorang diri jauh lebih kedalam hutan dan mendengar gemerisik lain makin membuat ujung kakinya ingin melompat.

Ya, benar ada yang melompat, dan itu bukan Tarrel, melainkan sesuatu dibalik salah satu pohon kauri. Penyebab gemerisik itu muncul.

"Oh Wah!, Sial, benda apa kau!" Tarrel berteriak terkejut, lalu sedetik kemudian kembali menenangkan jantungnya. Satu yang dia ketahui, kesempatan menggunakan belatinya gagal, karena hewan dihadapannya ini jauh dari kata seram malah kelewat indah untuk disakiti.

Seekor kijang dewasa mengawasinya dengan mata bulatnya.

"Hei.. cantik?"

Kijang tersebut melompat melewati akar yang menyembul di tanah saat Tarrel membawa tangan mencoba mendekatinya. Keranjang penuh selada dekat anak sungai terabaikan.

Tarrel tertawa, mengedipkan mata cepat seperti tombol shutter kamera yang membiarkan lensa matanya merekam gemulai kijang yang kini memunggungi nya namun masih merepotkan diri menoleh kearahnya.

Kijang itu berlari, dan dibalik pohon kauri yang lebih rendah, ada kijang lainnya yang lebih rendah juga dari yang awal bertemu Tarrel.

"Whoah, tunggu! tunggu!"

Tarrel tidak berfikir banyak saat mengambil ancang-ancang untuk melesat berlari mengikuti arah kijang itu pergi. Melompat-lompat menapaki bumi, Tarrel dengan dua tungkai lincahnya membawa senyumnya melebar memandangi kijang pertama yang dia lihat di kawasan Aetearoa selatan.

Debuman kakinya mulai melambat saat kedua kijang itu pun mulai gemulai kembali gerakannya. Tarrel tidak punya ide seberapa jauh dia berlari, matanya memicing saat melihat gelagat dua kijang itu yang sepertinya gelisahj dan dalam mode siaga.

"Ada apa..?"

Bunyi tembakan senapan memekakan makhluk hidup disana. Termasuk Tarrel. Tarrel cukup menyesali keteledorannya, juga masih menaruh cemas pada dua kijang cantik tadi yang lari tunggang langgang karena bunyi yang lebih mengagetkan dari kembang api itu.

Tembakan lainnya, dan Tarrel mengutuk tempatnya berpijak karena ia mendengar suara tawa manusia lain menjadi gema.

Tarrel menatap sekeliling, mengeratkan jubah korowainya, menepis gemetarnya. menengok kebelakang was-was dan melihat dahan dan semak belukar yang tertekuk karena tadi dia melewati dan melesat diantaranya tanpa pikir panjang. Ini akan menjadi jejaknya untuk kabur kembali ke pemukiman dan juga menjadi jejak yang menyisakan penyesalan baginya.

Tarrel menelan ludah dari sela pohon karet yang menjulang.

Disana, dua puluh meter arah tenggara darinya ada bungalow kecil dan rumah kaca. Lima puluh meter arah utara darinya ada dua laki-laki membawa senapan di tangannya.

Sial! seberapa jauh dia mengejar kijang hingga bertemu tanda kehidupan lain. Bodohnya kau Kirt Tarrel, Kirt O'Niel-Namjoon bisa membunuh dan mencampakan siapapun yang menimbulkan ancaman pada suku mereka, termasuk walau itu adalah adiknya sendiri.

Tarrel mundur, kearah tenggara. Mengendap dengan tangan menggenggam pegangan belati di paha bagian luarnya. Dia memilih bersembunyi di bungalow yang mungkin tidak meresikokan dirinya lebih terlihat ketimbang diantara batang kurus pohon pinus.

.

.

"Trial, Jaeger?" Yang dipanggil Jaeger -Jan Jaeger-Jungkook mengedikan bahu lalu meniup lingkaran moncong senapannya yang berasap. Menjawab sambil mengamati arah dua kijang yang lari terbirit karena terkejut bunyi tembakan senapannya.

"Uh, huh. cek peluru."

Yang berujar duluan tertawa, hingga menggema di hutan. "Boros, kid. Hei, apa lagi yang akan kita cari di hutan sedalam ini?"

"Aku berencana ke bungalow sebentar, kau bisa kembali duluan tanpa aku."

"Oke, ku tinggalkan kau disini, buruan kita sudah cukup memuaskanku. Penat sudah lepas."

"Bagus untukmu, Jongkey."

Jongkey- Jongin. Mengusap senapannya dengan sapu tangan yang disimpannya di saku belakang. Mereka berdua mengenakan pakaiaan kasual yang telihat mahal dan pas di tubuh atletis mereka, keduanya dominasi warna coklelat terang dan putih. Mengikat sabuk kencang dengan lilitan tas peluru dan sabuk senapan di pinggang dan punggung.

Memilih untuk tidak mengusik keinginan juniornya yang keras kepala, Jongin mengedikan bahu lalu menepuk punggung Jungkook untuk berlalu keluar hutan.

Jungkook mengambil langkah seribu, melunturkan muka seriusnya lalu menatap sendu rumah kaca dekat bungalow tidak jauh dari pijakannya.

.

.

Tarrel-Taehyung memposisikan diri, masuk ke bungalow tua yang penuh dengan serakan gulungan kertas dan botol-botol kaca berisi potongan botani yang mulai mengering karena lama tak terurus. Kaki telanjangnya menapaki lantai bertekstur batu dan keramik dibawahnya, halus sekali.

Si surai sewarna mahoni dengan jubah korowai itu membuka jendela kecil dan membiarkan cahaya matahari masuk ke bungalow. Menyipitkan mata saat sinarnya tepat mengenai kelopak matanya. Tarrel terlambat menyadari saat salah satu manusia yang tadi dari kejauhan dilihatnya ternyata menuju ke tempat yang digunakannya bersembunyi.

Menunduk, melipat kaki, duduk setengah jongkok. Tangannya dibawa kedepan dada, menekan dentuman keras di bagian jantung.

Jangan kemari, jangan temukan aku, jangan lihat kesini.

Tarrel menyempatkan diri mengintip dari lubang yang ada di antara tatanan kayu dasar bungalow yang dia singgahi. Laki-laki itu berdiri memandangi rumah kaca yang bersisian dengan bungalow.

Dalam netra sewarna kayu sengon tua Tarrel, laki-laki yang dilihatnya bepenampilan sangat atraktif, seperti orang kaya, seperti pemburu karena senapan yang disandangnya. Hidungnya mancung, tone kulitnya lebih cerah dari milik Tarrel yang memiliki warna tan, surainya hitam legam dengan ujungnya berwarna brunette, wajahnya seperti keturunan eropa, latin, dengan sentuhan asia. Oh tuhan lihat otot bisepnya yang tercetak di baju seragam cokelat terangnya. Tarrel yakin laki-laki itu bisa dengan mudah mencekiknya atau melempar tubuhnya.

dan, shit, Tarrel hangus mengakui kalau dia... sangat tampan.

Tunggu.

Bukan itu yang harus Tarrel pikirkan!

Kalau dia ketahuan ada disini, laki-laki itu pasti akan mengendus pemukiman sukunya yang baru mereka bangun dan menghancurkan segalanya. Tidak! hal seperti itu tidak boleh terjadi. Karena dilihat dari penampilannya, bukan tidak mungkin bahwa laki-laki pemburu ini memihak pada fraksi eropa yang ingin menghabisi suku Māori.

Maka itu Tarrel membawa dirinya keluar dari bungalow, ingin melesat jauh dari sana saat laki-laki pemburu itu sedang terdistraksi pada bunga-bunga di rumah kaca.

Namun sial, dalam belokan terakhir untuk menghapus ekstensinya keluar dari bungalow, jubah korowai Tarrel tersangkut. Bulu elang dan merak yang terjalin disana kusut pada paku payung di pagar rendah bungalow. Diantara kungkungan megah hutan, Tarrel merutuki kebodohannya saat terlalu banyak menimbulkan suara dalam pergerakannya.

Sruk, Srek, Buk!

Jaeger bangkit dari bunga-bunga pada bagian depan rumah kaca. Berlari cepat, menyerngitkan dahi, dan siaga mengacungkan senapan kalau-kalau itu hewan buas. Sekelebat bayangan sempat dia tangkap saat makin dekat dengan sumber suara. Jaeger nyaris tidak percaya pada apa yang dia lihat.

"Siapa disana?!" pelatuk ditarik peluru senapan meledak dan timahnya berlari.

"Oh shoot!*" Tarrel mengumpat sepelan mungkin. Panik.

Jaeger membawa diri makin dekat. Senapan diarahkan pada bulu-bulu elang dan merak yang melayang diudara dekat pagar rendah bungalow. Jaeger-Jungkook berseru dengan suara lebih menyentak.

"Hewan? atau kau manusia? aku yakin kau berdiri dan cukup tinggi!"

Tarrel-Taehyung menyandarkan diri lebih menekan bangunan kayu dibelakangnya. Terengah, masih berhasil menyembunyikan diri dari penggelihatan si pemburu.

Namun, demi tuhan yang entah mana harus dia percaya.

Tiga meter jarak mereka, dan Taehyung bersumpah mendengar suara si Jaeger-Jungkook berguman.

"Bulu merak?"

.

.

.

TBC


Sang Pemimpin : Kirt O'Niel : Namjoon : Kakak Taehyung (Tarrel) : Yang memimpin seluruh suku kecil Maori disini. paling berkuasa, dipatuhi, panutan, yang terkuat dan terpintar, darah pemimpin terdahulu mengalir pada dirinya (faktor keturunan suci).

Sang Penjaga : Petter Jeelmian : Jimin : Kepercayaan pemimpin dan seluruh sukunya, termasuk yang terkuat dan terpilih untuk 'menjaga', seperti panglima, harus tegas dan bisa menggantikan kalau pemimpin tak ada.

Sub : Submisive : Bottom : Uke : Pihak penerima.

.

.

.

Ada pertanyaan anak-anak?

Semoga kalian terbiasa sama nama-nama mereka yaa. aku sudah jelasin diawal dan kuharap kalian bisa menikmati ceritanya tanpa banyak bingung2 soal nama . lol.

Oya disini udah lumayan kelihatan ya, yang ada di suku maori itu : Taehyung (Tarrel), Jimin (Jeelmian), Hoseok (Hobey), Yoon (Yoongi) maaf dia kubuat bisu :( Namjoon (O'Niel), serta viguran2 lainnya.

Yang ada di fraksi, atau struktur, atau orang eropa asli penghuni kota terdekat adalah Jungkook (Jaeger), dan nanti muncul inces Seokjin (Seekjan), serta viguran2 lainnya,

Untuk usia, aku bikin mereka semua diatas Taehyung (Tarrel) yang baru 20 tahun, jadi yang termuda untuk cast anak-anak bangtan itu baby Taetae yaa, detailnya mungkin bersamaan jalan cerita.

dan lowkey, aku infokan, pair yang mau aku usung adalah KookV, MinYoon, slight MinV, slight NamYoon (iya Namjoon Yoongi lol ntar drama). kalian paham kan maksud aku, inisial top depan, bot dibelakang. hehe.

Oya, ini mature content, ih, nanti ada nganunya. jadi kalau kalian ngga merasa cocok sama pair atau ide mature content yang isinya akan ada sex nya. y'all can leave me and this story from now on, dear. uu

terima kasih ya sudah baca sampai sini, dan aku sangat mengapresiasi kalian yang ninggalin review. hihi. my vitamin, indeed!

so, i think that's enough, see you on another works, love!