Lepaslah anak-anak angin dari selipan tinggi pohon sengon. Berderai-derai, terbahak-bahak membelai tengkuk Taehyung-Tarrel hingga mendinginkan keringat yang bercucuran.

Gugup setengah mati, seujung jari pun Tarrel tak berani bergerak, hingga rasanya berisik nafasnya adalah dosa terbesar sekarang.

Bagaimana sih, tiga meter dari kakinya berpijak bisa jadi adalah sumber kematiannya. Atau nah, Tarrel tidak bisa berpikir lebih jauh lagi saat gemerisik ilalang dia dengar semakin jelas serta gumaman seorang manusia lain.

Tarrel menapakkan telapak lengannya ke tatanan kayu bungalow tua dibelakangnya, meraba, kemudian menggeser tubuhnya melawan arah datangnya gemerisik. Mengendap dan meminimalisir gesekan jubah korowainya, hingga sampai pada sisi lain rumah sebelum dia mengendap.

Gemerisik mereda. Tarrel mengusap pelipisnya yang banjir keringat. Memandang jauh keatas dan menemukan pohon sengon yang lebih landai. Pilihannya adalah panjat pohon itu sembunyi dibalik dedaunan lebarnya atau berlarian bak kukang melesat kembali ke pemukiman, atau yang lebih gila, sudahlah, biarkan Taehyung mengubur dirinya disini sekarang juga karena, yah, dia buntu memilih pilihan meloloskan diri. Hingga—

Tepat saat manik cokelat Taehyung kembali mematri daratan, dia menemukan sepasang sepatu boots hitam apik sejajar di jarak pandang di hadapannya.

Angkat dagu, manik hitam sewarna jelaga lain membidiknya. Habislah sudah.

Keduanya tidak pada kondisi yang baik, sama-sama terkejut. Jungkook sang Jaeger yang secara literal memang berarti pemburu itu memundurkan tungkai kakinya gentar setelah masing-masing dari mereka mengamati dan terselam dalam tatapan satu sama lain. Tarrel mencengkram sekali lagi pegangan belatinya.

"Hei.. kau.." Logat Eropa bangsawan yang sangat kentara keluar dari bibir dihadapannya, menyapa pendengaran Tarrel dan seketika menegangkan batinnya.

Dia ketahuan!

.

.

.


Kim Taehyung sebagai Kirt Tarrel

Jeon Jungkook sebagai Jan Jaeger

Park Jimin sebagai Petter Jeelmian

Min Yoongi sebagai Myer Yoon

Jung Hoseok sebagai Josh Hobey

Kim Namjoon sebagai Kirt O'Niel

Kim Seokjin sebagai Kyne Seekjan

.


.

.

.

.

.

Lucunya, sekelilingnya menjadi seketika sunyi. Diantara gagahnya belantara hutan dengan ribuan spesies penghuni, rasanya telinga menjadi tuli. Gemetar dan gentar sempat dirasa diujung kaki, dan Taehyung menepis itu karena dia benci menjadi macan pengecut tak bernyali.

Bola mata itu hitam sedalam jelaga, ada biru navi disana karena Taehyung-Tarrel terlalu lama memandang. Pahatan mukanya menarik, Tarrel akui menandingi tegasnya milik muka Namjoon-O'Niel saat memarahinya karena alis hitam tebal dihadapan ini menukik juga.

Satu kedipan dari manik yang berwarna hitam.

"Turunkan senapanmu itu." Tarrel memutus pandangannya dan melirik senapan dengan jemari laki-laki itu yang terselip di trigger pelatuknya.

"Yeah?" Sang Jungkook-Jaeger menelengkan kepala. Harusnya dia lebih waspada, namun dia merasa tak menemukan alasan untuk melakukannya saat bertemu sweet creature seperti dihadapannya ini.

Alam rayapun pasti akan tersenyum, merunduk dan memuja hadirnya. Karena, sungguh, Jungkook-Jaeger cukup terpukau menatap wajah dihadapannya. Apakah ini terlalu cepat untuk Jaeger memuji?

"Simpan disana, jangan anarkis, jangan ganas, jangan sakiti apapun." Tarrel mengacungkan jarinya ke lengan Jaeger, menekan nadinya untuk berhenti mengedik dan mengindikasi akan menarik pelatuk untuk bersiap.

"Aku tidak akan melakukan hal semacam itu selama kau tidak mengindikasikan tanda bahaya untukku."

"Yeah, itu bagus."

Jaeger mengambil langkah mundur dua hitungan lagi, Tarrel diam-diam mengeratkan pegangan pada belati di harness hitam yang bergelatung di paha luarnya, dibalik juntaian jubah korowai.

"Bagus. Tunggu, Kau perompak? atau lebih seram dari yang aku bayangkan?" Aku Jaeger.

"Tidak keduanya."

"Lalu?"

"Aku manusia biasa yang kebetulan bertemu denganmu." Tarrel mengutuk dalam hati percakapan nonsense ini. Untuk apa dia buang-buang waktu dengan manusia eropa-latin-asia atau uh-entahlah ini. Dia harus melumpuhkannya lalu segera kabur. Sebelum kepalanya jadi taruhan O'Niel diatas tungku di pemukiman migrasi mereka selanjutnya.

"Tapi penampilanmu ini.."

Jungkook-Jaeger masih mematung disana walau makhluk yang serupa namun tak sama dengannya ini malah diam tanpa membalas lagi aksaranya. Well. Mata laki-laki rambut cokelat ini ternyata sewarna cokelat sengon tua, dan dua manik itu bergulir ke kanan dan keatas lalu ke kiri dengan cepat. Menangkap sinyal itu Jaeger merasa akan terjadi hal yang tidak beres.

"Kau terlihat merencanakan sesuatu. Hei, santai saja, kita bisa bicarakan masalah dan alasanmu kenapa berkeliaran di wilayah kami ini. Aku tidak gigit, kau tidak akan ku minta bayar pajak dan tilang seperti di kota. Sumpah."

Yang diajak berkomunikasi semakin memberikan gelagat mencurigakan, sepertinya laki-laki muda ini tidak pandai mengontrol gerak-geriknya.

"Aduh!"

Nah.

Kepala yang memakai jubah korowai merunduk, menunjukan belah sigarnya dan memperlihatkan betapa surai itu halus dan langsung turun menutupi dahi dan keseluruhan kelopak matanya. Jaeger sempat memutar bola mata sebelum yang lebih kurus mengerang lagi.

"Aku digigit ular!"

"Huh?" Jaeger ikut merunduk susulan, mencoba menangkap ular mana sih yang laki-laki ini tuduh menggigit kakinya, karena biasanya—

Zab.

Belati Tarrel berhasil dia goreskan. Dan ups, cukup dalam. Jaeger meringis perih dan memandang Tarrel dengan heran dan tidak percaya. Diluar dugaannya kalau laki-laki berjubah lebat ini akan menyerangnya dengan senjata tajam dan membuat robekan melintang di celana hingga tembus ke daging pahanya.

Aconitine. Dapat ditemukan dalam spesies Aconite atau Aconitum. Itu adalah genus tanaman berbunga milik spesias keluarga buttercup. Tanaman ini berasal dari pegunungan Newland bagian utara, tumbuh di tanah yang lembab. Tarrel mengetahui fungsinya setelah mempraktekannya pada dirinya sendiri. Akar batang tanaman indah ini adalah racun alkaloid yang memiliki toksisitas aktif.

Toksin aconitine diserap dengan mudah melalui kulit. Jaeger-Jungkook merasa kerja denyut nadinya melambat, motorik melemah, dan sensasi kulit yang mati rasa kesemutan menyebar ke anggota badannya. Tidak bisa menopang badannya untuk berdiri tegak. Jaeger membiarkan tubuh padatnya menimpa si pelaku tikaman. Biar ikut nelangsa.

Tarrel mengutuki tubuh padat yang bukan tandingannya itu dibiarkan terperosok kearahnya. Tubuh Jaeger merosot dengan Tarrel dibawahnya tertekan dinding kayu bungalow. Tangan mencengkram kuat lapisan dada bidang Jaeger agar tidak benar-benar membuat keduanya tersungkur.

Aroma yang baru Tarrel kenali merasuki hidungnya yang cukup tajam dengan begitu cepat, merekam bau badan laki-laki pemburu keren dengan tali senapan melingkari punggungnya. Tarrel sempat berfikir, diantara sekaratnya si Jaeger yang kehilangan motorik saraf tubuhnya, bau wangi darimana ini berasal. Dengan apakah laki-laki pemburu ini mencuci baju, atau dengan apakah dia menggosok tubuh.

Lalu saat lengan Jungkook-Jaeger mencengkram pinggangnya seperti tak tahan kesadarannya akan lepas, Tarrel mendorong kuat tubuh itu terjerembab keatas basah ilalang sambil berseru diatas tungkai kaki jenjang dengan wajah pongah memainkan belati.

"Lupakan kalau kau pernah bertemu denganku."

Gelap lalu menutup kelopak sewarna jelaga.

Mana bisa Jaeger melupakan dosa dari yang telah melumpuhkan dirinya.

.

.

.

.

"Dimana Tarrel?"

"Aku disini." Taehyung-Tarrel keluar dari salah satu gubuk setelah mendengar seruan O'Niel-Namjoon kakaknya. Dia sempat merinding mengingat dirinya belum sampai hati bercerita pada kakaknya soal apa yang dia alami pagi tadi.

"Kau dapat tugas, sore ini pergilah berpatroli ke perbatasan kaki gunung bersama Jeelmian dan Hobey." Dua yang disebut langsung muncul dari balik punggung kakaknya seperti pemeran opera sabun.

Oh?"

"Lalu pulanglah sambil membawa beberapa tanaman herbs, kita butuhkan itu disini dan akan coba memiliki kebun kecil herbs."

Rona wajah Tarrel kembali melemas, tanaman lagi, bercocok tanam lagi, tugasnya berputar pada tema itu melulu.

O'Niel mengedikan dagu, membuat bertiga laki-laki itu berjajar didepannya untuk mendengarkan bagaimana penjelasan lain dititahkannya. Jimin-Jeelmian– Sang penjaga memandang Namjoon-O'Niel-Sang pemimpin di mata, merasakan desakan khusus dalam tugas mereka kali ini.

"Bergegas bersiap-siap, seharusnya aku menyuruhmu pagi menjelang siang tadi tapi kau menghilang setengah hari ini."

Tarrel tersenyum tipis menampik bagaimana Hoseok-Hobey yang berdecak keki.

"Kembalilah sebelum petang, kalian boleh tunggangi kuda-kuda kalau bisa jinakkan. Hobey tau mana saja kuda-kuda yang patuh pada kita."

.

.

.

.

.

Selain menjadi Sang Penghibur (penari suku) si Josh Hobey-Hoseok ini ternyata memiliki keahlian lain yang sangat membantu. Dia bisa mendekati kawanan kuda-kuda dan mengerti apa saja nutrisi tanaman yang dibutuhkan mereka agar tetap bertenaga dan bisa digunakan untuk kelompok mereka. Dengan kata lain, Hobey merawat dan menjinakkan mereka dengan cucuran saja, itu bagus.

Bertiga itu berjalan dengan Hobey mengawali langkah dahulu. Mengikuti benang dari uluran kepompong ulat sutera yang dipasang sebagai penunjuk jalan. Kawanan kuda ada diujung lapang hijau disana, ada yang diam ada yang berlarian liar. Ada yang telinganya telah ditandai suku dengan kapur putih pula.

"Pilih yang berkapur, kalau kuda pilihan menyentak kalian, aku yang akan turun tangan."

"Takut, Tarrelie?" Taehyung jengah mendengar bujuk remeh dari Jeelmian-Jimin. Seharian ini menggodanya melulu.

"Tidak ada alasan untuk itu, aku lebih siap dari kuda."

"Ingat soal Herbs nya, ada di kaki hingga lereng gunung. Kita akan berpencar, paham?"

"Iya, iya kalian dapatkan tugas keren, aku dapatkan tugas merumput."

"Kalian dengar tidak sih, kusuruh untuk pilih kuda?!" dari kejauhan Hobey mengerang lelah diabaikan.

Pahatan gunung memecah langit semu biru, berselimut awan beralas bagai kelambu, nampak rendah menggantungi dengan kabut tipis seperti abu. Tinggi dan tajam jajaran pegunungan New Zealand Aetearoa selatan menjadi bayangan bagaimana tiga pemuda itu lincah berkuda dalam lorong alam yang khusus tersembunyi dipetakan sukunya.

Lewati cermin ilusi di atas danau, menikung pepohonan yang melambai warna klorofil. Mereka dapatkan tiga kuda dengan dua warna cokelat tua dan satu hitam kelam. Jeelmian memimpin Tarrel dan Hobey, dengan Hobey yang mengkhawatirkan stamina si kuda hitam tunggangan Jeelmian-Jimin yang mungkin akan kurang bagus jika dipakai hingga sore menjadi jingga.

Di selah kaki-kaki gunung, mereka dapati beberapa pos dan 'jajahan' alam dari bangsa eropa yang seperti mengejek karya-karya tuhan yang dipercayai mereka. Jauh dari hijau, penuh dengan ornamen klasik eropa serta pagar duri yang pikir mereka, memuakan.

"Kita berpisah disini, biarkan para kuda disini. Selesaikan segera, karena petang kita harus kembali. Keratkan belati kalian juga jubah kalian, jangan ada yang ceroboh lebih-lebih terluka. Kita akan dekati kota, disana bisa saja ada penjaga perbatasan." Jeelmian berkata sambil mondar mandir gelisah diahadapan dua lainnya.

.

.

.

Mereka benar-benar berpisah dititik itu. Tiga ratus meter dibelakang jajaran pinus. Tarrel membawa dirinya meminimalisir gerutuan untuk mengemban tugas. Pergi ke lereng gunung hingga rayapi kakinya untuk menemukan harta alam. Herbs. Tanaman yang bisa dimakan, sekaligus untuk obat.

Sebelum kedua orang tuanya hilang ditelan gemuruh bantaian diktator bangsa eropa yang keji pada sukunya. Taehyung-Tarrel kecil, sebagi seorang sub, sempat bertahun mengikuti ibunya kala si kakak dominan Namjoon-O'Niel dicekoki ayahnya perihal memenggal kepala.

Tarrel sangat mengenal macam-macam Herbs hingga tanaman beracun.

Ya, itulah alasan bagaimana dia selalu memiliki cawan-cawan racun di sudut gubuk untuk dibubuhkan pada belati, panah pegangannya, juga gerusan herbs dalam kantong-kantong daun basah yang siap sedia diedarkan saat ada jangkitan penyakit atau luka.

Ya, itulah pula alasan dia selalu kena sial untuk berurusan dengan cocok tanam karena nyatanya Tarrel cukup lihai dengan itu semua.

Dalam hati Tarrel, dia ingin seperti kakaknya, dia sudah cukup kecewa saat Jimin lah yang ditunjuk sebagai Sang Penjaga saat dia lah keturunan suci yang seharusnya lebih masuk akal untuk menyandangnya.

Kebutuhan khusus dari dirinya yang sub ini lah yang mencegahnya, jadi Tarrel selalu berlomba, bagaimana dia bisa diakui dalam sukunya, bisa dianggap keren seperti pejantan suku lainnya.

Memikirkan itu membuat Tarrel murung, dan dia hanya berakhir menyingkirkan keegoisannya.

Tarrel sudah banyak mengumpukan Herbs.

Apium Graviolens, Aloe Vera, Curcuma, Xanthorrhiza, Ricinus Communis. Pluchea Indica, Cyclea Barbata dan masih banyak lagi. Dia juga koleksi beberapa tanaman dan berry racun dengan kantong terpisah.

Ngomong-ngomong soal racun, Tarrel kembali teringat soal pemburu yang dia lumpuhkan pagi tadi di belakang bungalow. Apakah itu akan menjadi karma untuknya atau laki-laki itu akan masa bodoh dengannya?

Tarrel sempat meletakkan pria itu dengan apik dan nyaman di dalam bungalow, sebagai bentuk terima kasih tidak membunuhnya ditempat, namun itu masih mengganggu pikirannya. Dia hanya berdoa agar hal buruk tidak terjadi.

.

.

.

.

Dari kejauhan pucuk kepala Hoseok-Hobey terlihat, Tarrel menyusuri ilalang yang terbelah untuk mendekati senior sesukunya.

"Fuck!" Hobey melebarkan mata saat Tarrel menepuk pundaknya dengan tiba-tiba dan cara yang mengagetkan.

"Kau bilang apa, kenapa mengerang?! kata apa itu?!" Tarrel yang barusan sampai disisinya ikut terkejut saat sepertinya Hobey mempunyai umpatan baru yang belum pernah diketahuinya.

"Tidak penting! Kecilkan suaramu, lalu sembunyi bodoh! ada penjaga bersniper." Hobey mengeluarkan aksara dengan mendesis, memerosokan Tarrel ke bawah ketiaknya, yang lebih muda berontak juga kaget karena sepertinya lokasi patroli kali ini memiliki indikasi siaga 1 bahaya.

"Tapi Jeelmian masih disana!"

"Dia akan selamat kau tenang saja, dia dipanggil Sang Penjaga bukan tanpa alasan."

Tarrel mematai para penjaga dari mata awas dengan jarak pendang yang ditutupi jumput-jumput ujung ilalang.

"Senjata api yang dibawa mereka tidak pernah kulihat sebelumnya."

"Itu senapan sniper, penembak runduk, mereka prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan berbentuk moncong alligator itu. Mereka tidak dalam mode siaga, jadi mereka tidak dalam formasi merunduk atau merendah dibalik pagar, kita bisa selamat, jangan banyak buat gerakan dan kegaduhan tak berarti."

Titik dari peringatan Hobey membuat Tarrel benar benar mengunci mulut dan gerakannya sebelum terdengar siulan yang sangat dia kenali. Keduanya menoleh satu sama lain.

"Itu disana." Tarrel menatap Hobey tepat dimata, laki-laki itu menangkap juga sinyalnya.

"Kode Jeelmian, Tarrel.. kau sudah mengerti macam siulan kelompok kita?"

"Tentu saja! Aku sudah banyak belajar!"

Mata Hobey berbinar dengan kedua tangan ditangkupkan ke atas dada seperti ayah yang bangga atas anaknya. "Kerja bagus kawan, ayo mengendap."

.

.

"Buruk sekali, mereka menambah penjagaan, kita butuh ekstra waspada saat kita kembali ke kota untuk membutuhkan sesuatu. Sepuluh penjaga, lima pemegang senapan sniper, lima pemanah itu tidak waras jika diletakkan di gerbang masuk kota yang tidak seberapa." Jeelmian berujar panjang lebar saat mereka bertiga kembali manapaki titik aman dibalik tabir turus pohon pinus sambil mengelus surai kuda hitamnya.

"Kudengar ada perompak dari utara yang habis merampok di kota dua hari yang lalu, itu wajar, mereka ketakutan. Juga, aku masih menemukan gorong-gorong kita aman, namun pagar yang sempat kita bobol kemarin.. sayang sekali, itu sudah ditambal kembali." Ujar Hobey melaporkan temuannya.

"Beritakan ini pada O'Niel. Dan Tarrel, kau dapat apa yang kau harus dapatkan?" Jeelmian berujar sambil mengurut sikunya yang nyeri karena tadi terlalu banyak merunduk mematai dibalik ilalang kering.

Tarrel sempat memandang iba siku Jeelmian-Jimin yang memerah. "Ini, semua kelas, banyak jenis, Jeje dan Yoon bisa menyayur Herbs malam ini!"

"Ku taksalah duga kalau kau memang berbakat dalam cocok tanam."

"Baiklah, kita bisa bubar darisini? Matahari sudah mau turun dan langit akan segera menggelap." Hobey mengendusi bau udara, membuat kudanya merunduk lalu melompat naik dipunggungnya. Tarrel dan Jeelmian mengikuti setelah anggukan.

.

.

.

.

.

.

Matahari malu-malu, bergulir berniat bersembunyi bak lelaki kasmaran yang 'suka' tapi tidak berani bertegur sapa. Bayang-bayang bulan datang, bersama penjaganya para bintang-bintang. Permadani langit yang menjingga lambat laun menjadi warna nelangsa. Biru petang lalu kelam. Bulan purnama dan bintang-bintang yang berkedip genit ini menandingi hitamnya jelaga langit. Menandakan, malam pun datang.

Tarrel-Taehyung ingat tepat saat tiba di pemukiman setelah melepaskan kudanya ke belantara dia melihat Jeelmian dan Hobey menghadap O'Niel, kemudian, serta-merta Tarrel diseret Yoon-Yoongi untuk mandi di air terjun Huka. Dia bau kuda kata si manis Yoon.

Kantung-kantung berisi tanaman Herbs hasil jerih payah pengumpulan Tarrel direbut Jeje dan Jean, mereka akan mengolahnya, lalu memisah potensi bibit untuk selanjutnya dirawat di dalam pot-pot batok kelapa kecil.

Jubah korowai kebanggaan tergeletak, belati bergulir bisu disebelahnya, harness hitam melintang dengan ujung tercelup air, dan kain dalaman berlengan panjang pas badan Tarrel di loloskan. Saat ini hanya cawat yang melekat ditubuh semampai sintal berwana tan yang dimiliki Tarrel.

Setelah dibekali setangkup daun mint dan bunga melati untuk menggosok tubuh, Tarrel memandang tidak mengerti pada Yoon yang meneliti caranya mandi sambil duduk diatas batu terbesar di muara sungai sambil menghisap beberapa sendok madu dari tembikar kecil sebesar peralatan minum arak.

"Yoon, tidak mau mandi juga? Kenapa hanya aku yang mandi lalu kau memperhatikan?" Taehyung masih menggosok tubuhnya dengan sabun jadi-jadian produk Irene hingga partikelnya tercerai-berai, menyempatkan sebelah tangannya yang bebas untuk menuliskan isyarat pada Yoongi sambil tetap reflek menyuarakan kalimatnya.

"Aku sudah mandi. Aku disini untuk memastikanmu melakukan ini" Yoon membalasnya dengan isyarat juga. Iris gelapnya nampak berkilau seperti kucing dalam kegelapan sekitar air terjun Huka.

"Oh.."

Uh, memang bukan lagi rahasia bahwa seorang Tarrel ini sulit di suruh mandi. Banyak sekali alasan dia untuk melangkah ke air terjun Huka, dari yang airnya dingin, hingga tidak mau mandi bersama gerombolan laki-laki dewasa suku mereka yang kadang memiliki hormon meluber melihat tubuhnya.

Itu bukan salahku kan jika aku malas mandi?! Tentu tidak!

Seru Tarrel kala itu.

Bayang-bayang purnama memantul di permukaan air sungai bersama jentik-jentik percikan air yang memekik beradu riak air. Tarrel yang semula memperhatikan ikan besar yang lewat disela kakinya berjengit ketika segera ditarik Yoon menepi. Semakin terheran heran.

Yoon menunggu Tarrel berganti baju dengan dalaman yang kering. Dia sudah persiapkan.

"Uh Yoon?" Taehyung agak melengos saat Yoongi memasangkan dengan cuek kepangan benang sutera dan serat akar yang terjalin indah mengelili kepalanya, dia nampak seperti mengenakan headband.

"Kau harus memakainya." Yoongi menaikan kedua tangannya, memberi isyarat dengan mengetukan tangan dengan telapak lalu lari ke pucuk kepalanya.

Madu dioleskan di sekitas bibir Tarrel, membuat Tarrel kembali menggerutu lagi, untuk apa dia dipersiapkan sedemikian rupa?

"Oh sial, apa ini madu dan.. buah berri?, merah Yoon? Yang benar saja?" Lengan Tarrel bergerak rusuh mengutarakan isyarat komunikasi pada Yoongi.

"Kau lupa ini tanggal berapa pada malam bulan keberapa, huh?"Yoon yang mulai jengah dan lelah dengan bagaimana Tarrel merajuk akhirnya menyampaikan kodenya.

.

.

.

.

Jangan bayangkan hingar-bingar disko klub yang pernah Namjoon-O'Niel datangi saat menyusup ke kota, bukan, karena obor tidak bisa berkedip-kedip layaknya rantai led, itu hanya bisa menyala terang atau terpendar saat angin meniupnya.

Jangan bayangkan ada musik barat-eropa latin yang menyentak, tidak, mereka tidak memiliki sound system seperti disana, hanya nyanyian bersama yang padu padan dengan nada meriah yang disajikan dengan kendang, kentrung sederhana, serta teriakan entah ad lib seriosa inkoheren yang dimiliki mereka.

Satu yang O'Niel tau, suasanya ini sama, sama menyenangkan, sama melepas penat, namun, hal ini lebih menghantarkan hangat dalam sanubarinya.

Mereka rukun, pemukiman mereka terbentuk, turus-turus kehidupan akan dimulai di tempat kecil ia berpijak. Melihat ini, merasakan momen ini, O'Niel rasanya rela memotong belasan nadi manusia diktator penggila jabatan struktural yang berani mencoba mengusik sukunya.

Hobey dan tiga pejantan serta dua wanita lainnya maju ketengah lingkaran. Pakaian mereka berbeda malam ini, lebih minim namun dihiasi kerang-kerang dan jalinan benang sutra dan bunga-bunga, penghibur panggung Aetearoa Selatan. Seruan, pacuan drum serta kendang menggila disetiap lekukan tubuh mereka yang bergerak dan menggilat oleh pendar cahaya. Mereka menari diiringi suara nyanyian dari satu koloni suku, sorak sorai harmoni dan suasanya makin membuat kucur keringat.

Jeje yang berulang kali dipuji atas masakannya malam ini sudah mulai teler mengangkat cawan dan tuak tumpah-tumpah dari sana, mulai melempar siulan ke para lelaki penari. oh para wanita, tolong simpan Jeje kembali ke barisan duduk kalian.

Tarrel memandang keki dari kejauhan, dia duduk disebelah kakaknya yang tertawa-tawa bangga sambil mengikuti senandung nyanyian. Diam-diam lengan kakaknya melingkar erat di pinggangnya. Cengkraman itu bukan bermaksud sensual padanya, hanya menjaganya agar tidak kabur.

Demi tuhan, harusnya ada Yoongi—pasangan Sang pemimpin disini agar mengalihkan Namjoon darinya!

Malam ini legalitas Kirt Tarrel. Bertepatan dengan pesta menyambut syukur akan terbentuknya pemukiman baru mereka secara utuh. Akhirnya Taehyung mngerti kenapa dia harus mandi dan berdandan dengan perhiasan.

Hal suci dalam aturan sukunya, jikalau memasuki malam legalitas adalah ritual goresan tato oleh seseorang dalam kelompok setelah acara menyanyi dan menari bersama usai.

Sisa intisari acaranya adalah kebijakan kelompok dan gagasan dengan embel senang-senang, serta hal liar. Karena, ya karena…. legalitas artinya, selain malam dengan mabuk, goresan tato, itu juga termasuk momen telanjangi diatas tilam setelahnya.

.

.

.

Pesta syukur masih berlanjut, tidak pula mereda, mereka masih mencomoti makanan dan minuman yang seadanya ada, serta masih bernyayian bersama.

Batok kelapa bergelimpangan, tuak beralkohol alami berceceran.

Setelah tegukan kelima dalam paksaan alkohol buatan dari Tuak ke Tarrel diterima, suara O'Niel membisukan berisik riuh rendah seisi suku. Tarian tangan diatas drum, kendang dan senar kentrung dilepas.

"Mari kita lihat ramalannya, siapa laki-laki yang beruntung yang akan menandaimu."

Suara tawa dan kikikan disekitarnya membuat Tarrel makin pusing. Gumaman dan umpatan keluar dari celah bibirnya yang memerah. Dipandanginya satu persatu laki-laki yang sedikit banyak mabuk tuak disekelilingnya.

Kepala Tarrel sudah dipenuhi pembicaraan-pembicaraan suram akan nasibnya malam ini. Tarrel mengkilas balik bagaimana dia dijatuhi takdir oleh kelompoknya sendiri dua tahun lalu. Saat darah burung elang tidak berhasil bertahan di dahinya dan menjadikan dia disebut sebagai laki-laki sub. Dua laki-laki sub lainnya menyambut dia suka duka, dan Tarrel sendiri sejujurnya terguncang.

Menjadi sub bukan pilihannya, Tarrel ini masih seorang fresh man yang bugar, lihai, penuh ingin tahu, dan sangat keren kalau sedang membusur. Dan ketauhilah, kisah merananya di tungku dan kebun pagi tadi sebenarnya cukup adil untuk membuktikan dia bukan laki-laki yang kecewek-cewekan. Uh kenapa mereka selalu percaya pada ramalan ini ramalan itu.

Kesadaran Tarrel sudah banyak hilang, dia hanya bisa bertumpu pada dada Hobey yang tadi menjadi laki-laki terakhirnya yang bercanda dengannya sebelum mencekokinya alkohol tuak. Kurang ajar, sejak kapan laki-laki itu menumpunya dan apa maksud dari jemarinya yang mengelus lambat dibalik jubah korowainya?!

O'Niel maju, mengambil beberapa berkas daun jati yang dibungkus dengan potongan rambut Tarrel, O'Niel mendekati api unggun di hadapannya. Lihat! Konyol bukan, mana ada hanya dengan membakar itu takdir dari laki-laki yang akan melecehkan Tarrel malam ini akan terkuak?. Lalu serta merta dengan terbakarnya lipatan itu api unggun seperti dibiski Namjoon-O'Niel sepenggal mantra. Api unggun mengganas, api disana tiba-tiba menyentak besar bagai magis lalu O'Niel sempat mundur kebelakang. Membuka mata perlahan lalu berpendar memperhatikan jajaran kepala penghuni sukunya.

"Ramalannya mengatakan.."

.

.

.

TBC


Haloooooo semuanyaa :D

Dibawah sini aku bakal ngasih sedikit penjelasan.

So, Yeah. Personality Jungkook disini engga yang kubuat seme kaku dan tegang (eh tegang sih kalo sama :( wkwk) Jadii Jungkook disini lebih mayan santai, doi ini tipe smart juga kaya Tae, tipe caring, dewasa (iya), dan realistik. Dia pribadi yang bebas, begitu juga Tae. Dalam cerita ini aku akan utarakan bagaimana Jungkook-Jaeger serta lambat laun driving crazy dengan segala keunikan pribadi Taehyung-Tarrel. Hehe, mereka akan bertemu lagi kok!

Oiya, dont expect too much ya... this story maybe not end up into that sweet story,tho... but, let me serving you tea before coffee ;)

Anw, thank you for reading and apreciate my stories (untuk yang baik banget sampe ngasih vote juga!) I purple u so much readernims, u're somehow my energy for continue this story, thats sweet! See Ya!