.

.

.

Kim Taehyung sebagai Kirt Tarrel

Jeon Jungkook sebagai Jan Jaeger

Park Jimin sebagai Petter Jeelmian

Min Yoongi sebagai Myer Yoon

Jung Hoseok sebagai Josh Hobey

Kim Namjoon sebagai Kirt O'Niel

Kim Seokjin sebagai Kyne Seekjan

.

.

.

.

"Jeel!, sial, keluar kau atau aku yang akan gantikanmu!"

Kecup basah terlepas, Jeelmian-Jimin ringkas mendorong Yoon-Yoongi menjauh dari jajahan lidahnya. Jeelmian mendengar seruan itu tapi tidak dengan Yoon yang merajuk. Yoon tidak bisa mendengar apapun yang tidak cukup keras baginya.

"Aku harus pergi, seseorang mencariku." Jeelmian bergerak cepat, memandang Yoon dimata, menunjuk dirinya lalu menuliskan isyarat dengan tangan yang naik menukik diatas udara sambil memperbaiki jubah korowai Yoon yang paling indah ia kenakan malam ini.

Yoongi menggelengkan kepala tidak menerima, rautnya penuh tanda tanya. Seingatnya, menit sebelum ini dia masih bebas memiliki Jimin mencumbu dirinya. Kenapa Sang Penjaga ini tiba tiba menolaknya?

Jeelmian memalingkan diri, seratus per seratus abai dengan rajukan itu. Ia memunggungi Yoon dan mengenakan kembali pakaian adat suku sebagai Sang Penjaga. Terlalu banyak aksesoris dan bulu sematan diatas minim singlet hitam pas badannya, Jeelmian membutuhkan waktu untuk memakai itu semua kembali dengan benar setelah tadi nyaris telanjang.

"Kau sudah sangat siap disini, kenapa meninggalkan aku?"

Yoon masih bersikeras membalikan badan Jeelmian yang sudah rapi dengan sandangannya. Mengeja untaian maksudnya dengan sebelah tangan menulis kalimat isyarat dan tangan lainnya mengelus bagian bawah perut Jeelmian.

Jimin menahan lengan kurus Yoongi, warna kulit putih pasangan O'Niel-Namjoon itu berpendar dibawah untaian cahaya lilin, terasa halus di tangan Jimin, hingga rasanya menyakitkan karena tidak mungkin ia diperkenankan menggengamnya seutuhnya. "Tidak, mari kita keluar, kau harus temui O'Niel, dia membutuhkanmu."

Jeelmian masih membujuk, kembali menuliskan dan mengkonversikan maksudnya dalam isyarat yang dimengerti Yoon.

"Tapi aku membutuhkanmu!"

Yoon membalasnya tak kalah cepat, lebih egois.

"..."

"Aku tidak bisa mendengar apapun diluar sana, untuk apa aku kesana dan berpura-pura menikmati hingar-bingar itu?"

Kedua tangan Yoon melukis diatas udara dengan cepat dan bergumuruh emosi. Jeelmian sempat kesulitan mengartikannya dan memicingkan mata untuk memberikan atensi penuh padanya. Menggelengkan sekilas, Jeelmian kembali dengan keputusannya.

"O'Niel membutuhkan ketenangan darimu, padamkan berisik itu, ini sudah larut. Aku janji akan lakukan inginmu kalau Sang Pemimpin tidak ada. Ada seseorang memanggilku."

Yoon terdiam setelah membaca isyarat Jeelmian, itu bagus, karena seruan lainnya kembali terdengar. Jeelmian bergegas menyibak lapisan kain sutera penutup pintu gubuk pribadi Yoon. Menoleh terakhir untuk dapatkan Yoon melipat bibir, jatuh terduduk diatas buntalan kapas, masih pandangi Jeelmian dengan raut kecewa.

"Ka kite anō, Yoon"

.

.

.

.

.

Kolase malam masih dengan binar rembulan dan dendangan bintang-bintang. Terselip diantara tinggi gunung yang menantang cakrawala, membelah awan, dan terpekur di antara bentang alam. Disana, Aetearoa selatan masih dihiasi senda gurauan.

Senang-senang tawa dan hingar-bingar kendang kembali terpatik setelah pembacaan ramalan dihadapan khalayak yang putari api unggun. Harum daging yang baru saja dibakar kembali tercium, mereka belum merencanakan kapan akan memadamkan pesta malam ini.

Mengendap dari gubuk pribadi Yoon, Jeelmian mengusahakan dirinya tak terkena pendar cahaya obor-obor yang meliuk disekitar sana. Menghilang dari kegelapan untuk selanjutnya muncul dari belakang selipan gubuk lain secara misterius, seketika membuat teriakan Hobey kembali mengatup.

"Jeel— disitu kau rupanya!"

"Ada apa?" Jimin berucap datar namun antisipatif kalau-kalau Hoseok membaca pergerakan dirinya sebelum ini.

Hoseok-Hobey melipat tangan di depan dada, pakaian tarian malam ini membiarkan dada bidangnya tereskpose bebas dengan hiasan indah bertebaran di tubuh kokohnya. Tersenyum masam Hobey menyampaikan; "Kau dapatkan dia, ramalannya mengatakan itu adalah dirimu."

"Apakah ini bualan lain darimu untuk mengejekku kemudian mempermalukanku?" Jeelmian menaikan alisnya, mempertanyakan.

"Pergi ke dekat lingkaran api unggun pesta syukur sekarang, dan kau akan tau."

.

.

Jimin-Jeelmian menganga sekilas lalu mengatup tiga detik kemudian, Ia saat ini dihadapkan dengan sorak sorai satu koloni sukunya dan dihadapkan dengan raut merengut seorang Taehyung-Tarrel. Membawa dirinya dekati si adik Sang Pemimpin, mereka berdiri sejajar dan otomatis memasang sikap sempurna saat keduanya telah berdampingan tepat diseberang lingkaran suku paling ramai.

Musik kembali riuh dan ruang dekat api unggun telah digelari karpet bulu beruang yang halus berserat. Para penghuni pemukiman kecil ini kembali mengkerumuni pelataran hiburan yang akan digelar sebentar lagi.

Myer Yoon-Yoongi sudah ada disana, tenggelam di dalam rangkulan Sang Pemimpin Namjoon-O'Niel yang duduk tenang jauh dihadapan mereka. Arah pandang mereka sejajar, Yoon yang menyiratkan suatu hal pada Jeelmian, dan O'Niel yang memasang senyum bangga pada adiknya Tarrel yang tersenyum masam.

Tarrel dan Jeelmian, mulai melangkah bersama, kobaran api unggun membesar setelah disirami minyak gas, pendar cahayanya jilati keduanya dan menghasilkan bayangan meliuk diatas tanah.

Diana dan Irene dekati mereka dengan alas kayu lebar yang berisi cawan-cawan tuak dan peralatan tato, bisikan beberapa frasa seperti enatah matra atau salam, Jeelmian mendadak serasa tuli saking gugupnya.

Nampan itu disambut dan peralatan tato di diambil Jeelmian untuk dikaitkan disisi bisepnya. Ada tongkat sepanjang dua puluh centimeter, kurus pendek dan ujung tajam dalam genggaman Jeelmian. Selusurnya berujung pada gembungan kecil wadah tinta. Setelahnya, masing-masing Tarrel dan Jeelmian mengambil cawan tuak yang diisi penuh-penuh.

Taehyung dan Jimin berdiri berhadapan, diatas serat karpet, diantara riuh satu koloni, dijilati pendar cahaya obor, disirami sinar rembulan, dan dirundung kegelisahan masing-masing.

"Aku? Serius?" Itu Jeelmian, berbisik entah untuk Tarrel atau dirinya sendiri. Alisnya menukik tak pasti dan rahang nya mengetatkan senyum tak enak hati.

"Kuharap itu bualan tapi kobaran api itu mengatakannya di depan muka kak O'Niel bahwa itu adalah kau." Tarrel berujar pelan, mencibiri ritual pembacaan ramalan yang nonsense sebelum ini.

Tangan keduanya yang membawa cawan naik, meliliti satu sama lain, hal itu membuat mereka makin berdiri lebih erat. Pucuk cawan telah sampai ke bibir mereka, dan sebelum likuid alkohol dari bahan alami itu tertelan dalam kerongkongan Jeelmian terkekeh kecil. "Wah, sinting. beruntungnya aku dapatkan kau diatas tempat tidurku."

Tarrel mendelik, berusaha abai walau nyatanya tidak terima. Dia memilih segera menuntaskan ini sebelum mereka dipermalukan lebih lanjut. Keduanya minum tuak beralkohol itu dengan sorak-sorai 'Habiskan-habiskan!' diiringi gemuruh dan tepuk tangan penonton lainnya.

Yang pertama melepas lilitan tangan adalah Jimin karena dia menenggak alkoholnya tanpa ragu-ragu. Panas jalari tubuhnya, lehernya mungkin sudah bersemu saat ini. Dia pandangi Taehyung yang sepertinya kesulitan dengan alkoholnya, yang menyerngit di tiap sesapan.

Sebelum ini, Taehyung-Tarrel terlalu banyak dipaksa menenggak alkohol, dan sensasi pahit panasnya masih tersisa memuakan di kerongkongannya. Tarrel agak berjengit saat Jeelmian maju setengah mendekap mengelusi tengkuknya yang mendongak berusaha habiskan satu cawan penuh tuak. "Telan dengan perlahan."

Dorongan dari Tarrel didapatkan Jeelmian saat tetes terakhir alkohol meluncur bebas di bibir Tarrel yang mengkilat basah. Jeelmian mundur dengan terkekeh lagi sambil tetap pegangi siku Tarrel yang tubuhnya sempoyongan.

O'Niel berseru. "Mulailah sekarang, kalian berdua." Siulan dari lingkaran penonton bersahutan saat Jeelmian dan Tarrel mundur lima langkah ke belakang dan memasang kuda-kuda.

Mengambil langkah melingkar, mata bertautan. Mereka berdua akan bergelut dan Jeelmian harus lumpuhkan Tarrel, untuk kemudian sematkan tato di tubuhnya.

Lepas legalitas sesungguhnya adalah simbolis dari proses pembuatan tato tā moko diatas kulit bagian tubuh. Dalam legenda, seni tato ini menunjukkan whakapapa dan sejarah pribadi seseorang. Tā moko merupakan penanda penting kedudukan sosial, pengetahuan, keahlian, umur legal, martabat dan sebagai tanda siap untuk dinikahi.

Pergelutan dilakukan karena Tarrel adalah lelaki sub, dia bukan wanita murni, harus dilakukan pembuktian didepan suku bahwa dirinya memang tidak sedominan itu, juga, bahwa ramalannya benar memanggil pejantan yang ditakdirkan untuk kalahkan dominasinya. Sedangkan alkohol, itu digunakan agar mereka lepas kendali, penghibur penonton.

Tarrel luar biasa sempoyongan, dan Jeelmian yang masih terangsang karena Yoon sebelum ini sama sekali tak membantu. Mata tajam Jeelmian menyipit amati seluruh tubuh Tarrel dari ujung rambut sampai kaki untuk kemudian menyergap cepat.

"Uh!" Taehyung terdorong, Telapak tangannya menaut dimilik Jimin. Kuda-kuda otot paha dan betisnya mengetat. Dia berusaha dorong balik desakan Jimin yang masih disana dengan cengiran mengejek.

Jeelmian menyapu kaki Tarrel dari depan. Kaki kanan. Betis Tarrel ia sapu dan jegal setelah memantapkan posisi maju menahannya. Tangan Jeelmian memegang bagian rusuk Tarrel, lingkarkan lengan kokohnya disana, Tarrel yang masih sempoyongan limbung dan terjatuh.

Jeelmian yang dengan mudah menjatuhkan Tarrel cukup tekeisap, posisinya berada di atas Tarrel yang menggerung setelah punggungnya menghantam tanah berlapis karpet. Siulan dan sorak sorai koloni masih disana.

Tarrel tidak mau mengeluhkan sakitnya, dia serta merta bangkit saat Jeelmian tergugu selami matanya dalam posisi menindihnya. Jeelmian dipiting dengan kedua lengan lemasnya, Jeelmian kembali mendorong Tarrel jatuh terduduk untuk kembali berdiri tatap Tarrel dibawahnya.

Secara tradisi, bagian yang diberi tato moko bisa dimana saja. Bagian wajah, leher, punggung, perut, betis, paha maupun pantat. Jeelmian menentukan target penatoannya, menatap nyalang tubuh Tarrel yang mengkilat peluh dibawah pendar cahaya.

Gerakan dan saling dorong mereka membuatnya menyentuh lekuk tubuh Tarrel lebih dari seharusnya. Pakaian Tarrel malam ini sungguh indah, banyak tersingkap karena terlalu banyak bergerak, dan Jeelmian bersumpah dirinya tidak sengaja meremas nipple dada Tarrel diatas jubah penuh hiasannya.

Mereka masih bergulat hingga nafas Tarrel putus-putus kelelahan. Pusing mendera karena alkohol, panas merajai karena terbakar stamina. Tarrel sempat menyakar bisep Jeelmian saat terakhir kali Jeelmian merubuhkannya hingga terlentang diatas karpet dihadapan satu suku.

Tarrel hilang hitungan berapa kali dia tersungkur, dan yang diterimanya saat ini adalah pipi yang dielus Jeelmian dengan lembut, dia pejamkan mata menyerah, hingga;

"Uh, sakit—" Baru ini Taehyung mengeluhkan sakitnya, Jarum goresi dan tusuki dagu hingga rembesan darah tipis keluar. Kepalanya mendongak saat Jeelmian terus mengukirnya dan bernafas berat didepan lehernya. "Tenanglah, hanya sebentar."

Usapan dingin diterimanya, dari daun barata yang direndam air dari aliran huka. Jeelmian menggores tinta sekali lagi dan seketika siulan dan sorak-sorai kelompok mengecilkan volumenya. Suasanya menjadi khidmad dan bertensi saat Jeelmian beralih pada lengan Tarrel yang mengepal. Menggoreskan jarumnya kembali disana, dekat, dekat sekali dengan permukaan nadinya.

Taehyung bergidik dan Namjoon menatap mereka dengan tajam saat gerungan sakit kembali keluar dari bibir Taehyung. Jimin usap lagi tinta setelah mengusap bekas goresan jarum dengan daun barata.

"Jeel, yang ini sakit sumpah." Tarrel menggigit pipi dalamnya saat Jeelmian masih menindihnya dan telaten menusuki kulit lengannya.

"Ssshh." Jeelmian mengusap bibir Tarrel yang bergetar. Selesai dengan sulur tato untaian terakhir, dengan gila dan karena terlanjur terangsang Jeelmian menarik diri hadapi wajah Tarrel yang pasrah tersungkur di hadapannya.

Itu tidak terjadi hanya dalam beberapa detik, namun puluhan gulir detik. Alkohol menguasai keduanya dan hasrat panas itu harus disalurkan. Jimin yang memulainya, melahap dan memangut bibir manis Taehyung dengan sensual dihadapan puluhan mata.

"Mmmhn!"

"Ok, cut it off, right there, guard."

Jeelmian mengedipkan mata saat sadari apa yang dilakukannya dihadapan khalayak suku. Dirinya berasa tuli hingga Berth kawan O'Niel maju menarik dan memisahkan dia yang seperti akan memangsa Tarrel bulat-bulat. Tarrel masih disana, dengan bekas darah merembes tipis luput dari usapan daun barata, terduduk menutup mata sambil mengusap bibirnya kuat-kuat.

Tangan Jeelmian sedikit belepotan tinta dan dia menoleh dapati orang-orang dalam suku terbawa suasana karena perbuatan sensualnya dengan Tarrel. Musik masih berirama, Hobey berdiri sambil mengacungkan jempol padanya ditengah pasangan-pasangan lain yang mulai bergelayut dan berbagi ciuman juga.

Yoongi... Yoon melihatnya berciuman dengan Tarrel!. Saat mata Jeelmian memandang kearahnya, dia dapati Namjoon-O'Niel sedang menyesap dan menggigit leher Yoon dengan manik kecewa Yoon terarah pada Jeelmian. Habis sudah.

"Gila, saking menikmatinya kau sampai tak dengar, Sang Pemimpin barusan berseru menyuruhmu untuk melanjutkannya di ruang pribadi."

"Huh?"

.

.

.

.

Seberkas cahaya lilin menyebar di tiap sudut tempat tidur pada salah satu gubuk. Gubuk paling indah yang penuh hiasan simbolis dari gading dan tembikar. Sayup musik masih terdengar dengan not rendah. Jalinan kelambu sutera kelilingi mereka, tertiup-tiup gelak angin malam yang ejeki caggung diantara mereka.

Muka diusap kasar oleh telapak tangannya sendiri.

"Aku tidak akan melakukannya padamu." Jimin-Jeelmian selesai dengan air kelapanya, berusaha mengumpulkan akal sehat dan menetralisir diri dari jerat memabukan tuak.

Taehyung-Tarrel lakukan hal yang sama, meminum kelapa selundupan keduanya hingga tumpah ruah ke dagu dan lehernya.

Mereka kembali ke kamar karena dinilai sudah terangsang satu sama lain, dan diharapkan dapatkan waktu bagus untuk keduanya. Untuk bercumbu atau bersetubuh. Terserah, karena Tarrel sudah sah dan boleh melakukannya dengan pejantan di ramalannya. Padahal kenyataannya, tidak, mereka saat ini mencoba mengontrol tuas kendali masing-masing kembali.

"Aku juga tidak mengharapkannya, tapi untuk apa ciuman itu?" Tarrel berujar setelah meletakkan batok kelapa di sudut ruang pribadinya, dekat dengan busur dan buntalan racun buatannya.

"Aku laki-laki, Tar, dominan, terangsang dan mabuk, aku diluar kendali saat kau begitu indah disana memandangku seperti minta untuk kusenggamai."

"Jadi kau berkata, aku yang menarik keinginan itu keluar darimu?!"

"Lima puluh lima puluh, ayolah, aku minta maaf, aku hanya sajikan apa yang adat suku ini mau, mereka memanggilku sebagai pejantanmu, dan kejadian itu tidak ku skenario sebelumnya. Lalu, apa aku menyakitimu?"

Hembuskan nafas pelan dan mengguman "Ya, ya", Selanjutnya Tarrel berujar, duduk menggantung diatas dipan wangi jati dengan tumpukan kapas dan lapisan kain sutera diatasnya. "Aku maklumi sakit karena goresan proses menato ini. Sekarang aku ingin tau, kenapa kau buat sulur di dagu dan lenganku." Tarrel usapi tinta dan noktah di lengannya.

"Kebijakan suku, bahwa kita tidak diharuskan menggores tato mencolok di tempat yang mudah terlihat. Kugambar tato disana karena itu akan memudahkanmu agar tidak dipandang aneh saat harus menyusup ke kota. Juga—" Jeelmian melirik ke kiri, setitik malu menggantung sebelum diutarakan.

"Juga?"

"Kau tau kan tato moko itu memiliki arti dan doa."

"Lalu doa apa yang kau panjatkan padaku?"

Jeelmian dekati Tarrel, duduk bersisian dengannya diatas dipan nyaman adik Sang Pemimpin. "Aku berdoa bila aku lalai menjagamu seperti sebagaimana tugasku pada suku aeteroa ini, kuharap sulur itu bisa menjauhkanmu dari pengaruh roh-roh jahat."

"Itu manis." Tarrel terkekeh, menarik kaki dan mundur menggilas buntalan kapas dibelakangnya, menerawang tato barunya diantara cahaya lilin kamarnya.

"Dan, itu sebagai tanda, kalau kau sudah boleh menikah." Jeelmian menyusul, tertawa jahil sambil merebahkan diri disamping Tarrel setelah melepas hiasan dan atribut suku yang dikenakan.

Tarrel melirik sekilas kearah laki-laki bertubuh bidang yang berbaring tepat disampingnya. Bulu mata panjang Tarrel mengatup, tutupi mata yang dirundung kantuk, bergerak punggungi Jeelmian lalu ia berucap; "Ew, formalitas saja, paling yang akan nikahi aku juga salah satu diantara kalian, itu pun kalau kak O'Niel ijinkan."

Jeelmian tertawa lagi dibelakang tengkuknya, melingkarkan tangannya di pinggang Tarrel. "Tumbuhlah dewasa, Tar, aku tau kau cerdas, kuharap kau bisa lebih kuat, dan makin bijak. Kudoakan itu untuk malam legal mu."

Tarrel tertidur, dan Jeelmian terpekur bayangkan apa yang akan dia katakan pada Yoon setelah ini.

.

.

.

Kim Taehyung sebagai Kirt Tarrel

Jeon Jungkook sebagai Jan Jaeger

Park Jimin sebagai Petter Jeelmian

Min Yoongi sebagai Myer Yoon

Jung Hoseok sebagai Josh Hobey

Kim Namjoon sebagai Kirt O'Niel

Kim Seokjin sebagai Kyne Seekjan

.

.

.

Fajar menyingsing, embun menari-nari. Puteri malu merekah kembali, hewan-hewan kecil berlarian ke kali. Suasana pagi, bangunkan sekuncup jiwa untuk segar kembali.

Saat Taehyung berkaca di cermin air sungai, Taehyung temukan tato nya berubah warna menjadi keemasan, tidak sehitam pertama Tarrel lihat goresan tintanya. Sulu-sulur lukisan Jimin indah, tribal, spiral, dan menyenangkan dipandangi. Taehyung bersyukur ternyata Jimin cukup berbakat dan masih telaten melukisnya.

Tarrel menyusuri langkah lagi, sandangi busur dan panah di punggung, ia meniti sungai yang akan membawanya ke air terjun huka.

"Tarrelieee~ Tarreliee~~~" Gelak riang tiga anak-anak memanggilnya. Jubah Korowai mereka kebesaran dibadan, basah dan nampak menggemaskan tercelup debit air dangkal sungai.

"Hei, Seejoo, Karmel, dan Rein! Kalian main di sini pagi sekali?" Tarrel melambaikan tangan, berlari gedebuk-gedebuk untuk menggoda si cantik Karmel yang membuka tangan minta peluk.

"Pancingannya patah, buatkan lagii~" itu Seejoo, merajuk saat Tarrel mengangkat Karmel tinggi dan tertawa-tawa diputar-putar diudara.

Tarrel mengendurkan lagi bisepnya, menurunkan Karmel lalu menaruh atensi pada tongkat panjang dengan kail kawat yang sudah terbelah menjadi dua. "Huh, apa yang kalian lakukan pada benda ini?"

"Maafkan aku kak Tarrel, aku tidak sengaja rusakkan benda ini, kuayunkan sekencang ini, whoosh.. whoosh... lalu terlempar hingga patah dihantam batu.." Itu Rein, berkata sambil memperagakan betapa heboh dia menggunakan mainan pancingnya.

"Iya! Padahal sebelumnya kita berhasil dapatkan tiga ikan!, tiga loh tiga!" Karmel menunjuk keranjang kecil yang terongok di dekat kaki bocah itu.

"Baiklah, akan kubuatkan lagi pancing-pancing dengan dahan kayu yang lebih kuat!"

"Huraay!~"

Tarrel mengusak satu persatu pucuk kepala anak berumur delapan, tujuh, dan enam tahun itu bergantian. Melanjutkan obrolan dan bermain di sekitar air terjun huka. Tarrel bertujuan membasuh tubuhnya di sana dan setelah selesai dia bercermin di air pandangi lagi ukiran emas di dagunya.

"Indaah~ Tarrelie dilukis dagunyaa~" Karmel mengusap dagu Tarrel dan itu mengejutkannya.

"Sungguh? Kau pikir ini indah?" Tarrel tersenyum kotak.

"Uhm!"

Dua anak lainnya dekati Tarrel dan Karmel duduk diatas batu besar air terjun huka.

"Kalian tidur cepat semalam?" itu Tarrel bertanya pada ketiganya.

"Umm.. kita tidak disana hingga pestanya selesai."

Tarrel tertawa, mengelus dada, dalam hati mengapresiasi orang tua anak-anak ini yang masih memikirkan mental pertumbuhan si kecil untuk tak menyaksikan pesta yang meliar hingga subuh datang. "Syukurlah."

"Kenapa kak Tarrel tidak kenakan pakaian kemarin lagi? Pakaian dengan banyak bunga dan benang-benang berhias kerang ituu?"

"Aku pakai itu karena kita berpesta."

"Itu bagus sekali loh, aku suka jalinan benang sutera dan bulu merak di atas kepala Tarrelie semalam, itu cantik!"

"Terima kasih, Karmel. Kau memujiku terus menerus, kau akan jatuh hati padaku kalau sudah besar nanti." Tarrel memasang tampang congkak sok keren, dan si enam tahun Karmel bersemu karena itu.

"Kenapa kita tidak kenakan yang seperti itu juga saat pesta kemarin?" Rein bertanya-tanya.

"Kalian harus jadi seorang pangeran dulu baru boleh kenakan itu!" Suara berat menggema diantara tinggi tebing sekitaran air terjun huka. Burung-burung kuntul berterbangan saat ada bayangan yang keluar dari semak belukar bagian timur.

"Ayaaaah." Seejoo berlari kencang, menubruk kaki laki-laki dewasa yang baru kembali berburu dengan sekantong daging rusa di punggungnya.

"Kak Saka! kau dapatkan makan malam kita?" Tarrel menyambut salam kepalan tangan dari seniornya, tersenyum balas keramahan ayah satu anak ini.

"Tentu, Hei, jagoan, kau terlihat keren dengan tato itu."

"Kau orang ke seribu yang bilang begitu sejak aku bangun pagi ini."

"Ngawur! koloni kita bahkan tidak sampai tiga puluh."

Taehyung dan Saka bergelak tawa, mereka dan anak-anak membantu mencuci daging rusa di sungai lalu bereskan kembali di kantong seratnya. Darah dari daging itu merembes hilang menyebar di antara derasnya sungai.

"Sudahlah, kalian menikah saja, kalian sangat cocok satu sama lain." Itu Saka, berujar jahil sambil mencuci parang bekas berburunya.

"Tidak sudi, Tingkah Jeelmian itu sungguh menyebalkan, sok mengatur, penjahat kelamin, aku tak mau menghabiskan sisa hidup sebagai pasangannya."

Selesai dengan bantuannya, Tarrel berdiri bersedekap mengetatkan rahang, manyun.

"Penjahat kelamin? Ayah, apa itu? penjahat namun jahati kelamin?" itu delapan tahun Seejoo, menarik ujung pakaian serat hitam ketat ditubuh Saka.

"Uh.. itu.."

Pukulan mengenai belakang kepala Tarrel, tepat. "Aw!"

"Jaga bicaramu di depan anak-anak, hei lelaki yang baru legal kemarin."

Satu orang dewasa ikut bergabung setelah mencuri dengar apa konversasi terakhir mereka dan menemukan suaminya kebingungan menanggapi pertanyaan anakknya. Wanita cantik dengan tubuh sintal, mengenakan serat cokelat pas tubuh berkacak pinggang sambil sebelah tangan mengayunkan satu bundel ilalang yang di kumpulkannya.

"Shasya! Kau memukulku?! Tepat dikepala?!"

"Kalau itu demi mencegah anakku tertular omongan seenaknya darimu, maka ya, akan kulakukan."

"Sayang, terima kasih telah menyelamatkanku." Saka menyimpan parangnya nya di sematan belakang tubuhnya. Melingkarkan lengan di tubuh Shasya, istri tercintanya.

"Ibuu." Seejoo bergantian menubrukan badan ke ibunya, sekarang badan Shasya penuh karena gelayutan suami dan anaknya.

"Hei anak-anak burung, manis-manisku, kalian pagi-pagi sudah banyak membantu orang dewasa ya, terima kasih, Ibu Shasya sangat bangga padamu~" Shasya megusap pucuk kepala anak-anak kecil itu satu persatu, setelah melepas pelukan suami dan anaknya, dan mengabaikan Tarrel yang masih menggerutu

"Mana mama Diana, bu Shasya?"
"Mamaku mana jugaaa?"

"Mama kalian sedang bantu bereskan sisa pesta, dari pada itu, ayo ikut ke kebun herbal! bantu di kandang domba juga, di dekat sana, paman Minhawk buatkan kalian tempat bermain dengan ayun-ayun dan rumah pohon!"

"Sungguhh?" Karmel menunjukan binar matanya.

"Ayun-ayuun? Seperti tempat kita sebelumnyaa?" Rein melonjak-lonjak kecil antusias.

"Bahkan lebih bagus dari yang sebelumnya, ayo ayo, kita kesana bersama ibu Shasya~"

"Ayo kesana, ayo bantu paman Minhawk! kita beri hiasan yang banyaaak di rumah pohon baru kita!"

"Tarrelie~ pancingannya besok-besok saja deh dibuatnya, kita akan sibuk menata rumah pohon~"

"Iya, manisku, pergilah, jangan terjatuh, jangan terluka ya. Main dengan hati-hati." Tarrel mengerling kearah si Karmel. Sebelum perempuan kecil itu terdorong-dorong oleh desakan Seejoo yang terlalu bersemangat.

"Ka kite anō Kak Tarrel~!"

Tarrel tersenyum membalas lambaikan ceria tiga bocah yang berlarian menggilas batu kali dibawah kakinya. Melihat kearifan yang tumbuh lebih erat disini mengalirkan energi positif di sanubarinya juga. Tarrel berdiri mengamati saat suami istri Saka dan Shasya merapatkan diri, menempelkan kening satu sama lain setelah ketiga bocah itu hilang ditikungan kembali ke pemukiman. Mereka berdua melakukan salam Ha. Menyalurkan hembusan nafas bagai untaian doa untuk berbagi energi secara spiritual. Itu merupakan tradisi mereka dalam memberi salam di pagi hari khususnya untuk yang bersuami-istri. Menenangkan dan menghangatkan hati.

"Iri yaa." Tarrel mengedipkan mata buyar dari lamunan, menyadari nada mencemooh Saka padanya.

"Cari lah suami, agar bisa didoakan dan melakukan Ha tiap pagi." Shasya bergelayut mesra di belakang Saka, mencibiri si bocah legal baru kemarin malam.

"Aku tidak seiri itu asal kalian tau!"

.

.

.

.

Setelah membasuh diri di air terjun huka, Tarrel berencana pergi mengambil kuda dan kunjungi suatu tempat. Kesempatan perginya agak terhambat karena main dengan tiga bocah juga kena sial dapat pameran kemesraan suami istri yang masih kasmaran.

Kuda cokelat tua kembali Tarrel dapatkan, kuda yang sama seperti yang dia pakai hari kemarin berpatroli. Tarrel memacu kudanya, kadang cepat dan memelan saat lewati jalan setapak dengan tebing curam disisinya. Tujuannya tidak jauh, karena sebelum ini dia pernah ketempat itu dengan tempuhan kedua tungkai kakinya.

Sepuluh meter dari tempat tujuannya, Tarrel mengelus surai kuda yang tiba-tiba memekik tak karuan. Tarrel tak sadari ada kuda putih lain terkait disalah satu pohon disana yang mengusik mental kuda miliknya.

"Sshh sshh.." Tarrel melepas kuda itu setelah kenalkan siulan panggilan baru untuk sang kuda bilamana Tarrel membutuhkannya kembali. Kuda itu berlari lincah setelah terpekur dan mengoyangkan ekornya. Tarrel menghela nafas mengamatinya pergi.

Tujuan Taehyung-Tarrel adalah rumah kaca dan bungalow yang kemarin dia temukan. Rasa penasaran masih menggerogoti pikiran, karena nampaknya, di dalam sana ada banyak sekali informasi dan tabir ilmu yang menunggu untuk di kuak.

Melesat masuk ke bungalow diantara bayang bayang, Tarrel tersenyum pandangi dipan yang kemarin dibuat menaruh tubuh sang Jaeger tampan yang diracunnya. Menggeleng sekilas, Tarrel kembali lanjutkan berkeliling di ruang-ruang bungalow itu.

Gulungan kertas, gulungan kertas, kaca pecah, tanaman kering dan bau basah jamur dibeberapa titik dirasa reseptor Tarrel.

Tangan Tarrel menyentuh sebuah buku tebal dan menyerngit melihat gambar dan tulisan kabur di dalamnya. Tarrel tidak menyiapkan mentalnya untuk hadapi situasi genting lainnya, karena, secara mengejutkan badannya tertarik kebelakang, terpenjara total, meronta tak bisa.

"Hei, kau kesini lagi, Tuan pembius."

Tarrel melebarkan kedua kelopak matanya, kenali bau wangi yang melingkupinya ini, tubuh kokoh itu mendekap dan menguncinya kencang dengan satu lengan di leher, telapak bekap mulutnya, dan lengan lainnya mencengkram gerakan lengan Tarrel untuk melawan.

"Umh!"

"Kau ini pencuri atau apa, hm?" Hidung orang yang menguncinya dekat sekali dengan leher Tarrel. Berujar dan menyebarkan nafas hangat konstan disana.

Tarrel merasakan nyaris terkena serangan jantung kedua kala mendengar suara berat itu menggelitik telinganya. Saat mata cokelatnya melirik dan temukan dua manik kelam familiar yang hari kemarin dilihatnya, jantungnya semakin berdetak cepat mengacau.

Itu Si Jaeger Tampan.

Matilah dia.

.

.

.

.

.

TBC


.

.

Glosarium:

Tuak : Minuman yang mengandung alkohol. Bahan baku yang biasa dipakai adalah: beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira pohon enau atau nipah, atau legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain.

Ka kite anō : Bahasa Suku Maori yang artinya 'Sampai nanti'

.

.

.

Writing somehow gets harder and harder, i used to write 4k words in a day and it turned out um...Good?, but now it took years for me to write the same number and everything is shitty lol. Saya bener-bener engga percaya diri nulis makin kesini. Tapi yhaa.. yaudah, ini self healing saya sih ditengah hectic real life, please bear with my writing style, readernims. Terima kasih karena masih nantikan cerita ini. Uwu.

.

.

Jadiii, aku udah warning kan kalau ada tagar pair MinV di fiksi inii hehehe. Tolong biasakan sedikit dengan pair itu yaa sebelum ketemu moment KookV yang legit-legit. Eaa. Abis ini KookV mulai banyak interaksinya kok.

Jugaa aku mau luruskan, si Jimin maupun Taehyung engga ada rasa-rasa gitu satu sama lain yak, ini pure karena kesialan mereka dan kebaperan hati singkat yang terpatik karena diramalkan bareng lol. Jimin lebih ke pengen jaga Taehyung banget, karena dia merasa dosa udah khianati kakak Tae, si Namjoon (dalam hal ini Jimin udah selingkuh sama Yoongi sampe berkali-kali bersetubuh dibelakang Namjoon) Jadi ya gitu ya :(

.

.

Anw, terimakasih untuk voment nya! Saya senang kalian masih apresiasi diriquh, salam ;))