Between You and Me
.
.
.
.
[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto
.
.
.
(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan didalamnya, silahkan klik tombol 'Back')
DLDR! DILARANG COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Selamat Membaca
oOo Between You and Me oOo
Mamori segera meletakan ponsel milik Hiruma. Dirinya mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. Apa-apaan itu tadi? Jadi, Hiruma telah memiliki seseorang yang spesial di hatinya? Kenapa dia tidak tahu?
Mamori memegang jantungnya yang terasa sakit. Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali. Kenapa mencintai Hiruma harus sesakit ini?
Hiruma muncul tak berapa lama dengan dua gelas kopi di tangannya. Alisnya terangkat satu ketika melihat perubahan ekspresi wajah Mamori.
"Oi, manager sialan! Apa yang terjadi padamu?!" tanya Hiruma keheranan.
"Tidak ada." Mamori bangkit dari duduknya. "Maafkan aku, Hiruma-kun. Aku lupa jika aku harus membeli sesuatu."
Hiruma baru saja akan buka suara namun Mamori sudah berjalan meninggalkannya. Cih, jika sudah begini lalu dia bisa apa? Mengambil ponselnya, Hiruma segera membalas pesan yang masuk.
.
.
Mamori tidak tahu, mengapa sekarang dia berada di salah satu cafe dengan segelas cangkir hangat di hadapannya. Bahkan satu kotak creampuff kesukaannya tidak tersentuh sama sekali. Cafe yang berada di dekat apartemennya lumayan sepi dan dia bisa menghabiskan waktu sesukanya disini.
Dadanya terasa sangat sakit ketika membaca pesan singkat yang dia temukan di ponsel Hiruma. Dia tidak paham, mengapa dadanya terasa sangat sakit. Ini lebih sakit dari pada melihat Sena yang semakin dewasa dan sudah tidak membutuhkannya lagi.
"Apa yang sudah aku lakukan?"
Mamori meletakan kepalanya diatas meja dan memejamkan matanya. Dia kembali bertanya-tanya dalam hati, mengapa dia tanpa pikir panjang mengikuti Hiruma? Padahal Sena dan kedua orang tuanya tidak mengizinkannya, tetapi dia tetap nekat pergi.
"Mamori-san?"
Mengangkat kepalanya, dia melihat Yamato dan Akaba yang memasuki cafe.
"Yamato-kun, Akaba-kun?" Mamori terkejut melihat kedua anggota tim Devil Bats ada disini.
"Fuh, apa yang Hiruma katakan benar."
Mamori mengangkat satu alisnya ketika mendengar nama Hiruma disebutkan.
"Apa maksudmu?"
"Kami semua sudah berkumpul di apartemen dan hanya kamu yang belum sampai. Lalu Hiruma meminta kami menjemputmu disini," ucap Akaba.
"Santai saja, Mamori-san." Yamato memesan secangkir kopi. "Kami juga tidak berniat kembali secepat itu ke kamar. Bagaimana jika kita mengobrol disini?"
Mamori tidak bisa menahan senyumnya. Dia menganggukan kepalanya ketika dua orang itu bergabung bersamanya dan mengobrol hingga mereka lupa waktu.
Siapa yang peduli dengan kapten setan mereka? Mereka sudah terbiasa mendapatkan hukuman berat dari Hiruma.
oOo
Mamori masuk ke kampusnya dengan rasa malas yang luar biasa melandanya. Tidak bisanya dia malas seperti ini, apalagi sumber rasa malasnya adalah hari ini dia akan bertemu dengan Hiruma Yoichi. Pemuda yang sukses membuat moodnya berantakan dalam sekejap.
Dan ketika Mamori membuka pintu ruangan club, dia berharap ruangan itu kosong. Jadi dia bisa menenangkan diri sejenak sebelum latihan dimulai. Namun dia lupa, jika Hiruma selalu menjadi penunggu ruangan club.
"Kekekeke.. kau terlambat setengah jam, manager sialan!"
"Gommen, Hiruma-kun. Aku kesiangan." Mamori meletakan tasnya.
Hiruma meniup permen karetnya sebelum bangkit dari duduknya. Mengambil tasnya, Hiruma menyampirkannya di bahu.
"Aku harus pergi ke suatu tempat. Temani bocah-bocah sialan itu berlatih dengan Carberus, kekekeke."
"Kau mau pergi kemana, Hiruma-kun?" tanya Mamori.
"Ke suatu tempat, tidak usah banyak bertanya." Hiruma sedikit melirik Mamori sebelum keluar meninggalkan ruangan.
Pandangan Mamori berubah sedih. Dia menyentuh dadanya yang terasa seperti tertusuk ribuan jarum yang membuatnya berdenyut sakit.
"Menjemput Haruno Sakura-kah, Hiruma-kun?"
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah pesawat jet pribadi mendarat di lapangan udara John F. Kennedy. Seorang gadis cantik turun dari pesawat. Dengan kacamata hitam yang berada diantara hidungnya, rok putih yang dikenakannya memamerkan kaki jenjang putih mulus, dipadukan dengan tank top berwarna putih dan blazer berwarna hijau. Gayanya yang anggun mampu membuat siapa saja terpana melihatnya.
"Yo-kun!"
Gadis itu berlari memeluk seseorang yang berdiri tidak jauh dari pesawat yang ditumpanginya. Memeluk pemuda berambut pirang yang ada di hadapannya, mencium dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh tegap itu.
Melepaskan pelukannya, Sakura melepaskan kacamatanya dan menampakan emerald yang indah. Hiruma tersenyum dan mencium bibir merah itu dengan lembut, melumatnya dengan bibirnya.
"Mou, Yo-kun!" Sakura mendorong dada Hiruma. "Kau ganas sekali."
"Kekekeke.. biar ganas tapi kamu suka kan?" Hiruma mencoba menggoda Sakura dengan seringainya. "Bahkan mereka lebih besar dari terakhir aku melihatnya."
"Yo-kun mesum!" Sakura merapatkan blazernya.
"Kekekeke." Hiruma memandang beberapa awak pesawat yang menatap mereka. "Apa yang kalian lihat, sialan?! Bawa turun koper miliknya atau aku sebarkan rahasia kalian! Kekekeke!"
"Yo-kun! Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak mengancam, mengumpat dan melakukan keburukan lainnya!" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Hiruma dengan pandangan menantang. Mengenal Hiruma sedari kecil membuatnya tidak pernah takut kepada pemuda itu.
"Jangan mulai cerewet lagi, Sakura."
Sakura merengut kesal, Hiruma tidak pernah berubah. Tetap menjadi Hiruma yang dulu yang menyebalkan. Hiruma tidak bisa menahan senyumannya dan merangkul Sakura untuk mengikutinya.
"Yo-kun, antarkan aku pulang, aku harus bertemu dengan kedua orang tuaku dulu."
"Bagaimana dengan Paris?" Hiruma bertanya tanpa memandang wajah Sakura. Sedangkan wanita yang duduk di sampingnya menerawang jauh.
"Menarik. Aku belajar banyak hal disana sebagai model, ternyata tidak semudah kelihatannya. Aku harus mengikuti seleksi ini dan itu, tetapi semuanya menyenangkan. Aku juga belajar fashion dan mode disana, kemudian aku bisa membuat sketsa bajuku sendiri."
Sakura membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa. Dia membuka bukunya dan dengan semangat menunjukan beberapa sketsa pakaian yang dibuatnya.
Hiruma hanya melirik gambar demi gambar yang ditunjukan oleh Sakura. Tampaknya dia memang tidak berminat, tetapi otaknya sedang berfikir keras. Mungkin, dia akan membuatkan Sakura butik suatu saat nanti.
Haruno Sakura adalah seorang model ternama di usianya yang tergolong muda. Sakura menjadi model di Paris dan memperagakan berbagai macam pakaian model terbaru dari brand ternama yang tampak sangat menarik saat dia kenakan.
Dia membiarkan Sakura menceritakan semua pengalamannya selama berada di Paris. Entah mengapa, mendengar Sakura menceritakan semuanya sudah membuat perasaannya menjadi lega. Selama ini, dia hanya bisa video call atau sesekali dia yang datang ke Paris. Namun, dia hanya bisa menemui Sakura sebentar karena schedule wanita itu yang padat sebagai model.
"Setelah ini, apa rencanamu?"
"Aku? Aku ditawari sebuah iklan kosmetik." Sakura tersenyum. "Aku akan melebarkan sayapku di bidang entertainment."
.
.
"Kaa-san, aku pulang!"
Haruno Sakura lahir di keluarga yang berkecukupan yang tinggal di New York. Ayahnya pemilik sebuah perusahaan dan ibunya adalah seorang koki ternama.
"Sakura!"
Hiruma yang membawakan koper milik Sakura bisa melihat Haruno Mebuki memeluk putri semata wayangnya dengan erat. Sakura memandang Hiruma dan tersenyum, memberi isyarat agar Hiruma mengikuti mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Kaa-san merindukanmu."
"Saku juga, kaa-san."
oOo Beetween You and Me oOo
"Hosh.. aku lebih suka dilatih dengan Hiruma-san dari pada dengan Carberus." Ikkyu membungkukan tubuhnya.
Jreennggg!
"Jangan mengeluh, Ikkyu." Akaba menaikan kacamatanya sembari memainkan gitarnya.
Ikkyu terduduk di tanah dan dengan senang hati menerima sebotol air mineral yang diberikan Mamori dan meneguknya hingga habis. Latihan dengan Carberus seratus kali lebih melelahkan dari pada berlatih dengan Hiruma. Dia sudah terbiasa dilatih oleh Hiruma dan tidak ingin dilatih oleh Carberus yang lebih menyeramkan dari Hiruma.
"Keh, sampah itu pasti sedang bersenang-senang sekarang," ucap Agon. "Sedangkan kita disini kelelahan karena berlatih."
Mamori tidak bisa melakukan apapun selain menarik nafas lelah. Dia hanya berharap Hiruma segera datang.
"Keh, apa maksudmu, Gimbal sialan?!"
Mereka semua menoleh dan memandang Hiruma yang muncul dengan senyum nerakanya. Dia segera menembakan AK-47nya ke udara.
"Ya-ha! Tidak ada istirahat bagi kalian, anak-anak sialan!"
"Mou! Yo-kun!"
Mereka semua menoleh ke asal suara. Sakura berdiri dengan pipi yang digembungkan, membuatnya terlihat imut dan menggemaskan.
"Sudah aku katakan untuk tidak bicara kotor, Yo-kun!" Sakura berkacak pinggang.
Beberapa anggota tim mencoba menahan tawanya melihat Hiruma yang sedang diomeli seperti anak usia lima tahun. Mereka mencoba untuk tidak terlihat tertawa jika masih ingin selamat.
"Cih." Hiruma membuang permen karetnya.
"Siapa itu, Hiruma?" Agon membuka kacamatanya dan berjalan mendekati Sakura. "Hai cantik, boleh aku tahu namamu?"
Sakura akan menjawab namun Hiruma sudah merangkul pinggangnya terlebih dahulu.
"Dia Haruno Sakura. Dan dia adalah milikku."
Mamori tidak bisa menahan dadanya yang terasa sakit. Kata-kata Hiruma terngiang di telinganya.
Milikku.
Dia adalah milikku.
Kenapa mencinta rasanya sesakit ini?
.
.
Ruangan Tim Amefuto Teiko Devil Bats ramai dengan suara teriakan kegirangan. Ikkyu menghabiskan berbagai cemilan yang ada di meja. Entah bagaimana ceritanya, Sakura menghentikan semua kegiatan mereka dan memohon untuk berpesta kecil tanda perkenalan. Seluruh anggota tim Amefuto merasa telah diselamatkan oleh Malaikat yang datang dari Surga.
"Hiruma, aku masih tidak menyangka jika gadis cantik itu adalah pacarmu," ucap Yamato.
Hiruma menaikan satu alisnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
Yamato mengangkat bahunya dan meneguk minuman di tangannya. Akaba yang ada di ujung ruangan yang menjawab.
"Maksudnya, tidak disangka jika setan dari neraka sepertimu akan memiliki seorang pacar." Akaba berucap dengan santai.
Hiruma menahan dirinya untuk tidak menembak mati Akaba. Jika bukan karena Sakura, dia pasti sudah mengubur hidup-hidup Yamato dan Akaba.
Mamori yang merasa dirinya tersisihkan tersenyum getir. Apalagi ketika melihat senyuman Sakura dan bagaimana gadis itu dengan cepat menyatu dengan anggota tim yang lain. Dadanya terasa sesak. Tentu saja Hiruma akan memilih gadis itu dari pada dirinya, dilihat dari segi manapun, Sakura jauh lebih sempurna darinya.
"Yo-kun, aku merindukan Musashi dan juga Kurita!" rengek Sakura.
"Kamu akan menemui mereka nanti, kekekekeke."
"Mou! Yo-kun jahat."
Mamori merasakan dadanya terasa begitu sesak. Dia harus keluar dari ruangan ini secepatnya sebelum air matanya tumpah. Dan tanpa dia sadari, ada sepasang emerald yang terus memandanginya.
Langkah kakinya memilih menuju lapangan Amefuto. Mendudukan dirinya di pinggir lapangan, Mamori menekuk lututnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Hiruma mencintai gadis lain. Jadi, harapannya hanyalah ilusi belaka?
Mungkin saja Kami-sama memang tidak berpihak padanya. Cinta itu ibarat kunci dan gembok. Jika memang Hiruma bukan jodohnya, mau dipaksa seperti apapun pintu cinta itu tidak akan pernah terbuka.
Dan tanpa dia sadari, kristal air mata mulai mengalir keluar. Baru kali ini, dia menangis karena cinta. Baru dia merasakan apa itu arti cinta, dan dia kini harus merasakan pahitnya cinta. Rasanya, seperti kopi hitam yang pekat.
"Mamori-san?"
Mamori buru-buru menghapus air matanya ketika menyadari dirinya tidak sendiri. Saphirenya memandang Sakura yang mendudukan dirinya di sampingnya.
"Kenapa tidak ikut bergabung?" tanya Sakura dengan ramah.
"Ano.. aku sedang tidak enak badan." Mamori beralasan.
"Jika tidak enak badan, aku bisa meminta Yo-kun mengantarkanmu pulang."
"T-tidak perlu." Mamori tersenyum.
Keheningan menyelimuti mereka, sebelum akhirnya Sakura memecah keheningan diantara mereka.
"Apa kamu mencintai Yo-kun?"
"..."
Mamori memilih menggantungkan pertanyaan Sakura.
"Mau mendengarkan ceritaku tentang Yo-kun?" tanya Sakura sembari tersenyum.
Mamori sedikit melupakan luka hatinya. Mengobrol bersama Sakura membuat rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Cerita tentang Hiruma-kun?" tanyanya ragu-ragu.
Sakura menganggukan kepalanya.
"Ya, semuanya berawal dari saat aku berumur sepuluh tahun-"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Arima K : makasih senpai.. ini sudah dilanjut.. :)
Ayu : sudah..
Sakurai : ini sudah dilanjut :3
Yonna : ini udah yang paling kilat, senpai :3
Rizka Scorpiogirl : Ini udah dilanjut..
Duh.. Sakura lupa nyantumin kata TBC ya.. :3 hehe.. ini lanjutannya, semoga reader terhibur!
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
