Between You and Me

.

.

.

.

[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto

.

.

.

(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan didalamnya, silahkan klik tombol 'Back')

DLDR! DILARANG COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Selamat Membaca

oOo Between You and Me oOo

"Yo-kun adala anak broken Home, aku mengenalnya saat Sekolah Dasar dan dia adalah pemuda yang pintar sebelum akhirnya menjadi pendiam. Awalnya aku tidak mengerti, mengapa dia selalu menghindariku dan memilih bermain dengan Kurita-kun dan Musashi-kun terus. Lalu saat menginjak kelas enam, aku baru menyadari kalau dia menyukaiku. Karena saat dia berubah menjadi berandalan, dia tidak pernah memanggilku dengan embel-embel 'Sialan'."

"Apa yang terjadi dengan keluarga Hiruma-kun?" tanya Mamori.

Sakura menerawang jauh sebelum menjawab.

"Sebenarnya, kedua orang tua Yo-kun menikah bukan atas dasar cinta. Mereka menikah karena MBA, Marriage By Accident. Ibu Yo-kun hamil duluan lalu mereka menikah. Pernikahan yang dijalani tidak harmonis dan itu membuat Yo-kun berada dalam tekanan yang berat. Untuk anak seusianya, kamu pasti bisa membayangkan bagaimana kondisi mental Yo-kun saat itu."

Mamori menundukan kepalanya. Dia bahkan tidak pernah membayangkan masa lalu yang membuat Hiruma menjadi seperti sekarang ini. Tertutup, suka membuat onar dan masih banyak lagi.

"Lalu, sekarang orang tua Hiruma-kun?"

"Mereka berpisah saat Yo-kun masuk sekolah menengah pertama," ucap Sakura. "Ibunya pindah ke Amerika, sedangkan aku tidak tahu dimana ayahnya sekarang."

Mamori terdiam, dia mencoba mencerna semuanya. Hiruma seorang anak broken home, itulah yang membuatnya menjadi seperti itu. Seharusnya dia sudah menduga alasan mengapa Hiruma menjadi seperti itu.

"Lalu, hubungan kalian?"

Sakura tersenyum. Menerawang jauh, memorinya kembali ke masa lalunya.

"Aku dan Yo-kun kemudian masuk ke sekolah Menengah pertama yang sama. Sebenarnya, jarak usiaku dan Yo-kun adalah dua tahun. Aku mengikuti kelas akselerasi dan membuatku bisa berada satu kelas dengan Yo-kun dan itu membutuhkan perjuangan yang sangat besar."

Mamori masih setia mendengarkan cerita tentang gadis yang berhasil mengambil hati milik pemuda itu.

"Aku lama-kelamaan jatuh cinta padanya. Awalnya, aku mulai akrab dengannya karena guruku saat itu selalu memasangkanku dengan Musashi-kun sebagai kelompok. Jika ada Musashi-kun, pasti ada Kurita-kun, dan ketika ada Kurita-kun, disanalah ada Yo-kun. Sebenarnya Yo-kun tidak seburuk yang kelihatannya, dia bersikap begitu untuk menutupi hatinya yang rapuh. Padahal sesungguhnya, dia selalu peduli pada sekitarnya.

Aku mulai memperhatikannya ketika kami selalu berjalan bersama. Sebenarnya, Yo-kun tidak pernah sendiri, dia saja yang tidak tahu jika banyak yang peduli padanya. Saat kedua orang tua Yo-kun berpisah, ayah Musashi-kun menawarkan untuk tinggal bersama mereka, tetapi Yo-kun menolaknya. Lalu Kurita-kun juga menawarkan hal yang sama, lagi-lagi Yo-kun menolaknya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tetapi menurutku dia adalah orang yang bodoh. Tetapi aku mengerti, dia tidak ingin membebani orang-orang disekitarnya dan lebih memilih untuk membawa beban itu seorang diri.

Yo-kun tetaplah manusia biasa, dia bukan setan dari neraka atau apapun itu. Yo-kun pasti telah menanggung beban hidupnya sendirian, dan aku ingin dia membaginya denganku."

Mamori menundukan kepalanya, mencoba menahan tangisnya agar tidak keluar. Dilihat dari sisi manapun, Sakura adalah orang yang paling mengerti Hiruma. Mereka sudah bersama sejak lama dan saling mengerti satu sama lain. Mamori merutuki kebodohannya karena hadir dalam hubungan mereka berdua. Dia merasa bodoh karena telah jatuh cinta pada Hiruma.

"Tahukah kamu, bahwa Yo-kun dulu pecandu rokok berat?" Sakura menolehkan kepalanya kearah Mamori.

"Pecandu rokok?" Ini baru kejutan baginya.

"Um.." Sakura menganggukan kepalanya. "Aku dan Musashi-kun mencoba menasehati Yo-kun, tetapi telinganya bebal sekali! Nasihatku dan Musashi-kun hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak ada yang didengarkannya sama sekali. Hingga akhirnya aku masuk rumah sakit.

Asma yang aku derita kembali kumat karena asap rokok milik Yo-kun. Aku pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian, tetapi Yo-kun langsung mengganti rokoknya dengan permen karet."

Cukup! Sudah cukup! Dia tidak bisa mendengarnya lagi. Dia tidak ingin mendengarnya lagi. Hatinya sudah terlampau sakit mendengar cerita tentang Sakura dan Hiruma. Mengusap air matanya, Mamori mencoba tersenyum dan memandang Mamori.

"Kenapa kamu menceritakan hal ini padaku?" tanya Mamori.

"Karena kamu adalah malaikat penjaga Yo-kun."

"Malaikat penjaga?"

Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. "Musashi-kun selalu menceritakan tentang perkembangan Yo-kun padaku. Dan dia selalu menceritakan tentanmu juga. Bagaimana kamu selalu mengomelinya tanpa henti, selalu berada di sisinya, dan kamu juga membantu Yo-kun untuk mewujudkan mimpinya menang Christmas Bowl. Kamu selalu ada disisinya saat aku tidak ada."

Rasanya Mamori ingin menjerit sekencang-kencangnya. Menjeritkan betapa sakitnya hatinya ketika mendengar semuanya. Dia ingin berlari, menjauh dan pergi. Dia tidak ingin berada disini, terjebak dalam cinta antara Sakura dan Hiruma.

"Sakura, Hiruma mencarimu."

Mereka menolehkan kepalanya dan memandang Yamato yang berjalan mendekat. Sakura langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum.

"Terimakasih karena mau mendengarkan ceritaku, Mamori-san. Kamu adalah teman pertamaku setelah empat tahun di Amerika. Aku harus kembali menemui pemuda menyebalkan itu."

Mamori hanya bisa menatap Sakura dengan pandangan nanar. Dan ketika Sakura hilang dari pandangannya, Mamori hanya bisa menundukan kepalanya. Dia tidak menyadari jika Yamato sudah berada di sampingnya.

"Menangislah."

Mamori memandang Yamato dengan pandangan tidak mengerti.

"Maaf?"

"Aku mendengar semuanya. Jika menangis dapat membuat beban hatimu sedikit berkurang, maka menangislah. Aku akan menjadi sandaran bagimu, aku janji tidak akan mengatakan semua ini pada orang lain."

Mamori tidak bisa menahan tangisannya yang pecah seketika. Kepalanya dia sandarkan ke bahu tegap milik Yamato dan mulai terisak. Dia sudah lelah mencintai Hiruma. Dia sudah lelah dengan semua yang terjadi padanya.

Haruskah dia menyerah?

.

"Yo-kun." Sakura masuk ke dalam ruang club dan tersenyum tanpa dosa.

"Kau mengatakan ke toilet, Sakura!" Hiruma menatap tajam Sakura.

"Hehe.." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Jika Hiruma sudah mulai menyebalkan seperti ini, itu artinya pemuda itu sedang cemas sekarang. "Sudahlah, Yo-kun. Aku mau pulang, aku lelah."

"Dimana manager sialan itu?" Hiruma memandang sekelilingnya. "Kenapa dia belum kembali juga."

"Aku disini, Hiruma-kun."

Mereka semua menoleh ketika Mamori datang bersama Yamato. Gadis berambut auburn itu tersenyum manis, seperti tidak ada apa-apa yang terjadi padanya.

"Keh, karena dia sudah kembali, aku akan pulang." Hiruma merangkul pinggang Sakura dengan erat.

Mamori tersenyum manis, meski hatinya seperti tersayat sebilah pedang tak kasat mata. Yamato sendiri melirik Mamori yang masih terus tersenyum. Dalam hati dia mengagumi bagaimana Mamori tersenyum dan berakting layaknya tidak terjadi apa-apa.

.

Mamori menarik nafas panjang ketika kegiatannya menyapu ruang club telah selesai. Setelah Hiruma pulang, beberapa anggota timnya juga berpamitan pulang. Kini yang tersisa hanyalah dirinya dan juga Yamato.

"Yamato-kun, sebaiknya kamu pulang duluan saja. Kereta terakhir akan berangkat lima belas menit lagi."

"Sebenarnya, aku membawa motor. " Yamato menopang dagunya. "Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri?"

"Aku bisa menginap dirumah Salah seorang temanku, rumahnya tidak jauh dari sini."

"Bagaimana jika kita pulang bersama saja? Aku yakin, jika kita pulang sekarang, mungkin Hiruma belum sampai di Apartemen."

Mamori memandang Yamato sebelum menganggukan kepalanya.

"Boleh."

Setelah memastikan segalanya sudah terkunci dengan rapi. Saphirenya memandang Yamato dan tersenyum.

"Baiklah. Ayo kita berangkat."

Yamato mengenakan helmnya dan menaiki motornya. Mamori segera duduk di belakang Yamato, dia bingung harus berpegangan pada apa. Karena besi di belakang motor Yamato tidak ada.

"Sebaiknya, pegang pinggangku, Mamori."

"A-apa?" Mamori memandang Yamato tidak percaya.

"Pegang pinggangku jika kamu tidak ingin terjatuh, Mamori."

Mamori sedikit meneguk ludahnya dan memegang jaket yang dikenakan Yamato. Dan tepat setelah itu, motor yang dikemudikan Yamato melaju di jalanan malam New York.

Mereka sampai di apartemen lima belas menit kemudian. Yamato memarkirkan motornya dan melepas helmnya. Mamori melakukan hal yang sama, dia melepas helmnya dan turun dari motor Yamato.

"Terima kasih, Yamato-kun."

Bersama-sama mereka berjalan menuju lift dan mereka menuju lantai dimana kamar mereka berada. Tidak ada yang berbicara diantara mereka. Yamato sebenarnya ingin membuka pembicaraan, namun dia merasa canggung dan tidak tahu harus membuka pembicaraan dari mana.

"Jangan menangis lagi, ya. Lupakan saja setan dari neraka itu. Bukalah matamu dan lihatlah, banyak yang menyukaimu, Mamori."

Mamori tidak bisa menahan rona merah di wajahnya. Dia menganggukan kepalanya dengan canggung sebelum berpamitan masuk ke dalam kamarnya.

Yamato tidak bisa menahan senyumnya ketika Mamori berlari masuk ke dalam rumahnya. Semoga saja Mamori mengerti maksud yang terkandung di dalam perkataannya. Seperti pepatah yang mengatakan, Mantan nun jauh disana terlihat, tetapi gebetan di pelupuk mata tidak terlihat. Dia hanya berharap Mamori mau membuka matanya dan menyadari tentang perasaannya.

Kodenya lumayan keren, bukan?

oOo Between You and Me oOo

"Yo-kun, aku mandi duluan ya."

Hiruma melirik Sakura yang masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar suara shower yang dihidupkan. Mengambil permen karet dari saku celananya, tangannya mengambil ponselnya dan mengecek beberapa email yang masuk. Beberapa email yang masuk berasal dari Kurita yang menanyakan kabarnya dan bertanya tentang pertandingan yang akan mereka ikuti. Selain itu, tidak ada yang penting.

Setelah mengotak-atik ponselnya, pintu kamar mandi terbuka. Sakura muncul dengan balutan handuk yang melilit dari dada hingga paha mulus Sakura. Sejenak pikiran kotor berkelebat dalam otak Hiruma.

"Apa yang kamu lihat!" Sakura memelototo Hiruma. "Jangan berpikiran mesum, Yo-kun! Cepatlah mandi dan kita tidur!"

"Kekekeke.." Hiruma tidak bisa menahan senyumnya dan mendaratkan satu ciuman di bibir Sakura. "Jangan salahkan aku jika kita akan begadang semalaman, Sakura."

"Mou! Yo-kun mesum!"

Hiruma tidak bisa menahan tawanya dan masuk ke kamar mandi. Melepas pakaiannya, dia menghidupkan shower dan merasakan rasa lelahnya sedikit berkurang ketika air menghujani tubuhnya. Memejamkan matanya, sejenak dia kembali kepada ingatan masa lalunya.

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya tanpa Sakura disisinya sekarang. Mungkin dia tidak akan menjadi kapten Amefuto yang hebat jika bukan karena Sakura. Baginya gadis itu adalah hidupnya, penyemangat dan cahayanya.

Dia bahkan masih ingat bagaimana pertama kali mereka menyatukan bibir mereka. Saat itu adalah keberangkatan Sakura ke Paris. Dan entah bagaimana awalnya, bibirnya mendarat diatas bibir Sakura dan memagutnya dengan lembut.

Hiruma segera mematikan showernya dan mengenakan handuknya. Dia yakin jika Sakura sudah terlelap sekarang. Benar saja, ketika membuka pintu kamar mandi, dia bisa melihat Sakura tengah tidur bergelung dalam selimut. Tanpa pikir panjang, Hiruma segera melangkahkan kakinya menuju lemarinya.

"Yo-kun, antarkan aku pulang." Sakura memandang Hiruma. "Aku lupa jika aku harus makan malam dirumah."

.

.

.

Mobil sport hitam milik Hiruma melaju di jalanan Tokyo dan berhenti tepat di kediaman Haruno. Rumah milik kedua orang tua Sakura itu ramai dengan beberapa tamu yang datang dan terdengar ramai, sepertinya sedang terjadi sebuah pesta.

"Aku lupa jika kaa-san dan tou-san mengadakan pesta penyambutan untukku," ucap Sakura. "Mau mampir?"

"Tidak. Aku masih ada urusan lain."

Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan mencium pipi Hiruma dengan lembut sebelum keluar dari mobil milik Hiruma. Sedangkan Hiruma mengalihkan wajahnya dan matanya melirik Sakura yang masuk ke dalam kediaman Haruno.

Hanya dihadapan Sakura, dia bukanlah seorang iblis dari neraka.

.

.

.

.

.

TBC

Balasan Review :

Bang Kise Ganteng : hehe.. iyakah.. mungkin aku titisannya Rhoma Irama (?) *sungguhmatiakujadipenasaran XD buat Sasuke, kayaknya gaada.. tapi gatau juga :3

Rizka Scorpiogirl : sudah dilanjut..

Onpu885 : fict ini gak keren kok.. :) dibilang keren nanti aku ngfly lhoo.. XD

Himenatlyschiffer : Hehehe.. makasih ya.. aku gak nyangka kalo punya penggemar :3

Slacker Shasha : ini sudah di update :)

Dauddolmayan : Wkwkwkwkwk.. Mamori dengan siapa biar jadi rahasia Author dan Tuhan (?) yang pasti nanti Mamori bakal ada pasangannya kok.. :3

Baiklah, Saku gak akan berkomentar banyak selain,

Sampai ketemu di chap depan!

-Aomine Sakura-