Because of Fate

'Jung' Taehyung

A Fanfiction Made by min_ve

Main Pairing: Kookv; Top! Jungkook x Bottom! Taehyung

.

.

Enjoy~

.

.

Apakah yang lebih berbahaya dari bisa ular?

Jeon Jungkook.

Apa yang lebih putih dari warna putih?

Jeon Jungkook.

Apa yang lebih adil dari keadilan itu sendiri?

Jeon Jungkook.

Apa yang lebih gelap dari hitam itu sendiri?

Jeon Jungkook.

Karena Jeon Jungkook merupakan warna putih itu sendiri. Saking putihnya sampai kau tidak bisa melihat dasarnya—sama seperti warna hitam. Oleh karenanya pada kenyataannya warna hitam dan warna putih merupakan warna yang begitu mirip namun begitu berbeda, sebagaimana Jungkook terlihat seperti warna putih namun sebenarnya ia adalah—

.

.

.

Sesuai dengan perkataannya kemarin Jimin telah membuat janji dengan klien mereka di sebuah tempat dimana keberadaan kamera pengawas dan polisi berpatroli berada. Berhubung dengan maraknya pembunuhan yang telah merenggut nyawa masyarakat biasa yang bukan dilakukan olehnya sepertinya masyarakat rela memberikan uang mereka kepada pemerintah untuk sekedar kamera pengawas atau lebih tepatnya rasa aman yang tak akan bertahan lama. Meskipun pada ujungnya pembunuhan akan tetap terjadi—tapi itu bukan urusannya dan ia pun bukan si pengatur yang akan turun tangan agar si pembunuh itu tidak merusak lapangan kerja mereka.

Tempat pertemuannya adalah di dalam gereja—terkesan sangat tak keren bukan? Tetapi justru beberapa gereja tak memasang kamera pengawas karena mereka percaya dengan kekuatan tak dapat terlihat akan melindungi mereka selama berada di dalam sana meski seorang diri. Meski manusia telah maju untuk membuat sesuatu yang lain pada akhirnya kepercayaan itu tak akan hilang selamanya. Ditambah, kepercayaan ini cukup berbeda dibandingkan dahulu kala—

Atau mungkin itu hanyalah imajinasi anehnya.

Masuk melewati pintu besar gereja tersebut, langsung menangkap sosok yang tengah duduk di antara deretan kursi kayu panjang itu. Dirinya pun memilih untuk duduk di bangku tepat di belakang sosok itu.

"Apakah kau adalah si malaikat maut itu?" sosok yang tengah duduk itu bertanya kepadanya.

"Ya." Hanya jawaban singkat itu yang dikeluarkan oleh si malaikat maut.

"Andaikan aku diberikan kesempatan untuk melihat wajahmu. Legenda selalu mengatakan betapa cantiknya dirimu meski dengan suara berat itu." Sosok itu kembali berkata, terdengar sedikit dengusan dan tanpa perlu melihat wajahnya pun dapat terlihat sebuah senyuman kecil. "Tetapi andaikan kau tidak bekerja sebagai—apa yang kau kerjakan sekarang—suaramu akan mudah menarik klien untuk meminta bantuan perusahaanku."

Si malaikat maut itu hanya terdiam, menyipitkan matanya, sangat tak nyaman dengan topik yang dibicarakan. Bukan mengenai pekerjaannya itu hina atau apa melainkan dirinya sendiri tak pernah ingat apa yang dilakukannya sebelum menjadi dirinya yang sekarang. Sejak awal yang ia ingat hanyalah belajar untuk membela diri di lingkungan sosial tak adil disini, baru entah kapan suatu suara menanyakan apakah ia membenci para manusia dengan status sosial lebih tinggi. Bukanlah kebencian mendalam sampai ia bisa menusuk semua para dominan dengan pisaunya tetapi jika memang harus jujur dia memang membenci mereka.

Telah dirawat dengan baik oleh si pemegang katana entah sejak kapan, tetapi yang mengajarkannya untuk menjadi pembunuh bukanlah dia—entah siapa itu, kepalanya tak mampu mengingatnya. Bahkan kepalanya tak dapat mengingat kapan dan bagaimana dia dapat bertemu dengan Jimin.

"Jadi sesuai dengan apa yang kuminta kemarin, kau memintaku untuk bertemu denganku karena menerimanya? Tetapi kuharap kau mencurigai sesuatu dari mengapa aku bersedia menambahkan nominal nol pada bayaranmu andaikan kau meminta."

Sosok itu berbalik. Sayangnya, wajahnya masih tertutup oleh selembar kain meskipun tak berguna karena Taehyung telah mengetahui bentuk wajahnya berhubung kliennya kali ini memang sosok terkenal dan selalu dibicarakan terutama dalam topik kekayaan. Dengan kain tersebut menutupi seluruh wajahnya ia pun tak dapat menatap wajah legendaris milik Taehyung. Perkataan terakhirnya merupakan pernyataan dengan bumbu harapan dan Taehyung memberikannya karena memang sejak awal membayar dengan harga terlalu tinggi itu telah sangat mencurigakan.

"Aku memintamu untuk tak langsung membunuhnya."

What?

"Mungkin memang profesinya sekarang merupakan alibi yang sangat amat dapat diterima oleh semua orang akan kematiannya tetapi aku masih ingin mengetahui apakah ia layak untuk dibunuh atau tidak."

Itu benar.

Profesinya sebagai detektif yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan merupakan alibi yang terlalu cocok. Ketika kematian target kali ini diberitakan telah dipastikan rata-rata orang akan berpikir bahwa itu dilakukan oleh tersangka lain agar penyelidikannya semakin terhambat dan tanpa keberadaannya si detektif utama kemungkinan malah akan dibubarkan tanpa menemukan pelakunya. Ini merupakan permintaan yang juga menguntungkan sisi Taehyung.

"Aku memintamu untuk berada di sisinya sampai aku memintamu untuk membunuhnya."

"Berada di sisinya?" Taehyung itu bukan tipe penanya, dia dapat mengerti semua perkataan kliennya dalam sekali dengar oleh karena itu mendengarnya mengulangnya merupakan hal yang amat langka.

"Dengan menjadi bodyguard-nya. Itu benar. Alasan aku bersedia membayarnya jutaan kali lipat lebih banyak daripada klienmu yang lain—mungkin—adalah karena selama kau menjadi bodyguard-nya profesimu menjadi dalam keadaan pasif dan tak bisa melakukan permintaan klien lain untuk sementara. Dan secara ironisnya kau akan melindunginya meski untuk sementara bukan membunuhnya."

Mata sayu Taehyung membulat. Secara logika permintaan kliennya itu sangat tak logis, karena jika memang target kali ini memang meresahkan kliennya bukankah kliennya itu akan segera meminta untuk menyingkirkan orang yang meresahkannya? Sedangkan kali ini ia meminta untuk menunggu sampai memerintahkannya atau bahkan—melindunginya? Meskipun menggunakan alasan untuk mengetahui apakah target itu memang layak untuk disingkirkan atau tidak, ini terlalu aneh! Ditambah pembayaran akan tetap terjadi meskipun kesimpulan akhirnya berkata si target tak layak untuk dibunuh

Kalian para dominan memiliki pikiran terlalu gila!

Tetapi Taehyung harus dapat profesional, ia hanya membutuhkan uangnya—tak lebih dan tak kurang. Harus juga diakui dengan uang sebanyak itu sangat menguntungkan karena ia hanya perlu mengambil nyawa satu orang sedangkan biasanya mungkin dibutuhkan nyawa setidaknya lima orang untuk mendapatkan jumlah uang sebanyak itu. Dengan wajah kembali didatarkan bibirnya bergerak untuk berkata bahwa ia menerima permintaan kliennya itu.

"… Kukira kau akan menanyakan alasanku ingin membunuh putraku sendiri."

Justru alasan utama mengapa Taehyung menerimanya meski dengan persyaratan baru adalah itu; ayah macam apa yang ingin menyawa pembunuh bayaran untuk mengambil nyawa putranya sendiri?

"Kau… Akan mengetahui alasanku seiring dengan menjadi bodyguard-nya."

Perkataan itu merupakan perkataan terakhir kliennya untuk hari ini. Kliennya bangkit berdiri dan berjalan melewatinya untuk mencapai pintu utama gereja tersebut. Sementara Taehyung masih diam di tempatnya, tak bergerak sedikit pun bahkan ketika orang lain masuk ke dalam kemudian jatuh terduduk di depan patung. Matanya mengikuti setiap gerakan orang itu, Merasa konyol ketika kembali teringat bahwa ia sempat berdiam diri ketika mereka meludahinya, menarik kakinya untuk memperlihatkan lebih jelas bagian kelaminnya. Dirinya dan kawanannya tak mengenal tua muda, mereka dalam satu kapal mungkin itulah alasannya mengapa ia memilih untuk memberontak saat itu.

Ia tak peduli meski tangannya sendirilah yang membawanya ke dalam bara api paling dalam selama ia dapat melindungi dirinya sendiri dan tak perlu lagi melihat kejadian itu tanpa dapat melakukan apapun. Sebaiknya ia segera pergi dari tempat ini sebelum secara kebetulan saja polisi datang untuk melakukan ritual mereka.

.

.

.

Hari telah berubah menjadi malam, dimana matahari yang lelah digantikan perannya oleh sang rembulan. Dimana Taehyung telah memberitahukan mengenai persyaratan tambahan kepada Jimin selaku sebagai rekannya, dimana berarti Jimin harus membuat identitas palsu untuk Taehyung karena nama aslinya telah tersebar dimana-mana. Juga menyampaikan berita kepada seluruh sisi sehingga tidak ada kesalahan seperti pembunuh bayaran lain memanggilnya ketika Taehyung tengah menyamar kemudian malah membawa masalah.

Jimin tentu merasa sedikit khawatir karena ini pertama kalinya Taehyung menyamar tanpa kurung waktu yang jelas, entah sampai hari apa dan sampai pada jam berapa tetapi kemampuan rekannya itu bukan dalam level dimana perlu dipertanyakan lagi. Tugas yang ia dapat lakukan hanyalah memastikan tak ada hal buruk terjadi. Dan inilah alasan mengapa wajah Taehyung sangat disembunyikan karena tak mungkin dia dapat menyamar dengan wajah tersebar dimana-mana—cukup namanya yang tersebar.

Sementara Jimin bekerja untuk latar belakangnya dia tengah duduk memikirkan sesuatu dengan sang bartender sebelumnya setia menunggu untuknya memutuskan pilihannya. Setelah memikirkan beberapa lama dan mengatakan pilihannya sang bartender itu baru memulai kegiatannya untuk mewarnai warna rambut Taehyung.

Telah menjadi hal umum di kalangan mereka bahwa andai Taehyung tak memiliki rambut berwarna abu-abu seperti biasanya maka ia tengah menyamar sehingga para pembunuh bayaran lain pun akan beranggap tak mengenalnya sama sekali ketika berpapasan di jalan atau dimanapun. Satu kontak mata dapat menghancurkan penyamarannya dan telah menjadi refleks manusia untuk melakukan kontak mata ketika melihat seseorang yang mereka kenal—dengan mengingat pembunuh bayaran itu tak melakukannya bukankah mereka hebat sekali?

"… Kau akan terlihat indah dengan warna ini, Taehyung."

Taehyung tak peduli apakah itu akan membuatnya indah atau tidak, dia telah menggunakan berbagai macam warna sampai menggunakan kombinasi pirang dan merah muda dan semuanya terlihat bagus padanya. Lagipula ia melakukan ini untuk pekerjaan bukan untuk mencari—ah, jika diingat mengapa ia belum pernah merasakan hal seperti yang rekan sesamanya rasakan setiap beberapa bulan sekali? Tetapi itu bagus. Hampir semua orang menganggapnya adalah si dominan bukan si submisif.

Setelah beberapa jam penuh penungguan agar catnya terserap oleh helaian rambutnya dan membersihkan sisa-sisanya, rambut yang awalnya kelabu berubah menjadi cokelat—semanis cokelat. Ketika si bartender melepaskan jubah agar melindungi pakaian Taehyung ketika mewarnai rambutnya ia hanya menatap refleksinya pada cermin di hadapannya. Si bartender hanya tersenyum simpul melihat betapa indahnya seorang Taehyung dengan rambut seperti itu, andaikan pemuda itu sering tersenyum atau menunjukkan ekspresi ramah mungkin tak akan ada yang mempercayai bahwa ia adalah dominan. Ups, pemikiran itu membuatnya tersenyum pahit.

"Selamat datang Jung Taehyung."

Jimin datang, pertanda bahwa dia telah mempersiapkan segala macam mengenai identitas baru Taehyung termasuk dengan marga. Marga merupakan hal paling penting untuk mencari identitas disini oleh karena itu Jimin harus menggunakan marga yang termasuk langka dan populasinya untuk saat ini pun mulai menjadi minoritas. Tentunya Jimin tak memilih Jung hanya dikarenakan itu, dia terlalu banyak memiliki hubungan dengan orang dengan bermacam-macam marga dan ia dapat meyakinkan agar salah satu dari mereka bersedia menampung nama baru yakni; Jung Taehyung ke dalam daftar dengan marga sama dengan mereka.

Dimana Taehyung hanya mengangguk bahwa ia menerima nama barunya, si bartender malah menunjukkan ekspresi khawatir. Jimin berkata bahwa ia akan mengirimkan berbagai data mengenai identitas Taehyung dan akan menjelaskannya secara mendetail kepadanya esok hari sehingga untuk sekarang Taehyung dapat mempersiapkan segala barang yang perlu dibawanya. Setelah Taehyung pergi, bartender itu—seraya membersihkan alat bekas mewarnai rambut pemuda yang baru beranjak pergi itu—mengutarakan kekhawatirannya dari keputusan Jimin.

"Menggunakan marga Jung—Jimin-ssi, kau serius? Masih banyak polisi lain disana yang menggunakan marga lain dan kau memilih Jung dari semuanya?"

"Apa boleh buat? Aku belum dapat melakukan hubungan dengan polisi dengan marga lain dan meskipun dia memang bertanggung jawab akan semua kamera pengawas akhir-akhir ini sampai saat ini tak ada sangkaan baik secara internal ataupun eksternal terhadapnya. Hanya dia yang cocok untuk menampung Taehyungie." Jelas Jimin mengangkat bahunya.

"Akan tetapi membiarkan orang yang melakukan kekacauan ini hanya untuk nafsu… Haa…" si bartender hanya menghela napas panjang setelah menyimpan jubah yang dipakai oleh Taehyung sebelumnya, "Kuharap tak terjadi sesuatu."

"Taehyung bukan lagi seseorang yang harus selalu dijaga. Andaikan terkena masalah pun dia dapat menemukan jalan keluarnya sendiri."

Itu benar. Andaikan Taehyung tak dapat, ia telah ditangkap oleh polisi dan telah dipenjara sekarang. Berhubung bagaimana Jimin seringkali sengaja memberikan arahan yang salah, Taehyung selalu dapat menemukan jalan lain untuk kabur. Namun tetap saja rasa khawatir tak hilang dari dalam dada sang bartender, ditambah mengingat menurut cerita Jimin bahwa sang target memiliki marga Jeon. Karena menurut pendataan hampir mayoritas keluarga Jeon memiliki profesi yang berhubungan langsung dengan ekonomi dan bisnis maka mendengar bahwa terdapat seorang detektif dan telah terbukti melalui data bahwa dia adalah seorang Jeon murni membuatnya semakin khawatir.

"Kalau begitu kau akan pulang untuk mempersiapkan data lebih lanjut untuk Taehyung?" tanya si bartender.

"Yap. Selamat malam."

Setelah Jimin pergi begitu saja, sang bartender menyentuh kursi dimana Taehyung sebelumnya duduk. Menghela napas panjang lalu menutup matanya, membiarkan kegelapan mengambil alih penglihatannya dalam keadaan sadar. Berbagai kenangan muncul kembali. Ketika ia pertama kali mengayunkan benda tajam nan panjang sebagai nilai plusnya karena telah berhasil diimpor oleh negara ini kepada pemiliknya. Mengotori pedang yang seharusnya melindungi pemiliknya. Jantungnya berdetak cepat ketika mendengar langkah kaki mendekatinya, tetapi yang dilihatnya selanjutnya merupakan sosok laki-laki yang memang terkejut namun berubah menjadi penuh iba.

Ketika pertama kali melihat Taehyung hanya menggulingkan bola matanya ke atas untuk sekedar melihatnya, menjawab semua pertanyaannya dengan anggukan atau gelengan lemah. Merasa gagal untuk melindunginya lagi ketika mendengar Taehyung bahwa ia membenci para alpha setelah memandikannya karena tubuhnya penuh luka lebam karena dipukul. Andaikan terjadi sesuatu lagi kepada Taehyung; ia benar-benar gagal sebagai pelindungnya.

.

.

.

Strata sosial ini lebih menyedihkan dibandingkan dahulu. Bagaimana strata sosial telah ditentukan dari awal dan harus dipatuhi sampai akhir. Menerima kenyataan bahwa para alpha itu dapat seenaknya memperkosa omega yang kebetulan mengalami masa heat-nya dengan alasan bahwa sang omega sendiri yang memintanya. Seolah dengan sistem yang tak sempurna para omega dipaksa untuk menikmati perlakuan sang alpha meskipun bukan pasangan mereka. Omega itu bagaikan sistem yang tak selesai. Bagaikan kata 'alat seks' tanpa tambahan bahwa mereka adalah manusia.

Selama ini mengapa tak ada yang menyalahkan para alpha? Meskipun memang itu adalah sistem yang telah ditanamkan dalam tubuh mereka, mengapa mereka tak pernah sekalipun menahan diri—sekedar melawan sistem dalam tubuh mereka?

Strata sosial ini bagaikan sistem tak selesai.

Setengah-setengah.

Dimana para alpha diberi peran untuk menjadi hewan buas, beta adalah manusia biasa sedangkan omega—alat seks namun masih diberikan kesadaran untuk menjadi seorang istri idaman secara gen. Bukankah itu sangat tak adil bagaimana omega masih diberikan kesadaran tetapi harus berdiri di samping seorang hewan buas?

Oleh karena itu aku percaya bahwa aku memiliki takdir untuk dapat menyamar bersama para alpha dengan lebih sempurna.

Tak pernah mengalami masa heat sekalipun. Tak akan ada siapapun yang mencurigaiku.

Obat penahan masa birahi itu tak berguna karena aku bahkan tak pernah mengalaminya. Oleh karena itu semuanya terasa begitu—dingin.

Aku tahu itu konyol menyamaratakan semua alpha sebagai makhluk paling buruk tetapi aku tak bisa tak berpikir seperti itu lagi. Tidak setelah kejadian itu. Betapa busuknya mereka menggunakannya di depan mataku. Lebih busuk dari mayat.

Jimin?

Entahlah. Aku bahkan tak pernah mengetahui status Jimin.

.

.

.

To Be Continue